Sunday, July 4, 2021

Mengukur Kinerja Strategis Menhan

Geliat di Kementerian Pertahanan saat ini benar-benar menggairahkan. Kerja smart berkapasitas extra ordinary sedang dilakoni untuk memberikan kepastian kehadiran sejumlah alutsista strategis secara kualitas dan kuantitas borongan. Negara produsen alutsista luar negeri ikut merasakan suasana gairah ini. Adalah Perancis, Jerman, Italia, AS, Jepang dan Turki akan mendapatkan percikan rezeki milyaran dollar. Kurikulum baru yang diimplementasikan Kemenhan dipastikan membuat industri pertahanan dalam negeri baik BUMN dan swasta nasional berkibar mekar meriah. Termasuk jumlah tenaga kerja yang akan diserap karena produsen luar negeri sebagian membangun produknya disini dengan transfer teknologi dan pola offset.

Perjalanan Menhan Prabowo ke Perancis dan Jerman kemarin sangat diyakini akan membawa oleh-oleh berbagai jenis produk alutsista canggih.  Dari Jerman misalnya prediksi oleh-oleh itu adalah 5 kapal selam tangguh dan canggih sebagai supporting spirit untuk Hiu Kencana TNI AL, 100 Tank Leopard, 100 Tank Marder untuk Kavaleri TNI AD, Oerlikon Skyshield batch 3 untuk Paskhas, Oerlikon Skyranger untuk Marinir, Millenium Gun untuk KRI dan lain-lain. Jerman adalah produsen alutsista berkualitas bahkan khusus untuk produk kapal selam negeri ini adalah "mbah"nya. Kapal selam Cakra Class kita adalah produk Jerman. Kita juga sudah memiliki 100 Tank Leopard dan 50 Tank Marder yang dibeli dari Jerman di era Presiden SBY.

Sejauh ini kita apresiasi Prabowo yang sedang berkonsentrasi penuh untuk menjalankan amanahnya, menunjukkan kinerjanya sebagai Leader yang tidak pernah keder dalam setiap penugasan. Sebagai Leader di Kemenhan dia berusaha mereformasi pola pengadaan alutsista dari B2B menjadi G2G. Perubahan ini tentu banyak memotong "jalur simpang susun" yang selama ini menjadi pola "berlalulintas". Prabowo juga menunjuk negosiator independen dari luar negeri bernegosiasi dengan AS untuk membeli sejumlah jet tempur F15 dan lain-lain. Ini dilakukan untuk memastikan mendapatkan kewajaran harga dan teknologi yang diusung  produk alutsista made in Pakde Sam.

Gerak cepat, tidak bertele-tele, berkunjung face to face ke negara produsen alutsista adalah patron kuat yang diperlihatkan Prabowo untuk merealisasikan G2G dalam prosedur pengadaan alutsista. Terutama untuk memastikan kepantasan harga alutsista dan teknologinya, harga sewajarnya, harga normal. Sekedar beranalogi, laporan keuangan yang telah diaudit dan menghasilkan kriteria terbaik,  dengan sebutan "wajar tanpa pengecualian". Jadi Auditor tidak pernah menyebut laporan keuangan telah disusun secara benar, melainkan wajar. Demikian juga harga produk, yang wajar dong, mark up nya gak kebangetan. Maka untuk mendapatkan informasi itu ditempuh melalui G2G, antar pemerintah dan membawa nama baik pemerintahan. Kerjasama antar pemerintah tentu menjaga marwah dan wibawa negara masing-masing, itu pakemnya.

Kerja extra ordinary kemenhan masih berproses dan baru ada di langkah perdana. Dalam proses fast and smart ini termasuk mengelola anggaran hampir 300 trilyun rupiah melalui jalur pinjaman luar negeri untuk dibelanjakan seluruhnya sepanjang tahun 2021 tentu banyak fitnahnya. Sudah pasti itu. Ukuran Kinerja Kemenhan secara tujuan baru akan terlihat di tahun-tahun mendatang.  Dan secara proses kinerja sampai saat ini Prabowo dalam pandangan kita memberikan sinyal konstruktif dengan harapan yang besar bisa dilaksanakan dengan amanah, istiqomah dan fathonah. The New Patron Kemenhan ini diniscayakan menjadi jembatan kekuatan bagi kita dengan sebuah tujuan besar yang sangat ditunggu, kehadiran berbagai jenis alutsista strategis dan gahar secepatnya, dalam jumlah besar dengan kualitas teknologi terkini. InsyaAllah.

****
Jagarin Pane / 04 Juli 2021