Thursday, July 2, 2026

PT PAL Indonesia, Menuju Industri Pertahanan Global

Publikasi peluncuran kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) yang ketiga untuk Angkatan Laut Filipina tanggal 30 Juni 2026 yang lalu menggema luas di kawasan regional. PT PAL kembali mendapat kepercayaan Filipina membangun LPD ketiga dan keempat, setelah sebelumnya sukses membangun 2 kapal LPD untuk AL jiran utara ini. PT PAL sendiri sudah membangun 6 kapal perang LPD untuk TNI AL dan sedang membangun kapal LPD terbesar 163 meter Al Maryah untuk Angkatan Laut "Sultan" Uni Emirat Arab. Bahkan saat ini PT PAL sedang mempromosikan kapal perang striking force "little but lethal" kapal cepat rudal (KCR) 60 meter Sampari Class ke Filipina. TNI AL saat telah memiliki 6 KCR Sampari Class produk PT PAL Surabaya.

Dalam catatan kita sejauh ini PT PAL mampu memberikan kesan perjalanan prestasi yang "Quantum Leap". BUMN strategis ini memberikan kontribusi luar biasa untuk mengembanghebatkan industri pertahanan maritim Indonesia bersama industri pertahanan maritim swasta nasional yang tersebar di berbagai provinsi. Saat ini PT PAL sedang membangun 2 kapal perang heavy frigate "Merah Putih" untuk TNI AL. Satu diantaranya KRI Balaputradewa 322 telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. PT PAL mendapat order untuk membangun 4 kapal perang "Merah Putih Class" dengan target waktu penyelesaian secepatnya. 

KRI Balaputradewa 322 akan ikut serta dalam HUT TNI 5 Oktober 2026 mendatang bersama dua kapal perang heavy frigate yang baru dibeli dari Italia. Yaitu KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Skenarionya ketiga KRI gahar ini akan "mengawal" kapal induk TNI AL yang belum diberi nama dalam show of force parade seratusan kapal perang berbagai jenis 5 Oktober nanti. Prediksi kita perayaan HUT TNI akan dilaksanakan di pangkalan AL terbesar Surabaya. Sekedar sumbang saran perayaan HUT TNI tidak perlu terlalu kolosal seperti tahun kemarin di Monas. Begitu padatnya seratusan ribu pasukan TNI dan ribuan alutsista yang dikerahkan. Bersama ratusan ribu masyarakat yang menyaksikan memberikan kesan "suasana kolosal banget". Namun kurang tertata dan tertib dalam manajemen seremoni militer karena keterbatasan lahan dan penuh sesaknya partisipan dan penonton.

Kita ketahui bersama, saat ini  PT PAL punya kesibukan yang padat. BUMN andalan ini sedang membangun 2 kapal selam canggih Scorpene Envolved melalui kerjasama transfer teknologi dengan Perancis. Yang menakjubkan tentu saja kemampuan PT PAL membangun karya cipta sendiri yaitu kapal selam mini tanpa awak (KSOT) dan senjata laser untuk kapal perang. Kedua produk ini sudah diuji coba tahun 2025. Kementerian pertahanan tahun ini sudah memesan 30 unit KSOT untuk menguatkan armada bawah air TNI AL. Semua prestasi ini tidak terlepas dari kekuatan manajemen yang solid dan political will untuk membangunkuatkan industri pertahanan maritim Indonesia.

PT PAL beberapa tahun lalu mendapat order untuk modernisasi refurbishment 41 KRI eksisting berbagai jenis. Sebagai lead integrator BUMN ini merangkul beberapa industri pertahanan swasta nasional untuk percepatannya. Jadi disamping membangun kapal perang berbagai jenis PT PAL juga "merawat inap" berbagai KRI. Bahkan kapal perang LPD Filipina yang pertama dibangun PT PAL juga melakukan maintenance rawat inap di Surabaya baru-baru ini. Kapal selam KRI Cakra 401 ikut dalam program overhaul yang lebih dikenal dengan Program R41. Temasuk "Fatahillah Class" dan "Parchim Class" mendapatkan persenjataan peluru kendali anti kapal Atmaca buatan Turkiye.

Dalam perjalanan sumbangsihnya untuk ketersediaan alutsista TNI AL, BUMN maritim ini sudah lengkap membangun kapal perang berbagai jenis dan berbagai ukuran. Termasuk merawatnya. Mulai dari membangun FPB (Fast Patrol Boat), KCR "Sampari Class", korvet "Martadinata Class", LPD "Makassar Class", kapal selam "Nagapasa Class", kapal tanker logistik "Tarakan Class", dan yang terakhir heavy frigate "Merah Putih". Prediksi kita  tahun depan PT PAL akan mulai membangun kapal perang jenis LHD (Landing Helicopter Deck). Sementara pekerjaan besar lainnya adalah meng upgrade kapal induk bekas dari Italia untuk kesiapan operasionalnya sebagai kapal induk TNI AL.

Perjalanan kontribusi PT PAL tidak terlepas dari tata kelola manajemen yang profesional dibawah kepemimpinan Dr Kaharudin Jenod. Figur ini dan PT PAL seperti bertemunya filosofi "the right man in the right place". Dengan leadership yang terang benderang Jenod yang ahli perkapalan dan artificial intelligence mampu mengintegrasikan strategi manajemen galangan kapal dan perluasan pasar internasional. Prestasi yang lain adalah mampu menyelesaikan masalah keuangan selama 20 tahun menjadi profit margin yang menggembirakan. Bahkan untuk laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan 108,6% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan profit margin ini adalah hasil sinergitas percepatan proses produksi, efisiensi dan limpahan order termasuk implementasi digitalisasi manajemen. 

