Tuesday, April 18, 2023

Memilah Persepsi Dan Perspektif Konflik Indo Pasific

Perubahan geopolitik dan geostrategis di Timur Tengah berubah cepat seperti pepatah " Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari". Dan yang membuat hujan perubahan itu adalah pesaing hegemoni AS, China. Betapa tidak, pada hari-hari belakangan ini pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi dan Iran serta penerimaan Suriah ke pangkuan liga Arab menjadi parfum wangi di tengah bulan suci Ramadhan. AS dan sekutunya NATO terkesima, salah tingkah dan mati angin. Sementara China memeluk prestasi diplomatik damai terbaik  di tengah menguatnya polarisasi dunia dan berkecamuknya perang Rusia-Ukraina.

Mari kita memilah persepsi dan perspektif potensi konflik di Indo Pasific. Persoalan kunci yang didefinisikan adalah soal Taiwan dan klaim nine dash line China di Laut China Selatan (LCS). Apakah hanya sekedar itu permasalahannya. Ternyata tidak. Dalam perspektif AS persoalan besarnya adalah persaingan hegemoni dengan semakin tergerusnya "nilai" AS di mata negara-negara dunia. Dalam upaya membendung "banjir bandang" kemampuan ekonomi dan militer China, AS dan sekutunya mengambil pola reaktif dan overdosis dengan membangun permusuhan ekonomi dan permusuhan militer. Khusus dalam bidang militer AS membentuk pakta nuklir AUKUS di Indo Pasific bersama saudara "satu trah anglo saxon", Inggris dan Australia. Kemudian mengajak Filipina untuk bersekutu dan membuka  7 pangkalan militer di negeri itu, mengantisipasi agresi militer China ke Taiwan dan ancaman ke LCS.

Dengan Indonesia, AS mengirimkan ribuan prajurit untuk latihan militer skala besar Garuda Shield di Sumsel, Kaltim dan Sulut. Mengirimkan pesawat tanker avtur US Air Force untuk simulasi pengisian BBM belasan F16 TNI AU di sepanjang selatan Jawa Timur. Mengirim pesawat intai strategis Poseidon untuk latihan bareng. Mengajak pasukan marinir Indonesia berlatih di markas USMC. Termasuk mengikutsertakan dan memberangkatkan prajurit Kostrad dari pangkalan militer Guam untuk terbang non stop dan diterjunkan di Puslatpur TNI AD Baturaja dengan 9 pesawat angkut berat.

Apa sih esensi permasalahan di LCS. Secara fakta batas laut Indonesia dan China bersinggungan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Natuna utara, bukan di perairan teritori 12 mil laut dari pantai Natuna. Juga ZEE Malaysia dengan ZEE kita, ZEE Vietnam dengan ZEE kita. ZEE Malaysia dengan ZEE Vietnam. Termasuk ZEE Malaysia, Brunai, Vietnam, Filipina dengan ZEE China. Perairan ZEE adalah perairan dimana sebuah negara  memiliki hak berdaulat untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut.  Artinya disamping klaim tumpang tindih ZEE dengan nine dash line China sesama negara ASEAN yang punya halaman LCS saling klaim juga tuh tapi tidak seheboh dan sedramatis dengan China.

Yang perlu diingat ZEE bukan kedaulatan teritori sebuah negara. Kedaulatan teritori perairan Indonesia adalah 12 mil laut dari garis pantai. Nine dash line China bertemu dan beririsan dengan ZEE Indonesia yang diakui UNCLOS 1982 dan sudah diratifikasi. Berita bagusnya, Indonesia dan Vietnam akhir tahun lalu mampu menyelesaikan secara final tumpang tindih klaim dengan perundingan yang durasinya bertahun-tahun. Artinya klaim tumpang tindih ZEE sejatinya bisa diselesaikan dengan cara beradab dan tak perlu pamer kekuatan otot militer. Indonesia dan Vietnam telah menunjukkan pada dunia kemampuan dan kecerdasan serta marwah diplomasinya untuk menyelesaikan klaim ZEE diantara keduanya.

