Saturday, October 15, 2016

Harapan Cerah Menuju Anggaran Berbasis PDB

Barusan kita sudah menyaksikan unjuk kekuatan jet-jet tempur kita di Natuna. Bulan Oktober ini dan dua bulan ke depan kita masih akan terus menyaksikan latihan militer dua matra lainnya yaitu TNI AL dan TNI AD di pulau terdepan Laut Cina Selatan. Pergerakan sejumlah alutsista itu dan setiap ada raungan dan dentuman amunisi pastilah sejumlah milyaran rupiah musnah bersama raungan dan dentuman itu.

Ini bukanlah perbuatan atau perilaku sia-sia karena ini justru adalah adrenalin bernegara dan berbangsa.  Bangsa  dan negara manapun di dunia ini pasti akan melakukan uji adrenalin, uji kemarahan karena di setiap dentuman yang menghabiskan milyaran duit itu ada suasana kebanggaan terhadap sebuah eksistensi bernegara.  Militer itu adalah adrenalin negara, jadi raungan dan dentuman itu adalah keniscayaan yang mempertontonkan ketangguhan, kehebatan dan keperkasaan.
Kesiapsiagaan di pangkalan TNI AL Surabaya
Bagaimana agar kehebatan dan ketangguhan itu bisa diperlihatkan dengan lebih spektakuler lagi, tentu dengan kucuran anggaran pertahanan yang lebih besar dan terbesar. Persoalan pertahanan, persoalan kewibawaan teritori tidak bisa dikaitkan dengan kondisi ekonomi dalam hubungan sebab akibat. Pertahanan teritori adalah harga diri dan harga mati yang harus terus diupayakan mendapatkan prioritas anggaran tuntutan jaman.

Meski kita sudah dan sedang dalam proses modernisasi militer, kebutuhan untuk mengawal dan mewibawakan teritori dari ancaman yang sudah di depan mata perlu kecepatan dan percepatan. Pemenuhan cepat terhadap  tambahan 2 skuadron jet tempur dan belasan kapal perang striking force bukanlah keinginan tetapi kebutuhan. Sebagaimana beberapa tulisan kita terdahulu bahwa Kupang perlu penempatan minimal 4 jet tempur bersama Natuna dan Tarakan, akhirnya terjawab.
Ada kabar baik soal penambahan anggaran pertahanan. Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan bersama Komisi I DPR bersepakat mencarikan cara untuk penambahan anggaran pertahanan tahun 2017. Presiden Jokowi sudah berkomitmen bahwa anggaran pertahanan diupayakan sebesar 1,5 % dari PDB kita. Itu artinya anggaran pertahanan kita bisa mencapai 250 trilyun pertahun.

Tentu tahun depan tidak perlu mimpi terlalu jauh.  Mencapai angka di kisaran 120-125 trilyun rupiah saja patut disyukuri karena itu berarti sudah ada peningkatan yang cukup menggembirakan. Yang lebih menggembirakan tentu adanya kesepakatan tiga saudara sebangsa itu (DPR, Menkeu,Menhan) untuk lebih memprioritaskan penyediaan anggaran pertahanan republik sebagai tulang punggung eksistensi ber NKRI.

Menkeu hari-hari belakangan ini terlihat lebih sumringah terutama adanya pencapaian yang menggembirakan soal Tax Amnesty.  Ruang fiskal mulai terasa sejuk bersama tobatnya anak bangsa untuk memarkir dananya di tanah air sendiri.  IHSG dan rupiah menunjukkan trend menggembirakan dan situasi ini akan sangat membantu membangun persepsi APBN tahun depan.

F16 di Pekanbaru AFB
Tahun depan diprediksi akan ada penambahan alutsista baru seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, radar, tank, artileri, peluru kendali jarak sedang, UAV, tank amfibi.  Disamping itu ada program instalasi radar dan rudal jet T50 golden eagle, pembangunan pangkalan militer besar di Natuna, alokasi penempatan 1 flight jet tempur di Kupang, Natuna, Tarakan. Semua program itu bersama dengan latihan gabungan TNI memerlukan anggaran besar.

Kita optimis dengan program MEF (Minimum Essential Force)yang sedang memasuki tahap II ini. Ada konsistensi meneruskan program MEF dari pemerintahan sebelumnya disamping karena memang banyak kewajiban pembayaran alutsista pesanan rezim sebelumnya yang harus dilunasi pemerintahan eksiting.  Pesanan alutsista baru untuk pemerintahan sekarang baru akan terlihat tahun 2017 dan seterusnya bersamaan berkurangnya pembayaran multy years pengadaan alutsista sebelumnya.