Political will adalah payung utama sebagai pelindung dan trigger manajemen PT PAL. Kebijakan Presiden Prabowo yang visioner termasuk ketika menjadi Menteri Pertahanan untuk membangunkuatkan industri pertahanan dalam negeri sudah memberikan hasil gemilang. PT PAL saat ini adalah industri pertahanan maritim nasional yang sedang bergeliat dan menjadi buah bibir di kawasan regional. Selayaknya kita memberikan apresiasi karena PT PAL tampil sebagai BUMN industri pertahanan terkemuka dan berprestasi. BUMN yang lain seperti PT Pindad dan PT DI  juga menunjukkan kinerja yang baik.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan PT PAL selama lima tahun terakhir ini menjalani masa keemasannya dalam "perjalanan karirnya". Menuju industri pertahanan maritim global bukan lagi cita-cita tetapi sudah dan sedang melangkah ke arah sana dengan percaya diri. Pasar ASEAN sudah terbuka, juga pasar Timur Tengah. Pasar Afrika berpotensi terbuka. Lebih penting dari itu adalah kemampuan PT PAL menyediakan kebutuhan kapal perang berbagai jenis untuk Angkatan Laut Indonesia. Kekuatan pertahanan sebuah negara harus didukung dengan kekuatan industri pertahanannya sebagai pemasok ketersediaan aset pertahanan. Dan manajemen PT PAL sudah menjawabnya dengan kinerja cemerlang. Tapi bagi netizen forum militer biasanya mereka lebih senang dan ramai membahas tema "fit for but not with" atau "full armament". Bagi netizen forum militer, Good News is biasalah. 

****

Jagarin Pane / 2 Juli 2026


Friday, May 29, 2026

Relevansi Extra Ordinary Dan Strategi Membeli Waktu

Seremoni penyerahan 6 jet tempur Rafale dan sejumlah alutsista TNI AU lainnya menggema luas di berbagai media internasional. Semuanya memberitakan tentang lompatan strategi extra ordinary dan teknologi militer Indonesia di tengah situasi dan kondisi geopolitik dunia yang bergejolak saat ini. Berbagai turbulensi konflik dan pertempuran terjadi di berbagai belahan bumi bulat bundar ini. Presiden Prabowo di Halim AFB Jakarta Senin 18 Mei 2026 resmi menyerahkan 6 jet tempur Rafale dari 42 unit yang sudah dipesan dari Perancis. Alutsista lain yang diserahkan adalah 2 radar GCI Thales buatan Perancis dari 13 yang dipesan. Juga 4 pesawat VIP Falcon 8X dan 2 pesawat angkut berat A400M Atlas. Masih ada opsi penambahan Rafale untuk melengkapi Air Superiority TNI AU menjadi 4 skadron tempur dengan 64 unit Rafale F4 Gen 4,5.

Program strategis investasi pertahanan di negeri kepulauan yang strategis ini,  saat ini terlihat sangat jelas extra ordinary. Berjalan cepat dan berkorelasi dengan strategi membeli waktu. Yaitu dinamika geopolitik yang memang sudah diprediksi Presiden Prabowo ketika masih menjadi Menteri Pertahanan. Ketika itu Menhan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar anggaran pembelian alutsista dapat ditingkatkan sampai US $ 34 milyar agar kemampuan pertahanan Indonesia  setara dengan luasnya teritori negeri. Saat itu Menteri Keuangan kelihatannya kurang mendukung sepenuhnya dan Presiden Jokowi berada "ditengah" keduanya. Apalagi saat itu ada wabah Covid 19.

Kita melihat gejolak dan turbulensi geopolitik dunia saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebenarnya lebih mengkhawatirkan lagi melihat kekuatan pertahanan kita sendiri. Meski dengan program minimum essential force (MEF) yang sudah berjalan sejak masa jabatan kedua Presiden SBY, sejauh ini pencapaiannya hanya untuk memenuhi kebutuhan "gizi dasar" alutsista kita. Baru sampai pada kriteria kekuatan minimal yang diperlukan. Artinya selama beberapa dekade sebelumnya kekuatan pertahanan kita memprihatinkan. Tidak punya kekuatan striking force yang bisa diandalkan. Program MEF yang berakhir tahun 2024 saat ini berlanjut dengan program Optimum Essential Force (OEF) 2024-2029.

Substansi program OEF dipercepat untuk mencapai target yang diinginkan tahun 2029. Bersamaan dengan prediksi dinamika kawasan Indo Pasific yang semakin liar, mudah meledak. Seperti selat Taiwan, Laut China Selatan (LCS), Laut China Timur  (LCT) dan Semenanjung Korea. Antisipasi terhadap semua prediksi itu adalah menggenggam strategi membeli waktu untuk mempersiapkan secepatnya kekuatan pertahanan. Indonesia menganut prinsip mandiri aktif dalam politik luar negeri dan defensif aktif dalam manajemen pertahanan. Kita tidak ingin terjebak dalam persaingan 2 kekuatan besar di Indo Pasific dan memihak salah satu kekuatan itu. Maka jalan satu-satunya adalah memperkuat otot militer untuk perlindungan teritori negeri sekaligus sebagai kekuatan diplomasi pertahanan. Maka jangan kaget ketika saat ini pengadaan investasi pertahanan Indonesia berjalan cepat, extra ordinary, berkejaran dengan waktu. 

Extra ordinary dalam program OEF menurut perspektif kita merupakan jalan terbaik based on situasi dan kondisi geopolitik dunia yang "mudah naik darah" dan mengumbar adrenalin. Dan semuanya bersumber dari penguasaan sumber daya alam dan energi yang terbatas. Sumber daya alam dan energi kita melimpah. Pertahanan negara merupakan sabuk pengaman (safety belt) bagi eksistensi negara dan keberlangsungan pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Kita perkuat pertahanan bukan untuk ekspansi. Ini yang disebut defensif aktif dan penguatan doktrin pertahanan yang menyesuaikan dengan dinamika geopolitik dan teknologi pertempuran. Jika kita mempunyai kekuatan pertahanan yang setara dengan luasnya teritori maka ini bagian dari diplomasi pertahanan yang paling efektif sebagai unsur penggentar.

