Monday, March 8, 2021

Membangun Perspektif Horizon

Percepatan realisasi pengadaan alutsista strategis sesungguhnya adalah yang terpenting daripada menampilkan segerobak rencana belanja.  Termasuk membangun perspektif horizon menguasai teknologi alutsista di masa depan. Ada kesan dengan daftar shopping yang segudang,  banyak maunya. Prioritas untuk mendatangkan minimal 6 jet tempur F15 Ex tahun ini apakah bisa direalisir, itu pertanyaan besarnya. Belum lagi persoalan sudah ditandatanganinya kontrak awal pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang tidak bisa begitu saja diabaikan apalagi dibatalkan.

Soal lanjutan kerjasama pengembangan jet tempur KFX/IFX dan kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo, dua-duanya dengan Korsel, menjadi sebuah catatan tinta tebal non istiqomah alias inkonsistensi dalam menjalankan dan meneruskan proyek teknologi tinggi alutsista strategis. Padahal perjalanan kerjasama itu sudah berada di duapertiganya, sepertiga lagi akan menghasilkan karya monumental. Pertanyaannya kenapa harus berencana menarik diri. Bukankah ketidaksamaan persepsi dan perspektif bisa dirundingkan di koridor itu. Mengapa justru ingin memutus nilai strategisnya.

Tiga kapal selam yang dibuat pada proyek batch 1 Nagapasa Class sudah jadi. Dua diantaranya KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional. Sementara KRI Alugoro 405 menunggu seremoni peresmian. Artinya untuk dua kapal selam terdahulu tidak ada kendala teknis dong karena sudah ada berita acara penerimaannya. Lalu mengapa belakangan di kemudian hari bersuara tidak puas atau tidak sesuai dan mengapa harus diterima kalau tidak puas atau tidak sesuai. 

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang tersaji di ruang diskusi forum militer. Sehingga ujung-ujungnya ada kalimat klise yang berbunyi: ganti menteri ganti selera. Bukankah kontrak awal batch 2 Nagapasa Class sudah ditandatangani dan bahkan Presiden Jokowi sudah berkunjung ke Korsel sebelumnya. Demikian juga sebaliknya Presiden Korsel berkunjung ke Indonesia. Sebuah isyarat payung yang kuat untuk meneruskan Nagapasa Batch 2. Artinya everything is ok, atau everything will be ok meminjam ungkapan pejuang demokrasi remaja Myanmar Kyal Sin yang ditembak mati junta militer. 

Demikian juga dengan proyek jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX. Dengan alasan sangat teknis, kita lalu tidak melanjutkan iuran yang sudah disepakati, alias mogok bayar "SPP". Padahal bulan April nanti jet tempur KFX akan dipertunjukkan ke publik purwa rupanya di Korsel. Seperti diketahui Indonesia dalam perjanjian ini mendapat porsi 20% dari pembiayaan pengembangan jet tempur. Porsi Indonesia bernilai US$ 1,51 Milyar, sudah dibayar US$ 201,4 juta sampai Januari 2019. Setelah itu emoh bayar karena alasan teknis.

Dua kerjasama teknologi  persenjataan strategis yang mogok di duapertiga perjalanan ini memunculkan dugaan lain. Jangan-jangan ada pihak yang tidak suka dengan program teknologi tinggi alutsista bergengsi ini. Pencapaian besarnya kelak dianggap bisa membuat kawasan tersaingi. Bisa saja kan. Bisa dibayangkan lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi jet tempur dan kapal selam. Juga teknologi kapal fregat, peluru kendali, roket, tank, panser. Luar biasa pencapaian itu.

Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, kapal perang jenis KPC, KCR, LST, LPD. Kapal fregat segera menyusul kemudian kapal selam dan jet tempur. Tentu ini sebuah prestasi yang membanggakan. Seandainya proyek alih teknologi kapal selam dan pengembangan jet tempur jalan terus maka sempurnalah industri pertahanan kita. Itu sebabnya "perselisihan teknis" yang terjadi di dua proyek alutsista dengan Korsel bisa disikapi dengan perspektif  horizon"lima repelita" alias duapuluh lima tahun. Bukan "satu repelita" tok alias satu jabatan menteri.

Untuk kebutuhan mendesak sah-sah saja mendatangkan jet tempur F15 Ex atau Rafale. Atau menambah kapal selam dari negara lain. Tapi untuk "lima repelita" monggo dilanjut proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class. Toh seleksi alam akan terjadi dengan pensiunnya 24 jet tempur Hawk atau bahkan 16 jet tempur Sukhoi yang umurnya relatif pendek. Juga 2 kapal selam "Cakra Class" yang saat ini sudah berusia 40 tahun. 

Kebanggaan kita soal pertahanan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehebatan industri pertahanan yang kita miliki. Dan itu sebenarnya sudah di depan mata jika kita mampu membangun perspektif horizon, perspektif membangun kebanggaan pertahanan negara. Oleh sebab itu mari kita kumandangkan selalu lagu istiqomah bin konsistensi dalam bingkai perspektif, membangun kewibawaan pertahanan negara berdaulat. 

****

Jagarin Pane / 6 Maret 2021