Monday, July 25, 2016

Prediksi Belanja Militer RI Sampai Tahun 2019

Indonesia terus berupaya memperkuat militernya dengan belanja alutsista secara intens. Program eksisting saat ini adalah membangun pangkalan militer segala matra di Natuna dengan APBN_P tahun 2016 sebesar 1,2 Trilyun untuk menjadikan Natuna sebagai salah satu sarang lebah militer kita. Sebaran alutsista di Natuna sampai saat ini berupa pergeseran 1 flight jet tempur F16, pertahanan pangkalan Oerlikon Skyshield, radar Weibel yang mobile, sejumlah kapal perang striking force, drone dan pesawat patroli maritim.

Program pengadaan alutsista yang sedang berlangsung saat ini adalah pembuatan 2 kapal perang PKR 10514 produksi bersama Belanda_PT PAL di Surabaya, dimana salah satunya yaitu KRI Martadinata 331 sedang menjalani sea trial di laut Jawa. Kemudian pembuatan kapal latih pengganti Dewaruci di Spanyol, pembuatan 3 kapal selam jenis Changbogo di Korsel, salah satunya juga sedang menjalani sea trial di Korsel.  Juga sedang berlangsung pembuatan 2 kapal LST angkut tank spesialis Leopard di Jakarta dan Lampung untuk menemani KRI Teluk Bintuni 520 yang duluan selesai. Tahun depan juga akan dibangun 1 kapal perang jenis LPD untuk menambah jumlah LPD Makassar Class yang berjumlah 4 unit.
Jet Tempur Sukhoi SU30 bersiap patroli tengah malam
Kita juga sedang menunggu kedatangan 15 unit jet tempur F16 blok 52Id dari AS. Mestinya seluruh 24 unit jet tempur F16 up grade yang dibeli lewat program FMS tahun 2012 itu sudah tiba seluruhnya akhir bulan Juni 2016. Kita juga sedang menunggu kedatangan sang primadona Main Battle Tank Leopard RI dari Jerman dan berbagai alutsista pesanan pemerintah SBY. Tidak ketinggalan sedang diprogramkan untuk 15 jet T-50 golden eagle berupa pemasangan instalasi radar dan rudal sehingga bisa bisa berfungsi sebagai jet tempur disamping sebagai trainer.
Nah diluar paket eksisting itu militer Indonesia kembali melanjutkan rancangan belanja alutsista untuk tiga tahun ke depan (2017-2019). Dari data yang dikeluarkan Bappenas terhimpun jumlah dana yang digelontorkan untuk pembelian aneka ragam alutsista sebesar US$ 7,6 milyar dibagi untuk tiga matra. TNI AD mendapat alokasi anggaran sebesar US$ 1,5 milyar, TNI AL sebesar US$ 3,3 Milyar dan TNI AU sebesar US$ 2,8 Milyar.

TNI AU hampir pasti membeli 10 unit jet tempur Sukhoi SU35, 3 unit pesawat amfibi, pesawat angkut ukuran besar, helikopter angkut berat, sejumlah radar dan sistem pertahanan rudal jarak sedang untuk ibukota. Khusus untuk pengadaan rudal surface to air jarak sedang ini merupakan hal baru karena Indonesia selama ini hanya bertumpu pada Hanud Titik alias rudal jarak pendek. Jakarta sangat pantas mendapatkan pengawalan Hanud Area dengan memasang sejumlah peluru kendali darat ke udara jarak menengah.

TNI AL melanjutkan program pengadaan kapal perang dan alutsista striking force.  Prediksi kita akan ada pembelian 3 kapal perang jenis fregat, 2 kapal selam “herder” selain Changbogo, 2 kapal penyapu ranjau, 4 Kapal Cepat Rudal 60m, 60 tank amfibi, sejumlah rudal dan torpedo. Sementara TNI AD juga memperkuat taring tempurnya dengan membeli sejumlah heli serbu, heli angkut berat, rudal, artileri, tank, panser dan kendaraan tempur IFV.
Fregat KRI Satsuit Tubun 356 sedang bertugas
Tentu anggaran belanja beli alutsista itu menggembirakan kita meski belum memuaskan. Namun setidaknya ada gambaran jelas program pengadaan alutsista untuk memenuhi program MEF jilid 2 yang sedang berlangsung.  Ancaman dan tantangan menjaga teritori sudah jelas di depan mata. Paling tidak ada 2 hot spot yang selalu diwaspadai dan dijaga ketat yaitu Ambalat dan Natuna. Meski beberapa hot spot lain seperti selat Malaka dan Kupang juga perlu dicermati.

Kita meyakini dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, belanja pertahanan kita juga ikut terangkut bagus apalagi jika formula anggarannya berbasis PDB. Membangun kekuatan pertahanan dengan pola investasi tentu bisa merubah cara pandang kita selama ini. Bahwa patron bernegara dan berbangsa itu “biaya eksistensinya” adalah memperkuat otot militer dan persenjataannya. 

Jadi jangan ada anggapan bahwa perkuatan militer itu buang-buang uang negara. Perkuatan militer adalah sejalan dengan perjalanan berbangsa dan bernegara menuju negara kesejahteraan yang berkeadilan.  Perkuatan militer adalah kebutuhan mutlak agar eksistensi bernegara, eksistensi berteritori dan eksistensi berdiplomasi tidak dianggap remeh oleh negara lain. Dengan kata lain membangun dan memperkuat hulubalang republik adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya dirasakan sepanjang usia eksistensi bernegara dan berbangsa.

Belanja investasi pertahanan yang bernama alutsista harus terus diperbesar dan sangat pantas berbasis PDB. Ini dilakukan untuk memperoleh kekuatan pertahanan dan daya tahan terhadap gertakan dan gempuran teritori yang sudah mulai dicoba uji nyalinya di Natuna.  Kita perkuat militer kita, kita baguskan model diplomasi kita.  Tapi jangan lupa sebagus dan sehebat apapun model diplomasi yang dijalankan, dia harus dikawal dengan kekuatan militer yang disegani.  Kita sedang menuju ke arah itu.
****
Jagarin Pane/24 Juli 2016