Tuesday, May 27, 2025

Sketsa Wajah Pertahanan Indonesia Tahun 2030

Pembangunan kekuatan pertahanan berbasis teknologi adalah bagian dari upaya yang terus menerus dilakukan setiap negara. Dinamika kawasan di berbagai belahan bumi bulat bundar ini sangat berpotensi menjadi hot spot yang saling melumat. Perang Rusia-Ukraina dengan durasi menahun terbukti menjadi palagan paling mematikan dan menghancurkan. Pengeboman Gaza oleh Israel menjadi tragedi kemanusiaan paling kejam sepanjang sejarah sejak perang dunia kedua berakhir. Perang kilat 2 hari antara dua negara musuh bebuyutan satu rumpun beda agama mampu mencengangkan dunia. India dan Pakistan baru saja menampilkan model pertempuran berbasis teknologi network centric warfare (NCW). Kemudian soal de facto Taiwan, klaim nine dash line Laut China Selatan (LCS),  klaim Greenland dan konflik Iran-Israel adalah "wajah bisul gunung berapi dunia". Setiap saat bisa meletus dahsyat dan menghanguskan peradaban dunia.

Pemikir strategis pertahanan dan pengambil keputusan di setiap negara pasti sudah mengamati dan menganalisis semua dinamika konflik antar bangsa ini. Termasuk benchmark pertempuran terkini antara India dan Pakistan. Tidak terkecuali Indonesia. Pemerintah sudah dan sedang bergegas untuk menyiapkan kekuatan payung pertahanan berbasis teknologi. Gambaran untuk melihat sketsa wajah pertahanan kita tahun 2030 bisa terlihat dari berbagai program percepatan dan extra ordinary pengadaan alutsista oleh pemerintah bersama DPR. Kementerian pertahanan bergerak cepat dan cerdas untuk melakukan pengadaan berbagai jenis alutsista seluruh matra TNI. Salah satu alutsista strategis yang cepat saji adalah pengadaan kapal perang setara heavy frigate PPA Fincantieri Italia. 2 kapal perang yang baru selesai dibangun untuk AL Italia ini, kita beli.

Untuk matra laut yang sudah pasti ada tambahan 4 kapal perang heavy frigate (Merah Putih dan Brawijaya Class). Prediksi kita masih ada tambahan 4 KRI heavy frigate lagi untuk menguatkan armada tempur tahun 2030. Bisa jadi memakai pola "beli jadi" seperti PPA Fincantieri untuk percepatannya. Termasuk potensi pembelian kapal induk bekas untuk pangkalan drone dari Italia atau pembuatan LHD di PT PAL yang difungsikan sebagai pangkalan drone. Sementara saat ini pesanan 2 Kapal cepat rudal 70 meter sedang dibuat di Turkiye untuk TNI AL. Di Jerman sedang ada pengisian jeroan teknologi untuk kapal perang intelijen bawah air. Kapalnya dibuat di Indonesia, Instalasi infrastruktur teknologinya di Jerman. Di galangan swasta nasional juga ada beberapa penyelesaian pembangunan kapal perang, mulai dari jenis KPC, KCR, Korvet. Masing-masing berjalan on progress. Sementara penambahan kapal selam prediksinya bisa dari lanjutan Nagapasa Batch 2 membangun 3 kapal selam kerjasama dengan Korsel. Paralel dengan pembangunan 2 kapal selam serbu yang digadang-gadang Scorpene Perancis.

Matra udara bersiap menyambut kedatangan 42 jet tempur Rafale ketika nama ini sedang tidak baik-baik saja akibat pertempuran India - Pakistan. Dalam pandangan kita manajemen pertempuran udara modern tidak melulu mengunggulkan teknologi jet tempur tok. Tapi harus dilihat dalam berbagai aspek seperti pilot skill, interoperability dan ketersediaan NCW. Salah satu penentu air superiority adalah kemampuan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control) dalam sistem NCW. Pesawat peringatan dini seperti Boeing Wedgetail punya daya cium dan endus lebih 500 km. Jadi berlaku hukum sebab akibat, "first kiss first kill". Dengan benchmark pertempuran udara India-Pakistan ini selayaknya pengadaan minimal 3 unit pesawat AEW&C untuk TNI AU perlu langkah percepatan, extra ordinary. 

Sembari menunggu Rafale, kementerian pertahanan kembali menghidupkan kontrak untuk pengadaan 6 jet tempur Sukhoi SU35 dan 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Keduanya sempat tertunda dengan segala dinamikanya. Juga akan datang pesanan 2 pesawat tanker Airbus A400M dan 2 pesawat angkut berat A330 MRTT. Akan datang juga 6 jet latih tempur T50 buatan Korsel untuk melengkapi 13 unit T50 yang sudah ada. Proses negosiasi pengadaan 24 jet tempur F15 Id masih terus berlanjut. Jika semuanya berjalan mulus, maka sketsa wajah tentara langit kita terlihat semakin mekar menuju gahar di tahun 2030. Termasuk kemungkinan perolehan 36 jet tempur KFX/IFX dan adanya penambahan kekuatan 25 unit radar GCI. Sementara matra darat bersiap menunggu kedatangan 22 helikopter Black Hawk dari AS dan sistem peluru kendali balistik Khan dari Turkiye. Yang menarik, ratusan drone bersenjata berbagai jenis yang dipesan untuk 3 matra TNI, pemasoknya adalah Turkiye. Luar biasa.

Perlu dicatat bahwa untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pertahanan, kita harus memiliki kekuatan manajemen pemerintahan dan leadership yang tegas. Strong government adalah sebuah keniscayaan manakala kita ingin fokus untuk menguatkan pertumbuhan ekonomi dan pertahanan. Ada banyak contoh tentang pemerintahan yang kuat, baik secara sistem maupun figur leadership. Contohnya Amerika Serikat, Rusia, China, India, Vietnam, Turkiye. Ada banyak bukti tentang keunggulan negara-negara ini. Vietnam maju pesat dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 7,04 % jauh diatas Indonesia yang tumbuh 5,03%. Rusia tetap segar dan menjadi pengendali pertempuran dengan Ukraina. Industri pertahanan Turkiye maju pesat. China tidak perlu dijelaskan lagi, apalagi si Paman Sam.

Saat ini banyak negara dengan strong government baik berkarakter demokrasi maupun kerajaan mampu menguatkan pertumbuhan ekonomi dan pertahanannya. Seperti di jazirah Arab. Hampir semua negara di jazirah Arab saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pertahanan yang kuat. Kita lihat Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain sudah menjelma menjadi negara maju sejahtera dan memilki manajemen pertahanan yang canggih. Arab Saudi bahkan berinvestasi ke AS sebesar US$ 600 milyar. Dan belanja alutsista buatan AS sebesar US$ 142 milyar. Fantastis banget. Qatar menghadiahkan pesawat boeing mewah untuk kepresidensn AS. Donald Trump sumringah sukses berkunjung ke kawasan jazirah Arab belum lama ini.

Indonesia saat ini dalam perspektif kita memiliki strong government dan leadership yang tegas. Karya pemerintahan saat ini salah satu yang sudah memberikan hasil gemilang adalah kemampuan kita untuk berswasembada beras. Bahkan produksi beras kita adalah yang terbesar melebihi kebutuhan nasional. Ini sebuah prestasi cum laude. Rencana besar lainnya yaitu swasembada pangan dan swasembada energi. Juga program efisiensi anggaran dan pemberantasan korupsi adalah bagian dari upaya manajemen pemerintahan Prabowo untuk mengelola keuangan negara sesuai harapan rakyat. Sebagai negara besar Indonesia terus bergerak menuju negara maju. Saat ini kekuatan ekonomi kita ada di urutan 16 besar dunia dan kekuatan pertahanan ada di ranking 13 besar dunia. Dengan berbagai ragam kebhinekaan yang dimiliki baik suku, agama, dan budaya, ketahanan nasional Indonesia tidak lepas dari ujian kohesivitas dan sinergitas.

Ujian yang kita jalani saat ini adalah adanya sinyalemen campur tangan proxy war untuk menguji daya tahan, kekuatan kohesivitas dan sinergitas anak bangsa. Ada dua tema besar yang bergulir deras menjadi palagan framing adu domba. Yaitu  soal Nasab Habib dan Ijazah Presiden ke 7. Daya gempur "alutsista" framing membombardir dahsyat di kedua medan pertempuran narasi ini. Dampaknya adalah menguatnya polarisasi dan friksi di kawasan grass root. Dari sudut pandang kita, permusuhan proxy war sesama anak negeri perlu diwaspadai dan harus menjadi perhatian serius bersama karena bisa menjadi embrio perpecahan horizontal.

Indonesia akan terus bergerak maju membangun kekuatan ekonomi krsejahteraan dan pertahanan yang seiring sejalan. Kita meyakini dengan strong government dan leadership yang tegas, republik ini akan mampu menjadi negara maju sejahtera. Dan memiliki kekuatan pertahanan proporsional yang sebanding dengan luas wilayah. Investasi pertahanan sejatinya adalah untuk memberikan jaminan eksistensi, marwah dan kelangsungan perjalanan bangsa besar ini. Sketsa wajah pertahanan kita tahun 2030 akan memberikan persepsi dan perspektif yang mencerahkan. Mari bergegas menyongsong horizon 2030 dengan menguatkan kohesivitas dan sinergitas sesama anak bangsa. Inilah Republik Indonesia.

****

Jagarin Pane / 26 Mei 2025


Saturday, April 19, 2025

Bukan Show Room Atau Show Of Force

Kabar beruntun sebagai ungkapan "merpati tidak pernah ingkar janji", minggu-minggu ini adalah tindak lanjut 2 memorandum of understanding (MOU) menjadi realisasi. Meski belum diumumkan secara resmi namun sudah bocor halus di kalangan forum militer tanah air. Yaitu realisasi pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia dan jet tempur Mirage 2000-5 ex Qatar. Kemudian edisi berita terkini adalah  kehadiran petinggi Boeing di Jakarta untuk upaya realisasi pembelian jet tempur canggih F15 Id dari AS. Ini juga sudah ada MOUnya sejak tahun 2023. Jadi ada tambahan beberapa merek alutsista strategis jet tempur yang akan menjadi aset investasi pertahanan Indonesia.

Seperti biasa selalu ada berbagai tanggapan, pernyataan dan pertanyaan dari netizen forum militer tanah air. Maklumlah kita berada di era medsos, literasi dan narasi digital. Salah satunya mengapa kita membeli banyak merek alutsista jet tempur. Bukankah sudah ada jet tempur F16, Hawk, Sukhoi, T50 dan Rafale. Mengapa tidak F16 saja yang kuantitasnya ditambah dan di upgrade. Atau Rafalenya yang ditambah. Bukankah membeli banyak merek akan menimbulkan kendala soal maintenance.Termasuk ketersediaan dan kesiapan pilot serta ekosistem teknisi jika berbeda "kurikulum merek".

Yang harus dipahami, secara kuantitas kita masih kekurangan jet tempur untuk negeri kepulauan ini yang luasnya setara dengan benua Eropa. Saat ini TNI AU punya aset alutsista pemukul 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 30 jet tempur Hawk, 13 jet tempur T50 dan 13 pesawat counter insurgency  Super Tucano. Dan yang sedang dinanti kedatangannya adalah 42 jet tempur Rafale edisi mutakhir. Untuk mencukupi kekuatan standar yang berkorelasi dengan luas wilayah teritori dan dinamika kawasan, Indonesia masih membutuhkan puluhan jet tempur dengan kekuatan minimal 12 skuadron tempur.

Soal banyaknya merek tidak lantas kemudian menjadi sebuah sebutan sebagai show room alutsista atau show of force. Pengalaman embargo after insiden Santa Cruz Timor Leste memberikan pelajaran dan pengalaman pahit ketika bergantung pada satu merek, satu pabrikan dan satu negara. TNI AU waktu itu punya 12 jet tempur F16 fighting falcon dari AS. Embargo suku cadang membuat elang penempur nelongso. Hanya 3 unit yang siap terbang ala kadarnya. Kemudian 3 Juli tahun 2003 terjadi insiden Bawean dengan show of force 5 jet tempur F18 Hornet dari kapal induk AS USS Carl Vinson yang melintas di Laut Jawa menuju Darwin. TNI AU kemudian mengerahkan 2 jet tempur F16 untuk mengingatkan manuver F18 membahayakan penerbangan sipil dari dan ke Juanda Surabaya. 

Embargo dan insiden ini kemudian yang menjadi pemicu pembelian 4 jet tempur Sukhoi dalam program cepat saji pemerintahan Megawati. Hanya dalam hitungan bulan barang harus sudah sampai. Agar bisa tampil dalam HUT TNI tahun 2004. Dalam bahasa militer show of force 5 Hornet US Navy merupakan simbol ejekan dan pelecehan teritori. Kemudian Indonesia membalasnya dengan bahasa militer juga. Membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia. 4 jet tempur ini kemudian tampil dalam perayaan HUT TNI 5 Oktober 2004.

Soal embargo ini memang menyakitkan. Termasuk ketika 4 jet tempur Hawk yang dibawa pilot Inggris secara ferry. Ketika sampai di Bangkok ditinggal begitu saja oleh pilotnya. Padahal hanya selangkah lagi sampai di Medan. Indonesia membeli 40 jet tempur Hawk dari BAE System Inggris. Ini adalah sebuah pertolongan untuk sebuah perusahaan Inggris BAE System yang hampir bangkrut waktu itu. Embargo yang diperlihatkam Inggris terhadap proses pengadaan alutsista yang sedang berlangsung adalah cermin arogansi dan dominasi London. Juga ketika TNI AD menggunakan tank Scorpion dan jet tempur Hawk di Aceh tahun 2003 ternyata tidak diperbolehkan oleh negara pembuatnya, Inggris. Keterlaluan.

