Saturday, October 14, 2023

Antara Skala Prioritas Dan Kebutuhan Alutsista

Pada sambutan hari ulang tahun TNI ke 78 tanggal 5 Oktober 2023 di Monas Jakarta, Presiden Joko Widodo menyebut skala prioritas penguatan alutsista TNI yang harus sesuai dengan kebutuhan. Dan harus menyesuaikan dengan anggaran negara. Pernyataan ini perlu kita garis bawahi. Sementara seremoni ulang tahun pengawal republik begitu semarak, meriah dan bermarwah. Berbagai atraksi militer digelar mulai dari unjuk kebolehan jupiter team, collibri menari, raungan jet tempur F16 sampai defile parade pasukan dan alutsista memamerkan diri di jalan protokol Jakarta. Sambutan khalayak sangat membanggakan. Inilah satu-satunya institusi negara yang berdasarkan survey mendapat tingkat kepercayaan tertinggi dari masyarakat Indonesia.

Nah, kalau kita bicara soal skala prioritas penguatan alutsista, semuanya bermuara pada kebutuhan yang mendesak. Karena kebutuhan TNI akan terpenuhinya ketersediaan alutsista tiga matra sampai saat ini belum memenuhi kriteria minimal. Oleh sebab itu sejak tahun 2010 pemerintah membuat rencana strategis lima belas tahun.  Namanya program minimum essential force (MEF) TNI. Ini bukan soal mau ada perang atau tidak. Ini soal pemenuhan kebutuhan gizi alutsista. Sekarang sudah memasuki jilid tiga (2019-2024]. Kebutuhan minimal yang menjadi target sampai saat ini belum tercapai. Contoh, ketersediaan 4 kapal selam saat ini belum sebanding dengan luasnya perairan Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia. Belum lagi soal kegaharan kapal selam Nagapasa Class. Negeri Singapura yang mungil saja saat ini sudah memiliki 6 kapal selam canggih dan mempunyai kemampuan detterent effect. Indonesia minimal harus memiliki 8 kapal selam kelas srigala, bukan sekedar kelas anjing kampung.

Mari kita telusuri fakta soal kekurangan ketersediaan alutsista TNI dalam beberapa hot spot history. Ketika pasukan Indonesia memasuki Dili Timor Timur akhir Desember 1975, penerjunan ratusan pasukan TNI melalui pesawat-pesawat Hercules tidak mendapat perlindungan dari jet tempur. Banyak korban. Dalam kurikulum pertempuran untuk menduduki suatu wilayah harus didahului dengan pengeboman pembersihan. Mengapa tidak ada perlindungan dari jet tempur karena kita kekurangan alutsista ini setelah era jet tempur Mig berakhir. Sementara hibah 23 jet tempur F86 Sabre dari Australia minus persenjataan alias kopongan. Di laut pendaratan pasukan marinir di pantai Dili didahului tembakan meriam beberapa KRI. Yang "membantu" suasana pertempuran adalah iklim sekitar yang mendukung. Pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur setelah Presiden AS Gerald Ford meninggalkan Jakarta. Australia pun bilang monggo kerso. Intinya jangan sampai Timor Timur dikuasai Fretilin yang berhaluan komunis, waktu itu.

Masih di era tahun tujuh puluhan, berdasarkan laporan intelijen, China sedang berupaya mengklaim Natuna sebagai miliknya. Meski waktu itu belum ada nine dash line dan kekuatan militer China masih belum apa-apa. Walaupun belum apa-apa, nyatanya pasukan China berhasil mengalahkan pasukan Vietnam dalam pertempuran laut di kepulauan Paracel Januari 1974. Jakarta menyikapi klaim terhadap Natuna dengan sedikit kepanikan lalu mengirim destroyer KRI Samadikun ke Natuna. Mengapa Jakarta panik karena pada waktu itu di Natuna belum punya alat bantu deteksi atau radar militer. Benar-benar telanjang. Pada saat yang bersamaan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara Indonesia sangat terbatas. Beberapa tahun berselang dengan crash program radar militer sudah beroperasi di Natuna.

Soal Ambalat, semua sudah tahu tentang manuver angkatan laut Malaysia pada saat kekuatan militer Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Benar-benar membuat emosi anak negeri waktu itu antara tahun 2005-2008. Gesekan kapal perang kedua negara membuat hubungan diplomatik terkena elnino panas. Ketersediaan alutsista TNI yang mengalami embargo membuat jiran sebelah merasa diatas angin. Namun setelah program MEF berjalan, penguatan armada angkatan laut dan udara Indonesia semakin meningkat. Saat ini sudah tidak ada lagi provokasi dan manuver kapal perang Malaysia di Ambalat. Meski sebenarnya kekuatan militer Indonesia belum mencapai kriteria minimal yang dibutuhkan. Untungnya pada periode tahun 2010 sampai sekarang Malaysia tidak mengalami pertumbuhan alutsista strategis yang signifikan.

Program MEF adalah skala prioritas karena kebutuhan minimal alutsista TNI belum terpenuhi. Artinya MEF adalah program mengejar kebutuhan minimal yang diperlukan untuk ketersediaan senjata tentara kita. Luas wilayah negeri ini seluas Eropa, posisinya strategis. Negara kepulauan terbesar ini mestinya mempunyai aset jet tempur dan kapal perang yang memadai sebanding dengan luasnya wilayah. Apalagi saat ini ada ancaman nyata klaim perairan ZEE Natuna. Mari kita sikapi dengan jernih modernisasi militer Indonesia. Bahwa program MEF adalah skala prioritas untuk memenuhi kebutuhan alutsista minimal yang diperlukan tentara dalam menjaga teritori negara. Oleh sebab itu tidak perlu kaget mengapa selama 4 tahun terakhir penguatan alutsista seperti jor joran. Karena kita berkejaran dengan waktu dan dinamika konflik kawasan. Apalagi karena program MEF periode sebelumnya belum optimal dalam pelaksanaannya.  

Investasi pertahanan selama 4 tahun terakhir menyentuh angka anggaran US $ 25-30 milyar. Dana besar ini untuk pembelian berbagai jenis alutsista strategis dalam rangka membangun manajemen perisai trisula nusantara untuk 25 tahun ke depan. Sekilas terlihat fantastis tapi ini kan untuk membangun investasi pertahanan kita yang tertinggal. Bangunan utamanya menguatkan fondasi tempur AL, AU dan AD based on interoperablity and network centric warfare. Masing-masing matra tidak lagi berdiri sendiri, jalan sendiri, nembak sendiri. Semuanya harus membangun manajemen tempur modern, sinergitas dengan kemampuan teknologi terkini. Semuanya untuk memastikan bangunan pertahanan teritori negeri kuat dan disegani. Sekali lagi ini bukan soal mau perang atau tidak dan kalaupun terjadi perang kita sudah siap. Catatannya kalau militer sebuah negara kuat, negara lain akan berhitung ulang untuk melecehkan teritorinya apalagi ngajak perang.

Ketersediaan aset alutsista dalam jumlah yang mencukupi hukumnya "fardu kifayah" dan pemerintah adalah penanggung jawabnya. Pemenuhan kebutuhan ini bagian dari upaya preventif, upaya pencegahan, agar negara tidak diremehkan negara lain. Maka soal skala prioritas pemenuhan alutsista TNI adalah kebutuhan, bukan jor-joran, bukan show of force. Ini yang harus kita pahami. Pembangunan kekuatan ekonomi negeri kita terus berlangsung. Sejalan dengan itu perkuatan alutsista TNI juga harus berjalan. Seiring sejalan. Marwah kesejahteraan adalah kemampuan membangun pertumbuhan ekonomi dan sebaran pemerataannya. Sementara marwah eksistensi negeri adalah kemampuan membangun kekuatan pertahanan. Indonesia saat ini menjalankan keduanya dengan semangat menuju Indonesia maju, menuju Indonesia sejahtera. Keduanya adalah skala prioritas dan kebutuhan.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2023


Tuesday, September 5, 2023

Menyikapi Peta Baru China "Ten Dash Line"

China baru saja mengeluarkan peta baru di Laut China Selatan (LCS), Taiwan dan Utara India. Peta teritorial di selatan yang dijuluki lidah naga menjulur dari Hainan mencaplok dan menyapu bersih seluruh wilayah LCS. Hanya menyisakan 12 mil teritori kedaulatan wilayah perairan negara ASEAN yaitu Vietnam, Indonesia, Malaysia, Brunai dan Filipina. Yang terbaru wilayah utara India di lembah Himalaya dimasukkan menjadi wilayah China. Khusus perairan timur, lidah naga China menyambar perairan selatan Taiwan dan mengubah garis putus-putus nine dash line menjadi ten dash line.

Menlu Retno Marsudi bereaksi tegas, bahwa Indonesia konsisten dengan aturan konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982 yang sudah diratifikasi lebih 100 negara. Bahwa menarik garis batas apapun harus sesuai dengan kaidah hukum internasional yang telah disepakati. Bengalnya China ini seperti sedang menguji kemarahan diplomatik para tetangganya termasuk India. Apalagi waktu releasenya tanggal 28 Agustus 2023  saat menjelang KTT ASEAN di Jakarta. Termasuk KTT dengan mitra strategisnya, termasuk China juga didalamnya.  Saat ini KTT ASEAN sedang berlangsung.

Artinya China sedang menguji ketahanan diplomasi ASEAN plus India dan Taiwan. Semua negara yang tersinggung dengan peta baru itu serentak mengeluarkan kemarahan diplomatik ke wajah Beijing. Sultan Brunai yang jarang-jarang mengeluarkan pernyataan diplomatik, kali ini bersuara keras menolak. India, Vietnam, Taiwan dan Filipina mengeluarkan pernyataan pedas. Bahasa emak-emaknya kira-kira begini: gak tahu diri lu. Dan seperti biasa China tidak menanggapi serius pernyataan diplomatik itu, kecuali hanya bilang ini peta rutin yang dirilis kementerian sumber daya alam China. 

Masalah tumpang tindih klaim perairan ZEE (zona ekonomi eksklusif) layaknya seperti perselisihan halaman tak berpagar antar tetangga. Misalnya antara Indonesia dan Malaysia, Indonesia dan Filipina, Indonesia dan Vietnam. Perselisihan itu ada dan nyata. Beberapa diantaranya bisa diselesaikan dengan kecerdasan diplomatik. Seperti batas wilayah ZEE Indonesia-Vietnam dan Indonesia-Filipina sudah selesai secara permanen. Soal ten dash line, Indonesia berbeda dengan 4 negara ASEAN lainnya yang tumpang tindih kepulauan Paracel dan Spratly. China tidak mengklaim kepulauan Natuna termasuk teritori kedaulatan perairan 12 mil laut dari pantai. Ten dash line mengambil wilayah ZEE laut Natuna Utara. Padahal di kawasan itu sudah ada ekploitasi migas blok Tuna milik Indonesia.

Klaim China pada seluruh ten dash line jelas tidak ada dasar hukum internasionalnya. Bikin-bikin peta sendiri, sak karepe dewe, dengan berlindung pada payung justifikasi "historis tradisional" sejarah China. Sangat tidak pantas dan menunjukkan kepongahan. Itu sebabnya meski dirayu China berkali-kali, Indonesia tidak pernah bersedia merundingkan soal ZEE Natuna. Karena jika Indonesia menyetujui itu sama saja mengakui lidah naga China yang menjulur sampai ZEE Natuna. Indonesia sah memiliki hak berdaulat di ZEE Natuna sesuai UNCLOS 1982.

Sementara itu Indonesia dan Malaysia sampai saat ini masih bersengketa soal batas ZEE di perairan Kalimantan Utara yang populer disebut Ambalat. Bahkan sempat memanas antara tahun 2005 sampai 2010. Saat itu Malaysia merasa diatas angin atas perolehan pulau Sipadan dan Ligitan melalui keputusan Mahkamah Internasional. Kemudian melakukan show of force dengan mengerahkan kapal perang dan pesawat militer ke Ambalat. Pada saat yang sama militer Indonesia berada dalam kondisi kekurangan alutsista imbas dari embargo militer dari AS dan belum pulih dari krisis ekonomi.

Kasus Ambalat menjadi pelajaran yang sangat penting untuk kita.  Bahwa kekuatan militer sejatinya menjadi kekuatan tawar yang diperhitungkan dalam menjalankan diplomasi antar negara. Malaysia tidak menunjukkan etika bertetangga. Saat itu Malaysia menunjukkan sikap arogansi militer yang berlebihan karena mereka merasa unggul dalam perolehan alutsista. Waktu itu Malaysia memiliki 18 jet tempur Sukhoi, 18 jet tempur Mig29 dan 8 jet tempur F18 Hornet. Semuanya double engine. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki 10 jet tempur F16 dan 14 jet tempur F5E Tiger single engine yang mengalami embargo militer selama 10 tahun sejak tahun 1995 sampai tahun 2005. 

Sebuah drama pernah terjadi ketika Sipadan dan Ligitan masih dipersengketakan. Indonesia mengirim 4 pesawat counter insurgency Bronco untuk melakukan patroli udara. Tidak lama kemudian Malaysia mengirim 3 jet tempur F5E Tiger ke Sipadan. Jelas tidak seimbang. Meski kita diperlakukan seperti itu, kita marah tetapi marahnya proporsional, menahan diri. Presiden SBY kemudian merancang program modernisasi alutsista TNI yang dikenal dengan Program MEF (Minimum Essential Force) pada tahun 2010. Kemudian dilanjutkan Presiden Jokowi. Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Keunggulan militer Indonesia sudah jauh melewati jiran serumpun itu. Pada saat yang sama Kuala Lumpur mengalami stagnasi alutsista di semua matra. 

Klaim China yang mengeras dengan mengeluarkan peta baru terhadap ZEE Indonesia di utara Natuna, mengharuskan kita mempercepat penguatan militer. Termasuk memperbanyak latihan militer gabungan multilateral seperti Super Garuda Shield yang sedang berlangsung saat ini di Jawa Timur. Konflik Ambalat menjadi pelajaran dan pengalaman penting untuk kita. Betapa ketika alutsista kita "kalah awu" ada tetangga yang show of force, merasa lebih kuat. Salah satunya ketika itu Presiden SBY berkunjung ke Karang Unarang Ambalat dengan KRI Untung Suropati 372 tiba-tiba melintas rendah pesawat militer Malaysia seakan mengejek dan mengabaikan etika diplomatik. Saat ini ketika kita sudah unggul jauh dalam perolehan alutsista, secara defacto kita menguasai Ambalat. Setiap hari ada patroli 3-4 KRI di Ambalat. Sementara Malaysia "sudah tahu diri".

Peta baru China menggambarkan ambisi teritori yang over dosis. Jawaban terhadap klaim dan merasa benar sendiri itu, salah satu pilihannya adalah memperkuat taring militer. Maka apa yang dilakukan Kementerian Pertahanan kita adalah menggelar program extra ordinary pengadaan alutsista secara besar-besaran. Semuanya untuk mengantisipasi potensi konflik dan perang terbuka di LCS. Pakemnya sederhana kok, ketika relasi otak sudah sulit diajak kompromi diplomatik, otot militerlah yang mengambil alih. Maka persiapkanlah kekuatan otot ketika ada yang mulai melotot. Cerita apapun di dunia ini tidak pernah lepas dari otak dan otot.

