Wednesday, October 28, 2026

Membaca Kegelisahan Little Red Dot

Hari-hari ini kita menyaksikan bombardir informasi soal IHSG dan Karhutla yang meluas menjadi Cognitive War antara Indonesia dan Singapura. Secara kronologis, dalam perspektif Indonesia, Singapura sepertinya merasa gelisah dengan rencana akbar ekspor satu pintu Indonesia. Melalui Danantara seluruh komoditi ekspor sumber daya alam (SDA) negeri ini akan dikonsolidasikan mulai tahun 2027. Selama ini negeri mungil itu menjadi "pusat pengepul" terhadap komoditi ekspor SDA Indonesia dan kondisi status quo ini yang kemudian hendak direformasi oleh Presiden Prabowo. Tim intelijen ekonomi Presiden sudah jauh-jauh hari menganalisis soal transfer pricing, under invoicing yang secara akumulasi merugikan Indonesia milyaran dollar.

Apa yang kemudian membuat Presiden Prabowo murka adalah karena disinyalir Korporasi Singapura Temasek dan GIC melakukan counter attack, intervensi geopolitik melalui tekanan kepada MSCI. Temasek dan GIC mempunyai pengaruh di lembaga pemeringkat rating bursa saham MSCI (Morgan Stanley Capital International). Berada dibelakang ancaman MSCI untuk menurunkan rating IDX. Tidak tanggung-tanggung langsung 2 tingkat dari Emerging Market menjadi Stand Alone Market. Singapura memakai invicible hand untuk menghantam IDX. Jelas ini merupakan bantingan yang sangat menyakitkan dari jiran yang merasa masa depan kesejahteraannya terancam. Dan ini bukan yang pertama. Karena sebelum ini juga ada upaya MSCI untuk menghancurkan IDX dan Kurs padahal fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Dalam catatan kita, perjalanan bertetangga dengan negeri mungil yang sejahtera ini mirip ungkapan "lain di bibir lain di hati". Singapura karena banyak berinvestasi di Indonesia lalu merasa kastanya lebih tinggi alias sombong. Pada sisi yang lain ada kesan Singapura selalu merasa khawatir akan eksistensinya. Dan berusaha mendikte tetangga besarnya. Misalnya ketika Indonesia akan menempatkan 2 skadron jet tempur Hawk di Pekanbaru dan Pontianak yang baru dibeli dari Inggris tahun 1995, Singapura merasa khawatir, terancam dan terkepung. Padahal saat itu negara kota ini sudah punya perangkat pertahanan yang kuat dengan puluhan jet tempur F16, F15 dan kapal perang modern.

Kesan ingin mendikte juga terlihat ketika Indonesia membeli 3 kapal perang fregat dari Inggris tahun 2014. salah satu nama dari 3 kapal perang "Bung Tomo Class" ini diberi nama KRI Usman Harun 359. Singapura merasa keberatan dengan penamaannya untuk KRI striking force Indonesia. Bahkan secara terang benderang Menteri Pertahanan Singapura melarang KRI Usman Harun 359 masuk perairan Singapura. Begitu emosionalnya perilaku diplomatik jiran sebelah Batam ini, hanya untuk penamaan kapal perang. Singapura berpandangan bahwa Serda Usman dan Kopral Harun, 2 prajurit KKO Indonesia waktu itu (sekarang marinir) adalah teroris. 

Kaget juga kita mendengar argumen paranoid itu. Artinya Singapura tidak mampu move on dan tidak paham soal persepsi dan perspektif sejarah kebangsaan masing-masing negara. Padahal dalam era konfrontasi Dwikora 1964-1966, sabotase yang dilakukan 2 prajurit KKO itu adalah bagian dari perintah komando pertempuran atas nama "Ganyang Malaysia" oleh Bung Karno. Sejarah mencatat tentang sabotase dan peledakan McDonald  House di Orchard Road tanggal 10 Maret 1965 menewaskan 3 orang dan melukai 33 orang lainnya. Sabotase ini menggemparkan Singapura.

Kita ketahui bersama Singapura saat ini memiliki kekuatan militer berkarakter pre emptive strike. Memiliki kemampuan serang jarak jauh dengan dukungan jet tempur F15, F16 dan F35 yang jumlahnya mencapai seratusan. Termasuk kapal perang frigat dan kapal selam canggih U218 buatan Jerman. Wajar saja karena negeri ini secara geopolitik berada di dua kekuatan demografi besar yang menghimpit wilayahnya, Malaysia dan Indonesia dengan pengalaman sejarahnya. Negara yang sudah sejahtera wajar dan pantas memiliki kekuatan militer tangguh untuk menjamin eksistensinya. 

Meski mempunyai kekuatan militer yang canggih, Singapura bukan menjadi ancaman bagi Indonesia. Karena dalam perspektif intelijen militer kita,  Singapura hanya sebuah little red dot. Sebuah hamparan kecil yang lebih mudah ditaklukkan jika terjadi konflik militer. Istilah little red dot diperkenalkan oleh Presiden Habibie yang menyebut kecilnya Singapura seperti noktah merah di peta geopolitik kawasan. Sebagai negara jasa sebenarnya sangat mudah membuat negeri itu panik tanpa harus menembakkan peluru. Pakai pola asimetris saja.

Ketika saat ini Indonesia sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer melalui Optimum Essential Force, bisa dipastikan Singapura akan berhitung ulang menata manajemen pertahanannya. Benchmark perang Rusia-Ukraina dan AS, Israel - Iran membuktikan bahwa teknologi rudal balistik dan drone adalah alutsista strategis yang mampu meluluhlantakkan ADS (Air Defence System ) Israel dan Pangkalan militer AS. Meski Singapura memiliki ADS yang kuat, tidak menjamin negeri itu bisa bertahan manakala ada serangan ribuan drone dan ratusan rudal balistik. Titik lemahnya adalah karena dia Little Red Dot. Ini juga salah satu kegelisahan Singapura melihat pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia yang massif dan extra ordinary.

