Saturday, June 10, 2023

Menjelang Injury Time

Waktu berjalan terus, langkahpun terus bergegas bersaing dengan hari dan minggu, mengejar target yang harus disasar, cepat, dipercepat, percepatan. Kementerian Pertahanan saat ini sedang bergegas untuk menyelesaikan target extra ordinary pengadaan berbagai jenis alutsista untuk militer negeri kepulauan terbesar ini. Karena komandan kementeriannya juga sedang berburu waktu untuk ikut kontestasi pencapresan. Maklum karena ada lowongan menjadi Indonesia_One. Mengapa disebut injury time karena Oktober 2023 ini adalah jadwal pencapresan berlanjut dengan musim kampanye. Syukur-syukur tidak ada pergantian Menhan sampai akhir pemerintahan. That is injury time.

Sejauh ini kabar-kabar yang mencerahkan seputar penguatan alutsista tentara republik telah kita ketahui bersama. Ada kapal perang baru jenis korvet VVIP. Namanya KRI Bung Karno 369 produk dalam negeri dari galangan kapal swasta nasional di Batam. Yang istimewa adalah waktu pembuatannya sampai diresmikan 1 Juni 2023 yang lalu, hanya butuh waktu setahun. Tiga hari kemudian kapal perang ini sudah ikut memeriahkan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2023 di Selat Makasar bersama puluhan kapal perang dari negara partisipan. Luar biasa.

Sementara itu 2 kapal perang baru jenis penghancur ranjau buatan Jerman sudah resmi masuk Armada Dua TNI AL. Saat ini sedang dalam persiapan berlayar ke tanah air. KRI Pulau Fani 731 dan KRI Pulau Fanildo 732 adalah kapal perang yang dilengkapi infrastruktur canggih deteksi bom bawah air. Ini artinya dua unit kapal perang ini akan menambah kekuatan armada KRI bernomor kepala tujuh, bernama pulau kecil di tanah air. Kapal perang penghancur ranjau adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu TNI AL. 

Beberapa kapal perang berbagai jenis saat ini sedang dalam proses pembangunan dan semuanya dibangun di dalam negeri. Seperti 2 OPV (Offshore Patrol Vessel), 2 LST (Landing Ship Tank), 1 KCR (Kapal Cepat Rudal) 3 KPC (Kapal Patroli Cepat) dan 2 kapal perang terbesar 140 meter Heavy Fregate "Merah Putih". Untuk pembuatan 2 kapal selam serbu saat ini  sedang dalam proses menuju kontrak efektif. Jerman dan Perancis sedang bersaing merebut simpati. Penetapan sumber pembiayaannya sudah disetujui Kementerian Keuangan. Plong rasane.

Tentara langit kita sedang menunggu kedatangan 6 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korsel. Bersamaan dengan itu 13 T50 "kakak kelasnya" sedang diupgrade radar tempur dan persenjataan rudalnya. 12 jet tempur Mirage bekas pakai dari Qatar diharapkan tahun depan sudah menjadi aset TNI AU. Pesawat ini diperlukan sebagai wahana transisi dan pengisi sebelum jet tempur Rafale datang. Hitung-hitung untuk membiasakan menggunakan produk jet tempur Perancis. Kabar lain pesanan 5 pesawat angkut Super Hercules dari Lockheed Martin AS sudah datang 1 unit. Bulan Juni ini akan datang 1 unit lagi. 

Kemudian pengadaan pesawat angkut kelas berat multi fungsi A400M sebanyak 2 unit tinggal menunggu kedatangannya. Juga 13 radar GCI dari Thales Perancis. Dari Korsel ada perkembangan bagus dari kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX. Ada 2 Pilot TNI AU yang sudah melakukan uji terbang. Indonesia segera melakukan pembayaran lanjutan pembiayaan proyek prestise ini. Jika tidak ada kendala mulai tahun 2026 jet tempur KFX/IFX sudah mulai diproduksi. Siap-siap memberi nama dong karena Korsel sudah memberi nama jet tempur canggih ini dengan nama Boramae.

Permintaan kita, daftar pengadaan alutsista yang mengemuka, sudah dipublikasikan dan sangat diperlukan menjadi aset TNI, segera eksekusi. Misalnya ranpur amfibi, tank Harimau, panser Badak perlu dalam kuantitas ratusan per item. Jangan sampai ada pandangan banyak beli merek tapi kuantitas hanya belasan. TNI AD jelas membutuhkan ratusan unit tank Harimau produksi Pindad. Juga panser kanon Badak. Mengikuti alur produksi Panser Anoa yang sudah mencapai lebih 400 unit saat ini. Termasuk memenuhi kebutuhan seratusan ranpur amfibi untuk Pasmar.

Kita menyambut sukacita kerjasama militer Indonesia dengan Turkiye yang menghasilkan pengadaan berbagai jenis alutsista. Dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki aset militer strategis dari Turkiye seperti UAV bersenjata Bayraktar dan Anka, infrastruktur peluru kendali darat ke udara Trisula dan peluru kendali antar permukaan Khan. Prediksi kontrak ranpur amfibi Zaha akan bekerjasama dengan Turkiye. Semua ini berawal dari kerjasama produksi tank Harimau dengan payung Undang-Undang.

Menjelang injury time, kita berharap semua program besar dan strategis Kementerian Pertahanan memenuhi target dan harapan kita. Publikasi pengadaan berbagai jenis alutsista khususnya yang belum kontrak efektif semoga menjadi kenyataan. Seperti proses pengadaan jet tempur bergengsi F15 dari AS, pengadaan kapal perang Heavy Fregate Fremm Class, pesawat peringatan dini AEW&C  dan kapal selam serbu adalah harapan kita bersama. Tidak usah banyak-banyak, cukuplah 10-12 unit F15 dan 2 unit Fremm Class. Setidaknya tidak ingkar janji gitu loh.

Program strategis lainnya yaitu peremajaan atau upgrade 41 KRI yang berusia lanjut dapat dipercepat. Pekerjaan ini pasti memerlukan beberapa galangan kapal swasta nasional secara paralel. Bersyukur kita bahwa ada 8 galangan kapal swasta nasional dan 1 BUMN PT PAL yang sudah mampu dan terbukti bisa membangun berbagai jenis kapal perang. KRI Teluk Hading 538 yang terbakar di perairan selat Makassar baru-baru ini adalah kapal buatan Jerman Timur tahun 1977. Indonesia membeli satu paket 39 kapal perang bekas dari Jerman tahun 1993, termasuk KRI Teluk Hading. Sebagian kapal perang bekas yang dibeli tahun 1993 ini layak untuk dipermak ulang infrastruktur tempurnya.

Kita sangat mengapresiasi kinerja berkualitas Kementerian Pertahanan yang berkolaborasi apik dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan. Termasuk pengadaan alutsista strategis dengan negara lain dengan pola G to G. Persetujuan sumber pembiayaan (PSP) pengadaan alutsista sejak tahun 2019 sampai akhir pemerintahan ini bisa mencapai US$ 25 Milyar. Sebuah pencapaian yang fantastis.  Karena kita memang harus bergegas bersiap diri memperkuat militer kita yang belum sampai pada kekuatan minimal. Kita sedang mengejar kekuatan minimal dan standar. Kita pun bergegas menjelang injury time. Semoga semuanya dimudahkan.

****

Jagarin Pane / 10 Juni 2023


Monday, May 29, 2023

Membaca Australia Dan China

Berita rencana pertandingan sepakbola FIFA Matchday antara Australia dan Argentina di China tanggal 15 Juni 2023 sangat menarik untuk diulas. Pertanyaannya mengapa harus di China, mengapa tidak di Australia. Seperti halnya pertandingan Indonesia dan Argentina pelaksanaannya di Jakarta tanggal 19 Juni 2023 nanti. Sesuatu yang lumrah dan disambut antusias masyarakat Indonesia. Bukankah hubungan China Australia saat ini sedang tidak harmonis. Bukankah diantara keduanya sedang saling sikut dalam kerjasama ekonomi. Meski tidak sampai pada pemutusan hubungan diplomatik.

Dalam perspektif kita Australia dan China sepertinya sedang mengikuti pola "Diplomasi Pingpong" yang pernah dilakukan AS dan China tahun 1971. Sebagaimana kita ketahui melalui cabang olahraga Tenis Meja, AS dan China kemudian membuka hubungan diplomatik tahun 1972. Episode jalan ceritanya diawali dengan Kejuaraan Tenis Meja level dunia di Nagoya Jepang tahun 1971. Atlet Tenis Meja AS dan China "tumben" saling menyapa dan berkomunikasi satu sama lain. Sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh China yang mengawasi ketat setiap atletnya. Kabar baik yang tak disangka terjadi. Ketika Kejuaraan Tenis Meja selesai dan para atlet bersiap menuju negara masing-masing, tiba-tiba Beijing memberi undangan kepada kontingen Tenis Meja AS untuk berkunjung ke China. Mampir dulu dong sebelum pulang, kira-kira begitu bahasa ajakannya.

Di China mereka disambut dan dijamu tuan rumah. Selidik punya selidik sebenarnya kedua negara sedang berupaya untuk menjalin hubungan baik. Saat itu China lagi retak aliansi persahabatannya dengan Uni Sovyet (sekarang Rusia). Jika ditandingkan dengan Uni Sovyet plus Pakta Warsawa, China jelas kalah segalanya waktu itu. Jadi Beijing perlu pendekatan dengan AS. Sementara dalam pandangan AS, China tidak bisa diabaikan apalagi dijauhkan. Dua-duanya saling membutuhkan tetapi belum bertemu dengan pintu masuk yang "berwibawa". Maka diplomasi Pingpong adalah cara yang dianggap paling elegan untuk saling senyum, saling sapa. Berlanjut dengan kunjungan Presiden Richard Nixon ke Beijing untuk membuka pintu hubungan diplomatik tahun 1972.

Metode ini menurut pandangan kita yang sedang mengemuka untuk mencairkan kebekuan hubungan China - Australia. Dua negara ini beseteru panas soal Taiwan dan Laut China Selatan (LCS). Tapi persoalan besarnya sebenarnya adalah hegemoni AS yang mulai terusik. Canberra seperti biasa selalu bersama AS dalam urusan geopolitik dan geostrategis dunia. Peredaan ketegangan di Indo Pasific seharusnya adalah "fardu ain", kewajiban semua rumah tangga negara di kawasan ini. Pertempuran hebat dan lama antara Rusia - Ukraina menjadi pelajaran berharga bagi negara manapun. Bahwa perang menghasilkan kehancuran dan penderitaan. Bahwa perang menghasilkan bencana kemanusiaan luluh lantak. Bahwa perang tidak menyelesaikan masalah.

Diplomasi sepakbola Australia - China bisa menjadi awal dari upaya merajut kesetaraan hubungan yang mengedepankan semangat humanisme universal. Teknisnya menikmati bersama kegembiraan di stadion. Yang bermain kesebelasan Argentina dan Australia, yang menikmati penonton China. Bahkan diniscayakan akan ada warga dan diplomat Australia yang hadir dan berteriak bersama. Ketika kita menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion maka semua atribut strata hilang sementara, bertukar nama menjadi kasta penonton.

Harapan kita dengan diplomasi sepakbola bisa berlanjut dengan saling sapa dalam bahasa diplomatik. Kita berharap ada siraman kesejukan. Australia bisa melunakkan pernyataan sikap dan kebulatan tekadnya yang selama ini mengedepankan diplomasi high profile berlapis paranoid terhadap China. Kemudian melapisnya  dengan permusuhan militer. Membentuk pakta nuklir AUKUS bersama AS dan Inggris, membeli 6 kapal selam nuklir dan bermacam alutsista canggih lainnya. Australia membeli kapal selam nuklir tanpa unggah ungguh dengan tetangganya. Dan ini jelas melanggar traktat non proliferasi nuklir di kawasan ini. Indonesia memprotes keras.

Sementara China yang sukses mendamaikan Arab Saudi dan Iran punya potensi untuk memenuhi code of conduct pada wilayah yang  diklaimnya. Code of conduct di LCS misalnya,  ASEAN sudah menunggu lebih sepuluh tahun sampai sekarang. Sementara China masih sebatas pernyataan tok. Indonesia-Vietnam sudah berhasil menyelesaikan klaim tumpang tindih ZEE di Natuna akhir tahun lalu. China mestinya bisa mencontoh penyelesaian klaim dengan perundingan. Termasuk soal Taiwan yang mendesak, akan sangat bermartabat jika dapat diselesaikan melalui perundingan dan jalur diplomatik. Bukan show of force dengan mata melotot.

Tidak ada yang tidak mungkin, sebagaimana cairnya hubungan diplomatik AS - China tahun 1972 di era perang dingin melalui diplomasi Pingpong. Juga berdamainya Arab Saudi - Iran baru-baru ini berkat peran China merupakan sesuatu yang tak pernah diduga. Termasuk kembalinya Suriah yang sudah compang camping ke pangkuan Liga Arab. Kita lihat saja lanjutan cerita diplomasi sepakbola Argentina-Australia di China ini. Mission Impossible kata judul film intelligence action jilid satu sampai empat. Namun nyatanya tercapai juga misinya tuh. Maka menjadikan kawasan Indo Pasific sebagai zona damai dan sejahtera tentu bisa juga dong, walaupun judulnya Mission Impossible.