****

Jagarin Pane / 5 September 2023


Monday, August 21, 2023

Habis Latgab Terbitlah Latma

Agenda latihan tempur militer Indonesia sepanjang tahun ini "ramai lancar, padat acara, gegap gempita". Baru saja akhir bulan Juli dan awal bulan Agustus 2023 TNI melakukan latihan gabungan interoperability yang bernilai spektakuler. Disebut spektakuler karena sejumlah KRI yang mendapat tugas, sukses menembak dengan alutsista strategis 4 peluru kendali NSM (Naval Strike Missile) sekaligus. Dan diakhiri dengan pengeboman oleh jet tempur F16 ke "tubuh baja" KRI Slamet Riyadi 352 yang sudah pensiun. Fregat legendaris itu terbakar,  terbelah dan akhirnya tenggelam. Sebuah show of force sukses yang menjadi perhatian kawasan Indo Pasifik.

Nah, pada akhir bulan Agustus 2023 ini ada agenda besar lainnya yang menunggu. Yaitu latihan bersama (Latma) Super Garuda Shield (SGS) ke 17 yang mengikutsertakan puluhan negara. Pemeran utamanya adalah Indonesia dan Amerika Serikat karena awal mulanya adalah bilateral. Selain Indonesia ada empat negara yang akan mengirimkan pasukan dan alutsista pada SGS kali ini yaitu AS, Australia, Singapura dan Jepang. Rancangan simulasi pendaratan pasukan marinir skala besar di pantai Situbondo Jawa Timur menjadi pembeda dengan SGS tahun sebelumnya. Yang berpusat di Puslatpur TNI AD Baturaja. Tahun lalu memang ada pendaratan pasukan marinir di Dabo Singkep Kepulauan Riau, namun hanya marinir Indonesia yang melakukan.

Setelah SGS, pada bulan September 2023 Indonesia menjadi tuan rumah latihan angkatan laut ASEAN. Namanya ASEX-01N (Asean Solidity Exercise In Natuna) di Laut Natuna Selatan. Ini untuk pertama kalinya  ASEAN bersepakat mengadakan latihan militer gabungan. Sebuah unjuk sinergitas antara politik luar negeri dan diplomasi militer ASEAN dengan kepemimpinan Indonesia. Jadi kalau diurut dengan agenda sebelumnya, jadwal latihan militer Indonesia memang sudah padat acara. Awal bulan Juni 2023 yang lalu ada Multilateral Navy Exercise Komodo (MNEK) di Selat Makasar yang melibatkan puluhan kapal perang berbagai negara. Kemudian berlanjut awal bulan Juli 2023 ada latihan Armada Jaya TNI AL di Laut Jawa yang mengerahkan puluhan KRI.

Pada ruang internasional yang lain, pasukan TNI baru saja selesai mengikuti Talisman Sabre di Australia. Latihan militer skala besar ini diikuti 30.000 pasukan dari 13 negara berlangsung akhir Juli sampai 14 Agustus 2023.Talisman Sabre sudah dimulai sejak tahun 2005 awalnya hanya bilateral antara AS dan Australia. Kemudian berkembang menjadi belasan negara. Persis sama dengan Garuda Shield di Indonesia sejak tahun 2007, awalnya hanya bersama AS. Sekarang menjadi multilateral exercise dan mencakup tiga matra. Semuanya berbasis dinamika perkembangan geopolitik dan geostrategis di kawasan Indo Pasifik. Karena ada upaya "negara baru kuat" mengganggu stabilitas kawasan, klaim wilayah, wajar saja sejumlah negara menggemakan komunitas militer dan latihan bersama sebagai antisipasi.

Masih dalam bingkai antisipasi, pilot-pilot TNI AU baru saja menyelesaikan simulasi pengisian avtur jet tempur F16 dengan pesawat tanker RAAF Australia di langit Jawa Timur selama 4 hari mulai 7 sampai 11 Agustus 2023. Ini juga bagian dari format diplomasi militer, salah satu pola manajemen pertempuran jarak jauh. Jarak Iswahyudi ke Natuna mengharuskan F16 isi BBM di udara. Skenario latihan militer antar negara sebenarnya adalah antisipasi terhadap sesuatu yang masuk radar prediksi. Kawasan Indo Pasifik berdasarkan prediksi strategis menjadi pusat konflik skala besar hari ini dan seterusnya. Embrionya sudah jelas, Panmunjom Korea, Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Bahkan Selat Taiwan "bisulnya" sudah merah padam dan bernanah.

Makna dari padatnya agenda latihan militer ini mengharuskan kesiapan seluruh alutsista yang dimiliki TNI baik matra darat, laut dan udara. Dengan SGS yang berkualifikasi kolosal, berbagai jenis alutsista TNI akan berpartisipasi. Seperti main battle tank Leopard, MLRS Astross II Mk6, artileri Caesar Nexter, helikopter Apache, jet tempur F16, pesawat Hercules, KRI striking force, KRI LPD, tank amfibi, MLRS Vampire dan lain-lain. AS sebagai mitra strategis sepanjang sejarah Garuda Shield yang tahun ini memasuki episode ke17 akan menghadirkan berbagai jenis alutsista mutakhir seperti pesawat angkut besar sejumlah kapal perang. Australia mengirim sejumlah tank Abrams, Singapura mengirim 2 kapal perang, Jepang mengirimkan sejumlah pasukan bela diri.

Berbagai serial latihan yang dilakukan militer Indonesia baik secara nasional maupun skala internasional dalam perspektif kita diniscayakan memberikan rasa percaya diri dan meluaskan pengalaman on the spot mengelola teknologi pertempuran. Dengan perolehan alutsista edisi terkini dan frekuensi latihan yang terus menerus, TNI mampu menguatkan ilmu perang modern TNI. Sebagai contoh penembakan peluru kendali canggih Exocet MM40 Blok 3 pada latihan Armada Jaya TNI AL dan Latgab TNI yang hanya berjarak satu bulan adalah bukti kemampuan unjuk kerja dan endurance pertempuran modern militer Indonesia.

Contoh lain, interaksi alutsista AS, Australia dan Indonesia dengan tank Abrams dan tank Leopard, MLRS Himars dan MLRS Astross bersama alutsista matra darat lainnya. Sinergitas teknologi berbagai jenis alutsista dengan kemampuan interoperability dapat meningkatkan kualitas familiarisasi bagi prajurit operator teknologi militer. Lebih dari itu pergelaran latihan militer multilateral yang intensif ini, menggaungkan pesan kuat ke segala arah bahwa Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Indo Pasifik punya tanggung jawab menjaga iklim kondusivitas kawasan. Latihan militer multinasional sesungguhnya adalah show of force, unjuk kekuatan dan bagian dari cara mengingatkan pada pihak sono "anda sopan kami segan, anda melotot kami pamer otot, anda ngotot kami betot".

****

Jagarin Pane / 20 Agustus 2023


Saturday, August 12, 2023

Catatan Latgab TNI Tahun 2023

Indonesia kembali memperlihatkan adrenalin militernya dengan menggelar latihan gabungan TNI terbesar sepanjang akhir Juli dan awal Agustus 2023. Ada tiga area latihan yang dilaksanakan serentak. Kogabwilhan Satu di Dabo Singkep Kepulauan Riau. Kogabwilhan Dua di Laut Jawa dan Situbondo Banyuwangi. Kogabwilhan Tiga di Manokwari Papua. Puncak Latgab di Kogabwilhan Dua, langsung dipimpin Panglima TNI didampingi Menko Polhukam dan Ketua DPR. Seperti kurikulum sebelumnya pertempuran serbu pantai pasukan marinir adalah yang paling heroik suasananya. Namun pertunjukan spektakuler adalah show of force penembakan 4 peluru kendali surface to surface (SSM). 

Sebanyak 4 KRI striking force TNI AL melumatkan kapal perang jenis fregat yang sudah pensiun KRI Slamet Riyadi 352. Dramanya adalah ketika salah satu dari 4 KRI yang mendapat perintah yaitu KRI Yos Sudarso 353 harus menembak "teman satu kelasnya" KRI Slamet Riyadi 352 yang sama-sama berasal dari "Van Speijk Class" Belanda tahun 1987. KRI Yos Sudarso 353 menembak KRI Slamet Riyadi 352 dengan rudal C802 buatan China.  Sementara KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI John Lie 358 menembak dengan 2 rudal paling canggih Exocet MM40 Blok 3 buatan Perancis. Tidak ketinggalan si cabe rawit little but lethal kapal cepat rudal "Sampari Class" KRI Tombak 629 menembak dengan rudal C705 buatan China.

Show of force dengan manajemen interoperabilitas antar matra diakhiri dengan raungan 2 jet tempur F16 TNI AU yang melakukan pengeboman dahsyat. Fregat legendaris "Ahmad Yani Class" yang sudah bertugas 35 tahun itu terbelah dan tenggelam. Lokasinya berdekatan dengan kapal selam TNI AL yang melakukan eternal patrol KRI Nanggala 402. Baru kali ini jet tempur TNI AU cawe-cawe dengan kapal perang TNI AL mengeksekusi kapal perang yang dijadikan sasaran tembak dengan bom. Ke depan mestinya peluru kendali air to surface yang dimiliki TNI AU bisa ditembakkan dari jet tempur TNI AU. Keren gitu loh.

Khusus untuk TNI AL, intensitas latihan militer sepanjang tahun 2023 ini termasuk padat. Karena sebulan sebelum Latgab TNI, telah mengadakan latihan Armada Jaya di Laut Jawa. Salah satu materi latihannya adalah penembakan rudal SSM Exocet MM40 Blok 3 dari KRI I Gusti Ngurah Rai 332 ke KRI Karang Tekok 982 hingga tenggelam. Sebelumnya pada awal bulan Juni 2023 yang lalu TNI AL menjadi penyelenggara MNEK 2023 (Multilateral Navy Exercise Komodo) di Selat Makassar yang diikuti puluhan kapal perang dari sejumlah negara. Termasuk diantaranya China, Rusia, Amerika, Jepang, Australia. MNEK dipandang sebagai bagian dari diplomasi pertahanan Indonesia di kawasan Indo Pasifik. Dalam upaya menjaga iklim kondusif di kawasan.

Pada Latgab TNI  2023 di Kogabwilhan Dua, pergelaran teater pertunjukan diplomasi militer Indonesia, TNI mengerahkan 35 KRI berbagai jenis, 20 jet tempur F16, T50 Golden Eagle dan Super Tucano. Termasuk seluruh jenis alutsista marinir "bertanding" dengan kemampuan masing-masing seperti tank amfibi BMP-3F, PT76, BTR50, MLRS Vampire, LVTP, Howitzer dan lain-lain. TNI AD juga mengerahkan sejumlah alutsista seperti helikopter Apache, Bell 412, tank dan lain-lain. Bombardir pantai Situbondo dari kapal perang dan jet tempur memberikan suasana mencekam.Termasuk proses pendaratan pasukan dan alutsista TNI ditengah dentuman tembakan, asap, derit roda rantai, teriakan komando dan bau mesiu. 

Catatan Latgab TNI 2023 dalam perspektif kita sudah menunjukkan kemampuan interoperability tiga matra. Yang perlu dioptimalkan adalah peran kinerja UAV dan UCAV. Untuk saat ini dan seterusnya pesawat nir awak bersenjata menjadi penting dan vital sebagai agen intelijen pertempuran sekaligus eksekutor lapangan. Seperti dalam pola manuver serbu pantai pasukan marinir, bagian ini menjadi titik kritis yang rawan conter attack melalui serangan UCAV dan peluru kendali pihak musuh. Perang Rusia- Ukraina menjadi benchmark paling penting dalam perubahan kurikulum manajemen pertempuran modern. Pengadaan UCAV Anka dan Bayraktar dari Turki untuk TNI adalah bagian dari antisipasi untuk perubahan kurikulum network centric warfare.

Manajemen pertempuran modern untuk Indonesia, sejauh ini menyangkut soal Natuna atau Ambalat,  dalam perspektif kita, memerlukan kekuatan pukul utama matra laut dan udara. Dengan skenario mempertahankan Natuna atau ketika Natuna sudah direbut lebih dulu maka kekuatan armada tempur TNI AL dan skadron jet tempur TNI AU akan lebih dominan perannya. Dengan korelasi ini peran serbu pantai dari pasukan marinir dan PPRC TNI (pasukan pemukul reaksi cepat) harus diperkuat dengan UCAV, radar, jet tempur air superiority, maritime strike, kapal perang fregat, kapal selam, landing ship tank, coastal missile, tank amfibi dan lain-lain. Dalam rancangan besar menggelar perisai trisula nusantara, aspirasi standar ini sedang dalam proses menuju ke arah yang diinginkan.

Kita bisa saksikan berbagai berita gembira soal pengadaan dan pertambahan alutsista kita sepanjang Agustus ini. Misalnya kedatangan 2 kapal pemburu ranjau baru TNI AL dari Jerman. Kedatangan pesawat ketiga super hercules TNI AU dari AS. Kontrak efektif 18 jet tempur Rafale sehingga menjadi 24 unit yang mulai diproduksi.  Kedatangan 11 panser Pandur II dari Ceko, penyelesaian 18 tank Harimau di PT Pindad dan lain-lain. Termasuk kontrak efektif ekspor kapal perang landing platform dock (LPD) ke 3 dan 4 PT PAL Surabaya ke Angkatan Laut Filipina. Jiran utara kita puas dengan kinerja 2 unit LPD pesanan awal, kemudian pesan lagi. Dengan Uni Emirat Arab, PT PAL juga sudah menandatangani kontrak efektif pengadaan LPD  untuk Angkatan Laut UEA. Kalau yang ini, namanya juga Sultan, pasti maunya barang berkelas dan VVIP. Nah waktu mulai pembuatannya tahun depan.

Latgab TNI secara substansi adalah menguji keandalan teknologi alutsista yang dimiliki. Pada saat yang sama selama lima tahun terakhir kita banyak memesan berbagai jenis alutsista strategis. Maka sudah sewajarnya intensitas latihan militer kita tingkatkan baik internal angkatan atau antar angkatan. Ke depan berbagai jenis alutsista sudah pasti akan berdatangan secara bergelombang. Latgab TNI adalah bagian dari diplomasi militer dan pertahanan sekaligus show of force. Bahwa kita mampu menunjukkan kemampuan otot militer kita untuk mengawal teritori negeri. Pesta rudal dan bom ke KRI Slamet Riyadi kelas fregat yang kuat otot bajanya, adalah pertunjukan kemampuan itu. Mampu membelah dan menenggelamkan kapal perang fregat standar NATO. Digdaya TNI, marwah NKRI.