Pembangunan kekuatan militer dengan situasi dan kondisi lingkungan yang mudah demam merupakan kewajiban mutlak.  Apalagi jika melihat sejarah ambisi klaim dan haus teritori negara pemilik nine dash line yang keras kepala dan susah diajak senyum.  Kita perkuat militer kita untuk memastikan rasa aman rakyat kita di perbatasan. Kita perkuat alutsista kita untuk memastikan teritori kita tidak dilecehkan negara lain.

Jaminan perkuatan itu ada di anggarannya. Jadi kita menyambut gembira adanya kekompakan eksekutif dan legislatif untuk menyediakan anggaran pertahanan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.  Tetapi harus juga diingat kalimat terang benderang Presiden Jokowi baru-baru ini untuk perkuatan alutsista : beli sesuai kebutuhan bukan keinginan.  Untuk yang terakhir ini, ujiannya ada di jajaran Kementerian Pertahanan bersama para Jenderal TNI.  Kita lihat saja dan semoga amanah, istiqomah dan fathonah.
****

Jagarin Pane / 15 Oktober 2016

Saturday, October 8, 2016

Natuna, Menuju Pertahanan Sarang Lebah

Ada dua catatan dalam mengamati gelar unjuk kekuatan angkatan udara Indonesia di Natuna dan Laut Cina Selatan (LCS) tanggal 5-6 Oktober yang lalu.  Pertama lokasi latihan di Natuna tidak direncanakan melainkan perintah langsung Presiden Jokowi hanya sepuluh hari sebelum hari H nya.  Kedua keseriusan pemerintah membangun pangkalan militer trimatra di pulau terluar LCS itu bukan lagi angan-angan.

Latihan Angkasa Yudha (pertempuran udara) tahun ini sebenarnya akan dilakukan di Belitong tetapi ketika hajat itu mendekati hari pertunjukan keluar perintah langsung dari Presiden Jokowi agar lokasi dipindah ke Natuna. Maka hanya dalam hitungan hari alutsista-alutsista mahal TNI AU harus di relokasi ke titik tumpu Natuna. Nilai tambah dari relokasi mendadak ini adalah semakin mendekati situasi yang sebenarnya utamanya jika ada kondisi emergency di Natuna.

Maka kita pun bisa menyaksikan kehebatan kombinasi 48 jet tempur Indonesia yang dikerahkan pada latihan itu membombardir sasaran di laut, melakukan pertempuran udara, menangkis serangan udara dan penerjunan pasukan pemukul Paskhas. Prosesi unjuk kekuatan tentara langit Indonesia itu disaksikan Presiden Jokowi dan sejumlah menteri dan disiarluaskan oleh sejumlah media internasional termasuk Al Jazeera.

Presiden Jokowi di Natuna
Dalam kacamata intelijen militer sangat dimungkinkan latihan tentara langit Indonesia dipantau serius oleh militer Cina, termasuk mengerahkan kapal selam dan UAV. Juga konvoi kapal perang lima negara FPDA (Five Power Defence Arrangements)yang sedang memulai latihan perang laut di LCS. Mereka adalah Malaysia, Singapura, Australia, Selandia Baru dan Inggris selama dua minggu ke depan menguji komitmen persekutuan militer mereka utamanya terhadap konflik LCS.

Natuna sedang dipersiapkan menuju pangkalan militer swalayan yang menggigit. Tiga matra TNI sedang membangun pangkalan milter terintegrasi.  Pembangunan batalyon AD, Marinir, Paskhas dilakukan serentak bersama pembangunan bunker berkapasitas 5 jet tempur dan bunker kapal selam.  Tidak hanya itu, Natuna juga sedang mempersiapkan kehadiran alutsista baru berupa peluru kendali jarak sedang, tambahan radar weibel, UAV, MLRS, helikopter serbu.  Proyek militer strategis ini berpacu dengan waktu dan diharapkan rampung tahun 2018.

Tetapi bukan berarti semuanya menunggu tahun 2018. Saat ini saja landasan pacu 2.500 m sudah jadi berikut sarana pendukung. Termasuk penempatan satuan-satuan militer dan sejumlah kapal perang. Latihan militer TNI AU bisa berlangsung spektakuler karena sarana vital yang sudah operasional. Dukungan dari Hang Nadim, Supadio, Halim dan Rusmin Nuryadin tentu berperan besar dalam operasi militer skala besar yang dilakukan angkatan udara kita.

