Saturday, August 17, 2024

Marwah Republik Semakin Bersinar

Boeing Company AS seminggu yang lalu menerbitkan gambar ilustrasi jet tempur F15 Id khusus untuk Indonesia. Ini adalah literasi marketing komunikasi digital sebagai bagian dari upaya percepatan proses pengadaan alutsista canggih dan strategis. Publikasi seperti ini sangat perlu sebagai mata rantai proses yang sedang berjalan. Untuk apa sih Indonesia melakukan pengadaan berbagai alutsista strategis. Jawabannya, demi marwah, martabat dan harga diri NKRI serta untuk memperkokoh kekuatan. Sebagai informasi Indonesia akan membeli 24 unit jet tempur canggih, twin engine multi role ini. Alhamdulillah.

Marwah Republik Indonesia saat ini and next adalah posisi geopolitik dan geostrategisnya yang membuat pemilik hegemoni AS dan aliansi AUKUS harus berbaik hati dan bermuka manis dengan Jakarta. Salah satu cara "mengurung" China dengan barikade bulan sabit mulai dari Jepang sampai India adalah melihat Indonesia sebagai  pemilik teritori strategis di Asia Tenggara. Dan sekaligus bumper pertahanan bagi Australia. Dengan dinamika yang terjadi di kawasan Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan, betapa sesungguhnya Indonesia punya bargaining power atau marwah dalam diplomasi multi dimensi.

Contoh, ketika Prabowo menjadi menteri pertahanan, status visa nya masih di ban AS. Padahal mantan Pangkostrad ini sedang giat-giatnya membeli alutsista canggih. Lalu dia berkunjung ke Austria melirik jet tempur Typhoon. AS mulai mikir neh. Karena ada kesulitan teknis kemudian Menhan ke Perancis untuk beli 42 jet tempur Rafale. Nah ketika beliau berkunjung ke Paris, Washington berubah sikap dan mempersilakan Prabowo berkunjung. Nah pada saat Menhan kita berkunjung beberapa bulan kemudian, Pentagon membentangkan karpet merah. Luar biasa.

Inilah marwah dan martabat yang berkelas. Negara adidaya AS harus berhitung ulang untuk Prabowo dan Indonesia. Ternyata ada lagi yang lebih bermarwah. Ketika Indonesia teken kontrak 42 jet tempur Rafale dengan Perancis, pada hari yang sama AS menyetujui penjualan 24 jet tempur F15 Id. Benar-benar surprise. Padahal jet tempur F15 ini hanya untuk sekutu AS seperti Korsel, Jepang dan Singapura. Dari sini bisa terlihat betapa marwah Indonesia menguat dalam diplomasi militer. 

Penguatan alutsista Indonesia juga mengangkat marwah negeri ini. Ingat ketika konflik Ambalat membara antara tahun 2001sd 2008 betapa marwah kita dilecehkan jiran sebelah. 4 pesawat bronco baling-baling TNI AU ketika patroli di Sipadan diusir 3 jet tempur F5E Malaysia. Presiden SBY ketika mengunjungi Ambalat dengan sejumlah KRI mendapat pelecehan dari pesawat Malaysia. Marwah negeri ini berada di titik terendah padahal jiran kita itu bersebelahan rumah lho. Benar-benar kebangetan. Namun saat ini si jiran sudah mati angin di Ambalat sejak kita mulai penguatan alutsista sepanjang 15 tahun terakhir. Marwah negeri kembali berkibar di Ambalat.

Sinergitas pembangunan ekonomi kesejahteraan dan investasi pertahanan yang berlangsung saat ini semakin menguatkan marwah republik. Indonesia saat ini berada di urutan 16 besar dunia dalam pencapaian produk domestik bruto  (PDB) sehingga masuk grup elite dunia G20. Demikian juga dengan postur kekuatan militer kita menurut GFP (Global Fire Power) ada di urutan 13 besar dunia. Artinya kedua pilar marwah kita yaitu ekonomi kesejahteraan dan investasi pertahanan semakin mengibarkan kekuatan harkat dan martabat republik.

Di usia ke 79 sebuah perjalanan eksistensi yang penuh dengan nilai perjuangan dan kejuangan adalah evidence historis tak terbantahkan tentang definisi marwah kebangsaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah simbol keberanian dan ketangguhan tak tertandingi untuk menegakkan marwah dan harga diri bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di kawasan ini yang memerdekakan diri dengan perjuangan "timnas full team" darah dan air mata. Berdirinya republik kebanggaan kita ini, bukan karena hadiah dari penjajah sebagaimana negara lain yang ada di sekitar kita.

Betapa nilai capital gain dari perjuangan itu yang kemudian menjadikan negeri jamrud khatulustiwa ini memiliki semangat kebangsaan nasionalis patriotik tak tergantikan. Marwah Republik Indonesia yang tertinggi adalah seluruh anak negeri antar generasi memiliki jiwa nasionalis patriotik yang diakui dunia sampai saat ini. Seremoni dari akhir pertandingan Timnas sepakbola kebanggaan kita adalah salah satu bukti. Ketika lagu "Tanah Airku" menggema berkumandang di stadion megah bersama seluruh pemain di lingkaran lapangan hijau bersama puluhan ribu penonton dan puluhan juta pemirsa mampu membangkitkan semangat kebangsaan kita. Betapa marwah republik menjulang menggema dan menyelinap di relung bathin anak negeri lintas generasi.

Pencapaian republik di usia ke 79 patut kita syukuri. Republik Indonesia adalah sebuah karunia terbesar untuk kita syukuri. Dunia sebenarnya terpana dan kagum dengan sebuah negara multi dimensi. Beribu pulau, beragam etnis, bervariasi bahasa dan aneka budaya membentuk adonan indah megah yang bernama Indonesia. Sebuah maha karya dari perumus dan pendiri republik tentu dengan ridho Allah jadilah sebuah tatanan yang tersaji indah, besar, megah, ramah dan gemah ripah.

Hidup guyup dua ratus delapan puluh juta anak bangsa menyebar di berbagai pulau nusantara. Masya Allah kalau bukan karena kehendak Allah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Mari kita renungkan betapa kita ditakdirkan menjadi bagian dari warga bangsa besar, bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Bangsa multi etnis multi budaya yang mampu mengikatkuatkan kebhinekaannya. Inilah sejatinya akar jati diri marwah republik. Dirgahayu Indonesia. Nusantara Baru Indonesia Maju.

****

Jagarin Pane / 17 Agustus 2024

Sunday, July 21, 2024

Seiring Sejalan Menuju Kekuatan Komprehensif

Indonesia kita adalah warisan karunia terbesar yang kita dapatkan sampai hari ini. Negeri kepulauan terbesar ini sedang menggiatkan pembangunan ekonomi kesejahteraan. Indikator on the spot nya terlihat dengan data pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan. Penguatan infrastruktur berbagai sektor memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Seperti pertambahan ribuan kilometer jalan tol, peningkatan kualitas jalan raya nasional, pelayanan angkutan kereta api, bandara semakin megah, penambahan puluhan bendungan, angkutan laut, pelayanan publik. Termasuk memegahkan pintu masuk perbatasan darat (border nation) sebagai simbol marwah negeri.

Pembangunan ekonomi menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produk domestik bruto (PDB), meski belum sampai pada kriteria kesejahteraan proporsional warga bamgsa. Setidaknya saat ini pendapatan per kapita Indonesia menyentuh angka US$ 4.900 Dollar,  masuk golongan negara berpenghasilan menengah atas. Sementara rasio utang terhadap PDB 39% masih dalam kriteria wajar. UU APBN memberikan limit rasio utang sampai 60%. Pertumbuhan ekonomi jelas akan menaikkan PDB kita. Data BPS menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia saat ini berada pada ranking 16 besar dunia, nomor satu di ASEAN dan dengan demikian masuk grup elite G20. Duapuluh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar.

Investasi pertahanan dan pembangunan ekonomi kesejahteraan sepanjang 15 tahun terakhir ini menunjukkan sinergitas seiring sejalan. Ini sebenarnya yang kemudian ingin diingatkan kembali oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subiyanto baru-baru ini. Bahwa untuk  membangun infrastruktur, membangunkuatkan aktivitas industri hilirisasi, mengembangkan UMKM dan sebagainya harus diimbangi dengan pembangunan kekuatan pertahanan. Sumber daya alam negeri ini sangat beragam dan kaya raya. Semuanya harus berada dalam payung perlindungan pertahanan dan keamanan yang kuat. Ini bisa dilihat dari penguatan investasi pertahanan selama program minimum essential force (MEF) TNI. Berbagai jenis alutsista strategis sudah menjadi aset pertahanan negeri yang membanggakan.

Dinamika geopolitik, perubahan iklim, keterbatasan ketersediaan sumber daya alam tak terbarukan adalah situasi tak tergantikan untuk saat ini dan yang akan datang. Potensi konflik di kawasan Indo Pasifik yang menguat harus cepat diantisipasi. Tidak ada lagi ruang zero enemy manakala potensi konflik sudah sampai pada kriteria common enemy. Dinamika di Laut China Selatan (LCS) meski dalam tataran diplomatik selalu mengupayakan code of conduct namun dalam strategi militer antisipasinya adalah penguatan pertahanan. Ancamannya sudah jelas dan sampai pada terminal the real enemy. Itu sebabnya maka barikade pertahanan di Natuna saat ini diperkuat. Radar pertahanan saja berlapis-lapis, bersama sejumlah KRI dan BAKAMLA saling bersiaga. UAV dan jet tempur saling mengisi jadwal patroli. Di darat Brigade Komposit Gardapati yang terdiri satuan Infantri, Artileri, Arhanud, Kavaleri, Marinir, Kopasgat sudah ready for use.

Negara kepulauan ini harus diikat dengan kekuatan pertahanan sinergitas. Doktrin berani masuk digebuk, maknanya adalah tiga matra TNI harus kuat dan saling berinterkoneksi. Kita bersyukur saat ini TNI sudah memiliki manajemen pertempuran konektivitas yang dikenal dengan network centric warfare. Termasuk pertambahan aset pertahanan yang signifikan untuk TNI AL dan TNI AU. Karena dalam dinamika geopolitik saat ini dan struktur bangunan negeri kita yang berpulau-pulau dan lebih banyak perairannya, mengharuskan adanya postur angkatan laut dan udara yang kuat. Perbatasan teritori kita dominan perairan. Artinya dalam doktrin pre emptive strike maka kita harus mempunyai kekuatan AL dan AU yang mencukupi untuk menghancurkan musuh di perbatasan teritori.

Sebenarnya percepatan pertambahan kekuatan pertahanan yang kita lakukan saat ini, karena Indonesia selama ini "terlena" dengan filosofi zero enemy. Faktor lingkungan ASEAN yang damai selama 40 tahun menjadikan fokus pembangunan ekonomi nomor satu. Investasi pertahanan seadanya. Nah setelah lidah naga mulai mengacak-acak ketenteraman kawasan dan jiran sebelah pamer kekuatan di Ambalat barulah kita sadar betapa kekuatan pertahanan kita tertinggal. Lalu Presiden SBY menggagas dan memulai penguatan investasi pertahanan tahun 2010 dengan program MEF. Kemudian selama 4 tahun terakhir Menhan Prabowo mempercepat pencapaian dengan extra ordinary. Kesannya seperti menggebu-gebu padahal sebenarnya baru ingin mencapai target minimal kekuatan alutsista kita yang tertinggal selama ini.

Pengadaan 42 jet tempur Rafale, 25 radar GCI, 2 kapal perang heavy fregate merah putih, 2 kapal perang PPA dari Italia, 2 kapal selam, 22 helikopter Black Hawk dan lain-lain menunjukkan keseriusan pemerintah membangun investasi pertahanan. Pembangunan ekonomi kesejahteraan memang harus seiring sejalan dengan pembangunan pertahanan karena keduanya adalah kekuatan komprehensif sebuah negara. Maka jangan heran disamping banyaknya seremoni peresmian pembangunan ekonomi dan infrastruktur, kita juga banyak kedatangan berbagai jenis alutsista. Baik yang produksi dalam negeri maupun pengadaan lintas negara. Ke depan juga akan terus seperti ini karena kita akan terus melaju menuju Indonesia maju, Indonesia yang sejahtera dan disegani. Kekuatannya adalah keberlangsungan pembangunan ekomoni kesejahteraan dan investasi pertahanan. Keduanya harus seiring sejalan. Nusantara baru Indonesia maju. Semoga.

****

Jagarin Pane, 21 Juli 2024


Saturday, June 22, 2024

Selamat Datang Network Centric Warfare

Satu program strategis dan prestisius dalam manajemen pertahanan Indonesia baru saja selesai dibangun. Adalah perusahaan teknologi software militer asal Yunani Scytalys yang selama 4 tahun ini dengan kontrak US$ 49 juta sukses membangun sistem koneksi data (data link) untuk seluruh matra TNI bersama seluruh satuan tempurnya. Scytalys membangun sistem komando terintegrasi dengan kemampuan berbagi informasi, perintah dan koneksi data secara cepat dan akurat dalam satu komando sinergi dan hirarki. Pekerjaan membangun sistem teknologi software militer terpadu ini selesai 12 Juni 2024 yang lalu. Jepang dan Korsel sudah lebih dulu mengadopsi network centric warfare produk Scytalys ini.

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia saat ini sudah memiliki berbagai jenis alutsista strategis di seluruh matra TNI. TNI AU punya Jet Tempur Sukhoi, F16, T50, Hawk, Super Tucano, Hercules, Boeing Surveillance, Oerlikon Skyshield, Radar GCI, Radar Pasif, Satbak Rudal, Drone, Helikopter dan lain-lain. TNI AL punya aset mahal KRI Fregate, Korvet, Kapal Selam, Kapal Cepat Rudal, Landing Platform Dock, Landing Ship Tank, Penyapu Ranjau, Intelijen Bawah Air, Tanker, Helikopter anti kapal selam, Tank Amfibi, Roket Multi Laras RM Grad, Vampire dan lain-lain. Sementara TNI AD punya Main Battle Tank Leopard, Tank Marder, Tank Harimau, Panser Anoa, Badak, Ranpur M113, Roket Multi Laras Astross, Artileri M109, Artileri KH178, KH179, Artileri Nexter, Satbak Rudal Starstreak, Mistral, Helikopter Apache, Mi35, Mi17, Bell, Fennec, dan lain-lain. Semua yang disebut diatas adalah alutsista berkelas dan berteknologi.

Pada saat yang bersamaan kita juga sudah dan sedang memesan berbagai jenis alat pukul gahar di semua matra. Ada pesanan Jet Tempur Rafale, F15 Id, Kapal Perang Heavy Fregate Merah Putih, Kapal PPA Fincantieri, Fremm, Kapal Selam Scorpene Evolved, Pesawat MRTT,  AEW&C (early warning dan control), Satelit Militer, Radar GCI, Helikopter Black Hawk, Drone Anka, Bayraktar, Satbak Rudal Khan dan lain lain. Ini belum termasuk rencana pengadaan Missil Coastal, Kapal Selam Midget AI (artificial intelligence), Kapal Selam Interim,Jet Tempur IFX dan lain-lain. Semua pengadaan alutsista gahar yang akan menjadi aset investasi pertahanan Indonesia dengan teknologi terkini, menjadi bagian dari sistem interkoneksi data militer terpadu.