****

Jagarin Pane / 29 Mei 2023


Thursday, May 25, 2023

Bergegas Menguatkan Alutsista Marinir

Korps marinir TNI AL adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu (SSAT) Angkatan Laut Indonesia yang memiliki karakter khas sebagai pasukan serbu pantai. Dalam setiap serial latihan tempur armada TNI AL ditengah laut ada simulasi deteksi ranjau, deteksi kapal selam, peran tempur bahaya udara, penembakan rudal anti kapal, penembakan torpedo, logistik bekal ulang. Puncaknya adalah pendaratan pasukan marinir. Sebagai pasukan elite TNI AL, marinir mempunyai sejumlah alutsista striking force untuk pendaratan dan menguasai titik tumpu pantai. Yang terlihat kemudian adalah lebih banyak alutsista tua yang berenang menuju pantai seperti tank amfibi PT76, panser amfibi BTR50 buatan Uni Sovyet. Yang baru hanya tank BMP3F buatan Rusia dan MLRS (peluncur roket multi laras) Vampire buatan Ceko.

Sebagai kekuatan SSAT, pasukan marinir menyesuaikan performansi dan pengembangan kekuatannya dengan Armada TNI AL. Seperti kita ketahui Armada tempur TNI AL saat ini sudah mekar menjadi tiga Armada. Markas Armada Satu di Tanjung Pinang, Armada Dua di Surabaya dan Armada Tiga di Sorong Papua. Pasukan marinir (Pasmar) setingkat divisi juga menyesuaikan. Pasmar Satu di Jakarta, Pasmar Dua di Surabaya dan Pasmar Tiga di Sorong. Dengan catatan ada 1 Brigade marinir di Lampung, 1 batalyon di Pangkalan Brandan Sumut dan 1 batalyon di Batam Kepulauan Riau.

Menyesuaikan dengan pengembangan postur kekuatan, selayaknya kekuatan alutsista marinir juga ikut mekar mengembang. Dalam program MEF jilid tiga yang akan berakhir tahun depan ternyata pencapaian target pertambahan alutsista marinir baru 50 %. Kita berharap Ini menjadi program percepatan, menambah infrastruktur tempur marinir sesuai dengan marwah jati dirinya, pasukan hantu laut. Marinir perlu menambah seratusan tank dan seratusan panser untuk mengganti "si mbah" PT76 dan "si tua-tua keladi" BTR50 sesuai dengan pengembangan kekuatan dan perkembangan teknologi persenjataan. Dalam perspektif kita minimal harus ada pertambahan aset 100 tank amfibi, 150 panser amfibi dan 50 MLRS yang baru.

Kurikulum simulasi serbu pantai selama ini didahului dengan penerjunan pasukan intai amfibi, kemudian ada serangan udara langsung dengan pesawat tempur F16 atau Sukhoi untuk melumpuhkan kekuatan musuh. Dilanjut dengan tembakan meriam dari sejumlah KRI yang mengawal pasukan marinir. Pernah dicoba membawa MLRS RM Grad yang dipasang di KRI Landing ShipTank (LST) untuk meluncurkan roket. Kemudian tank amfibi, panser amfibi dikeluarkan dari KRI LST dan LPD yang berjarak sekian kilometer dari pantai. Menyusul sekoci amfibi KAPA yang mengangkut MLRS dan artileri serta pasukan marinir untuk merebut titik tumpu pantai. 

Alutsista yang efektif dan efisien dengan teknologi tempur terkini adalah drone intai (UAV) atau drone bersenjata (UCAV). Di medan pertempuran darat Rusia-Ukraina, alutsista elektronik nir awak ini menjadi strategis fungsinya. Ratusan tank, panser, artileri mampu dilumpuhkan drone dari jarak jauh. Oleh sebab itu, dalam penguatan alutsista marinir sangat perlu ada penambahan skadron UAV dan UCAV, juga skadron helikopter sebagai satuan striking force. Semua disatukan dalam manajemen interoperability. Dalam pengembangan strategi pertempuran marinir ke depan penggunaan UAV dan UCAV bisa menjadi bagian operasi militer serbu pantai.

Saat ini korps marinir memiliki alutsista yang relatif baru yaitu 60 tank amfibi BMP-F buatan Rusia dan 15 MLRS  Grad / Vampire buatan Ceko. Ada juga 15 unit kendaraan amfibi LVT-7A1 hibah dari Korsel. Sementara  ratusan tank dan panser amfibi lainnya adalah produk lawas tahun 60an. Sudah layak diganti. Sejauh ini belum ada penambahan alutsista baru di pasukan hantu laut ini. Pernah ada proses pengadaan 80 ranpur amfibi angkut pasukan BT-3F dan 20 tank amfibi BMP-3F tambahan dari Rusia namun kelihatannya terhalang CAATSA dari AS. Sebagai pasukan pemukul strategis dan masuk unsur PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat) TNI, selayaknya alutsista marinir diperbaharui dan diperluas. Sangat layak untuk dipercepat. Misalnya menambah aset tempur dari Turkiye atau AS. Dari Turkiye ada ranpur ZAHA, dari AS ada ranpur LVT 7. Selain itu marinir perlu dilengkapi dengan drone dan helikopter tempur serta satuan tembak rudal jarak pendek untuk pertahanan pangkalan AL.

Pendaratan pasukan marinir di dunia sepanjang sejarah adalah pertempuran heroik dan sangat menentukan. Ingat pertempuran dahsyat di pantai Normandia Perancis dalam operasi Overlord tentara sekutu tanggal 6 Juni 1944 dan Iwojima Jepang tanggal 16 Maret 1945 dalam perang dunia kedua.. Suasana pertempuran di laut dan pantai pendaratan penuh dengan dentuman dan pergerakan alutsista. Drama pertempuran, adrenalin pertempuran menyatu ditengah deru kendaraan tempur dan teriakan pergerakan pasukan. Pendaratan Normandia dan Iwojima merupakan serial penentu kemenangan tentara sekutu dalam perang dunia kedua dengan korban pasukan yang luar biasa banyaknya.

Adalah hal yang pasti bahwa pasukan marinir Indonesia dipersiapkan untuk menyerbu pantai dan pulau milik negeri yang dikuasai musuh, misalnya Natuna. Maka kekuatan alutsistanya harus modern, harus tangguh, wajib tangguh, bukan ditangguhkan.  Ini syarat mutlak. Wajar kan kalau marinir wajib memiliki aset baru dan modern minimal duaratusan tank amfibi, duaratusan ranpur amfibi, limapuluhan MLRS, skadron UAV/UCAV dan skadron helikopter. Ini juga sebangun dengan target resmi MEF ketiga yang diinginkan TNI AL yaitu memiliki 182 KRI, 8 kapal selam, 100 pesawat udara dan helikopter  serta 978 ranpur marinir. Tercapai 80% saja sudah alhamdulillah banget, padahal sekarang baru tercapai 50% dan tinggal setahun lagi lho.

****

Jagarin Pane / 24 Mei 2023


Thursday, May 11, 2023

Antara Garuda Shield Dan Balikatan

Aliansi militer AS - Filipina edisi terkini seperti membuka sejarah panjang tentang persekutuan dan persahabatan militer keduanya. Perang Vietnam adalah contoh manfaat aliansi ini dan menjadi unjuk kinerja militer AS di Asia Tenggara pada era perang dingin. Filipina adalah home base dan pangkalan aju terbesar untuk pasukan dan alutsista AS ketika menggempur dan membombardir daratan Vietnam selama 15 tahun. Meski pada akhirnya harus hengkang dari ibukota Vietnam Selatan Saigon tahun 1975 yang kemudian berganti nama Ho Chi Minh City.

Adalah Presiden Marcos Jr yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk militer AS demi kepentingan nasionalnya yang terancam arogansi "nine dash line". Seperti mengulang sejarah ayahnya Ferdinand Marcos yang mempersilakan AS memakai Subic Navy Base dan Clark AFB sebagai pijakan militer AS dalam perang Vietnam yang berakhir tahun 1975. Bong Bong Marcos kembali mempersilakan AS menggunakan 7 pangkalan militer di Filipina. Kali ini dengan justifikasi yang lebih jelas, untuk menghadapi kemungkinan terburuk melawan China. Sementara bagi AS prioritasnya adalah disamping untuk membentengi rumah sahabatnya Filipina, juga untuk melapis pertahanan Taiwan yang akhir-akhir ini mendapat tekanan dan ancaman militer yang masif dari China. Dan pijakannya adalah Filipina.

Jarak antara Filipina dan Taiwan hanya 100 mil. Dekat sekali. Skenarionya jika Taiwan diserang China maka pasukan AS melakukan counter attack dari pulau Luzon. Maka pergelaran Balikatan exercice tahun ini yang dimulai sejak pertengahan  April 2023 adalah yang terbesar. Ada pengerahan 18.000 pasukan gabungan kedua negara dengan alutsista canggih, tentu sebagian besar milik AS. Ada rudal Patriot, ada Himars, Avenger, Javelin, jet tempur F35, kapal perang berbagai jenis dan lain-lain. Latihan militer Balikatan sudah diselenggarakan sejak tahun 1991 dan tahun ini adalah yang terdahsyat. Buah dari kesepakatan Joe Bidden dan Marcos Jr. September 2022 yang lalu, menghidupkan kembali aliansi militer kedua negara.

Lalu bagaimana dengan Garuda Shield yang Agustus tahun lalu digelar di tiga tempat di Indonesia, yaitu Sumsel, Kaltim dan Sulut. Rencananya gelar latihan militer Garuda Shield tahun 2023 akan berlangsung pertengahan tahun ini. Salah satu lokasinya adalah pusat latihan tempur marinir di Baluran Situbondo. Garuda Shield yang sudah berlangsung 16 kali, tahun kemarin adalah yang terbesar. Ada sekitar 5.000 prajurit TNI dan pasukan IndoPacom AS ditambah 12 negara lain yang menyemarakkan simulasi manajemen pertempuran modern. Berbagai serial pertempuran dipertunjukkan berbasis interoperability. Garuda Shield tahun 2022 berfokus pada simulasi pertempuran matra darat dan lintas udara.

Sementara saat ini kabar perkuatan alutsista kita terus menerus memberikan ruang harapan yang membungakan dan membanggakan. Sebagai hasrat dan tekad yang kuat untuk melapis barikade pertahanan negeri. Persetujuan anggaran melalui sumber pembiayaan Kementerian Keuangan sebesar US$ 2,16 milyar untuk pembelian 2 kapal selam Scorpene adalah jalan cerah menuju kontrak efektif. Sembari berharap pengadaan 2-3 kapal perang heavy fregate Fremm Class bisa kontrak efektif sebelum Pilpres 2024. Termasuk 12 jet tempur Mirage sebagai "penguat dadakan" untuk mengisi ketersediaan jet tempur sebelum 42 jet tempur Rafale datang. Sebagai informasi, selama lima tahun terakhir ini sudah ada persetujuan anggaran sebesar US$ 25 Milyar dari Kementerian Keuangan untuk pembelian berbagai jenis alutsista. Ini adalah yang terbesar sejak era Dwikora. Dan sangat mungkin bisa bertambah US$ 4 -5 Milyar lagi sampai tahun 2024.

Garuda Shield sangat bagus untuk pertambahan pengalaman ilmu tempur modern berbasis interkoneksi. Simpul akhirnya kita harus siap menggelar kekuatan otot militer kita dengan isian gizi alutsista strategis dan berkualitas. Uji gizi alutsista sudah ada di medan perang Rusia Ukraina. Bintangnya adalah drone bersenjata dan peluru kendali. Kita ikuti perkembangan itu. Kita sudah mempersiapkan kedatangan infrastruktur alutsista ini. Drone Anka dan Bayraktar dari Turki akan datang. Satbak (satuan tembak) peluru kendali surface to air Hisar Trisula jarak menengah dan jauh teknologi Turki dan Ceko segera tiba. Juga Satbak peluru kendali surface to surface Khan made in Turki dengan jarak tembak 280 km. Peran drone atau UCAV atau pertempuran remote control ke depan akan sangat menentukan dan strategis dalam network centric warfare.

Balikatan dan Garuda Shield adalah simulasi, diplomasi dan evaluasi. Keduanya memiliki urgensi masing-masing yang bermuara pada ready for use, kesiapan kekuatan militer yang bertumpu pada interoperability dan network centric warfare. Sebagai diplomasi militer Balikatan dan Garuda Shield ingin menunjukkan pada pihak sono tentang peta jalan militer dan kekuatan militer lawannya. Perbedaannya, Balikatan adalah aliansi militer bilateral yang dikembangkuatkan sebagai bagian dari "persekutuan tradisional" antara AS dan Filipina. Sedangkan Garuda Shield adalah kemitraan militer yang dibangun berdasarkan dinamika kawasan, kepentingan bersama, bukan aliansi militer. 

Filipina sekutu AS sudah punya "akta nikahnya". Indonesia bukan sekutu AS, tapi setara dengan "teman tapi mesra". Hubungan seperti ini sah-sah saja bergantung kepada kepentingan sesuai dinamika dan kebutuhan. Dulu kita pernah mengalami embargo militer dari AS. Belajar dari embargo itu kita membeli 16 jet tempur Sukhoi, 60 tank amfibi BMP3F dari Rusia. Termasuk saat ini pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis. Sah-sah saja. Infrastruktur militer Filipina selama ini kurang bergigi sehingga lima tahun terakhir mereka berupaya untuk memodernisasinya. Termasuk membeli 4 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) dari Indonesia.  Alutsista Indonesia jauh lebih baik dari tetangganya ini meski belum sampai pada kekuatan minimal yang dibutuhkan. Sekali lagi Balikatan adalah simbol aliansi militer, Garuda Shield adalah simbol kemitraan militer teman tapi mesra. Karena kita berteman dengan siapa saja, sesuai dinamika dan kepentingan nasional kita. Ini salah satu makna bebas dan aktif.

