Saturday, January 15, 2022

Mengemban Harapan 2022

Geger batubara internasional mengharuskan Xi Jinping berkomunikasi dengan Jokowi via saluran telepon pekan ini. Artinya batubara Indonesia mampu menggoyangkan ketahanan energi negara setangguh China ketika tiba-tiba Presiden Jokowi menutup seluruh keran ekspor batubara seminggu lalu. Padahal RI-1 sedang marah soal suplai batubara untuk PLN yang menipis karena pengusaha batubara ingkar janji memenuhi kuota untuk PLN. Mereka habis-habisan mengekspor batubara yang harganya sedang melangit. Kewajiban kuota untuk PLN ditinggalkan karena selisih harga yang besar. Keterlaluan.

Pada saat yang bersamaan geger soal pengadaan satelit militer mengemuka. Dan ini menimbulkan kerugian negara ratusan milyar. Tidak usah dijelaskan secara detail karena sudah dijelaskan Menko Polhukam dan akan diusut tuntas proses yang terjadi di tahun 2015 itu. Pengadaan satelit militer sebenarnya merupakan kebanggaan nasional namun prosedural soal anggaran yang belum tersedia saat itu menjadi asal muasal keruwetan dan menyebabkan Indonesia membayar denda ratusan milyar. Kemudian soal dugaan korupsi pengadaan helikopter AW101 yang di mark-up 220 milyar sedang didalami kembali oleh Panglima TNI saat ini. Kasusnya dihentikan Puspom TNI dan masih mengendap di KPK.

Barusan TNI AL mendapat 2 kapal perang baru yaitu KRI Golok 688 dan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kedua kapal perang ini buatan dalam negeri. KRI Golok 688 hasil karya PT Lundin Banyuwangi merupakan kapal perang striking force trimaran stealth. Dirancang sebagai kapal berdesain siluman yang mampu menggotong rudal anti kapal permukaan. Sebuah karya anak negeri yang membanggakan. Demikian juga dengan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 dari jenis LPD Rumah Sakit hasil karya BUMN strategis PT PAL. Sejauh ini PT PAL telah sukses membangun 6 kapal perang jenis LPD untuk TNI AL dan 2 unit untuk angkatan laut Filipina.

Tiga peristiwa diatas menjadi catatan kita di awal tahun 2022 yang basah kuyup dengan siraman hujan merata. Soal China yang kelabakan ketika kita menyetop ekspor batubara selama seminggu sesungguhnya menggambarkan saling ketergantungan yang menguntungkan antar negara. Meski negeri itu punya musuh banyak karena mengklaim sana sini termasuk soal perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Natuna, nyatanya China tidak bisa lepas soal kebutuhan dari saling ketergantungan satu sama lain. Apalagi jika konflik di Selat Taiwan, Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS) pecah maka hancur leburlah seluruh tatanan kehidupan dan kesejahteraan ummat manusia. Sudah tahu dampaknya mematikan seluruh peradaban tapi masih juga bersikukuh kaku. Mengapa tidak mengedepankan semangat berbagi bersama dan kerjasama untuk kesejahteraan. Mengapa tidak pasang wajah ramah sih.

Terbukanya borok pengadaan satelit militer di tahun 2015 sungguh sangat memalukan. Langkah tegas Menko Polhukam patut kita apresiasi dengan kinerjanya yang mulai menunjukkan taring terutama soal hukum. Rincian publikasi yang begitu jelas memberikan arah bagi kita secara runtun bahwa telah terjadi mis manajemen, salah prosedural dan sangat tergesa-gesa dalam  prosedur pengadaan satelit militer yang anggarannya belum tersedia. Padahal masih tersedia waktu pengisian slot orbit satelit selama tiga tahun sejak satelit Garuda I keluar orbit pada bulan Januari 2015. Kerugian ratusan milyar karena Indonesia dikenakan denda oleh arbitrase  Inggris dan Singapura.

Sementara itu Kementerian Pertahanan terus melaju dalam upaya menyegerakan ketersediaan sejumlah alutsista untuk TNI. Setelah serah terima KRI 991 dan KRI 688 diprediksi sepanjang tahun 2022 ini akan banyak berita yang menggembirakan untuk penambahan dan pengembangan alutsista TNI. Dan prediksi itu tidak perlu kita rinci satu persatu karena netizen forum militer sudah bisa menebaknya. Kita hanya berharap kabar baik itu jelas dan cepat. Kita sebenarnya berpacu dengan waktu  untuk segera menyediakan pasokan alutsista strategis. Filipina adalah satu contoh bagaimana sebuah pemerintahan mengambil langkah extra ordinary untuk memperkuat militernya. Syarat dan ketentuan berlaku: tidak pakai lama.

Percepatan pengadaan alutsista tentu harus tetap prosedural agar tidak terulang kasus seperti pengadaan satelit militer. Juga ketat dalam spek teknis dan finalisasi price alias yang wajar-wajar saja dan transparan. Ini yang sedang dibenahi Kemenhan, percepatan dan prinsip kehati-hatian. Dua hal yang menjadi rambu utama pengadaan alutsista G to G.  Kemenhan sedang membangun mekanisme, juga sedang disibukkan dengan kasus pengadaan satelit militer. Pada dimensi lain Kemenhan dituntut untuk menyegerakan kedatangan alutsista strategis, karena iklim kawasan LCS tidak lagi nyaman hari-hari ini dan hari-hari mendatang. 

Mengemban harapan di tahun 2022 untuk menjaga stabilitas kawasan adalah memperkuat diplomasi dan silaturrahim antar negara di Indo Pasifik.  Saling menyapa antara petinggi negara seperti perbincangan diplomatik Presiden Jokowi dan Presiden  Xi Jinping soal ekspor batubara barusan. Termasuk upaya diplomasi Indonesia untuk mendekatkan dan mendinginkan Pakta Aukus dengan China. Kedua pihak, Aukus dan China ini dalam pandangan kita bercorak "teguh dalam keakuan, angkuh dalam bergaul, dan sedang berebut pengaruh". Yang mengemuka kemudian adalah diplomasi militer, pamer kekuatan, saling menggertak. Lucunya arena pamer dan saling gertak ada di halaman komplek perumahan yang selama ini rukun damai.

*****

Jagarin Pane / 15 Januari 2022

Tuesday, December 28, 2021

Memeluk Rafale Meminang Eagle

Netizen forum militer Indonesia sesungguhnya tidak begitu peduli soal isian dan merek alutsista strategis matra udara. Yang penting segera terisi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Itu sebabnya kita ikut mengkritisi mengapa begitu bertele-telenya proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 buatan Rusia beberapa tahun yang lalu. Anggaran sudah disediakan. Mula-mula disebut akan beli 8 SU35 lalu diumumkan lagi akan beli 11 SU35. Tapi tetap slow motion menuju kontrak efektif.  Sampai akhirnya berlaku UU CAATSA dari AS sebagai "hukuman" kepada Rusia atas aneksasi semenanjung Crimea milik Ukraina.

Akhirnya jet tempur tangguh Sukhoi SU35 batal kita miliki secara resmi dua hari lalu, sebagaimana dijelaskan KSAU. Dengan demikian hilang terbuang durasi waktu antara pesan dan datang pembelian alutsista gahar ini selama 5 tahun terakhir. Kita kembali ke titik nol. Harapan untuk mendapatkan SU35 pupus sudah padahal infrastruktur skadron jet tempur tulang punggung ini sudah disiapkan.  Bahkan 3 jet tempur Sukhoi SU27/30 dari Hasanuddin AFB telah diserahterimakan sebagai isian Skadron 14 Iswahyudi AFB. Semua dalam rangka mengisi kekosongan jam terbang pilot yang sudah disiapkan untuk kehadiran SU35. Ternyata yang dirindukan tak pernah datang.

Ada kabar baik seiring dengan pupusnya asa mendapatkan SU35. Kontrak efektif pengadaan jet tempur dual engine Rafale made in Perancis edisi terkini sudah diambang pintu. Kabar yang berhembus jumlahnya kemungkinan dikurangi atau dibagi 2 batch. Batch satu untuk 12-18 Rafale, batch berikutnya juga 12-18 Rafale. Tidak masalah, yang penting "peluk dulu lalu ajak akad nikah".  Karena kita sudah kehilangan waktu 5 tahun akibat Sukhoi SU35 tidak jadi datang. Ditambah lagi jika kontrak efektif Rafale diteken sebentar lagi, masih perlu durasi waktu 5-6 tahun menunggu kedatangannya. Karena kita pesan yang edisi terkini, jadi harus antri sampai tahun 2027 paling cepat. Jadi ada durasi 10 tahun untuk mendapatkan jet tempur strategis dihitung sejak tahun 2017.

Demikian juga dengan jet tempur F15 Eagle II dari AS. Kedatangan Menlu AS belum lama ini salah satunya untuk memastikan pinangan Indonesia disetujui. Meskipun begitu masih panjang proses yang harus dilalui untuk menghadirkannya di tanah air dengan sejumlah syarat. Jet tempur ini jika sudah datang dan berduet dengan Rafale akan menjadi kekuatan pengawal yang bertaring untuk berhadapan dengan jet tempur China. Jika yang dihadapkan adalah jet tempur Sukhoi SU35 maka China punya kartu truft pesawat jenis ini. Dan China pasti tahu jeroannya. Artinya tidak pas juga jika jet tempur Sukhoi SU35 kita yang batal itu ditandingkan dengan merek yang sama dengan punya China.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Kemenhan. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendalanya. Sementara kita sangat membutuhkan alutsista strategis matra laut dan udara secepatnya. Harus ada prioritas untuk mendapatkannya meski jumlah dikurangi. Misalnya perolehan jet tempur Rafale. Tidak mengapa. Yang penting harus ada kontrak efektif untuk memastikan proses pembuatannya. Juga kontrak efektif kapal perang heavy frigate selain Iver Class. Tidak perlu sekaligus diteken semua. Tahap pertama, cukup 2 unit dulu dari Fincantieri. Yang penting pasti dan pasti itu penting sebagai unjuk kinerja.

Termasuk apakah dimungkinkan jika kita dipinjami dulu atau sewa 4-6 jet tempur Rafale untuk ditempatkan di Supadio AFB atau Natuna. Tinggal lobby pemerintah Perancis karena skema pengadaan Rafale adalah G to G, antar pemerintah. Hitung-hitung untuk memfamiliarkan atau membiasakan menggunakan jet tempur Rafale yang lincah itu. Masih lama menunggu sampai tahun 2027. Sementara dinamika Laut China Selatan (LCS) dipastikan akan semakin semrawut tahun-tahun mendatang kecuali jika China tobat dan sadar diri. Tapi jelas tidak mungkin. Ambisi penguasaan teritori China adalah untuk menguasai potensi sumber daya energi fosil yang ada di LCS demi masa depan rakyatnya yang berjumlah milyaran.

Demi marwah kedaulatan teritori, Indonesia harus mempercepat proses pengadaan alutsista. Tidak bisa tidak. Disamping terus menerus melakukan diplomasi cerdas dengan basis kerjasama ekonomi yang simbiosis mutualistis. Bukankah dunia kita saat ini sudah saling ketergantungan satu sama lain. Tidak bisa kita mengandalkan egoisme bernegara di dunia yang sudah satu networking ini. Maka diplomasi yang terus menerus akan menjadi jembatan silaturrahim antarnegara, salah satunya untuk mengurangi ketegangan di kawasan.

Memperkuat pertahanan negeri juga merupakan bagian dari strategi diplomasi. Dan saat ini kita sangat menantikan kehadiran sejumlah jet tempur fighter, kapal perang kelas berat, kapal selam gahar, berbagai jenis peluru kendali jarak sedang dan jauh untuk mengawal dan mempertahankan teritori kita. Ancaman terhadap kedaulatan teritori sudah nyata, di depan mata dan terang benderang, bukan lagi cerita fiksi. Siapa tahu tiba-tiba saja cuaca di LCS menjadi ekstrim dengan gelombang kejut berkarakter tsunami. Kita harus siap dengan kondisi ekstrim itu. Dan caranya harus mempunyai alutsista gahar secepatnya.

****

Jagarin Pane / 27 Desember 2021

Saturday, December 18, 2021

Ramai Berkunjung Ramai Bermanuver

Ada pemandangan tidak biasa yang menarik sepanjang bulan duabelas ini. Indonesia kedatangan berbagai delegasi negara sahabat. Ada yang dari AS,  Denmark, Perancis, Inggris, Rusia, Norwegia, Ceko, Polandia, India. Kunjungan beruntun tamu asing terhormat pejabat tingkat tinggi itu mulai dari Menlu, Wamenlu, Menhan sampai Duta Besar. Dan negara-negara itu adalah produsen alutsista tentu membawa misi beragam dan temanya pasti soal kerjasama pertahanan dan alutsista. Mereka datang bergelombang mengunjungi Jakarta, Surabaya dan Bandung. Bahkan ada yang datang serentak, dari AS dan Rusia.

Sementara dinamika di halaman bersama rumah besar ASEAN menjelang akhir tahun ini memberikan pemandangan mendung kelabu. Menggambarkan cuaca tidak cerah, tidak bersahabat. Hiruk pikuk berkepanjangan di Laut China Selatan (LCS) sudah memberikan persepsi luas di seluruh dunia bahwa kawasan ini adalah titik panas konflik berdurasi jangka panjang yang bisa menjadi pemicu pertempuran dahsyat di masa mendatang. LCS telah menjadi panggung besar rutinitas militer yang mempertontonkan pameran kekuatan bersenjata di permukaan laut, di dalam laut dan di udara.

Belum ada seminggu yang lalu angkatan laut dari 7 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Brunai) melakukan latihan tempur laut ARNEX bersama dengan angkatan laut Rusia di perairan Sumatera Utara dan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan angkatan laut Filipina juga mengadakan latihan perang dengan Pakistan di laut Filipina. Sementara itu beberapa kapal perang dan kapal Bakamla Indonesia istiqomah mengawal pekerjaan eksplorasi Migas di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Natuna Utara (LNU) yang diprotes dan didatangi kapal perang China. Juga di Ambalat ada KRI Raden Eddy Martadinata 331 bersama 4 KRI lainnya dengan dukungan 6 pesawat tempur Super Tucano dan 4 jet tempur T50 melakukan operasi gugus tempur laut interoperability berkesinambungan.

Menlu AS berkunjung ke Jakarta,  pastilah membawa misi penting untuk menarik Indonesia masuk dalam "pelukan dan pengaruhnya". Momennya adalah soal protes dan keberatan China terhadap pengeboran minyak di ZEE sah indonesia di LNU.  Sekaligus mengerahkan kapal perang dan coast guardnya disana selama berbulan-bulan. Sebuah contoh perilaku yang tidak menghargai code of conduct di LCS yang juga didengungkan Beijing. Tentu AS dengan kecerdasan dan kecerdikan berbasis hegemoni menangkap peluang itu. Dan Jakarta menerima kunjungan Anthony Blinken sebagai bentuk manuver diplomatik sebab akibat. Bahasa lugasnya begini: kalau ente mau menang sendiri jangan salahkan kalau kami will not neutral again. Tentu semua tahu siapa yang dimaksud.

