Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Sunday, July 4, 2021
Mengukur Kinerja Strategis Menhan
Friday, June 25, 2021
Menunggu Kabar Baik Berikutnya
Baru saja ada kabar baik, pemerintah menyetujui anggaran khusus pembelian alutsista untuk tahun 2021 sebesar US$ 20,7milyar setara dengan 298,08 Trilyun melalui pinjaman luar negeri (PLN). Jika anggaran ini dikaitkan dengan pembelian 36 jet tempur Rafale dan 6 kapal perang Fremm maka masih terbuka peluang untuk memperoleh alutsista strategis lainnya seperti 12 jet tempur F15 Eagle II, 8 kapal perang fregat Mogami Class dari Jepang, 4 kapal selam dari Perancis atau Jerman dan lain-lain. Alhamdulillah.
Sebentar, jangan kemudian lantas bilang gede amat, atau banyak banget. Penjelasan sederhananya begini, anggaran sebesar US$ 20,7 milyar itu duitnya ada di pinjaman luar negeri, tidak ada di kas APBN. Nanti kita yang bayar cicilan dengan limit bisa 25-30 tahun dengan bunga ringan, soft loan. Dan ini setara dengan nilai manfaat atau kegunaan investasi alat pertahanan yang bisa mencapai umur ekonomis dan teknis 30 tahun. Mirip seperti kita membeli rumah dengan pola KPR, bayar uang muka dulu. Rumah sudah jadi bisa kita tempati, pihak Bank bayar lunas ke pengembang dan kita bayar angsuran ke Bank bisa sampai 15-20 tahun.
Pemerintah Perancis diprediksi akan menanggung 80-90% dari nilai kontrak pembelian alutsista made in France, yang kemudian menerima cicilan pembayaran dari pemerintah Indonesia dengan durasi 25-30 tahun. Semua diawali dengan kontrak efektif dimana pihak pembeli alutsista membayar uang muka. Jepang sudah memberi lampu hijau soal soft loan ini. Kalau tercapai kesepakatan membeli 8 fregat Mogami Class maka model angsurannya persis seperti Perancis. Sekedar catatan, KRI Irian kapal terbesar jenis penjelajah yang dibeli dari Uni Sovyet di era Trikora tahun 1962 cicilannya baru lunas tahun 1984. Beli 40 jet tempur Hawk dari Inggris tahun 1990, baru lunas tahun 2014.
Dengan anggaran sebesar itu maka tahun 2021 ini Kementerian Pertahanan sedang dan akan belanja besar dengan pola G2G (antar pemerintah). Artinya kita akan mendapatkan kabar yang menggembirakan dalam program menguatkan otot alutsista tentara kita. Yang sudah mendapat lampu hijau dari Kementrian Ibu Sri Mulyani adalah pengadaan 2 unit pesawat jet tanker pengisian BBM di udara untuk jet tempur TNI AU. Saat ini kita hanya memiliki satu unit pesawat tanker Hercules karena satu Hercules tanker yang lain jatuh ketika take off di Medan sepuluh tahun lalu. Jadi harus ditambah dengan prioritas cepat datang. Juga sudah ada kepastian kontrak pengadaan 5 pesawat Hercules type J dari Pakde Sam dan puluhan radar jenis GCI. Wah belanjanya borongan neh pak Sultan, kata gadis front office produsen alutsista dengan mata berbinar indah karena produk perusahaannya laku besar.
Reformasi belanja alutsista dengan model beli borongan dan "bergaya Sultan" sesungguhnya membawa marwah dan kebanggaan kita. Betapa tidak, selama ini kita selalu berbelanja model ketengan, eceran alias tidak full combat. Contoh beli jet tempur Sukhoi, mula-mula dibeli 4 biji kosongan di era Megawati. Dilanjut dengan tambahan 6 biji tanpa senjata di era SBY periode pertama. Lalu nambah lagi 6 unit di era SBY periode kedua dan baru dilengkapi persenjataan rudal. Butuh waktu hampir 10 tahun hanya untuk menggenapi 1 skadron jet tempur Sukhoi SU27 dan SU30. Ini yang direformasi saat ini, beli banyak sekaligus dan full combat, bayarnya angsuran, sama saja kan.
Yang kita tunggu juga adalah kepastian melanjutkan proyek pengembangan teknologi jet tempur KFX/IFX dan pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2 melalui transfer teknologi dengan Korsel. Dua proyek strategis dan bergengsi ini memang harus disikapi dengan diskusi panjang, cerdas dan detail untuk memastikan keandalan teknologi didalamnya. Program KFX Korsel saat ini sedang menyiapkan beberapa purwarupa yang sedang diisi jeroannya dengan mesin, avionik, radar dan teknologi instrumen tempur lainya. Kuartal pertama tahun depan sudah uji terbang.
Tahun depan diniscayakan kucuran anggaran PLN khusus beli alutsista akan semakin besar lagi. Artinya akan banyak lagi pesanan pembelian baik dari industri pertahanan dalam negeri maupun dari produsen luar negeri. Untuk industri pertahanan dalam negeri peluang besar mendapat order pengadaan alutsista sangat terbuka luas. Kita meyakini akan ada penambahan pesanan dalam jumlah besar untuk pengadaan tank Harimau, panser Anoa, panser Badak, roket RHan produksi PT Pindad. Prediksi kedepan dan dalam waktu singkat seluruh industri pertahanan dalam negeri akan panen raya pesanan berbagai jenis alutsista.
Saat ini saja PT PAL paling ramai pesanan. BUMN matra laut ini sedang mengerjakan pembangunan 3 kapal cepat rudal (KCR) 60m paket lengkap, pembangunan 2 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit dan overhaul kapal selam KRI Cakra. Prediksi ke depan sudah banyak antrian order untuk kerjasama membangun 2 kapal perang striking force Iver Class, kerjasama membangun kapal selam proyek Nagapasa batch2, kerjasama membangun kapal perang Bergamimi Class dan lain-lain. Masa depan PT PAL sangat diyakini menjadi titik tumpu penguasaan teknologi pembuatan kapal perang jenis KCR, LPD, korvet, fregat dan kapal selam.
Industri pertahanan swasta nasional juga sedang mekar bercahaya. Semua galangan kapal swasta nasional mendapat berbagai order pembangunan sejumlah kapal patroli cepat, KAL, kapal Bakamla, kapal KKP, kapal Bea Cukai, kapal Polairud. Dan "merawat inap" beberapa kapal perang jenis LST lawas. Bahkan ada industri pertahanan swasta nasional yang berinisiatif membuat tank boat dan kapal perang trimaran yang sangat dinantikan kehadirannya. Dan ini- tolong dicatat dan diingat- bahwa sepanjang sejarah perjalanan republik, baru sepuluh tahun terakhir ini industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta nasional bangkit, berkembang pesat dan sudah mampu menguasai sejumlah teknologi alutsista canggih. Luar biasa, sebuah kebanggaan nasional tapi luput dari pemberitaan.
****
Jagarin Pane / 25 Juni 2021
Saturday, June 12, 2021
Si Vis Pacem Para Bellum
Sekarang orang ramai membahas dan mengikuti petunjuk soal imunitas, pertahanan diri untuk menangkal ancaman berbagai penyakit menular utamanya Covid19. Imunitas sejatinya dibangun dengan konsep peribahasa latin Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Imunitas juga begitu, jika ingin sehat bersiaplah untuk sakit. Caranya perkuat pertahanan diri seakan-akan kita mau sakit. Imunitas dicapai setelah ada imunisasi dan vaksinasi yang nota bene adalah model latihan perang menghadapi berbagai ancaman virus agar tubuh kita tetap sehat wal afiat.
Kabar yang sangat dinanti dan membanggakan, kementerian pertahanan baru saja menandatangani kontrak awal pembelian 36 jet tempur Rafale buatan Perancis dan 6 kapal perang fregat Fremm dari Italia. Dan pada bulan-bulan mendatang diprediksi akan banyak lagi penandatanganan sejumlah alutsista strategis untuk militer Indonesia. Masih ditunggu finalisasi pengadaan jet tempur F15 Eagle2 dan atau F16 Viper. Dua-duanya dari AS sebagai realisasi penyeimbang program GSP (Generalized System of Preference) pemerintah AS. Seperti kita ketahui AS selama berpuluh tahun berbaik hati kepada kita dengan meringankan dan menihilkan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam sehingga kita surplus neraca perdagangan dengan AS. Program besar Kemenhan untuk segera mendatangkan sejumlah alutsista canggih dan berkelas secepat mungkin dari sejumlah negara selayaknya kita apresiasi karena sesungguhnya harus diakui bahwa imunitas pertahanan negeri ini masih lemah.
Selama ini proses pengadaan alutsista selalu membeli dengan model FFBNW (Fit For But Not With) alias beli ketengan. Contoh pengadaan 2 kapal perang light fregat Martadinata Class setelah jadi dan bisa berenang tapi belum punya senjata. Baru setelah tiga tahun berlayar dilengkapi satu persatu sistem manajemen pertempurannya untuk bisa bertarung di empat dimensi yaitu perang antar kapal permukaan, perang anti kapal selam, perang anti serangan udara dan perang elektronika. Demikian juga dengan pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 Id, tidak serentak dengan persenjataan rudalnya.
Model pengadaan ketengan yang seperti ini yang ingin direformasi Kemenhan dan sudah dimulai dari pengadaan 2 kapal perang fregat Iver Class made in Denmark yang dibeli secara paket lengkap termasuk program alih teknologi. Termasuk juga mengubah metode pengadaan dari B2B (business to business) menjadi G2G (government to government). Model G2G diharapkan bisa mempersingkat dan memutus mata rantai proses pengadaan yang bernama Salesman. Kemenhan sedang melakukan kerja smart dan extra ordinary untuk segera memenuhi berbagai jenis persenjataan tiga matra agar kekuatan pertahanan kita bisa memenuhi herd immunity.
Sampai saat ini kalau ada yang bertanya dari sudut militer imunkah kita di perairan Natuna. Jawabnya tidak karena kekuatan pertahanan teritori kita terhitung lemah. Memang sudah ada basis militer brigade komposit dan sejumlah alutsista disana tapi masih jauh dari kriteria memadai. Untung saja "virus" yang datang baru setingkat Coast Guard yang nota bene bukan antibiotik. Coba kalau yang datang Destroyer China, daya pukulnya bisa menghancurkan sel-sel pertahanan diri kita di Natuna. Itu sebabnya target mendatangkan 16 kapal perang fregat, 4 kapal selam penyengat, dan 48 jet tempur dalam waktu sesingkat-singkatnya adalah dalam rangka memenuhi kriteria mempunyai kekuatan pukul dan daya tangkal yang setara.
