Thursday, July 2, 2026

PT PAL Indonesia, Menuju Industri Pertahanan Global

Publikasi peluncuran kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) yang ketiga untuk Angkatan Laut Filipina tanggal 30 Juni 2026 yang lalu menggema luas di kawasan regional. PT PAL kembali mendapat kepercayaan Filipina membangun LPD ketiga dan keempat, setelah sebelumnya sukses membangun 2 kapal LPD untuk AL jiran utara ini. PT PAL sendiri sudah membangun 6 kapal perang LPD untuk TNI AL dan sedang membangun kapal LPD terbesar 163 meter Al Maryah untuk Angkatan Laut "Sultan" Uni Emirat Arab. Bahkan saat ini PT PAL sedang mempromosikan kapal perang striking force "little but lethal" kapal cepat rudal (KCR) 60 meter Sampari Class ke Filipina. TNI AL saat telah memiliki 6 KCR Sampari Class produk PT PAL Surabaya.

Dalam catatan kita sejauh ini PT PAL mampu memberikan kesan perjalanan prestasi yang "Quantum Leap". BUMN strategis ini memberikan kontribusi luar biasa untuk mengembanghebatkan industri pertahanan maritim Indonesia bersama industri pertahanan maritim swasta nasional yang tersebar di berbagai provinsi. Saat ini PT PAL sedang membangun 2 kapal perang heavy frigate "Merah Putih" untuk TNI AL. Satu diantaranya KRI Balaputradewa 322 telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. PT PAL mendapat order untuk membangun 4 kapal perang "Merah Putih Class" dengan target waktu penyelesaian secepatnya. 

KRI Balaputradewa 322 akan ikut serta dalam HUT TNI 5 Oktober 2026 mendatang bersama dua kapal perang heavy frigate yang baru dibeli dari Italia. Yaitu KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Skenarionya ketiga KRI gahar ini akan "mengawal" kapal induk TNI AL yang belum diberi nama dalam show of force parade seratusan kapal perang berbagai jenis 5 Oktober nanti. Prediksi kita perayaan HUT TNI akan dilaksanakan di pangkalan AL terbesar Surabaya. Sekedar sumbang saran perayaan HUT TNI tidak perlu terlalu kolosal seperti tahun kemarin di Monas. Begitu padatnya seratusan ribu pasukan TNI dan ribuan alutsista yang dikerahkan. Bersama ratusan ribu masyarakat yang menyaksikan memberikan kesan "suasana kolosal banget". Namun kurang tertata dan tertib dalam manajemen seremoni militer karena keterbatasan lahan dan penuh sesaknya partisipan dan penonton.

Kita ketahui bersama, saat ini  PT PAL punya kesibukan yang padat. BUMN andalan ini sedang membangun 2 kapal selam canggih Scorpene Envolved melalui kerjasama transfer teknologi dengan Perancis. Yang menakjubkan tentu saja kemampuan PT PAL membangun karya cipta sendiri yaitu kapal selam mini tanpa awak (KSOT) dan senjata laser untuk kapal perang. Kedua produk ini sudah diuji coba tahun 2025. Kementerian pertahanan tahun ini sudah memesan 30 unit KSOT untuk menguatkan armada bawah air TNI AL. Semua prestasi ini tidak terlepas dari kekuatan manajemen yang solid dan political will untuk membangunkuatkan industri pertahanan maritim Indonesia.

PT PAL beberapa tahun lalu mendapat order untuk modernisasi refurbishment 41 KRI eksisting berbagai jenis. Sebagai lead integrator BUMN ini merangkul beberapa industri pertahanan swasta nasional untuk percepatannya. Jadi disamping membangun kapal perang berbagai jenis PT PAL juga "merawat inap" berbagai KRI. Bahkan kapal perang LPD Filipina yang pertama dibangun PT PAL juga melakukan maintenance rawat inap di Surabaya baru-baru ini. Kapal selam KRI Cakra 401 ikut dalam program overhaul yang lebih dikenal dengan Program R41. Temasuk "Fatahillah Class" dan "Parchim Class" mendapatkan persenjataan peluru kendali anti kapal Atmaca buatan Turkiye.

Dalam perjalanan sumbangsihnya untuk ketersediaan alutsista TNI AL, BUMN maritim ini sudah lengkap membangun kapal perang berbagai jenis dan berbagai ukuran. Termasuk merawatnya. Mulai dari membangun FPB (Fast Patrol Boat), KCR "Sampari Class", korvet "Martadinata Class", LPD "Makassar Class", kapal selam "Nagapasa Class", kapal tanker logistik "Tarakan Class", dan yang terakhir heavy frigate "Merah Putih". Prediksi kita  tahun depan PT PAL akan mulai membangun kapal perang jenis LHD (Landing Helicopter Deck). Sementara pekerjaan besar lainnya adalah meng upgrade kapal induk bekas dari Italia untuk kesiapan operasionalnya sebagai kapal induk TNI AL.

Perjalanan kontribusi PT PAL tidak terlepas dari tata kelola manajemen yang profesional dibawah kepemimpinan Dr Kaharudin Jenod. Figur ini dan PT PAL seperti bertemunya filosofi "the right man in the right place". Dengan leadership yang terang benderang Jenod yang ahli perkapalan dan artificial intelligence mampu mengintegrasikan strategi manajemen galangan kapal dan perluasan pasar internasional. Prestasi yang lain adalah mampu menyelesaikan masalah keuangan selama 20 tahun menjadi profit margin yang menggembirakan. Bahkan untuk laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan 108,6% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan profit margin ini adalah hasil sinergitas percepatan proses produksi, efisiensi dan limpahan order termasuk implementasi digitalisasi manajemen. 

Political will adalah payung utama sebagai pelindung dan trigger manajemen PT PAL. Kebijakan Presiden Prabowo yang visioner termasuk ketika menjadi Menteri Pertahanan untuk membangunkuatkan industri pertahanan dalam negeri sudah memberikan hasil gemilang. PT PAL saat ini adalah industri pertahanan maritim nasional yang sedang bergeliat dan menjadi buah bibir di kawasan regional. Selayaknya kita memberikan apresiasi karena PT PAL tampil sebagai BUMN industri pertahanan terkemuka dan berprestasi. BUMN yang lain seperti PT Pindad dan PT DI  juga menunjukkan kinerja yang baik.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan PT PAL selama lima tahun terakhir ini menjalani masa keemasannya dalam "perjalanan karirnya". Menuju industri pertahanan maritim global bukan lagi cita-cita tetapi sudah dan sedang melangkah ke arah sana dengan percaya diri. Pasar ASEAN sudah terbuka, juga pasar Timur Tengah. Pasar Afrika berpotensi terbuka. Lebih penting dari itu adalah kemampuan PT PAL menyediakan kebutuhan kapal perang berbagai jenis untuk Angkatan Laut Indonesia. Kekuatan pertahanan sebuah negara harus didukung dengan kekuatan industri pertahanannya sebagai pemasok ketersediaan aset pertahanan. Dan manajemen PT PAL sudah menjawabnya dengan kinerja cemerlang. Tapi bagi netizen forum militer biasanya mereka lebih senang dan ramai membahas tema "fit for but not with" atau "full armament". Bagi netizen forum militer, Good News is biasalah. 

****

Jagarin Pane / 2 Juli 2026


Friday, May 29, 2026

Relevansi Extra Ordinary Dan Strategi Membeli Waktu

Seremoni penyerahan 6 jet tempur Rafale dan sejumlah alutsista TNI AU lainnya menggema luas di berbagai media internasional. Semuanya memberitakan tentang lompatan strategi extra ordinary dan teknologi militer Indonesia di tengah situasi dan kondisi geopolitik dunia yang bergejolak saat ini. Berbagai turbulensi konflik dan pertempuran terjadi di berbagai belahan bumi bulat bundar ini. Presiden Prabowo di Halim AFB Jakarta Senin 18 Mei 2026 resmi menyerahkan 6 jet tempur Rafale dari 42 unit yang sudah dipesan dari Perancis. Alutsista lain yang diserahkan adalah 2 radar GCI Thales buatan Perancis dari 13 yang dipesan. Juga 4 pesawat VIP Falcon 8X dan 2 pesawat angkut berat A400M Atlas. Masih ada opsi penambahan Rafale untuk melengkapi Air Superiority TNI AU menjadi 4 skadron tempur dengan 64 unit Rafale F4 Gen 4,5.

Program strategis investasi pertahanan di negeri kepulauan yang strategis ini,  saat ini terlihat sangat jelas extra ordinary. Berjalan cepat dan berkorelasi dengan strategi membeli waktu. Yaitu dinamika geopolitik yang memang sudah diprediksi Presiden Prabowo ketika masih menjadi Menteri Pertahanan. Ketika itu Menhan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar anggaran pembelian alutsista dapat ditingkatkan sampai US $ 34 milyar agar kemampuan pertahanan Indonesia  setara dengan luasnya teritori negeri. Saat itu Menteri Keuangan kelihatannya kurang mendukung sepenuhnya dan Presiden Jokowi berada "ditengah" keduanya. Apalagi saat itu ada wabah Covid 19.

Kita melihat gejolak dan turbulensi geopolitik dunia saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebenarnya lebih mengkhawatirkan lagi melihat kekuatan pertahanan kita sendiri. Meski dengan program minimum essential force (MEF) yang sudah berjalan sejak masa jabatan kedua Presiden SBY, sejauh ini pencapaiannya hanya untuk memenuhi kebutuhan "gizi dasar" alutsista kita. Baru sampai pada kriteria kekuatan minimal yang diperlukan. Artinya selama beberapa dekade sebelumnya kekuatan pertahanan kita memprihatinkan. Tidak punya kekuatan striking force yang bisa diandalkan. Program MEF yang berakhir tahun 2024 saat ini berlanjut dengan program Optimum Essential Force (OEF) 2024-2029.

Substansi program OEF dipercepat untuk mencapai target yang diinginkan tahun 2029. Bersamaan dengan prediksi dinamika kawasan Indo Pasific yang semakin liar, mudah meledak. Seperti selat Taiwan, Laut China Selatan (LCS), Laut China Timur  (LCT) dan Semenanjung Korea. Antisipasi terhadap semua prediksi itu adalah menggenggam strategi membeli waktu untuk mempersiapkan secepatnya kekuatan pertahanan. Indonesia menganut prinsip mandiri aktif dalam politik luar negeri dan defensif aktif dalam manajemen pertahanan. Kita tidak ingin terjebak dalam persaingan 2 kekuatan besar di Indo Pasific dan memihak salah satu kekuatan itu. Maka jalan satu-satunya adalah memperkuat otot militer untuk perlindungan teritori negeri sekaligus sebagai kekuatan diplomasi pertahanan. Maka jangan kaget ketika saat ini pengadaan investasi pertahanan Indonesia berjalan cepat, extra ordinary, berkejaran dengan waktu. 

Extra ordinary dalam program OEF menurut perspektif kita merupakan jalan terbaik based on situasi dan kondisi geopolitik dunia yang "mudah naik darah" dan mengumbar adrenalin. Dan semuanya bersumber dari penguasaan sumber daya alam dan energi yang terbatas. Sumber daya alam dan energi kita melimpah. Pertahanan negara merupakan sabuk pengaman (safety belt) bagi eksistensi negara dan keberlangsungan pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Kita perkuat pertahanan bukan untuk ekspansi. Ini yang disebut defensif aktif dan penguatan doktrin pertahanan yang menyesuaikan dengan dinamika geopolitik dan teknologi pertempuran. Jika kita mempunyai kekuatan pertahanan yang setara dengan luasnya teritori maka ini bagian dari diplomasi pertahanan yang paling efektif sebagai unsur penggentar.

Prediksi target OEF tahun 2029 untuk TNI AL adalah tersedianya penambahan aset investasi pertahanan 1 kapal induk lengkap dengan alutsista drone dan helikopter. Penambahan minimal 8 kapal perang heavy frigate dan 4 kapal selam baru, 30 kapal selam tanpa awak buatan PAL, 6 kapal selam midget buatan Italia dan kapal SAR kapal selam. Termasuk 8 baterai Coastal Missile untuk pengamanan selat strategis  dan seratusan tank amfibi marinir. Seluruh Lantamal sudah dikembangkan menjadi Komando Daerah Angkatan Laut ( Kodaeral). Saat ini TNI AL memiliki 274 KRI berbagai jenis, 4 kapal selam, ratusan tank/panser amfibi dan puluhan MLRS.

Untuk TNI AU sampai tahun 2029 ada penambahan 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KF21 Boramae hasil pengembangan bersama Korsel-Indonesia, 16 jet tempur Chengdu dari China dan 8 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Akan ada pesawat 3 AEW&C dan 4 pesawat angkut multi guna MRTT. TNI AU sedang menambah 25 radar GCI dari 2 jenis yang mampu berinteroperabilitas. Yaitu 13 Radar GCI Thales dari Perancis dan 12 Radar GCI Retia dari Ceko. Skadron UAV TNI AU juga bertambah menjadi 6 skadron di Pontianak, Natuna, Tarakan, Timika, Malang dan Medan.Tahun 2029 semua alutsista anyar ini diharapkan sudah ready for apa saja. Ready for exercise interoperability bahkan ready for war. Tapi bukan ready for "nakut-nakutin". Saat ini kekuatan eksisting TNI AU diluar Rafale adalah 16 jet tempur Sukhoi SU27/SU30, 33 jet tempur F16, 19 jet tempur T50, 24 jet tempur Hawk, 13 pesawat coin Super Tucano, 6 Drone Anka, 8 Drone Wing Loong dan 6 Drone Aerostar. Ruang udara tanah air saat ini dikawal 20 Satuan Radar TNI AU.

TNI AD, pertambahan yang paling revolusioner adalah pembangunan 750 batalyon baru dengan target setiap kabupaten ada 1 batalyon TNI AD. Artinya akan ada penambahan minimal 750.000 pasukan. Ini target sampai tahun 2029. Didalamnya ada penambahan batalyon infantri, batalyon kavaleri, batalyon artileri, batalyon arhanud, batalyon rudal dan batalyon zeni tempur. Termasuk pengadaan alutsista strategis beberapa baterai rudal balistik KHAN buatan Turkiye dan baterai ADS medium range BUK-MB2K buatan Belarusia. Penerbad juga dikembangkan menjadi 6 skadron dengan penambahan puluhan helikopter berbagai jenis. 