Dengan kata lain beragam jenis alutsista produk berbagai negara produsen ini dalam manajemen pertempuran modern harus bisa terintegrasi tanpa kecuali. Integrasi dalam sistem komunikasi dan informasi, koneksi data dan perintah komando. Bangunan military interoperability framework ini memadukan berbagai platform koneksi data di satuan tempur dengan berbagai jenis alutsista. Ini yang disebut dengan kemampuan network centric operation. Integrasi koneksi data dari yang bernama Link 16, Link 22, J-Reop, Link 11A/B, Link 1 pada akhirnya melahirkan kedaulatan data link untuk TNI. Indonesia akhirnya patut bangga karena mampu berdaulat penuh dalam sistem manajemen koneksi data militer. Standar koneksi data Indonesia (INDL) adalah hasil dari program SIK (Sistem Interoperabilitas Kodal) buatan Scytalys.

INDL adalah protokol software data link TNI yang canggih, anti sadap, anti jamming. Implementasi INDL berhasil mereformasi semua koneksi data parsial menjadi terpadu dalam satu komando pengendalian tempur. Sehingga akan menghasilkan respon cepat berdasarkan data, informasi dan sandi. Desain dan format strukturnya adalah C4ISR (command, control, communication, computers, intelligence, surveillance, reconnaissance). Semua strategi dan taktik dalam gambaran operasional di markas komando dan satuan tempur saat ini sudah mempunyai fasilitas pertukaran data dan informasi yang cepat, lancar, akurat dan steril. Semuanya dalam satu konektivitas teknologi software yang berkualitas.

Kepulauan Natuna adalah contoh implementasi INDL. Kepulauan garis depan Indonesia yang halaman ZEE nya "direcoki lidah naga" nine dash line, saat ini sudah mempunyai sistem pemantauan dan pengawasan berlapis. Ada tiga radar canggih "Bang Thomson, Mbak Vera NG dan Mas Weibel" yang saling melapis bersinergi. Keren kan. Ada skadron UAV / UCAV, ada patroli jet tempur dan KRI, ada Kapal Bakamla, ada Brigade Tempur Komposit Gardapati. Semua infrastruktur alutsista dalam berbagai satuan tempur ini sudah terkoneksi dalam INDL. Keseluruhan sistem ini beserta prajurit yang mengawakinya menjadi bagian dari Network Centric Warfare berada dalam satu komando Kogabwilhan Satu di Batam.

Sebenarnya TNI AD sudah lebih dulu memiliki koneksi data BMS (battle field management system). Dengan kemampuan BMS ini setiap mengadakan latihan militer, TNI AD menyertakan seluruh perangkat kesisteman satuan tempur antar kecabangan dalam format Brigade Tim Pertempuran (BTP). Didalamnya ada Batalyon Infanteri, Batalyon Artileri dan Batalyon Kavaleri. Untuk kota Semarang bahkan dapat menyertakan Batalyon Arhanud dan Penerbad TNI AD. Yon Arhanud 15 saat ini sudah memiliki Air Defence System, satuan tembak rudal SAM (surface to air) Starstreak. Sementara Penerbad menempatkan skadron helikopter serbu Apache dan Mi35 di Ahmad Yani Army Force Base. Unik juga ya ada Apache buatan AS bisa berlatih bersama Mi35 buatan Rusia. BMS ini sudah teruji dalam beberapa simulasi pertempuran selama beberapa tahun terakhir di Puslatpur TNI AD Baturaja Sumsel.

Kita mengapresiasi tercapainya program strategis Kemenhan ini. Bahwa bangunan kesisteman dan manajemen pertahanan yang terintegrasi adalah mutlak. Tidak lagi mengedepankan ego matra atau ego satuan tempur. Penting juga untuk menghindari terjadinya friendly fire alias nembak koncone dewe. Termasuk mestinya tidak lagi menganut doktrin militer "masuk dulu baru digebuk". Dan berganti dengan doktrin pre emptive strike "berani masuk digebuk". Misalnya berani ganggu Natuna ya kita gebuk. Network Centric Warfare jelas menjunjung kurikulum pre emptive strike, berani masuk digebuk. 

Kita sudah punya alat penggebuknya tapi masih kurang greget. Nah sekarang tinggal menunggu alat penggebuknya yang gahar untuk segera datang seperti Jet Tempur Rafale, Kapal Perang Heavy Fregate, Kapal Selam Serbu, Missil Coastal dan lain-lain. Kita sedang mempersiapkan filosofi Si Vis Pacem Parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dengan tersedianya beragam jenis alutsista strategis dan gahar, pihak yang "suka bikin recok" menjadi segan. Setidaknya inilah yang disebut show of force dalam diplomasi militer. Intinya kita harus kuat secara militer karena dia adalah investasi pertahanan untuk eksistensi dan marwah negeri tercinta. Selamat datang Network Centric Warfare. 

****

Jagarin Pane / 22 Juni 2024


Wednesday, June 12, 2024

Bergegas Mencapai Demi Marwah

Berbagai aktivitas militer indonesia termasuk aktivitas industri pertahanan tanah air saat ini sedang bergegas untuk menyelesaikan semua yang menjadi target. Aktivitas ini sangat terasa ketika kita membaca dan menyaksikan lembar pemberitaan yang tanpa henti setiap hari. Semua ini menunjukkan betapa dalam urusan pertahanan Indonesia sedang bergegas mencapai keinginannya untuk menguatkan harkat dan martabat diplomasi pertahanan dan perdamaian.

Pada dialog "perkumpulan Menhan bergengsi" Shangri-la di Singapura barusan, Menhan Prabowo menyampaikan kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian untuk Gaza. Pernyataan Menhan ini menunjukkan kualitas marwah diplomasi perdamaian Indonesia semakin menggema. Saat ini saja sudah ada seribuan pasukan Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL menjaga perbatasan panas Israel Lebanon. Termasuk pengiriman 1 unit KRI secara estafet untuk menjaga perairan perbatasan kedua negara itu. Panglima TNI hari-hari ini sedang mempersiapkan personil batalyon kesehatan Kostrad untuk bergegas dan siap menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia di Gaza. Bismillah biiznillah.

Kesiapan menguatkan marwah pertahanan terus dilakukan di Natuna. Raden Sadjad AFB di Ranai naik kelas menjadi Air Force Base kelas A. Ini setingkat dengan Halim AFB di Jakarta, Iswahyudi AFB di Madiun, Hasanudin AFB di Makasar, Supadio AFB di Pontianak, Abdurrahman Saleh AFB di Malang dan Rusmin Nuryadin AFB di Pekanbaru. Kriteria Lanud tipe A minimal memiliki 2 skadron dan dipimpin Marsekal bintang satu.  Memang secara de facto Raden Sadjad AFB dengan aktivitas militernya yang cukup tinggi sudah setara dengan AFB kelas A. Seluruh kawasan Natuna saat ini sudah pendapat payung perlindungan berlapis di darat, laut dan udara.

Ada tiga radar teknologi terkini di Natuna yang saling bersinergi di Satrad 212. Yaitu radar GCI Weibel MFSR, radar GCI Thomson TRS dan radar pasif Vera NG. Skadron UAV sudah operasional,   skadron jet tempur sedang dioersiapkan. Di laut sudah stand by beberapa KRI dan kapal Bakamla di Navy Base. Di darat sudah ada brigade komposit Gardapati dengan sejumlah persenjataan berat siaga penuh. Misalnya Oerlikon Skyshield, artileri Caesar Nexter, roket multi laras Astross Mk6, tank Leopard, RM Grad dan tank amfibi marinir. Penguatan Natuna akan terus dilakukan dengan mendatangkan Missil Coastal, memperbanyak UCAV, home base skadron jet tempur, alokasi heavy fregate, menghadirkan kapal selam dan latihan militer secara rutin.

Industri pertahanan kita ikut bergegas menyelesaikan proyek alutsista puluhan trilyun. PT PAL baru saja melakukan first steel cutting untuk heavy fregate merah putih yang kedua. Berlomba dengan waktu berparalelisasi dengan heavy fregate merah putih yang pertama. Kita optimis dengan cara kerja insinyur dan teknisi PT PAL mampu menyelesaikan 2 KRI jumbo untuk TNI AL tepat waktu. Dan akan menjadi karya monumental untuk PT PAL. Sementara pada saat yang bersamaan PT PAL sedang menyelesaikan 2 kapal perang LPD (Landing Platform Dock) untuk Angkatan Laut Filipina dan 1 kapal perang LPD terbesar untuk angkatan laut UEA. Benar-benar sibuk PT PAL saat ini, ditambah lagi sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal selam herder Scorpene Evolved bersama pemilik teknologi Naval Group Perancis. Luar biasa membanggakan.

Yang menarik adalah berita persetujuan mendatangkan korvet Pohang Class dari Korsel. Awalnya negeri ginseng itu hendak menghibahkan 3 unit korvet bekas pakai untuk Indonesia. Hilang dari pemberitaan setahun lebih, akhirnya perolehan  hibah 1 unit terlaksana jua dengan ongkos reparasi US $ 35 juta. Sementara itu dalam proyek kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX Indonesia akan menurunkan partisipasi dollarnya karena ada beberapa teknologi kunci milik AS yang restricted area untuk Indonesia. Ini dia problem utamanya. Korsel kan sekutu AS, sedangkan kita hanya setingkat mitra strategis AS. Yo wes. Demikian juga lanjutan alih teknologi pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 2 dengan Korsel berhenti tanpa disuruh. Yo wes.

TNI AL saat ini sedang mempersiapkan kedatangan 2 kapal perang gede buatan Fincantieri Italia. Begitu bergegasnya kita mengisi ketersediaan aset alutsista matra laut. 2 kapal perang "setara heavy fregate" ini sebenarnya pesanan AL Italia. Namun dengan lobby intensif dan kemampuan diplomasi pertahanan Indonesia, Italia bersedia mengalah dan memberikannya untuk Indonesia. Tentu semuanya based on transaksi bisnis win win solution. Langkah berlanjut terus untuk penguatan matra TNI renstra 2025 - 2029. Matra laut masih akan menambah minimal 2 kapal selam interim untuk pengisian segera dan 2 kapal heavy fregate dari beberapa negara Eropa. AS tak mau ketinggalan, terus berunding dengan kemhan RI untuk merealisasikan pengadaan 24 jet tempur double engine F15 Id. Ramai betul pasar alutsista untuk negeri kepulauan ini.

Memang untuk menuju diplomasi dan marwah pertahanan yang diinginkan, membutuhkan investasi besar. Ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan besaran GDP Indonesia yang masuk urutan 16 besar dunia. Pencapaian GDP kita selayaknya mendapat "pengawalan eksistensi" dengan mengembangkan postur pertahanan. Karena potensi ancaman sudah sangat jelas.Jadi tak perlu dijelaskan. Postur pertahanan Indonesia harus sesuai dengan luas wilayah yang dimiliki. Saat ini kita belum sampai pada kriteria standar dan sesuai. Kita harus memahami bahwa investasi pertahanan bukanlah sebuah ambisi melainkan karena kita sangat membutuhkannya. Aset pertahanan bukanlah aset mubazir karena adanya aset pertahanan ini menjadi indikator utama keseganan negara lain untuk bermain api dengan Indonesia. Indonesia yang kuat ekonomi kesejahteraan dan pertahanan, adalah harkat dan martabat kita ber NKRI. Kita sedang menuju kesana.

****

Jagarin Pane / 12 Juni 2024


Monday, May 20, 2024

Interim Again

Indonesia saat ini sedang bergegas mencukupi gizi alutsista semua matra. Mengapa harus bergegas,  karena kita harus segera menyiapkan bangunan kokoh benteng pertahanan negeri ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrim dan tak terduga. Potensi konflik di kawasan Timur Jauh khususnya Laut China Selatan (LCS) bukan lagi cerita fiksi.  Melainkan sudah menumbuhkan tunas inkubasi dan berkembang liar. Secara teknis di LCS saat ini sudah dalam kondisi siap tempur. Meriam air Coast Guard China sudah sering memuntahkan amunisinya untuk menggertak dan menghalau Coast Guard Filipina dan Vietnam. Seperti pertumbuhan bisul yang menunggu titik breaking news.

Setelah angkatan udara mendapatkan kepastian penambahan aset alutsista strategis. Kini giliran angkatan laut Indonesia menguatkan jatidiri jalesveva jayamahe. Dengan mendapatkan 4 kapal perang striking force ukuran jumbo dan 2 kapal selam serbu. Dari 4 kapal perang jumbo ini  dua diantaranya sedang dibangun di PT PAL yaitu heavy fregate merah putih. Sementara dua lainnya adalah kapal perang PPA (Pattugliatore Polivante d'Altura) setara heavy fregate buatan Fincantieri Italia. Kita pun tahu penyelesaian pembangunan 2 kapal perang heavy fregate di PT PAL baru akan selesai paling cepat tahun 2027. 

Nah, untuk percepatan ketersediaan aset kapal perang, Kementerian Pertahanan melakukan model pengadaan alutsista cepat saji. Ada 8 Kapal perang PPA setara heavy fregate yang dipesan AL Italia sudah dan sedang dibuat Fincantieri. Dua unit diantaranya kita "ambil alih" melalui lobby bisnis intensif dengan mekanisme win-win solution. Hasilnya Oktober 2024 nanti satu kapal perang diprediksi bisa datang di Indonesia. Kapal perang kedua tahun depan. Program extra ordinary Kemhan ini bagian dari percepatan pemenuhan kebutuhan armada TNI AL. Kita mengapresiasinya. 

Demikian pula dengan pemenuhan kebutuhan armada monster bawah air TNI AL. Setelah mendapat kepastian penambahan 2 kapal selam Scorpene Evolved buatan Perancis, TNI AL dan Kemhan berupaya melakukan pengadaan interim kapal selam lainnya. Mengapa harus dilakukan. Karena membangun 2 kapal selam Scorpene Evolved membutuhkan durasi waktu 6-7 tahun. Padahal TNI AL saat ini sangat membutuhkan ketersediaan kuantitas dan kualitas kapal selam. 

Ini sama dengan program pengadaan interim alutsista beberapa waktu yang lalu. Yaitu upaya mendatangkan 1 skadron jet tempur Mirage dari Qatar. Mirage diperlukan secara instan dan cepat saji karena pengadaan 42 jet tempur Rafale baru akan datang paling cepat tahun 2026. Dan akan ditempatkan di Natuna. Sayangnya pengadaan interim ini tidak berjalan mulus dan putus. Gonjang ganjing pada musim politik Pilpres bergaung keras. Yang harganya kemahalan, pesawatnya sudah tua dan melalui pihak ketiga. Begitulah bunyinya, kakinya bertanduk hewan apa namanya. Seperti lirik lagu Kukuruyuk, bahasa politik memang ngeri-ngeri sedap.

