Tuesday, March 8, 2022

Membuka Opini Mata Hati

Invasi pasukan Rusia ke Ukraina adalah pertempuran anti mainstream yang membuat sebagian besar opini masyarakat dunia terbuka mata hatinya. Soal kedahsyatan pertempuran itu adalah yang terhebat di Eropa sejak perang dunia kedua. Namun untuk ukuran seluruh dunia perang Teluk jilid satu dan dua adalah yang terdahsyat. Lebih dahsyat lagi karena model pertempurannya keroyokan.  Pasukan penyerbu merupakan pasukan gabungan berbagai negara dipimpin AS. Lebih dahsyat lagi setelah perang usai negara-negara Arab diwajibkan bayar iuran perang. Lebih dahsyat lagi sampai saat ini tidak terbukti adanya senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak sebagai alasan untuk menyerbu. Lebih dahsyat lagi Saddam Husein dieksekusi berdasarkan subyektivitas pembenaran sepihak. Ini satu contoh saja.

Tetapi dunia diam saja kan. Tidak mampu mengungkap, terasa ada terkatakan tidak. Karena dunia hanya punya satu kekuatan super power yang mendominasi kekuatan militer, ekonomi dan opini setelah Pakta Warsawa dan Uni Sovyet bubar. Ketika masih ada kekuatan penyeimbang Pakta Warsawa, AS dan NATO tidak bisa "petintang petinting" dan merasa menjadi pemilik kebenaran. Artinya opini pembenaran argumen soal perang Teluk menjadi kebenaran, karena perjalanan kesalahan terbesar dalam sejarah dunia yang tertulis menjadi konsumsi lintas generasi. Jadi dianggap benar.

Sampai kemudian pertempuran terhebat antara Rusia dan Ukraina membuka opini mata hati masyarakat dunia. Membuka luka lama tentang sebuah sejarah pembenaran, menyerbu dan menghabisi rezim Irak dan Libya karena kebencian dilapis ambisi penguasaan sumber daya energi fosil. Padahal sebelumnya Saddam Husein adalah sekutu AS ketika bertempur dengan Iran tahun 1980 selama 8 tahun. Irak diniscayakan menjadi "alat" pihak yang membenci Iran pada waktu itu. Saddam Husein dan Khadafi sukses membangun ekonomi kesejahteraan untuk rakyatnya.

Mengapa AS membenci Iran, karena Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi yang merupakan "NATO" nya AS di Timur Tengah, sekutu terkuat dan andalan Uncle Sam digulingkan Ayatullah Khomeini tahun 1979. Rezim kerajaan yang paling disayang AS ini tumbang oleh revolusi keagamaan egaliter. Jika dalam perang Vietnam, Paman Sam harus kalah secara militer maka di Iran si Pakde kalah secara intelijen. Dua-duanya mengharuskan dia angkat koper.  Yang lebih menghebohkan adalah keluarnya tentara AS dari Afghanistan setahun lalu yang katanya karena alasan perubahan geopolitik dan geostrategis. Apa iya.

Fakta sejarah diatas adalah sedikit cuplikan bagaimana kemudian sejarah ditulis berdasarkan kepentingan subyektivitas sepihak. Bagaimana kemudian kita lalu bisa menyaksikan tontonan kehebatan film Rambo dan film-film lain yang "berbau" Vietnam, Panama, Afghanistan dan lain-lain yang menggambarkan nilai-nilai kepahlawanan versi AS. Sebagian dari kita lantas terpukau dengan spirit nasionalis patriotik berbasis kemanusiaan di jalan cerita film-film itu. Seakan menjadi fakta sejarah. Padahal sejatinya jauh panggang dari api.

Standar ganda yang diperlihatkan selama tiga dekade sejak berakhirnya perang dingin bertemu dengan tembok besar yang bernama Rusia. AS dan NATO seperti kehabisan amunisi gertak sambal. Yang terakhir tidak berani melakukan pembatasan ruang udara di Ukraina karena sudah di ultimatum Rusia. Bahkan ancaman sanksi ekonomi AS dan NATO dibalas dengan memutus berbagai kerjasama, salah satunya soal terminal antariksa dan peluncuran wahana antariksa. Bahkan terang-terangan Rusia mengatakan AS sebagai bandit ekonomi. Sebuah statemen yang menohok untuk pemilik hegemoni yang sudah mulai tergerus dengan tampilnya China sebagai kekuatan ekonomi dan militer di masa mendatang.

Bagi kita hikmah dari pertempuran Rusia dan Ukraina bagi adalah bersikap proporsional saja. Sembari berharap ada penyelesaian secara terhormat dan bermartabat, tidak sampai menjadi perang nuklir yang mematikan peradaban. Hikmah yang lain adalah dalam konteks membangun manajemen pertahanan terpadu. Dalam pandangan kita jalan terbaik adalah membangun kekuatan pertahanan dengan kemampuan sendiri. Tidak perlu berharap banyak dapat dibantu AUKUS atau negara lain misalnya. Meski armada kapal induk dan berbagai kapal perang berseliweran di Laut China Selatan bukan jaminan kita terlindungi soal Natuna. Contohnya sudah ada, Ukraina babak belur dihajar Rusia, dan bantuan AS dan NATO yang diharapkan tak kunjung datang.

Kita bangunkuatkan manajemen pertahanan modern dengan network centric warfare. Kita perÄ·uat alutsista TNI dengan teknologi terkini secepatnya, sajian kedatangannya harus cepat, tidak pakai lama. Investasi bidang pertahanan memang memerlukan dana besar namun jika diamortisasikan berdasarkan umur teknis akan menjadi nilai yang wajar. Eksistensi negeri salah satunya adalah perkuatan manajemen pertahanan disamping manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Manajemen pertahanan adalah pagar perlindungan eksistensi ketahanan nasional termasuk ketahanan ekonomi. Dua-duanya, manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan manajemen perkuatan pertahanan adalah perlambang harga diri dan kehormatan negeri. Itu harga matinya dan itu juga opini mata hati kita untuk negeri jamrud khatulistiwa.

****

Jagarin Pane / 08 Maret 2022

Thursday, March 3, 2022

Semakin Menghebat

Catatan invasi Rusia ke Ukraina sampai hari ke tujuh adalah tidak terbendungnya langkah pasukan Rusia dan alutsistanya.  Mengalir deras dengan iringan dentuman hebat yang melumat sasarannya. Teknologi alutsista canggih yang dimiliki Rusia memperlihatkan unjuk kinerja tempur yang luar biasa. Dan itu belum semuanya. Sementara dari perbatasan negara-negara NATO di Eropa riuh rendah publikasi kedatangan ribuan tentara dan alutsista NATO hanya sampai di garis border Polandia dan Rumania, tidak lebih dari itu. AS dan NATO tidak ingin intervensi dengan alasan Ukraina belum menjadi anggota NAT0. Namun sangat diyakini alasan sesungguhnya adalah ketidakberanian aliansi militer terhebat sedunia itu karena adanya ancaman perang nuklir dari Vladimir Putin. 

Sejauh ini skore sementara 2-0 untuk Putin.  Skore 1-0 tercipta karena Putin yang menginvasi Ukraina membuat NATO terdiam meski awalnya gembar-gembor gertak sana gertak sini, ancam sana ancam sini. Skore 2-0 barusan tercipta karena manuver militer gertak sambal NATO mengerahkan pasukan dan jet tempur ke Rumania dan Polandia hanya sebatas itu saja, tidak lebih dari itu. Dan sejauh ini tak ada yang mampu menghadang Rusia. Ukraina semakin bonyok, bantuan militer NATO yang dijanjikan tidak datang jua. Dan jangan main-main dengan negara nuklir nomor satu Rusia yang selalu dipojokkan dan diremehkan oleh pemilik hegemoni. Rusia bisa saja melakukan serangan nuklir mematikan,game over, tiji tibeh, mati siji mati kabeh.

AS dan NATO secara psywar hari-hari ini berada dalam tekanan psikologi militer yang hebat. Belum pernah mereka mengalami dilema sedahsyat ini sejak berdirinya pakta militer atlantik utara itu. Maju kena mundur kena. Mereka mendapat "lawan tak bertanding" yang sepadan, pemberani dan militan. Selama ini AS dan NATO selalu menjadi pemenang dalam setiap operasi militer, selalu merasa diatas angin dan menjadi pemilik hegemoni militer termasuk hegemoni opini pembenaran. Lihat aksi militernya di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah. Lihat aksi intelijennya di Venezuela, Iran, Panama, Nikaragua. Aliansi militer NATO adalah satu-satunya super power di planet bumi yang malang melintang sejak perang dingin berakhir tahun 1991. Dan sekarang mendapat ujian terbesar, ujian marwah diri dari Rusia dengan ancaman perang nuklir.

Ketika perang dingin terjadi ada dua blok militer di Eropa yang saling pamer kekuatan, gelar alutsista besar-besaran, saling melotot satu sama lain. NATO di Eropa Barat mendapat lawan, kekuatan  penyeimbang dari blok militer Eropa Timur yaitu Pakta Warsawa. Secara historis dua kekuatan militer penyeimbang ini justru mampu menciptakan perdamaian di Eropa selama hampir setengah abad. Kondisi "si vis pacem parabellum" ini memberikan peluang kemampuan membangun ekonomi kesejahteraan bagi Eropa dan dunia. Selama perang dingin pertumbuhan ekonomi kesejahteraan di dunia berkembang dengan cemerlang. Kekuatan dua super power dunia itu tidak membuat keduanya mentang-mentang, malah berhati-hati karena ada rival setaranya. Sementara tingkat kesejahteraan dan teknologi bertumbuh pesat di era Cold War.

Ranking kekuatan ekonomi AS saat ini sudah dibayang-bayangi China. Prediksi lima tahun ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia. Sejalan dengan itu pembangunan kekuatan militernya diniscayakan akan menjadi kekuatan yang disegani. Baru-baru ini China dan Rusia menyepakati kerjasama strategis di segala bidang. Artinya aliansi strategis ini menjadi ancaman terbesar hegemoni AS yang sudah mulai tergerus. Pertempuran di Ukraina adalah contoh soal terpukulnya hegemoni. Meski secara konstitusi PBB Rusia jelas-jelas salah besar  menyerbu teritori negara lain. Namun jika kita menganalisis penyebabnya secara sistematis, jalan diplomasi yang ditempuh tidak terpenuhi, langkah militer yang diterjang adalah bagian dari diplomasi itu sendiri.

Pola diplomasi AS dan sekutunya yang selalu mau menang sendiri sudah saatnya direnovasi, diperbaharui. Momentumnya ada di pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina. Tidak bisa lagi memakai pola dan metode menang-menangan. Kemarahan Rusia adalah kemarahan marwah negara yang selalu dikerdilkan dan dianggap musuh abadi. Mengurung Rusia di Eropa Timur dengan ekspansi keanggotaan NATO sangat tidak pantas karena secara defacto dan dejure sudah tidak ada lagi perang dingin atau potensi perang besar. Ambisi perluasan keanggotaan NATO di Ukraina akhirnya berbuah pertempuran hebat setelah perang dunia kedua. Kita semua menginginkan penyelesaian damai dan bermartabat. Saatnya membuka mata hati bening untuk perdamaian dunia.

****

Jagarin Pane / 03 Maret 2022

Friday, February 25, 2022

Rusia Menyerbu NATO Terpaku

Terbukti memang peribahasa tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam. Sepintas itulah potret kontemporer NATO dan AS yang selalu umbar statemen, mengancam, akan dibeginikan akan dibegitukan, akan diberi sanksi, menggertak dan menghasut. Ketika Vladimir Putin memperlihatkan taring militernya dan menyerbu Ukraina kemarin, aliansi militer NATO dan AS terdiam terpaku bahkan terpukau terperangah. Inilah perang terbuka dan terhebat sejak perang dunia kedua di Eropa hasil dari sistem dan akomodasi hasutan, propaganda, iming-iming dan bujukan sebuah aliansi militer yang tak pernah puas dengan kemenangan.

AS dan NATO sebenarnya sudah memenangkan perang dingin dengan bubarnya Pakta Warsawa 31 Maret 1991 yang membelah Eropa dan dilanjut dengan tamatnya  negara Uni Sovyet 25 Desember tahun 1991. Bayangkan hanya dalam kurun waktu tidak lebih setahun dua kekuatan militer yang bersenyawa menjadi salah satu dari dua kekuatan super power dunia bercerai dan  tumbang.  Kita bisa saksikan pada waktu cold war pergelaran ribuan tank dan senjata nuklir di sepanjang perbatasan negara NATO dan Pakta Warsawa di Eropa. Ukraina pada waktu itu bagian dari Uni Sovyet dan di wilayah itu ditempatkan ribuan senjata nuklir untuk menghancurkan Eropa.

Negara pecahan Uni Sovyet yang terkuat adalah Rusia kemudian Ukraina di sebelah barat Moskow. Yang lain adalah Belarusia, Estonia, Lithuania, Moldova, Georgia, Latvia. Di selatan ada Armenia, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgiyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Ukraina secara geostrategis dan geopolitik menjadi rebutan pengaruh antara Rusia dan NATO. Padahal secara fakta di lapangan tidak ada lagi pertarungan dua super power. Tidak ada lagi ancaman perang besar. NATO dan AS menjadi satu-satunya kekuatan super di dunia sebelum munculnya China satu dekade terakhir.  Namun nyatanya NATO masih terus memperluas keanggotaannya.

Ukraina sejah berpisah dari Uni Sovyet seperti lupa kacang akan kulitnya. Dan kondisi ini persis sama dengan framing terhadap Polandia pada waktu perang dingin. Perubahan pemerintahan di Polandia dengan kemenangan partai buruh pimpinan Lech Walesa adalah awal kehancuran Pakta Warsawa dari dalam. Pembusukan dari dalam. Warsawa adalah nama ibukota Polandia dan dari Warsawa pula teori domino runtuhnya pakta militer paling menakutkan di dunia yang dilanjut dengan runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991 dan Yugoslavia tahun 1992. Sepuluh tahun terakhir Ukraina "digarap" agar mbalelo dan membelakangi Rusia. Ini yang menusuk harga diri dan kehormatan Rusia. Dan demi harga diri itu Vladimir Putin menyerbu Ukraina. Siapa pun itu kalau terus menerus dijepit, diberi sanksi ini sanksi itu, disudutkan, dihasut, dikerdilkan dia akan keluar dan berteriak. Rusia ada di posisi itu.

NATO dan AS yang sudah memenangkan pertarungan "dua super power" dengan bubarnya Pakta Warsawa, terus melebarkan sayapnya ke Eropa Timur. Saat ini sudah mencapai 30 negara Eropa termasuk negara pecahan Uni Sovyet Lithuania, Latvia dan Estonia. Sementara negara bekas Pakta Warsawa yang masuk pelukan NATO adalah Polandia, Ceko, Slovakia, Rumania, Albania dan Kroasia. Masih kurang juga tuh menambah anggota baru untuk kepentingan hegemoni. Lalu membujuk dan mengiming-imingi Ukraina untuk masuk NATO. Inilah yang kemudian membuat Rusia marah besar. 

