Thursday, March 3, 2022

Semakin Menghebat

Catatan invasi Rusia ke Ukraina sampai hari ke tujuh adalah tidak terbendungnya langkah pasukan Rusia dan alutsistanya.  Mengalir deras dengan iringan dentuman hebat yang melumat sasarannya. Teknologi alutsista canggih yang dimiliki Rusia memperlihatkan unjuk kinerja tempur yang luar biasa. Dan itu belum semuanya. Sementara dari perbatasan negara-negara NATO di Eropa riuh rendah publikasi kedatangan ribuan tentara dan alutsista NATO hanya sampai di garis border Polandia dan Rumania, tidak lebih dari itu. AS dan NATO tidak ingin intervensi dengan alasan Ukraina belum menjadi anggota NAT0. Namun sangat diyakini alasan sesungguhnya adalah ketidakberanian aliansi militer terhebat sedunia itu karena adanya ancaman perang nuklir dari Vladimir Putin. 

Sejauh ini skore sementara 2-0 untuk Putin.  Skore 1-0 tercipta karena Putin yang menginvasi Ukraina membuat NATO terdiam meski awalnya gembar-gembor gertak sana gertak sini, ancam sana ancam sini. Skore 2-0 barusan tercipta karena manuver militer gertak sambal NATO mengerahkan pasukan dan jet tempur ke Rumania dan Polandia hanya sebatas itu saja, tidak lebih dari itu. Dan sejauh ini tak ada yang mampu menghadang Rusia. Ukraina semakin bonyok, bantuan militer NATO yang dijanjikan tidak datang jua. Dan jangan main-main dengan negara nuklir nomor satu Rusia yang selalu dipojokkan dan diremehkan oleh pemilik hegemoni. Rusia bisa saja melakukan serangan nuklir mematikan,game over, tiji tibeh, mati siji mati kabeh.

AS dan NATO secara psywar hari-hari ini berada dalam tekanan psikologi militer yang hebat. Belum pernah mereka mengalami dilema sedahsyat ini sejak berdirinya pakta militer atlantik utara itu. Maju kena mundur kena. Mereka mendapat "lawan tak bertanding" yang sepadan, pemberani dan militan. Selama ini AS dan NATO selalu menjadi pemenang dalam setiap operasi militer, selalu merasa diatas angin dan menjadi pemilik hegemoni militer termasuk hegemoni opini pembenaran. Lihat aksi militernya di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah. Lihat aksi intelijennya di Venezuela, Iran, Panama, Nikaragua. Aliansi militer NATO adalah satu-satunya super power di planet bumi yang malang melintang sejak perang dingin berakhir tahun 1991. Dan sekarang mendapat ujian terbesar, ujian marwah diri dari Rusia dengan ancaman perang nuklir.

Ketika perang dingin terjadi ada dua blok militer di Eropa yang saling pamer kekuatan, gelar alutsista besar-besaran, saling melotot satu sama lain. NATO di Eropa Barat mendapat lawan, kekuatan  penyeimbang dari blok militer Eropa Timur yaitu Pakta Warsawa. Secara historis dua kekuatan militer penyeimbang ini justru mampu menciptakan perdamaian di Eropa selama hampir setengah abad. Kondisi "si vis pacem parabellum" ini memberikan peluang kemampuan membangun ekonomi kesejahteraan bagi Eropa dan dunia. Selama perang dingin pertumbuhan ekonomi kesejahteraan di dunia berkembang dengan cemerlang. Kekuatan dua super power dunia itu tidak membuat keduanya mentang-mentang, malah berhati-hati karena ada rival setaranya. Sementara tingkat kesejahteraan dan teknologi bertumbuh pesat di era Cold War.

Ranking kekuatan ekonomi AS saat ini sudah dibayang-bayangi China. Prediksi lima tahun ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia. Sejalan dengan itu pembangunan kekuatan militernya diniscayakan akan menjadi kekuatan yang disegani. Baru-baru ini China dan Rusia menyepakati kerjasama strategis di segala bidang. Artinya aliansi strategis ini menjadi ancaman terbesar hegemoni AS yang sudah mulai tergerus. Pertempuran di Ukraina adalah contoh soal terpukulnya hegemoni. Meski secara konstitusi PBB Rusia jelas-jelas salah besar  menyerbu teritori negara lain. Namun jika kita menganalisis penyebabnya secara sistematis, jalan diplomasi yang ditempuh tidak terpenuhi, langkah militer yang diterjang adalah bagian dari diplomasi itu sendiri.

Pola diplomasi AS dan sekutunya yang selalu mau menang sendiri sudah saatnya direnovasi, diperbaharui. Momentumnya ada di pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina. Tidak bisa lagi memakai pola dan metode menang-menangan. Kemarahan Rusia adalah kemarahan marwah negara yang selalu dikerdilkan dan dianggap musuh abadi. Mengurung Rusia di Eropa Timur dengan ekspansi keanggotaan NATO sangat tidak pantas karena secara defacto dan dejure sudah tidak ada lagi perang dingin atau potensi perang besar. Ambisi perluasan keanggotaan NATO di Ukraina akhirnya berbuah pertempuran hebat setelah perang dunia kedua. Kita semua menginginkan penyelesaian damai dan bermartabat. Saatnya membuka mata hati bening untuk perdamaian dunia.

****

Jagarin Pane / 03 Maret 2022