TNI AD adalah basis pertahanan pulau. Oleh sebab itu penambahan jumlah batalyon, penambahan jumlah Brigade dan Kodam bersama implementasi BMS (battle management system) adalah sebuah keniscayaan dalam Sishankam Semesta. Saat ini TNI AD sudah mampu berinteroperabilitas antar satuan tempur. Batalyon infantri, batalyon infantri mekanis, batalyon artileri, batalyon arhanud, batalyon roket, batalyon kavaleri dan skadron Penerbad. Semua sudah terintegrasi dalam BMS.  Dalam program ketahanan pangan satuan baru TNI AD berperan dalam ekstensifikasi lahan pertanian. Ini bagian dari tugas OMSP (operasi militer selain perang) sesuai UU TNI. Ketahanan pangan adalah instrumen vital dalam menguatkan ketahanan nasional.

Sejalan dengan percepatan OEF, beberapa negara melakukan Defence Cooperation Agreement (DCA) dengan Indonesia. Tahun ini saja ada 3 negara yang memperkuat kerjasama pertahanan berdimensi luas. Dengan Australia, AS dan Jepang. Ketiganya melihat posisi geostrategis Indonesia yang luas dan paling vital. Terutama untuk jalur logistik dan energi. ALKI 1 yang meliputi Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata, Selat Singapura dan Laut Natuna adalah jalur strategis. Australia naksir berat untuk memanfaatkan Morotai sebagai pusat latihan tempur bilateral dan multilateral. AS berkeinginan mendapat ruang lintas udara untuk pergerakan pesawat militernya. Termasuk berinvestasi MRO (maintenance, repair dan overhaul) untuk pesawat Hercules seluruh Asia di area Bandara Kertajati. Sementara Jepang memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk memperoleh kapal selam dan frigate. Bahkan sudah menghibahkan 2 kapal patroli untuk TNI AL dan Bakamla.

Ketiga negara ini sebenarnya ingin "merangkul" Indonesia bersamaan dengan menguatnya postur pertahanan Indonesia secara extra ordinary. Paling tidak mengajak Indonesia dengan karakter non aliansinya bisa lebih dinamis dan "tahu sama tahulah" menyikapi cuaca geopolitik kawasan. Ketiga perjanjian kerjasama pertahanan ini ternyata membuat China ngedumel. Kementerian Luar Negeri China memperingatkan agar perjanjian kerjasama pertahanan ini tidak merugikan pihak lain. Bagi Indonesia yang politik luar negerinya mandiri aktif tidak ada yang perlu dipersoalkan. Karena kita juga bersahabat dengan China termasuk membeli alutsista jet tempur dan coastal missile dari China. Diplomasi pertahanan Indonesia dan perkuatan militernya semata-mata untuk kepentingan nasional, defensif aktif, menjamin kedaulatan teritori dan stabilitas kawasan. 

Dinamika geopolitik mengharuskan Indonesia memperkuat manajemen pertahanan bersinergi dengan diplomasi pertahanan. Termasuk menjalin kerjasama pertahanan, bukan aliansi militer. Ini bagian dari strategi membeli waktu untuk mengantisipasi konflik dan turbulensi termasuk mencegahnya. Jika memang harus terjadi pertempuran diantara dua kekuatan besar di Indo Pasific, Indonesia sudah siap dengan kemungkinan terburuknya. Maka program extra ordinary OEF adalah jalan terbaik sejalan dengan perluasan perjanjian DCA bersama negara lain. DCA dengan Australia, AS dan Jepang adalah bukti bahwa posisi geostrategis, geopolitik dan perkuatan militer Indonesia sangat diperhitungkan. Tidak lama lagi kekuatan militer Indonesia dengan diplomasi pertahanannya bisa menjadi penengah konflik dan penentu stabilitas kawasan. Semoga.

****

Jagarin Pane / 29 Mei 2026


Wednesday, April 22, 2026

Sekutu De facto ?

Dinamika geopolitik dan geostrategis Indonesia bersama kawasan sekitarnya menarik untuk dicermati. Perang antara AS, Israel dengan Iran memberikan beberapa pelajaran penting. Antara lain teknologi rudal dan drone Iran yang luar biasa menghancurkan. Daya tahan Iran, kesalahan strategi pertempuran AS Israel, penguasaan jalur vital terkait dengan jalur logistik, energi dan militer. Khusus yang terakhir ini belakangan menjadi perhatian kita bersama terkait dua hal, bagaimana kemudian kita harus mampu mengelola geopolitik dan geostrategis kita. Seperti rayuan Australia untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Dan yang paling viral adalah dan keinginan AS untuk bebas melintas di ruang udara Indonesia.

Indonesia memiliki teritori yang luas dan kaya sumber daya alam. Lebih dari itu posisi teritorinya lengkap "dengan baretnya" tanah dan air berada dalam posisi yang strategis. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur lintas strategis dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya. ALKI Satu dengan jalur Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata dan Selat Singapura adalah jalur laut untuk logistik, energi dan militer yang sangat ramai lalulintasnya. Sementara ALKI Dua dengan jalur Selat Lombok dan Selat Makassar, juga menjadi jalur laut penting utamanya untuk kapal perang dan kapal selam karena ini perairan dalam. ALKI Tiga melalui perairan Maluku menjadi lintasan Australia ke Pasifik Barat dan sebaliknya.

Begitu strategisnya posisi teritori negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Klaim nine dash line China membuat kawasan Laut China Selatan (LCS) demam berkepanjangan. Klaim ini sepertinya ingin mengingatkan kita betapa pentingnya membangun kekuatan angkatan laut dan udara yang berkelas. Presiden SBY sudah memulai program strategis Minimum Essential Force (MEF) jilid I, Presiden Jokowi melanjutkan MEF II dan III. Dan Presiden Prabowo mempercepat dengan program extra ordinary bernama Optimum Essential Force (OEF). Istimewanya sejak Prabowo jadi Menhan program strategis memperkuat militer Indonesia berjalan cepat dan extra ordinary. Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Berbagai jenis alutsista strategis sudah, sedang dan akan datang, terus berdatangan menjadi aset investasi pertahanan bangsa.

Pada saat yang bersamaan saat ini kita bisa melihat berbagai konflik dan pertempuran yang terjadi di berbagai kawasan. Perang Rusia-Ukraina, penghancuran Gaza oleh Israel, perang India-Pakistan, perang Thailand-Kamboja, operasi militer penculikan presiden Venezuela dan perang keroyokan AS Israel melawan Iran. Dengan kondisi geopoltik yang mudah bergolak dan turbulensi ini maka dalam perspektif kita perkuatan militer Indonesia secara extra ordinary adalah langkah strategis terbaik. Semuanya untuk mengantisipasi dinamika dan goncangan geopolitik yang mudah "naik darah". Mudah angkat senjata seperti yang sudah dicontohkan presiden cowboy negara adidaya. PBB sepertinya mati suri. Yang berlaku saat ini hukum rimba, siapa yang kuat dia yang petintang petinting.

Harus diakui pada kenyataannya Indonesia dan AS lebih sering "jalan bareng" untuk mengadakan berbagai kurikulum latihan militer gabungan. Yang terbesar adalah Latgab Super Garuda Shield yang melibatkan ribuan pasukan kedua negara. Garuda Shield awalnya hanya latihan militer ala kadarnya sejak tahun 2006. Dan setiap tahun dilakukan. Namun lima tahun terakhir kapasitas dan kualitas latihan gabungan ini meningkat drastis dan diikuti belasan negara lain di Indo Pasifik kecuali China dan Rusia. Lokasi latihannya pun ada di beberapa lokasi di Indonesia. Serial latgab Super Garuda Shield mencakup kurikulum matra udara, laut dan darat secara interoperability. Ini merupakan latgab multi nasional terbesar di Indonesia dan salah satu latgab terbesar di Indo Pasifik.

Selain Super Garuda Shield, US Marines juga melaksanakan latgab Carat (Cooperation Afloat Readiness And Training) tahunan dengan Marinir Indonesia. Dengan Kopasgat TNI AU, US Air Force rutin melakukan latihan tempur. Personil TNI seluruh matra juga banyak dikirim ke pusat latihan militer di AS. Termasuk untuk intelijen dan siber. Kedekatan militer Indonesia dan AS juga tidak terlepas dari hubungan personal dan institusional karena banyak perwira TNI mengikuti sekolah dan menjadi alumni kampus militer bergengsi di AS. Semua aktivitas latihan militer bersama AS ini mencerminkan kedekatan hubungan militer secara struktural dan prosedural.

Dengan Australia TNI rutin berpartisipasi di Kakadu Exercise untuk matra laut  dan Pitch Black untuk matra udara. Kedua latihan militer multi nasional yang diselenggarakan Australia ini adalah latgab skala besar. Merupakan cara Australia untuk ikut membangun kebersamaan di kawasan Indo Pasifik. Sementara seri terbaru latgab terbesar Indonesia Australia adalah latgab Keris Woomera di Situbondo Jawa Timur yang dimulai November 2024. Kedua negara mengerahkan ribuan prajurit dan alutsista. Australia mengerahkan MBT Abrams, Indonesia mengerahkan MBT Leopard. Sejumlah kapal perang dan tank amfibi kedua negara meramaikan pantai Situbondo, termasuk jet tempur F16 TNI AU.

Postur kekuatan militer Indonesia yang berkembang pesat saat ini menjadi perhatian kawasan khususnya Australia dan AS. Australia tidak bisa lagi mendikte dan meremehkan Indonesia. Bisa kita lihat pola diplomasi negeri kanguru saat ini. Lebih proaktif merapat ke tetangga besarnya untuk kerjasama pertahanan. Strategi pertahanan Australia tahun 2026 menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis, penting dan abadi. Tumben abadi. Bahkan belakangan ini Canberra merayu Jakarta agar mendapat akses ke Morotai. Argumen yang digunakan adalah untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer skala internasional. Namanya juga diplomasi pertahanan, kita pun paham arahnya.

AS yang punya kedekatan hubungan militer dengan Indonesia kemudian mengajukan permintaan izin lintas udara (blanket overflight clearance) untuk seluruh pesawat militernya. Dalam pandangan AS posisi teritori Indonesia yang luas ini adalah akses strategis untuk bisa leluasa keluar masuk  dari dan ke LCS dan LCT (Laut China Timur). Benang merahnya bertemu dengan keinginan Australia untuk mendapat akses ke Morotai sebagaimana artikel kita beberapa minggu lalu. Dalam skenario pertempuran yang sudah terbukti secara historis, Morotai bisa menjadi pangkalan aju yang vital untuk AS dan Australia jika terjadi pertempuran besar dengan China.

Menhan Indonesia dan AS baru saja menandatangani perjanjian aliansi strategis MDCP (Major Defense Cooperation Partnership) tanggal 13 April 2026 di Washington. Khusus untuk permintaan izin bebas lintas udara ini belum mendapat persetujuan Indonesia. Kemlu kita sudah bersurat ke Kemhan agar berkoordinasi lebih dulu sebelum melangkah lebih jauh. Karena ini bisa mempengaruhi stabilitas kawasan. Jubir Kemlu Yvonne Mawengkang menegaskan bahwa kedaulatan nasional adalah dasar dari semua kesepakatan. Jangan lupa baru saja berlaku UU No21/2025 tanggal 25 Nopember 2025 tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional (PRUN). Seperti kita ketahui Kemlu China bereaksi tajam dan mengingatkan Indonesia agar dalam perjanjian kemitraan dengan negara lain tidak merugikan pihak lain. Ini sesuai dengan Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan Asia Tenggara.

Kita mengapresiasi langkah Kemlu yang cepat, tepat, senyap untuk mengingatkan. Karena bagaimanapun politik luar negeri kita berbasis non blok dan bebas aktif dinamis. Yang namanya dinamis ya seperti kedekatan militer kita dengan AS. Bukan berarti kita berada dalam pengaruh AS. Boleh saja orang menganggap AS dan Australia sekutu de facto Indonesia karena sejauh ini militer Indonesia banyak berinteraksi dengan AS dan Australia. Kita menyebutnya lebih pas, teman tapi mesra. Kerjasama pertahanan dengan AS dalam MDCP dan dengan Australia dalam Jakarta Treaty secara de jure adalah kemitraan strategis, bukan aliansi militer. Jadi AS dan Australia bukan sekutu Indonesia. Meski secara de facto militer kita dekat dan sering berinteraksi dengan keduanya.

Dinamika geopolitik dan perkuatan militer Indonesia saat ini adalah keniscayaan yang ada di depan mata. Optimum Essential Force dengan extra ordinary seperti sebuah strategi membeli waktu, berlomba dengan dinamika geopolitik. Maka perjuangan kita adalah secepatnya bisa menghadirkan berbagai jenis alutsista untuk memastikan ketersediaannya  yang setara dengan luas wilayah. Politik luar negeri Indonesia yang ingin bersahabat dengan semua negara bagaimanapun harus diperkuat dengan diplomasi pertahanan dan alutsista yang gahar. China adalah sahabat kita. Juga dengan AS dan Australia. Meski secara de facto militer kita lebih dekat dengan Bani Anglo Saxon ini, bukan berarti kita punya "akad nikah" aliansi militer. Sebatas teman tapi mesra lah. Sebatas teman main, gitu loh Pakde Mao.

****

Jagarin Pane / 22 April 2026


Tuesday, March 31, 2026

Mengapa Morotai

Ada berita menarik ketika Menteri Pertahanan merangkap Wakil PM Australia Richard Marles berkunjung ke Jakarta  tanggal 12 Maret 2026 yang lalu. Bahwa Indonesia dan Australia akan mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Ini kunjungan Marles yang kedua setelah kunjungannya yang pertama 5 Juni 2025 untuk maksud yang sama. Bedanya dengan kunjungan yang pertama, kunjungan kali ini membawa payung Jakarta Treaty yang baru ditandatangani Februari 2026 yang lalu. Traktat Jakarta adalah perjanjian kerjasama pertahanan kedua negara tetapi bukan aliansi militer.