Realisasi pembelian 12 jet tempur Mirage ex Qatar adalah tindak lanjut kesepakatan MOU dan bagian dari kesepakatan investasi Qatar di Indonesia sebesar US$ 2 milyar. Tetangga Qatar, Uni Emirat Arab bahkan sudah kontrak efektif pembuatan kapal perang jenis landing platform dock (LPD) 163 meter ke PT PAL Indonesia. Nilai kontraknya US$ 408 juta. Qatar dan UEA adalah mitra strategis Indonesia. Sementara itu realisasi pembelian 6 jet tempur Sukhoi SU35 sebenarnya adalah pembelian yang tertunda. Menjelang kontrak efektif 11 unit SU35 tahun 2018, tiba-tiba ada ancaman UU CAATSA dari AS yang sedang marah dengan Rusia. Sebagai akibat pencaplokan Semenanjung Crimea milik Ukraina. Sebanyak 6 unit SU35 ini akan memperkuat Skuadron Sukhoi di Makassar yang juga menjadi payung pertahanan IKN.

Demikian juga dengan realisasi pembelian jet tempur canggih F15 Id dari AS. Pada MOU tahun 2023 Indonesia berencana membeli 24 jet tempur twin engine ini. Jika dalam realisasi nanti kita hanya membeli 16 unit untuk satu skuadron, sudah sangat membantu dan menjadi satu keputusan yang tepat. Terutama untuk ketersediaan anggaran. Pembelian jet tempur F15 Id juga menjadi salah satu opsi untuk menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia AS yang surplus terus puluhan tahun untuk Indonesia. Untuk tahun 2024 surplus untuk Indonesia ke AS sebesar US$16,84 milyar. Sekilas info, beberapa jenis alutsista yang sudah dan sedang dibeli Indonesia adalah 8 helikopter Apache, 5 pesawat Super Hercuĺes dan 22 helikopter Black Hawk.

Penambahan aset alutsista sebagai investasi pertahanan negeri ini semuanya adalah untuk mengejar ketertinggalan menuju kesetaraan. Kekuatan pertahanan mutlak kita perkuat sebagai pengawal kekuatan ekonomi dan eksistensi negeri. Indonesia masih membutuhkan berbagai jenis alutsista striking force seperti jet tempur, drone bersenjata, radar, kapal perang, kapal selam, peluru kendali. Pengadaan  berbagai merek alutsista adalah dalam upaya meminimalisir embargo, adanya kesepakatan imbal dagang, kesepakatan investasi dan penguasaan teknologi. Kalau disebut menjadi show room alutsista tidak juga. Kan nanti ada alutsista yang harus pensiun. Apalagi disebut show of force, belum waktunya. Karena sesungguhnya kekuatan alutsista kita saat ini belum sampai pada kriteria standar apalagi gahar. Kita baru menuju ke kekuatan kriteria standar.

****

Jagarin Pane / 19 April 2025


Saturday, March 15, 2025

Hasil Program MEF TNI AL

HASIL PROGRAM 

MINIMUM ESSENTIAL FORCE (MEF) TNI AL

Aset Kapal Perang Striking Force TNI AL Produk Dalam Negeri

Kapal Cepat Rudal  Produk PT PAL

1.   KRI Kapak 625

2.   KRI Panah 626

3.   KRI Kerambit 627

4.   KRI Sampari 628

5.   KRI Tombak 629

6.   KRI Halasan 630

Kapal Cepat Rudal Produk Swasta Nasional

1.   KRI Clurit 641

2.   KRI Kujang 642

3.   KRI Beladau 643

4.   KRI Alamang 644

5.   KRI Surik 645

6.   KRI Siwar 646

7.   KRI Parang 647

8.   KRI Terapang 648

9.   KRI Golok (Trimaran) 688 

Kapal Patroli Cepat Produk Swasta Nasional

1.    KRI Pari 849

2.    KRI Sembilang 850

3.    KRI Sidat 851

4.    KRI Cakalang 852

5.    KRI Tatihu 853

6.    KRI Layaran 854

7.    KRI Madidihang 855

8.    KRI Kurau 856

9.    KRI Torani 860

10.  KRI Lepu 861

11.  KRI Albakora 867

12.  KRI Bubara 868

13.  KRI Gulamah 869

14.  KRI Posepa 870

15.  KRI Escolar 871

16.  KRI Karotang 872

17.  KRI Mata Bongsang 873

18.  KRI Dorang 874

19.  KRI Bawal 875

20.  KRI Tuna 876

21.  KRI Marlin 877

22.  KRI Butana 878

23.  KRI Selar 879

24.  KRI Hampala 880

25.  KRI Lumba-Lumba 881

Kapal Korvet Produk Swasta Nasional

1.   KRI VVIP Bung Karno 369 

2.   KRI Bung Hatta 370

3.   KRI Raja Ali Fisabilillah 391

4.   KRI Lukas Rumkoren 392

Aset Kapal Perang Supporting Force TNI AL Produksi Dalam Negeri

Kapal Logistik Produk Swasta Nasional

1.   KRI Dumai 904

2.   KRI Tarakan 905

3.   KRI Bontang 906

4.   KRI Balongan 907

Kapal LPD (Landing Platform Dock) Produk PT PAL

1.   KRI Semarang 594

2.   KRI Dr. Wahidin Sudirohusodo 991

3.   KRI Dr. Rajiman Wedyodiningrat 992

Kapal Pemetaan Bawah Air Produk Swasta Nasional

1.   KRI Pollux 935

Kapal Selam Transfer Teknologi Korsel-PT PAL

1.   KRI Nagapasa 403

2.   KRI Ardadedali 404

3.   KRI Alugoro 405

****

Jagarin Pane / 14 Maret 2025

(Dari Berbagai Sumber)

Monday, March 10, 2025

Menimbang Giuseppe Garibaldi

Nama ITS Giuseppe Garibaldi hari-hari ini menggema kuat di komunitas netizen forum militer tanah air. Dia adalah nama sebuah kapal induk ringan milik angkatan laut Italia yang sudah purna tugas. Selama masa dinasnya Giuseppe Garibaldi membawa pesawat tempur Harrier yang bisa take off dan landing secara vertikal. Kapal induk mini ini sudah bertugas sejak tahun 1985 yang menjadi flagship kebanggaan sekaligus jantung AL Italia selama 40 tahun. Sekarang sudah diganti dengan kapal induk helikopter yang lebih canggih ITS Trieste. Nah kapal induk berusia 40 tahun sepanjang 180 meter inilah yang saat ini sedang dalam kajian untuk bisa menjadi aset TNI AL. 

Indonesia dan Italia beberapa tahun ini sedang berbunga-bunga kerjasama pertahanannya. Semua berawal dari kesediaan Italia untuk "mengalah" dengan keinginan Indonesia membeli 2 kapal perang PPA (Pattugliatore Polivalente d'Altura) setara heavy frigate buatan Fincantieri. Galangan kapal Fincantieri di Italia sudah dan sedang membangun 6 kapal perang PPA untuk AL Italia. Kemudian Indonesia dengan program extra ordinary percepatan pengadaan alutsista ingin mendapatkan 2 kapal perang jumbo PPA yang baru selesai dibangun. Dengan lobby intensif selama setahun akhirnya Indonesia mendapatkan 2 kapal perang setara heavy frigate dengan harga beli US$ 1,23 milyar. Kedua kapal perang itu diberi nama setara dengan kegagahannya. KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Bulan Mei 2025 nanti akan tiba di tanah air.

Sebagai pemllik teritori perairan terbesar di ASEAN, angkatan laut Indonesia saat ini sedang berupaya untuk memperkuat armada tempurnya. Proporsional dengan luasnya wilayah perairannya yang strategis. ALKI 1, ALKI 2 dan ALKI 3 adalah jalur pelayaran internasional yang menjadi  tanggung jawab Koarmada Satu, Koarmada Dua dan Koarmada Tiga. Saat ini TNI AL masih kekurangan aset kapal perang striking force. Catatan kita dalam enam bulan terakhir ini ada penambahan beberapa KRI buatan galangan kapal swasta nasional. Seperti korvet KRI Raja Ali Fisabilillah 391 dan KRI Lukas Rumkoren 392 buatan galangan kapal di Lampung. Yang terakhir korvet KRI Bung Hatta 370 buatan galangan kapal swasta di Batam. Galangan kapal ini juga yang setahun lalu sukses membangun korvet VVIP KRI Bung Karno 369.

Melihat gambaran kedepan sampai tahun 2030 dengan dinamika kawasan yang fluktuatif, antispasi penguatan postur TNI AL perlu percepatan. Dan kebutuhan utamanya adalah kapal perang kelas heavy frigate keatas, kapal selam serbu dan kapal selam nir awak. Kebutuhan untuk memiliki kapal induk ringan adalah dalam upaya menguatkan postur kemampuan armada tempur TNI AL. Juga untuk mobilitas operasi militer selain perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana alam secara cepat. Kehadiran 2 KRI heavy frigate "Brawijaya Class" dan yang sedang dalam pembangunan saat ini di PT PAL yaitu 2 heavy frigate merah putih dengan satu kapal induk ringan akan menjadi sebuah team work armada tempur yang andal. Ini adalah penjabaran dan implementasi dari visi dan misi Nawacita PMD (Poros Maritim Dunia) Indonesia. Yaitu membangun kekuatan pertahanan angkatan laut dengan teknologi satelit dan drone. Garibaldi bisa menjadi kapal induk drone dalam suatu gugus tempur laut TNI AL dengan pengawalan  4 kapal perang heavy frigate dan kapal selam.

PT PAL sebenarnya sudah jauh hari merancang kapal induk helikopter (LHD/Landing Helicopter Dock). BUMN strategis ini adalah industri pertahanan kebanggaan Indonesia yang sudah mampu membuat kapal perang berbagai jenis. Bahkan ada 2 kapal perang LPD (Landing Platform Dock) yang sudah diekspor ke Filipina. Dan saat ini sedang membangun kapal perang LPD 163 meter untuk Uni Emirat Arab. Dengan pengalaman membangun berbagai jenis kapal perang seperti, kapal cepat rudal, korvet, heavy frigate, LPD, kita meyakini Kemampuan PT PAL untuk membangun kapal induk helikopter LHD tidak perlu diragukan. 

Bintang manajemen pertempuran interoperability saat ini dan kedepan adalah teknologi drone, rudal dan jet tempur. Teritori Indonesia dua pertiga adalah perairan, maka pemberdayaan teknologi drone yang memiliki mobilitas tinggi di perairan adalah dengan ketersediaan aset kapal induk drone. Selain Garibaldi rancangan LHD PT PAL sangat dimungkinkan berfungsi sebagai kapal induk drone berdampingan dengan fungsinya sebagai kapal induk helikopter. Artinya kehadiran Garibaldi menjadi kapal induk drone adalah sebuah keniscayaan. Dan dalam tahapan berikutnya bisa berdampingan dengan LHD buatan PT PAL.

Pada akhirnya ketersediaan aset kapal perang TNI AL yang berkualitas dengan teknologi terkini bersama kekuatan jet tempur TNI AU adalah untuk memastikan jaminan pertahanan yang berkelas. Luasnya teritori kita dengan kandungan sumber daya alam yang melimpah memerlukan aset pertahanan yang kuat. Apalagi saat ini ada kepemimpinan adidaya yang bergaya cowboy memaksakan kehendak. Bersemangat dengan aneksasi kepemilikan sumber daya alam Greenland, Terusan Panama, Kanada, tanah jarang Ukraina. Indonesia meski dengan prasangka baik dan kecerdasan diplomasi harus mengantisipasi lebih dini situasi dan kondisi ini. Oleh sebab itu kita harus memperkuat postur pertahanan segala matra. Ke depan potensi konflik dan perang terbuka sangat dimungkinkan karena perebutan sumber daya alam. Demi eksistensi negeri,  demi marwah teritori, kita harus mempersiapkan kekuatan pertahanan lebih dini. Dan kita sedang berada di peta jalan ini.

****

Jakarta, 09 Maret 2025

Jagarin Pane


Wednesday, January 29, 2025

Rasio Anggaran Pertahanan Dan Diplomasi Militer

Rasio anggaran pertahanan Indonesia "selama hayat dikandung badan", sejak era Orde Baru sampai "dino iki" selalu berada di kisaran 0,7-0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Seperti kita ketahui PDB Indonesia sampai akhir tahun 2024 sebesar 1,4 trilyun dolar dan ini menempatkan kekuatan ekonomi kita di ranking 16 besar dunia. Sehingga masuk grup ekonomi elite dua puluh besar G20. Sementara anggaran pertahanan tahun 2025 telah ditetapkan sebesar 165 trilyun rupiah. Setara dengan 10,12 milyar dolar. Angka ini berada di rasio 0,7-0,8% dari PDB kita tahun ini.

Jika kita membandingkan dengan negara ASEAN lainnya maka rasio anggaran pertahanan 0,7-0,8% ini adalah yang terkecil. Padahal luas teritori negeri kepulauan ini adalah yang terbesar di rantau ASEAN. Bandingkan dengan Singapura dan Myanmar yang mencapai 3%, Filipina 1,8%, Malaysia 1,1%, Thailand 1,2%. Sementara rasio anggaran pertahanan  China 1,7% dan Australia 2,04% dari PDB masing-masing. Artinya pengupayaan Kementerian Pertahanan Indonesia untuk meningkatkan rasio anggaran pertahanan menjadi 1,5% dalam perspektif kita sangat wajar. Meski harus dilakukan secara bertahap. 

Misalnya menuju rasio 1 persen dulu sudah sangat proporsional. Pada awalnya memang terlihat ada lonjakan drastis. Anggaran tahun ini yang sudah ditetapkan sebesar  US$ 10,12 milyar (0,7% dari PDB). Jika ingin menyesuaikan ke 1% dari PDB maka anggaran pertahanan tahun depan bisa menyentuh 14-15 milyar dolar. Catatannya adalah pertumbuhan PDB berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi 5% maka PDB juga tumbuh 5 %. Anggaran sebesar ini diperlukan untuk pengadaan dan perawatan alutsista. Berbagai jenis alutsista baru yang menjadi aset pertahanan negeri ini perlu perawatan untuk kesiapan penggunaan. Termasuk adanya frekuensi latihan TNI yang lebih sering tentu memerlukan ongkos perawatan alutsista yang lebih tinggi. Tahun yang lalu berbagai latihan militer TNI skala besar dengan negara lain bisa kita saksikan. Seperti Garuda Shield, Orruda, Keris Woomera dan lain-lain. Termasuk latihan skala besar internal TNI.