Prediksi target OEF tahun 2029 untuk TNI AL adalah tersedianya penambahan aset investasi pertahanan 1 kapal induk lengkap dengan alutsista drone dan helikopter. Penambahan minimal 8 kapal perang heavy frigate dan 4 kapal selam baru, 30 kapal selam tanpa awak buatan PAL, 6 kapal selam midget buatan Italia dan kapal SAR kapal selam. Termasuk 8 baterai Coastal Missile untuk pengamanan selat strategis  dan seratusan tank amfibi marinir. Seluruh Lantamal sudah dikembangkan menjadi Komando Daerah Angkatan Laut ( Kodaeral). Saat ini TNI AL memiliki 274 KRI berbagai jenis, 4 kapal selam, ratusan tank/panser amfibi dan puluhan MLRS.

Untuk TNI AU sampai tahun 2029 ada penambahan 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KF21 Boramae hasil pengembangan bersama Korsel-Indonesia, 16 jet tempur Chengdu dari China dan 8 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Akan ada pesawat 3 AEW&C dan 4 pesawat angkut multi guna MRTT. TNI AU sedang menambah 25 radar GCI dari 2 jenis yang mampu berinteroperabilitas. Yaitu 13 Radar GCI Thales dari Perancis dan 12 Radar GCI Retia dari Ceko. Skadron UAV TNI AU juga bertambah menjadi 6 skadron di Pontianak, Natuna, Tarakan, Timika, Malang dan Medan.Tahun 2029 semua alutsista anyar ini diharapkan sudah ready for apa saja. Ready for exercise interoperability bahkan ready for war. Tapi bukan ready for "nakut-nakutin". Saat ini kekuatan eksisting TNI AU diluar Rafale adalah 16 jet tempur Sukhoi SU27/SU30, 33 jet tempur F16, 19 jet tempur T50, 24 jet tempur Hawk, 13 pesawat coin Super Tucano, 6 Drone Anka, 8 Drone Wing Loong dan 6 Drone Aerostar. Ruang udara tanah air saat ini dikawal 20 Satuan Radar TNI AU.

TNI AD, pertambahan yang paling revolusioner adalah pembangunan 750 batalyon baru dengan target setiap kabupaten ada 1 batalyon TNI AD. Artinya akan ada penambahan minimal 750.000 pasukan. Ini target sampai tahun 2029. Didalamnya ada penambahan batalyon infantri, batalyon kavaleri, batalyon artileri, batalyon arhanud, batalyon rudal dan batalyon zeni tempur. Termasuk pengadaan alutsista strategis beberapa baterai rudal balistik KHAN buatan Turkiye dan baterai ADS medium range BUK-MB2K buatan Belarusia. Penerbad juga dikembangkan menjadi 6 skadron dengan penambahan puluhan helikopter berbagai jenis. 

TNI AD adalah basis pertahanan pulau. Oleh sebab itu penambahan jumlah batalyon, penambahan jumlah Brigade dan Kodam bersama implementasi BMS (battle management system) adalah sebuah keniscayaan dalam Sishankam Semesta. Saat ini TNI AD sudah mampu berinteroperabilitas antar satuan tempur. Batalyon infantri, batalyon infantri mekanis, batalyon artileri, batalyon arhanud, batalyon roket, batalyon kavaleri dan skadron Penerbad. Semua sudah terintegrasi dalam BMS.  Dalam program ketahanan pangan satuan baru TNI AD berperan dalam ekstensifikasi lahan pertanian. Ini bagian dari tugas OMSP (operasi militer selain perang) sesuai UU TNI. Ketahanan pangan adalah instrumen vital dalam menguatkan ketahanan nasional.

Sejalan dengan percepatan OEF, beberapa negara melakukan Defence Cooperation Agreement (DCA) dengan Indonesia. Tahun ini saja ada 3 negara yang memperkuat kerjasama pertahanan berdimensi luas. Dengan Australia, AS dan Jepang. Ketiganya melihat posisi geostrategis Indonesia yang luas dan paling vital. Terutama untuk jalur logistik dan energi. ALKI 1 yang meliputi Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata, Selat Singapura dan Laut Natuna adalah jalur strategis. Australia naksir berat untuk memanfaatkan Morotai sebagai pusat latihan tempur bilateral dan multilateral. AS berkeinginan mendapat ruang lintas udara untuk pergerakan pesawat militernya. Termasuk berinvestasi MRO (maintenance, repair dan overhaul) untuk pesawat Hercules seluruh Asia di area Bandara Kertajati. Sementara Jepang memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk memperoleh kapal selam dan frigate. Bahkan sudah menghibahkan 2 kapal patroli untuk TNI AL dan Bakamla.

Ketiga negara ini sebenarnya ingin "merangkul" Indonesia bersamaan dengan menguatnya postur pertahanan Indonesia secara extra ordinary. Paling tidak mengajak Indonesia dengan karakter non aliansinya bisa lebih dinamis dan "tahu sama tahulah" menyikapi cuaca geopolitik kawasan. Ketiga perjanjian kerjasama pertahanan ini ternyata membuat China ngedumel. Kementerian Luar Negeri China memperingatkan agar perjanjian kerjasama pertahanan ini tidak merugikan pihak lain. Bagi Indonesia yang politik luar negerinya mandiri aktif tidak ada yang perlu dipersoalkan. Karena kita juga bersahabat dengan China termasuk membeli alutsista jet tempur dan coastal missile dari China. Diplomasi pertahanan Indonesia dan perkuatan militernya semata-mata untuk kepentingan nasional, defensif aktif, menjamin kedaulatan teritori dan stabilitas kawasan. 

Dinamika geopolitik mengharuskan Indonesia memperkuat manajemen pertahanan bersinergi dengan diplomasi pertahanan. Termasuk menjalin kerjasama pertahanan, bukan aliansi militer. Ini bagian dari strategi membeli waktu untuk mengantisipasi konflik dan turbulensi termasuk mencegahnya. Jika memang harus terjadi pertempuran diantara dua kekuatan besar di Indo Pasific, Indonesia sudah siap dengan kemungkinan terburuknya. Maka program extra ordinary OEF adalah jalan terbaik sejalan dengan perluasan perjanjian DCA bersama negara lain. DCA dengan Australia, AS dan Jepang adalah bukti bahwa posisi geostrategis, geopolitik dan perkuatan militer Indonesia sangat diperhitungkan. Tidak lama lagi kekuatan militer Indonesia dengan diplomasi pertahanannya bisa menjadi penengah konflik dan penentu stabilitas kawasan. Semoga.