Saat ini Indonesia memiliki 4 kapal selam "satu nasab lain ibu", sama-sama dari "DNA" U209 Jerman. Cakra Class U209 yang hanya tinggal 1 unit asli buatan Jerman tahun 1980. Sementara 3 unit Nagapasa Class U209 "foto copy" adalah hasil kerjasama transfer teknologi DSME Korsel dengan PT PAL Indonesia. Nagapasa Class selesai dibangun seluruhnya tahun 2017. Harus diakui ke 4 kapal selam "anjing kampung" ini belum setara dengan kapal selam "herder" punya tetangga. Padahal monster bawah air ini adalah alutsista strategis yang punya daya gentar tinggi. Satu kapal selam bisa "bertanding" dengan 9-10 kapal perang permukaan air.

Kemhan dan TNI AL saat ini sedang berupaya untuk pengadaaan interim alutsista kapal selam sambil menunggu selesainya pembangunan Scorpene Evolved.  Jujur saja dari ke 4 kapal selam kita yang ada saat ini hanya KRI Cakra 401 dan KRI Alugoro 405 yang mampu menjalankan tugas operasi. Dua lainnya yaitu KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 lebih banyak duduk manis di hanggarnya. Keduanya dibuat di DSME Korsel. KRI Alugoro 405 yang dibuat di PT PAL nyatanya lebih siap tugas tuh. Bulan ini Alugoro baru saja berhasil menembakkan torpedo Blackshark ke arah KRI Pulau Romang 723 yang sudah pensiun di laut Bali.

Kita berharap proses pengadaan 2 kapal selam interim ini bisa selesai tahun ini. Soal kapasitas dan kemampuan tentu TNI AL yang paling tahu. Dalam perspektif kita kapal selam jenis U212 dan U214 merupakan pilihan yang pas. Karena masih satu keluarga besar dengan U209 yang kita miliki. Kehadiran 2 kapal selam interim diniscayakan akan mampu membangun daya dukung operasional Korps Hiu Kencana. Target kita memiliki 12 kapal selam adalah sebanding dengan luasnya wilayah perairan Indonesia. Kemhan dan TNI AL sedang mengejar perolehan ini. Meski jika digabung semua program tadi baru akan tersedia 8 kapal selam. Lumayanlah.

****

Jagarin Pane / 20 Mei 2024

Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Thursday, April 18, 2024

Menggempur Pasukan Pemberontak

Masih ingat dengan Macan Tamil Eelam di Sri Lanka. Atau gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Macam Tamil atau LTTE (Liberation Tigers of Tamil Eelam) selama 27 tahun melakukan pemberontakan untuk membentuk negara Tamil Eelam di Timur Laut Sri Lanka. Mereka melakukan teror, pembunuhan dan sabotase. Korbannya mencapai seratusan ribu orang. Pemerintah Sri Lanka akhirnya bertindak tegas dengan menggelar operasi militer skala besar tahun 2009. Pasukan Sri Lanka dengan dukungan kapal perang dan pesawat tempur membombardir semenanjung Jafna. Seluruh pimpinan LTTE digebuk habis termasuk panglima tertinggi Velupillai Prabhakaran tewas mengenaskan dengan alutsista roket. Tamatlah riwayat LTTE, tidak ada lagi tunas yang tumbuh untuk melanjutkan perjuangan. Termasuk perjuangan menghasut di luar negeri.

Pertempuran kota atau urban warfare di Marawi Filipina Selatan sangat heroik sampai-sampai dibuatkan film actionnya. Awalnya Pemerintah Filipina ingin menangkap pimpinan gerilyawan Abu Sayyaf yang bernama Isnilon Hapilon di Marawi. Gerilyawan Abu Sayyaf adalah pecahan MNLF yang menolak berdamai. MNLF pimpinan Nur Misuari sudah berdamai abadi dengan pemerintah Filipina. Juru damainya Indonesia. Gagal menangkap Hapilon, Filipina menggelar operasi militer perang kota di Marawi pekan ketiga Mei 2017. Kota ini dihujani peluru tajam selama 5 bulan. Termasuk bombardir dari pesawat tempur. Dukungan logistik dan amunisi dari laut, salah satunya dengan kapal perang LPD Angkatan Laut Filipina yang baru selesai dibangun di PT PAL Indonesia. Akhirnya petinggi Abu Sayyaf Hapilon dan Maute tewas pertengahan Oktober 2017. Operasi militer selesai, pasukan Filipina disambut hangat publik di Manila. Filipina bilang kinerja kapal perang LPD buatan Indonesia memuaskan. Battle proven neh.

Di Papua sudah lama ada pasukan pemberontak bersenjata. Pemerintah Indonesia selama ini menerapkan pola defensif teritorial berbaju Kamdagri (keamanan dalam negeri) untuk mengatasinya. Penyebutan pasukan separatis OPM di Papua dengan sebutan KKB alias kelompok kriminal bersenjata. Pasukan Brimob berada di garda terdepan dengan pasukan TNI berstatus bawah kendali operasi (BKO). Dengan pola defensif seperti ini ada kesan pembiaran terhadap sepak terjang OPM. Sudah puluhan korban gugur dari prajurit TNI dan Brimob. Mulai dari jendral bintang satu sampai prajurit dua. Termasuk teror, pembunuhan, pemerkosaan, dan pembantaian rakyat Papua yang dilakukan pasukan.pemberontak bersenjata OPM.

Akhirnya momen yang ditunggu tiba. Panglima TNI Jendral TNI Agus Subiyanto bertepatan dengan Idul Fitri tanggal 10 April 2024 mengumumkan perubahan nomenklatur KKB menjadi OPM. Reaksi besar tumpah ruah. Hampir seluruh netizen tanah air menyambut antusias dan mendukung penuh. Rasa gemas, dongkol, gondok dan marah yang selama ini dipendam, seperti menemukan saluran kelegaan aspirasi. Selama ini operasi kohesivitas Kamdagri POLRI-TNI di Papua dalam perspektif kita tidak bisa maksimal. Dengan ini tentu perlu merumuskan kembali pola operasinya. Kita berpandangan operasi kohesivitas yang lebih populer disebut BKO bisa beralih menjadi operasi sinergitas TNI-POLRI. Masing-masing melaksanakan tugas sesuai Tupoksinya. POLRI dengan operasi Kamdagri, TNI melaksanakan operasi kombatan berdasarkan hukum humaniter internasional. Karena ada konflik bersenjata  dan berhadapan dengan pasukan pemberontak bersenjata separatis OPM. Ini kan sama persis dengan pemberontakan LTTE dan Abu Sayyaf.

Sebenarnya OPM secara struktural tidaklah satu komando. Ada kelompok bersenjata yang mempunyai struktur komando sendiri. Ada  kelompok propaganda yang bergaya mewakili secara politik di ruang antarbangsa. Ada juga koordinator demo simpatisan. Diantara kelompok ini belum ada korelasi struktural dan  hirarki. Yang ada saling klaim satu sama lain mewakili perjuangan. Bahkan diantara sayap militer OPM yang berbeda wilayah seperti berdiri sendiri, tidak saling menguatkan, apalagi bersinergi. Anatomi organisasi separatis OPM ini militansinya masih dibawah LTTE atau Abu Sayyaf. Nyatanya belum lama diumumkan Panglima TNI soal perubahan nomenklatur, OPM sudah menghiba. Jangan pakai serangan udara, jangan bom kami, jangan ini jangan itu. Lha kombatan kok jadi cengeng begitu.

Sudah saatnya pasukan TNI berada dalam komando penuh Kogabwilhan Tiga. Tidak lagi dalam koridor BKO dengan POLRI. Kombatan pemberontak OPM jelas bertujuan separatis. Pemberontak bersenjata harus ditumpas habis dengan operasi militer. Jangan beri ruang untuk menyusun kekuatan termasuk berteriak minta tolong ke dunia internasional. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia saat ini sangat vital terkait peta potensi konflik di Indo Pasifik dan Laut China Selatan. Selama berpuluh tahun Australia, Inggris dan AS  selalu mencampuri dan mendikte urusan Papua.

Belakangan ini mereka yang tergabung dengan Pakta AUKUS sudah berkonsentrasi penuh menghadapi tembok China. Dalam konteks ini Indonesia punya posisi tawar yang kuat karena wilayah kita memegang posisi kunci dalam manajemen konflik, zona konflik termasuk suplai logistik militer AUKUS. Dalam pandangan AUKUS Indonesia adalah mitra strategis. Pada sisi yang lain kita juga membangun kerjasama ekonomi dengan China. Prabowo baru saja berkunjung ke China atas undangan Xi Jinping. Kartu truf diplomasi bisa kita mainkan jika ada yang ingin mendikte soal Papua.

"Pertempuran" yang lain di teritori proxy war adalah mengembangkuatkan informasi dan opini konstruktif soal Papua dalam publikasi dan diplomasi internasional. Model komunikasi dan interaksinya lainnya menguatkan narasi dan literasi digital di media sosial. Pengulangan narasi dan literasi historis keabsahan Papua sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI perlu disebar luas tak kenal lelah di media-media sosial. Termasuk menyampaikan perkembangan ekonomi kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur di Papua. Juga soal korupsi yang dilakukan pejabat Papua, sebarkan seluasnya. Jangan kalah gertak. Sebagai contoh beberapa pejabat Papua jika ketahuan korupsi lalu mencoba menggertak pemerintah pusat dengan menjual nama OPM. 

Kita mendukung penuh gebrakan Panglima TNI agar pasukan TNI yang bertugas di medan operasi dapat memaksimalkan tupoksinya sebagai pasukan tempur. Saatnya menunjukkan kinerja ofensif karena dalam kacamata intelijen peta kekuatan OPM sudah terang benderang. Dengan memakai teknologi UAV / UCAV misalnya akan lebih memudahkan memberangus OPM. Dalam konflik bersenjata dengan pasukan pemberontak berlaku hukum humaniter internasional. Gempuran dengan berbagai jenis alutsista yang dimiliki adalah keniscayaan sebagai negara berdaulat dan bermartabat. Indonesia adalah negara berdaulat dan diakui secara internasional dari Sabang sampai Merauke. Siapapun yang ingin memberontak dan berkeinginan separatis harus ditumpas habis.

****

Jagarin Pane  / 18 April 2024


Thursday, April 4, 2024

Makna Kunjungan Prabowo Ke China

Pakem diplomatik internasional kali ini "agak laen". Biasanya Presiden yang baru dilantik memulai kunjungan keluar negeri, ke negara sahabat terdekatnya. Namun China membuat surprise diplomatik "agak laen" dengan mengundang Prabowo Subianto ke Beijing tanggal 31 Maret sampai 2 April 2024 dalam kapasitas sebagai presiden terpilih. Walaupun legalitasnya masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Belakangan Kemenhan mengklarifikasi bahwa kunjungan Prabowo dalam kapasitas sebagai Menhan.

Perhatian Beijing kepada next leader Indonesia ini menjadi tontonan diplomatik dunia. Sekaligus sebuah inisiasi kecerdasan diplomatik Xi Jinping untuk "mengambil hati" pemimpin Indonesia lima tahun ke depan. Negara Pakta AUKUS "satu perguruan dan satu nasab" Australia, Inggris dan AS yang menjadi seteru China tak luput pasang mata dan telinga intelijen. Serta sedikit kasak kusuklah membaca "arah angin" Indonesia. Maklum karena posisi geopolitik negeri kita di Laut China Selatan (LCS)sangat strategis menurut AUKUS. Jadi AUKUS harus memonitor, mengontrol dan merangkul Indonesia. Bisa aja Pakde Kus.

Kita semua tahu Prabowo adalah figur yang tegas untuk urusan marwah negeri. Potensi konflik di Indo Pasifik khususnya di LCS menguatkan adrenalin militer jendral pasukan tempur ini. Siapa pemicu huru hara "nine dash line" semua warga bumi yang bernama manusia sudah paham banget. Regulasi UNCLOS ditabrak, code of conduct diabaikan, nota protes dilecehkan. Bahkan fakta yang terjadi di lapangan adalah China membangun pangkalan militer di sejumlah Atol Spratly dan Paracel. Kemudian mengerahkan kapal penjaga pantai (coast guard) termasuk kapal nelayan milisi. Dan berkali-kali melakukan show of force armada kapal perang.

Dengan dinamika kawasan seperti ini, tensi meninggi dan intimidasi berkepanjangan, sebagai Menhan, Prabowo melihat ancaman militer secara jelas dan terbuka now and next. Oleh sebab itu Indonesia harus mempercepat perkuatan militer di tiga matra. Termasuk memperkuat armada paramiliter BAKAMLA. Perkuatan militer Indonesia yang dilakukan secara extra ordinary selama 3 tahun terakhir, menunjukkan keseriusan pemerintah. Presiden Jokowi pernah bilang untuk urusan pertahanan kita serahkan sepenuhnya kepada Menhan Prabowo.

Perkuatan alutsista TNI saat ini sesungguhnya merupakan show of force juga. Bagian dari model diplomasi militer Indonesia bernada satire "anda sopan kami segan, anda arogan kami angkat the gun". Prabowo serius soal ini. Meski tak ada kaitannya, kunjungan Menhan ke Beijing bersamaan pula dengan sign kontrak efektif alutsista strategis TNI AL, yaitu 2 kapal perang PPA dari Italia dan 2 kapal selam Scorpene Evolved dari Perancis. Sebuah pertunjukan dari kampanye militer Indonesia kepada pencetus klaim sepihak LCS.

Persiapan Indonesia mengantisipasi palagan LCS dapat dilihat dari ketersediaan anggaran belanja alutsista yang disetujui. Besaran nominalnya US$ 25 Milyar untuk periode 2020-2024. Ini adalah belanja alutsista terbesar setelah era Dwikora. Realisasinya bisa kita lihat dengan beragam transaksi alutsista. Antara lain 42 jet tempur Rafale, 2 kapal perang heavy fregate merah putih, 2 kapal perang PPA, 2 kapal selam Scorpene Evolved, 20 radar GCI, software network centric warfare, satelit intelijen, 2 pesawat A400M, 2 pesawat tanker, 12 UCAV Anka, 14 UAV Scan Eagle, 6 kapal cepat rudal, 4 kapal OPV, 2 kapal intelijen bawah air, 1 kapal  submarine rescue, 22 helikopter blackhawk, 8 helikopter Cougar, 9 helikopter Bell 412, 6 pesawat CN 235, 9 pesawat NC212, 18 tank Harimau dan lain-lain. Termasuk upgrade 41 KRI eksisting.

Ke depan akan semakin banyak alutsista yang menjadi aset TNI. Baru lima belas tahun terakhir ini pemerintah membuat rencana strategis pertahanan untuk perkuatan alutsista TNI. Dari program renstra ini ternyata banyak sekali alutsista yang harus dipenuhi untuk mengisi inventori aset di kesatrian dan pangkalan militer TNI. Padahal hanya untuk mencapai kriteria minimum essential force (MEF). Bisa kita bayangkan betapa tertinggalnya kita selama ini dalam pemenuhan kebutuhan gizi alutsista pertahanan.