Kalau mau berjaya dan disegani maka kekuatan pertahanan diri negeri kita tidak bisa tidak, mau tidak mau, suka tidak suka harus diperkuat secara kuantitas dan kualitas. Segera dan tidak pake lama. Contoh, apakah pulau Sumatera punya kekuatan pukul yang diandalkan Angkatan Darat untuk pertahanan pulau. Jawabnya tidak. Bagaimana mungkin punya kekuatan daya gebuk kalau batalyon Kavalerinya hanya punya tank tua AMX 13, dan batalyon Arhanud masih mengandalkan "Simbah" S60. Belum lagi kalau melihat kekuatan Angkatan Laut di pantai barat Sumatera, kekuatan pelindung teritori laut masih lemah. Lantamal Padang mestinya disediakan secara permanen minimal 3 kapal perang jenis korvet.
Untuk merealisasikan doktrin militer berani masuk digebuk (pre emptive strike) maka syarat utamanya realisasikanlah ketersediaan kapal perang striking force kelas fregat keatas, kapal selam serbu dan jet tempur penggentar semacam Sukhoi SU35, Rafale dan F15 dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang mencukupi. Angkatan laut dan Udara harus memiliki kekuatan pukul yang menyengat untuk memenuhi syarat berani masuk digebuk. Ini yang disebut punya imunitas yang kuat dan disegani, untuk pertahanan negeri bukan untuk mengancam dan menyerang negara lain. Si Vis Pacem Para Bellum sejatinya untuk merawat kesehatan perdamaian dengan memperkuat pertahanan diri sekaligus mengingatkan negara lain untuk tidak macam-macam. Anda sopan kami santun, anda melotot kami kepal otot.
***
Jagarin Pane / 12 Juni 2021
Saturday, June 5, 2021
Menggenggam Asa Out Of The Box
Sepintas membaca Rancangan Perpres Pengadaan Alutsista yang memerlukan anggaran sebesar US $125 milyar, bola mata kita langsung membesar dan melotot lalu geleng-geleng kepala dengan berbagai komentar dan mimik: wow, luar biasa, amazing, gede amat dan sebagainya. Jumlah duit yang diperlukan sebanyak itu untuk program pengadaan alutsista sampai tahun 2045 sebenarnya biasa-biasa saja. Artinya selama lima "repelita" setiap repelitanya disediakan dana 25 milyar dollar. Sekedar info ketika program strategis MEF (Minimum Essential Force) jilid satu dimulai tahun 2010 di era Presiden SBY dikucurkan dana US $ 15 milyar selama lima tahun dari pinjaman luar negeri (PLN).
Dalam pandangan kita rancangan Perpres itu adalah untuk memantapkan sebuah harapan besar yang untuk horizon hari ini boleh jadi dianggap sebagai ambisi berbumbu pedas tendensius. Namun dalam sudut lihat yang tak terlihat, out of the box, beyond visual range sebenarnya rancangan besar ini merupakan lompatan besar, luar biasa dan cerdas yang harus kita apresiasi. Belanja pertahanan bukan termasuk biaya habis pakai melainkan investasi bernilai puluhan tahun untuk menjaga eksistensi negara. Jadi melihat besarnya anggaran pertahanan bukan untuk menandingkannya sebagai Cost Against Revenue di APBN, tetapi untuk investasi membangun pagar dan benteng teritori negeri yang bermanfaat selama puluhan tahun ke depan.
Persoalan yang mengemuka dan menghangat di publik adalah anggaran belanja alutsista sebesar 125 milyar setara dengan 1.750 trilyun rupiah itu akan dibelanjakan seluruhnya sampai tahun 2024 dengan skema PLN. Pada sisi yang lain banyak kita yang tidak menyadari bahwa posisi kekuatan alutsista kita sampai saat ini belum sampai pada kriteria minimal apalagi mencukupi. Yang mau dikejar Kemenhan adalah ketertinggalan dan ketercukupan perolehan alutsista. Makanya diperlukan model belanja extra ordinary untuk segera mencukupi kebutuhan alutsista dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lihat saat ini dinamika kawasan utamanya Laut China Selatan (LCS) sangat dinamis dan penuh ketegangan. Kabar terkini barusan16 jet tempur canggih China berparade di udara Sabah yang membuat Malaysia panas dingin lalu mengirim jet tempur Hawk untuk scramble. Jelas Hawk bukan tandingan jet tempur China.
Mari melihat dengan kacamata bening sudah sejauh mana kekuatan taring militer Indonesia saat ini. Meski sudah ada program MEF jilid satu sampai jilid tiga apakah kemudian kita lantas sudah merasa kuat dan hebat. Jawabnya jauh panggang dari api karena target minimum essential force belum tercapai sampai dino iki. Teritori Indonesia sangat luas, strategis dan penuh kandungan sumber daya alam atas air dan bawah air. Peta geografi negeri kepulauan ini membentang luas mempertemukan samudra Pasifik dan samudra Hindia. Namun alat pelindung teritorinya masih sangat kurang. Kekuatan militer kita untuk melindungi asset teritori yang luas dan kaya ini belum sepadan.
Oleh sebab itu rencana spektakuler Kementerian Pertahanan untuk menggelar program pengadaan alutsista secara terpadu, cepat dan sistematis melalui payung hukum Perpres mestinya kita sikapi dengan cara pandang beyond visual range, out of the box dan horizon terjauh. Program ini adalah untuk percepatan perolehan kualitas dan kuantitas alutsista. Kita berpacu dengan waktu untuk segera mendatangkan berbagai jenis alutsista strategis. Saat ini kita membutuhkan tambahan 5 skadron jet tempur, 8 kapal selam baru, 16 fregat baru. Dan itu harus bisa dipenuhi dalam lima tahun ke depan.
Kita belum sampai di target minimal meski sudah sampai di jilid tiga MEF. Dan ada kesan penguatan itu berjalan lambat, bertele-tele, dan setiap kedatangan alutsista pesanan itu "dijamin" terlambat. Kekuatan militer kita dengan sejumlah alutsista yang dimiliki saat ini belum sampai memenuhi ukuran minimal yang dibutuhkan. Negeri yang luas teritorinya seluas benua Eropa hanya dijaga 2 skadron F16 dan 1 skadron Sukhoi. Ironi sekali. Mestinya kekuatan angkatan udara standar untuk negeri ini ada di 10-12 skadron jet tempur penggentar tidak termasuk T50, Hawk dan Super Tucano. Itulah yang ingin dipenuhi dan dipercepat oleh Kemenhan.
Rencana besar Kemenhan ini selayaknya kita apresiasi. Sudah 12 tahun MEF berjalan dan selama waktu itu dinamika kawasan membuka cakrawala pandang kita bahwa semua negara yang berkonflik dengan China membangun kekuatan militernya. Sudah 12 tahun kita modernisasi kekuatan militer kita menuju kekuatan minimal, nyatanya persentase target belum memuaskan. Maka daftar belanja alutsista dengan membeli sekaligus dalam jumlah besar adalah untuk menjawab percepatan dan ketertinggalan itu. Kita harus cepat menghadirkan sejumlah alutsista strategis, gahar dan berteknologi canggih. Kita harus mengejar ketertinggalan kita.
Maka kita sambut Jepang untuk membangun bersama 8 kapal perang fregat Mogami Class dengan percepatan prosesnya. Sementara 2 Iver Class yang sudah teken kontrak bisa ditambah menjadi 6 unit. Kekuatan TNI AU dipercepat dengan tambahan 36 jet tempur Rafale dan 8 jet tempur F15. Harus segera direalisasikan. Kita tidak bisa lagi pakai cara-cara standar dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, beli bertahap dan tetap kurang. Harus ada langkah yang bisa memenuhi asa out of the box, percepat proses pengadaan dan beli dalam jumlah besar dengan transfer teknologi. Sementara dua program strategis lainnya yaitu pengembangan jet tempur KFX / IFX dan kapal selam Changbogo dengan Korsel dilanjut lagi. Juga industri pertahanan dalam negeri tetap menjadi prioritas pengadaan. Kalau semua ini berjalan lancar maka diniscayakan matahari tahun 2025 akan bisa menyaksikan awal episode kehebatan revolusi modernisasi alutsista Indonesia.
****
Jagarin Pane / 5 Juni 2021
Saturday, May 15, 2021
Mengunci KKB Teroris Papua
Ribuan pasukan pemukul TNI sudah masuk rimba gunung Papua termasuk pasukan elite paling mematikan Kopassus. Gerak pasukan khusus ini dalam setiap penugasan tidak pernah terdeteksi pemberitaan, tidak terendus tiba-tiba sudah ada di medan operasi, pergerakannya siluman. Bisa saja Kopassus diterjunkan dari pesawat di titik tertentu kemudian bergerak cepat dan senyap lalu sergap. Apalagi uniform baru Kopassus benar-benar sesuai dengan hijau belantara rimba tropis. Sebuah kamuflase terbaik.
Kali ini KKB Papua harus membayar mahal atas perbuatan kejinya membunuh dan membakar. Selama ini operasi KAMDAGRI yang dilakukan POLRI dengan dukungan TNI adalah operasi bernuansa teritorial defensif semata untuk menjaga keamanan sipil. Sembari melakukan patroli keamanan, mengawal pembangunan infrastuktur juga memberikan penerangan wawasan kebangsaan pada warga sipil di pedalaman. Lama kelamaan KKB merasa besar kepala dan menganggap remeh kekuatan sesungguhnya pengawal republik. Momentum gugurnya kepala BIN Papua yang juga perwira tinggi Kopassus mendidihkan adrenalin tentara dan negara.
Negara sejatinya adalah kehormatan dan harga diri tertinggi, maka melukai marwah negara dengan cara biadab adalah cara-cara teroris. Berhadapan dengan gerombolan ini tidak bisa lagi menggunakan metode defensif pasif namun harus melakukan pre emptive strike. Mengejar dan menghancurkan markas-markas teroris KKB di seluruh belantara Papua adalah target utama sekaligus menghabisi para teroris sadis. Anda jual kami beli. Dan itu sudah dimulai. Dalam dua pekan 12 teroris KKB ditembak mati. Ini baru permulaan.
Pertarungan menghancurkan teroris KKB Papua tidak hanya berlaku di rimba belantara Papua tapi seharusnya juga di rimba maya alias media sosial. Termasuk upaya diplomasi proaktif Kemenlu di dunia internasional. Rimba media sosial yang tidak punya wilayah teritori adalah pertempuran digital terkini untuk mempengaruhi dan merebut opini mindset alias pola pikir personal. Kasus pembelotan seorang tentara yang sedang bertugas di hutan rimba Papua sangat diyakini karena termakan pertarungan opini alias perang pemikiran di medsos yang menghasut dan mampu mengubah persepsi dan perspektif obyektif.
