Dinamika geopolitik dan geostrategis Indonesia bersama kawasan sekitarnya menarik untuk dicermati. Perang antara AS, Israel dengan Iran memberikan beberapa pelajaran penting. Antara lain teknologi rudal dan drone Iran yang luar biasa menghancurkan. Daya tahan Iran, kesalahan strategi pertempuran AS Israel, penguasaan jalur vital terkait dengan jalur logistik, energi dan militer. Khusus yang terakhir ini belakangan menjadi perhatian kita bersama terkait dua hal, bagaimana kemudian kita harus mampu mengelola geopolitik dan geostrategis kita. Seperti rayuan Australia untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Dan yang paling viral adalah dan keinginan AS untuk bebas melintas di ruang udara Indonesia.
Indonesia memiliki teritori yang luas dan kaya sumber daya alam. Lebih dari itu posisi teritorinya lengkap "dengan baretnya" tanah dan air berada dalam posisi yang strategis. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur lintas strategis dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya. ALKI Satu dengan jalur Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata dan Selat Singapura adalah jalur laut untuk logistik, energi dan militer yang sangat ramai lalulintasnya. Sementara ALKI Dua dengan jalur Selat Lombok dan Selat Makassar, juga menjadi jalur laut penting utamanya untuk kapal perang dan kapal selam karena ini perairan dalam. ALKI Tiga melalui perairan Maluku menjadi lintasan Australia ke Pasifik Barat dan sebaliknya.
Begitu strategisnya posisi teritori negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Klaim nine dash line China membuat kawasan Laut China Selatan (LCS) demam berkepanjangan. Klaim ini sepertinya ingin mengingatkan kita betapa pentingnya membangun kekuatan angkatan laut dan udara yang berkelas. Presiden SBY sudah memulai program strategis Minimum Essential Force (MEF) jilid I, Presiden Jokowi melanjutkan MEF II dan III. Dan Presiden Prabowo mempercepat dengan program extra ordinary bernama Optimum Essential Force (OEF). Istimewanya sejak Prabowo jadi Menhan program strategis memperkuat militer Indonesia berjalan cepat dan extra ordinary. Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Berbagai jenis alutsista strategis sudah, sedang dan akan datang, terus berdatangan menjadi aset investasi pertahanan bangsa.
Pada saat yang bersamaan saat ini kita bisa melihat berbagai konflik dan pertempuran yang terjadi di berbagai kawasan. Perang Rusia-Ukraina, penghancuran Gaza oleh Israel, perang India-Pakistan, perang Thailand-Kamboja, operasi militer penculikan presiden Venezuela dan perang keroyokan AS Israel melawan Iran. Dengan kondisi geopoltik yang mudah bergolak dan turbulensi ini maka dalam perspektif kita perkuatan militer Indonesia secara extra ordinary adalah langkah strategis terbaik. Semuanya untuk mengantisipasi dinamika dan goncangan geopolitik yang mudah "naik darah". Mudah angkat senjata seperti yang sudah dicontohkan presiden cowboy negara adidaya. PBB sepertinya mati suri. Yang berlaku saat ini hukum rimba, siapa yang kuat dia yang petintang petinting.
Harus diakui pada kenyataannya Indonesia dan AS lebih sering "jalan bareng" untuk mengadakan berbagai kurikulum latihan militer gabungan. Yang terbesar adalah Latgab Super Garuda Shield yang melibatkan ribuan pasukan kedua negara. Garuda Shield awalnya hanya latihan militer ala kadarnya sejak tahun 2006. Dan setiap tahun dilakukan. Namun lima tahun terakhir kapasitas dan kualitas latihan gabungan ini meningkat drastis dan diikuti belasan negara lain di Indo Pasifik kecuali China dan Rusia. Lokasi latihannya pun ada di beberapa lokasi di Indonesia. Serial latgab Super Garuda Shield mencakup kurikulum matra udara, laut dan darat secara interoperability. Ini merupakan latgab multi nasional terbesar di Indonesia dan salah satu latgab terbesar di Indo Pasifik.
Selain Super Garuda Shield, US Marines juga melaksanakan latgab Carat (Cooperation Afloat Readiness And Training) tahunan dengan Marinir Indonesia. Dengan Kopasgat TNI AU, US Air Force rutin melakukan latihan tempur. Personil TNI seluruh matra juga banyak dikirim ke pusat latihan militer di AS. Termasuk untuk intelijen dan siber. Kedekatan militer Indonesia dan AS juga tidak terlepas dari hubungan personal dan institusional karena banyak perwira TNI mengikuti sekolah dan menjadi alumni kampus militer bergengsi di AS. Semua aktivitas latihan militer bersama AS ini mencerminkan kedekatan hubungan militer secara struktural dan prosedural.