Saat ini Indonesia sedang berupaya menguatkan fondasi ekonomi dan pertahanannya. Beberapa fondasi ekonomi telah menunjukkan hasil gemilang seperti swa sembada pangan, hilirisasi produk SDA. Mulai tahun depan Indonesia akan menerapkan kebijakan ekspor SDA satu pintu melalui Danantara. Perubahan kebijakan ekspor Indonesia ini yang kemudian menggelisahkan Singapura karena negeri itu tidak lagi menjadi pusat pengepul SDA Indonesia. Dalam pola intelijen ekonomi dimana pun sebelum semua rencana perubahan besar itu terlaksana harus ada perlawanan total football untuk mempertahankan status quo sekaligus memporakporandakannya rencana besarnya.

Kita lihat sekarang bagaimana salah tingkahnya Singapura setelah semua skenario untuk membombardir ketahanan ekonomi Indonesia tidak sesuai harapan. Bahkan Indonesia melakukan serangan ekonomi balasan melalui pengurangan pengiriman bahan bakar gas alam. Selasa 27 Oktober 2026 ini Menlu Singapura bekunjung ke Indonesia bertemu dengan rekan diplomatiknya untuk mendinginkan kemarahan Jakarta. Dalam sudut pandang kita Singapura harus tahu diri dan perlu penyesuaian dalam dinamika hubungan bertetangga. Singapura sangat perlu Indonesia sebagai tetangga besarnya yang memiliki populasi 280 juta penduduk, kekuatan ekonominya terbesar di ASEAN, luas wilayah sebesar Eropa, punya SDA melimpah dan sebagian besar rakyatnya memiliki jiwa nasionalis patriotik. 

Kekuatan ekonomi Indonesia yang tergambar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nomor satu di ASEAN, ranking 17 besar dunia sehingga masuk anggota G20. Jauh diatas Singapura. Hanya saja jika PDB ini dibagi dengan jumlah penduduk, Indonesia kalah sejahtera dibanding Singapura. Kegelisahan Singapura sebenarnya bisa  disikapi dengan selalu mengedepankan negosiasi dengan Indonesia. Bukan dengan cara-cara tidak etis. Termasuk mengurangi ego superior karena merasa lebih sejahtera. Indonesia akan terus melangkah maju menguatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi serta memperkuat manajemen pertahanan. 

Kegelisahan jiran kita ini adalah gambaran tentang keberlanjutan dan eksistensi negaranya. Dinamika geopolitik kawasan bagaimanapun adalah mempersiapkan ketidakpastian dan turbulensi seperti konflik kawasan dan jaminan ketersediaan SDA. Persiapannya adalah membangun ketahanan ekonomi dan energi, swa sembada, hilirisasi. Sejalan dengan itu manajemen pertahanan juga harus dikembangkuatkan. Indonesia sedang berada di jalan ini. Soal tetangga gelisah itu urusan dia. Tapi kalau dia mengganggu apalagi berusaha mensabotase, kita perlu melakukan pembalasan terukur. Dan ini sudah kita lakukan. Dan akhirnya dia salah tingkah sendiri.

****

Jagarin Pane / 28 Oktober 2026


Sunday, October 4, 2026

Alutsista Surprise Untuk Marinir Indonesia

Tanpa banyak pemberitaan proses pengadaannya,  tiba-tiba saja 12 unit kendaraan tempur (ranpur) amfibi angkut pasukan AAV-M35 made in Paman Sam datang menjelang HUT TNI ke 81. Ini adalah kejutan alutsista tak terduga untuk Marinir Indonesia yang selama bertahun-tahun hanya menyaksikan kedatangan berbagai jenis alutsista untuk satuan tempur TNI lainnya. Bukan untuk pasukan hantu laut.

Sesuai kesepakatan dengan AS melalui program FMS (foreign military sales) G to G alias tidak pakai perantara, akan datang lagi 23 unit bulan November nanti. Berikutnya tahun 2027 dan 2028 akan datang masing-masing 35 unit sehingga jumlah seluruhnya mencapai 105 unit AAV-M35. Nah, surprisenya ada di jumlah pengadaan ranpur amfibi yang besar dan kecepatan proses kirim, selain sepi dari pemberitaan dan pengamatan.

Sebenarnya ranpur amfibi ini (Amphibious Assault Vehicle / AAV) sudah sering digunakan dalam latihan gabungan USMC (United State Marine Corps) dengan Kormar (Korps Marinir) Indonesia. Bersama "saudara tuanya" ranpur LVT-7 (Landing Vehicle Tracked) milik Kormar. Batalyon Kormar punya  belasan ranpur amfibi LVT-7 hibah dari Marinir Korsel sepuluh tahun lalu. Sebagai bonus pembelian 16 jet latih tempur T50 Korsel dan 3 kapal selam produk transfer teknologi "Nagapasa Class".

Ranpur amfibi roda rantai LVT-7 dan AAV-M35 sebenarnya satu pabrikan di AS. Hanya beda edisi. Yang jelas AAV-M35 lebih modern dari LVT-7. Harga per unit ranpur AAV-M35 ex USMC ini sebenarnya terhitung murah, tidak sampai  US $1 juta per unitnya. Kesepakatan G to G (government to government) ini tentu tidak terlepas dari kedekatan relasi antar pimpinan Korps Marinir kedua negara yang sudah berlangsung belasan tahun.

Jadi ingat lagu populer "persahabatan bagai kepompong", kira-kira begitulah analogi kedekatan Kormar dan USMC yang sudah berlangsung sejak lama. Setiap tahun prajurit USMC dan prajurit Kormar berlatih bersama di berbagai serial latihan tempur. Seperti CARAT (Cooperation Afloat Readiness And Training) di Puslatpur Marinir Situbondo Jawa Timur. Juga RIMPAC di Hawaii dan Super Garuda Shield di beberapa lokasi di Indonesia. Termasuk pengiriman prajurit Marinir berlatih di AS.

