Friday, September 23, 2022

Mirage Rafale Bienvenue

Program pengadaan jet tempur Rafale F3R buatan Perancis sudah sampai pada kepastian kedatangannya. Artinya kontrak efektif yang sudah diteken dan dilanjut dengan pembayaran uang muka bisa memastikan jadwal ketibaannya. Tahap awal 6 unit dulu dari pesanan 42 unit Rafale. Sementara pada saat yang bersamaan ada berita lain yang menjadi pengiring kabar gembira Rafale. Yaitu "rencana cepat saji" mendatangkan 14 jet tempur bekas pakai Mirage 2000. Dua kabar yang membungakan dan menggemuruhkan.

Tetapi pertanyaannya mengapa harus ada Mirage 2000. Kan sudah pesan Rafale.  Mari kita berangkat dari rangkaian proses pengadaan jet tempur sebelumnya. Proses pengadaan cepat saji jet tempur Mirage 2000 tidak terlepas dari interval waktu yang hilang selama 7 tahun. Lho kok bisa. Ya iyalah. Tahun 2016 dimulai proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35. Sejak tahun 2017 proses pengadaan jet tempur heavy fighter ini sudah menuju kontrak efektif. Artinya mulai tahun 2021 kemarin kita seharusnya sudah mulai menerima kedatangan jet tempur multi role buatan Rusia tersebut. 

Tapi tiba-tiba ada UU CAATSA dari pemilik hegemoni Paman Sam sebagai imbas pencaplokan Rusia terhadap semenanjung Krimea milik Ukraina tahun 2014. Setiap negara yang bertransaksi persenjataan dengan Rusia akan dikenakan sanksi, begitu ancaman Pakde Sam sambil mendelik. Dan proses pembayaran uang muka tidak dapat dilanjutkan karena ancaman CAATSA. Kalau diteruskan fasilitas GSP ekspor kita ke AS bisa dicabut. Dan nilainya milyaran dollar. Itu yang didepan mata. Maka terjadilah "blank spot" alias kekosongan ketersediaan alutsista jet tempur untuk skadron udara 14 Iswahyudi sampai hari ini.

Tetapi kemudian ada pertanyaan lain mengapa tidak melanjutkan tambahan F16 "gurun" atau F16 Viper sebagaimana pernah diprogramkan sebelumnya. Bukankah kita sudah memiliki 10 jet tempur F16 generasi awal yang dibeli tahun 1989 dan 24 jet tempur F16 "gurun" blok 52Id yang dibeli tahun 2013. Apalagi saat ini insinyur dan teknisi TNI AU dengan supervisi Lockheed Martin AS sedang memodernisasi infrastruktur tempur 10 F16 generasi pertama di Iswahyudi AFB. Sebuah model transfer teknologi yang sangat menguntungkan. Teknisi TNI AU jadi paham banget dengan jeroan F16. Saat ini sudah selesai 6 unit F16, 3 diantaranya sudah diuji manuver tempurnya pada Latgab Pitch Black baru-baru ini di Australia. Dan sukses.

Menurut pandangan kita menghadirkan Mirage sebagai crash program tidak terlepas dari ruang kerjasama skala besar dan multi bidang serta imbal balik yang telah, sedang dan akan dibangun dengan Uni Emirat Arab (UEA). Negeri sultan ini adalah salah satu negara Arab yang paling mesra hubungannya dengan Indonesia. Ada nama Muhammad Bin Zayed (MBZ) pemimpin tertinggi UEA sebagai nama jalan tol layang Jakarta-Cikampek. Ada pembangunan Masjid Raya di Solo donasi ratusan milyar dari UEA. Juga ada jalan Joko Widodo di Abu Dhabi UEA. Negara Arab super kaya ini menjadi salah satu investor terbesar pembangunan infrastruktur di Indonesia, termasuk IKN. Indonesia sedang membangun kerjasama pertahanan dengan UEA.

UEA sudah lebih dulu memesan 80 jet tempur Rafale F3R. Sementara inventory Mirage 2000 UEA akan pensiun seiring kedatangan si Rafale. Bisa saja kan dalam pembicaraan dan negosiasi dua negara sahabat, kita kemudian ditawarkan Mirage sebagai imbal jasa kerjasama investasi UEA di Indonesia. Dan saat ini kita memang sedang membutuhkan ketersediaan jet tempur dalam waktu cepat. Untuk mengisi stop gap kedatangan Rafale akhir tahun 2026. Bukankah situasi geopolitik di Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan semakin berbahaya dari waktu ke waktu. Si vis pacem parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

Ini adalah bagian dari program percepatan MEF (Minimum Essential Force) jilid tiga TNI sampai dengan tahun 2024. Ketersediaan alutsista strategis jet tempur dan kapal perang heavy fregate adalah harga mati, tidak bisa ditawar meski harganya naik. Jangan sampai kita terlambat memenuhi persyaratan minimal ini. Kalau kita mau berseteru secara militer demi harga diri teritori, penuhi dulu persyaratan minimalnya. Oleh sebab itu dengan sejuta doa mari kita tunggu kedatangan dua jenis jet tempur lintas generasi buatan Perancis ini. Sembari melukis tulisan kaligrafi: Mirage Rafale Bienvenue.

****

Jagarin Pane / 23 September 2022

Friday, September 9, 2022

Mekarnya Angkatan Laut Indonesia

Pernyataan terang benderang KSAL soal kekuatan angkatan laut Indonesia saat ini yang semakin kuat dan mekar patut kita cermati. Bahwa ada penambahan kuantitas dan kualitas alutsista selama program MEF (Minimum Essential Force), jelas meningkat. Termasuk pengembangan organisasi armada tempur dan pasukan marinir. Tetapi jujur saja, modernisasi alutsista TNI AL yang sedang gencar dilakukan saat ini baru untuk mengejar kekuatan minimal yang diperlukan dalam mengawal teritori laut NKRI. Angkatan Laut Indonesia belum sampai pada kekuatan minimal MEF untuk menjaga teritori laut yang sangat luas ini.

Kekuatan striking force "Liga 1" TNI AL maksimal hanya bertumpu pada kelas fregate dan korvet yang jumlahnya hanya belasan. Belum ada KRI sekelas heavy fregate dan destroyer. Fregate Ahmad Yani Class 4 unit, Bung Tomo Class 3 unit, korvet Diponegoro Class 4 unit, Fatahillah Class 3 unit dan yang terbaru fregate Martadinata Class 2 unit. Sementara aset kapal selam ada 4 unit. Masih ada kekuatan striking force "Liga 2" TNI AL yaitu 10 unit Parchim Class bekas pakai Jerman, KCR (kapal cepat rudal) Rencong Class 3 unit dan KCT (kapal cepat torpedo) Andau Class 4 unit. Kapal perang terbaru buatan industri pertahanan galangan kapal nasional adalah 8 KCR ukuran 40 meter dan 6 KCR ukuran 60 meter. Ada juga penambahan 12 KPC (kapal patroli cepat) yang dapat dipasang rudal anti kapal.

Jika terjadi serangan terhadap teritori di Natuna maka benteng pertahanan garis depan adalah angkatan laut dan udara. Beda dengan pertempuran Rusia-Ukraina, angkatan laut Rusia sebagai supporting pertempuran dengan menembakkan ratusan peluru kendali. Potensi konflik di kawasan LCS (Laut China Selatan) adalah pertunjukan superioritas armada tempur dalam penguasaan teritori laut. Artinya kuantitas, kualitas dan keunggulan teknologi pertempuran 4 dimensi alutsista kapal perang dan kapal selam adalah harga mati. 

Indonesia sedang menuju ke arah itu dengan membangun kapal perang heavy fregate. Industri pertahanan strategis PT PAL sedang berkonsentrasi mempersiapkan proyek monumental dan strategis ini dengan membangun 2 unit kapal perang Arrowhead 140 meter kerjasama teknologi dengan Inggris. Heavy fregate adalah alutsista strategis yang setara dengan potensi konflik besar di kawasan LCS. Diharapkan dalam sepuluh tahun kedepan Indonesia sudah memiliki 6-8 kapal perang heavy fregate.

Teritori laut Indonesia adalah yang terluas dibanding daratan. Posisi geopolitik dan geostrategis yang mayoritas perairan mengharuskan negeri ini memperkuat matra laut. Tidak bisa tidak. Dinamika konflik kawasan Indo Pasifik harus dipotret sebagai ancaman serius dan bersifat jangka panjang. Nyatanya Timur Tengah tidak lagi menjadi prioritas bagi AS dan sekutunya. Apalagi beberapa negara Arab sudah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Afghanistan ditinggalkan begitu saja bersama alutsista milyaran dollar. Pusat perhatian masa depan AS adalah Indo Pasifik. Sebagian besar kekuatan angkatan laut dan udara AS sudah dan sedang direlokasi ke kawasan Indo Pasifik untuk berhadapan dengan rival masa depannya, China.

Angkatan laut Indonesia mengantisipasi perubahan besar ini dengan mengembangkan organisasi dan memperkuat armada lautnya. Armada tempur laut TNI AL dikembangkan dari dua armada menjadi tiga armada. Demikian juga dengan Pasmar (pasukan marinir). Termasuk sebaran pangkalan. Markas Armada Satu di Tanjung Pinang, Armada Dua di Surabaya dan Armada Tiga di Sorong. Markas Pasmar Satu di Jakarta, Pasmar Dua di Surabaya dan Pasmar Tiga di Sorong. Di Natuna sudah ada brigade komposit Gardapati gabungan interoperability tiga matra TNI. Sejumlah KRI dan pasukan marinir bersiaga permanen.

Program MEF yang dimulai sejak tahun 2010 sudah memberikan tambahan kekuatan kapal perang TNI AL dan alutsista marinir secara signifikan meski belum sampai pada kriteria minimal. Selain penambahan kekuatan KRI striking force ada penambahan 9 kapal perang jenis landing ship tank (LST) dan 6 kapal perang landing platform dock (LPD) serta 3 kapal perang LPD rumah sakit. Juga ada tambahan 3 kapal perang BCM (bantu cair minyak). Semuanya adalah produksi dalam negeri. TNI AL memperoleh aset penting berupa kapal perang intelijen bawah air Rigel Class sebanyak 2 unit dari Perancis dan sedang menunggu kedatangan 2 kapal penghancur ranjau dari Jerman. 

Pasukan marinir memperkuat otot serbu pantainya dengan bertambahnya aset pemukul yaitu 54 tank amfibi BMP3F, 15 ranpur amfibi LVT7A1, 18 MLRS RM Grad/Vampire. Dalam waktu dekat pasukan hantu laut ini diprediksi akan mendapatkan enam puluhan kendaraan amfibi dari AS dan Turki. Statemen KSAL baru-baru ini menyebut kapal perang pesanan TNI AL yang sedang proses produksi ada 5 di PT PAL, ada 3 di Bekasi, ada 2 di Lampung, ada 5 di Batam, ada 2 di Banten. Beliau ingin menunjukkan merata dan berkibarnya industri galangan kapal di tanah air sekaligus ingin menyampaikan semakin mekarnya kekuatan angkatan laut Indonesia. Mekar untuk menuju MEF.

****

Jagarin Pane / 9 September 2022

Sunday, September 4, 2022

18 Rafale

Program pengadaan jet tempur Rafale sudah tercover di Green Book. Nilainya US $2,9 milyar dari usulan pagu PLN (pinjaman luar negeri). Jumlah ini diprediksi untuk mendapatkan 12 unit Rafale. Jika digabung dengan kontrak efektif 6 Rafale terdahulu maka Indonesia akan memperoleh 18 jet tempur Rafale dari rencana akuisisi 42 unit. Lumayanlah. Sebuah langkah bijak dan pantas ditengah keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah saat ini.

Bagaimanapun perkuatan alutsista TNI adalah keharusan. Karena kita saat ini masih harus mengejar ketertinggalan untuk memenuhi target minimum essential force kekuatan militer kita tahun 2024. Sementara situasi geopolitik kawasan Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan semakin tinggi tensi konfliknya. Sampai hari ini alutsista kita belum sampai pada kekuatan minimal apalagi standar dan ideal.

***

Jagarin Pane / 03 Sep 2022

Sunday, August 21, 2022

Memilih Yang Terpilih

Kebutuhan ketersediaan alutsista strategis kita berpacu dengan waktu. Dan kemudian bertemu dengan keterbatasan sumber daya keuangan yang tergerus dampak pandemi Covid19 dan subsidi energi. Melucuti stamina APBN. Di satu sisi ada kebutuhan mendesak dan tidak bisa ditunda untuk isian dan sebaran alutsista karena adanya dinamika konflik kawasan. Temperatur konflik mengancam eksistensi teritori dan di sisi yang lain pemerintah harus menggelontorkan subsidi besar untuk konsumsi energi ratusan juta penduduknya, untuk menjaga agar inflasi tidak liar.

Penjelasan soal ketersediaan alutsista strategis ini sederhana, apakah ada penambahan jet tempur selama 5 tahun terakhir. Apakah ada penambahan kapal perang striking force kelas korvet keatas selama 5 tahun terakhir. Jawabnya tidak ada. Kita gagal mendatangkan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia karena Undang-Undang CAATSA AS. Lantas kita bergegas untuk mendapatkan 42 jet tempur Rafale dari Perancis. 6 unit diantaranya sudah kontrak efektif tetapi pesawatnya baru datang paling cepat tahun 2026.

Artinya ada 9-10 tahun kita menunggu waktu untuk menambah jumlah jet tempur. Saat ini kekuatan pukul TNI AU bertumpu pada 16 jet tempur Sukhoi SU27/30 dan 33 jet tempur F16. Langkah cepat dan cerdas Menteri Pertahanan untuk mendatangkan 42 jet tempur Rafale dari Perancis patut kita apresiasi. Beli "grosiran" dalam jumlah banyak untuk investasi pertahanan tiga dekade. Selama ini kita dikenal produsen alutsista sebagai pembeli ketengan. Sementara untuk pengadaan 2 kapal perang heavy fregate Arrowhead 140 sudah kontrak efektif dari rencana pengadaan 16 kapal perang yang sekelas dengannya. Oktober tahun ini mulai dibangun di PT PAL.

