Saturday, December 2, 2023

Selamat Pagi Alutsista 25 Milyar Dolar

Tidak ada yang istimewa dengan angka milyaran dolar ini jika kita melihatnya dari perspektif geostrategis, geopolitik dan geosecurity kawasan yang fluktuatif. Ini bukan persoalan gagah-gagahan. Tetapi untuk mempersiapkan kekuatan payung pertahanan teritori. Karena kita kekurangan aset pertahanan yang sebanding dengan luasnya wilayah. Indonesia harus bergegas membangun investasi pertahanan dengan program extra ordinary. Dan itu baru bisa berjalan after pandemi Covid19 yang meluluhlantakkan semua rencana pembangunan ekonomi dan pertahanan. Jadi secara de facto sebenarnya mulai tahun 2022 Kementerian Pertahanan melakukan percepatan pengadaan berbagai jenis alutsista strategis. Dalam upaya memenuhi kriteria minimum essential force.

Menteri Keuangan kita yang enerjik beberapa hari lalu menjelaskan dengan narasi terang benderang soal pinjaman luar negeri (PLN) untuk membangun investasi pertahanan Indonesia. Kementerian Pertahanan mendapat alokasi anggaran terbesar karena dinamika kawasan yang bergejolak dan prediksi ancaman. Presiden setuju anggaran pembelian alutsista dari PLN ditambah dari US$ 20,75 milyar menjadi US$ 25 milyar sampai dengan tahun 2024. Secara efektif penggunaan anggaran PLN ini dimulai tahun 2022. Praktis hanya 3 tahun untuk mengejar target perolehan alutsista program MEF (minimum essential force) jilid 3 periode 2020-2024. Jadi kesannya seperti shopping every day. Kalau dirupiahkan belanja alutsista kita tiga tahun terakhir ini menyentuh angka 385 trilyun. Spektakuler dan terbesar.

Mengapa kita harus membeli 12 jet tempur Mirage, mengapa kita harus membeli 2 kapal perang yang sudah dipesan Angkatan Laut Italia. Padahal kita sudah order 42 unit jet tempur Rafale. Kita juga sedang membangun 2 unit kapal perang heavy fregate di PT PAL. Jawabnya karena berpacu dengan waktu dan pertimbangan geosecurity kawasan yang "sudah tidak bisa kembali ke era zero enemy". Kawasan Indo Pasifik next time adalah palagan perebutan hegemoni secara militer antara pemilik status quo dan rivalnya. Baju militer yang sudah digelar ada di tiga hot spot sekaligus, Panmunjom Korea, selat Taiwan dan Laut China Selatan. Natuna adalah pertaruhan harga diri dan marwah teritori Indonesia. Posisinya saat ini terancam dengan beberapa provokasi dan pelecehan di zona ekonomi eksklusif.

Pernyataan Menhan bahwa kita harus mempersiapkan investasi pertahanan yang kuat agar tidak diremehkan negara lain benar adanya. Dalam perspektif kita kesiapan menguatkan manajemen pertahanan adalah bagian dari diplomasi militer yang harus dilakukan. Apalagi jika melihat ketersediaan aset alutsista yang dimiliki saat ini minim, berkorelasi dengan bentang luas negeri. Bersamaan dengan itu dinamika kawasan semakin memanas. Sambil menunggu kedatangan jet tempur Rafale paling cepat akhir tahun 2026, tahun depan ada isian aset penguat 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Demikian juga dengan pembangunan kapal perang heavy fregate yang selesai tahun 2027 ada pengisi kekuatan tambahan tahun depan yaitu 2 kapal perang dari Italia yang dibeli cepat saji. Kita berpacu dengan waktu, dan durasi proses pengadaan alutsista secara normal memerlukan waktu 5-6 tahun sampai barangnya tiba.

Seperti kita ketahui anggaran setiap kementerian per tahun berdasarkan DIPA ( Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Untuk kementerian Pertahanan selain anggaran based on DIPA, ada juga anggaran khusus pembelian alutsista dari luar negeri yang bersumber pada PLN. Sejak berakhirnya Pandemi mulai tahun 2022, kementerian pertahanan bergegas dengan program extra ordinary. Pengadaan alutsista strategis berbagai jenis digelar. Pesetujuan awal segitiga kementerian yaitu Kementerian PPN/Bapenas, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan  menyepakati jumlah anggaran pinjaman luar negeri untuk beli alutsista sebesar US$ 20,75 milyar. Barusan kemarin Selasa 28 Nopember 2023 ada kesepakatan baru di Istana Bogor. PLN ditambah menjadi US$ 25 milyar. Artinya ketersediaan angggaran untuk pembelian berbagai jenis alutsista strategis seperti 2 kapal selam herder, 2 kapal perang dari Italia dan lain-lain sudah ada.

Menyambut matahari Desember ceria, apresiasi kita sampaikan kepada Bapenas, Kemenkeu dan Kemenhan atas kinerja koordinasi yang cerdas dan cepat. Wawasan kebangsaan yang out of the box memang diperlukan untuk mengantisipasi konflik masa depan yang embrionya menguat saat ini. Siapa yang menyangka akan terjadi perang hebat antara Rusia dan Ukraina. Tidak ada upaya untuk menghentikannya. Siapa yang menyangka akan terjadi perang brutal di Gaza Strip saat ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Penguatan alutsista militer Indonesia  adalah untuk memastikan kemampuan pre emptive strike dan rasa percaya diri mengawal teritori. Negeri kepulauan terbesar ini harus memiliki kekuatan pertahanan yang berkelas. Dan itu harus dipersiapkan sedini mungkin. Hari ini, bukan besok. Selamat pagi alutsista 25 milyar dolar.

****

Jagarin Pane / 3 Desember 2023