Saat ini dan seterusnya sudah berlaku hukum pantang sepi di LCS. Selalu ada kabar harian iringan kapal perang berlalu lalang diantara ramainya kapal niaga yang melintas di perairan strategis ini. Termasuk kapal selam. Kapal perang dan coast guard China rutin melakukan patroli, provokasi, unjuk gigi, berkeliling LCS karena dia merasa lapak itu milik nenek moyangnya. Maka dijawab dengan diplomasi militer juga. Armada kapal perang AS, Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, India, Pakistan, Rusia juga mengambil bagian bermanuver di LCS atas nama hukum laut internasional dan kebebasan navigasi.

Protes China soal eksplorasi Migas di ZEE sah Indonesia ditanggapi KSAL dengan bahasa militer. Kita tidak gentar dan tidak ada satu yard pun teritori kita yang boleh diambil, tidak ada tawar menawar untuk urusan kedaulatan dan kehormatan NKRI. Sebuah ungkapan tegas dan membahana. Dan manuver berikutnya adalah KRI Malahayati 362 sebuah korvet anti kapal selam yang baru saja dimutakhirkan instrumen tempurnya, mengekspos tugasnya menjalankan misi pengawasan dan pengamanan submersible drilling platform. Melakukan pengawalan dan berkomunikasi dengan perusahaan pengeboran Migas di ZEE 77 mil di LNU. Bahasa militer dilanjut dengan manuver kapal perang.

Apa yang kemudian menjadi catatan kita adalah memberikan nilai plus untuk kepiawaian manuver diplomatik dan manuver militer yang baru dilakukan. China bagaimanapun telah menambah musuh baru yang terkait dengan klaim "lidah naganya". Pengiriman kapal perang China ke ZEE LNU dan dilanjut dengan protes diplomatik dicuekin Indonesia. Dia kirim coast guard kita kirim kapal Bakamla. Dia kirim kapal perang, kita kirim kapal perang. Sepadan kan. Tidak ada negosiasi soal itu, pengeboran berlanjut terus sampai sekarang. Tak lama kemudian Menlu AS datang, gayung pun bersambut meski tak perlu jual pernyataan. Itu cukup sebagai bahasa diplomasi.

Demikian juga soal kunjungan "bertubi-tubi" delegasi itu, kita sangat mengharap ada realisasinya. Jangan hanya ramai berkunjung dan ramai dikunjungi lalu to be countinued, when? Sudah jelas infeksi virus LCS itu sulit disembuhkan kecuali dengan menambah kapasitas imunitas pertahanan diri. Percepatan penambahan imunitas ini mutlak diperlukan, prioritas dan bersifat extra ordinary. Kepastian kontrak definitif pengadaan alutsista strategis menjadi penantian dan harapan bersama. Jangan sampai timbul kesan maunya banyak tapi bertele-tele. Maksud hati ingin memeluk gunung apa daya gunung Semeru meletus. Mau beli segudang tapi gudangnya belum ada. Kita ingin negeri ini punya alutsista berdaya gentar karena kita ingin mengumandangkan lagu maju tak gentar membela yang benar. Maju tak gentar tentu harus punya alutsista gentar, itu logikanya.

****

Jagarin Pane /18 Desember 2021

Monday, December 13, 2021

On Progress, Network Centric Warfare

Militer Indonesia saat ini sedang membangunkemembangkan sistem manajemen pertempuran modern terintegrasi. Konektivitas antar matra, intra matra dan unit-unit didalamnya diselaraskan sehingga diharapkan dapat memberikan kemampuan integrasi operasional dengan teknologi digital dalam doktrin perang modern. Software infrastruktur militer ini diprediksi rampung pada tahun 2023.

Nama program network digitalnya dikenal dengan C4ISR singkatan dari Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance and Reconnaissance. Perusahaan software dari Yunani SCYTALYS yang dipercaya Kemenhan RI membangun C4ISR, sudah berhasil membangun software interoperability network di Jepang dan Korea Selatan. Jadi kita yang ketiga neh.

C4ISR dibangun untukmemperkuat interoperabilitas antar satuan tempur TNI_AD, TNI_AL dan TNI_AU dalam satu komando dengan saling menghubungkan berbagai jenis alutsista yang memiliki berbagai macam data link. Aneka ragam alutsista kita seperti Sukhoi, F16, Fa50, Hawk, Super Tucano, Nassam, Oerlikon Skyshield, Astross, Nexter, kapal perang, kapal selam, radar, UAV harus bersinergi. Dalam sistem operasi militer di medan perang, semua platform terintegrasi ke markas komando. Sekaligus mengeliminasi friendly fire. Kan gak lucu dalam perang modern kok nembak konco dewe.

C4ISR memberikan kualitas sistem manajemen pertempuran modern, kombinasi jet tempur, UAV, radar, kapal perang, kapal selam, peluru kendali, dengan kinerja pertempuran yang lebih luas, jika dibandingkan Battle Management System (BMS) yang ruang lingkupnya lebih kecil. TNI AD sudah punya BMS lho, bisa kita lihat ketika beberapa kali melakukan latihan militer skala brigade. Satuan infantri, artileri, kavaleri, roket, peluru kendali, penerbad sukses melakukan uji interoperability antar batalyon.
****
Jagarin Pane

Friday, December 3, 2021

Apa Dia Bilang, Apa Kubilang

Akhirnya kan terjadi juga, cepat atau lambat. Apa dia bilang, apa kubilang. Dia bilang laut kita miliknya terus kubilang betulkan. Sudah lama aku mau bilang pada saatnya dia akan bilang laut itu punya dia. Bocoran surat diplomatik akhirnya merembes juga dan disebarluaskan kantor berita Reuters. Cepat atau lambat China akan berkata jelas pada kita, bahwa nine dash line nya memotong zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Indonesia di Laut Natuna Utara (LNU). Lalu China bilang pada kita agar pengeboran gas di kawasan nine dash line nya dihentikan. Dan yang lebih mengherankan mengapa China keberatan dengan latihan militer gabungan Indonesia-AS.  Padahal pada waktu yang bersamaan secara estafet dan paralel militer AS melakukan latihan militer dengan Australia, dengan Filipina juga dengan Jepang.

Sebenarnya sejak awal latihan militer skala besar yang diberi nama Garuda Shield antara TNI AD dan US Army di Baturaja Sumsel, Ambawang Kaltim dan Makalisung Sulut Agustus 2021 yang lalu, diyakini membuat wajah Beijing masam. Dan terbukti kan. Kalau kita memantau detail teknis latihan militer skala besar itu yang melibatkan 1 brigade pasukan masing-masing negara, ini adalah latihan militer bertema counter attack, high class network centric warfare antara AS dan Indonesia. Salah satunya adalah mobilitas besar pasukan raider lintas udara kedua negara diberangkatkan dari Guam AFB di Pasifik dengan 9 pesawat angkut besar C17 Globemaster III milik AS langsung diterjunkan ke Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Luar biasa. Pasukan Indonesia diberangkatkan ke Guam lebih awal, tiga minggu sebelum penerjunan untuk penyesuaian dan koordinasi.

Garuda Shield sebenarnya sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Dan tahun ini adalah yang terbesar dengan kekuatan 5.000 prajurit kedua negara beserta sejumlah alutsista canggih. Mengapa baru sekarang diributkan China. Dan ketika negeri itu mengerahkan puluhan jet tempur dan pesawat pengebom nuklir melintasi ADIZ (Air Defence Identification Zone) Taiwan untuk memprovokasi, bukankah itu sebuah manuver militer yang membahayakan perdamaian. Dan China melakukan itu berkali-kali. Mana yang lebih  kasar diplomasi militernya antara mengerahkan puluhan jet tempur ke ADIZ Taiwan, "mengambangkan" kapal selam di selat Taiwan atau latihan militer Garuda Shield.

Keberatan China soal pengeboran minyak di Natuna dan latihan militer Garuda Shield dengan bahasa diplomatik menggertak tidak dijawab oleh Kemenlu RI. Setidaknya itu bunyi publikasinya. Ini sebuah sikap yang diniscayakan berkarakter wibawa. Dan memang harus begitu. Karena jelas sesuai konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982 hak berdaulat perairan ZEE Natuna dimiliki sah Indonesia. Harus dibedakan antara hak berdaulat di 200 mil ZEE dengan kedaulatan teritori 12 mil dari pantai. Kedaulatan teritori adalah hak mutlak pemilik teritori sedangkan hak berdaulat di ZEE, kapal-kapal asing bebas melintas namun tidak boleh mengambil sumber daya yang ada di ZEE.

Agak berlebihan kemudian jika China keberatan soal latihan militer kita dengan Paman Sam. Sementara angkatan laut China sesuka hati wira wiri di Laut China Selatan (LCS), apalagi kapal selamnya. Bisa saja kapal selamnya sudah memetakan selat Sunda, selat Malaka atau selat Lombok di jalur laut strategis ALKI 1 dan 2. Sudah tidak terhitung militer China memprovokasi Vietnam, Filipina dan Malaysia. Termasuk Indonesia. Eksplorasi dan pengeboran gas di ZEE Natuna "ditungguin" kapal coast guard dan kapal perang China berbulan-bulan sejak Juni 2021. Indonesia juga mengirim beberapa KRI dan kapal BAKAMLA untuk mengawal eksplorasi yang dilakukan perusahaan minyak Rusia dan Inggris. Eksplorasi jalan terus.

Dinamika diplomatik dan pengerahan kekuatan militer di LCS tentu menguras energi diplomasi dan sumber daya alutsista. Sementara Indonesia selama ini selalu berupaya bersikap netral manakala klaim China menggerus ZEE beberapa negara jiran. Dan ketika nota diplomatik China dilayangkan untuk pertama kali soal keberatannya terhadap eksplorasi gas di ZEE Natuna juga soal latihan Garuda Shield, mau tidak mau mengharuskan kita untuk mengambil sikap tegas, tidak netral lagi. Kita sudah satu barisan dengan Malaysia, Vietnam dan Filipina. Apalagi soal Garuda Shield sangat tidak pantas ada negara lain keberatan. Ketika China mengadakan latihan militer skala besar dengan Rusia setelah Garuda Shield tidak ada satupun negara di Indo Pasifik yang keberatan, terganggu dan protes. 

Pesan kuat secara militer dari dinamika terakhir ini adalah bersiap menghadapi segala kondisi terburuk.  Termasuk deklarasi Pakta AUKUS antara tiga negara "anglo saxon" Australia, Inggris dan AS. Pakta militer ini adalah jawaban strategis dan jangka panjang untuk memagari hegemoni militer regional China di Indo Pasifik. Aliansi AUKUS adalah rival setara untuk membendung ambisi China terhadap penguasaan teritori yang kaya energi tak terbarukan. Bagi Indonesia percepatan pengadaan alutsista strategis seperti kapal perang heavy frigate, kapal selam, jet tempur, uav, radar, peluru kendali jarak jauh adalah jawaban secara militer.

Semua yang dibutuhkan ini adalah investasi bidang pertahanan untuk menjaga dan melindungi eksistensi negara bangsa. Sama halnya ketika kita bicara soal investasi bidang ekonomi. Muaranya sama untuk eksistensi negara bangsa. Investasi atau pembangunan bidang ekonomi adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Investasi bidang pertahanan adalah untuk mengawal kesejahteraan dan kemakmuran. Dua-duanya harus seiring sejalan. China sudah bilang dia keberatan maka kita juga bisa bilang: kami juga keberatan kalau sampeyan keberatan.

****

Jagarin Pane / 3 Desember 2021

Saturday, November 20, 2021

Serial Kabar Baik Sepanjang Tahun Ini

Penambahan alutsista TNI berjalan terus. Barusan ada kabar baik dari Dubai Air Show. Indonesia resmi memesan 2 pesawat Airbus A400M multi fungsi untuk TNI AU dengan opsi bisa menambah 4 unit lagi. Ada pertanyaan mengapa kita beli pesawat ini, bukankah kita sudah teken kontrak 5 unit Super Hercules.  Dan bahkan kita sudah punya 30an Hercules di 3 skadron angkut berat JMM (Jakarta, Malang, Makassar). Pesawat A400M bisa difungsikan sebagai pesawat tanker refueling jet tempur di udara, bisa untuk angkut dan dropping pasukan dan alutsista, bisa juga untuk pemadam kebakaran hutan. Lebih dari itu pembelian ini diniscayakan sebagai bargaining position agar produksi CN 235 di PT DI bisa "berdikari" lepas dari induknya.

Saat ini 14 pesawat jet latih tempur T50 Golden Eagle sedang dalam proses pemasangan instrumen radar tempur dan rudal. Golden Eagle sudah menjadi inventori skadron 51 yang baru dibentuk di Natuna, mengawal teritori udara bersama skadron 51 UAV di Supadio AFB. Dan kita sudah teken kontrak untuk menambah lagi 6 unit T50 dengan Korsel. Sementara itu dari 10 jet tempur F16 blok 15 yang di upgrade instrumen tempurnya di skadron teknik Iswahyudi AFB, 5 unit sudah terbang dan mampu berkelahi jarak jauh, diluar jangkauan visual, berkat daya endus radar canggihnya dan punya rudal AMRAAM. Nilai istimewa dari paket ini adalah teknisi TNI AU diberi kepercayaan penuh untuk membedah jeroan F16 oleh produsen Lockheed Martin AS. Sebuah model transfer teknologi yang tepat guna tanpa banyak cingcong.

Kalau mau diurai, banyak serial dan episode yang menggembirakan soal perkuatan alutsista TNI sepanjang tahun ini. Kontrak efektif pembangunan 2 kapal perang heavy frigate Arrowhead sudah berjalan. PT PAL sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Pembangunan kapal perang terbesar ini akan menjadi catatan tinta emas bagi Indonesia, utamanya PT PAL karena inilah pembangunan kapal perang yang belum ada contohnya yang sudah jadi di Babcock Inggris, dibangun di galangan kapal Indonesia dengan lisensi penuh. Banyak tenaga ahli dan ribuan pekerja yang terserap di proyek strategis ini. PT PAL yang sedang konsentrasi dengan berbagai paket pembangunan kapal perang dan kapal selam "melimpahkan" sebagian ordernya alias bersinergi ke PT Lundin Banyuwangi utamanya untuk pembangunan kapal cepat rudal. Lundin saat ini sedang menyelesaikan sea trial KRI Golok 688 berkarakter trimaran dan stealth. Sebuah improvisasi dari industri pertahanan swasta dalam negeri yang patut diacungi jempol.