****

Jagarin Pane / 29 Mei 2026


Wednesday, April 22, 2026

Sekutu De facto ?

Dinamika geopolitik dan geostrategis Indonesia bersama kawasan sekitarnya menarik untuk dicermati. Perang antara AS, Israel dengan Iran memberikan beberapa pelajaran penting. Antara lain teknologi rudal dan drone Iran yang luar biasa menghancurkan. Daya tahan Iran, kesalahan strategi pertempuran AS Israel, penguasaan jalur vital terkait dengan jalur logistik, energi dan militer. Khusus yang terakhir ini belakangan menjadi perhatian kita bersama terkait dua hal, bagaimana kemudian kita harus mampu mengelola geopolitik dan geostrategis kita. Seperti rayuan Australia untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Dan yang paling viral adalah dan keinginan AS untuk bebas melintas di ruang udara Indonesia.

Indonesia memiliki teritori yang luas dan kaya sumber daya alam. Lebih dari itu posisi teritorinya lengkap "dengan baretnya" tanah dan air berada dalam posisi yang strategis. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur lintas strategis dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya. ALKI Satu dengan jalur Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata dan Selat Singapura adalah jalur laut untuk logistik, energi dan militer yang sangat ramai lalulintasnya. Sementara ALKI Dua dengan jalur Selat Lombok dan Selat Makassar, juga menjadi jalur laut penting utamanya untuk kapal perang dan kapal selam karena ini perairan dalam. ALKI Tiga melalui perairan Maluku menjadi lintasan Australia ke Pasifik Barat dan sebaliknya.

Begitu strategisnya posisi teritori negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Klaim nine dash line China membuat kawasan Laut China Selatan (LCS) demam berkepanjangan. Klaim ini sepertinya ingin mengingatkan kita betapa pentingnya membangun kekuatan angkatan laut dan udara yang berkelas. Presiden SBY sudah memulai program strategis Minimum Essential Force (MEF) jilid I, Presiden Jokowi melanjutkan MEF II dan III. Dan Presiden Prabowo mempercepat dengan program extra ordinary bernama Optimum Essential Force (OEF). Istimewanya sejak Prabowo jadi Menhan program strategis memperkuat militer Indonesia berjalan cepat dan extra ordinary. Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Berbagai jenis alutsista strategis sudah, sedang dan akan datang, terus berdatangan menjadi aset investasi pertahanan bangsa.

Pada saat yang bersamaan saat ini kita bisa melihat berbagai konflik dan pertempuran yang terjadi di berbagai kawasan. Perang Rusia-Ukraina, penghancuran Gaza oleh Israel, perang India-Pakistan, perang Thailand-Kamboja, operasi militer penculikan presiden Venezuela dan perang keroyokan AS Israel melawan Iran. Dengan kondisi geopoltik yang mudah bergolak dan turbulensi ini maka dalam perspektif kita perkuatan militer Indonesia secara extra ordinary adalah langkah strategis terbaik. Semuanya untuk mengantisipasi dinamika dan goncangan geopolitik yang mudah "naik darah". Mudah angkat senjata seperti yang sudah dicontohkan presiden cowboy negara adidaya. PBB sepertinya mati suri. Yang berlaku saat ini hukum rimba, siapa yang kuat dia yang petintang petinting.

Harus diakui pada kenyataannya Indonesia dan AS lebih sering "jalan bareng" untuk mengadakan berbagai kurikulum latihan militer gabungan. Yang terbesar adalah Latgab Super Garuda Shield yang melibatkan ribuan pasukan kedua negara. Garuda Shield awalnya hanya latihan militer ala kadarnya sejak tahun 2006. Dan setiap tahun dilakukan. Namun lima tahun terakhir kapasitas dan kualitas latihan gabungan ini meningkat drastis dan diikuti belasan negara lain di Indo Pasifik kecuali China dan Rusia. Lokasi latihannya pun ada di beberapa lokasi di Indonesia. Serial latgab Super Garuda Shield mencakup kurikulum matra udara, laut dan darat secara interoperability. Ini merupakan latgab multi nasional terbesar di Indonesia dan salah satu latgab terbesar di Indo Pasifik.

Selain Super Garuda Shield, US Marines juga melaksanakan latgab Carat (Cooperation Afloat Readiness And Training) tahunan dengan Marinir Indonesia. Dengan Kopasgat TNI AU, US Air Force rutin melakukan latihan tempur. Personil TNI seluruh matra juga banyak dikirim ke pusat latihan militer di AS. Termasuk untuk intelijen dan siber. Kedekatan militer Indonesia dan AS juga tidak terlepas dari hubungan personal dan institusional karena banyak perwira TNI mengikuti sekolah dan menjadi alumni kampus militer bergengsi di AS. Semua aktivitas latihan militer bersama AS ini mencerminkan kedekatan hubungan militer secara struktural dan prosedural.

Dengan Australia TNI rutin berpartisipasi di Kakadu Exercise untuk matra laut  dan Pitch Black untuk matra udara. Kedua latihan militer multi nasional yang diselenggarakan Australia ini adalah latgab skala besar. Merupakan cara Australia untuk ikut membangun kebersamaan di kawasan Indo Pasifik. Sementara seri terbaru latgab terbesar Indonesia Australia adalah latgab Keris Woomera di Situbondo Jawa Timur yang dimulai November 2024. Kedua negara mengerahkan ribuan prajurit dan alutsista. Australia mengerahkan MBT Abrams, Indonesia mengerahkan MBT Leopard. Sejumlah kapal perang dan tank amfibi kedua negara meramaikan pantai Situbondo, termasuk jet tempur F16 TNI AU.