Morotai yang sekarang menjadi nama Kabupaten di Provinsi Maluku Utara adalah nama legendaris pada masa Perang Dunia II di Indo Pasifik. Morotai adalah pangkalan aju strategis dan simbol estafet kemenangan pertempuran. Baik ketika dikuasai Jepang tahun 1942 maupun ketika dikuasai Sekutu tahun 1944. Operasi Trade Wind merupakan estafet penting dalam pertempuran di Morotai. Sejarah mencatat pasukan Jenderal Douglas Mac Arthur berhasil memukul mundur tentara Dai Nippon dari Morotai 15 September 1944. Kemudian membangun 6 landasan pacu sebagai persiapan menyerang Filipina dan Jepang. 

Sisa-sisa peninggalan infrastruktur PD II di Morotai masih jelas terlihat sebagai situs sejarah hiruk pikuk pangkalan angkatan udara. Masih berserak sisa puing pesawat, tank, amunisi, hanggar dan landas pacu. Dari delapan landasan pacu, landasan pitu (tujuh) dimanfaatkan menjadi Bandara Leo Wattimena  di provinsinya Ibu Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos yang cantik, lincah dan gesit. Yang lebih fenomenal adalah ditemukannya tentara Jepang Teruo Nakamura pada tahun 1974. Serdadu Hirohito ini mampu bertahan hidup selama 30 tahun di hutan Morotai. Luar biasa.

Sepenting apakah kemudian pengembangan pusat latihan militer Morotai bagi Indonesia. Bukankah sudah ada Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel, Puslatpur Marinir di Situbondo Jatim. Ada Puslatpur di Sangatta Kaltim, Dabo Singkep di Kepulauan Riau dan lain-lain. Berbagai lokasi AWR (Air Weapon Range) juga tersebar di sejumlah  daerah. Seperti di Pandanwangi AWR Lumajang, Buding AWR Belitung Timur, Astra Kestra AWR Lampung, Takalar AWR Sulawesi Selatan, Haluoleo AWR Sulawesi Tenggara. Bukankah Morotai ada di periferi teritori Indonesia, di tepi samudra biru nan luas Pasifik. Dalam perspektif kita Morotai bukanlah lokasi strategis yang ideal dalam stimulus strategi pertahanan Indonesia.

Dalam Traktat Jakarta yang baru ditandatangani, Australia dan Indonesia bersepakat untuk menguatkan kerjasama strategis dalam bidang pertahanan dan keamanan. Tapi ini bukan persekutuan militer sebagaimana Pukpuk Treaty antara Australia dan Papua Nugini yang ditandatangani tahun lalu. Pukpuk Treaty berbunyi jika Papua Nugini diserang negara lain maka  Australia wajib membela. Traktat Jakarta hanya sebatas konsultasi, saling menjaga martabat bertetangga. Salah satu manfaatnya Australia harus bisa memahami dinamika pertahanan dan keamanan tetangga besarnya ini. Termasuk tidak mencampuri urusan keamanan dalam negeri masing-masing negara. Ujian sebenarnya dari traktat ini adalah dinamika geopolitik kawasan yang menjurus pada iklim "ngeri-ngeri sedap". Dan kesetiaan Australia terhadap isi perjanjian.

Dalam ruang horizon dan dinamika geopolitik Indo Pasifik, Australia memandang posisi Morotai sebagai lokasi historis strategis. Morotai adalah jarak udara terdekat dari Darwin sebelum menuju Clark Air Force Base(AFB) Filipina. Clark AFB dan Subic Navy Base adalah pangkalan militer AS di Filipina yang legendaris selama Perang Vietnam. Sangat dimungkinkan Morotai AFB akan berperan dalam skenario dan ikhtiar antisipasi. Ketika cuaca ekstrim permusuhan militer bergejolak menjadi pertempuran skala besar di Laut China Selatan (LCS) dan Laut China Timur (LCT). 

Latihan gabungan Super Garuda Shield beberapa tahun lalu yang diikuti limaribuan pasukan Indonesia, AS, Australia, Jepang dan lain-lain, ada simulasi pergerakan pasukan lintas udara. Satu kompi pasukan Kostrad TNI AD bersama pasukan US Army dideploy dengan pesawat angkut raksasa globe master US Air Force. Berangkat dari Andersen AFB di Guam Pasifik  menuju titik penerjunan di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Durasi perjalan selama lima jam jika ditarik garis lurus pertengahannya adalah Morotai. Padahal simulasi semua serial Super Garuda Shield adalah untuk menghadapi common enemy. Artinya baik dari Guam dan Darwin, Morotai merupakan titik strategis yang efektif dan cepat dalam skenario counter attack untuk LCS dan LCT.

Meski pusat latihan tempur berskala internasional ini nantinya seratus persen dikelola Indonesia, bisa saja dengan persetujuan Indonesia berdasarkan Traktat Jakarta, Morotai "dipinjam" Australia untuk digunakan bersama AS menjadi pangkalan aju dalam menghadapi musuh antagonisnya. Disinilah percaturan geopolitik itu berperan. Dinamikanya bisa mengubah mata angin "keberpihakan" manakala kepentingan nasional kita diganggu. Soal ZEE Natuna misalnya. Nine dash line yang disebut lidah naga adalah klaim pengakuan sepihak China. Dan ini berlawanan dengan cara pandang Australia dan empat negara ASEAN lainnya Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunai.

Sebagai pusat latihan militer internasional, mengembangkan Morotai adalah bagian dari diplomasi militer Indonesia dan Australia. Sementara kita juga sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer untuk mencapai kekuatan yang optimum berkorelasi dengan luasnya teritori negeri ini. Pengembangan armada tempur TNI AL yang akan dikembangkan menjadi 5 armada, salah satunya tentu akan mengawal Morotai dan teritori perairan disekitarnya. Sorong di Papua Barat yang menjadi markas Komando Armada Tiga TNI AL dekat dengan Morotai. Dan diniscayakan menjadi payung perlindungan laut Morotai. Termasuk penempatan skadron tempur baru, bisa dialokasikan di Biak Papua  yang sudah punya skadron angkut TNI AU.

Indonesia bersahabat dengan negara manapun dan tidak terikat dengan aliansi militer. Dengan China kita mengedepankan prinsip kerjasama pengembangan sumber daya energi fosil di perairan Natuna. Juga dengan Malaysia di perairan Ambalat. Namun dalam ikhtiar antisipasi dinamika geopolitik yang mudah terguncang turbulensi seperti saat ini di Timur Tengah, kita harus mempersiapkan skenario ikhtiar kontigensi. Program besar utamanya dan extra ordinary adalah memperkuat pertahanan dengan berbagai jenis alutsista canggih. Dalam sistem manajemen pertempuran modern interoperability network centric warfare. 

Bersamaan dengan itu, memperkuat kerjasama pertahanan dengan tetangga, Australia contohnya. Pengembangan Morotai AFB sebagai pusat latihan militer internasional adalah bagian dari diplomasi pertahanan kedua negara. Tidak sulitkan merubah fungsi pusat latihan militer internasional menjadi pangkalan militer dalam situasi kontigensi menghadapi lawan yang sama. Karena infrastrukturnya sudah tersedia. Diplomasi pertahanan adalah bagian dari kecerdasan cara memperlihatkan tanpa harus mengatakan.  Meskipun begitu, kita juga harus tetap berhati-hati dan waspada dengan cara bertetangga jiran selatan berwajah Eropa ini. Sudah pahamlah maksudnya. Dan sudah pahamkan mengapa Morotai.

*****

Jagarin Pane / 31 Maret 2026


Thursday, March 19, 2026

Membangun Kemampuan ADS Dan Air Strike

Presiden ke 6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini menyampaikan pesan kuat agar manajemen pertahanan Indonesia mampu beradaptasi dengan doktrin based on kekuatan teknologi terkini. Doktrin pertahanan konvensional "masuk dulu baru digebuk" harus diganti dengan doktrin pre emptive strike yaitu "berani masuk digebuk". Teknisnya Indonesia harus memiliki kemampuan Air Defence System (ADS) dan Air Strike dengan aset alutsista strategis. Infrastruktur tempurnya adalah rudal, radar, satelit, pesawat deteksi dini, drone, jet tempur dan kapal perang. Seluruhnya berada dalam Combat Management System (CMS) yang terintegrasi dengan Network Centric Warfare (NCW).

Dalam program extra ordinary Kementerian Pertahanan yang dikenal dengan Optimum Essential Force (OEF), manajemen pertahanan Indonesia saat ini sedang bertransformasi menuju kekuatan pertahanan yang sepadan dengan luasnya wilayah teritori. Angkatan Laut dan Angkatan Udara mendapat prioritas perkuatan karena posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang khas negara kepulauan terbesar. Khusus untuk ADS, Indonesia sedang membangun sistem pertahanan udara (Hanud) berlapis. Seiring dengan itu juga membangun kemampuan Air Strike dan Air Superiority. Indonesia memang harus membangun doktrin pertahanan udara secara berlapis dan terintegrasi.

Lapisan terluar ADS dan Air Strike adalah unjuk kinerja kekuatan sejumlah jet tempur TNI AU yang sudah dan akan dimiliki. Saat ini ada 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 19 jet tempur T5O,  24 jet tempur Hawk dan 13 pesawat counter insurgency Super Tucano. Kedepan kita akan banyak kedatangan jet tempur canggih seperti 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KF21, 48 jet tempur KAAN, 8 jet tempur Sukhoi SU35. Bahkan Rafale akan ditambah 18 unit lagi untuk menjadi kekuatan 4 skadron tempur. Aset jet tempur beraneka ragam ini bagian dari penguasaan Air Superiority untuk negeri kepulauan yang luas ini.

Lapisan kedua ADS adalah dengan pemesanan 2 baterai HQ-9 buatan China. Sistem peluru kendali HQ-9, adalah alutsista pencegat jarak jauh dengan jangkauan tembak hingga 260 km. Kemampuannya adalah mencegat jet tempur lawan dan atau rudal balistik sebelum menyentuh teritori Indonesia. "Menjemput musuh" yang melakukan pre emptive strike di luar perbatasan negeri. Prediksi kedatangannya pada semester II tahun 2027. Sistem peluncuran rudal HQ-9 ini setara dengan rudal S300 dari Rusia dan  rudal Patriot dari AS. Kota-kota besar Indonesia seperti Ibukota Nusantara, Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar layak mendapat perlindungan minimal 1 baterai HQ-9.

Lapis ADS berikutnya dalam pertahanan udara area adalah ADS-400 Trisula, kolaborasi teknologi Excalibur Ceko dan Roketsan Turkiye. Jangkauan tembaknya 100 km dengan radar presisi tinggi. ADS-400 mampu membegal target-target lincah seperti jet tempur, rudal jelajah dan drone, jika lolos dari lapis  terluar ADS. Prediksi kedatangan alutsista canggih ini awal tahun 2027. Khusus alutsista buatan Turkiye sudah banyak yang datang seperti rudal balistik KHAN, rudal anti kapal Atmaca, drone Bayraktar, drone Anka. Dua kapal perang frigate "Istambul Class" sedang dipersiapkan pengirimannya ke Indonesia.

Berikutnya ada sistem Hanud area jarak menengah yaitu rudal surface to air Buk Mb2K dari Belarusia. Nah kalau yang ini tidak usah lagi diragukan, bersama keluarga Buk yang dari Rusia sudah battle proven di perang Rusia-Ukraina. Buk Mb2K mampu mengatasi ancaman drone, helikopter, pesawat dan rudal musuh. Meski belum dipastikan kedatangannya, Buk Mb2K menjadi bagian dari kesisteman ADS. Sekilas info, jet tempur Sukhoi, helikopter Mi17 dan Mi35 kita rutin dikirim ke Belarusia untuk perawatan berat dan pergantian suku cadang.

Lapis terdalam dan terdekat adalah infrastruktur peluru kendali NASAMS II buatan Norwegia. Alutsista ini sebanyak 2 baterai sudah operasional beberapa tahun lalu untuk melindungi Jakarta. Sistem ini mampu melindungi objek-objek vital dan pusat komando. Didukung sistem teknologi radar digital, NASAMS memastikan perlindungan area dengan akurasi terbaik. Dalam pertempuran Rusia-Ukraina NASAMS menunjukkan kinerja battle proven. Mampu mencegat banyak rudal dan drone Rusia dengan akurasi cemerlang.

Yang terakhir adalah pertahanan udara titik sebagai pertahanan lapis bawah ADS. Beberapa diantaranya berupa peluru kendali yang bisa dipanggul. Kopasgat TNI AU punya ratusan rudal panggul QW3 buatan China untuk mobilitas pertahanan pangkalan AU. Beberapa Air Force Base (AFB) Indonesia saat ini sudah memiliki sedikitnya 6 baterai alutsista perlindungan udara canggih Oerlikon Skyshield buatan Rheinmetall Jerman-Swiss. Alutsista ini berada dalam pengelolaan batalyon Kopasgat TNI AU, sekaligus aset strategis TNI AU. 

Alokasi Oerlikon Skyshield untuk Halim AFB Jakarta, Iswahyudi AFB Madiun, Roesmin Nuryadin AFB Pekanbaru, Supadio AFB Pontianak dan Hasanudin AFB Makassar. Natuna juga sudah mendapatkan Oerlikon Skyshield untuk Raden Sajad AFB. Bersama alutsista artileri Caesar Nexter, MLRS Astros II Mk6, MLRS Vampire, Tank Leopard berada dalam satu Brigade Komposit Gardapati Natuna. Sangat dimungkinkan jika Coastal Missile Brahmos buatan India sudah datang akan memperkuat benteng pertahanan Natuna.

Sementara itu seluruh Batalyon Arhanud TNI AD sudah memiliki ratusan sistem peluru kendali darat ke udara jarak pendek Starstreak buatan Inggris dan Mistral buatan Perancis. Inilah lapisan terakhir ADS. Yang menarik batalyon Arhanud kita masih setia dengan ratusan alutsista legendaris meriam anti serangan udara S60 buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia) yang usia dharma baktinya sudah 70 tahun. Kalau dijejer di parade kakek dan cucu jalan bareng neh, si Mbah analog S60 dengan cucu digitalnya Starstreak atau Mistral. Meskipun begitu kemampuan S60 masih prima. Rusia juga masih menggunakan alutsista gaek ini dalam perang melawan Ukraina.