Wilayah Ukraina ada di depan hidung Moskow, artinya di mata Rusia, Ukraina menjadi negara yang tak menghargai etika bertetangga secara historis. Dari sudut pandang strategi militer jika Ukraina bergabung dengan NATO maka kondisi ini akan direct head to head dengan Moskow. Kudeta di Ukraina tahun 2014 diyakini adalah hasil karya framing hasutan intelijen atas nama demokrasi. Menggulingkan pemimpin yang pro Rusia dan digantikan dengan yang pro Barat. Rusia jelas tidak dapat menerima perubahan itu lalu tanpa banyak cakap menganeksasi semenanjung Crimea. Tidak ada bantuan dan penyelamatan dari NATO saat itu. Baru kemudian AS memberlakukan sanksi kepada Rusia dengan Undang-Undang CAATSA. Dengan CAATSA ini pula Indonesia gagal mendapatkan jet tempur canggih Sukhoi SU35 dari Rusia.

Serbuan Rusia ke Ukraina memberikan pelajaran untuk kita dan kawasan Indo Pasifik. Kita tidak bisa terlalu berharap banyak mendapat bantuan dari pakta militer AUKUS (Australia, United Kingdom, USA). Natuna harus kita perkuat dengan kekuatan sendiri. Pengadaan alutsista strategis berupa 42 jet tempur Rafale, 36 jet tempur F15 ID, 16 kapal perang heavy fregate, 2 kapal selam, satelit militer dan lain lain tidak perlu diperdebatkan. Ini investasi pertahanan extra ordinary. Rencana strategis Kementerian Pertahanan sudah memprediksi kondisi terburuk. Ukraina ternyata sendirian digebuk Rusia, babak belur, bonyok dibiarkan. NATO dan AS terdiam padahal selama ini paling jagoan umbar pernyataan. China pasti membaca pesan militer ini dan bisa saja mengambil kesempatan menyerang Taiwan karena AS dan sekutunya lagi mati angin di Ukraina.  Makanya kewaspadaan perlu kita tingkatkan seoptimal mungkin di Natuna, tentu dengan kekuatan sendiri dan rasa percaya diri.

****

Jagarin Pane / 25 Februari 2022

Sunday, February 20, 2022

Mengapa Kita Beli Banyak

Sejak era Trikora dan Dwikora pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis dan potensi mendapatkan 36 jet tempur mutakhir F15 ID dari AS merupakan yang terbesar. Setidaknya ada dua faktor yang menjadi pijakan mengapa kita sekonyong-konyong membeli alutsista dalam jumlah besar. Ada apa gerangan. Dan mengapa harus sekarang. Yang pertama karena kondisi sebagian alutsista TNI sudah uzur serentak dan yang kedua yang sangat mendesak adalah ancaman terhadap kedaulatan teritori kita sudah di depan mata. Silakan datang ke Natuna, suasana disana sudah siaga satu. Mata telinga kita yang bernama radar dan UAV bekerja non stop siang malam di dukung sejumlah patroli BAKAMLA, KRI, dan pesawat tempur mengamati gerak gerik curang si lidah naga.

Kita membeli 42 jet tempur Rafale edisi terakhir dari Perancis untuk menghadapi dinamika kawasan Laut China Selatan  (LCS) yang selalu panas dingin dengan durasi terus menerus dan jangka panjang.  Pengadaan 42 jet tempur ini adalah bagian dari diplomasi militer Indonesia karena dengan cara ini gaung informasi akan menggema ke segala arah. Rafale dan F15 Id sangat pantas menjadi kekuatan strategis TNI di garda terdepan, di benteng kehormatan teritori Natuna. Lantas bagaimana dengan Sukhoi SU27/30 kita. Rafale, F15 dan Sukhoi punya peran masing-masing. Arahnya ke depan Rafale dan F15 yang akan menjadi lawan tanding perusuh LCS. Sebab Sukhoi kita "satu perguruan" dengan pihak sono, bahkan dia sudah punya SU35.

Saat ini kita memiliki 28 jet tempur Hawk buatan Inggris yang dibeli tahun 90an, dibagi menjadi 2 skadron yaitu skadron Elang Khatulistiwa Pontianak dan skadron Black Panther di Pekanbaru. Waktu beli jumlahnya 40 unit. Karakter jet tempur ini bukan untuk superioritas udara karena kecepatan dan kemampuan manuvernya terbatas untuk land attact. Usia pakai sudah mendekati 30 tahun, saat ini secara umur teknis dan teknologi tidak mempunyai kekuatan detterens. Kekuatan pukul TNI AU saat ini bertumpu pada 33 jet tempur F16 dan 16 jet tempur Sukhoi tergabung dalam 3 skadron tempur strategis, Iswahyudi AFB (F16), Hasanuddin AFB (Sukhoi) dan Roesmin Nuryadin AFB (F16).

Sementara itu kekuatan tempur angkatan laut Indonesia sebagian diisi KRI usia lanjut. 5 fregat "Ahmad Yani Class" sudah berusia 55 tahun, masih aktif sekarang. Sudah selayaknya dipurnatugaskan, maka Menhan Prabowo mempersiapkan penggantinya yaitu 6 heavy fregate "Fremm Class" dari Italia. Meski belum kontrak efektif namun skenario teknis sudah disiapkan. Masa pembuatan Fremm Class membutuhkan durasi diatas 5 tahun padahal saat ini LCS demam terus.  Maka disiapkan 2 fregate "Maestrale Class" yang dipakai AL Italia untuk bisa secepatnya dialihkan menjadi asset TNI AL sembari menunggu Fremm Class selesai dibangun. Artinya saat ini kita memang sangat perlu tambahan kapal perang fregate untuk sinergi kawal di Laut Natuna Utara bergantian dengan 2 KRI "Martadinata Class" dan 3 KRI "Bung Tomo Class".

Sudah saatnya kita mempunyai kekuatan AL dan AU yang setara dengan luas wilayah yang kita miliki.  Saat ini secara kuantitas TNI AL mempunyai sekitar 170 KRI berbagai jenis namun yang berkualifikasi striking force hanya 30 an KRI. Dan jika ditandingkan dengan kekuatan yang mengacak-acak LCS jelas kalah gahar. Itulah sebabnya rencana besar Menteri Pertahanan yang out of the box harus bisa kita pahami secara jernih. Angkatan Laut Indonesia harus mempunyai kapal perang ukuran besar, berteknologi terkini termasuk kapal selam mutakhir. Prediksi ke depan TNI AL akan memiliki 50-60 KRI striking force canggih, 16 diantaranya kapal perang heavy fregate. Sementara untuk TNI AU peta jalannya sudah semakin terang benderang dengan jet tempur pemukul strategis Rafale, F15 Id, F16, Sukhoi dan IFX.  Sangat pantas Indonesia mempunyai kekuatan AL dan AU yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan dan udara negeri kepulauan ini.

Diplomasi militer Indonesia dengan penguatan militer yang sangat hebat di masa Trikora telah membuktikan kekuatan tawar di PBB. Dari pantauan pesawat mata-mata AS yang berbasis di Clark Filipina terdapat konsentrasi armada kapal perang dan kapal selam Indonesia di Teluk Peleng. Juga sebaran pesawat tempur Mig 19, Mig 21 dan pesawat pengebom Tupolev TU-16 di pangkalan aju. Presiden AS John F Kennedy membujuk Belanda agar menyerahkan Irian Barat melalui jalur terhormat PBB sebab sangat dimungkinkan terjadi perang terbuka antara Indonesia dan Belanda. Akhirnya memang terbukti melalui gelar kekuatan militer besar-besaran Belanda angkat kaki dari bumi cenderawasih.

Maka ketika saat ini kita harus memperkuat benteng teritori kita di Natuna tidak lain adalah untuk menjalankan diplomasi militer dengan kekuatan sendiri. Meski ada pakta AUKUS untuk menghadang China di Indo Pasifik, perkuatan militer kita adalah untuk kehormatan dan harga diri teritori NKRI. Ketika Semenanjung Crimea di Ukraina dicaplok Rusia tahun 2014 nyatanya tidak ada upaya penyelamatan dari NATO dan AS. Bahkan ketika saat ini Rusia sedang bersiap menyerbu Ukraina karena ulahnya yang hendak masuk NATO sekaligus mau mengucilkan Rusia, ternyata NATO dan AS mati angin dengan pergelaran ratusan ribu pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina. Pelajarannya adalah  Natuna harus kita pertahankan dengan kekuatan sendiri, demi harga diri dan eksistensi NKRI. Artinya kita harus menghadirkan sejumlah alutsista gahar mulai dari sekarang. 

****

Jagarin Pane / 19 Februari 2022

Saturday, February 12, 2022

Rafale, Diplomasi Militer Dilarang Melarang

Indonesia dan Perancis membuat Februari ini terasa segar bugar dan ceria di mata netizen forum militer tanah air. Kamis 10 Februari 2022 ditanda tangani kerjasama militer pengadaan alutsista terbesar dan termegah. Sampai-sampai AS tidak sampai duabelas jam kemudian mengumumkan persetujuan buru-buru kesediaan menjual 36 jet tempur F15 varian terkini kepada Indonesia. Maka secara terang benderang dalam satu hari ada dua berita militer spektakuler yang mencengangkan kawasan Indo Pasifik termasuk China yang menjadi sebab musabab utama upaya penguatan siginfikan alutsista TNI. 

Ya, China telah mengusik harga diri teritori NKRI, dengan mengeklaim zona ekonomi eksklusif (ZEE)  Laut Natuna Utara (LNU), mengerahkan sejumlah kapal coast guard dan kapal perang berulang kali, show of force. Kemudian melakukan psywar terhadap pengeboran Migas di ZEE LNU dengan "nungguin" pekerjaan pengeboran berbulan-bulan. Dan yang terakhir ini yang paling menyesakkan, melalui nota diplomatik China melarang Indonesia melakukan pengeboran atau aktivitas apapun di LNU yang di "nine dash line" kan nya. Karena ini halaman rumah kita, nota diplomatik tidak kita gubris. Jawaban kita sangat tegas dengan bahasa militer, dilarang melarang. Indonesia mengerahkan sejumlah kapal Bakamla dan KRI ke lokasi pengeboran dan yang terakhir ini shopping besar-besaran untuk investasi pertahanan pengadaan alutsista gahar dari Perancis dan AS. 

Menteri pertahanan Perancis Florence Parly yang cantik,mungil dan imut disambut hangat di Jakarta lalu sowan ke Presiden Joko Widodo. Selanjutnya bersama Menhan RI bergerak ke Medan Merdeka Barat  untuk menyaksikan sign kontrak pengadaan alutsista milyaran dollar yaitu 42 jet tempur canggih Rafale dan infrastruktur pendukungnya, 2 kapal selam Scorpene, satelit militer dan lain-lain. Publikasi penandatanganan ini terang benderang dan cepat menyebar sampai Pentagon. Maka tak lama kemudian tersiar pengumuman persetujuan pengadaan 36 jet tempur canggih F15 ID dari pemerintah AS. Sebuah episode sehari penuh yang pasti mencengangkan China. Betapa gagahnya Indonesia untuk berupaya mengibarkan bendera "dilarang melarang".

"Drama" ini mengingatkan kisah nyata sebelumnya manakala Prabowo yang baru dilantik sebagai Menteri Pertahanan, ingin shoping alutsista di AS namun terhalang masuk. Kemudian dia menjalankan strategi marwah diri dan kehormatan negeri. Menjalankan koneksi sebab akibat "dilarang melarang" dengan diplomasi militer cerdas berwibawa, melobby Austria untuk melepas Typhoon nya yang sedang bermasalah, sekaligus berkunjung ke Paris untuk melirik Rafale. Tak lama kemudian Washington luluh dan membentang karpet merah untuk ahlan wa sahlan, mempersilakan Menhan Prabowo bertandang ke Paman Sam. Kunjungan Menhan Indonesia disambut hangat di Pentagon. Dilarang melarang sudah terjawab.

Indonesia sedang membangun investasi pertahanan secara sistematis untuk jangka panjang. Artinya belanja investasi pertahanan dilakukan sekaligus dalam jumlah besar alias borongan untuk masa manfaat 30 tahun ke depan. Sepintas anggaran untuk investasi benteng NKRI ini terlihat fantastis. Namun jika dilihat dari durasi manfaat teknis selama 30 tahun maka nilai investasi menjadi wajar dan biasa saja. Beli borongan, sekaligus utk 30 tahun masa manfaat dengan pembayaran hutang yang berdurasi sama. Artinya antara masa manfaat dengan cicilan pembayaran secara kredit tidak memberatkan.  Apalagi dengan dukungan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia yang semakin membesar dan menguat. 

Saat ini PDB kita ada di urutan 15 besar dunia. Jadi masuk anggota grup elite G20. Prediksi beberapa lembaga keuangan dunia memperkirakan PDB Indonesia tahun 2030 ada di urutan ke 10-11, dan tahun 2045 ada di urutan ke 5-6. Artinya ketika kita membeli alutsista secara besar-besaran selama tiga tahun ini (2022-2024) dengan durasi pembayaran diatas 10 tahun. Maka jika dikaitkan dengan peningkatan PDB yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi, maka DSR (Debt Service Ratio) atau rasio hutang kita terhadap PDB semakin menurun. Agak mirip-mirip dengan beli rumah melalui KPR. Setelah bayar uang muka rumah bisa ditempati dan cicilan pembayaran dengan durasi 10-15 tahun semakin lama semakin ringan. Beli alutsista juga begitu, tidak ada beli secara tunai. Setelah bayar uang muka barang diproduksi dan dikirim.

Investasi pertahanan sangat diperlukan karena asset alutsista yang ada sekarang sudah banyak yang berusia tua. Contoh KRI Ahmad Yani Class yang berjumlah 6 unit dibeli dari Belanda tahun delapan puluhan, beli bekas dari Belanda. Dan Belanda mempergunakan kapal perang frigate itu sejak tahun enam puluhan. Berarti usianya sudah masuk kategori lansia alias uzur. Investasi pertahanan sangat mendesak dilakukan karena ancaman terhadap kedaulatan teritori negeri kita sudah di depan mata. Sudah terang-terangan, bahkan sudah berani melarang di rumah orang. Maka meski kita cinta perdamaian kita lebih cinta kemerdekaan. Si vis pacem parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Semua itu harus dijawab dengan menguatkan marwah teritori agar kita tidak dianggap ikan teri oleh negeri yang haus klaim teritori.