Kedekatan persahabatan inilah yang diniscayakan menjadi trigger perolehan ranpur amfibi AAV-M35 yang mau dipensiunkan USMC dalam jumlah besar dan harga diskon. Karena USMC mau mengganti ranpur roda rantai AAV dengan roda ban. Bagi Kormar penambahan 105 ranpur amfibi ini jelas akan meningkatkan kekuatan serbu pantainya. Sebagai kekuatan serbu yang menjunjung Jalesu Bhumyamca Jayamahe, Marinir Indonesia harus mempunyai daya pukul gahar dengan kombinasi alutsista mobile seperti tank amfibi, panser amfibi, roket multi laras, drone dan coastal missile.

Yang menarik tentu saja diversifikasi alutsista Kormar yang selama ini berkiblat ke Eropa Timur mulai mencair. Kormar punya kekuatan 3 divisi disebut  dengan istilah 3 Pasmar (Pasukan Marinir). Alutsista Pasmar dengan 40.000 pasukan meliputi berbagai jenis dengan jumlah terbesar dari Eropa Timur, sudah lansia namun dapat diretrofit kembali. Tercatat ada 90 unit tank amfibi PT76 dan 190 panser amfibi BTR 50 buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia). Yang relatif baru adalah 12 panser amfibi BTR 80A buatan Rusia yang sukses bertugas bertahun-tahun di UNIFIL Lebanon. Sampai dikira "bang thoyib sudah beberapa kali hari raya tidak pulang-pulang".

Pasmar juga punya 40 unit tank amfibi AMX10P buatan Perancis yang jarang ikut latihan, dan 22 tank BVP2 anti serangan udara dari Cekoslovakia. Yang terbaru adalah 54 unit tank amfibi BMP-3F buatan Rusia sebelum masuk 15 unit ranpur amfibi LVT-7 hibah dari Korsel. Alutsista roket multi laras yang dimiliki Pasmar adalah 9 unit RM70 Grad, 8 unit RM70 Vampire buatan Ceko dan 4 unit Norinco type 90B buatan China. Untuk artileri ada 20 unit meriam LG I Mk III kaliber 105 mm buatan Perancis. Catatan kita roket multi laras MLRS jumlahnya belum mencukupi untuk kebutuhan batalyon roket di 3 Pasmar.

Sebagai bagian dari kekuatan SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu) TNI AL, Pasmar sudah mengembangkan organisasinya menjadi 3 Divisi. Masing-masing mabesnya ada di Jakarta (Pasmar 1), Surabaya (Pasmar 2) dan Sorong (Pasmar 3). Dengan kedatangan ranpur AAV-M35 ini sebaran berbagai jenis alutsista Marinir diharapkan akan lebih proporsional. Misalnya belasan tank amfibi BMP-3F dan AAV-M35 bisa di alokasikan ke mabes Pasmar 3 di Sorong Papua. Isiannya bukan hanya tank lawas PT76 dan panser tua BTR 50.

Batalyon Marinir 10 di Batam juga perlu mendapatkan alokasi tank amfibi BMP-3F dan ranpur AAV-M35 dengan jumlah proporsional. Bukankah Batam berada di kawasan jalur perniagaan yang luar biasa sibuk. Pantas dong mendapat alokasi alutsista Marinir yang baru sebagai bagian dari penguatan perbatasan. Termasuk untuk parade HUT TNI sehingga dapat menjadi kebanggaan warga Batam. Juga lokasinya dekat dengan Dabo Singkep Kepulauan Riau yang sejak beberapa tahun terakhir sudah menjadi Puslatpur Marinir.

Sebagai pasukan hantu laut serbu pantai dan bagian dari SSAT, Marinir Indonesia bersama kekuatan TNI AL yang lain seperti KRI, kapal selam, Lantamal dan Penerbal menerapkan manajemen tempur terintegrasi. Dalam perkembangannya kemudian, teknologi pertempuran interoperability, penggunaan drone tempur menjadi kebutuhan mutlak. Termasuk kehadiran kapal selam tanpa awak (KSOT), drone permukaan Kamikaze yang mulai diproduksi PT PAL. Kehadiran kapal induk KRI Sriwijaya 100 akan memberikan kekuatan gahar berlipat ganda sebagai penentu keberhasilan operasi serbu pantai pasukan Marinir.

Kita mengapresiasi kecepatan proses pengadaan alutsista surprise untuk Pasmar sebagai pasukan elite TNI AL. Sebagai unsur striking force vital, menyerbu daratan dari pantai, pengerahan kekuatan pasukan Marinir mutlak harus mendapat dukungan berbagai SSAT TNI AL termasuk jet tempur dan drone. Selain tank amfibi di garis depan, ranpur amfibi angkut pasukan adalah kebutuhan vital batalyon infanteri Pasmar. Oleh sebab itu kedatangan AAV-M35 selayaknya kita sambut dengan nafas panjang dan kelegaan. Akhirnya Marinir Indonesia "berbuka puasa" sebagai kado HUT TNI ke 81. Alhamdulillah.

****

Jagarin Pane / 3 Oktober 2026


Saturday, September 19, 2026

Mengapa Gajah Mada Diganti Sriwijaya

Ketika kapal induk Giuseppe Garibaldi meninggalkan Italia, sudah digadang-gadang akan diberi nama KRI Gajah Mada begitu sampai di Indonesia. Nah dalam perjalanan 3 minggu ke tanah air, di Jakarta berkembang pemahaman penamaan kapal induk TNI AL sebagai hirarki puncak penamaan KRI striking force. Sebelumnya dalam setahun terakhir Indonesia sudah menerima 2 KRI heavy frigate baru buatan Fincantieri Italia. Yaitu KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Sementara PT PAL saat ini sedang membangun 4 kapal heavy frigate "Merah Putih Class". Satu diantaranya sudah diluncurkan dan diberi nama KRI Balaputeradewa 322. 