Indonesia begitu serius mempersiapkan payung Natuna. Kabupaten vital berpenduduk 110 ribu jiwa itu dengan sejumlah kekayaaan alam yang melimpah di sekitarnya harus dipagari dengan kekuatan militer berkarakter sarang lebah. Ancaman terhadap teritori Natuna dan ZEE nya tidak main-main, sudah di depan mata.  Karena itu kita tidak mau kecolongan ruang teritori. Apalagi jika menilai karakter negeri pengklaim LCS yang haus sumber daya alam.
Suasana pemboman di pantai Natuna
Hari ini memang tidak ada klaim terhadap pulau Natuna dan jajaran pulau kecil di sekitarnya tetapi ZEE kita di utara Natuna dikatakan tumpang tindih dengan “pemilik” nine dash line.  Bisa jadi besok berubah menjadi ten dash line dengan memasukkan Natuna kedalamnya. Maka dalam pandangan kita sangat tepat waktu jika pemerintah memperkuat militer di Natuna dengan membangun pangkalan militer tri matra sekuat-kuatnya.

Indonesia sedang dalam proses memperkuat tentaranya dengan mendatangkan alutsista berbagai jenis dari luar negeri. Alutsista yang sedang dalam proses pembelian misalnya jet tempur Sukhoi SU 35.  Alutsista model kerjasama produksi yang sedang dibuat antara lain kapal perang jenis PKR 10514, kapal selam Changbogo. Alutsista buatan sendiri misalnya,  panser Anoa, panser Badak, KPC 40m, KCR 60m, LST, LPD.

Dengan komitmen dan konsistensi yang kuat maka dalam tiga tahun ke depan diniscayakan kita bisa buat sendiri tank dan kapal perang light fregat. Lima tahun ke depan kita bisa buat kapal selam dan sepuluh tahun ke depan kita bisa buat jet tempur sendiri. Ini bukan lagi angan-angan tetapi sudah didepan mata. Jadi industri pertahanan strategis sudah kita kuasai dan pemenuhan alutsista dapat dipenuhi oleh industri pertahanan kita sendiri.

Mempersiapkan Natuna sebagai pangkalan militer sarang lebah tidak lain adalah untuk menjaga kehormatan dan kewibawaan teritori NKRI. Lebah itu kalau sarangnya tidak diganggu dia tidak akan mengganggu dan akan terus memproduksi sumber daya madunya. Tapi manakala dia diganggu tentu akan berjibaku habis-habisan meski sarangnya habis dibakar. 

Natuna pun begitu karena dia milik sah NKRI kita siapkan sumber daya madunya berupa produksi sumber daya alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini. Tapi manakala ada negara lain yang menganggu apalagi ingin mencaploknya maka sengatan lebah militer Natuna akan berperan lebih awal dan menyengat kuat sebelum bala bantuan dari penjuru negeri berdatangan. Ini sesuai doktrin baru militer kita, berani masuk digebuk. Mikir !
****
Jagarin Pane / 08 Oktober 2016

Sunday, October 2, 2016

Natuna Menguji Tentara Langit

Perintah penting datang langsung dari panglima tertinggi TNI Presiden Jokowi seminggu sebelum unjuk kekuatan TNI AU di Belitong tanggal 28-29 September 2016.  Sesuai rencana sebelumnya Belitong akan “dihancurkan” oleh sedkitnya 48 jet tempur berbagai jenis yang dimiliki TNI AU lewat serangan udara bertubi-tubi selama dua hari.  Namun seminggu sebelum tanggal itu, Jokowi memerintahkan lokasi latihan tentara langit dipindah ke Natuna.

Ada apa gerangan. Dinamika kawasan Natuna menunjukkan bahwa kita perlu menampilkan apa yang kita miliki dalam sebuah keharusan yang diwajibkan secara mendadak.  Boleh jadi sebagai show of force TNI AU, bisa juga untuk membalas unjuk kekuatan di seberang laut yang dipertontonkan secara terus menerus. Atau mengobati rasa kecewa hitungan mundur peluncuran rudal Cina yang tak sesuai perintah Jokowi dalam serial latihan Armada Jaya sebelumnya.

Jet Tempur F16, jumlahnya saat ini 23 unit
Bahasa militer adalah lanjutan dari laporan intelijen. Bahasa militer yang seperti ini mungkin saja sebagai bentuk kemarahan karena disepelekan. Bisa juga karena ada yang mengatur-ngatur lewat jalur diplomasi agar di Natuna suasana diupayakan tidak banyak gerakan militer. Ini sempat dilontarkan oleh Menko Polhukam Luhut Panjaitan beberapa bulan lalu. Padahal pihak sana berpesta terus mengeluarkan jurus manuver kung fu dan pamer kekuatan.

