Friday, March 24, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

(Bagian Satu Dari Dua Tulisan)

Pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran merupakan kado indah Ramadhan 1444 H. Sebuah langkah besar dan bersejarah dari kedua bangsa besar muslim yang difasilitasi bangsa besar jua, China. Ini terjadi ditengah berkecamuknya perang besar Rusia-Ukraina berdurasi tahunan di benua paling modern di dunia, benua biru Eropa. Jabat tangan dua negara muslim paling berpengaruh di Timur Tengah di Beijing merupakan pukulan diplomatik paling menyesakkan bagi pemegang sabuk hegemoni, Amerika Serikat.

Sebenarnya AS sudah dan sedang memindahkan aset militernya dari kawasan Timur Tengah menuju Indo Pasifik. Di kawasan Asia Pasifik ini ada sang naga yang sedang bergeliat sebagai pesaing hegemoninya dalam segala dimensi, China. Timur Tengah dalam pandangan geopolitik dan geostrategis AS tidak lagi menjadi prioritas karena beberapa negara Arab sudah membuka pintu hubungan diplomatik dengan Israel. Catatannya adalah Suriah sudah babak belur namun AS gagal menggulingkan Bashar Al Assad. Presiden Irak Saddam Husein, dan pemimpin Libya Moammar Khadafy sudah dihabisi. Ironinya alasan menggempur Irak dan menggantung Saddam Husein tidak pernah terbukti yang katanya mempunyai dan menggunakan senjata pemusnah massal. Dan Iran-Arab Saudi dibiarkan berkonflik panjang di medan pertempuran Yaman. Dan ternyata mereka berjabat tangan untuk berdamai.

Kemudian masih segar dalam ingatan kita  ketika AS tiba-tiba saja angkat kaki meninggalkan Afghanistan akhir Agustus 2021 setelah duapuluh tahun menguasai negeri Mullah itu. Cabut begitu saja tanpa pamit meninggalkan aset perang milyaran dollar. Pasukan Taliban mendapat rezeki nomplok mengambil alih pemerintahan Afghanistan dan menguasai alutsista AS. Itu artinya secara defacto Taliban mampu mengalahkan AS di Afghanistan. Ini sama kondisinya  dengan kekalahan AS dalam perang panjang di Vietnam yang berakhir tahun 1975. AS harus angkat kaki dari Saigon.

Perlahan tapi pasti abrasi pantai hegemoni AS mulai tergerus. Kekuatan ekonomi, teknologi dan militer China sedang menuju puncak klasemen. Menghadapi peta perubahan ini pemilik hegemoni dan sekutunya cenderung panik menghadapi takdir sejarah Samuel Huntington ini. Seperti dalam persaingan teknologi, menangkap dan menahan Direktur Keuangan Huawei di Vancouver Kanada tahun 2018 dengan alasan bla bla bla merupakan contoh kepanikan menyikapi persaingan bisnis kemajuan teknologi 5G China yang lebih maju. Jika alasannya Huawei berbisnis dengan Iran yang berarti melanggar sanksi AS mestinya tidak juga sampai harus menahan putri pendiri Huawei itu. Netizen dunia mulai paham dengan kekonyolan pemilik hegemoni dan sekutunya.

Potensi persekutuan militer China, Rusia, Iran dan Korut sangat mungkin terhidang di karpet peta dunia yang labil saat ini. Bahkan potensi pengembangbiakan perang Rusia Ukraina bisa berlanjut menjadi Perang Dunia Ketiga. Modalnya hanya pencet tombol nuklir. Misalnya jika Rusia didesak terus, ditekan, dikucilkan, bahkan Putin mau ditangkap sebagai penjahat perang. Ini mengarah pada road map yang jelas, perang nuklir. Sejarah panjang Rusia bisa menjadi standar penilaian bahwa bangsa ini sangat militan, pantang menyerah. Ingat perang dunia kedua ketika Rusia menggempur Jerman, duluan sampai di Berlin mendahului pasukan AS dari Normandia Perancis. Ini yang menyebabkan Berlin dibagi dua setelah perang dunia kedua. Eropa Timur membentuk Pakta Warsawa dan Eropa Barat, AS mendirikan NATO. Jerman dibagi dua, Jerman Barat masuk NATO, Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.

Mengapa pemilik hegemoni yang mengatur dunia secara unipolar tergerus abrasi. Faktor utamanya adalah munculnya kekuatan ekonomi dan teknologi China yang tumbuh menjulang cemerlang. Termasuk kekuatan militer China yang semakin hebat. Faktor lain lebih kepada pemaksaan kehendak dari pemilik hegemoni dan sekutunya demi kepentingan sepihak. Karena tidak punya pesaing bandul bipolar cold war setelah bubarnya Uni Sovyet dan Pakta Warsawa tahun 1990, AS dan sekutunya bebas leluasa menentukan peta geopolitik dan geostrategis. Fokusnya Timur Tengah dengan mengaduk adonan proxy, menyulut perang Teluk jilid satu dan dua, menyerang Libya, menggempur Suriah, membentuk ISIS, melakukan framing proxy ke Arab Saudi untuk menyerang Yaman karena ada milisi Houti yang didukung Iran. 

Sementara itu di belahan bumi yang lain, China mulai menunjukkan geliat naga nya dengan kemajuan ekonomi dan militernya. China menguatkan klaim nine dash line nya di Laut China Selatan dengan membangun sejumlah  pangkalan militer  di kepulauan karang atol Spratly dan Paracel. Mengerahkan coast guard dan kapal perang untuk menggertak Vietnam, Filipina dan Indonesia. Juga dengan Taiwan sudah sampai pada tahap persiapan penyerbuan. Maka dalam pandangan geostrategis dan geopolitik AS, Indo Pasifik akan menjadi konsentrasi kekuatan militer AS untuk melawan China. Paman Sam membentuk pakta nuklir AUKUS dengan Inggris dan Australia, membuka 7 pangkalan militer di Filipina, membolehkan Jepang menguatkan angkatan bela diri menjadi kekuatan militer ofensif dan menguatkan Taiwan dengan ratusan aset perang.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 23 Maret 2023