Bagaimana kemudian kita memilih yang sudah terpilih sebagai skala prioritas untuk perkuatan alutsista kita yang cukup mendesak ini. Pilihan bisa dengan berbagai skema. Misalnya dari 42 jet tempur Rafale yang diinginkan, 6 yang sudah kontrak efektif bisa digenapkan menjadi 12 unit dulu. Untuk yang 30 unit ditunda dulu. Kemudian untuk menutup "blank spot" 5 tahun kedepan karena lamanya antrian produksi Rafale, tambahan ketersediaan jet tempur tawaran dari Uni Emirat Arab bisa dipergunakan. Pengadaan 14 jet tempur Mirage bekas pakai, harganya murah. Bisa siap pakai dengan durasi kedatangan lebih cepat, satu tahun diprediksi sudah datang. Dan kita memang sedang membutuhkan ketersediaan jet tempur untuk mengawal Natuna secepatnya.

Soal kapal selam juga prioritas.  Maka rencana pengadaan 2 kapal selam dari Perancis atau Jerman menurut pandangan kita harus segera direalisasikan. Kita sudah mempunyai 4 kapal selam "satu bapak lain emak". Sama-sama berjenis U209, yang satu buatan Jerman sudah sepuh buatan tahun 1980. Tiga lainnya hasil kerjasama produksi DSME Korsel dan PT PAL Indonesia, masih baru. Dan keempatnya kalah kelas dengan punya jiran Singapura, Malaysia dan Vietnam. Itu sebabnya kita perlu menyegerakan pengadaan 2 kapal selam yang lebih gahar. Armada kapal perang bawah air kita masih harus ditambah secara kuantitas dan kualitas. Dan ini prioritas.

Program pengadaan alutsista Indonesia sejauh ini berjalan lancar. Pesanan 5 Hercules gres dari AS produksinya sedang berjalan. Pengadaan 6 jet latih tempur Golden Eagle dari Korsel sedang dalam proses produksi. Kita juga sedang menunggu kedatangan bertahap 6 pesawat amfibi dari Kanada untuk TNI AU. Termasuk menunggu kedatangan 2 kapal perang pemburu ranjau dari Jerman untuk TNI AL. Sementara PT PAL baru saja meluncurkan kapal perang jenis LPD rumah sakit yang ketiga.  Pindad sedang menyelesaikan pesanan tank Harimau untuk TNI AD termasuk panser Badak. PT DI saat ini sedang menyelesaikan assembling helikopter berbagai jenis untuk TNI AU, TNI AD.

Dalam kondisi keuangan yang tergerus mengatasi pandemi dan subsidi energi yang cukup besar, meneropong skala prioritas pemenuhan kebutuhan alutsista adalah keniscayaan bersama. Perkuatan alutsista adalah keharusan karena situasinya mendesak dan kita belum sampai pada kriteria minimum essential force, apalagi ideal. Namun kita juga harus realistis dengan APBN kita, seperlimanya untuk subsidi, terlalu besar. Dan rasio hutang terhadap PDB di kisaran 41%. Fundamental ekonomi sejauh ini disebut kuat dengan pertumbuhan 5,49% di kuartal kedua ini. Dan inflasi juga hampir menyaingi pertumbuhan ekonomi. Inflasi posisi terakhir ada diangka 4,9%.

Perolehan 12 jet tempur Rafale, 12 jet tempur Mirage bekas pakai, 4 kapal perang heavy fregate dan 2 kapal selam serbu sudah sangat realistis untuk mengejar ketertinggalan minimum essential force sampai tahun 2024. Peningkatan infrastruktur tempur alutsista eksisting  juga sedang berlangsung. Bung Tomo Class bergantian di upgrade, juga beberapa kapal cepat rudal termasuk KRI Golok 688 dipersenjatai dengan rudal canggih. Jet tempur F16 dan T50 dimodernisasi kemampuan tempurnya. Radar GCI di sejumlah titik diperbaharui. Dan ini yang terpenting, instrumen network centric warfare dari Scytalys Yunani dengan kemampuan interoperability tiga angkatan sedang dibangun. Semuanya patut kita syukuri.

****

Jagarin Pane / 20 Agustus 2022

Friday, August 5, 2022

Blunder Kebijakan Abrasi Hegemoni

Mengapa Nancy Pelosi mengusik status quo iklim geopolitik di Taiwan. Cuaca yang cerah berawan tiba-tiba menjadi angin puting beliung yang membuat kawasan Asia Timur berdebar-debar. Padahal jelas banget kebijakan politik luar negeri AS adalah mengakui satu China, dipertegas lagi dalam sekian pernyataan Biden. Terakhir ketika berbicara dengan Xi Jin Ping sebelum Pelosi jalan-jalan cari perkara. Artinya Taiwan secara diplomatik tidak diakui AS sebagai negara berdaulat. Tapi mengapa Pelosi keukeuh berkunjung ke Taiwan dan AS tetap tegar menjadi payung pelindung Taiwan. Barusan Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung secara zigzag ke Taiwan.

Padahal dalam run down kunjungan ke Indo Pasifik, Taiwan tidak ada dalam jadwal. Dia datang ke Singapura kemudian lanjut ke Malaysia. Nah ketika mau terbang ke Taiwan rute pesawatnya yang terpantau di flight radar tidak langsung menuju utara memotong semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan  (LCS). Tetapi menelusuri selat Karimata, garis khatulistiwa Kalimantan dan diatas Balikpapan berbelok ke Filipina. Ketika melewati Luzon pesawat Nancy mulai dikawal 8 jet tempur F15 AS dan 5 tanker dari Okinawa AFB. Dan dibawahnya ada pengawalan dari kapal induk USS Ronald Reagan. Benar-benar sebuah perjalanan berlapis unjuk kekuatan. Sayangnya kurang mendapat simpati.

Nancy sudah take off dari Taiwan namun situasi di sekitar Taiwan makin mencekam. Militer China sedang menunjukkan kemarahan terbesarnya dan memblokade laut sekeliling pulau Formosa. Dan kemarin 4 Agustus 2022 China memulai latihan militer besar-besaran di sekeliling Taiwan dengan mengerahkan 2 kapal induk dan kapal selam nuklir. Kemudian meluncurkan 11 peluru kendali hipersonik Dong Feng. Beberapa diantaranya melewati daratan Formosa. Dan bersamaan dengan itu ada 3 kapal induk AS berada di dekat area latihan militer China. Kemarahan sudah diubun-ubun, China maju tak gentar, penerbangan sipil di Taiwan terhalang aktivitas militer China.

Pergantian cuaca ekstrim begini menjadi perhatian sejumlah negara di kawasan. Para Menlu ASEAN yang sedang berkumpul di Phnom Penh Kamboja menyerukan agar situasi kawasan tidak diubek-ubek yang bisa menimbulkan konflik. Sementara diplomat Korsel menyuarakan ketidaksukaan kunjungan Nancy ke Taiwan dan berpotensi menjadi beban baru bagi situasi kawasan Indo Pasifik. Dalam pandangan kita mestinya ada kearifan untuk menjaga dinamika kawasan Indo Pasifik yang hari-hari belakangan ini berstatus ngeri-ngeri sedap alias sensitif karena imbas perang Rusia-Ukraina.  Kunjungan seorang ketua DPR AS ini mencerminkan sikap kurang toleran dan blunder kebijakan. Sekaligus memberikan aba-aba yang menunjukkan sabuk hegemoni yang mulai tergerus abrasi.

Rusia mendukung kemarahan China termasuk pengerahan kekuatan militer besar-besaran di Fujian dan selat Taiwan. Dukungan ini menjadi kredit poin bagi persekutuan keduanya di kemudian hari. Pengerahan kekuatan militer China menjadi simulasi penting bagi negeri itu karena sekaligus menjadi ancang-ancang untuk menyelesaikan persoalan Taiwan secara militer. Dan itu hanya soal waktu. Berkaca dari perang Rusia-Ukraina dalam perspektif China, menyerbu Taiwan menjadi semakin terbuka lebar. Rusia yang membombardir Ukraina sampai hari ini nyatanya tidak bisa dibela secara total oleh AS dan NATO.

Abrasi hegemoni AS sudah diperlihatkan dalam berbagai peristiwa di dunia. Di Afghanistan capek sendiri lalu hengkang. Kekuatan ekonomi China diprediksi lima tahun lagi akan menjadi nomor satu. Dan yang paling jelas adalah pertempuran di Ukraina. Terlalu banyak statemen menggertak, mengancam, mengucilkan, mengerdilkan Rusia ternyata menjadi bumerang bagi AS dan sekutunya. Krisis pangan dan energi membuat seluruh dunia "kepanasan". Beberapa diantaranya sudah resesi. Tiba-tiba situasi panas menerkam Asia Timur hanya karena kunjungan simbol hegemoni seorang Nancy Pelosi. Ongkos berdebar itu yang mestinya diperhitungkan karena bisa menjadi suara antipati di kawasan Indo Pasifik.

****

Jagarin Pane / 05 Agustus 2022

Friday, July 29, 2022

Momentum Super Garuda Shield

Sudah mulai ada pergerakan militer di sejumlah titik di Indonesia seperti di pangkalan AL Jakarta, Pelabuhan Panjang, Bakauheni, jalan tol di Lampung, Balikpapan, Laut Jawa dan Dabo Singkep Kepulauan Riau. Termasuk sejumlah air force base, batalyon marinir dan batalyon kostrad. Ini adalah bagian dari deploy ribuan pasukan dan alutsista untuk latihan gabungan skala besar Indonesia dan AS bertajuk Super Garuda Shield yang akan digelar mulai 1 Agustus 2022 selama dua minggu. Soal teknis ini perlu disampaikan agar masyarakat luas tahu ada hajatan apa nih, kok banyak alutsista dan pasukan melintas. Dan ada bulenya lagi. Termasuk agar tidak terulang salah pengertian diantara kementerian soal kedatangan persenjataan AS yang dikira senjata ilegal. Kan jadi tak elok didengar publik.

Indonesia dan AS kembali menggelar latihan militer gabungan. Garuda Shield sudah rutin dilaksanakan setiap tahun antara TNI AD dan US Army. Namun tahun ini kurikulumnya diperluas dengan mengikutsertakan angkatan laut dan angkatan udara kedua negara. Istimewanya lagi ada 12 negara Indo Pasifik yang ikut bergabung di medan Super Garuda Shield. Pesan militernya jelas untuk menjaga nafas kebersamaan dalam iklim pertahanan keamanan Indo Pasifik yang kondusif. Filosofi si vis pacem parabellum terang benderang diperlihatkan sebagai show of force. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

Maka Indonesia pun bersiap untuk unjuk kinerja militer. Pasukan marinir dan alutsistanya sudah ready for use, mulai embarkasi di Koarmada Satu Jakarta. Pasukan kostrad juga sudah bergerak melintas selat Sunda menuju Baturaja. Sejumlah KRI striking force sudah mempersiapkan diri termasuk untuk penembakan alutsista strategis. Semua aspek teknis manajemen pertempuran dan logistik militer sudah dipersiapkan. Karena ini latihan gabungan bersama banyak negara lain kecuali China, sudah tentu kita harus mempersiapkan pasukan dan alutsista dengan kemampuan penuh. Termasuk menyediakan infrastruktur militer di Puslatpur TNI AD di Baturaja, Dabo Singkep dan Amborawang Balikpapan.

Latihan gabungan Super Garuda Shield antara Indonesia dan AS dengan dukungan 12 negara lain dalam pandangan kita mempunyai momentum militer yang tepat ditengah berkecamuknya perang Rusia-Ukraina dan ancaman China terhadap Taiwan terkait dengan rencana kunjungan Nancy Pelosi ketua DPR AS. Meski ada dua konsentrasi AS yang sedang dipikul yaitu perang Eropa dan persoalan Taiwan yang semakin berat, latihan militer Super Garuda Shield adalah sebuah komitmen bentuk mengukur kesiapsiagaan komprehensif. Karena baru kali ini latgab bilateral Indonesia-AS khusus matra darat diperluas menjadi Latgab multilateral tiga matra network centric warfare. Pasti seru nih.

Bagi Indonesia Latgab ini adalah langkah diplomasi militer yang cerdas untuk mengingatkan siapapun pihak yang ingin mengganggu teritori kita untuk tidak bermain api. Sementara dalam gerak lincah diplomasi kita yang lain Presiden Jokowi baru saja berkunjung ke China, Korsel dan Jepang. Ini yang disebut politik bebas aktif, proaktif dan bersahabat dengan semua negara untuk membangun ekonomi kesejahteraan. Kita ingin kerjasama dengan semua negara atas nama simbiosis mutualistik, kepentingan bersama. Namun kita juga harus bersiap secara militer untuk mengawal kedaulatan teritori. Dan mengingatkan pihak yang suka bilang "ini punyaku" lalu mengerahkan kekuatan maritimnya, untuk tidak berlaku curang dan main gertak.

Maka sesaat lagi kita akan menyaksikan serial latihan gabungan ini dengan mempertontonkan ketangguhan dan kecanggihan alutsista TNI bersinergi dengan alutsista negara lain. Ada Leopard, Apache, Astross, UAV, F16, Boeing intai strategis, KRI dan lain-lain. Untuk pendaratan pasukan marinir di Dabo Singkep misalnya, marinir kita akan bahu membahu dengan marinir AS, Australia, Jepang dan Singapura menyerbu pantai Todak yang kontur geografinya mirip dengan Natuna. Yang menarik karena ini untuk yang pertama kali marinir Indonesia melakukan serbuan pantai bersama negara lain. Dan yang lebih menarik lagi diyakini akan ada nota protes dari pihak sono yang juga sudah mempersiapkan infrastruktur intelijennya untuk mengintip jalannya Latgab bergengsi ini. Biarkan saja.

****

Jagarin Pane / 29 Juli 2022

Monday, July 25, 2022

Benua Biru Lebam Membiru

Ironi sekali, sebuah "real estate" paling maju, modern, megah dan berjaya selama hayat dikandung badan, sebuah komunitas antarbangsa kelas "sultan" di ekosistem benua biru yang makmur sejahtera terjadi malapetaka pertempuran dahsyat yang mempermalukan diri sendiri dan lingkungannya. Celakanya lagi tidak ada upaya totalitas secara sistem di bumi bulat bundar ini untuk menghentikannya. PBB tidak punya taring, yang ada hanya gigi susu. Yang terjadi justru saling menyulut, saling melotot, saling menghasut, saling membombardir demi gengsi harga diri. Jadilah benua biru makin lebam dan Ukraina pun babak belur membiru.

Pertempuran hebat ini adalah mahakarya sutradara protagonis dalam episentrum hegemoni pemilik kebenaran subyektivitas. Dan lawannya adalah warisan dari detente empat dekade yang tersisa, yang dianggap sebagai antagonis dari semua pasal-pasal pembenaran produk klub pemenang detente. Dan lokasi perang teknologi tinggi ini ada di sebuah benua bangsawan yang menjadi kiblat dan induk lompatan teknologi, Eropa. Luar biasa. Begitulah aslinya definisi hegemoni yang tidak pernah puas dengan hasrat ekspansi berbasis suudzon dan kepentingan sepihak untuk menguatkan paku status quo.