Indonesia sedang bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Salah satu strateginya adalah diversifikasi aset alutsista. Menghadirkan Coastal Missile di selat strategis dan ALKI. Memperbanyak armada kapal perang dan kapal selam mini tanpa awak. Menyebar Rudal Balistik di beberapa titik strategis tanah air. Khusus untuk ADS membangun kekuatan pertahanan udara secara berlapis di kota besar dan obyek vital. Semua upaya extra ordinary ini baru terlihat ready by system tahun 2030. Manajemen pertempuran interoperability saat ini dan kedepan bertumpu pada kemampuan Air Strike dan Air Defence System. Dan TNI sesuai Tupoksinya harus mampu melindungi seluruh teritori negeri dengan Network Centric Warfare.

****

Jagarin Pane /19 Maret 2026


Saturday, March 7, 2026

Siaga Satu, Masih Mempersiapkan

Manajemen pertempuran saat ini dan seterusnya adalah Network Centric Warfare (NCW). Alutsista strategis yang wajib tersedia untuk pre emptive strike adalah adalah jet tempur, drone, radar GCI, pesawat AEW&C, rudal balistik, rudal arhanud, heavy frigate, kapal selam.

Indonesia sejauh ini sudah dan sedang mempersiapkan interoperability antar matra TNI. Software NCW sudah ada, buatan Sqytalys Yunani. Pengadaan 48 jet tempur Rafale, 48 jet tempur KF21 dan 48 jet tempur KAAN akan menambah daya pukul air superiority TNI AU. Termasuk penambahan 25 radar GCI.

Investasi pertahanan ini akan melengkapi aset pertahanan TNI AU yang sudah ada saat ini yaitu 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 16 jet tempur T50 dan 24 jet tempur Hawk. Alutsista drone sudah mengisi aset TNI AU seperti Aerostar, CH4 Wing Long, Anka.  Semuanya ditempatkan di Skadron UAV Natuna dan Pontianak.

Sejumlah radar GCI sudah diinstal di beberapa titik seperti Bengkulu, Sumba, Takalar, Banjar Baru. Jika sudah rampung penambahannya, wilayah udara tanah air akan dicover 40 radar GCI. No blank spot. Hanya yang belum tersedia adalah pesawat AEW&C.

TNI AL sudah banyak menambah KRI berbagai jenis. Sebagian besar produk dalam negeri. Ada penambahan enampuluhan KRI selama program MEF. Saat ini yang terbaru adalah KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321 buatan Italia. Heavy frigate terbesar di ASEAN.

PT PAL saat ini sedang membangun 4 KRI heavy frigate "Merah Putih". Satu sudah diresmikan bernama KRI Balaputradewa 322. PT PAL bersama galangan kapal swasta nasional baru saja menyelesaikan modernisasi 41 KRI berbagai jenis. Semuanya dalam satu combat management system interoperability. Saat ini TNI AL memiliki aset 180 KRI, 4 kapal selam dan 110 KAL.

PT PAL juga sedang mempersiapkan pembangunan transfer teknologi 2 kapal selam Scorpene bersama Perancis. PT PAL baru saja meluncurkan purwa rupa kapal selam mini nir awak (KSOT). Tahun ini mulai produksi 30 unit sesuai pesanan Kemenhan. Sementara dari Italia sedang proses untuk mendapatkan 6 kapal selam midget.

Dengan Turkiye kita sudah kontrak efektif untuk mendapatkan 2 kapal perang full combat Istif Class. Berbagai alutsista dari Turkiye sudah datang seperti rudal balistik KHAN yang ditempatkan di IKN dan titik strategis lain. Rudal anti kapal Atmaca sudah mulai berdatangan untuk 24 KRI striking force. 

Drone Bayraktar dari Turkiye sebanyak 60 unit nantinya akan menjadi alutsista andalan untuk kapal induk Italia Giuseppe Giribaldi yang dihibahkan ke Indonesia. Namanya menjadi KRI Gajahmada. Coastal Missile sedang proses pengadaan. Nantinya akan ditempatkan di selat strategis dan Natuna.

Kita harus Siaga Satu saat ini. Pada saat yang sama kita sedang mempersiapkan inftrastruktur pertahanan yang kuat untuk negeri seluas Eropa ini. Termasuk penambahan 500 batalyon TNI AD dan kemampuan Cyber Warfare. Persiapan kita sebenarnya untuk tahun 2030 ready for use. Dan sekarang sudah harus Siaga Satu. Begitulah turbulensi dinamika geopolitik dunia saat ini.

****

Jagarin Pane / 7 Maret 2026


Thursday, February 5, 2026

OEF, Menduga Sikap Jiran

Perkuatan militer Indonesia saat ini dengan program extra ordinary untuk mencapai Optimum Essential Force (OEF) bagaimanapun menjadi perhatian para jiran sekitarnya. Malaysia, Singapura, Filipina dan Australia punya cara masing-masing untuk menyikapinya. Yang jelas mata dan telinga intelijen mereka bekerja untuk memperhatikan modernisasi militer Indonesia. Wajarlah karena dalam hidup bertetangga dinamika geopolitik dan geoekonomi paling sering bersinggungan. Bahkan kadang-kadang sampai melakukan show of force seperti di perairan Ambalat dulu dengan Malaysia. Juga Australia pernah pamer kekuatan. Mengerahkan 8 jet tempur F18 bermanuver diatas Kupang NTT tanggal 16 September 1999, dua minggu setelah referendum Timor Timur. Apalagi kalau bukan untuk unjuk kekuatan pada saat kekuatan alutsista kita lemah karena embargo. Ini pengalaman pahit kita bertetangga.

Program extra ordinary untuk memperkuat militer Indonesia saat ini adalah yang terbesar sejak era Trikora dan Dwikora. Program strategis pemerintah ini adalah dalam rangka mengantisipasi turbulensi geopolitik dunia yang lebih sering mendebarkan saat ini. Tidak lagi sekedar ngeri-ngeri sedap. Sudah terbukti, dunia kita saat ini melenceng jauh meninggalkan tatakrama dan mekanisme ber PBB. Bombardir Israel di Gaza dibiarkan, pertempuran keroyokan jarak jauh 12 hari Iran-Israel dan AS, operasi militer AS di Venezuela, pengerahan kekuatan militer AS di sekitar Iran,  klaim AS atas Greenland dan Kanada. Mengusik ketentraman Mexico, Kolumbia dan Kuba, serta berbagai gertakan AS lainnya. Ini menunjukkan adanya kerusakan tatanan ekosistem geopolitik oleh sebuah sebab. Keangkuhan negara adidaya AS dan sekutu terkasihnya Israel.

Indonesia sesungguhnya sudah mengantisipasi cuaca ekstrim geopolitik global selama lima tahun terakhir. Menhan Prabowo waktu itu sudah punya "buku putih" sendiri dengan program besar dan cepat untuk memperkuat manajemen pertahanan berbasis network centric warfare (NCW). Maka bisa kita lihat hasil dari program extra ordinary ini dengan kedatangan 3 unit jet tempur Rafale dari 42 unit yang kita pesan. Dan akan ditambah menjadi 60 unit. Pengadaan alutsista cepat saji 2 kapal perang jumbo dari Italia sudah terlaksana dengan hadirnya KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Kemudian ada delapan puluhan Drone canggih Bayraktar, Akinci, dan Anka dari Turkiye. Bersamaan dengan itu ada penambahan 13 Radar GCI dari Thales Perancis dan 12 dari Retia Ceko. 

Dengan Korsel, Indonesia pesan 16 unit jet tempur KF21 hasil pengembangan teknologi bersama selama 10 tahun. Sebelumnya kita sudah pesan 6 jet latih tempur T50i dan datang bulan ini untuk menambah kekuatan 13 unit yang sudah ada. Turkiye yang sedang mempersiapkan produksi  jet tempur gen 5 KAAN dan masih dalam tahap pengembangan akhir, Indonesia sudah memesan sebanyak 48 unit. Kontrak efektif yang tertunda dengan Rusia untuk pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 sudah aktif kembali. Setidaknya ada tambahan 8 unit SU35 untuk melengkapi keluarga 16 unit Sukhoi SU27 dan SU30 yang sudah ada di Hasanudin AFB (Air Force Base) Makassar. 

Bandara Haluoleo di Kendari sedang dikembangkan menjadi AFB tandem dengan Hasanudin. Prediksi isiannya ya keluarga Sukhoi tadi. Dua AFB ini menjadi salah satu pilar kekuatan NTS (Nusantara Trident Shield) atau Perisai Trisula Nusantara untuk memayungi Ibu Kota Nusantara. Jet tempur J10 Chengdu dari China yang sempat digadang-gadang Menhan Syafri, jika jadi dibeli sangat dimungkinkan penempatannya di kawasan Timur Selatan Indonesia, menemani Sukhoi. Pilihan kuatnya bisa di El Tari AFB Kupang. Jet tempur China sedang naik daun karena dianggap sukses menjatuhkan 4 jet tempur Rafale India dalam pertempuran udara Pakistan-India berbasis NCW dengan durasi singkat tahun lalu.

Ada kabar baik dari Turkiye. Setelah mendapat "Brawijaya Class" dengan pola beli pesanan negara pembuat Italia,  dari Turkiye kita mendapat pola yang sama. Beli kapal perang yang hampir selesai untuk AL Turkiye. 2 kapal perang frigate "Istanbul Class" dialihkan untuk lndonesia. Sementara PT PAL yang sekarang sedang membangun 2 KRI heavy frigate Merah Putih akan membangun 2 unit lagi sehingga akan mencapai 4 unit. Jadi memang paralelisasi dan extra ordinary banget. Dari galangan kapal dalam negeri sedang sea trial 2 korvet KRI Raja Ali Fisabilillah 391dan KRI Lukas Rumkorem 392. Korvet KRI Bung Hatta 370 sudah menemani KRI VVIP Bung Karno 369. Keduanya produksi dalam negeri. KRI Belati 622 full combat buatan anak negeri sudah masuk Armada Tiga di Sorong. Rencana akuisisi 7 kapal perang frigate eksisting dari AL China bersama 1 kapal induk bekas dari Italia dipastikan akan menambah kekuatan gentar TNI AL.

Perkembangan yang begitu cepat perkuatan militer Indonesia saat ini menjadi sorotan media asing termasuk para jiran kita. Malaysia yang selama 1 dekade ini pertambahan alutsistanya cenderung stagnan, mulai menggeliat setelah memperhatikan kecepatan pertumbuhan alutsista Indonesia yang begitu masif. Secara kuantitas dan kualitas kekuatan alutsista Indonesia saat ini sudah jauh meninggalkan Malaysia. Meski Malaysia akan menambah jet tempur FA50 dari Korsel dan menyelesaikan 3 unit frigate "Maharajalela Class" yang tertunda bertahun-tahun, kekuatan jiran serumpun itu tetap masih dibawah kekuatan alutsista Indonesia yang berkembang pesat. Diantara seluruh negara ASEAN, Malaysia sejauh ini terlihat tersendat pertumbuhan kekuatan militernya. Bandingkan dengan Filipina dan Vietnam yang tumbuh signifikan.

Tetangga selatan Australia, kita meyakini, adalah yang paling aktif memantau pertumbuhan alutsista Indonesia. Canberra tentu sangat berkepentingan dengan keamanan nasionalnya. Program percepatan investasi pertahanan Indonesia mengharuskan negeri itu mengkalkukasi ulang kekuatan pertahanannya. Terbentuknya Aliansi militer Canberra dengan Port Moresby beberapa bulan lalu adalah bagian dari percaturan strategi militer Australia. Indonesia dalam pandangan Australia sejak dulu adalah tetangga besar yang selalu di suudzoni. Maka percepatan pertumbuhan kekuatan militer Indonesia saat ini boleh jadi menjadi kecemasan stadium satu bagi Australia. Harap-harap cemas bin khawatir. Biarkan saja toh Buku Putih pertahanannya sudah bersabda bahwa ancaman terbesarnya dari Utara.

Prediksi tambahan investasi pertahanan Indonesia tahun 2030 untuk TNI AU adalah tersedianya 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KFX, 8 jet tempur Sukhoi SU35, 16 jet tempur J10 Chengdu, 24 jet latih tempur M346F blok 20, 25 Radar GCI. Prediksi perolehan 48 jet tempur KAAN dari Turkiye setelah tahun 2030. Matra TNI AL memperoleh 1 kapal induk drone, 1 kapal induk helikopter, 8 heavy frigate, 4 kapal selam, 30 kapal selam nir awak, sejumlah batterai Coastal Missile, seratusan tank amfibi, puluhan MLRS, ratusan drone berbagai jenis dan lain-lain. TNI AD mendapatkan 22 helikopter Black Hawk, 6 helikpoter Mi17, 5 batterai Balistic Missile, ratusan tank, panser dan lain-lain. Pertambahan signifikan dan masif ini dipantau serius jiran selatan sambil bergumam what next.

Makanya diam-diam Australia menjalin persekutuan militer dengan Papua Nugini yang dikenal dengan Pukpuk Treaty. Meski disebut ini merupakan antisipasi perluasan pengaruh China di Indo Pasifik, tetap saja membuat Jakarta marah secara diplomatik. Sehingga Australia mengirim pejabat tingginya untuk menenangkan Jakarta. Dengan berbagai track record perilaku tetangga berwajah Eropa ini, kita memang perlu waspada. Bukankah Pukpuk Treaty bisa digunakan untuk akses proxy war di Papua. Strategi Indonesia yang ingin memperkuat skadron tempur buatan non barat di kawasan Timur dan pengembangan Armada Tiga, dalam perspektif kita adalah bentuk diplomasi militer yang cerdas. Termasuk menambah puluhan batalyon teritorial pembangunan di Papua. Ini bagian dari antisipasi dinamika geopolitik. Utamanya menghadapi pola bertetangga dengan jiran yang punya rekam jejak kurang baik.

Bagaimana dengan Singapura. Setali tiga uang dengan Australia yang menganggap Indonesia adalah ancaman terhadap eksistensi negerinya. Makanya Singapura jauh-jauh hari sudah memperkuat militernya dengan alutsista canggih. Sebenarnya bagi Indonesia sehebat apapun kekuatan pre emptive strike Singapura, bukan merupakan ancaman bagi Indonesia. Sebaliknya dengan teknologi drone,  benchmark pertempuran Rusia-Ukraina dan Iran-Israel justru membuat Singapura semakin merasa terancam. Sebab utamanya adalah kondisi geografi negerinya yang "little red dot". Padahal jiran yang bernama Indonesia ini selalu low profile dan bahkan bersepakat dengan DCA (Defence Cooperation Agreement). Perjanjian ini memberikan ruang latihan militer untuk AL dan AU Singapura di perairan selatan Natuna dan Bengkalis Riau. Kurang baik apa coba.