Medsos adalah ruang besar kebebasan eksistensi diri, penampilan personal termasuk publikasi olah pikir apakah itu based on fakta, kebenaran, pembenaran atau kebohongan. Yang terakhir ini semakin merajalela karena disertai bumbu penyedap yang pedas bernama ujaran kebencian. Pertarungan opini di medsos adalah drama yang pemenangnya adalah yang mampu merubah cara pandang mindset seseorang. Tidak peduli dengan apakah didalamnya ada nilai kebenaran. Menghadapi teroris KKB Papua kita sebagai anak bangsa pecinta NKRI harus bisa memukul mundur opini pembenaran dan hasutan yang beredar di medsos. Kita harus proaktif melakukan counter attack terhadap opini-opini pembelokan fakta. Misalnya penembakan 3 teroris KKB beberapa waktu lalu yang dikatakan mereka sebagai warga sipil yang disiksa.
Diplomasi aktif Kemenlu adalah bagian dari memenangkan dan menenangkan opini internasional. Bahwa eksistensi KKB teroris tidak lebih dari ulah segelintir orang yang ingin menghidupkan separatis. Padahal PEPERA 1969 sudah diakui PBB dan dunia internasional. Artinya semangat separatis yang didengungkan segelintir petualang politik sebenarnya tidak punya aspek legalitas dan kapabilitas apalagi klaim. Persoalannya adalah publikasi opini, pencarian dukungan yang bermuara minta sumbangan bisa menjadi sesuatu yang seakan-akan besar dan hebat, padahal hanya fatamorgana. Di forum PBB diplomat kita benar-benar high profil dan menohok ketika berdebat di forum dunia itu, manakala ada negara di Pasifik Selatan yang ingin menyerang Indonesia soal Papua. Ini adalah kecerdasan diplomatik yang sangat mengagumkan.
Organisasi teroris KKB harus dikunci mati. Tidak bisa tidak. Lakukan operasi senyap, tak perlu ada publikasi luas soal pemberangkatan batalyon-batalyon TNI, termasuk suasana kontak senjata di medan operasi. Ini adalah operasi penumpasan atas nama harga diri NKRI, di wilayah NKRI, urusan dalam negeri NKRI. Pemberantasan teroris bernuansa separatis, lokasinya di hutan belantara, harus dihadapi dengan operasi pasukan khusus di garis depan bersama pasukan raider. Sekali lagi ini momen yang tepat untuk menghancurkan KKB teroris Papua.
Sekedar catatan tiga dekade lalu ketika ada negara lain yang coba-coba mencampuri urusan dalam negeri kita soal Papua, TNI AU mengerahkan 3 jet tempur F5 Tiger dan mengeluarkan sonic bom persis di wilayah border Papua-PNG. Yang kebakaran jenggot Australia lalu protes. Dan memang negeri tetangga selatan itu selalu begitu, usil, rewel dan suka menghasut. Soal Timor Timur adalah pelajaran sejarah yang tidak boleh dilupakan. Nah sekarang dia sedang digebuk China lewat embargo impor batubara dan lain-lain karena terlalu usil, rewel dan suka mendikte. Intinya kita harus berhati-hati dengan negeri Kanguru ini.
Untuk pertarungan di hutan gunung Papua kita serahkan pada pengawal republik yang punya reputasi heroik. Demikian juga penempatan agen-agen diplomatik Kemenlu yang cerdas, gaul dan high profil di Kedubes, di forum PBB untuk menguatkan "silaturrahim" kelas dunia. Nah tugas kita sebagai netizen adalah bertarung di media sosial untuk memenangkan ghozwul fikr alias perang pemikiran alias pertempuran opini mindset soal Papua. Kita ada di posisi legal standing yang kuat, kita ada di posisi yang sah dan benar.
Maka kita publikasikan secara terus menerus dan massif posisi terhormat ini agar tidak digerogoti opini KKB yang bernama pembenaran, pembelokan arah atau bahkan seakan playing victim. Papua sudah banyak kemajuan, itu fakta dan itu harus kita dengungkan dengan bahasa netizen yang gaul, kocak dan nggemesi. Bahasa seperti ini adalah bagian dari intervensi dan infiltrasi untuk pertarungan ghozwul fikr khususnya di kalangan kaum milenial. Papua adalah bagian utuh dari bingkai NKRI, tidak bisa diganggu gugat dan sekarang saatnya kita kunci mati organisasi teroris KKB dari tiga front sekaligus, pertempuran real di hutan Papua, kecerdasan diplomatik dan pertarungan opini ghozwul fikr di media sosial.
****
Jagarin Pane / 15 Mei 2021
Monday, May 3, 2021
Memandang Horizon Jernih
Monday, April 26, 2021
Sang Pelenyap Senyap
KRI Nanggala 402 adalah marwah dan kebanggaan Korps Hiu Kencana yang bersama KRI Cakra 401 merupakan sepasang monster bawah air yang mengawal teritori laut Indonesia sejak tahun 1981. Dua pengawal tangguh ini juga sempat bersahabat dengan "Pakdenya" KRI Pasopati 410 yang sudah ada sejak era Trikora tahun 1962 menjadi benteng teritori bawah laut negeri ini. Bedanya Pasopati setelah pensiun bisa terlihat jasadnya sebagai monumen kapal selam di Surabaya sementara Nanggala dalam perjalanan tugasnya yang mulia dan berwibawa berdiam abadi ke kedalaman laut Bali.
Sejarah perjalanan kapal selam Indonesia hadir pertama kali tahun 1959 dengan kedatangan 2 kapal selam Whiskey Class dari Uni Sovyet (sekarang Rusia). Keduanya diberi nama RI Cakra 401 dan RI Nanggala 402. Sekedar catatan sebelum tahun 1973 identitas penamaan kapal perang diawali dengan RI (Republik Indonesia), setelah itu diganti menjadi KRI (Kapal Republik Indonesia). Bersamaan dengan dikumandangkannya Trikora oleh Bung Karno 19 Desember 1961 maka penambahan Whiskey Class mencapai jumlah 12 unit.
Whiskey Class termasuk Nanggala 402 menjadi kekuatan penggentar, waktu itu kita lah yang terhebat di kawasan ini sehingga Belanda atas desakan AS bersedia hengkang dari Papua. Tentu melalui jalur PBB supaya terlihat terhormat. Padahal sejatinya kekuatan militer Indonesia lah yang menjadi penggentarnya. Waktu itu dengan seratusan kapal perang plus 12 kapal selam serta seratusan pesawat tempur dan pengebom strategis membuat pihak lawan ukur diri. Setelah Trikora dilanjut dengan Dwikora untuk mengganyang Malaysia. Poinnya ketangguhan satuan kapal selam Indonesia saat itu paling kuat di kawasan bumi selatan. Kita memiliki 12 kapal selam hanya dalam waktu 4 tahun, 1959 sampai dengan 1963.
Pergantian rezim tahun 1966 membuat eksistensi 12 kapal selam Indonesia memudar karena ketiadaan suku cadang. Sampai tahun 1980 hanya 2 dari 12 kapal selam Whiskey Class yang masih bertahan yaitu KRI Bramastra 412 dan KRI Pasopati 410. Maka ketika tahun 1981 KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 datang langsung dikemudikan awak kapal selam kita dari pabrikannya di Kiel Jerman Barat (Sekarang Jerman), rasa bangga kembali mengembang. Membawa kapal selam dari Jerman ke Indonesia butuh waktu 2 bulan tentu merupakan keberanian yang membanggakan.
KRI Nanggala pernah berduet bersama KRI Cakra di laut Sulawesi beberapa tahun lalu untuk mencari 4 prajurit TNI AL. Penyebabnya adalah hilangnya 4 awak kapal KRI Layang ketika menangkap dan membawa kapal nelayan Filipina yang diduga adalah gerilyawan Marawi. Kapal nelayan diperiksa dan sebagian besar awaknya ditahan di KRI Layang. Kemudian 4 prajurit KRI Layang ditugaskan mengawal beberapa awak kapal nelayan Filipina. Ternyata tidak pernah sampai di Miangas. Tidak lama kemudian pertempuran hebat terjadi di Marawi antara pasukan pemerintah Filipina dengan gerilyawan.
Prajurit Hiu Kencana adalah pasukan khusus TNI AL yang sudah lulus ujian ketangguhan, cerdas, kuat, tegar, tahan, tabah dan sabar. Motto Hiu Kencana adalah Tabah Sampai Akhir sejatinya adalah ketahanan mengelola emosi, sabar, tahan tidak melihat matahari berminggu-minggu, kuat dan mampu menikmati tugas di dalam mesin pembunuh berlapis, pelenyap kapal musuh dalam kesenyapan di kedalam laut yang sunyi. Pernah sekali waktu didatangkan seorang Dokter untuk mendeteksi tingkat stres awak kapal selam selama menyelam. Ternyata memasuki minggu kedua si Dokter yang berteriak-teriak histeris minta dikembalikan ke pangkalan. Awak kapal tersenyum melihat kondisinya. Kapal selam memang dirancang dan dibangun untuk tidak terdeteksi. Dia berjalan sendiri berminggu-minggu melakukan tugas pengintaian dan infiltrasi serta penembakan. Termasuk harus pintar menyembunyikan diri ketika diincar kapal musuh.
Secara operasional jam terbang Cakra dan Nanggala sangat padat. Bayangkan periode 1981 sampai dengan 2015 Indonesia hanya punya 2 kapal selam dengan luas wilayah perairan yang membentang. Melakukan tugas intelijen dan infiltrasi dalam kesenyapan, sesungguhnya beban kerja keduanya overload, karena tidak ada penambahan kapal selam. Ketika Ambalat memanas tahun 2005 Nanggala tampil sebagai benteng terdepan, berpatroli sendiri berminggu-minggu. Akhirnya keduanya secara bergantian dioverhaul dan diganti jeroannya dengan instrumen digital di Korsel. Nanggala overhaul tahun 2012. Delapan tahun setelah itu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 mendapat "keponakan baru" yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405. Ketiganya lahir dari hasil kerjasama alih teknologi dengan Korsel.
Barusan mendapat tugas mengawal Natuna bersama KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405, Nanggala kembali ke markasnya di Armada Dua. Seperti diketahui KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 dari Armada Satu sukses menembakkan rudal anti kapal C705 menenggelamkan KRI Balikpapan 905 yang baru pensiun di Laut Natuna Utara. Kemudian Armada Dua akan melakukan hal yang sama di Laut Bali. Selain akan menembakkan rudal anti kapal dari KRI Hiu 634 dan KRI Layang 635, juga akan menembakkan torpedo SUT dari KRI Nanggala 402. Diantara tiga Armada laut yang dimiliki TNI AL hanya Armada Dua yang memiliki alutsista strategis 5 Kapal Selam bermarkas di Surabaya.