Sementara itu dalam lalulintas diplomasi aktif, beberapa negara Indo Pasific melakukan langkah pendekatan serius dengan Indonesia. PM Jepang Shigeru Ishiba baru saja melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia tanggal 10-11 Januari 2025. Jepang kembali menawarkan kerjasama pertahanan. Utamanya untuk membangun kapal perang heavy fregate "Mogami Class" untuk Indonesia melalui pola kerjasama alih teknologi. Sebelumnya, sebagai bentuk keseriusan dan insentif kerjasama, negeri matahari terbit itu sudah menghibahkan 1 kapal besar untuk Coast Guard (Bakamla) Indonesia. Bukan kapal bekas. Ini kapal baru dan saat ini sedang dibangun di Jepang. 

Korsel saat ini sedang mempersiapkan hibah 1 kapal perang "Pohang Class" untuk TNI AL. Nah kalau ini kapal bekas. Bersamaan dengan upaya Seoul mengambil hati Jakarta "menghidupkan kembali" batch 2 pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class. Nagapasa batch 1 telah menghasilkan 3 kapal selam. Sayangnya hanya KRI Alugoro 405 yang pembangunannya di PT PAL Surabaya yang menghasilkan unjuk kinerja lebih baik. Dua "kakaknya" KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 yang pembuatannya di Korsel menghasilkan performa kurang memuaskan. Namanya juga usaha, marketing komunikasi dan lobby-lobby intensif Korsel terus dilakukan, untuk to be continued pembangunan kapal selam batch 2 yang bergelar "anjing kampung" ini.

China juga aktif  melakukan diplomasi militer "penuh senyum" dengan Indonesia sebagai lanjutan diplomasi detente Xi Jinping dan Prabowo. Beijing secara implisit menawarkan 1 kapal perang destroyer dan 1 kapal selam ketika Menhan Sjafri Sjamsudin berkunjung ke China tanggal 21-22 Januari 2025. Sebelumnya Komandan Bakamla Laksdya TNI Irvansyah berkunjung ke markas CCG di Guangzhou China tanggal 10 Januari barusan. Semuanya untuk menindaklanjuti diplomasi detente tadi. Nah kita berpandangan, kunjungan PM Jepang ke Indonesia barusan. Dari kacamata percaturan geopolitik bisa dimaknai sebagai upaya Tokyo mengajak Jakarta agar tetap menjaga  harmoni persahabatan, dan tidak terlalu condong ke Paman Panda.

Dengan India, Prabowo menjadi tamu terhormat dalam perayaan hari jadi Republik India ke 76. Kunjungan Presiden Indonesia tanggal 23-26 Januari 2025 ini menjadi kunjungan paling bermarwah dalam sejarah persahabatan Indonesia-India. Parade militer India yang megah itu menempatkan 350 taruna Akmil dan prajurit TNI berada paling depan. Dengan langkah tegap mengumandangkan mars Maju Tak Gentar, kontingen satu-satunya dari luar India ini mendapat applaus dari hadirin. Begitu bersahabatnya India menyambut kedatangan delegasi tamu dari Indonesia selama 3 hari. Berlanjut kemudian dengan finalisasi pengadaan alutsista canggih peluru kendali Brahmos senilai US$ 450 juta. Alutsista ini sangat dinantikan untuk memperkuat pertahanan pantai Natuna dan IKN. Bahkan untuk pertahanan selat-selat strategis Indonesia seperti selat Sunda, selat Lombok.

Upaya saling berkunjung untuk menguatkan kerjasama dan persahabatan di kawasan Indo Pasific adalah bagian dari strategi diplomatik cerdas Indonesia yang bersahabat dengan semua. Termasuk diplomasi militer, penawaran kerjasama pertahanan, pengadaan alutsisa untuk memperkuat teritori negeri ini. Diplomasi internasional Indonesia dengan baju diplomasi militer tentu memerlukan postur kegagahan dong. Untuk memberikan value added yang bernama marwah dan martabat. Oleh sebab itu perkuatan militer kita yang sampai saat ini masih berkategori minimum essential force menjadi sebuah keniscayaan. Pengadaan alutsista strategis seperti kapal perang heavy fregate, kapal selam, jet tempur, drone bersenjata, radar, berbagai jenis peluru kendali memerlukan anggaran besar. Peningkatan rasio anggaran pertahanan menjadi 1-1,5 persen dari PDB adalah keniscayaan yang pantas dan wajar untuk percepatan penguatan postur pertahanan negeri. 

****

Jagarin Pane / 28 Januari 2025


Wednesday, December 25, 2024

Memahami Diplomasi Detente Prabowo

Pernyataan bersama Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping soal Laut China Selatan (LCS) tanggal 9 Nopember 2024 mendapatkan respon yang luar biasa. Di dalam dan di luar negeri. Ada dua catatan yang bisa kita kedepankan sebagai bagian dari diplomasi detente Presiden kita ini. Yang pertama adalah ketika Prabowo terpilih menjadi Presiden Indonesia, China mengundangnya secara khusus dalam kapasitas sebagai presiden terpilih. Meski kemudian Kemenlu Indonesia meluruskannya sebagai Menteri Pertahanan. Prabowo berkunjung ke Beijing tanggal 31 Maret sampai 2 April 2024 dan mendapat sambutan hangat Presiden China Xi Jinping. Ini sebuah inisiasi diplomatik terukur Paman Panda untuk merangkul Jakarta.

Yang kedua, setelah dilantik menjadi Presiden Indonesia, Prabowo memilih China sebagai negara pertama yang dikunjungi sebelum kunjungan safari ke benua Amerika. Dan ini hanya berjarak enam bulan interval berkunjung ke China. Luar biasa berbalas pantun diplomatik. Sementara kunjungan berikutnya Prabowo ke AS tanggal 10-13 November 2024, kemudian menghadiri KTT APEC di Peru tanggal 15-16 November 2024 dan KTT G20 di Brazil tanggal 18-19 November 2024. Dalam kunjungan kenegaraan ke China tanggal 8-10 November 2024 inilah lahir Joint Statement bersejarah China-Indonesia. Judulnya sangat rinci: Peningkatan Kemitraan Strategis Komprehensif Dan Komunitas China-Indonesia Untuk Masa Depan Bersama. 

Pernyataan bersejarahnya ada di butir 9. Bahwa kedua negara akan bersama-sama membuat lebih banyak titik terang (bright spot) dalam kerjasama maritim termasuk untuk area yang mengalami klaim tumpang tindih dan sepakat untuk membentuk komite pengarah bersama. Kementerian luar negeri Indonesia kemudian memberikan penjelasan bahwa Joint Statement bukanlah pengakuan terhadap nine dash line China. Dan kerjasama maritim Indonesia-China tidak berdampak pada kedaulatan maupun yuridiksi Indonesia di Laut Natuna Utara (LNU). Maka gema joint statement kedua negara ini membuat kalkulasi geopolitik LCS bergelombang.

Dalam perspektif kita langkah diplomatik Presiden Prabowo ini setidaknya berupaya mengurangi demam berkepanjangan di LCS yang sudah menimbulkan banyak provokasi dan insiden. Menurunkan ketegangan atau relaksasi  dikenal dengan istilah detente. Yaitu upaya diplomatik mengelola hubungan dengan negara yang berpotensi menjadi musuh untuk menjaga perdamaian. Dan bahkan bisa membangun kerjasama simbiosis mutualistis. Istilah detente sangat populer pada era ketegangan NATO dengan Pakta Warsawa. Langkah diplomatik Prabowo ini juga ingin menegaskan bahwa Indonesia punya cara tersendiri dalam mengelola hubungan luar negerinya. Termasuk diplomasi militer. 

Kita tidak ingin terjebak dalam framing ikut dan atau dipengaruhi salah satu persekutuan dan aliansi militer. Dengan AS kita sudah punya hubungan kemitraan strategis komprehensif, sama dan setara dengan China. Indonesia dan Australia punya perjanjian Defence Cooperation Agreement (DCA) revisi dari Lombok Treaty. Juga dengan Singapura. DCA dengan Australia telah menghasilkan latihan militer terbesar sepanjang sejarah "Keris Woomera" bulan November yang lalu di Jawa Timur. DCA dengan Singapura, mengizinkan negeri mungil sejahtera berotot militer itu menggunakan perairan di selatan Natuna untuk latihan militernya. Dengan militer AS, Indonesia setiap tahun melakukan latihan tempur tiga matra skala besar "Garuda Shield", bersama negara sahabat yang lain. Dengan Armada Pasifik Rusia, TNI AL baru saja melakukan latihan tempur laut "Orruda Exercise" di laut Jawa bulan lalu.

Dalam diplomasi detente, mengumandangkan bright spot jauh lebih baik daripada memelihara hot spot. Membangun kerjasama untuk kepentingan bersama jauh lebih penting daripada memelihara titik panas konflik oleh sebuah sebab yang tidak proporsional. Indonesia sebenarnya tidak berkonflik kedaulatan teritori dengan China. Tumpang tindih dengan nine dash line China ada di perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) LNU, bukan di perairan teritori kedaulatan NKRI. ZEE Indonesia di LNU adalah hak berdaulat sesuai Konvensi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982. Konvensi ini ditandatangani 10 Desember 1982 di Jamaika. Berlaku efektif sejak 16 Nopember 1994. Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 dengan UU No 17 tahun 1985 . China baru meratifikasi UNCLOS 1982 pada tahun 1996. Sementara AS sampai saat ini belum mengakui UNCLOS 1982.

Mengapa AS begitu bersemangat membangun aliansi militer AUKUS di Indo Pasifik. Menggelar kekuatan militer secara besar-besaran. Melakukan latihan militer dengan sejumlah negara di Indo Pasifik. Memperkuat Australia dengan kapal selam nuklir. Membangun pangkalan militer di Filipina. Menguatkan pertahanan Taiwan. Memindahkan armada kapal induk dari kawasan Teluk ke Pasifik. Semua langkah strategis AS ini  adalah untuk mengantisipasi ancaman militer China. Termasuk memelihara hegemoni superioritas ekonominya yang bersaing ketat dengan China. Dalam bahasa Samuel Huntington musuh masa depan AS adalah China.

Mengantisipasi dinamika geopolitik kawasan dan untuk urusan kedaulatan teritori, Indonesia terus menguatkan postur pertahanannya, proporsional dengan luas wilayahnya. Dua kapal perang setara heavy fregate "Brawijaya Class" dari Italia tahun depan memperkuat armada tempur TNI AL. Termasuk kontrak efektif pembangunan dua kapal selam Scorpene dengan Perancis. Pembangunan kapal perang jenis OPV 90, kapal cepat rudal, kapal patroli cepat terus berlangsung di galangan kapal swasta nasional. PT PAL saat ini sedang membangun 2 kapal perang terbesar heavy fregate "merah putih" di galangan kapal miliknya di Surabaya.

Sementara TNI AD akan mendapatkan 22 helikopter Black Hawk dari AS, sejumlah rudal balistik Khan buatan Turki,  UAV dan berbagai jenis ranpur lainnya. TNI AU menambah dan menguatkan satuan radar dengan 25 radar GCI baru. Sebagian buatan Perancis dan sebagian lagi buatan Ceko. Juga mempersiapkan infrastruktur untuk 42 jet tempur Rafale, 2 pesawat angkut A300 MRTT, 2 pesawat angkut A400M dan sejumlah drone bersenjata. Ini adalah program strategis extra ordinary untuk memastikan keberdayaan militer menjaga marwah teritori negeri kepulauan ini

China adalah kekuatan ekonomi dan militer masa depan. Pertumbuhan ke arah itu sangat jelas sekarang. Dunia yang unipolar saat ini sudah menuju multipolar. Pemegang piala hegemoni AS dan sekutu Baratnya tentu berupaya agar hegemoni ekonomi, hegemoni militer, hegemoni framing dan informasi tidak tergerus abrasi China. Maka sekarang kita lihat polarisasi dunia menguat. Perang Rusia-Ukraina adalah hasil dari hegemoni framing. Di sisi yang lain ada pembiaran kekejaman Israel di Gaza. Semua ini karena perilaku hegemoni yang overdosis dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Termasuk lahirnya aliansi militer China, Rusia, Korea Utara, Iran adalah karena ketidakadilan hegemoni. Juga BRICS.

Oleh sebab itu kita melihat langkah diplomatik cerdas Presiden Prabowo dan Presiden Xi Jinping melalui Joint Statement bisa diartikan dalam perspektif memandang over the horizon. Dunia masa depan dengan adalah kerjasama, bukan permusuhan. Indonesia tidak ingin terjebak dalam percaturan spion hegemoni karena masa depan harus dibangun dengan kerjasama ekonomi semua pihak. Membangun kerjasama internasional melalui bright spot adalah jalur terbaik untuk menuju Indonesia Emas. Termasuk membangun kekuatan militer negeri ini adalah untuk memastikan keberdayaan dan kewibawaan teritori NKRI serta marwah diplomasi. Semoga.

****

Jagarin Pane / 25 Desember 2024


Sunday, December 15, 2024

Iskandar Muda Berangkat, Diponegoro Pulang

Di tengah suasana konflik hebat di Timur Tengah, Indonesia istiqomah menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Termasuk melakukan pergantian tugas Maritim Task Force (MTF)  UNIFIL di perairan perbatasan Lebanon-Israel. KRI Diponegoro 365 yang sudah bertugas sepanjang tahun ini pulang tugas dan digantikan kapal perang striking force "satu kelas" KRI Sultan Iskandar Muda 367. Sama-sama keluaran Damen Schelde Belanda. KRI satu kelas lainnya adalah KRI Sultan Hasanudin 366 dan KRI Frans Kaisiepo 368. Semuanya dilengkapi dengan peluru kendali canggih Exocet MM40 Blok 3 dan infrastruktur tempur lainnya.

Iskandar Muda berangkat dari Navy Base Surabaya pekan ketiga Desember 2024 dengan 120 prajurit TNI AL dan 1 helikopter anti kapal selam Panther. Persiapan sudah dilakukan sejak Oktober 2024. Termasuk mengikuti latihan gabungan operasi tempur laut bersama belasan KRI di Laut Jawa seminggu yang lalu. Dengan puncaknya penembakan litoral Rudal Exocet MM 40 Blok 3 ke arah pulau Gundul di Karimunawa.