Padahal saat ini sudah tidak ada lagi lawan tanding yang setara after the end of cold war era. Tidak ada lagi musuh strategis NATO di Eropa, sudah bergeser ke Indo Pasifik. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Maksud hati ingin memeluk Ukraina apa daya sikil beruang merah ikut terinjak. Dikira lawannya keder dengan gertakan, ternyata yang dihadapi adalah tembok besar bernyali kuat dengan arsenal nuklir terbesar. Nasi telah menjadi bubur ayam dan yang "menikmati" sajian ini adalah decision maker protagonis dan antagonis. 

Sajian lain dari pahitnya bubur ayam tadi adalah krisis energi dan pangan yang berimbas ke segala penjuru mata angin. Inflasi tinggi menerjang bagai rob musim kemarau dan salah satu korban kolapsnya adalah Sri Lanka dan Haiti. Semua negara pasang kuda-kuda tidak terkecuali Indonesia. Kabar baiknya negeri kita-kata IMF dan lembaga keuangan internasional-punya fundamen ekonomi yang kuat. Sejauh ini pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2022 ada di angka 5,1% dan inflasi 3,2%. Rasio hutang terhadap PDB 42%. Neraca perdagangan surplus besar, ditopang oleh produk ekspor primadona batubara, nikel dan CPO yang meroket harganya.

Lalu mengapa dunia tidak bergerak melakukan inisiatif perdamaian dari pertempuran paling mematikan di benua biru ini. Sudah lima bulan tanpa jeda dentuman menggema, meluluhlantakkan. Jutaan orang sudah mengungsi. Bisa dibayangkan betapa menderitanya puluhan ribu rumah tangga keluarga Ukraina yang tercerai berai. Ini merupakan episode perjalanan berbangsa dan berdunia yang paling konyol dan primitif di abad milenial. Komunitas antarbangsa Eropa yang berada di era teknologi dan literasi digital dengan kemampuan beyond visual range dan mampu "melipat" bumi, justru terjebak dalam  jaring konflik bergaya primitif. Dan seakan berlaku hukum rimba, adu kuat dan adu banteng. Siapa kuat dia yang menang.

Insiatif perdamaian Presiden Jokowi sempat membuka setitik cahaya pencerahan. Kedatangan RI-1 beserta nyonya ke Kiev dan Moskow menjadi catatan harapan dunia. Ikut sertanya first lady Indonesia mendatangi medan konflik melambangkan pesan kemanusiaan sesungguhnya. Dan ini menjadi catatan terbaik dalam kacamata pemberitaan internasional dari perjalanan paling beresiko seorang Presiden RI dan istri untuk inisiatif perdamaian. Namun sejauh ini belum ada  sinar terang gencatan senjata untuk menghentikan dentuman berbagai jenis alutsista racikan teknologi terkini.

Krisis energi dan pangan sudah meninggi tensinya dan diprediksi akan membuat lumpuh perekonomian di sejumlah negara. Sementara jeda pertempuran fisik Rusia-Ukraina tidak terjadi, terus berlangsung seru. Di Teheran kemarin ada pertemuan tingkat tinggi segitiga Iran, Rusia dan Turki. Sambutan Iran terhadap Vladimir Putin luar biasa sekaligus menyampaikan second opinion soal Ukraina. Bahwa jika Rusia tidak berinisiatif mengambil Krimea tahun 2014 pihak NATO yang akan mendudukinya. Logikanya "bersinergi" sebab salah satu poin penting invasi Rusia ke Ukraina adalah "akan direkrutnya" Kiev menjadi anggota NATO. Dan itu berarti head to head dengan Moskow. 

Ada Kabar terkini pipa gas Rusia Nord Stream I trans Eropa sudah mulai mengalirkan gas ke Uni Eropa. Syarat mengalirnya karena penghuni "real estate" nya melunakkan sanksi kepada Moskow, dengan membuka blokiran bank papan atas Rusia dan pencairan dana untuk transaksi pangan dan energi. Jadi ingat lirik lagu "kau yang mulai kau yang mengakhiri". Sejauh ini Kremlin secara de facto memenangkan pertempuran energi dan pangan terhadap Uni Eropa. Meski di sektor pemberitaan dan opini on the spot medan pertempuran,  Rusia kalah publikasi. Karena mayoritas media mainstream dunia termasuk medsos dikuasai mutlak oleh Barat. Lihat saja pemberitaan CNN Indonesia yang punya networking dengan CNN Internasional.

Kita tidak tahu kapan pertempuran ini mereda. Tapi jika dibiarkan berlarut dan sengkarut akan menjadi krusial manakala semua energi pertempuran konvensional terkuras habis. Belum lagi jika Rusia semakin dijepit dengan real war dan proxy war. Dalam doktrin pertahanan Rusia disebut jika wilayah teritorinya termasuk Ukraina Timur dan Krimea yang dikuasai saat ini, mendapat gempuran hebat dari Ukraina maka Rusia berhak dan sah melakukan counter attack dengan serangan nuklir. Dan kalau ini terjadi bisa dipastikan meletus Perang Dunia ketiga. Dan semua yang dicapai umat manusia menjadi sia-sia. Dan semua yang dilakoni umat manusia game over, termasuk literasi digital yang sedang dibaca ini.

****
Jagarin Pane / 25 Juli 2022

Saturday, June 25, 2022

Inisiatif Cemerlang Indonesia

Pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina sudah memasuki bulan ke lima dan sampai hari ini tidak ada inisiatif dari negara lain untuk menengahi dan mengakhiri. PBB yang diharapkan bisa berperan besar melalui Dewan Keamanan "kalah awu" dengan veto. Demikian juga dengan Majelis Umum PBB hanya sekedar menerbitkan resolusi diatas kertas. Kemudian hanya jadi penonton dentuman ribuan senjata di benua terkemuka itu. Ironi banget di sebuah benua digital milenial maju dan sejahtera justru terjadi pertempuran paling menghancurkan disaksikan bahkan diprovokasi oleh tetangga sendiri atas nama persekutuan militer.

Turki pernah punya inisiatif mengajak perundingan damai. Menjadi shohibul bait dari dua delegasi yang bertikai. Formula yang ditawarkan Turki adalah gencatan senjata. Sayangnya Ukraina kurang merespon baik bahkan membuat pernyataan "kompor" sehingga mentah dan mental di lapangan. Sekedar mengingat sejarah, perang Korea tahun 1953 belum selesai sampai sekarang. Hanya ada gencatan senjata di garis demarkasi Pamunjom. Pertempuran Rusia-Ukraina berlanjut terus, Ukraina semakin babak belur. Sementara Sanksi AS dan Uni Eropa kepada Rusia jadi bumerang sendiri. Inflasi, krisis energi dan pangan dunia sudah terjadi di Eropa dan AS.

Inisiatif Indonesia untuk mencoba mengetuk pintu rumah dan pintu hati dua rumah yang bertetangga dekat, bahkan pernah bersatu dan bersenyawa di rumah gadang yang bernama Uni Sovyet, merupakan langkah cemerlang. Seluruh dunia menanti momen penting ini. Presiden Joko Widodo yang menjabat Presidensi G20 adalah kepala pemerintahan dari sebuah negara berkarakter non blok. Kita menaruh harapan besar langkah proaktif Presiden Jokowi ini bisa membuka matahati pemimpin kedua belah pihak, setidaknya gencatan senjata dulu.

Inisiatif Indonesia untuk menengahi konflik berdarah dan menghancurkan di Eropa sangat ditunggu seluruh dunia. Dampak perang dahsyat ini sudah membuat dunia sesak nafas saat ini. Dan kalau ini berlanjut terus bukan tidak mungkin menjadi perang nuklir. Rusia adalah sahabat dekat Indonesia, juga Ukraina. Ketika dunia ramai-ramai seperti paduan suara mengutuk agresi Rusia, Indonesia tidak termasuk barisan paduan suara itu. Netral saja. Sikap diplomasi cerdas ini menjadi kredit poin bagi Indonesia untuk bertamu.

Perang Rusia-Ukraina sesungguhnya telah membuka formula horizon baru tentang perlunya keseimbangan tatanan dunia. Keseimbangan dimaksud adalah dunia yang tidak unipolar alias barat centris. Harus ada penyeimbang untuk meminimalisir perilaku hegemoni dari pemilik super power. Sejarah dunia membuktikan bahwa sejak runtuhnya Uni Sovyet dan bubarnya Pakta Warsawa tahun 1990 tata pergaulan internasional saat ini "dikendalikan" pemilik hegemoni dan sekutunya. Nilai yang digadang-gadang bukan based on kebenaran tetapi pembenaran yang ditentukan berdasarkan kepentingan sepihak. Sudah banyak contohnya seperti di Irak, Libya dan Afghanistan. 

Bahkan yang terakhir di Afghanistan perang berakhir dengan "ditinggal begitu saja" termasuk ribuan alutsista bernilai milyaran dollar. Ini persis seperti akhir perang Vietnam tahun 1975. Artinya kekuatan sebesar apapun, sehebat apapun, sedahsyat apapun tidak mampu menyelesaikan konflik dan pertempuran. Konflik hanya bisa diselesaikan dengan perundingan damai. Titik. Maka berangkat dari dalil kebenaran inilah Presiden Jokowi menuju Kiev dan Moskow tanggal 30 Juni 2022 setelah menghadiri KTT G7 di Jerman.

Indonesia punya pengalaman sukses mendamaikan perang saudara di Kamboja dan menyelesaikan konflik gerilyawan Moro di Filipina Selatan. Perang saudara di Kamboja yang begitu sadis selama belasan tahun setelah AS angkat kaki dari Indochina. Konflik kejam itu seperti tidak menemukan jalan akhir dengan korban jutaan dan genosida. Inisiatif Menlu Ali Alatas untuk mengundang faksi-faksi yang saling bertikai ke Jakarta adalah langkah terpuji. Undangan ini dikenal dengan sebutan Jakarta Informal Meeting (JIM) meski tempat pertemuannya di Bogor.  

Pada awalnya pihak-pihak yang berperang di Kamboja justru saling ngotot dan saling serang pernyataan di JIM jilid satu. Dan itu adalah proses, biarkan mereka curhat dan Menlu Ali Alatas adalah diplomat cerdas juga mediator yang sabar dan ulet. Nyatanya suasana sudah mulai mencair dan melunak serta mampu merumuskan kesepakatan di JIM jilid berikutnya. Akhirnya Kamboja damai abadi sampai sekarang. Artinya formula perundingan damai adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang terbuka Rusia-Ukraina. Bukan dengan mengirim ribuan alutsista, umbar pernyataan dan merasa paling benar paling kuat.

****

Jagarin Pane / 25 Juni 2022

Wednesday, June 15, 2022

Mengapa Diberi Nama KRI Bung Karno

Ada kabar bagus untuk Angkatan Laut Indonesia. Galangan kapal swasta nasional PT Karimun Anugerah Sejati di Batam mendapat order pembuatan kapal perang jenis korvet berpeluru kendali. Seremoni first steel cutting dan keel laying baru saja dilakukan pada hari Kamis tanggal 9 Juni 2022 di Batam. Kapal perang ini menjadi istimewa karena dirancang untuk mengakomodasi pelayanan VVIP dan Kepresidenan. Artinya rancang bangun, teknologi infrastruktur dan persenjataannya harus memenuhi kriteria pengamanan VVIP dan Kepresidenan.

Galangan kapal swasta nasional yang lain, PT Daya Radar Utama di Lampung saat ini juga sedang melaksanakan pembuatan 2 kapal perang striking force jenis korvet. Perusahaan ini sudah lebih dulu sukses membangun 4 kapal perang jenis landing ship tank (LST). Beberapa galangan kapal swasta lainnya mendapat order membuat kapal perang jenis LST, bantu cair minyak (BCM) dan kapal patroli cepat (KPC).  PT Lundin di Banyuwangi baru saja berjaya membangun kapal cepat rudal (KCR) teknologi trimaran stealth KRI Golok 688.

PT PAL sebagai BUMN strategis punya jadwal ketat menyelesaikan pembuatan 2 KCR dan 1 kapal landing platform dock (LPD) rumah sakit untuk TNI AL. Yang membanggakan PT PAL baru saja menang tender batch 2 membangun 2 kapal perang jenis LPD untuk angkatan laut Filipina. Juga sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate Arrowhead 140, termasuk rencana membangun kapal selam serbu dengan kerjasama transfer teknologi. Luar biasa kesibukan PT PAL. Kita merasa bangga dengan kemampuan industri pertahanan maritim ini.

Untuk diketahui pembuatan kapal perang korvet berpeluru kendali di Batam ini adalah untuk menggantikan peran KRI Barakuda 814 yang selama ini menjadi kapal VVIP. KRI Barakuda adalah kapal perang jenis FPB57 buatan Jerman tahun 1995.  Hanya saja soal penamaan kapal perang yang akan menggantikan KRI Barakuda ini disebut akan memakai nama KRI Bung Karno. Dalam pandangan kita penamaan ini kurang pas dan tidak setara dengan kebesaran nama dan marwah Bung Karno.

Nama Bung Karno adalah marwah terbesar dan tertinggi untuk negeri ini. Jadi terlihat kurang sepadan jika kapal perang jenis korvet ini diberi nama KRI Bung Karno. Sebagai contoh AS memberi nama kapal induk nuklir terbaru mereka dengan USS Gerald Ford yang merupakan Presiden AS ke 38. Juga ada kapal induk USS Ronald Reagan. Inggris kapal terbesarnya HMS Queen Elizabeth. Demikian juga dengan Rusia penamaan kapal perang berdasarkan hirarki kepahlawanan. Jadi menurut persepsi kita kapal perang yang dibangun ini lebih baik diberi nama yang lain yang setara dengan kelas korvet.

Berbagai kapal perang striking force kita sudah punya penamaan berdasarkan nama-nama pahlawan. Martadinata Class, Ahmad Yani Class, Bung Tomo Class, Diponegoro Class jelas tingkatan kelasnya diatas korvet yang baru mulai dibangun di Batam ini. Ada kesan penamaan KRI Bung Karno untuk korvet ini yang kelasnya lebih rendah dari kelas kapal perang diatas, kurang sepadan, kurang pantas. Lebih pantas nama besar Bung Karno ini disematkan di salah satu dari dua kapal perang jenis heavy fregate Arrowhead 140 yang sedang dipersiapkan pembangunannya. Yang satu lagi diberi nama KRI Muhammad Hatta. Dua kapal perang canggih ini akan menjadi kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia.