Dalam perspektif kita makna kunjungan Prabowo ke China membawa bargaining position yang kuat untuk Indonesia. China tentu melihat sosok Jenderal Prabowo yang tegas dengan latar belakang militer. Termasuk mencermati pertumbuhan kekuatan ekonomi dan pertahanan Indonesia yang terus melaju. Xi Jinping menginginkan perkuatan hubungan ekonomi skala luas dengan mengambil contoh kereta cepat China-Indonesia. Termasuk kerjasama bidang pertahanan. Nah, kalau untuk kerjasama ekonomi kita terbuka kepada semua negara. Namun untuk kerjasama pertahanan kita mesti selektif. Dan harus cerdas mendeteksi serta menganalisis bahasa diplomatik bermanis muka. 

****

Jagarin Pane / 04 April 2024


Sunday, March 31, 2024

Kado Ramadhan 20 Trilyun

Fincantieri Italia mengabarkan untuk dunia Kamis 28 Maret 2024. Isinya, Indonesia resmi mengakuisisi 2 kapal perang jenis PPA (Pattugliatore Polivante d'Altura) dari Italia. Sebuah langkah cepat dan cerdas dari sebuah negeri kepulauan yang sedang bergiat kuat meningkatkan postur pertahanannya. Kapal perang offshore patrol vessel (OPV) ini sesungguhnya memiliki kemampuan tempur setara heavy fregate. Berbagai jenis infrastruktur tempur canggih bisa diinstal  didalam tubuhnya yang gede, panjang dan menjulang. Harga beli untuk 2 unit PPA ini senilai 1.18 milyar Euro atau setara dengan 20 trilyun rupiah. Kado Ramadhan untuk Angkatan Laut Indonesia.

Pada saat yang bersamaan, Indonesia melalui PT (Persero) PAL saat ini sedang membangun 2 kapal perang heavy fregate merah putih. Sebuah lompatan teknologi untuk BUMN industri pertahanan strategis kita. Dengan adanya kontrak efektif 2 kapal perang PPA "Paolo Thaon di Revel Class" dari Italia ini maka paralelisasi untuk percepatan ketersediaan kapal perang TNI AL terlihat jelas. PPA akan hadir duluan akhir tahun 2025 menyusul fregat merah putih akhir tahun berikutnya. Mengapa PaoloThaon di Revel hadir duluan, karena kita membeli kapal perang baru yang baru saja keluar dari galangan kapal Fincantieri Italia.

Awalnya Indonesia bergegas untuk pengadaan 6 unit kapal perang heavy fregate Fremm Class dari Fincantieri Italia. Sementara proses sedang berjalan. Fincantieri ternyata sudah dan sedang membangun 7 unit kapal perang PPA untuk AL Italia. Kapal perang besar dengan panjang 143 meter dan berat 4900 ton ini meski berstatus OPV namun teknologi infrastruktur tempurnya komplit dan canggih. Setara dengan heavy fregate. Sementara AL Indonesia saat ini sedang membutuhkan segera kapal perang ukuran besar lengkap dengan combat management system 4 dimensi.

Italia membuka pintu untuk memberikan 2 unit kapal perang multi fungsi PPA pesanan angkatan lautnya. 2 kapal ini  baru selesai dibangun tapi belum diserahkan ke AL Italia. Menhan Italia Matteo Perego mengatakan, Indonesia saat ini butuh kapal perang besar dengan rapid acqusition atau pengadaan cepat saji karena ketegangan dengan China di Laut China Selatan (LCS) semakin menguat. Italia akan memesan kembali 2 unit PPA sebagai kapal perang pengganti yang dialihkan untuk Indonesia. Ini adalah sebuah model pengadaan kapal perang dengan improvisasi yang cerdas dan cepat.

Agresivitas China semakin menguat di LCS. Beberapa insiden dengan Filipina mempertegas arah konflik yang semakin liar. Meriam air yang ditembakkan dari kapal China Coast Guard (CCG) ke kapal suplay logistik Filipina di ZEE Second Thomas Shoal dan Ayungin Shoal Filipina beberapa waktu lalu sudah masuk tahap brutal. Filipina melawan meski kalah kuat. Presiden Filipina bertekad tidak mundur sejengkal pun dari teritori sah mereka. Keganasan CCG akhir-akhir ini bisa jadi memancing konflik lebih luas di seluruh kawasan LCS, termasuk ZEE Natuna. Indonesia harus cepat mengantisipasinya. Hanya kapal perang sekelas heavy fregate yang diniscayakan punya wibawa dan taring untuk menghadapi China.

Sementara itu  ada kabar baik dari Jepang. Negeri sakura itu akan menghibahkan kapal coast guard modern ukuran besar untuk BAKAMLA Indonesia. Kapal ini bukan kapal bekas melainkan kapal baru dan pembuatannys selesai 2 tahun lagi. Tokyo tidak hanya menghibahkan kapalnya tapi juga teknologinya. Ini sebuah bentuk kepedulian "saudara tua" untuk Indonesia yang memiliki perairan ZEE terbesar ketiga di dunia. Nilai hibahnya mencapai 945 milyar. Alhamdulillah kado Ramadhan berikutnya untuk BAKAMLA. Mungkin saja ini bagian dari lobby untuk memuluskan proses pengadaan kapal perang heavy fregate " Mogami Class" made in Jepang untuk Indonesia. Namanya juga usaha, sah-sah saja kan. 

Kementerian Pertahanan saat ini juga sedang menyelesaikan proses pengadaan 2 kapal selam serbu. Harapan kita dalam waktu dekat sudah mencapai finalisasi dengan kontrak efektif. Penguatan armada bawah air ini menjadi prioritas. Karena kemampuan armada kapal selam kita yang memiliki 4 kapal selam saat ini belum memadai. Jika batch 2 Nagapasa Class bisa berlanjut dengan membangun 3 kapal selam di PT PAL bekerjasama dengan Korsel maka paralelisasi pengadaan kapal selam juga bisa terlaksana. Setidaknya tahun 2030 kita sudah memiliki 9 kapal selam.

Menuju cita-cita Indonesia Emas dengan kekuatan ekonomi 8 besar dunia tentu sangat membanggakan. Upaya untuk pencapaian ini tentu harus "didampingi" dengan kekuatan militer yang disegani. Termasuk memiliki industri pertahanan tiga matra yang berkualitas. Maka program penguatan postur militer Indonesia mutlak diperlukan dan extra ordinary. Rintangan jalan menuju Indonesia Emas ada dihadapan. Konflik LCS dan dinamika kawasan Indo Pasifik serta perubahan iklim adalah fakta di lapangan. Potensi perang terbuka di tiga hotspot Panmunjom, Selat Taiwan dan LCS berpeluang besar.

Membangun kekuatan militer adalah antisipasi dini sebagai tameng eksistensi negeri. Kita tidak ingin ada pelecehan terhadap teritori negeri ini. Maka kita siapkan alat pukul strategisnya yang berkualitas gahar dengan kuantitas mencukupi. Heavy fregate,  kapal selam, Rafale, F15, peluru kendali, radar, UAV dan UCAV sedang kita persiapkan. Termasuk manajemen pertempuran modern interoperability, network centric warfare. Jangan heran jika waktu-waktu mendatang akan banyak transaksi alutsista bernilai emas untuk menjaga dan menuju Indonesia Emas. Pesannya cuma satu kok, kalau untuk urusan teritori tidak ada tawar menawar. Anda jual kami beli.

****

Jagarin Pane / 31 Maret 2024

Thursday, February 29, 2024

Belok Kiri Berhenti, Lurus Jalan Terus

Indonesia memastikan "harga" negosiasi untuk kelanjutan 2 proyek strategis kerja sama teknologi tinggi alutsista gahar dengan Korsel. Bahasa kiasannya adalah: belok kiri berhenti, lurus jalan terus. Jika negosiasi yang sudah berlangsung lama tetap alot ya belok kiri dulu untuk rehat di rest area. Jika sepakat untuk lurus win-win solution ya jalan terus. Kedua proyek bergengsi dan strategis itu adalah  kerjasama pengembangan jet tempur gen 4,5 semi stealth KFX / IFX dan lanjutan kerjasama pembangunan 3 kapal selam jilid 2 Nagapasa Class.

Untuk program pengembangan jet tempur KFX/IFX start awalnya sudah dimulai sejak masa pemerintahan SBY periode kedua. Cost sharing pendanaannya dibagi tiga pihak. Pemerintah Korsel 60%, KAI (Korea Aerospace Industries) 20% dan Indonesia 20%. Dari kontribusi 20% ini Indonesia menanggung cost sharing US$ 1,5 Milyar, mengirimkan 100 orang insinyur ke Korsel, mendapat 1 prototype IFX dan mendapat jatah produksi 48 jet tempur IFX. Sementara Korsel sendiri akan memproduksi 120 jet tempur KFX. Sesuai perjanjian, produksi massal akan dimulai tahun 2026. Keseluruhan proyek ini bernilai  US$ 7,9 Milyar, dan iuran masing-masing pihak dimulai Januari tahun 2016 sesuai Cost Sharing Agreement.

Baru setahun berjalan, tahun 2017 Indonesia menunda iuran oleh sebab-sebab teknis di lapangan. Tenaga ahli Indonesia mengalami keterbatasan memasuki akses teknologi sensitif. Dalam perjanjian ini PT DI mendapat akses desain, pengembangan prototype, komponen manufaktur, testing dan sertifikasi. Masalahnya adalah jeroan teknologi tinggi jet tempur ini ada yang made in Yues'e. Korsel dan AS punya perjanjian lisensi teknologi, sedangkan Indonesia tidak punya. Korsel kan sekutu AS, sedangkan kita sahabat AS "setingkat dibawah sekutu". Begitu cara pandang Paman Sam.

Presiden Jokowi berkunjung ke Washington DC 13-14 Nopember 2023 dan menandatangani perjanjian diplomatik terbaik sepanjang sejarah. Yaitu kemitraan strategis skala luas dengan Presiden AS Joe Biden. Momen ini sebenarnya bisa menjadi forum negosiasi diplomasi tingkat tinggi. Agar Indonesia bisa mendapat lisensi teknologi tempur sensitif untuk jet tempur KFX/IFX. Apalagi Indonesia dan AS saat ini sedang dalam tahap perundingan pengadaan jet tempur twin engine F15 Id. Termasuk peran penting geopolitik dan geostrategis Indonesia di Laut China Selatan. AS membutuhkan mitra strategis Indonesia di kawasan ini.

Beberapa tahun kemudian Indonesia melanjutkan pembayaran cost sharing KFX/IFX meski belum seluruh tunggakan dilunasi. Namun persoalan keterbatasan akses para Insinyur Indonesia dan belum adanya lisensi teknologi tinggi sensitif dari AS menjadi kendala pencapaian sampai saat ini. Kabar baiknya adalah Menlu Retno dan Menlu Korsel disela-sela pertemuan Menlu G20 di Rio de Jeneiro Brazil 21 Februari 2024 yang lalu sepakat untuk melanjutkan kerjasama ini. Kerjasama teknologi ini dalam tataran diplomatik kedua negara adalah penguat hubungan multi dimensi.

Serial lanjutan kerjasama teknologi kapal selam jilid 2 Nagapasa Class nyatanya harus rehat dulu di rest area "ketidaksesuaian" selama 4 tahun sejak tahun 2019. Seperti diketahui proyek prestisius pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 1 sudah rampung. Namun tiga kapal selam  produk transfer teknologi ini, masing-masing KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405 tidak menunjukkan kinerja optimal sebagai kapal selam tempur. Indonesia sudah berpengalaman mengoperasikan kapal selam sejak tahun 1959 dengan memiliki 12 kapal selam Whiskey Class buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia) dan 2 Cakra Class buatan Jerman.

Awak Hiu Kencana tahu persis dengan anatomi kapal selam. Diantara ketiga kapal selam itu hanya KRI Alugoro 405 yang dibuat di PT PAL Surabaya yang menunjukkan performansi lumayan. Bagaimana mau meneruskan pembangunan kapal selam ke 4,5,6 jika yang 1,2,3 kinerjanya kurang optimal. Jadi ini yang harus diluruskan lebih dulu. Sesuai permintaan Menhan Prabowo sebagaimana disampaikan Dirut PT PAL Kaharudin Jenod beberapa waktu lalu. Tentu setelah menerima beberapa  keluhan operasional dari awak Hiu Kencana. Musibah KRI Nanggala 402 produk Jerman yang di upgrade di Korsel  menjadi benchmark utama dalam kinerja operasional Hiu Kencana.

Dalam pandangan kita kedua proyek prestisius dan strategis ini adalah gerbang untuk mencapai perolehan teknologi tinggi alutsista. Dalam bingkai yang lebih besar perolehan teknologi IFX dan Nagapasa diniscayakan sebagai bagian untuk menguatkan prestasi Indonesia Emas. Negosiasi adalah bagian dari dinamika perjanjian agar semuanya bisa berjalan secara proporsional dan profesional. Nagapasa Class batch 2 semoga bisa berlanjut dan pembangunannya bisa dilaksanakan di galangan kapal selam PT PAL. Soal pengadaan kapal selam herder merek lain bisa paralel, karena kita baru punya 4 kapal selam. Nagapasa Class adalah lanjutan transfer teknologi. Kapal selam herder adalah kebutuhan. Semuanya untuk memenuhi target 12 kapal selam, standar minimal untuk menjaga perairan bawah laut negeri yang luas ini.

****

Jagarin Pane

Semarang, 29 Februari 2024


Sunday, February 18, 2024

Peta Jalan Semakin Terbentang

Teritori politik domestik negeri hari-hari ini sedang sibuk dengan dinamika perhitungan hasil Pemilu 14 Februari 2024. Tanpa bermaksud cawe-cawe dalam hingar bingar politik, kepemimpinan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto selama hampir lima tahun ini mampu meletakkan road map percepatan penguatan alutsista. Sekaligus mengembangkan sinergitas pertahanan dengan industri pertahanan. Termasuk menempatkan figur profesional untuk menjadi Leader di BUMN industri pertahanan. Sebagai contoh PT PAL saat ini dibawah kepemimpinan Kaharuddin Jenod tampil sebagai industri pertahanan maritim plat abang yang mulai mendunia. Siapa itu Kaharuddin Jenod silakan tanya Oppung Gugel.

Industri pertahanan Indonesia matra laut semakin memperlihatkan prestasi dalam kontestasi penyediaan kebutuhan alutsista TNI. Kombinasi antara industri pertahanan berlogo BUMN dan swasta nasional saling menguatkan dalam kerja extra ordinary untuk memenuhi target Kementerian Pertahanan. Seperti dalam pengerjaan modernisasi 41 KRI eksisting, PT PAL sebagai lead integrator mendistribusikan pekerjaan kepada 8 galangan kapal swasta nasional. Saat ini pekerjaan telah rampung 50% dan akhir tahun ini diperkirakan selesai. Upgrade 41 KRI meliputi instalasi peluru kendali anti kapal permukaan, combat management system, repowering mesin dan sistem informasi komunikasi terpadu.