Pemindahan lokasi latihan tentara langit secara mendadak adalah bagian dari metode simulasi yang tak direncanakan. Jadi sangat mendekati dengan kondisi sebenarnya jika memang suatu saat Natuna harus diselamatkan dari ancaman agresi militer. Bayangkan persiapan di Belitong sudah cukup matang, simulasi banker, jet tempur “ecek-ecek” dibuat bersama “fasilitas militer” yang akan dihancurkan.  Pergeseran radar mobile, alutsista canggih oerlikon skyshield, berbagai jenis peluru kendali, bom, pesawat tempur, pesawat angkut sudah disiagakan.

Manfaat dari pergeseran lokasi latihan ini adalah menguji kondisi emergency alias kondisi darurat yang tidak sesuai dengan rencana latihan yang sudah dibuat. Menguji kemampuan dan kecerdasan pemikir strategis angkatan udara kita untuk bertindak cepat tepat dalam suasana yang tidak ada dalam plot rencana.  Ini bukan pekerjaan sederhana, memindahkan alutsista mahal, koordinasi antar satuan, gerakan pasukan ke tapal batas yang hanya punya satu pangkalan AU, pemindahan amunisi dan logistik perlu kerja cerdas.

Pekanbaru, Batam, Jakarta, Pontianak adalah pangkalan angkatan udara yang berperan penting untuk latihan puncak tentara langit.  Bandara Hang Nadim menjadi pangkalan aju  untuk 7 jet tempur Sukhoi yang bermarkas di Makassar dan 10 F16 yang bermarkas di Pekanbaru. Supadio Pontianak menjadi rumah sementara bagi 8 jet latih tempur T50 Golden Eagle dan 6 Super Tucano.  Beberapa pesawat angkut Hercules, CN295 diberangkatkan ke Batam, Supadio dan Natuna.

Formasi Sukhoi dan F16 di Istana Negara Jkt
Maka mulai tanggal 03 Oktober sampai dengan tanggal 6 Oktober 2016 Natuna akan dikerumuni puluhan jet tempur lewat berbagai manuver pertempuran. Hiruk pikuk suasana pertempuran itu akan spektakuler di mata masyarakat di sana karena ini adalah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah latihan tentara langit dalam jumlah besar dikerahkan ke Natuna.  Hampir separuh kekuatan TNI AU dikerahkan dalam sebuah latihan operasi militer yang tidak direncanakan sebelumnya.

Poin penting dalam pengerahan alutsista mahal ini adalah, untuk menghadapi satu titik panas teritori kita membutuhkan kuantitas alutsista yang mencukupi dan kualitas alutsista yang canggih.  Nah jika terjadi dua titik panas dalam sebuah insiden teritori tentu distribusi alutsista tadi harus disebar. Maka berulang kali kita menyatakan bahwa jumlah jet tempur, radar dan rudal kita masih belum mencukupi.

Maka sangat wajar jika kita mengharap sign kontrak pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 segera direalisir. Jumlahnya pun mudah-mudahan tidak dicicil tetapi langsung satu skuadron lengkap dengan persenjataannya.  Jika ini terjadi maka pecahlah rekord beli alutsista jet tempur 16 biji lengkap dengan tentengannya.  Bukankah sebelumnya kita selalu beli eceran, beli 4 sukhoi kosongan, lalu nambah 6 lagi juga kosongan, beli lagi 6 biji baru ada paket rudalnya dan itu butuh waktu 12 tahun.

Tantangan berteritori kita bukan cerita fiksi tetapi kenyataan dan ada di depan mata. Jadi kalau masih ada yang sibuk bilang kita tidak punya musuh, kita bersahabat dengan semua negara, lebih baik ngurusin bencana alam yang di depan mata, maka jalan pikiran orang seperti itu adalah kacamata kuda. Mempersiapkan militer yang kuat adalah bagian dari cara menjaga perdamaian dan persahabatan. 

Militer yang kuat akan melapis kekuatan diplomasi.  Ibarat orang ngomong, kalau gerakannya gagah gemulai maka omongannya gak dianggap. Militer yang kuat adalah untuk memastikan omongan kita didengar dalam bingkai diplomasi, menjaga harkat dan martabat ber NKRI. Menguji tentara langit di Natuna adalah bagian dari pesan diplomatik itu karena bahasa militer adalah bahasa otot.  Sangat pantas kita menguji otot kita di Natuna untuk mejaga kewibawaan teritori Republik Indonesia.
****
Jagarin Pane /  02 Oktober 2016



Thursday, September 15, 2016

Bendera MEF Tujuh Tahun Berkibar, Inilah Hasilnya

Program MEF (Minimum Essential Force) digulirkan tahun 2010 dan saat ini sudah masuk tahun ke tujuh. Berikut adalah hasil karya program itu di tiga matra TNI.