Rute perjalanan yang akan dilalui Surabaya, Jakarta, Batam, Sri Lanka, Oman, Mesir dan Beirut. Sebuah rute perjalanan panjang untuk misi mulia tugas PBB sekaligus menguatkan marwah negeri ini yang cinta perdamaian. Indonesia sudah terbiasa mengirim kapal perang ke Lebanon. Beberapa KRI bergantian tugas untuk MTF UNIFIL.

Kontribusi Indonesia untuk UNIFIL di perbatasan Lebanon-Israel saat ini adalah yang terbesar dibanding negara lain. Ada 1.230 prajurit TNI yang sedang bertugas di perbatasan Lebanon-Israel dibawah desingan puluhan jet tempur Israel yang membombardir kota-kota di Lebanon. Juga desingan roket-roket Hizbullah yang menyeberangi perbatasan udara Lebanon-Israel. Tugas penuh resiko ini tetap harus dijalankan untuk misi perdamaian PBB dan salah satu implementasi dari Pembukaan UUD 45. Selamat bertugas untuk misi perdamaian dan kemanusiaan, Jalesveva Jayamahe.

****

(Jagarin Pane)

Wednesday, November 13, 2024

Habis Orruda Terbitlah Woomera

Diplomasi militer Indonesia beberapa pekan ini memperlihatkan kapabilitas non bloknya. Angkatan Laut Indonesia baru saja menggelar latihan gabungan dengan Angkatan Laut Rusia di Laut Jawa. Namanya Orruda Exercise. Masing-masing mengerahkan 3 kapal perang dengan pengawalan 1 kapal selam Kilo Class dari Armada Pasifik Rusia. Ini yang menarik, kapal selam "herder" ini tidak ikut latihan, hanya mengawal. Bagaimanapun kehadiran kapal selam Kilo Rusia di Orruda Exercise memberikan nilai kejut sekaligus nilai gahar.

Usai Orruda berlanjut dengan Latgab yang lain. Yaitu Latgab TNI bersama Australia bertajuk Keris Woomera. Kalau ini 3 matra TNI dan Australia melakukan berbagai serial latihan dengan ribuan pasukan dan alutsista. Mulai dari Darwin Australia kemudian berkonvoi menuju Banyuwangi untuk debarkasi alutsista milik Australia. Puncaknya tanggal 16 November 2024, dengan melakukan operasi tempur serbuan pantai untuk pendaratan pasukan marinir di Situbondo. Marinir Indonesia akan unjuk kemampuan dengan pengerahan tank-tank amfibi dan sejumlah alutsista lainnya. Termasuk dukungan pesawat intai, drone, radar dan jet tempur TNI AU.

Keris Woomera adalah implementasi dari Defence Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia dan jiran selatan yang berwajah Eropa. Inilah Latgab terbesar yang dilakukan Indonesia dan Australia sepanjang sejarah. Maklumlah jiran kita ini sedang berupaya "mengambil hati" tetangga besarnya yang kerap diusili soal OPM dan HAM. Sekarang sudah gak ngeributin OPM lagi karena fokus dengan AUKUS. Nah pakta AUKUS kan perlu berbaik hati kepada Jakarta untuk kulonuwun akses militer jika terjadi konfrontasi dengan China di Laut China Selatan.

Diplomasi militer Indonesia mah bebas-bebas aja. Kita bersahabat dengan semua pihak yang berseteru. Bulan depan TNI  kembali akan melakukan Latgab. Kali ini dengan militer PLA China. Bahkan kabar terbaru dari Beijing setelah kunjungan Presiden Prabowo, China menawarkan 2 kapal perang jumbo heavy fregate kepada Indonesia. Ini bukan hal yang baru. Beberapa tahun lalu Indonesia juga pernah membeli 8 unit drone bersenjata CH4 Wing Loong dari China. 

Intinya kita tidak ingin terjebak dalam pusaran konflik di era Unipolar saat ini dengan AS, NATO dan AUKUS sebagai penguasa hegemoni. Dalam visi over the horizon prediksi ke depan dunia sudah menuju Multipolar. China sedang menuju kejayaan sebagai kekuatan ekonomi number one in the world. Demikian juga dengan kekuatan militernya. Rusia-China-Korut-Iran sudah membentuk aliansi militer. Pasukan Korut sudah bertempur di Rusia melawan Ukraina. BRICS sudah semakin menguat dan berpengaruh, Indonesia mulai mendaftar ikut bergabung. Dari semuanya kita harus bersiap mengantisipasi prediksi untuk masa depan. Dengan tetap istiqomah di marwah non blok. Diplomasi militer kita sudah menyiratkan prediksi itu.

****

Jagarin Pane / 13 November 2024

Wednesday, November 6, 2024

Diplomasi Merdeka Prabowo

Selama seminggu sejak pelantikan Presiden Prabowo Subianto, kapal "milisi" China Coast Guard (CCG) 5402 melakukan manuver di Zona Ekonomi Eksklusif Laut Natuna Utara (ZEE LNU). CCG menganggu survey dan pengolahan data seismik 3D MV Geo Coral di wilayah eksplorasi Pertamina East Natuna. Kemudian kapal Bakamla Indonesia KN Tanjung Datu 301datang, menegur dan mengusir. Dua hari kemudian CCG 5402 datang lagi, diingatkan lalu pergi. Besoknya datang lagi dan dengan lantang bilang bahwa perairan ini adalah wilayah yuridiksi China bla bla bla. Kali ini agak ngeyel dikandani, perang komunikasi. Akhirnya kapal Bakamla KN Pulau Dana 323 dengan dukungan KRI Sutedi Senaputra 378 dan kapal tanker logistik KRI Bontang 907 bermanuver tegas dan mengusir "cumi-cumi" CCG keluar wilayah ZEE LNU. Dan tidak datang lagi. Ini adalah untuk pertama kali kapal CCG menerobos ZEE Natuna sepanjang tahun 2024. Mau uji nyali neh dengan pemerintahan baru Indonesia.

Minggu pertama Pemerintahan Prabowo, Indonesia menguatkan langkah untuk siap menjadi anggota BRICS. Menlu Sugiono di Kazan Rusia dalam KTT BRICS menegaskan bahwa Indonesia perlu bergabung dengan organisasi ekonomi manapun sesuai dengan politik bebas aktif dan bermanfaat untuk kepentingan nasional. BRICS dengan anggota pendiri Brasil, Rusia, India, China dan South Africa saat ini sedang naik daun dan anggotanya semakin banyak. BRICS diniscayakan sebagai kekuatan baru "penggerus" hegemoni kekuatan ekonomi dunia yang masih dikuasai G7. Sekaligus mengurangi hegemoni dolar AS dalam transaksi keuangan dunia. Langkah diplomatik cerdas Indonesia ini, dalam pandangan kita sebagai simbol kemerdekaan diplomasi sekaligus untuk menyongsong dunia yang multipolar. Prediksi yang menguat bahwa pada saat Indonesia Emas 2045, dunia sudah berada dalam ekosistem multipolar.

Diplomasi militer Indonesia hari-hari ini memperlihatkan jatidirinya. Sejak tanggal 4 sampai dengan 8 November  2024 TNI AL  melakukan latihan gabungan dengan Angkatan Laut Rusia di Laut Jawa. Namanya Orruda Exercise. Indonesia mengerahkan 2 KRI striking force KRI I Gusti Ngurah Rai 332,  KRI Frans Kaisiepo 368 dan satu helikopter anti kapal selam. Sementara Rusia mengerahkan 3 kapal perang korvet full armament, 1 kapal logistik dengan pengawalan 1 kapal selam yang tidak ikut latihan. Orruda Exercise memberikan makna kepada semua pihak bahwa Indonesia bersahabat dengan para pihak yang saling berseteru, bersaing dan berkelahi. Kita tahu bahwa Rusia saat ini sedang berperang melawan Ukraina dengan dukungan AS, NATO dan Australia.

Pada saat yang bersamaan Indonesia dan Australia saat ini juga sedang melaksanakan latihan militer gabungan skala besar "Keris Woomera" dengan mengerahkan ribuan pasukan kedua negara. Keris Woomera sudah dimulai sejak 3 November 2024 yang lalu di Darwin. Serial latihan ini melibatkan 3 matra pasukan kedua negara dengan pengerahan sejumlah alutsista tank, artileri, roket multi laras, jet tempur, tank amfibi dan kapal perang  Puncaknya adalah pendaratan pasukan marinir lewat serbuan pantai di Situbondo Jawa Timur tanggal 16 November 2024 nanti. Latihan gabungan ini tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah. Bagian dari protokol perjanjian kerja sama pertahanan (defence cooperation) antara Indonesia dan Australia yang diperbaharui baru-baru ini di Magelang. Isinya sudah sama-sama tahu lah. Jiran selatan punya kepentingan akses militer untuk pengerahan alutsista ke Utara. Jadi kulo nuwun dulu.

Sebagai bagian dari diplomasi penguat persahabatan, Pesiden Prabowo akan melawat ke luar negeri mulai tanggal 8 sampai dengan 23  November 2024. Negara pertama yang dikunjungi sejak menjabat Presiden adalah China. Sebuah kehormatan diplomatik untuk China meski baru saja bikin gara-gara di ZEE LNU. Kawan satu ini memang suka mancing keributan di kawasan. Selalu menggertak Taiwan, sesekali Jepang dan setiap saat bermanuver di Paracel dan Spratly. Kunjungan Presiden Prabowo ke Beijing boleh jadi ingin mengingatkan Paman Mao pentingnya persahabatan berbasis simbiosis mutualistis. Tanpa harus bersitegang. China memang sedang menuju kekuatan ekonomi nomor wahid sejagad. Bersamaan dengan itu China juga membangun kekuatan militer berkarakter ofensif. Maka mulailah gesek sana gosok sini.

Dari China rombongan Presiden akan membelah lautan Pasifik menuju AS untuk bertemu Joe Bidden, pada saat Presiden baru AS sudah terpilih tapi baru dilantik Januari 2025. Prediksi kita salah satu poin penting pertemuan dgn USA One adalah menindaklanjuti proses pengadaan 24 jet tempur F15 Id untuk TNI AU. Biar cepat gitu loh. Dari Washington Prabowo melanjutkan perjalanan menuju Amerika Latin. Di Peru menghadiri KTT APEC kemudian berlanjut ke Brasil mengikuti KTT G20. Dari Amerika Latin bertolak melintasi Lautan Atlantik menuju London Inggris sebagai kunjungan terakhir. Maka lengkaplah perjalanan RI One keliling permukaan bumi selama 2 pekan.

Rangkaian alinea diatas jika ingin kita rajut dan sulam sebenarnya adalah simbolisasi dari sebuah kemerdekaan berdiplomasi Indonesia. Baik diplomasi militer maupun diplomasi persahabatan. Dengan Rusia, China dan AS kita bersahabat setara. Kita ingin menyampaikan pesan ke segala penjuru mata angin bahwa Republik Indonesia bersahabat dengan semua pihak. Namun kita juga ingin menguatkan hakekat marwah diplomasi kita dengan menguatkan pertahanan negeri kepulauan ini. Dan Presiden Prabowo baru saja menandatangani ratifikasi UU kerjasama pertahanan dengan 5 negara sahabat, yaitu India, Brasil, Perancis, UEA dan Kamboja. 

Saat ini kita terus membangun kekuatan militer untuk mengejar ketertinggalan. Terbaru pekan ini dana pinjaman sebesar US$ 1,26 milyar untuk pengadaan 2 kapal perang setara heavy fregate dari Fincantieri Italia sudah cair. Bersamaan dengan itu Indonesia dan Turki baru saja berseremoni first steel cutting untuk membangun 2 kapal cepat berpeluru kendali di galangan kapal Turki. Ini bagian dari proses transfer teknologi, membangun kapal perang cabe rawit "little but lethal" dengan speed 40 knot. TNI AL saat ini memang sudah memiliki puluhan unit kapal cepat rudal dan non rudal produk dalam negeri, namun batas maksimal kecepatannya hanya 30 knot. 

Pembangunan kekuatan pertahanan adalah bagian penguat marwah diplomasi sebuah negara. Berbagai strategi diplomasi Indonesia bisa terlihat dari rangkaian aktivitas diplomatik dan aktivitas militer yang saling menguatkan. Mungkin ada yang tidak senang dengan rencana bergabungnya Indonesia dengan BRICS. Termasuk latihan militer TNI AL dengan AL Rusia. Jawabnya sederhana, kita kan bukan bagian dari salah satu aliansi militer, bukan juga sekutu AS atau China. Semuanya adalah mitra strategis dengan porsi masing-masing. Ini yang kita sebut hakekat diplomasi merdeka dan bebas aktif. Gaya kepemimpinan Presiden Prabowo sangat menjunjung marwah berdiplomasi seperti ini. Tentu dengan dukungan kekuatan ekonomi dan kekuatan pertahanan yang saling bersinergi. Alhamdulillah kekuatan ekonomi kita saat ini ada di urutan 16 besar dunia sehingga masuk G20. Demikian juga kekuatan militer kita terus menguat menuju mekar dan gahar. Kombinasi yang saling menguatkan marwah negeri ini. Alhamdulillah.

****

Jagarin Pane / 6 November  2024


Wednesday, October 16, 2024

Perayaan Spektakuler Sepanjang Sejarah Republik

Daerah Khusus (masih) Ibukota Jakarta, Lima Oktober 2024 kemarin berubah menjadi Daerah Khusus Alutsista. Ribuan alutsista TNI berbagai jenis dengan seratus ribuan tentara dan sejuta warga Jakarta dan sekitarnya memenuhi kawasan Monas dan jalan-jalan protokol di Jakarta. Lebih istimewa lagi dari perayaan ini adalah rakyat ikut menikmati rangkaian acara meski terik matahari menyengat. Bahkan ikut menaiki beragam jenis alutsista yang digelar secara besar-besaran. Berlanjut dengan pergelaran konser musik TNI_Rakyat di panas yang terik masih mampu menyedot ratusan ribu antusias warga Jakarta. Tolong dicatat, ini benar-benar spektakuler sepanjang sejarah.