****

Jagarin Pane / 11 Agustus 2023


Wednesday, July 26, 2023

Menjelang Latgab Terbesar TNI 2023

Baru saja sebulan yang lalu TNI AL melaksanakan latihan Armada Jaya di Laut Jawa. Belasan KRI dikerahkan bersama pasukan marinir dan alutsistanya. Berbagai simulasi tempur laut diperagakan. Puncaknya adalah pendaratan pasukan marinir melalui operasi serbu pantai. Termasuk diantaranya adalah penembakan peluru kendali SSM Exocet MM40 Blok 3 dari KRI I Gusti Ngurah Rai 332. Sasarannya ke arah kapal perang angkut pasukan KRI Karang Tekok 982. KRI yang sudah pensiun itu sukses meledak dan tenggelam dihantam rudal anti kapal paling mutakhir keluaran Perancis.

Saat ini seluruh matra tempur TNI bersiap untuk menunjukkan taring tempurnya dalam manajemen pertempuran modern. Area latihannya ada di tiga lokasi berdasarkan wilayah pertahanan. Untuk Kogabwilhan Satu akan dipusatkan di Dabo Singkep Kepulauan Riau. Kogabwilhan Dua di Situbondo Jawa Timur dan Kogabwilhan Tiga di selatan Manokwari Papua Barat. Ini yang membedakan Latgab TNI tahun ini dengan Latgab sebelumnya yang hanya berkonsentrasi di satu hotspot. Pergelaran dan pengerahan pasukan dengan alutsista di 3 hotspot merupakan bagian dari KUKM (konsep umum kampanye militer) yang harus memenuhi kriteria cepat, sigap, tanggap dalam hitungan jam. Akhir bulan Juli ini dan awal bulan Agustus 2023 adalah pelaksanaan manuver lapangan Latgab TNI.

Untuk Kogabwilhan Dua di Jawa Timur Latgab TNI menjadi ajang unjuk kekuatan terbesar TNI dan akan langsung dipimpin Panglima TNI Laksamana Yudo Margono. Puncaknya adalah serbuan pantai pasukan "hantu laut" marinir dan pendaratan sejumlah alutsista. Sebelumnya tumpuan pantai dibombardir lebih dulu oleh jet-jet tempur TNI AU dan tembakan meriam sejumlah KRI. Namun unjuk kekuatan kampanye dan diplomasi militer yang spektakuler adalah penembakan alutsista strategis. Rencananya fregat legendaris "Ahmad Yani Class" KRI Slamet Riyadi 352 yang sudah pensiun sejak tahun 2019 akan ditenggelamkan dengan 4 alutsista strategis. Yaitu peluru kendali Exocet MM40 Blok 3, peluru kendali C802, peluru kendali C705 dan Torpedo.

Kita lihat hari-hari ini sampai dua pekan ke depan langit Madiun dan Jawa Timur Selatan bergemuruh malam hari dengan manuver belasan jet tempur TNI AU yang berhome base di Iswahyudi AFB. Tiga skadron jet tempur TNI AU latihan terbang malam untuk menguatkan dan menyegarkan kemampuan manajemen pertempuran udara. Belum lama berselang 3 flight jet tempur F16 dari Iswahyudi AFB Madiun dan Roesmin Nuryadin AFB Pekanbaru melakukan latihan tempur dengan US Air Force. 6 jet tempur F16 AS yang berpangkalan di Korsel datang ke Pekanbaru. Sehari berikutnya 2 pesawat bomber nuklir strategis B52 US Air Force landing di Kuala Namu Airport. Kemudian bersama jet tempur F16 TNI AU dan F16 US Air Force melakukan simulasi "Bomber Interoperability" di langit Sumatera Utara dan Riau.

Korps marinir saat ini menyiapkan sejumlah alutsista seperti tank amfibi, panser amfibi, roket multi laras untuk ready for use dalam Latgab terbesar ini. Pasukan marinir menjadi bagian dari sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL. Dalam setiap Latgab TNI atau Armada Jaya pasukan elite ini menjadi bagian dari kurikulum utama simulasi pertempuran puncak. Merebut tumpuan pantai. Dengan kondisi alutsista marinir yang dimiliki saat ini sangat diharapkan ada penambahan yang signifikan. Seperti tank amfibi, ranpur amfibi, roket multilaras, howitzer dan peluru kendali jarak pendek untuk pertahanan pangkalan. Korps marinir sudah mengembangkan kekuatan menjadi 3 divisi yang dikenal dengan sebutan Pasmar. Mestinya alutsistanya juga ikut mekar gahar gitu loh.

TNI AD punya banyak alutsista gahar termasuk ratusan batalyon. Alutsista berkelas misalnya tank Leopard, roket multi laras Astross, artileri Caesar Nexter, peluru kendali Starstreak dan Mistral, helikopter Apache, Mi 35 dan lain-lain. Saat ini TNI AD sedang menyiapkan deploy atau pengerahan berbagai jenis alutsista untuk Latgab berkelas ini. Secara interoperability TNI AD sudah menerapkan network centric warfare antar satuan tempurnya. Ini bisa kita saksikan dalam setiap simulasi pertempuran level Kostrad dan Kodam. Selalu bersinergi antara batayon infantri, artileri, kavaleri, roket, arhanud dan Penerbad TNI AD. Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel menjadi area latihan yang familiar bagi sinergitas satuan tempur TNI AD.

Persiapan Latihan gabungan TNI adalah bagian terpenting untuk manuver lapangan. Meliputi kesiapan embarkasi lintas laut militer  dengan KRI LST dan LPD yang membawa sejumlah alutsista dan pasukan dalam kapasitas besar. Termasuk kesiapan operasi lintas udara dengan pesawat Hercules, CN 295, CN 235. Yang menggembirakan dari dua kesiapan pengerahan ini, TNI AL dan TNI AU sudah memiliki alutsista deployment yang memadai. Ada belasan KRI LST "Bintuni Class" yang relatif baru dan KRI LPD "Makassar Class" serta puluhan pesawat angkut berat Hercules. Saat ini TNI AU mempunyai 3 skadron Hercules dengan kekuatan 30an pesawat tambun dan tangguh ini.

Pertambahan berbagai jenis alutsista TNI bagaimanapun harus diuji dalam simulasi sinergitas pertempuran. Termasuk simulasi yang disesuaikan dengan kondisi terkini geopolitik dan geostrategis kawasan. Dabo Singkep misalnya menjadi kawasan simulasi pertempuran yang lokasinya dekat dengan Natuna. Dinamika cepat, sigap, tanggap di Natuna adalah tanggung jawab Kogabwilhan Satu yang bermarkas di Tanjung Pinang. Jadi Latgab TNI tahun ini  adalah untuk menguji kemampuan alutsista yang dimiliki dengan manajemen interoperabilitas, doktrin, prosedur dan organisasi dalam operasi militer gabungan. Negeri kita adalah negeri kepulauan. Maka mau tidak mau sinergitas tiga matra adalah mutlak.

Catatan kita dalam Latgab kali ini adalah ingin melihat kemampuan satuan kapal selam TNI AL. Uji penembakan torpedo adalah salah satunya karena sudah lama kita tidak menyaksikan uji penembakan alutsista strategis torpedo dari kapal selam. Termasuk menguatkan peran UAV dan UCAV yang sudah terbukti battle proven,  menjadi bintang pertempuran dalam perang Rusia-Ukraina. Manajemen pertempuran modern now and next semakin menguatkan peran UAV dan UCAV disamping Cyber War. Tidak terkecuali perang intelijen lewat jalur framing, penggiringan opini dan hasut menghasut. Karena medsos sudah menjadi infrastruktur utama dahsyatnya psywar, framing dan ghoswul fikr. Kebenaran tidak lagi berfasarkan fakta tetapi berdasarkan persepsi. Apalagi jika peran AI (Artificial Intelligence) semakin dominan. Latgab TNI adalah unjuk kinerja adrenalin NKRI, sekaligus bagian dari diplomasi militer. Bahwa eksistensi dan kehormatan negara adalah segalanya.

****

Jagarin Pane / 26 Juli 2023


Sunday, July 16, 2023

Dari MEF Menuju Perisai Trisula Nusantara

Selama program MEF (Minimum Essential Force) TNI periode 2010-2024, sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, militer Indonesia semakin kuat dengan PENAMBAHAN berbagai jenis Alutsista. Menhan Prabowo melakukan percepatan maksimal extra ordinary selama lima tahun ini untuk pengadaan alutsista. Kemudian menyebutnya sebagai Perisai Trisula Nusantara. Semuanya dipadukan dengan infrastruktur Scytalys konektivitas Network Centric Warfare.

Berikut Rincian Penambahan Alutsista TNI

TNI AU :

    6 Jet tempur Sukhoi Su27/30

  24 Jet tempur F16 Blok 52Id

  42 Jet tempur Rafale

  24 Jet tempur Mirage

  24 Jet tempur IFX

  19 Jet latih T50 Golden Eagle

  15 Pesawat Coin Super Tucano

  24 Pesawat latih KT1 Wong Bee

  24 Pesawat latih Grob G120

    9 Pesawat Hercules Australia

    5 Pesawat Super Hercules AS

    2 Pesawat MRTT A400M

    7 Pesawat Amfibi CL515

  12 Pesawat CN295

    6 Pesawat CN235 MPA

    9 Pesawat CN 212

  20 Radar GCI Thales

    2 Radar Weibel

    2 Radar Vera-Ng

    2 Pesawat AEWC

    2 Pesawat Falcon 7/8X

    4 Pesawat Boeing 737

  12 Helikopter EC725 Caracal

  12 Helikopter Collibri

    2 Satbak Nassam 2

    8 Satbak Trisula

    8 Satbak Oerlikon Skyshield

  12 UCAV Anka

  12 UCAV Bayraktar

    8 UCAV Wing Loong

    5 UAV Aerostar

TNI AD :

    8 Helikopter Apache

  40 Helikopter Bell 412 Ep

  12 Helikopter Fennec

  10 Pesawat N219

114 MBT Leopard

  50 Tank Marder

  18 Tank Harimau

410 Panser Anoa

  24 Panser Tarantula

  24 Panser Badak

  26 Panser Cobra

130 Ranpur Komodo

  15 Ranpur Bushmaster

150 Ranpur M113 APC

  54 MLRS Astross II mk6

  54 Artileri SPH Caesar Nexter

  28 Artileri SPH M109

  54 Artileri KH178

  36 Artileri KH 179

  20 Amphibious Rig M3

  40 Satbak SAM Starstreak

  30 Satbak SAM Mistral

    9 Satbak Ballistic Missile R-Khan

TNI AL :

    2 Kapal heavy fregate Merah Putih

    3 Kapal heavy fregate Fremm Class

    3 Kapal selam Nagapasa Class

    2 Kapal selam Scorpene

    7 Kapal selam Mini

  20 Kapal selam Artificial Intelligence

    2 Kapal pemburu ranjau

    3 Kapal intelijen bawah air

    3 Kapal fregate Bung Tomo Class

    2 Kapal fregate Martadinata Class

    8 Kapal cepat rudal 40 meter

    6 Kapal cepat rudal 60 meter

    1 Kapal cepat rudal Trimaran

  14 Kapal patroli cepat 60 meter

    8 Kapal Landing Platform Dock

  12 Kapal Landing Ship Tank

    3 Kapal BCM Tanker

    1 Kapal korvet VVIP Bung Karno

    1 Kapal korvet 

    2 Kapal Offshore Patrol Vessel

    2 Kapal selam rescue

    8 Satbak Coastal Missile Brahmos

  60 Tank amfibi BMP 3F

  16 MLRS Vampire

  14 UAV Scan Eagle

    7 Pesawat CN235 MPA

  11 Helikopter Panther AKS

****

Jagarin Pane / 16 Juli 2023

(Dari berbagai sumber)

Friday, June 30, 2023

Menggelar Perisai Trisula Nusantara

Rencana strategis pertahanan Indonesia yang membuat banyak pihak terpelongo disiarluaskan melalui acara di institusi POLRI tanggal 16 Juni 2023. Forumnya adalah "Dialog Kebangsaan Merajut Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Dalam Kebinnekaan" pada Sespim Lemdiklat Polri di Lembang Bandung. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mempresentasikan rancangan strategi militer pergelaran perisai trisula nusantara. Intinya adalah membangun lapisan pertahanan Indonesia dengan sinergitas 3 matra TNI. Berpayung aset alutsista berkualitas gahar berkolaborasi dalam "konser pertempuran modern" network centric warfare.

Seperti kita ketahui program strategis untuk penguatan militer Indonesia telah dimulai sejak tahun 2010, dikenal dengan Program Minimum Essential Force ( MEF). Tahun depan sesuai "kurikulumnya" program ini berakhir, persis berusia 15 tahun dengan 3 tahapan program. Sejauh ini dalam pandangan kita program kekuatan "minimalis" yang dimulai Presiden SBY dan dilanjutkan oleh Presiden Jokowi mampu menguatkan otot militer Indonesia. Meski baru masuk kriteria minimal, belum standar. Mengapa lima belas tahun sebelumnya militer Indonesia tidak mencapai kekuatan minimal. Jawabnya karena kita terlena dengan pakem tidak ada ancaman militer selama 30 tahun kedepan. Semua negara adalah sahabat, zero enemy. Pakem selanjutnya karena anggaran pertahanan bukan prioritas. Dan yang terakhir adalah dampak embargo militer.

Sebenarnya saat ini kita sudah berada di ruang besar yang dikumandangkan Menhan Prabowo. Bahwa program MEF yang segera berakhir akan berlanjut menuju ke tahapan berikutnya, essential force. Kekuatan militer standar yang diperlukan untuk manajemen pertahanan negeri kita. Untuk matra udara kita bisa mengikuti progres pengadaan alutsista strategis saat ini. Seperti proses pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis, 36 jet tempur F15 dari AS, 24 jet tempur Mirage dari Qatar dan UEA, serta 24 jet tempur IFX hasil kerjasama pengembangan teknologi jet tempur Korsel-Indonesia. Termasuk pengadaan 5 pesawat angkut berat Super Hercules dari AS, 2 pesawat angkut multi guna A400 MRTTdari Spanyol, 5 pesawat amfibi dari Kanada, 2 pesawat radar peringatan dini, 13 radar canggih GCI Thales dari Perancis. Saat ini TNI AU sudah memiliki aset 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 33 jet tempur F16, 30 jet tempur Hawk, 13 jet latih tempur T50 dan 15 pesawat counter insurgency Super Tucano.

