Friday, October 15, 2021

Meniru Platform NATO-Pakta Warsawa

Indonesia masa depan suka tidak suka, mau tidak mau akan menjadi bagian dari palagan pertarungan militer super hebat dan spektakuler antara China dan AUKUS (Australia, United Kingdom, United States). Wilayah potensi konflik dahsyat di Indo Pasifik membuat perpindahan pergelaran kekuatan militer dari AS dan Eropa ke Asia Pasifik, dari Barat ke Timur. Ketika perang dingin, pergelaran kekuatan militer NATO dan Pakta Warsawa membelah Eropa, didominasi angkatan darat, karena bordernya daratan Eropa. Sementara AUKUS versus China didominasi angkatan laut dan udara. Platform AUKUS sama persis dengan NATO-Pakta Warsawa.

Gong telah berbunyi dan menghentak keras. Militer Indonesia harus berbenah dan bergegas cepat untuk menyesuaikan keikutsertaan takdir sejarah ini. Dua komponen sayap militer yang mutlak dipercepat kekuatannya adalah Angkatan Laut  dan Angkatan Udara. Tidak lagi memakai formula Minimum Essential Force tetapi menuju kepantasan untuk tampil "berkontestasi" sebagai peserta parade gengsi militer. Minimal mempunyai alutsista berteknologi yang sepadan dengan jamannya sebagai bagian dari ketahanan diplomasi militer. Meski tetap saja dianggap pelanduk oleh kedua gajah, China dan AUKUS.

Parade dan unjuk kekuatan kapal perang dan jet tempur di Laut China Selatan (LCS) sama sekali tidak terbayangkan sepuluh tahun lalu. Dan lihatlah sekarang betapa LCS sudah menjadi arena saling pamer otot militer para pihak. Tidak pernah sepi dari wira wiri alutsista laut dan udara. Barusan ada rombongan 4 kapal induk meramaikan LCS, dua dari AS, satu dari Inggris dan satu lagi dari Jepang. Dan untung saja kita tidak terlambat membangun pangkalan militer di Natuna. Sekarang sudah ada brigade komposit Gardapati yang mengawal Natuna dengan sejumlah KRI, UAV dan jet tempur.

Peristiwa kecelakaan kapal selam nuklir AS USS Connecticut barusan memberikan pesan kuat bahwa situasi bawah air LCS tidak lagi senyap. Patut diduga sudah ada infiltrasi dan pergerakan intelijen bawah air yang saling memantau dan membenturkan. Apalagi ternyata belum diketahui benda apa yang bertabrakan dengan kapal selam bertenaga nuklir itu di kedalaman LCS. Padahal kapal selam canggih AS memiliki teknologi sensor sensitif, proteksi berlapis dan early warning. Benturan cukup keras dan melukai belasan awak kapal Connecticut menandakan ada sesuatu yang menggelisahkan.

Perkuatan militer Indonesia saat ini dalam kondisi extra ordinary. Dalam waktu dekat segera ada kontrak efektif pengadaan 36 jet tempur Rafale, 24 jet tempur F15, 6 kapal perang heavy fregate Fremm Class, 2 kapal perang Maestrale Class. Sementara pembangunan 2 kapal perang heavy fregate Iver Class berlisensi dari Inggris sedang dalam proses awal pembangunan di PT PAL. Kita juga sedang bernegosiasi dengan Jerman untuk pengadaan kapal selam U214. Tentu ini langkah bagus karena Jerman adalah mahaguru teknologi kapal selam konvensional. Jika ini terwujud akan memberi "ruang pencerahan" untuk 3 kapal selam Nagapasa Class yang performansinya belum sesuai harapan. Nagapasa Class adalah U209 teknologi Jerman yang diproduksi "muridnya" Korsel. Langsung sajalah berguru ke mahaguru Jerman.

Sekilas jalan sejarah, NATO-Pakta Warsawa di masa perang dingin adalah pergelaran puluhan ribu tank, artileri, roket, peluru kendali, jet tempur bersama puluhan ribu prajurit siaga tempur di sepanjang garis batas Eropa Barat dan Eropa Tinur. Sementara Border AUKUS- China adalah pergelaran kapal induk, destroyer, fregat, kapal selam, peluru kendali jarak jauh, pesawat pengebom, uav, jet tempur. Kekuatan dominan adalah AL dan AU. Bedanya, NATO-Pakta Warsawa adalah pertarungan keroyokan para pihak masing-masing dipimpin oleh AS dan Uni Sovyet, melibatkan banyak negara Eropa sedangkan aliansi militer AUKUS-China adalah keroyokan melawan China. Tiga lawan satu.

Armada angkatan laut AS selama ini mendominasi Atlantik dan Eropa. Sekarang dua samudra dipegang, Atlantik dan Pasifik. Pengurangan kekuatan di Timur Tengah sudah berlangsung, termasuk menarik pasukan dari Afghanistan.  Karena untuk sekarang dan masa depan Indo Pasifik adalah pusat perhatian dan konsentrasi penuh militer AS. Wiilayah konflik ada di kawasan kita dan Indonesia secara geostrategis punya teritori terluas di Asia Tenggara. Sementara kita berselisih dengan China hanya soal ZEE 200 mil Laut Natuna Utara, bukan soal teritori kedaulatan 12 mil laut. Dan itu sama dengan perselisihan batas ZEE kita dengan Malaysia, juga dengan Vietnam di LCS. Tapi kan tidak heboh, biasa saja.

Maka sambil mempersiapkan kedatangan berbagai jenis alutsista canggih, keep calm, low profile, tetap tebar senyum persahabatan antara keduanya, AUKUS dan China. Sudah kita contohkan ketika kapal Coast Guard China dan kapal perangnya ngetem sebulan sepanjang September 2021 "nungguin" eksplorasi LNG di teritori ZEE Laut Natuna Utara. Kita kirim 3 kapal BAKAMLA dan 6 KRI tetap dalam kondisi siaga proporsional, kondusif. Pada saat yang sama konvoi kapal induk AS juga berlayar dengan gagah di sekitar lokasi eksplorasi. Artinya baik kapal-kapal China dan AS itu berada di wilayah ZEE Natuna dalam waktu yang relatif sama. Silakan tafsirkan sendiri.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2021