Soal AUKUS yang tiba-tiba saja lahir "tanpa hamil duluan" alias tidak mengedepankan dialog dengan negara kawasan  ASEAN sesungguhnya adalah langkah tegap berwajah pucat. Sebagai jiran satu RW Indonesia bereaksi tegas pada jiran selatan ini yang telah melanggar status non proliferasi nuklir di kawasan. Lebih dari itu hanya karena respon yang berlebihan terhadap ancaman China di Indo Pasifik lantas membuat pakta nuklir "NATO Timur Jauh".  Boleh jadi pemberitaan soal keinginan Indonesia yang terkesan tiba-tiba untuk membeli 4 kapal perang destroyer type 052D dari China sebagai jawaban militer soal kehadiran AUKUS. Rencana beli ini yang mengemuka di pemberitaan bisa dicatat sebagai penegas posisi Indonesia yang non blok. Sekaligus untuk menempatkan dan memilah persepsi dan perspektif potensi konflik karena klaim secara proporsional.

Maka percepatan perkuatan otot militer Indonesia semakin memperjelas bahwa kita mengantisipasi konflik LCS sesuai porsi dan persepsi kita. Dalam pakem diplomatik Indonesia tidak bermusuhan dengan China. Indonesia tidak perlu seperti Filipina yang masuk dalam kategori aliansi militer dengan AS. Kita membangun kekuatan militer kita sepadan dengan luasnya wilayah teritori karena kita memang kekurangan aset alutsista. Bahkan kekuatan minimal saja belum tercapai. Kita membeli berbagai jenis alutsista dari berbagai negara adalah bagian dari strategi militer yang cerdas. Termasuk rencana beli destroyer 052D dari China. Yang terakhir ini kalau jadi, tentu membuat tetangga selatan berpikir lagi. Dan biarkanlah dia berpikir.

****

Jagarin Pane / 17 April 2023

Sunday, April 9, 2023

Berita Bawah Air Mulai Terang Benderang

Belum sepekan ada berita di CNN Indonesia, rencana pengadaan 4 kapal selam dengan total anggaran 2,1 milyar atau 31 trilyun. Kapal selam yang digadang-gadang adalah kombinasi made in Jerman dan Perancis, 2 kapal selam U214 dan 2 Scorpene. Saat ini Indonesia baru memiliki 4 kapal selam U209 yang kelasnya masih dibawah U214 Jerman atau Scorpene Perancis. Armada monster bawah air mutlak diperlukan sebagai salah satu kekuatan penggentar angkatan laut Indonesia. Kita tidak boleh abai dengan unsur kekuatan sistem senjata armada terpadu TNI AL ini. Potensi konflik di Indo Pasific termasuk Laut China Selatan adalah penguasaan wilayah laut dan udara. Mirip seperti perang Pasifik 80 tahun yang lalu.

Empat kapal selam yang dimiliki Indonesia saat ini belum menjadi kekuatan keunggulan. KRI Cakra 401 jenis U209 buatan Jerman misalnya sudah terlalu tua menjelajah jeroan laut kita. Sementara ketiga adik seperguruannya sama-sama U209 namun lain "dosen pembimbingnya", belum sampai pada penampilan memuaskan apalagi cum laude. Masih ada "mata kuliah" yang harus disempurnakan. Meski demikan ilmu transfer teknologi untuk membangun KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405 sangat bermanfaat bagi PT PAL. Contohnya overhaul KRI Cakra 401 di galangan kapal selam PT PAL Surabaya sukses dikerjakan oleh insinyur dan teknisi PT PAL dengan supervisi Daewoo Korsel.

Sekedar info, ilmu transfer teknologi yang paling efektif dan cepat daya serapnya adalah upgrade atau enhanced mid life update (eMLU) jet tempur F16 blok 15 TNI AU. Saat ini dari 10 F16 generasi tahun 1990 yang dibongkar total untuk diisi dengan infrastruktur dan software tempur modern sudah selesai 7 unit. Semuanya dilakukan oleh tenaga ahli dan teknisi TNI AU dengan supervisi Lockheed Martin AS. Pengerjaannya dilakukan di markas skadron teknik 042 Iswahyudi AFB. Hasilnya 7 unit F16 ini sudah menyandang teknologi tempur terkini beyond visual range dengan rudal AIM-120 AMRAAM. 

Soal pilihan untuk membeli aset kapal selam, dalam pandangan kita, memilih U214 bisa memberi manfaat ganda untuk TNI AL dan PT PAL. Bagaimanapun PT PAL sudah punya pengetahuan dan pengalaman. Termasuk penyerapan transfer teknologi ketika membangun 3 kapal selam Nagapasa Class U209 improved dengan guru pembimbing Daewoo Korsel. Meski performansi kapal selam tersebut belum optimal. TKMS Jerman yang nota bene mahaguru atau suhu nya pembuatan kapal selam di dunia tentu bisa mengurai aspek teknis untuk menggaharkan 3 kapal selam Nagapasa Class. Artinya PT PAL mendapat tambahan ilmu lagi untuk maintenancenya dan TNI AL bisa optimal mengoperasikannya.