Jam terbang beberapa galangan kapal swasta nasional sudah teruji dalam pengadaan kapal perang berbagai jenis yang dibutuhkan TNI AL. Misalnya pembuatan 8 kapal cepat rudal little but lethal "Clurit Class", 12 kapal jenis landing ship tank "Bintuni Class", 14 kapal patroli cepat. Termasuk kapal perang trimaran KRI Golok 688 yang fenomenal itu. Dan puluhan kapal patroli berlabel KAL. Saat ini sedang berproses pembangunan 3 kapal perang jenis korvet, 1 kapal perang intelijen bawah air, 2 kapal patroli cepat. Semuanya dikerjakan galangan kapal swasta nasional. 

PT PAL sendiri saat ini sedang menggarap proyek kapal perang prestisius baik untuk keperluan domestik maupun ekspor. Ada pembangunan 2 heavy fregate merah putih untuk TNI AL, ada 2 LPD untuk angkatan laut Filipina, ada 1 LPD untuk angkatan laut Uni Emirat Arab. BUMN matra laut ini sukses membangun 6 kapal LPD, 6 kapal cepat rudal "Sampari Class", 2 korvet "Martadinata Class", 1 kapal selam "Nagapasa Class". Sementara itu  di matra darat PT Pindad saat ini sedang menyelesaikan pesanan tank Harimau untuk TNI AD,  terus memproduksi panser Anoa dengan versi terkini. Juga panser kanon Badak dan lain-lain. Di matra udara PT DI sedang mengerjakan 6 pesawat NC 212 untuk Filipina, baru saja menyerahkan 5 unit NC212 untuk TNI AU dan memenuhi pesanan CN 235 untuk tiga matra TNI. Pesanan puluhan helikopter berbagai jenis telah diserahkan ke user TNI AU dan TNI AD.

Figur Prabowo di Kementerian Pertahanan seperti membangunkan kesadaran inspiratif kita. Bahwa penguatan manajemen pertahanan dengan dukungan industri pertahanan adalah sinergitas total. Dan harus cepat. Ketegasan kepemimpinan dan kecepatan proses memang diperlukan karena Indonesia saat ini sedang menghadapi potensi konflik skala besar. Strategi membeli waktu harus mendapat pengawalan dengan manajemen extra ordinary. Waktu yang tersedia tidak lagi berbilang dekade, hanya bilangan tahun. Maka strategi membeli waktu adalah membuat peta jalan percepatan extra ordinary.

Kita berpacu dengan waktu dan kita harus mempunyai kekuatan militer yang berbanding lurus dengan luas teritori kita.  Untuk lima tahun kedepan TNI AL minimal harus mendapat tambahan 6 kapal perang heavy fregate, 5 kapal selam, seratusan tank / panser amfibi, ratusan coastal missile. TNI AU dengan penambahan 42 jet tempur Rafale, masih harus diperkuat dengan minimal 18 jet tempur F15, 36 jet tempur IFX hasil kerjasama teknologi dengan Korsel. Juga penambahan pesawat angkut berat Super Hercules untuk kekuatan 3 skadron. Alutsista lain yang sudah dipesan adalah 24 helikopter Blackhawk untuk TNI AD, 2 pesawat Airbus A400M dan 2 pesawat A330 MRTT untuk TNI AU.

Peta jalan ke depan semakin terbentang. Dan terang benderang. Setidaknya keberlanjutan program extra ordinary penguatan postur TNI akan semakin berjaya. Termasuk menguatkan industri pertahanan strategis sebagai suplier utama pemasok logistik alutsista TNI.  Saat ini kita sedang membangun infrastruktur hardware dan software  network centric warfare, membeli satelit deteksi cakupan luas Blacksky, dan membangunbesarkan kekuatan radar GCI. Selain itu mengembangkan banyak skadron UAV di tiga matra TNI, menambah 5 skadron tempur TNI AU, menguatkan skadron intai strategis dengan pesawat AEW peringatan dini dan mengembangkan skadron helikopter Penerbad.

Sepantasnya Indonesia memiliki kekuatan pertahanan yang sebanding dengan luas wilayahnya. Menuju ke arah pencapaian itu tidak pula dengan jalan santai dan biasa-biasa saja. Karena ancaman sudah nyata. Kita harus berlari cepat untuk mencukupi aset investasi pertahanan yang diperlukan. Tiga tahun terakhir ini sebenarnya kita baru berlari dengan komando tegas. Karena dua tahun sebelumnya wabah Covid mengharubirukan negeri. Semua program pemerintah fokus untuk mengendalikan pandemi. Tiga tahun ini  Kementerian Pertahanan bergegas untuk menguatkan benteng teritori. Sat set sat set bunyi perintahnya sembari membentangkan road map modifikasi minimum essential force. Peta jalan pun semakin terbentang. Keterpilihan Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024 mencerahkan horizon extra ordinary penguatan militer Indonesia. Kita menyambut gembira.

****

Jagarin Pane

Jakarta, 18 Februari 2024


Saturday, January 27, 2024

PAL On Going Project

Industri pertahanan terkemuka PT PAL Indonesia sepanjang Selasa pekan ini memamerkan unjuk kinerja program strategis Kementerian Pertahanan. Kunjungan Menteri Pertahanan ke PT PAL Indonesia di Surabaya memberikan testimoni dan gambaran kepada khalayak tentang berbagai proyek strategis angkatan laut yang dipercayakan kepada industri pertahanan strategis ini. Semuanya on going project.

Sajian informasi yang dipergelarkan memperlihatkan berbagai aktivitas PT PAL Indonesia yang saat ini telah dan sedang merekrut banyak tenaga kerja dan ahli perkapalan Indonesia. Sama halnya dengan Dirut PT PAL yang dipercayakan kepada seorang Kaharuddin Djenod. Dia adalah seorang ahli rancang bangun perkapalan yang sudah bekerja mapan dan diakui di Jepang. Kemudian dipanggil pulang Erick Thohir untuk menakhodai PT PAL Indonesia mulai April 2021. Penempatan Djenod di posisinya saat ini adalah keputusan yang sangat cerdas. The right man on the right place, menempatkan sosok profesional pada keahliannya menghasilkan produktivitas dan kinerja yang cemerlang.

PT PAL saat ini sedang mengerjakan proyek prestisius, yaitu membangun 2 kapal perang terbesar untuk TNI AL. Kapal perang striking force heavy fregate Merah Putih berbobot 5996 ton dengan panjang 140 meter ini akan menjadi uji kemampuan, kecakapan dan teknologi PT PAL paling akbar. Sejauh ini galangan kapal BUMN ini sudah terbukti mampu membangun berbagai jenis kapal perang untuk TNI AL. Seperti kapal patroli cepat, kapal cepat rudal, landing platform dock, kapal tanker logistik, kapal rumah sakit, korvet 10514 Martadinata Class. Termasuk kerjasama pembuatan 3 kapal selam Nagapasa Class dengan Korsel. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.

Pada saat yang bersamaan PT PAL baru saja memulai pekerjaan pembangunan 2 kapal perang landing platform dock (LPD) pesanan kedua untuk angkatan laut Filipina. Dalam istilah perkapalan memulai pekerjaan lunas kapal disebut keel laying. Seperti kita ketahui beberapa tahun yang lalu jiran utara yang baik hati ini memesan 2 kapal LPD produksi PT PAL. Kedua kapal perang  sudah diserahkan dan ternyata sangat membantu dalam pertempuran di Marawi Filipina Selatan yang terkenal heroik itu. Terutama dalam deploy pasukan, tank dan logistik tentara Filipina. Jadi battle proven neh. 

Manila merasa puas dengan kinerja 2 kapal perang pesanan pertama Tarlac Class. Kemudian memesan 2 unit lagi ke PT PAL. Artinya kita sudah mampu mengekspor kapal perang.  Uni Emirat Arab juga sudah sign kontrak efektif pengadaan 1 unit LPD dengan PT PAL. Namanya juga negara sultan, spek yang diinginkan pasti memakai kriteria sultan. Berita ekspor kapal perang ini bergaung luas di media internasional. Sebuah iklan gratis yang menguatkan posisi industri pertahanan Indonesia.

Proyek strategis yang lain adalah memodernisasi 41 KRI eksisting. Anggaran yang disediakan US$ 900 juta. PT PAL sebagai lead integrator, tidak bekerja sendirian. Ada beberapa galangan kapal swasta nasional yang mendapat kepercayaan untuk proyek ini. Bagian penting dari refurbishment 41 KRI adalah memasang infrastruktur tempur dengan peluru kendali surface to surface. Pilihannya adalah memakai rudal Atmaca buatan Turkiye dengan jarak tembak 220 km. KRI yang mendapatkan instalasi perkuatan peluru kendali ini adalah Parchim Class (12 KRI), Fatahillah Class (3 KRI), FPB (10 KRI). Informasi soal rudal ini yang kemudian menjadi topik pembicaraan kalangan forum militer tanah air. Dari pabrikannya di Turkiye ada kabar bahwa Indonesia sudah memesan 45 rudal Atmaca. Diam-diam jalan terus rupanya.

Parchim Class seperti kita ketahui adalah korvet anti kapal selam. Korvet ini dibeli bekas dan borongan dari inventori angkatan laut Jerman Timur tahun 1993. Pemasangan rudal Atmaca tentu semakin menggagahkan posturnya yang sering wira wiri patroli di perairan Natuna. Demikian juga dengan korvet Fatahillah Class yang sebelumnya punya rudal Exocet Blok 2 yang sudah expired. Instalasi rudal Atmaca akan mengembalikan marwahnya sebagai KRI pemukul dengan kekuatan peluru kendali. Selain instal rudal, program upgrade KRI eksisting meliputi repowering, pembaharuan teknologi tempur, sistem navigasi dan komunikasi, combat management system. Basis semuanya adalah Network Centric Warfare.

Untuk Martadinata class (2 KRI), Bung Tomo Class (3 KRI) dan Diponegoro Class (4 KRI) saat ini sudah memiliki infrastruktur tempur dengan rudal Exocet Blok 3. Sementara 8 kapal cepat rudal Clurit Class 40 meter buatan galangan kapal swasta nasional sudah mempunyai rudal C705 buatan China. 6 kapal cepat rudal 60 meter buatan PT PAL beberapa diantaranya sudah dipasang rudal. Upgradenya untuk sistem navigasi dan komunikasi. Selain program strategis diatas sebenarnya ada beberapa program PT PAL Indonesia  sudah "siap tayang". Misalnya membangun kapal LHD (kapal induk helikopter) dan kapal selam mini tanpa awak. Sementara ini tahan diri dulu untuk menyelesaikan on going project, termasuk melanjutkan program Nagapasa Class jilid dua.

Pencapaian prestasi monumental PT PAL Indonesia saat ini dalam perspektif kita merupakan keberhasilan based on manajemen profesional. Tentu dengan dukungan penuh Kementerian Pertahanan. Sangat wajar kita mengapresiasinya karena BUMN ini mampu menguatkan dan menunjukkan sinergitas internal dan koordinasi eksternal.Termasuk mengelola pergulatan kepentingan antar pihak yang memang selalu ada dalam bisnis korporasi. Menjadi lead integrator bersama 9 galangan kapal swasta lainnya untuk upgrade 41 KRI tentu banyak pergulatan manajemen didalamnya. Harapan besar kita semoga semua program strategis ini dapat diselesaikan sesuai target waktu. Semuanya untuk menguatkan Jalesveva Jayamahe.

****

Jagarin Pane / 26 Januari 2024


Thursday, January 4, 2024

Blunder Cawapres Satu

Sekarang tidak ada perang, untuk apa beli alat perang. Begitu pernyataan Cawapres Satu di Soreang Bandung Rabu 3 Januari 2024 dalam acara Temu Gus dengan para petani. Pernyataan beli alat perang dengan utang padahal tidak ada perang, lebih baik beli alat pertanian dengan utang, adalah pernyataan blunder. Pernyataan ini kemudian dibantah pada hari yang sama oleh Nurul Arifin anggota Komisi 1 DPR dengan menyebut filosofi Si Vis Pacem Parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dengan melihat kondisi geopolitik kawasan saat ini yang sedang memanas, mau tidak mau Indonesia harus menguatkan investasi pertahanan.

Kita tidak ingin masuk wilayah politik meskipun pernyataan Cawapres Satu terkait politik Pilpres untuk mengambil hati simpati pemilih. Namun jangan sampai kemudian khalayak salah persepsi perihal perkuatan alutsista TNI yang sedang berlangsung saat ini berdasarkan framing dan penggiringan opini. Semua harus berdasarkan fakta historis dan fakta terkini. Maka perlu kita jelaskan secara rinci berdasarkan fakta on the spot, fakta di lapangan.

Awal era reformasi kondisi alutsista kita sangat memprihatinkan bersamaan dengan gejolak GAM, ricuh di beberapa daerah dan embargo alutsista oleh AS dan sekutunya. Ketika gejolak GAM menghebat di Aceh tahun 2000-2004, TNI dengan segala keterbatasannya menggunakan jet tempur Hawk untuk mengebom, dan tank Scorpion untuk menggempur GAM. Tiba-tiba Inggris bereaksi keras agar Hawk dan Scorpion buatan dia tidak boleh digunakan di Aceh. Inggris ini sudah dua kali memperlihatkan arogansinya soal alutsista kepada Indonesia. 

Sebelumnya di era tahun 1990an ketika Indonesia membeli 40 jet tempur Hawk dari Inggris. Pada pengiriman gelombang terakhir secara ferry, 4 Hawk yang diterbangkan pilot Inggris ditinggalkan begitu saja di Bangkok Thailand. Alasannya keputusan London menghukum Jakarta karena peristiwa Santa Cruz di Dilli Timor Timur tahun 1991 yang menewaskan ratusan orang. Akhirnya pilot TNI AU yang menerbangkan pesawat Hawk itu sampai Soewondo AFB (Polonia) di Medan setelah berkoordinasi dengan otoritas Thailand.

Embargo AS karena kasus Santa Cruz menyebabkan 10 jet tempur F16 TNI AU kekurangan suku cadang. Hanya 2 unit yang ready for use dengan memanfaatkan suku cadang kanibal. Pada saat yang bersamaan tahun 2002-2007 konflik Ambalat dengan Malaysia memanas. Sebagai akibat Sipadan Ligitan lepas dari Indonesia karena keputusan Mahkamah Internasional. Suatu ketika 4 pesawat Bronco TNI AU melakukan patroli udara diatas Sipadan Ligitan, Malaysia kemudian mengerahkan 3 jet tempur F5E untuk mengusir Bronco. Jelas kalah kelas, F5E membawa rudal dan kecepatan supersonic dibanding Bronco yang baling-baling dan tak punya rudal. 