****

Jagarin Pane / 12 Februari 2022

Wednesday, February 2, 2022

Singapura Cerdik Indonesia Cerdas

Perjanjian "keramat" three in one antara Indonesia dengan Singapura ditandatangani di Bintan Selasa 25 Januari 2022 melalui pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Kesepakatan mengikat tiga perjanjian sekaligus dalam satu paket dan harus melalui ratifikasi parlemen masing-masing negara, sejatinya adalah produk kecerdikan Singapura sekaligus kecerdasan Indonesia. Jika salah satu perjanjian gagal diratifikasi maka ketiga perjanjian tidak bisa diimplementasikan. Ketiganya adalah  perjanjian FIR (Flight Information Region), DCA (Defence Cooperation Agreement) dan EA (Extradition Agreement). Disebut keramat karena dua dari tiga perjanjian ini yaitu DCA dan EA pernah disepakati kedua pemerintahan tahun 2007 namun tidak diratifikasi DPR. Sosoknya kemudian dibangkitkan lagi awal tahun ini.

Singapura sangat berkepentingan soal kerjasama pertahanan dengan Indonesia, terutama karena membutuhkan ruang udara untuk latihan militernya. Negeri mungil itu punya alutsista jet tempur canggih seabreg namun ruang udaranya terbatas untuk latihan manuver jet tempur. Bayangkan saja sejumlah jet tempur F15 atau F16 yang take off dari Air Force Base nya baru menanjak sekian ribu meter sudah bertemu dengan ruang udara Batam atau Johor. Belum lagi kepadatan trafik penerbangan sipil di Changi Airport. Sesak nafas dia. Pernah ada perjanjian menggunakan AWR (Air Weapon Range) TNI AU Siabu di Riau untuk latihan jet tempur Singapura namun tidak berlanjut lagi. Juga pernah ada DCA tahun 2007 yang memberikan slot latihan tempur di selat Malaka dekat Bengkalis dan Natuna selatan. Nyatanya tidak dapat terlaksana.

Indonesia berkepentingan dengan perjanjian ekstradisi untuk penangkapan koruptor. Dalam perjanjian kali ini masa lakunya berlaku surut dari 15 tahun menjadi 18 tahun. Artinya kasus pelarian koruptor Indonesia ke Singapura selama 18 tahun yang lalu bisa diekstradisi ke Indonesia meski sudah menjadi warga Singapura. Kita ketahui bersama selama ini Singapura menjadi rumah pelarian yang aman bagi sejumlah koruptor Indonesia, karena tidak ada perjanjian ekstradisi. Perjanjian ini merupakan nilai plus Singapura bagi Indonesia sekaligus mengeliminasi ruang pelarian para koruptor yang selama ini mendapat "suaka kenyamanan" menetap di negeri makmur itu. Ada anggapan bahwa pembahasan ratifikasi perjanjian ekstradisi ini akan alot di DPR karena berbagai kepentingan. Namun kita percaya bahwa wakil rakyat di Senayan dapat meratifikasinya.

Menteri Pertahanan Prabowo secara tersirat tidak mempermasalahkan soal ruang udara Indonesia untuk area latihan tempur Singapura. Dalam pandangan kita sebagai negara sahabat yang punya ruang udara besar, seluas Eropa, berbaik hati dan berbaik sangka dengan memberikan slot ruang udara di selatan Natuna untuk latihan militer Singapura akan menunjukkan nilai plus kita di mata Singapura. Singapura bukan ancaman bagi Indonesia meski militernya mempunyai kekuatan pre emptive strike. Negeri itu mengharuskan membangun kekuatan militernya berkarakter "sarang tawon" karena takdir geografi dan geostrategisnya dihimpit dua jirannya yang besar Indonesia dan Malaysia. Dia kuatkan militernya untuk eksistensi dan jaminan kesejahteraan rakyatnya. Filosofi sarang tawon tidak akan mengganggu tapi kalau diganggu akan menyengat.

Semangat kebersamaan ASEAN diharapkan menjadi pijakan kesepakatan DCA termasuk mengantisipasi situasi terburuk di Laut China Selatan (LCS).  Adanya area latihan tempur Singapura dekat Natuna diyakini akan membuat Singapura peduli secara militer dengan situasi kawasan LCS yang bergejolak. Dan AS pasti menyambut hangat perjanjian ini. Gagalnya DCA tahun 2007 bisa saja disebabkan belum lengkapnya infrastruktur militer kita untuk mengawasi kegiatan latihan militer AU Singapura waktu itu. Nah sekarang kita sudah mempunyai radar militer canggih di Tanjung Pinang, Natuna dan Kalbar. Termasuk sejumlah jet tempur Sukhoi, F16 dan KRI. Kesepakatan DCA dan ratifikasinya diprediksi akan menjadi landasan untuk kemitraan strategis dengan Singapura di masa depan.

Soal FIR alias wilayah informasi penerbangan, dalam perjanjian ini mengakui Jakarta sebagai induk semangnya, yang kemudian mendelegasikan operasionalnya kepada Singapura untuk ketinggian dibawah 37.000 feet di sekitar negeri itu. Artinya secara kedaulatan kita berdaulat, namun atas nama keselamatan penerbangan dan kepatuhan standar internasional serta trafik pesawat yang landing dan take off di Singapura sangat padat, maka teknis operasional FIR diserahkan ke Singapura. Jadi tidak mutlak demi kedaulatan. Contoh Brunai dikendalikan FIR Kinabalu, Pulau Natal Australia di selatan Jawa dikendalikan FIR Jakarta, Timor Leste dikendalikan FIR Makasar. Indonesia menempatkan sejumlah personil di Changi Air Traffic Control untuk evaluasi teknis termasuk mengontrol ruang udara Indonesia. Termasuk mendapatkan sharing revenue FIR sebagai pendapatan negara bukan pajak dari penyediaan jasa informasi penerbangan. 

Takdir Indonesia dan Singapura adalah bertetangga seumur hidup maka kerjasama di segala bidang yang saling menguntungkan kuncinya adalah khusnuzon. Kemitraan strategis dengan diimplementasikannya ketiga perjanjian ini semakin terbuka luas. Singapura memang harus cerdik menyiasati paket perjanjian ini karena sangat mengharapkan Indonesia bermurah hati "meminjamkan" ruang udaranya untuk manuver jet tempur SAF. EA adalah kesediaan dan kerelaan Singapura untuk membantu Indonesia memberangus koruptor dan hartanya. Pelarian koruptor inilah yang selama ini menjadi beban hubungan kedua negara. Sementara FIR adalah win-win solution. Indonesia mendapatkan marwah kedaulatan teritori udara sebagai negara kepulauan dan keuntungan finansial dari bagi hasil FIR.  Wilayah FIR disekitar Singapura  didelegasikan secara operasional kepada Changi ATR. Jadi bisa disebut Singapura cerdik, Indonesia cerdas dan keduanya adalah cermin bertetangga yang setara.

****

Jagarin Pane / 02 Februari 2022

Thursday, January 27, 2022

Memahami Strategi Pertahanan IKN

Ibukota baru Indonesia sudah diberi nama. Nusantara, sebuah nama yang sudah sangat familiar di seluruh pelosok negeri. Letak geografis Ibukota Nusantara persis bersebelahan dengan kota yang sudah tertata rapi,terurus dan modern, Balikpapan di Kalimantan Timur. Dukungan infrastruktur di dua kota "kembar dan bersaing" Balikpapan dan Samarinda, tersedianya jalan tol diantara kedua kota itu, ada bandara modern, pelabuhan laut berkelas serta selesainya jembatan megah penghubung jalan raya trans Kalimantan Kaltim-Kalsel, diyakini akan mempermudah jalur logistik proses pembangunan ibukota Nusantara.

Kekuatan pertahanan TNI AD di Kalimantan saat ini bersandar pada 2 Kodam yaitu Kodam Mulawarman di Balikpapan dengan teritori Kaltim, Kalsel dan Kaltara. Dan KodamTanjungpura di Pontianak dengan teritori Kalbar dan Kalteng. Masing-masing Kodam sudah memiliki batalyon infantri termasuk yang berkualifikasi raider, batalyon armed, kavaleri, arhanud dan skadron penerbad. TNI AU menempatkan skadron jet temput Hawk dan skadron pesawat nir awak UAV di Supadio AFB Kalbar. Sementara TNI AL punya pangkalan angkatan laut di Tarakan dan pasukan marinir di Nunukan. Hotspot pertahanan di Kalimantan ada di perairan Ambalat.

Sebagai pusat pemerintahan perlindungan total dari segala bentuk ancaman perang modern dan perang siber sudah dirancangbangun oleh Kemenhan dan TNI. Konsep besarnya adalah smart defense, network centric warfare dan dual strategy. Smart defense hardware didukung oleh infrastruktur alutsista strategis dan canggih. Termasuk didalamnya cyber war. Sementara dual strategy yaitu mensinergikan strategi pertahanan dan strategi diplomasi dalam satu kesatuan, seiring sejalan. Sebenarnya dual strategy ini sudah diterapkan sejak beberapa tahun terakhir. Menlu Retno dan Menhan Prabowo selalu bersama dalam setiap meeting two plus two dengan Australia, AS, Jepang, Korsel, Perancis, Inggris, Jerman.

Yang perlu dicatat, perubahan geostrategis pertahanan dari pulau Jawa ke Kalimantan tidak berarti menomorduakan pertahanan di Jawa. Karena Jawa adalah pusat industri, investasi dan keuangan tak tergantikan. Ada dua divisi Kostrad, tiga skadron Penerbad, dua divisi Marinir, pangkalan Armada Satu dan Dua, 4 skadron tempur, beberapa skadron angkut berat dan ringan, skadron helikopter semuanya bermarkas di jantung Indonesia pulau Jawa. Artinya meski ibukota pindah pulau, strategi pertahanan di Jawa relatif tidak ada perubahan. Tetap menjadi basis kekuatan pertahanan terkuat.

Ibukota baru Nusantara berhadapan dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar sementara "punggungnya" adalah daratan luas rimba kalimantan yang menurut pandangan kita masih sangat minimal kekuatan pertahanan di koridor ini. Padahal ada perbatasan darat dengan Malaysia sepanjang 2000 km. Meski di border itu sudah berdiri puluhan pos militer dikawal pasukan infantri TNI AD, namun punggung ibukota Nusantara harus dilindungi dari serangan udara dan serangan peluru kendali jarak jauh dari musuh. Dan hampir pasti arahnya akan datang dari arah Laut China Selatan dan Laut China Timur jika terjadi perang terbuka.

Maka Tenggarong, Melak dan Muara Teweh  bisa menjadi pilihan silo pertahanan udara dan silo pertahanan rudal anti rudal  jarak jauh. Bersinergi dengan skadron jet tempur Rafale yang diprediksi ditempatkan Supadio AFB Pontianak dan jet tempur Sukhoi di Hasanuddin AFB Makassar. Sebagai penguat Samarinda atau Tarakan bisa menjadi pilihan home base 1 skadron jet tempur F16. Jadi kekuatan pertahanan udara jarak jauh mobile di Kalimantan bertumpu pada 2 skadron jet tempur Rafale dan F16, 1 skadron UAV yang sudah eksis di Supadio AFB. Kemudian ada pertahanan udara statis berupa beberapa batterai peluru kendali SAM (Surface to Air Missile) jarak menengah dan jarak jauh.

Kekuatan angkatan laut di jalur ALKI 2 selat Makassar dan laut Sulawesi saat ini bertumpu pada Armada Dua yang bermarkas di Surabaya. IKN Nusantara yang berhadapan dengan ALKI 2 harus mendapat perlindungan laut apalagi ada titik panas Ambalat di halaman perairan kita. Saat ini Ambalat dalam kontrol penuh TNI AL namun untuk perkuatan pertahanan laut di ibukota negara harus ada kapal perang kelas korvet keatas yang berhome base di Balikpapan atau Samarinda. Laut Sulawesi itu sangat terbuka, ada Sabah, Filipina dan Samudra Pasifik di depan ibukota. Termasuk mengantisipasi potensi teroris di segitiga Sulu, Sabah dan Poso.

Dalam jangka pendek ini diprediksi akan dibentuk 1 brigade komposit di IKN seperti di Natuna. Secara eksisting sudah ada batalyon infantri raider 600 Modang dan batalyon kavaleri 13 Satya Lembuswana di Balikpapan. Di Kutai Kertanegara ada batalyon infantri mekanis 611 Awang Long. Di Berau ada batalyon armed 18 komposit dan skadron 13 helikopter penerbad. Di Tarakan ada batalyon raider 613 Raja Alam dan di Malinau ada batalyon raider 614 Raja Pandita. Batalyon kavaleri 13, batalyon armed 18, batalyon infantri mekanis 611, batalyon armed 18 dan skadron helikopter serbu masih sangat kurang kapasitas dan kualitas isian alutsistanya sampai saat ini.

Berangkat dari kondisi eksisting ini percepatan pengadaan alutsista tiga matra harus segera tercapai. Tahun ini adalah titik tumpu dari proses penguatan pertahanan ibukota Nusantara. Sudah saatnya menyegerakan ketersediaan alutsista yang dibutuhkan, tidak bertele-tele. Kita berkejaran dengan waktu. Tingkat keterisian alutsista di IKN, Natuna, Ambalat masih jauh dari kriteria minimal atau standar. Meski ranking kekuatan militer kita ada di urutan 15 dari 140 negara namun secara de facto kita belum punya kekuatan pukul yang disegani. Ranking 15 versi GFP (Global Fire Power) itu didongkrak oleh indikator jumlah populasi, jumlah pasukan, komponen cadangan dan para militer, luas wilayah, sumber daya alam yang memang besar dan luas. Saatnya kita bergerak cepat dengan segala daya dan dana untuk merealisasikan kontrak efektif.

****

Jagarin Pane / 27 Januari 2022

Saturday, January 15, 2022

Mengemban Harapan 2022

Geger batubara internasional mengharuskan Xi Jinping berkomunikasi dengan Jokowi via saluran telepon pekan ini. Artinya batubara Indonesia mampu menggoyangkan ketahanan energi negara setangguh China ketika tiba-tiba Presiden Jokowi menutup seluruh keran ekspor batubara seminggu lalu. Padahal RI-1 sedang marah soal suplai batubara untuk PLN yang menipis karena pengusaha batubara ingkar janji memenuhi kuota untuk PLN. Mereka habis-habisan mengekspor batubara yang harganya sedang melangit. Kewajiban kuota untuk PLN ditinggalkan karena selisih harga yang besar. Keterlaluan.

Pada saat yang bersamaan geger soal pengadaan satelit militer mengemuka. Dan ini menimbulkan kerugian negara ratusan milyar. Tidak usah dijelaskan secara detail karena sudah dijelaskan Menko Polhukam dan akan diusut tuntas proses yang terjadi di tahun 2015 itu. Pengadaan satelit militer sebenarnya merupakan kebanggaan nasional namun prosedural soal anggaran yang belum tersedia saat itu menjadi asal muasal keruwetan dan menyebabkan Indonesia membayar denda ratusan milyar. Kemudian soal dugaan korupsi pengadaan helikopter AW101 yang di mark-up 220 milyar sedang didalami kembali oleh Panglima TNI saat ini. Kasusnya dihentikan Puspom TNI dan masih mengendap di KPK.