Poin penting dari tulisan ini adalah menyegerakan percepatan pengadaan 4 kapal selam gahar ini. Momentumnya hanya ada di tahun sekarang. Proses pengadaan herder bawah air ini diharapkan bisa kontrak efektif tahun ini. Dalam prosesnya jelas ada tarik menarik unjuk performansi produk pabrikan. Namanya juga promosi untuk merebut simpati, wajar di dunia persaingan produsen bisnis alutsista. Selama proses pengadaan ini berlangsung publikasi marketing komunikasi Scorpene terlihat lebih mengemuka dibanding U214. Banyak media yang menyiarluaskan keunggulan dan nilai tambah Scorpene. Naval Group mengadakan acara presentasi performansi Scorpene di kapal perang LHD Perancis yang sedang berkunjung ke Jakarta baru-baru ini. Sementara TKMS produsen U214 Jerman hampir tidak pernah terdengar marketing komunikasi publikasinya.

Jika keduanya, Scorpene dan U214 menjadi pilihan bersama, ini merupakan keputusan win-win solution. Kapal selam U214 dapat menjadi "induk maintenance" bagi 4 kapal selam yang kita miliki yang sama-sama berbasis Jerman. Sementara pilihan kepada teknologi Scorpene adalah strategi untuk kerahasiaan teknologi. Dan tidak terpengaruh dari bayang-bayang teknologi U218 SG milik Singapura. Yang menggembirakan berita bawah air mulai terang benderang karena sudah ada penetapan sumber pembiayaannya (PSP) dari Kementerian Keuangan.

Kita menyambut riang gembira suasana terang benderang ini apabila terlaksana acara puncak yang bernama kontrak efektif. Sama benderangnya dengan puncak acara HUT TNI ke 77 tanggal 9 April 2023 di Halim AFB yang spektakuler dan digdaya. Menhan Prabowo, Presiden ke 5 Megawati, Ketua DPR Puan Maharani, Panglima TNI, Kapolri dan undangan lainnya berjoget bersama mengikuti lantunan lagu "Ojo dibandingke" dan saling bersalaman sumringah diakhir acara. Suasana terang benderang dengan udara cerah ini sejatinya adalah suasana kita bersama hari-hari ini dengan berita terang benderang soal pengadaan kapal selam gahar dan berbagai jenis alutsista lainnya. Semoga dimudahkan.

****

Jagarin Pane / 09 April 2023

Sunday, March 26, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

 (Bagian Kedua-Habis)

Perubahan geopolitik dan geostrategis yang begitu cepat di Timur Tengah membuat dunia terperangah. Setelah Arab Saudi-Iran saling berpelukan, beberapa negara Arab sudah membuka diri untuk menerima kembali Suriah yang sudah bonyok ke pangkuan Liga Arab. Yaman yang babak belur dibombardir Arab Saudi dipastikan akan menjadi negeri damai sentosa karena Iran dan Arab Saudi sudah baikan. Dan semua perubahan cepat yang terjadi ini bukan karena campur tangan AS, murni inisiatif mereka sendiri sesama warga kelurahan Timur Tengah. 

Arab Saudi sudah mulai menjauh dari AS. Ingin lepas dari pengaruh Washington yang selalu mendikte. Terkini, salah satu penyebabnya karena pemaksaan kehendak soal minyak OPEC yang harus mengikuti kehendak Pakde Sam soal kuota dan harga lewat RUU yang sedang dipersiapkan. Lucu juga ya kok sibuk ngurusin bisnis negara lain lewat UU dia. Ini juga salah satu bentuk kekonyolan dari pemegang hegemoni yang belakangan ini terkesan panik dan emosional.

Penghancuran jalur pipa gas Nord Stream 2 tanggal 26 September 2022 diyakini adalah hasil karya penguasa hegemoni. Jerman sebagai tujuan penyaluran sumber daya energi dari Rusia ini tentu merasa terpukul tanpa bisa berkata apa-apa. Karena Jerman anggota NATO meski sejarah perang dunia kedua, Hitler Jerman yang diluluhlantakkan pasukan sekutu. Artinya mereka adalah negara yang kalah perang. Harus tunduk dan patuh dengan pemenang perang ketika negaranya dibagi dua. Jerman Barat ikut NATO dan Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.  Jalur pipa Nord Stream yang menghubungkan Rusia dan Jerman melalui laut Baltik untuk memenuhi kebutuhan energi beberapa negara Eropa Barat.