Dari matra laut ada rencana membangun sampai 12 kapal perang heavy fregate, menyediakan tambahan 2 kapal selam serbu, 7 kapal selam taktis, 20 kapal selam mini artificial intelligence. Yang menggembirakan sejauh ini galangan kapal BUMN dan swasta nasional sudah mampu membangun berbagai jenis kapal perang untuk TNI AL seperti KPC, KCR, OPV, Korvet, LST, LPD, BCM. Juga kapal selam kerjasama dengan Korsel. Saat ini PT PAL sedang membangun 2 unit Heavy Fregate Merah Putih, kapal perang petarung terbesar. Rangkaian pencapaian itu adalah kebanggaan untuk kita semua. Membangun kekuatan armada tempur TNI AL dengan pemberdayaan potensi dalam negeri, mengembangkan industri pertahanan. Selama program MEF armada angkatan laut Indonesia telah memperoleh aset enampuluhan kapal perang baru berbagai jenis. Sebagian besar buatan dalam negeri. Dalam waktu dekat akan datang 2 kapal penyapu ranjau baru dan canggih dari Jerman.

Perisai Trisula adalah gambaran sinergitas 3 matra yaitu TNI AD, TNI AL, TNI AU dengan manajemen interoperability, satu kesatuan yang terintegrasi "total football". Pola manajemen militer dengan dukungan teknologi network centric warfare adalah sebuah keharusan mutlak, tidak bisa ditawar untuk saat ini dan masa depan. Manajemen pertempuran modern adalah sinergitas antara jet tempur, radar GCI, UAV, kapal perang, kapal selam, peluru kendali air to surface, air to air, surface to surface dan surface to air. Beragam jenis rudal ini untuk 3 matra yang saling melapis. Penempatan satuan tembak peluru kendali balistik di Dumai Riau misalnya dengan jarak tembak 300 km mampu menjangkau Singapura. Bukan berarti untuk ofensif tetapi lebih kepada upaya preventif pada ancaman kapal perang di selat Malaka dan selat Singapura. Dumai saat ini sudah memilki 1 batalyon Arhanud dengan alutsista peluru kendali surface to air shortrange Starstreak buatan Inggris.

Dinamika geopolitik dan geostrategis di kawasan Laut China Selatan (LCS) dan Indo Pasifik sebenarnya adalah persepsi dan perspektif pertaruhan hegemoni dengan China sebagai musuh bersama dalam versi AS. Sementara program pengembangan postur kekuatan militer Indonesia adalah mengejar ketertinggalan untuk mencapai kekuatan minimal. Kemudian dilanjut dengan mengejar kekuatan standar. Imbas dari perseteruan China dengan AS dan sekutunya di Indo Pasifik seperti Australia, Jepang, Taiwan, Korsel adalah terbukanya ruang dan lalulintas militer melewati teritori Indonesia. Bahkan bisa saja pangkalan militer kita (AU dan AL) menjadi bagian dari supporting aliansi militer melawan China. Sudah ada contohnya. Baru saja 2 pesawat bomber nuklir strategis B52 US Air Force landing dan take off di Kualanamu Airport. Tujuannya untuk simulasi interoperability dengan F16 TNI AU.

Berangkat dari dinamika ini kita perlu memperkuat jalur ALKI dengan selat strategis seperti selat Sunda, selat Lombok, selat Makasar dan selat Malaka. Di selat strategis ini akan ditempatkan coastal missile dan kapal selam mini tanpa awak. Sementara TNI AD akan diperkuat enampuluhan UCAV. Menggelar satuan tembak peluru kendali surface to surface berjarak tembak 300 km di berapa titik strategis. Range 300 km adalah batas aman MTCR dan sesuai kebutuhan pertahanan kita. MTCR (Missile Technology Control Regime) dibentuk negara G7 tahun 1987 untuk mengontrol poliferasi rudal balistik. Sementara itu TNI AU menggelar 13 radar digital GCI Thales untuk memperkuat pergelaran dua puluhan radar GCI eksisting. Termasuk menempatkan skadron tempur di Supadio Pontianak, Natuna, Kupang dan Biak.

Pergelaran Perisai Trisula Nusantara merupakan lanjutan program MEF untuk menggambarkan panorama kekuatan dan posisi militer kita mulai tahun 2030. Program berkelanjutan ini sebenarnya berkejaran dengan makin meningginya suhu konflik di Indo Pasifik. Saat ini armada tempur AS sebagian besar sudah direlokasi dari Timur Tengah ke Indo Pasifik. Sudah ada aliansi nuklir AUKUS (Australia, Inggris, AS). Sudah ada aliansi militer AS - Filipina. Jepang sedang mengembangjan kekuatan militernya berkarakter ofensif, bukan lagi angkatan bela diri. Taiwan sudah ready for war. AS mulai membangun pangkalan militer di Papua Nugini. Berbagai perkembangan geopolitik dan geostrategis yang begitu cepat ini harus disikapi dengan pengembangan postur kekuatan militer Indonesia. Sekaligus sebagai unjuk kinerja diplomasi militer.

Masa depan kawasan Indo Pasifik menjadi palagan pertarungan antara pemegang sabuk hegemoni dan penantangnya. Salah satu framingnya kemudian menjadikan permusuhan militer sebagai tema besarnya. Kita berpandangan tak perlu larut dalam proxy war salah satu pihak. Menegaskan soal hak berdaulat di ZEE (zona ekonomi eksklusif) di perairan Natuna adalah porsi obyektif yang maksimal, tidak perlu melebihi kapasitas itu. Rencana Indonesia menggelar perisai trisula nusantara adalah upaya optimal sebagai antisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat permusuhan militer. Fokusnya untuk menjaga kedaulatan teritori seluruh negeri dan ZEE di Natuna, termasuk memayungi IKN di Kalimantan. Kita harus bergegas, bersiap menyegerakan kecukupan berbagai jenis alutsista. Sehingga ketika cuaca ekstrim dan petir menggelegar kita tidak kaget karena sudah siap dengannya. Ojo kagetan, ojo gumunan, begitu pesan kearifan lokalnya.

****

Jagarin Pane / 30 Juni 2023


Saturday, June 10, 2023

Menjelang Injury Time

Waktu berjalan terus, langkahpun terus bergegas bersaing dengan hari dan minggu, mengejar target yang harus disasar, cepat, dipercepat, percepatan. Kementerian Pertahanan saat ini sedang bergegas untuk menyelesaikan target extra ordinary pengadaan berbagai jenis alutsista untuk militer negeri kepulauan terbesar ini. Karena komandan kementeriannya juga sedang berburu waktu untuk ikut kontestasi pencapresan. Maklum karena ada lowongan menjadi Indonesia_One. Mengapa disebut injury time karena Oktober 2023 ini adalah jadwal pencapresan berlanjut dengan musim kampanye. Syukur-syukur tidak ada pergantian Menhan sampai akhir pemerintahan. That is injury time.

Sejauh ini kabar-kabar yang mencerahkan seputar penguatan alutsista tentara republik telah kita ketahui bersama. Ada kapal perang baru jenis korvet VVIP. Namanya KRI Bung Karno 369 produk dalam negeri dari galangan kapal swasta nasional di Batam. Yang istimewa adalah waktu pembuatannya sampai diresmikan 1 Juni 2023 yang lalu, hanya butuh waktu setahun. Tiga hari kemudian kapal perang ini sudah ikut memeriahkan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2023 di Selat Makasar bersama puluhan kapal perang dari negara partisipan. Luar biasa.

Sementara itu 2 kapal perang baru jenis penghancur ranjau buatan Jerman sudah resmi masuk Armada Dua TNI AL. Saat ini sedang dalam persiapan berlayar ke tanah air. KRI Pulau Fani 731 dan KRI Pulau Fanildo 732 adalah kapal perang yang dilengkapi infrastruktur canggih deteksi bom bawah air. Ini artinya dua unit kapal perang ini akan menambah kekuatan armada KRI bernomor kepala tujuh, bernama pulau kecil di tanah air. Kapal perang penghancur ranjau adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu TNI AL. 

Beberapa kapal perang berbagai jenis saat ini sedang dalam proses pembangunan dan semuanya dibangun di dalam negeri. Seperti 2 OPV (Offshore Patrol Vessel), 2 LST (Landing Ship Tank), 1 KCR (Kapal Cepat Rudal) 3 KPC (Kapal Patroli Cepat) dan 2 kapal perang terbesar 140 meter Heavy Fregate "Merah Putih". Untuk pembuatan 2 kapal selam serbu saat ini  sedang dalam proses menuju kontrak efektif. Jerman dan Perancis sedang bersaing merebut simpati. Penetapan sumber pembiayaannya sudah disetujui Kementerian Keuangan. Plong rasane.

Tentara langit kita sedang menunggu kedatangan 6 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korsel. Bersamaan dengan itu 13 T50 "kakak kelasnya" sedang diupgrade radar tempur dan persenjataan rudalnya. 12 jet tempur Mirage bekas pakai dari Qatar diharapkan tahun depan sudah menjadi aset TNI AU. Pesawat ini diperlukan sebagai wahana transisi dan pengisi sebelum jet tempur Rafale datang. Hitung-hitung untuk membiasakan menggunakan produk jet tempur Perancis. Kabar lain pesanan 5 pesawat angkut Super Hercules dari Lockheed Martin AS sudah datang 1 unit. Bulan Juni ini akan datang 1 unit lagi. 

Kemudian pengadaan pesawat angkut kelas berat multi fungsi A400M sebanyak 2 unit tinggal menunggu kedatangannya. Juga 13 radar GCI dari Thales Perancis. Dari Korsel ada perkembangan bagus dari kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX. Ada 2 Pilot TNI AU yang sudah melakukan uji terbang. Indonesia segera melakukan pembayaran lanjutan pembiayaan proyek prestise ini. Jika tidak ada kendala mulai tahun 2026 jet tempur KFX/IFX sudah mulai diproduksi. Siap-siap memberi nama dong karena Korsel sudah memberi nama jet tempur canggih ini dengan nama Boramae.

Permintaan kita, daftar pengadaan alutsista yang mengemuka, sudah dipublikasikan dan sangat diperlukan menjadi aset TNI, segera eksekusi. Misalnya ranpur amfibi, tank Harimau, panser Badak perlu dalam kuantitas ratusan per item. Jangan sampai ada pandangan banyak beli merek tapi kuantitas hanya belasan. TNI AD jelas membutuhkan ratusan unit tank Harimau produksi Pindad. Juga panser kanon Badak. Mengikuti alur produksi Panser Anoa yang sudah mencapai lebih 400 unit saat ini. Termasuk memenuhi kebutuhan seratusan ranpur amfibi untuk Pasmar.

Kita menyambut sukacita kerjasama militer Indonesia dengan Turkiye yang menghasilkan pengadaan berbagai jenis alutsista. Dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki aset militer strategis dari Turkiye seperti UAV bersenjata Bayraktar dan Anka, infrastruktur peluru kendali darat ke udara Trisula dan peluru kendali antar permukaan Khan. Prediksi kontrak ranpur amfibi Zaha akan bekerjasama dengan Turkiye. Semua ini berawal dari kerjasama produksi tank Harimau dengan payung Undang-Undang.

Menjelang injury time, kita berharap semua program besar dan strategis Kementerian Pertahanan memenuhi target dan harapan kita. Publikasi pengadaan berbagai jenis alutsista khususnya yang belum kontrak efektif semoga menjadi kenyataan. Seperti proses pengadaan jet tempur bergengsi F15 dari AS, pengadaan kapal perang Heavy Fregate Fremm Class, pesawat peringatan dini AEW&C  dan kapal selam serbu adalah harapan kita bersama. Tidak usah banyak-banyak, cukuplah 10-12 unit F15 dan 2 unit Fremm Class. Setidaknya tidak ingkar janji gitu loh.

Program strategis lainnya yaitu peremajaan atau upgrade 41 KRI yang berusia lanjut dapat dipercepat. Pekerjaan ini pasti memerlukan beberapa galangan kapal swasta nasional secara paralel. Bersyukur kita bahwa ada 8 galangan kapal swasta nasional dan 1 BUMN PT PAL yang sudah mampu dan terbukti bisa membangun berbagai jenis kapal perang. KRI Teluk Hading 538 yang terbakar di perairan selat Makassar baru-baru ini adalah kapal buatan Jerman Timur tahun 1977. Indonesia membeli satu paket 39 kapal perang bekas dari Jerman tahun 1993, termasuk KRI Teluk Hading. Sebagian kapal perang bekas yang dibeli tahun 1993 ini layak untuk dipermak ulang infrastruktur tempurnya.

Kita sangat mengapresiasi kinerja berkualitas Kementerian Pertahanan yang berkolaborasi apik dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan. Termasuk pengadaan alutsista strategis dengan negara lain dengan pola G to G. Persetujuan sumber pembiayaan (PSP) pengadaan alutsista sejak tahun 2019 sampai akhir pemerintahan ini bisa mencapai US$ 25 Milyar. Sebuah pencapaian yang fantastis.  Karena kita memang harus bergegas bersiap diri memperkuat militer kita yang belum sampai pada kekuatan minimal. Kita sedang mengejar kekuatan minimal dan standar. Kita pun bergegas menjelang injury time. Semoga semuanya dimudahkan.

****

Jagarin Pane / 10 Juni 2023


Monday, May 29, 2023

Membaca Australia Dan China

Berita rencana pertandingan sepakbola FIFA Matchday antara Australia dan Argentina di China tanggal 15 Juni 2023 sangat menarik untuk diulas. Pertanyaannya mengapa harus di China, mengapa tidak di Australia. Seperti halnya pertandingan Indonesia dan Argentina pelaksanaannya di Jakarta tanggal 19 Juni 2023 nanti. Sesuatu yang lumrah dan disambut antusias masyarakat Indonesia. Bukankah hubungan China Australia saat ini sedang tidak harmonis. Bukankah diantara keduanya sedang saling sikut dalam kerjasama ekonomi. Meski tidak sampai pada pemutusan hubungan diplomatik.

Dalam perspektif kita Australia dan China sepertinya sedang mengikuti pola "Diplomasi Pingpong" yang pernah dilakukan AS dan China tahun 1971. Sebagaimana kita ketahui melalui cabang olahraga Tenis Meja, AS dan China kemudian membuka hubungan diplomatik tahun 1972. Episode jalan ceritanya diawali dengan Kejuaraan Tenis Meja level dunia di Nagoya Jepang tahun 1971. Atlet Tenis Meja AS dan China "tumben" saling menyapa dan berkomunikasi satu sama lain. Sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh China yang mengawasi ketat setiap atletnya. Kabar baik yang tak disangka terjadi. Ketika Kejuaraan Tenis Meja selesai dan para atlet bersiap menuju negara masing-masing, tiba-tiba Beijing memberi undangan kepada kontingen Tenis Meja AS untuk berkunjung ke China. Mampir dulu dong sebelum pulang, kira-kira begitu bahasa ajakannya.

Di China mereka disambut dan dijamu tuan rumah. Selidik punya selidik sebenarnya kedua negara sedang berupaya untuk menjalin hubungan baik. Saat itu China lagi retak aliansi persahabatannya dengan Uni Sovyet (sekarang Rusia). Jika ditandingkan dengan Uni Sovyet plus Pakta Warsawa, China jelas kalah segalanya waktu itu. Jadi Beijing perlu pendekatan dengan AS. Sementara dalam pandangan AS, China tidak bisa diabaikan apalagi dijauhkan. Dua-duanya saling membutuhkan tetapi belum bertemu dengan pintu masuk yang "berwibawa". Maka diplomasi Pingpong adalah cara yang dianggap paling elegan untuk saling senyum, saling sapa. Berlanjut dengan kunjungan Presiden Richard Nixon ke Beijing untuk membuka pintu hubungan diplomatik tahun 1972.