Barusan TNI AL mendapat 2 kapal perang baru yaitu KRI Golok 688 dan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kedua kapal perang ini buatan dalam negeri. KRI Golok 688 hasil karya PT Lundin Banyuwangi merupakan kapal perang striking force trimaran stealth. Dirancang sebagai kapal berdesain siluman yang mampu menggotong rudal anti kapal permukaan. Sebuah karya anak negeri yang membanggakan. Demikian juga dengan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 dari jenis LPD Rumah Sakit hasil karya BUMN strategis PT PAL. Sejauh ini PT PAL telah sukses membangun 6 kapal perang jenis LPD untuk TNI AL dan 2 unit untuk angkatan laut Filipina.

Tiga peristiwa diatas menjadi catatan kita di awal tahun 2022 yang basah kuyup dengan siraman hujan merata. Soal China yang kelabakan ketika kita menyetop ekspor batubara selama seminggu sesungguhnya menggambarkan saling ketergantungan yang menguntungkan antar negara. Meski negeri itu punya musuh banyak karena mengklaim sana sini termasuk soal perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Natuna, nyatanya China tidak bisa lepas soal kebutuhan dari saling ketergantungan satu sama lain. Apalagi jika konflik di Selat Taiwan, Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS) pecah maka hancur leburlah seluruh tatanan kehidupan dan kesejahteraan ummat manusia. Sudah tahu dampaknya mematikan seluruh peradaban tapi masih juga bersikukuh kaku. Mengapa tidak mengedepankan semangat berbagi bersama dan kerjasama untuk kesejahteraan. Mengapa tidak pasang wajah ramah sih.

Terbukanya borok pengadaan satelit militer di tahun 2015 sungguh sangat memalukan. Langkah tegas Menko Polhukam patut kita apresiasi dengan kinerjanya yang mulai menunjukkan taring terutama soal hukum. Rincian publikasi yang begitu jelas memberikan arah bagi kita secara runtun bahwa telah terjadi mis manajemen, salah prosedural dan sangat tergesa-gesa dalam  prosedur pengadaan satelit militer yang anggarannya belum tersedia. Padahal masih tersedia waktu pengisian slot orbit satelit selama tiga tahun sejak satelit Garuda I keluar orbit pada bulan Januari 2015. Kerugian ratusan milyar karena Indonesia dikenakan denda oleh arbitrase  Inggris dan Singapura.

Sementara itu Kementerian Pertahanan terus melaju dalam upaya menyegerakan ketersediaan sejumlah alutsista untuk TNI. Setelah serah terima KRI 991 dan KRI 688 diprediksi sepanjang tahun 2022 ini akan banyak berita yang menggembirakan untuk penambahan dan pengembangan alutsista TNI. Dan prediksi itu tidak perlu kita rinci satu persatu karena netizen forum militer sudah bisa menebaknya. Kita hanya berharap kabar baik itu jelas dan cepat. Kita sebenarnya berpacu dengan waktu  untuk segera menyediakan pasokan alutsista strategis. Filipina adalah satu contoh bagaimana sebuah pemerintahan mengambil langkah extra ordinary untuk memperkuat militernya. Syarat dan ketentuan berlaku: tidak pakai lama.

Percepatan pengadaan alutsista tentu harus tetap prosedural agar tidak terulang kasus seperti pengadaan satelit militer. Juga ketat dalam spek teknis dan finalisasi price alias yang wajar-wajar saja dan transparan. Ini yang sedang dibenahi Kemenhan, percepatan dan prinsip kehati-hatian. Dua hal yang menjadi rambu utama pengadaan alutsista G to G.  Kemenhan sedang membangun mekanisme, juga sedang disibukkan dengan kasus pengadaan satelit militer. Pada dimensi lain Kemenhan dituntut untuk menyegerakan kedatangan alutsista strategis, karena iklim kawasan LCS tidak lagi nyaman hari-hari ini dan hari-hari mendatang. 

Mengemban harapan di tahun 2022 untuk menjaga stabilitas kawasan adalah memperkuat diplomasi dan silaturrahim antar negara di Indo Pasifik.  Saling menyapa antara petinggi negara seperti perbincangan diplomatik Presiden Jokowi dan Presiden  Xi Jinping soal ekspor batubara barusan. Termasuk upaya diplomasi Indonesia untuk mendekatkan dan mendinginkan Pakta Aukus dengan China. Kedua pihak, Aukus dan China ini dalam pandangan kita bercorak "teguh dalam keakuan, angkuh dalam bergaul, dan sedang berebut pengaruh". Yang mengemuka kemudian adalah diplomasi militer, pamer kekuatan, saling menggertak. Lucunya arena pamer dan saling gertak ada di halaman komplek perumahan yang selama ini rukun damai.

*****

Jagarin Pane / 15 Januari 2022

Tuesday, December 28, 2021

Memeluk Rafale Meminang Eagle

Netizen forum militer Indonesia sesungguhnya tidak begitu peduli soal isian dan merek alutsista strategis matra udara. Yang penting segera terisi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Itu sebabnya kita ikut mengkritisi mengapa begitu bertele-telenya proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 buatan Rusia beberapa tahun yang lalu. Anggaran sudah disediakan. Mula-mula disebut akan beli 8 SU35 lalu diumumkan lagi akan beli 11 SU35. Tapi tetap slow motion menuju kontrak efektif.  Sampai akhirnya berlaku UU CAATSA dari AS sebagai "hukuman" kepada Rusia atas aneksasi semenanjung Crimea milik Ukraina.

Akhirnya jet tempur tangguh Sukhoi SU35 batal kita miliki secara resmi dua hari lalu, sebagaimana dijelaskan KSAU. Dengan demikian hilang terbuang durasi waktu antara pesan dan datang pembelian alutsista gahar ini selama 5 tahun terakhir. Kita kembali ke titik nol. Harapan untuk mendapatkan SU35 pupus sudah padahal infrastruktur skadron jet tempur tulang punggung ini sudah disiapkan.  Bahkan 3 jet tempur Sukhoi SU27/30 dari Hasanuddin AFB telah diserahterimakan sebagai isian Skadron 14 Iswahyudi AFB. Semua dalam rangka mengisi kekosongan jam terbang pilot yang sudah disiapkan untuk kehadiran SU35. Ternyata yang dirindukan tak pernah datang.

Ada kabar baik seiring dengan pupusnya asa mendapatkan SU35. Kontrak efektif pengadaan jet tempur dual engine Rafale made in Perancis edisi terkini sudah diambang pintu. Kabar yang berhembus jumlahnya kemungkinan dikurangi atau dibagi 2 batch. Batch satu untuk 12-18 Rafale, batch berikutnya juga 12-18 Rafale. Tidak masalah, yang penting "peluk dulu lalu ajak akad nikah".  Karena kita sudah kehilangan waktu 5 tahun akibat Sukhoi SU35 tidak jadi datang. Ditambah lagi jika kontrak efektif Rafale diteken sebentar lagi, masih perlu durasi waktu 5-6 tahun menunggu kedatangannya. Karena kita pesan yang edisi terkini, jadi harus antri sampai tahun 2027 paling cepat. Jadi ada durasi 10 tahun untuk mendapatkan jet tempur strategis dihitung sejak tahun 2017.

Demikian juga dengan jet tempur F15 Eagle II dari AS. Kedatangan Menlu AS belum lama ini salah satunya untuk memastikan pinangan Indonesia disetujui. Meskipun begitu masih panjang proses yang harus dilalui untuk menghadirkannya di tanah air dengan sejumlah syarat. Jet tempur ini jika sudah datang dan berduet dengan Rafale akan menjadi kekuatan pengawal yang bertaring untuk berhadapan dengan jet tempur China. Jika yang dihadapkan adalah jet tempur Sukhoi SU35 maka China punya kartu truft pesawat jenis ini. Dan China pasti tahu jeroannya. Artinya tidak pas juga jika jet tempur Sukhoi SU35 kita yang batal itu ditandingkan dengan merek yang sama dengan punya China.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Kemenhan. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendalanya. Sementara kita sangat membutuhkan alutsista strategis matra laut dan udara secepatnya. Harus ada prioritas untuk mendapatkannya meski jumlah dikurangi. Misalnya perolehan jet tempur Rafale. Tidak mengapa. Yang penting harus ada kontrak efektif untuk memastikan proses pembuatannya. Juga kontrak efektif kapal perang heavy frigate selain Iver Class. Tidak perlu sekaligus diteken semua. Tahap pertama, cukup 2 unit dulu dari Fincantieri. Yang penting pasti dan pasti itu penting sebagai unjuk kinerja.

Termasuk apakah dimungkinkan jika kita dipinjami dulu atau sewa 4-6 jet tempur Rafale untuk ditempatkan di Supadio AFB atau Natuna. Tinggal lobby pemerintah Perancis karena skema pengadaan Rafale adalah G to G, antar pemerintah. Hitung-hitung untuk memfamiliarkan atau membiasakan menggunakan jet tempur Rafale yang lincah itu. Masih lama menunggu sampai tahun 2027. Sementara dinamika Laut China Selatan (LCS) dipastikan akan semakin semrawut tahun-tahun mendatang kecuali jika China tobat dan sadar diri. Tapi jelas tidak mungkin. Ambisi penguasaan teritori China adalah untuk menguasai potensi sumber daya energi fosil yang ada di LCS demi masa depan rakyatnya yang berjumlah milyaran.

Demi marwah kedaulatan teritori, Indonesia harus mempercepat proses pengadaan alutsista. Tidak bisa tidak. Disamping terus menerus melakukan diplomasi cerdas dengan basis kerjasama ekonomi yang simbiosis mutualistis. Bukankah dunia kita saat ini sudah saling ketergantungan satu sama lain. Tidak bisa kita mengandalkan egoisme bernegara di dunia yang sudah satu networking ini. Maka diplomasi yang terus menerus akan menjadi jembatan silaturrahim antarnegara, salah satunya untuk mengurangi ketegangan di kawasan.

Memperkuat pertahanan negeri juga merupakan bagian dari strategi diplomasi. Dan saat ini kita sangat menantikan kehadiran sejumlah jet tempur fighter, kapal perang kelas berat, kapal selam gahar, berbagai jenis peluru kendali jarak sedang dan jauh untuk mengawal dan mempertahankan teritori kita. Ancaman terhadap kedaulatan teritori sudah nyata, di depan mata dan terang benderang, bukan lagi cerita fiksi. Siapa tahu tiba-tiba saja cuaca di LCS menjadi ekstrim dengan gelombang kejut berkarakter tsunami. Kita harus siap dengan kondisi ekstrim itu. Dan caranya harus mempunyai alutsista gahar secepatnya.

****

Jagarin Pane / 27 Desember 2021

Saturday, December 18, 2021

Ramai Berkunjung Ramai Bermanuver

Ada pemandangan tidak biasa yang menarik sepanjang bulan duabelas ini. Indonesia kedatangan berbagai delegasi negara sahabat. Ada yang dari AS,  Denmark, Perancis, Inggris, Rusia, Norwegia, Ceko, Polandia, India. Kunjungan beruntun tamu asing terhormat pejabat tingkat tinggi itu mulai dari Menlu, Wamenlu, Menhan sampai Duta Besar. Dan negara-negara itu adalah produsen alutsista tentu membawa misi beragam dan temanya pasti soal kerjasama pertahanan dan alutsista. Mereka datang bergelombang mengunjungi Jakarta, Surabaya dan Bandung. Bahkan ada yang datang serentak, dari AS dan Rusia.

Sementara dinamika di halaman bersama rumah besar ASEAN menjelang akhir tahun ini memberikan pemandangan mendung kelabu. Menggambarkan cuaca tidak cerah, tidak bersahabat. Hiruk pikuk berkepanjangan di Laut China Selatan (LCS) sudah memberikan persepsi luas di seluruh dunia bahwa kawasan ini adalah titik panas konflik berdurasi jangka panjang yang bisa menjadi pemicu pertempuran dahsyat di masa mendatang. LCS telah menjadi panggung besar rutinitas militer yang mempertontonkan pameran kekuatan bersenjata di permukaan laut, di dalam laut dan di udara.

Belum ada seminggu yang lalu angkatan laut dari 7 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Brunai) melakukan latihan tempur laut ARNEX bersama dengan angkatan laut Rusia di perairan Sumatera Utara dan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan angkatan laut Filipina juga mengadakan latihan perang dengan Pakistan di laut Filipina. Sementara itu beberapa kapal perang dan kapal Bakamla Indonesia istiqomah mengawal pekerjaan eksplorasi Migas di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Natuna Utara (LNU) yang diprotes dan didatangi kapal perang China. Juga di Ambalat ada KRI Raden Eddy Martadinata 331 bersama 4 KRI lainnya dengan dukungan 6 pesawat tempur Super Tucano dan 4 jet tempur T50 melakukan operasi gugus tempur laut interoperability berkesinambungan.

Menlu AS berkunjung ke Jakarta,  pastilah membawa misi penting untuk menarik Indonesia masuk dalam "pelukan dan pengaruhnya". Momennya adalah soal protes dan keberatan China terhadap pengeboran minyak di ZEE sah indonesia di LNU.  Sekaligus mengerahkan kapal perang dan coast guardnya disana selama berbulan-bulan. Sebuah contoh perilaku yang tidak menghargai code of conduct di LCS yang juga didengungkan Beijing. Tentu AS dengan kecerdasan dan kecerdikan berbasis hegemoni menangkap peluang itu. Dan Jakarta menerima kunjungan Anthony Blinken sebagai bentuk manuver diplomatik sebab akibat. Bahasa lugasnya begini: kalau ente mau menang sendiri jangan salahkan kalau kami will not neutral again. Tentu semua tahu siapa yang dimaksud.

Saat ini dan seterusnya sudah berlaku hukum pantang sepi di LCS. Selalu ada kabar harian iringan kapal perang berlalu lalang diantara ramainya kapal niaga yang melintas di perairan strategis ini. Termasuk kapal selam. Kapal perang dan coast guard China rutin melakukan patroli, provokasi, unjuk gigi, berkeliling LCS karena dia merasa lapak itu milik nenek moyangnya. Maka dijawab dengan diplomasi militer juga. Armada kapal perang AS, Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, India, Pakistan, Rusia juga mengambil bagian bermanuver di LCS atas nama hukum laut internasional dan kebebasan navigasi.