Demikian juga ketika tembok Berlin dirubuhkan tahun 1991 sebagai lambang penyatuan Jerman,  tetap harus menjadi anggota NATO.  Padahal Pakta Warsawa sudah membubarkan diri. Ekspansi yang terus menerus inilah yang kemudian dibaca Rusia sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya. Banyak negara pecahan Uni Sovyet yang sudah bergabung dengan NATO. Terakhir Ukraina dibujuk untuk menjadi anggota NATO. Ini adalah ketersinggungan harga diri bagi Rusia. Bagaimanapun Rusia dan Ukraina adalah sejarah kebersamaan yang panjang. Jarak Moskow ke Ukraina hanya seukuran jarak Jakarta-Surabaya. Artinya bergabungnya Ukraina ke NATO adalah ancaman militer langsung ke jantung Moskow.

Sejarah kemudian yang akan membuktikan apakah pergantian kepemimpinan hegemoni akan berlangsung mulus atau melalui perang besar-besaran. Perang Rusia-Ukraina adalah ujian ketrampilan dan penentunya. Kemudian kekuatan ekonomi China sebentar lagi akan menyalip AS sementara kekuatan militer China tumbuh menjadi kekuatan terbesar di Asia Pasifik. Untuk mengantisipasinya tiga negara bersaudara Anglo Saxon AS, Inggris dan Australia membentuk pakta nuklir AUKUS, markasnya di Australia. Pertanyaan sebenarnya mau kemana dunia ini dibawa kalau tidak sedang menuju konflik besar yang akan  menghancurkan peradaban bumi. Atau karena ingin mempertahankan status quo hegemoni.

Mengapa persekutuan hegemoni semakin memudar menurut pandangan kita lebih disebabkan karena kebisingan dan sikap-sikap tidak simpatik mereka sendiri. Statemen-statemen yang dikeluarkan dominan bernada ancaman dan paksaan yang menimbulkan antipati berbagai negara. Termasuk melakukan proxy war dan framing. ISIS adalah contohnya dan dunia sempat terkecoh. Termasuk soal senjata pemusnah masal Irak yang ternyata tidak pernah terbukti.

Peta bipolar atau bahkan multipolar geopolitik dan geostrategis dunia sedang berproses. Perang Rusia Ukraina adalah pembuka alineanya. Netizen dunia mengikuti dengan cermat seluk beluk penyebab dan hingar bingarnya termasuk berita-berita hoaxnya. Misalnya ketika KTT G20 di Bali sedang berlangsung Ukraina membuat berita hoax paling memalukan. Dia bilang rudal Rusia menyerang dan meledak di teritori Polandia. Padahal setelah diselidiki ternyata rudal Ukraina yang melenceng ketika ingin menangkis serangan Rusia.

Para pemimpin NATO yang hadir di Bali sempat rapat darurat untuk mengambil sikap bersama. Karena jika ada anggota NATO diserang maka itu adalah deklarasi perang terhadap seluruh anggota NATO. Benar-benar genting suasananya. Dan ternyata hoax. Presiden AS sendiri yang mengatakan bahwa yang meledak itu bukan rudal Rusia. Zelensky memang pintar menjalankan framing pertempuran, padahal negerinya sudah luluh lantak, jutaan rakyatnya sudah mengungsi. Ironinya negerinya sendiri yang jadi korban proxy dari aliansi yang ingin memperluas keanggotaannya.

Pada akhirnya memang dunia membutuhkan keseimbangan, berpasangan dan saling membutuhkan. Sama halnya ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada laki-laki ada perempuan. Termasuk informasi butuh konfirmasi agar tidak terjadi framing dan pembenaran sepihak. Dunia unipolar sudah membuktikan adanya ketidakseimbangan, keangkuhan, keberpihakan dan kesewenang-wenangan. Kita sedang menuju dunia bipolar atau bahkan multipolar. Dan perjalanan ke arah itu akan penuh dengan goncangan dan turbulensi. Pada akhirnya kita akan landing di bandara bipolar atau tetap unipolar atau bahkan tidak pernah landing lagi. Waktu yang akan menjawabnya.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2023


Friday, March 24, 2023

Memudarnya Persekutuan Hegemoni

(Bagian Satu Dari Dua Tulisan)

Pulihnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran merupakan kado indah Ramadhan 1444 H. Sebuah langkah besar dan bersejarah dari kedua bangsa besar muslim yang difasilitasi bangsa besar jua, China. Ini terjadi ditengah berkecamuknya perang besar Rusia-Ukraina berdurasi tahunan di benua paling modern di dunia, benua biru Eropa. Jabat tangan dua negara muslim paling berpengaruh di Timur Tengah di Beijing merupakan pukulan diplomatik paling menyesakkan bagi pemegang sabuk hegemoni, Amerika Serikat.