Kemudian Juli 2003, 2 jet tempur F16 TNI AU melakukan aksi "bonek" dengan mendatangi rombongan kapal induk AS di Bawean yang sedang menuju Australia. Pasalnya ada manuver 5 jet tempur F18 Super Hornet yang membahayakan penerbangan sipil di Surabaya, Makassar dan Denpasar. Bayangkan 2 jet tempur F16 kita dikeroyok 5 jet tempur Super Hornet AS. Namun mereka akhirnya patuh. Pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius soal insiden Bawean dan embargo alutsista. Presiden Megawati kemudian mengambil langkah cepat dengan membeli 4 jet tempur Sukhoi dari Rusia. Hanya dalam hitungan bulan 4 jet tempur Sukhoi datang dan ikut memeriahkan HUT TNI 5 Oktober 2003.

Presiden SBY pernah mengunjungi menara suar Karang Unarang di Ambalat dengan beberapa KRI Maret 2005. Tiba-tiba pesawat Malaysia datang dan terbang rendah dengan bermanuver mengejek. Dalam tata krama diplomatik peristiwa ini merupakan penghinaan. Betapa arogansinya jiran sebelah manakala kekuatan alutsista kita sedang melemah waktu itu. Kasus Ambalat ini kembali membakar semangat nasionalis patriotik Indonesia. Gema ganyang Malaysia menggema. Sayangnya militer kita waktu itu kalah daya dengan jiran sebelah. Untuk angkatan udara Malaysia punya segerobak jet tempur yaitu 18 Sukhoi, 8 Hornet, 18 Mig 29, 16 F5E. Bandingkan dengan Indonesia kita  yang hanya punya 4 Sukhoi tanpa senjata, 10 jet tempur F16 dan 12 F5E dalam kondisi diembargo.

Dengan pertimbangan analisis intelijen, geostrategis dan geopolitik kawasan, Presiden SBY kemudian membuat program strategis menguatkan militer Indonesia. Program strategis ini dikenal dengan Program MEF TNI (minimum essential force), dimulai tahun 2010. Saat ini kita sudah berada di MEF jilid tiga 2020-2024. Perkuatan alutsista TNI sudah meningkat secara signifikan meski belum sampai pada kekuatan minimal yang dibutuhkan. Secara defacto Indonesia saat ini mengontrol penuh seluruh perairan Ambalat dengan kehadiran patroli 4-5 KRI bergantian bersama pesawat patroli TNI AU.

Dinamika dan provokasi di Laut China Selatan (LCS) selama sepuluh tahun terakhir dengan klaim ten dash line alias "lidah naga" China kembali menyentak kita. Natuna harus kita perkuat. Keputusannya adalah membangun pangkalan militer tiga matra di pulau garis depan itu. Provokasi China di perairan ZEE Natuna semakin menjadi-jadi. Eksploitasi Migas di Blok Natuna Timur Laut diganggu oleh kapal coast guard China dengan back up kapal perangnya.  Bahkan "ditungguin" berminggu-minggu. Indonesia kemudian mengirim kapal Bakamla dan KRI ke lokasi yang sama. Pernah terjadi electronic warfare di tengah laut. Kapal perang kita dari Parchim Class dijamming sehingga melumpuhkan kemampuan deteksi dan komunikasi. Akhirnya pulang ke pangkalan.

Program MEF adalah untuk mencukupi kebutuhan minimal gizi alutsista TNI. Kementerian Pertahanan saat ini sedang bergeliat dengan program extra ordinary. Kita sedang berpacu dengan waktu karena iklim Indo Pasifik sedang menuju konflik skala besar dan paling mematikan. Basis dari semua konflik ini adalah rivalitas antara AS dan China. Bahasa framingnya mengaduk adonan panas yang bernama Selat Taiwan, LCS dan Panmunjom Korea untuk mengajak, merangkul dan memusuhi. Diplomasi militer Indonesia yang tidak bersekutu dengan siapapun adalah dengan membangun kekuatan militer yang sebanding dengan luas wilayah. Ini sejalan dengan pembangunan ekonomi kesejahteraan. Pembangunan ekonomi dan infrastruktur mendapat prioritas terbesar dan utama. Kita bisa melihat hasilnya sejak era Presiden SBY dan Jokowi.

Semuanya seiring sejalan. Ekonomi kesejahteraan bertumbuh, saat ini PDB Indonesia ada di urutan 16 besar dunia, masuk grup elite G20. Rasio Hutang ada di 39% dari PDB, sebuah rasio yang berada di jalur aman. Bandingkan dengan Malaysia yang hampir 80% dari PDBnya. Bahwa pembangunan ekonomi adalah untuk investasi kesejahteraan maka perkuatan militer adalah investasi juga, investasi pertahanan. Investasi ini untuk masa guna jangka panjang 25-30 tahun ke depan. Lebih dari itu investasi pertahanan adalah untuk memastikan jalannya eksistensi dan marwah negara. Kekuatan ekonomi dan militer sebuah negara adalah marwah kedaulatan komprehensif. Dan Kita sedang menuju ke arah itu. Semoga Allah meridhoinya.

****

Jagarin Pane, 4 Januari 2024


Sunday, December 31, 2023

Just Cut Off, Not Stop

Anggaran investasi pertahanan Indonesia untuk memenuhi target minimum essential force (MEF) jilid 3 periode tahun 2020 sampai dengan tahun 2024 akhirnya ditutup. Dengan cut off anggaran multi years sebesar US$ 25,7 Milyar. Angka ini merupakan investasi pertahanan dengan jumlah terbesar sejak era konfrontasi Dwikora tahun enampuluhan, dengan penetapan sumber anggaran dari pinjaman luar negeri. MEF adalah program strategis militer Indonesia yang dimulai tahun 2010. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan minimal alutsista yang diperlukan dalam membangun manajemen pertahanan negeri kepulauan yang luas ini.

Dalam proses sinergitas dan koordinasi antara Bappenas, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan, pengajuan anggaran ini sebenarnya sempat menyentuh nilai US$ 34 milyar untuk percepatan perolehan aset alutsista. Karena memang banyak yang harus dipenuhi untuk memenuhi syarat pre emptive strike dan network centric warfare. Perang Rusia dan Ukraina menjadi benchmark terkini untuk model perang modern. Sementara dinamika potensi konflik di kawasan sudah menguat dengan provokasi dan show of force based on rivalitas. Framing yang didengungkan adalah klaim kepemilikan teritori.

Cut Off anggaran adalah hal yang biasa, karena terkait dengan tahun anggaran. Sebagaimana halnya setiap Laporan Keuangan yang disusun selalu berbasis cut off dan standar akuntansi. Angka 25,7 milyar dolar yang disepakati ini sebenarnya sudah memenuhi kapasitas optimal perjuangan program Kementerian Pertahanan. Toh hanya cut off bukan stop finish. Di periode tahun 2025-2029 akan berlanjut lagi dengan program penguatan alutsista. Jadi setidaknya ambil nafas dulu, dan berkonsentrasi dengan pemenuhan kebutuhan secara bertahap. 

Data dibawah ini menunjukkan program extra ordinary Kemenhan dengan kinerja yang cemerlang. Kerjasama pengadaan alutsista TNI dengan industri pertahanan dalam negeri, dan transfer teknologi dengan industri pertahanan negara lain. Inilah gambaran hasilnya berdasarkan data dari berbagai sumber :

  1 Korvet VVIP KRI Bung Karno 369 dari GSN*

  2 Kapal Offshore Patrol Vessel dari GSN*

  4 Kapal Landing Ship Tank dari GSN*

  6 Kapal Patroli Cepat dari GSN*

  1 Kapal Tanker BCM dari GSN*

  1 KCR Trimaran KRI Golok 688 dari GSN*

  2 Kapal LPD Rumah Sakit dari PT PAL

  3 Kapal Cepat Rudal 60m dari PT PAL

  2 Heavy Fregate Arrowhead 140m PT PAL

  2 Kapal pemburu ranjau dari Jerman

  2 Kapal selam serbu

  2 Kapal PPA dari Italia

  2 Kapal fregate Fremm dari Italia

  1 Kapal submarine rescue dari Inggris

  1 Kapal hydro oceanografi dari GSN*

42 jet tempur Rafale dari Perancis

12 jet tempur Mirage dari Qatar

  6 jet latih tempur T50 dari Korsel

  3 pesawat latih KT-1 Wong Bee dari Korsel

  2 pesawat Falcon 8x dari Perancis

  2 Pesawat MRTT A400M dari Airbus

  2 Pesawat MRTT A330 dari Airbus

  5 Pesawat Super Hercules dari AS

13 Radar GCI Thales dari Inggris

12 Radar pasif Vera Ng dari Ceko

  6 Pesawat amfibi CL515 dari Kanada

  4 Pesawat CN235 MPA dari PT DI

  9 Pesawat NC212 dari PT DI

  2 Satbak Rudal SAM Nasam dari Norwegia

  3 Satbak Rudal SAM MR dari Turki

  3 Satbak Rudal SAM LR dari Turki

  3 Satbak Rudal Khan S to S dari Turki

12 UCAV Anka dari Turki

12 UCAV Bayraktar dari Turki

14 UAV Scan Eagle dari AS

  9 Helikopter Bell 412 Epi dari PT DI

  8 Helikopter EC725 Cougar dari PT DI

24 Helikopter Black Hawk dari AS

  1 Infrastruktur NCW* dari Yunani

18 Tank Harimau dari Pindad

23 Panser Badak dari Pindad

22 Panser Pandur (Cobra) dari Ceko

15 Ranpur Bushmaster dari Australia

50 Ranpur Komodo dari Pindad

50 Panser Anoa 3 dari Pindad

      Program upgrade untuk 41 KRI eksisting

      Program jet tempur KFX/IFX dengan Korsel

Keterangan:

*GSN : Galangan Kapal Swasta Nasional

*NCW: Network Centric Warfare

Kita patut mensyukuri program extra ordinary Kementerian Pertahanan ini dengan dukungan penuh Kementerian Keuangan dan Bappenas. Sementara Cut Off dulu, mampir di Rest Area. Bukan berhenti berinvestasi pertahanan karena masih banyak yang harus dipenuhi. Si vis pacem parabellum, jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.

****

Jagarin Pane, 31 Desember 2023


Friday, December 22, 2023

Menguji Proporsionalitas Potensi Konflik LCS

Vietnam memperlihatkan kecerdasan diplomatiknya dalam menjalankan diplomasi bambu. Hanoi menjalankan percaturan politiknya dengan menjalankan dua langkah kuda berurutan selama tiga bulan terakhir ini. Bulan September 2023 yang lalu Vietnam menyambut kedatangan Presiden AS Joe Biden dengan karpet merah di Hanoi. Tiga bulan berikutnya, 12 Desember 2023, Vietnam menyambut kedatangan sahabat tradisionalnya, tetangga besarnya  Presiden China Xi Jinping. Diplomasi bambu adalah arahan politik luar negeri Vietnam untuk para diplomatnya agar lentur dan fleksibel namun kokoh dalam prinsip menyikapi dinamika geopolitik kawasan.

Sementara itu tanggal 13 Nopember 2023 Presiden Indonesia Joko Widodo mendapat sambutan hangat dari Presiden Joe Biden di White House Washington. Pertemuan ini menghasilkan perjanjian kualitas puncak yaitu kemitraan komprehensif strategis Indonesia-AS. Setingkat dibawah kriteria Sekutu. Ini adalah kunjungan bilateral penting Presiden Indonesia yang sebelumnya mendapat mandat dari negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang baru melaksanakan konferensi darurat di Riyadh Arab Saudi. Amanatnya adalah menyampaikan Resolusi OKI agar AS menekan Israel untuk menghentikan perang brutal di Gaza Strip. Dari Washington Presiden Jokowi terbang ke San Fransisco untuk menghadiri KTT APEC 14-16 Nopember 2023.

Rentang perbatasan teritori darat dan perairan Vietnam dan China adalah yang terluas. Dalam peta geopolitik ASEAN posisi Vietnam berada di garis depan berhadapan dengan teritori daratan China dan klaim China di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut China Selatan (LCS). Negeri Nguyen ini adalah yang paling banyak tensi "naik darahnya" berkonflik dengan China.  Tahun 1974 Vietnam, waktu itu masih bernama Vietnam Selatan terlibat pertempuran laut yang sengit di kepulauan Paracel LCS. China sukses memukul mundur Vietnam. Kemudian Februari tahun 1979 China melakukan invasi 9 hari ke perbatasan utara Vietnam. Invasi China sebagai reaksi kemarahan Paman Mao atas perilaku hegemoni Vietnam terhadap Laos dan Kamboja yang merupakan "anak asuh" China. Terkini, dalam konflik LCS selama 5 tahun terakhir ini diantara negara ASEAN, Vietnam adalah yang paling banyak bervivere pericoloso alias bersitegang dengan China.

Apa yang bisa kita maknai dari unjuk kinerja kualitas diplomatik diatas. Bahwa proporsionalitas potensi konflik di LCS sesungguhnya merupakan peta jalan menuju rasionalitas. Untuk lebih mengumandangkan syair sinergitas kerjasama ekonomi kesejahteraan kawasan. Sementara diplomasi militer, gertakan militer dan yang sebangun dengannya termasuk show of force adalah bagian dari bargaining power diplomasi setiap negara untuk menunjukkan akar dari kekuatan diplomasi bambu. Sekuat apapun angin puting beliung menerjang bambu, akarnya cukup kuat bertahan menghadapi gempuran. Itu sebabnya saat ini Vietnam, Filipina dan Indonesia bergerak cepat membangun kekuatan militernya untuk menghadapi angin puting beliung yang suatu saat bisa saja menghantam LCS.

Skala prioritas potensi konflik Indonesia dengan China sebenarnya lebih rendah kadar tingkatannya dibanding dengan Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunai. Klaim China di LCS yang bersinggungan dengan Indonesia hanya di perairan ZEE Utara Natuna. Sementara ke empat negara ASEAN lainnya "bertarung" dengan China memperebutkan pulau-pulau atol  Spratly dan Paracel di perairan yang kaya sumber daya energi fosil itu. Oleh sebab itu dalam pandangan kita duduk perkara klaim China ini, Indonesia harus menempatkannya pada pada kursi keseimbangan rasionalitas berbaju proporsional. Tidak perlu emosional.

Meskipun demikian menyikapi dinamika demam berkepanjangan di LCS ini sangat wajar dan sangat perlu jika Indonesia bergegas memperkuat otot militer. Antisipasi utama adalah untuk menjaga dan menegakkan kewibawaan teritori negeri di Natuna. Lebih dari itu, yang perlu diketahui khalayak, bahwa sampai dengan hari ini kekuatan militer Indonesia belum sampai pada kriteria kekuatan minimal. Dalam tataran doktrin militer defensif aktif perlu kekuatan minimal yang dipersyaratkan. Kita belum sampai di persyaratan itu. Dan saat ini prioritas penguatan alutsista adalah unuk angkatan laut dan angkatan udara. Syarat utama doktrin pertahanan "berani masuk digebuk" harus memiliki kekuatan pukul yang gahar di matra laut dan udara.