Beberapa galangan kapal swasta nasional saat ini sedang tekun dengan proyek masing-masing. Di Lampung sedang dikerjakan pesanan 2 kapal perang OPV (Offshore Patrol Vessel). Ini untuk pertama kalinya PT Daya Radar Utama Lampung dipercaya Kemenhan membangun 2 kapal perang striking force. Sebelumnya PT DRU sukses membangun 5 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank).  Di Batam saat ini sedang dikerjakan pembangunan 2 kapal perang LST dan kapal-kapal BAKAMLA. Galangan kapal swasta nasional di Batam sukses membangun kapal cepat rudal Clurit Class sebanyak 8 unit. Di Banten saat ini sedang dikerjakan produksi beberapa kapal patroli cepat baik untuk ukuran KRI maupun KAL.

Sementara PT PAL saat ini sedang menyelesaikan overhaul KRI Cakra 401, pembangunan 2 kapal LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit, pembangunan 2 kapal cepat rudal dan upgrade KRI Usman Harun 358. Nah, yang luput dari perhatian kita saat ini adalah proses pembangunan 2 kapal perang jenis penyapu ranjau "Frankenstein Class" buatan Abeking Rasmussen di Jerman. Juga proses pembuatan 7 pesawat amfibi CL415/515 buatan Viking Air Kanada untuk TNI AU yang dipesan beberapa tahun lalu. Pesawat amfibi ini juga multi fungsi, salah satunya untuk pemadam kebakaran hutan. Diharapkan tahun depan secara bertahap pesanan alutsista ini sudah mulai berdatangan.

Di matra darat PT Pindad setelah sukses memproduksi ratusan panser Anoa, juga sukses memproduksi panser Badak, sudah pula lulus uji kelaikan dari Kemenhan. Pada saat yang bersamaan saat ini PT Pindad sedang memproduksi belasan tank Harimau pesanan TNI AD. Prediksi ke depan tank Harimau akan menggantikan ratusan tank AMX 13 buatan Perancis yang sudah mengabdi cukup lama. Produksi PT Pindad lainnya adalah rantis Maung, ranpur Komodo, ranpur Cobra, ranpur Sanca dan lain-lain. Pindad bersama beberapa institusi Litbang lainnya saat ini sedang mengembangkan roket R-Han 450 yang punya jarak tembak 100 km.

Indonesia dan Korsel baru saja menyepakati kelanjutan proyek prestisius pengembangan jet tempur KFX / IFX.  Proyek ini sempat terhenti karena pandemi dan hal-hal teknis lainnya. Jika semuanya berjalan normal maka kita akan mendapat bagian memproduksi 48 jet tempur canggih dalam rentang waktu 8 sampai 10 tahun ke depan. Paket kerjasama teknologi jet tempur ini sudah berjalan sejak sepuluh tahun yang lalu dan kita sudah berada di dua pertiga perjalanan panjang ini. Kunci dari durasi panjang kerjasama ini adalah konsisten dan sabar menanti meski banyak godaan untuk pindah ke lain hati. Pada ruang Litbang lainnya, Indonesia saat ini sedang mengembangkan teknologi pesawat udara nir awak atau UAV. Nama produknya Elang Hitam. Pesawat nir awak akan menjadi primadona manajemen pertempuran remote controle dan sangat efektif untuk melakukan misi pengintaian dan patroli. Diharapkan tahun depan Elang Hitam sudah bisa menjelajah langit Natuna.

Serial gembira dan membanggakan yang sedang ditunggu bersama adalah kontrak efektif pengadaan 36 jet tempur Rafale, 6 kapal perang heavy frigate Bergamimi Class dan kontrak awal pengadaan kapal selam. Ini yang berminggu dan berbulan menjadi headline dan diskusi hangat di forum militer tanah air. Rafale menjadi buah bibir karena sedang trending topic di pasar marketing sejumlah negara. Rafale adalah pelepas dahaga atas kehausan kita pada kurangnya jet tempur setelah nasib 11 jet tempur Sukhoi SU35 diterpa mendung tebal. Rafale adalah jawaban cemerlang dan kepiawaian Menhan Prabowo untuk memilih yang terbaik dan tidak neko-neko dengan sejumlah persyaratan non teknis. Perancis adalah produsen alutsista yang elastis dan akomodatif dengan persyaratan pembelian alutsista ke sejumlah negara.

Semua yang diamanahkan Kemenhan soal pengadaan alutsista skala besar ini sedang dalam proses dan perlu waktu. Pengadaan alutsista memerlukan mekanisme proses yang sistematis,rentang waktu untuk berbagai proses, negosiasi, spek teknis, teknologi, harga, lender dan lain-lain. Semuanya bertahap. Kita berharap pada akhir tahun ini sudah ada kabar yang menggembirakan dan membanggakan yaitu kontrak efektif pengadaan jet tempur Rafale dan kapal perang Bergamimi Class. Hitung-hitung sebagai kado akhir tahun yang membungakan hati. Semoga.

****

Jagarin Pane / 17 Nopember 2021

Monday, November 1, 2021

No Peace Without Strength

Mengapa Indonesia perlu memperkuat postur militernya, jawabnya seperti judul diatas, no peace without strength, tidak ada kedamaian tanpa kekuatan. Ini adalah bunyi pernyataan yang dikumandangkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Disamping itu perkuatan militer kita saat ini karena kita tertinggal dengan negara lain di kawasan. Luas teritori negeri kepulauan yang harus dilindungi membutuhkan kekuatan alutsista dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.

Program besar Menhan Prabowo membuka wawasan pertahanan nasional kita yang sampai saat ini ternyata masih rapuh. Angkatan Udara dan Angkatan Laut memerlukan percepatan ketersediaan alutsista strategis bernilai gentar. Dua hotspot Natuna dan Ambalat saat ini dan seterusnya memerlukan ketersediaan alutsista matra laut dan udara yang canggih. Pulau Kalimantan yang akan menjadi ibukota baru Indonesia saat ini hanya dipayungi 1 skadron jet tempur ringan Hawk di Supadio AFB. Padahal Kalimantan berhadapan langsung dengan 2 hotspot Natuna dan Ambalat.

Maka wajar saja ketika daftar belanja alutsista strategis TNI mengemuka di publik. Pengadaan 16 kapal perang heavy frigate canggih karena kita hanya punya 7 frigate dan 5 diantaranya sudah sepuh. Frigate Ahmad Yani Class yang 5 unit itu sudah terlalu lama mengabdi, sudah lebih setengah abad dari tahun pembuatannya 1967. Frigate TNI AL hanya 2 unit yang "milenial" dan terkini teknologinya yaitu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. 

Pengadaan 16 heavy frigate itu tidak beli murni tapi menggunakan metode transfer teknologi. Dua frigate Iver Class dengan desain Arrowhead Babcock Inggris sedang dibangun di PT PAL Surabaya. Serapan tenaga kerja dan tenaga ahli domestik menjadi catatan kebanggaan. Kemudian kontrak efektif pengadaan 6 kapal perang baru frigate Fincantieri Class bersama 2 kapal perang ready for use Maestrale Class diniscayakan menjadi angin segar spirit jalesveva jayamahe. Negara kepulauan sangat pantas mempunyai kapal perang heavy frigate.

Demikian juga dengan perkuatan angkatan udara kita. Saat ini kita punya 16 jet tempur Sukhoi SU27/SU30, dan 33 jet tempur F16. Penambahan kekuatan fighter sangat diperlukan. Luas teritori dirgantara kita terluas di ASEAN harus mampu dimarwahkan kedaulatannya dengan ketersediaan jet tempur baru seperti Rafale dan F15 Eagle sebagaimana publikasi yang beredar.  Namun dalam pandangan kita untuk rencana pengadaan jet tempur F15 Eagle dari AS akan lebih efektif jika kita menambah inventori jet tempur F16 Viper. 

Kita sudah lama dan sangat berpengalaman dalam mengoperasikan "keluarga" F16. Sejak tahun 1990. Apalagi saat ini insinyur dan teknisi kita sudah mampu melaksanakan overhaul F16 dari teknologi lawas menjadi F16 dengan teknologi terkini. Sanggup bertarung di udara secara beyond visual range. Tenaga ahli dan teknisi TNI AU sejauh ini sudah menghasilkan 5 unit F16 canggih dari 10 F16 blok 15 OCU yang direncanakan. Semuanya dikerjakan di Skadron Teknik Iswahyudi AFB dengan supervisi Lockheed Martin AS. 

Asal tahu saja bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang diberi akses transfer teknologi dari pabrikan Lockheed Martin. Taiwan yang lebih banyak jumlah F16 nya dari Indonesia dan sekarang menambah puluhan jet tempur F16 Viper tidak diberikan akses transfer teknologi. Artinya secara pemeliharaan dan logistik suku cadang lebih efisien dengan jet tempur F16. Menambah merek jet tempur setidaknya membuka kurikulum baru soal operasional dan pemeliharaan.

Jadi kombinasi Sukhoi, Rafale dan F16 sudah sangat baik dari sisi operasional, tidak banyak merek. Sukhoi dan Rafale double engine dan F16 single engine. Ideal menurut kita, syukur-syukur keluarga Sukhoi SU35 bisa dihadirkan memperkuat skadron Sukhoi. Penting juga dicatat agar proses pengadaan jet tempur baru tidak bertele-tele dan mudah pindah ke lain hati. Skadron tempur baru sudah dibentuk di Natuna. Isian pesawat tempurnya adalah T50 Golden Eagle buatan Korsel yang sudah dan sedang diinstal dengan radar ELM 2032 Elta Israel dan persenjataan rudal. Setidaknya Golden Eagle hari-hari ini mengisi ruang patroli udara di kawasan Natuna bersama skadron UAV.

Pernyataan Menhan Prabowo sebagaimana judul diatas adalah justifikasi kuat dan berlaku universal di diseluruh dunia. Lengkapnya adalah No prosperity without peace, but no peace without strength. Tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian tetapi tidak ada perdamaian tanpa kekuatan.  Ini pernyataan yang disampaikan Menhan ketika memberi pembekalan untuk penugasan Duta Besar Indonesia di luar negeri baru-baru ini.

Artinya pembangunan kekuatan ekonomi harus dikawal dengan pembangunan kekuatan militer. Kekuatan ekonomi produk domestik bruto Indonesia saat ini ada di urutan ranking 16 besar dunia. Nah ternyata kekuatan militer kita menurut GFP (Global Fire Power) juga berada di urutan 16 besar dunia.  Kita bangun terus perkuatan ekonomi kesejahteraan kita seirama dengan perkuatan militer, dua-duanya seiring sejalan. Kemakmuran tercipta dengan kedamaian dan kedamaian harus dijaga dengan kekuatan. Jelas kan.

****

Jagarin Pane / 31 Oktober 2021

Friday, October 15, 2021

Meniru Platform NATO-Pakta Warsawa

Indonesia masa depan suka tidak suka, mau tidak mau akan menjadi bagian dari palagan pertarungan militer super hebat dan spektakuler antara China dan AUKUS (Australia, United Kingdom, United States). Wilayah potensi konflik dahsyat di Indo Pasifik membuat perpindahan pergelaran kekuatan militer dari AS dan Eropa ke Asia Pasifik, dari Barat ke Timur. Ketika perang dingin, pergelaran kekuatan militer NATO dan Pakta Warsawa membelah Eropa, didominasi angkatan darat, karena bordernya daratan Eropa. Sementara AUKUS versus China didominasi angkatan laut dan udara. Platform AUKUS sama persis dengan NATO-Pakta Warsawa.

Gong telah berbunyi dan menghentak keras. Militer Indonesia harus berbenah dan bergegas cepat untuk menyesuaikan keikutsertaan takdir sejarah ini. Dua komponen sayap militer yang mutlak dipercepat kekuatannya adalah Angkatan Laut  dan Angkatan Udara. Tidak lagi memakai formula Minimum Essential Force tetapi menuju kepantasan untuk tampil "berkontestasi" sebagai peserta parade gengsi militer. Minimal mempunyai alutsista berteknologi yang sepadan dengan jamannya sebagai bagian dari ketahanan diplomasi militer. Meski tetap saja dianggap pelanduk oleh kedua gajah, China dan AUKUS.

Parade dan unjuk kekuatan kapal perang dan jet tempur di Laut China Selatan (LCS) sama sekali tidak terbayangkan sepuluh tahun lalu. Dan lihatlah sekarang betapa LCS sudah menjadi arena saling pamer otot militer para pihak. Tidak pernah sepi dari wira wiri alutsista laut dan udara. Barusan ada rombongan 4 kapal induk meramaikan LCS, dua dari AS, satu dari Inggris dan satu lagi dari Jepang. Dan untung saja kita tidak terlambat membangun pangkalan militer di Natuna. Sekarang sudah ada brigade komposit Gardapati yang mengawal Natuna dengan sejumlah KRI, UAV dan jet tempur.

Peristiwa kecelakaan kapal selam nuklir AS USS Connecticut barusan memberikan pesan kuat bahwa situasi bawah air LCS tidak lagi senyap. Patut diduga sudah ada infiltrasi dan pergerakan intelijen bawah air yang saling memantau dan membenturkan. Apalagi ternyata belum diketahui benda apa yang bertabrakan dengan kapal selam bertenaga nuklir itu di kedalaman LCS. Padahal kapal selam canggih AS memiliki teknologi sensor sensitif, proteksi berlapis dan early warning. Benturan cukup keras dan melukai belasan awak kapal Connecticut menandakan ada sesuatu yang menggelisahkan.

Perkuatan militer Indonesia saat ini dalam kondisi extra ordinary. Dalam waktu dekat segera ada kontrak efektif pengadaan 36 jet tempur Rafale, 24 jet tempur F15, 6 kapal perang heavy fregate Fremm Class, 2 kapal perang Maestrale Class. Sementara pembangunan 2 kapal perang heavy fregate Iver Class berlisensi dari Inggris sedang dalam proses awal pembangunan di PT PAL. Kita juga sedang bernegosiasi dengan Jerman untuk pengadaan kapal selam U214. Tentu ini langkah bagus karena Jerman adalah mahaguru teknologi kapal selam konvensional. Jika ini terwujud akan memberi "ruang pencerahan" untuk 3 kapal selam Nagapasa Class yang performansinya belum sesuai harapan. Nagapasa Class adalah U209 teknologi Jerman yang diproduksi "muridnya" Korsel. Langsung sajalah berguru ke mahaguru Jerman.