Tiga KRI jumbo ini diniscayakan akan menjadi pengawal kapal induk Indonesia dalam CSG (Carrier Strike Group) armada tempur TNI AL. Termasuk nanti ada penambahan 8 KRI striking force yang setara. Nah secara hirarki penamaan KRI, jadi tidak patut jika Gajah Mada ditahbiskan sebagai nama kapal induk. Karena dia seorang Mahapatih sementara "dayang dayangnya" KRI Brawijaya 320, KRI Prabu Siliwangi 321 dan KRI Balaputeradewa 322 adalah para Raja yang mengukir sejarah Nusantara. Mosok Raja mengawal Mahapatih. 

Oleh sebab itu dalam peresmian tanggal 24 September 2026 nanti kapal induk kita yang sudah merapat di Tg Priok Jakarta akan resmi bernama KRI Sriwijaya. Sebenarnya kapal induk ini sudah disiapkan kedatangannya di Navy Base Teluk Ratai Lampung. Namun karena Gunung Anak Krakatau sedang meradang maka dialihkan ke Tg Priok Jakarta. KRI Sriwijaya akan memimpin Naval Parade bersama 102 KRI berbagai jenis di Teluk Jakarta tanggal 4 Oktober 2026. Parade ini sebagai bagian dari rangkaian HUT TNI ke 81 tanggal 5 Oktober 2026 yang akan dipusatkan di Monas Jakarta.

PT PAL akan mempelajari anatomi dan jeroan teknologi kapal induk ini sembari mempersiapkan pembangunan kapal induk drone dan helikopter yang baru. Desainnya sudah dibuat dan akan semakin sempurna dengan "benchmark" teknologi kapal induk Italia ini.  kapal sejenis yang akan dibangun PT PAL lebih panjang dari KRI Sriwijaya. Boleh jadi nanti setelah selesai akan diberi nama KRI Majapahit. PT PAL saat ini menjadi BUMN maritim strategis yang membanggakan karena sudah mampu membuat kapal perang berbagai jenis untuk TNI AL dan bahkan sudah ada yang diekspor.

Karya spektakuler PT PAL saat ini adalah membangun 4 kapal perang Heavy Frigate "Merah Putih Class", 2 kapal selam serbu Scorpene, 30 kapal selam tanpa awak (KSOT), drone air Kamikaze dan senjata Laser untuk KRI. PT PAL juga sedang membangun pesanan dari luar negeri  yaitu 2 kapal perang LPD (landing platform dock)  untuk AL Filipina dan 1 LPD untuk "negeri sultan" Uni Emirat Arab. Karya lain yang sudah terlaksana adalah sukses membangun 6 kapal cepat rudal (KCR) "Sampari Class", 2 light frigate "Martadinata Class", 3 kapal selam "Nagapasa Class", 7 LPD "Makassar Class" termasuk 2 kapal rumah sakit TNI AL. Kita pantas mengapresiasi pencapaian ini karena kekuatan pertahanan sejatinya akan berjaya dengan kekuatan industri pertahanan dalam negeri.

****

(Jagarin Pane/19 September 2026)

Monday, August 24, 2026

Antara Tarik Menarik Dan Kegelisahan Jiran Kawasan

Hari-hari ini Malaysia mengungkapkan kekhawatirannya tentang perkuatan militer Filipina dan pembangunan pangkalan militer AS. Lokasinya di pulau Balabac bagian dari gugus kepulauan Palawan Filipina yang berdekatan dengan Sabah. Pada saat yang bersamaan PM Malaysia Anwar Ibrahim mengeluarkan pernyataan soal Taiwan dan menjelaskan sikap diplomatik One China, mendukung penyatuan Taiwan dengan Mainland. Beijing langsung "kegirangan" dan merespon dengan sanjungan. Sementara kapal China Coast Guard (CCG) 5901 berbobot 12.000 ton  berhari-hari mondar mandir mengobok-obok perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sarawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Inilah sebuah ironi geopolitik kawasan ketika senyuman diplomatik bertemu dengan otot ambisi teritorial.

Pada sisi yang lain perkuatan pertahanan Malaysia saat ini tertinggal dengan tetangga besarnya Indonesia dan tetangga "Sabahnya", Filipina. Malaysia yang terbagi menjadi Malaysia Barat di Semenanjung dan Malaysia Timur di Sabah dan Sarawak sesungguhnya terpisah jauh melintasi Laut China Selatan (LCS) yang iklim geopolitiknya sedang demam berkepanjangan. Di tengah keterpisahan geografi Malaysia itu ada kepulauan Natuna Indonesia yang sedang memperkuat basis pertahanannya. Artinya kegelisahan Malaysia sesungguhnya ada di tiga hotspot yaitu ZEE LCS,  Natuna Indonesia dan Balabac di Filipina Barat. Semuanya dalam korelasi klaim LCS, Sabah dan Ambalat.

Filipina selama beberapa dekade mengabaikan perkuatan militernya. Saat ini sedang menggebu mengejar minimum essential forcenya. Manila adalah sekutu terdekat AS di Asia Tenggara yang menyediakan Subic Navy Base dan Clark AFB sebagai pangkalan aju AS dalam perang Vietnam yang legendaris itu. Merasa dipayungi oleh AS puluhan tahun negeri Tagalog ini tidak berupaya menguatkan postur pertahanannya. Baru setelah Beijing mengobrak abrik tatanan ZEE Unclos di LCS Filipina sadar diri dan bangkit membangun kekuatan militernya seperti yang kita saksikan sekarang. Pertambahan alutsistanya tergolong cepat termasuk menyediakan 9 pangkalan militer untuk AS.

