Monday, November 26, 2018

Perhatikan Selatan Jawa


Negeri kepulauan ini pusatnya adalah pulau Jawa sekaligus jantungnya Indonesia.  Jadi urusan merawat kesehatan dan keamanan jantung adalah prioritas utama. Ada separuh populasi penduduk negeri ini bermukim di Jawa, padahal pulau ini paling kecil diantara lima pulau besar. Disini juga pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan industri, pusat peredaran mata uang dan tentu saja pusat pertahanan kita.

Itu sebabnya dua divisi Kostrad ada di Jawa, juga dua divisi Marinir, dua Armada KRI, tiga skadron jet tempur.  Artinya se apes-apesnya pertahanan negeri ini yang mampu diobrak abrik negeri agressor, setidaknya Jawa akan memberikan payung pertahanan terakhir dan akan dipertahankan sampai titik darah penghabisan.
Pertahanan udara jarak jauh dan mobile, jet tempur
Meski kita sedang memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan seperti Natuna, Tarakan, Kupang dan Sorong namun konsep pertahanan untuk pulau Jawa adalah yang nomor satu.  Dan titik krusial yang paling penting untuk diamati adalah selatan pulau Jawa. Lho kok bisa, bukankah selatan pulau Jawa bersinggungan dengan lautan dalam yang sepi dan nyaris tak ada keramaian lalulintas kapal.

Iya benar tetapi jarak udara pulau Christmast ke Jakarta hanya 1200 km.  Terlalu dekat untuk dicapai jet tempur atau bomber negeri yang menggunakan fasilitas pangkalan disana. Teknologi pertempuran masa depan juga memastikan Jakarta ada dalam genggaman serangan udara yang sangat mudah dihancurkan. Saat ini praktis tidak ada payung udara area pelindung ibukota.

Kehadiran jet tempur siluman F35 di selatan negeri atau bahkan F22 Raptor sudah wira wiri tanpa ketahuan, boleh jadi dalam strategi militer begitu telanjangnya Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Jawa. Belum lagi perairan Selatan Jawa dan Selat Sunda yang dalam, sebagai lintasan kapal induk sangat dekat dengan ibukota.

Bagaimana merawat dan menjaga jantung itu dari berbagai indikasi serangan jantung, tentu sudah ada dalam benak pemikir strategis pertahanan Indonesia. Maka penempatan skadron jet tempur Sukhoi SU35 di Jawa dan pergelaran satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah di ibukota dan kota besar di Jawa adalah langkah cerdas.
Laut Cina Selatan, sudah terjadi
Natuna kita perkuat sebagai pangkalan militer garis depan, juga Tarakan, Kupang, Biak dan Sorong sebagai pangkalan militer di perbatasan.  Hampir semua posisi pertahanan garis depan itu menghadap utara atau di atas Jawa. Artinya posisi pertahanan negeri menghadapi posisi musuh dari utara. Jadi Jawa punya perisai pangkalan militer di utara negeri, tapi di selatan tidak ada.

Menguatkan payung pertahanan Jawa adalah dengan menempatkan posisi satuan radar teknologi terkini berlapis baik radar pasif maupun radar aktif. Perluasan jangkauan pertahanan udara dari sekedar pertahanan hanud titik menjadi hanud area adalah untuk menghilangkan missing link dari jet tempur ke pertahanan pangkalan dan obyek vital.

Jet tempur adalah model pertahanan udara jarak jauh, sangat mobile dan pre emptive strike. Sangat perlu dilapis dengan model pertahanan udara area dengan menempatkan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah yang bisa dipindah-pindah. Dan lapisan terakhir dengan pertahanan udara titik atau pertahanan udara pangkalan dan obyek vital dengan satuan peluru kendali jarak pendek.

Tiga lapis pertahanan udara ini sudah maksimal dan tentu memerlukan bahasa komunikasi dan koordinasi alias interoperability antar satuan. Kita tidak perlu membahas bahasa teknisnya karena ini wilayah inteligent network military. Tetapi intinya adalah jangan sampai terjadi insiden friendly fire atau hancurnya tiga lapis pertahanan udara sekaligus dalam mengelola manajemen pertempuran modern yang penuh dengan tipudaya teknologi terkini.

Masa depan militer kita adalah menyempurnakan 3 lapis pertahanan udara dengan prioritas Jawa. Penambahan jumlah jet tempur, penempatan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah, satuan peluru kendali jarak pendek dan penguatan radar berlapis mutlak diperlukan. Lima tahun ke depan diprediksi kekuatan tiga lapis itu bisa tercapai.

Masa depan negeri ini selain pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan juga ditentukan oleh kekuatan militernya, tidak sekedar pintar dan cerdas berdiplomasi.  Masa depan kawasan kita adalah memperebutkan sumber daya energi.  Masa depan kawasan kita adalah pertarungan memperebutkan hegemoni ekonomi dan militer antara penantang Cina dan petahana AS.

Maka kita tidak boleh lengah atau berantai-santai untuk soal ini. Keterbatasan sumber daya energi masa depan membuat setiap negara mencari terus menerus sumber daya energi di setiap sudut bumi. Teritori kita kaya dengan sumber daya energi. Maka untuk menjaganya kita wajib perkuat terus lapis pertahanan kita dengan sekuat-kuatnya.

Sama dengan orang yang lapar, dia akan mengais makanan tidak peduli asal usulnya. Masa depan dunia adalah lapar dengan sumber daya energi.  Maka perebutan sumber daya energi akan terjadi. Laut Cina Selatan sudah terjadi, boleh jadi besok atau lusa Papua dan Arafuru. Salah satu cara efektif adalah lumpuhkan jantungnya dulu.  Dan dia adalah Jawa.

****
Solo, 26 Nopember 2018
Jagarin Pane