Demikian juga dengan penamaan Bandara Soekarno Hatta di Tangerang sebagai bandara nomor wahid di negeri ini. Sepintas sepertinya sudah sesuai namun nama ini sejatinya untuk  "dwi tunggal proklamator", bukan atas nama perseorangan. Dalam pandangan kita alangkah baiknya penamaan ini dipisah saja. Sekedar usul boleh kan. Bandara di Tangerang menjadi Bandara Ir Soekarno. Dan nama Mohammad Hatta bisa disematkan di bandara Kualanamu di Sumatera Utara. Seperti kita ketahui ada dua Bandara yang masih bernama berdasarkan lokasinya, yaitu Kualanamu di Sumut dan Kertajati di Jabar. 

Bandara Kualanamu sangat pantas menyandang nama Bandara Muhammad Hatta dan itu mewakili aspirasi Sumatera. Kita ketahui sejak awal sangat sulit memberi nama pahlawan untuk Bandara Kualanamu di Sumut, sebagaimana dulu Bandara Polonia. Diusulkan diberi nama Bandara A ternyata komunitas B dan C tidak sepakat. Diberi nama Bandara B, komunitas A dan C tidak berkenan. Nah kalau kemudian dimunculkan nama Muhammad Hatta menurut prediksi kita,  bisa disepakati semua pihak. 

Mari kita menempatkan nama besar Bung Karno dalam bingkai dan tempat yang sepadan. Sudah ada stadion terbesar di tanah air bernama Gelora Bung Karno sebagai contoh yang sesuai. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Bung Karno dan Bung Hatta adalah marwah terbesar dan tak tergantikan sepanjang masa. The founding father bagi negeri kepulauan tropis nan indah permai ini. Mari kita renungkan bersama dengan mata hati yang jernih saudaraku yang dirahmati Allah.

****

Jagarin Pane /15 Juni 2022

Wednesday, June 8, 2022

Antara Siaga Dan Waspada

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja memberikan kabar terkini tentang situasi perekonomian Indonesia. Pesannya untuk kita agar bersiap menghadapi ketidakpastian ekonomi keuangan internasional, kenaikan harga dan inflasi sebagai dampak pandemi Covid 19 dan perang Rusia-Ukraina. Di belahan bumi yang lain Presiden AS Joe Biden mengumumkan keadaan darurat energi di negaranya ditengah semakin memburuknya hubungan AS-Rusia dengan perkiraan kuat putusnya hubungan diplomatik antara kedua negara. Krisis pangan telah menghantui seluruh dunia termasuk potensi melebarnya konflik bersenjata di Eropa menuju Indo Pasifik.

Sementara itu dalam rapat tertutup Kemenhan, TNI dan Komisi I DPR RI Senin 6 Juni 2022 ada permintaan tambahan pagu anggaran Kementerian Pertahanan untuk tahun 2023 menjadi 319 trilyun rupiah. Sebelumnya pagu indikatif anggaran Kemenhan tahun 2023 yang ditetapkann sementara, ada di angka 123 trilyun. Artinya ada usulan penambahan signifikan sebesar 196 trilyun. Kemenhan dan TNI tentu sudah memperhitungkan besaran nominal tambahan anggaran itu dengan justifikasi yang kuat dan jelas. Dinamika geopolitik dan potensi konflik di Laut China Selatan (LCS) semakin panas dan ruwet sementara kekuatan alutsista kita sampai hari ini masih jauh dari mencukupi. 

Di kawasan lain diatas kepulauan Paracel LCS pekan terakhir Mei kemarin baru saja terjadi insiden gesekan berbahaya antara pesawat intai strategis Poseidon Australia dengan jet tempur J16 fotocopy Sukhoi SU30 China. J16 menyergap Poseidon yang melintas Paracel lalu melepaskan flare dan serpihan aluminium. Diikuti dengan gerakan tangan sang pilot China mengacungkan jari tengah ke arah kokpit Poseidon. Sebuah drama yang benar-benar mencekam situasinya. Pada waktu yang hampir bersamaan kapal coast guard China juga memasuki perairan ZEE Natuna. Setelah diperingatkan KRI Imam Bonjol 383 kapal pengawas pantai China keluar dari ZEE Natuna.

Dampak perang Rusia-Ukraina seperti memberi angin segar bagi China untuk melangkah lebih maju dalam manuver militer dan show of force. Bulan lalu serombongan 30 pesawat militer China menyusup ke area ADIZ (Air Defence Indentification Zone)Taiwan. Sebelumnya jika ada kapal perang atau pesawat yang melintas di LCS, yang terjadi adalah komunikasi saling ejek, nyinyir dan ancam antara kedua belah pihak. Tapi kali ini China mengerahkan jet tempur canggihnya untuk menyergap Poseidon. Australia bereaksi keras dan menganggap penyergapan itu sebagai agresi. Tapi kemudian China membalas kalimat itu dengan menyebut resiko tanggung sendiri. Alamak.

Berdasarkan catatan BPS inflasi kita saat ini sudah 3,5% karena kenaikan harga barang dan jasa termasuk transportasi udara. Sebagai catatan Inflasi di Turki bahkan sudah mencapai 78%. Seluruh dunia menghadapi tekanan ekonomi hebat sebagai dampak Covid 19 dan perang di Eropa. Tidak semua komoditi yang bisa kita tahan kenaikan harganya, ujar ibu Sri Mulyani karena itu bisa menyebabkan subsidi dari APBN membengkak. Sementara ini pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi dan listrik karena pemerintah menambah nominal subsidi seratusan trilyun. Kita apresiasi kebijakan ini.

Antara siaga dan waspada, keduanya mengandung makna yang sama: bersikap hati-hati. Antara perkuatan ekonomi kesejahteraan dan pertahanan sejatinya adalah dua sisi mata uang yang bersinergi kuat. Dinamika geopolitik kawasan yang sudah tidak sejuk lagi dan berdurasi jangka panjang mengharuskan kita pasang kuda-kuda untuk memperkuat benteng pertahanan. Sementara pertumbuhan ekonomi harus berjalan positif untuk meningkatkuatkan PDB kita. Pertumbuhan ekonomi 5% misalnya akan meningkatkan pertumbuhan PDB sekaligus mampu mengelola rasio hutang. Artinya jika hutang bertambah dan diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi dalam kondisi normal, rasio hutang menjadi relatif stabil.

Pertumbuhan kekuatan pertahanan Indonesia tidak bisa lagi dinomorduakan saat ini dan seterusnya karena justifikasinya sudah sangat jelas dan terang benderang. Perkuatan alutsista adalah extra ordinary. Dinamika konflik kawasan sudah masuk stadium tiga sementara kekuatan pertahanan kita masih setingkat "obat generik". Ada perseteruan kuat antara pemilik hegemoni AS dan pesaing hegemoni China di halaman rumah kita. Saat ini sudah terjadi pergeseran kekuatan utama militer dunia ke Indo Pasifik. Di kawasan ini ada tiga hotspot sekaligus yang sama-sama punya potensi meledak dahsyat. Yaitu permusuhan dua Korea, persoalan Taiwan dan klaim terhadap LCS.

Oleh sebab itu pembangunan kekuatan pertahanan dalam pandangan kita harus tumbuh sejajar dengan pembangunan kekuatan ekonomi kesejahteraan. Singkatnya pertumbuhan kekuatan pertahanan tidak boleh dikesampingkan apalagi dibaikan atau ditunda.  Pertarungan saat ini dan masa depan adalah perebutan sumber daya alam, dan negeri kepulauan nan indah ini punya segudang harta kekayaan itu. Mengapa kemudian China keukeuh menduduki Paracel dan Spratly serta membangun pangkalan militer disana karena salah satu wilayah di LCS ini punya kandungan sumber daya energi yang besar.

Tidak mudah memang untuk menentukan prioritas dalam kondisi perekonomian nasional dan internasional saat ini. Namun setidaknya masih ada celah dan harapan untuk memilahnya. Dalam perspektif kita salah satu solusinya bisa saja pemerintah melakukan penjadwalan ulang soal pembangunan IKN Nusantara dan atau menata ulang prioritas proyek strategis nasional yang terkait infrastruktur. IKN tetap dibangun karena sudah menjadi amanat Undang-Undang namun pelaksanaannya yang diundur misalnya mulai tahun anggaran 2024. Demikian juga dengan proyek strategis nasional ada yang bisa ditunda.

Soal perkuatan pertahanan menjadi penting dan mendesak karena kita tertinggal, itu poin pentingnya. Maka keberanian untuk mengusulkan tambahan anggaran yang diajukan Kemenhan dan TNI karena situasinya sudah extra ordinary. Saat ini kekuatan minimal saja (minimum essential force) yang menjadi target perkuatan militer kita belum tercapai. Minimal saja belum terpenuhi konon pula mencapai kekuatan standar dan ideal. Masih jauh panggang dari api.  Meski tidak harus sesuai dengan usulan tambahan anggaran tahun 2023 menjadi 319 trilyun, penambahan anggaran pertahanan yang signifikan selayaknya bisa dipenuhi. Rasio anggaran pertahanan terhadap PDB selama ini hanya di kisaran 0,8% dan itu adalah rasio terkecil di kawasan Indo Pasifik. Standar minimal ada di rasio 1,5% dari PDB. Dan kita belum pernah mendekati rasio itu apalagi mencapainya. Yuk mari kita membaca yang tersurat dan tersirat serta menganalisis situasi geopolitik saat ini dengan mata hati bening.

****

Jagarin Pane / 08 Juni 2022

Monday, May 30, 2022

Skala Prioritas Alutsista, Berharap Di Presidensi G20

Pandemi Covid 19 yang mengharu biru seluruh bumi bulat bundar selama dua tahun terakhir ini, menguras sumur energi anggaran seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Rasio hutang negara di dunia terhadap PDB (Product Domestic Bruto) juga membengkak. Rasio hutang kita terhadap PDB saat ini ada di angka 42-44%. Bandingkan dengan sebelum Pandemi yang dikisaran 30-32%. Meski demikian rasio hutang Indonesia after Pandemi relatif lebih baik dari negara-negara jiran atau negara-negara G20. Juga pertumbuhan ekonomi kita sepanjang triwulan I tahun ini sebesar 5,1% menumbuhkan rasa optimis untuk bangkit dan berlari. Sayangnya ketika dunia bersiap recovery tiba-tiba meledak pertempuran dahsyat di Eropa antara Rusia-Ukraina yang dampaknya dipastikan menguras kembali energi dunia. Baru bersiap untuk memulihkan "luka energi" tiba-tiba harus luka lagi, tiarap lagi. Duh Gusti.

Khusus untuk program penguatan militer negeri kepulauan ini, dalam perspektif kita memakai pola mengedepankan skala prioritas adalah langkah terbaik dan terukur.  Karena mata air sumur anggaran  masih belum terisi optimal, demikian juga dengan keran dari sumur hutang harus dikelola secara profesional dan proporsional. Skala prioritas bukan berarti penundaan karena dinamika kawasan Indo Pasifik termasuk Laut China Selatan (LCS) saat ini dan masa mendatang adalah potensi terkuat untuk bergejolak hebat. Jangan lagi "berandai-andai" tidak ada ancaman terhadap teritori NKRI untuk tigapuluh tahun ke depan karena potensi musuh jelas sudah ada di depan mata. Saat ini diperlukan skala prioritas untuk pengadaan alutsista strategis.

Misalnya kontrak efektif untuk 6 jet tempur Rafale yang sudah diteken dengan memakai anggaran Sukhoi SU35, hanya perlu ditambah 6 unit lagi. Jadi 12 unit Rafale untuk kontrak efektif tahun ini, tidak perlu sekaligus 36 unit. 12 unit Rafale adalah skala prioritas sebagai pengganti 11 unit jet tempur Sukhoi SU35 yang "gagal mendarat" di tanah air. Kita sudah kehilangan waktu 5 tahun dari proses pengadaan 11 Sukhoi SU35 yang ngadat. Maka sangat wajar kalau kita memohon dengan sangat agar 12 unit Rafale ini bisa segera landing 4 tahun mendatang.

Pesanan alutsista sebelum Covid 19 yang segera tiba mengisi inventori TNI AU adalah 5 pesawat angkut berat Hercules type J dari AS mulai Januari tahun depan. Juga 6 pesawat amfibi untuk TNI AU dari Kanada akan tiba mulai tahun depan. Sementara 6 unit tambahan jet latih tempur T-50 dari Korsel diperkirakan datang tahun 2023. Tambahan 6 jet tempur ini akan memperkuat 14 unit yang sudah ada dan semuanya sudah diinstalasi radar Elbit dan dipersenjatai rudal. Tampilannya menjadi Fa-50 sehingga bisa memperkuat skadron jet tempur TNI AU di Natuna. TNI AU juga akan diperkuat 13 radar GCI ( Ground Controlled Interception) digital tiga dimensi dari Thales Perancis. Kontrak efektif sudah ditandatangani di Paris belum lama ini.

Tiga kapal selam Nagapasa Class diharapkan akan operasional penuh setelah selesai harwat (pemeliharaan dan perawatan) tahun ini. Yang paling mendesak adalah kebutuhan tambahan kapal selam serbu untuk memastikan daya gentar alutsista bawah air kita. Saat ini TNI AL hanya punya 4 unit kapal selam "anjing kampung". Untuk itu kita sangat mengharapkan proses pengadaan 2 kapal selam "herder" Scorpene yang digadang-gadang selama ini bisa segera kontrak efektif tahun ini juga. Ini skala prioritas, tidak bisa ditunda karena jujur saja kekuatan bawah air kita dalam SSAT (sistem senjata armada terpadu) belum menggigit. Sementara itu untuk 2 unit kapal perang heavy fregate Arrowhead140 alhamdulillah sudah kontrak efektif. Artinya sudah ada kepastian tambahan 2 kapal striking force yang gahar untuk menjaga kewibawaan teritori NKRI.

Untuk program pengadaan alutsista strategis seperti 6 kapal perang heavy fregate Fincantieri Class dari Italia dan 6 kapal perang Mogami Class dari Jepang serta 36 jet tempur F15 IDN dalam pandangan kita bisa dijadwal ulang. Kita fokus pada harwat dan upgrade 4 unit KRI Diponegoro Class dan 3 unit Bung Tomo Class yang sudah dijadwalkan. Bergantian mengawal teritori laut tersedia 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Fatahillah Class dan 4 KRI Ahmad Yani Class dan sejumlah KRI striking force lainnya. Khusus untuk pengadaan 36 jet tempur F15 IDN yang terkait dengan fasilitas GSP (General Specialized Preferences) ekspor kita ke Paman Sam, jika memang harus segera "diseimbangkan" setidaknya untuk batch 1 bisa order 8 unit dulu.