Jalan cerita kemudian berubah dan itulah takdir akhir cerita. Nanggala bersama 53 orang awaknya termasuk komandan satuan kapal selamnya tidak pernah menyahut panggilan dari kapal markas KRI Dr. Soeharso 990 ketika sudah diizinkan menyelam dan menembak torpedo SUT. Kapal baja seberat 1200 ton itu meluncur ke dasar laut ALKI 2. Sang pelenyap berakhir dalam senyap. Kita kehilangan SDM militer yang mahal. Mencetak awak kapal selam butuh waktu dan investasi. Padahal kita juga akan menambah sedikitnya 3 kapal selam baru dari yang sudah ada sekarang. Kita relakan kepergian Nanggala bersama para awaknya. Mereka akan dikenang sepanjang sejarah. Seluruh dunia akhirnya tahu tentang Nanggala, seluruh dunia tahu tentang keperkasaan prajurit Nanggala, seluruh dunia berduka dengan kepergian abadi Nanggala berdiam dalam senyap. Lahumul Fatihah.
****
Jagarin Pane / 26 April 2021
Sunday, April 18, 2021
Dua Turbulensi Mereda
Ada dua proyek besar alutsista strategis dan bergengsi yang selama Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengalami turbulensi dan gelombang kejut sehingga membuat sang pilot berada di titik simpang akhir konsistensi. Kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam "Nagapasa Class" dan pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan yang sudah berjalan hampir satu dekade dihadang "awan cumulunimbus" yang membuat perjalanan panjang alih teknologi itu gonjang ganjing dan nyaris terjerembab.
Pengembangan teknologi jet tempur gen 4.5 antara Indonesia dan Korsel sudah berjalan delapan tahun. Proyek teknologi tinggi bernilai US$ 7,3 milyar setara 113 trilyun rupiah itu dibagi porsinya, Korsel menanggung 80% dan Indonesia 20%. Sejauh ini kita sudah membayar "SPP" sebesar 2,9 trilyun sebelum akhirnya menunggak iuran tahunan sebesar 7,7 trilyun rupiah sejak tahun 2019. Mogok bayar itu kemudian dikaitkan dengan berbagai informasi dan opini yang dalam pandangan kita sebenarnya sebuah dinamika wajar dalam perjalanan perjanjian kerjasama yang panjang.
Sebagai penganut "mazhab konsistensiniyah" sebuah istilah dalam forum militer alias aliran istiqomah, kita selalu menyuarakan keinginan yang kuat agar dua program besar ini terus berlanjut. Di beberapa tulisan terdahulu yang sudah dipublikasikan melalui blog militer pribadi dan di media online kita tetap mengharapkan program alih teknologi jet tempur IF21 dan kapal selam tetap berjalan. Kedua teknologi tinggi ini jika bisa kita kuasai maka hampir sempurna penguasaan teknologi alutsista yang dimiliki industri pertahanan kita. Kita sudah bisa membuat aneka ragam alutsista mulai dari panser, tank, roket, kapal patroli cepat, kapal cepat rudal, kapal LST, kapal LPD dan lain-lain.
Perkembangan terkini yang menggembirakan adalah gonjang ganjing itu reda. Peresmian kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 yang dibangun di PT PAL membuktikan bahwa serah terima itu mampu menepis spekulasi yang beredar di kalangan netizen forum militer. Banyak rumor soal Alugoro yang dianggap tidak sesuai harapan padahal PT PAL dalam setiap tahapan uji laut mempublikasikan hasilnya. Kemudian soal jet tempur KF21 /IF21 dimana Indonesia absen iuran selama dua tahun terakhir karena berbagai faktor teknis dan non teknis. Opini yang beredar kemudian adalah tidak diberikannya teknologi kunci dari AS untuk menyuntik instrumen pesawat ini.
Nah barusan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diundang ke Korsel. Dia disambut meriah dengan karpet merah di Seoul layaknya seorang Presiden untuk menghadiri seremoni peluncuran prototype jet tempur KFX yang kemudian diberi nama jet tempur KF21 Boramae. Seremoni mewah di Seoul tanggal 9 April 2021 ini yang juga bertepatan dengan HUT TNI AU mendapat liputan media yang luas di seluruh dunia. Presiden Korsel Moon Jae-in memberikan apresiasi kepada Indonesia sementara Presiden Jokowi memberikan sambutan secara virtual. Indonesia akan melanjutkan kerjasama pengembangan jet tempur KF21/IF21 adalah pernyataan kunci yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo. Terang benderang.
Pelajaran yang bisa dipetik dari episode turbulensi program kerjasama alih teknologi kapal selam dan jet tempur ini adalah kemampuan menyikapi dan menyaring mana yang berwarna opini dan penggiringan opini dan mana yang merupakan pernyataan resmi. Dalam beberapa artikel yang kita publikasikan soal dua proyek alutsista strategis ini kita selalu menyuarakan semangat konsistensi, tetap teguh melanjutkan kerjasama yang sudah di dua pertiga perjalanan. Karena kita memahami bahwa perjalanan panjang program alutsista strategis dan bergengsi ini akan mengalami pasang surut. Apalagi dibumbui rayuan sales promotion grup produsen alutsista lain termasuk mungkin saja ada pihak lain yang tidak ingin kita bisa menguasai teknologi kapal selam dan jet tempur.
Maka ketika KRI Alugoro 405 diresmikan belum lama ini di Surabaya dan juga ketika purwa rupa jet tempur KF21 diluncurkan di Seoul,setidaknya ada nafas kelegaan yang kita hirup, ada rasa plong, ada rasa sukacita yang membuat bibir tersenyum puas. Bahkan Alugoro yang baru diserahkan pabrikannya langsung unjuk diri di Natuna. Luar biasa. Kedua program besar alutsista teknologi tinggi ini akan berlanjut terus tentu diawali dengan perundingan soal-soal teknis. Indonesia akan segera mengirim kembali seratusan insinyur proyek jet tempur IF21 ke Korsel setelah sebelumnya pulang di awal pandemi Covid19.
Proyek Nagapasa batch 2 untuk membangun kapal selam keempat, kelima dan keenam bernilai US$ 1,2 milyar bisa dilanjutkan, apalagi sebenarnya kontrak awal "U209-1400 Project" ini sudah diteken tahun 2019. Dan kontrak selanjutnya adalah kontrak efektif untuk memulai pembangunan kapal selam keempat tentu setelah membayar down payment. Kita apresiasi keteguhan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo untuk tetap istiqomah melanjutkan kedua proyek hebat ini. Lima enam tahun ke depan kita akan terus melangkah menuju pencapaian hasil yang insyaAllah membanggakan. Semoga.
****
Jagarin Pane / 18 April 2021
Saturday, April 10, 2021
Adrenalin April
Saturday, April 3, 2021
Jakarta Bermain Cerdik
Inilah manfaatnya menempatkan orang yang sesuai kompetensinya. Ketika melakukan kunjungan simetris sekaligus ke Jepang beberapa hari lalu, keduanya memperlihatkan kualitas diplomasi dan pertahanan yang cemerlang. Kunjungan Menlu Retno Marsudi dan Menhan Prabowo Subianto ke Tokyo memperlihatkan cerdik dan lugasnya Jakarta mengambil peran keseimbangan kawasan Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan (LCS).
Meski selalu ingin ditarik dari jalur netral untuk ikut blok QUAD (Quadrilateral Security Dialogue-Dialog keamanan segi empat) namun Indonesia punya cara sendiri dan ingin berjalan sendiri di tengah riuh rendah dan hiruk pikuk LCS. Amerika Serikat dengan kepiawaiannya berhasil merangkul India untuk ikut bersama dia dan sekutunya Australia dan Jepang membentuk persekutuan "bulan sabit". Secara geostrategis dan geopolitik aliansi ini mengurung China dari tiga penjuru mata angin kecuali Utara. Persis bulan sabit.
Hasil gemilang yang diperoleh dalam perjamuan "2 plus 2", Menlu dan Menhan RI dengan Menlu dan Menhan Jepang adalah terbukanya ruang besar untuk mendapatkan 8 kapal perang fregat siluman Mogami Class teknologi terkini dari Jepang. Ini merupakan peralihan kiblat yang mencengangkan produsen alutsista strategis dunia karena selama ini kiblat kapal perang striking force Indonesia berasal dari Belanda, Inggris, Jerman, Perancis dan Denmark. Pokoknya Eropa banget.
Dari Belanda kita memperoleh 4 KRI Sigma Diponegoro Class dan 2 KRI Sigma PKR 10514 Martadinata Class. Dari Inggris kita mendapatkan 3 KRI Bung Tomo Class, kemudian dari Jerman kita baru saja pesan 2 KRI pemburu ranjau Frankestein Class. Sementara dari Perancis kita mendapatkan 2 KRI intelijen bawah air Rigel Class. Terakhir dari Denmark kita memesan 2 KRI Iver Class. Ini hanya untuk pengadaan kapal perang edisi terkini, belum secara historis. Misalnya pengadaan 39 kapal perang bekas dari Jerman atau 6 kapal perang fregat Ahmad Yani Class, 3 Fatahillah Class dari Belanda dan 2 kapal selam Cakra Class dari Jerman.
Rencana pengadaan 8 kapal perang teknologi tinggi dari Jepang merupakan lompatan luar biasa bagi Indonesia. Bahkan kapal yang hendak kita beli itu untuk Angkatan Laut Jepang saja baru jadi 2 unit dari rencana pengadaan 32 unit. Perubahan cara pandang Indonesia dengan melihat Jepang sebagai mitra strategis sekaligus saudara tua yang santun dan tak punya cacat hubungan diplomatik, tanpa harus bergabung dengan QUAD, adalah strategi Kemenlu dan Kemenhan yang patut diacungi jempol. Statemen bersama Menlu Jepang dan Indonesia jelas menyindir Beijing yang bermain kasar dan tidak tahu tatakrama dan etika pergaulan internasional. Mau menang sendiri.
Diplomasi militer yang dipertunjukkan Jakarta dan Tokyo ingin mengingatkan China secara tegas dan lugas, meski China merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia dan Jepang, namun jika China melakukan perubahan ekstrim dari status quo yang berlaku saat ini di LCS akan dilawan semua negara yang berkonflik dengannya secara militer. Istilah kunonya Raden Mas Said alias Mangkunegoro I berlaku disini: tiji tibeh, mati satu mati semua. Wani po ora.