Penambahan Alutsista TNI AD
·         38 unit MLRS Astros II Mk6 dari Brazil
·         37 unit Artileri Mobile Caesar Nexter dari Perancis
·         18 unit Artileri 155 mm KH 179 dari Korea Selatan
·         54 unit Artileri 105 mm KH178 dari Korea Selatan
·         103 unit Tank Leopard dari Jerman
·         50 unit Tank Marder dari Jerman
·         300 unit Panser Anoa dari PINDAD
·         22 unit Panser Tarantula dari Korea Selatan
·         10 unit Panser APC Norinco dari Cina
·         6 unit Bushmaster dari Australia
·         150 unit Tank angkut pasukan M113 dari Belgia
·         12 unit Helikopter angkut Mi17 dari Rusia
·         5 unit Helikopter serbu Mi35 dari Rusia
·         8 unit Helikopter serbu Apache dari AS
·         22 unit Helikopter Bell 412 EP kerjasama produksi AS dan PT DI
·         12 unit Helikopter Fennec kerjasama produksi Perancis dan PT DI
·         10 unit Arhanud TD2000 dari Cina
·         300 peluru kendali Starstreak dari Inggris
·         136 peluru kendali Mistral dari Inggris
·         180 rudal anti tank Javelin dari AS
·         600 rudal anti tank NLAW dari Swedia

Penambahan Alutsista TNI AL
·         3 KRI jenis Light Fregat Bung Tomo Class dari Inggris
·         2 KRI jenis PKR 10514 kerjasama Belanda dan PT PAL
·         8 KRI jenis Kapal Cepat Rudal 40 m dari galangan kapal swasta nasional
·         3 KRI jenis Kapal Cepat Rudal 60 m dari PT PAL
·         2 KRI jenis Kapal Intelijen Bawah Laut dari Perancis
·         3 KRI jenis Landing Ship Tank dari galangan kapal nasional
·         3 KRI jenis Kapal Selam Changbogo dari Korea Selatan
·         2 KRI jenis Bantu Cair Minyak dari galangan kapal nasional
·         1 KRI jenis Latih Layar dari Spanyol
·         16 KAL jenis Kapal Patroli Cepat
·         4 Pesawat patroli maritim CN 235 dari PT DI
·         4 Pesawat latih Bonanza Beechcraft dari AS
·         2 Pesawat latih Baron G58 dari AS
·         5 Helikopter Bell 412EP kerjasama produksi AS dan PT DI
·         11 Helikopter anti kapal selam Panther dari Perancis
·         8 Helikopter anti kapal permukaan dari Perancis
·         60 unit Tank Amfibi BMP3F dari Rusia
·         5 unit Panser Amfibi BTR4 dari Ukraina
·         9 unit artileri roket MLRS RM Grad dari Ceko
·         8 unit artileri roket MLRS Vampire dari Ceko
·         8 unit arhanud MLRS Norinco type 90 dari Cina
·         80 peluru kendali anti kapal C705 dari Cina
·         20 peluru kendali anti kapal C802 dari Cina
·         30 peluru kendali anti kapal Exocet dari Perancis
·         6 peluru kendali anti kapal Yakhont dari Rusia
·         90 peluru kendali QW3 marinir dari Cina

Penambahan Alutsista TNI AU
·         6 jet tempur Sukhoi SU30 dari Rusia
·         24 jet tempur F16 blok 52 Id dari AS
·         16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korea Selatan
·         16 pesawat coin Super Tucano dari Brazil
·         5 pesawat angkut berat Hercules dari Australia
·         11 pesawat angkut sedang CN295 dari Spanyol
·         24 pesawat latih KT01 Wong Bee dari Korea Selatan
·         18 pesawat latih Grob dari Jerman
·         3 pesawat patroli CN235 MPA dari PT DI
·         6 UAV Searcher dari Israel
·         12 UAV Wulung dari PT BPPT dan PT DI
·         6 Helikopter EC725 dari Perancis
·         3 Helikopter Super Puma NAS332 dari Perancis
·         8 Radar Master T dari Inggris
·         8 Arhanud Oerlikon Skyshield dari Jerman
·         Paket lengkap persenjataan rudal untuk 16 Sukhoi dari Rusia
·         Paket lengkap persenjataan rudal untuk 24 F16 dari AS
·         200 peluru kendali  Paskhas QW3 dari Cina
     ****
Jagarin Pane / 15 Sep 2016

Friday, August 26, 2016

Menjelang Latihan Armada Jaya ke 34

Angkatan Laut Indonesia dalam waktu dekat akan menggelar latihan puncak sinergi kekuatan komando utamanya untuk menguji kesiapan berbagai jenis alutsista yang dimiliki sampai saat ini. Ini adalah bagian dari kurikulum terjadwal yang berlangsung setiap tahun yang mengambil lokasi di berbagai tempat strategis Indonesia. Kali ini lokasinya di tempat yang sudah tidak asing lagi, lokasi tradisional pantura Situbondo Jawa Timur.