Sebenarnya AS sudah dan sedang memindahkan aset militernya dari kawasan Timur Tengah menuju Indo Pasifik. Di kawasan Asia Pasifik ini ada sang naga yang sedang bergeliat sebagai pesaing hegemoninya dalam segala dimensi, China. Timur Tengah dalam pandangan geopolitik dan geostrategis AS tidak lagi menjadi prioritas karena beberapa negara Arab sudah membuka pintu hubungan diplomatik dengan Israel. Catatannya adalah Suriah sudah babak belur namun AS gagal menggulingkan Bashar Al Assad. Presiden Irak Saddam Husein, dan pemimpin Libya Moammar Khadafy sudah dihabisi. Ironinya alasan menggempur Irak dan menggantung Saddam Husein tidak pernah terbukti yang katanya mempunyai dan menggunakan senjata pemusnah massal. Dan Iran-Arab Saudi dibiarkan berkonflik panjang di medan pertempuran Yaman. Dan ternyata mereka berjabat tangan untuk berdamai.

Kemudian masih segar dalam ingatan kita  ketika AS tiba-tiba saja angkat kaki meninggalkan Afghanistan akhir Agustus 2021 setelah duapuluh tahun menguasai negeri Mullah itu. Cabut begitu saja tanpa pamit meninggalkan aset perang milyaran dollar. Pasukan Taliban mendapat rezeki nomplok mengambil alih pemerintahan Afghanistan dan menguasai alutsista AS. Itu artinya secara defacto Taliban mampu mengalahkan AS di Afghanistan. Ini sama kondisinya  dengan kekalahan AS dalam perang panjang di Vietnam yang berakhir tahun 1975. AS harus angkat kaki dari Saigon.

Perlahan tapi pasti abrasi pantai hegemoni AS mulai tergerus. Kekuatan ekonomi, teknologi dan militer China sedang menuju puncak klasemen. Menghadapi peta perubahan ini pemilik hegemoni dan sekutunya cenderung panik menghadapi takdir sejarah Samuel Huntington ini. Seperti dalam persaingan teknologi, menangkap dan menahan Direktur Keuangan Huawei di Vancouver Kanada tahun 2018 dengan alasan bla bla bla merupakan contoh kepanikan menyikapi persaingan bisnis kemajuan teknologi 5G China yang lebih maju. Jika alasannya Huawei berbisnis dengan Iran yang berarti melanggar sanksi AS mestinya tidak juga sampai harus menahan putri pendiri Huawei itu. Netizen dunia mulai paham dengan kekonyolan pemilik hegemoni dan sekutunya.

Potensi persekutuan militer China, Rusia, Iran dan Korut sangat mungkin terhidang di karpet peta dunia yang labil saat ini. Bahkan potensi pengembangbiakan perang Rusia Ukraina bisa berlanjut menjadi Perang Dunia Ketiga. Modalnya hanya pencet tombol nuklir. Misalnya jika Rusia didesak terus, ditekan, dikucilkan, bahkan Putin mau ditangkap sebagai penjahat perang. Ini mengarah pada road map yang jelas, perang nuklir. Sejarah panjang Rusia bisa menjadi standar penilaian bahwa bangsa ini sangat militan, pantang menyerah. Ingat perang dunia kedua ketika Rusia menggempur Jerman, duluan sampai di Berlin mendahului pasukan AS dari Normandia Perancis. Ini yang menyebabkan Berlin dibagi dua setelah perang dunia kedua. Eropa Timur membentuk Pakta Warsawa dan Eropa Barat, AS mendirikan NATO. Jerman dibagi dua, Jerman Barat masuk NATO, Jerman Timur ikut Pakta Warsawa.