Maka rencana pembelian 8 kapal perang fregat dari Jepang adalah diplomasi militer cerdas yang dimainkan Jakarta. Ini menunjukkan betapa Indonesia bisa memilih mitra strategis yang juga punya masalah maritim dengan China. Kita ingin menyampaikan pesan kuat bahwa pembelian 8 kapal perang sekaligus itu adalah isyarat militer yang tegas untuk pihak sono. Sesuai rencana kita akan membeli 4 kapal perang yang juga dikenal dengan istilah populer 30FFM yang dibuat di Jepang dan 4 unit yang lain dibuat di galangan kapal Indonesia.
Indonesia punya hubungan baik dengan semua penghuni Indo Pasifik. Dengan Beijing, Tokyo, Canberra, Washington dan New Delhi bangunan kemitraan kita setara. Kerjasama ekonomi dengan lima negara yang juga anggota grup elite dunia G20 ini berjalan lancar, meningkat dan akrab. Di G20 Indonesia menduduki ranking 14 besar kekuatan ekonomi dunia yang dikenal dengan PDB ( Produk Domestik Bruto). Demikian juga hubungan bilateral kita dengan Korsel dan Korut, baik-baik saja.
Situasi yang normal meski masih ditengah wabah Covid 19 mestinya jangan diusik dengan keangkuhan militer. Seperti pengesahan Undang-Undang Maritim China yang boleh menembak kapal asing yang masuk wilayah yang diklaimnya. Pengerahan dua ratusan kapal nelayan milisi China ke ZEE Filipina dengan dukungan kapal perang sudah tidak bisa lagi menakut-nakuti Filipina. Meski saat ini sesama negara ASEAN melawan dengan cara dan kekuatan sendiri-sendiri tidak menutup kemungkinan di suatu saat bersatu sikap melawan keangkuhan militer China. Bersama dengan QUAD bisa jadi ini awal dari game over peradaban kehidupan di bumi bulat bundar ini.
****
Jagarin Pane / 3 April 2021
Friday, March 26, 2021
Alugoro Menepis Spekulasi
KRI Alugoro 405 resmi diserahterimakan di galangan kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 17 Maret 2021 yang lalu. Pada seremoni itu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan lantang berkata bahwa dalam lima tahun depan kita harus bisa membuat kapal selam secara utuh termasuk desainnya. Seremoni dan kalimat Prabowo yang terang benderang itu menepis berbagai tudingan dan spekulasi selama ini. Berbagai menu "adonan" informasi, disinformasi dan opini diramu untuk melemahkan prestasi dan prestise pencapaian kerjasama alih teknologi pembangunan 3 kapal selam PT PAL dengan DSME (Daewoo Shipbuilding Maritime Engineering) Korsel.
Kita selalu menyuarakan second opinion spirit konsistensi dalam pembangunan Nagapasa Project ini yang sudah berlangsung sepuluh tahun dan telah menghasilkan tiga kapal selam produksi alih teknologi. Kakak kelas Alugoro 405 yang sudah duluan operasional adalah KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kedua kapal selam ini dibuat di Korsel dengan seratusan insinyur Indonesia ikut kuliah transfer teknologi. Sedangkan KRI Alugoro 405 dibuat di PT PAL Surabaya dengan supervisi insinyur Korsel. Artinya insinyur kita sudah banyak mengambil peran. Bukankah ini sebuah prestasi dan prestise.
Suara lantang Prabowo di acara serah terima kapal selam "Changbogo Reborn" ini membuka peluang yang memang sudah terbuka bahwa Nagapasa jilid 2 akan berlanjut untuk membangun kapal selam ke empat, lima dan enam selama lima tahun ke depan. Mengapa disebut sudah terbuka karena memang sudah ada kontrak awal yang ditandatangani antara Indonesia dan Korsel tahun 2019. Tidak lama kemudian selama kurun waktu itu riuh rendah pasar informasi dan opini memeriahkan kampanye miring soal ketangguhan Nagapasa Class. Menggiring opini agar serial Nagapasa episode kedua tidak ditayangkan lagi. Meskipun begitu PT PAL tetap "tawaddu", rendah hati dan tak ikut membela diri.
Selama dua tahun ini pula kita ikut meramaikan pasar opini Nagapasa Class. Setidaknya ada enam tulisan yang kita publikasikan agar pengambil keputusan tetap istiqomah mendapat ilmu mahal transfer teknologi pembuatan kapal selam dari Korsel (sila buka www.analisisalutsista.blogspot.com ). Jangan mudah pindah ke lain hati, ke yang lebih sexy hanya karena lirikan sinar mata indah dari gadis manis berwajah komisi. Tinggal selangkah lagi atau setidaknya lima enam tahun ke depan kita sudah lulus sekolah transfer teknologi pembuatan kapal selam. Sebuah lompatan yang luar biasa.
Indonesia saat ini memiliki 5 kapal selam yang nota bene satu perguruan. Dua kapal selam "Cakra Class" produksi tahun 1980 buatan Jerman dari jenis U209-1200. Sementara Korsel berguru pada Jerman untuk mendapatkan teknologi U209. Nah 3 kapal selam Nagapasa Class yang baru selesai dibangun ini adalah U209-1400. Sementara target yang diinginkan dalam satu dekade ini adalah memiliki 12 kapal selam. Maka seandainya Nagapasa jilid dua sukses membangun 3 kapal selam maka kita punya 8 kapal selam. Masih tersedia peluang untuk pengadaan 4 kapal selam canggih yang selama ini dikampanyekan dan digadang-gadang dari Jerman atau Perancis. Artinya selesaikan dulu kuliah di Nagapasa College baru kemudian tumpahkan hasrat yang menggebu untuk memeluk Scorpene Perancis atau U214 Jerman.
Payung pelindung program pembuatan kapal selam ini dari awal sudah sangat kuat. Diawali dengan Presiden SBY dan Presiden Korsel untuk Nagapasa Batch satu tahun 2011 kemudian dilanjut dengan Presiden Jokowi dan Korsel-1 untuk Batch dua tahun 2019. Bahkan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae-in sudah saling berkunjung satu sama lain dalam waktu berdekatan menjelang tandatangan kontrak awal Nagapasa episode kedua. Bukankah ini sebuah isyarat yang kuat untuk tetap melanjutkan pembangunan 3 kapal selam di batch kedua ini.
Penguasaan teknologi kapal selam adalah barang mewah dan merupakan gengsi kelas tinggi sebuah negara. Korea Selatan sudah membuka diri untuk berbagi teknologi strategis. Jarang ada negara yang bermurah hati membagi teknologi alutsista bawah air yang gahar ini. Insinyur kita sudah sepuluh tahun kuliah di DSME, kemudian meningkat menjadi "asisten dosen" di Fakultas Alugoro. Begitu seterusnya sampai di kapal selam ke enam nantinya diniscayakan sudah mampu menjadi "dosen" yang menguasai teknologi pembuatan kapal selam.
Tentu ini tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara yang sudah puluhan tahun menjadi produsen pembuatan kapal selam teknologi canggih. Kita adalah pemula dan tidak pantas disandingkan dengan Jerman, Perancis atau Rusia. Tetapi kita harus memulainya. Dan sudah kita mulai. Bersamaan dengan itu industri pertahanan kita saat ini sudah bisa membuat berbagai jenis alutsista. Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, bom, berbagai jenis kapal perang seperti KPC, KCR, LST, LPD. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan diharapkan industri pertahanan kita sudah bisa membuat alutsista strategis dan gerun berupa kapal perang jenis korvet, fregat, kapal selam dan bahkan jet tempur. Semua ada di depan mata, maka ketika ada sinar mata indah yang menyapa lembut tetaplah tersenyum dan teguh hati serta menjawab mesra: jangan sekarang.
****
Jagarin Pane / 25 Maret 2021
Wednesday, March 17, 2021
Bukan Soal Natuna Semata
Monday, March 8, 2021
Membangun Perspektif Horizon
Percepatan realisasi pengadaan alutsista strategis sesungguhnya adalah yang terpenting daripada menampilkan segerobak rencana belanja. Termasuk membangun perspektif horizon menguasai teknologi alutsista di masa depan. Ada kesan dengan daftar shopping yang segudang, banyak maunya. Prioritas untuk mendatangkan minimal 6 jet tempur F15 Ex tahun ini apakah bisa direalisir, itu pertanyaan besarnya. Belum lagi persoalan sudah ditandatanganinya kontrak awal pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang tidak bisa begitu saja diabaikan apalagi dibatalkan.
Soal lanjutan kerjasama pengembangan jet tempur KFX/IFX dan kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo, dua-duanya dengan Korsel, menjadi sebuah catatan tinta tebal non istiqomah alias inkonsistensi dalam menjalankan dan meneruskan proyek teknologi tinggi alutsista strategis. Padahal perjalanan kerjasama itu sudah berada di duapertiganya, sepertiga lagi akan menghasilkan karya monumental. Pertanyaannya kenapa harus berencana menarik diri. Bukankah ketidaksamaan persepsi dan perspektif bisa dirundingkan di koridor itu. Mengapa justru ingin memutus nilai strategisnya.
Tiga kapal selam yang dibuat pada proyek batch 1 Nagapasa Class sudah jadi. Dua diantaranya KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional. Sementara KRI Alugoro 405 menunggu seremoni peresmian. Artinya untuk dua kapal selam terdahulu tidak ada kendala teknis dong karena sudah ada berita acara penerimaannya. Lalu mengapa belakangan di kemudian hari bersuara tidak puas atau tidak sesuai dan mengapa harus diterima kalau tidak puas atau tidak sesuai.
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang tersaji di ruang diskusi forum militer. Sehingga ujung-ujungnya ada kalimat klise yang berbunyi: ganti menteri ganti selera. Bukankah kontrak awal batch 2 Nagapasa Class sudah ditandatangani dan bahkan Presiden Jokowi sudah berkunjung ke Korsel sebelumnya. Demikian juga sebaliknya Presiden Korsel berkunjung ke Indonesia. Sebuah isyarat payung yang kuat untuk meneruskan Nagapasa Batch 2. Artinya everything is ok, atau everything will be ok meminjam ungkapan pejuang demokrasi remaja Myanmar Kyal Sin yang ditembak mati junta militer.
Demikian juga dengan proyek jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX. Dengan alasan sangat teknis, kita lalu tidak melanjutkan iuran yang sudah disepakati, alias mogok bayar "SPP". Padahal bulan April nanti jet tempur KFX akan dipertunjukkan ke publik purwa rupanya di Korsel. Seperti diketahui Indonesia dalam perjanjian ini mendapat porsi 20% dari pembiayaan pengembangan jet tempur. Porsi Indonesia bernilai US$ 1,51 Milyar, sudah dibayar US$ 201,4 juta sampai Januari 2019. Setelah itu emoh bayar karena alasan teknis.