Diplomasi dan penguatan militer kita perlu effort bertahap. Maka sebagai komplemennya, kelincahan dan kecerdasan diplomasi kementerian luar negeri RI menjadi yang paling penting dan utama untuk dijalankan. Kecerdasan dan kepiawaian itu sudah diperlihatkan dalam Presidensi G20 saat ini ketika beberapa anggota G20 yang dipimpin AS mau mutung di KTT Bali Nopember mendatang jika Rusia diikutundangkan. Rusia kan jamaah G20, perlakuannya harus sama. Langkah cerdas yang diambil Kemenlu Indonesia sangat bermartabat dengan prinsip netral, tidak ikut arus alias nggah nggih mawon. Tetap konsisten mengundang Rusia dan mengikutkan Ukraina. Win-Win solution. Namun kabar terakhir ternyata Ukraina tidak jadi menghadiri KTT G20 di Indonesia. 

Kemampuan diplomasi internasional ini diharapkan bermanfaat mengurangi suhu konflik di LCS. Sejauh tidak ada intervensi militer asing di perairan Natuna, posisi netral kita tetap istiqomah. Membuka dialog yang terus menerus dan mengedepankan semangat kerjasama dengan semua pihak adalah langkah yang harus terus dikumandangkan. Kita sudah paham betul dengan karakter Paman Mao yang mahal senyum dan karakter Paman Sam yang high profile berbumbu emosional. Juga karakter  Paman Bear yang sedikit bicara dan tegas. 

Sembari kita berskala prioritas untuk penguatan militer kita karena keterbatasan anggaran, kecakapan berdiplomasi di Presidensi G20 adalah momentum unjuk kecerdasan dan kepiawaian Indonesia. Siapa tahu dengan KTT G20 di Bali ada solusi perdamaian abadi antara Ukraina dan Rusia. Juga ada solusi kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan di LCS dan Indo Pasifik. Dengan begitu ada harapan relaksasi otot militer, dan pengurangan belanja persenjataan. Semoga Pamam Bear terbuka mata hatinya, semoga Paman Sam menyadari tempramennya dan Paman Mao mudah diajak tersenyum. Dunia kan milik kita bersama untuk kesejahteraan bersama. Recover together recover stronger. Semoga.

****

Surabaya, 30 Mei 2022

Jagarin Pane

Wednesday, May 18, 2022

IKN Rentan Serangan Militer

Adalah Gubernur Lemhannas Andy Widjajanto mewanti-wanti dan menyampaikan pesan kuat untuk kita bahwa ibukota baru Nusantara yang mau dibangun di Kalimantan Timur, dalam persepsi dan perspektif militer serta pertahanan negara sangat rentan terhadap serangan militer dari udara, laut dan darat. Teknologi alutsista saat ini dan masa depan  adalah membangun sistem kekuatan pertahanan secara berlapis dan sinergi. Andy menyampaikan pesan itu dalam seminar daring yang diadakan BRIN hari Kamis tanggal 12 Mei 2022. Temanya adalah " IKN Dalam Dinamika Keamanan Regional Dan Refleksi Identitas Global Indonesia"

Ini sejalan dengan pandangan kita. Bahwa jauh-jauh hari kita sudah menyampaikan opini bahwa sampai saat ini Kalimantan itu masih telanjang dalam sistem pertahanan negara dilihat dari berbagai dimensi seperti pergelaran alutsista, teknologi alutsista dan network centric warfare. Dan dalam konteks membangun IKN secara sistem dan sinergi maka pembangunan kekuatan pertahanan harus menjadi satu formula kebersamaan atau bahkan mendahului. Sehingga ketika IKN operasional penuh maka pada saat yang sama kekuatan pertahanan IKN sudah ready for use. Sejauh ini kekuatan militer di Kalimantan sangat jauh berbeda dengan Jawa yang menjadi pusat kekuatan militer Indonesia.

Merujuk pada perang dahsyat Rusia-Ukraina dengan diluncurkannnya ribuan peluru kendali jarak sedang dan jarak jauh dengan presisi tepat sasaran, maka rentanitas ibukota baru kita Nusantara terbuka sekali. Perang Rusia-Ukraina menjadi mata kuliah maha penting bagi pemikir dan ahli strategi militer seluruh dunia termasuk Indonesia. Sebagaimana pernah disampaikan Panglima TNI Jendral Andika Perkasa. Teknologi militer terkini, intai strategis, intelijen militer dan manajemen pertempuran network centric warfare menjadi materi pembelajaran yang berharga dalam perang terbesar di Eropa sejak perang dunia kedua. Pembangunan kekuatan pertahanan di IKN diniscayakan akan merujuk pada kurikulum terakhir ini.

Halaman depan IKN Nusantara adalah ALKI 2 laut Sulawesi dan selat Makassar. Perairan ini adalah perairan laut dalam dan terhubung langsung dengan Samudra Pasifik. ALKI 2 adalah jalur pelayaran internasional termasuk jalur kapal perang dan kapal selam. Khusus untuk kapal selam tonase besar ALKI 2 adalah jalur paling aman untuk "bergerilya" karena lautnya sangat dalam. Tidak usah heran kalau jalur ini menjadi jalur unggulan lintasan kapal selam China, AS, Australia, Jepang dan lain-lain. ALKI 2 dari arah utara ke selatan akan melewati selat Lombok dan bertemu Samudra Hindia. Artinya halaman depan IKN ini perlu mendapatkan perlindungan berlapis.

Demikian juga dengan perbatasan darat ribuan kilometer dengan Malaysia di halaman belakang IKN. Atau di belakangnya lagi ada Laut China Selatan (LCS) yang demam berkepanjangan. Bukan tidak mungkin peluru kendali jarak jauh China suatu saat bisa menghantam IKN dari lokasi peluncuran di LCS jika terjadi pertempuran terbuka di kawasan itu dan melebar ke segala arah. Semua kemungkinan bisa terjadi. Maka untuk mengantisipasinya perlu perencanaan strategis dan komprehensif bagaimana membangun kekuatan militer IKN dengan pertahanan berlapis. Pertahanan ibukota adalah pertahanan terhormat, pertahanan harga diri dan tidak lagi berorientasi darat melainkan mobilitas strategis tiga matra TNI dan cyber.

Untuk membangun IKN dengan kekuatan pertahanan yang berlapis tentu memerlukan anggaran yang sangat besar. Padahal saat ini perkuatan militer kita juga butuh anggaran besar. Pada saat yang sama dampak Pandemi masih sangat memukul benteng ekonomi kesejahteraan, meski di Triwulan I Tahun 2022 pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 5, 1 %. Belum lagi dampak perang dahsyat di Eropa. Oleh sebab itu dalam persepsi kita membangun ibukota baru di Kalimantan Timur tidak perlu dilakukan dengan tergesa-gesa. Bertahap saja. Di beberapa negara yang sudah jadi ibukota barunya, untuk membangun ibukota baru diperlukan waktu peredaran matahari selama 10-15 tahun paling cepat. Tidak bisa instan dan harus segera. Sementara pada tahun 2024 bisa dipastikan ada pergantian figur kepemimpinan nasional. 

Membangun kekuatan militer adalah membangun kekuatan sistem interoperability tiga matra plus cyber war dengan menghadirkan sejumlah alutsista canggih teknologi terkini.  Saat ini kita sedang mengarah kesana dan semuanya memerlukan waktu untuk investasi pertahanan. Pada saat yang bersamaan pembangunan ibukota baru Nusantara sedang dalam proses. Maka jalan terbaik adalah melakukan pembangunan IKN secara bertahap, tidak tergesa-gesa. Dan memang tidak ada yang perlu dikejar. Sementara secara nasional prioritas perkuatan militer kita seyoyanya mendapat tempat utama karena dinamika kawasan yang sudah tidak nyaman dan sering demam. Jangan sampai sudah kemalingan baru disiapkan teralisnya. Perkuatan militer lebih diutamakan karena dia adalah teralisnya pembangunan ekonomi kesejahteraan di negeri kepulauan ini.

****

Jakarta 18 Mei 2022

Jagarin Pane

Thursday, April 21, 2022

Holding Itu Bernama DEFEND ID

Catatan tinta emas ditorehkan dengan diresmikannya Holding BUMN industri pertahanan nasional. Di ruang besar galangan kapal selam PT PAL Surabaya Rabu 20 April  2022 Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri BUMN Erick Thohir meluncurkan "united states" lima perusahaan plat merah dengan komando PT (Persero) LEN. Anggota jamaahnya adalah PT Pindad, PT PAL, PT DI, dan PT Dahana. Kelimanya sudah banyak menghasilkan karya kebanggaan. Nama holdingnya Defense Industry Indonesia disingkat DEFEND ID.

Bagaimana sih gerak bisnis industri pertahanan plat merah kita sejauh ini. Jawabnya semakin mekar berbinar. PT Pindad sudah dan sedang menghasilkan berbagai jenis alutsista untuk TNI AD. Seperti panser Anoa, panser Badak dan tank Harimau, termasuk ranpur Komodo, Sanca. Belum lagi senjata berbagai jenis untuk prajurit TNI. Saat ini Pindad sedang memproduksi tank Harimau bekerjasama dengan FNSS Turki. Prediksi ke depan Pindad dan FNSS akan memproduksi tank amfibi. Kelihatannya industri pertahanan Turki mulai merapat ke kita dan salah satu produk yang digadang-gadang antara lain UCAV atau drone bersenjata. Bahkan salah satu produknya kendaraan lapis baja Vuran sudah datang.

Dari matra laut siapa yang tak kenal dengan kiprah PT PAL di Surabaya. BUMN strategis ini punya banyak karya untuk memenuhi kebutuhan TNI AL dan terus berkembang. Selama sepuluh tahun terakhir "capital gainnya" menanjak cepat dan populer. Sukses memproduksi kapal cepat rudal (KCR) 60 meter, sukses memproduksi kapal landing platform dock (LPD) bahkan bisa mengekspor ke Filipina. Juga sukses membangun kapal selam Nagapasa Class, kerjasama alih teknologi dengan Korea. Terakhir sedang bersiap membangun 2 kapal perang jenis destroyer paling bergengsi Arrowhead 140 alias Iver Class dengan pola alih teknologi.  

Ini belum lagi soal perawatan dan reparasi kapal perang kita termasuk modernisasi manajemen sistem pertempuran KRI. Seluruh kapal perang Indonesia saat ini sudah bisa di MRO kan di PT PAL dan galangan kapal swasta nasional. Bahkan overhaul KRI Cakra 401 yang sukses baru-baru ini seluruhnya dilaksanakan di galangan kapal selam PT PAL Surabaya, dan sudah operasional. Nah dalam kesempatan peluncuran Defend ID kemarin "capital gain" PT PAL melonjak lagi dengan ditandatanganinya kontrak MRO antara PT PAL dan Kemenhan untuk peningkatan kemampuan tempur 41 KRI dengan nilai kontrak US $ 1,1 milyar. Alhamdulillah.

Industri kedirgantaraan kita, PT DI sedang mempersiapkan paket offset untuk pengadaan 40 jet tempur Rafale. Ini sebuah lompatan besar meski bukan hal yang baru, karena pola offset ini  sudah berjalan sejak pengadaan jet tempur F16 generasi awal. Bedanya pengadaan 40 Rafale ini full armament. Dalam peresmian Holding ini, PT DI mendapat kontrak MRO dari Kemenhan untuk peningkatan kemampuan 12 pesawat Hercules TNI AU. Dan PT LEN mendapat kontrak pengadaan 13 radar GCI. Sementara disaat yang sama PT DI sedang berkonsentrasi dengan proyek pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Dua proyek strategis ini, pengadaan Rafale dan KFX/IFX diniscayakan akan memberikan nilai tambah yang membanggakan bagi industri pertahanan strategis kita. Kita membayangkan tahun 2030 di langit nusantara sudah tersedia lengkap 40 jet tempur Rafale full armament dan 48 jet tempur IFX. 

Industri pertahanan Indonesia sedang menghebatkuatkan dirinya untuk menuju pencapaian Top 50 industri pertahanan dunia. Kita optimis dengan cita-cita itu, terutama untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI secara mandiri dan bersaing di pasar ekspor. Sudah ada contohnya, pengadaan 2 kapal perang jenis LPD untuk angkatan laut Filipina selesai dan user merasa puas. Sekarang Filipina mau menambah 2 unit lagi dan peluang besar terbuka untuk PT PAL. Lebih dari itu adalah kemampuan industri pertahanan strategis memberikan suplai berkesinambungan untuk kebutuhan alutsista TNI akan memberikan nilai deterens manajemen pertahanan Indonesia. Karena kita bisa mencukupi 70-80% kebutuhan alutsista TNI produksi dalam negeri dengan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) alias kandungan lokal yang saat ini sebesar 41% menuju 50-60%.

Pembentukan Holding BUMN industri pertahanan dalam perspektif kita adalah untuk memberikan langkah kebersamaan dalam bingkai one gate, memastikan peran government dominan, meminimalisir peran pihak ketiga dan memastikan nilai proyek yang wajar dan sesuai kebutuhan. Bisa disebut ini adalah salah satu langkah bersih-bersih Menhan Prabowo untuk memangkas "jalur atas nama birokrasi dan sendiri-sendiri" yang berujung pada mark up overdosis. Holding ini dalam pandangan kita juga untuk membangunkembangkan koordinasi terpusat dengan pagar ekosistem yang tertata dalam sistem pengadaan alutsista TNI serta pengembangan industri alutsista dalam negeri menuju industri pertahanan kelas dunia. Untuk semua langkah besar itu perlu kita sambut dengan sinar mata berbinar.

****

Jagarin Pane / 21 April  2022

(Souvenir Ultah)

Monday, April 11, 2022

Menuju Latgab Super Garuda Shield

Militer Indonesia dan Amerika Serikat dalam waktu dekat akan menggelar latihan tempur gabungan tiga matra terbesar di kawasan Asia Pasifik. Pergelaran latihan pertempuran modern yang bertajuk "Super Garuda Shield" ini juga akan diikuti 12 negara lain selain Indonesia dan AS antara lain Australia, negara-negara ASEAN, Jepang, Korsel, Inggris, Kanada dan lain-lain. Sementara prediksi lokasi latihan tempur adalah di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel, Kepulauan Natuna dan Amborawang yang berdekatan dengan IKN Nusantara di Kalimantan Timur. US Army yang tergabung dalam INDOPACOM bersama Armada Pasifik AS punya kekuatan 350ribu pasukan, 2 kapal induk, puluhan kapal perang berbagai jenis dan ratusan jet tempur termasuk F22 Raptor.

