Wednesday, June 15, 2022

Mengapa Diberi Nama KRI Bung Karno

Ada kabar bagus untuk Angkatan Laut Indonesia. Galangan kapal swasta nasional PT Karimun Anugerah Sejati di Batam mendapat order pembuatan kapal perang jenis korvet berpeluru kendali. Seremoni first steel cutting dan keel laying baru saja dilakukan pada hari Kamis tanggal 9 Juni 2022 di Batam. Kapal perang ini menjadi istimewa karena dirancang untuk mengakomodasi pelayanan VVIP dan Kepresidenan. Artinya rancang bangun, teknologi infrastruktur dan persenjataannya harus memenuhi kriteria pengamanan VVIP dan Kepresidenan.

Galangan kapal swasta nasional yang lain, PT Daya Radar Utama di Lampung saat ini juga sedang melaksanakan pembuatan 2 kapal perang striking force jenis korvet. Perusahaan ini sudah lebih dulu sukses membangun 4 kapal perang jenis landing ship tank (LST). Beberapa galangan kapal swasta lainnya mendapat order membuat kapal perang jenis LST, bantu cair minyak (BCM) dan kapal patroli cepat (KPC).  PT Lundin di Banyuwangi baru saja berjaya membangun kapal cepat rudal (KCR) teknologi trimaran stealth KRI Golok 688.

PT PAL sebagai BUMN strategis punya jadwal ketat menyelesaikan pembuatan 2 KCR dan 1 kapal landing platform dock (LPD) rumah sakit untuk TNI AL. Yang membanggakan PT PAL baru saja menang tender batch 2 membangun 2 kapal perang jenis LPD untuk angkatan laut Filipina. Juga sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate Arrowhead 140, termasuk rencana membangun kapal selam serbu dengan kerjasama transfer teknologi. Luar biasa kesibukan PT PAL. Kita merasa bangga dengan kemampuan industri pertahanan maritim ini.

Untuk diketahui pembuatan kapal perang korvet berpeluru kendali di Batam ini adalah untuk menggantikan peran KRI Barakuda 814 yang selama ini menjadi kapal VVIP. KRI Barakuda adalah kapal perang jenis FPB57 buatan Jerman tahun 1995.  Hanya saja soal penamaan kapal perang yang akan menggantikan KRI Barakuda ini disebut akan memakai nama KRI Bung Karno. Dalam pandangan kita penamaan ini kurang pas dan tidak setara dengan kebesaran nama dan marwah Bung Karno.

Nama Bung Karno adalah marwah terbesar dan tertinggi untuk negeri ini. Jadi terlihat kurang sepadan jika kapal perang jenis korvet ini diberi nama KRI Bung Karno. Sebagai contoh AS memberi nama kapal induk nuklir terbaru mereka dengan USS Gerald Ford yang merupakan Presiden AS ke 38. Juga ada kapal induk USS Ronald Reagan. Inggris kapal terbesarnya HMS Queen Elizabeth. Demikian juga dengan Rusia penamaan kapal perang berdasarkan hirarki kepahlawanan. Jadi menurut persepsi kita kapal perang yang dibangun ini lebih baik diberi nama yang lain yang setara dengan kelas korvet.

Berbagai kapal perang striking force kita sudah punya penamaan berdasarkan nama-nama pahlawan. Martadinata Class, Ahmad Yani Class, Bung Tomo Class, Diponegoro Class jelas tingkatan kelasnya diatas korvet yang baru mulai dibangun di Batam ini. Ada kesan penamaan KRI Bung Karno untuk korvet ini yang kelasnya lebih rendah dari kelas kapal perang diatas, kurang sepadan, kurang pantas. Lebih pantas nama besar Bung Karno ini disematkan di salah satu dari dua kapal perang jenis heavy fregate Arrowhead 140 yang sedang dipersiapkan pembangunannya. Yang satu lagi diberi nama KRI Muhammad Hatta. Dua kapal perang canggih ini akan menjadi kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia.

Demikian juga dengan penamaan Bandara Soekarno Hatta di Tangerang sebagai bandara nomor wahid di negeri ini. Sepintas sepertinya sudah sesuai namun nama ini sejatinya untuk  "dwi tunggal proklamator", bukan atas nama perseorangan. Dalam pandangan kita alangkah baiknya penamaan ini dipisah saja. Sekedar usul boleh kan. Bandara di Tangerang menjadi Bandara Ir Soekarno. Dan nama Mohammad Hatta bisa disematkan di bandara Kualanamu di Sumatera Utara. Seperti kita ketahui ada dua Bandara yang masih bernama berdasarkan lokasinya, yaitu Kualanamu di Sumut dan Kertajati di Jabar. 

Bandara Kualanamu sangat pantas menyandang nama Bandara Muhammad Hatta dan itu mewakili aspirasi Sumatera. Kita ketahui sejak awal sangat sulit memberi nama pahlawan untuk Bandara Kualanamu di Sumut, sebagaimana dulu Bandara Polonia. Diusulkan diberi nama Bandara A ternyata komunitas B dan C tidak sepakat. Diberi nama Bandara B, komunitas A dan C tidak berkenan. Nah kalau kemudian dimunculkan nama Muhammad Hatta menurut prediksi kita,  bisa disepakati semua pihak. 

Mari kita menempatkan nama besar Bung Karno dalam bingkai dan tempat yang sepadan. Sudah ada stadion terbesar di tanah air bernama Gelora Bung Karno sebagai contoh yang sesuai. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Bung Karno dan Bung Hatta adalah marwah terbesar dan tak tergantikan sepanjang masa. The founding father bagi negeri kepulauan tropis nan indah permai ini. Mari kita renungkan bersama dengan mata hati yang jernih saudaraku yang dirahmati Allah.

****

Jagarin Pane /15 Juni 2022