Sekilas jalan sejarah, NATO-Pakta Warsawa di masa perang dingin adalah pergelaran puluhan ribu tank, artileri, roket, peluru kendali, jet tempur bersama puluhan ribu prajurit siaga tempur di sepanjang garis batas Eropa Barat dan Eropa Tinur. Sementara Border AUKUS- China adalah pergelaran kapal induk, destroyer, fregat, kapal selam, peluru kendali jarak jauh, pesawat pengebom, uav, jet tempur. Kekuatan dominan adalah AL dan AU. Bedanya, NATO-Pakta Warsawa adalah pertarungan keroyokan para pihak masing-masing dipimpin oleh AS dan Uni Sovyet, melibatkan banyak negara Eropa sedangkan aliansi militer AUKUS-China adalah keroyokan melawan China. Tiga lawan satu.

Armada angkatan laut AS selama ini mendominasi Atlantik dan Eropa. Sekarang dua samudra dipegang, Atlantik dan Pasifik. Pengurangan kekuatan di Timur Tengah sudah berlangsung, termasuk menarik pasukan dari Afghanistan.  Karena untuk sekarang dan masa depan Indo Pasifik adalah pusat perhatian dan konsentrasi penuh militer AS. Wiilayah konflik ada di kawasan kita dan Indonesia secara geostrategis punya teritori terluas di Asia Tenggara. Sementara kita berselisih dengan China hanya soal ZEE 200 mil Laut Natuna Utara, bukan soal teritori kedaulatan 12 mil laut. Dan itu sama dengan perselisihan batas ZEE kita dengan Malaysia, juga dengan Vietnam di LCS. Tapi kan tidak heboh, biasa saja.

Maka sambil mempersiapkan kedatangan berbagai jenis alutsista canggih, keep calm, low profile, tetap tebar senyum persahabatan antara keduanya, AUKUS dan China. Sudah kita contohkan ketika kapal Coast Guard China dan kapal perangnya ngetem sebulan sepanjang September 2021 "nungguin" eksplorasi LNG di teritori ZEE Laut Natuna Utara. Kita kirim 3 kapal BAKAMLA dan 6 KRI tetap dalam kondisi siaga proporsional, kondusif. Pada saat yang sama konvoi kapal induk AS juga berlayar dengan gagah di sekitar lokasi eksplorasi. Artinya baik kapal-kapal China dan AS itu berada di wilayah ZEE Natuna dalam waktu yang relatif sama. Silakan tafsirkan sendiri.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2021

Sunday, October 3, 2021

Mengukus Dan Membungkus AUKUS

Dimana letak potensi konflik terbesar dan terhebat di dunia dengan durasi jangka panjang, jawabnya adalah Indo Pasifik. Ada tiga hotspot yang menjadi titik waspada dan titik awas yaitu Panmunjom Korea, Selat Taiwan dan Laut China Selatan (LCS). Dan diantara tiga titik panas itu yang paling panas adalah LCS. Dan salah satu yang terbaru dari gesekan di LCS adalah masuknya kapal survei bawah air China ke ZEE Natuna Indonesia dengan pengawalan beberapa kapal China Coast Guard (CCG) dan kapal perangnya. Ini adalah untuk pertama kalinya kapal survei bawah air China masuk wilayah ZEE Indonesia dan melakukan aktivitas pemetaan bawah laut hampir sebulan sepanjang September 2021.

Apa yang menjadi sebab, karena di wilayah ZEE itu sedang dilakukan ekplorasi perminyakan oleh perusahaan minyak Inggris dan Rusia. China merasa dia juga punya hak untuk melakukan hal yang sama di tempat yang sama. Maka kapal intelijen bawah air Haiyang Dizhi 10 dikerahkan dengan dikawal kapal CCG dan kapal perang. Indonesia segera merespon dengan mengirim 3 kapal BAKAMLA dan 6 KRI untuk memastikan ekplorasi gas dapat berjalan tanpa gangguan. Selama sebulan itu beberapa KRI kita mengawal proses  eksplorasi dengan dukungan kapal tanker logistik KRI Bontang 907 supaya KRI tidak kembali ke pangkalan AL untuk bekal ulang.

Sesungguhnya kita sedang mengelola situasi ngeri-ngeri sedap dinamika perseteruan jangka panjang di halaman depan rumah kita. Bagaimana kita bisa memastikan wilayah sah kita dapat terjaga dengan baik tanpa harus bermusuhan dengan negara yang sangat bernafsu dengan penguasaan wilayah kaya sumber energi. Bagaimana kemudian kita juga harus mengelola kehadiran Pakta AUKUS karena kita ada di tengah pusaran kedua blok militer raksasa itu yang punya kemampuan ofensif militer secara besar-besaran. Ini merupakan pekerjaan besar yang menyita waktu dan perhatian extra ordinary dari Kemenlu dan Kemenhan. Keduanya harus bersinergi kuat untuk menjaga situasi dan kondisi yang tetap kondusif. Termasuk "bergandengan tangan" dengan Malaysia, Filipina dan Vietnam, sesuatu yang belum terlihat kompak bersama. Ke empat negara ASEAN ini terkesan jalan sendiri-sendiri.

Kehadiran AUKUS adalah keharusan bagi pihak yang terancam supremasi dan hegemoninya. Dan dalam perspektif militer untuk melawan libido ekspansi China yang tidak mematuhi kaidah hukum laut internasional, AUKUS adalah jawabannya. Nah, untuk menjaga ritme perdamaian maka salah satu model diplomasi militernya adalah bersiaplah untuk perang. Perkuatlah kemampuan militer. Lahirnya Aliansi AUKUS ternyata memecah belah tatanan diplomasi sejumlah negara ASEAN. Indonesia dan Malaysia berpandangan relatif sama, mengkritisi AUKUS dan menjadi faktor pemicu perlombaan persenjataan. Singapura dan Filipina sebaliknya mendukung kehadiran dan prospek AUKUS, sementara Vietnam lebih memilih diam. 

Bagaimanapun AUKUS sudah menjadi takdir sejarah yang harus dihadapi. AUKUS yang sedang dikukus alias dipanasi oleh tiga negara "serumpun" Australia, Inggris dan AS, harus bisa kita bungkus dengan kecerdasan diplomasi. Caranya dengan mengedepankan dialog, diskusi, silaturrahim dan negosiasi yang terus menerus. Tidak boleh lelah, jangan pula lengah. Indonesia punya kesempatan besar diantara negara ASEAN lainnya karena posisi netralitasnya lebih mengemuka. Dengan China kita berkawan baik, investasi China banyak di Indonesia. Demikian juga dengan Australia, AS dan Inggris. Dengan Inggris kita baru teken kontrak lisensi pembangunan 2 kapal perang heavy fregate. Pengadaan ratusan peluru kendali Starstreak untuk batalyon Arhanud TNI AD juga dari Inggris.

Diantara berbagai jenis konflik yang terjadi setelah bubarnya Pakta Warsawa 31 Maret 1991 yang dikenal dengan berakhirnya perang dingin, konflik di Indo Pasifik adalah yang terbesar, kolosal, mengkhawatirkan dan mencemaskan. Konflik di tiga hotspot Indo Pasifik yang berkorelasi satu sama lain yang bermuara pada musuh bersama China adalah jawaban mengapa AUKUS dikukus. Termasuk aliansi QUAD yang melibatkan India, Australia, Jepang dan AS. Semuanya ditujukan untuk mengurung dan "membungkus" musuh bersama, China.

Perjalanan menjaga iklim demam berkepanjangan di LCS bagi Indonesia adalah kewajiban diplomatik yang penuh tantangan dan peluang, sekaligus mengasah kecerdasan diplomasi. Indonesia harus bisa membungkus potensi konflik paling mematikan ini dengan tetap teguh berdiri ditengah, tidak berpihak ke salah satu pihak. Soal ajakan untuk berpihak pasti ada, bahkan konon katanya untuk bisa mendapatkan 24 jet tempur F15 Eagle syarat tambahannya adalah agar menjauh dari "sono". 

Lucu juga ya, kita membeli alutsista dari AS sebenarnya untuk meyeimbangkan surplus neraca perdagangan karena kita mendapat fasilitas GSP (General Specialized Preference). Fasilitas keringanan bea masuk ekspor kita ke AS yang sudah puluhan tahun itu membuat surplus neraca perdagangan untuk kita. Jadi kalau tambah lagi persyaratannya mending Rafalenya Perancis yang diperbanyak. Apalagi kita sudah mengalah untuk "menunda tanpa batas" pesanan 11 jet tempur Sukhoi SU 35 dari Rusia karena menuruti CAATSA Paman Sam. Jangan mau didikte.

Kewajiban negara yang sangat penting dan mutlak adalah memperkuat otot militer dengan mendatangkan berbagai jenis alutsista strategis dan gahar. Adalah sebuah kepantasan kita bisa mendatangkan puluhan jet tempur, belasan kapal perang heavy fregate, kapal selam, UAV, peluru kendali dan lain-lain serta  mempunyai sistem manajemen pertempuran modern terintegrasi yang dikenal dengan network centric warfare. Itu semua sedang kita lakukan agar kita tidak dianggap anak bawang oleh pengklaim ZEE lalu seenaknya masuk pagar rumah tanpa kulonuwun. Kenapa harus ke dia, ya karena dia yang memulai cari gara-gara.

****

Jagarin Pane / 3 Oktober 2021

Thursday, September 23, 2021

AUKUS, Demi Supremasi Dan Hegemoni

Peta geopolitik dan geostrategis Indo Pasifik khususnya Asia Tenggara tiba-tiba menjadi hiruk pikuk dengan diumumkannya Deklarasi Aliansi AUKUS (Australia, United Kingdom dan United States) di Australia. Secara "BMKG", deklarasi ini jauh dari ramalan, perkiraan dan prediksi banyak negara termasuk kalangan intelijen. Bahkan sekutu NATO Perancis yang bertetangga dengan Inggris saja tidak mendengar kabar "bisik-bisik tetangga" soal AUKUS ini sebelum dideklarasikan.

Maka ketika Perancis akhirnya tahu soal deklarasi AUKUS, Paris marah besar dan merasa dikhianati. Pasalnya AUKUS punya program prioritas berskala besar dengan membangun 8 kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia. Sekaligus membatalkan kontrak pesanan 12 kapal selam konvensional dari Perancis. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari, begitu kira-kira peribahasanya. Maka wajah Presiden Emmanuel Macron murka, lalu menarik pulang Dubesnya dari Canberra dan Washington. Bayangkan kontrak alutsista senilai 50 milyar dollar hangus begitu saja.

Menghadapi kekuatan raksasa ekonomi dan militer China yang semakin menggurita, Australia bersama Inggris dan Amerika Serikat menyusun strategi militer out of the box. Tidak tanggung-tanggung Canberra sedang merancang benteng pertahanan berbasis pre emptive strike and long pass untuk menghadapi militer China. Membangun 8 kapal selam nuklir, menempatkan Tomahawk Cruise Missile di kapal perang destroyer Hobbart Class, melengkapi armada jet tempur stealth F35 dengan AGM-158 JASSM yaitu peluru kendali jarak jauh dari udara ke darat.

Padahal benua selatan itu sejatinya tidak berhadapan langsung dengan teritori negeri tirai bambu bahkan termasuk perairannya. Juga klaim nine dash linenya China di Laut China Selatan (LCS) tidak menyentuh teritori Australia. Masih ada rumah besar bernama Indonesia di depannya. Juga ada Malaysia, Filipina dan Vietnam. Kemudian sudah berjalan pula aliansi Quad empat negara yaitu AS, Jepang, Australia dan India untuk "mengurung" China. Maka menurut pandangan kita AUKUS ini lebih pas menyebut Australia rela berkorban untuk menguatkan kepentingan supremasi dan hegemoni "abang sepupunya" Paman Sam terhadap China.

Seperti permainan sepakbola, Australia yang berada jauh dibelakang garis tengah lapangan, sedang menyiapkan model tendangan jarak jauh, long passing langsung ke tiang gawang lawan. Serangan jarak jauh dengan peluru kendali balistik dan kapal selam nuklir menusuk ke jantung pertahanan lawan. Tiga sekutu "bersaudara" AS, Inggris dan Australia tidak bisa berharap banyak kepada Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina untuk menghadapi China. Padahal keempat negara ASEAN ini merupakan bumper terdepan dan berhadapan langsung dengan China di nine dash line.

Salah satu skenario pilihan AUKUS dalam letusan hebat konflik LCS jika terjadi, adalah dengan melakukan counter attack terhadap serbuan militer China  di LCS yang lebih dulu menyerang keempat negara ASEAN. Namun bisa saja pembentukan poros militer AUKUS ini sebagai salah satu formula diplomasi militer sebagai kekuatan penggentar terhadap China sehingga tidak berani memulai konflik terbuka di LCS. Termasuk juga dalam rangka menguatkan supremasi militer AS sebagai kekuatan nomor satu yang belakangan mulai dikejar China. 

Kita ketahui bersama saat ini antara AS dan China telah terjadi kejar mengejar ranking strategis untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar pertama di dunia. Perang dagang di berbagai sektor sudah terjadi. Dan sangat vulgar. Para analis ekonomi dunia memprediksi bahwa dalam lima tahun kedepan kekuatan ekonomi China akan menggeser posisi AS. Jadi aliansi AUKUS ini merupakan bagian dari pertarungan mempertahankan supremasi dan hegemoni secara ekonomi dan militer.

Bagi Indonesia aliansi militer segitiga AUKUS yang berbasis di Australia membuat kebijakan militer Jakarta yang selama ini fokus konsentrasi ke Utara harus kemudian membagi dan mewaspadai kekuatan besar di Selatan. Sudah kita ketahui ada ribuan marinir AS di Darwin Australia termasuk infrastruktur pangkalan AL dan AU serta radar over the horizon. AS juga punya pangkalan militer di Cocos Samudra Hindia, di Selatan Bengkulu.  Kelahiran AUKUS dianggap Jakarta sebagai pemicu semakin panasnya suasana konflik di kawasan LCS dan perlombaan penguatan militer. Dan palagan konflik ada di halaman rumah ASEAN.

Mengapa harus mewaspadai Selatan karena skenario "long pass" atau serangan jarak jauh dengan peluru kendali balistik termasuk pengerahan jet tempur siluman F35 pasti akan melewati pulau Jawa, jantungnya Indonesia. Termasuk rute kapal selamnya pasti akan melewati ALKI satu dan dua. Wajar kalau Jakarta gerah dengan aliansi militer segitiga AUKUS. Apalagi secara historis (sudah pengalaman neh) model komunikasi Canberra terhadap Jakarta tidak mengedepankan dialog kesetaraan sebagai bagian dari kualitas komunikasi diplomasi cerdas bermartabat. Sekelas Perancis saja bisa dikhianati apalagi kita. Insiden penyadapan percakapan presiden Sby salah satunya.