Ribuan alutsista yang memadati Monas dan sekitarnya termasuk adanya penyerahan 569 unit alutsista baru dari Kementerian Pertahanan untuk matra TNI. Rinciannya adalah 23 panser Pandur, 9 panser Anoa, 4 panser Komodo, 8 tank Harimau dan 250 rantis Maung V3. Semuanya buatan PT Pindad. Selain itu ada juga penyerahan 250 truk angkut pasukan, 9 rantis APC, 8 unit RBB, dan 8 unit ransus peluncur missile. Semuanya dari industri pertahanan swasta nasional. Kalau dilihat dari udara penumpukan berbagai jenis alutsista ini seperti persiapan menuju perang besar.

Seluruh alutsista TNI tiga matra yang diperlihatkan, dipergelarkan termasuk aset TNI AL dengan puluhan KRI unjuk formasi tempur di Laut Jawa. Bersamaan dengan itu ada atraksi puluhan jet tempur TNI AU, atraksi Jupiter Aerobatic Team, puluhan helikopter tempur dan penampilan si tangguh Hercules. Tontonan yang membuat semua orang melihat ke angkasa adalah episode pertempuran jarak dekat (dog fight) antara jet tempur Sukhoi dan F16 TNI AU. Benar-benar sebuah sajian simulasi yang mengagumkan ketika masing-masing jet tempur meliuk-liuk melontarkan flare. Seperti sedang menyaksikan film Top Gun di dunia nyata. Cerahnya langit Jakarta membuat kita bisa menyaksikan adegan "pertempuran" dengan decak kagum.

Parade berbagai jenis alutsista TNI tampil gahar bersama derap langkah tegap ribuan pasukan Brigade Upacara. Alutsista TNI AD yang tampil  banyak sekali. Ada panser Anoa, panser Badak, panser Pandur, dan tank Harimau. Semuanya buatan Pindad. Kemudian ada si perkasa MBT Leopard, tank Marder made in Jerman. Ranpur Bushmaster, SPH Caesar Nexter,  SPH M109, MLRS Astross, M3  Amphibious Rig. Kemudian ranpur Satbak rudal Mistral dan Satbak rudal Starstreak. Penerbad mengerahkan helikopter Apache, Bell 412 Ep dan lain-lain. Yang menarik adalah penampilan surprise berbagai jenis drone dalam satuan Brigade Drone. Ada drone geospasial, drone surveillance, drone logistik dan drone combat. Penampilan drone combat CH4 milik skadron UAV 52 Natuna menarik perhatian khalayak.

TNI AL  mengerahkan parade lima puluhan KRI berbagai jenis di Laut Jawa, termasuk kapal selam. Sementara untuk di Monas Korps Jalesveva Jayamahe ini menampilkan persenjataan strategis KRI striking force seperti peluru kendali anti kapal Exocet Blok 2 dan Blok 3. Juga rudal Harphoon, rudal C803, rudal C705, rudal Yakhont dan torpedo Black Shark. Tidak ketinggalan menampilkan Coastal Missile yang belum ada mereknya. Kebutuhan Coastal Missile memang sangat mendesak untuk perlindungan Natuna dan selat strategis Indonesia. Hantu laut Korps Marinir menampilkan tank amfibi BMP-3F, tank amfibi lawas PT76, panser amfibi BTR-50, tank amfibi angkut pasukan LVT7,  Roket multi laras Vampire dan RM Grad serta berbagai jenis alutsista Kopaska dan Denjaka TNI AL.

Alutsista tentara langit kita berjaya menggemuruhkan langit Jakarta dan sekitarnya. Puluhan jet tempur berbagai jenis memperlihatkan manuver yang mengesankan. Ada jet tempur Hawk sedang mimik Avtur di udara dengan "SPBU" nya pesawat Hercules. Ada pesawat counter insurgency Super Tucano, ada  jet tempur "baby falcon" T50 Golden Eagle. Kemudian gemuruh manuver belasan jet tempur F16 memberikan suasana kebanggaan bagi kita semua. Tidak ketinggalan ranpur peluncur peluru kendali surface to air missile Nassam2 tampil berwibawa. Nassam 2 adalah bagian dari Air Defence System pelindung Jakarta.  Kekuatan jet tempur TNI AU akan bertambah jika 42 jet tempur Rafale dan 24 jet tempur F15 Id sudah menjadi aset strategis TNI AU. Makin strong saja kekuatan tentara langit kita.

Untuk diketahui parade limapuluhan kapal perang TNI AL kemarin adalah bagian dari pertanggungjawaban kesiapan operasional matra laut untuk menjaga dan melindungi perairan strategis kita. Kebanggaan yang menyertainya adalah suksesnya PT PAL dan galangan kapal swasta nasional melakukan upgrade 41 KRI dalam waktu 2 tahun. Ini pekerjaan yang luar biasa untuk menguatkan postur tempur KRI dengan pembaharuan instalasi rudal, radar dan instrumen tempur lainnya termasuk repowering. PT PAL sebagai lead integrator merasa bangga mampu menyelesaikan pekerjaan prestise ini. PT PAL  belum pernah mendapatkan order upgrade KRI sebanyak ini. Sebuah kepercayaan yang luar biasa untuk industri pertahanan maritim Indonesia. Kita patut mengapresiasinya.

Perayaan HUT TNI ke 79 ini sejatinya adalah pertunjukan pertanggungjawaban program MEF (minimum essential force) TNI selama 15 tahun terakhir. Bersamaan dengan itu pergelaran pasukan dan alutsista TNI secara besar-besaran adalah bagian dari penghormatan untuk masa tugas Presiden Jokowi yang segera akan berakhir. Berlanjut dengan suksesi kepemimpinan nasional kepada Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih. Banyak pencapaian penguatan alutsista selama kepemimpinan Presiden Jokowi. Terutama lima tahun terakhir sejak Prabowo memimpin Kementerian Pertahanan.

Kepada kita rakyat Indonesia, Kementerian Pertahanan dan TNI memperlihatkan berbagai jenis alutsista canggih yang sudah masuk aset investasi pertahanan negeri. Melalui defile dan parade dengan penonton yang bergairah dan bangga, berbagai jenis alutsista TNI melintas gagah. Dan ini yang membanggakan rakyat bangsa mulai dari anak balita sampai dewasa bisa ikut menaiki dan menikmati beragam jenis alutsista kebanggaan negeri. Sebuah suasana kebangsaan yang membuncah dan membungakan hati. Para diplomat asing yang menyaksikan langsung acara ini ikut gembira dan kagum. Perayaan ulang tahun tentara sebuah negara kepulauan yang multi etnik, mampu memperlihatkan semangat nasionalis patriotik yang luar biasa.

Di hadapan kita saat ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Demam berkepanjangan. Kawasan Timur Tengah sedang marah membara membahayakan eksistensi dunia. Perang Rusia Ukraina semakin mencekam dengan ancaman serangan nuklir balasan kepada negara yang menyerang Moskow dengan perlindungan negara pemilik nuklir. Semenanjung Korea semakin ruwet dengan pergelaran dan ancaman nuklir Korut. China juga ikut memanaskan kawasan dengan terus menerus memprovokasi Taiwan. Termasuk mengobok-obok Laut China Selatan. AS kembali mengerahkan 3 kapal induk ke Timur Tengah yang biasanya konsentrasi di Asia Pasifik. Perubahan geopolitik dunia begitu cepat.

Semua dinamika ini harus kita cermati, kita waspadai dan kita sikapi. Antisipasi terbaik adalah percepatan perkuatan barikade pertahanan. Indonesia sedang ada dalam fase ini, pengadaan alutsista secara extra ordinary. Maka langkah Kementerian Pertahanan mempercepat proses pengadaan alutsista adalah strategi terbaik. Seperti pengadaan 2 kapal perang PPA setara heavy fregate dari Fincantieri Italia adalah model pengadaan extra ordinary. Dukungan rakyat tercermin dari tumpah ruahnya mereka di acara HUT TNI ke 79. Mereka mengagumi tentaranya, mereka bangga dengan kepemilikan alutsista TNI. Inilah capital gain yang harus kita genggam untuk terus memperkuat alutsista TNI. Mari kita berlari mengejar percepatan itu.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2024


Sunday, September 22, 2024

Reportase Alutsista

PENGADAAN ALUTSISTA ON GOING PROJECT

  6 Jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korsel

  7  Pesawat amfibi dari Kanada

42  Jet tempur Rafale dari Perancis

  2  Pesawat angkut A330 MRTT dari Airbus

  2  Pesawat angkut  A400M dari Airbus

22  Helikopter Blackhawk dari AS

   4 Helikopter H145 dari Airbus

18 Tank Harimau dari Pindad

17  Panser canon Badak dari Pindad

90  Ranpur Komodo dari Pindad

   8  Rudal balistik Khan dari Turki

 13  Radar GCI dari Thales Perancis

 12  Radar GCI dari Excalibur Army Ceko

 12  Drone UCAV Anka dari Turkiye

   2  Kapal  heavy fregate "Merah Putih"  dari PT PAL

   2  Kapal perang PPA dari Fincantieri Italia

   2  kapal selam Scorpene Evolved dari Perancis

   1  Kapal penyelamat kapal selam dari Inggris

   2  Kapal perang OPV dari GKSN Lampung

   1  Kapal perang korvet dari GKSN Batam

   1  Kapal perang hydro ocean dari GKSN Batam

   2  Kapal cepat rudal dari GKSN Bekasi

   1  Kapal perang Pohang Class dari hibah Korsel

Catatan:

GKSN : Galangan kapal swasta nasional


NEXT ORDER

24 Jet tempur F15 Id dari AS

24 Jet tempur IFX kerjasama RI-Korsel

  2  Pesawat AEW&C

12  Drone UCAV Bayraktar dari Turkiye

  2  Kapal selam serbu interim

  4  Kapal selam midget

  8  Coastal Missile Brahmos dari India

  1  Kapal perang LHD dari PT PAL

  2  Kapal perang heavy fregate

40  Ranpur amfibi untuk marinir

10  MLRS untuk marinir

****

Jagarin Pane / 22 Sep 2024

(Dari berbagai sumber)

Friday, September 6, 2024

Memahami Kerjasama Pertahanan Dengan Australia

Akademi Militer Magelang menggelar seremoni meriah menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles Kamis 29 Agustus 2024 yang lalu. Seremoni militer ini menjadi sambutan kehormatan istimewa untuk lahirnya  sebuah perjanjian kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement, DCA) antara Indonesia Australia. Setelah melalui 30 kali perundingan marathon baik secara daring maupun luring. Termasuk perundingan di Jakarta dan Canberra secara bergantian pada bulan Mei, Agustus dan Desember 2023. Akhirnya selesai 20 Agustus 2024. Dan PM Australia Anthony Albanese mengundang Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk merayakan selesainya DCA di Canberra.

Apa sih istimewanya DCA ini dan apa untungnya bagi Indonesia. Apalagi jika kita menelusuri perjalanan bertetangga dengan jiran selatan berwajah dan berwatak Eropa ini. Senangnya selalu cawe-cawe urusan dalam negeri Indonesia seperti soal OPM di Papua dan HAM. Masih segar dalam ingatan kita ketika Timor Timur dalam proses menuju kemerdekaannya tahun 1999. Negeri Kanguru ini memperlihatkan arogansi militernya. Pengerahan kekuatan militernya ke Timor Timur sangat berlebihan. Padahal misinya sebagai pasukan perdamaian INTERFET (International Force East Timor) non PBB.

Kemudian yang paling menyesakkan adalah  ancaman Australia. RAAF akan mengebom pusat-pusat komunikasi dan infrastruktur militer di Jakarta dengan pesawat pengebom jarak jauh F111 Aardvark, jika terjadi eskalasi antara pasukan ABRI dan INTERFET di Timor Timur. Benar-benar angkuh dia. Saat itu Jakarta menyikapinya dengan kepala dingin karena masih dalam suasana reformasi, transisi pemerintahan dan kondisi perekonomian yang masih morat marit. Termasuk kondisi alutsista kita yang masih diembargo AS dan sekutunya. Bayangkan, sebuah suasana kebathinan kebangsaan yang mengharuskan kita banyak mengurut dada. Ini salah satu catatan penting dalam hidup bertetangga dengan jiran sebelah yang "bernasab" anglo saxon.

Pada perjalanan diplomatik berikutnya lahirlah Lombok Treaty tahun 2006 yang menjadi awal pemulihan hubungan kedua negara yang dingin selama 7 tahun. Seperti diketahui Indonesia dan Australia pernah menandatangani perjanjian kerjasama pertahanan tahun 1995. Namun sejak lepasnya Timor Timur tahun 1999, Indonesia membatalkan perjanjian ini karena merasa kecewa dengan arogansi militer dan diplomatik negeri benua selatan itu. Sekali lagi ini adalah pelajaran sejarah bertetangga yang harus diingat. Tetangga selatan ini karakter bertetangganya memang "agak laen", suka mengatur, senang mendikte, high profile.

Dinamika geopolitik di Indo Pasifik now and next terutama di halaman depan rumah kita yang bernama Laut China Selatan (LCS) adalah penguat kesepakatan DCA ini. Australia yang rumahnya berada di belakang rumah besar kita sangat berkepentingan dengan akses militer untuk menuju LCS melalui ALKI I yaitu selat Sunda, laut Jawa, selat Karimata dan laut Natuna Utara. Juga menuju LCT (Laut China Timur) melalui ALKI II yaitu selat Lombok, selat Makasar, dan laut Sulawesi. Sementara bagi Indonesia manfaat DCA ini diniscayakan menjadi kekuatan bargaining kepada Canberra agar tidak usil mencampuri soal OPM, mendikte soal HAM, dan bersikap obyektif menilai semua hal. Juga bagian dari diplomasi militer Indonesia untuk mengingatkan "pihak sono" yang sedang giat memperkuat basis militernya di Spartly dan Paracel. Pesan tersiratnya jangan bermain api. 

DCA ini mengikat kedua negara untuk memperluas kerjasama militer meski tidak masuk dalam kriteria aliansi militer atau pakta militer. Salah satu programnya adalah melaksanakan latihan militer gabungan (latgab) skala besar Indonesia-Australia di Jawa Timur November 2024 mendatang. Bagi Australia latgab ini merupakan yang terbesar dengan mengerahkan 2.000 pasukan. Sementara latgab terbesar di Indonesia adalah Super Garuda Shield (SGS), kolaborasi Indonesia dan Amerika Serikat. Tahun ini SGS yang berlangsung 26 Agustus sampai 6 September 2024 mengerahkan 7.000 prajurit berbagai negara. Indonesia dengan 4.500 pasukan, AS dengan 2.000 pasukan. Sisanya dibagi bersama Australia, Jepang, Singapura, Korsel, Inggris, Kanada, Perancis dan Selandia Baru.