Sementara Malaysia sejauh ini terjebak dalam dinamika politik internal berkepanjangan yang membuat jalannya pemerintahan  Kuala Lumpur "jatuh bangun" karena saling jegal antar politisi dan partai politik. Baru setelah Anwar Ibrahim dengan koalisinya yang sebenarnya juga rapuh mendapat dukungan kuat Yang Dipertuan Agong, gejolak dinamika politik mereda. Selama belasan tahun jiran serumpun kita boleh dikata pertumbuhan kekuatan militernya stagnan. Barulah setelah politisi "tahan banting" Anwar Ibrahim menjabat sebagai PM Malaysia perkuatan militer negeri itu mulai menggeliat. Kita melihat ada percepatan pembangunan frigate Maharajalela Class yang sempat terhenti bertahun-tahun. Juga order korvet dari Turkiye. Termasuk pengadaan 18 jet tempur ringan Fa50 yang setara dengan 19 jet latih tempur T50 yang sudah dimiliki TNI AU. Dari pabrikan yang sama Korea Selatan.

Di Jakarta baru saja datang 2 Menteri tangan kanan Presiden China Xi Jinping tanggal 20-22 Agustus 2026. Menlu Wang Yi dan Menhan Dong Yun bersama Menlu dan Menhan Indonesia bersepakat memperkuat kerjasama pertahanan multi dimensi. Seperti kerjasama pembuatan peluru kendali anti kapal C705, pengiriman prajurit TNI ke China dan latihan militer bersama. Seperti kita ketahui bersama dari beberapa media internasional, Indonesia dikabarkan akan membeli beberapa jenis alutsista dari China seperti jet tempur J10C dan Coastal Missile. Sementara rudal anti kapal C705 sudah sejak lama menjadi aset arsenal untuk kapal cepat rudal TNI AL. Dalam kunjungan 2 Menteri China tidak ada publikasi untuk progres J10C dan Coastal Missile. Dan memang tidak harus jua mempublikasikannya. Sudah banyak contoh, tanpa publikasi barangnya datang.

Sebelum kunjungan delegasi China untuk Dialog "2+2" bersama rekan selevelnya dari tuan rumah, Indonesia  baru saja menerima kunjungan Wakil Menteri Perang AS Elbridge A.Colby tanggal 11-12 Agustus 2026. Kunjungan ini tentu dalam rangka menguatkan detail DCA (Defence Cooperation Agreement) seperti penggunaan Bandara Kertajati untuk rawat inap pesawat Hercules AS dan program pendidikan prajurit TNI serta kontinuitas latihan gabungan Garuda Shield. Makna dari dua kunjungan ini, AS dan China, dalam waktu yang berdekatan menunjukkan adanya kekuatan tarik menarik yang terus menerus dan rayuan kepada sosok negeri kepulauan yang posisi geopolitiknya sangat strategis di kawasan Indo Pasifik. Indonesia seperti gadis manis rambut sebahu yang dirayu terus menerus oleh Paman Sam dan Paman Mao.

Kita membaca dalam dua minggu terakhir ini ada gelombang geopolitik di kawasan Indo Pasifik yang sangat dinamis. AS yang kewalahan menghadapi pertempuran asimetris berbulan-bulan melawan Iran setidaknya memberikan pelajaran tentang payung perlindungan Indo Pasifik. Korea Selatan, Jepang, Australia, Taiwan dan Filipina membaca anatomi pertempuran itu dengan kegelisahan. Secara strategi dan antisipatif, penguasa hegemoni AS mengalami pukulan telak. Hancurnya puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah membawa kesan dan pesan kuat bahwa Indo Pasifik yang selama ini berada dalam payung perlindungan militer AS sudah berkurang nilai keyakinannya. Apalagi saat ini sudah ada aliansi pertahanan yang kuat antara China, Korut dan Rusia. 

Kapal perang Indonesia KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dalam perjalanan pulang dari Vladivostok Rusia dan Yokosuka Jepang disambut passing exercise kapal perang China di  Laut China Timur (LCT) sebelah Timur Taiwan medio Agustus ini. Tidak ada yang salah bagi kapal perang Indonesia untuk menerima "say hallo" dari frigate China di kawasan ZEE LCT. Ini bagian dari diplomasi pertahanan China untuk menguji gelombang geopolitik kawasan. Dan benar saja Taiwan berteriak dan ngomel diplomatik ke seluruh dunia. Yang jelas frigate sigma 10514 hasil kerjasama produksi PT PAL dan Damen Schelde Belanda, KRI I Gusti Ngrah Rai makin terkenal karena disebut terus di berbagai media internasional. Sebenarnya teriakan ini bagian dari kegelisahan Taiwan menghadapi ancaman invasi China.

Apakah Indonesia juga gelisah. Jawabnya tidak. Posisi diplomatik kita adalah tidak berada dalam aliansi pertahanan dengan negara manapun. DCA dengan Australia, AS, China, Singapura dan Jepang adalah kerjasama pertahanan, bukan aliansi militer. Posisi diplomatik kita dengan luas teritori yang sangat strategis inilah yang kemudian menjadi "pusat rayuan serba ada" untuk didekati masing-masing pihak demi kepentingan strategi antisipatif menghadapi konflik masa depan di kawasan Indo Pasifik yang skalanya bisa mematikan. Untuk menguatkan posisi diplomatik dengan teritori yang luas, Indonesia bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Karena inilah satu-satunya cara agar posisi diplomatik kita tidak diremehkan.