Kedepan kita harus lebih mencermati secara tekun setiap perubahan yang bisa menimbulkan konflik terbuka di kawasan ini. Kita perkuat militer kita secara terukur dan berdasarkan kebutuhan pertahanan nasional. Program besar mendatangkan 16 kapal perang heavy fregate,  36 jet tempur Rafale, 12 jet tempur F15 Eagle, 6 Hercules, 4 kapal selam, ratusan peluru kendali berbagai jenis dan lain-lain adalah bagian dari mengukur kekuatan sendiri untuk pertahanan teritori. Dalam diplomasi militer perkuatan pertahanan sekaligus untuk menjaga perdamaian di kawasan ini. Bukan untuk ngajak gelut.

****

Jagarin Pane / 23 September  2021

Saturday, September 18, 2021

Aliansi AUKUS, Formula Overdosis Bin Paranoid

Sepanjang pekan ini Indonesia mendapatkan dua "tekanan bathin" sekaligus dalam soal dinamika kawasan yang tak putus dirundung demam. Yang pertama adalah kedatangan tamu tak diundang tapi bukan maling, yaitu munculnya 6 kapal perang China di ZEE Laut Natuna Utara untuk menggertak gerak proyek eksplorasi minyak perusahaan Rusia. Yang satu lagi adalah deklarasi bersejarah yang kebablasan yaitu terbentuknya aliansi militer berbaju nuklir AUKUS (Australia, United Kingdom, United States) di Australia.

Sementara itu pada pekan yang sama Menhan Indonesia dan Menhan Inggris baru saja menjadi saksi penandatanganan kontrak antara industri pertahanan Inggris Babcock Internasional  dengan industri pertahanan Indonesia PT PAL. Kontrak dimaksud adalah  pembangunan berlisensi 2 kapal perang heavy fregate Babcock Arrowhead 140 yang akan dibangun di galangan kapal PT PAL Surabaya. Penandatanganan kontrak dilakukan diatas kapal perang Inggris HMS Argyll bersamaan dengan ajang DSEI 2021 di London.

Kontrak ini tentu sangat membanggakan kita karena kapal perang ini adalah yang terbesar, tercanggih yang akan dimiliki TNI AL dan tercanggih pula di ASEAN. Kebanggaan lainya adalah membangunnya di galangan kapal Indonesia, artinya akan banyak tenaga ahli dan teknisi kita yang terlibat. Secara tidak langsung adalah pemberdayaan sumber daya manusia, tenaga kerja terserap, menguatkan keahlian dan mendapatkan transfer teknologi kapal perang kelas berat. Inilah episode terakhir yang berakhir happy ending dari serial Iver Class berkelas yang dimodifikasi dan sangat dinantikan kehadirannya. Minimal bisa mengimbangi destroyer China Kunming 197 yang hari-hari ini "merajalela" di Natuna.

Dari sudut pandang militer perkembangan dinamika kawasan Indo Pasifik khususnya Asia Tenggara sangat intens dan tegang sepanjang pekan ini. Unjuk kekuatan di perairan Utara Natuna dengan munculnya 6 kapal perang China dan gugus tempur kapal induk AS Carl Vinson adalah pemicunya. Rombongan kapal perang China datang untuk menunjukkan ketidaksenangannya atas pekerjaan eksplorasi minyak yang katanya wilayah itu punya dia. Enak aja. Indonesia tidak tinggal diam dan mengerahkan 4 KRI dan 2 kapal Bakamla. Kemudian datang konvoi USS Carl Vinson melenggang dan berdansa atas nama kebebasan navigasi internasional. Maka bertemulah masing-masing "kontingen" di acara show of force antar kapal perang di perairan strategis itu.

Menghadapi China soal ZEE Laut China Selatan (LCS) dengan membentuk aliansi nuklir AUKUS jelas overdosis dan ketakutan yang berlebihan. Indonesia sangat keberatan dengan terbentuknya poros nuklir di kawasan ini. Australia terlihat begitu panik sekaligus arogan dan kurang menghargai negara tetangganya di ASEAN. Padahal dia pun adalah penandatangan traktat non proliferasi nuklir. Dia langgar sendiri. Konflik LCS mestinya disikapi proporsional dan profesional, bukan tergesa-gesa dan terkesan paranoid lalu bentuk AUKUS. Konflik LCS adalah soal ZEE, soal hak berdaulat bukan soal kedaulatan teritori 5 negara ASEAN. Dan mestinya diadapi saja dengan cara-cara konvensional.  Apalagi secara teritori negeri Kanguru itu tidak terancam secara langsung. Masih ada pelapis garis depan yang bernama Indonesia.

Aliansi AUKUS memprioritaskan Australia untuk segera memiliki 8 kapal selam nuklir. Padahal Australia pada tahun 2016 sudah menandatangani pembelian 12 kapal selam serang konvensional dari Perancis. Dan itu dibatalkan sepihak sehingga membuat Perancis marah besar dan menyebut Australia sebagai penghianat. Bahkan Presiden Perancis menarik pulang Duta Besarnya dari London dan Washington yang membuat hubungan diplomatik ketiga negara itu mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Jelas marah dong sudah kontrak 50 milyar dollar tiba-tiba dibatalkan demi memenuhi hasrat libido paranoidnya Australia yang overdosis itu.

Dalam pandangan kita aliansi nuklir ini justru memperkeruh keadaan yang sudah demam tinggi di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengantisipasinya dengan penguatan alutsista konvensional seperti pengadaan 2 kapal perang Arrowhead 140 dari Inggris. Ini yang disebut antisipasi proporsional, mengimbangi. Kalaupun Australia sudah punya senjata nuklir toh dalam perang nuklir tidak ada yang menang, semuanya tijitibeh, mati siji mati kabeh, game over. Semua teknologi terkini yang tercipta untuk kesejahteraan umat manusia hancur berantakan oleh senjata nuklir. Australia terlihat bermain kasar bersama saudara semarganya AS dan Inggris. Hanya mementingkan ego kepentingan sepihak demi hegemoni tiga serangkai yang merasa sebagai pemilik kebenaran. Dan yang lain tidak boleh benar.

****

Jagarin Pane / 18 September  2021

Wednesday, September 15, 2021

Menuju Sinergitas Industri Pertahanan Nasional

Kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke salah satu industri pertahanan (Inhan) swasta nasional paling kreatif di Banyuwangi dua pekan yang lalu memberikan angin segar untuk sinergitas Inhan nasional. Industri pertahanan kita baik BUMN dan swasta nasional selama satu dekade ini menunjukkan geliat perkembangan yang luar biasa seirama dengan proses perkuatan militer Indonesia. PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi salah satunya.

Mengapa Lundin disebut paling kreatif di Inhan matra laut, karena perusahaan ini punya inovasi produk yang membanggakan. Misalnya tank boat Antasena dan kapal cepat rudal trimaran KRI Golok 688 yang baru diluncurkan beberapa waktu yang lalu. Lundin tetap tegar ketika kapal sejenis, KRI Klewang 625 yang baru dicemplungkan ke laut beberapa tahun yang lalu terbakar habis karena korsleting listrik. Banyak yang menduga ada sabotase, maklum saja ini produk teknologi stealth yang sangat menjanjikan. Tetapi Lundin tidak baper, move on dan segera bangkit kembali. 

Kabar terkini yang membungamekarkan hati kita adalah serial lanjutan kisah pertemuan Menhan Prabowo. Ternyata kemudian dilanjutkan dengan kunjungan Direksi PT PAL Surabaya ke galangan kapal swasta nasional tersebut. Gayung pun bersambut, after that giliran petinggi Lundin berkunjung ke markas PT PAL di Surabaya. Mereka berdialog sesama profesional, benchmark, keliling fasilitas galangan kapal dan berujung pada ditandatanganinya MOU kerjasama strategis antara kedua Inhan itu. Yang satu BUMN yang satu lagi swasta nasional.

Next, PT PAL punya program besar yang harus dicermati secara khusyuk dan konsentrasi penuh. Saat ini saja kesibukannya benar-benar full house mengerjakan pembuatan 3 KCR (kapal cepat rudal) paket lengkap dengan senjata, pembangunan 2 kapal besar LPD (landing platform dock) rumah sakit dan overhaul kapal selam KRI Cakra 401. PT PAL juga sedang mengerjakan pembangunan 1 kapal sipil jenis pembangkit listrik terapung dan perawatan beberapa kapal perang TNI AL. Prestasi yang lain PT PAL telah sukses membangun 2 kapal perang jenis PKR (perusak kawal rudal) Martadinata Class bersama Damen Schelde Belanda.

Proyek besar yang segera dijalankan yaitu ikut membangun kapal perang striking force heavy fregate melalui pola kerjasama alih teknologi dan membangun kapal selam. Heavy fregate yang dimaksud adalah 2 unit Iver Class. Prediksi lanjutannya adalah membangun heavy fregate Bergamimi Class dengan perusahaan Italy dan Mogami Class dengan perusahaan Jepang. Kalau semua itu terlaksana maka lengkap sudah penguasaan teknologi yang dipegang PT. PAL mulai dari pembuatan kapal jenis KCR, LPD, PKR, Heavy Fregate dan kapal selam.

PT Lundin yang diambil dari nama pemiliknya John Ivar Alan Lundin asal Swedia yang beristri asal Indonesia sudah berkiprah di Inhan sejak tahun 2001. Hasil karyanya yang berupa kapal cepat spesial  berbahan karbon komposit berbagai ukuran sudah diekspor ke berbagai negara termasuk untuk inventori TNI AL.  Dan sekarang produk inovasi terbarunya adalah tank boat Antasena dan KCR stealth KRI Golok 688. Dua produk terkini Lundin ini menjadikan dia satu-satunya Inhan swasta yang paling kreatif dan berani nombok untuk menghasilkan produk alutsista matra laut.

PT PAL diprediksi akan memberikan ruang kepercayaan lebih besar kepada Lundin untuk membangun KCR lengkap dengan persenjataannya. Sementara PT PAL berkonsentrasi penuh pada proyek pembangunan kapal perang heavy fregate dan kapal selam. Inhan swasta nasional lain yang sudah diberikan kepercayaan oleh Kemhan adalah PT Daya Radar Utama (DRU) di Lampung yang mendapat kontrak membangun 2 kapal perang striking force jenis OPV (Offshore Patrol Vessel). DRU secara historis sukses membangun 5 kapal perang jenis LST (landing ship tank) Bintuni Class untuk TNI AL.

Kita menyambut gembira ada kolaborasi dan sinergitas antara Inhan BUMN dan Inhan swasta nasional. Pekerjaan besar menyediakan alutsista matra laut berbagai jenis kapal perang dan kapal selam dipola dengan bagi-bagi tugas, bagi-bagi pengalaman. Ada 8 perusahaan Inhan swasta nasional yang sudah menunjukkan kinerjanya membangun kapal-kapal patroli berbagai ukuran. Kerjasama strategis PT PAL dengan Lundin diharapkan akan menjadi landas pacu sinergitas untuk percepatan pengadaan kapal-kapal perang TNI AL.  Antasena dan  Golok  bisa menjadi percontohan inovasi membangun kapal serbu pantai dan kapal cepat rudal yang satu kelas dengannya. Kita ikut bangga dan mengapresiasi.

****

Jagarin Pane / 15 September  2021

Friday, September 10, 2021

Antara Membaguskuatkan LCS Dan Papua

Menlu dan Menhan Australia mengunjungi Indonesia Kamis kemarin tanggal 9 September  2021. Sebagaimana model meeting bilateral yang lagi trend, diadakan pertemuan 2+2 antara Menlu dan Menhan kedua negara yang bertetangga dekat. Meeting bilateral dengan model yang sama sepanjang tahun ini sudah dilakukan antara Indonesia-Jepang, Indonesia-Korsel dan Indonesia-AS. Menlu dan Menhan sebuah negara adalah tampilan wajah kecerdasan dan kewibawaan. Diplomasi Menlu adalah wajah kecerdasan dan diplomasi militer Menhan adalah kewibawaan dan marwah negara.

Australia datang membawa hadiah 15 kendaraan tempur Bushmaster untuk digunakan sebagai alutsista mobilitas pasukan perdamaian Indonesia di perbatasan Lebanon-Israel. Namanya hadiah ya diterima saja bukan karena kita kekurangan alutsista di UNIFIL. Kita sudah jauh-jauh hari membawa 18 panser amfibi BTR8a dan 50 panser Anoa untuk pasukan TNI yang berkekuatan sekitar 1000 prajurit disana. Sementara itu PT Pindad bersama Australia saat ini sudah memproduksi puluhan kendaraan tempur lisensi Bushmaster yang nama produknya Sanca untuk Kopassus TNI AD.

Jelas Australia harus merangkul Indonesia sebagaimana yang sudah dan sedang dilakukan saudara tuanya Pakde Sam. Semua yang dilakukan mereka ini untuk membaguskuatkan bumper Laut China Selatan (LCS). Lihat saja perhatian AS kepada kita. Dia buka akses seluas-luasnya pengadaan alutsista untuk negeri kepulauan ini. Bahkan mereka sedang merancang Undang-Undang untuk membuka pintu ini secara legal dan jangka panjang. Tahun depan kita mulai menerima pesanan 6 unit pesawat Hercules model baru dari tipe J. Saat ini kita juga sedang memproses pengadaan jet tempur F15 Eagle, berbagai jenis helikopter tempur, peluru kendali dan lain-lain.

Demi bumper LCS Australia mau tak mau harus bermanis buka dengan tetangga besarnya di Utara. Ini yang disebut dinamika geopolitik dan geostrategis kawasan. Sama halnya dalam soal Timor Timur di penghujung abad 20, dia pula yang sangat sibuk dan rewel dengan permainan catur geopolitik dan geostrategis. Hasilnya Timor Leste merdeka melalui referendum. Nah sekarang demi bumper LCS negeri Kanguru itu mau tidak mau harus unggah ungguh, kulonuwun dan pasang wajah santun dengan Jakarta, sekaligus mengurangi frekuensi keusilan dan kerewelannya soal Papua. Beda dengan soal Timor Timur dulu, dia petintang petinting, arogan dan merasa menjadi pahlawan.

Bisa kita lihat selama dua tahun terakhir, pemberitaan keusilan " informalnya" tidak beriak, tidak bergema. Australia juga ingin mencontoh AS yang mengajak kita untuk latihan tempur bersama. Kita ketahui bersama, AS dan Indonesia baru saja sukses mengadakan latihan militer skala besar Garuda Shield di Baturaja Sumsel, Amborawang Kaltim dan Makalisung Sulut dengan mengerahkan ribuan pasukan dan alutsista canggih.  Kemudian latihan manuver udara antara jet tempur F16 TNI AU dan pesawat pengebom nuklir strategis B52 AS di Balikpapan. Dan terakhir latihan militer bersama untuk evakuasi, bantuan dan medis udara dengan mengerahkan pesawat Hercules kedua negara di Lombok. Sementara di AS saat ini ada 100 prajurit intai amfibi marinir Indonesia berlatih bersama USMC.