Kesepakatan kerjasama pertahanan kedua negara ini dalam perspektif kita adalah win-win solution. Untuk kepentingan bersama. Termasuk menjaga iklim kondusif di kawasan. Traktat ini bagi Indonesia adalah bagian dari kecerdasan diplomasi non blok yang bebas aktif sekaligus diplomasi militer. Sembari menegaskan kita tidak bersekutu dengan siapapun. Dengan China kita juga sering mengadakan latihan militer bersama. Demikian juga dengan Rusia. Elastisitas pergaulan diplomatik Indonesia berdasarkan kepentingan nasional dan kebersamaan dalam kawasan untuk maju bersama. Dengan Singapura, Indonesia sudah punya perjanjian kerjasama pertahanan. Singapura yang teritorinya sempit memerlukan ruang udara dan laut untuk latihan militer. Indonesia berkenan dan  meminjamkan areal combat maneuver untuk kapal perang dan jet tempur Singapura. Lokasinya di selatan Natuna. 

Kedua negara Indonesia dan Australia saat ini sedang membangunkuatkan angkatan perangnya.  Posisi geopolitik Australia mengharuskan negara itu "berkolaborasi" dengan Indonesia secara militer. Ini juga berkorelasi dengan penguatan militer Indonesia saat ini. Sebab dalam pengawasan implementasi DCA di lapangan, Indonesia harus memiliki infrastruktur alutsista yang bertaring juga. Seperti  kapal perang heavy fregate, kapal selam, jet tempur, radar, peluru kendali, drone bersenjata, satelit militer dan lain-lain. Jadi penguatan militer Indonesia saat ini dalam dinamika geopolitik kawasan adalah untuk menuju kesetaraan dan proporsionalitas dalam manajemen pertahanan. Termasuk mengawal DCA dengan Australia dan Singapura. Negeri kepulauan yang luas ini harus memiliki kekuatan militer yang proporsional berkorelasi dengan luasnya wilayah.  Dan kita sedang menuju kesana. 

***

Jagarin Pane / 06 September 2024

Saturday, August 17, 2024

Marwah Republik Semakin Bersinar

Boeing Company AS seminggu yang lalu menerbitkan gambar ilustrasi jet tempur F15 Id khusus untuk Indonesia. Ini adalah literasi marketing komunikasi digital sebagai bagian dari upaya percepatan proses pengadaan alutsista canggih dan strategis. Publikasi seperti ini sangat perlu sebagai mata rantai proses yang sedang berjalan. Untuk apa sih Indonesia melakukan pengadaan berbagai alutsista strategis. Jawabannya, demi marwah, martabat dan harga diri NKRI serta untuk memperkokoh kekuatan. Sebagai informasi Indonesia akan membeli 24 unit jet tempur canggih, twin engine multi role ini. Alhamdulillah.

Marwah Republik Indonesia saat ini and next adalah posisi geopolitik dan geostrategisnya yang membuat pemilik hegemoni AS dan aliansi AUKUS harus berbaik hati dan bermuka manis dengan Jakarta. Salah satu cara "mengurung" China dengan barikade bulan sabit mulai dari Jepang sampai India adalah melihat Indonesia sebagai  pemilik teritori strategis di Asia Tenggara. Dan sekaligus bumper pertahanan bagi Australia. Dengan dinamika yang terjadi di kawasan Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan, betapa sesungguhnya Indonesia punya bargaining power atau marwah dalam diplomasi multi dimensi.

Contoh, ketika Prabowo menjadi menteri pertahanan, status visa nya masih di ban AS. Padahal mantan Pangkostrad ini sedang giat-giatnya membeli alutsista canggih. Lalu dia berkunjung ke Austria melirik jet tempur Typhoon. AS mulai mikir neh. Karena ada kesulitan teknis kemudian Menhan ke Perancis untuk beli 42 jet tempur Rafale. Nah ketika beliau berkunjung ke Paris, Washington berubah sikap dan mempersilakan Prabowo berkunjung. Nah pada saat Menhan kita berkunjung beberapa bulan kemudian, Pentagon membentangkan karpet merah. Luar biasa.

Inilah marwah dan martabat yang berkelas. Negara adidaya AS harus berhitung ulang untuk Prabowo dan Indonesia. Ternyata ada lagi yang lebih bermarwah. Ketika Indonesia teken kontrak 42 jet tempur Rafale dengan Perancis, pada hari yang sama AS menyetujui penjualan 24 jet tempur F15 Id. Benar-benar surprise. Padahal jet tempur F15 ini hanya untuk sekutu AS seperti Korsel, Jepang dan Singapura. Dari sini bisa terlihat betapa marwah Indonesia menguat dalam diplomasi militer. 

Penguatan alutsista Indonesia juga mengangkat marwah negeri ini. Ingat ketika konflik Ambalat membara antara tahun 2001sd 2008 betapa marwah kita dilecehkan jiran sebelah. 4 pesawat bronco baling-baling TNI AU ketika patroli di Sipadan diusir 3 jet tempur F5E Malaysia. Presiden SBY ketika mengunjungi Ambalat dengan sejumlah KRI mendapat pelecehan dari pesawat Malaysia. Marwah negeri ini berada di titik terendah padahal jiran kita itu bersebelahan rumah lho. Benar-benar kebangetan. Namun saat ini si jiran sudah mati angin di Ambalat sejak kita mulai penguatan alutsista sepanjang 15 tahun terakhir. Marwah negeri kembali berkibar di Ambalat.

Sinergitas pembangunan ekonomi kesejahteraan dan investasi pertahanan yang berlangsung saat ini semakin menguatkan marwah republik. Indonesia saat ini berada di urutan 16 besar dunia dalam pencapaian produk domestik bruto  (PDB) sehingga masuk grup elite dunia G20. Demikian juga dengan postur kekuatan militer kita menurut GFP (Global Fire Power) ada di urutan 13 besar dunia. Artinya kedua pilar marwah kita yaitu ekonomi kesejahteraan dan investasi pertahanan semakin mengibarkan kekuatan harkat dan martabat republik.

Di usia ke 79 sebuah perjalanan eksistensi yang penuh dengan nilai perjuangan dan kejuangan adalah evidence historis tak terbantahkan tentang definisi marwah kebangsaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah simbol keberanian dan ketangguhan tak tertandingi untuk menegakkan marwah dan harga diri bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di kawasan ini yang memerdekakan diri dengan perjuangan "timnas full team" darah dan air mata. Berdirinya republik kebanggaan kita ini, bukan karena hadiah dari penjajah sebagaimana negara lain yang ada di sekitar kita.

Betapa nilai capital gain dari perjuangan itu yang kemudian menjadikan negeri jamrud khatulustiwa ini memiliki semangat kebangsaan nasionalis patriotik tak tergantikan. Marwah Republik Indonesia yang tertinggi adalah seluruh anak negeri antar generasi memiliki jiwa nasionalis patriotik yang diakui dunia sampai saat ini. Seremoni dari akhir pertandingan Timnas sepakbola kebanggaan kita adalah salah satu bukti. Ketika lagu "Tanah Airku" menggema berkumandang di stadion megah bersama seluruh pemain di lingkaran lapangan hijau bersama puluhan ribu penonton dan puluhan juta pemirsa mampu membangkitkan semangat kebangsaan kita. Betapa marwah republik menjulang menggema dan menyelinap di relung bathin anak negeri lintas generasi.

Pencapaian republik di usia ke 79 patut kita syukuri. Republik Indonesia adalah sebuah karunia terbesar untuk kita syukuri. Dunia sebenarnya terpana dan kagum dengan sebuah negara multi dimensi. Beribu pulau, beragam etnis, bervariasi bahasa dan aneka budaya membentuk adonan indah megah yang bernama Indonesia. Sebuah maha karya dari perumus dan pendiri republik tentu dengan ridho Allah jadilah sebuah tatanan yang tersaji indah, besar, megah, ramah dan gemah ripah.

Hidup guyup dua ratus delapan puluh juta anak bangsa menyebar di berbagai pulau nusantara. Masya Allah kalau bukan karena kehendak Allah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Mari kita renungkan betapa kita ditakdirkan menjadi bagian dari warga bangsa besar, bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Bangsa multi etnis multi budaya yang mampu mengikatkuatkan kebhinekaannya. Inilah sejatinya akar jati diri marwah republik. Dirgahayu Indonesia. Nusantara Baru Indonesia Maju.

****

Jagarin Pane / 17 Agustus 2024

Sunday, July 21, 2024

Seiring Sejalan Menuju Kekuatan Komprehensif

Indonesia kita adalah warisan karunia terbesar yang kita dapatkan sampai hari ini. Negeri kepulauan terbesar ini sedang menggiatkan pembangunan ekonomi kesejahteraan. Indikator on the spot nya terlihat dengan data pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan. Penguatan infrastruktur berbagai sektor memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Seperti pertambahan ribuan kilometer jalan tol, peningkatan kualitas jalan raya nasional, pelayanan angkutan kereta api, bandara semakin megah, penambahan puluhan bendungan, angkutan laut, pelayanan publik. Termasuk memegahkan pintu masuk perbatasan darat (border nation) sebagai simbol marwah negeri.

Pembangunan ekonomi menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produk domestik bruto (PDB), meski belum sampai pada kriteria kesejahteraan proporsional warga bamgsa. Setidaknya saat ini pendapatan per kapita Indonesia menyentuh angka US$ 4.900 Dollar,  masuk golongan negara berpenghasilan menengah atas. Sementara rasio utang terhadap PDB 39% masih dalam kriteria wajar. UU APBN memberikan limit rasio utang sampai 60%. Pertumbuhan ekonomi jelas akan menaikkan PDB kita. Data BPS menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia saat ini berada pada ranking 16 besar dunia, nomor satu di ASEAN dan dengan demikian masuk grup elite G20. Duapuluh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar.

Investasi pertahanan dan pembangunan ekonomi kesejahteraan sepanjang 15 tahun terakhir ini menunjukkan sinergitas seiring sejalan. Ini sebenarnya yang kemudian ingin diingatkan kembali oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subiyanto baru-baru ini. Bahwa untuk  membangun infrastruktur, membangunkuatkan aktivitas industri hilirisasi, mengembangkan UMKM dan sebagainya harus diimbangi dengan pembangunan kekuatan pertahanan. Sumber daya alam negeri ini sangat beragam dan kaya raya. Semuanya harus berada dalam payung perlindungan pertahanan dan keamanan yang kuat. Ini bisa dilihat dari penguatan investasi pertahanan selama program minimum essential force (MEF) TNI. Berbagai jenis alutsista strategis sudah menjadi aset pertahanan negeri yang membanggakan.

Dinamika geopolitik, perubahan iklim, keterbatasan ketersediaan sumber daya alam tak terbarukan adalah situasi tak tergantikan untuk saat ini dan yang akan datang. Potensi konflik di kawasan Indo Pasifik yang menguat harus cepat diantisipasi. Tidak ada lagi ruang zero enemy manakala potensi konflik sudah sampai pada kriteria common enemy. Dinamika di Laut China Selatan (LCS) meski dalam tataran diplomatik selalu mengupayakan code of conduct namun dalam strategi militer antisipasinya adalah penguatan pertahanan. Ancamannya sudah jelas dan sampai pada terminal the real enemy. Itu sebabnya maka barikade pertahanan di Natuna saat ini diperkuat. Radar pertahanan saja berlapis-lapis, bersama sejumlah KRI dan BAKAMLA saling bersiaga. UAV dan jet tempur saling mengisi jadwal patroli. Di darat Brigade Komposit Gardapati yang terdiri satuan Infantri, Artileri, Arhanud, Kavaleri, Marinir, Kopasgat sudah ready for use.

Negara kepulauan ini harus diikat dengan kekuatan pertahanan sinergitas. Doktrin berani masuk digebuk, maknanya adalah tiga matra TNI harus kuat dan saling berinterkoneksi. Kita bersyukur saat ini TNI sudah memiliki manajemen pertempuran konektivitas yang dikenal dengan network centric warfare. Termasuk pertambahan aset pertahanan yang signifikan untuk TNI AL dan TNI AU. Karena dalam dinamika geopolitik saat ini dan struktur bangunan negeri kita yang berpulau-pulau dan lebih banyak perairannya, mengharuskan adanya postur angkatan laut dan udara yang kuat. Perbatasan teritori kita dominan perairan. Artinya dalam doktrin pre emptive strike maka kita harus mempunyai kekuatan AL dan AU yang mencukupi untuk menghancurkan musuh di perbatasan teritori.

Sebenarnya percepatan pertambahan kekuatan pertahanan yang kita lakukan saat ini, karena Indonesia selama ini "terlena" dengan filosofi zero enemy. Faktor lingkungan ASEAN yang damai selama 40 tahun menjadikan fokus pembangunan ekonomi nomor satu. Investasi pertahanan seadanya. Nah setelah lidah naga mulai mengacak-acak ketenteraman kawasan dan jiran sebelah pamer kekuatan di Ambalat barulah kita sadar betapa kekuatan pertahanan kita tertinggal. Lalu Presiden SBY menggagas dan memulai penguatan investasi pertahanan tahun 2010 dengan program MEF. Kemudian selama 4 tahun terakhir Menhan Prabowo mempercepat pencapaian dengan extra ordinary. Kesannya seperti menggebu-gebu padahal sebenarnya baru ingin mencapai target minimal kekuatan alutsista kita yang tertinggal selama ini.