Kita mengapresiasi strategi antisipatif pemerintah untuk memastikan manajemen pertahanan yang interoperability dapat menjunjung posisi diplomatik kita yang netral. Pengadaan 42 jet tempur Rafale, 48 jet tempur KAAN, 16 jet tempur KF21, 16 jet tempur J10C, 8 jet tempur Sukhoi SU35, 12 jet latih M346F blok 20, 24 radar GCI Thales dan Retia, 4 pesawat angkut Atlas, puluhan drone Anka, Akinci, Bayraktar, Kizilelma, 1 kapal induk Garibaldi, 2 kapal perang Brawijaya Class, 2 kapal perang Istif Class, 2 kapal selam Scorpene, 5 kapal selam mini Drass, 30 kapal selam nirawak KSOT, drone laut Kamikaze, rudal Brahmos, rudal balistik KHAN, senjata Laser, pembangunan 750 batalyon TNI AD, Marinir dan Kopasgat. Semuanya adalah untuk memastikan kekuatan militer Indonesia sebanding dengan luasnya teritori negeri ini.

Kita meyakini ada kegelisahan jiran kawasan seperti Malaysia, Filipina dan Taiwan. Termasuk juga Korsel dan Jepang. Kekalahan strategi dan perang  asimetris AS melawan Iran menjadi pembahasan menarik di instrumen intelijen dan pemikir strategis pertahanan negara-negara Indo Pasifik. Tidak terkecuali negara-negara Timur Tengah. Prediksi kedepan ini dunia tidak lagi unilateral dengan AS sebagai pemegang hegemoni. Aliansi militer Pakistan, Arab Saudi dan Turkiye adalah contoh masing-masing kawasan tidak lagi mengharapkan payung perlindungan AS. Peran AS makin memudar dan ini secara psikologi memukul arogansi kekuatan Paman Sam selama ini. 

Pola diplomatik AS yang lebih sering bertindak atas nama hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menguasai dan kemudian jumawa, merasa paling benar. Sementara China dengan sekutu karibnya Korut, Rusia dan Iran menjadi kekuatan baru (new force) yang sebenarnya ingin menciptakan harmoni multilateral, bukan hegemoni. Dalam perspektif inilah Indonesia memposisikan dirinya untuk menjadi middle strongest, netral, penyeimbang kawasan dan memastikan seluruh teritori negeri berada dalam payung pertahanan. Posisi diplomatik Indonesia dengan kekuatan militer middle strongest adalah bagian dari upaya menjaga perdamaian kawasan. Jangan sampai kemudian dua gajah bertarung lalu merusak semua yang sudah tertata dan bahkan sekian pelanduk mati ditengah.

Bagaimanapun kekuatan militer yang sepadan dengan luas teritori adalah keharusan mutlak sebagai fundamen diplomasi politik luar negeri Indonesia. Kita sedang bergegas, extra ordinary untuk memenuhi kebutuhan optimum essential force pertahanan kita. Meskipun ada tarik menarik dan rayuan dari pihak-pihak yang berseteru, Indonesia tetap berada di posisi strategisnya, non aliansi. Untuk memperkuat posisi strategis ini, kita majukan terus pertumbuhan ekonomi kesejahteraan sejalan dengan perkuatan manajemen pertahanan. Indonesia sedang berada dalam perjalanan ini, perjalanan sebuah negeri kepulauan yang kaya sumber daya alam dan posisi geopolitiknya yang strategis. Dirgahayu Indonesia.

****

Jagarin Pane / 23 Agustus 2026


Saturday, July 25, 2026

Menyambut Gajah Mada

Perjalanan cepat program Optimum Essential Force (OEF) TNI, kembali memberikan momentum kegaharannya dengan kehadiran kapal induk dari Italia Giuseppe Garibaldi. Seremoni HUT TNI ke 81 tanggal 5 Oktober 2026 diniscayakan menjadi seremoni yang gegap gempita dengan kehadiran Garibaldi yang memilki panjang 180 meter. Sekaligus meresmikan namanya menjadi KRI Gajah Mada. Resmi menjadi kapal induk pertama sepanjang sejarah perjalanan republik ini. Indonesia pernah punya kapal penjelajah KRI Irian 201 dari Uni Sovyet (Rusia) tahun 1962 sewaktu konfrontasi Trikora dan Dwikora. Kehadiran kapal perang monster dari "Sverdlov Class" dengan panjang 210 meter dijamannya itu, membuat kapal induk Belanda Karel Doorman cabut dari Irian (Papua) menuju Australia. Ini menunjukkan betapa gaharnya KRI Irian 201 pada waktu itu.

Meski KRI Gajah Mada merupakan kapal induk bekas dari Italia, kehadiran aset pertahanan laut ini menjadi langkah spektakuler sekaligus surprise. Sebuah negeri kepulauan terbesar dalam upaya menguatkan postur angkatan lautnya mendapatkan kado istimewa, kapal induk dari negara NATO. Surprise karena tidak pernah terbayangkan selama tiga tahun terakhir kita akan punya kapal induk. Jadi spektakuler karena proses perolehannya extra ordinary dan hibah "dengan syarat dan ketentuan berlaku". China juga pernah membeli kapal induk bekas dari Rusia yang diserahkan ke Ukraina. Lalu diberi nama Liaoning sebagai langkah awal membangun kapal induk buatannya sendiri. Sekarang China sudah memiliki 4 kapal induk produk dalam negerinya. 

Kehadiran Gajah Mada setidaknya akan memberikan gelombang kejut di kawasan regional. Sama halnya dengan seremoni kedatangan 6 jet tempur Rafale beberapa waktu lalu. Berbagai analisis dan pemberitaan internasional menggema kuat, salah satunya memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan penyeimbang di kawasan yang sedang bergelombang iklim geopolitiknya. Gajah Mada semakin menguatkan prediksi itu dan Gajah Mada tentu tidak akan sendirian menjelajah perairan laut biru Nusantara. Dia akan selalu berada dalam pengawalan tugas gugus tempur laut TNI AL.