Awal Agustus tahun lalu Indonesia-AS melakukan Latgab khusus matra darat di tiga lokasi sekaligus yaitu di Sumsel, Kaltim dan Sulut dengan mengerahkan 5.000 pasukan airborne kedua negara. Itu saja sudah membuat negara yang suka mengklaim beberapa wilayah negara lain, gerah dan kepanasan. Apalagi Latgab serba super ini yang diperkirakan berlangsung di bulan Agustus 2022 selama 2-3 minggu. Super dalam jumlah pasukan, super dalam keikutsertaan 14 negara, super dalam pengerahan kekuatan alutsista. Sebuah episode diplomasi militer, show of force yang super demi untuk menjaga marwah perdamaian di Indo Pasifik. Super sekali kata seorang motivator terkenal. Super Garuda Shield dalam pandangan kita adalah langkah tegas dan cerdas untuk mengingatkan pihak yang haus klaim teritori agar tidak sewenang-wenang dan menang-menangan.

Komando Indo-Pasifik AS baru saja menyelesaikan latihan tempur dengan militer Filipina di pekan pertama April 2022. Kedua negara mengerahkan 9.000 pasukan dengan sejumlah alutsista canggih dalam serial "Balikatan Exercise" di Luzon Filipina termasuk pengerahan rudal patriot dan serangan amfibi. AS dan Filipina sejatinya adalah sekutu tradisional sejak perang dunia kedua dan selama berkecamuknya perang Vietnam. Pasang surut aliansi militer keduanya terlihat ketika dua pangkalan militer AS yaitu Subic Navy Base dan Clark AFB di Filipina ditutup beberapa tahun setelah perang Vietnam selesai.  Adanya konflik klaim China di Laut China Selatan membuat "ruh" sekutu tradisional aliansi militer keduanya hidup kembali, bergairah dan menyala.

Menuju Latgab Super Garuda Shield ke 16 yang menjadi Latgab terbesar di Asia Pasifik, militer Indonesia saat ini sedang mempersiapkan mobilitas berbagai jenis alutsista untuk digerakkan secara cepat. Seperti terlihat di beberapa Air Force Base proses loading SPH Caesar Nexter, artileri KH 178 ke pesawat angkut berat Hercules. Ini bagian penting dari mekanisme deployment alutsista dan pasukan untuk latihan tempur. Garuda Shield tahun lalu 9 pesawat angkut berat US Army memberangkatkan ratusan pasukan gabungan lintas udara TNI-US Army dari pangkalan militer Guam di Pasifik dan diterjunkan di Puslatpur Baturaja. Selain belasan pesawat angkut berat milik US Army, pesawat Hercules TNI AU akan menjadi tulang punggung pergerakan lintas udara alutsista dan pasukan TNI dalam latihan tempur kali ini. Indonesia punya 3 skadron Hercules dengan kekuatan tigapuluhan pesawat.

Alutsista TNI yang akan ditampilkan pastilah yang setara dengan manajemen pertempuran modern. TNI AD dua tahun terakhir ini sudah punya BMS ( Battle Management System). Salah satu efektivitasnya adalah interoperability antar satuan tempur. Maka dalam setiap latihan tempur TNI AD menyertakan 1 brigade tim pertempuran yang terdiri dari batalyon infantri, artileri, kavaleri, arhanud dan penerbad. Kalau dulu kan latihannya sendiri-sendiri, masing-masing batalyon. Gambaran kepesertaan alutsista TNI AD di ajang Super Garuda Shield nanti adalah MBT Leopard, tank Marder, panser Anoa, Satbak peluru kendali Starstreak dan Mistral, artileri Caesar Nexter, KH 178, MLRS Astros II Mk6, helikopter Apache, Bell 412  dan lain-lain. 

Sementara kapal perang TNI AL dan pasukan marinir akan bergabung bersama kapal perang AS melakukan operasi pertempuran laut dan operasi serbu pantai. KRI Martadinata Class, Bung Tomo Class, Diponegoro Class, LPD Makassar Class dan LST Bintuni Class akan berperan aktif melakukan operasi gabungan, berbagi strategi dan taktik bersama kapal perang armada Pasifik AS dan negara lain. Serial latihan operasi serbu pantai menjadi salah satu yang paling menarik karena melibatkan kapal perang striking force, kapal angkut pasukan, tank amfibi dan pasukan marinir dengan dukungan jet tempur dan helikopter. Sebuah "drama pertempuran" yang paling ditunggu.

Bagi Indonesia manfaat Latgab terbesar ini adalah untuk memberikan motivasi dan spirit pertempuran modern, menimba ilmu aplikasi, implementasi dan pengalaman tempur untuk tentaranya. Manajemen pertempuran modern adalah unjuk kinerja, kecerdasan, kecepatan dan ketepatan menggunakan teknologi alutsista modern dalam satu komando, satu koordinasi dan satu instruksi. Lebih dari itu adalah untuk menyampaikan "pesan tanpa kalimat" pada pihak manapun, negara manapun bahwa kedaulatan teritori NKRI adalah kehormatan dan harga mati forever. Tidak bisa diganggu gugat. 

Dalam hubungan internasional saling ketergantungan saat ini dan seterusnya, kerjasama ekonomi dan investasi antar negara adalah tatanan kerjasama yang saling menguntungkan dan harus dikembangkuatkan, dibesarhebatkan. Indonesia bekerjasama dengan semua negara di planet bumi ini. Dengan China, dengan AS, Jepang, Inggris, Rusia, Australia, Ukraina dan lain-lain kita buka semua keran kerjasama ekonomi kesejahteraan tanpa sekat. Namun jika ada potensi yang menjurus untuk merusak tatanan dan harmoni kawasan dalam kehidupan kesejahteraan atau menuju kemakmuran, kita punya kewajiban untuk mengingatkan. Super Garuda Shield adalah salah satu pesan kuatnya, bersama bunyi dentuman, rentetan, desingan, hingar bingar ribuan pasukan, ratusan alutsista canggih yang meluluhlantakkan. Mosok sih gak paham juga.

****

Jagarin Pane / 10 April  2022

Monday, April 4, 2022

Salomon Menampar Australia

Perjanjian kerjasama keamanan antara China dan Salomon mendapat reaksi berlebihan dari Australia karena substansi perjanjian ini dianggap merupakan ancaman militer bagi Australia. Begitu bunyi yang mendengung keras dari sebuah negeri benua selatan yang begitu reaktif dan sensitif menyikapi apa saja yang dianggap menjadi ancaman kedaulatan bagi negeri kanguru itu. Bahkan ada pendapat yang mengemuka di Australia agar segera menginvasi negeri mungil itu. Salomon adalah sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.  Punya 800 ribu rakyat beragam etnis, bertetangga di utara Selandia Baru dan timur laut Australia.

Indonesia pun sejak lama dianggap sebagai ancaman bagi Canberra. Sudah sejak tahun sembilan puluhan Australia memasang radar OTH (over the horizon) di Jindalee Australia Utara untuk memantau pergerakan pesawat di Indonesia. Jiran selatan kita ini merupakan sebuah komunitas kebangsaan yang unik. Mayoritas populasinya bukan asli penduduk benua itu, melainkan pendatang dari Inggris dan Eropa yang datang dan menetap. Nah "tumpukan" komunitas itu hanya tersebar di New South Wales dan Victoria. Hanya di Australia Tenggara dan Selatan sementara di Utara, Barat dan Timur boleh dikata kosong dan tandus. Kalau kita terbang dari Sydney menuju Denpasar hanya satu jam saja kita bisa melihat kesuburan New South Wales, setelah itu sisa lima jam penerbangan, negara bagian lain yang dilintasi pesawat, coklat semua alias tandus.

Kondisi geopolitik dan geostrategis seperti ini bisa menjadi indikator betapa paranoidnya Australia melihat ancaman dari utara teritorinya. Canberra, Sydney, Melbourne dan Brisbane ada "di bawah" bumi selatan, menyendiri. Jiran terdekatnya hanya Selandia Baru dan Antartika. Gus Dur pernah bilang bahwa negeri jiran kita itu sebagai "usus buntu" alias berhenti sampai disitu. Beda dengan Jakarta atau Indonesia yang posisi geopolitik dan geostrategisnya sangat  berwibawa, diperhitungkan dan menjadi jalur utama untuk perlintasan transportasi laut dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dan sebaliknya.

Dalam persoalan klaim Laut China Selatan posisi Indonesia sangat strategis dan diperhitungkan. Itulah sebabnya Australia dan AS harus "menyetel" performansi wajah dan bahasanya semanis mungkin agar Jakarta ikut "rombongan penggembira" AUKUS.  Bahkan AS sudah pernah menguji mobilitas lima ribuan pasukan gerak cepatnya bersama pasukan TNI bulan Agustus tahun lalu.  Bergerak bersama dari pangkalan militer AS di Guam Pasifik lalu diterjunkan di pusat latihan tempur TNI AD di Baturaja Sumsel. Latihan militer gabungan ini serentak diadakan di Sumsel, Kaltim dan Sulut. Australia juga tiba-tiba saja menghibahkan 15 ranpur anyar Bushmaster untuk dipakai pasukan  Indonesia dalam penugasan UNIFIL di Libanon.

Sebenarnya isi perjanjian keamanan bilateral Salomon-China itu hanya menyediakan fasilitas rehat dan bekal ulang bagi kapal perang China dan mengantisipasi perlindungan keamanan bagi Salomon setelah terjadi kerusuhan massa berbau rasial sentimen anti China di Salomon bulan Nopember tahun lalu. Tidak ada penambahan fasilitas apapun termasuk dermaga untuk pangkalan militer China sebagaimana ditegaskan Perdana Menteri Salomon Manasseh Sogavere.  Ketika terjadi rusuh besar di ibukota Honiara dan kota-kota lainnya yang menyasar etnis China, pasukan Australia diterjunkan untuk meredam dan memadamkan situasi yang menuju chaos di Salomon. Dan berhasil.

Selama ini negara-negara kecil di pasifik selatan memang berada dalam pengaruh kuat Australia. Itu sebabnya perjanjian keamanan Salomon-China dianggap menggunting dalam lipatan di mata Canberra. Apalagi mitra kerjasamanya China yang sudah diproklamirkan menjadi musuh jangka panjang pakta militer AUKUS (Australia, Inggris dan AS) dimana Australia sebagai garda terdepan. Apalagi baru-baru ini kapal perang jenis destroyer China yang melintas di selat Torrens, selatan Merauke sukses membidik dengan sinar laser pesawat patroli anti kapal selam Poseidon Australia yang mengawasi pergerakan kapal perang China. Dalam kacamata diplomasi militer,  bidikan laser Beijing itu sukses mempermalukan Canberra. 

Dalam pandangan kita mengurangi arogansi adalah kunci menuju hakekat pergaulan internasional yang bermarwah. Termasuk mengurangi sikap suudzon, paranoid, merasa terancam tetapi karena merasa lebih makmur, perkasa dan sejahtera lalu mengatur-atur pola pergaulan negara lain. Australia ada dalam bingkai ini. Adalah hak setiap bangsa dan negara merdeka untuk berkawan dengan siapa saja. Termasuk Indonesia yang menempatkan kelincahan dan kecerdasan diplomatik untuk tersenyum dan bergairah pada pergaulan dunia yang setara, take and give. Sejatinya Salomon dalam perspektif ini sukses menampar Australia, bukan karena substansi perjanjian dengan China tetapi karena reaksi yang berlebihan dan emosional menghadapi negeri mungil Salomon.

****

Jagarin Pane / 04 April 2022

Friday, March 25, 2022

Membaca Kegelisahan Indo Pasifik

Perang terbuka yang sedang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina di Eropa membawa gelombang gelisah bin cemas di kawasan Indo Pasifik. Taiwan adalah salah satu pusat kegelisahan yang membawa negeri itu pada tingkat kesiagaan militer yang ekstra tinggi. Sejalan dengan berlangsungnya pertempuran terhebat di Eropa, negara-negara di kawasan Indo Pasifik sebulan terakhir ini meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan manajemen pertahanan serta menguatkan sinergi komunikasi intelijen tegangan tinggi. Indonesia juga berada dalam kesiagaan tinggi menjaga perairan Natuna. Beberapa kapal perang dan jet tempur melakukan simulasi anti serangan udara disana.

Taiwan hari-hari ini sedang dalam kondisi tekanan psikologi militer dan berada dalam tingkat kesiagaan pertahanan skala penuh. Ketika Ukraina diserang bertubi-tubi dengan beragam alutsista teknologi tinggi Rusia, AS dan NATO ternyata tidak bisa berkutik melakukan respon balasan. Maka bagi Taiwan "pelajaran bersejarah" ini menjadi catatan penting untuk diyakini. Bahwa meski berulang-ulang disampaikan "sekutu tanpa hubungan diplomatiknya" AS akan memberikan angin surga perlindungan militer untuk Taiwan jika diserang China, statemen ini tidak bisa dijadikan jaminan dan titik tumpu manajemen pertahanan. Taiwan harus memprioritaskan kemampuan pertahanan dengan kekuatan sendiri.

Skenario penyatuan Taiwan bagi China adalah amanat konstitusi, wajib hukumnya termasuk menggunakan kekuatan militer. China sudah mempersiapkan rencana besar untuk maksud itu.  Prediksi yang mengemuka adalah tahun 2027 dengan asumsi yang dipakai sebelum terjadi perang terbuka Rusia-Ukraina. Mengepung dan menyerbu Taiwan dari udara dan laut dengan target penyelesaian 1 hari saja merupakan target ambisius tetapi bisa saja terjadi. Sebab jika terlalu lama melakukan serbuan militer dan bantuan AS datang maka yang terjadi adalah melebarnya medan pertempuran, begitu skenarionya. Nyatanya di Ukraina AS tidak menolong secara fisik. Berkaca dari contoh soal di Ukraina bisa jadi China akan mempercepat penyatuan Taiwan dengan mengerahkan kekuatan militernya. Tidak harus menunggu tahun 2027.