Dua kerjasama teknologi persenjataan strategis yang mogok di duapertiga perjalanan ini memunculkan dugaan lain. Jangan-jangan ada pihak yang tidak suka dengan program teknologi tinggi alutsista bergengsi ini. Pencapaian besarnya kelak dianggap bisa membuat kawasan tersaingi. Bisa saja kan. Bisa dibayangkan lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi jet tempur dan kapal selam. Juga teknologi kapal fregat, peluru kendali, roket, tank, panser. Luar biasa pencapaian itu.
Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, kapal perang jenis KPC, KCR, LST, LPD. Kapal fregat segera menyusul kemudian kapal selam dan jet tempur. Tentu ini sebuah prestasi yang membanggakan. Seandainya proyek alih teknologi kapal selam dan pengembangan jet tempur jalan terus maka sempurnalah industri pertahanan kita. Itu sebabnya "perselisihan teknis" yang terjadi di dua proyek alutsista dengan Korsel bisa disikapi dengan perspektif horizon"lima repelita" alias duapuluh lima tahun. Bukan "satu repelita" tok alias satu jabatan menteri.
Untuk kebutuhan mendesak sah-sah saja mendatangkan jet tempur F15 Ex atau Rafale. Atau menambah kapal selam dari negara lain. Tapi untuk "lima repelita" monggo dilanjut proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class. Toh seleksi alam akan terjadi dengan pensiunnya 24 jet tempur Hawk atau bahkan 16 jet tempur Sukhoi yang umurnya relatif pendek. Juga 2 kapal selam "Cakra Class" yang saat ini sudah berusia 40 tahun.
Kebanggaan kita soal pertahanan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehebatan industri pertahanan yang kita miliki. Dan itu sebenarnya sudah di depan mata jika kita mampu membangun perspektif horizon, perspektif membangun kebanggaan pertahanan negara. Oleh sebab itu mari kita kumandangkan selalu lagu istiqomah bin konsistensi dalam bingkai perspektif, membangun kewibawaan pertahanan negara berdaulat.
****
Jagarin Pane / 6 Maret 2021
Thursday, February 18, 2021
Langkah Kuda Prabowo
Menteri Pertahanan Prabowo sejauh ini bisa disebut menang dalam strategi percaturan untuk mendapatkan alutsista dan green light dari AS. Cerita dimulai dari langkah UU Caatsa AS yang "menjegal" perolehan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Ini membuat perkuatan skadron tempur TNI AU jalan ditempat. Skadron 14 pengganti F5E yang sudah dibangunkan home basenya di Iswahyudi AFB terlalu lama sunyi. Sehingga dipinjamkan dulu 3 unit Sukhoi SU27 dari Skadron 11 Hasanudin AFB supaya pilotnya tidak menganggur. Ternyata yang ditunggu tidak kunjung datang.
Prabowo sesungguhnya dongkol kuadrat alias kecewa berat. Yang pertama soal Caatsa ini. Seharusnya fighter tangguh SU35 sudah hadir menggemuruhkan langit nusantara. Namun diblokade AS yang mengenakan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Dan yang paling membuat dia kecewa adalah blokade perjalanan dirinya ke AS yang sudah berjalan belasan tahun. Logika cerdasnya begini : sudah tidak boleh bertransaksi SU35, tidak pula boleh berkunjung ke AS tapi kok disuruh beli F16 Viper.
Jendral tempur ini kemudian bergerak cepat sejak dilantik jadi Menhan. Rencana Indonesia untuk membeli 36 jet tempur F16 Viper made in Paman Sam dia padamkan. Dengan alasan butuh jet tempur siap pakai dan two engine untuk menutup gap isian skadron 14 Iswahyudi, Prabowo berniat kuat untuk mendatangkan 15 jet tempur Typhoon Austria bekas pakai tapi jarang dipakai. Lalu dengan Perancis dia membuat perjanjian awal untuk pengadaan sejumlah jet tempur Rafale dan kapal selam Scorpene.
Ini langkah kuda yang cemerlang. AS terperangah dan harus mengakui kalah langkah. Kartu mati AS ada di Laut China Selatan (LCS) yang mengharuskan dia cari "bolo" untuk menghadapi lidah naga China yang menyembur di nine dash line. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang dominan di ASEAN mengharuskan AS merangkul Indonesia memperkuat "persekutuan" versi dia. Aliran logistik militer jika terjadi konflik terbuka dengan China di LCS pasti akan melewati ruang udara Indonesia, juga ALKI 1 dan ALKI 2 yang strategis.
Pentagon akhirnya memberi lampu hijau buat Menhan kita bahkan kedatangannya disambut hangat dengan karpet merah dan meriah. Prabowo dan delegasi Kemenhan datang dengan wajah sumringah dan wibawa. Meski keinginannya untuk mendapatkan jet tempur siluman F35 belum disetujui AS karena durasi pesan datang alias daftar tunggu bisa mencapai 10 tahun. Sebagai pengganti kita diizinkan mendapatkan 15 jet tempur F15 Ex. Kita saat ini memang sedang butuh jet tempur siap saji untuk mengisi jet tempur SU35 yang gagal hadir. Manuver Prabowo mengejar Typhoon dan Rafale yang non AS sukses membuka mata hati Paman Sam yang biasanya suka mendikte.
Dari hasil Rapim TNI tanggal 16 Februari 2021 ada publikasi blue print yang menjadi program besar Kemenhan. Berbagai jenis alutsista yang akan didatangkan dari AS berupa 15 jet tempur F15 Ex, 15 pesawat angkut Hercules type J, 4 heli hibrid Osprey, 32 helikopter Blackhawk. Sementara dari Perancis sedang dipersiapkan pengadaan 36 jet tempur Rafale, 4 kapal selam Scorpene. Rincian shopping list itu bisa membuat kita yang membacanya lalu menulis komen: wow banyak banget. Tidak tanggung-tanggung memang. Matra laut saja mau dibelikan16 kapal perang fregat, 10 kapal selam, 18 KCR (Kapal Cepat Rudal), 6 KCR siluman dan lain-lain.
Dalam pandangan kita daftar belanja blue print yang spektakuler itu adalah sebuah keniscayaan. Namun durasi waktu MEF (Minimum Essential Force) TNI jilid tiga tahun 2020 sampai dengan 2024 membuat kita harus realistis. Jelas durasi itu tidak cukup untuk memenuhi shopping list Kemenhan. Termasuk juga anggarannya. Belum lagi ketok palu dari Kementerian PPN / Bappenas yang menjadi titik paling penting untuk goal proses panjang ini. Maka tercukupi 50% saja dari daftar belanja itu kita sudah sangat bersyukur. Percepatan kedatangan jet tempur F15Ex yang nantinya akan mengawal Natuna sangat diharapkan. Dari informasi yang beredar AS akan memprioritaskan kedatangan 6 jet tempur F15 Ex ke Indonesia selambat-lambatnya akhir tahun ini.
Ini sesuai dengan keinginan Prabowo bahwa Natuna harus segera dipayungi jet tempur berkualitas. Sebelum SU35 terkena Caatsa, jet tempur ini yang akan mengawal Natuna. Itu sebabnya langkah kuda Prabowo untuk mengakuisisi 15 jet tempur Typhoon dari Austria sekaligus menolak F16 Viper yang ditawarkan AS sebelum era Prabowo, adalah sebuah kemenangan langkah kuda. Marwahnya dengan permainan catur alutsista ini adalah bisa membuka pintu green light, berkunjung ke AS bahkan disambut hangat oleh Pentagon. Prestasi yang mengikuti marwahnya adalah kesediaan AS untuk menyediakan jet tempur "double gardan" F15 Ex. Hanya sedikit negara yang diberi ruang untuk memiliki jet tempur ini. Hanya sekutu dekat AS.
Apapun dinamikanya sejatinya Republik ini sangat memerlukan perkuatan alutsista militer utamanya matra laut dan udara. Halaman depan rumah kita yang bernama Natuna adalah wilayah konflik sekarang,masa depan dan jangka panjang. Ini adalah wilayah konflik yang bisa menjadi potensi besar untuk pertempuran paling mematikan di dunia. Maka "new normal" yang berlaku di Natuna ke depan adalah mempersiapkan kondisi paling mencekam dengan memperkuat armada tempur TNI AL dan skadron tempur TNI AU. Prabowo sudah dan sedang mempersiapkan semuanya dan bersamaan dengan itu dia sudah memenangkan langkah kudanya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
****
Jagarin Pane / 18 Februari 2021
Tuesday, February 9, 2021
Mewibawakan Mobilitas Kawal Laut Negeri
Thursday, January 28, 2021
Mempersoalkan Global Fire Power
Setidaknya selama tujuh tahun terakhir ini situs internasional Global Fire Power (GFP) secara rutin memberikan reportase tahunan ranking kekuatan militer konvensional dunia. Dengan sembilan indikator utama tidak termasuk indikator senjata nuklir, dan belasan sub indikator yang mendampingi dirumuskanlah pola ranking kekuatan militer dunia. Indonesia selama tujuh tahun terakhir berada di ranking 14-16 dunia. Bulan Januari 2021 ini GFP menempatkan Indonesia di urutan ke 16 besar dunia dari 138 negara, urutan ke 9 Asia dan number one in ASEAN.
Perpres No 18 tahun 2020 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2020-2024 khususnya di bidang pertahanan, memasukkan Global Fire Power Index dan Global Teroris Index sebagai salah satu target rujukan pencapaian. Artinya pemerintah Indonesia meyakini bahwa indikator yang menjadi dasar formula index secara keseluruhan memenuhi agregat perumusan obyektivitas. Lalu apa yang dipersoalkan.
Ketidakpercayaan warga forum militer (formil) di beberapa media sosial dan beberapa pengamat militer, lebih disebabkan tidak gerunnya perolehan alutsista Indonesia sampai saat ini. Baik secara kuantitas maupun kualitas. Jadi tidak pantas berada di urutan 16 besar dunia, diatas Singapura dan Australia yang punya alutsista canggih. Dengan Singapura saja secara kuantitas dan kualitas angkatan udara Indonesia masih kalah kelas dari negeri mungil itu. Singapura punya jet tempur F35, F15, F16 mencapai lebih dari 100 unit.
Tetapi publik formil lebih sering terpukau dengan kekuatan angkatan udara. Sehingga mengabaikan kekuatan matra lain. Padahal matra AL dan AD punya peran strategis dalam interoperability pertempuran. Dengan mengambil contoh Singapura sebagai pembanding, angkatan laut dan angkatan darat Indonesia secara kuantitas lebih kuat dari Singapura. Kuantitas alutsista dalam penilaian GFP adalah bagian dari sistem penilaian kekuatan militer sebuah negara.