Protes China soal eksplorasi Migas di ZEE sah Indonesia ditanggapi KSAL dengan bahasa militer. Kita tidak gentar dan tidak ada satu yard pun teritori kita yang boleh diambil, tidak ada tawar menawar untuk urusan kedaulatan dan kehormatan NKRI. Sebuah ungkapan tegas dan membahana. Dan manuver berikutnya adalah KRI Malahayati 362 sebuah korvet anti kapal selam yang baru saja dimutakhirkan instrumen tempurnya, mengekspos tugasnya menjalankan misi pengawasan dan pengamanan submersible drilling platform. Melakukan pengawalan dan berkomunikasi dengan perusahaan pengeboran Migas di ZEE 77 mil di LNU. Bahasa militer dilanjut dengan manuver kapal perang.

Apa yang kemudian menjadi catatan kita adalah memberikan nilai plus untuk kepiawaian manuver diplomatik dan manuver militer yang baru dilakukan. China bagaimanapun telah menambah musuh baru yang terkait dengan klaim "lidah naganya". Pengiriman kapal perang China ke ZEE LNU dan dilanjut dengan protes diplomatik dicuekin Indonesia. Dia kirim coast guard kita kirim kapal Bakamla. Dia kirim kapal perang, kita kirim kapal perang. Sepadan kan. Tidak ada negosiasi soal itu, pengeboran berlanjut terus sampai sekarang. Tak lama kemudian Menlu AS datang, gayung pun bersambut meski tak perlu jual pernyataan. Itu cukup sebagai bahasa diplomasi.

Demikian juga soal kunjungan "bertubi-tubi" delegasi itu, kita sangat mengharap ada realisasinya. Jangan hanya ramai berkunjung dan ramai dikunjungi lalu to be countinued, when? Sudah jelas infeksi virus LCS itu sulit disembuhkan kecuali dengan menambah kapasitas imunitas pertahanan diri. Percepatan penambahan imunitas ini mutlak diperlukan, prioritas dan bersifat extra ordinary. Kepastian kontrak definitif pengadaan alutsista strategis menjadi penantian dan harapan bersama. Jangan sampai timbul kesan maunya banyak tapi bertele-tele. Maksud hati ingin memeluk gunung apa daya gunung Semeru meletus. Mau beli segudang tapi gudangnya belum ada. Kita ingin negeri ini punya alutsista berdaya gentar karena kita ingin mengumandangkan lagu maju tak gentar membela yang benar. Maju tak gentar tentu harus punya alutsista gentar, itu logikanya.

****

Jagarin Pane /18 Desember 2021

Monday, December 13, 2021

On Progress, Network Centric Warfare

Militer Indonesia saat ini sedang membangunkemembangkan sistem manajemen pertempuran modern terintegrasi. Konektivitas antar matra, intra matra dan unit-unit didalamnya diselaraskan sehingga diharapkan dapat memberikan kemampuan integrasi operasional dengan teknologi digital dalam doktrin perang modern. Software infrastruktur militer ini diprediksi rampung pada tahun 2023.

Nama program network digitalnya dikenal dengan C4ISR singkatan dari Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance and Reconnaissance. Perusahaan software dari Yunani SCYTALYS yang dipercaya Kemenhan RI membangun C4ISR, sudah berhasil membangun software interoperability network di Jepang dan Korea Selatan. Jadi kita yang ketiga neh.

C4ISR dibangun untukmemperkuat interoperabilitas antar satuan tempur TNI_AD, TNI_AL dan TNI_AU dalam satu komando dengan saling menghubungkan berbagai jenis alutsista yang memiliki berbagai macam data link. Aneka ragam alutsista kita seperti Sukhoi, F16, Fa50, Hawk, Super Tucano, Nassam, Oerlikon Skyshield, Astross, Nexter, kapal perang, kapal selam, radar, UAV harus bersinergi. Dalam sistem operasi militer di medan perang, semua platform terintegrasi ke markas komando. Sekaligus mengeliminasi friendly fire. Kan gak lucu dalam perang modern kok nembak konco dewe.

C4ISR memberikan kualitas sistem manajemen pertempuran modern, kombinasi jet tempur, UAV, radar, kapal perang, kapal selam, peluru kendali, dengan kinerja pertempuran yang lebih luas, jika dibandingkan Battle Management System (BMS) yang ruang lingkupnya lebih kecil. TNI AD sudah punya BMS lho, bisa kita lihat ketika beberapa kali melakukan latihan militer skala brigade. Satuan infantri, artileri, kavaleri, roket, peluru kendali, penerbad sukses melakukan uji interoperability antar batalyon.
****
Jagarin Pane

Friday, December 3, 2021

Apa Dia Bilang, Apa Kubilang

Akhirnya kan terjadi juga, cepat atau lambat. Apa dia bilang, apa kubilang. Dia bilang laut kita miliknya terus kubilang betulkan. Sudah lama aku mau bilang pada saatnya dia akan bilang laut itu punya dia. Bocoran surat diplomatik akhirnya merembes juga dan disebarluaskan kantor berita Reuters. Cepat atau lambat China akan berkata jelas pada kita, bahwa nine dash line nya memotong zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Indonesia di Laut Natuna Utara (LNU). Lalu China bilang pada kita agar pengeboran gas di kawasan nine dash line nya dihentikan. Dan yang lebih mengherankan mengapa China keberatan dengan latihan militer gabungan Indonesia-AS.  Padahal pada waktu yang bersamaan secara estafet dan paralel militer AS melakukan latihan militer dengan Australia, dengan Filipina juga dengan Jepang.

Sebenarnya sejak awal latihan militer skala besar yang diberi nama Garuda Shield antara TNI AD dan US Army di Baturaja Sumsel, Ambawang Kaltim dan Makalisung Sulut Agustus 2021 yang lalu, diyakini membuat wajah Beijing masam. Dan terbukti kan. Kalau kita memantau detail teknis latihan militer skala besar itu yang melibatkan 1 brigade pasukan masing-masing negara, ini adalah latihan militer bertema counter attack, high class network centric warfare antara AS dan Indonesia. Salah satunya adalah mobilitas besar pasukan raider lintas udara kedua negara diberangkatkan dari Guam AFB di Pasifik dengan 9 pesawat angkut besar C17 Globemaster III milik AS langsung diterjunkan ke Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Luar biasa. Pasukan Indonesia diberangkatkan ke Guam lebih awal, tiga minggu sebelum penerjunan untuk penyesuaian dan koordinasi.

Garuda Shield sebenarnya sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Dan tahun ini adalah yang terbesar dengan kekuatan 5.000 prajurit kedua negara beserta sejumlah alutsista canggih. Mengapa baru sekarang diributkan China. Dan ketika negeri itu mengerahkan puluhan jet tempur dan pesawat pengebom nuklir melintasi ADIZ (Air Defence Identification Zone) Taiwan untuk memprovokasi, bukankah itu sebuah manuver militer yang membahayakan perdamaian. Dan China melakukan itu berkali-kali. Mana yang lebih  kasar diplomasi militernya antara mengerahkan puluhan jet tempur ke ADIZ Taiwan, "mengambangkan" kapal selam di selat Taiwan atau latihan militer Garuda Shield.

Keberatan China soal pengeboran minyak di Natuna dan latihan militer Garuda Shield dengan bahasa diplomatik menggertak tidak dijawab oleh Kemenlu RI. Setidaknya itu bunyi publikasinya. Ini sebuah sikap yang diniscayakan berkarakter wibawa. Dan memang harus begitu. Karena jelas sesuai konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982 hak berdaulat perairan ZEE Natuna dimiliki sah Indonesia. Harus dibedakan antara hak berdaulat di 200 mil ZEE dengan kedaulatan teritori 12 mil dari pantai. Kedaulatan teritori adalah hak mutlak pemilik teritori sedangkan hak berdaulat di ZEE, kapal-kapal asing bebas melintas namun tidak boleh mengambil sumber daya yang ada di ZEE.

Agak berlebihan kemudian jika China keberatan soal latihan militer kita dengan Paman Sam. Sementara angkatan laut China sesuka hati wira wiri di Laut China Selatan (LCS), apalagi kapal selamnya. Bisa saja kapal selamnya sudah memetakan selat Sunda, selat Malaka atau selat Lombok di jalur laut strategis ALKI 1 dan 2. Sudah tidak terhitung militer China memprovokasi Vietnam, Filipina dan Malaysia. Termasuk Indonesia. Eksplorasi dan pengeboran gas di ZEE Natuna "ditungguin" kapal coast guard dan kapal perang China berbulan-bulan sejak Juni 2021. Indonesia juga mengirim beberapa KRI dan kapal BAKAMLA untuk mengawal eksplorasi yang dilakukan perusahaan minyak Rusia dan Inggris. Eksplorasi jalan terus.

Dinamika diplomatik dan pengerahan kekuatan militer di LCS tentu menguras energi diplomasi dan sumber daya alutsista. Sementara Indonesia selama ini selalu berupaya bersikap netral manakala klaim China menggerus ZEE beberapa negara jiran. Dan ketika nota diplomatik China dilayangkan untuk pertama kali soal keberatannya terhadap eksplorasi gas di ZEE Natuna juga soal latihan Garuda Shield, mau tidak mau mengharuskan kita untuk mengambil sikap tegas, tidak netral lagi. Kita sudah satu barisan dengan Malaysia, Vietnam dan Filipina. Apalagi soal Garuda Shield sangat tidak pantas ada negara lain keberatan. Ketika China mengadakan latihan militer skala besar dengan Rusia setelah Garuda Shield tidak ada satupun negara di Indo Pasifik yang keberatan, terganggu dan protes. 

Pesan kuat secara militer dari dinamika terakhir ini adalah bersiap menghadapi segala kondisi terburuk.  Termasuk deklarasi Pakta AUKUS antara tiga negara "anglo saxon" Australia, Inggris dan AS. Pakta militer ini adalah jawaban strategis dan jangka panjang untuk memagari hegemoni militer regional China di Indo Pasifik. Aliansi AUKUS adalah rival setara untuk membendung ambisi China terhadap penguasaan teritori yang kaya energi tak terbarukan. Bagi Indonesia percepatan pengadaan alutsista strategis seperti kapal perang heavy frigate, kapal selam, jet tempur, uav, radar, peluru kendali jarak jauh adalah jawaban secara militer.

Semua yang dibutuhkan ini adalah investasi bidang pertahanan untuk menjaga dan melindungi eksistensi negara bangsa. Sama halnya ketika kita bicara soal investasi bidang ekonomi. Muaranya sama untuk eksistensi negara bangsa. Investasi atau pembangunan bidang ekonomi adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Investasi bidang pertahanan adalah untuk mengawal kesejahteraan dan kemakmuran. Dua-duanya harus seiring sejalan. China sudah bilang dia keberatan maka kita juga bisa bilang: kami juga keberatan kalau sampeyan keberatan.

****

Jagarin Pane / 3 Desember 2021

Saturday, November 20, 2021

Serial Kabar Baik Sepanjang Tahun Ini

Penambahan alutsista TNI berjalan terus. Barusan ada kabar baik dari Dubai Air Show. Indonesia resmi memesan 2 pesawat Airbus A400M multi fungsi untuk TNI AU dengan opsi bisa menambah 4 unit lagi. Ada pertanyaan mengapa kita beli pesawat ini, bukankah kita sudah teken kontrak 5 unit Super Hercules.  Dan bahkan kita sudah punya 30an Hercules di 3 skadron angkut berat JMM (Jakarta, Malang, Makassar). Pesawat A400M bisa difungsikan sebagai pesawat tanker refueling jet tempur di udara, bisa untuk angkut dan dropping pasukan dan alutsista, bisa juga untuk pemadam kebakaran hutan. Lebih dari itu pembelian ini diniscayakan sebagai bargaining position agar produksi CN 235 di PT DI bisa "berdikari" lepas dari induknya.

Saat ini 14 pesawat jet latih tempur T50 Golden Eagle sedang dalam proses pemasangan instrumen radar tempur dan rudal. Golden Eagle sudah menjadi inventori skadron 51 yang baru dibentuk di Natuna, mengawal teritori udara bersama skadron 51 UAV di Supadio AFB. Dan kita sudah teken kontrak untuk menambah lagi 6 unit T50 dengan Korsel. Sementara itu dari 10 jet tempur F16 blok 15 yang di upgrade instrumen tempurnya di skadron teknik Iswahyudi AFB, 5 unit sudah terbang dan mampu berkelahi jarak jauh, diluar jangkauan visual, berkat daya endus radar canggihnya dan punya rudal AMRAAM. Nilai istimewa dari paket ini adalah teknisi TNI AU diberi kepercayaan penuh untuk membedah jeroan F16 oleh produsen Lockheed Martin AS. Sebuah model transfer teknologi yang tepat guna tanpa banyak cingcong.

Kalau mau diurai, banyak serial dan episode yang menggembirakan soal perkuatan alutsista TNI sepanjang tahun ini. Kontrak efektif pembangunan 2 kapal perang heavy frigate Arrowhead sudah berjalan. PT PAL sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Pembangunan kapal perang terbesar ini akan menjadi catatan tinta emas bagi Indonesia, utamanya PT PAL karena inilah pembangunan kapal perang yang belum ada contohnya yang sudah jadi di Babcock Inggris, dibangun di galangan kapal Indonesia dengan lisensi penuh. Banyak tenaga ahli dan ribuan pekerja yang terserap di proyek strategis ini. PT PAL yang sedang konsentrasi dengan berbagai paket pembangunan kapal perang dan kapal selam "melimpahkan" sebagian ordernya alias bersinergi ke PT Lundin Banyuwangi utamanya untuk pembangunan kapal cepat rudal. Lundin saat ini sedang menyelesaikan sea trial KRI Golok 688 berkarakter trimaran dan stealth. Sebuah improvisasi dari industri pertahanan swasta dalam negeri yang patut diacungi jempol.

Beberapa galangan kapal swasta nasional saat ini sedang tekun dengan proyek masing-masing. Di Lampung sedang dikerjakan pesanan 2 kapal perang OPV (Offshore Patrol Vessel). Ini untuk pertama kalinya PT Daya Radar Utama Lampung dipercaya Kemenhan membangun 2 kapal perang striking force. Sebelumnya PT DRU sukses membangun 5 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank).  Di Batam saat ini sedang dikerjakan pembangunan 2 kapal perang LST dan kapal-kapal BAKAMLA. Galangan kapal swasta nasional di Batam sukses membangun kapal cepat rudal Clurit Class sebanyak 8 unit. Di Banten saat ini sedang dikerjakan produksi beberapa kapal patroli cepat baik untuk ukuran KRI maupun KAL.

Sementara PT PAL saat ini sedang menyelesaikan overhaul KRI Cakra 401, pembangunan 2 kapal LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit, pembangunan 2 kapal cepat rudal dan upgrade KRI Usman Harun 358. Nah, yang luput dari perhatian kita saat ini adalah proses pembangunan 2 kapal perang jenis penyapu ranjau "Frankenstein Class" buatan Abeking Rasmussen di Jerman. Juga proses pembuatan 7 pesawat amfibi CL415/515 buatan Viking Air Kanada untuk TNI AU yang dipesan beberapa tahun lalu. Pesawat amfibi ini juga multi fungsi, salah satunya untuk pemadam kebakaran hutan. Diharapkan tahun depan secara bertahap pesanan alutsista ini sudah mulai berdatangan.