****

Jagarin Pane / 10 Mei 2023


Tuesday, April 18, 2023

Memilah Persepsi Dan Perspektif Konflik Indo Pasific

Perubahan geopolitik dan geostrategis di Timur Tengah berubah cepat seperti pepatah " Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari". Dan yang membuat hujan perubahan itu adalah pesaing hegemoni AS, China. Betapa tidak, pada hari-hari belakangan ini pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi dan Iran serta penerimaan Suriah ke pangkuan liga Arab menjadi parfum wangi di tengah bulan suci Ramadhan. AS dan sekutunya NATO terkesima, salah tingkah dan mati angin. Sementara China memeluk prestasi diplomatik damai terbaik  di tengah menguatnya polarisasi dunia dan berkecamuknya perang Rusia-Ukraina.

Mari kita memilah persepsi dan perspektif potensi konflik di Indo Pasific. Persoalan kunci yang didefinisikan adalah soal Taiwan dan klaim nine dash line China di Laut China Selatan (LCS). Apakah hanya sekedar itu permasalahannya. Ternyata tidak. Dalam perspektif AS persoalan besarnya adalah persaingan hegemoni dengan semakin tergerusnya "nilai" AS di mata negara-negara dunia. Dalam upaya membendung "banjir bandang" kemampuan ekonomi dan militer China, AS dan sekutunya mengambil pola reaktif dan overdosis dengan membangun permusuhan ekonomi dan permusuhan militer. Khusus dalam bidang militer AS membentuk pakta nuklir AUKUS di Indo Pasific bersama saudara "satu trah anglo saxon", Inggris dan Australia. Kemudian mengajak Filipina untuk bersekutu dan membuka  7 pangkalan militer di negeri itu, mengantisipasi agresi militer China ke Taiwan dan ancaman ke LCS.

Dengan Indonesia, AS mengirimkan ribuan prajurit untuk latihan militer skala besar Garuda Shield di Sumsel, Kaltim dan Sulut. Mengirimkan pesawat tanker avtur US Air Force untuk simulasi pengisian BBM belasan F16 TNI AU di sepanjang selatan Jawa Timur. Mengirim pesawat intai strategis Poseidon untuk latihan bareng. Mengajak pasukan marinir Indonesia berlatih di markas USMC. Termasuk mengikutsertakan dan memberangkatkan prajurit Kostrad dari pangkalan militer Guam untuk terbang non stop dan diterjunkan di Puslatpur TNI AD Baturaja dengan 9 pesawat angkut berat.

Apa sih esensi permasalahan di LCS. Secara fakta batas laut Indonesia dan China bersinggungan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Natuna utara, bukan di perairan teritori 12 mil laut dari pantai Natuna. Juga ZEE Malaysia dengan ZEE kita, ZEE Vietnam dengan ZEE kita. ZEE Malaysia dengan ZEE Vietnam. Termasuk ZEE Malaysia, Brunai, Vietnam, Filipina dengan ZEE China. Perairan ZEE adalah perairan dimana sebuah negara  memiliki hak berdaulat untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut.  Artinya disamping klaim tumpang tindih ZEE dengan nine dash line China sesama negara ASEAN yang punya halaman LCS saling klaim juga tuh tapi tidak seheboh dan sedramatis dengan China.

Yang perlu diingat ZEE bukan kedaulatan teritori sebuah negara. Kedaulatan teritori perairan Indonesia adalah 12 mil laut dari garis pantai. Nine dash line China bertemu dan beririsan dengan ZEE Indonesia yang diakui UNCLOS 1982 dan sudah diratifikasi. Berita bagusnya, Indonesia dan Vietnam akhir tahun lalu mampu menyelesaikan secara final tumpang tindih klaim dengan perundingan yang durasinya bertahun-tahun. Artinya klaim tumpang tindih ZEE sejatinya bisa diselesaikan dengan cara beradab dan tak perlu pamer kekuatan otot militer. Indonesia dan Vietnam telah menunjukkan pada dunia kemampuan dan kecerdasan serta marwah diplomasinya untuk menyelesaikan klaim ZEE diantara keduanya.

Soal AUKUS yang tiba-tiba saja lahir "tanpa hamil duluan" alias tidak mengedepankan dialog dengan negara kawasan  ASEAN sesungguhnya adalah langkah tegap berwajah pucat. Sebagai jiran satu RW Indonesia bereaksi tegas pada jiran selatan ini yang telah melanggar status non proliferasi nuklir di kawasan. Lebih dari itu hanya karena respon yang berlebihan terhadap ancaman China di Indo Pasifik lantas membuat pakta nuklir "NATO Timur Jauh".  Boleh jadi pemberitaan soal keinginan Indonesia yang terkesan tiba-tiba untuk membeli 4 kapal perang destroyer type 052D dari China sebagai jawaban militer soal kehadiran AUKUS. Rencana beli ini yang mengemuka di pemberitaan bisa dicatat sebagai penegas posisi Indonesia yang non blok. Sekaligus untuk menempatkan dan memilah persepsi dan perspektif potensi konflik karena klaim secara proporsional.

Maka percepatan perkuatan otot militer Indonesia semakin memperjelas bahwa kita mengantisipasi konflik LCS sesuai porsi dan persepsi kita. Dalam pakem diplomatik Indonesia tidak bermusuhan dengan China. Indonesia tidak perlu seperti Filipina yang masuk dalam kategori aliansi militer dengan AS. Kita membangun kekuatan militer kita sepadan dengan luasnya wilayah teritori karena kita memang kekurangan aset alutsista. Bahkan kekuatan minimal saja belum tercapai. Kita membeli berbagai jenis alutsista dari berbagai negara adalah bagian dari strategi militer yang cerdas. Termasuk rencana beli destroyer 052D dari China. Yang terakhir ini kalau jadi, tentu membuat tetangga selatan berpikir lagi. Dan biarkanlah dia berpikir.

****

Jagarin Pane / 17 April 2023

Sunday, April 9, 2023

Berita Bawah Air Mulai Terang Benderang

Belum sepekan ada berita di CNN Indonesia, rencana pengadaan 4 kapal selam dengan total anggaran 2,1 milyar atau 31 trilyun. Kapal selam yang digadang-gadang adalah kombinasi made in Jerman dan Perancis, 2 kapal selam U214 dan 2 Scorpene. Saat ini Indonesia baru memiliki 4 kapal selam U209 yang kelasnya masih dibawah U214 Jerman atau Scorpene Perancis. Armada monster bawah air mutlak diperlukan sebagai salah satu kekuatan penggentar angkatan laut Indonesia. Kita tidak boleh abai dengan unsur kekuatan sistem senjata armada terpadu TNI AL ini. Potensi konflik di Indo Pasific termasuk Laut China Selatan adalah penguasaan wilayah laut dan udara. Mirip seperti perang Pasifik 80 tahun yang lalu.

Empat kapal selam yang dimiliki Indonesia saat ini belum menjadi kekuatan keunggulan. KRI Cakra 401 jenis U209 buatan Jerman misalnya sudah terlalu tua menjelajah jeroan laut kita. Sementara ketiga adik seperguruannya sama-sama U209 namun lain "dosen pembimbingnya", belum sampai pada penampilan memuaskan apalagi cum laude. Masih ada "mata kuliah" yang harus disempurnakan. Meski demikan ilmu transfer teknologi untuk membangun KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405 sangat bermanfaat bagi PT PAL. Contohnya overhaul KRI Cakra 401 di galangan kapal selam PT PAL Surabaya sukses dikerjakan oleh insinyur dan teknisi PT PAL dengan supervisi Daewoo Korsel.

Sekedar info, ilmu transfer teknologi yang paling efektif dan cepat daya serapnya adalah upgrade atau enhanced mid life update (eMLU) jet tempur F16 blok 15 TNI AU. Saat ini dari 10 F16 generasi tahun 1990 yang dibongkar total untuk diisi dengan infrastruktur dan software tempur modern sudah selesai 7 unit. Semuanya dilakukan oleh tenaga ahli dan teknisi TNI AU dengan supervisi Lockheed Martin AS. Pengerjaannya dilakukan di markas skadron teknik 042 Iswahyudi AFB. Hasilnya 7 unit F16 ini sudah menyandang teknologi tempur terkini beyond visual range dengan rudal AIM-120 AMRAAM. 

Soal pilihan untuk membeli aset kapal selam, dalam pandangan kita, memilih U214 bisa memberi manfaat ganda untuk TNI AL dan PT PAL. Bagaimanapun PT PAL sudah punya pengetahuan dan pengalaman. Termasuk penyerapan transfer teknologi ketika membangun 3 kapal selam Nagapasa Class U209 improved dengan guru pembimbing Daewoo Korsel. Meski performansi kapal selam tersebut belum optimal. TKMS Jerman yang nota bene mahaguru atau suhu nya pembuatan kapal selam di dunia tentu bisa mengurai aspek teknis untuk menggaharkan 3 kapal selam Nagapasa Class. Artinya PT PAL mendapat tambahan ilmu lagi untuk maintenancenya dan TNI AL bisa optimal mengoperasikannya.

Poin penting dari tulisan ini adalah menyegerakan percepatan pengadaan 4 kapal selam gahar ini. Momentumnya hanya ada di tahun sekarang. Proses pengadaan herder bawah air ini diharapkan bisa kontrak efektif tahun ini. Dalam prosesnya jelas ada tarik menarik unjuk performansi produk pabrikan. Namanya juga promosi untuk merebut simpati, wajar di dunia persaingan produsen bisnis alutsista. Selama proses pengadaan ini berlangsung publikasi marketing komunikasi Scorpene terlihat lebih mengemuka dibanding U214. Banyak media yang menyiarluaskan keunggulan dan nilai tambah Scorpene. Naval Group mengadakan acara presentasi performansi Scorpene di kapal perang LHD Perancis yang sedang berkunjung ke Jakarta baru-baru ini. Sementara TKMS produsen U214 Jerman hampir tidak pernah terdengar marketing komunikasi publikasinya.

Jika keduanya, Scorpene dan U214 menjadi pilihan bersama, ini merupakan keputusan win-win solution. Kapal selam U214 dapat menjadi "induk maintenance" bagi 4 kapal selam yang kita miliki yang sama-sama berbasis Jerman. Sementara pilihan kepada teknologi Scorpene adalah strategi untuk kerahasiaan teknologi. Dan tidak terpengaruh dari bayang-bayang teknologi U218 SG milik Singapura. Yang menggembirakan berita bawah air mulai terang benderang karena sudah ada penetapan sumber pembiayaannya (PSP) dari Kementerian Keuangan.

Kita menyambut riang gembira suasana terang benderang ini apabila terlaksana acara puncak yang bernama kontrak efektif. Sama benderangnya dengan puncak acara HUT TNI ke 77 tanggal 9 April 2023 di Halim AFB yang spektakuler dan digdaya. Menhan Prabowo, Presiden ke 5 Megawati, Ketua DPR Puan Maharani, Panglima TNI, Kapolri dan undangan lainnya berjoget bersama mengikuti lantunan lagu "Ojo dibandingke" dan saling bersalaman sumringah diakhir acara. Suasana terang benderang dengan udara cerah ini sejatinya adalah suasana kita bersama hari-hari ini dengan berita terang benderang soal pengadaan kapal selam gahar dan berbagai jenis alutsista lainnya. Semoga dimudahkan.

****

Jagarin Pane / 09 April 2023

Sunday, March 26, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

 (Bagian Kedua-Habis)

Perubahan geopolitik dan geostrategis yang begitu cepat di Timur Tengah membuat dunia terperangah. Setelah Arab Saudi-Iran saling berpelukan, beberapa negara Arab sudah membuka diri untuk menerima kembali Suriah yang sudah bonyok ke pangkuan Liga Arab. Yaman yang babak belur dibombardir Arab Saudi dipastikan akan menjadi negeri damai sentosa karena Iran dan Arab Saudi sudah baikan. Dan semua perubahan cepat yang terjadi ini bukan karena campur tangan AS, murni inisiatif mereka sendiri sesama warga kelurahan Timur Tengah. 

Arab Saudi sudah mulai menjauh dari AS. Ingin lepas dari pengaruh Washington yang selalu mendikte. Terkini, salah satu penyebabnya karena pemaksaan kehendak soal minyak OPEC yang harus mengikuti kehendak Pakde Sam soal kuota dan harga lewat RUU yang sedang dipersiapkan. Lucu juga ya kok sibuk ngurusin bisnis negara lain lewat UU dia. Ini juga salah satu bentuk kekonyolan dari pemegang hegemoni yang belakangan ini terkesan panik dan emosional.

Penghancuran jalur pipa gas Nord Stream 2 tanggal 26 September 2022 diyakini adalah hasil karya penguasa hegemoni. Jerman sebagai tujuan penyaluran sumber daya energi dari Rusia ini tentu merasa terpukul tanpa bisa berkata apa-apa. Karena Jerman anggota NATO meski sejarah perang dunia kedua, Hitler Jerman yang diluluhlantakkan pasukan sekutu. Artinya mereka adalah negara yang kalah perang. Harus tunduk dan patuh dengan pemenang perang ketika negaranya dibagi dua. Jerman Barat ikut NATO dan Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.  Jalur pipa Nord Stream yang menghubungkan Rusia dan Jerman melalui laut Baltik untuk memenuhi kebutuhan energi beberapa negara Eropa Barat.