Dalam bidang pertahanan Singapura sangat jelas menganut doktrin pre emptive strike. Karena posisi geostrategis dan geopolitik negeri itu terhimpit oleh dua jiran yang besar, Indonesia dan Malaysia. Doktrin militer seperti ini, jika terjadi konflik terbuka harus mampu menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah teritorinya. Maka diperlukan kekuatan angkatan udara yang unggul terhadap jirannya.
Australia juga menganut paham gebuk dulu sebelum masuk. Kita lihat peta Australia yang distribusi populasi terbesar hanya di New South Wales, Victoria dan South Australia. Maka Australia mengelola manajemen pertahanan dengan menempatkan jet-jet tempur canggihnya di utara benua ini yang nota bene kosong populasi penduduk. Perisai pertahanan Australia bertumpu pada kekuatan AL dan AU.
Indikator yang menjadi pijakan GFP tidak melulu soal kecanggihan alutsista tapi juga memasukkan parameter luasnya teritori, jumlah populasi penduduk, produksi bbm dan jumlah tenaga kerja. Misalnya indikator logistik militer Indonesia dengan enam sub indikator yaitu labor force, lantamal,kekuatan maritim, coverage jalan raya, coverage jalan kereta api, bandara. Seluruh potensi kekuatan indikator ini jelas mengalahkan Singapura. Belum lagi indikator man power seperti populasi jumlah penduduk, jumlah tentara aktif termasuk cadangan, kapasitas mobilisasi umum, geostrategis, sumber daya alam. Indonesia mengungguli Singapura.
Global Fire Power adalah versi dan sudut pandang. Jika tidak sepakat buatlah versi lain yang lebih meyakinkan. Sebab jika hanya membantah, menyanggah dan mempertanyakan (sekaligus meremehkan) artinya hanya sebatas debat warung kopi. Kita meyakini bahwa indikator dan sub indikator yang dibangun untuk menghasilkan index komprehensif GFP adalah fakta, bukan rekayasa. Itu sebabnya di Perpres 18/2020 index GFP menjadi salah satu target untuk pencapaian perkuatan militer disamping MEF (Minimum Essential Force) dan kontribusi industri pertahanan dalam negeri.
Target pemerintah sampai tahun 2024, Indonesia bisa masuk 10 besar kekuatan militer dunia versi GFP kita apresiasi. Namun untuk memenuhi target itu tidak hanya mengandalkan pemenuhan kuantitas. Seperti melipatgandakan pasukan cadangan melalui Komponen Cadangan. Prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan alutsista striking force berkualitas gahar. Seperti 4 skadron jet tempur, sejumlah kapal perang kelas fregat, kapal selam, UAV, radar, pesawat early warning. Kemudian memperkuat basis pertahanan udara dengan peluru kendali jarak menengah dan jarak jauh. Tidak ketinggalan menjaga selat-selat strategis dan pulau Natuna dengan peluru kendali pertahanan pantai. Lebih utama dari semua itu adalah mempersiapkan implementasi network centric warfare. Kalau itu tercapai layaklah kita berada di urutan 10 besar kekuatan militer versi GFP.
****
Jagarin Pane /28 Januari 2021
Tuesday, January 19, 2021
Cepat Guna Tepat Guna
Gerak cepat diperlihatkan TNI dalam musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya baru-baru ini di perairan gugusan kepulauan Seribu. Sangat dekat dengan pangkalan angkatan laut Armada Satu Jakarta, lokasi jatuhnya pesawat naas ini cepat dijangkau. Meski akhirnya tidak menemukan korban hidup karena dahsyatnya benturan pesawat dengan air, semuanya hancur berkeping tanpa kecuali. Respon cepat ini patut diapresiasi.
Beruntung kita sudah punya 2 kapal perang intelijen bawah air yang canggih buatan Perancis yaitu KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934. Beruntung juga kita sudah punya 2 kapal perang jenis LPD rumah sakit yaitu KRI Semarang 594 dan KRI Dr Soeharso 990. Hebatnya lagi saat ini kita sedang membangun 2 kapal perang jenis rumah sakit. Yang satu sudah diluncurkan ke air dan diberi nama KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kapal yang satu lagi masih dalam proses pembangunan. Target tiga kapal rumah sakit akan tercapai tahun depan dan KRI Semarang 594 akan dikembalikan fungsi utamanya sebagai kapal LPD angkut pasukan dan alutsista mobile.
Lebih dari itu kita punya pasukan penyelam berkualitas dan hebat dari Taifib, Denjaka, Kopaska dan Dislambair TNI AL. Dengan dukungan instrumen deteksi canggih dari KRI Rigel dan komando Operasi Militer Selain Perang (OMSP) di KRI Raden Eddy Martadinata 331, pencarian korban dan kotak hitam dapat dikelola dengan manajemen militer cepat guna dan tepat guna. Bahkan TNI AU juga mengerahkan pesawat boeing intai strategis dari Skadron Makassar dan beberapa Helikopter dari Skadron Bogor.
Sebenarnya ada puluhan KRI dari Armada Satu Jakarta dan Armada Dua Surabaya yang sedang mempersiapkan diri untuk konvoi ke Natuna. Mau show of force lah sekalian untuk memeriahkan Hari Dharma Samudra tanggal 15 Januari 2021 di pulau strategis itu. Musibah Sriwijaya mengalihkan dan membatalkan rencana keberangkatan ke Natuna. Ini sebuah keputusan cepat guna dan tepat guna dan terbukti berhasil guna.
Demikian juga dengan bencana alam di Ķalsel dan Sulbar. Sedikitnya ada 8 pesawat Hercules diberangkatkan membawa bantuan sosial untuk segera mencapai sasaran dalam waktu cepat dan tepat. Artinya manfaat untuk cepat dan tanggap darurat diperlihatkan karena kita memiliki armada Hercules yang memadai. Saat ini ada dua skadron Hercules di Jakarta dan Malang. Skadron ketiga di Makassar yang baru dibentuk sangat bermanfaat untuk bencana Sulbar, cepat guna dan tepat guna. Tidak usah mendatangkan Hercules dari Jakarta dan Malang. Saat ini KRI Dr Soeharso 990 dan beberapa KRI lainnya bahu membahu mengirim bantuan ke Sulbar lewat laut yang lebih aman.
Pengembangan kekuatan militer Indonesia salah satunya adalah untuk fungsi OMSP seperti ini, dan mampu beroperasi di tiga hotspot sekaligus yaitu Jakarta, Kalsel dan Sulbar. Kostrad dimekarkan jadi tiga Divisi dimana lokasi Divisi 3 ada di Sulawesi dan Papua. Demikian juga dengan Armada TNI AL dimekarkan jadi tiga Armada. Dan Armada 3 ada di Sorong. Marinir tidak mau ketinggalan memekarkan dirinya jadi tiga Pasmar. Markas Pasmar 3 ada di Sorong Papua Barat. TNI AU menempatkan Biak sebagai markas Koopsau 3 dan membangun skadron tempur di Kupang, Skadron Helikopter di Jayapura, skadron angkut sedang di Biak dan skadron UAV di Timika.
Sebaran kekuatan TNI di tiga matra adalah bagian dari upaya respon cepat baik untuk operasi militer perang (OMP) maupun untuk operasi militer selain perang (OMSP). Sekalian untuk mengurai pemusatan kekuatan militer di pulau Jawa. Teritori garis depan seperti Natuna, Sabang, Tarakan, Morotai, Saumlaki, Merauke, Biak, Kupang sudah dicover satuan tempur tiga matra. Meski kekuatan alutsista striking force yang menyertainya masih sangat kurang. Contohnya Armada 3 dan Pasmar 3 di Sorong kuantitas dan kualitas alutsistanya masih sederhana banget.
Hilir mudik kapal asing baik kapal niaga, kapal perang, kapal selam bahkan drone bawah air mengharuskan kita memperkuat selat strategis dan ALKI ( Alur Laut Kepulauan Indonesia). Nah di program Kemenhan tahun ini sudah terurai jelas rencana menempatkan missile coastal di selat strategis seperti selat Sunda, selat Malaka, selat Lombok, juga di pantai Natuna. Termasuk pemasangan sonar deteksi kapal selam. Kita berpandangan ini harus menjadi prioritas untuk diinstal dalam MEF jilid 3 sekarang.
Infrastruktur pangkalan militer TNI boleh disebut sudah menyebar merata di pelosok tanah air. Hanya isian alutsista mobile yang belum mencukupi seperti jumlah jet tempur, jumlah KRI, peluru kendali SAM jarak menengah dan jarak jauh, UAV, Radar dan lain-lain yang diperlukan untuk menjamin terjaganya teritori kita. Maka kita menyambut optimis program besar Kemenhan tahun ini yang sudah dipublikasikan beberapa hari yang lalu bersamaan dengan Rapim Kemenhan. Yang terbaru adalah program instalasi missile coastal di selat-selat strategis. Termasuk lanjutan pengadaan kapal perang selain Iver Class, pengadaan kapal selam, jet tempur Typhoon dan Rafale, peluru kendali Nasams2, Radar, Helikopter berbagai jenis.
Investasi pertahanan dengan membeli dan mendatangkan sejumlah alutsista canggih terbukti sangat bermanfaat dalam penanggulangan musibah. Termasuk penyebaran ragam alutsista. Pengadaan sejumlah Hercules baru dari AS adalah bagian dari upaya memperkuat skadron angkut berat yang vital. Juga pengadaan sejumlah helikopter Chinook yang terbukti berjasa dalam bencana Tsunami Aceh. Bahwa pengadaan alutsista sejatinya adalah untuk mengcover keseluruhan wilayah NKRI baik untuk mengawal teritori dan untuk operasi kemanusiaan. Semuanya untuk memenuhi kriteria respon cepat guna dan tepat guna.
****
Jagarin Pane / 19 Januari 2021
Saturday, January 2, 2021
Memahami Kebutuhan Alutsista TNI
Setahun perjalanan Prabowo memimpin Kementerian Pertahanan, gerak langkah cepatnya untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI perlu diapresiasi. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia jika dikawinkan dengan dinamika konflik kawasan membuat kita sadar diri dan tahu diri. Bahwa sejatinya pagar pengaman teritori kita belum memadai. Prabowo melihat itu dalam kacamata out of the box. Bahasa kerennya beyond visual range.
Contoh terakhir ditemukannya drone bawah air milik angkatan laut China di perairan strategis selat Makassar beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa potensi infiltrasi militer asing melalui teknologi drone dan atau kapal selam sangat jelas. Jalur ALKI 2 selat Makassar adalah kawasan ideal jalur kapal selam karena perairannya dalam. Pesawat Adam Air yang tenggelam di selat Makassar bisa ditemukan melalui kapal selam mini tanpa awak milik AS di kedalaman 8.000 meter.
