Tuesday, February 21, 2023

Menunggu Fremm Mogami

Matahari duaribu duapuluhtiga menjelang akhir Pebruari. Meski lebih banyak mendung dan hujannya, sinarnya tetap mampu menghangatkan daun hijau flora sembari menanti berbuah. Sama halnya dengan menanti dan menunggu sebuah kepastian akan kelanjutan serial Fremm dan Mogami, apakah jadi merekah berbuah. Bibitnya sudah ditanam sejak tahun 2021 dan sejauh ini karena pandemi Covid tersendat persemaiannya. Dan kita saat ini menunggu pertumbuhan berita gembiranya.

Berkali-kali kita sampaikan di berbagai artikel dan seminar, bahwa kita harus bergegas dan bertegas diri untuk menguatkan teritori. Dinamika konflik kawasan, peta geopolitik dan geostrategis adalah fakta on the spot yang sudah dan sedang terjadi. Jangan lagi ngomong tidak ada musuh 20 tahun ke depan bla bla bla. Bahwa dengan demikian satu-satunya jalan untuk mengejar ketertinggalan ketersediaan alutsista, Indonesia harus extra ordinary dalam program percepatan perolehannya. Oleh sebab itu pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm dan menyusul 8 heavy fregate Mogami merupakan credit point langkah strategis extra ordinary. Negara kepulauan terbesar di dunia ini harus memilik armada angkatan laut yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan. Tidak bisa tidak.

Fincantieri Italia, perusahaan pembuat kapal perang ternama, pertengahan tahun 2021 melalui MOU dengan Kemenhan RI telah bersedia membangun 6 heavy fregate Fremm Class untuk Angkatan Laut Indonesia. Termasuk memasok 2 kapal perang fregate "siap pakai karena bekas pakai" Maestrale Class sambil menunggu penyelesaian pembangunan Fremm (Fregate Europe Multi Mission). Ini berita yang menyenangkan dan membanggakan. Beberapa bulan kemudian Mitsubishi Jepang bersedia juga membangun 8 unit heavy fregate Mogami Class. Skenarionya 4 unit dibangun di Jepang. 4 unit lainnya dibangun di Indonesia.

Kedua berita tahun 2021 ini bergaung luas di kalangan netizen forum militer tanah air. Kesannya adalah spektakuler dan disambut hangat bercampur bangga. Perhitungannya adalah ada penambahan 16 unit kapal perang heavy fregate. Dengan rincian 2 unit Arrowhead Iver Class yang sedang dibangun di PT PAL, 6 unit Fremm Class dan 8 unit Mogami Class. Ditambah 2 unit Maestrale Class dan 2 unit Martadinata class yang sudah operasional. Dengan perhitungan 5 fregate sepuh Ahmad Yani Class  pensiun, maka gambaran ke depan kita bakal punya 20 kapal perang striking force fregate. Menjadikan kita sebagai negara dengan kekuatan angkatan laut terbesar di ASEAN. Ketersediaan aset 20 KRI berkualifikasi fregate diyakini dapat menjadi kekuatan diplomasi militer Indonesia di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Begitu besar harapan kita dengan realisasi pengadaan alutsista matra laut ini. Namun memang semuanya harus diperhitungkan cermat karena pandemi selama dua tahun ini menguras stamina anggaran nasional. Rasio hutang terhadap PDB sebelum pandemi ada di kisaran 30% meningkat 40% selama pandemi. Imbasnya adalah Kementerian Keuangan harus melakukan seleksi ketat dalam PSP (penentuan sumber pembiayaan) belanja investasi alutsista. Dalam Undang Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio hutang terhadap PDB masih diperkenankan sampai limit 60%. Secara bertahap kita melihat sepanjang tahun 2022 ada beberapa kali penerbitan PSP Kemenkeu untuk anggaran pembelian jet tempur Rafale dan lain-lain. Berangkat dari terbitnya serial PSP tahun 2022,  kita optimis tahun ini akan terbit PSP untuk Fremm dan Mogami secara bertahap.

Untuk mengantisipasi terjadinya konflik berskala besar di kawasan LCS, kapal perang berkualifikasi fregat adalah standar minimal yang harus tersedia disamping kekuatan pukul bawah air yaitu kapal selam. Skenario pertempuran di Indo Pasifik khususnya LCS, jika terjadi, adalah pertempuran laut dan udara sebagaimana perang Pasifik dalam serial Perang Dunia II. Ini berbeda dengan perang Rusia Ukraina saat ini yang  merupakan perang darat. Sejauh ini kekuatan striking force TNI AL bertumpu pada 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Bung Tomo Class, 5 KRI Ahmad Yani Class ,4 KRI Diponegoro Class dan 4 kapal selam. Kekuatan ini masih belum memenuhi kriteria minimum essential force untuk mengawal perairan Indonesia yang sangat strategis. 

Oleh sebab itu eksekusi final program percepatan pengadaan alutsista strategis kapal perang heavy fregate Fremm dan Mogami adalah harapan besar yang dinanti dan ditunggu. Meski prediksi jumlah yang akan diperoleh tidak sebesar perjanjian awal MOU. Misalnya hanya 4 unit Fremm dan 4 unit Mogami yang akan diproses dalam kontrak efektif, semuanya akan dimaklumi. Semua pihak, Fincantieri dan Mitsubishi serta TNI AL diyakini merasa lapang hati dengan proses final ini. Angkatan Laut Indonesia adalah kekuatan garis depan dalam potensi konflik berskala besar di LCS dan Indo Pasifik. Negara di kawasan regional semuanya sudah bersiap, Filipina, Vietnam,  Australia, Jepang, Korsel, Taiwan dan AS. Maka kita pun layak dan harus bersiap dengan memperkuat alutsista untuk melindungi teritori NKRI sekaligus sebagai investasi pertahanan. Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

****

Jagarin Pane / 21 Pebruari 2023