Mencontoh model serbuan Rusia di Ukraina, China merasa diatas angin saat ini. Karena ternyata AS dan aliansi militer NATO tidak mampu memberikan perlindungan militer melainkan hanya teriak-teriak, ancam ini ancam itu, sanksi ini sanksi itu. Sejauh ini bagi Rusia, AS dan NATO seperti sebuah peribahasa, anjing menggonggong kafilah berlalu. China  membaca ulang peribahasa ini dan maknanya  memberikan kekuatan energi tambahan untuk rencana besarnya menyerbu Taiwan. Sama halnya dengan ribut rusuh dalam demo besar berbulan-bulan di Hongkong beberapa waktu lalu,  AS dan sekutunya ikut "ngipas-ngipas" suasana atas nama demokrasi. Nyatanya China mampu meredamnya dengan kekuatan militer. Hongkong kan punya China dan itu urusan dalam negeri China, kata diplomatnya. 

Apa sebab Indo Pasifik gelisah, jawabnya karena klaim-klaim China di regional ini didukung oleh kekuatan militernya yang semakin perkasa dan memiliki senjata nuklir. Sedangkan negara-negara di Asia Timur dan Tenggara tidak punya, termasuk Australia. Ini mungkin yang menjadi pertimbangan utama dibentuknya aliansi nuklir AUKUS dari tiga negara "saudara sepupu" keluarga besar anglo saxon Australia, Inggris dan AS. Aliansi ini memang untuk melakukan perlawanan nuklir sebagai payung pelindung negara-negara Asia Pasifik. Tetapi dengan terjadinya invasi Rusia ke Ukraina menurut pandangan kita marwah dan kehormatan Paman Sam sebagai payung pelindung mulai tergerus bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia.

Jepang baru saja mendapat tamparan diplomatik dari Rusia dengan membekukan dan memutus perundingan soal sengketa kepemilikan kepulauan sakhalin. Kembali ke titik beku dan ini berarti membuka tambahan satu lagi titik panas di Asia Pasifik. Hot spot yang sudah "ngeri-ngeri pahit" dan mudah tersulut adalah soal Taiwan, demarkasi Panmunjom Korea dan nine dash line Laut China Selatan. Pesawat patroli anti kapal selam Poseidon Australia belum lama ini juga mendapat "serangan" laser dari kapal perang destroyer China di selatan perairan Merauke. Dalam terminologi militer tembakan laser ke pesawat atau kapal perang lawan merupakan kemenangan digital war game. Australia merasa dipermalukan China, kemudian melakukan protes diplomatik.

Rencana Indonesia mengundang Vladimir Putin untuk hadir di KTT G20 bulan Oktober  mendatang di Bali mendapat kritik keras dari Australia. Ributnya bukan main sampai menelepon Presiden Jokowi.  PM Australia menganggap Indonesia terlalu jauh dan terlalu dini dan menganggap Rusia tidak boleh hadir di pertemuan tingkat tinggi dua puluh negara dengan GDP terbesar. Dua sudut pandang ini harus dipertemukan solusinya namun tak perlu jua koar-koar mendikte. Tipikal negeri jiran selatan ini selalu high profile dalam merespon segala sesuatu yang terkait dengan kepentingan dia dan sekutunya. Kesannya grusa grusu, panik dan cenderung memaksakan kehendak. Sama halnya ketika membentuk AUKUS tanpa melakukan bargaining dan diskusi diplomatik dengan sejumlah negara di Indo Pasifik, langsung mempublikasikannya.

Kegelisahan Indo Pasifik harus disikapi dengan menjunjung martabat diplomatik semua pihak dan ketenangan bersikap. Semua tidak menginginkan perang berkecamuk di kawasan ini. Martabat diplomatik bisa dicapai jika ada kemauan dan kesanggupan serta kecerdasan dalam mengurai benang kusut persoalan. Kegagalan mencegah perang di Ukraina karena adanya keangkuhan pola sikap, pola ucap dan pola tindak. Memaksakan kehendak, merasa paling kuat dan meremehkan pihak lain. Negara-negara di kawasan Indo Pasifik harus mampu menggelar pertemuan internal dengan China tanpa menyertakan "negara luar". Kerjasama ekonomi dan investasi adalah rujukan utama dengan tambahan kultur Asia Timur dan Tenggara yang mengedepankan kehormatan dan penghormatan. Dialog kesetaraan, kebersamaan, saling ketergantungan menuju kesejahteraan bersama menjadi tema besarnya. Indonesia bisa memulai langkah besar ini.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2022

Saturday, March 19, 2022

Scorpene Meredam Changbogo

Menteri Pertahanan Indonesia disambut hangat Emmanuel Macron di Istana Elysee Paris Perancis Selasa 15 Maret 2022 barusan. Presiden Perancis menjamu Prabowo untuk mematangkan adonan kontrak efektif pengadaan dua kapal selam canggih berkelas "sultan", merknya Scorpene, termasuk dua opsi tambahan. Bulan yang lalu Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly yang bertandang ke Jakarta juga dijamu Presiden Jokowi sebelum teken kontrak 42 jet tempur Rafale. Indonesia dan Perancis terlihat sangat mesra setahun terakhir ini. Meski sebenarnya Perancis adalah mitra kerjasama pertahanan dengan kita sudah sejak tahun enampuluhan.

Prabowo jeli, tegas dan cepat untuk memilih kapal selam berkualitas dan sekaligus mengobati rasa kecewa. Dia  tegas memilih kapal selam made in Naval Group Perancis. Dia kecewa dengan performansi 3 kapal selam buatan Korsel yang dikenal dengan nama Changbogo. Ketiga kapal selam yang proses pembangunannya memakai pola transfer teknologi ternyata berakhir dengan sebutan "kurang sreg". Prabowo dan tim nya lantas bergegas cepat untuk segera menghadirkan kapal selam herder di perairan nusantara. Awalnya ada tiga pilihan, dari Jerman, Rusia dan Perancis. Cuaca kawasan di Laut China Selatan (LCS) sulit diprediksi, cenderung memanas dan bergelombang. Kita perlu herder bukan chihuahua.

Begini ceritanya. Sepuluh tahun lalu Indonesia dan Korsel bersepakat membangun 3 kapal selam "fotocopy" U-209. Kalau kita membaca merk U-209 sudah pasti dia adalah produksi Jerman,  sebuah negara "mahaguru" teknologi kapal selam. Korsel berguru dan menimba ilmu transfer teknologi kapal selam diesel ke Jerman puluhan tahun lalu. Kemudian memproduksi beberapa kapal selam lisensi jenis U-209 Changbogo Class untuk angkatan lautnya. Lalu kita pun tertarik dengan pola kerjasama teknologi yang ditawarkan Korsel. Maklum tidak banyak negara yang mau membagi ilmu transfer teknologi kapal selam dengan negara lain. Kecuali kalau belinya banyak. Maka ditandatanganilah kontrak pengadaan  3 kapal selam, 2 di bangun di DSME Korsel dan 1 di PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah jadi yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 hasil karya DSME dan kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 hasil karya PT PAL. 

Selama puluhan tahun sejak tahun 1980 kita hanya memiliki 2 kapal selam U-209 asli keluaran Jerman, Cakra Class yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Selama puluhan tahun kedua kapal selam ini beroperasi dengan jam kerja yang tinggi. Maka ketika ketiga kapal selam Nagapasa Class masuk inventori TNI AL beberapa tahun yang lalu, betapa kita sangat bersuka cita karena akhirnya kita bisa memiliki 5 kapal selam. Dan kemudian akan dilanjut lagi dengan pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Kontrak awal sudah ditandatangani tahun 2019. Namun dalam perkembangannya kemudian ketiga kapal selam gres itu lebih banyak "ngetem" di pangkalan utamaTNI AL di Surabaya. Kemudian terjadi pula musibah KRI Nanggala 402. Selidik punya selidik ternyata ada beberapa hambatan teknis yang mengurangi kapasitas kinerja Nagapasa Class.

Mengantisipasi dinamika kawasan LCS yang sudah demam berkepanjangan, Indonesia sangat membutuhkan segera kuantitas dan kualitas kapal selam. Secara kuantitas kita harus memiliki minimal 12 kapal selam dan secara kualitas minimal harus setara dengan jiran kawasan. Dalam pola transfer teknologi pembangunan Nagapasa Class jelas maksudnya sangat baik agar kita bisa menguasai teknologi kapal selam. Maka dibangunlah 3 kapal selam dengan nilai kontrak US$ 1.1 milyar. Hanya saja performansi ketiga kapal selam itu tidak menjanjikan. Kalau diterjunkan di LCS jelas kalah gahar, kalah endurance. Maka Prabowo ambil jalan pintas. Indonesia perlu kapal selam serang berteknologi AIP, bisa menembak rudal dan endurance dalam air selama 2 bulan. Scorpene dipilih dan memang itulah yang terbaik.

Armada bawah air kita sampai saat ini  memang masih kedodoran.  Padahal armada kapal selam yang senyap bagai siluman dan monster bawah air mempunyai kekuatan penggentar setara dengan 10 kapal perang permukaan.  Ingat masa keemasan armada kapal selam kita di era Trikora dan Dwikora. Kita saat itu mempunyai 12 kapal selam Whiskey Class buatan Uni Sovyet ( sekarang Rusia). Kekuatan gahar armada bawah air ini yang kemudian diketahui menjadi salah satu faktor militer hengkangnya Belanda dari Papua tahun 1963.  Perairan Indonesia adalah perairan strategis. ALKI satu, dua dan tiga adalah jalur pelayaran internasional. Termasuk lalulintas militer. Apalagi dengan potensi konflik di LCS, alur laut kepulauan Indonesia dipastikan ramai terus. Maka kehadiran dan kepemilikan 12 kapal selam canggih diniscayakan akan memberikan kekuatan pertahanan maritim  yang disegani.

Sampai sekarang kita belum bisa menyamai perolehan 12 kapal selam sebagaimana pada era Trikora. Baru punya lima unit ternyata 1 kapal selam KRI Nanggala 402 yang berusia 40 tahun mengalami musibah paling memilukan. Ditambah lagi performansi 3 unit Nagapasa Class yang baru selesai diproduksi kurang memuaskan kinerjanya. Praktis hanya 1 kapal selam KRI Cakra 401 yang seumuran dengan KRI Nanggala  402 yang diyakini menjalankan misi bawah airnya. KRI Cakra 401 baru saja selesai di overhaul di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Meski sudah di upgrade tetap saja endurancenya sudah tidak lagi sebagus dulu, maklum sudah 40 tahun. Catatan bagusnya, dengan ilmu transfer teknologi kapal selam dari Korsel, para insinyur kita sudah mampu melaksanakan overhaul KRI Cakra 401.

Dalam pandangan kita jalan cepat dan cerdas yang dilakukan Menhan Prabowo untuk mendatangkan herder bawah laut patut diapresiasi. Kabar yang menggembirakan dari Paris adalah kontrak efektif pengadaan 2 kapal selam Scorpene akan diteken pertengahan tahun ini. Memang harus serba cepat karena kita sudah ketinggalan langkah sebelumnya yang pernah bilang kita tidak punya musuh, semua sahabat kita. Nyatanya potensi musuh sudah jelas, sudah mulai mengacak-acak, sudah mulai mendikte. Sementara alat pukul kita yang bernama alutsista masih banyak yang berstatus "order".  Kontrak efektif kapal selam serang Scorpene dan berbagai jenis alutsista strategis lainnya sangat ditunggu dan diharapkan secepatnya. Menhan kita pasti lebih pahamlah soal percepatan itu.

****

Jagarin Pane / 19 Maret 2022

Monday, March 14, 2022

Menguatkan Taji Pasukan Serbu Pantai

Marinir Indonesia sebagai salah satu unsur sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL diprediksi akan memperoleh 50-70 unit ranpur amfibi AAV7A1 buatan AS. Perolehan ini sebagai pengganti tersendatnya pengadaan tank tempur amfibi dari Rusia karena sanksi Caatsa dari AS. Sebelumnya dengan MOU tahun 2019 Kementerian Pertahanan memesan 22 tank amfibi  BMP-3F dan 21 unit ranpur amfibi BT-3F buatan Rusia. Bahkan ada rencana penambahan puluhan ranpur BT-3F sesuai dengan anggaran yang tersedia. Namun proses selanjutnya untuk menuju kontrak efektif dan pembayaran uang muka tersendat, jalan di tempat.

Seperti kita ketahui kekuatan pasukan marinir Indonesia yang dikembangkan menjadi 3 divisi atau Pasmar JSS (Jakarta, Surabaya, Sorong) sangat memerlukan tambahan aset alutsista mobile sebagai syarat utama gempuran pasukan serbu pantai. Selama enampuluh tahun terakhir ini aset alutsista marinir didominasi buatan Eropa Timur seperti tank amfibi PT-76, BTR-50, MLRS RM Grad, Vampire, BTR-80A,  BMP-3F. Hanya ranpur amfibi AMX-10 dan meriam artileri LG1 yang buatan Perancis. Bahkan ranpur AMX-10 jarang digunakan dalam latihan tempur marinir. Khusus untuk PT-76 dan BTR-50 yang jumlahnya ratusan unit, usia pakai atau umur teknis sudah lebih setengah abad dengan teknologi analog manual. Jelas kemampuan tempurnya kalah kelas, kalah akurat. Sementara 12 panser amfibi BTR-80A sudah bertahun-tahun berada di perbatasan Lebanon-Israel "menemani" pasukan perdamaian Indonesia di UNIFIL. Sudah seperti bang thoyib tidak pernah pulang.

Sebagai pasukan striking force dan masuk satuan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) marinir seharusnya mendapat prioritas percepatan pemenuhan kebutuhan  alutsista serbu. Pengembangan struktur organisasi marinir dengan membangunbesarkan infrastruktur tempur pada akhirnya bermuara pada ketersediaan alutsista yang memadai, bukan sekedar tampilan gedung markas atau penambahan prajurit. Sebaran alokasi alutsista pada akhirnya juga bertemu pada situasi dan kondisi ketersediaan kuantitas dan kualitas alutsista. Belum mencukupi, kalau tidak ingin disebut sangat kurang dan ketinggalan teknologi. Dua pertiga alutsista marinir adalah alutsista jadul. Hanya tank amfibi BMP-3F, MLRS RM Grad / Vampire dan ranpur LVTP yang relatif masih baru. Jelas tidak cukup untuk kekuatan 3 Pasmar. Ranpur LVTP marinir adalah hibah dari Korea Selatan sebanyak 15 unit.