Luas teritori tanah dan air negeri ini seluas Eropa. Payung pelindung teritori seluas itu hanya dikawal oleh empatpuluhan jet tempur dan tigapuluhan kapal perang striking force. Memang secara data ada 8 skadron tempur yang dimiliki TNI AU namun yang bergigi untuk berkelahi hanya 3 skadron tempur alias hanya empatpuluhan. Demikian juga dengan data kekuatan angkatan laut yang memiliki sekitar 160 KRI. Hanya seperlimanya yang berkualifikasi striking force dipimpin Martadinata Class.
Lantas mengapa baru sekarang tergopoh-gopoh sampai terengah-engah baru menyadari urgensi pemenuhan kebutuhan alutsista negeri yang masih belum sampai pada kriteria minimal. Jawabnya simpel karena pendahulunya tidak melihat dalam kacamata visi beyond visual range. Jadi ya santai mawon, tidak ada ancaman untuk kita sampai tigapuluh tahun mendatang. Wong kita itu bersahabat dengan semua. Kita gak punya musuh and gak perlu kesusu apalagi misuh-misuh.
Siapa juga yang cari musuh. Tapi bukankah sahabat dari sahabat kita berpotensi jadi musuh kita. Atau mitra besar kerjasama ekonomi kita bisa jadi musuh kita. Konflik Timur Tengah contohnya. Meski berbaju egoisme kelompok puritan konservatif yang mudah diadu domba sesungguhnya adalah hasrat menggebu untuk penguasaan sumber daya energi fosil. Lihat saja Irak dan Libya sekarang siapa yang menguasai sumber daya energi fosil disana. Jadi musuh masa depan adalah mitra kita sendiri terutama yang haus sumber daya energi limited.
Dua hot spot di teritori kita saat ini yaitu perairan Natuna dan Ambalat bisa jadi di kemudian hari bertambah. Di perairan Arafuru misalnya yang juga kaya dengan sumber daya ekonomi fosil. Menjaga wilayah dua hot spot meski dalam kondisi damai tetap memerlukan energi ekstra berupa pengerahan sejumlah KRI setiap hari dengan dukungan patroli jet tempur.
Beredarnya publikasi anggaran tahun 2021 untuk penguatan alutsista TNI tentu menggembirakan kita semua. Kita akan membeli beragam jenis alutsista disamping memodernisasi alutsista eksisting. Ada penambahan yang siginifikan untuk jet tempur, pesawat intai, helikopter, radar, kapal perang fregat, kapal selam, peluru kendali berbagai jenis, drone, tank amfibi dan lain-lain. Termasuk menyempurnakan sistem manajemen pertempuran yang dikenal dengan network centric warfare. Pertengahan bulan ini ada seremoni peresmian kapal selam dan sejumlah KRI di Surabaya.
Memahami kebutuhan alutsista TNI sama dengan memenuhi kebutuhan rasa aman kita sebagai bangsa. Termasuk juga marwah dan harga diri bangsa. Rasa aman itu seperti tidak bermakna manakala kita sedang berada dalam kondisi aman. Padahal kondisi dan garansi aman itu tercipta karena ada institusi tentara yang senantiasa mengawal republik siang malam tanpa jeda. Oleh sebab itu sangat pantas dan wajar pengawal republik dicukupi kebutuhannya dengan alutsista canggih dan berkelas.
Kekuatan alutsista TNI yang modern, berteknologi canggih, interoperability adalah nilai marwah dan harga diri republik. Kualitas dan kuantitas berbagai jenis persenjataan untuk mengawal teritori negeri kepulauan adalah model diplomasi militer. Pengerahan sejumlah KRI dengan dukungan drone dan jet tempur di Ambalat setiap hari dan selama ini, bagian dari diplomasi militer. Dampaknya telah menihilkan infiltrasi dan manuver militer jiran disana. Bandingkan dengan keadaan sepuluh tahun yang lalu.
Maka pemenuhan kebutuhan alutsista TNI utamanya angkatan laut dan udara adalah capital gain dalam investasi pertahanan negeri. Bukan belanja sia-sia, bukan pula sebagai kebutuhan nomor dua. Belanja alutsista adalah untuk eksistensi negeri dan akan berguna selama bertahun-tahun. Selama waktu itu pula ada garansi rasa aman dan sekaligus rasa bangga memiliki alutsista canggih dan berkualitas. Dan bagi negara lain kekuatan militer dan alutsista kita menjadi penggentar untuk berlaku tidak pantas. Jadi bukan untuk perang semata tetapi bisa menjadi formula untuk mencegah perang atau konflik. Selamat tahun baru 2021.
****
Jagarin Pane / 02 Januari 2021
Wednesday, December 23, 2020
Cerdas Menyikapi Dan Harus Dihadapi
Catatan perjalanan politik luar negeri Indonesia ke depan dan diplomasi militer yang menyertainya adalah cepat mengantisipasi dan cerdas memilih. AS telah menyatakan sikap tegas, jelas dan terang-terangan bahwa musuh utama jangka panjangnya adalah China. Arah strategi militernya adalah menuju head to head dengan China. Palagannya adalah Laut China Selatan (LCS). Palagan itu ada di depan halaman rumah kita. Sudah kuatkah pagar halaman rumah kita?
Persoalan di LCS bisa berimplikasi luas karena lawan tandingnya tidak tanggung-tanggung, si naga perkasa China. Timur Tengah seruwet apa pun persoalannya masih bisa terukur titik didih konfliknya. Tapi untuk LCS panasnya konflik bisa membuat semuanya game over. Bayangkan saja, begitu tegangnya suasana di lapangan antar dua armada gajah, bisa saja prajurit salah mendeteksi, salah pencet tombol, lalu meluncur peluru kendali balistik. Pihak yang disasar mendeteksi kemudian balas meluncurkan rudal. Perang terbuka bisa terjadi karena salah pencet tombol. Apalagi kalau yang diluncurkan rudal nuklir. Duh Gusti.
Itu sebabnya Menhan Prabowo bergeliat dan bergerak cepat. Dia lihat alutsista matra laut dan udara kita tidak sepadan dengan luasnya teritori dan panasnya konflik LCS. Harus ada tambahan berlipat untuk alutsista laut dan udara agar setidaknya sedikit bisa mengimbangi dan tidak kalah gertak. Kapal perang jenis fregat dan destroyer serta kapal selam senyap adalah kebutuhan alutsista yang harus segera ada. Termasuk puluhan jet tempur double enjine beserta ragam persenjataannya. Harus ada dan secepatnya.
AS sudah membidik Indo Pasifik, membidik China sebagai musuh jangka panjangnya. Di lokasi yang sama juga ada konflik semenanjung Korea dan Taiwan. Pergeseran kekuatan militernya sedang dilakukan. Perlahan tapi pasti Timur Tengah mulai ditinggalkan. Cerdiknya lagi AS berhasil melunakkan sikap negara-negara Arab untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tercatat UEA, Bahrain, Sudan dan Marokko selama empat bulan terakhir ini sudah berdamai dengan musuh lahir bathinnya. Diprediksi Arab Saudi dan Oman menyusul. Dinamika permusuhan di Timur Tengah saat ini merubah peta konflik dari Arab-Israel ke Arab-Iran. Israel juga musuh utama Iran.
Jadi pusat konflik sekarang dan masa depan adalah Indo Pasifik utamanya LCS. Dan teritori kita di perairan Natuna bersinggungan dengan pusat konflik. Sudah siapkah kita. Jawabnya belum. Ujian diplomatik kita akan terus diuji dengan sindiran dan gertakan salah satu pihak. Kalau diplomat dan pejabat AS yang tandang ke Jakarta, pihak sono muring-muring dan menyindir. Demikian juga jika Beijing mengirim delegasi diplomasi, Washington mengingatkan pentingnya fungsi kemitraan.
Kemenlu harus bermain siasat cerdik, harus pintar berkomunikasi dengan kedua belah pihak yang berseteru. Ketika kita menolak landing take off pesawat pengintai strategis AS Poseidon di seluruh Lanud kita, China bersorak dan memuji Indonesia. Sebaliknya ketika Menlu dan Menhan AS ke Jakarta dalam waktu berdekatan, Beijing merepet soal kebersamaan ASEAN yang tidak perlu dicampuri negara yang jauh dari kawasan damai ini. Penting menjaga bandul tetap seimbang agar kita tidak terjebak oleh percaturan hegemoni dan penantang hegemoni. Tapi soal kita memperkuat garda nasional China tidak ambil pusing, sebaliknya AS sangat mengharapkan perkuatan militer kita.
Soal perairan Natuna, area tumpang tindih ada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) nya. Indonesia berpendapat tidak ada titik singgung di ZEE Natuna. ZEE Indonesia sah dan diakui oleh hukum laut internasional. Sementara klaim China di LCS tidak diakui dunia. Datangnya rombongan kapal Coast Guard China area bermainnya di sektor tumpang tindih itu. Bukan di seluruh perairan Laut Natuna Utara. Artinya kita harus menyikapi segmen potensi konflik ini dengan proporsional. China tidak mengusik ZEE kita di Anambas, justru dengan Vietnam kita masih berselisih soal batasnya. Jelasnya biarlah AS yang menjadi tameng LCS karena dialah yang mampu mengerem ambisi teritori China.
Meskipun begitu kita harus bergerak cepat untuk memperkuat pagar teritori. ALKI 1 dan ALKI 2 diprediksi akan menjadi jalur ramai lintas laut militer AS dan Australia. Apalagi jika pangkalan Armada 1 AS yang mau dibentuk berada di Singapura. Wah rame dong. Singapura ikut terlindungi. TNI AL tentu harus terus bersiaga baik di jalur ALKI maupun Natuna. Kekuatan armada KRI mau tidak mau harus ditingkatkan dengan sejumlah kapal fregat dan destroyer secepatnya. Beruntunglah Iver Class sudah final menuju kontraknya, semoga bisa dibuat secara paralel dan serentak selesai.
Sudah saatnya kita bergerak cepat dan lugas. Angkatan Laut dan Angkatan Udara patut mendapat pembaharuan alutsista. Sejumlah kapal perang kelas fregat sedang disiapkan. Selain Iver Class kelanjutan PKR 10514 batch 2 Martadinata Class sedang berproses. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Raja Belanda Willem Alexander bulan Maret lalu sudah memperjelas arahnya. Fokus saja dulu pada 2 Iver Class dan 2 Martadinata Class. Kemudian untuk matra udara jet tempur Typhoon bisa jadi prioritas utama dilanjut Rafale dan atau F15. Setidaknya itulah harapan kita sepanjang MEF jilid tiga ini sampai tahun 2024. Realistis kan.
****
Jagarin Pane / 23 Desember 2020