Demikian juga ketika tembok Berlin dirubuhkan tahun 1991 sebagai lambang penyatuan Jerman,  tetap harus menjadi anggota NATO.  Padahal Pakta Warsawa sudah membubarkan diri. Ekspansi yang terus menerus inilah yang kemudian dibaca Rusia sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya. Banyak negara pecahan Uni Sovyet yang sudah bergabung dengan NATO. Terakhir Ukraina dibujuk untuk menjadi anggota NATO. Ini adalah ketersinggungan harga diri bagi Rusia. Bagaimanapun Rusia dan Ukraina adalah sejarah kebersamaan yang panjang. Jarak Moskow ke Ukraina hanya seukuran jarak Jakarta-Surabaya. Artinya bergabungnya Ukraina ke NATO adalah ancaman militer langsung ke jantung Moskow.

Sejarah kemudian yang akan membuktikan apakah pergantian kepemimpinan hegemoni akan berlangsung mulus atau melalui perang besar-besaran. Perang Rusia-Ukraina adalah ujian ketrampilan dan penentunya. Kemudian kekuatan ekonomi China sebentar lagi akan menyalip AS sementara kekuatan militer China tumbuh menjadi kekuatan terbesar di Asia Pasifik. Untuk mengantisipasinya tiga negara bersaudara Anglo Saxon AS, Inggris dan Australia membentuk pakta nuklir AUKUS, markasnya di Australia. Pertanyaan sebenarnya mau kemana dunia ini dibawa kalau tidak sedang menuju konflik besar yang akan  menghancurkan peradaban bumi. Atau karena ingin mempertahankan status quo hegemoni.

Mengapa persekutuan hegemoni semakin memudar menurut pandangan kita lebih disebabkan karena kebisingan dan sikap-sikap tidak simpatik mereka sendiri. Statemen-statemen yang dikeluarkan dominan bernada ancaman dan paksaan yang menimbulkan antipati berbagai negara. Termasuk melakukan proxy war dan framing. ISIS adalah contohnya dan dunia sempat terkecoh. Termasuk soal senjata pemusnah masal Irak yang ternyata tidak pernah terbukti.

Peta bipolar atau bahkan multipolar geopolitik dan geostrategis dunia sedang berproses. Perang Rusia Ukraina adalah pembuka alineanya. Netizen dunia mengikuti dengan cermat seluk beluk penyebab dan hingar bingarnya termasuk berita-berita hoaxnya. Misalnya ketika KTT G20 di Bali sedang berlangsung Ukraina membuat berita hoax paling memalukan. Dia bilang rudal Rusia menyerang dan meledak di teritori Polandia. Padahal setelah diselidiki ternyata rudal Ukraina yang melenceng ketika ingin menangkis serangan Rusia.

Para pemimpin NATO yang hadir di Bali sempat rapat darurat untuk mengambil sikap bersama. Karena jika ada anggota NATO diserang maka itu adalah deklarasi perang terhadap seluruh anggota NATO. Benar-benar genting suasananya. Dan ternyata hoax. Presiden AS sendiri yang mengatakan bahwa yang meledak itu bukan rudal Rusia. Zelensky memang pintar menjalankan framing pertempuran, padahal negerinya sudah luluh lantak, jutaan rakyatnya sudah mengungsi. Ironinya negerinya sendiri yang jadi korban proxy dari aliansi yang ingin memperluas keanggotaannya.

Pada akhirnya memang dunia membutuhkan keseimbangan, berpasangan dan saling membutuhkan. Sama halnya ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada laki-laki ada perempuan. Termasuk informasi butuh konfirmasi agar tidak terjadi framing dan pembenaran sepihak. Dunia unipolar sudah membuktikan adanya ketidakseimbangan, keangkuhan, keberpihakan dan kesewenang-wenangan. Kita sedang menuju dunia bipolar atau bahkan multipolar. Dan perjalanan ke arah itu akan penuh dengan goncangan dan turbulensi. Pada akhirnya kita akan landing di bandara bipolar atau tetap unipolar atau bahkan tidak pernah landing lagi. Waktu yang akan menjawabnya.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2023


Friday, March 24, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

(Bagian Satu Dari Dua Tulisan)

Pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran merupakan kado indah Ramadhan 1444 H. Sebuah langkah besar dan bersejarah dari kedua bangsa besar muslim yang difasilitasi bangsa besar jua, China. Ini terjadi ditengah berkecamuknya perang besar Rusia-Ukraina berdurasi tahunan di benua paling modern di dunia, benua biru Eropa. Jabat tangan dua negara muslim paling berpengaruh di Timur Tengah di Beijing merupakan pukulan diplomatik paling menyesakkan bagi pemegang sabuk hegemoni, Amerika Serikat.

Sebenarnya AS sudah dan sedang memindahkan aset militernya dari kawasan Timur Tengah menuju Indo Pasifik. Di kawasan Asia Pasifik ini ada sang naga yang sedang bergeliat sebagai pesaing hegemoninya dalam segala dimensi, China. Timur Tengah dalam pandangan geopolitik dan geostrategis AS tidak lagi menjadi prioritas karena beberapa negara Arab sudah membuka pintu hubungan diplomatik dengan Israel. Catatannya adalah Suriah sudah babak belur namun AS gagal menggulingkan Bashar Al Assad. Presiden Irak Saddam Husein, dan pemimpin Libya Moammar Khadafy sudah dihabisi. Ironinya alasan menggempur Irak dan menggantung Saddam Husein tidak pernah terbukti yang katanya mempunyai dan menggunakan senjata pemusnah massal. Dan Iran-Arab Saudi dibiarkan berkonflik panjang di medan pertempuran Yaman. Dan ternyata mereka berjabat tangan untuk berdamai.

Kemudian masih segar dalam ingatan kita  ketika AS tiba-tiba saja angkat kaki meninggalkan Afghanistan akhir Agustus 2021 setelah duapuluh tahun menguasai negeri Mullah itu. Cabut begitu saja tanpa pamit meninggalkan aset perang milyaran dollar. Pasukan Taliban mendapat rezeki nomplok mengambil alih pemerintahan Afghanistan dan menguasai alutsista AS. Itu artinya secara defacto Taliban mampu mengalahkan AS di Afghanistan. Ini sama kondisinya  dengan kekalahan AS dalam perang panjang di Vietnam yang berakhir tahun 1975. AS harus angkat kaki dari Saigon.

Perlahan tapi pasti abrasi pantai hegemoni AS mulai tergerus. Kekuatan ekonomi, teknologi dan militer China sedang menuju puncak klasemen. Menghadapi peta perubahan ini pemilik hegemoni dan sekutunya cenderung panik menghadapi takdir sejarah Samuel Huntington ini. Seperti dalam persaingan teknologi, menangkap dan menahan Direktur Keuangan Huawei di Vancouver Kanada tahun 2018 dengan alasan bla bla bla merupakan contoh kepanikan menyikapi persaingan bisnis kemajuan teknologi 5G China yang lebih maju. Jika alasannya Huawei berbisnis dengan Iran yang berarti melanggar sanksi AS mestinya tidak juga sampai harus menahan putri pendiri Huawei itu. Netizen dunia mulai paham dengan kekonyolan pemilik hegemoni dan sekutunya.

Potensi persekutuan militer China, Rusia, Iran dan Korut sangat mungkin terhidang di karpet peta dunia yang labil saat ini. Bahkan potensi pengembangbiakan perang Rusia Ukraina bisa berlanjut menjadi Perang Dunia Ketiga. Modalnya hanya pencet tombol nuklir. Misalnya jika Rusia didesak terus, ditekan, dikucilkan, bahkan Putin mau ditangkap sebagai penjahat perang. Ini mengarah pada road map yang jelas, perang nuklir. Sejarah panjang Rusia bisa menjadi standar penilaian bahwa bangsa ini sangat militan, pantang menyerah. Ingat perang dunia kedua ketika Rusia menggempur Jerman, duluan sampai di Berlin mendahului pasukan AS dari Normandia Perancis. Ini yang menyebabkan Berlin dibagi dua setelah perang dunia kedua. Eropa Timur membentuk Pakta Warsawa dan Eropa Barat, AS mendirikan NATO. Jerman dibagi dua, Jerman Barat masuk NATO, Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.

Mengapa pemilik hegemoni yang mengatur dunia secara unipolar tergerus abrasi. Faktor utamanya adalah munculnya kekuatan ekonomi dan teknologi China yang tumbuh menjulang cemerlang. Termasuk kekuatan militer China yang semakin hebat. Faktor lain lebih kepada pemaksaan kehendak dari pemilik hegemoni dan sekutunya demi kepentingan sepihak. Karena tidak punya pesaing bandul bipolar cold war setelah bubarnya Uni Sovyet dan Pakta Warsawa tahun 1990, AS dan sekutunya bebas leluasa menentukan peta geopolitik dan geostrategis. Fokusnya Timur Tengah dengan mengaduk adonan proxy, menyulut perang Teluk jilid satu dan dua, menyerang Libya, menggempur Suriah, membentuk ISIS, melakukan framing proxy ke Arab Saudi untuk menyerang Yaman karena ada milisi Houti yang didukung Iran. 

Sementara itu di belahan bumi yang lain, China mulai menunjukkan geliat naga nya dengan kemajuan ekonomi dan militernya. China menguatkan klaim nine dash line nya di Laut China Selatan dengan membangun sejumlah  pangkalan militer  di kepulauan karang atol Spratly dan Paracel. Mengerahkan coast guard dan kapal perang untuk menggertak Vietnam, Filipina dan Indonesia. Juga dengan Taiwan sudah sampai pada tahap persiapan penyerbuan. Maka dalam pandangan geostrategis dan geopolitik AS, Indo Pasifik akan menjadi konsentrasi kekuatan militer AS untuk melawan China. Paman Sam membentuk pakta nuklir AUKUS dengan Inggris dan Australia, membuka 7 pangkalan militer di Filipina, membolehkan Jepang menguatkan angkatan bela diri menjadi kekuatan militer ofensif dan menguatkan Taiwan dengan ratusan aset perang.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 23 Maret 2023

Wednesday, March 15, 2023

Belanja Alutsista Terbesar

Investasi Pertahanan Indonesia 

Terbesar Lima Tahun Terakhir

(Perkiraan Anggaran US$ 25 Milyar)


  1 Korvet VVIP KRI Bung Karno 369 dari GSN

  2 Kapal Offshore Patrol Vessel dari GSN

  4 Kapal Landing Ship Tank dari GSN

  6 Kapal Patroli Cepat dari GSN

  1 Kapal Tanker BCM dari GSN

  1 KCR Trimaran KRI Golok 688 dari GSN

  2 Kapal LPD Rumah Sakit dari PT PAL

  3 Kapal Cepat Rudal 60m dari PT PAL

  2 Heavy Fregate Arrowhead 140m PT PAL

  6 Heavy Fregate Fremm 140m dari Italia

  2 Fregate Maestrale dari Italia

  3 Korvet Pohang Class dari Korsel

  2 Kapal pemburu ranjau dari Jerman

  2 Kapal selam Scorpene dari Perancis

42 jet tempur Rafale dari Perancis

12 jet tempur Mirage dari Perancis

  6 jet latih tempur T50 dari Korsel

  3 pesawat latih KT-1 Wong Bee dari Korsel

  2 pesawat Falcon 8x dari Perancis

  2 Pesawat MRTT A400M dari Airbus

  5 Pesawat Super Hercules dari AS

14 Radar GCI Thales dari Inggris

  2 Radar pasif Vera Ng dari Ceko

  2 Pesawat AEW&C

  6 Pesawat amfibi CL515 dari Kanada

  4 Pesawat CN235 MPA dari PT DI

  2 Satbak Rudal SAM Nasam dari Norwegia

  3 Satbak Rudal SAM MR dari Turki

  3 Satbak Rudal SAM LR dari Turki

  3 Satbak Rudal Khan S to S dari Turki

12 UCAV Anka dari Turki

12 UCAV Bayraktar dari Turki

14 UAV Scan Eagle dari AS

  9 Helikopter Bell 412 Epi dari PT DI

  8 Helikopter EC725 Cougar dari PT DI

  1 Infrastruktur NCW dari Yunani

18 Tank Harimau dari Pindad

23 Panser Badak dari Pindad

22 Panser Pandur (Cobra) dari Ceko

15 Ranpur Bushmaster dari Australia

50 Ranpur Komodo dari Pindad

40 MLRS Vampire dari Ceko

Keterangan:

*GSN : Galangan Kapal Swasta Nasional

  NCW: Network Centric Warfare


****

Jagarin Pane / 15 Mar 2023

(Dari berbagai sumber)

Wednesday, March 8, 2023

PT PAL Menuju Industri Pertahanan Kelas Dunia

Kontrak besar senilai US$ 408,32 juta diperoleh PT PAL Indonesia di ajang IDEX (International Defence Exhibition & Conference) 2023 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA). Pameran industri pertahanan berkelas ini digelar tanggal 20-24 Pebruari 2023. Nilai ini adalah untuk kontrak efektif, bukan lagi sekedar MOU, untuk pembangunan kapal perang jenis LPD gede banget 163 meter pesanan sahabat baik Indonesia, UEA. Dan kontrak ini adalah awal dari kerjasama strategis kedua negara, kerjasama industri pertahanan skala besar antara Indonesia dengan salah satu negeri Arab yang kaya raya, UEA. 