Dengan Australia TNI rutin berpartisipasi di Kakadu Exercise untuk matra laut dan Pitch Black untuk matra udara. Kedua latihan militer multi nasional yang diselenggarakan Australia ini adalah latgab skala besar. Merupakan cara Australia untuk ikut membangun kebersamaan di kawasan Indo Pasifik. Sementara seri terbaru latgab terbesar Indonesia Australia adalah latgab Keris Woomera di Situbondo Jawa Timur yang dimulai November 2024. Kedua negara mengerahkan ribuan prajurit dan alutsista. Australia mengerahkan MBT Abrams, Indonesia mengerahkan MBT Leopard. Sejumlah kapal perang dan tank amfibi kedua negara meramaikan pantai Situbondo, termasuk jet tempur F16 TNI AU.
Postur kekuatan militer Indonesia yang berkembang pesat saat ini menjadi perhatian kawasan khususnya Australia dan AS. Australia tidak bisa lagi mendikte dan meremehkan Indonesia. Bisa kita lihat pola diplomasi negeri kanguru saat ini. Lebih proaktif merapat ke tetangga besarnya untuk kerjasama pertahanan. Strategi pertahanan Australia tahun 2026 menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis, penting dan abadi. Tumben abadi. Bahkan belakangan ini Canberra merayu Jakarta agar mendapat akses ke Morotai. Argumen yang digunakan adalah untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer skala internasional. Namanya juga diplomasi pertahanan, kita pun paham arahnya.
AS yang punya kedekatan hubungan militer dengan Indonesia kemudian mengajukan permintaan izin lintas udara (blanket overflight clearance) untuk seluruh pesawat militernya. Dalam pandangan AS posisi teritori Indonesia yang luas ini adalah akses strategis untuk bisa leluasa keluar masuk dari dan ke LCS dan LCT (Laut China Timur). Benang merahnya bertemu dengan keinginan Australia untuk mendapat akses ke Morotai sebagaimana artikel kita beberapa minggu lalu. Dalam skenario pertempuran yang sudah terbukti secara historis, Morotai bisa menjadi pangkalan aju yang vital untuk AS dan Australia jika terjadi pertempuran besar dengan China.
Menhan Indonesia dan AS baru saja menandatangani perjanjian aliansi strategis MDCP (Major Defense Cooperation Partnership) tanggal 13 April 2026 di Washington. Khusus untuk permintaan izin bebas lintas udara ini belum mendapat persetujuan Indonesia. Kemlu kita sudah bersurat ke Kemhan agar berkoordinasi lebih dulu sebelum melangkah lebih jauh. Karena ini bisa mempengaruhi stabilitas kawasan. Jubir Kemlu Yvonne Mawengkang menegaskan bahwa kedaulatan nasional adalah dasar dari semua kesepakatan. Jangan lupa baru saja berlaku UU No21/2025 tanggal 25 Nopember 2025 tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional (PRUN). Seperti kita ketahui Kemlu China bereaksi tajam dan mengingatkan Indonesia agar dalam perjanjian kemitraan dengan negara lain tidak merugikan pihak lain. Ini sesuai dengan Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan Asia Tenggara.
Kita mengapresiasi langkah Kemlu yang cepat, tepat, senyap untuk mengingatkan. Karena bagaimanapun politik luar negeri kita berbasis non blok dan bebas aktif dinamis. Yang namanya dinamis ya seperti kedekatan militer kita dengan AS. Bukan berarti kita berada dalam pengaruh AS. Boleh saja orang menganggap AS dan Australia sekutu de facto Indonesia karena sejauh ini militer Indonesia banyak berinteraksi dengan AS dan Australia. Kita menyebutnya lebih pas, teman tapi mesra. Kerjasama pertahanan dengan AS dalam MDCP dan dengan Australia dalam Jakarta Treaty secara de jure adalah kemitraan strategis, bukan aliansi militer. Jadi AS dan Australia bukan sekutu Indonesia. Meski secara de facto militer kita dekat dan sering berinteraksi dengan keduanya.
Dinamika geopolitik dan perkuatan militer Indonesia saat ini adalah keniscayaan yang ada di depan mata. Optimum Essential Force dengan extra ordinary seperti sebuah strategi membeli waktu, berlomba dengan dinamika geopolitik. Maka perjuangan kita adalah secepatnya bisa menghadirkan berbagai jenis alutsista untuk memastikan ketersediaannya yang setara dengan luas wilayah. Politik luar negeri Indonesia yang ingin bersahabat dengan semua negara bagaimanapun harus diperkuat dengan diplomasi pertahanan dan alutsista yang gahar. China adalah sahabat kita. Juga dengan AS dan Australia. Meski secara de facto militer kita lebih dekat dengan Bani Anglo Saxon ini, bukan berarti kita punya "akad nikah" aliansi militer. Sebatas teman tapi mesra lah. Sebatas teman main, gitu loh Pakde Mao.
****
Jagarin Pane / 22 April 2026