Terkait dengan soal Papua, kecerdasan diplomasi Indonesia tak perlu diurai disini. Yang jelas kita punya posisi tawar yang lebih berbintang karena posisi geostrategis dan geopolitik di LCS. Dan kita meyakini bahwa riak diplomatik yang disuarakan untuk mendiskreditkan Indonesia soal Papua tidak akan menggema kuat alias mati angin.  LCS adalah medan konflik durasi jangka panjang dengan skala terbesar di dunia.  Dan kita adalah bumper garis depan yang sangat dibutuhkan aliansi AS, Australia, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis. 

Begitu heboh dan meriahnya sejumlah negara membentuk barikade bulan sabit untuk mengurung China mulai dari India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Jepang. Pemain besarnya AS, Australia, Inggris, Perancis, Jerman, Kanada yang semua rumah mereka tidak berada di "kelurahan" LCS bahkan "kecamatannya" pun beda. Dan kita salah satu bumpernya. Mereka ingin kita kuat, padahal kita juga ingin kita kuat dan sudah kita lakukan dengan kemampuan dan cara kita.  Dalam bahasa diplomasi kita punya kalimat bersayap: Untuk membaguskuatkan bumper LCS tidak perlu memberi angin pada segelintir kelompok KKB di Papua. Itu jelas syarat tersirat dalam sinergi dan energi diplomatik sambil berjabat tangan, karena sesungguhnya tidak ada makan siang gratis.

****

Jagarin Pane / 10 September  2021

Saturday, September 4, 2021

Strategi Membeli Waktu di LCS

Diantara hotspot konflik di Indo Pasifik yang lebih siap bertarung adalah Taiwan versus China dan Korea Selatan lawan saudara sekandung Korea Utara. Konflik Taiwan-China sudah berlangsung sejak China komunis mengambil alih China daratan tahun 1948. Sementara perseteruan dua saudara sekandung Korea adalah korban sejarah perseteruan blok barat dan blok timur yang beradu hegemoni di tahun limapuluhan. Garis pemisah di Panmunjom adalah demarkasi gencatan senjata paling lama sedunia sejak 1953. Artinya secara teknis kedua Korea masih dalam kondisi perang to be continued.

Klaim China yang cari gara-gara di Laut China Selatan (LCS) dengan membentangkan nine dash line sepuluh tahun terakhir dan menggila sejak lima tahun terakhir membuat beberapa negara ASEAN tersentak. ASEAN yang selama lebih setengah abad ini mampu memupuk kehidupan di lingkungannya secara harmonis dan manis, tiba-tiba harus menerima gelombang panas akibat semburan api si lidah naga. Dan semburan itu diniscayakan menjadi "api abadi" demam berkepanjangan di halaman rumah besar ASEAN termasuk Indonesia.

Bedanya dengan Taiwan dan Korsel yang sudah ready for war, siap gelut neh, beberapa negara ASEAN yang berkonflik dengan China di LCS belum siap perang bahkan masih kedodoran untuk mengawal teritori hak berdaulat Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di LCS. Ini salah satu sebab mengapa kemudian China begitu arogan di LCS. Bandingkan dengan ketika dia mencoba menggertak Taiwan, negeri formosa itu punya daya kejut dan daya sengat mirip sarang tawon. Berani masuk  gua gebuk lu, kata si cabe rawit Taiwan. Dibelakangnya ada Uak Sam yang gagah perkasa sambil melipat tangan di dada.

Di LCS, mau menjalankan doktrin berani masuk digebuk, alat gebuknya belum setara dengan sarang tawonnya Taiwan dan Korsel. Belum ada nilai gentarnya dan ini dialami Vietnam, Filipina, Malaysia. sehingga kapal-kapal Coast Guard China (CGC) dengan dukungan kapal perangnya yang besar leluasa hilir mudik dan menduduki secara permanen beberapa pulau atol di Spratly dan Paracel. Beberapa diantaranya sudah menjadi pangkalan militer China. Di Natuna, Indonesia tidak mau kalah gertak. Jika ada CGC nyelonong di ZEE Natuna kita suruh keluar dengan kapal-kapal BAKAMLA dan KRI. Termasuk yang terakhir eksplorasi perusahaan minyak Rusia di ZEE Natuna yang dibayangi CGC kita bayangi juga dengan KRI Bung Tomo 357 dan sejumlah kapal BAKAMLA.

AS dan sekutunya di Eropa bersama Australia dan Jepang sudah memahami ketimpangan perbandingan kekuatan militer antara gajah China dan pelanduk beberapa negara ASEAN. Bahkan jika seluruh negara ASEAN digabung kekuatan militernya dengan China belum setara. Gak nendang tuh, kata Uak Panda. Makanya mereka silih berganti berpatroli di LCS. Armada kapal perang AS, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang hilir mudik meramaikan show of force lalulintas militer di LCS. Ini yang disebut strategi membeli waktu dengan berupaya menimbulkan efek gentar kepada pihak penyembur api klaim.

Indonesia saat ini sedang bergegas untuk memperkuat taring militernya. Skenario besar Menhan Prabowo dengan membeli berbagai jenis alutsista strategis dalam jumlah besar juga bagian dari strategi membeli waktu. Pihak sono dengan kacamata intelijen militernya tentu sudah lebih dulu tahu bahwa kita sedang memproses pengadaan 16 kapal perang heavy fregate, 4 kapal selam, 36 jet tempur Rafale, 12 jet tempur F15, sejumlah UCAV, pesawat early warning, radar GCI, helikopter, peluru kendali, dan lain-lain. Juga Filipina, Vietnam sedang berupaya memperkuat taji militernya dalam skala besar. Sementara Malaysia sejauh ini belum memperlihatkan kesungguhan dalam perkuatan militernya. Bisa jadi karena belum stabil jalannya pemerintahan negeri jiran itu.

Strategi membeli waktu secara militer sesungguhnya untuk mencegah agar waktu tidak terbeli oleh pihak lawan. Sembari beberapa negara ASEAN sedang membangun sarang tawon maka armada AS dan sekutunya bergantian mengawal perairan LCS sekaligus latihan militer bersama. Demikian juga jika beberapa sarang tawon ASEAN sudah jadi tetaplah berada dalam kawalan militer AS dan sekutunya. Kekuatan militer berkarakter sarang tawon juga dalam rangka strategi membeli waktu. Sarang tawon bisa saja disembur dan diobrak abrik si lidah naga tapi setidaknya sudah bisa menyengat dan menggebuk sambil menunggu kekuatan yang lebih perkasa dan hebat dari AS dan sekutunya.

Mengapa harus ada strategi membeli waktu dalam konflik di LCS, karena China unggul dalam radius jarak dan logistik militer sehingga dia unggul dalam ofensif militer secara dadakan. Latihan militer skala besar Indonesia-AS di Baturaja Sumsel, Amborawang Kaltim dan Makalisung Sulut belum lama ini, juga latihan manuver udara antara F16 TNI AU dengan pesawat pengebom nuklir strategis B52 AS di Balikpapan barusan, termasuk bagian dari strategi membeli waktu sekaligus skenario counter attack. Maksudnya jika memang China mampu mengobrak abrik pertahanan sarang tawon di Natuna maka latihan militer yang kemarin itu adalah skenario serangan balasan yang cukup dahsyat buat yang buat gara-gara. Anda jual kami beli.

****

Jagarin Pane / 4 September  2021

Saturday, August 28, 2021

Antara Antasena Dan Golok Kita Semakin Mekar

Karya inovasi berkualitas alutsista tank boat Antasena telah diluncurkan dan berenang cepat. Tak lama kemudian karya spektakuler yang lain KRI siluman Golok 688 dicempungkan PT Lundin di perairan Banyuwangi. Sementara itu PT PAL mendapat kucuran dana PMN 1,28 Trilyun, kemudian galangan kapal swasta nasional PT Daya Radar Utama (DRU) Lampung mendapat pesanan pembuatan 2 kapal perang jenis Offshore Patrol Vessel (OPV). Inilah Headline News yang beruntun dipublikasikan sepanjang pekan ini. Semuanya menggambarkan geliat industri pertahanan dalam negeri yang menggelora bergairah terutama inovasi dan keberaniannya.

PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembangunan 2 kapal perang TNI AL ukuran besar jenis LPD Hospital. Juga sedang membangun 3 kapal cepat rudal 60 mtr paket lengkap "dengan baretnya". Termasuk sedang menyelesaikan overhaul KRI Cakra 401. Pada saat yang sama perusahaan plat merah ini sedang mempersiapkan fasilitas pembangunan kapal perang yang dirindukan heavy fregate Iver Class dan kapal selam. Selain membangun kapal perang PT PAL juga sedang membangun kapal tanker sipil. Kesibukannya luar biasa.

TNI AD saat ini sedang menunggu kedatangan 18 tank Harimau yang diproduksi bareng Pindad dan FNSS Turki. Ini juga produk inovatif kreatif Pindad selain panser Anoa dan Badak. Prediksi kedepan TNI AD akan memesan sekitar 100 tank ini untuk batalyon kavaleri. Sementara yang sudah lebih dulu bersinar adalah batalyon armed (artileri medan) dan arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD. Batalyon armed sudah menerima berbagai jenis alutsista "tegangan tinggi" seperti Astross II Mk6 dari Brazil, Artileri Nexter dari Perancis, Artileri KH 178 dan 179 dari Korsel. 

Khusus untuk perkuatan pulau Kalimantan yang dipersiapkan menjadi ibukota negara, batalyon armed akan diperbesar dari kekuatan 2 batalyon saat ini menjadi 7 batalyon armed. Sementara untuk batalyon infantri sudah lebih dulu mekar membesar dengan menambah 5 batalyon anyar di pulau besar itu. Maka sangat dimungkinkan kalau batalyon kavaleri dan batalyon arhanud akan dimekarkuatkan dengan penambahan satuan dan alutsista produk dalam negeri dalam jumlah banyak.   Seperti panser Anoa, panser Badak, tank boat Antasena, tank Harimau, roket Rhan dan lain-lain. Termasuk alutsista gahar buatan negeri orang yaitu Leopard, Nassam2, Astross, Nexter dan lain-lain.

Sejumlah batalyon arhanud saat ini sudah mendapat alutsista canggih peluru kendali darat ke udara Starstreak buatan Inggris. Distribusinya merata di Sumatera dan Jawa. Ibukota Jakarta sekarang sudah dipayungi oleh satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah, nama produknya Nassam2. Kalau mau diurai sangat banyak program percepatan modernisasi militer Indonesia saat ini. Kita masih banyak membutuhkan satuan peluru kendali darat ke udara  jarak menengah untuk melindungi obyek vital dan pangkalan militer.

Untuk pengadaan alutsista strategis seperti jet tempur Rafale buatan Perancis dan F15 Eagle dari Paman Sam tinggal menunggu tanggal dan hari baiknya saja untuk "akad nikahnya". Kalau yang kemarin itu Rafale kan baru "lamaran alias tunangan dulu". Nah dalam waktu dekat segera "akad kredit" alias kontrak efektif. F15 juga begitu, semua berpacu dengan waktu, siapa cepat dia dapat, gak pake lama, gak pake basa basi sebab Republik ini butuh alutsista teknologi tinggi secepatnya.

Khusus untuk tank boat Antasena dan KRI Golok 688 adalah hasil karya inovasi  anak negeri yang mengagumkan. Lundin berani membuat produk inovatif yang luar biasa. Juga pembuatan kapal perang OPV yang dikerjakan perusahaan swasta nasional. Dalam pandangan kita Lundin dan DRU telah dan sedang melakukan proyek inovasi dan kreativitas ditengah geliat kesibukan industri pertahanan dalam negeri. DRU sudah menyelesaikan pembangunan 7 kapal perang jenis LST untuk TNI AL. 

Jujur saja kita katakan antara Antasena dan Golok kita semakin mekar, seperti syair antara Anyer dan Jakarta kita jatuh cinta. Bisa juga ditambahkan liriknya, antara Lampung dan Banyuwangi kita terkesima dan jatuh cinta. Atau antara Antasena dan Golok berbaris rapi Anoa, Badak, Harimau, Turangga, RHan, KAL, KPC, KCR, LST, BCM, LPD, Korvet, UAV Elang Hitam. Semuanya adalah jenis alutsista buatan anak negeri. Artinya produk industri pertahanan kita sekarang semakin mekar dan berkibar.

****

Jagarin Pane / 28 Agustus 2021

Sunday, August 8, 2021

Garuda Shield, Mengingatkan Dan Menguatkan

The real exercise dari uji strategi manajemen pertempuran modern diperlihatkan di ajang Garuda Shield yang sedang berlangsung sejak 1 Agustus sampai dengan 14 Agustus 2021. Salah satu serial yang monumental adalah penerjunan 500 pasukan gabungan lintas udara AS-Indonesia dari titik pemberangkatan di Guam Pasifik menuju Baturaja Sumsel dengan 9 pesawat jet besar bermesin 4 Boeing C17 Globemaster III milik Paman Sam. Jarak Guam-Baturaja setara dengan jarak Sabang-Merauke dan pesawat angkutnya adalah yang terbesar milik AS. Luar biasa.

Militer Indonesia mendapatkan ilmu terapan manajemen pertempuran gabungan dan networking militer. Kita ketahui strategi militer AS dalam setiap operasi militer adalah berbagi peran bersama rekan sekutu. Bisa saja kita sudah dianggap sekutu menurut dia. Latgab terbesar sepanjang sejarah republik ini melibatkan sekitar 5000 pasukan angkatan darat kedua negara dengan sejumlah alutsista canggih. Bukan sekedar latihan militer biasa tetapi lebih pada bahasa show of force dan diplomasi militer bertema mengingatkan dan menguatkan. Gengsi Latgab ini bernilai cum laude karena mitra latihannya adalah militer AS yang striking forcenya number one in the world.

Bagaimanapun setiap negara punya cara dalam menjalankan diplomasi militer karena sesungguhnya cara militer adalah cara terakhir untuk menyelesaikan perselisihan dan konflik. Ketika otak cerdas para diplomat tidak mampu lagi menyelesaikan secara diplomatik maka jalan militer adalah pamungkasnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa tekanan militer China di Laut China Selatan (LCS) membuat sebagian negara ASEAN  yang dilibas nine dash linenya "tertekan bathin" dan tidak nyaman. Wajar kalau ketidaknyamanan ini kemudian membuat negara-negara ini melakukan berbagai cara penguatan militer seperti memperkuat alutsista dan kolaborasi.

Indonesia menyikapi dinamika LCS berdurasi jangka panjang dan awet ini dengan memperkuat tentaranya, menambah dalam jumlah besar berbagai jenis alutsista canggih. Cara lain yang dikenal dalam diplomasi militer adalah melakukan kerjasama militer, salah satunya menggelar latihan gabungan dengan AS berskala besar.  Dinamika LCS adalah pertaruhan paling kritis dan paling mematikan dibanding perselisihan diplomatik dan pertempuran di belahan dunia manapun. AS sekarang sudah meninggalkan Irak dan Afghanistan. Wilayah Teluk sudah dinomorduakan. Nomor satu adalah kawasan Indo Pasifik yang didalamnya ada LCS.