Lihat saja "dayang-dayang" yang akan mengiringi Sang Mahapatih kemana dia pergi. Heavy frigate KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321 sudah stand by sambil memperkuat infrastruktur tempurnya. 2 KRI frigate "Merah Putih Class" sedang dibangun di PT PAL. Salah satunya KRI Balaputradewa 322 sudah meluncur ke air. PT PAL akan membangun 2 unit lagi sehingga nantinya akan menjadi 4 KRI. Dari Turkiye sedang berlangsung program beli cepat untuk mendapatkan kapal perang canggih "Istambul Frigate" Class. Mengapa disebut beli cepat, karena 2 kapal perang ini awalnya dibuat untuk AL Turkiye namun Indonesia mendapat restu Erdogan untuk pengalihan kepemilikan. Dengan harga premium tentunya. Tahun depan sudah datang di tanah air.

Kekuatan bawah air TNI AL juga bergerak cepat pertambahannya. Selain pembangunan 2 kapal selam canggih Scorpene di PT PAL, Angkatan Laut Indonesia segera mendapatkan 6 kapal selam mini Drass dari Italia. Termasuk pesanan 30 kapal selam mini tanpa awak berbasis Artificial Intelligence (KSOT) buatan PT PAL. Dari Inggris akan datang pesanan kapal penyelamat kapal selam sebagai bagian dari armada TNI AL. Pesanan 30 KSOT ini merupakan gelombang kejut juga karena ini adalah produk orisinil karya cipta PT PAL. Dan sangat dimungkinkan akan semakin banyak pemesanan KSOT untuk menjaga selat strategis dan pangkalan angkatan laut Indonesia.

Kapal induk Gajah Mada di negeri asalnya diisi jet tempur Harrier yang bisa take off dan landing vertikal. Setelah renovasi dan overhaul nantinya akan diisi dengan drone bersenjata Bayraktar TB2 bersayap lipat dan drone stealth Kizilelma. Keduanya buatan Turkiye. Bayraktar TB2 dan Kizilelma sama saja fungsinya dengan jet tempur. Artinya operasional drone bersenjata lebih efisien daripada jet tempur. Masa depan alutsista strategis penghancur dalam networking warfare adalah drone bersenjata. Termasuk juga rudal balistik. Indonesia sudah menerima sistem peluncuran rudal balistik KHAN buatan Turkiye dan ditempatkan di sekitar IKN. Banyak produk Turkiye neh, apalagi kedua negara sudah punya perjanjian kerjasama pertahanan dan DPR sudah meratifikasi UU nya. 

Kita memprediksi bahwa gugus tugas kapal induk ini bersama "dayang-dayangnya" akan efektif operasional tahun 2028. Drone Bayraktar yang menjadi alutsista serang kapal induk sudah dipesan sebanyak 60 unit, sementara Kizilelma 12 unit dengan opsi pemesanan 48 unit. Kizilelma tidak beda jauh dengan jet tempur siluman karakternya. Dengan begitu sesungguhnya pengoperasian drone bersenjata stealth bisa lebih mematikan karena tidak terlacak radar lawan. Selain drone bersenjata, kapal induk kita ini akan diisi dengan Helikopter. Kapal induknya sendiri harus punya manajemen perlindungan diri. Maka dalam program upgrade yang ditargetkan selesai akhir tahun ini infrastruktur tempur pertahanan diri sudah bisa terpenuhi. Salah satunya senjata laser produk PT PAL sebagai air defence system.

Seluruh program perkuatan militer Indonesia adalah untuk memastikan manajemen pertahanan terpadu. Dapat menjadi payung yang kokoh mengawal teritori dan eksistensi negeri. Iklim geopolitik saat ini yang mudah mengumbar adrenalin, sejatinya bertumpu pada penguasaan sumber daya alam. Lihat saja "lidah naga" China menjulur ke selatan hampir menyentuh Natuna. Atau Greenland yang tiba-tiba diklaim milik AS. Semuanya dengan gertakan militer. Negeri kita yang kaya sumber daya alam sangat pantas dan terhormat mendapatkan perlindungan sesuai konstitusi. Indonesia sedang bergegas menggempalkan kekuatan militernya. Sedia payung sebelum hujan, dan payungnya harus kokoh karena bisa saja hujannya bercampur badai dan petir.

****

Jagarin Pane / 25 Juli 2026


Thursday, July 2, 2026

PT PAL Indonesia, Menuju Industri Pertahanan Global

Publikasi peluncuran kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) yang ketiga untuk Angkatan Laut Filipina tanggal 30 Juni 2026 yang lalu menggema luas di kawasan regional. PT PAL kembali mendapat kepercayaan Filipina membangun LPD ketiga dan keempat, setelah sebelumnya sukses membangun 2 kapal LPD untuk AL jiran utara ini. PT PAL sendiri sudah membangun 6 kapal perang LPD untuk TNI AL dan sedang membangun kapal LPD terbesar 163 meter Al Maryah untuk Angkatan Laut "Sultan" Uni Emirat Arab. Bahkan saat ini PT PAL sedang mempromosikan kapal perang striking force "little but lethal" kapal cepat rudal (KCR) 60 meter Sampari Class ke Filipina. TNI AL saat telah memiliki 6 KCR Sampari Class produk PT PAL Surabaya.

Dalam catatan kita sejauh ini PT PAL mampu memberikan kesan perjalanan prestasi yang "Quantum Leap". BUMN strategis ini memberikan kontribusi luar biasa untuk mengembanghebatkan industri pertahanan maritim Indonesia bersama industri pertahanan maritim swasta nasional yang tersebar di berbagai provinsi. Saat ini PT PAL sedang membangun 2 kapal perang heavy frigate "Merah Putih" untuk TNI AL. Satu diantaranya KRI Balaputradewa 322 telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. PT PAL mendapat order untuk membangun 4 kapal perang "Merah Putih Class" dengan target waktu penyelesaian secepatnya. 