Metode ini menurut pandangan kita yang sedang mengemuka untuk mencairkan kebekuan hubungan China - Australia. Dua negara ini beseteru panas soal Taiwan dan Laut China Selatan (LCS). Tapi persoalan besarnya sebenarnya adalah hegemoni AS yang mulai terusik. Canberra seperti biasa selalu bersama AS dalam urusan geopolitik dan geostrategis dunia. Peredaan ketegangan di Indo Pasific seharusnya adalah "fardu ain", kewajiban semua rumah tangga negara di kawasan ini. Pertempuran hebat dan lama antara Rusia - Ukraina menjadi pelajaran berharga bagi negara manapun. Bahwa perang menghasilkan kehancuran dan penderitaan. Bahwa perang menghasilkan bencana kemanusiaan luluh lantak. Bahwa perang tidak menyelesaikan masalah.

Diplomasi sepakbola Australia - China bisa menjadi awal dari upaya merajut kesetaraan hubungan yang mengedepankan semangat humanisme universal. Teknisnya menikmati bersama kegembiraan di stadion. Yang bermain kesebelasan Argentina dan Australia, yang menikmati penonton China. Bahkan diniscayakan akan ada warga dan diplomat Australia yang hadir dan berteriak bersama. Ketika kita menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion maka semua atribut strata hilang sementara, bertukar nama menjadi kasta penonton.

Harapan kita dengan diplomasi sepakbola bisa berlanjut dengan saling sapa dalam bahasa diplomatik. Kita berharap ada siraman kesejukan. Australia bisa melunakkan pernyataan sikap dan kebulatan tekadnya yang selama ini mengedepankan diplomasi high profile berlapis paranoid terhadap China. Kemudian melapisnya  dengan permusuhan militer. Membentuk pakta nuklir AUKUS bersama AS dan Inggris, membeli 6 kapal selam nuklir dan bermacam alutsista canggih lainnya. Australia membeli kapal selam nuklir tanpa unggah ungguh dengan tetangganya. Dan ini jelas melanggar traktat non proliferasi nuklir di kawasan ini. Indonesia memprotes keras.

Sementara China yang sukses mendamaikan Arab Saudi dan Iran punya potensi untuk memenuhi code of conduct pada wilayah yang  diklaimnya. Code of conduct di LCS misalnya,  ASEAN sudah menunggu lebih sepuluh tahun sampai sekarang. Sementara China masih sebatas pernyataan tok. Indonesia-Vietnam sudah berhasil menyelesaikan klaim tumpang tindih ZEE di Natuna akhir tahun lalu. China mestinya bisa mencontoh penyelesaian klaim dengan perundingan. Termasuk soal Taiwan yang mendesak, akan sangat bermartabat jika dapat diselesaikan melalui perundingan dan jalur diplomatik. Bukan show of force dengan mata melotot.

Tidak ada yang tidak mungkin, sebagaimana cairnya hubungan diplomatik AS - China tahun 1972 di era perang dingin melalui diplomasi Pingpong. Juga berdamainya Arab Saudi - Iran baru-baru ini berkat peran China merupakan sesuatu yang tak pernah diduga. Termasuk kembalinya Suriah yang sudah compang camping ke pangkuan Liga Arab. Kita lihat saja lanjutan cerita diplomasi sepakbola Argentina-Australia di China ini. Mission Impossible kata judul film intelligence action jilid satu sampai empat. Namun nyatanya tercapai juga misinya tuh. Maka menjadikan kawasan Indo Pasific sebagai zona damai dan sejahtera tentu bisa juga dong, walaupun judulnya Mission Impossible.

****

Jagarin Pane / 29 Mei 2023


Thursday, May 25, 2023

Bergegas Menguatkan Alutsista Marinir

Korps marinir TNI AL adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu (SSAT) Angkatan Laut Indonesia yang memiliki karakter khas sebagai pasukan serbu pantai. Dalam setiap serial latihan tempur armada TNI AL ditengah laut ada simulasi deteksi ranjau, deteksi kapal selam, peran tempur bahaya udara, penembakan rudal anti kapal, penembakan torpedo, logistik bekal ulang. Puncaknya adalah pendaratan pasukan marinir. Sebagai pasukan elite TNI AL, marinir mempunyai sejumlah alutsista striking force untuk pendaratan dan menguasai titik tumpu pantai. Yang terlihat kemudian adalah lebih banyak alutsista tua yang berenang menuju pantai seperti tank amfibi PT76, panser amfibi BTR50 buatan Uni Sovyet. Yang baru hanya tank BMP3F buatan Rusia dan MLRS (peluncur roket multi laras) Vampire buatan Ceko.

Sebagai kekuatan SSAT, pasukan marinir menyesuaikan performansi dan pengembangan kekuatannya dengan Armada TNI AL. Seperti kita ketahui Armada tempur TNI AL saat ini sudah mekar menjadi tiga Armada. Markas Armada Satu di Tanjung Pinang, Armada Dua di Surabaya dan Armada Tiga di Sorong Papua. Pasukan marinir (Pasmar) setingkat divisi juga menyesuaikan. Pasmar Satu di Jakarta, Pasmar Dua di Surabaya dan Pasmar Tiga di Sorong. Dengan catatan ada 1 Brigade marinir di Lampung, 1 batalyon di Pangkalan Brandan Sumut dan 1 batalyon di Batam Kepulauan Riau.

Menyesuaikan dengan pengembangan postur kekuatan, selayaknya kekuatan alutsista marinir juga ikut mekar mengembang. Dalam program MEF jilid tiga yang akan berakhir tahun depan ternyata pencapaian target pertambahan alutsista marinir baru 50 %. Kita berharap Ini menjadi program percepatan, menambah infrastruktur tempur marinir sesuai dengan marwah jati dirinya, pasukan hantu laut. Marinir perlu menambah seratusan tank dan seratusan panser untuk mengganti "si mbah" PT76 dan "si tua-tua keladi" BTR50 sesuai dengan pengembangan kekuatan dan perkembangan teknologi persenjataan. Dalam perspektif kita minimal harus ada pertambahan aset 100 tank amfibi, 150 panser amfibi dan 50 MLRS yang baru.

Kurikulum simulasi serbu pantai selama ini didahului dengan penerjunan pasukan intai amfibi, kemudian ada serangan udara langsung dengan pesawat tempur F16 atau Sukhoi untuk melumpuhkan kekuatan musuh. Dilanjut dengan tembakan meriam dari sejumlah KRI yang mengawal pasukan marinir. Pernah dicoba membawa MLRS RM Grad yang dipasang di KRI Landing ShipTank (LST) untuk meluncurkan roket. Kemudian tank amfibi, panser amfibi dikeluarkan dari KRI LST dan LPD yang berjarak sekian kilometer dari pantai. Menyusul sekoci amfibi KAPA yang mengangkut MLRS dan artileri serta pasukan marinir untuk merebut titik tumpu pantai. 

Alutsista yang efektif dan efisien dengan teknologi tempur terkini adalah drone intai (UAV) atau drone bersenjata (UCAV). Di medan pertempuran darat Rusia-Ukraina, alutsista elektronik nir awak ini menjadi strategis fungsinya. Ratusan tank, panser, artileri mampu dilumpuhkan drone dari jarak jauh. Oleh sebab itu, dalam penguatan alutsista marinir sangat perlu ada penambahan skadron UAV dan UCAV, juga skadron helikopter sebagai satuan striking force. Semua disatukan dalam manajemen interoperability. Dalam pengembangan strategi pertempuran marinir ke depan penggunaan UAV dan UCAV bisa menjadi bagian operasi militer serbu pantai.

Saat ini korps marinir memiliki alutsista yang relatif baru yaitu 60 tank amfibi BMP-F buatan Rusia dan 15 MLRS  Grad / Vampire buatan Ceko. Ada juga 15 unit kendaraan amfibi LVT-7A1 hibah dari Korsel. Sementara  ratusan tank dan panser amfibi lainnya adalah produk lawas tahun 60an. Sudah layak diganti. Sejauh ini belum ada penambahan alutsista baru di pasukan hantu laut ini. Pernah ada proses pengadaan 80 ranpur amfibi angkut pasukan BT-3F dan 20 tank amfibi BMP-3F tambahan dari Rusia namun kelihatannya terhalang CAATSA dari AS. Sebagai pasukan pemukul strategis dan masuk unsur PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat) TNI, selayaknya alutsista marinir diperbaharui dan diperluas. Sangat layak untuk dipercepat. Misalnya menambah aset tempur dari Turkiye atau AS. Dari Turkiye ada ranpur ZAHA, dari AS ada ranpur LVT 7. Selain itu marinir perlu dilengkapi dengan drone dan helikopter tempur serta satuan tembak rudal jarak pendek untuk pertahanan pangkalan AL.

Pendaratan pasukan marinir di dunia sepanjang sejarah adalah pertempuran heroik dan sangat menentukan. Ingat pertempuran dahsyat di pantai Normandia Perancis dalam operasi Overlord tentara sekutu tanggal 6 Juni 1944 dan Iwojima Jepang tanggal 16 Maret 1945 dalam perang dunia kedua.. Suasana pertempuran di laut dan pantai pendaratan penuh dengan dentuman dan pergerakan alutsista. Drama pertempuran, adrenalin pertempuran menyatu ditengah deru kendaraan tempur dan teriakan pergerakan pasukan. Pendaratan Normandia dan Iwojima merupakan serial penentu kemenangan tentara sekutu dalam perang dunia kedua dengan korban pasukan yang luar biasa banyaknya.

Adalah hal yang pasti bahwa pasukan marinir Indonesia dipersiapkan untuk menyerbu pantai dan pulau milik negeri yang dikuasai musuh, misalnya Natuna. Maka kekuatan alutsistanya harus modern, harus tangguh, wajib tangguh, bukan ditangguhkan.  Ini syarat mutlak. Wajar kan kalau marinir wajib memiliki aset baru dan modern minimal duaratusan tank amfibi, duaratusan ranpur amfibi, limapuluhan MLRS, skadron UAV/UCAV dan skadron helikopter. Ini juga sebangun dengan target resmi MEF ketiga yang diinginkan TNI AL yaitu memiliki 182 KRI, 8 kapal selam, 100 pesawat udara dan helikopter  serta 978 ranpur marinir. Tercapai 80% saja sudah alhamdulillah banget, padahal sekarang baru tercapai 50% dan tinggal setahun lagi lho.

****

Jagarin Pane / 24 Mei 2023


Thursday, May 11, 2023

Antara Garuda Shield Dan Balikatan

Aliansi militer AS - Filipina edisi terkini seperti membuka sejarah panjang tentang persekutuan dan persahabatan militer keduanya. Perang Vietnam adalah contoh manfaat aliansi ini dan menjadi unjuk kinerja militer AS di Asia Tenggara pada era perang dingin. Filipina adalah home base dan pangkalan aju terbesar untuk pasukan dan alutsista AS ketika menggempur dan membombardir daratan Vietnam selama 15 tahun. Meski pada akhirnya harus hengkang dari ibukota Vietnam Selatan Saigon tahun 1975 yang kemudian berganti nama Ho Chi Minh City.

Adalah Presiden Marcos Jr yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk militer AS demi kepentingan nasionalnya yang terancam arogansi "nine dash line". Seperti mengulang sejarah ayahnya Ferdinand Marcos yang mempersilakan AS memakai Subic Navy Base dan Clark AFB sebagai pijakan militer AS dalam perang Vietnam yang berakhir tahun 1975. Bong Bong Marcos kembali mempersilakan AS menggunakan 7 pangkalan militer di Filipina. Kali ini dengan justifikasi yang lebih jelas, untuk menghadapi kemungkinan terburuk melawan China. Sementara bagi AS prioritasnya adalah disamping untuk membentengi rumah sahabatnya Filipina, juga untuk melapis pertahanan Taiwan yang akhir-akhir ini mendapat tekanan dan ancaman militer yang masif dari China. Dan pijakannya adalah Filipina.

Jarak antara Filipina dan Taiwan hanya 100 mil. Dekat sekali. Skenarionya jika Taiwan diserang China maka pasukan AS melakukan counter attack dari pulau Luzon. Maka pergelaran Balikatan exercice tahun ini yang dimulai sejak pertengahan  April 2023 adalah yang terbesar. Ada pengerahan 18.000 pasukan gabungan kedua negara dengan alutsista canggih, tentu sebagian besar milik AS. Ada rudal Patriot, ada Himars, Avenger, Javelin, jet tempur F35, kapal perang berbagai jenis dan lain-lain. Latihan militer Balikatan sudah diselenggarakan sejak tahun 1991 dan tahun ini adalah yang terdahsyat. Buah dari kesepakatan Joe Bidden dan Marcos Jr. September 2022 yang lalu, menghidupkan kembali aliansi militer kedua negara.

Lalu bagaimana dengan Garuda Shield yang Agustus tahun lalu digelar di tiga tempat di Indonesia, yaitu Sumsel, Kaltim dan Sulut. Rencananya gelar latihan militer Garuda Shield tahun 2023 akan berlangsung pertengahan tahun ini. Salah satu lokasinya adalah pusat latihan tempur marinir di Baluran Situbondo. Garuda Shield yang sudah berlangsung 16 kali, tahun kemarin adalah yang terbesar. Ada sekitar 5.000 prajurit TNI dan pasukan IndoPacom AS ditambah 12 negara lain yang menyemarakkan simulasi manajemen pertempuran modern. Berbagai serial pertempuran dipertunjukkan berbasis interoperability. Garuda Shield tahun 2022 berfokus pada simulasi pertempuran matra darat dan lintas udara.

Sementara saat ini kabar perkuatan alutsista kita terus menerus memberikan ruang harapan yang membungakan dan membanggakan. Sebagai hasrat dan tekad yang kuat untuk melapis barikade pertahanan negeri. Persetujuan anggaran melalui sumber pembiayaan Kementerian Keuangan sebesar US$ 2,16 milyar untuk pembelian 2 kapal selam Scorpene adalah jalan cerah menuju kontrak efektif. Sembari berharap pengadaan 2-3 kapal perang heavy fregate Fremm Class bisa kontrak efektif sebelum Pilpres 2024. Termasuk 12 jet tempur Mirage sebagai "penguat dadakan" untuk mengisi ketersediaan jet tempur sebelum 42 jet tempur Rafale datang. Sebagai informasi, selama lima tahun terakhir ini sudah ada persetujuan anggaran sebesar US$ 25 Milyar dari Kementerian Keuangan untuk pembelian berbagai jenis alutsista. Ini adalah yang terbesar sejak era Dwikora. Dan sangat mungkin bisa bertambah US$ 4 -5 Milyar lagi sampai tahun 2024.