Di matra darat PT Pindad setelah sukses memproduksi ratusan panser Anoa, juga sukses memproduksi panser Badak, sudah pula lulus uji kelaikan dari Kemenhan. Pada saat yang bersamaan saat ini PT Pindad sedang memproduksi belasan tank Harimau pesanan TNI AD. Prediksi ke depan tank Harimau akan menggantikan ratusan tank AMX 13 buatan Perancis yang sudah mengabdi cukup lama. Produksi PT Pindad lainnya adalah rantis Maung, ranpur Komodo, ranpur Cobra, ranpur Sanca dan lain-lain. Pindad bersama beberapa institusi Litbang lainnya saat ini sedang mengembangkan roket R-Han 450 yang punya jarak tembak 100 km.

Indonesia dan Korsel baru saja menyepakati kelanjutan proyek prestisius pengembangan jet tempur KFX / IFX.  Proyek ini sempat terhenti karena pandemi dan hal-hal teknis lainnya. Jika semuanya berjalan normal maka kita akan mendapat bagian memproduksi 48 jet tempur canggih dalam rentang waktu 8 sampai 10 tahun ke depan. Paket kerjasama teknologi jet tempur ini sudah berjalan sejak sepuluh tahun yang lalu dan kita sudah berada di dua pertiga perjalanan panjang ini. Kunci dari durasi panjang kerjasama ini adalah konsisten dan sabar menanti meski banyak godaan untuk pindah ke lain hati. Pada ruang Litbang lainnya, Indonesia saat ini sedang mengembangkan teknologi pesawat udara nir awak atau UAV. Nama produknya Elang Hitam. Pesawat nir awak akan menjadi primadona manajemen pertempuran remote controle dan sangat efektif untuk melakukan misi pengintaian dan patroli. Diharapkan tahun depan Elang Hitam sudah bisa menjelajah langit Natuna.

Serial gembira dan membanggakan yang sedang ditunggu bersama adalah kontrak efektif pengadaan 36 jet tempur Rafale, 6 kapal perang heavy frigate Bergamimi Class dan kontrak awal pengadaan kapal selam. Ini yang berminggu dan berbulan menjadi headline dan diskusi hangat di forum militer tanah air. Rafale menjadi buah bibir karena sedang trending topic di pasar marketing sejumlah negara. Rafale adalah pelepas dahaga atas kehausan kita pada kurangnya jet tempur setelah nasib 11 jet tempur Sukhoi SU35 diterpa mendung tebal. Rafale adalah jawaban cemerlang dan kepiawaian Menhan Prabowo untuk memilih yang terbaik dan tidak neko-neko dengan sejumlah persyaratan non teknis. Perancis adalah produsen alutsista yang elastis dan akomodatif dengan persyaratan pembelian alutsista ke sejumlah negara.

Semua yang diamanahkan Kemenhan soal pengadaan alutsista skala besar ini sedang dalam proses dan perlu waktu. Pengadaan alutsista memerlukan mekanisme proses yang sistematis,rentang waktu untuk berbagai proses, negosiasi, spek teknis, teknologi, harga, lender dan lain-lain. Semuanya bertahap. Kita berharap pada akhir tahun ini sudah ada kabar yang menggembirakan dan membanggakan yaitu kontrak efektif pengadaan jet tempur Rafale dan kapal perang Bergamimi Class. Hitung-hitung sebagai kado akhir tahun yang membungakan hati. Semoga.

****

Jagarin Pane / 17 Nopember 2021

Monday, November 1, 2021

No Peace Without Strength

Mengapa Indonesia perlu memperkuat postur militernya, jawabnya seperti judul diatas, no peace without strength, tidak ada kedamaian tanpa kekuatan. Ini adalah bunyi pernyataan yang dikumandangkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Disamping itu perkuatan militer kita saat ini karena kita tertinggal dengan negara lain di kawasan. Luas teritori negeri kepulauan yang harus dilindungi membutuhkan kekuatan alutsista dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.

Program besar Menhan Prabowo membuka wawasan pertahanan nasional kita yang sampai saat ini ternyata masih rapuh. Angkatan Udara dan Angkatan Laut memerlukan percepatan ketersediaan alutsista strategis bernilai gentar. Dua hotspot Natuna dan Ambalat saat ini dan seterusnya memerlukan ketersediaan alutsista matra laut dan udara yang canggih. Pulau Kalimantan yang akan menjadi ibukota baru Indonesia saat ini hanya dipayungi 1 skadron jet tempur ringan Hawk di Supadio AFB. Padahal Kalimantan berhadapan langsung dengan 2 hotspot Natuna dan Ambalat.

Maka wajar saja ketika daftar belanja alutsista strategis TNI mengemuka di publik. Pengadaan 16 kapal perang heavy frigate canggih karena kita hanya punya 7 frigate dan 5 diantaranya sudah sepuh. Frigate Ahmad Yani Class yang 5 unit itu sudah terlalu lama mengabdi, sudah lebih setengah abad dari tahun pembuatannya 1967. Frigate TNI AL hanya 2 unit yang "milenial" dan terkini teknologinya yaitu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. 

Pengadaan 16 heavy frigate itu tidak beli murni tapi menggunakan metode transfer teknologi. Dua frigate Iver Class dengan desain Arrowhead Babcock Inggris sedang dibangun di PT PAL Surabaya. Serapan tenaga kerja dan tenaga ahli domestik menjadi catatan kebanggaan. Kemudian kontrak efektif pengadaan 6 kapal perang baru frigate Fincantieri Class bersama 2 kapal perang ready for use Maestrale Class diniscayakan menjadi angin segar spirit jalesveva jayamahe. Negara kepulauan sangat pantas mempunyai kapal perang heavy frigate.

Demikian juga dengan perkuatan angkatan udara kita. Saat ini kita punya 16 jet tempur Sukhoi SU27/SU30, dan 33 jet tempur F16. Penambahan kekuatan fighter sangat diperlukan. Luas teritori dirgantara kita terluas di ASEAN harus mampu dimarwahkan kedaulatannya dengan ketersediaan jet tempur baru seperti Rafale dan F15 Eagle sebagaimana publikasi yang beredar.  Namun dalam pandangan kita untuk rencana pengadaan jet tempur F15 Eagle dari AS akan lebih efektif jika kita menambah inventori jet tempur F16 Viper. 

Kita sudah lama dan sangat berpengalaman dalam mengoperasikan "keluarga" F16. Sejak tahun 1990. Apalagi saat ini insinyur dan teknisi kita sudah mampu melaksanakan overhaul F16 dari teknologi lawas menjadi F16 dengan teknologi terkini. Sanggup bertarung di udara secara beyond visual range. Tenaga ahli dan teknisi TNI AU sejauh ini sudah menghasilkan 5 unit F16 canggih dari 10 F16 blok 15 OCU yang direncanakan. Semuanya dikerjakan di Skadron Teknik Iswahyudi AFB dengan supervisi Lockheed Martin AS. 

Asal tahu saja bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang diberi akses transfer teknologi dari pabrikan Lockheed Martin. Taiwan yang lebih banyak jumlah F16 nya dari Indonesia dan sekarang menambah puluhan jet tempur F16 Viper tidak diberikan akses transfer teknologi. Artinya secara pemeliharaan dan logistik suku cadang lebih efisien dengan jet tempur F16. Menambah merek jet tempur setidaknya membuka kurikulum baru soal operasional dan pemeliharaan.

Jadi kombinasi Sukhoi, Rafale dan F16 sudah sangat baik dari sisi operasional, tidak banyak merek. Sukhoi dan Rafale double engine dan F16 single engine. Ideal menurut kita, syukur-syukur keluarga Sukhoi SU35 bisa dihadirkan memperkuat skadron Sukhoi. Penting juga dicatat agar proses pengadaan jet tempur baru tidak bertele-tele dan mudah pindah ke lain hati. Skadron tempur baru sudah dibentuk di Natuna. Isian pesawat tempurnya adalah T50 Golden Eagle buatan Korsel yang sudah dan sedang diinstal dengan radar ELM 2032 Elta Israel dan persenjataan rudal. Setidaknya Golden Eagle hari-hari ini mengisi ruang patroli udara di kawasan Natuna bersama skadron UAV.

Pernyataan Menhan Prabowo sebagaimana judul diatas adalah justifikasi kuat dan berlaku universal di diseluruh dunia. Lengkapnya adalah No prosperity without peace, but no peace without strength. Tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian tetapi tidak ada perdamaian tanpa kekuatan.  Ini pernyataan yang disampaikan Menhan ketika memberi pembekalan untuk penugasan Duta Besar Indonesia di luar negeri baru-baru ini.

Artinya pembangunan kekuatan ekonomi harus dikawal dengan pembangunan kekuatan militer. Kekuatan ekonomi produk domestik bruto Indonesia saat ini ada di urutan ranking 16 besar dunia. Nah ternyata kekuatan militer kita menurut GFP (Global Fire Power) juga berada di urutan 16 besar dunia.  Kita bangun terus perkuatan ekonomi kesejahteraan kita seirama dengan perkuatan militer, dua-duanya seiring sejalan. Kemakmuran tercipta dengan kedamaian dan kedamaian harus dijaga dengan kekuatan. Jelas kan.

****

Jagarin Pane / 31 Oktober 2021

Friday, October 15, 2021

Meniru Platform NATO-Pakta Warsawa

Indonesia masa depan suka tidak suka, mau tidak mau akan menjadi bagian dari palagan pertarungan militer super hebat dan spektakuler antara China dan AUKUS (Australia, United Kingdom, United States). Wilayah potensi konflik dahsyat di Indo Pasifik membuat perpindahan pergelaran kekuatan militer dari AS dan Eropa ke Asia Pasifik, dari Barat ke Timur. Ketika perang dingin, pergelaran kekuatan militer NATO dan Pakta Warsawa membelah Eropa, didominasi angkatan darat, karena bordernya daratan Eropa. Sementara AUKUS versus China didominasi angkatan laut dan udara. Platform AUKUS sama persis dengan NATO-Pakta Warsawa.

Gong telah berbunyi dan menghentak keras. Militer Indonesia harus berbenah dan bergegas cepat untuk menyesuaikan keikutsertaan takdir sejarah ini. Dua komponen sayap militer yang mutlak dipercepat kekuatannya adalah Angkatan Laut  dan Angkatan Udara. Tidak lagi memakai formula Minimum Essential Force tetapi menuju kepantasan untuk tampil "berkontestasi" sebagai peserta parade gengsi militer. Minimal mempunyai alutsista berteknologi yang sepadan dengan jamannya sebagai bagian dari ketahanan diplomasi militer. Meski tetap saja dianggap pelanduk oleh kedua gajah, China dan AUKUS.

Parade dan unjuk kekuatan kapal perang dan jet tempur di Laut China Selatan (LCS) sama sekali tidak terbayangkan sepuluh tahun lalu. Dan lihatlah sekarang betapa LCS sudah menjadi arena saling pamer otot militer para pihak. Tidak pernah sepi dari wira wiri alutsista laut dan udara. Barusan ada rombongan 4 kapal induk meramaikan LCS, dua dari AS, satu dari Inggris dan satu lagi dari Jepang. Dan untung saja kita tidak terlambat membangun pangkalan militer di Natuna. Sekarang sudah ada brigade komposit Gardapati yang mengawal Natuna dengan sejumlah KRI, UAV dan jet tempur.

Peristiwa kecelakaan kapal selam nuklir AS USS Connecticut barusan memberikan pesan kuat bahwa situasi bawah air LCS tidak lagi senyap. Patut diduga sudah ada infiltrasi dan pergerakan intelijen bawah air yang saling memantau dan membenturkan. Apalagi ternyata belum diketahui benda apa yang bertabrakan dengan kapal selam bertenaga nuklir itu di kedalaman LCS. Padahal kapal selam canggih AS memiliki teknologi sensor sensitif, proteksi berlapis dan early warning. Benturan cukup keras dan melukai belasan awak kapal Connecticut menandakan ada sesuatu yang menggelisahkan.

Perkuatan militer Indonesia saat ini dalam kondisi extra ordinary. Dalam waktu dekat segera ada kontrak efektif pengadaan 36 jet tempur Rafale, 24 jet tempur F15, 6 kapal perang heavy fregate Fremm Class, 2 kapal perang Maestrale Class. Sementara pembangunan 2 kapal perang heavy fregate Iver Class berlisensi dari Inggris sedang dalam proses awal pembangunan di PT PAL. Kita juga sedang bernegosiasi dengan Jerman untuk pengadaan kapal selam U214. Tentu ini langkah bagus karena Jerman adalah mahaguru teknologi kapal selam konvensional. Jika ini terwujud akan memberi "ruang pencerahan" untuk 3 kapal selam Nagapasa Class yang performansinya belum sesuai harapan. Nagapasa Class adalah U209 teknologi Jerman yang diproduksi "muridnya" Korsel. Langsung sajalah berguru ke mahaguru Jerman.

Sekilas jalan sejarah, NATO-Pakta Warsawa di masa perang dingin adalah pergelaran puluhan ribu tank, artileri, roket, peluru kendali, jet tempur bersama puluhan ribu prajurit siaga tempur di sepanjang garis batas Eropa Barat dan Eropa Tinur. Sementara Border AUKUS- China adalah pergelaran kapal induk, destroyer, fregat, kapal selam, peluru kendali jarak jauh, pesawat pengebom, uav, jet tempur. Kekuatan dominan adalah AL dan AU. Bedanya, NATO-Pakta Warsawa adalah pertarungan keroyokan para pihak masing-masing dipimpin oleh AS dan Uni Sovyet, melibatkan banyak negara Eropa sedangkan aliansi militer AUKUS-China adalah keroyokan melawan China. Tiga lawan satu.

Armada angkatan laut AS selama ini mendominasi Atlantik dan Eropa. Sekarang dua samudra dipegang, Atlantik dan Pasifik. Pengurangan kekuatan di Timur Tengah sudah berlangsung, termasuk menarik pasukan dari Afghanistan.  Karena untuk sekarang dan masa depan Indo Pasifik adalah pusat perhatian dan konsentrasi penuh militer AS. Wiilayah konflik ada di kawasan kita dan Indonesia secara geostrategis punya teritori terluas di Asia Tenggara. Sementara kita berselisih dengan China hanya soal ZEE 200 mil Laut Natuna Utara, bukan soal teritori kedaulatan 12 mil laut. Dan itu sama dengan perselisihan batas ZEE kita dengan Malaysia, juga dengan Vietnam di LCS. Tapi kan tidak heboh, biasa saja.