Karier ekspor PT PAL di pasar internasional diawali dengan pesanan 2 kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel) untuk angkatan laut Filipina beberapa tahun yang lalu. Negeri jiran utara kita ini ternyata puas banget dengan performansi kapal perang buatan Surabaya. BRP Tarlac 601 yang diserahkan tahun 2016 dan BRP Davao Del Sur 602 setahun kemudian, sudah pula menunjukkan kemampuan battle proven di pertempuran Marawi Filipina Selatan yang sangat heroik itu pada tahun 2017. Kemudian Manila kembali memesan 2 unit lagi. Saat ini sedang dalam proses pembangunan oleh SDM insinyur dan teknisi perkapalan PT PAL.

PT PAL mendapat ilmu dan teknologi pembuatan kapal LPD dari Korea Selatan ketika order 4 kapal perang "Makassar Class". Dua unit dibuat di Korsel yaitu KRI Makassar 590 dan KRI Surabaya 591. Dua unit terakhir yang dibangun di PT PAL adalah KRI Banjarmasin 593 dan KRI Banda Aceh 594. Kemudian BUMN industri pertahanan matra laut ini mendapat pesanan lagi dari TNI AL untuk membangun LPD "Makassar Class" yang kelima yaitu KRI Semarang 594, dan 2 kapal rumah sakit yaitu KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991 dan KRI Rajiman Wedyodiningrat 992. Semua hasil karya besar ini karena limpahan rezeki dan karunia dari program strategis nasional, minimum essential force (MEF) TNI yang dimulai sejak tahun 2010 sampai sekarang.

Tidak itu saja, dalam bingkai MEF, PT PAL juga sudah mendapatkan transfer teknologi dari DSME Korsel dalam kerjasama pembuatan 3 kapal selam "Nagapasa Class. Dua kapal selam dibuat di Korsel yaitu KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibuat di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah operasional. Kemudian PT PAL dengan Damen Schelde Belanda sukses membangun 2 kapal perang light fregate "Martadinata Class" yaitu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. Untuk kapal kombatan "little but lethal" alias cabe rawit, PT PAL sudah menyelesaikan pembangunan 6 kapal cepat rudal (KCR) 60 meter "Sampari Class". Ke depan pembuatan KCR akan diserahkan ke galangan kapal swasta nasional seperti PT Lundin Banyuwangi. Perusahaan ini terbukti sukses membangun KCR trimaran KRI Golok 688 dan tank boat Antasena.

Kesibukan PT PAL saat ini dan kedepan luar biasa untuk memenuhi pesanan pembuatan kapal perang. Mendapat amanah dari Kemenhan menjadi lead integrator untuk modernisasi 41 kapal perang TNI AL bersama seluruh galangan kapal swasta nasional yang sudah teruji membangun kapal perang LST, KCR, KPC, BCM, KAL. Saat ini PT PAL mulai membangun 2 unit kapal perang striking force terbesar heavy fregate "Merah Putih" kerjasama dengan Babcock Inggris. Bersamaan dengan itu juga sedang bersiap membangun 2 kapal perang SSV pesanan Filipina.

Sebagai informasi, industri pertahanan  plat merah yang lain, PINDAD sejauh ini sudah memproduksi 400 panser Anoa. Saat ini PINDAD sedang menyelesaikan pembuatan tank Harimau dan sudah menyelesaikan produksi panser kanon Badak. Semuanya untuk memperkuat TNI AD. Sementara PT DI sudah berjaya memproduksi pesawat CN235 untuk militer Indonesia dan sudah mengeskpor puluhan unit CN 235 ke berbagai negara. Saat ini PT DI sedang mempersiapkan infrastruktur untuk proyek paling strategis, kerjasama pengembangan teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel. Puluhan tenaga ahli Indonesia sudah sejak lama menimba teknologi KFX/IFX di Korsel termasuk 2 pilot saat ini sedang mempersiapkan menerbangkan 1 prototype KFX/IFX ke Indonesia tahun ini. Jika semuanya berjalan lancar tahun 2026 akan dimulai produksi massal. TNI AU akan memperoleh minimal 40 jet tempur generasi 4,5 ini sesuai perjanjian.

Geliat gairah PT PAL saat ini berkat kerja cerdas, pintar dan lincah dari seorang ahli perkapalan berkelas internasional. Dia adalah Dr Kaharuddin Jenod yang ditarik pulang Menhan Prabowo dari Jepang untuk diserahi tugas mengembanghebatkan industri pertahanan PT PAL. Jenod kuliahnya made in Jepang semuanya mulai dari S1, S2 dan S3. Karya dan hak paten desain perkapalannya menjadikan dia SDM bergaji mahal di Jepang. Setelah memimpin PT PAL sejak April 2021 bersama tim direksinya mereformasi budaya kerja menuju world class industry. Ungkapannya yang terkenal adalah: "PT PAL itu adalah gajah namun selalu dipersepsikan kambing, sehingga SDM nya menganggap kambing". Mindset ini yang dirombak total pria Makassar kelahiran Surabaya tahun 1971 itu. Karya besar PT PAL sudah menanti. Membuat kapal selam midget nir awak dengan kemampuan artificial intelligent. Para insinyur saat ini sedang mendesain kapal perang korvet dan kapal rumah sakit untuk UEA. Juga sedang merancang kapal induk helikopter (LHD) untuk TNI AL. Luar biasa.

Kerjasama industri pertahanan strategis PT PAL  dengan perusahaan UEA sangat didukung oleh kedekatan hubungan persahabatan yang sangat erat G to G keduanya. Termasuk kedekatan personal antara dua petinggi negara. Di UEA ada jalan raya bernama Presiden Joko Widodo. Di Indonesia ada jalan tol layang Jakarta Cikampek bernama Syech Muhammad Bin Zayed (MBZ). Di Solo sudah dibangun masjid besar dan megah bernama Masjid MBZ. Masjid raya ini dibangun dengan duit jutaan dollar dari negeri kaya raya nan berkah itu. Termasuk pengelolaan dan pemeliharaannya. Bahwa memang benar memperkuat silaturrahim akan mendatangkan banyak manfaat termasuk karunia rezeki. Kedekatan hubungan personal antara Presiden Indonesia dan Presiden UEA yang sama-sama kelahiran tahun 1961 membuka ruang besar yang bernama karunia kerjasama strategis pertahanan milyaran dollar. Alhamdulillah.

****

Jagarin Pane / 8 Maret 2023

Saturday, March 4, 2023

Aset KPC 40 M TNI AL Terbaru

TNI AL membangun kekuatan armadanya dengan pengadaan aset kapal perang striking force heavy fregate, light fregate, korvet, kapal selam, kapal cepat rudal, kapal cepat torpedo dan kapal patroli cepat. Untuk kapal patroli cepat  sebagai bagian dari sistem senjata armada terpadu (ssat) sampai hari ini TNI AL sudah memperoleh 19 unit. Dalam program minimum essential force sampai tahun 2024 target perolehan aset kapal patroli cepat adalah 24 unit. Semuanya adalah produksi industri pertahanan galangan kapal swasta nasional. Ini rinciannya, dan semuanya menyematkan nama ikan yang ada di perairan Indonesia :

1.    KRI Pari 849

2.    KRI Sembilang 850

3.    KRI Sidat 851

4.    KRI Cakalang 852

5.    KRI Tatihu 853

6.    KRI Layaran 854

7.    KRI Madidihang 855

8.    KRI Kurau 856

9.    KRI Torani 860

10.  KRI Lepu 861

11.  KRI Albakora 867

12.  KRI Bubara 868

13.  KRI Gulamah 869

14.  KRI Posepa 870

15.  KRI Escolar 871

16.  KRI Karotang 872

17.  KRI Mata Bongsang 873

18.  KRI Dorang 874

19.  KRI Bawal 875

Semakin berkibar merekah industri pertahanan galangan kapal swasta nasional kita untuk mewujudkan kemandirian produksi alutsista. Saat ini ada yang sedang membuat OPV, LST, BCM, KAL, ADRI dan lanjutan kapal patroli cepat. Ada juga yang sedang mempersiapkan pengerjaan modernisasi 41 KRI eksisting. Semua keberhasilan ini patut kita apresiasi.

****

Jagarin Pane

Tuesday, February 21, 2023

Menunggu Fremm Mogami

Matahari duaribu duapuluhtiga menjelang akhir Pebruari. Meski lebih banyak mendung dan hujannya, sinarnya tetap mampu menghangatkan daun hijau flora sembari menanti berbuah. Sama halnya dengan menanti dan menunggu sebuah kepastian akan kelanjutan serial Fremm dan Mogami, apakah jadi merekah berbuah. Bibitnya sudah ditanam sejak tahun 2021 dan sejauh ini karena pandemi Covid tersendat persemaiannya. Dan kita saat ini menunggu pertumbuhan berita gembiranya.

Berkali-kali kita sampaikan di berbagai artikel dan seminar, bahwa kita harus bergegas dan bertegas diri untuk menguatkan teritori. Dinamika konflik kawasan, peta geopolitik dan geostrategis adalah fakta on the spot yang sudah dan sedang terjadi. Jangan lagi ngomong tidak ada musuh 20 tahun ke depan bla bla bla. Bahwa dengan demikian satu-satunya jalan untuk mengejar ketertinggalan ketersediaan alutsista, Indonesia harus extra ordinary dalam program percepatan perolehannya. Oleh sebab itu pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm dan menyusul 8 heavy fregate Mogami merupakan credit point langkah strategis extra ordinary. Negara kepulauan terbesar di dunia ini harus memilik armada angkatan laut yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan. Tidak bisa tidak.

Fincantieri Italia, perusahaan pembuat kapal perang ternama, pertengahan tahun 2021 melalui MOU dengan Kemenhan RI telah bersedia membangun 6 heavy fregate Fremm Class untuk Angkatan Laut Indonesia. Termasuk memasok 2 kapal perang fregate "siap pakai karena bekas pakai" Maestrale Class sambil menunggu penyelesaian pembangunan Fremm (Fregate Europe Multi Mission). Ini berita yang menyenangkan dan membanggakan. Beberapa bulan kemudian Mitsubishi Jepang bersedia juga membangun 8 unit heavy fregate Mogami Class. Skenarionya 4 unit dibangun di Jepang. 4 unit lainnya dibangun di Indonesia.

Kedua berita tahun 2021 ini bergaung luas di kalangan netizen forum militer tanah air. Kesannya adalah spektakuler dan disambut hangat bercampur bangga. Perhitungannya adalah ada penambahan 16 unit kapal perang heavy fregate. Dengan rincian 2 unit Arrowhead Iver Class yang sedang dibangun di PT PAL, 6 unit Fremm Class dan 8 unit Mogami Class. Ditambah 2 unit Maestrale Class dan 2 unit Martadinata class yang sudah operasional. Dengan perhitungan 5 fregate sepuh Ahmad Yani Class  pensiun, maka gambaran ke depan kita bakal punya 20 kapal perang striking force fregate. Menjadikan kita sebagai negara dengan kekuatan angkatan laut terbesar di ASEAN. Ketersediaan aset 20 KRI berkualifikasi fregate diyakini dapat menjadi kekuatan diplomasi militer Indonesia di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Begitu besar harapan kita dengan realisasi pengadaan alutsista matra laut ini. Namun memang semuanya harus diperhitungkan cermat karena pandemi selama dua tahun ini menguras stamina anggaran nasional. Rasio hutang terhadap PDB sebelum pandemi ada di kisaran 30% meningkat 40% selama pandemi. Imbasnya adalah Kementerian Keuangan harus melakukan seleksi ketat dalam PSP (penentuan sumber pembiayaan) belanja investasi alutsista. Dalam Undang Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio hutang terhadap PDB masih diperkenankan sampai limit 60%. Secara bertahap kita melihat sepanjang tahun 2022 ada beberapa kali penerbitan PSP Kemenkeu untuk anggaran pembelian jet tempur Rafale dan lain-lain. Berangkat dari terbitnya serial PSP tahun 2022,  kita optimis tahun ini akan terbit PSP untuk Fremm dan Mogami secara bertahap.

Untuk mengantisipasi terjadinya konflik berskala besar di kawasan LCS, kapal perang berkualifikasi fregat adalah standar minimal yang harus tersedia disamping kekuatan pukul bawah air yaitu kapal selam. Skenario pertempuran di Indo Pasifik khususnya LCS, jika terjadi, adalah pertempuran laut dan udara sebagaimana perang Pasifik dalam serial Perang Dunia II. Ini berbeda dengan perang Rusia Ukraina saat ini yang  merupakan perang darat. Sejauh ini kekuatan striking force TNI AL bertumpu pada 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Bung Tomo Class, 5 KRI Ahmad Yani Class ,4 KRI Diponegoro Class dan 4 kapal selam. Kekuatan ini masih belum memenuhi kriteria minimum essential force untuk mengawal perairan Indonesia yang sangat strategis. 

Oleh sebab itu eksekusi final program percepatan pengadaan alutsista strategis kapal perang heavy fregate Fremm dan Mogami adalah harapan besar yang dinanti dan ditunggu. Meski prediksi jumlah yang akan diperoleh tidak sebesar perjanjian awal MOU. Misalnya hanya 4 unit Fremm dan 4 unit Mogami yang akan diproses dalam kontrak efektif, semuanya akan dimaklumi. Semua pihak, Fincantieri dan Mitsubishi serta TNI AL diyakini merasa lapang hati dengan proses final ini. Angkatan Laut Indonesia adalah kekuatan garis depan dalam potensi konflik berskala besar di LCS dan Indo Pasifik. Negara di kawasan regional semuanya sudah bersiap, Filipina, Vietnam,  Australia, Jepang, Korsel, Taiwan dan AS. Maka kita pun layak dan harus bersiap dengan memperkuat alutsista untuk melindungi teritori NKRI sekaligus sebagai investasi pertahanan. Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

****

Jagarin Pane / 21 Pebruari 2023


Thursday, February 16, 2023

Kapal Cepat Rudal

PT PAL pekan ini kembali meluncurkan produk ke enam kapal cepat rudal 60 meter paket lengkap, diberi nama KRI Panah 626. Persenjataan utama nantinya dilengkapi dengan peluru kendali anti kapal permukaan Exocet blok 3.