Garuda Shield sangat bagus untuk pertambahan pengalaman ilmu tempur modern berbasis interkoneksi. Simpul akhirnya kita harus siap menggelar kekuatan otot militer kita dengan isian gizi alutsista strategis dan berkualitas. Uji gizi alutsista sudah ada di medan perang Rusia Ukraina. Bintangnya adalah drone bersenjata dan peluru kendali. Kita ikuti perkembangan itu. Kita sudah mempersiapkan kedatangan infrastruktur alutsista ini. Drone Anka dan Bayraktar dari Turki akan datang. Satbak (satuan tembak) peluru kendali surface to air Hisar Trisula jarak menengah dan jauh teknologi Turki dan Ceko segera tiba. Juga Satbak peluru kendali surface to surface Khan made in Turki dengan jarak tembak 280 km. Peran drone atau UCAV atau pertempuran remote control ke depan akan sangat menentukan dan strategis dalam network centric warfare.

Balikatan dan Garuda Shield adalah simulasi, diplomasi dan evaluasi. Keduanya memiliki urgensi masing-masing yang bermuara pada ready for use, kesiapan kekuatan militer yang bertumpu pada interoperability dan network centric warfare. Sebagai diplomasi militer Balikatan dan Garuda Shield ingin menunjukkan pada pihak sono tentang peta jalan militer dan kekuatan militer lawannya. Perbedaannya, Balikatan adalah aliansi militer bilateral yang dikembangkuatkan sebagai bagian dari "persekutuan tradisional" antara AS dan Filipina. Sedangkan Garuda Shield adalah kemitraan militer yang dibangun berdasarkan dinamika kawasan, kepentingan bersama, bukan aliansi militer. 

Filipina sekutu AS sudah punya "akta nikahnya". Indonesia bukan sekutu AS, tapi setara dengan "teman tapi mesra". Hubungan seperti ini sah-sah saja bergantung kepada kepentingan sesuai dinamika dan kebutuhan. Dulu kita pernah mengalami embargo militer dari AS. Belajar dari embargo itu kita membeli 16 jet tempur Sukhoi, 60 tank amfibi BMP3F dari Rusia. Termasuk saat ini pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis. Sah-sah saja. Infrastruktur militer Filipina selama ini kurang bergigi sehingga lima tahun terakhir mereka berupaya untuk memodernisasinya. Termasuk membeli 4 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) dari Indonesia.  Alutsista Indonesia jauh lebih baik dari tetangganya ini meski belum sampai pada kekuatan minimal yang dibutuhkan. Sekali lagi Balikatan adalah simbol aliansi militer, Garuda Shield adalah simbol kemitraan militer teman tapi mesra. Karena kita berteman dengan siapa saja, sesuai dinamika dan kepentingan nasional kita. Ini salah satu makna bebas dan aktif.

****

Jagarin Pane / 10 Mei 2023


Tuesday, April 18, 2023

Memilah Persepsi Dan Perspektif Konflik Indo Pasific

Perubahan geopolitik dan geostrategis di Timur Tengah berubah cepat seperti pepatah " Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari". Dan yang membuat hujan perubahan itu adalah pesaing hegemoni AS, China. Betapa tidak, pada hari-hari belakangan ini pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi dan Iran serta penerimaan Suriah ke pangkuan liga Arab menjadi parfum wangi di tengah bulan suci Ramadhan. AS dan sekutunya NATO terkesima, salah tingkah dan mati angin. Sementara China memeluk prestasi diplomatik damai terbaik  di tengah menguatnya polarisasi dunia dan berkecamuknya perang Rusia-Ukraina.

Mari kita memilah persepsi dan perspektif potensi konflik di Indo Pasific. Persoalan kunci yang didefinisikan adalah soal Taiwan dan klaim nine dash line China di Laut China Selatan (LCS). Apakah hanya sekedar itu permasalahannya. Ternyata tidak. Dalam perspektif AS persoalan besarnya adalah persaingan hegemoni dengan semakin tergerusnya "nilai" AS di mata negara-negara dunia. Dalam upaya membendung "banjir bandang" kemampuan ekonomi dan militer China, AS dan sekutunya mengambil pola reaktif dan overdosis dengan membangun permusuhan ekonomi dan permusuhan militer. Khusus dalam bidang militer AS membentuk pakta nuklir AUKUS di Indo Pasific bersama saudara "satu trah anglo saxon", Inggris dan Australia. Kemudian mengajak Filipina untuk bersekutu dan membuka  7 pangkalan militer di negeri itu, mengantisipasi agresi militer China ke Taiwan dan ancaman ke LCS.

Dengan Indonesia, AS mengirimkan ribuan prajurit untuk latihan militer skala besar Garuda Shield di Sumsel, Kaltim dan Sulut. Mengirimkan pesawat tanker avtur US Air Force untuk simulasi pengisian BBM belasan F16 TNI AU di sepanjang selatan Jawa Timur. Mengirim pesawat intai strategis Poseidon untuk latihan bareng. Mengajak pasukan marinir Indonesia berlatih di markas USMC. Termasuk mengikutsertakan dan memberangkatkan prajurit Kostrad dari pangkalan militer Guam untuk terbang non stop dan diterjunkan di Puslatpur TNI AD Baturaja dengan 9 pesawat angkut berat.

Apa sih esensi permasalahan di LCS. Secara fakta batas laut Indonesia dan China bersinggungan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Natuna utara, bukan di perairan teritori 12 mil laut dari pantai Natuna. Juga ZEE Malaysia dengan ZEE kita, ZEE Vietnam dengan ZEE kita. ZEE Malaysia dengan ZEE Vietnam. Termasuk ZEE Malaysia, Brunai, Vietnam, Filipina dengan ZEE China. Perairan ZEE adalah perairan dimana sebuah negara  memiliki hak berdaulat untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut.  Artinya disamping klaim tumpang tindih ZEE dengan nine dash line China sesama negara ASEAN yang punya halaman LCS saling klaim juga tuh tapi tidak seheboh dan sedramatis dengan China.

Yang perlu diingat ZEE bukan kedaulatan teritori sebuah negara. Kedaulatan teritori perairan Indonesia adalah 12 mil laut dari garis pantai. Nine dash line China bertemu dan beririsan dengan ZEE Indonesia yang diakui UNCLOS 1982 dan sudah diratifikasi. Berita bagusnya, Indonesia dan Vietnam akhir tahun lalu mampu menyelesaikan secara final tumpang tindih klaim dengan perundingan yang durasinya bertahun-tahun. Artinya klaim tumpang tindih ZEE sejatinya bisa diselesaikan dengan cara beradab dan tak perlu pamer kekuatan otot militer. Indonesia dan Vietnam telah menunjukkan pada dunia kemampuan dan kecerdasan serta marwah diplomasinya untuk menyelesaikan klaim ZEE diantara keduanya.

Soal AUKUS yang tiba-tiba saja lahir "tanpa hamil duluan" alias tidak mengedepankan dialog dengan negara kawasan  ASEAN sesungguhnya adalah langkah tegap berwajah pucat. Sebagai jiran satu RW Indonesia bereaksi tegas pada jiran selatan ini yang telah melanggar status non proliferasi nuklir di kawasan. Lebih dari itu hanya karena respon yang berlebihan terhadap ancaman China di Indo Pasifik lantas membuat pakta nuklir "NATO Timur Jauh".  Boleh jadi pemberitaan soal keinginan Indonesia yang terkesan tiba-tiba untuk membeli 4 kapal perang destroyer type 052D dari China sebagai jawaban militer soal kehadiran AUKUS. Rencana beli ini yang mengemuka di pemberitaan bisa dicatat sebagai penegas posisi Indonesia yang non blok. Sekaligus untuk menempatkan dan memilah persepsi dan perspektif potensi konflik karena klaim secara proporsional.

Maka percepatan perkuatan otot militer Indonesia semakin memperjelas bahwa kita mengantisipasi konflik LCS sesuai porsi dan persepsi kita. Dalam pakem diplomatik Indonesia tidak bermusuhan dengan China. Indonesia tidak perlu seperti Filipina yang masuk dalam kategori aliansi militer dengan AS. Kita membangun kekuatan militer kita sepadan dengan luasnya wilayah teritori karena kita memang kekurangan aset alutsista. Bahkan kekuatan minimal saja belum tercapai. Kita membeli berbagai jenis alutsista dari berbagai negara adalah bagian dari strategi militer yang cerdas. Termasuk rencana beli destroyer 052D dari China. Yang terakhir ini kalau jadi, tentu membuat tetangga selatan berpikir lagi. Dan biarkanlah dia berpikir.

****

Jagarin Pane / 17 April 2023

Sunday, April 9, 2023

Berita Bawah Air Mulai Terang Benderang

Belum sepekan ada berita di CNN Indonesia, rencana pengadaan 4 kapal selam dengan total anggaran 2,1 milyar atau 31 trilyun. Kapal selam yang digadang-gadang adalah kombinasi made in Jerman dan Perancis, 2 kapal selam U214 dan 2 Scorpene. Saat ini Indonesia baru memiliki 4 kapal selam U209 yang kelasnya masih dibawah U214 Jerman atau Scorpene Perancis. Armada monster bawah air mutlak diperlukan sebagai salah satu kekuatan penggentar angkatan laut Indonesia. Kita tidak boleh abai dengan unsur kekuatan sistem senjata armada terpadu TNI AL ini. Potensi konflik di Indo Pasific termasuk Laut China Selatan adalah penguasaan wilayah laut dan udara. Mirip seperti perang Pasifik 80 tahun yang lalu.

Empat kapal selam yang dimiliki Indonesia saat ini belum menjadi kekuatan keunggulan. KRI Cakra 401 jenis U209 buatan Jerman misalnya sudah terlalu tua menjelajah jeroan laut kita. Sementara ketiga adik seperguruannya sama-sama U209 namun lain "dosen pembimbingnya", belum sampai pada penampilan memuaskan apalagi cum laude. Masih ada "mata kuliah" yang harus disempurnakan. Meski demikan ilmu transfer teknologi untuk membangun KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405 sangat bermanfaat bagi PT PAL. Contohnya overhaul KRI Cakra 401 di galangan kapal selam PT PAL Surabaya sukses dikerjakan oleh insinyur dan teknisi PT PAL dengan supervisi Daewoo Korsel.

Sekedar info, ilmu transfer teknologi yang paling efektif dan cepat daya serapnya adalah upgrade atau enhanced mid life update (eMLU) jet tempur F16 blok 15 TNI AU. Saat ini dari 10 F16 generasi tahun 1990 yang dibongkar total untuk diisi dengan infrastruktur dan software tempur modern sudah selesai 7 unit. Semuanya dilakukan oleh tenaga ahli dan teknisi TNI AU dengan supervisi Lockheed Martin AS. Pengerjaannya dilakukan di markas skadron teknik 042 Iswahyudi AFB. Hasilnya 7 unit F16 ini sudah menyandang teknologi tempur terkini beyond visual range dengan rudal AIM-120 AMRAAM. 

Soal pilihan untuk membeli aset kapal selam, dalam pandangan kita, memilih U214 bisa memberi manfaat ganda untuk TNI AL dan PT PAL. Bagaimanapun PT PAL sudah punya pengetahuan dan pengalaman. Termasuk penyerapan transfer teknologi ketika membangun 3 kapal selam Nagapasa Class U209 improved dengan guru pembimbing Daewoo Korsel. Meski performansi kapal selam tersebut belum optimal. TKMS Jerman yang nota bene mahaguru atau suhu nya pembuatan kapal selam di dunia tentu bisa mengurai aspek teknis untuk menggaharkan 3 kapal selam Nagapasa Class. Artinya PT PAL mendapat tambahan ilmu lagi untuk maintenancenya dan TNI AL bisa optimal mengoperasikannya.

Poin penting dari tulisan ini adalah menyegerakan percepatan pengadaan 4 kapal selam gahar ini. Momentumnya hanya ada di tahun sekarang. Proses pengadaan herder bawah air ini diharapkan bisa kontrak efektif tahun ini. Dalam prosesnya jelas ada tarik menarik unjuk performansi produk pabrikan. Namanya juga promosi untuk merebut simpati, wajar di dunia persaingan produsen bisnis alutsista. Selama proses pengadaan ini berlangsung publikasi marketing komunikasi Scorpene terlihat lebih mengemuka dibanding U214. Banyak media yang menyiarluaskan keunggulan dan nilai tambah Scorpene. Naval Group mengadakan acara presentasi performansi Scorpene di kapal perang LHD Perancis yang sedang berkunjung ke Jakarta baru-baru ini. Sementara TKMS produsen U214 Jerman hampir tidak pernah terdengar marketing komunikasi publikasinya.

Jika keduanya, Scorpene dan U214 menjadi pilihan bersama, ini merupakan keputusan win-win solution. Kapal selam U214 dapat menjadi "induk maintenance" bagi 4 kapal selam yang kita miliki yang sama-sama berbasis Jerman. Sementara pilihan kepada teknologi Scorpene adalah strategi untuk kerahasiaan teknologi. Dan tidak terpengaruh dari bayang-bayang teknologi U218 SG milik Singapura. Yang menggembirakan berita bawah air mulai terang benderang karena sudah ada penetapan sumber pembiayaannya (PSP) dari Kementerian Keuangan.

Kita menyambut riang gembira suasana terang benderang ini apabila terlaksana acara puncak yang bernama kontrak efektif. Sama benderangnya dengan puncak acara HUT TNI ke 77 tanggal 9 April 2023 di Halim AFB yang spektakuler dan digdaya. Menhan Prabowo, Presiden ke 5 Megawati, Ketua DPR Puan Maharani, Panglima TNI, Kapolri dan undangan lainnya berjoget bersama mengikuti lantunan lagu "Ojo dibandingke" dan saling bersalaman sumringah diakhir acara. Suasana terang benderang dengan udara cerah ini sejatinya adalah suasana kita bersama hari-hari ini dengan berita terang benderang soal pengadaan kapal selam gahar dan berbagai jenis alutsista lainnya. Semoga dimudahkan.

****

Jagarin Pane / 09 April 2023

Sunday, March 26, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

 (Bagian Kedua-Habis)

Perubahan geopolitik dan geostrategis yang begitu cepat di Timur Tengah membuat dunia terperangah. Setelah Arab Saudi-Iran saling berpelukan, beberapa negara Arab sudah membuka diri untuk menerima kembali Suriah yang sudah bonyok ke pangkuan Liga Arab. Yaman yang babak belur dibombardir Arab Saudi dipastikan akan menjadi negeri damai sentosa karena Iran dan Arab Saudi sudah baikan. Dan semua perubahan cepat yang terjadi ini bukan karena campur tangan AS, murni inisiatif mereka sendiri sesama warga kelurahan Timur Tengah. 