Garuda Shield adalah arena untuk mengingatkan dan menguatkan secara militer.  Bahwa ketika krisis LCS berubah menjadi perang terbuka, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus ikut berkelahi, bersekutu, beraliansi dan bersinergi secara militer. Palagan LCS ada di halaman rumah kita. Dan halaman rumah kita itu juga sebagian diklaim pemilik nine dash line. Maka kita juga punya tanggung jawab menyelamatkan, mengamankan dan menyamankan "lingkungan RT kita" dari gangguan dan arogansi "penghuni RW" sebelah.

Dari sisi penguatan militer, Indonesia sedang mempersiapkan pengadaan alutsista secara besar-besaran. Kita mencatat deal awal pengadaan 36 jet tempur Rafale, 6 jet latih tempur T50. Kemudian pengadaan 6 kapal perang fregat Fremm Class, 2 kapal perang fregat Maestrale Class dan 1 kapal selam tonase besar. Yg sedang dalam proses pembangunan adalah 2 kapal perang Iver Class. Dari Jepang ada kabar baik bahwa kita sedang bernegosiasi untuk mendapatkan 6 kapal perang fregat siluman Mogami Class. Dari dalam negeri industri pertahanan strategis mendapat pesanan berbagai jenis alutsista tiga matra.

Dengan AS lebih banyak lagi prediksi perolehan alutsista untuk kita. Karena AS sedang membuka pintu kemudahan bagi Indonesia untuk mendapatkan jet tempur F15, F16, Hercules anyar, helikopter Chinook, Blackhawk, peluru kendali dan lain-lain. AS saat ini sedang mempersiapkan Undang-Undang untuk akses persenjataan seluas-luasnya bagi Indonesia, Malaysia, Vietnam, Taiwan dan Filipina.  Secara tersirat sejatinya AS sedang berupaya dan menginginkan Indonesia berada dalam barisan kebersamaan otot militer melawan arogansi nine dash line.

Masa depan kemuraman ada di lingkungan kita dan kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk itu. Caranya dengan memperkuat militer mendatangkan alutsista berkualitas, cangggih dan dalam kuantitas yang mencukupi. Kemudian melakukan latihan gabungan dengan AS dan negara lain adalah salah satu cara bersimulasi bahwa kita punya teman dan sahabat berkolaborasi secara militer. Mengingatkan dan menguatkan ini adalah strategi gerak gentar untuk gizi adrenalin militer. Kita harus melakukan itu sebagai antisipasi jika badai LCS menyapu semua harapan aman, nyaman dan damai.

****

Jagarin Pane / 8 Agustus 2021

Wednesday, July 28, 2021

Memaknai Latgab Terbesar AS-Indonesia

Ribuan tentara AS memasuki teritori Indonesia dari tiga tempat yaitu Palembang, Bandar Lampung dan Balikpapan. Ada apa gerangan, ternyata ada hajat besar bersama untuk latihan gabungan (latgab) khusus angkatan darat.  Tentara US Army secara bergelombang diterbangkan ke Palembang dan Balikpapan dan diterima di Bandara dengan Prokes ketat. Sementara berbagai jenis alutsista didaratkan di Pelabuhan Panjang Bandar Lampung. Pengiriman pasukan AS terbesar adalah di Puslatpur TNI AD di Baturaja, sekitar 2.300 prajurit. Indonesia juga mengerahkan kekuatan yang sama untuk menggemakan Garuda Shield sebagai papan nama Latgab.

Dua titik latihan itu sesungguhnya strategis dalam skenario kolaborasi "mengurung" China, dari sudut pandang AS tentu saja. Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur adalah titik tumpu terdepan untuk mobilisasi tentara "Sekutu" jika terjadi ofensif besar-besaran menuju garis serang ke sejumlah pangkalan militer China di Laut China Selatan (LCS). Misalnya China berhasil menduduki Natuna maka counter attack dan pengerahan pasukan "Sekutu"  bisa dilakukan dari kawasan ini.

Latgab terbesar sepanjang sejarah Indonesia ini yang melibatkan kekuatan masing-masing 1 brigade kedua negara tidaklah sekedar menyelesaikan kurikulum latihan di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel dan Amborawang Kaltim. Ada pesan yang sangat kuat disana, selain mendekatkan hubungan militer kedua negara sekaligus sebagai bagian dari diplomasi militer juga bisa menjadi opsi pangkalan aju next time bagi militer AS dan sekutunya manakala pecah perang terbuka dengan China. Bisa saja kan, karena suasana sudah darurat militer maka pilihan pijakan pun bersifat darurat.

Dalam skenario manajemen pertempuran kelas berat ini pangkalan militer AS di Darwin dan Cocos dari poros Selatan dianggap terlalu jauh dari garis depan palagan LCS. Maka berdasarkan kacamata intelijen militer AS, Sumsel adalah titik tumpu Cocos dan Kaltim adalah titik tumpu Darwin. Terus ke Utara ada Filipina karibnya AS sejak lama, juga ada Taiwan sebagai benteng terdepan, kemudian ada Okinawa sebagai pangkalan militer besar AS. Sekedar catatan ketika terjadi perang Vietnam, AS menggunakan 2 pangkalan militer di Filipina sebagai pangkalan aju untuk membombardir Vietnam. Yaitu Subic untuk angkatan laut dan Clark untuk angkatan udara AS.

Coba kita perhatikan dan cermati peta geostrategis dan geo politik strategi militer AS dan sekutunya di Indo Pasifik yang mengurung China mirip bulan sabit setengah lingkaran. Ini sama dengan strategi AS mengurung Iran, merangkul dan membangun pangkalan militer di negara-negara Teluk, juga mirip bulan sabit. Hebat dan cerdiknya AS itu kalau terlibat perang tidak pernah di teritori negeri sendiri, selalu "merantau" jauh ke negeri orang. Dan cirinya adalah keroyokan alias persekutuan lalu minta bayaran. Contohnya perang Teluk jilid satu dan dua.

Yang membuat suasana LCS seperti episode drama dalam waktu yang sama dengan kedatangan ribuan pasukan AS ke Indonesia, kapal induk Inggris  HMS Queen Elizabeth bersama sejumlah kapal perang pengawalnya sekarang sudah tiba di perairan LCS. Ini juga bagian show of force dan diplomasi militer "saudara sepupu" AS yang selalu seiring sejalan menunjukkan  kesetiaannya pada sepupunya. Bahkan Inggris sudah menyatakan dengan tegas akan menempatkan 2 kapal perangnya secara permanen di kawasan Indo Pasifik awal September tahun ini. Makin ramai saja suasana hiruk pikuk lintas laut militer di kawasan ini.

Bagi Indonesia manfaat Latgab selama dua minggu ini sangat berguna untuk prajurit TNI AD, menimba ilmu manajemen pertempuran modern network centric warfare.  Termasuk 100 prajurit raider TNI AD yang dikirim ke AS untuk berlatih sampai sekarang sudah mencapai 2 angkatan. Selama ini Indonesia banyak melakukan latihan militer dengan negara-negara sahabat. Namun nilai tambah dari Latgab bilateral dengan Paman Sam kali ini adalah pengerahan pasukan yang terbesar ditengah situasi kawasan regional yang ngeri-ngeri sedap. Makna tersuratnya adalah sebagai penguat diplomasi militer kedua negara.  Dan secara tersirat bisa saja sebagai simulasi skenario opsi jika terjadi perang terbuka dengan naga di seberang laut lor, mboten laut kidul lho, ojo keliru.

****

Jagarin Pane / 27 Juli 2021

Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, July 20, 2021

Mengayuh Ditengah Pandemi

Pandemi Covid19 menggerogoti semuanya, menggerogoti bumi bulat bundar. Termasuk tanah tumpah darah negeri kepulauan khatulistiwa. Suasana belum reda, masih berkecamuk dan belum akan berakhir. Kemampuan bermanajemen krisis untuk mengelola dan mengatasi wabah global ini adalah cobaan terberat bagi semua pemerintahan di dunia. Dan perjalanan cobaan ini masih akan terus mengemuka sampai terciptanya herd immunity komunal.

Meski demikian kita tidak boleh terpaku oleh dahsyatnya wabah ini, sudah dan sedang kita lawan dengan prokes dan vaksin. Dalam kondisi seperti ini kita juga harus tetap membingkai pemikiran strategis posisi geostrategis dan geopolitik negeri di tengah ketidakpastian dan ketidaknyamanan dua hotspot perbatasan yaitu Natuna dan Ambalat. Eksistensi negeri tidak akan hilang oleh sebab adanya wabah namun menjaga dan menguatkan teritori adalah bagian dari perjuangan eksistensi dan marwah kedaulatan bernegara.

Maka persetujuan Kementerian Keuangan meluluskan anggaran sebesar US$600 juta melalui paket pinjaman luar negeri untuk membeli 1 kapal selam striking force tonase besar sejatinya adalah merealisasikan formula strategis jangka pendek pertahanan kita. Seperti ketahui dari 4 kapal selam yang dimiliki Indonesia semuanya bertonase maksimal1400 ton. Dan jika dibanding dengan semua negara ASEAN yang memiliki armada kapal selam seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia, jelas kita tidak setara apalagi jika berhadapan dengan kapal selam China.

Laut China Selatan (LCS) dipastikan tidak akan normal lagi sebagaimana keadaannya dulu. Yang kita sedang dan akan hadapi terus menerus secara jangka panjang adalah "new normal"nya. Yaitu ketidakharmonisan, ketidakamanan, ketidaknyamanan yang harus diwaspadai, diantisipasi, dikawal dan dipelototi siang malam pagi sore. AS sudah menyatakan secara terang benderang bahwa musuh potensialnya sekarang dan masa depan adalah China. Salah satu palagannya adalah LCS. Dan ingat AS tidak akan pernah sendirian menghadapi setiap konflik regional. Untuk menghadapi China di LCS dia bawa rombongan besar dan tangguh, Inggris, Perancis, Jerman, Australia, Jepang, Kanada. Termasuk "ngomporin" India untuk ikut buka front di Himalaya.

Armada angkatan laut kita saat ini sedang dikembangkuatkan. Tercatat yang sudah mengemuka adalah pengadaan 2 kapal perang Iver Class, 6 kapal perang Fremm Class dan 2 kapal perang Maestrale Class. Sejalan dengan itu armada bawah air kita secepatnya juga harus ditambah. Luasnya perairan dan kemampuan deteren kapal selam kita mau tidak mau harus diperkuat dengan kualitas gempur senyap. Jangan sampai terjadi begini, sudah tidak punya kemampuan striking force yang setara, berisik pula kehadirannya. Salah satu kekuatan dan kehebatan teknologi kapal selam adalah kemampuan senyap dan silumannya.

Kita menyambut gembira upaya Kementerian Pertahanan untuk memperkuat armada kapal selam,  termasuk program percepatannya. Pengadaan 1 kapal selam segera tidak saja untuk menggantikan KRI Nanggala 402 yang eternal patrol namun juga untuk meningkatkan daya gebuknya.  Armada kapal selam adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL dan sangat menentukan perannya dalam manajemen dan teknologi pertempuran modern. Kita membutuhkan secepatnya, maka prediksi yang diambil adalah kapal selam eksisting negara lain yang masih beroperasi dan tidak ketinggalan teknologi. Membangun kapal selam baru mulai dari proses pengadaan sampai barang dikirim butuh waktu 5-6 tahun.  Padahal kita sangat butuh herder bawah laut untuk Natuna. Penting juga untuk diketahui pengadaan 1 kapal selam besar ini diniscayakan untuk menguathebatkan kembali motto semangat "tabah sampai akhir" bagi korps Hiu Kencana. Menhan Prabowo sangat paham dengan kondisi psikologi ini.

Mengayuh ditengah pandemi adalah perjalanan berat yang harus dilalui. Kita sangat meyakini perjalanan wabah ini harus dihadapi  dengan "tabah sampai akhir". Dan diujungnya pasti ada horizon cerah yang akan mengakhiri gelombang badai hebat ini. Dan seberat apapun perjalanan saat ini kita tidak boleh lengah dengan badai yang juga sudah jelas tampak, mulai beriak, potensi konflik skala besar di kawasan Natuna. Ini bukan konflik kaleng-kaleng alias sebatas konflik antar pelanduk. Ini potensi konflik antar gajah yang luar biasa dampaknya. Kita harus bersiap menjaga perdamaian kawasan dan bersiap pula untuk menghadapi kondisi terburuk. Bersiap menghadapi kondisi terburuk tentu dengan pengawalan teritori yang kuat. Kapal perang heavy fregate dan kapal selam serbu adalah alat pukulnya, pre emptive strike. Dan asal tahu saja sampai saat ini kita belum punya.

****

Jagarin Pane / 20 Juli 2021

Sunday, July 4, 2021

Mengukur Kinerja Strategis Menhan

Geliat di Kementerian Pertahanan saat ini benar-benar menggairahkan. Kerja smart berkapasitas extra ordinary sedang dilakoni untuk memberikan kepastian kehadiran sejumlah alutsista strategis secara kualitas dan kuantitas borongan. Negara produsen alutsista luar negeri ikut merasakan suasana gairah ini. Adalah Perancis, Jerman, Italia, AS, Jepang dan Turki akan mendapatkan percikan rezeki milyaran dollar. Kurikulum baru yang diimplementasikan Kemenhan dipastikan membuat industri pertahanan dalam negeri baik BUMN dan swasta nasional berkibar mekar meriah. Termasuk jumlah tenaga kerja yang akan diserap karena produsen luar negeri sebagian membangun produknya disini dengan transfer teknologi dan pola offset.

Perjalanan Menhan Prabowo ke Perancis dan Jerman kemarin sangat diyakini akan membawa oleh-oleh berbagai jenis produk alutsista canggih.  Dari Jerman misalnya prediksi oleh-oleh itu adalah 5 kapal selam tangguh dan canggih sebagai supporting spirit untuk Hiu Kencana TNI AL, 100 Tank Leopard, 100 Tank Marder untuk Kavaleri TNI AD, Oerlikon Skyshield batch 3 untuk Paskhas, Oerlikon Skyranger untuk Marinir, Millenium Gun untuk KRI dan lain-lain. Jerman adalah produsen alutsista berkualitas bahkan khusus untuk produk kapal selam negeri ini adalah "mbah"nya. Kapal selam Cakra Class kita adalah produk Jerman. Kita juga sudah memiliki 100 Tank Leopard dan 50 Tank Marder yang dibeli dari Jerman di era Presiden SBY.

