Wednesday, December 23, 2020

Cerdas Menyikapi Dan Harus Dihadapi

Catatan perjalanan politik luar negeri Indonesia ke depan dan diplomasi militer yang menyertainya adalah cepat mengantisipasi dan cerdas memilih. AS telah menyatakan sikap tegas, jelas dan terang-terangan bahwa musuh utama jangka panjangnya adalah China. Arah strategi militernya adalah menuju head to head dengan China. Palagannya adalah Laut China Selatan (LCS). Palagan itu ada di depan halaman rumah kita. Sudah kuatkah pagar halaman rumah kita?

Persoalan di LCS bisa berimplikasi luas karena lawan tandingnya tidak tanggung-tanggung, si naga perkasa China. Timur Tengah seruwet apa pun persoalannya masih bisa terukur titik didih konfliknya. Tapi untuk LCS panasnya konflik bisa membuat semuanya game over. Bayangkan saja, begitu tegangnya suasana di lapangan antar dua armada gajah, bisa saja prajurit salah mendeteksi, salah pencet tombol, lalu meluncur peluru kendali balistik. Pihak yang disasar mendeteksi kemudian balas meluncurkan rudal. Perang terbuka bisa terjadi karena salah pencet tombol. Apalagi kalau yang diluncurkan rudal nuklir. Duh Gusti.

Itu sebabnya Menhan Prabowo bergeliat dan bergerak cepat. Dia lihat alutsista matra laut dan udara kita tidak sepadan dengan luasnya teritori dan panasnya konflik LCS. Harus ada tambahan berlipat untuk alutsista laut dan udara agar setidaknya sedikit bisa mengimbangi dan tidak kalah gertak. Kapal perang jenis fregat dan destroyer serta kapal selam senyap adalah kebutuhan alutsista yang harus segera ada. Termasuk puluhan jet tempur double enjine beserta ragam persenjataannya. Harus ada dan secepatnya.

AS sudah membidik Indo Pasifik, membidik China sebagai musuh jangka panjangnya. Di lokasi yang sama juga ada konflik semenanjung Korea dan Taiwan. Pergeseran kekuatan militernya sedang dilakukan. Perlahan tapi pasti Timur Tengah mulai ditinggalkan. Cerdiknya lagi AS berhasil melunakkan sikap negara-negara Arab untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tercatat UEA, Bahrain, Sudan dan Marokko selama empat bulan terakhir ini sudah berdamai dengan musuh lahir bathinnya. Diprediksi Arab Saudi dan Oman menyusul. Dinamika permusuhan di Timur Tengah saat ini merubah peta konflik dari Arab-Israel ke Arab-Iran. Israel juga musuh utama Iran.

Jadi pusat konflik sekarang dan masa depan adalah Indo Pasifik utamanya LCS. Dan teritori kita di perairan Natuna bersinggungan dengan pusat konflik. Sudah siapkah kita. Jawabnya belum. Ujian diplomatik kita akan terus diuji dengan sindiran dan gertakan salah satu pihak. Kalau diplomat dan pejabat AS yang tandang ke Jakarta, pihak sono muring-muring dan menyindir. Demikian juga jika Beijing mengirim delegasi diplomasi, Washington mengingatkan pentingnya fungsi kemitraan.

Kemenlu harus bermain siasat cerdik, harus pintar berkomunikasi dengan kedua belah pihak yang berseteru. Ketika kita menolak landing take off pesawat pengintai strategis AS Poseidon di seluruh Lanud kita, China bersorak dan memuji Indonesia. Sebaliknya ketika Menlu dan Menhan AS ke Jakarta dalam waktu berdekatan, Beijing merepet soal kebersamaan ASEAN yang tidak perlu dicampuri negara yang jauh dari kawasan damai ini. Penting menjaga bandul tetap seimbang agar kita tidak terjebak oleh percaturan hegemoni dan penantang hegemoni. Tapi soal kita memperkuat garda nasional China tidak ambil pusing, sebaliknya AS sangat mengharapkan perkuatan militer kita.

Soal perairan Natuna, area tumpang tindih ada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) nya. Indonesia berpendapat tidak ada titik singgung di ZEE Natuna. ZEE Indonesia sah dan diakui oleh hukum laut internasional. Sementara klaim China di LCS tidak diakui dunia. Datangnya rombongan kapal Coast Guard China area bermainnya di sektor tumpang tindih itu. Bukan di seluruh perairan Laut Natuna Utara. Artinya kita harus menyikapi segmen potensi konflik ini dengan proporsional. China tidak mengusik ZEE kita di Anambas, justru dengan Vietnam kita masih berselisih soal batasnya. Jelasnya biarlah AS yang menjadi tameng LCS karena dialah yang mampu mengerem ambisi teritori China.

Meskipun begitu kita harus bergerak cepat untuk memperkuat pagar teritori. ALKI 1 dan ALKI 2 diprediksi akan menjadi jalur ramai lintas laut militer AS dan Australia. Apalagi jika pangkalan Armada 1 AS yang mau dibentuk berada di Singapura. Wah rame dong. Singapura  ikut terlindungi.  TNI AL tentu harus terus bersiaga baik di jalur ALKI maupun Natuna. Kekuatan armada KRI mau tidak mau harus ditingkatkan dengan sejumlah kapal fregat dan destroyer secepatnya. Beruntunglah Iver Class sudah final menuju kontraknya, semoga bisa dibuat secara paralel dan serentak selesai. 

Sudah saatnya kita bergerak cepat dan lugas. Angkatan Laut dan Angkatan Udara patut mendapat pembaharuan alutsista. Sejumlah kapal perang kelas fregat sedang disiapkan. Selain Iver Class kelanjutan PKR 10514 batch 2  Martadinata Class sedang berproses. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Raja Belanda Willem Alexander bulan Maret lalu sudah memperjelas arahnya. Fokus saja dulu pada 2 Iver Class dan 2 Martadinata Class. Kemudian untuk matra udara jet tempur Typhoon bisa jadi prioritas utama dilanjut Rafale dan atau F15. Setidaknya itulah harapan kita sepanjang MEF jilid tiga ini sampai tahun 2024. Realistis kan.

****

Jagarin Pane / 23 Desember 2020