Arab Saudi sudah mulai menjauh dari AS. Ingin lepas dari pengaruh Washington yang selalu mendikte. Terkini, salah satu penyebabnya karena pemaksaan kehendak soal minyak OPEC yang harus mengikuti kehendak Pakde Sam soal kuota dan harga lewat RUU yang sedang dipersiapkan. Lucu juga ya kok sibuk ngurusin bisnis negara lain lewat UU dia. Ini juga salah satu bentuk kekonyolan dari pemegang hegemoni yang belakangan ini terkesan panik dan emosional.

Penghancuran jalur pipa gas Nord Stream 2 tanggal 26 September 2022 diyakini adalah hasil karya penguasa hegemoni. Jerman sebagai tujuan penyaluran sumber daya energi dari Rusia ini tentu merasa terpukul tanpa bisa berkata apa-apa. Karena Jerman anggota NATO meski sejarah perang dunia kedua, Hitler Jerman yang diluluhlantakkan pasukan sekutu. Artinya mereka adalah negara yang kalah perang. Harus tunduk dan patuh dengan pemenang perang ketika negaranya dibagi dua. Jerman Barat ikut NATO dan Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.  Jalur pipa Nord Stream yang menghubungkan Rusia dan Jerman melalui laut Baltik untuk memenuhi kebutuhan energi beberapa negara Eropa Barat.

Demikian juga ketika tembok Berlin dirubuhkan tahun 1991 sebagai lambang penyatuan Jerman,  tetap harus menjadi anggota NATO.  Padahal Pakta Warsawa sudah membubarkan diri. Ekspansi yang terus menerus inilah yang kemudian dibaca Rusia sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya. Banyak negara pecahan Uni Sovyet yang sudah bergabung dengan NATO. Terakhir Ukraina dibujuk untuk menjadi anggota NATO. Ini adalah ketersinggungan harga diri bagi Rusia. Bagaimanapun Rusia dan Ukraina adalah sejarah kebersamaan yang panjang. Jarak Moskow ke Ukraina hanya seukuran jarak Jakarta-Surabaya. Artinya bergabungnya Ukraina ke NATO adalah ancaman militer langsung ke jantung Moskow.

Sejarah kemudian yang akan membuktikan apakah pergantian kepemimpinan hegemoni akan berlangsung mulus atau melalui perang besar-besaran. Perang Rusia-Ukraina adalah ujian ketrampilan dan penentunya. Kemudian kekuatan ekonomi China sebentar lagi akan menyalip AS sementara kekuatan militer China tumbuh menjadi kekuatan terbesar di Asia Pasifik. Untuk mengantisipasinya tiga negara bersaudara Anglo Saxon AS, Inggris dan Australia membentuk pakta nuklir AUKUS, markasnya di Australia. Pertanyaan sebenarnya mau kemana dunia ini dibawa kalau tidak sedang menuju konflik besar yang akan  menghancurkan peradaban bumi. Atau karena ingin mempertahankan status quo hegemoni.

Mengapa persekutuan hegemoni semakin memudar menurut pandangan kita lebih disebabkan karena kebisingan dan sikap-sikap tidak simpatik mereka sendiri. Statemen-statemen yang dikeluarkan dominan bernada ancaman dan paksaan yang menimbulkan antipati berbagai negara. Termasuk melakukan proxy war dan framing. ISIS adalah contohnya dan dunia sempat terkecoh. Termasuk soal senjata pemusnah masal Irak yang ternyata tidak pernah terbukti.

Peta bipolar atau bahkan multipolar geopolitik dan geostrategis dunia sedang berproses. Perang Rusia Ukraina adalah pembuka alineanya. Netizen dunia mengikuti dengan cermat seluk beluk penyebab dan hingar bingarnya termasuk berita-berita hoaxnya. Misalnya ketika KTT G20 di Bali sedang berlangsung Ukraina membuat berita hoax paling memalukan. Dia bilang rudal Rusia menyerang dan meledak di teritori Polandia. Padahal setelah diselidiki ternyata rudal Ukraina yang melenceng ketika ingin menangkis serangan Rusia.

Para pemimpin NATO yang hadir di Bali sempat rapat darurat untuk mengambil sikap bersama. Karena jika ada anggota NATO diserang maka itu adalah deklarasi perang terhadap seluruh anggota NATO. Benar-benar genting suasananya. Dan ternyata hoax. Presiden AS sendiri yang mengatakan bahwa yang meledak itu bukan rudal Rusia. Zelensky memang pintar menjalankan framing pertempuran, padahal negerinya sudah luluh lantak, jutaan rakyatnya sudah mengungsi. Ironinya negerinya sendiri yang jadi korban proxy dari aliansi yang ingin memperluas keanggotaannya.

Pada akhirnya memang dunia membutuhkan keseimbangan, berpasangan dan saling membutuhkan. Sama halnya ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada laki-laki ada perempuan. Termasuk informasi butuh konfirmasi agar tidak terjadi framing dan pembenaran sepihak. Dunia unipolar sudah membuktikan adanya ketidakseimbangan, keangkuhan, keberpihakan dan kesewenang-wenangan. Kita sedang menuju dunia bipolar atau bahkan multipolar. Dan perjalanan ke arah itu akan penuh dengan goncangan dan turbulensi. Pada akhirnya kita akan landing di bandara bipolar atau tetap unipolar atau bahkan tidak pernah landing lagi. Waktu yang akan menjawabnya.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2023


Friday, March 24, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

(Bagian Satu Dari Dua Tulisan)

Pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran merupakan kado indah Ramadhan 1444 H. Sebuah langkah besar dan bersejarah dari kedua bangsa besar muslim yang difasilitasi bangsa besar jua, China. Ini terjadi ditengah berkecamuknya perang besar Rusia-Ukraina berdurasi tahunan di benua paling modern di dunia, benua biru Eropa. Jabat tangan dua negara muslim paling berpengaruh di Timur Tengah di Beijing merupakan pukulan diplomatik paling menyesakkan bagi pemegang sabuk hegemoni, Amerika Serikat.

Sebenarnya AS sudah dan sedang memindahkan aset militernya dari kawasan Timur Tengah menuju Indo Pasifik. Di kawasan Asia Pasifik ini ada sang naga yang sedang bergeliat sebagai pesaing hegemoninya dalam segala dimensi, China. Timur Tengah dalam pandangan geopolitik dan geostrategis AS tidak lagi menjadi prioritas karena beberapa negara Arab sudah membuka pintu hubungan diplomatik dengan Israel. Catatannya adalah Suriah sudah babak belur namun AS gagal menggulingkan Bashar Al Assad. Presiden Irak Saddam Husein, dan pemimpin Libya Moammar Khadafy sudah dihabisi. Ironinya alasan menggempur Irak dan menggantung Saddam Husein tidak pernah terbukti yang katanya mempunyai dan menggunakan senjata pemusnah massal. Dan Iran-Arab Saudi dibiarkan berkonflik panjang di medan pertempuran Yaman. Dan ternyata mereka berjabat tangan untuk berdamai.

Kemudian masih segar dalam ingatan kita  ketika AS tiba-tiba saja angkat kaki meninggalkan Afghanistan akhir Agustus 2021 setelah duapuluh tahun menguasai negeri Mullah itu. Cabut begitu saja tanpa pamit meninggalkan aset perang milyaran dollar. Pasukan Taliban mendapat rezeki nomplok mengambil alih pemerintahan Afghanistan dan menguasai alutsista AS. Itu artinya secara defacto Taliban mampu mengalahkan AS di Afghanistan. Ini sama kondisinya  dengan kekalahan AS dalam perang panjang di Vietnam yang berakhir tahun 1975. AS harus angkat kaki dari Saigon.

Perlahan tapi pasti abrasi pantai hegemoni AS mulai tergerus. Kekuatan ekonomi, teknologi dan militer China sedang menuju puncak klasemen. Menghadapi peta perubahan ini pemilik hegemoni dan sekutunya cenderung panik menghadapi takdir sejarah Samuel Huntington ini. Seperti dalam persaingan teknologi, menangkap dan menahan Direktur Keuangan Huawei di Vancouver Kanada tahun 2018 dengan alasan bla bla bla merupakan contoh kepanikan menyikapi persaingan bisnis kemajuan teknologi 5G China yang lebih maju. Jika alasannya Huawei berbisnis dengan Iran yang berarti melanggar sanksi AS mestinya tidak juga sampai harus menahan putri pendiri Huawei itu. Netizen dunia mulai paham dengan kekonyolan pemilik hegemoni dan sekutunya.

Potensi persekutuan militer China, Rusia, Iran dan Korut sangat mungkin terhidang di karpet peta dunia yang labil saat ini. Bahkan potensi pengembangbiakan perang Rusia Ukraina bisa berlanjut menjadi Perang Dunia Ketiga. Modalnya hanya pencet tombol nuklir. Misalnya jika Rusia didesak terus, ditekan, dikucilkan, bahkan Putin mau ditangkap sebagai penjahat perang. Ini mengarah pada road map yang jelas, perang nuklir. Sejarah panjang Rusia bisa menjadi standar penilaian bahwa bangsa ini sangat militan, pantang menyerah. Ingat perang dunia kedua ketika Rusia menggempur Jerman, duluan sampai di Berlin mendahului pasukan AS dari Normandia Perancis. Ini yang menyebabkan Berlin dibagi dua setelah perang dunia kedua. Eropa Timur membentuk Pakta Warsawa dan Eropa Barat, AS mendirikan NATO. Jerman dibagi dua, Jerman Barat masuk NATO, Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.

Mengapa pemilik hegemoni yang mengatur dunia secara unipolar tergerus abrasi. Faktor utamanya adalah munculnya kekuatan ekonomi dan teknologi China yang tumbuh menjulang cemerlang. Termasuk kekuatan militer China yang semakin hebat. Faktor lain lebih kepada pemaksaan kehendak dari pemilik hegemoni dan sekutunya demi kepentingan sepihak. Karena tidak punya pesaing bandul bipolar cold war setelah bubarnya Uni Sovyet dan Pakta Warsawa tahun 1990, AS dan sekutunya bebas leluasa menentukan peta geopolitik dan geostrategis. Fokusnya Timur Tengah dengan mengaduk adonan proxy, menyulut perang Teluk jilid satu dan dua, menyerang Libya, menggempur Suriah, membentuk ISIS, melakukan framing proxy ke Arab Saudi untuk menyerang Yaman karena ada milisi Houti yang didukung Iran. 

Sementara itu di belahan bumi yang lain, China mulai menunjukkan geliat naga nya dengan kemajuan ekonomi dan militernya. China menguatkan klaim nine dash line nya di Laut China Selatan dengan membangun sejumlah  pangkalan militer  di kepulauan karang atol Spratly dan Paracel. Mengerahkan coast guard dan kapal perang untuk menggertak Vietnam, Filipina dan Indonesia. Juga dengan Taiwan sudah sampai pada tahap persiapan penyerbuan. Maka dalam pandangan geostrategis dan geopolitik AS, Indo Pasifik akan menjadi konsentrasi kekuatan militer AS untuk melawan China. Paman Sam membentuk pakta nuklir AUKUS dengan Inggris dan Australia, membuka 7 pangkalan militer di Filipina, membolehkan Jepang menguatkan angkatan bela diri menjadi kekuatan militer ofensif dan menguatkan Taiwan dengan ratusan aset perang.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 23 Maret 2023

Wednesday, March 15, 2023

Belanja Alutsista Terbesar

Investasi Pertahanan Indonesia 

Terbesar Lima Tahun Terakhir

(Perkiraan Anggaran US$ 25 Milyar)


  1 Korvet VVIP KRI Bung Karno 369 dari GSN

  2 Kapal Offshore Patrol Vessel dari GSN

  4 Kapal Landing Ship Tank dari GSN

  6 Kapal Patroli Cepat dari GSN

  1 Kapal Tanker BCM dari GSN

  1 KCR Trimaran KRI Golok 688 dari GSN

  2 Kapal LPD Rumah Sakit dari PT PAL

  3 Kapal Cepat Rudal 60m dari PT PAL

  2 Heavy Fregate Arrowhead 140m PT PAL

  6 Heavy Fregate Fremm 140m dari Italia

  2 Fregate Maestrale dari Italia

  3 Korvet Pohang Class dari Korsel

  2 Kapal pemburu ranjau dari Jerman

  2 Kapal selam Scorpene dari Perancis

42 jet tempur Rafale dari Perancis

12 jet tempur Mirage dari Perancis

  6 jet latih tempur T50 dari Korsel

  3 pesawat latih KT-1 Wong Bee dari Korsel

  2 pesawat Falcon 8x dari Perancis

  2 Pesawat MRTT A400M dari Airbus

  5 Pesawat Super Hercules dari AS

14 Radar GCI Thales dari Inggris

  2 Radar pasif Vera Ng dari Ceko

  2 Pesawat AEW&C

  6 Pesawat amfibi CL515 dari Kanada

  4 Pesawat CN235 MPA dari PT DI

  2 Satbak Rudal SAM Nasam dari Norwegia

  3 Satbak Rudal SAM MR dari Turki

  3 Satbak Rudal SAM LR dari Turki

  3 Satbak Rudal Khan S to S dari Turki

12 UCAV Anka dari Turki

12 UCAV Bayraktar dari Turki

14 UAV Scan Eagle dari AS

  9 Helikopter Bell 412 Epi dari PT DI

  8 Helikopter EC725 Cougar dari PT DI

  1 Infrastruktur NCW dari Yunani

18 Tank Harimau dari Pindad

23 Panser Badak dari Pindad

22 Panser Pandur (Cobra) dari Ceko

15 Ranpur Bushmaster dari Australia

50 Ranpur Komodo dari Pindad

40 MLRS Vampire dari Ceko

Keterangan:

*GSN : Galangan Kapal Swasta Nasional

  NCW: Network Centric Warfare


****

Jagarin Pane / 15 Mar 2023

(Dari berbagai sumber)

Wednesday, March 8, 2023

PT PAL Menuju Industri Pertahanan Kelas Dunia

Kontrak besar senilai US$ 408,32 juta diperoleh PT PAL Indonesia di ajang IDEX (International Defence Exhibition & Conference) 2023 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA). Pameran industri pertahanan berkelas ini digelar tanggal 20-24 Pebruari 2023. Nilai ini adalah untuk kontrak efektif, bukan lagi sekedar MOU, untuk pembangunan kapal perang jenis LPD gede banget 163 meter pesanan sahabat baik Indonesia, UEA. Dan kontrak ini adalah awal dari kerjasama strategis kedua negara, kerjasama industri pertahanan skala besar antara Indonesia dengan salah satu negeri Arab yang kaya raya, UEA. 

Karier ekspor PT PAL di pasar internasional diawali dengan pesanan 2 kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel) untuk angkatan laut Filipina beberapa tahun yang lalu. Negeri jiran utara kita ini ternyata puas banget dengan performansi kapal perang buatan Surabaya. BRP Tarlac 601 yang diserahkan tahun 2016 dan BRP Davao Del Sur 602 setahun kemudian, sudah pula menunjukkan kemampuan battle proven di pertempuran Marawi Filipina Selatan yang sangat heroik itu pada tahun 2017. Kemudian Manila kembali memesan 2 unit lagi. Saat ini sedang dalam proses pembangunan oleh SDM insinyur dan teknisi perkapalan PT PAL.