Program OEF Indonesia yang begitu masif diyakini menjadi perhatian serius negeri mungil itu. Harapan kita ada perubahan sikap diplomatik Singapura untuk lebih luwes dalam pola diplomatik. Seperti keberatannya atas penamaan KRI Usman Harun 359 pada kapal perang striking force Indonesia beberapa tahun lalu. Ini menunjukkan sikap Singapura yang belum move on dari Dwikora khususnya sabotase di Singapura yang dilakukan marinir Indonesia (dulu KKO) Usman dan Harun. Ciri khas keluwesan bertetangga mudah saja. Tunjukkan sikap saling menghormati meski secara kesejahteraan negeri itu lebih makmur.

Bagi Indonesia program OEF adalah kepantasan dan keharusan nasional. Untuk menjamin eksistensi dan marwah negeri kepulauan yang luas ini bersama kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah. Republik Indonesia yang seluas Eropa sangat wajar dan wajib memiliki ratusan jet tempur, ratusan kapal perang, rudal balistik, rudal pertahanan pantai, radar GCI, dan lain-lain. Manajemen pertahanan kita yang kuat sejatinya adalah untuk penyeimbang kawasan karena Indonesia non blok dan tidak ingin berada dalam aliansi militer manapun. Posisi geopolitik Indonesia sangat strategis di kawasan Indo Pasifik yang punya potensi konflik besar saat ini dan masa depan. 

Mengantisipasi ini Indonesia harus mempunyai kekuatan pertahanan yang mampu menjaga dan menjamin kedaulatan teritorinya. Sekaligus sebagai penguat diplomasi antar negara. Soal persepsi jiran dengan penguatan militer kita adalah hal yang wajar. Karena itu sudut pandang masing-masing. Ingat pengalaman pahit bertetangga ketika alutsista kita terbatas. Malaysia show of force di Ambalat, Australia bermanuver di atas Kupang. Jiran utara kita Filipina, adalah contoh tetangga terbaik yang selalu bersikap positive thinking bertetangga dengan Indonesia. Termasuk respon perkuatan militer Indonesia. Dan track record bertetangga dengan Manila memang tidak ada catatan luka sejarah. Jadi biarkanlah para jiran dengan sikapnya masing-masing. Kita tetap jalan terus menuju Optimum Essential Force. 

****

Jagarin Pane / 04 Februari 2026


Wednesday, December 31, 2025

Dinamika Geopolitik Dunia. Ketika Musim Pamer Otot Militer Mengemuka

Bukan hanya cuaca ekstrim dan siklon anomali yang lagi musim di bumi bulat bundar ini. Dinamika geopolitik dunia juga sedang menggeliat bersama dengan musim pamer otot militer di berbagai belahan benua. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba saja Israel mengakui eksistensi negara Somaliland, sebuah teritori strategis di Selat Bab El Mandeb dan Teluk Aden. Sontak seluruh Liga Arab marah besar dan tak terima. Di lokasi lain tiba-tiba saja jet-jet tempur Arab Saudi menggempur salah satu faksi militer separatis di Yaman yang didukung Uni Emirat Arab (UEA). Di seberang Laut Merah sisi Afrika, pasukan pemberontak Sudan dengan dukungan UEA memperluas teritori pendudukan di Sudan. Sementara di utara Jazirah Arab, Iran saat ini sedang bersiap menghadapi perang besar dengan AS dan Israel.

Di kawasan Indo Pasifik Rusia menyatakan dengan lugas akan mendukung China jika berperang dengan Taiwan. Sementara saat ini China mengadakan latihan militer skala besar di selat Taiwan. Bersamaan dengan itu Korea Utara memamerkan kapal selam nuklir baru buatannya. Masih di Indo Pasifik khususnya ASEAN, dua negara anggotanya Thailand dan Kamboja kembali bertempur karena perselisihan teritori. Myanmar juga masih sibuk dengan pertempuran internalnya. Nun di belahan benua lain AS bersiap menganeksasi Greenland yang membuat Denmark murka. Greenland adalah wilayah otonomi Denmark yang kaya sumber daya mineral. Sementara Rusia kembali menegaskan kekuatan nuklirnya bisa menjadi penentu perang Eropa jika NATO berupaya untuk memperluas perang di Ukraina.

Di Amerika Latin Venezuela sedang bersiap menghadapi eskalasi perang terbuka dengan pemerintahan cowboy Washington. Armada tempur lengkap AS sudah ready for war di perairan Karibia. Tinggal menunggu komando. Di Afrika dengan Nigeria, AS baru saja membombardir basis militer gerilyawan yang dituduh menculik dan membunuh ribuan warga berbasis religi. Sepertinya semua formula diplomatik antar negara sudah mati suri, sudah tidak berlaku. Semua dinamika berbagai konflik ini sesungguhnya sedang memperlihatkan pamer otot adrenalin militer yang mencemaskan. Oleh sebuah sebab yang bernama ambisi teritorial berbasis arogansi militer.

Dinamika geopolitik yang bisul konfliknya muncul di berbagai tempat tidak terlepas dari hilangnya marwah PBB yang sama sekali tidak punya kekuatan tawar dan eksekusi resolusi. Martabat PBB saat ini sudah berada dalam kendali AS. Eksistensi PBB bahkan sudah dilecehkan Presiden AS Donald Trump yang menyebut sebagai organisasi tertinggi dunia yang tak mampu mendamaikan. Bahkan dengan bangga Trump bilang hanya AS yang bisa mendamaikan konflik antar negara di jagad ini. Alamak sombongnya Pak De Bule ini.

Saat ini AS tengah mempertontonkan kepongahan hegemoni militernya dan keangkuhan diplomatiknya karena dia punya kekuatan itu. Namun dibalik itu Washington sebenarnya secara tersirat sedang panik karena hegemoni unipolarnya mulai tergerus. Dalam situasi yang demikian setiap negara termasuk Indonesia sudah bisa menilai subyektivitas diplomasi militer Washington yang mau benar sendiri dan cenderung sok jagoan. China, Rusia, Iran dan Korut sudah jauh hari berhitung soal arogansi ini. Sembari mereka memperkuat militer masing-masing, mereka juga sudah membentuk aliansi militer. Tentara Korut ikut berperang bersama Rusia dan Iran mengirim ribuan drone tempur ke Rusia untuk melawan Ukraina. Empat negara ini adalah rival AS hari ini dan masa depan.

Dalam situasi ekosistem dunia saat ini yang sudah tidak memiliki norma kebersamaan, norma kepantasan dan kesetaraan, masing-masing negara mulai berhitung kapabilitas diri dan menguatkannya dengan membentuk aliansi militer. Arab Saudi dan Pakistan baru saja membentuk aliansi militer nuklir yang membuat kawasan Timur Tengah tercengang kaget. Termasuk pukulan diplomatik telak untuk Israel. Australia dan Papua Nugini sudah menandatangani Pukpuk Treaty, persekutuan militer yang sangat mengganggu kerukunan diplomatik Jakarta-Canberra. Untuk mendinginkan Jakarta, Australia lalu menyambangi Indonesia untuk memberikan penjelasan soal Pukpuk Treaty. Pesan kita jangan terlalu percaya dengan jiran selatan ini. Ingat soal arogansi militernya ketika Timor Timur bergolak dan merdeka. Australia punya kontribusi besar dan mengabaikan Lombok Treaty.

Langkah strategis Indonesia untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan aset pertahanan yang sebanding dengan luas wilayah adalah untuk menjamin eksistensi kedaulatannya dan  mengantisipasi gejolak geopolitik dunia. Sekaligus untuk menguatkan peran diplomasi pertahanan di kawasan. Di seluruh ASEAN teritori Indonesia adalah yang terluas. Berhadapan dengan berbagai jenis potensi konflik yang bisa terjadi diantara berbagai jiran yang berbeda karakter. Termasuk persaingan geopolitik AS-China yang semakin berpacu dengan waktu. Nilai plus penguatan investasi pertahanan kita adalah bersinergi dengan penguatan industri pertahanan dalam negeri. Dan semuanya berlangsung cepat, extra ordinary.

Misalnya peluncuran KRI Balaputradewa 322 bersamaan dengan publikasi senjata laser dan kapal selam tanpa awak (KSOT). Ketiga alutsista strategis ini semuanya hasil karya gemilang PT PAL Indonesia. Dan diselesaikan dalam waktu cepat.  Lahirnya ketiga alutsista canggih ini mendapat publikasi luas di luar negeri. Media luar menyebut Indonesia selangkah lebih maju dari negara kawasan dalam keberhasilan membangun industri pertahanan. Singapura meski tidak banyak memberikan respon kita meyakini bahwa mereka mengamati dengan cermat kemajuan industri pertahanan Indonesia. Dan boleh jadi mulai sedikit khawatir dengan program Trident Shield Indonesia.

Peta geopolitik yang cenderung mudah panas dan meledak adalah bagian dari proses transisi untuk membentuk tatanan dunia baru yang menuju multipolar. Bersamaan dengan persaingan berbagai aliansi ekonomi dan militer di kawasan untuk menjadi yang terdepan. Sebagai contoh terbaru perseteruan Arab Saudi dan UEA ternyata diam-diam sedang berebut pengaruh di jazirah Arab. Dua negara Arab yang kaya raya  ini malah bersaing untuk menjadi yang terdepan dan memperluas pengaruhnya. Konflik di Sudan dan Yaman membuktikan itu. Menjadi pemasok senjata dan bahkan pengerahan pasukan.

Sementara Israel dengan kemampuan dan kecerdasan intelijen militernya menemukan pijakan baru di Somaliland yang strategis di ujung Laut Merah berhadapan dengan Yaman. Meski ditentang habis puluhan negara di kawasan itu, Israel seperti biasa tidak akan peduli dan akan jalan terus. Pengakuan Tel Aviv kepada Somaliland adalah bagian strategi geopolitiknya untuk memperkuat diplomasi pertahanan. Kita meyakini Somaliland akan menjadi pangkalan militer Israel yang dapat mengontrol Yaman bahkan seluruh jazirah Arab. Liga Arab terlambat mengantisipasi karena diantara anggotanya malah saling bersaing berebut pengaruh. Jadi seperti liga sepakbola saja, sesama mereka yang satu bangsa mengutamakan ego masing-masing. Padahal esensi pembentukan Liga Arab adalah untuk melawan Israel.

Ditengah gejolak geopolitik dunia yang fluktuatif, program penguatan militer Indonesia saat ini telah mengalami metamorfosis dari Minimum Essential Force ke Optimum Essential Force menuju Trident Shield (Perisai Trisula Nusantara). Pembangunan kekuatan pertahanan yang massif dengan program extra ordinary adalah untuk mengejar ketertinggalan kita dalam investasi pertahanan. Dan kita tidak ingin terjebak dalam aliansi militer dengan negara manapun. Indonesia ingin membangun kekuatan pertahanan secara mandiri. Semua yang dilakukan pemerintah saat ini dalam penguatan postur pertahanan adalah untuk memastikan dan menjamin perlindungan teritori seluruh negeri kepulauan ini.

Pertambahan ratusan batalyon TNI, pengembangan struktur organisasi komando utama, pengadaan alutsista secara besar-besaran adalah jawaban untuk sampai pada kekuatan pertahanan mandiri Trident Shield yang setara dengan luasnya teritori. Ini sesuai dengan konstitusi politik luar negeri yang bebas aktif, dinamis dan non blok. Indonesia ingin mencapai kekuatan pertahanan mandiri yang berkelas sebagai penopang stabilitas kawasan. Karena posisi geostrategis Indonesia yang memiliki selat-selat strategis untuk pelayaran internasional. Maka kita perbanyak kuantitas dan kualitas kapal perang striking force termasuk kapal selam. Sebagian kita bangun sendiri. 

Kita harus menjaga selat-selat strategis dan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dengan KSOT dan atau Coastal Missile. Mulai tahun 2026 PT PAL akan memproduksi 30 KSOT. Investasi 30 KSOT nilainya sama dengan pembuatan 1 kapal selam konvensional. Sangat efisien tanpa mengurangi nilai deterensnya. Kapal-kapal perang kita juga harus berkarakter gahar untuk memberikan tampilan kewibawaan di perairan sendiri. Karena ALKI kita termasuk perairan Natuna sering dilalui kapal-kapal perang jumbo baik dari AS, China, Jepang, Australia dan Rusia. Kita harus tampil dong dengan armada kapal perang besar dan canggih untuk menjunjung jalesveva jayamahe.

Sangat wajar kalau Indonesia mempunyai kapal perang heavy frigate, destroyer bahkan kapal induk sebagai penyeimbang persaingan geopolitik dan untuk menjamin pertahanan teritori. Juga ratusan jet tempur berbagai merk, ratusan rudal dan drone bersenjata. Jangan sampai di kemudian hari ketika ada konflik memperebutkan hegemoni dan teritori di Indo Pasifik, kita ikut babak belur karena tidak punya kekuatan pertahanan yang berkelas. Membangun pertahanan yang kuat sesungguhnya adalah untuk mencegah terjadinya konflik. Karena pertahanan yang kuat adalah bargaining diplomasi yang sangat diperhitungkan. Dengan dinamika geopolitik yang fluktuatif dan lagi musim pamer otot adrenalin militer,  percepatan penguatan postur pertahanan kita adalah langkah strategis terbaik. Kita mengapresiasinya. Dan di tahun 2026 kita akan banyak menyaksikan kedatangan alutsista canggih berbagai jenis. Selamat Tahun Baru 1 Januari 2026

****

Jagarin Pane / 30 Desember 2025


Tuesday, November 18, 2025

Strategi Diversifikasi Investasi Alutsista ( Bagian 2 Habis)

 Analisis Historis Dinamis

Dinamika geopolitik kawasan sangat dinamis dan sulit ditebak. Ketika bagian pertama dari tulisan ini diterbitkan beberapa hari yang lalu, belum ada tanda akan ada perubahan esensial dari Defense Cooperation Arrangement (DCA], antara Indonesia dan Australia. Kunjungan Presiden Prabowo ke Australia tanggal 12 Nopember 2025 tepat sebulan setelah terbentuknya aliansi militer Australia dan Papua Nugini "Pukpuk Treaty" tanggal 12 Oktober 2025. Aliansi ini bagian dari upaya diplomasi antisipasi Australia untuk mempertahankan dominasinya terhadap Papua Nugini. Terutama sejak China mulai menanamkan pengaruhnya di negara-negara pasifik selatan.