Sejauh ini kita apresiasi Prabowo yang sedang berkonsentrasi penuh untuk menjalankan amanahnya, menunjukkan kinerjanya sebagai Leader yang tidak pernah keder dalam setiap penugasan. Sebagai Leader di Kemenhan dia berusaha mereformasi pola pengadaan alutsista dari B2B menjadi G2G. Perubahan ini tentu banyak memotong "jalur simpang susun" yang selama ini menjadi pola "berlalulintas". Prabowo juga menunjuk negosiator independen dari luar negeri bernegosiasi dengan AS untuk membeli sejumlah jet tempur F15 dan lain-lain. Ini dilakukan untuk memastikan mendapatkan kewajaran harga dan teknologi yang diusung  produk alutsista made in Pakde Sam.

Gerak cepat, tidak bertele-tele, berkunjung face to face ke negara produsen alutsista adalah patron kuat yang diperlihatkan Prabowo untuk merealisasikan G2G dalam prosedur pengadaan alutsista. Terutama untuk memastikan kepantasan harga alutsista dan teknologinya, harga sewajarnya, harga normal. Sekedar beranalogi, laporan keuangan yang telah diaudit dan menghasilkan kriteria terbaik,  dengan sebutan "wajar tanpa pengecualian". Jadi Auditor tidak pernah menyebut laporan keuangan telah disusun secara benar, melainkan wajar. Demikian juga harga produk, yang wajar dong, mark up nya gak kebangetan. Maka untuk mendapatkan informasi itu ditempuh melalui G2G, antar pemerintah dan membawa nama baik pemerintahan. Kerjasama antar pemerintah tentu menjaga marwah dan wibawa negara masing-masing, itu pakemnya.

Kerja extra ordinary kemenhan masih berproses dan baru ada di langkah perdana. Dalam proses fast and smart ini termasuk mengelola anggaran hampir 300 trilyun rupiah melalui jalur pinjaman luar negeri untuk dibelanjakan seluruhnya sepanjang tahun 2021 tentu banyak fitnahnya. Sudah pasti itu. Ukuran Kinerja Kemenhan secara tujuan baru akan terlihat di tahun-tahun mendatang.  Dan secara proses kinerja sampai saat ini Prabowo dalam pandangan kita memberikan sinyal konstruktif dengan harapan yang besar bisa dilaksanakan dengan amanah, istiqomah dan fathonah. The New Patron Kemenhan ini diniscayakan menjadi jembatan kekuatan bagi kita dengan sebuah tujuan besar yang sangat ditunggu, kehadiran berbagai jenis alutsista strategis dan gahar secepatnya, dalam jumlah besar dengan kualitas teknologi terkini. InsyaAllah.

****
Jagarin Pane / 04 Juli 2021

Friday, June 25, 2021

Menunggu Kabar Baik Berikutnya

Baru saja ada kabar baik, pemerintah menyetujui  anggaran khusus pembelian alutsista untuk tahun 2021 sebesar US$ 20,7milyar setara dengan 298,08 Trilyun melalui pinjaman luar negeri (PLN). Jika anggaran ini dikaitkan dengan pembelian 36 jet tempur Rafale dan 6 kapal perang Fremm maka masih terbuka peluang untuk memperoleh alutsista strategis lainnya seperti 12 jet tempur F15 Eagle II, 8 kapal perang fregat Mogami Class dari Jepang, 4 kapal selam dari Perancis atau Jerman dan lain-lain. Alhamdulillah.

Sebentar, jangan kemudian lantas bilang gede amat, atau banyak banget. Penjelasan sederhananya begini, anggaran sebesar US$ 20,7 milyar itu duitnya ada di pinjaman luar negeri, tidak ada di kas APBN. Nanti kita yang bayar cicilan dengan limit bisa 25-30 tahun dengan bunga ringan, soft loan.  Dan ini setara dengan nilai manfaat atau kegunaan investasi alat pertahanan yang bisa mencapai umur ekonomis dan teknis 30 tahun. Mirip seperti kita membeli rumah dengan pola KPR, bayar uang muka dulu. Rumah sudah jadi bisa kita tempati, pihak Bank bayar lunas ke pengembang dan kita bayar angsuran ke Bank bisa sampai 15-20 tahun. 

Pemerintah Perancis diprediksi akan menanggung 80-90% dari nilai kontrak pembelian alutsista made in France, yang kemudian menerima cicilan pembayaran dari pemerintah Indonesia dengan durasi 25-30 tahun. Semua diawali dengan kontrak efektif dimana pihak pembeli alutsista  membayar uang muka. Jepang sudah memberi lampu hijau soal soft loan ini. Kalau tercapai kesepakatan membeli 8 fregat Mogami Class maka model angsurannya persis seperti Perancis. Sekedar catatan, KRI Irian kapal terbesar jenis penjelajah yang dibeli dari Uni Sovyet  di era Trikora tahun 1962 cicilannya baru lunas tahun 1984. Beli 40 jet tempur Hawk dari Inggris tahun 1990, baru lunas tahun 2014.

Dengan anggaran sebesar itu maka tahun 2021 ini Kementerian Pertahanan sedang dan akan belanja besar dengan pola G2G (antar pemerintah). Artinya kita akan mendapatkan kabar yang menggembirakan dalam program menguatkan otot alutsista tentara kita. Yang sudah mendapat lampu hijau dari Kementrian Ibu Sri Mulyani adalah pengadaan 2 unit pesawat jet tanker pengisian BBM di udara untuk jet tempur TNI AU. Saat ini kita hanya memiliki satu unit pesawat tanker Hercules karena satu Hercules tanker yang lain jatuh ketika take off di Medan sepuluh tahun lalu. Jadi harus ditambah dengan prioritas cepat datang. Juga sudah ada kepastian kontrak pengadaan 5 pesawat Hercules type J dari Pakde Sam dan puluhan radar jenis GCI. Wah belanjanya borongan neh pak Sultan,  kata gadis front office produsen alutsista dengan mata berbinar indah karena produk perusahaannya laku besar.

Reformasi belanja alutsista dengan model beli borongan dan "bergaya Sultan" sesungguhnya membawa marwah dan kebanggaan kita. Betapa tidak, selama ini kita selalu berbelanja model ketengan, eceran alias tidak full combat. Contoh beli jet tempur Sukhoi, mula-mula dibeli 4 biji kosongan di era Megawati. Dilanjut dengan tambahan 6 biji tanpa senjata di era SBY periode pertama. Lalu nambah lagi 6 unit di era SBY periode kedua dan baru dilengkapi persenjataan rudal. Butuh waktu hampir 10 tahun hanya untuk menggenapi 1 skadron jet tempur Sukhoi SU27 dan SU30. Ini yang direformasi saat ini, beli banyak sekaligus dan full combat, bayarnya angsuran, sama saja kan.

Yang kita tunggu juga adalah kepastian melanjutkan proyek pengembangan teknologi jet tempur KFX/IFX dan pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2 melalui transfer teknologi dengan Korsel. Dua proyek strategis dan bergengsi ini memang harus disikapi dengan diskusi panjang, cerdas dan detail untuk memastikan keandalan teknologi didalamnya. Program KFX Korsel saat ini sedang menyiapkan beberapa purwarupa yang sedang diisi jeroannya dengan mesin, avionik, radar dan teknologi instrumen tempur lainya. Kuartal pertama tahun depan sudah uji terbang.

Tahun depan diniscayakan kucuran anggaran PLN khusus beli alutsista akan semakin besar lagi. Artinya akan banyak lagi pesanan pembelian baik dari industri pertahanan dalam negeri maupun dari produsen luar negeri. Untuk industri pertahanan dalam negeri peluang besar mendapat order pengadaan alutsista sangat terbuka luas. Kita meyakini akan ada penambahan pesanan dalam jumlah besar untuk pengadaan tank Harimau, panser Anoa, panser Badak, roket RHan produksi PT Pindad.  Prediksi kedepan dan dalam waktu singkat seluruh industri pertahanan dalam negeri akan panen raya pesanan berbagai jenis alutsista.

Saat ini saja PT PAL paling ramai pesanan.  BUMN matra laut ini sedang mengerjakan pembangunan 3 kapal cepat rudal (KCR) 60m paket lengkap, pembangunan 2 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit dan overhaul kapal selam KRI Cakra. Prediksi ke depan sudah banyak antrian order untuk kerjasama membangun  2 kapal perang striking force Iver Class, kerjasama membangun kapal selam proyek Nagapasa batch2, kerjasama membangun kapal perang Bergamimi Class dan lain-lain. Masa depan PT PAL sangat diyakini menjadi titik tumpu penguasaan teknologi pembuatan kapal perang jenis KCR, LPD, korvet, fregat dan kapal selam.

Industri pertahanan swasta nasional juga sedang mekar bercahaya. Semua galangan kapal swasta nasional mendapat berbagai order pembangunan sejumlah kapal patroli cepat, KAL, kapal Bakamla, kapal KKP, kapal Bea Cukai, kapal Polairud. Dan "merawat inap" beberapa kapal perang jenis LST lawas. Bahkan ada industri pertahanan swasta nasional yang berinisiatif membuat tank boat dan kapal perang trimaran yang sangat dinantikan kehadirannya. Dan ini- tolong dicatat dan diingat- bahwa sepanjang sejarah perjalanan republik, baru sepuluh tahun terakhir ini industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta nasional bangkit, berkembang pesat dan sudah mampu menguasai sejumlah teknologi alutsista canggih. Luar biasa, sebuah kebanggaan nasional tapi luput dari pemberitaan.

****

Jagarin Pane / 25 Juni 2021

Saturday, June 12, 2021

Si Vis Pacem Para Bellum

Sekarang orang ramai membahas dan mengikuti petunjuk soal imunitas, pertahanan diri untuk menangkal ancaman berbagai penyakit menular utamanya Covid19. Imunitas sejatinya dibangun dengan konsep peribahasa latin Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Imunitas juga begitu, jika ingin sehat bersiaplah untuk sakit. Caranya perkuat pertahanan diri seakan-akan kita mau sakit. Imunitas dicapai setelah ada imunisasi dan vaksinasi yang nota bene adalah model latihan perang menghadapi berbagai ancaman virus agar tubuh kita tetap sehat wal afiat.

Kabar yang sangat dinanti dan membanggakan, kementerian pertahanan baru saja menandatangani kontrak awal pembelian 36 jet tempur Rafale buatan Perancis dan 6 kapal perang fregat Fremm dari Italia. Dan pada bulan-bulan mendatang diprediksi akan banyak lagi penandatanganan sejumlah alutsista strategis untuk militer Indonesia. Masih ditunggu finalisasi pengadaan jet tempur F15 Eagle2 dan atau F16 Viper. Dua-duanya dari AS sebagai realisasi penyeimbang program GSP (Generalized System of Preference) pemerintah AS. Seperti kita ketahui AS selama berpuluh tahun berbaik hati kepada kita dengan meringankan dan menihilkan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam sehingga kita surplus neraca perdagangan dengan AS. Program besar Kemenhan untuk segera mendatangkan sejumlah alutsista canggih dan berkelas secepat mungkin dari sejumlah negara selayaknya kita apresiasi karena sesungguhnya harus diakui bahwa imunitas pertahanan negeri ini masih lemah.

Selama ini proses pengadaan alutsista selalu membeli dengan model FFBNW (Fit For But Not With) alias beli ketengan. Contoh pengadaan 2 kapal perang light fregat Martadinata Class setelah jadi dan bisa berenang tapi belum punya senjata. Baru setelah tiga tahun berlayar dilengkapi satu persatu sistem manajemen pertempurannya untuk bisa bertarung di empat dimensi yaitu perang antar kapal permukaan, perang anti kapal selam, perang anti serangan udara dan perang elektronika. Demikian juga dengan pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 Id, tidak serentak dengan persenjataan rudalnya.

Model pengadaan ketengan yang seperti ini yang ingin direformasi Kemenhan dan sudah dimulai dari pengadaan 2 kapal perang fregat Iver Class made in Denmark yang dibeli secara paket lengkap termasuk program alih teknologi. Termasuk juga mengubah metode pengadaan dari B2B (business to business) menjadi G2G (government to government). Model G2G diharapkan bisa mempersingkat dan memutus mata rantai proses pengadaan yang bernama Salesman. Kemenhan sedang melakukan kerja smart dan extra ordinary untuk segera memenuhi berbagai jenis persenjataan tiga matra agar kekuatan pertahanan kita bisa memenuhi herd immunity.

Sampai saat ini kalau ada yang bertanya dari sudut militer imunkah kita di perairan Natuna.  Jawabnya tidak karena kekuatan pertahanan teritori kita terhitung lemah. Memang sudah ada basis militer brigade komposit dan sejumlah alutsista disana tapi masih jauh dari kriteria memadai. Untung saja "virus" yang datang baru setingkat Coast Guard yang nota bene bukan antibiotik. Coba kalau yang datang Destroyer China, daya pukulnya bisa menghancurkan sel-sel pertahanan diri kita di Natuna. Itu sebabnya target mendatangkan 16 kapal perang fregat, 4 kapal selam penyengat, dan 48 jet tempur dalam waktu sesingkat-singkatnya adalah dalam rangka memenuhi kriteria mempunyai kekuatan pukul dan daya tangkal yang setara.

Kalau mau berjaya dan disegani maka kekuatan pertahanan diri negeri kita tidak bisa tidak, mau tidak mau, suka tidak suka harus diperkuat secara kuantitas dan kualitas. Segera dan tidak pake lama. Contoh, apakah pulau Sumatera punya kekuatan pukul yang diandalkan Angkatan Darat untuk pertahanan pulau. Jawabnya tidak. Bagaimana mungkin punya kekuatan daya gebuk kalau batalyon Kavalerinya hanya punya tank tua AMX 13, dan batalyon Arhanud masih mengandalkan "Simbah" S60. Belum lagi kalau melihat kekuatan Angkatan Laut di pantai barat Sumatera, kekuatan pelindung teritori laut masih lemah. Lantamal Padang mestinya disediakan secara permanen minimal 3 kapal perang jenis korvet.

Untuk merealisasikan doktrin militer berani masuk digebuk (pre emptive strike) maka syarat utamanya realisasikanlah ketersediaan kapal perang striking force kelas fregat keatas, kapal selam serbu dan jet tempur penggentar semacam Sukhoi SU35, Rafale dan F15 dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang mencukupi. Angkatan laut dan Udara harus memiliki kekuatan pukul yang menyengat untuk memenuhi syarat berani masuk digebuk. Ini yang disebut punya imunitas yang kuat dan disegani, untuk pertahanan negeri bukan untuk mengancam dan menyerang negara lain. Si Vis Pacem Para Bellum sejatinya untuk merawat kesehatan perdamaian dengan memperkuat pertahanan diri sekaligus mengingatkan negara lain untuk tidak macam-macam. Anda sopan kami santun, anda melotot kami kepal otot.

***

Jagarin Pane / 12 Juni 2021