Mengapa pemilik hegemoni yang mengatur dunia secara unipolar tergerus abrasi. Faktor utamanya adalah munculnya kekuatan ekonomi dan teknologi China yang tumbuh menjulang cemerlang. Termasuk kekuatan militer China yang semakin hebat. Faktor lain lebih kepada pemaksaan kehendak dari pemilik hegemoni dan sekutunya demi kepentingan sepihak. Karena tidak punya pesaing bandul bipolar cold war setelah bubarnya Uni Sovyet dan Pakta Warsawa tahun 1990, AS dan sekutunya bebas leluasa menentukan peta geopolitik dan geostrategis. Fokusnya Timur Tengah dengan mengaduk adonan proxy, menyulut perang Teluk jilid satu dan dua, menyerang Libya, menggempur Suriah, membentuk ISIS, melakukan framing proxy ke Arab Saudi untuk menyerang Yaman karena ada milisi Houti yang didukung Iran. 

Sementara itu di belahan bumi yang lain, China mulai menunjukkan geliat naga nya dengan kemajuan ekonomi dan militernya. China menguatkan klaim nine dash line nya di Laut China Selatan dengan membangun sejumlah  pangkalan militer  di kepulauan karang atol Spratly dan Paracel. Mengerahkan coast guard dan kapal perang untuk menggertak Vietnam, Filipina dan Indonesia. Juga dengan Taiwan sudah sampai pada tahap persiapan penyerbuan. Maka dalam pandangan geostrategis dan geopolitik AS, Indo Pasifik akan menjadi konsentrasi kekuatan militer AS untuk melawan China. Paman Sam membentuk pakta nuklir AUKUS dengan Inggris dan Australia, membuka 7 pangkalan militer di Filipina, membolehkan Jepang menguatkan angkatan bela diri menjadi kekuatan militer ofensif dan menguatkan Taiwan dengan ratusan aset perang.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 23 Maret 2023

Wednesday, March 15, 2023

Belanja Alutsista Terbesar

Investasi Pertahanan Indonesia 

Terbesar Lima Tahun Terakhir

(Perkiraan Anggaran US$ 25 Milyar)


  1 Korvet VVIP KRI Bung Karno 369 dari GSN

  2 Kapal Offshore Patrol Vessel dari GSN

  4 Kapal Landing Ship Tank dari GSN

  6 Kapal Patroli Cepat dari GSN

  1 Kapal Tanker BCM dari GSN

  1 KCR Trimaran KRI Golok 688 dari GSN

  2 Kapal LPD Rumah Sakit dari PT PAL

  3 Kapal Cepat Rudal 60m dari PT PAL

  2 Heavy Fregate Arrowhead 140m PT PAL

  6 Heavy Fregate Fremm 140m dari Italia

  2 Fregate Maestrale dari Italia

  3 Korvet Pohang Class dari Korsel

  2 Kapal pemburu ranjau dari Jerman

  2 Kapal selam Scorpene dari Perancis

42 jet tempur Rafale dari Perancis

12 jet tempur Mirage dari Perancis

  6 jet latih tempur T50 dari Korsel

  3 pesawat latih KT-1 Wong Bee dari Korsel

  2 pesawat Falcon 8x dari Perancis

  2 Pesawat MRTT A400M dari Airbus

  5 Pesawat Super Hercules dari AS

14 Radar GCI Thales dari Inggris

  2 Radar pasif Vera Ng dari Ceko

  2 Pesawat AEW&C

  6 Pesawat amfibi CL515 dari Kanada

  4 Pesawat CN235 MPA dari PT DI

  2 Satbak Rudal SAM Nasam dari Norwegia

  3 Satbak Rudal SAM MR dari Turki

  3 Satbak Rudal SAM LR dari Turki

  3 Satbak Rudal Khan S to S dari Turki

12 UCAV Anka dari Turki

12 UCAV Bayraktar dari Turki

14 UAV Scan Eagle dari AS

  9 Helikopter Bell 412 Epi dari PT DI

  8 Helikopter EC725 Cougar dari PT DI

  1 Infrastruktur NCW dari Yunani

18 Tank Harimau dari Pindad

23 Panser Badak dari Pindad

22 Panser Pandur (Cobra) dari Ceko

15 Ranpur Bushmaster dari Australia

50 Ranpur Komodo dari Pindad

40 MLRS Vampire dari Ceko

Keterangan:

*GSN : Galangan Kapal Swasta Nasional

  NCW: Network Centric Warfare


****

Jagarin Pane / 15 Mar 2023

(Dari berbagai sumber)

Wednesday, March 8, 2023

PT PAL Menuju Industri Pertahanan Kelas Dunia

Kontrak besar senilai US$ 408,32 juta diperoleh PT PAL Indonesia di ajang IDEX (International Defence Exhibition & Conference) 2023 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA). Pameran industri pertahanan berkelas ini digelar tanggal 20-24 Pebruari 2023. Nilai ini adalah untuk kontrak efektif, bukan lagi sekedar MOU, untuk pembangunan kapal perang jenis LPD gede banget 163 meter pesanan sahabat baik Indonesia, UEA. Dan kontrak ini adalah awal dari kerjasama strategis kedua negara, kerjasama industri pertahanan skala besar antara Indonesia dengan salah satu negeri Arab yang kaya raya, UEA. 