Sampai hari ini TNI AL sudah memiliki 14 kapal cepat rudal produksi dalam negeri. 8 unit yang lain dari "Clurit Class" merupakan produksi PT Palindo Batam. Kapal cepat rudal adalah alutsista "hit and run" yang diperlukan dalam sistem senjata armada terpadu TNI AL. Seluruhnya diberi nama senjata tajam tradisional Indonesia

CLURIT CLASS 40 meter (Buatan PT Palindo Batam)

KRI Clurit 641

KRI Kujang 642

KRI Beladau 643

KRI Alamang 644

KRI Surik 645

KRI Siwar 646

KRI Parang 647

KRI Terapang 648


SAMPARI CLASS 60 meter (Buatan PT PAL Surabaya)

KRI Sampari 628

KRI Tombak 629

KRI Halasan 630

KRI Kapak 625

KRI Panah 626

KRI Kerambit 627

Yang menarik, berbagai jenis kapal perang TNI AL seperti kapal cepat rudal, kcr trimaran, kapal patroli cepat, korvet, landing ship tank, landing platform dock, tanker bcm, dan bahkan kapal selam sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini PT PAL sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate "merah putih" 140 meter. Luar biasa kemajuan industri pertahanan kita khususnya matra laut. Tapi biasanya berita bagus seperti ini tidak menjadi perhatian kita.

****

(Jagarin Pane/ 16 Feb 2023)

Friday, February 3, 2023

Bergegas Atur Strategi Militer

Kesepakatan baru tanggal 2 Februari 2023 antara AS dan Filipina untuk menyediakan akses 4 pangkalan militer Filipina sebagai "pangkalan aju" militer AS adalah langkah strategi penting. Strategi mempersiapkan palagan paling mematikan jika terjadi pertempuran hebat di kawasan Indo Pasifik. Selama ini bagi AS dan sekutunya di Timur Jauh, ketiadaan akses pangkalan militer di Filipina seperti mata rantai "bulan sabit" yang terputus alurnya. Mulai dari Panmunjom Korsel, Okinawa Jepang, Hawaii, Guam, Taiwan, Darwin Australia dan Kokos di Samudra Hindia. 

Aliansi militer AUKUS antara AS, Inggris dan Australia sudah lebih dulu dibentuk dengan Australia sebagai garda terdepan menghadapi China. Program cepat sajinya adalah mempersenjatai Australia dengan armada kapal selam bertenaga nuklir dan berpotensi membawa senjata nuklir. Aliansi satu nasab "anglo saxon" ini bersama Taiwan, Jepang, Korsel, Kanada sejatinya sudah membentuk NATO Timur Jauh. Karena sesungguhnya yang pantas berhadapan secara militer dengan China adalah aliansi ini. Sementara Jepang sudah mendapat "lampu hijau" dari AS untuk memperkuat militernya dari defensif menuju ofensif.

Jika AS dan sekutunya bergegas atur strategi abcd, penantang hegemoninya tidak tinggal diam. Hanya beda cara. Kalau AS dan sekutunya cenderung show of force, berkesan psywar maka gaya diplomasi militer China sedikit bicara banyak kerja. Dengan Rusia sudah ada aliansi strategis untuk langkah dan kepentingan bersama. Apalagi dengan Korea Utara, sudah menjadi sekutu tradisional China. Sementara Rusia dengan Iran sudah seperti kakak adik dalam perang di Ukraina. Demikian juga antara Iran dan China. Korea Utara sudah terang-terangan bersekutu dengan Rusia dalam perang di Ukraina. Maka jika 4 negara ini China, Rusia, Iran, Korut membentuk aliansi militer skala penuh maka bisa dipastikan persekutuan militer barat menjadi mendapat rival tanding yang sepadan.

AS pernah mendapat akses militer penuh untuk pangkalan militer besar di Clark AFB dan Subic Navy Base di Filipina. Dua pangkalan militer ini menjadi home base utama untuk menggempur pasukan Vietnam Utara dan Vietcong dalam perang Vietnam selama 15 tahun. Meski akhirnya AS harus menelan kekalahan paling menyakitkan dan angkat kaki secara militer dari Vietnam tahun 1975. Setelah Presiden Ferdinand Marcos digulingkan, mayoritas rakyat Filipina tidak menghendaki kehadiran militer AS di negerinya. Akhirnya kedua pangkalan militer legendaris itu ditutup abadi. 

Nah, Kamis 2 Februari 2023 kemarin putranya Ferdinand Marcos, Bongbong Marcos Jr yang baru terpilih menjadi Presiden Filipina bersetuju membuka akses 4 pangkalan militer di negerinya. Tiga pangkalan militer terletak di pulau Luzon dan satu lainnya di pulau Palawan. Ini semata-mata karena kepentingan nasionalnya yang terancam karena dinamika Laut China Selatan (LCS) yang semakin memanas. Namun penggunaan 4 pangkalan militer itu tidak sama seperti yang dulu yang mengakibatkan dampak sosial dan asusila bagi rakyat Filipina di sekitar pangkalan militer terbesar di Asia saat itu.

Bagaimana dengan Natuna. Menurut AS jelas bagian dari strategi militer bulan sabit meski tidak ada akses militer asing ke pangkalan militer di Natuna. Bagi Indonesia, Natuna adalah benteng teritori paling bergengsi dan strategis, maka dibangunlah pangkalan militer tiga matra. Dalam kesehariannya konvoi kapal perang berbagai negara wira wiri, terus menerus, bergantian bahkan berpapasan di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) kita di Natuna. Perairan ZEE sah dilintasi pelayaran internasional sebagaimana diatur konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982. Yang tidak boleh adalah mengeksplorasi dan mengambil sumber daya alam yang ada di ZEE tersebut kecuali negara yang diakui berdaulat. Indonesia diakui berdaulat di ZEE 200 mil laut namun ZEE bukan bagian dari kedaulatan teritori sebuah negara. Kedaulatan teritori laut Indonesia adalah 12 mil dari garis pantai.

Mengantisipasi dinamika dan demam berkepanjangan di LCS maka diplomasi militer Indonesia adalah mengembangkan kekuatan laut dan udara seoptimal mungkin. Perang di Ukraina memberikan pelajaran penting bahwa kekuatan pertahanan harus dibangun dari diri sendiri. Meski dalam strategi militer kawasan, Indonesia diklaim sebagai bagian dari aliansi "teman tapi mesra" AS. Namun pembangunan kekuatan pertahanan adalah marwah dan harga diri kita. Sejarah kebangsaan kita adalah sejarah marwah dan martabat. Kemerdekaan diperoleh dari perjuangan darah dan air mata. Maka mengembangkuatkan militer kita adalah dalam rangka kehormatan teritori. Jadi Rafale, F15, IFX, Fremm, Mogami, Maestrale, Scorpene adalah alutsista strategis yang wajib ada demi untuk menjaga marwah dan harga diri NKRI secara militer. Ini juga bagian dari bergegas atur strategi militer.

****

Jagarin Pane / 3 Februari 2023


Friday, January 13, 2023

Mempersilakan Singapura

Perjanjian kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement /DCA) antara Indonesia dengan Singapura ditandatangani tanggal 27 April  tahun 2007 di Bali. Namun selama 15 tahun DCA tidak berjalan karena menunggu ratifikasi masing-masing negara. Akhirnya dengan UU No 3 tahun 2023 tanggal 3 Januari 2023 DCA diratifikasi. Mulai tahun ini Indonesia mempersilakan jiran mungilnya Singapura untuk mempergunakan wilayah laut dan udara Indonesia di kepulauan Riau sebagai arena latihan militer. Meski terpisah secara undang-undang,  DCA termasuk satu "paket pemicu" dengan perjanjian ekstradisi. Juga penguasaan kembali kontrol penerbangan (Flight Information Region/FIR) di kepulauan Riau kepada Indonesia mulai September 2022.

Seperti kita ketahui taji militer Singapura adalah salah satu yang terkuat di rantau ASEAN saat ini. Negeri yang luasnya hampir sama dengan pulau Bintan ini mempunyai berbagai jenis alutsista canggih. Seperti seratusan jet tempur F16, F15 dan F35. Singapura memiliki armada laut yang kuat dengan sejumlah kapal perang fregat canggih dan kapal selam terbaru. Semua alutsista Singapura berlabel teknologi terkini dan terdepan dibanding tetangga ASEAN nya. Belum lagi alutsista matra darat yang menggerunkan. Seluruh alutsista tiga matra sudah terintegrasi dalam network centric warfare. Hanya saja belum pernah diuji dalam latihan militer gabungan skala besar.

Memiliki kuantitas dan kualitas alutsista yang terdepan namun kesulitan untuk menggelar latihan militer, itulah kendala Singapura selama hayat dikandung badan. Sejumlah aset jet tempurnya ada yang dititipkan di AS dan Australia. Punya banyak kapal perang dan kapal selam modern namun teritori udara dan lautnya seperti sangkar burung. Maka DCA dengan Indonesia yang baru diratifikasi awal tahun ini sangat melegakan "sesak nafas" Singapura yang membutuhkan udara segar, area laut dan udara yang luas untuk latihan militer. Singapura pantas dan harus berterimakasih dengan Indonesia. Keduanya memang ditakdirkan sejarah untuk bertetangga. Bertetangga yang baik tentunya.

Wajar saja Singapura harus mempunyai kekuatan militer modern. Negeri sejahtera itu dikelilingi tetangga besarnya Malaysia dan Indonesia. Perjalanan sejarah masa lalu, memisahkan diri dari Malaysia dan konfrontasi Dwikora adalah bagian dari cara pandang pemikir strategis Singapura untuk membangun kekuatan militer berkarakter sarang lebah. Doktrin militernya kira-kira begini: berani ganggu, kami sengat. Bahasa perangnya, pre emptive strike, berani masuk digebuk. Dan alat pemukul gebuknya jet tempur F16, F15, F35 dan kapal selam adalah kekuatan pukul strategis yang menggetarkan.

Kesediaan Indonesia meratifikasi kerjasama pertahanan dengan Singapura menjadi fundamen penting dalam mata rantai kerjasama yang saling bermanfaat diantara keduanya. DCA satu paket dengan perjanjian ekstradisi yang sudah diratifikasi pertengahan Desember tahun lalu. Dengan perjanjian ekstradisi ini maka tidak ada lagi rumah pelarian bagi para buronan koruptor di Singapura. Bahkan perjanjian ini berlaku surut 18 tahun ke belakang. Selama puluhan tahun buronan koruptor Indonesia bisa bersembunyi dengan aman di negara pulau itu bersama duit haramnya.

Soal pengawasan aktivitas militer Singapura yang melakukan latihan di perairan kita nantinya, tidak perlu khawatir. Ada dalam kontrol militer Indonesia yang terukur. Markas Kogabwilhan Satu saat ini sudah ada di Tanjung Pinang,  Armada Satu dengan gelar kekuatan sekitar 35 KRI berpangkalan di Bintan. Di Batam ada 1 batalyon pasukan Marinir. Pangkalan militer di Natuna sudah eksis dengan ribuan prajurit dan alutsista yang tergabung dalam brigade komposit Gardapati. 

Gugus tempur laut dengan sejumlah KRI sudah ada di Natuna. Kemudian skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru, skuadron jet tempur Hawk di Pontianak dan Pekanbaru mampu mengawal teritori udara Kogabwilhan Satu. Termasuk Skuadron pesawat nir awak, instalasi radar berlapis aktif pasif di Natuna. Di Tanjung Pinang sudah tergelar sejak lama radar tiga dimensi yang mampu mengendus pergerakan pesawat asing radius ratusan kilometer. FIR juga ada dalam kontrol Indonesia. Artinya Kogabwilhan Satu dapat mengawasi aktivitas latihan militer Singapura.

Area latihan militer yang dapat digunakan Singapura selama 25 tahun adalah Alpha Satu ke arah pulau Tebing Tinggi Riau. Kemudian Alpha Dua di Timur Singapura dan Bravo ke arah utara mendekati Natuna. Persetujuan ini dalam pandangan kita tidak terlepas dari perspektif dinamika Indo Pasifik dan Laut China Selatan. Bahwa potensi konflik berskala besar sudah terpetakan dengan jelas. Singapura yang punya kekuatan militer gahar bukanlah ancaman militer bagi Indonesia. Tetapi jika Singapura menganggap Indonesia sebagai ancaman itu bagian dari doktrin sarang lebahnya. Nah ratifikasi DCA ini menunjukkan itikad baik Indonesia menjunjung nilai persahabatan dan kerjasama yang sudah terjalin selama ini.

Perjanjian "paket segitiga sama sisi" DCA, ekstradisi dan FIR adalah keberhasilan diplomasi dua negara yang saling berinteraksi. FIR bagi Indonesia adalah kembalinya marwah teritori udara dan kontrol udara sepenuhnya di Natuna dan kepulauan Riau. Perjanjian ekstradisi sangat membantu memberantas kejahatan lintas negara utamanya pemberantasan korupsi. Sementara DCA sangat membantu Singapura untuk mengasah kemampuan militernya sekaligus berterima kasih pada abang besarnya Indonesia. Dan bagi si abang besar terbuka pula kesempatan mengajak si adik untuk lebih peduli dengan potensi konflik besar di kawasan. Abang sudah mempersilakan untuk digunakan. Jangan disalahgunakan ya dik.