Maka sambil mempersiapkan kedatangan berbagai jenis alutsista canggih, keep calm, low profile, tetap tebar senyum persahabatan antara keduanya, AUKUS dan China. Sudah kita contohkan ketika kapal Coast Guard China dan kapal perangnya ngetem sebulan sepanjang September 2021 "nungguin" eksplorasi LNG di teritori ZEE Laut Natuna Utara. Kita kirim 3 kapal BAKAMLA dan 6 KRI tetap dalam kondisi siaga proporsional, kondusif. Pada saat yang sama konvoi kapal induk AS juga berlayar dengan gagah di sekitar lokasi eksplorasi. Artinya baik kapal-kapal China dan AS itu berada di wilayah ZEE Natuna dalam waktu yang relatif sama. Silakan tafsirkan sendiri.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2021

Sunday, October 3, 2021

Mengukus Dan Membungkus AUKUS

Dimana letak potensi konflik terbesar dan terhebat di dunia dengan durasi jangka panjang, jawabnya adalah Indo Pasifik. Ada tiga hotspot yang menjadi titik waspada dan titik awas yaitu Panmunjom Korea, Selat Taiwan dan Laut China Selatan (LCS). Dan diantara tiga titik panas itu yang paling panas adalah LCS. Dan salah satu yang terbaru dari gesekan di LCS adalah masuknya kapal survei bawah air China ke ZEE Natuna Indonesia dengan pengawalan beberapa kapal China Coast Guard (CCG) dan kapal perangnya. Ini adalah untuk pertama kalinya kapal survei bawah air China masuk wilayah ZEE Indonesia dan melakukan aktivitas pemetaan bawah laut hampir sebulan sepanjang September 2021.

Apa yang menjadi sebab, karena di wilayah ZEE itu sedang dilakukan ekplorasi perminyakan oleh perusahaan minyak Inggris dan Rusia. China merasa dia juga punya hak untuk melakukan hal yang sama di tempat yang sama. Maka kapal intelijen bawah air Haiyang Dizhi 10 dikerahkan dengan dikawal kapal CCG dan kapal perang. Indonesia segera merespon dengan mengirim 3 kapal BAKAMLA dan 6 KRI untuk memastikan ekplorasi gas dapat berjalan tanpa gangguan. Selama sebulan itu beberapa KRI kita mengawal proses  eksplorasi dengan dukungan kapal tanker logistik KRI Bontang 907 supaya KRI tidak kembali ke pangkalan AL untuk bekal ulang.

Sesungguhnya kita sedang mengelola situasi ngeri-ngeri sedap dinamika perseteruan jangka panjang di halaman depan rumah kita. Bagaimana kita bisa memastikan wilayah sah kita dapat terjaga dengan baik tanpa harus bermusuhan dengan negara yang sangat bernafsu dengan penguasaan wilayah kaya sumber energi. Bagaimana kemudian kita juga harus mengelola kehadiran Pakta AUKUS karena kita ada di tengah pusaran kedua blok militer raksasa itu yang punya kemampuan ofensif militer secara besar-besaran. Ini merupakan pekerjaan besar yang menyita waktu dan perhatian extra ordinary dari Kemenlu dan Kemenhan. Keduanya harus bersinergi kuat untuk menjaga situasi dan kondisi yang tetap kondusif. Termasuk "bergandengan tangan" dengan Malaysia, Filipina dan Vietnam, sesuatu yang belum terlihat kompak bersama. Ke empat negara ASEAN ini terkesan jalan sendiri-sendiri.

Kehadiran AUKUS adalah keharusan bagi pihak yang terancam supremasi dan hegemoninya. Dan dalam perspektif militer untuk melawan libido ekspansi China yang tidak mematuhi kaidah hukum laut internasional, AUKUS adalah jawabannya. Nah, untuk menjaga ritme perdamaian maka salah satu model diplomasi militernya adalah bersiaplah untuk perang. Perkuatlah kemampuan militer. Lahirnya Aliansi AUKUS ternyata memecah belah tatanan diplomasi sejumlah negara ASEAN. Indonesia dan Malaysia berpandangan relatif sama, mengkritisi AUKUS dan menjadi faktor pemicu perlombaan persenjataan. Singapura dan Filipina sebaliknya mendukung kehadiran dan prospek AUKUS, sementara Vietnam lebih memilih diam. 

Bagaimanapun AUKUS sudah menjadi takdir sejarah yang harus dihadapi. AUKUS yang sedang dikukus alias dipanasi oleh tiga negara "serumpun" Australia, Inggris dan AS, harus bisa kita bungkus dengan kecerdasan diplomasi. Caranya dengan mengedepankan dialog, diskusi, silaturrahim dan negosiasi yang terus menerus. Tidak boleh lelah, jangan pula lengah. Indonesia punya kesempatan besar diantara negara ASEAN lainnya karena posisi netralitasnya lebih mengemuka. Dengan China kita berkawan baik, investasi China banyak di Indonesia. Demikian juga dengan Australia, AS dan Inggris. Dengan Inggris kita baru teken kontrak lisensi pembangunan 2 kapal perang heavy fregate. Pengadaan ratusan peluru kendali Starstreak untuk batalyon Arhanud TNI AD juga dari Inggris.

Diantara berbagai jenis konflik yang terjadi setelah bubarnya Pakta Warsawa 31 Maret 1991 yang dikenal dengan berakhirnya perang dingin, konflik di Indo Pasifik adalah yang terbesar, kolosal, mengkhawatirkan dan mencemaskan. Konflik di tiga hotspot Indo Pasifik yang berkorelasi satu sama lain yang bermuara pada musuh bersama China adalah jawaban mengapa AUKUS dikukus. Termasuk aliansi QUAD yang melibatkan India, Australia, Jepang dan AS. Semuanya ditujukan untuk mengurung dan "membungkus" musuh bersama, China.

Perjalanan menjaga iklim demam berkepanjangan di LCS bagi Indonesia adalah kewajiban diplomatik yang penuh tantangan dan peluang, sekaligus mengasah kecerdasan diplomasi. Indonesia harus bisa membungkus potensi konflik paling mematikan ini dengan tetap teguh berdiri ditengah, tidak berpihak ke salah satu pihak. Soal ajakan untuk berpihak pasti ada, bahkan konon katanya untuk bisa mendapatkan 24 jet tempur F15 Eagle syarat tambahannya adalah agar menjauh dari "sono". 

Lucu juga ya, kita membeli alutsista dari AS sebenarnya untuk meyeimbangkan surplus neraca perdagangan karena kita mendapat fasilitas GSP (General Specialized Preference). Fasilitas keringanan bea masuk ekspor kita ke AS yang sudah puluhan tahun itu membuat surplus neraca perdagangan untuk kita. Jadi kalau tambah lagi persyaratannya mending Rafalenya Perancis yang diperbanyak. Apalagi kita sudah mengalah untuk "menunda tanpa batas" pesanan 11 jet tempur Sukhoi SU 35 dari Rusia karena menuruti CAATSA Paman Sam. Jangan mau didikte.

Kewajiban negara yang sangat penting dan mutlak adalah memperkuat otot militer dengan mendatangkan berbagai jenis alutsista strategis dan gahar. Adalah sebuah kepantasan kita bisa mendatangkan puluhan jet tempur, belasan kapal perang heavy fregate, kapal selam, UAV, peluru kendali dan lain-lain serta  mempunyai sistem manajemen pertempuran modern terintegrasi yang dikenal dengan network centric warfare. Itu semua sedang kita lakukan agar kita tidak dianggap anak bawang oleh pengklaim ZEE lalu seenaknya masuk pagar rumah tanpa kulonuwun. Kenapa harus ke dia, ya karena dia yang memulai cari gara-gara.

****

Jagarin Pane / 3 Oktober 2021

Thursday, September 23, 2021

AUKUS, Demi Supremasi Dan Hegemoni

Peta geopolitik dan geostrategis Indo Pasifik khususnya Asia Tenggara tiba-tiba menjadi hiruk pikuk dengan diumumkannya Deklarasi Aliansi AUKUS (Australia, United Kingdom dan United States) di Australia. Secara "BMKG", deklarasi ini jauh dari ramalan, perkiraan dan prediksi banyak negara termasuk kalangan intelijen. Bahkan sekutu NATO Perancis yang bertetangga dengan Inggris saja tidak mendengar kabar "bisik-bisik tetangga" soal AUKUS ini sebelum dideklarasikan.

Maka ketika Perancis akhirnya tahu soal deklarasi AUKUS, Paris marah besar dan merasa dikhianati. Pasalnya AUKUS punya program prioritas berskala besar dengan membangun 8 kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia. Sekaligus membatalkan kontrak pesanan 12 kapal selam konvensional dari Perancis. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari, begitu kira-kira peribahasanya. Maka wajah Presiden Emmanuel Macron murka, lalu menarik pulang Dubesnya dari Canberra dan Washington. Bayangkan kontrak alutsista senilai 50 milyar dollar hangus begitu saja.

Menghadapi kekuatan raksasa ekonomi dan militer China yang semakin menggurita, Australia bersama Inggris dan Amerika Serikat menyusun strategi militer out of the box. Tidak tanggung-tanggung Canberra sedang merancang benteng pertahanan berbasis pre emptive strike and long pass untuk menghadapi militer China. Membangun 8 kapal selam nuklir, menempatkan Tomahawk Cruise Missile di kapal perang destroyer Hobbart Class, melengkapi armada jet tempur stealth F35 dengan AGM-158 JASSM yaitu peluru kendali jarak jauh dari udara ke darat.

Padahal benua selatan itu sejatinya tidak berhadapan langsung dengan teritori negeri tirai bambu bahkan termasuk perairannya. Juga klaim nine dash linenya China di Laut China Selatan (LCS) tidak menyentuh teritori Australia. Masih ada rumah besar bernama Indonesia di depannya. Juga ada Malaysia, Filipina dan Vietnam. Kemudian sudah berjalan pula aliansi Quad empat negara yaitu AS, Jepang, Australia dan India untuk "mengurung" China. Maka menurut pandangan kita AUKUS ini lebih pas menyebut Australia rela berkorban untuk menguatkan kepentingan supremasi dan hegemoni "abang sepupunya" Paman Sam terhadap China.

Seperti permainan sepakbola, Australia yang berada jauh dibelakang garis tengah lapangan, sedang menyiapkan model tendangan jarak jauh, long passing langsung ke tiang gawang lawan. Serangan jarak jauh dengan peluru kendali balistik dan kapal selam nuklir menusuk ke jantung pertahanan lawan. Tiga sekutu "bersaudara" AS, Inggris dan Australia tidak bisa berharap banyak kepada Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina untuk menghadapi China. Padahal keempat negara ASEAN ini merupakan bumper terdepan dan berhadapan langsung dengan China di nine dash line.

Salah satu skenario pilihan AUKUS dalam letusan hebat konflik LCS jika terjadi, adalah dengan melakukan counter attack terhadap serbuan militer China  di LCS yang lebih dulu menyerang keempat negara ASEAN. Namun bisa saja pembentukan poros militer AUKUS ini sebagai salah satu formula diplomasi militer sebagai kekuatan penggentar terhadap China sehingga tidak berani memulai konflik terbuka di LCS. Termasuk juga dalam rangka menguatkan supremasi militer AS sebagai kekuatan nomor satu yang belakangan mulai dikejar China. 

Kita ketahui bersama saat ini antara AS dan China telah terjadi kejar mengejar ranking strategis untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar pertama di dunia. Perang dagang di berbagai sektor sudah terjadi. Dan sangat vulgar. Para analis ekonomi dunia memprediksi bahwa dalam lima tahun kedepan kekuatan ekonomi China akan menggeser posisi AS. Jadi aliansi AUKUS ini merupakan bagian dari pertarungan mempertahankan supremasi dan hegemoni secara ekonomi dan militer.

Bagi Indonesia aliansi militer segitiga AUKUS yang berbasis di Australia membuat kebijakan militer Jakarta yang selama ini fokus konsentrasi ke Utara harus kemudian membagi dan mewaspadai kekuatan besar di Selatan. Sudah kita ketahui ada ribuan marinir AS di Darwin Australia termasuk infrastruktur pangkalan AL dan AU serta radar over the horizon. AS juga punya pangkalan militer di Cocos Samudra Hindia, di Selatan Bengkulu.  Kelahiran AUKUS dianggap Jakarta sebagai pemicu semakin panasnya suasana konflik di kawasan LCS dan perlombaan penguatan militer. Dan palagan konflik ada di halaman rumah ASEAN.

Mengapa harus mewaspadai Selatan karena skenario "long pass" atau serangan jarak jauh dengan peluru kendali balistik termasuk pengerahan jet tempur siluman F35 pasti akan melewati pulau Jawa, jantungnya Indonesia. Termasuk rute kapal selamnya pasti akan melewati ALKI satu dan dua. Wajar kalau Jakarta gerah dengan aliansi militer segitiga AUKUS. Apalagi secara historis (sudah pengalaman neh) model komunikasi Canberra terhadap Jakarta tidak mengedepankan dialog kesetaraan sebagai bagian dari kualitas komunikasi diplomasi cerdas bermartabat. Sekelas Perancis saja bisa dikhianati apalagi kita. Insiden penyadapan percakapan presiden Sby salah satunya.

Kedepan kita harus lebih mencermati secara tekun setiap perubahan yang bisa menimbulkan konflik terbuka di kawasan ini. Kita perkuat militer kita secara terukur dan berdasarkan kebutuhan pertahanan nasional. Program besar mendatangkan 16 kapal perang heavy fregate,  36 jet tempur Rafale, 12 jet tempur F15 Eagle, 6 Hercules, 4 kapal selam, ratusan peluru kendali berbagai jenis dan lain-lain adalah bagian dari mengukur kekuatan sendiri untuk pertahanan teritori. Dalam diplomasi militer perkuatan pertahanan sekaligus untuk menjaga perdamaian di kawasan ini. Bukan untuk ngajak gelut.

****

Jagarin Pane / 23 September  2021

Saturday, September 18, 2021

Aliansi AUKUS, Formula Overdosis Bin Paranoid

Sepanjang pekan ini Indonesia mendapatkan dua "tekanan bathin" sekaligus dalam soal dinamika kawasan yang tak putus dirundung demam. Yang pertama adalah kedatangan tamu tak diundang tapi bukan maling, yaitu munculnya 6 kapal perang China di ZEE Laut Natuna Utara untuk menggertak gerak proyek eksplorasi minyak perusahaan Rusia. Yang satu lagi adalah deklarasi bersejarah yang kebablasan yaitu terbentuknya aliansi militer berbaju nuklir AUKUS (Australia, United Kingdom, United States) di Australia.