Kunjungan Prabowo ke Canberra sesungguhnya memberikan keyakinan tentang semakin berkembangnya marwah diplomasi Indonesia. Pengembangan postur pertahanan dan perkuatan alutsista TNI yang semakin berbintang diniscayakan menjadi faktor utama pembaharuan DCA. Perjanjian kerjasama pertahanan dengan Australia ini diperluas menjadi kemitraan strategis komprehensif, multi dimensi. Mirip dengan perjanjian kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat. Asesories dari kunjungan ini adalah sambutan tuan rumah yang begitu hangat dan serba militer. Australia memamerkan sejumlah alutsistanya kepada Prabowo.

PM Australia Anthony Albanese dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto diatas kapal perang LHD (kapal induk helikopter) HMAS Canberra memperbaharui DCA dengan sebuah Headline : Jika salah satu negara terancam oleh negara lain maka kedua negara akan saling berkonsultasi dan membantu. Paragraf ini menjadi penguat DCA tahun 2024. Meski kadar kekentalannya tetap masih setingkat dibawah aliansi militer. Masih setingkat dibawah Pukpuk Treaty antara Australia dan Papua Nugini. Karena sesuai politik luar negeri yang bebas aktif dan dinamis, Indonesia tidak ingin terjebak dalam aliansi militer dari negara manapun. 

Dalam perspektif kita, performa diplomasi Indonesia sebenarnya berada diatas angin dalam pembaharuan DCA dengan Australia kali ini. Kita meyakini bahwa inisiatif amandeman DCA ini bukan dari Jakarta. DCA tahun 2024 sebenarnya sudah cukup bagi Indonesia. Toh dalam takdir hubungan bertetangga antar negara yang penting adalah saling menghargai, saling berkomunikasi dan tidak usil dengan urusan dalam negeri tetangganya. Padahal sejauh ini banyak catatan historis bertetangga dengan negeri berwajah Eropah di selatan kita ini. Ada kesan yang kuat Canberra selama ini merasa lebih superior, cenderung mendikte dan high profile dalam tampilan diplomatik.

Mari kita simak catatan itu. Indonesia-Australia tanda tangan perjanjian keamanan tahun 1995. Nyatanya ketika Timor Timur bergolak tahun 1999, kawan kita ini ikut bermain api. Canberra menyurati Jakarta agar melaksanakan referendum. Australia juga grusa grusu ngebet ingin menjadi leader pasukan INTERFET di Timor Timur. Dalam suasana seperti ini, suatu ketika 2 jet tempur Hawk Indonesia yang berpatroli bertemu dan mempertanyakan penerbangan beberapa jet tempur Hornet Australia di udara pulau Roti NTT. Malam harinya tiba-tiba 5 jet tempur Hornet Australia melakukan manuver provokasi di atas Kupang. Lalu dimana sebenarnya "harga diri" perjanjian keamanan tahun 1995 itu.

Amandemen DCA ini sangat dimungkinkan karena  pengaruh program extra ordinary penguatan militer Indonesia yang dikenal dengan Optimum Essential Force (OEF) tahun 2025-2030. OEF adalah lanjutan dari program MEF (minimum essential force) 2010-2024. Pola diplomasi Indonesia yang mulai mendunia juga menjadi perhatian Australia. Seperti dalam perumusan perdamaian Gaza, bantuan kemanusiaan untuk Gaza, kesediaan mengirim ribuan pasukan perdamaian TNI ke Gaza. Pemberitaan program percepatan perolehan investasi alutsista dan memodernisasi alutsista TNI yang sudah ada, getarannya terasa sampai Canberra. 

Bisa dibayangkan begitu masifnya pengadaan berbagai jenis alutsista TNI saat ini dan diversifikasinya. 42 jet tempur Rafale segera tiba bertahap. 6 jet latih tempur T50 menjelang tiba. 1 pesawat angkut berat terbesar A400M sudah tiba. 25 radar GCI Thales dan Retia sedang dalam proses instalasi. 2 KRI heavy frigate Brawijaya Class sudah ditangan. 2 KRI heavy frigate Merah Putih yang dibangun PT PAL menjelang sentuh air. 2 kapal selam Scorpene sedang proses bangun. PT PAL sukses mengembangkan teknologi kapal selam tanpa awak dan akan membangun 30 unit. Belum lagi pertumbuhan cepat  kapal perang OPV, kapal cepat rudal (KCR), landing platform dock (LPD) produksi dalam negeri.

Sementara pengadaan 48 jet tempur KAAN, 2 kapal frigate Istif Class, 2 kapal cepat rudal, puluhan rudal Atmaca, rudal balistik KHAN, puluhan drone Anka, Bayraktar dan lain-lain semuanya produk Turkiye. Tidak lepas dari perhatian dan pantauan Australia. Canberra "nguping terus" sembari mengguman: what's next.  Belum lagi kerjasama jet tempur KF21 Boramae dengan Korsel yang mulai produksi massal. Indonesia punya alokasi 48 jet tempur. Beberapa alutsista China juga dilirik Jakarta sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi investasi alutsista. Seperti coastal missile, jet tempur J10 Chengdu dan kapal perang frigate. Yang lebih bergetar tentu saja adalah akuisisi kapal induk bekas AL Italia INS Giuseppe Garibaldi. Formula  interoperability dalam manajemen pertempuran modern network centric warfare (NCW) adalah bagian dari strategi diversifikasi ini.

Program percepatan pemenuhan investasi alutsista TNI belum pernah semeriah saat ini. Yang bisa menyainginya adalah era Trikora dan Dwikora. Dinamika geopolitik saat ini yang bernuansa susah ditebak dan ngeri-ngeri sedap, luasnya wilayah negeri, kekayaan sumber daya alam, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan penguat bargaining posisi diplomasi Indonesia, adalah indikator utama yang menjadi keharusan mutlak untuk memperkuat pertahanan negara. Negeri yang luas ini harus mempunyai payung pertahanan yang kuat. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan kekuatan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di posisi 16 besar dunia.

Strategi diversifikasi pengadaan alutsista dalam pandangan kita adalah kecerdasan membaca peta geopolitik kawasan. Pola ini untuk mengantisipasi adanya embargo dan menyesuaikan dengan karakter potensi konflik di sekitar rumah besar kita. Termasuk menguatkan industri pertahanan dalam negeri yang sudah terbukti menjadi pemasok alutsista panser, tank, roket dan kapal perang. Industri pertahanan kita juga bekerjasama dengan Turkiye dan Korsel. Apalagi saat ini alutsista non barat seperti Turkiye dan China sedang naik daun. Pada saat kita sedang berupaya untuk mempercepat perolehan alutsista, ada jiran yang kemudian ingin mengajak lebih bersahabat lagi. Bukankah ini bagian dari menguatnya marwah diplomasi pertahanan kita. 

****

Jagarin Pane / 18 November 2025


Saturday, November 8, 2025

Strategi Diversifikasi Investasi Alutsista

"Analisis Historis Dinamis (Bagian Satu)"

Dinamika geopolitik dunia saat ini mengharuskan Indonesia bersiap menghadapi turbulensi tak terduga. Persiapannya adalah memperkuat cakram pertahanan berkorelasi dengan luasnya teritori, dan kekayaan sumber daya alam. Termasuk menyikapi karakter historis dan dinamis para tetangga yang ada di sekitar rumah gadang yang bernama bumi pertiwi ini. Seperti terbentuknya aliansi militer Australia dan Papua Nugini baru-baru ini. Aliansi "Pukpuk Treaty" ditandatangani 12 Oktober 2025 merupakan sebuah surprise geopolitik kawasan. Perjanjian strategis mereka berdua menyebut jika salah satu negara diserang secara militer, negara mitranya wajib membantu tanpa syarat.

Australia bersama keluarga besar "Anglo Saxon" AS dan Inggris sudah membentuk aliansi militer nuklir AUKUS di Indo Pasifik. Dengan tujuan menghadapi China. Sementara dua negara anggota ASEAN Malaysia dan Singapura pasca era Dwikora  bergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangements). Bersama Australia, Selandia Baru dan Inggris mereka membentuk persekutuan militer tahun 1971 sebagai dampak Dwikora. Filipina secara historis menjadi sekutu militer AS sejak perang Vietnam. Subic Navy Base dan Clark Air Force Base di Filipina menjadi pangkalan aju pergerakan militer dan alutsista AS untuk menggempur Vietnam Utara waktu itu. Meski akhirnya AS kalah secara militer. Vietnam Utara dan Selatan menjadi satu kesatuan Vietnam.

Negeri kepulauan kita yang luas ini berada di lingkaran historis dan dinamis dalam peta geopolitik kawasan. Hot spot terberatnya saat ini dan ke depan adalah dinamika konflik di Laut China Selatan (LCS). Dalam pandangan AUKUS, China adalah musuh bersama karena klaimnya pada LCS dan Taiwan. Dalam catatan historis FPDA, Indonesia dianggap musuh bersama karena luka sejarah konfrontasi Ganyang Malaysia. Sementara dalam pandangan masing-masing negara seperti Vietnam, Taiwan dan Filipina, China adalah potensi musuh mereka karena ambisi teritorinya yang begitu ekspansif.

Berdasarkan pengalaman historis pula, aslinya negara-negara di sekitar Indonesia yang bersentuhan teritori punya catatan diplomatik kurang sedap bahkan ngeri-ngeri sedap. Kecuali Brunai dan Filipina, tetangga "bernuansa persemakmuran" Australia, Malaysia dan Singapura mempunyai tabiat bermanis wajah didepan. Namun sering menggunting dalam lipatan, dengki dan arogan. Australia misalnya dalam persoalan Timor Timur awalnya mendukung Indonesia untuk intervensi militer akhir tahun 1975. Namun sejalan dengan perubahan peta geopolitik, Canberra berganti wajah arogan, mendikte dan merasa berjaya memimpin INTERFET untuk "menguasai" Timor Timur secara militer tahun 1999.

Konfrontasi Dwikora tahun 1963 sejatinya ngeri-ngeri sedap sekaligus pertaruhan eksistensi Indonesia. Suasana sudah menjelang perang terbuka. Puluhan ribu pasukan dan sukarelawan dikirim ke Kalimantan dan Sumatra. Kapal induk Inggris memprovokasi lewat Selat Sunda dari Singapura menuju Darwin.Tapi pulangnya dipaksa lewat Selat Lombok oleh Indonesia dengan pantauan kapal selam TNI AL. Malaysia dan Singapura berlindung di ketiak Inggris karena kemampuan militernya tidak berdaya menghadapi superioritas militer Indonesia yang sangat berjaya waktu itu. Berbagai infiltrasi pertempuran terjadi  seperti di markas tentara persemakmuran di Kalabakan dekat Tawao Sabah dan Sakilkilo Sabah. Di Long Midang Krayan Prov Kaltara dan beberapa titik di Kalimantan Barat juga terjadi pertempuran sporadis.

Sabotase peledakan bom di Singapura oleh KKO Indonesia (sekarang Marinir) tanggal 10 Maret 1965 membuat negeri itu panik. Meski akhirnya Singapura bisa menangkap Usman dan Harun kemudian mengeksekusinya dengan hukuman gantung. Ketika peristiwa sudah berlangsung puluhan tahun kedengkian Singapura berlanjut ketika Indonesia memberi nama KRI Usman Harun untuk nama KRI striking force frigate tahun 2012. Singapura keberatan dengan pemberian kedua nama pahlawan ini. Inilah ciri jiran yang belum legowo dengan sejarah dan berusaha mendikte secara diplomatik. Indonesia tidak menggubris. Tetangga menggonggong, KRI Usman Harun 359 berlayar gagah melewati Selat Malaka.

Embargo alutsista buatan Barat adalah pengalaman pahit justru ketika kita membutuhkan untuk marwah kedaulatan. Bayangkan, kita punya 40 Jet tempur Hawk dan 100 tank Scorpion buatan Inggris. Tapi tidak boleh dipergunakan untuk menggempur GAM di Aceh. Jet tempur F5E dan F16 buatan AS diembargo suku cadangnya karena insiden Santa Cruz di Timor Timur. Pada saat seperti ini tiba-tiba muncul insiden di Bawean dan klaim Malaysia di Ambalat. Insiden Bawean Juli 2003 adalah provokasi 5 jet tempur Hornet dari kapal induk AS yang melintas di laut Jawa menuju Darwin. Manuver 5 Hornet ini membahayakan penerbangan sipil dari dan menuju Juanda. Iswahyudi AFB mengirim 2 jet tempur F16 untuk memantau pergerakan konvoi kapal induk AS. Meski sempat dikunci 5 Hornet, pilot F16 kita tetap tenang dan meminta agar manuver dihentikan. Sementara klaim Malaysia soal Ambalat mulai berkobar tahun 2004 sejak negeri jiran itu show of force dengan mengerahkan kapal perang. 

Karakter jiran-jiran di sekitar rumah besar kita secara historis dan bergabung dalam beberapa aliansi militer terlihat dalam gambaran diatas. Juga pengalaman diembargo. Maka dalam pandangan strategis pertahanan Indonesia, dinamika historis geopolitik dan potensi konflik di kawasan ini perlu antisipasi secara dini. Dan perlu percepatan dalam pemenuhannya. Termasuk dalam strategi diversifikasi pengadaan alutsista. Semuanya berdasarkan peta geopolitik dan karakter jiran di sekitar kita. Kalau dalam program modernisasi alutsista TNI yang populer dengan sebutan  MEF (Minimum Essential Force) perlu waktu 15 tahun yaitu 2010-2024. Maka program extra ordinary OEF (Optimum Essential Force) target waktunya 5 tahun saja. Yaitu tahun 2025-2030. Itu sebabnya ada kesan pengadaan alutsista TNI saat ini begitu bergelora.