Dalam uji proporsionalitas potensi konflik di LCS Indonesia tidak boleh terjebak dalam framing proxy war antara dua gajah dan sekutunya. Rivalitas pertarungan perebutan trophy hegemoni antara AS sebagai petahana dan China sebagai kompetitornya,saat ini begitu sengitnya. Saling jegal satu sama lain terlihat jelas dalam semua dimensi pergaulan dan perdagangan internasional. Sampai ke soal teknologi tinggi microchif. Demikian juga dalam adu cerdas berdiplomasi. Dalam kunjungan Presiden China ke Vietnam Desember ini, Xi Jinping terang-terangan menyebut sebagai puncak keberhasilan diplomasi China. Bagi Vietnam kemitraan dengan China yang baru  terbentuk ini memberi ruang harapan untuk membangun saling percaya dan meredakan ketegangan di LCS. Bagaimanapun China adalah mitra kerjasama ekonomi terbesar bagi Vietnam.

Dengan perkembangan diplomatik terbaru ini, Indonesia dan Vietnam termasuk juga Filipina harus bisa menguatkan uji kesepadanan dan ketahanan dalam politik luar negeri dan diplomasi militer. Sejauh ini dalam peta geostrategis militer di ASEAN, AS sukses merangkul Indonesia, Filipina, Malaysia. Berbagai serial latihan militer gabungan seperti Garuda Shield di Indonesia dan Balikatan di Filipina berlangsung dalam skala besar dan berulang. Termasuk latihan militer skala kecil yang melibatkan satuan marinir, batalyon TNI AD, pilot jet tempur dengan militer AS dan Australia. Dalam konteks diplomasi militer berbagai serial latihan gabungan ini berperan sebagai show of force dan mengingatkan pihak sono agar tidak gampang "ngamukan".

Uji proporsionalitas ini juga bagian dari strategi membeli waktu sembari terus memperkuat taring militer TNI. Kita menempatkan persoalan klaim ZEE Natuna secara proporsional dengan kecerdasan dan kepiawaian berdiplomasi. Tidak terpengaruh oleh framing ajakan permusuhan global salah satu pihak dan persekutuan militer merupakan bagian dari menguatkan posisi dan marwah negeri. Syarat utamanya kekuatan ekonomi dan kekuatan militer harus berkelas. 

Bagaimanapun dalam bingkai kerjasama ekonomi internasional, saling ketergantungan take and give adalah satu-satunya jembatan penghubung yang harus dibesarhebatkan untuk kesejahteraan bersama. Jembatan itu jangan dihancurkan hanya karena persoalan klaim ten dash line dan rivalitas. Mari bercermin pada perang hebat dan melelahkan antara Rusia dan Ukraina, dan perang brutal di Gaza Strip. Mari bercermin dari deraian air mata Ibu dan tangisan anak yang tubuhnya berdarah terkena serpihan amunisi.

****

Jagarin Pane / 22 Desember 2023

"Selamat Hari Ibu"


Saturday, December 2, 2023

Selamat Pagi Alutsista 25 Milyar Dolar

Tidak ada yang istimewa dengan angka milyaran dolar ini jika kita melihatnya dari perspektif geostrategis, geopolitik dan geosecurity kawasan yang fluktuatif. Ini bukan persoalan gagah-gagahan. Tetapi untuk mempersiapkan kekuatan payung pertahanan teritori. Karena kita kekurangan aset pertahanan yang sebanding dengan luasnya wilayah. Indonesia harus bergegas membangun investasi pertahanan dengan program extra ordinary. Dan itu baru bisa berjalan after pandemi Covid19 yang meluluhlantakkan semua rencana pembangunan ekonomi dan pertahanan. Jadi secara de facto sebenarnya mulai tahun 2022 Kementerian Pertahanan melakukan percepatan pengadaan berbagai jenis alutsista strategis. Dalam upaya memenuhi kriteria minimum essential force.

Menteri Keuangan kita yang enerjik beberapa hari lalu menjelaskan dengan narasi terang benderang soal pinjaman luar negeri (PLN) untuk membangun investasi pertahanan Indonesia. Kementerian Pertahanan mendapat alokasi anggaran terbesar karena dinamika kawasan yang bergejolak dan prediksi ancaman. Presiden setuju anggaran pembelian alutsista dari PLN ditambah dari US$ 20,75 milyar menjadi US$ 25 milyar sampai dengan tahun 2024. Secara efektif penggunaan anggaran PLN ini dimulai tahun 2022. Praktis hanya 3 tahun untuk mengejar target perolehan alutsista program MEF (minimum essential force) jilid 3 periode 2020-2024. Jadi kesannya seperti shopping every day. Kalau dirupiahkan belanja alutsista kita tiga tahun terakhir ini menyentuh angka 385 trilyun. Spektakuler dan terbesar.

Mengapa kita harus membeli 12 jet tempur Mirage, mengapa kita harus membeli 2 kapal perang yang sudah dipesan Angkatan Laut Italia. Padahal kita sudah order 42 unit jet tempur Rafale. Kita juga sedang membangun 2 unit kapal perang heavy fregate di PT PAL. Jawabnya karena berpacu dengan waktu dan pertimbangan geosecurity kawasan yang "sudah tidak bisa kembali ke era zero enemy". Kawasan Indo Pasifik next time adalah palagan perebutan hegemoni secara militer antara pemilik status quo dan rivalnya. Baju militer yang sudah digelar ada di tiga hot spot sekaligus, Panmunjom Korea, selat Taiwan dan Laut China Selatan. Natuna adalah pertaruhan harga diri dan marwah teritori Indonesia. Posisinya saat ini terancam dengan beberapa provokasi dan pelecehan di zona ekonomi eksklusif.

Pernyataan Menhan bahwa kita harus mempersiapkan investasi pertahanan yang kuat agar tidak diremehkan negara lain benar adanya. Dalam perspektif kita kesiapan menguatkan manajemen pertahanan adalah bagian dari diplomasi militer yang harus dilakukan. Apalagi jika melihat ketersediaan aset alutsista yang dimiliki saat ini minim, berkorelasi dengan bentang luas negeri. Bersamaan dengan itu dinamika kawasan semakin memanas. Sambil menunggu kedatangan jet tempur Rafale paling cepat akhir tahun 2026, tahun depan ada isian aset penguat 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Demikian juga dengan pembangunan kapal perang heavy fregate yang selesai tahun 2027 ada pengisi kekuatan tambahan tahun depan yaitu 2 kapal perang dari Italia yang dibeli cepat saji. Kita berpacu dengan waktu, dan durasi proses pengadaan alutsista secara normal memerlukan waktu 5-6 tahun sampai barangnya tiba.

Seperti kita ketahui anggaran setiap kementerian per tahun berdasarkan DIPA ( Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Untuk kementerian Pertahanan selain anggaran based on DIPA, ada juga anggaran khusus pembelian alutsista dari luar negeri yang bersumber pada PLN. Sejak berakhirnya Pandemi mulai tahun 2022, kementerian pertahanan bergegas dengan program extra ordinary. Pengadaan alutsista strategis berbagai jenis digelar. Pesetujuan awal segitiga kementerian yaitu Kementerian PPN/Bapenas, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan  menyepakati jumlah anggaran pinjaman luar negeri untuk beli alutsista sebesar US$ 20,75 milyar. Barusan kemarin Selasa 28 Nopember 2023 ada kesepakatan baru di Istana Bogor. PLN ditambah menjadi US$ 25 milyar. Artinya ketersediaan angggaran untuk pembelian berbagai jenis alutsista strategis seperti 2 kapal selam herder, 2 kapal perang dari Italia dan lain-lain sudah ada.

Menyambut matahari Desember ceria, apresiasi kita sampaikan kepada Bapenas, Kemenkeu dan Kemenhan atas kinerja koordinasi yang cerdas dan cepat. Wawasan kebangsaan yang out of the box memang diperlukan untuk mengantisipasi konflik masa depan yang embrionya menguat saat ini. Siapa yang menyangka akan terjadi perang hebat antara Rusia dan Ukraina. Tidak ada upaya untuk menghentikannya. Siapa yang menyangka akan terjadi perang brutal di Gaza Strip saat ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Penguatan alutsista militer Indonesia  adalah untuk memastikan kemampuan pre emptive strike dan rasa percaya diri mengawal teritori. Negeri kepulauan terbesar ini harus memiliki kekuatan pertahanan yang berkelas. Dan itu harus dipersiapkan sedini mungkin. Hari ini, bukan besok. Selamat pagi alutsista 25 milyar dolar.

****

Jagarin Pane / 3 Desember 2023


Monday, November 13, 2023

Bersiaga Penuh Meski Ada Hiruk Pikuk

Hiruk pikuk menyambut Pilpres dan Pileg Pebruari 2024 di dalam sebuah rumah gadang yang bernama Indonesia tentu sangat menyita energi anak bangsa. Sehingga bisa saja banyak yang tidak peduli dengan dinamika kawasan yang semakin mengkhawatirkan. Bahkan banyak pula warga bangsa yang tidak tahu ketika malam gelap gulita, ketika ratusan juta penduduk negeri ini terlelap dalam tidur sirkulasi, ada sekian ribu tentara dan sejumlah alutsista bersiaga penuh di seluruh penjuru negeri. 

Di ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) 1, 2, 3 ada belasan KRI menjalankan misi patroli menjaga marwah teritori perairan Indonesia. Puluhan satuan radar TNI AU yang tersebar di pelosok negeri menjadi mata dan telinga republik, mendeteksi segala bentuk ancaman melalui udara. Paralel dengan itu sejumlah jet tempur bersiaga di Air Force Base. Dan sejumlah KRI bersiaga di Navy Base. Indonesia mempunyai banyak lapangan terbang dan pelabuhan laut. Infrastruktur ini sangat mendukung mobilitas pergerakan jet tempur dan kapal perang kita.

Pasukan TNI AD dengan kekuatan belasan batalyon bersiaga di sepanjang ribuan kilometer border Kalimantan, NTT dan Papua. Demikian juga dengan pasukan marinir TNI AL bersiaga mengawal pulau-pulau terluar Indonesia. Seperti pulau Rondo di ujung Aceh, pulau Berhala di selat Malaka, pulau Nipah di selat Singapura. Juga pulau Miangas dan pulau Marore di Sulawesi Utara, pulau Rote di NTT, pulau Fani dan pulau Fanildo di Papua. Kepulauan Natuna dikawal ketat, Ambalat juga demikian. Sementara di Papua ribuan pasukan gabungan TNI dan Polri melakukan operasi keamanan dalam negeri. Semuanya berjalan di tengah dinamika politik dalam negeri saat ini yang mulai bergemuruh.

Untuk mendukung kesiagaan termasuk mengantisipasi cuaca ekstrim sangat wajar jika para pengawal republik mempunyai alat pukul palu besi. Bukan alat pukul gebuk kasur. Dan semuanya harus dipersiapkan sedini mungkin. Jangan sampai sudah kemalingan baru pasang teralis besi di jendela rumah. Sudah hilang marwahnya. Misalnya alat pukul analog "gebuk kasur" 41 KRI yang masih berfungsi, ditingkatkan kemampuan tempurnya dengan teknologi digital dan rudal. Program extra ordinary kementerian pertahanan saat ini adalah menguatkan infrastruktur tempur 41 KRI striking force TNI AL.

Maka kita menyambut gembira kerjasama lintas negara untuk teknologi navigasi dan elektronika dalam rangka kerjasama menggaharkan 41 KRI eksisting. Kementerian Pertahanan sudah menunjuk PT PAL sebagai lead integrator atau kontraktor utama untuk program besar ini. Kemudian PT PAL melakukan kerjasama dengan galangan kapal swasta nasional. Saat ini ada 8 KRI yang sedang "operasi caesar", dibedah jeroannya. Infrastruktur gebuk kasur diganti dengan alat pukul palu besi.

Untuk teknologi navigasi dan elektronika 41 KRI striking force, perusahaan asal Jerman, Auschutz teken kontrak tanggal 9 Nopember 2023 yang lalu dengan PT Cipta Teknologi Persada Bandung sebagai mitra lokal. Kapal perang yang menjadi obyek penggaharan teknologi navigasi dan elektronika adalah FPB Class, Parchim Class, Fatahillah Class, Clurit Class, Diponegoro Class, Bung Tomo Class dan Martadinata Class. Juga termasuk 4 kapal selam.  

Untuk KRI yang relatif masih baru hanya penambahan sistem navigasi dan komunikasi. Sepertinya Parchim Class dan Fatahillah Class berdasarkan kontrak multi years ini akan diinstal rudal surface to surface (SSM) dan combat management system (CMS). Termasuk repowering dan daya jelajah. Dalam inventory aset TNI AL masih ada 12 unit KRI Parchim Class yang bisa diandalkan dalam armada tempur TNI AL.

Tipikal teritori perairan Indonesia ini sangat unik. Ada perairan halaman dalam rumah, ada juga perairan halaman luar rumah. Yang halamannya di dalam rumah misalnya laut Jawa, selat Karimata, selat Makassar, selat Bali, selat Lombok, laut Banda. Yang halamannya di luar rumah adalah selat Malaka, laut Natuna Utara, laut Sulawesi, laut Arafuru, samudra Hindia. Meski kita punya halaman perairan dalam rumah, kapal-kapal niaga dan kapal perang asing boleh dan sah melintas di perairan yang disebut ALKI.

Ada ALKI 1 yang meliputi selat Malaka, selat Sunda, laut Jawa, selat Karimata dan laut Natuna Utara. ALKI 2 meliputi selat Lombok, selat Makassar, laut Sulawesi. ALKI 3 meliputi laut Arafuru, laut Banda, laut Maluku. Untuk mengawal ALKI di perairan dalam rumah, TNI AL sudah mempergunakan kapal perang jenis kapal cepat rudal (KCR) dan kapal patroli cepat (KPC).  KCR dan KPC ini semuanya relatif baru dan semuanya buatan dalam negeri. Pertumbuhan KCR dan KPC kita apresiasi karena logistik kesiapan operasionalnya ada di industri pertahanan dalam negeri.

Sedangkan untuk perairan luar rumah ada Bung Tomo Class, Diponegoro Class, Fatahillah Class, Martadinata Class dan Ahmad Yani Class. Tentu yang dijaga bukan hanya perairan Natuna. Perairan Ambalat dan Arafuru juga harus mendapat perhatian termasuk selatan Jawa. Luasnya area perairan negeri ini mengharuskan adanya ketersediaan kapal perang ukuran besar. Dan secara kuantitas TNI AL memang masih kekurangan kapal perang tonase besar.