Postur kekuatan militer Indonesia yang berkembang pesat saat ini menjadi perhatian kawasan khususnya Australia dan AS. Australia tidak bisa lagi mendikte dan meremehkan Indonesia. Bisa kita lihat pola diplomasi negeri kanguru saat ini. Lebih proaktif merapat ke tetangga besarnya untuk kerjasama pertahanan. Strategi pertahanan Australia tahun 2026 menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis, penting dan abadi. Tumben abadi. Bahkan belakangan ini Canberra merayu Jakarta agar mendapat akses ke Morotai. Argumen yang digunakan adalah untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer skala internasional. Namanya juga diplomasi pertahanan, kita pun paham arahnya.

AS yang punya kedekatan hubungan militer dengan Indonesia kemudian mengajukan permintaan izin lintas udara (blanket overflight clearance) untuk seluruh pesawat militernya. Dalam pandangan AS posisi teritori Indonesia yang luas ini adalah akses strategis untuk bisa leluasa keluar masuk  dari dan ke LCS dan LCT (Laut China Timur). Benang merahnya bertemu dengan keinginan Australia untuk mendapat akses ke Morotai sebagaimana artikel kita beberapa minggu lalu. Dalam skenario pertempuran yang sudah terbukti secara historis, Morotai bisa menjadi pangkalan aju yang vital untuk AS dan Australia jika terjadi pertempuran besar dengan China.

Menhan Indonesia dan AS baru saja menandatangani perjanjian aliansi strategis MDCP (Major Defense Cooperation Partnership) tanggal 13 April 2026 di Washington. Khusus untuk permintaan izin bebas lintas udara ini belum mendapat persetujuan Indonesia. Kemlu kita sudah bersurat ke Kemhan agar berkoordinasi lebih dulu sebelum melangkah lebih jauh. Karena ini bisa mempengaruhi stabilitas kawasan. Jubir Kemlu Yvonne Mawengkang menegaskan bahwa kedaulatan nasional adalah dasar dari semua kesepakatan. Jangan lupa baru saja berlaku UU No21/2025 tanggal 25 Nopember 2025 tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional (PRUN). Seperti kita ketahui Kemlu China bereaksi tajam dan mengingatkan Indonesia agar dalam perjanjian kemitraan dengan negara lain tidak merugikan pihak lain. Ini sesuai dengan Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan Asia Tenggara.

Kita mengapresiasi langkah Kemlu yang cepat, tepat, senyap untuk mengingatkan. Karena bagaimanapun politik luar negeri kita berbasis non blok dan bebas aktif dinamis. Yang namanya dinamis ya seperti kedekatan militer kita dengan AS. Bukan berarti kita berada dalam pengaruh AS. Boleh saja orang menganggap AS dan Australia sekutu de facto Indonesia karena sejauh ini militer Indonesia banyak berinteraksi dengan AS dan Australia. Kita menyebutnya lebih pas, teman tapi mesra. Kerjasama pertahanan dengan AS dalam MDCP dan dengan Australia dalam Jakarta Treaty secara de jure adalah kemitraan strategis, bukan aliansi militer. Jadi AS dan Australia bukan sekutu Indonesia. Meski secara de facto militer kita dekat dan sering berinteraksi dengan keduanya.

Dinamika geopolitik dan perkuatan militer Indonesia saat ini adalah keniscayaan yang ada di depan mata. Optimum Essential Force dengan extra ordinary seperti sebuah strategi membeli waktu, berlomba dengan dinamika geopolitik. Maka perjuangan kita adalah secepatnya bisa menghadirkan berbagai jenis alutsista untuk memastikan ketersediaannya  yang setara dengan luas wilayah. Politik luar negeri Indonesia yang ingin bersahabat dengan semua negara bagaimanapun harus diperkuat dengan diplomasi pertahanan dan alutsista yang gahar. China adalah sahabat kita. Juga dengan AS dan Australia. Meski secara de facto militer kita lebih dekat dengan Bani Anglo Saxon ini, bukan berarti kita punya "akad nikah" aliansi militer. Sebatas teman tapi mesra lah. Sebatas teman main, gitu loh Pakde Mao.

****

Jagarin Pane / 22 April 2026


Tuesday, March 31, 2026

Mengapa Morotai

Ada berita menarik ketika Menteri Pertahanan merangkap Wakil PM Australia Richard Marles berkunjung ke Jakarta  tanggal 12 Maret 2026 yang lalu. Bahwa Indonesia dan Australia akan mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Ini kunjungan Marles yang kedua setelah kunjungannya yang pertama 5 Juni 2025 untuk maksud yang sama. Bedanya dengan kunjungan yang pertama, kunjungan kali ini membawa payung Jakarta Treaty yang baru ditandatangani Februari 2026 yang lalu. Traktat Jakarta adalah perjanjian kerjasama pertahanan kedua negara tetapi bukan aliansi militer.

Morotai yang sekarang menjadi nama Kabupaten di Provinsi Maluku Utara adalah nama legendaris pada masa Perang Dunia II di Indo Pasifik. Morotai adalah pangkalan aju strategis dan simbol estafet kemenangan pertempuran. Baik ketika dikuasai Jepang tahun 1942 maupun ketika dikuasai Sekutu tahun 1944. Operasi Trade Wind merupakan estafet penting dalam pertempuran di Morotai. Sejarah mencatat pasukan Jenderal Douglas Mac Arthur berhasil memukul mundur tentara Dai Nippon dari Morotai 15 September 1944. Kemudian membangun 6 landasan pacu sebagai persiapan menyerang Filipina dan Jepang. 

Sisa-sisa peninggalan infrastruktur PD II di Morotai masih jelas terlihat sebagai situs sejarah hiruk pikuk pangkalan angkatan udara. Masih berserak sisa puing pesawat, tank, amunisi, hanggar dan landas pacu. Dari delapan landasan pacu, landasan pitu (tujuh) dimanfaatkan menjadi Bandara Leo Wattimena  di provinsinya Ibu Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos yang cantik, lincah dan gesit. Yang lebih fenomenal adalah ditemukannya tentara Jepang Teruo Nakamura pada tahun 1974. Serdadu Hirohito ini mampu bertahan hidup selama 30 tahun di hutan Morotai. Luar biasa.