Salah satu contoh diversifikasi alutsista adalah realisasi investasi drone bersenjata (UCAV) di Skadron 51 Pontianak dan Skadron 52 Natuna. Dengan kedatangan 12 UCAV Anka dari Turkiye maka 8 UCAV CH4 Rainbow buatan China digeser ke Skadron 53 UCAV di Tarakan. Skadron 51 dan 52 diisi UCAV Anka yang baru dan UCAV Aerostar yang sudah eksis lebih dulu. Wajar dong, karena rasanya kurang pas jika Rainbow berpatroli di LCS. Jadi jeruk makan jeruk kesannya. Juga rencana pengadaan jet tempur J10 Chengdu China adalah bagian dari strategi pertahanan pola diversifikasi. Jika 42 unit jet tempur Rafale befokus untuk membentengi teritori Natuna, Sumatera dan Kalimantan. Maka Jet tempur J10 Chengdu bisa dialokasikan di Sulawesi atau NTT. Sudah pahamlah maksudnya.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 8 November 2025


Thursday, October 2, 2025

Korelasi Martabat Diplomasi Dan Kehormatan Militer

Sidang Majelis Umum PBB di New York AS tanggal 23 September 2025 dan rangkaian kegiatan didalamnya memperlihatkan kemampuan martabat diplomasi Indonesia. Pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto tegas dan lugas menggema. Orasi dan materi yang dikumandangkan mampu membangunkan kesadaran bersama tentang hakekat perdamaian. Khususnya tentang perdamaian Palestina-Israel, pentingnya memperkuat PBB sebagai lembaga untuk perdamaian dan kesejahteraan. Dan ini yang paling menghentak orasinya : Might cannot be right. Right must be right. Yang kuat tidak bisa selalu benar. Yang benar harus benar. Kalimat adrenalin ini diyakini mampu "menampar bathin" dua pemimpin arogan dunia, AS dan Israel. Sekaligus sebagai peluntur merasa paling benar.

Kita bisa saksikan berkali-kali para delegasi Sidang Umum PBB memberikan applause untuk Presiden Indonesia. Bahkan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan khusus dengan 8 pemimpin negara Arab dan Muslim menyampaikan pujian dan hormat pada Prabowo. Para pemimpin dunia pun angkat topi dan salut dengan isi pidato dan orasi Presiden kita. Raja Yordania memeluk Prabowo yang juga sahabat karibnya. Termasuk pidato PM Israel yang meyakini akan ada titik terang dari pidato Presiden Indonesia. Kehadiran Presiden Indonesia di forum tertinggi PBB menjadi sebuah misi diplomatik yang sukses dan menguatkan martabat Indonesia di mata dunia.

Lima Oktober 2025, TNI berulang tahun yang ke 80. Pencapaian usia sebilangan ini adalah salah satu evidence kehormatan militer yang mampu mengawal dan menjamin eksistensi Republik Indonesia. Kehormatan militer yang lain adalah tingkat kepercayaan rakyat Indonesia kepada institusi TNI adalah yang tertinggi bersama Presiden. Ini adalah hasil penelitian beberapa lembaga survey sepanjang tahun 2025. Kehormatan militer yang tidak kalah penting adalah kesediaan pemerintah dan DPR bersama komponen civil society lainnya untuk berinvestasi pertahanan, dalam rangka mengembangkuatkan TNI. 

Investasi pertahanan bersama pembangunan ekonomi kesejahteraan adalah dua sisi mata uang, satu kesatuan. Sebuah sinergitas yang harus seiring sejalan. Kondisi geopolitik dunia saat ini dan ke depan serta luasnya teritori yang harus dilindungi, mengharuskan Indonesia memperkuat pertahanan. Negeri kepulauan ini sangat strategis dan kaya dengan sumber daya alam. Potensi konflik masa depan salah satunya adalah memperebutkan sumber daya alam yang terbatas. Oleh karena itu investasi pertahanan negeri dengan 286 juta penduduk ini harus dipercepat. Untuk menjamin keberlangsungan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan eksistensi negara.

Kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini dalam sudut pandang kita adalah tepat waktu dan tepat manfaat. Korelasinya adalah ketegasan dalam format leadership dan orasi. Kredit poinnya adalah keberanian untuk membongkar praktik-praktik korupsi raksasa. Korupsi skala trilyunan berhasil diungkap terang benderang. Kemudian kemampuannya melakukan diplomasi perdamaian di Sidang Umum PBB menjadi kebanggaan kita bersama. Lihatlah perkembangan terakhir di Gaza, sudah menampakkan titik terang perdamaian. Trump dan Netanyahu secara tersirat akhirnya mengikuti peta jalan perdamaian yang dikumandangkan Prabowo bersama Presiden Perancis dan Raja Arab Saudi. Solusi terbaik adalah dua negara Palestina dan Israel yang berdampingan damai. Semoga.

Di tengah dinamika kondisi geopolitik saat ini dan ke depan yang sulit diprediksi, Prabowo hadir untuk memimpin republik kepulauan terbesar ini. Sejak menjadi Menteri Pertahanan visi dan misi besarnya untuk mengembangkuatkan postur tentara Indonesia terlihat menggebu. Mengapa sampai menggebu, karena selama ini harus kita akui perkuatan alutsista TNI ternyata belum memenuhi persyaratan minimal. Lima belas tahun kita perkuat TNI sejak tahun 2010 hanya untuk memenuhi kriteria pencapaian minimum essential force. Dan saat ini sebagai Presiden, Prabowo sedang berupaya mempercepat pertumbuhan investasi kekuatan pertahanan dengan program extra ordinary. Untuk menuju kekuatan militer yang proporsional dan setara dengan luasnya teritori Indonesia. Termasuk menambah seratusan batalyon TNI dan menguatkan Komponen Cadangan (Komcad) sebagai bagian dari pertahanan semesta.

Maka dalam minggu-minggu ke depan, bulan dan tahun berikutnya kita akan melihat kedatangan berbagai jenis alutsista untuk TNI. Seperti tambahan 6 jet latih tempur T50i dari Korsel dan 2 pesawat angkut berat A400M dari Spanyol bulan depan. Kemudian kedatangan bertahap 42 jet tempur Rafale dari Perancis awal tahun depan. KRI Prabu Siliwangi 321 dari Italia akan tiba Desember tahun ini. Ada juga kapal selam mini tanpa awak dan kapal perang LHD rancangan  PT PAL, pembangunan 2 kapal perang frigate merah putih oleh PT PAL dan pembangunan 2 kapal selam Scorpene di PT PAL kerjasama dengan Perancis. Yang lagi ramai dibahas rencana akuisisi kapal induk Italia Giuseppe Giribaldi. Penetapan anggarannra sudah turun dari Bappenas. Kemarin baru saja diresmikan kapal perang baru jenis kapal cepat rudal KRI Belati 622 produksi galangan kapal swasta nasional. Kapal ini sudah full armament dengan combat management system, meriam Leonardo dan persenjataan rudal Atmaca. Tumben komplit, biasanya FFBNW (fit for but not with).

TNI AD  sedang menunggu kedatangan 22 helikopter Black Hawk dari AS, dan pengiriman lanjutan rudal balistik KHAN dari Turkiye. Dari negerinya Erdogan ini kita akan menerima dalam jumlah besar berbagai jenis alutsista yaitu rudal anti kapal Atmaca, rudal surface to air Hisar (Trisula), rudal jelajah Cakir, drone Anka, drone Bayraktar, 2 fregat Istif Class, dan 2 kapal cepat rudal. Dari Jerman akan datang kapal hydro oceanography KRI Canopus 936. Juga 13 radar GCI dari Thales Perancis dan 12 radar GCI dari Retia Ceko. Kedua jenis radar ini bisa saling sinergitas dan menguatkan dalam manajemen interoperability. Dengan begitu blank spot sudah  tertutup. Seluruh teritori udara kita sudah tercover dan terintegrasi.

Investasi pertahanan memang memerlukan anggaran sangat besar dan multi year. Namun anggaran besar ini bukan untuk belanja habis pakai atau belanja konsumtif (cost/expense).Tetapi menjadi aset strategis pertahanan yang masa manfaatnya bisa mencapai puluhan tahun. Contohnya 3 kapal perang Fatahillah Class yang dibeli tahun 1980 dari Belanda masih aktif sampai sekarang. Salah satu tujuan berinvestasi pertahanan adalah untuk menguatkan marwah dan kehormatan militer kita. TNI yang profesional harus memiliki alutsista teknologi terkini yang terintegrasi dalam manajemen pertempuran modern network centric warfare. Inilah kehormatan militer yang sesungguhnya. TNI yang kuat dan disegani diniscayakan mampu menguatkan marwah diplomasi politik luar negeri kita yang bebas aktif dan dinamis. 

Martabat diplomasi sebuah negara bagaimanapun sangat berkorelasi dengan postur kekuatan militer dan kekuatan ekonomi yang dimiliki. Sudah banyak contohnya. Kemampuan Indonesia menguatkan martabat diplomasi dan politik luar negeri merupakan prestasi dan prestize. Sejalan dengan itu perkuatan militer kita adalah untuk menguatkan bargaining harga diri bangsa dalam dinamika diplomasi. Seperti potensi konflik Ambalat dan Laut China Selatan. Dalam dinamika diplomasi dan kehormatan militer berlaku cara pandang sederhana : Tampilan wajah diri boleh berseri dengan narasi, diskusi, orasi dan persuasi mencari solusi. Namun semua itu harus ditopang dengan adrenalin, tubuh atletis dan kemampuan bela diri. Ini yang disebut gagah dan simpatik. Korelasi martabat diplomasi dan kehormatan militer kita adalah seperti ini. Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia. Selamat berulang tahun yang ke 80. TNI Prima-TNI Rakyat-Indonesia Maju.

****

Jagarin Pane / 2 Oktober 2025

Tuesday, September 16, 2025

Antisipasi Fluktuasi Geopolitik Ngeri-Ngeri Sedap

Tiba-tiba saja Israel membombardir Doha ibukota Qatar untuk membunuh pemimpin Hamas. Sangat jelas ini merupakani agresi militer yang paling memalukan. Israel berulang kali memperlihatkan gaya bernegara yang arogan, bergaya preman,sok jago. Karena ada pelindung abadinya AS. Padahal di Qatar ada pangkalan militer terbesar AS. Padahal Qatar selama ini adalah negara yang menjadi mediator, dan fasilitator untuk setiap perundingan Timur Tengah bersama Israel. Padahal Qatar memiliki kekuatan persenjataan yang canggih yang sebagian besar produk Paman Sam. Qatar merasa dikhianati dan marah besar. Sementara di kawasan Eropa, ratusan drone Rusia menyusup ke Polandia yang nota bene anggota NATO. Maka gegerlah Pakta Atlantik Utara itu. Jika Polandia dan NATO membalas maka dunia menuju Perang Dunia Ketiga. Itulah suasana terkini dari dinamika geopolitik dunia yang fluktuatif. Di berbagai kawasan banyak terjadi konflik militer tak terduga.

Para pemikir strategis Indonesia tentu sudah membaca tanda-tanda jaman ini. Cuaca geopolitik saat ini dan ke depan sepertinya bernuansa ngeri-ngeri sedap. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari. Kalau kita amati sebenarnya ini adalah inkubasi dari transisi perubahan tatanan dunia yang selama ini bercorak unipolar. Penguasa hegemoninya adalah AS. Staf khususnya NATO di Eropa. Sementara di Indo Pasifik anak buahnya adalah Jepang, Australia dan Korsel. Perilaku penguasa hegemoni saat ini bisa terlihat jelas sepak terjangnya. Kepemimpinan AS dibawah Donald Trump tidak menunjukkan leadership yang berkualitas, apalagi bijaksana. Tetapi cenderung bergaya "pamership", "premanship" dan yang sebangsa dengan arogansi. Itu semua bisa terjadi karena tatanan dunia saat ini unipolar, dikuasai oleh satu blok kekuatan yang sebenarnya sedang memudar hegemoninya.

Indonesia yang begitu luas teritorinya dan kaya akan sumber daya alam adalah karunia terbesar yang dimiliki bangsa besar ini. Jawaban dan antisipasi terhadap gonjang ganjing geopolitik dunia saat ini adalah dengan memperkuat basis pertahanan. Dan tetap keukeuh dalam posisi non blok yang dinamis. Negeri kepulauan terbesar ini  harus memilki manajemen pertahanan yang kuat dan terintegrasi. Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi kekuatan pertahanan kita saat ini. Jawabannya masih belum mencapai kriteria standar. Oleh karena itulah saat ini kita bisa menyaksikan berbagai program extra ordinary dari Kementerian Pertahanan. Semua berpacu dengan waktu. Untuk mengembangkuatkan investasi pertahanan dengan pengadaan berbagai jenis alutsista strategis dan canggih.  

Kita ambil contoh bagaimana standar manajemen pertahanan di Indonesia Timur saat ini khususnya Maluku dan Papua. Meski sudah ada pangkalan AL Koarmada Tiga di Sorong dan Pasmar Tiga ( Divisi 3 Marinir). Namun  kekuatan striking force Armada Tiga belum masuk kriteria minimum essential force. Ketersediaan KRI pemukul masih terbatas dengan kapal korvet dan kapal cepat rudal. Demikian juga dengan kekuatan TNI AU, belum ada skadron tempur yang ber home base di Maluku dan Papua. Secara ekosistem Maluku dan Papua ini sebenarnya strategis dalam dinamika geopolitik Indo Pasifik. Pemilihan Sorong sebagai Navy Base Armada Tiga berikut Pasmar Tiga karena lebih melihat potensi ancaman dari Utara. Guam sangat dekat dengan Papua. Kita tahu pangkalan militer Andersen di Guam menyimpan  berbagai jenis jet tempur dan pengebom strategis milik AS. Trafik air force dari Guam ke Darwin Australia dan sebaliknya pasti melintasi langit Maluku dan Papua.

Pemerintah berinvestasi pertahanan dengan berbagai jenis alutsista produksi berbagai negara, menjadi bagian dari strategi pertahanan. Misalnya 18 jet tempur Chengdu buatan China jika jadi dibeli , penempatannya bisa di Biak atau Kupang. Sudah tahu lah maksudnya. Termasuk memperkuat skadron Sukhoi yang sudah ada di Makasar. Sementara 48 jet tempur gen 5 KAAN buatan Turki bisa dialokasikan di Manado, Kupang, Balikpapan. Untuk 48 Jet tempur Rafale yang mulai datang awal tahun depan sudah pasti akan ditempatkan di Pekan Baru, Pontianak dan Natuna. Seluruh jet tempur F16 yang berjumlah 33 unit akan berada di home base Iswahyudi AFB bersama 19 unit jet tempur baby falcon T50 golden eagle. Sementara jet tempur IFX dengan asumsi produksi 24 unit kemungkinan besar akan ditempatkan di Medan dan Pekan Baru melapis Rafale. Sebaran skadron tempur ini dalam pandangan kita sudah menyebar merata dan ideal.