****

Jagarin Pane / 13 Januari 2023


Saturday, January 7, 2023

Menyindir China

Banyak yang tidak tahu salah satu hotspot di Laut China Selatan (LCS) yang berada di  Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Laut Natuna Utara (LNU) saat ini sedang hangat dengan kedatangan kapal monster China Coast Guard (CCG). Disebut monster karena CCG 5901 ini adalah kapal penjaga pantai China yang terbesar di dunia. CCG 5901 sudah terdeteksi berada di sekitar perairan blok Natuna sejak akhir Desember 2022 berdasarkan data Marine Traffic. Aktivitas CCG 5901 diawasi ketat dua kapal perang AS sebelum akhirnya kapal monster ini keluar dari ZEE kita.

Kehadiran CCG 5901 di LNU sepertinya  menunjukkan bahwa China sedang marah kepada Indonesia dan Vietnam karena kedua negara ASEAN ini baru saja menandatangani kesepakatan final batas-batas ZEE. Batas-batas ZEE kedua negara ini berada di area nine dash line yang diklaim China. Beijing kemudian menyebar kekuatan CCG dan kapal perang di selatan LCS. Seperti diketahui Indonesia dan Vietnam baru saja merayakan kesepakatan final batas ZEE kedua negara di Bogor.

Puncak perundingan ZEE Indonesia-Vietnam selama 12 tahun berbuah manis di Hari Ibu tahun 2022. Ini adalah sebuah pencapaian perundingan dan diplomasi cerdas kedua negara ASEAN yang patut dicontoh. Tanpa menyuguhkan manuver kekuatan bersenjata seperti kapal penjaga pantai dan atau kapal perang. Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc dan delegasinya berkunjung ke Indonesia dan disambut hangat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor tanggal 22 Desember 2022 yang lalu. Sudah sah batas ZEE kedua negara, tidak akan ada lagi tumpang tindih.

Peristiwa lain yang membuat China berang adalah persetujuan Indonesia untuk melanjutkan kerjasama investasi migas. Mitranya adalah  Harbour Energy Inggris di blok Natuna dalam kawasan ZEE Indonesia dan diklaim sebagai nine dash line China. Jakarta baru saja menyetujui pengembangan ladang gas di blok Natuna di timur laut pulau Natuna dengan investasi $ 3,07 milyar setara dengan 47,7 trilyun rupiah. Eksplorasi blok Natuna sudah berjalan 10 tahun dan direncanakan mulai tahun 2026 sudah mulai berproduksi. Rencana awal akan mengekspor ke Vietnam.

Kesepakatan final ZEE antara Indonesia-Vietnam dan investasi pengembangan ladang gas blok Natuna dalam pandangan kita adalah prestasi kemampuan diplomasi geopolitik dan diplomasi bisnis Indonesia. Tahun 2021 yang lalu eksplorasi migas di blok Natuna "ditungguin" sebulan penuh dan diganggu oleh beberapa kapal CCG dilapis kapal perang China. Indonesia juga mengirim kapal-kapal Bakamla dan KRI. Tak lama kemudian Beijing mengirim nota diplomatik ke Jakarta. KSAL waktu itu Laksamana Yudo Margono menyampaikan pernyataan tegas, kita tidak akan mundur sejengkal pun. ZEE Indonesia adalah wilayah sah sesuai UNCLOS 1982, diakui secara konstitusi internasional.

Dua peritiwa ini, kesepakatan ZEE Indonesia Vietnam dan persetujuan investasi blok Natuna adalah bagian dari metode diplomasi Indonesia yang lugas dan cerdas. Bahwa perselisihan batas ZEE nyatanya bisa diselesaikan dengan kecerdasan diplomasi dan tidak menimbulkan permusuhan. Apalagi show of force kekuatan militer berdasarkan klaim sepihak dan mengabaikan aturan internasional. Termasuk kesepakatan bisnis ladang gas blok Natuna adalah kesepakatan yang sah. Karena berada di ZEE Indonesia. Indonesia dan Vietnam telah memberikan contoh diplomasi berkelas, sekaligus menyindir China untuk tidak mentang-mentang dan merasa benar sendiri.

Hidup di bumi bulat bundar ini tidak bisa mengandalkan mata melotot dan diplomasi kaku. Hubungan antar negara adalah saling ketergantungan, saling membutuhkan. Perang di Ukraina memberikan contoh betapa kita hidup dengan suasana saling ketergantungan, simbiosis mutualistis. Pihak yang mengancam sanksi ekonomi kepada Rusia, mau mengisolasi Rusia, mau mempariakan Rusia malah menjadi bumerang sendiri di lingkungannya. Terjadi krisis pangan dan energi. Potensi konflik di LCS sejatinya bisa diselesaikan dengan jalan diplomasi dan perundingan. Meski harus bertahun-tahun menjalaninya. Filosofi dakwahnya sederhana kok, mulailah dengan silaturrahim dan bermusyawarah melalui perundingan. Meski hati gondok tetaplah tersenyum. Itu pesannya.

****

Jagarin Pane / 7 Januari 2023


Sunday, January 1, 2023

Membaca Peta Jalan Alutsista 2023

Cuaca ekstrim akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 sudah diprediksi oleh BMKG dan hari-hari ini kita "menikmati" suasananya. Bahwa cuaca ekstrim konflik kawasan yang bernama Indo Pasifik juga bisa diprediksi. Sudah ada "awan cumulunimbus" yang menghiasi langit Asia Pasifik di tiga hotspot Panmunjom, Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Cuaca buruk dari potensi konflik paling akbar bisa berubah menjadi medan pertempuran terbesar sepanjang sejarah bumi. Inilah prediksi ekstrimnya. Bukan untuk menakut-nakuti namun indikator penjelasnya sudah terang benderang. Dan tak perlu dijelaskan lagi.

Bagaimana kemudian Indonesia mempersiapkan payung pelindung untuk pertahanan diri bisa kita lihat dari peta jalan yang sudah, sedang dan akan dijalani. Indonesia telah memulai langkah strategis dengan program MEF(Minimum Essential Force) selama 12 tahun terakhir sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010 dan dilanjutkan Presiden Joko Widodo sampai saat ini. Program penguatan militer ini sudah memperlihatkan hasil yang cemerlang dengan semakin banyaknya aset alutsista yang diperoleh militer Indonesia. Meski belum sampai pada kriteria minimal yang diperlukan. Kita patut bersyukur.

Sepanjang tahun 2022 berbagai kontrak pengadaan alutsista strategis sudah dilakukan. Dan Rafale menjadi bintangnya. Jet tempur ini menjadi pilihan terbaik dari negara yang tidak ribet soal diluar urusan pertahanan. Indonesia memesan 42 unit dan diharapkan dapat mengisi 3 skuadron tempur mulai tahun 2026. Untuk mengisi ketersediaan cepat saji karena dibutuhkan saat ini, pemerintah memesan 12 jet tempur Mirage eksisting dari Qatar. Ini bagian dari strategi Indonesia untuk menjalin kerjasama ekonomi dalam skala luas dengan negara Timur Tengah yang kaya raya. Barusan dengan Turki sudah di sign konttrak pengadaan alutsista peluru kendali surface to air dan surface to surface  jarak menengah dan jauh. Sudah jauh hari ditunggu ternyata buatan Turki yang dipeluk. Alhamdulillah.

Kepastian kontrak efektif pembelian 2 pesawat MRTT Airbus A400M terlaksana menjelang tutup tahun. Sementara proses produksi 5 pesawat angkut berat Super Hercules type J pesanan Indonesia sedang berlangsung di pabrikannya Lockheed Martin AS. Satu diantaranya akan datang di triwulan I tahun 2023. TNI AU saat ini sedang mempersiapkan kehadiran 5 pesawat amfibi dari Kanada yang dipesan tahun 2019. Termasuk tambahan 6 jet latih tempur T50 dari Korsel. Armada TNI AL akan menerima aset baru berupa 2 kapal perang pemburu ranjau dari Jerman, 1 kapal LPD rumah sakit buatan PT PAL, 1 kapal tanker logistik, 1 kapal korvet VVIP,  1 kapal LST, dan 2 kapal OPV buatan galangan kapal swasta nasional.

Peta jalan alutsista tahun 2023 diprediksi memasuki musim puncak. Karena tahun ini adalah permulaan tahun politik. Penyelesaian target pemenuhan kebutuhan MEF jilid 3 akan berakhir tahun 2024. Dan itu bersamaan dengan suksesi kepemimpinan nasional. Harapan kita bersama tahun ini ada penandatanganan kontrak efektif untuk 2 kapal selam yang digadang-gadang selama ini, Scorpene dari Perancis. Termasuk minimal 4 kapal perang heavy fregate Fremm Class dari Italia. Jika dua jenis alutsista strategis ini terpenuhi ini setidaknya bisa memberikan daya gedor kekuatan angkatan laut Indonesia. Bersama 2 heavy fregate merah putih yang sedang dibangun di PT PAL,  barisan heavy fregate menjadi  kapal perang striking force yang diandalkan.

Pasukan marinir sebagai bagian dari SSAT (sistem senjata armada terpadu) sudah dimekarkan menjadi 3 divisi. Maka pemenuhan kebutuhan alutsista pasukan serbu pantai ini mestinya menjadi prioritas. Seperti penambahan tank amfibi, panser amfibi, roket, artileri, helikopter serbu dan uav adalah keharusan yang mendesak. Disamping itu pemenuhan satuan peluru kendali pertahanan pantai dan selat menjadi penting terkait ramainya lalulintas militer asing di selat-selat ALKI kita. Prediksi ke depan akan semakin ramai karena dinamika konflik kawasan. Pantai Natuna sangat membutuhkan satuan peluru kendali pertahanan pantai sebagai salah satu pelapis pertahanan teritori.

Indikator pencapaian MEF tahap ketiga menunjukkan sinyal positif. Sinergi Kementerian Pertahanan, Bapenas dan Kementerian Keuangan sejauh ini bahu membahu saling menopang. Anggaran pembelian alutsista sebesar US$ 20 milyar selama 5 tahun ini sebagian besar sudah terserap dan disetujui melalui PSP (penetapan sumber pembiayaan) Kemenkeu. Dan sangat mungkin ada penambahan lagi karena "invasi" Covid19 berhasil dijinakkan. Manajemen kementerian pertahanan dalam pandangan kita mampu melakukan kerja besar extra ordinary untuk mengejar pencapaian MEF. Melakukan negosiasi G to G dengan negara produsen dalam pengadaan alutsista. Dan menjalankan sinergitas, koordinasi berkesinambungan dengan Bapenas dan Kemenkeu. Ketiga institusi ini mampu menunjukkan kinerja profesional berbasis integritas untuk menguatkan otot militer Indonesia.

Gaya manajemen pertahanan ini perlu kita apresiasi karena kita sedang berkejaran dengan awan cumulunimbus yang suatu saat dapat menimbulkan cuaca ekstrim. Antisipasinya kita harus memperkuat benteng teritori dengan kekuatan sendiri. Perang di Ukraina adalah contohnya. Apa yang dilakukan Kementerian pertahanan adalah menyegerakan ketersediaan berbagai alutsista canggih tiga matra. Kita juga meyakini jika kekuatan militer kita dengan kepemilikan alutsista yang canggih bisa memberikan efek gentar. Artinya jika ada pihak yang ingin berkonflik diyakini akan berhitung ulang. Itulah makna jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dan untuk perang tentu harus memiliki kekuatan alutsista canggih. Kekuatan inilah yang kemudian menjadi daya gentar untuk tetap dalam koridor damai. Selamat Tahun Baru 1 Januari 2023.

****

Jagarin Pane / 01 Januari 2023


Sunday, December 25, 2022

Belum Sepadan

Penamaan Bandara Soekarno Hatta adalah momentum sejarah tahun delapan puluhan untuk sebuah bandara nomor satu terbaru di Indonesia yang berlokasi di Cengkareng Tangerang. Bandara ini mulai beroperasi tangal 1 April 1985. Pada awalnya sempat terjadi tarik ulur soal penamaan Bandara ini. Bertahan di nama Cengkareng sebelum akhirnya ditetapkan nama Soekarno Hatta sebagai nama untuk dwi tunggal proklamator The Founding Father of Republic.

Hampir seluruh bandara utama di setiap negara memberi penamaan pada sosok pahlawan nasional terbaiknya. Misalnya Bandara Ben Gurion di Tel Aviv Israel, Bandara King Abdul Azis di Jeddah Arab Saudi, Bandara John F Kennedy di New York AS, Bandara Ninoy Aquino di Manila Filipina. Penamaan bandara sesuai dengan kebesaran nama seorang pahlawan di negara tersebut adalah manifestasi dari "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya". Seluruh bandara utama di Indonesia menyematkan nama pahlawan kecuali bandara Kualanamu di Sumut, bandara Minangkabau di Sumbar dan bandara Kertajati di Jabar.

Angkatan Laut Indonesia memiliki kapal perang modern light fregate "Bung Tomo Class" yaitu KRI Usman Harun 359. Ini merupakan penamaan dari 2 prajurit marinir (dulu KKO) yang dihukum gantung di Singapura pada tahun 1968 sebagai dampak konfrontasi Dwikora. Sangat tepat dua prajurit gagah berani ini disatukan namanya untuk penamaan KRI striking force TNI AL. Sesuai dengan semangat patriotik keduanya, Serda Usman dan Kopral Harun bahu membahu melakukan infiltrasi melalui laut dan berhasil melakukan sabotase, mengebom hotel Mac Donald Singapura bulan Maret tahun 1965. 