Karier ekspor PT PAL di pasar internasional diawali dengan pesanan 2 kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel) untuk angkatan laut Filipina beberapa tahun yang lalu. Negeri jiran utara kita ini ternyata puas banget dengan performansi kapal perang buatan Surabaya. BRP Tarlac 601 yang diserahkan tahun 2016 dan BRP Davao Del Sur 602 setahun kemudian, sudah pula menunjukkan kemampuan battle proven di pertempuran Marawi Filipina Selatan yang sangat heroik itu pada tahun 2017. Kemudian Manila kembali memesan 2 unit lagi. Saat ini sedang dalam proses pembangunan oleh SDM insinyur dan teknisi perkapalan PT PAL.

PT PAL mendapat ilmu dan teknologi pembuatan kapal LPD dari Korea Selatan ketika order 4 kapal perang "Makassar Class". Dua unit dibuat di Korsel yaitu KRI Makassar 590 dan KRI Surabaya 591. Dua unit terakhir yang dibangun di PT PAL adalah KRI Banjarmasin 593 dan KRI Banda Aceh 594. Kemudian BUMN industri pertahanan matra laut ini mendapat pesanan lagi dari TNI AL untuk membangun LPD "Makassar Class" yang kelima yaitu KRI Semarang 594, dan 2 kapal rumah sakit yaitu KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991 dan KRI Rajiman Wedyodiningrat 992. Semua hasil karya besar ini karena limpahan rezeki dan karunia dari program strategis nasional, minimum essential force (MEF) TNI yang dimulai sejak tahun 2010 sampai sekarang.

Tidak itu saja, dalam bingkai MEF, PT PAL juga sudah mendapatkan transfer teknologi dari DSME Korsel dalam kerjasama pembuatan 3 kapal selam "Nagapasa Class. Dua kapal selam dibuat di Korsel yaitu KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibuat di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah operasional. Kemudian PT PAL dengan Damen Schelde Belanda sukses membangun 2 kapal perang light fregate "Martadinata Class" yaitu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. Untuk kapal kombatan "little but lethal" alias cabe rawit, PT PAL sudah menyelesaikan pembangunan 6 kapal cepat rudal (KCR) 60 meter "Sampari Class". Ke depan pembuatan KCR akan diserahkan ke galangan kapal swasta nasional seperti PT Lundin Banyuwangi. Perusahaan ini terbukti sukses membangun KCR trimaran KRI Golok 688 dan tank boat Antasena.

Kesibukan PT PAL saat ini dan kedepan luar biasa untuk memenuhi pesanan pembuatan kapal perang. Mendapat amanah dari Kemenhan menjadi lead integrator untuk modernisasi 41 kapal perang TNI AL bersama seluruh galangan kapal swasta nasional yang sudah teruji membangun kapal perang LST, KCR, KPC, BCM, KAL. Saat ini PT PAL mulai membangun 2 unit kapal perang striking force terbesar heavy fregate "Merah Putih" kerjasama dengan Babcock Inggris. Bersamaan dengan itu juga sedang bersiap membangun 2 kapal perang SSV pesanan Filipina.

Sebagai informasi, industri pertahanan  plat merah yang lain, PINDAD sejauh ini sudah memproduksi 400 panser Anoa. Saat ini PINDAD sedang menyelesaikan pembuatan tank Harimau dan sudah menyelesaikan produksi panser kanon Badak. Semuanya untuk memperkuat TNI AD. Sementara PT DI sudah berjaya memproduksi pesawat CN235 untuk militer Indonesia dan sudah mengeskpor puluhan unit CN 235 ke berbagai negara. Saat ini PT DI sedang mempersiapkan infrastruktur untuk proyek paling strategis, kerjasama pengembangan teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel. Puluhan tenaga ahli Indonesia sudah sejak lama menimba teknologi KFX/IFX di Korsel termasuk 2 pilot saat ini sedang mempersiapkan menerbangkan 1 prototype KFX/IFX ke Indonesia tahun ini. Jika semuanya berjalan lancar tahun 2026 akan dimulai produksi massal. TNI AU akan memperoleh minimal 40 jet tempur generasi 4,5 ini sesuai perjanjian.