KRI Balaputradewa 322 akan ikut serta dalam HUT TNI 5 Oktober 2026 mendatang bersama dua kapal perang heavy frigate yang baru dibeli dari Italia. Yaitu KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Skenarionya ketiga KRI gahar ini akan "mengawal" kapal induk TNI AL yang belum diberi nama dalam show of force parade seratusan kapal perang berbagai jenis 5 Oktober nanti. Prediksi kita perayaan HUT TNI akan dilaksanakan di pangkalan AL terbesar Surabaya. Sekedar sumbang saran perayaan HUT TNI tidak perlu terlalu kolosal seperti tahun kemarin di Monas. Begitu padatnya seratusan ribu pasukan TNI dan ribuan alutsista yang dikerahkan. Bersama ratusan ribu masyarakat yang menyaksikan memberikan kesan "suasana kolosal banget". Namun kurang tertata dan tertib dalam manajemen seremoni militer karena keterbatasan lahan dan penuh sesaknya partisipan dan penonton.

Kita ketahui bersama, saat ini  PT PAL punya kesibukan yang padat. BUMN andalan ini sedang membangun 2 kapal selam canggih Scorpene Envolved melalui kerjasama transfer teknologi dengan Perancis. Yang menakjubkan tentu saja kemampuan PT PAL membangun karya cipta sendiri yaitu kapal selam mini tanpa awak (KSOT) dan senjata laser untuk kapal perang. Kedua produk ini sudah diuji coba tahun 2025. Kementerian pertahanan tahun ini sudah memesan 30 unit KSOT untuk menguatkan armada bawah air TNI AL. Semua prestasi ini tidak terlepas dari kekuatan manajemen yang solid dan political will untuk membangunkuatkan industri pertahanan maritim Indonesia.

PT PAL beberapa tahun lalu mendapat order untuk modernisasi refurbishment 41 KRI eksisting berbagai jenis. Sebagai lead integrator BUMN ini merangkul beberapa industri pertahanan swasta nasional untuk percepatannya. Jadi disamping membangun kapal perang berbagai jenis PT PAL juga "merawat inap" berbagai KRI. Bahkan kapal perang LPD Filipina yang pertama dibangun PT PAL juga melakukan maintenance rawat inap di Surabaya baru-baru ini. Kapal selam KRI Cakra 401 ikut dalam program overhaul yang lebih dikenal dengan Program R41. Temasuk "Fatahillah Class" dan "Parchim Class" mendapatkan persenjataan peluru kendali anti kapal Atmaca buatan Turkiye.

Dalam perjalanan sumbangsihnya untuk ketersediaan alutsista TNI AL, BUMN maritim ini sudah lengkap membangun kapal perang berbagai jenis dan berbagai ukuran. Termasuk merawatnya. Mulai dari membangun FPB (Fast Patrol Boat), KCR "Sampari Class", korvet "Martadinata Class", LPD "Makassar Class", kapal selam "Nagapasa Class", kapal tanker logistik "Tarakan Class", dan yang terakhir heavy frigate "Merah Putih". Prediksi kita  tahun depan PT PAL akan mulai membangun kapal perang jenis LHD (Landing Helicopter Deck). Sementara pekerjaan besar lainnya adalah meng upgrade kapal induk bekas dari Italia untuk kesiapan operasionalnya sebagai kapal induk TNI AL.

Perjalanan kontribusi PT PAL tidak terlepas dari tata kelola manajemen yang profesional dibawah kepemimpinan Dr Kaharudin Jenod. Figur ini dan PT PAL seperti bertemunya filosofi "the right man in the right place". Dengan leadership yang terang benderang Jenod yang ahli perkapalan dan artificial intelligence mampu mengintegrasikan strategi manajemen galangan kapal dan perluasan pasar internasional. Prestasi yang lain adalah mampu menyelesaikan masalah keuangan selama 20 tahun menjadi profit margin yang menggembirakan. Bahkan untuk laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan 108,6% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan profit margin ini adalah hasil sinergitas percepatan proses produksi, efisiensi dan limpahan order termasuk implementasi digitalisasi manajemen. 

Political will adalah payung utama sebagai pelindung dan trigger manajemen PT PAL. Kebijakan Presiden Prabowo yang visioner termasuk ketika menjadi Menteri Pertahanan untuk membangunkuatkan industri pertahanan dalam negeri sudah memberikan hasil gemilang. PT PAL saat ini adalah industri pertahanan maritim nasional yang sedang bergeliat dan menjadi buah bibir di kawasan regional. Selayaknya kita memberikan apresiasi karena PT PAL tampil sebagai BUMN industri pertahanan terkemuka dan berprestasi. BUMN yang lain seperti PT Pindad dan PT DI  juga menunjukkan kinerja yang baik.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan PT PAL selama lima tahun terakhir ini menjalani masa keemasannya dalam "perjalanan karirnya". Menuju industri pertahanan maritim global bukan lagi cita-cita tetapi sudah dan sedang melangkah ke arah sana dengan percaya diri. Pasar ASEAN sudah terbuka, juga pasar Timur Tengah. Pasar Afrika berpotensi terbuka. Lebih penting dari itu adalah kemampuan PT PAL menyediakan kebutuhan kapal perang berbagai jenis untuk Angkatan Laut Indonesia. Kekuatan pertahanan sebuah negara harus didukung dengan kekuatan industri pertahanannya sebagai pemasok ketersediaan aset pertahanan. Dan manajemen PT PAL sudah menjawabnya dengan kinerja cemerlang. Tapi bagi netizen forum militer biasanya mereka lebih senang dan ramai membahas tema "fit for but not with" atau "full armament". Bagi netizen forum militer, Good News is biasalah. 

****

Jagarin Pane / 2 Juli 2026