Sementara itu pada pekan yang sama Menhan Indonesia dan Menhan Inggris baru saja menjadi saksi penandatanganan kontrak antara industri pertahanan Inggris Babcock Internasional  dengan industri pertahanan Indonesia PT PAL. Kontrak dimaksud adalah  pembangunan berlisensi 2 kapal perang heavy fregate Babcock Arrowhead 140 yang akan dibangun di galangan kapal PT PAL Surabaya. Penandatanganan kontrak dilakukan diatas kapal perang Inggris HMS Argyll bersamaan dengan ajang DSEI 2021 di London.

Kontrak ini tentu sangat membanggakan kita karena kapal perang ini adalah yang terbesar, tercanggih yang akan dimiliki TNI AL dan tercanggih pula di ASEAN. Kebanggaan lainya adalah membangunnya di galangan kapal Indonesia, artinya akan banyak tenaga ahli dan teknisi kita yang terlibat. Secara tidak langsung adalah pemberdayaan sumber daya manusia, tenaga kerja terserap, menguatkan keahlian dan mendapatkan transfer teknologi kapal perang kelas berat. Inilah episode terakhir yang berakhir happy ending dari serial Iver Class berkelas yang dimodifikasi dan sangat dinantikan kehadirannya. Minimal bisa mengimbangi destroyer China Kunming 197 yang hari-hari ini "merajalela" di Natuna.

Dari sudut pandang militer perkembangan dinamika kawasan Indo Pasifik khususnya Asia Tenggara sangat intens dan tegang sepanjang pekan ini. Unjuk kekuatan di perairan Utara Natuna dengan munculnya 6 kapal perang China dan gugus tempur kapal induk AS Carl Vinson adalah pemicunya. Rombongan kapal perang China datang untuk menunjukkan ketidaksenangannya atas pekerjaan eksplorasi minyak yang katanya wilayah itu punya dia. Enak aja. Indonesia tidak tinggal diam dan mengerahkan 4 KRI dan 2 kapal Bakamla. Kemudian datang konvoi USS Carl Vinson melenggang dan berdansa atas nama kebebasan navigasi internasional. Maka bertemulah masing-masing "kontingen" di acara show of force antar kapal perang di perairan strategis itu.

Menghadapi China soal ZEE Laut China Selatan (LCS) dengan membentuk aliansi nuklir AUKUS jelas overdosis dan ketakutan yang berlebihan. Indonesia sangat keberatan dengan terbentuknya poros nuklir di kawasan ini. Australia terlihat begitu panik sekaligus arogan dan kurang menghargai negara tetangganya di ASEAN. Padahal dia pun adalah penandatangan traktat non proliferasi nuklir. Dia langgar sendiri. Konflik LCS mestinya disikapi proporsional dan profesional, bukan tergesa-gesa dan terkesan paranoid lalu bentuk AUKUS. Konflik LCS adalah soal ZEE, soal hak berdaulat bukan soal kedaulatan teritori 5 negara ASEAN. Dan mestinya diadapi saja dengan cara-cara konvensional.  Apalagi secara teritori negeri Kanguru itu tidak terancam secara langsung. Masih ada pelapis garis depan yang bernama Indonesia.

Aliansi AUKUS memprioritaskan Australia untuk segera memiliki 8 kapal selam nuklir. Padahal Australia pada tahun 2016 sudah menandatangani pembelian 12 kapal selam serang konvensional dari Perancis. Dan itu dibatalkan sepihak sehingga membuat Perancis marah besar dan menyebut Australia sebagai penghianat. Bahkan Presiden Perancis menarik pulang Duta Besarnya dari London dan Washington yang membuat hubungan diplomatik ketiga negara itu mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Jelas marah dong sudah kontrak 50 milyar dollar tiba-tiba dibatalkan demi memenuhi hasrat libido paranoidnya Australia yang overdosis itu.

Dalam pandangan kita aliansi nuklir ini justru memperkeruh keadaan yang sudah demam tinggi di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengantisipasinya dengan penguatan alutsista konvensional seperti pengadaan 2 kapal perang Arrowhead 140 dari Inggris. Ini yang disebut antisipasi proporsional, mengimbangi. Kalaupun Australia sudah punya senjata nuklir toh dalam perang nuklir tidak ada yang menang, semuanya tijitibeh, mati siji mati kabeh, game over. Semua teknologi terkini yang tercipta untuk kesejahteraan umat manusia hancur berantakan oleh senjata nuklir. Australia terlihat bermain kasar bersama saudara semarganya AS dan Inggris. Hanya mementingkan ego kepentingan sepihak demi hegemoni tiga serangkai yang merasa sebagai pemilik kebenaran. Dan yang lain tidak boleh benar.

****

Jagarin Pane / 18 September  2021

Wednesday, September 15, 2021

Menuju Sinergitas Industri Pertahanan Nasional

Kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke salah satu industri pertahanan (Inhan) swasta nasional paling kreatif di Banyuwangi dua pekan yang lalu memberikan angin segar untuk sinergitas Inhan nasional. Industri pertahanan kita baik BUMN dan swasta nasional selama satu dekade ini menunjukkan geliat perkembangan yang luar biasa seirama dengan proses perkuatan militer Indonesia. PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi salah satunya.

Mengapa Lundin disebut paling kreatif di Inhan matra laut, karena perusahaan ini punya inovasi produk yang membanggakan. Misalnya tank boat Antasena dan kapal cepat rudal trimaran KRI Golok 688 yang baru diluncurkan beberapa waktu yang lalu. Lundin tetap tegar ketika kapal sejenis, KRI Klewang 625 yang baru dicemplungkan ke laut beberapa tahun yang lalu terbakar habis karena korsleting listrik. Banyak yang menduga ada sabotase, maklum saja ini produk teknologi stealth yang sangat menjanjikan. Tetapi Lundin tidak baper, move on dan segera bangkit kembali. 

Kabar terkini yang membungamekarkan hati kita adalah serial lanjutan kisah pertemuan Menhan Prabowo. Ternyata kemudian dilanjutkan dengan kunjungan Direksi PT PAL Surabaya ke galangan kapal swasta nasional tersebut. Gayung pun bersambut, after that giliran petinggi Lundin berkunjung ke markas PT PAL di Surabaya. Mereka berdialog sesama profesional, benchmark, keliling fasilitas galangan kapal dan berujung pada ditandatanganinya MOU kerjasama strategis antara kedua Inhan itu. Yang satu BUMN yang satu lagi swasta nasional.

Next, PT PAL punya program besar yang harus dicermati secara khusyuk dan konsentrasi penuh. Saat ini saja kesibukannya benar-benar full house mengerjakan pembuatan 3 KCR (kapal cepat rudal) paket lengkap dengan senjata, pembangunan 2 kapal besar LPD (landing platform dock) rumah sakit dan overhaul kapal selam KRI Cakra 401. PT PAL juga sedang mengerjakan pembangunan 1 kapal sipil jenis pembangkit listrik terapung dan perawatan beberapa kapal perang TNI AL. Prestasi yang lain PT PAL telah sukses membangun 2 kapal perang jenis PKR (perusak kawal rudal) Martadinata Class bersama Damen Schelde Belanda.

Proyek besar yang segera dijalankan yaitu ikut membangun kapal perang striking force heavy fregate melalui pola kerjasama alih teknologi dan membangun kapal selam. Heavy fregate yang dimaksud adalah 2 unit Iver Class. Prediksi lanjutannya adalah membangun heavy fregate Bergamimi Class dengan perusahaan Italy dan Mogami Class dengan perusahaan Jepang. Kalau semua itu terlaksana maka lengkap sudah penguasaan teknologi yang dipegang PT. PAL mulai dari pembuatan kapal jenis KCR, LPD, PKR, Heavy Fregate dan kapal selam.

PT Lundin yang diambil dari nama pemiliknya John Ivar Alan Lundin asal Swedia yang beristri asal Indonesia sudah berkiprah di Inhan sejak tahun 2001. Hasil karyanya yang berupa kapal cepat spesial  berbahan karbon komposit berbagai ukuran sudah diekspor ke berbagai negara termasuk untuk inventori TNI AL.  Dan sekarang produk inovasi terbarunya adalah tank boat Antasena dan KCR stealth KRI Golok 688. Dua produk terkini Lundin ini menjadikan dia satu-satunya Inhan swasta yang paling kreatif dan berani nombok untuk menghasilkan produk alutsista matra laut.

PT PAL diprediksi akan memberikan ruang kepercayaan lebih besar kepada Lundin untuk membangun KCR lengkap dengan persenjataannya. Sementara PT PAL berkonsentrasi penuh pada proyek pembangunan kapal perang heavy fregate dan kapal selam. Inhan swasta nasional lain yang sudah diberikan kepercayaan oleh Kemhan adalah PT Daya Radar Utama (DRU) di Lampung yang mendapat kontrak membangun 2 kapal perang striking force jenis OPV (Offshore Patrol Vessel). DRU secara historis sukses membangun 5 kapal perang jenis LST (landing ship tank) Bintuni Class untuk TNI AL.

Kita menyambut gembira ada kolaborasi dan sinergitas antara Inhan BUMN dan Inhan swasta nasional. Pekerjaan besar menyediakan alutsista matra laut berbagai jenis kapal perang dan kapal selam dipola dengan bagi-bagi tugas, bagi-bagi pengalaman. Ada 8 perusahaan Inhan swasta nasional yang sudah menunjukkan kinerjanya membangun kapal-kapal patroli berbagai ukuran. Kerjasama strategis PT PAL dengan Lundin diharapkan akan menjadi landas pacu sinergitas untuk percepatan pengadaan kapal-kapal perang TNI AL.  Antasena dan  Golok  bisa menjadi percontohan inovasi membangun kapal serbu pantai dan kapal cepat rudal yang satu kelas dengannya. Kita ikut bangga dan mengapresiasi.

****

Jagarin Pane / 15 September  2021

Friday, September 10, 2021

Antara Membaguskuatkan LCS Dan Papua

Menlu dan Menhan Australia mengunjungi Indonesia Kamis kemarin tanggal 9 September  2021. Sebagaimana model meeting bilateral yang lagi trend, diadakan pertemuan 2+2 antara Menlu dan Menhan kedua negara yang bertetangga dekat. Meeting bilateral dengan model yang sama sepanjang tahun ini sudah dilakukan antara Indonesia-Jepang, Indonesia-Korsel dan Indonesia-AS. Menlu dan Menhan sebuah negara adalah tampilan wajah kecerdasan dan kewibawaan. Diplomasi Menlu adalah wajah kecerdasan dan diplomasi militer Menhan adalah kewibawaan dan marwah negara.

Australia datang membawa hadiah 15 kendaraan tempur Bushmaster untuk digunakan sebagai alutsista mobilitas pasukan perdamaian Indonesia di perbatasan Lebanon-Israel. Namanya hadiah ya diterima saja bukan karena kita kekurangan alutsista di UNIFIL. Kita sudah jauh-jauh hari membawa 18 panser amfibi BTR8a dan 50 panser Anoa untuk pasukan TNI yang berkekuatan sekitar 1000 prajurit disana. Sementara itu PT Pindad bersama Australia saat ini sudah memproduksi puluhan kendaraan tempur lisensi Bushmaster yang nama produknya Sanca untuk Kopassus TNI AD.

Jelas Australia harus merangkul Indonesia sebagaimana yang sudah dan sedang dilakukan saudara tuanya Pakde Sam. Semua yang dilakukan mereka ini untuk membaguskuatkan bumper Laut China Selatan (LCS). Lihat saja perhatian AS kepada kita. Dia buka akses seluas-luasnya pengadaan alutsista untuk negeri kepulauan ini. Bahkan mereka sedang merancang Undang-Undang untuk membuka pintu ini secara legal dan jangka panjang. Tahun depan kita mulai menerima pesanan 6 unit pesawat Hercules model baru dari tipe J. Saat ini kita juga sedang memproses pengadaan jet tempur F15 Eagle, berbagai jenis helikopter tempur, peluru kendali dan lain-lain.

Demi bumper LCS Australia mau tak mau harus bermanis buka dengan tetangga besarnya di Utara. Ini yang disebut dinamika geopolitik dan geostrategis kawasan. Sama halnya dalam soal Timor Timur di penghujung abad 20, dia pula yang sangat sibuk dan rewel dengan permainan catur geopolitik dan geostrategis. Hasilnya Timor Leste merdeka melalui referendum. Nah sekarang demi bumper LCS negeri Kanguru itu mau tidak mau harus unggah ungguh, kulonuwun dan pasang wajah santun dengan Jakarta, sekaligus mengurangi frekuensi keusilan dan kerewelannya soal Papua. Beda dengan soal Timor Timur dulu, dia petintang petinting, arogan dan merasa menjadi pahlawan.

Bisa kita lihat selama dua tahun terakhir, pemberitaan keusilan " informalnya" tidak beriak, tidak bergema. Australia juga ingin mencontoh AS yang mengajak kita untuk latihan tempur bersama. Kita ketahui bersama, AS dan Indonesia baru saja sukses mengadakan latihan militer skala besar Garuda Shield di Baturaja Sumsel, Amborawang Kaltim dan Makalisung Sulut dengan mengerahkan ribuan pasukan dan alutsista canggih.  Kemudian latihan manuver udara antara jet tempur F16 TNI AU dan pesawat pengebom nuklir strategis B52 AS di Balikpapan. Dan terakhir latihan militer bersama untuk evakuasi, bantuan dan medis udara dengan mengerahkan pesawat Hercules kedua negara di Lombok. Sementara di AS saat ini ada 100 prajurit intai amfibi marinir Indonesia berlatih bersama USMC.

Terkait dengan soal Papua, kecerdasan diplomasi Indonesia tak perlu diurai disini. Yang jelas kita punya posisi tawar yang lebih berbintang karena posisi geostrategis dan geopolitik di LCS. Dan kita meyakini bahwa riak diplomatik yang disuarakan untuk mendiskreditkan Indonesia soal Papua tidak akan menggema kuat alias mati angin.  LCS adalah medan konflik durasi jangka panjang dengan skala terbesar di dunia.  Dan kita adalah bumper garis depan yang sangat dibutuhkan aliansi AS, Australia, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis. 

Begitu heboh dan meriahnya sejumlah negara membentuk barikade bulan sabit untuk mengurung China mulai dari India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Jepang. Pemain besarnya AS, Australia, Inggris, Perancis, Jerman, Kanada yang semua rumah mereka tidak berada di "kelurahan" LCS bahkan "kecamatannya" pun beda. Dan kita salah satu bumpernya. Mereka ingin kita kuat, padahal kita juga ingin kita kuat dan sudah kita lakukan dengan kemampuan dan cara kita.  Dalam bahasa diplomasi kita punya kalimat bersayap: Untuk membaguskuatkan bumper LCS tidak perlu memberi angin pada segelintir kelompok KKB di Papua. Itu jelas syarat tersirat dalam sinergi dan energi diplomatik sambil berjabat tangan, karena sesungguhnya tidak ada makan siang gratis.

****

Jagarin Pane / 10 September  2021