Saat ini TNI AL menunggu kehadiran kapal perang jenis korvet VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 yang sedang dalam proses pembangunan di galangan kapal swasta dalam negeri. Juga sudah ada penamaan Gelora Bung Karno (GBK) untuk stadion terbesar di Indonesia yang dibangun di era Presiden Soekarno. Artinya sudah ada penamaan utuh untuk seorang putra terbaik negeri ini, bapak bangsa. Setelah sebelumnya selama lebih tiga dekade stadion megah itu bernama Senayan. Sejarah kemudian mencatat Asian Games ke 4 tahun  1962 dilaksanakan di GBK dan Asian Games ke 18 tahun 2018 juga di stadion yang namanya sudah kembali menjadi GBK. 

Sesuai dengan marwah kedua tokoh besar ini, kita berpandangan bahwa perlu ada pemisahan nama Bandara Soekarno Hatta atau nama Jalan Soekarno Hatta dalam rangka menempatkan kedua nama besar itu pada maqam yang tertinggi untuk masing-masing sosoknya. Tidak lagi digabung atas nama dwi tunggal Proklamator. Salah satu usulannya adalah nama bandara di  CengkarengTangerang menjadi Bandara Soekarno atau Bandara Bung Karno. Karena bandara itu adalah bandara nomor wahid di Indonesia sekaligus pintu gerbang utama lalulintas udara di tanah air.

Bagaimana dengan Bung Hatta. Untuk sosok putra Sumatera Barat ini bisa diberikan untuk nama bandara Kualanamu di Deli Serdang Sumatera Utara Penamaan nama bandara terbesar di Sumatera ini sampai saat ini kesulitan " menemukan" sosok pahlawan yang bisa diterima semua komponen masyarakat disana. Dan sepanjang usia republik nama bandara utama di Sumut bukan nama pahlawan asal Sumut melainkan mengambil nama daerah lokasinya yaitu Polonia dan Kualanamu. Nah jika nama Muhammad Hatta disematkan untuk bandara Kualanamu diyakini akan diterima semua pihak karena wakil presiden pertama ini mewakili semua aspirasi Sumatera. Dan kelas bandara Kualanamu setara dengan kebesaran nama Bung Hatta.

Demikian juga untuk nama jalan Soekarno Hatta, mestinya harus terpisah. Hampir di semua kota di Indonesia nama jalan Soekarno Hatta kalah tempat dan kalah strategis dengan nama jalan Jendral Sudirman. Sudah namanya digabung atas nama dwi tunggal posisi penamaan jalannya juga di "pinggiran" kota. Kita berpendapat ini belum sepadan dengan pembudayaan nilai-nilai kejuangan 1945 yang dibangun dua pendiri republik ini. Marwah perjuangan tahun 1945 harus kita kuatkan dan lestarikan di era digital milenial ini.  Salah satunya adalah membangun persepsi kebesaran nama Bung Karno dan Bung Hatta. Dengan contoh teknis usulan penamaan bandara dan jalan protokol yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan tahun 1945. Merdeka !

***

Jagarin Pane / 25 Desember 2022


Tuesday, December 6, 2022

Kepantasan Seorang Yudo Margono

Saatnya Panglima TNI dijabat "Laksamana Raja Di Laut", begitu kira-kira meminjam judul lagu dendang melayu klasik yang dinyanyikan Iyet Bustami. KSAL Laksamana Yudo Margono setelah sabar setahun menunggu, akhirnya tampil sebagai pucuk pimpinan TNI menggantikan Jendral Andika Perkasa. Sejauh ini sepanjang sejarah republik baru ada 2 figur KSAL yang mendapat kesempatan menjadi Panglima TNI selain Laksamana Yudo. Dan itu terjadi di era reformasi pasca 1998. Mereka adalah Laksamana Widodo AS dan Laksamana Agus Suhartono.

Yudo Margono sebelum menjabat sebagai KSAL dipercaya sebagai Pangkogabwilhan I yang wilayah operasionalnya salah satunya adalah hot spot terpanas Laut Natuna Utara (LNU). Antisipasi dinamika LNU yang demam berkepanjangan adalah konsentrasi penuh armada tempur TNI AL untuk siaga penuh. Tentu bersama TNI AD dan TNI AU. Sudah ada brigade tempur komposit Gardapati di Natuna dengan sejumlah pergelaran alutsista berbagai jenis. Ada skuadron jet tempur, UAV, satuan radar, sejumlah KRI disana. Termasuk kapal-kapal BAKAMLA dan KKP.

Inisiatif KSAL membangun kapal perang striking force jenis korvet untuk VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 adalah untuk sebuah refleksi nasional. Ini adalah kapal perang kepresidenan. Pemberian nama KRI Bung Karno sekaligus untuk mengingatkan kita betapa seorang "Bung Besar" Soekarno dengan "Dekrit Trikoranya" tahun 1961 mampu menjadikan angkatan laut Indonesia berjaya, disegani dan terkuat di kawasan bumi selatan. 

Bayangkan saat itu kita mempunyai seratusan kapal perang dan 12 kapal selam "Whiskey Class" dari Uni Sovyet. Juga kekuatan angkatan udara yang menggetarkan kawasan dengan seratusan pesawat tempur dan bomber strategis. Atas dasar kekuatan armada yang besar ini Presiden AS John F Kennedy kemudian "membujuk" Belanda agar bersedia keluar dari Papua secara terhormat melalui diplomasi dan bendera PBB. Akhirnya Belanda bersedia "pulang kampung".

Pembangunan kapal perang jenis korvet KRI Bung Karno 369 ini dibuat oleh galangan kapal swasta nasional di Batam. Bukan beli dari luar negeri. Dan ini jelas satu semangat dengan kalimat "Berdikari" yang digemakan The Founding Father Republik Indonesia. Seremoni penamaan KRI Bung Karno 369 dilakukan oleh Presiden ke 5 Megawati Sukarno Putri bersama KSAL tgl 20 Juni 2022 yang lalu di Jakarta.

Yudo Margono adalah figur sederhana yang lugas dan lincah dalam menjalankan tugas ketentaraannya. Jauh dari hingar bingar politik. Laksamana raja di laut kelahiran Madiun limapuluh tujuh tahun lalu dan suami seorang perwira Polri berpangkat AKBP ini dibalik kesederhanaannya, mimik wajahnya selalu memperlihatkan keseriusan dan ketegasan. Pada sisi yang lain dia juga ternyata seorang humanis  yang pintar berdendang. Vokal campur sarinya enak didengar.

Sebagai KSAL yang sedang mengembangkan kekuatan TNI AL, Yudo memindahkan markas Guskamla (Gugus keamanan laut) untuk bermarkas di Sabang. Kemudian Koarmada Satu  dipindah dari Jakarta ke Tanjung Pinang. Koarmada Dua di Surabaya dan Koarmada Tiga di Sorong Papua. Sangat tepat keputusan memindahkan markas Koarmada Satu di "garis depan" Kepulauan Riau. Juga sekaligus markas Kogabwilhan Satu. Rentang kendali dan efektivitas operasi KRI lebih terukur. Tidak perlu bolak balik ke Jakarta.

PT PAL saat ini sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang jenis fregat Arrowhead 140. Juga ada pesanan on going project sedang dalam proses produksi belasan kapal perang untuk TNI AL seperti OPV, LST, LPD, penyapu ranjau, KCR, KPC, BCM. Untuk alutsista marinir bisa dong lebih diprioritaskan pertambahannya karena sudah dikembangkan menjadi 3 divisi. Pasukan marinir adalah pasukan serbu pantai maka sangat wajar alutsistanya perlu ditambah secara kuantitas dan kualitas.

Kita berharap Laksamana Yudo mampu mengembangbesarkan angkatan laut negeri kepulauan ini bersama dua matra lainnya. Tentu bersinergi dengan Kementerian Pertahanan. Program modernisasi 41 KRI striking force dapat diselesaikan karena dinamika potensi konflik di kawasan sudah di depan mata. Juga penambahan jet tempur, satuan peluru kendali berbagai jenis, radar GCI dan pesawat peringatan dini AWACS. Indonesia harus mempersiapkan kekuatan militernya sebagai antisipasi cuaca terburuk di kawasan Indo Pasifik, khususnya Laut China Selatan. Laksamana raja di laut sudah sangat paham sekali soal geopolitik dan geostrategis ini.

****

Jagarin Pane / 6 Desember 2022


Thursday, November 24, 2022

Menunggu Final Decision

Penguatan alutsista TNI secara extra ordinary terus dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan yang bersinergi dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan. Terakhir kabar yang mengemuka adalah lanjutan proses pengadaan 36 jet tempur canggih F15 ID yang pintu gerbangnya sudah dibuka lebar pemerintah AS.  Kemudian diyakini dipermudah lagi dengan persetujuan lewat jalur antar pemerintah G to G, melalui mekanisme FMS (Foreign Military Sales).

Ini kurang lebih sama dengan proses pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 ID dan 8 helikopter serbu Apache beberapa tahun yang lalu lewat mekanisme FMS. Yang beda adalah proses pengadaan 5 pesawat angkut berat Super Hercules yang kontrak efektifnya ditandatangani tahun 2019 lewat jalur G to B, dengan pola DCS (Direct Commercial Sales). Kemenhan RI langsung bernegosiasi dengan OEM (Original Equipment Manufacturer) Lockheed Martin AS. Patut dicatat bahwa ekspor alutsista AS baik yang melalui jalur FMS maupun DCS harus mendapat persetujuan dari pemerintah dan parlemennya.

Pengadaan jet tempur F15 ID sangat dipengaruhi oleh keinginan kuat Indonesia untuk mendigdayakan kekuatan angkatan udaranya yang punya ruang udara seluas Eropa. Disamping itu sebagaimana pernah mengemuka bahwa AS telah memberikan fasilitas keringanan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam. Fasilitas ini dikenal dengan istilah populer GSP (General Specialized Preference). Dengan itu surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai puluhan milyar dollar selama puluhan tahun. Pada era pemerintahan Donald Trump GSP ini pernah mau dicabut. Nah, pembelian alutsista dari AS salah satunya adalah untuk meringankan timbangan neraca yang berat sebelah, kata pemerintahan Trump waktu itu.

Keputusan pemerintah AS memberi ruang bagi Indonesia untuk mendapatkan jet tempur canggih F15 ID merupakan langkah kuda seiring dengan dinamika geopolitik kawasan Indo Pasifik. Tetapi seiring dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan terkini masih ada kelas jet tempur siluman F35 yang lebih mutakhir. Dan hanya negara sekutu AS yang bisa mendapatkannya seperti Australia, Singapura, Korsel dan Jepang. Meskipun begitu kita berpendapat sudah sangat bagus memperkuat teritori kedirgantaraan dengan jet tempur F15 ID sebagai pengganti jet tempur Sukhoi SU35. Apalagi sudah ada jet tempur Rafale dan Mirage.

Keputusan akhir (final decision) ada ditangan pemerintah, kata Menhan Prabowo kemarin. Dan pastinya Kementerian Pertahanan bersama Bappenas dan Kementerian Keuangan sedang berkoordinasi ketat seiring dengan tenggat waktu. Presiden yang akan memutuskan dengan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya pintu persetujuan sudah lapang, GSP sudah aman, FMS terbuka lebar. Namun situasi dan antisipasi cuaca buruk perekonomian ke depan juga harus disikapi dengan serius dan waspada. Sementara persetujuan pemerintah AS akan expired akhir tahun ini jika tidak ada respon tindak lanjut dari Indonesia. 

Prediksi kita pemerintah akan bersetuju dengan pengadaan jet tempur ini tetapi jumlahnya mungkin tidak sampai 36 unit. Melainkan hanya ada di kisaran 16-18 unit. Sepertinya ini win-win solution. Bukankah awalnya Menhan Prabowo yang bertandang ke AS untuk minta persetujuan. Kemudian pemerintah AS merespon. Melalui lembaga dibawah kementerian pertahanan DSCA (Defense Security Cooperation Agency) menerbitkan dan mempublikasikan persetujuan detail penjualan 36 jet tempur F15 ID. Artinya monggo kerso. Lalu Menhan berkunjung lagi ke Pentagon untuk negosiasi dan hal-hal teknis. Paling akhir Menhan AS Lloyd Austin berkunjung ke Jakarta Senin 21 Nopember 2022 yang lalu. Artinya semua ini adalah sinyal positif. 

Kita tidak perlu jua terpaku dan melotot dengan nilai dollar yang dipublikasikan DSCA bulan Pebruari 2022 yang lalu. Angka itu sesungguhnya adalah angka penawaran, bukan harga persetujuan kontrak. DSCA pernah menerbitkan harga penawaran Apache milyaran dollar. Nyatanya nilai kontrak efektifnya hanya separuhnya. Sembari menunggu final decision dari Presiden Jokowi kita berharap win-win solution akan menjadi marwah keputusan. Adonannya sudah tersedia, kesediaan pemerintah AS memberi lampu hijau, model FMS, menghargai persahabatan kedua negara, kita yang berinisiatif, ada GSP, antisipasi iklim perekonomian dunia yang menuju resesi, pandemi belum usai. Mari kita menunggu final decision dengan semangat membangun investasi pertahanan.

****

Jagarin Pane / 24 Nopember 2022