Setidaknya ada 35 KRI berbagai jenis yang akan ditampilkan dengan berbagai manuver tempur yang diperagakan. Termasuk uji tembak senjata strategis yang dimiliki berupa peluru kendali anti kapal C705, Exocet berbagai varian dan Torpedo. Mata kuliah tempur yang tak kalah menarik adalah operasi serbu pantai dengan mengerahkan 7000 pasukan marinir berikut dukungan berbagai jenis tank amfibi, MLRS RM Grad, Vampire dan senjata artileri berat.
KRI AJAK 653 akan menembakkan torpedonya di latihan ini
Armada Jaya adalah manuver tempur TNI AL yang bernilai kolosal karena melibatkan sejumlah persenjataan gahar dan mematikan.  Mulai dari simulasi pertempuran antar kapal permukaan dengan penembakan rudal, manuver anti kapal selam, manuver anti serangan udara, penembakan torpedo, dan puncaknya adalah serbuan pasukan marinir ke wilayah daratan dengan bantuan dentuman artileri kapal perang, dilanjut dengan tembakan tank amfibi, artileri, roket multi laras dan roket anti serangan udara.

Latihan Armada Jaya adalah komitmen istiqomah yang mesti dilakukan setiap tahun untuk memastikan kesiapan tempur setiap saat. Apalagi saat ini berbagai kapal perang baru telah mengisi armada angkatan laut, tentu harus diuji dengan sinergitas teknologi pertempuran modern. Lebih penting dari itu adalah ancaman terhadap teritori laut jelas-jelas sudah ada, contohnya Laut Cina Selatan dan Ambalat.  Jadi kesiagaan dan kesiapan TNI AL adalah faktor kunci agar jika terjadi konflik teritori kita tidak dipermalukan oleh militer negara lain.

Saat ini angkatan laut kita sedang berupaya mengembangkan kekuatan armadanya dari dua armada menjadi tiga armada tempur. Demikian juga dengan sejumlah alutsista yang sedang dalam proses pembuatan antara lain 3 kapal selam Changbogo, 2 kapal perang jenis PKR 10514, 2 kapal perang jenis LST, 1 kapal jenis latih layar pengganti Dewaruci, 3 kapal jenis KCR.  Termasuk juga pengadaan 11 helikopter anti kapal selam, 2 kapal penyapu ranjau, panser amfibi, tank amfibi, roket multi laras dan sejumlah peluru kendali.
Artileri anti serangan udara Marinir terbaru, ikut serta

Melihat luasnya teritori laut yang harus diawasi dan diwibawakan maka sudah sepantasnya kekuatan armada dikembangkan berikut infrastruktur pendukung seperti pangkalan utama, gudang arsenal, komunikasi interoperability antar kotama. Tugas berat angkatan laut ada di kesiapan dan kehadiran setiap saat memantau batas teritori. Oleh sebab itu penguatan alutsista dan pasukan marinir adalah syarat utama untuk kesiapan dan kehadiran patroli sepanjang tahun.

Jika terjadi konflik maka sesungguhnya peran TNI AL memegang posisi kunci. Dengan doktrin “berani masuk digebuk” maka organisasi tentara laut ini harus punya kekuatan gebuk di batas teritori. Dinamika Natuna telah memperlihatkan kesiapan ini dan akan terus dikembangkuatkan bersama matra udara dan darat.  Jadi perang yang dimaksud jika memang harus terjadi, adalah pertempuran laut dan pertempuran udara. Jika kedua kekuatan ini sudah dilumpuhkan musuh, maka sangat mudah mengambil kue teritori yang diinginkan lawan.

Dalam pandangan kita lebih seringlah angkatan laut melakukan latihan armadanya di lokasi batas teritori untuk menunjukkan bahwa kita biasa melakukan pertempuran modern skala besar dimanapun.  Kalau di Natuna dan Ambalat kita sudah sering lakukan latihan militer, maka tempat lain seperti Aceh, Papua, NTT, Batam, Bangka Belitung bisa dipilih karena medan tantangannya pasti berbeda. Lokasi tradisional seperti di Situbondo itu biarlah menjadi arena latihan setingkat batalyon  dan latihan bersama angkatan laut negara lain.

