Hari-hari ini Malaysia mengungkapkan kekhawatirannya tentang perkuatan militer Filipina dan pembangunan pangkalan militer AS. Lokasinya di pulau Balabac bagian dari gugus kepulauan Palawan Filipina yang berdekatan dengan Sabah. Pada saat yang bersamaan PM Malaysia Anwar Ibrahim mengeluarkan pernyataan soal Taiwan dan menjelaskan sikap diplomatik One China, mendukung penyatuan Taiwan dengan Mainland. Beijing langsung "kegirangan" dan merespon dengan sanjungan. Sementara kapal China Coast Guard (CCG) 5901 berbobot 12.000 ton berhari-hari mondar mandir mengobok-obok perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sarawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Inilah sebuah ironi geopolitik kawasan ketika senyuman diplomatik bertemu dengan otot ambisi teritorial.
Pada sisi yang lain perkuatan pertahanan Malaysia saat ini tertinggal dengan tetangga besarnya Indonesia dan tetangga "Sabahnya", Filipina. Malaysia yang terbagi menjadi Malaysia Barat di Semenanjung dan Malaysia Timur di Sabah dan Sarawak sesungguhnya terpisah jauh melintasi Laut China Selatan (LCS) yang iklim geopolitiknya sedang demam berkepanjangan. Di tengah keterpisahan geografi Malaysia itu ada kepulauan Natuna Indonesia yang sedang memperkuat basis pertahanannya. Artinya kegelisahan Malaysia sesungguhnya ada di tiga hotspot yaitu ZEE LCS, Natuna Indonesia dan Balabac di Filipina Barat. Semuanya dalam korelasi klaim LCS, Sabah dan Ambalat.
Filipina selama beberapa dekade mengabaikan perkuatan militernya. Saat ini sedang menggebu mengejar minimum essential forcenya. Manila adalah sekutu terdekat AS di Asia Tenggara yang menyediakan Subic Navy Base dan Clark AFB sebagai pangkalan aju AS dalam perang Vietnam yang legendaris itu. Merasa dipayungi oleh AS puluhan tahun negeri Tagalog ini tidak berupaya menguatkan postur pertahanannya. Baru setelah Beijing mengobrak abrik tatanan ZEE Unclos di LCS Filipina sadar diri dan bangkit membangun kekuatan militernya seperti yang kita saksikan sekarang. Pertambahan alutsistanya tergolong cepat termasuk menyediakan 9 pangkalan militer untuk AS.
Sementara Malaysia sejauh ini terjebak dalam dinamika politik internal berkepanjangan yang membuat jalannya pemerintahan Kuala Lumpur "jatuh bangun" karena saling jegal antar politisi dan partai politik. Baru setelah Anwar Ibrahim dengan koalisinya yang sebenarnya juga rapuh mendapat dukungan kuat Yang Dipertuan Agong, gejolak dinamika politik mereda. Selama belasan tahun jiran serumpun kita boleh dikata pertumbuhan kekuatan militernya stagnan. Barulah setelah politisi "tahan banting" Anwar Ibrahim menjabat sebagai PM Malaysia perkuatan militer negeri itu mulai menggeliat. Kita melihat ada percepatan pembangunan frigate Maharajalela Class yang sempat terhenti bertahun-tahun. Juga order korvet dari Turkiye. Termasuk pengadaan 18 jet tempur ringan Fa50 yang setara dengan 19 jet latih tempur T50 yang sudah dimiliki TNI AU. Dari pabrikan yang sama Korea Selatan.
Di Jakarta baru saja datang 2 Menteri tangan kanan Presiden China Xi Jinping tanggal 20-22 Agustus 2026. Menlu Wang Yi dan Menhan Dong Yun bersama Menlu dan Menhan Indonesia bersepakat memperkuat kerjasama pertahanan multi dimensi. Seperti kerjasama pembuatan peluru kendali anti kapal C705, pengiriman prajurit TNI ke China dan latihan militer bersama. Seperti kita ketahui bersama dari beberapa media internasional, Indonesia dikabarkan akan membeli beberapa jenis alutsista dari China seperti jet tempur J10C dan Coastal Missile. Sementara rudal anti kapal C705 sudah sejak lama menjadi aset arsenal untuk kapal cepat rudal TNI AL. Dalam kunjungan 2 Menteri China tidak ada publikasi untuk progres J10C dan Coastal Missile. Dan memang tidak harus jua mempublikasikannya. Sudah banyak contoh, tanpa publikasi barangnya datang.
Sebelum kunjungan delegasi China untuk Dialog "2+2" bersama rekan selevelnya dari tuan rumah, Indonesia baru saja menerima kunjungan Wakil Menteri Perang AS Elbridge A.Colby tanggal 11-12 Agustus 2026. Kunjungan ini tentu dalam rangka menguatkan detail DCA (Defence Cooperation Agreement) seperti penggunaan Bandara Kertajati untuk rawat inap pesawat Hercules AS dan program pendidikan prajurit TNI serta kontinuitas latihan gabungan Garuda Shield. Makna dari dua kunjungan ini, AS dan China, dalam waktu yang berdekatan menunjukkan adanya kekuatan tarik menarik yang terus menerus dan rayuan kepada sosok negeri kepulauan yang posisi geopolitiknya sangat strategis di kawasan Indo Pasifik. Indonesia seperti gadis manis rambut sebahu yang dirayu terus menerus oleh Paman Sam dan Paman Mao.