Sepenting apakah kemudian pengembangan pusat latihan militer Morotai bagi Indonesia. Bukankah sudah ada Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel, Puslatpur Marinir di Situbondo Jatim. Ada Puslatpur di Sangatta Kaltim, Dabo Singkep di Kepulauan Riau dan lain-lain. Berbagai lokasi AWR (Air Weapon Range) juga tersebar di sejumlah  daerah. Seperti di Pandanwangi AWR Lumajang, Buding AWR Belitung Timur, Astra Kestra AWR Lampung, Takalar AWR Sulawesi Selatan, Haluoleo AWR Sulawesi Tenggara. Bukankah Morotai ada di periferi teritori Indonesia, di tepi samudra biru nan luas Pasifik. Dalam perspektif kita Morotai bukanlah lokasi strategis yang ideal dalam stimulus strategi pertahanan Indonesia.

Dalam Traktat Jakarta yang baru ditandatangani, Australia dan Indonesia bersepakat untuk menguatkan kerjasama strategis dalam bidang pertahanan dan keamanan. Tapi ini bukan persekutuan militer sebagaimana Pukpuk Treaty antara Australia dan Papua Nugini yang ditandatangani tahun lalu. Pukpuk Treaty berbunyi jika Papua Nugini diserang negara lain maka  Australia wajib membela. Traktat Jakarta hanya sebatas konsultasi, saling menjaga martabat bertetangga. Salah satu manfaatnya Australia harus bisa memahami dinamika pertahanan dan keamanan tetangga besarnya ini. Termasuk tidak mencampuri urusan keamanan dalam negeri masing-masing negara. Ujian sebenarnya dari traktat ini adalah dinamika geopolitik kawasan yang menjurus pada iklim "ngeri-ngeri sedap". Dan kesetiaan Australia terhadap isi perjanjian.

Dalam ruang horizon dan dinamika geopolitik Indo Pasifik, Australia memandang posisi Morotai sebagai lokasi historis strategis. Morotai adalah jarak udara terdekat dari Darwin sebelum menuju Clark Air Force Base(AFB) Filipina. Clark AFB dan Subic Navy Base adalah pangkalan militer AS di Filipina yang legendaris selama Perang Vietnam. Sangat dimungkinkan Morotai AFB akan berperan dalam skenario dan ikhtiar antisipasi. Ketika cuaca ekstrim permusuhan militer bergejolak menjadi pertempuran skala besar di Laut China Selatan (LCS) dan Laut China Timur (LCT). 

Latihan gabungan Super Garuda Shield beberapa tahun lalu yang diikuti limaribuan pasukan Indonesia, AS, Australia, Jepang dan lain-lain, ada simulasi pergerakan pasukan lintas udara. Satu kompi pasukan Kostrad TNI AD bersama pasukan US Army dideploy dengan pesawat angkut raksasa globe master US Air Force. Berangkat dari Andersen AFB di Guam Pasifik  menuju titik penerjunan di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Durasi perjalan selama lima jam jika ditarik garis lurus pertengahannya adalah Morotai. Padahal simulasi semua serial Super Garuda Shield adalah untuk menghadapi common enemy. Artinya baik dari Guam dan Darwin, Morotai merupakan titik strategis yang efektif dan cepat dalam skenario counter attack untuk LCS dan LCT.

Meski pusat latihan tempur berskala internasional ini nantinya seratus persen dikelola Indonesia, bisa saja dengan persetujuan Indonesia berdasarkan Traktat Jakarta, Morotai "dipinjam" Australia untuk digunakan bersama AS menjadi pangkalan aju dalam menghadapi musuh antagonisnya. Disinilah percaturan geopolitik itu berperan. Dinamikanya bisa mengubah mata angin "keberpihakan" manakala kepentingan nasional kita diganggu. Soal ZEE Natuna misalnya. Nine dash line yang disebut lidah naga adalah klaim pengakuan sepihak China. Dan ini berlawanan dengan cara pandang Australia dan empat negara ASEAN lainnya Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunai.

Sebagai pusat latihan militer internasional, mengembangkan Morotai adalah bagian dari diplomasi militer Indonesia dan Australia. Sementara kita juga sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer untuk mencapai kekuatan yang optimum berkorelasi dengan luasnya teritori negeri ini. Pengembangan armada tempur TNI AL yang akan dikembangkan menjadi 5 armada, salah satunya tentu akan mengawal Morotai dan teritori perairan disekitarnya. Sorong di Papua Barat yang menjadi markas Komando Armada Tiga TNI AL dekat dengan Morotai. Dan diniscayakan menjadi payung perlindungan laut Morotai. Termasuk penempatan skadron tempur baru, bisa dialokasikan di Biak Papua  yang sudah punya skadron angkut TNI AU.

Indonesia bersahabat dengan negara manapun dan tidak terikat dengan aliansi militer. Dengan China kita mengedepankan prinsip kerjasama pengembangan sumber daya energi fosil di perairan Natuna. Juga dengan Malaysia di perairan Ambalat. Namun dalam ikhtiar antisipasi dinamika geopolitik yang mudah terguncang turbulensi seperti saat ini di Timur Tengah, kita harus mempersiapkan skenario ikhtiar kontigensi. Program besar utamanya dan extra ordinary adalah memperkuat pertahanan dengan berbagai jenis alutsista canggih. Dalam sistem manajemen pertempuran modern interoperability network centric warfare. 