Misalnya latihan dilakukan di provinsi Aceh, perjalanan panjang kapal perang dan pasukan marinir akan jadi ujian logistik dan daya tahan yang menentukan termasuk kesiapsiagaan sepanjang perjalanan. Manfaat lain yang tak kalah penting adalah menunjukkan kepada warga lokal bahwa TNI selalu siap menjalankan tugas mempertahankan NKRI dimanapun lokasi hotspotnya.  Kalau Situbondo sih terlalu dekat dengan pangkalan utama Surabaya sehingga “greget tempurnya masih terlalu segar”, alias durasi hari perjalanan tempur terlalu pendek untuk ukuran armada tempur.

Meski bernama latihan tempur tetapi programnya adalah perang sesungguhnya dengan koordinasi antar satuan memakai peluru tajam, peluru kendali beneran, torpedo beneran. Maka nilai keberhasilan latihan itu bisa ditunjukkan pada akurasi tembakan, akurasi komunikasi sandi, kerahasiaan komunikasi interoperability termasuk zero insiden.  Termasuk tidak ada kapal perang dan alutsista jenis lain yang mogok dijalan atau macet persenjataannya.

Suksesnya sebuah latihan tentu akan menambah rasa percaya diri pasukan.  Tak kalah penting adalah memperkuat rasa percaya diri itu dengan alutsista baru yang berkualitas dan berteknologi terkini.  Perang modern adalah mengadu uji kehebatan, keunggulan, kecepatan dan akurasi teknologi terkini. Eksekusi  penghancuran adalah pembuktiannya. Jika alutsista berteknologi terkini  diperoleh militer kita dengan jumlah yang mencukupi ditambah dengan seringnya melakukan latihan militer, ditambah lagi dengan porsi latihan spartan yang menjadi ciri khas kehebatan militer kita, maka sesungguhnya kita telah mewibawakan eksistensi ber NKRI tanpa harus membusungkan dada.
****

Jagarin Pane / 26 Agustus 2016

Monday, August 15, 2016

Ayo Diurai Dong

Pergelaran alutsista di negeri kepulauan ini memiliki karakter tersendiri karena memerlukan alat transportasi laut dan udara dalam kapasitas besar dan banyak. TNI AL punya tugas porsi besar dalam urusan geser menggeser alutsista. Disamping bertugas menggerakkan alias menggeser sejumlah kapal perang untuk tujuan patroli dan gugus tempur laut, juga diberi wewenang memindahkan alutsista matra darat beserta prajuritnya.

Sementara untuk urusan geser menggeser pergelaran alutsista pasti yang lebih cepat adalah TNI AU. Dalam hitungan jam jet tempur atau pesawat angkut sudah berada di lokasi yang diinginkan. Pada tahun 2017 nanti bisa dipastikan semua pengiriman jet tempur F16 sudah sampai di tanah air. Demikian juga jet Golden Eagle sudah diinstal radar tempur dan rudal sehingga ada tambahan kekuatan 30 jet tempur yang ready for use.  
Uji tembak MLRS ASTROS di Pantai Kebumen, Jawa Tengah
Dengan begitu maka jumlah kekuatan Sukhoi ada 16 unit, F16 ada 33 unit, Golden Eagle ada 15 unit, F5E ada 8 unit, Hawk ada 30 unit, Super Tucano ada 15 unit.  Dengan asumsi tidak mengikutsertakan jet tempur F5E dan pesawat coin Super Tucano maka sebaran jet tempur masih cukup memadai untuk patroli wilayah perbatasan. Alokasi persebaran yang paling pantas adalah menggeser 1 flight jet tempur.

Menarik untuk diperhatikan adalah permintaan gubernur NTT baru-baru ini agar di Kupang disediakan penempatan sejumlah jet tempur secara permanen untuk mengawal perbatasan. Prediksi kita secara kuantitas permintaan itu bisa dipenuhi mulai tahun 2017. Misalnya menempatkan 1 flight F16 (4 unit) di Kupang secara permanen lewat pola ganti shift. Jadi skuadron F16 Madiun yang menjadi home basenya bisa mengirim 1 flight kesana secara bergantian. Tak kalah penting mengisi Biak AFB dengan jet tempur Golden Eagle yang juga bermarkas di Madiun.  Jadi bisa diurai, tak menumpuk di Madiun.