TNI AL  mempunyai belasan kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) dan 6 kapal perang LPD (Landing Platform Dock). Seluruh LPD relatif masih berusia muda produksi PT PAL Surabaya. Untuk LST sebagian sudah diperbaharui dengan hadirnya LST Bintuni Class produksi galangan kapal swasta dalam negeri. Tercatat  ada 9 unit LST yang sudah selesai dibangun hasil karya beberapa galangan kapal swasta dalam negeri. Masih ada yang harus dibangun untuk mencapai target 14 unit tahun 2024. Kapal perang LST dan LPD sangat berkaitan erat dengan mobilitas lintas laut militer pasukan marinir dan bagian dari SSAT Angkatan Laut Indonesia.

Pergerakan antarpulau pasukan marinir dan alutsistanya pasti menggunakan kapal perang jenis LST dan LPD. Infrastruktur untuk armada angkut lintas laut militer sudah memadai dan baru. Yang belum adalah pemenuhan ketersediaan tank dan ranpur amfibi, roket multi laras, UAV, meriam altileri, peluru kendali jarak pendek dan helikopter tempur untuk pasukan serbu pantai. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan alutsista marinir menurut pandangan kita penggunaan tank boat antasena buatan galangan kapal swasta nasional di Banyuwangi bisa menjadi pertimbangan. Tank boat antasena dan ranpur AAV7A1 diniscayakan bisa menjadi kombinasi striker amfibi yang saling melapis dalam operasi serbu pantai. Antasena mengawal pendaratan ranpur AAV7A1 dengan perlindungan tembakan dan rudal, mempunyai kecepatan jauh lebih baik dari tank amfibi BMP-3F.

Skenario operasi militer menyerbu dari laut biasanya didahului dengan penerjunan pasukan intai amfibi atau mengirimkan pesawat intai nir awak. Kemudian dengan road map intelijen yang diperoleh,  sejumlah jet tempur TNI AU melakukan pengeboman di beberapa titik pantai ditambah gempuran tembakan dari beberapa KRI yang mengawal operasi amfibi. Kemudian LST dan LPD mengeluarkan tank amfibi BMP-3F,BTR-50 dan LVTP untuk berenang menuju titik tumpu pendaratan. Disini titik kritisnya. Maka peran tank boat antasena yang lincah dan cepat mengawal pendaratan pasukan marinir menuju titik tumpu di pantai menjadi penting untuk berhasilnya pendaratan. Tank boat antasena bisa memuat puluhan pasukan diantar sampai bibir pantai.

Pasukan marinir yang mengawal pulau-pulau terluar di perbatasan negeri termasuk Natuna tentu memerlukan alat bantu intai pesawat nir awak atau UAV. Peran UAV sangat membantu mengurangi mobilitas patroli pantai dan laut lepas pantai. Peran UAV dalam manajemen pertempuran dan atau pertahanan terintegrasi untuk saat ini dan seterusnya akan sangat dominan. Masa depan network centric warfare sangat dipengaruhi oleh UAV dan satelit militer. Marinir tentu menjadi bagian dari SSAT dan interoperability antar satuan tempur. Pemenuhan kebutuhan alutsista untuk marinir yang beriorientasi network teknologi digital seperti tank boat antasena, ranpur AAV7A1, MLRS, short range missile, helikopter dan UAV diharapkan bisa segera direalisasikan. Ayo dong dipercepat, negara kita negara kepulauan, penguatan taji pasukan serbu pantai adalah prioritas.

****

Jagarin Pane / 14 Maret 2022

Tuesday, March 8, 2022

Membuka Opini Mata Hati

Invasi pasukan Rusia ke Ukraina adalah pertempuran anti mainstream yang membuat sebagian besar opini masyarakat dunia terbuka mata hatinya. Soal kedahsyatan pertempuran itu adalah yang terhebat di Eropa sejak perang dunia kedua. Namun untuk ukuran seluruh dunia perang Teluk jilid satu dan dua adalah yang terdahsyat. Lebih dahsyat lagi karena model pertempurannya keroyokan.  Pasukan penyerbu merupakan pasukan gabungan berbagai negara dipimpin AS. Lebih dahsyat lagi setelah perang usai negara-negara Arab diwajibkan bayar iuran perang. Lebih dahsyat lagi sampai saat ini tidak terbukti adanya senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak sebagai alasan untuk menyerbu. Lebih dahsyat lagi Saddam Husein dieksekusi berdasarkan subyektivitas pembenaran sepihak. Ini satu contoh saja.

Tetapi dunia diam saja kan. Tidak mampu mengungkap, terasa ada terkatakan tidak. Karena dunia hanya punya satu kekuatan super power yang mendominasi kekuatan militer, ekonomi dan opini setelah Pakta Warsawa dan Uni Sovyet bubar. Ketika masih ada kekuatan penyeimbang Pakta Warsawa, AS dan NATO tidak bisa "petintang petinting" dan merasa menjadi pemilik kebenaran. Artinya opini pembenaran argumen soal perang Teluk menjadi kebenaran, karena perjalanan kesalahan terbesar dalam sejarah dunia yang tertulis menjadi konsumsi lintas generasi. Jadi dianggap benar.

Sampai kemudian pertempuran terhebat antara Rusia dan Ukraina membuka opini mata hati masyarakat dunia. Membuka luka lama tentang sebuah sejarah pembenaran, menyerbu dan menghabisi rezim Irak dan Libya karena kebencian dilapis ambisi penguasaan sumber daya energi fosil. Padahal sebelumnya Saddam Husein adalah sekutu AS ketika bertempur dengan Iran tahun 1980 selama 8 tahun. Irak diniscayakan menjadi "alat" pihak yang membenci Iran pada waktu itu. Saddam Husein dan Khadafi sukses membangun ekonomi kesejahteraan untuk rakyatnya.

Mengapa AS membenci Iran, karena Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi yang merupakan "NATO" nya AS di Timur Tengah, sekutu terkuat dan andalan Uncle Sam digulingkan Ayatullah Khomeini tahun 1979. Rezim kerajaan yang paling disayang AS ini tumbang oleh revolusi keagamaan egaliter. Jika dalam perang Vietnam, Paman Sam harus kalah secara militer maka di Iran si Pakde kalah secara intelijen. Dua-duanya mengharuskan dia angkat koper.  Yang lebih menghebohkan adalah keluarnya tentara AS dari Afghanistan setahun lalu yang katanya karena alasan perubahan geopolitik dan geostrategis. Apa iya.

Fakta sejarah diatas adalah sedikit cuplikan bagaimana kemudian sejarah ditulis berdasarkan kepentingan subyektivitas sepihak. Bagaimana kemudian kita lalu bisa menyaksikan tontonan kehebatan film Rambo dan film-film lain yang "berbau" Vietnam, Panama, Afghanistan dan lain-lain yang menggambarkan nilai-nilai kepahlawanan versi AS. Sebagian dari kita lantas terpukau dengan spirit nasionalis patriotik berbasis kemanusiaan di jalan cerita film-film itu. Seakan menjadi fakta sejarah. Padahal sejatinya jauh panggang dari api.

Standar ganda yang diperlihatkan selama tiga dekade sejak berakhirnya perang dingin bertemu dengan tembok besar yang bernama Rusia. AS dan NATO seperti kehabisan amunisi gertak sambal. Yang terakhir tidak berani melakukan pembatasan ruang udara di Ukraina karena sudah di ultimatum Rusia. Bahkan ancaman sanksi ekonomi AS dan NATO dibalas dengan memutus berbagai kerjasama, salah satunya soal terminal antariksa dan peluncuran wahana antariksa. Bahkan terang-terangan Rusia mengatakan AS sebagai bandit ekonomi. Sebuah statemen yang menohok untuk pemilik hegemoni yang sudah mulai tergerus dengan tampilnya China sebagai kekuatan ekonomi dan militer di masa mendatang.

Bagi kita hikmah dari pertempuran Rusia dan Ukraina bagi adalah bersikap proporsional saja. Sembari berharap ada penyelesaian secara terhormat dan bermartabat, tidak sampai menjadi perang nuklir yang mematikan peradaban. Hikmah yang lain adalah dalam konteks membangun manajemen pertahanan terpadu. Dalam pandangan kita jalan terbaik adalah membangun kekuatan pertahanan dengan kemampuan sendiri. Tidak perlu berharap banyak dapat dibantu AUKUS atau negara lain misalnya. Meski armada kapal induk dan berbagai kapal perang berseliweran di Laut China Selatan bukan jaminan kita terlindungi soal Natuna. Contohnya sudah ada, Ukraina babak belur dihajar Rusia, dan bantuan AS dan NATO yang diharapkan tak kunjung datang.

Kita bangunkuatkan manajemen pertahanan modern dengan network centric warfare. Kita perÄ·uat alutsista TNI dengan teknologi terkini secepatnya, sajian kedatangannya harus cepat, tidak pakai lama. Investasi bidang pertahanan memang memerlukan dana besar namun jika diamortisasikan berdasarkan umur teknis akan menjadi nilai yang wajar. Eksistensi negeri salah satunya adalah perkuatan manajemen pertahanan disamping manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Manajemen pertahanan adalah pagar perlindungan eksistensi ketahanan nasional termasuk ketahanan ekonomi. Dua-duanya, manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan manajemen perkuatan pertahanan adalah perlambang harga diri dan kehormatan negeri. Itu harga matinya dan itu juga opini mata hati kita untuk negeri jamrud khatulistiwa.

****

Jagarin Pane / 08 Maret 2022

Thursday, March 3, 2022

Semakin Menghebat

Catatan invasi Rusia ke Ukraina sampai hari ke tujuh adalah tidak terbendungnya langkah pasukan Rusia dan alutsistanya.  Mengalir deras dengan iringan dentuman hebat yang melumat sasarannya. Teknologi alutsista canggih yang dimiliki Rusia memperlihatkan unjuk kinerja tempur yang luar biasa. Dan itu belum semuanya. Sementara dari perbatasan negara-negara NATO di Eropa riuh rendah publikasi kedatangan ribuan tentara dan alutsista NATO hanya sampai di garis border Polandia dan Rumania, tidak lebih dari itu. AS dan NATO tidak ingin intervensi dengan alasan Ukraina belum menjadi anggota NAT0. Namun sangat diyakini alasan sesungguhnya adalah ketidakberanian aliansi militer terhebat sedunia itu karena adanya ancaman perang nuklir dari Vladimir Putin. 

Sejauh ini skore sementara 2-0 untuk Putin.  Skore 1-0 tercipta karena Putin yang menginvasi Ukraina membuat NATO terdiam meski awalnya gembar-gembor gertak sana gertak sini, ancam sana ancam sini. Skore 2-0 barusan tercipta karena manuver militer gertak sambal NATO mengerahkan pasukan dan jet tempur ke Rumania dan Polandia hanya sebatas itu saja, tidak lebih dari itu. Dan sejauh ini tak ada yang mampu menghadang Rusia. Ukraina semakin bonyok, bantuan militer NATO yang dijanjikan tidak datang jua. Dan jangan main-main dengan negara nuklir nomor satu Rusia yang selalu dipojokkan dan diremehkan oleh pemilik hegemoni. Rusia bisa saja melakukan serangan nuklir mematikan,game over, tiji tibeh, mati siji mati kabeh.

AS dan NATO secara psywar hari-hari ini berada dalam tekanan psikologi militer yang hebat. Belum pernah mereka mengalami dilema sedahsyat ini sejak berdirinya pakta militer atlantik utara itu. Maju kena mundur kena. Mereka mendapat "lawan tak bertanding" yang sepadan, pemberani dan militan. Selama ini AS dan NATO selalu menjadi pemenang dalam setiap operasi militer, selalu merasa diatas angin dan menjadi pemilik hegemoni militer termasuk hegemoni opini pembenaran. Lihat aksi militernya di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah. Lihat aksi intelijennya di Venezuela, Iran, Panama, Nikaragua. Aliansi militer NATO adalah satu-satunya super power di planet bumi yang malang melintang sejak perang dingin berakhir tahun 1991. Dan sekarang mendapat ujian terbesar, ujian marwah diri dari Rusia dengan ancaman perang nuklir.

Ketika perang dingin terjadi ada dua blok militer di Eropa yang saling pamer kekuatan, gelar alutsista besar-besaran, saling melotot satu sama lain. NATO di Eropa Barat mendapat lawan, kekuatan  penyeimbang dari blok militer Eropa Timur yaitu Pakta Warsawa. Secara historis dua kekuatan militer penyeimbang ini justru mampu menciptakan perdamaian di Eropa selama hampir setengah abad. Kondisi "si vis pacem parabellum" ini memberikan peluang kemampuan membangun ekonomi kesejahteraan bagi Eropa dan dunia. Selama perang dingin pertumbuhan ekonomi kesejahteraan di dunia berkembang dengan cemerlang. Kekuatan dua super power dunia itu tidak membuat keduanya mentang-mentang, malah berhati-hati karena ada rival setaranya. Sementara tingkat kesejahteraan dan teknologi bertumbuh pesat di era Cold War.

Ranking kekuatan ekonomi AS saat ini sudah dibayang-bayangi China. Prediksi lima tahun ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia. Sejalan dengan itu pembangunan kekuatan militernya diniscayakan akan menjadi kekuatan yang disegani. Baru-baru ini China dan Rusia menyepakati kerjasama strategis di segala bidang. Artinya aliansi strategis ini menjadi ancaman terbesar hegemoni AS yang sudah mulai tergerus. Pertempuran di Ukraina adalah contoh soal terpukulnya hegemoni. Meski secara konstitusi PBB Rusia jelas-jelas salah besar  menyerbu teritori negara lain. Namun jika kita menganalisis penyebabnya secara sistematis, jalan diplomasi yang ditempuh tidak terpenuhi, langkah militer yang diterjang adalah bagian dari diplomasi itu sendiri.

Pola diplomasi AS dan sekutunya yang selalu mau menang sendiri sudah saatnya direnovasi, diperbaharui. Momentumnya ada di pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina. Tidak bisa lagi memakai pola dan metode menang-menangan. Kemarahan Rusia adalah kemarahan marwah negara yang selalu dikerdilkan dan dianggap musuh abadi. Mengurung Rusia di Eropa Timur dengan ekspansi keanggotaan NATO sangat tidak pantas karena secara defacto dan dejure sudah tidak ada lagi perang dingin atau potensi perang besar. Ambisi perluasan keanggotaan NATO di Ukraina akhirnya berbuah pertempuran hebat setelah perang dunia kedua. Kita semua menginginkan penyelesaian damai dan bermartabat. Saatnya membuka mata hati bening untuk perdamaian dunia.

****

Jagarin Pane / 03 Maret 2022