Kita membaca dalam dua minggu terakhir ini ada gelombang geopolitik di kawasan Indo Pasifik yang sangat dinamis. AS yang kewalahan menghadapi pertempuran asimetris berbulan-bulan melawan Iran setidaknya memberikan pelajaran tentang payung perlindungan Indo Pasifik. Korea Selatan, Jepang, Australia, Taiwan dan Filipina membaca anatomi pertempuran itu dengan kegelisahan. Secara strategi dan antisipatif, penguasa hegemoni AS mengalami pukulan telak. Hancurnya puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah membawa kesan dan pesan kuat bahwa Indo Pasifik yang selama ini berada dalam payung perlindungan militer AS sudah berkurang nilai keyakinannya. Apalagi saat ini sudah ada aliansi pertahanan yang kuat antara China, Korut dan Rusia.
Kapal perang Indonesia KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dalam perjalanan pulang dari Vladivostok Rusia dan Yokosuka Jepang disambut passing exercise kapal perang China di Laut China Timur (LCT) sebelah Timur Taiwan medio Agustus ini. Tidak ada yang salah bagi kapal perang Indonesia untuk menerima "say hallo" dari frigate China di kawasan ZEE LCT. Ini bagian dari diplomasi pertahanan China untuk menguji gelombang geopolitik kawasan. Dan benar saja Taiwan berteriak dan ngomel diplomatik ke seluruh dunia. Yang jelas frigate sigma 10514 hasil kerjasama produksi PT PAL dan Damen Schelde Belanda, KRI I Gusti Ngrah Rai makin terkenal karena disebut terus di berbagai media internasional. Sebenarnya teriakan ini bagian dari kegelisahan Taiwan menghadapi ancaman invasi China.
Apakah Indonesia juga gelisah. Jawabnya tidak. Posisi diplomatik kita adalah tidak berada dalam aliansi pertahanan dengan negara manapun. DCA dengan Australia, AS, China, Singapura dan Jepang adalah kerjasama pertahanan, bukan aliansi militer. Posisi diplomatik kita dengan luas teritori yang sangat strategis inilah yang kemudian menjadi "pusat rayuan serba ada" untuk didekati masing-masing pihak demi kepentingan strategi antisipatif menghadapi konflik masa depan di kawasan Indo Pasifik yang skalanya bisa mematikan. Untuk menguatkan posisi diplomatik dengan teritori yang luas, Indonesia bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Karena inilah satu-satunya cara agar posisi diplomatik kita tidak diremehkan.
Kita mengapresiasi strategi antisipatif pemerintah untuk memastikan manajemen pertahanan yang interoperability dapat menjunjung posisi diplomatik kita yang netral. Pengadaan 42 jet tempur Rafale, 48 jet tempur KAAN, 16 jet tempur KF21, 16 jet tempur J10C, 8 jet tempur Sukhoi SU35, 12 jet latih M346F blok 20, 24 radar GCI Thales dan Retia, 4 pesawat angkut Atlas, puluhan drone Anka, Akinci, Bayraktar, Kizilelma, 1 kapal induk Garibaldi, 2 kapal perang Brawijaya Class, 2 kapal perang Istif Class, 2 kapal selam Scorpene, 5 kapal selam mini Drass, 30 kapal selam nirawak KSOT, drone laut Kamikaze, rudal Brahmos, rudal balistik KHAN, senjata Laser, pembangunan 750 batalyon TNI AD, Marinir dan Kopasgat. Semuanya adalah untuk memastikan kekuatan militer Indonesia sebanding dengan luasnya teritori negeri ini.
Kita meyakini ada kegelisahan jiran kawasan seperti Malaysia, Filipina dan Taiwan. Termasuk juga Korsel dan Jepang. Kekalahan strategi dan perang asimetris AS melawan Iran menjadi pembahasan menarik di instrumen intelijen dan pemikir strategis pertahanan negara-negara Indo Pasifik. Tidak terkecuali negara-negara Timur Tengah. Prediksi kedepan ini dunia tidak lagi unilateral dengan AS sebagai pemegang hegemoni. Aliansi militer Pakistan, Arab Saudi dan Turkiye adalah contoh masing-masing kawasan tidak lagi mengharapkan payung perlindungan AS. Peran AS makin memudar dan ini secara psikologi memukul arogansi kekuatan Paman Sam selama ini.
Pola diplomatik AS yang lebih sering bertindak atas nama hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menguasai dan kemudian jumawa, merasa paling benar. Sementara China dengan sekutu karibnya Korut, Rusia dan Iran menjadi kekuatan baru (new force) yang sebenarnya ingin menciptakan harmoni multilateral, bukan hegemoni. Dalam perspektif inilah Indonesia memposisikan dirinya untuk menjadi middle strongest, netral, penyeimbang kawasan dan memastikan seluruh teritori negeri berada dalam payung pertahanan. Posisi diplomatik Indonesia dengan kekuatan militer middle strongest adalah bagian dari upaya menjaga perdamaian kawasan. Jangan sampai kemudian dua gajah bertarung lalu merusak semua yang sudah tertata dan bahkan sekian pelanduk mati ditengah.
Bagaimanapun kekuatan militer yang sepadan dengan luas teritori adalah keharusan mutlak sebagai fundamen diplomasi politik luar negeri Indonesia. Kita sedang bergegas, extra ordinary untuk memenuhi kebutuhan optimum essential force pertahanan kita. Meskipun ada tarik menarik dan rayuan dari pihak-pihak yang berseteru, Indonesia tetap berada di posisi strategisnya, non aliansi. Untuk memperkuat posisi strategis ini, kita majukan terus pertumbuhan ekonomi kesejahteraan sejalan dengan perkuatan manajemen pertahanan. Indonesia sedang berada dalam perjalanan ini, perjalanan sebuah negeri kepulauan yang kaya sumber daya alam dan posisi geopolitiknya yang strategis. Dirgahayu Indonesia.
****
Jagarin Pane / 23 Agustus 2026