TNI AL saat ini sedang berproses menguatkan kemampuan armada tempurnya. Termasuk mengembangkan organisasi. 14 Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) ditingkatkan menjadi Komando Daerah AL dengan panglima bintang dua. Kapal perang terbesar dan canggih KRI Brawijaya 320 sudah datang. Menyusul Desember 2025 nanti KRI Prabu Siliwangi 321. PT PAL sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal selam Scorpene bersama Perancis. Pada saat yang bersamaaan PT PAL sedang menyelesaikan pembangunan 2 Fregat Merah Putih. Di Turki juga sedang berproses pembangunan 2 Fregat Istif Class dan Kapal Cepat Rudal untuk TNI AL. Sementara galangan kapal swasta dalam negeri mendapat order modernisasi 41 KRI, pembuatan kapal Cepat Rudal dan Kapal Patroli Cepat.

Pelajaran dari beberapa pertempuran di berbagai kawasan membuktikan bahwa alutsista buatan Barat ternyata tidak setangguh marketing komunikasinya. Rudal-rudal Iran ternyata mampu menembus Air Defence System (ADS) Israel yang terkenal canggih dan kokoh. ADS Ukraina juga babak belur dihujani drone dan rudal Rusia. Rudal Nassam dan Patriot kalah awu melawan rudal-rudal Rusia yang punya kecepatan tinggi. Belum lagi rudal Oreshnik yang spektakuler itu. Jet tempur Rafale India berhasil dijatuhkan rudal China yang diluncurkan dari jet tempur J10 Pakistan. Battle proven alutsista Rusia dan China telah membuka cakrawala pandang dunia yang selama ini banyak berkiblat ke Barat. Qatar, Arab Saudi, UEA adalah negara yang seluruh alutsistanya buatan AS dan Eropa. 

Pilihan Indonesia untuk investasi pertahanan dengan pola diversifikasi adalah bagian dari strategi manajemen pertahanan sesuai konstelasi geopolitik kawasan. Potensi konflik di sekitar kita juga bercorak warna. Ada China, ada Malaysia, ada Australia. Saat ini ada dua hotspot yang harus mendapat pengawalan ekstra yaitu  Laut Natuna Utara dan Ambalat. Pengadaan alutsista mengikuti konstelasi potensi konflik yang mungkin terjadi. Misalnya pengadaan Coastal Missile dari China. Jika nantinya menjadi aset pertahanan TNI, dalam perspektif kita akan lebih baik ditempatkan di selat-selat strategis ALKI.  Seperti Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. Demikian juga jet tempur Chengdu lebih pas dialokasikan di Timur Indonesia. Jika penempatan kedua alutsista ini di Natuna agaknya kurang pas. Jadi seperti jeruk makan jeruk. Jeruk purut lagi.

Ada kesan bahwa perkuatan manajemen pertahanan Indonesia yang berbasis interoperability dengan alutsista canggih seperti hendak bersiap untuk perang. Padahal sesungguhnya investasi pertahanan adalah untuk memastikan eksistensi negeri dan pengakuan kesetaraan dalam diplomasi antar negara. Ini sebangun dengan filosofi Si Vis Pacem Parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Indonesia mengembangkuatkan manajemen pertahanan untuk memastikan jaminan keberlangsungan hidup bernegara, melindungi segenap tumpah darah, melindungi teritori negeri, melindungi sumber daya alam dan mengawal pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Kita mempercepat pembangunan investasi pertahanan adalah untuk mengantisipasi fluktuasi iklim geopolitik yang ngeri-ngeri sedap. Karena geopolitik dunia saat ini sedang mengalami transisi dari unipolar menjadi multi polar. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari. Tak bawa payung lagi, basah kuyup dah.

****

Jagarin Pane / 14 September 2025


Saturday, August 23, 2025

Daftar Pengadaan Alutsista Indonesia

2 KRI Frigate Brawijaya Class dari Italia

2 KRI Frigate Merah Putih dari PT PAL

2 KRI Frigate Istif Class  dari Turkiye

1 KRI Rigel Class dari Palindo/Jerman

2 KRI Kapal Cepat Rudal dari Turkiye

1 KRI Kapal Cepat Rudal dari Tesco Bekasi

2 KS Scorpene dari Perancis & PT PAL

1 Kapal Induk Giribaldi dari Italia (Opsi)

1 Kapal LHD Helikopter dari PT PAL (Opsi)

42 Jet Tempur Rafale dari Perancis

48 Jet Tempur IFX kerjasama Korsel RI

48 Jet Tempur KHAAN dari Turkiye

  6 Jet Tempur T50 dari Korsel

  2 Pesawat angkut A400M dari Spanyol

13 Radar GCI dari Thales Perancis

12 Radar Retia dari Ceko

  3 Baterai Rudal Balistik KHAN Turkiye

  3 Baterai Rudal ADS Trisula dari Turkiye

22 Helikopter Blackhawk dari AS

12 Drone Anka dari Turkiye

60 Drone Bayraktar TB3 dari Turkiye

45 Rudal anti kapal Atmaca dari Turkiye

****

Jagarin Pane

(Dari berbagai sumber)

Monday, August 18, 2025

Memaknai Dua Upacara, Kehormatan Militer Dan Proklamasi Kemerdekaan

Hanya berjarak satu minggu ada pergelaran dua upacara kebesaran dan martabat negara. Hari Ahad 10 Agustus 2025 upacara dan parade kehormatan militer berlangsung di Pusdiklatpassus Batujajar Jawa Barat. Ada pergelaran dan parade 27.000 pasukan TNI bersama seribuan alutsista berbagai jenis. Parade dan peresmian berbagai satuan tempur TNI menjadi sajian publikasi militer yang membanggakan. Apalagi ada ribuan rakyat ikut menyaksikan langsung on the spot di pangkalan militer Kopassus yang steril. Nah, seminggu berikutnya hari Ahad tanggal 17 Agustus 2025 berlangsung upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 di Istana Merdeka dan Monas. Masyarakat tumpah ruah menyaksikan upacara, karnaval dan pesta rakyat sepanjang hari.

Upacara kehormatan militer di Pusdiklatpassus adalah upacara khusus. Momen ini memberikan makna syiar diplomasi pertahanan Indonesia yang begitu luas dan menggema. Kita ketahui kondisi geopolitik dunia saat ini termasuk di kawasan Indo Pasifik sedang tidak baik-baik saja. Berbagai hotspot konflik bermunculan. Dunia sedang bergeliat dari "rezim" unipolar penguasa hegemoni menuju tatanan multipolar. Pada acara yang strategis ini Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pengembangan struktur organisasi TNI semua matra. Kekuatan dan struktur pasukan elit TNI, Kopassus TNI AD , Kormar TNI AL dan Kopasgat TNI AU dikembangkan dan komandannya naik dari bintang dua menjadi panglima bintang tiga. Kemudian ada penambahan 6 Kodam TNI AD, peningkatan 14 Lantamal TNI AL menjadi Kodaeral dan panglimanya menjadi bintang dua. Sebelumnya TNI AL sudah mengembangkan 2 armadanya menjadi 3 armada tempur bersama 3 divisi pasukan marinir.

Kekuatan militer matra darat bertambah dengan peresmian 20 brigade infantri dan 100 batalyon teritorial pembangunan TNI AD. Kopassus menambah 3 group (brigade) di luar Jawa yaitu Dumai, Kendari dan Timika. Termasuk penambahan beberapa batalyon armed dan kavaleri. Tersebar di seluruh Indonesia, terbanyak di Papua.  Sementara TNI AL menambah 1 brigade marinir dan 5 batalyon infantri marinir. Matra TNI AU juga menambah 6 batalyon Kopasgat dan peningkatan status 5 Air Force Base TNI AU menjadi kelas A, yang artinya menjadi home base minimal 2 skadron pesawat TNI AU. Wajar saja karena mulai tahun depan sampai sepuluh tahun ke depan TNI AU akan memperoleh sekitar 130 jet tempur canggih mulai dari Rafale, IFX dan KAAN. Pengembangan struktur organisasi TNI ini merupakan kebijakan strategis antisipatif yang komprehensif. Antisipasi menghadapi cuaca ektrim iklim geopolitik dunia dan kawasan yang dalam kacamata intelijen strategis masuk kategori "ngeri-ngeri sedap". Secara kuantitas dengan pengembangan struktur organisasi TNI ini ada penambahan sedikitnya 100.000 prajurit TNI.

Yang menarik di upacara kehormatan militer ini adalah pada saat pemeriksaan pasukan upacara. Presiden Prabowo, Menhan dan rombongan petinggi militer dengan dua kendaraan Maung terbuka, lebih dulu menghormat dan menyapa rakyat dengan senyum. "Kontingen" rakyat ada di sebelah kiri panggung kehormatan. Memanjang ratusan meter di lapangan rumput tepi landasan pacu Suparlan Army Base Pusdiklatpassus. Sebuah pemandangan yang membungakan semangat kebangsaan kita. Presiden melewati barisan civil society yang riuh rendah bersorak sorai bersama lambaian bendera merah putih di tangan. Begitu panjang durasi perjalanan inspeksi Presiden. Setelah melewati barisan ribuan masyarakat lalu putar balik dan memulai inspeksi pasukan tempur TNI sepanjang landasan pacu.

Jarak antara dua upacara kebesaran negara yang hanya 1 minggu ini dalam perspektif kita memberikan kesan dan pesan kuat tentang korelasi kemerdekaan dan pertahanan semesta. Maknanya adalah untuk menyadarkan semua pihak bahwa pertahanan negeri kepulauan ini harus kuat dan disegani. Tidak bisa tidak. Heritage and goal merdeka tidak lain adalah untuk menjaga marwah proklamasi, eksistensi negeri, kekayaan sumber daya alam dan pertumbuhan kesejahteraan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan menggema ke seluruh dunia. Proklamasi ini menjadi ujian kebangsaan dan perjuangan semesta seluruh rakyat Indonesia. Apa yang kemudian terjadi adalah pertumpahan darah selama 4 tahun dalam perang kemerdekaan tahun 1945 sampai dengan tahun1949 di seluruh negeri.

Pertempuran di Surabaya yang sangat heroik, terjadi hanya 3 bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Tercatat dalam sejarah dunia pertempuran 10 Nopember 1945 merupakan pertempuran terbesar sejak perang dunia kedua berakhir. Pemicu pertempuran besar ini adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di Surabaya yang dideklarasikan Ulama dan Kyai di seluruh Jawa dan Madura. Bahwa mempertahankan kemerdekaan hukumnya adalah Fardu Ain. Resolusi Inilah yang memberikan api semangat juang puluhan ribu pemuda, santri, laskar mengalir menuju Surabaya. Termasuk membunuh Brigjen Mallaby yang mengguncang tentara sekutu. Perang kemerdekaan selama 4 tahun adalah all out, total football. Agresi militer Belanda  jilid satu dan dua adalah bukti bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dipertahankan seluruh anak bangsa dengan darah dan air mata. Ini adalah evidence sejarah yang tak terbantahkan dan  membentuk karakter kebangsaan seluruh rakyat Indonesia sampai hari ini, yaitu nasionalis patriotik dan religius. Perang kemerdekaan adalah bukti sejarah tak terbantahkan tentang tangguhnya pertahanan semesta rakyat Indonesia.

Sebagai negara kepulauan yang luasnya seluas benua Eropa, Indonesia harus memiliki manajemen pertahanan yang kuat. Ini adalah amanat proklamasi dan marwah kedaulatan negara. Pertumbuhan ekonomi kesejahteraan kita terus tumbuh dan dalam kuartal kedua tahun ini mencapai 5,12%. Pertumbuhan ekonomi berkorelasi dengan pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product). GDP Indonesia saat ini ada di urutan 16 besar dunia. Sejalan dengan pertumbuhan GDP maka rasio pertumbuhan anggaran pertahanan juga meningkat. Saat ini rasio anggaran pertahanan dengan GDP Indonesia ada di kisaran 1%. Rasio ini relatif kecil dibanding negara lain. Maka untuk percepatan investasi pertahanan yang dilakukan pemerintah saat ini perlu menaikkan rasio anggaran pertahanan sampai 2%. 

Saat ini Indonesia sedang giat-giatnya mengembangkuatkan investasi pertahanan dalam program extra ordinary. Dalam waktu dekat secara estafet akan hadir 6 KRI fregat, 3 KRI korvet, 3 KRI kapal cepat rudal, 2 kapal selam, puluhan jet tempur, 2 pesawat angkut berat multi guna, ratusan sistem peluru kendali berbagai jenis, ratusan UAV, puluhan radar GCI dan lain-lain. Sebagaimana pernyataan Presiden Prabowo berulang kali, negara yang tidak kuat manajemen pertahanannya akan mudah dikuasai sumber daya alamnya. Mengembangkuatkan investasi pertahanan saat ini bukan berarti kita ingin berperang dengan negara lain. Melainkan untuk menguatkan paradigma si vis pacem parabellum. Dengan manajemen pertahanan yang kuat, Indonesia dapat menjalankan diplomasi internasional dengan bargaining yang setara, tidak dianggap remeh. Lebih dari itu, kekuatan pertahanan yang gahar akan membuat negara lain berhitung cermat ketika ingin melecehkan teritori Indonesia.

Makna dari dua upacara kebesaran negara yang berdekatan waktunya dalam pandangan kita adalah untuk merefleksikan kesadaran bela negara dalam simpul yang lebih erat. Pertahanan semesta atau Hankamrata sesungguhnya adalah kunci kekuatan bangsa besar ini. Dan ini sudah terbukti dalam palagan perang kemerdekaan kita yang heroik itu. Saat ini pemerintah sedang mengembangkan komponen cadangan (Komcad), membangun batalyon teritorial dan mengajak seluruh masyarakat (civil society) untuk memahami dan mendukung pengembangan postur TNI sebagai kekuatan inti pertahanan semesta. Di dua upacara kebesaran negara kemarin, yang hanya berjarak 1 minggu puluhan ribu civil society on the spot berada dalam partisipasi dan perayaan bersama. Bukankah ini simbol dari sinergitas dan kohesivitas kekuatan pertahanan semesta kita di masa damai ?

****

Jagarin Pane / 18 Agustus 2025