Sementara skuadron jet tempur Hawk di Pekanbaru secara rutin mengirim 3-4 jet tempurnya ke Aceh dan bermalam disana, bergantian sepanjang tahun.  Bisa diselingi dengan F16 yang juga bermarkas di Pekanbaru, meski kita meyakini skuadron F16 Pekanbaru berkonsentrasi penuh menjaga Natuna.  Yang jelas di Natuna harus ada secara permanen minimal 1 flight jet tempur minimal F16.  Demikan juga dengan Tarakan, skuadron Supadio harus rajin mengirim sejumlah Hawknya secara rutin, sepanjang tahun kesana. Meski tidak harus setiap hari menggeber mesinnya, yang penting siaga di apron Juata AFB.
Uji coba embarkasi debarkasi Tank Leopard di KRI Teluk Bintuni
Lalu bagaimana dengan Sukhoi.  Karena ini masalah patroli rutin sepanjang tahun di kawasan perbatasan, biarlah yang menjaga jet tempur F16, Hawk dan Golden Eagle, lebih efisien dari semua sisi. Jadi jet tempur kelas berat Sukhoi siaga di home basenya, sesekali melaksanakan patroli insidentil melalui pola-pola acak dan tak terduga di berbagai kawasan perbatasan.

Bagaimana dengan alutsista darat dan marinir yang banyak menumpuk di Jawa. Hampir seluruh alutsista yang baru dibeli ditempatkan di batalyon-batalyon yang ada di Jawa sehingga boleh di kata pulau Jawa jadi gudang arsenal TNI.  Sangat bagus jika ada pola teratur mengirim secara berkala alutsista-alutsista terkini itu ke beberapa daerah misalnya Aceh, Medan, Batam, Balipapan, Jayapura, Kupang. Misalnya alutsista MLRS Astros diangkut ke Jayapura, lalu melakukan uji tembak disana, kemudian dipamerkan di berbagai even nasional lalu kembali ke Jawa. Dampaknya pasti menggetarkan.

Demikan juga melakukan simulasi mengangkut 10-12 tank Leopard dengan kapal angkut tank khusus ke Kalimantan lalu lakukan manuver dan uji tempur di medan Kalbar, pamerkan kepada rakyat disana, biarkan selama satu dua bulan lalu angkut lagi ke Jawa. Ini sangat mungkin dilakukan jika mengalokasikan secara permanen melalui penempatan di batalyon kavaleri Kalimantan masih “berat hati”.

Pola-pola seperti ini perlu diperlihatkan pada rakyat daerah. Misalnya mengangkut lewat laut sejumlah tank BMP 3F, RM Grad, Caesar Nexter, Leopard ke Aceh. Adakan simulasi latihan tempur disana.  Lalu pulangnya lewat jalur darat lintas Banda Aceh_Medan baru kemudian diangkut lagi ke Jawa lewat laut. Konvoi alutsista lewat darat ini akan memberikan dampak kewibawaan pada kehebatan kekuatan TNI di mata rakyat. Ini penting diperlihatkan.

Republik ini sangat luas, maka pemenuhan kebutuhan alutsista khususnya matra udara dan laut sangat mendesak meski sudah banyak alutsista yang berdatangan. Ancaman teritori sudah sedemikian nyata, jangan sampai salah prediksi, kita tak punya musuh, kita bersahabat dengan semua negara.  Bukankah Panglima TNI sudah mengisyaratkan bahwa perang masa depan adalah perebutan sumber daya alam dan energi.  Natuna itu sumber energi, Ambalat itu sumber energi, Arafuru itu sumber energi dan semua sumber energi masa depan ada di laut.

Maka untuk menjamin kewibawaan teritori  di wilayah laut itu, tempatkanlah alutsista strategis disana secara permanen, bukan didatangkan melulu dari Jawa. Secara logika tak ada negara lain yang mau menyerang Jawa. Mereka cenderung akan mengambil alih wilayah sumber energi.  Contohnya Laut Cina Selatan. Sudah saatnya kita mengurai tumpukan alutsista dan prajurit tidak terpusat di Jawa. Perlu membangunkembangkan pangkalan militer baru seperti Natuna, Saumlaki dan Kupang.

Ini tentu butuh persiapan. Tetapi dengan menempatkan atau menggeser alutsista-alutsista gahar itu secara shift dan memperlihatkannya secara langsung pada rakyat di daerah dan perbatasan, setidaknya akan memberikan rasa nasionalisme pada warga daerah. Tetapi lebih penting dari itu adalah kehadiran militer dan alutsista gahar di perbatasan secara terus sepanjang tahun akan memperkecil ruang intervensi dan klaim pihak lain.  Percayalah.
****
Jagarin Pane / 15 Agustus 2016

“Kado Ultah HUT Kemerdekaan RI Ke 71”