Saturday, March 19, 2022

Scorpene Meredam Changbogo

Menteri Pertahanan Indonesia disambut hangat Emmanuel Macron di Istana Elysee Paris Perancis Selasa 15 Maret 2022 barusan. Presiden Perancis menjamu Prabowo untuk mematangkan adonan kontrak efektif pengadaan dua kapal selam canggih berkelas "sultan", merknya Scorpene, termasuk dua opsi tambahan. Bulan yang lalu Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly yang bertandang ke Jakarta juga dijamu Presiden Jokowi sebelum teken kontrak 42 jet tempur Rafale. Indonesia dan Perancis terlihat sangat mesra setahun terakhir ini. Meski sebenarnya Perancis adalah mitra kerjasama pertahanan dengan kita sudah sejak tahun enampuluhan.

Prabowo jeli, tegas dan cepat untuk memilih kapal selam berkualitas dan sekaligus mengobati rasa kecewa. Dia  tegas memilih kapal selam made in Naval Group Perancis. Dia kecewa dengan performansi 3 kapal selam buatan Korsel yang dikenal dengan nama Changbogo. Ketiga kapal selam yang proses pembangunannya memakai pola transfer teknologi ternyata berakhir dengan sebutan "kurang sreg". Prabowo dan tim nya lantas bergegas cepat untuk segera menghadirkan kapal selam herder di perairan nusantara. Awalnya ada tiga pilihan, dari Jerman, Rusia dan Perancis. Cuaca kawasan di Laut China Selatan (LCS) sulit diprediksi, cenderung memanas dan bergelombang. Kita perlu herder bukan chihuahua.

Begini ceritanya. Sepuluh tahun lalu Indonesia dan Korsel bersepakat membangun 3 kapal selam "fotocopy" U-209. Kalau kita membaca merk U-209 sudah pasti dia adalah produksi Jerman,  sebuah negara "mahaguru" teknologi kapal selam. Korsel berguru dan menimba ilmu transfer teknologi kapal selam diesel ke Jerman puluhan tahun lalu. Kemudian memproduksi beberapa kapal selam lisensi jenis U-209 Changbogo Class untuk angkatan lautnya. Lalu kita pun tertarik dengan pola kerjasama teknologi yang ditawarkan Korsel. Maklum tidak banyak negara yang mau membagi ilmu transfer teknologi kapal selam dengan negara lain. Kecuali kalau belinya banyak. Maka ditandatanganilah kontrak pengadaan  3 kapal selam, 2 di bangun di DSME Korsel dan 1 di PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah jadi yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 hasil karya DSME dan kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 hasil karya PT PAL. 

Selama puluhan tahun sejak tahun 1980 kita hanya memiliki 2 kapal selam U-209 asli keluaran Jerman, Cakra Class yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Selama puluhan tahun kedua kapal selam ini beroperasi dengan jam kerja yang tinggi. Maka ketika ketiga kapal selam Nagapasa Class masuk inventori TNI AL beberapa tahun yang lalu, betapa kita sangat bersuka cita karena akhirnya kita bisa memiliki 5 kapal selam. Dan kemudian akan dilanjut lagi dengan pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Kontrak awal sudah ditandatangani tahun 2019. Namun dalam perkembangannya kemudian ketiga kapal selam gres itu lebih banyak "ngetem" di pangkalan utamaTNI AL di Surabaya. Kemudian terjadi pula musibah KRI Nanggala 402. Selidik punya selidik ternyata ada beberapa hambatan teknis yang mengurangi kapasitas kinerja Nagapasa Class.

Mengantisipasi dinamika kawasan LCS yang sudah demam berkepanjangan, Indonesia sangat membutuhkan segera kuantitas dan kualitas kapal selam. Secara kuantitas kita harus memiliki minimal 12 kapal selam dan secara kualitas minimal harus setara dengan jiran kawasan. Dalam pola transfer teknologi pembangunan Nagapasa Class jelas maksudnya sangat baik agar kita bisa menguasai teknologi kapal selam. Maka dibangunlah 3 kapal selam dengan nilai kontrak US$ 1.1 milyar. Hanya saja performansi ketiga kapal selam itu tidak menjanjikan. Kalau diterjunkan di LCS jelas kalah gahar, kalah endurance. Maka Prabowo ambil jalan pintas. Indonesia perlu kapal selam serang berteknologi AIP, bisa menembak rudal dan endurance dalam air selama 2 bulan. Scorpene dipilih dan memang itulah yang terbaik.

Armada bawah air kita sampai saat ini  memang masih kedodoran.  Padahal armada kapal selam yang senyap bagai siluman dan monster bawah air mempunyai kekuatan penggentar setara dengan 10 kapal perang permukaan.  Ingat masa keemasan armada kapal selam kita di era Trikora dan Dwikora. Kita saat itu mempunyai 12 kapal selam Whiskey Class buatan Uni Sovyet ( sekarang Rusia). Kekuatan gahar armada bawah air ini yang kemudian diketahui menjadi salah satu faktor militer hengkangnya Belanda dari Papua tahun 1963.  Perairan Indonesia adalah perairan strategis. ALKI satu, dua dan tiga adalah jalur pelayaran internasional. Termasuk lalulintas militer. Apalagi dengan potensi konflik di LCS, alur laut kepulauan Indonesia dipastikan ramai terus. Maka kehadiran dan kepemilikan 12 kapal selam canggih diniscayakan akan memberikan kekuatan pertahanan maritim  yang disegani.

Sampai sekarang kita belum bisa menyamai perolehan 12 kapal selam sebagaimana pada era Trikora. Baru punya lima unit ternyata 1 kapal selam KRI Nanggala 402 yang berusia 40 tahun mengalami musibah paling memilukan. Ditambah lagi performansi 3 unit Nagapasa Class yang baru selesai diproduksi kurang memuaskan kinerjanya. Praktis hanya 1 kapal selam KRI Cakra 401 yang seumuran dengan KRI Nanggala  402 yang diyakini menjalankan misi bawah airnya. KRI Cakra 401 baru saja selesai di overhaul di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Meski sudah di upgrade tetap saja endurancenya sudah tidak lagi sebagus dulu, maklum sudah 40 tahun. Catatan bagusnya, dengan ilmu transfer teknologi kapal selam dari Korsel, para insinyur kita sudah mampu melaksanakan overhaul KRI Cakra 401.

Dalam pandangan kita jalan cepat dan cerdas yang dilakukan Menhan Prabowo untuk mendatangkan herder bawah laut patut diapresiasi. Kabar yang menggembirakan dari Paris adalah kontrak efektif pengadaan 2 kapal selam Scorpene akan diteken pertengahan tahun ini. Memang harus serba cepat karena kita sudah ketinggalan langkah sebelumnya yang pernah bilang kita tidak punya musuh, semua sahabat kita. Nyatanya potensi musuh sudah jelas, sudah mulai mengacak-acak, sudah mulai mendikte. Sementara alat pukul kita yang bernama alutsista masih banyak yang berstatus "order".  Kontrak efektif kapal selam serang Scorpene dan berbagai jenis alutsista strategis lainnya sangat ditunggu dan diharapkan secepatnya. Menhan kita pasti lebih pahamlah soal percepatan itu.

****

Jagarin Pane / 19 Maret 2022