PT PAL mendapat ilmu dan teknologi pembuatan kapal LPD dari Korea Selatan ketika order 4 kapal perang "Makassar Class". Dua unit dibuat di Korsel yaitu KRI Makassar 590 dan KRI Surabaya 591. Dua unit terakhir yang dibangun di PT PAL adalah KRI Banjarmasin 593 dan KRI Banda Aceh 594. Kemudian BUMN industri pertahanan matra laut ini mendapat pesanan lagi dari TNI AL untuk membangun LPD "Makassar Class" yang kelima yaitu KRI Semarang 594, dan 2 kapal rumah sakit yaitu KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991 dan KRI Rajiman Wedyodiningrat 992. Semua hasil karya besar ini karena limpahan rezeki dan karunia dari program strategis nasional, minimum essential force (MEF) TNI yang dimulai sejak tahun 2010 sampai sekarang.

Tidak itu saja, dalam bingkai MEF, PT PAL juga sudah mendapatkan transfer teknologi dari DSME Korsel dalam kerjasama pembuatan 3 kapal selam "Nagapasa Class. Dua kapal selam dibuat di Korsel yaitu KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibuat di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah operasional. Kemudian PT PAL dengan Damen Schelde Belanda sukses membangun 2 kapal perang light fregate "Martadinata Class" yaitu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. Untuk kapal kombatan "little but lethal" alias cabe rawit, PT PAL sudah menyelesaikan pembangunan 6 kapal cepat rudal (KCR) 60 meter "Sampari Class". Ke depan pembuatan KCR akan diserahkan ke galangan kapal swasta nasional seperti PT Lundin Banyuwangi. Perusahaan ini terbukti sukses membangun KCR trimaran KRI Golok 688 dan tank boat Antasena.

Kesibukan PT PAL saat ini dan kedepan luar biasa untuk memenuhi pesanan pembuatan kapal perang. Mendapat amanah dari Kemenhan menjadi lead integrator untuk modernisasi 41 kapal perang TNI AL bersama seluruh galangan kapal swasta nasional yang sudah teruji membangun kapal perang LST, KCR, KPC, BCM, KAL. Saat ini PT PAL mulai membangun 2 unit kapal perang striking force terbesar heavy fregate "Merah Putih" kerjasama dengan Babcock Inggris. Bersamaan dengan itu juga sedang bersiap membangun 2 kapal perang SSV pesanan Filipina.

Sebagai informasi, industri pertahanan  plat merah yang lain, PINDAD sejauh ini sudah memproduksi 400 panser Anoa. Saat ini PINDAD sedang menyelesaikan pembuatan tank Harimau dan sudah menyelesaikan produksi panser kanon Badak. Semuanya untuk memperkuat TNI AD. Sementara PT DI sudah berjaya memproduksi pesawat CN235 untuk militer Indonesia dan sudah mengeskpor puluhan unit CN 235 ke berbagai negara. Saat ini PT DI sedang mempersiapkan infrastruktur untuk proyek paling strategis, kerjasama pengembangan teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel. Puluhan tenaga ahli Indonesia sudah sejak lama menimba teknologi KFX/IFX di Korsel termasuk 2 pilot saat ini sedang mempersiapkan menerbangkan 1 prototype KFX/IFX ke Indonesia tahun ini. Jika semuanya berjalan lancar tahun 2026 akan dimulai produksi massal. TNI AU akan memperoleh minimal 40 jet tempur generasi 4,5 ini sesuai perjanjian.

Geliat gairah PT PAL saat ini berkat kerja cerdas, pintar dan lincah dari seorang ahli perkapalan berkelas internasional. Dia adalah Dr Kaharuddin Jenod yang ditarik pulang Menhan Prabowo dari Jepang untuk diserahi tugas mengembanghebatkan industri pertahanan PT PAL. Jenod kuliahnya made in Jepang semuanya mulai dari S1, S2 dan S3. Karya dan hak paten desain perkapalannya menjadikan dia SDM bergaji mahal di Jepang. Setelah memimpin PT PAL sejak April 2021 bersama tim direksinya mereformasi budaya kerja menuju world class industry. Ungkapannya yang terkenal adalah: "PT PAL itu adalah gajah namun selalu dipersepsikan kambing, sehingga SDM nya menganggap kambing". Mindset ini yang dirombak total pria Makassar kelahiran Surabaya tahun 1971 itu. Karya besar PT PAL sudah menanti. Membuat kapal selam midget nir awak dengan kemampuan artificial intelligent. Para insinyur saat ini sedang mendesain kapal perang korvet dan kapal rumah sakit untuk UEA. Juga sedang merancang kapal induk helikopter (LHD) untuk TNI AL. Luar biasa.

Kerjasama industri pertahanan strategis PT PAL  dengan perusahaan UEA sangat didukung oleh kedekatan hubungan persahabatan yang sangat erat G to G keduanya. Termasuk kedekatan personal antara dua petinggi negara. Di UEA ada jalan raya bernama Presiden Joko Widodo. Di Indonesia ada jalan tol layang Jakarta Cikampek bernama Syech Muhammad Bin Zayed (MBZ). Di Solo sudah dibangun masjid besar dan megah bernama Masjid MBZ. Masjid raya ini dibangun dengan duit jutaan dollar dari negeri kaya raya nan berkah itu. Termasuk pengelolaan dan pemeliharaannya. Bahwa memang benar memperkuat silaturrahim akan mendatangkan banyak manfaat termasuk karunia rezeki. Kedekatan hubungan personal antara Presiden Indonesia dan Presiden UEA yang sama-sama kelahiran tahun 1961 membuka ruang besar yang bernama karunia kerjasama strategis pertahanan milyaran dollar. Alhamdulillah.

****

Jagarin Pane / 8 Maret 2023

Saturday, March 4, 2023

Aset KPC 40 M TNI AL Terbaru

TNI AL membangun kekuatan armadanya dengan pengadaan aset kapal perang striking force heavy fregate, light fregate, korvet, kapal selam, kapal cepat rudal, kapal cepat torpedo dan kapal patroli cepat. Untuk kapal patroli cepat  sebagai bagian dari sistem senjata armada terpadu (ssat) sampai hari ini TNI AL sudah memperoleh 19 unit. Dalam program minimum essential force sampai tahun 2024 target perolehan aset kapal patroli cepat adalah 24 unit. Semuanya adalah produksi industri pertahanan galangan kapal swasta nasional. Ini rinciannya, dan semuanya menyematkan nama ikan yang ada di perairan Indonesia :

1.    KRI Pari 849

2.    KRI Sembilang 850

3.    KRI Sidat 851

4.    KRI Cakalang 852

5.    KRI Tatihu 853

6.    KRI Layaran 854

7.    KRI Madidihang 855

8.    KRI Kurau 856

9.    KRI Torani 860

10.  KRI Lepu 861

11.  KRI Albakora 867

12.  KRI Bubara 868

13.  KRI Gulamah 869

14.  KRI Posepa 870

15.  KRI Escolar 871

16.  KRI Karotang 872

17.  KRI Mata Bongsang 873

18.  KRI Dorang 874

19.  KRI Bawal 875

Semakin berkibar merekah industri pertahanan galangan kapal swasta nasional kita untuk mewujudkan kemandirian produksi alutsista. Saat ini ada yang sedang membuat OPV, LST, BCM, KAL, ADRI dan lanjutan kapal patroli cepat. Ada juga yang sedang mempersiapkan pengerjaan modernisasi 41 KRI eksisting. Semua keberhasilan ini patut kita apresiasi.

****

Jagarin Pane

Tuesday, February 21, 2023

Menunggu Fremm Mogami

Matahari duaribu duapuluhtiga menjelang akhir Pebruari. Meski lebih banyak mendung dan hujannya, sinarnya tetap mampu menghangatkan daun hijau flora sembari menanti berbuah. Sama halnya dengan menanti dan menunggu sebuah kepastian akan kelanjutan serial Fremm dan Mogami, apakah jadi merekah berbuah. Bibitnya sudah ditanam sejak tahun 2021 dan sejauh ini karena pandemi Covid tersendat persemaiannya. Dan kita saat ini menunggu pertumbuhan berita gembiranya.

Berkali-kali kita sampaikan di berbagai artikel dan seminar, bahwa kita harus bergegas dan bertegas diri untuk menguatkan teritori. Dinamika konflik kawasan, peta geopolitik dan geostrategis adalah fakta on the spot yang sudah dan sedang terjadi. Jangan lagi ngomong tidak ada musuh 20 tahun ke depan bla bla bla. Bahwa dengan demikian satu-satunya jalan untuk mengejar ketertinggalan ketersediaan alutsista, Indonesia harus extra ordinary dalam program percepatan perolehannya. Oleh sebab itu pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm dan menyusul 8 heavy fregate Mogami merupakan credit point langkah strategis extra ordinary. Negara kepulauan terbesar di dunia ini harus memilik armada angkatan laut yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan. Tidak bisa tidak.

Fincantieri Italia, perusahaan pembuat kapal perang ternama, pertengahan tahun 2021 melalui MOU dengan Kemenhan RI telah bersedia membangun 6 heavy fregate Fremm Class untuk Angkatan Laut Indonesia. Termasuk memasok 2 kapal perang fregate "siap pakai karena bekas pakai" Maestrale Class sambil menunggu penyelesaian pembangunan Fremm (Fregate Europe Multi Mission). Ini berita yang menyenangkan dan membanggakan. Beberapa bulan kemudian Mitsubishi Jepang bersedia juga membangun 8 unit heavy fregate Mogami Class. Skenarionya 4 unit dibangun di Jepang. 4 unit lainnya dibangun di Indonesia.

Kedua berita tahun 2021 ini bergaung luas di kalangan netizen forum militer tanah air. Kesannya adalah spektakuler dan disambut hangat bercampur bangga. Perhitungannya adalah ada penambahan 16 unit kapal perang heavy fregate. Dengan rincian 2 unit Arrowhead Iver Class yang sedang dibangun di PT PAL, 6 unit Fremm Class dan 8 unit Mogami Class. Ditambah 2 unit Maestrale Class dan 2 unit Martadinata class yang sudah operasional. Dengan perhitungan 5 fregate sepuh Ahmad Yani Class  pensiun, maka gambaran ke depan kita bakal punya 20 kapal perang striking force fregate. Menjadikan kita sebagai negara dengan kekuatan angkatan laut terbesar di ASEAN. Ketersediaan aset 20 KRI berkualifikasi fregate diyakini dapat menjadi kekuatan diplomasi militer Indonesia di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Begitu besar harapan kita dengan realisasi pengadaan alutsista matra laut ini. Namun memang semuanya harus diperhitungkan cermat karena pandemi selama dua tahun ini menguras stamina anggaran nasional. Rasio hutang terhadap PDB sebelum pandemi ada di kisaran 30% meningkat 40% selama pandemi. Imbasnya adalah Kementerian Keuangan harus melakukan seleksi ketat dalam PSP (penentuan sumber pembiayaan) belanja investasi alutsista. Dalam Undang Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio hutang terhadap PDB masih diperkenankan sampai limit 60%. Secara bertahap kita melihat sepanjang tahun 2022 ada beberapa kali penerbitan PSP Kemenkeu untuk anggaran pembelian jet tempur Rafale dan lain-lain. Berangkat dari terbitnya serial PSP tahun 2022,  kita optimis tahun ini akan terbit PSP untuk Fremm dan Mogami secara bertahap.

Untuk mengantisipasi terjadinya konflik berskala besar di kawasan LCS, kapal perang berkualifikasi fregat adalah standar minimal yang harus tersedia disamping kekuatan pukul bawah air yaitu kapal selam. Skenario pertempuran di Indo Pasifik khususnya LCS, jika terjadi, adalah pertempuran laut dan udara sebagaimana perang Pasifik dalam serial Perang Dunia II. Ini berbeda dengan perang Rusia Ukraina saat ini yang  merupakan perang darat. Sejauh ini kekuatan striking force TNI AL bertumpu pada 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Bung Tomo Class, 5 KRI Ahmad Yani Class ,4 KRI Diponegoro Class dan 4 kapal selam. Kekuatan ini masih belum memenuhi kriteria minimum essential force untuk mengawal perairan Indonesia yang sangat strategis. 

Oleh sebab itu eksekusi final program percepatan pengadaan alutsista strategis kapal perang heavy fregate Fremm dan Mogami adalah harapan besar yang dinanti dan ditunggu. Meski prediksi jumlah yang akan diperoleh tidak sebesar perjanjian awal MOU. Misalnya hanya 4 unit Fremm dan 4 unit Mogami yang akan diproses dalam kontrak efektif, semuanya akan dimaklumi. Semua pihak, Fincantieri dan Mitsubishi serta TNI AL diyakini merasa lapang hati dengan proses final ini. Angkatan Laut Indonesia adalah kekuatan garis depan dalam potensi konflik berskala besar di LCS dan Indo Pasifik. Negara di kawasan regional semuanya sudah bersiap, Filipina, Vietnam,  Australia, Jepang, Korsel, Taiwan dan AS. Maka kita pun layak dan harus bersiap dengan memperkuat alutsista untuk melindungi teritori NKRI sekaligus sebagai investasi pertahanan. Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

****

Jagarin Pane / 21 Pebruari 2023


Thursday, February 16, 2023

Kapal Cepat Rudal

PT PAL pekan ini kembali meluncurkan produk ke enam kapal cepat rudal 60 meter paket lengkap, diberi nama KRI Panah 626. Persenjataan utama nantinya dilengkapi dengan peluru kendali anti kapal permukaan Exocet blok 3.

Sampai hari ini TNI AL sudah memiliki 14 kapal cepat rudal produksi dalam negeri. 8 unit yang lain dari "Clurit Class" merupakan produksi PT Palindo Batam. Kapal cepat rudal adalah alutsista "hit and run" yang diperlukan dalam sistem senjata armada terpadu TNI AL. Seluruhnya diberi nama senjata tajam tradisional Indonesia

CLURIT CLASS 40 meter (Buatan PT Palindo Batam)

KRI Clurit 641

KRI Kujang 642

KRI Beladau 643

KRI Alamang 644

KRI Surik 645

KRI Siwar 646

KRI Parang 647

KRI Terapang 648


SAMPARI CLASS 60 meter (Buatan PT PAL Surabaya)

KRI Sampari 628

KRI Tombak 629

KRI Halasan 630

KRI Kapak 625

KRI Panah 626

KRI Kerambit 627

Yang menarik, berbagai jenis kapal perang TNI AL seperti kapal cepat rudal, kcr trimaran, kapal patroli cepat, korvet, landing ship tank, landing platform dock, tanker bcm, dan bahkan kapal selam sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini PT PAL sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate "merah putih" 140 meter. Luar biasa kemajuan industri pertahanan kita khususnya matra laut. Tapi biasanya berita bagus seperti ini tidak menjadi perhatian kita.

****

(Jagarin Pane/ 16 Feb 2023)