Bersamaan dengan itu, memperkuat kerjasama pertahanan dengan tetangga, Australia contohnya. Pengembangan Morotai AFB sebagai pusat latihan militer internasional adalah bagian dari diplomasi pertahanan kedua negara. Tidak sulitkan merubah fungsi pusat latihan militer internasional menjadi pangkalan militer dalam situasi kontigensi menghadapi lawan yang sama. Karena infrastrukturnya sudah tersedia. Diplomasi pertahanan adalah bagian dari kecerdasan cara memperlihatkan tanpa harus mengatakan.  Meskipun begitu, kita juga harus tetap berhati-hati dan waspada dengan cara bertetangga jiran selatan berwajah Eropa ini. Sudah pahamlah maksudnya. Dan sudah pahamkan mengapa Morotai.

*****

Jagarin Pane / 31 Maret 2026


Thursday, March 19, 2026

Membangun Kemampuan ADS Dan Air Strike

Presiden ke 6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini menyampaikan pesan kuat agar manajemen pertahanan Indonesia mampu beradaptasi dengan doktrin based on kekuatan teknologi terkini. Doktrin pertahanan konvensional "masuk dulu baru digebuk" harus diganti dengan doktrin pre emptive strike yaitu "berani masuk digebuk". Teknisnya Indonesia harus memiliki kemampuan Air Defence System (ADS) dan Air Strike dengan aset alutsista strategis. Infrastruktur tempurnya adalah rudal, radar, satelit, pesawat deteksi dini, drone, jet tempur dan kapal perang. Seluruhnya berada dalam Combat Management System (CMS) yang terintegrasi dengan Network Centric Warfare (NCW).

Dalam program extra ordinary Kementerian Pertahanan yang dikenal dengan Optimum Essential Force (OEF), manajemen pertahanan Indonesia saat ini sedang bertransformasi menuju kekuatan pertahanan yang sepadan dengan luasnya wilayah teritori. Angkatan Laut dan Angkatan Udara mendapat prioritas perkuatan karena posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang khas negara kepulauan terbesar. Khusus untuk ADS, Indonesia sedang membangun sistem pertahanan udara (Hanud) berlapis. Seiring dengan itu juga membangun kemampuan Air Strike dan Air Superiority. Indonesia memang harus membangun doktrin pertahanan udara secara berlapis dan terintegrasi.

Lapisan terluar ADS dan Air Strike adalah unjuk kinerja kekuatan sejumlah jet tempur TNI AU yang sudah dan akan dimiliki. Saat ini ada 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 19 jet tempur T5O,  24 jet tempur Hawk dan 13 pesawat counter insurgency Super Tucano. Kedepan kita akan banyak kedatangan jet tempur canggih seperti 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KF21, 48 jet tempur KAAN, 8 jet tempur Sukhoi SU35. Bahkan Rafale akan ditambah 18 unit lagi untuk menjadi kekuatan 4 skadron tempur. Aset jet tempur beraneka ragam ini bagian dari penguasaan Air Superiority untuk negeri kepulauan yang luas ini.

Lapisan kedua ADS adalah dengan pemesanan 2 baterai HQ-9 buatan China. Sistem peluru kendali HQ-9, adalah alutsista pencegat jarak jauh dengan jangkauan tembak hingga 260 km. Kemampuannya adalah mencegat jet tempur lawan dan atau rudal balistik sebelum menyentuh teritori Indonesia. "Menjemput musuh" yang melakukan pre emptive strike di luar perbatasan negeri. Prediksi kedatangannya pada semester II tahun 2027. Sistem peluncuran rudal HQ-9 ini setara dengan rudal S300 dari Rusia dan  rudal Patriot dari AS. Kota-kota besar Indonesia seperti Ibukota Nusantara, Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar layak mendapat perlindungan minimal 1 baterai HQ-9.

Lapis ADS berikutnya dalam pertahanan udara area adalah ADS-400 Trisula, kolaborasi teknologi Excalibur Ceko dan Roketsan Turkiye. Jangkauan tembaknya 100 km dengan radar presisi tinggi. ADS-400 mampu membegal target-target lincah seperti jet tempur, rudal jelajah dan drone, jika lolos dari lapis  terluar ADS. Prediksi kedatangan alutsista canggih ini awal tahun 2027. Khusus alutsista buatan Turkiye sudah banyak yang datang seperti rudal balistik KHAN, rudal anti kapal Atmaca, drone Bayraktar, drone Anka. Dua kapal perang frigate "Istambul Class" sedang dipersiapkan pengirimannya ke Indonesia.

Berikutnya ada sistem Hanud area jarak menengah yaitu rudal surface to air Buk Mb2K dari Belarusia. Nah kalau yang ini tidak usah lagi diragukan, bersama keluarga Buk yang dari Rusia sudah battle proven di perang Rusia-Ukraina. Buk Mb2K mampu mengatasi ancaman drone, helikopter, pesawat dan rudal musuh. Meski belum dipastikan kedatangannya, Buk Mb2K menjadi bagian dari kesisteman ADS. Sekilas info, jet tempur Sukhoi, helikopter Mi17 dan Mi35 kita rutin dikirim ke Belarusia untuk perawatan berat dan pergantian suku cadang.

Lapis terdalam dan terdekat adalah infrastruktur peluru kendali NASAMS II buatan Norwegia. Alutsista ini sebanyak 2 baterai sudah operasional beberapa tahun lalu untuk melindungi Jakarta. Sistem ini mampu melindungi objek-objek vital dan pusat komando. Didukung sistem teknologi radar digital, NASAMS memastikan perlindungan area dengan akurasi terbaik. Dalam pertempuran Rusia-Ukraina NASAMS menunjukkan kinerja battle proven. Mampu mencegat banyak rudal dan drone Rusia dengan akurasi cemerlang.

Yang terakhir adalah pertahanan udara titik sebagai pertahanan lapis bawah ADS. Beberapa diantaranya berupa peluru kendali yang bisa dipanggul. Kopasgat TNI AU punya ratusan rudal panggul QW3 buatan China untuk mobilitas pertahanan pangkalan AU. Beberapa Air Force Base (AFB) Indonesia saat ini sudah memiliki sedikitnya 6 baterai alutsista perlindungan udara canggih Oerlikon Skyshield buatan Rheinmetall Jerman-Swiss. Alutsista ini berada dalam pengelolaan batalyon Kopasgat TNI AU, sekaligus aset strategis TNI AU. 