Mengkalkulasi kebutuhan armada kapal perang TNI AL saat ini, selayaknya ada percepatan dalam bentuk penambahan kapal perang baru dan penggaharan KRI eksisting. Namanya juga percepatan ya harus cepat proses dan cepat datang, tahun depan harus sudah datang. Dan 2 unit kapal perang tonase besar yang digadang-gadang dari Italia sudah menjelang datang tahun mendatang. Selamat datang. Kadang-kadang yang belum pernah terpikirkan untuk diundang dalam perspektif kita, malah dia duluan yang datang.

Dinamika rumah tangga negeri yang berdemokrasi, suasana hangat menjelang pilihan raya dalam konteks politik praktis adalah "pesta argumen, pesta adu simpati" untuk menuju tampuk kekuasaan. Bagaimanapun politik kebangsaan adalah marwah yang tertinggi. Menjaga eksistensi NKRI, menguatkan marwah teritori, menguatkan persatuan dan kesatuan. TNI adalah garda terdepan yang selalu menjaga marwah politik kebangsaan negeri tercinta sepanjang usianya. Silakan hiruk pikuk berteriak di dalam rumah tapi jangan sampai ada yang berantakan di dalam rumah.

****

Jagarin Pane / 13 Nopember 2023


Wednesday, November 1, 2023

Beli Alutsista Cepat Saji

Biasanya dalam iklan baris ada kalimat : BU, dijual cepat. Maksudnya butuh uang, dijual cepat. Tapi khusus untuk membeli kapal perang cepat saji kira-kira analogi bunyi kalimatnya begini : BB, dibeli cepat. Butuh barang dibeli cepat. Kementerian Pertahanan Indonesia kembali melakukan inovasi pembelian alutsista strategis. Inovasi maksudnya adalah berupaya membeli kapal perang yang sudah diorder lebih dulu oleh negara pabrikan. Kabar rencana pembelian cepat saji 2 unit kapal perang PPA dari Italia yang sedang ramai dibicarakan sebenarnya mengikuti pola pembelian 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Agar asetnya cepat datang.

Angkatan Laut Italia sudah memesan 7 kapal perang Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) atau Multipurpose Offshore Patrol Vessel dari galangan kapal Fincantieri di Italia. Sudah ada 5 unit yang diserahkan ke Angkatan Laut Italia. 2 unit lainnya menyusul. Nah jika Kemenhan RI teken kontrak pembelian,  bisa langsung mengambil 2 unit kapal perang yang berbobot 4.900 ton dengan panjang 143 meter. Kemudian pemerintah Italia akan memesan 2 unit lagi ke Fincantieri sebagai penggantinya. Pola ini pernah digunakan Mesir ketika ingin membeli 2 kapal perang cepat saji Fremm Class dari Italia. Angkatan laut negeri Pizza itu sudah memesan 10 unit sebelumnya. Setelah akad jual beli, Mesir mendapatkan 2 unit dan Italia memesan 2 unit lagi ke galangan kapal Fincantieri.

Situasi Laut China Selatan (LCS) akhir-akhir ini semakin memprihatinkan. Kapal perang China barusan berseteru dengan kapal perang destroyer AS. Masing-masing kapal perang melakukan berbagai manuver berbahaya. Kemudian dengan Filipina, China melakukan upaya blokade logistik, untuk pasukan marinir Filipina yang bertugas di kapal perang LST Sierra Madre. Kapal perang ini sengaja dikandaskan Filipina sejak tahun 1999 di perairan kepulauan Spratly sebagai taktik cerdas Manila. Jadilah Sierra Madre sebagai pos intai garis depan Filipina dan dijaga pasukan marinir. Perkembangan terakhir tidak lagi kapal Coast Guard kedua negara, China dan Filipina yang saling sembur meriam air. Tapi kapal perang kedua negara mulai dikerahkan. China ingin LST Sierra Madre ditarik pulang. Filipina  tidak berkenan karena wilayah itu miliknya, sah secara hukum laut internasional.

Mengapa Indonesia berupaya membeli kapal perang dengan cara "menggunting" orderan negara pabrikan. Jawabnya untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Seperti kita ketahui saat ini PT PAL sedang membangun 2 kapal perang heavy fregate canggih di Surabaya. Durasi penyelesaiannya memerlukan waktu 4-5 tahun. Artinya paling cepat baru pada tahun 2026 kapal perang terbesar ini selesai. Sementara untuk mengantisipasi dinamika LCS yang semakin ruwet mau tidak mau harus ada tambahan ketersediaan kapal perang untuk memperkuat armada TNI AL di Natuna. Apalagi saat ini ada program modernisasi puluhan KRI berbagai jenis. Ini mengurangi ketersediaan KRI yang siap operasi. Program extra ordinary Kemenhan ini adalah untuk mempercepat tambahan aset pertahanan armada TNI AL.

Alasan pembelian jet tempur Mirage kurang lebih sama. Penyelesaian order 42 jet tempur Rafale perlu waktu 4-5 tahun juga. Paling cepat tahun 2026 jet tempur multi peran ini datang. Masih lama. Maka untuk mengisi tambahan kekuatan skadron tempur TNI AU dengan durasi cepat saji, Indonesia membeli 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Prediksi tahun depan Mirage sudah hadir memperkuat skadron tempur TNI AU. Pesawat tempur dari Qatar ini meski bekas, namun durasi jam terbang dan perawatannya masuk kategori "sultan". Dan sudah mendapat restu Perancis untuk dipergunakan pilot-pilot TNI AU. Sekaligus untuk membiasakan operasional jet tempur buatan Perancis.

Sampai saat ini andalan armada kapal perang TNI AL untuk bisa berwibawa mengawal Natuna bertumpu pada 2 KRI  Martadinata Class, 3 KRI Bung Tomo Class dan 4 KRI Diponegoro Class. Hanya 9 KRI ini yang relatif masih baru. Sementara  3 KRI Fatahillah Class buatan Belanda tahun 1982 baru dimodernisasi instrumen tempurnya. Dan 4 KRI Ahmad Yani Class sudah terhitung sepuh buatan Belanda tahun 1967. Sebenarnya TNI AL punya belasan kapal cabe rawit little but lethal yaitu kapal cepat rudal. Namun kapal Clurit Class dan Sampari Class ini lebih pas "bermain" di halaman dalam perairan kita seperti selat Malaka, selat Sunda, laut Jawa dan sekitarnya.

Melihat potensi kuat ancaman militer China dan karakter ekosistem perairan di Natuna dan LCS, Indonesia secepatnya harus mempersiapkan kapal perang minimal sekelas light fregate. Kapal perang jenis PPA yang ukuran badannya setara heavy fregate bisa menjadi opsi untuk hadir di Indonesia. Meski kita sebenarnya  berharap bisa mengakuisisi kapal perang Fremm Class yang punya kemampuan tempur multi dimensi. Kapal perang PPA tidak memiliki kemampuan tempur anti kapal selam. Tapi namanya lagi butuh dan mendesak, tidak ada rotan akar pun jadi. Dan ruang untuk memperoleh Fremm sebenarnya masih terbuka. Termasuk peta jalan untuk mendapatkan 2 kapal selam "herder" masih dalam proses. Khusus untuk penambahan armada kapal selam, sesuai motto Korps Hiu Kencana "Tabah Sampai Akhir". Tabah dan sabarlah, semua akan terpenuhi pada waktunya.

****

Jagarin Pane / 01 Nopember 2023

Saturday, October 14, 2023

Antara Skala Prioritas Dan Kebutuhan Alutsista

Pada sambutan hari ulang tahun TNI ke 78 tanggal 5 Oktober 2023 di Monas Jakarta, Presiden Joko Widodo menyebut skala prioritas penguatan alutsista TNI yang harus sesuai dengan kebutuhan. Dan harus menyesuaikan dengan anggaran negara. Pernyataan ini perlu kita garis bawahi. Sementara seremoni ulang tahun pengawal republik begitu semarak, meriah dan bermarwah. Berbagai atraksi militer digelar mulai dari unjuk kebolehan jupiter team, collibri menari, raungan jet tempur F16 sampai defile parade pasukan dan alutsista memamerkan diri di jalan protokol Jakarta. Sambutan khalayak sangat membanggakan. Inilah satu-satunya institusi negara yang berdasarkan survey mendapat tingkat kepercayaan tertinggi dari masyarakat Indonesia.

Nah, kalau kita bicara soal skala prioritas penguatan alutsista, semuanya bermuara pada kebutuhan yang mendesak. Karena kebutuhan TNI akan terpenuhinya ketersediaan alutsista tiga matra sampai saat ini belum memenuhi kriteria minimal. Oleh sebab itu sejak tahun 2010 pemerintah membuat rencana strategis lima belas tahun.  Namanya program minimum essential force (MEF) TNI. Ini bukan soal mau ada perang atau tidak. Ini soal pemenuhan kebutuhan gizi alutsista. Sekarang sudah memasuki jilid tiga (2019-2024]. Kebutuhan minimal yang menjadi target sampai saat ini belum tercapai. Contoh, ketersediaan 4 kapal selam saat ini belum sebanding dengan luasnya perairan Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia. Belum lagi soal kegaharan kapal selam Nagapasa Class. Negeri Singapura yang mungil saja saat ini sudah memiliki 6 kapal selam canggih dan mempunyai kemampuan detterent effect. Indonesia minimal harus memiliki 8 kapal selam kelas srigala, bukan sekedar kelas anjing kampung.

Mari kita telusuri fakta soal kekurangan ketersediaan alutsista TNI dalam beberapa hot spot history. Ketika pasukan Indonesia memasuki Dili Timor Timur akhir Desember 1975, penerjunan ratusan pasukan TNI melalui pesawat-pesawat Hercules tidak mendapat perlindungan dari jet tempur. Banyak korban. Dalam kurikulum pertempuran untuk menduduki suatu wilayah harus didahului dengan pengeboman pembersihan. Mengapa tidak ada perlindungan dari jet tempur karena kita kekurangan alutsista ini setelah era jet tempur Mig berakhir. Sementara hibah 23 jet tempur F86 Sabre dari Australia minus persenjataan alias kopongan. Di laut pendaratan pasukan marinir di pantai Dili didahului tembakan meriam beberapa KRI. Yang "membantu" suasana pertempuran adalah iklim sekitar yang mendukung. Pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur setelah Presiden AS Gerald Ford meninggalkan Jakarta. Australia pun bilang monggo kerso. Intinya jangan sampai Timor Timur dikuasai Fretilin yang berhaluan komunis, waktu itu.

Masih di era tahun tujuh puluhan, berdasarkan laporan intelijen, China sedang berupaya mengklaim Natuna sebagai miliknya. Meski waktu itu belum ada nine dash line dan kekuatan militer China masih belum apa-apa. Walaupun belum apa-apa, nyatanya pasukan China berhasil mengalahkan pasukan Vietnam dalam pertempuran laut di kepulauan Paracel Januari 1974. Jakarta menyikapi klaim terhadap Natuna dengan sedikit kepanikan lalu mengirim destroyer KRI Samadikun ke Natuna. Mengapa Jakarta panik karena pada waktu itu di Natuna belum punya alat bantu deteksi atau radar militer. Benar-benar telanjang. Pada saat yang bersamaan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara Indonesia sangat terbatas. Beberapa tahun berselang dengan crash program radar militer sudah beroperasi di Natuna.

Soal Ambalat, semua sudah tahu tentang manuver angkatan laut Malaysia pada saat kekuatan militer Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Benar-benar membuat emosi anak negeri waktu itu antara tahun 2005-2008. Gesekan kapal perang kedua negara membuat hubungan diplomatik terkena elnino panas. Ketersediaan alutsista TNI yang mengalami embargo membuat jiran sebelah merasa diatas angin. Namun setelah program MEF berjalan, penguatan armada angkatan laut dan udara Indonesia semakin meningkat. Saat ini sudah tidak ada lagi provokasi dan manuver kapal perang Malaysia di Ambalat. Meski sebenarnya kekuatan militer Indonesia belum mencapai kriteria minimal yang dibutuhkan. Untungnya pada periode tahun 2010 sampai sekarang Malaysia tidak mengalami pertumbuhan alutsista strategis yang signifikan.

Program MEF adalah skala prioritas karena kebutuhan minimal alutsista TNI belum terpenuhi. Artinya MEF adalah program mengejar kebutuhan minimal yang diperlukan untuk ketersediaan senjata tentara kita. Luas wilayah negeri ini seluas Eropa, posisinya strategis. Negara kepulauan terbesar ini mestinya mempunyai aset jet tempur dan kapal perang yang memadai sebanding dengan luasnya wilayah. Apalagi saat ini ada ancaman nyata klaim perairan ZEE Natuna. Mari kita sikapi dengan jernih modernisasi militer Indonesia. Bahwa program MEF adalah skala prioritas untuk memenuhi kebutuhan alutsista minimal yang diperlukan tentara dalam menjaga teritori negara. Oleh sebab itu tidak perlu kaget mengapa selama 4 tahun terakhir penguatan alutsista seperti jor joran. Karena kita berkejaran dengan waktu dan dinamika konflik kawasan. Apalagi karena program MEF periode sebelumnya belum optimal dalam pelaksanaannya.  

Investasi pertahanan selama 4 tahun terakhir menyentuh angka anggaran US $ 25-30 milyar. Dana besar ini untuk pembelian berbagai jenis alutsista strategis dalam rangka membangun manajemen perisai trisula nusantara untuk 25 tahun ke depan. Sekilas terlihat fantastis tapi ini kan untuk membangun investasi pertahanan kita yang tertinggal. Bangunan utamanya menguatkan fondasi tempur AL, AU dan AD based on interoperablity and network centric warfare. Masing-masing matra tidak lagi berdiri sendiri, jalan sendiri, nembak sendiri. Semuanya harus membangun manajemen tempur modern, sinergitas dengan kemampuan teknologi terkini. Semuanya untuk memastikan bangunan pertahanan teritori negeri kuat dan disegani. Sekali lagi ini bukan soal mau perang atau tidak dan kalaupun terjadi perang kita sudah siap. Catatannya kalau militer sebuah negara kuat, negara lain akan berhitung ulang untuk melecehkan teritorinya apalagi ngajak perang.

Ketersediaan aset alutsista dalam jumlah yang mencukupi hukumnya "fardu kifayah" dan pemerintah adalah penanggung jawabnya. Pemenuhan kebutuhan ini bagian dari upaya preventif, upaya pencegahan, agar negara tidak diremehkan negara lain. Maka soal skala prioritas pemenuhan alutsista TNI adalah kebutuhan, bukan jor-joran, bukan show of force. Ini yang harus kita pahami. Pembangunan kekuatan ekonomi negeri kita terus berlangsung. Sejalan dengan itu perkuatan alutsista TNI juga harus berjalan. Seiring sejalan. Marwah kesejahteraan adalah kemampuan membangun pertumbuhan ekonomi dan sebaran pemerataannya. Sementara marwah eksistensi negeri adalah kemampuan membangun kekuatan pertahanan. Indonesia saat ini menjalankan keduanya dengan semangat menuju Indonesia maju, menuju Indonesia sejahtera. Keduanya adalah skala prioritas dan kebutuhan.

****

Jagarin Pane / 14 Oktober 2023