Pengadaan 42 jet tempur Rafale, 25 radar GCI, 2 kapal perang heavy fregate merah putih, 2 kapal perang PPA dari Italia, 2 kapal selam, 22 helikopter Black Hawk dan lain-lain menunjukkan keseriusan pemerintah membangun investasi pertahanan. Pembangunan ekonomi kesejahteraan memang harus seiring sejalan dengan pembangunan pertahanan karena keduanya adalah kekuatan komprehensif sebuah negara. Maka jangan heran disamping banyaknya seremoni peresmian pembangunan ekonomi dan infrastruktur, kita juga banyak kedatangan berbagai jenis alutsista. Baik yang produksi dalam negeri maupun pengadaan lintas negara. Ke depan juga akan terus seperti ini karena kita akan terus melaju menuju Indonesia maju, Indonesia yang sejahtera dan disegani. Kekuatannya adalah keberlangsungan pembangunan ekomoni kesejahteraan dan investasi pertahanan. Keduanya harus seiring sejalan. Nusantara baru Indonesia maju. Semoga.

****

Jagarin Pane, 21 Juli 2024


Saturday, June 22, 2024

Selamat Datang Network Centric Warfare

Satu program strategis dan prestisius dalam manajemen pertahanan Indonesia baru saja selesai dibangun. Adalah perusahaan teknologi software militer asal Yunani Scytalys yang selama 4 tahun ini dengan kontrak US$ 49 juta sukses membangun sistem koneksi data (data link) untuk seluruh matra TNI bersama seluruh satuan tempurnya. Scytalys membangun sistem komando terintegrasi dengan kemampuan berbagi informasi, perintah dan koneksi data secara cepat dan akurat dalam satu komando sinergi dan hirarki. Pekerjaan membangun sistem teknologi software militer terpadu ini selesai 12 Juni 2024 yang lalu. Jepang dan Korsel sudah lebih dulu mengadopsi network centric warfare produk Scytalys ini.

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia saat ini sudah memiliki berbagai jenis alutsista strategis di seluruh matra TNI. TNI AU punya Jet Tempur Sukhoi, F16, T50, Hawk, Super Tucano, Hercules, Boeing Surveillance, Oerlikon Skyshield, Radar GCI, Radar Pasif, Satbak Rudal, Drone, Helikopter dan lain-lain. TNI AL punya aset mahal KRI Fregate, Korvet, Kapal Selam, Kapal Cepat Rudal, Landing Platform Dock, Landing Ship Tank, Penyapu Ranjau, Intelijen Bawah Air, Tanker, Helikopter anti kapal selam, Tank Amfibi, Roket Multi Laras RM Grad, Vampire dan lain-lain. Sementara TNI AD punya Main Battle Tank Leopard, Tank Marder, Tank Harimau, Panser Anoa, Badak, Ranpur M113, Roket Multi Laras Astross, Artileri M109, Artileri KH178, KH179, Artileri Nexter, Satbak Rudal Starstreak, Mistral, Helikopter Apache, Mi35, Mi17, Bell, Fennec, dan lain-lain. Semua yang disebut diatas adalah alutsista berkelas dan berteknologi.

Pada saat yang bersamaan kita juga sudah dan sedang memesan berbagai jenis alat pukul gahar di semua matra. Ada pesanan Jet Tempur Rafale, F15 Id, Kapal Perang Heavy Fregate Merah Putih, Kapal PPA Fincantieri, Fremm, Kapal Selam Scorpene Evolved, Pesawat MRTT,  AEW&C (early warning dan control), Satelit Militer, Radar GCI, Helikopter Black Hawk, Drone Anka, Bayraktar, Satbak Rudal Khan dan lain lain. Ini belum termasuk rencana pengadaan Missil Coastal, Kapal Selam Midget AI (artificial intelligence), Kapal Selam Interim,Jet Tempur IFX dan lain-lain. Semua pengadaan alutsista gahar yang akan menjadi aset investasi pertahanan Indonesia dengan teknologi terkini, menjadi bagian dari sistem interkoneksi data militer terpadu.

Dengan kata lain beragam jenis alutsista produk berbagai negara produsen ini dalam manajemen pertempuran modern harus bisa terintegrasi tanpa kecuali. Integrasi dalam sistem komunikasi dan informasi, koneksi data dan perintah komando. Bangunan military interoperability framework ini memadukan berbagai platform koneksi data di satuan tempur dengan berbagai jenis alutsista. Ini yang disebut dengan kemampuan network centric operation. Integrasi koneksi data dari yang bernama Link 16, Link 22, J-Reop, Link 11A/B, Link 1 pada akhirnya melahirkan kedaulatan data link untuk TNI. Indonesia akhirnya patut bangga karena mampu berdaulat penuh dalam sistem manajemen koneksi data militer. Standar koneksi data Indonesia (INDL) adalah hasil dari program SIK (Sistem Interoperabilitas Kodal) buatan Scytalys.

INDL adalah protokol software data link TNI yang canggih, anti sadap, anti jamming. Implementasi INDL berhasil mereformasi semua koneksi data parsial menjadi terpadu dalam satu komando pengendalian tempur. Sehingga akan menghasilkan respon cepat berdasarkan data, informasi dan sandi. Desain dan format strukturnya adalah C4ISR (command, control, communication, computers, intelligence, surveillance, reconnaissance). Semua strategi dan taktik dalam gambaran operasional di markas komando dan satuan tempur saat ini sudah mempunyai fasilitas pertukaran data dan informasi yang cepat, lancar, akurat dan steril. Semuanya dalam satu konektivitas teknologi software yang berkualitas.

Kepulauan Natuna adalah contoh implementasi INDL. Kepulauan garis depan Indonesia yang halaman ZEE nya "direcoki lidah naga" nine dash line, saat ini sudah mempunyai sistem pemantauan dan pengawasan berlapis. Ada tiga radar canggih "Bang Thomson, Mbak Vera NG dan Mas Weibel" yang saling melapis bersinergi. Keren kan. Ada skadron UAV / UCAV, ada patroli jet tempur dan KRI, ada Kapal Bakamla, ada Brigade Tempur Komposit Gardapati. Semua infrastruktur alutsista dalam berbagai satuan tempur ini sudah terkoneksi dalam INDL. Keseluruhan sistem ini beserta prajurit yang mengawakinya menjadi bagian dari Network Centric Warfare berada dalam satu komando Kogabwilhan Satu di Batam.

Sebenarnya TNI AD sudah lebih dulu memiliki koneksi data BMS (battle field management system). Dengan kemampuan BMS ini setiap mengadakan latihan militer, TNI AD menyertakan seluruh perangkat kesisteman satuan tempur antar kecabangan dalam format Brigade Tim Pertempuran (BTP). Didalamnya ada Batalyon Infanteri, Batalyon Artileri dan Batalyon Kavaleri. Untuk kota Semarang bahkan dapat menyertakan Batalyon Arhanud dan Penerbad TNI AD. Yon Arhanud 15 saat ini sudah memiliki Air Defence System, satuan tembak rudal SAM (surface to air) Starstreak. Sementara Penerbad menempatkan skadron helikopter serbu Apache dan Mi35 di Ahmad Yani Army Force Base. Unik juga ya ada Apache buatan AS bisa berlatih bersama Mi35 buatan Rusia. BMS ini sudah teruji dalam beberapa simulasi pertempuran selama beberapa tahun terakhir di Puslatpur TNI AD Baturaja Sumsel.

Kita mengapresiasi tercapainya program strategis Kemenhan ini. Bahwa bangunan kesisteman dan manajemen pertahanan yang terintegrasi adalah mutlak. Tidak lagi mengedepankan ego matra atau ego satuan tempur. Penting juga untuk menghindari terjadinya friendly fire alias nembak koncone dewe. Termasuk mestinya tidak lagi menganut doktrin militer "masuk dulu baru digebuk". Dan berganti dengan doktrin pre emptive strike "berani masuk digebuk". Misalnya berani ganggu Natuna ya kita gebuk. Network Centric Warfare jelas menjunjung kurikulum pre emptive strike, berani masuk digebuk. 

Kita sudah punya alat penggebuknya tapi masih kurang greget. Nah sekarang tinggal menunggu alat penggebuknya yang gahar untuk segera datang seperti Jet Tempur Rafale, Kapal Perang Heavy Fregate, Kapal Selam Serbu, Missil Coastal dan lain-lain. Kita sedang mempersiapkan filosofi Si Vis Pacem Parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dengan tersedianya beragam jenis alutsista strategis dan gahar, pihak yang "suka bikin recok" menjadi segan. Setidaknya inilah yang disebut show of force dalam diplomasi militer. Intinya kita harus kuat secara militer karena dia adalah investasi pertahanan untuk eksistensi dan marwah negeri tercinta. Selamat datang Network Centric Warfare. 

****

Jagarin Pane / 22 Juni 2024


Wednesday, June 12, 2024

Bergegas Mencapai Demi Marwah

Berbagai aktivitas militer indonesia termasuk aktivitas industri pertahanan tanah air saat ini sedang bergegas untuk menyelesaikan semua yang menjadi target. Aktivitas ini sangat terasa ketika kita membaca dan menyaksikan lembar pemberitaan yang tanpa henti setiap hari. Semua ini menunjukkan betapa dalam urusan pertahanan Indonesia sedang bergegas mencapai keinginannya untuk menguatkan harkat dan martabat diplomasi pertahanan dan perdamaian.

Pada dialog "perkumpulan Menhan bergengsi" Shangri-la di Singapura barusan, Menhan Prabowo menyampaikan kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian untuk Gaza. Pernyataan Menhan ini menunjukkan kualitas marwah diplomasi perdamaian Indonesia semakin menggema. Saat ini saja sudah ada seribuan pasukan Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL menjaga perbatasan panas Israel Lebanon. Termasuk pengiriman 1 unit KRI secara estafet untuk menjaga perairan perbatasan kedua negara itu. Panglima TNI hari-hari ini sedang mempersiapkan personil batalyon kesehatan Kostrad untuk bergegas dan siap menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia di Gaza. Bismillah biiznillah.

Kesiapan menguatkan marwah pertahanan terus dilakukan di Natuna. Raden Sadjad AFB di Ranai naik kelas menjadi Air Force Base kelas A. Ini setingkat dengan Halim AFB di Jakarta, Iswahyudi AFB di Madiun, Hasanudin AFB di Makasar, Supadio AFB di Pontianak, Abdurrahman Saleh AFB di Malang dan Rusmin Nuryadin AFB di Pekanbaru. Kriteria Lanud tipe A minimal memiliki 2 skadron dan dipimpin Marsekal bintang satu.  Memang secara de facto Raden Sadjad AFB dengan aktivitas militernya yang cukup tinggi sudah setara dengan AFB kelas A. Seluruh kawasan Natuna saat ini sudah pendapat payung perlindungan berlapis di darat, laut dan udara.

Ada tiga radar teknologi terkini di Natuna yang saling bersinergi di Satrad 212. Yaitu radar GCI Weibel MFSR, radar GCI Thomson TRS dan radar pasif Vera NG. Skadron UAV sudah operasional,   skadron jet tempur sedang dioersiapkan. Di laut sudah stand by beberapa KRI dan kapal Bakamla di Navy Base. Di darat sudah ada brigade komposit Gardapati dengan sejumlah persenjataan berat siaga penuh. Misalnya Oerlikon Skyshield, artileri Caesar Nexter, roket multi laras Astross Mk6, tank Leopard, RM Grad dan tank amfibi marinir. Penguatan Natuna akan terus dilakukan dengan mendatangkan Missil Coastal, memperbanyak UCAV, home base skadron jet tempur, alokasi heavy fregate, menghadirkan kapal selam dan latihan militer secara rutin.

Industri pertahanan kita ikut bergegas menyelesaikan proyek alutsista puluhan trilyun. PT PAL baru saja melakukan first steel cutting untuk heavy fregate merah putih yang kedua. Berlomba dengan waktu berparalelisasi dengan heavy fregate merah putih yang pertama. Kita optimis dengan cara kerja insinyur dan teknisi PT PAL mampu menyelesaikan 2 KRI jumbo untuk TNI AL tepat waktu. Dan akan menjadi karya monumental untuk PT PAL. Sementara pada saat yang bersamaan PT PAL sedang menyelesaikan 2 kapal perang LPD (Landing Platform Dock) untuk Angkatan Laut Filipina dan 1 kapal perang LPD terbesar untuk angkatan laut UEA. Benar-benar sibuk PT PAL saat ini, ditambah lagi sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal selam herder Scorpene Evolved bersama pemilik teknologi Naval Group Perancis. Luar biasa membanggakan.

Yang menarik adalah berita persetujuan mendatangkan korvet Pohang Class dari Korsel. Awalnya negeri ginseng itu hendak menghibahkan 3 unit korvet bekas pakai untuk Indonesia. Hilang dari pemberitaan setahun lebih, akhirnya perolehan  hibah 1 unit terlaksana jua dengan ongkos reparasi US $ 35 juta. Sementara itu dalam proyek kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX Indonesia akan menurunkan partisipasi dollarnya karena ada beberapa teknologi kunci milik AS yang restricted area untuk Indonesia. Ini dia problem utamanya. Korsel kan sekutu AS, sedangkan kita hanya setingkat mitra strategis AS. Yo wes. Demikian juga lanjutan alih teknologi pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 2 dengan Korsel berhenti tanpa disuruh. Yo wes.

TNI AL saat ini sedang mempersiapkan kedatangan 2 kapal perang gede buatan Fincantieri Italia. Begitu bergegasnya kita mengisi ketersediaan aset alutsista matra laut. 2 kapal perang "setara heavy fregate" ini sebenarnya pesanan AL Italia. Namun dengan lobby intensif dan kemampuan diplomasi pertahanan Indonesia, Italia bersedia mengalah dan memberikannya untuk Indonesia. Tentu semuanya based on transaksi bisnis win win solution. Langkah berlanjut terus untuk penguatan matra TNI renstra 2025 - 2029. Matra laut masih akan menambah minimal 2 kapal selam interim untuk pengisian segera dan 2 kapal heavy fregate dari beberapa negara Eropa. AS tak mau ketinggalan, terus berunding dengan kemhan RI untuk merealisasikan pengadaan 24 jet tempur double engine F15 Id. Ramai betul pasar alutsista untuk negeri kepulauan ini.