Alokasi Oerlikon Skyshield untuk Halim AFB Jakarta, Iswahyudi AFB Madiun, Roesmin Nuryadin AFB Pekanbaru, Supadio AFB Pontianak dan Hasanudin AFB Makassar. Natuna juga sudah mendapatkan Oerlikon Skyshield untuk Raden Sajad AFB. Bersama alutsista artileri Caesar Nexter, MLRS Astros II Mk6, MLRS Vampire, Tank Leopard berada dalam satu Brigade Komposit Gardapati Natuna. Sangat dimungkinkan jika Coastal Missile Brahmos buatan India sudah datang akan memperkuat benteng pertahanan Natuna.

Sementara itu seluruh Batalyon Arhanud TNI AD sudah memiliki ratusan sistem peluru kendali darat ke udara jarak pendek Starstreak buatan Inggris dan Mistral buatan Perancis. Inilah lapisan terakhir ADS. Yang menarik batalyon Arhanud kita masih setia dengan ratusan alutsista legendaris meriam anti serangan udara S60 buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia) yang usia dharma baktinya sudah 70 tahun. Kalau dijejer di parade kakek dan cucu jalan bareng neh, si Mbah analog S60 dengan cucu digitalnya Starstreak atau Mistral. Meskipun begitu kemampuan S60 masih prima. Rusia juga masih menggunakan alutsista gaek ini dalam perang melawan Ukraina.

Indonesia sedang bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Salah satu strateginya adalah diversifikasi aset alutsista. Menghadirkan Coastal Missile di selat strategis dan ALKI. Memperbanyak armada kapal perang dan kapal selam mini tanpa awak. Menyebar Rudal Balistik di beberapa titik strategis tanah air. Khusus untuk ADS membangun kekuatan pertahanan udara secara berlapis di kota besar dan obyek vital. Semua upaya extra ordinary ini baru terlihat ready by system tahun 2030. Manajemen pertempuran interoperability saat ini dan kedepan bertumpu pada kemampuan Air Strike dan Air Defence System. Dan TNI sesuai Tupoksinya harus mampu melindungi seluruh teritori negeri dengan Network Centric Warfare.

****

Jagarin Pane /19 Maret 2026


Saturday, March 7, 2026

Siaga Satu, Masih Mempersiapkan

Manajemen pertempuran saat ini dan seterusnya adalah Network Centric Warfare (NCW). Alutsista strategis yang wajib tersedia untuk pre emptive strike adalah adalah jet tempur, drone, radar GCI, pesawat AEW&C, rudal balistik, rudal arhanud, heavy frigate, kapal selam.

Indonesia sejauh ini sudah dan sedang mempersiapkan interoperability antar matra TNI. Software NCW sudah ada, buatan Sqytalys Yunani. Pengadaan 48 jet tempur Rafale, 48 jet tempur KF21 dan 48 jet tempur KAAN akan menambah daya pukul air superiority TNI AU. Termasuk penambahan 25 radar GCI.

Investasi pertahanan ini akan melengkapi aset pertahanan TNI AU yang sudah ada saat ini yaitu 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 16 jet tempur T50 dan 24 jet tempur Hawk. Alutsista drone sudah mengisi aset TNI AU seperti Aerostar, CH4 Wing Long, Anka.  Semuanya ditempatkan di Skadron UAV Natuna dan Pontianak.

Sejumlah radar GCI sudah diinstal di beberapa titik seperti Bengkulu, Sumba, Takalar, Banjar Baru. Jika sudah rampung penambahannya, wilayah udara tanah air akan dicover 40 radar GCI. No blank spot. Hanya yang belum tersedia adalah pesawat AEW&C.

TNI AL sudah banyak menambah KRI berbagai jenis. Sebagian besar produk dalam negeri. Ada penambahan enampuluhan KRI selama program MEF. Saat ini yang terbaru adalah KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321 buatan Italia. Heavy frigate terbesar di ASEAN.

PT PAL saat ini sedang membangun 4 KRI heavy frigate "Merah Putih". Satu sudah diresmikan bernama KRI Balaputradewa 322. PT PAL bersama galangan kapal swasta nasional baru saja menyelesaikan modernisasi 41 KRI berbagai jenis. Semuanya dalam satu combat management system interoperability. Saat ini TNI AL memiliki aset 180 KRI, 4 kapal selam dan 110 KAL.

PT PAL juga sedang mempersiapkan pembangunan transfer teknologi 2 kapal selam Scorpene bersama Perancis. PT PAL baru saja meluncurkan purwa rupa kapal selam mini nir awak (KSOT). Tahun ini mulai produksi 30 unit sesuai pesanan Kemenhan. Sementara dari Italia sedang proses untuk mendapatkan 6 kapal selam midget.

Dengan Turkiye kita sudah kontrak efektif untuk mendapatkan 2 kapal perang full combat Istif Class. Berbagai alutsista dari Turkiye sudah datang seperti rudal balistik KHAN yang ditempatkan di IKN dan titik strategis lain. Rudal anti kapal Atmaca sudah mulai berdatangan untuk 24 KRI striking force. 

Drone Bayraktar dari Turkiye sebanyak 60 unit nantinya akan menjadi alutsista andalan untuk kapal induk Italia Giuseppe Giribaldi yang dihibahkan ke Indonesia. Namanya menjadi KRI Gajahmada. Coastal Missile sedang proses pengadaan. Nantinya akan ditempatkan di selat strategis dan Natuna.

Kita harus Siaga Satu saat ini. Pada saat yang sama kita sedang mempersiapkan inftrastruktur pertahanan yang kuat untuk negeri seluas Eropa ini. Termasuk penambahan 500 batalyon TNI AD dan kemampuan Cyber Warfare. Persiapan kita sebenarnya untuk tahun 2030 ready for use. Dan sekarang sudah harus Siaga Satu. Begitulah turbulensi dinamika geopolitik dunia saat ini.

****

Jagarin Pane / 7 Maret 2026