Memang untuk menuju diplomasi dan marwah pertahanan yang diinginkan, membutuhkan investasi besar. Ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan besaran GDP Indonesia yang masuk urutan 16 besar dunia. Pencapaian GDP kita selayaknya mendapat "pengawalan eksistensi" dengan mengembangkan postur pertahanan. Karena potensi ancaman sudah sangat jelas.Jadi tak perlu dijelaskan. Postur pertahanan Indonesia harus sesuai dengan luas wilayah yang dimiliki. Saat ini kita belum sampai pada kriteria standar dan sesuai. Kita harus memahami bahwa investasi pertahanan bukanlah sebuah ambisi melainkan karena kita sangat membutuhkannya. Aset pertahanan bukanlah aset mubazir karena adanya aset pertahanan ini menjadi indikator utama keseganan negara lain untuk bermain api dengan Indonesia. Indonesia yang kuat ekonomi kesejahteraan dan pertahanan, adalah harkat dan martabat kita ber NKRI. Kita sedang menuju kesana.

****

Jagarin Pane / 12 Juni 2024


Monday, May 20, 2024

Interim Again

Indonesia saat ini sedang bergegas mencukupi gizi alutsista semua matra. Mengapa harus bergegas,  karena kita harus segera menyiapkan bangunan kokoh benteng pertahanan negeri ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrim dan tak terduga. Potensi konflik di kawasan Timur Jauh khususnya Laut China Selatan (LCS) bukan lagi cerita fiksi.  Melainkan sudah menumbuhkan tunas inkubasi dan berkembang liar. Secara teknis di LCS saat ini sudah dalam kondisi siap tempur. Meriam air Coast Guard China sudah sering memuntahkan amunisinya untuk menggertak dan menghalau Coast Guard Filipina dan Vietnam. Seperti pertumbuhan bisul yang menunggu titik breaking news.

Setelah angkatan udara mendapatkan kepastian penambahan aset alutsista strategis. Kini giliran angkatan laut Indonesia menguatkan jatidiri jalesveva jayamahe. Dengan mendapatkan 4 kapal perang striking force ukuran jumbo dan 2 kapal selam serbu. Dari 4 kapal perang jumbo ini  dua diantaranya sedang dibangun di PT PAL yaitu heavy fregate merah putih. Sementara dua lainnya adalah kapal perang PPA (Pattugliatore Polivante d'Altura) setara heavy fregate buatan Fincantieri Italia. Kita pun tahu penyelesaian pembangunan 2 kapal perang heavy fregate di PT PAL baru akan selesai paling cepat tahun 2027. 

Nah, untuk percepatan ketersediaan aset kapal perang, Kementerian Pertahanan melakukan model pengadaan alutsista cepat saji. Ada 8 Kapal perang PPA setara heavy fregate yang dipesan AL Italia sudah dan sedang dibuat Fincantieri. Dua unit diantaranya kita "ambil alih" melalui lobby bisnis intensif dengan mekanisme win-win solution. Hasilnya Oktober 2024 nanti satu kapal perang diprediksi bisa datang di Indonesia. Kapal perang kedua tahun depan. Program extra ordinary Kemhan ini bagian dari percepatan pemenuhan kebutuhan armada TNI AL. Kita mengapresiasinya. 

Demikian pula dengan pemenuhan kebutuhan armada monster bawah air TNI AL. Setelah mendapat kepastian penambahan 2 kapal selam Scorpene Evolved buatan Perancis, TNI AL dan Kemhan berupaya melakukan pengadaan interim kapal selam lainnya. Mengapa harus dilakukan. Karena membangun 2 kapal selam Scorpene Evolved membutuhkan durasi waktu 6-7 tahun. Padahal TNI AL saat ini sangat membutuhkan ketersediaan kuantitas dan kualitas kapal selam. 

Ini sama dengan program pengadaan interim alutsista beberapa waktu yang lalu. Yaitu upaya mendatangkan 1 skadron jet tempur Mirage dari Qatar. Mirage diperlukan secara instan dan cepat saji karena pengadaan 42 jet tempur Rafale baru akan datang paling cepat tahun 2026. Dan akan ditempatkan di Natuna. Sayangnya pengadaan interim ini tidak berjalan mulus dan putus. Gonjang ganjing pada musim politik Pilpres bergaung keras. Yang harganya kemahalan, pesawatnya sudah tua dan melalui pihak ketiga. Begitulah bunyinya, kakinya bertanduk hewan apa namanya. Seperti lirik lagu Kukuruyuk, bahasa politik memang ngeri-ngeri sedap.

Saat ini Indonesia memiliki 4 kapal selam "satu nasab lain ibu", sama-sama dari "DNA" U209 Jerman. Cakra Class U209 yang hanya tinggal 1 unit asli buatan Jerman tahun 1980. Sementara 3 unit Nagapasa Class U209 "foto copy" adalah hasil kerjasama transfer teknologi DSME Korsel dengan PT PAL Indonesia. Nagapasa Class selesai dibangun seluruhnya tahun 2017. Harus diakui ke 4 kapal selam "anjing kampung" ini belum setara dengan kapal selam "herder" punya tetangga. Padahal monster bawah air ini adalah alutsista strategis yang punya daya gentar tinggi. Satu kapal selam bisa "bertanding" dengan 9-10 kapal perang permukaan air.

Kemhan dan TNI AL saat ini sedang berupaya untuk pengadaaan interim alutsista kapal selam sambil menunggu selesainya pembangunan Scorpene Evolved.  Jujur saja dari ke 4 kapal selam kita yang ada saat ini hanya KRI Cakra 401 dan KRI Alugoro 405 yang mampu menjalankan tugas operasi. Dua lainnya yaitu KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 lebih banyak duduk manis di hanggarnya. Keduanya dibuat di DSME Korsel. KRI Alugoro 405 yang dibuat di PT PAL nyatanya lebih siap tugas tuh. Bulan ini Alugoro baru saja berhasil menembakkan torpedo Blackshark ke arah KRI Pulau Romang 723 yang sudah pensiun di laut Bali.

Kita berharap proses pengadaan 2 kapal selam interim ini bisa selesai tahun ini. Soal kapasitas dan kemampuan tentu TNI AL yang paling tahu. Dalam perspektif kita kapal selam jenis U212 dan U214 merupakan pilihan yang pas. Karena masih satu keluarga besar dengan U209 yang kita miliki. Kehadiran 2 kapal selam interim diniscayakan akan mampu membangun daya dukung operasional Korps Hiu Kencana. Target kita memiliki 12 kapal selam adalah sebanding dengan luasnya wilayah perairan Indonesia. Kemhan dan TNI AL sedang mengejar perolehan ini. Meski jika digabung semua program tadi baru akan tersedia 8 kapal selam. Lumayanlah.

****

Jagarin Pane / 20 Mei 2024

Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Thursday, April 18, 2024

Menggempur Pasukan Pemberontak

Masih ingat dengan Macan Tamil Eelam di Sri Lanka. Atau gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Macam Tamil atau LTTE (Liberation Tigers of Tamil Eelam) selama 27 tahun melakukan pemberontakan untuk membentuk negara Tamil Eelam di Timur Laut Sri Lanka. Mereka melakukan teror, pembunuhan dan sabotase. Korbannya mencapai seratusan ribu orang. Pemerintah Sri Lanka akhirnya bertindak tegas dengan menggelar operasi militer skala besar tahun 2009. Pasukan Sri Lanka dengan dukungan kapal perang dan pesawat tempur membombardir semenanjung Jafna. Seluruh pimpinan LTTE digebuk habis termasuk panglima tertinggi Velupillai Prabhakaran tewas mengenaskan dengan alutsista roket. Tamatlah riwayat LTTE, tidak ada lagi tunas yang tumbuh untuk melanjutkan perjuangan. Termasuk perjuangan menghasut di luar negeri.

Pertempuran kota atau urban warfare di Marawi Filipina Selatan sangat heroik sampai-sampai dibuatkan film actionnya. Awalnya Pemerintah Filipina ingin menangkap pimpinan gerilyawan Abu Sayyaf yang bernama Isnilon Hapilon di Marawi. Gerilyawan Abu Sayyaf adalah pecahan MNLF yang menolak berdamai. MNLF pimpinan Nur Misuari sudah berdamai abadi dengan pemerintah Filipina. Juru damainya Indonesia. Gagal menangkap Hapilon, Filipina menggelar operasi militer perang kota di Marawi pekan ketiga Mei 2017. Kota ini dihujani peluru tajam selama 5 bulan. Termasuk bombardir dari pesawat tempur. Dukungan logistik dan amunisi dari laut, salah satunya dengan kapal perang LPD Angkatan Laut Filipina yang baru selesai dibangun di PT PAL Indonesia. Akhirnya petinggi Abu Sayyaf Hapilon dan Maute tewas pertengahan Oktober 2017. Operasi militer selesai, pasukan Filipina disambut hangat publik di Manila. Filipina bilang kinerja kapal perang LPD buatan Indonesia memuaskan. Battle proven neh.

Di Papua sudah lama ada pasukan pemberontak bersenjata. Pemerintah Indonesia selama ini menerapkan pola defensif teritorial berbaju Kamdagri (keamanan dalam negeri) untuk mengatasinya. Penyebutan pasukan separatis OPM di Papua dengan sebutan KKB alias kelompok kriminal bersenjata. Pasukan Brimob berada di garda terdepan dengan pasukan TNI berstatus bawah kendali operasi (BKO). Dengan pola defensif seperti ini ada kesan pembiaran terhadap sepak terjang OPM. Sudah puluhan korban gugur dari prajurit TNI dan Brimob. Mulai dari jendral bintang satu sampai prajurit dua. Termasuk teror, pembunuhan, pemerkosaan, dan pembantaian rakyat Papua yang dilakukan pasukan.pemberontak bersenjata OPM.

Akhirnya momen yang ditunggu tiba. Panglima TNI Jendral TNI Agus Subiyanto bertepatan dengan Idul Fitri tanggal 10 April 2024 mengumumkan perubahan nomenklatur KKB menjadi OPM. Reaksi besar tumpah ruah. Hampir seluruh netizen tanah air menyambut antusias dan mendukung penuh. Rasa gemas, dongkol, gondok dan marah yang selama ini dipendam, seperti menemukan saluran kelegaan aspirasi. Selama ini operasi kohesivitas Kamdagri POLRI-TNI di Papua dalam perspektif kita tidak bisa maksimal. Dengan ini tentu perlu merumuskan kembali pola operasinya. Kita berpandangan operasi kohesivitas yang lebih populer disebut BKO bisa beralih menjadi operasi sinergitas TNI-POLRI. Masing-masing melaksanakan tugas sesuai Tupoksinya. POLRI dengan operasi Kamdagri, TNI melaksanakan operasi kombatan berdasarkan hukum humaniter internasional. Karena ada konflik bersenjata  dan berhadapan dengan pasukan pemberontak bersenjata separatis OPM. Ini kan sama persis dengan pemberontakan LTTE dan Abu Sayyaf.

Sebenarnya OPM secara struktural tidaklah satu komando. Ada kelompok bersenjata yang mempunyai struktur komando sendiri. Ada  kelompok propaganda yang bergaya mewakili secara politik di ruang antarbangsa. Ada juga koordinator demo simpatisan. Diantara kelompok ini belum ada korelasi struktural dan  hirarki. Yang ada saling klaim satu sama lain mewakili perjuangan. Bahkan diantara sayap militer OPM yang berbeda wilayah seperti berdiri sendiri, tidak saling menguatkan, apalagi bersinergi. Anatomi organisasi separatis OPM ini militansinya masih dibawah LTTE atau Abu Sayyaf. Nyatanya belum lama diumumkan Panglima TNI soal perubahan nomenklatur, OPM sudah menghiba. Jangan pakai serangan udara, jangan bom kami, jangan ini jangan itu. Lha kombatan kok jadi cengeng begitu.

Sudah saatnya pasukan TNI berada dalam komando penuh Kogabwilhan Tiga. Tidak lagi dalam koridor BKO dengan POLRI. Kombatan pemberontak OPM jelas bertujuan separatis. Pemberontak bersenjata harus ditumpas habis dengan operasi militer. Jangan beri ruang untuk menyusun kekuatan termasuk berteriak minta tolong ke dunia internasional. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia saat ini sangat vital terkait peta potensi konflik di Indo Pasifik dan Laut China Selatan. Selama berpuluh tahun Australia, Inggris dan AS  selalu mencampuri dan mendikte urusan Papua.

Belakangan ini mereka yang tergabung dengan Pakta AUKUS sudah berkonsentrasi penuh menghadapi tembok China. Dalam konteks ini Indonesia punya posisi tawar yang kuat karena wilayah kita memegang posisi kunci dalam manajemen konflik, zona konflik termasuk suplai logistik militer AUKUS. Dalam pandangan AUKUS Indonesia adalah mitra strategis. Pada sisi yang lain kita juga membangun kerjasama ekonomi dengan China. Prabowo baru saja berkunjung ke China atas undangan Xi Jinping. Kartu truf diplomasi bisa kita mainkan jika ada yang ingin mendikte soal Papua.

"Pertempuran" yang lain di teritori proxy war adalah mengembangkuatkan informasi dan opini konstruktif soal Papua dalam publikasi dan diplomasi internasional. Model komunikasi dan interaksinya lainnya menguatkan narasi dan literasi digital di media sosial. Pengulangan narasi dan literasi historis keabsahan Papua sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI perlu disebar luas tak kenal lelah di media-media sosial. Termasuk menyampaikan perkembangan ekonomi kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur di Papua. Juga soal korupsi yang dilakukan pejabat Papua, sebarkan seluasnya. Jangan kalah gertak. Sebagai contoh beberapa pejabat Papua jika ketahuan korupsi lalu mencoba menggertak pemerintah pusat dengan menjual nama OPM. 

Kita mendukung penuh gebrakan Panglima TNI agar pasukan TNI yang bertugas di medan operasi dapat memaksimalkan tupoksinya sebagai pasukan tempur. Saatnya menunjukkan kinerja ofensif karena dalam kacamata intelijen peta kekuatan OPM sudah terang benderang. Dengan memakai teknologi UAV / UCAV misalnya akan lebih memudahkan memberangus OPM. Dalam konflik bersenjata dengan pasukan pemberontak berlaku hukum humaniter internasional. Gempuran dengan berbagai jenis alutsista yang dimiliki adalah keniscayaan sebagai negara berdaulat dan bermartabat. Indonesia adalah negara berdaulat dan diakui secara internasional dari Sabang sampai Merauke. Siapapun yang ingin memberontak dan berkeinginan separatis harus ditumpas habis.

****

Jagarin Pane  / 18 April 2024