Geliat gairah PT PAL saat ini berkat kerja cerdas, pintar dan lincah dari seorang ahli perkapalan berkelas internasional. Dia adalah Dr Kaharuddin Jenod yang ditarik pulang Menhan Prabowo dari Jepang untuk diserahi tugas mengembanghebatkan industri pertahanan PT PAL. Jenod kuliahnya made in Jepang semuanya mulai dari S1, S2 dan S3. Karya dan hak paten desain perkapalannya menjadikan dia SDM bergaji mahal di Jepang. Setelah memimpin PT PAL sejak April 2021 bersama tim direksinya mereformasi budaya kerja menuju world class industry. Ungkapannya yang terkenal adalah: "PT PAL itu adalah gajah namun selalu dipersepsikan kambing, sehingga SDM nya menganggap kambing". Mindset ini yang dirombak total pria Makassar kelahiran Surabaya tahun 1971 itu. Karya besar PT PAL sudah menanti. Membuat kapal selam midget nir awak dengan kemampuan artificial intelligent. Para insinyur saat ini sedang mendesain kapal perang korvet dan kapal rumah sakit untuk UEA. Juga sedang merancang kapal induk helikopter (LHD) untuk TNI AL. Luar biasa.

Kerjasama industri pertahanan strategis PT PAL  dengan perusahaan UEA sangat didukung oleh kedekatan hubungan persahabatan yang sangat erat G to G keduanya. Termasuk kedekatan personal antara dua petinggi negara. Di UEA ada jalan raya bernama Presiden Joko Widodo. Di Indonesia ada jalan tol layang Jakarta Cikampek bernama Syech Muhammad Bin Zayed (MBZ). Di Solo sudah dibangun masjid besar dan megah bernama Masjid MBZ. Masjid raya ini dibangun dengan duit jutaan dollar dari negeri kaya raya nan berkah itu. Termasuk pengelolaan dan pemeliharaannya. Bahwa memang benar memperkuat silaturrahim akan mendatangkan banyak manfaat termasuk karunia rezeki. Kedekatan hubungan personal antara Presiden Indonesia dan Presiden UEA yang sama-sama kelahiran tahun 1961 membuka ruang besar yang bernama karunia kerjasama strategis pertahanan milyaran dollar. Alhamdulillah.

****

Jagarin Pane / 8 Maret 2023

Saturday, March 4, 2023

Aset KPC 40 M TNI AL Terbaru

TNI AL membangun kekuatan armadanya dengan pengadaan aset kapal perang striking force heavy fregate, light fregate, korvet, kapal selam, kapal cepat rudal, kapal cepat torpedo dan kapal patroli cepat. Untuk kapal patroli cepat  sebagai bagian dari sistem senjata armada terpadu (ssat) sampai hari ini TNI AL sudah memperoleh 19 unit. Dalam program minimum essential force sampai tahun 2024 target perolehan aset kapal patroli cepat adalah 24 unit. Semuanya adalah produksi industri pertahanan galangan kapal swasta nasional. Ini rinciannya, dan semuanya menyematkan nama ikan yang ada di perairan Indonesia :

1.    KRI Pari 849

2.    KRI Sembilang 850

3.    KRI Sidat 851

4.    KRI Cakalang 852

5.    KRI Tatihu 853

6.    KRI Layaran 854

7.    KRI Madidihang 855

8.    KRI Kurau 856

9.    KRI Torani 860

10.  KRI Lepu 861

11.  KRI Albakora 867

12.  KRI Bubara 868

13.  KRI Gulamah 869

14.  KRI Posepa 870

15.  KRI Escolar 871

16.  KRI Karotang 872

17.  KRI Mata Bongsang 873

18.  KRI Dorang 874

19.  KRI Bawal 875

Semakin berkibar merekah industri pertahanan galangan kapal swasta nasional kita untuk mewujudkan kemandirian produksi alutsista. Saat ini ada yang sedang membuat OPV, LST, BCM, KAL, ADRI dan lanjutan kapal patroli cepat. Ada juga yang sedang mempersiapkan pengerjaan modernisasi 41 KRI eksisting. Semua keberhasilan ini patut kita apresiasi.

****

Jagarin Pane

Tuesday, February 21, 2023

Menunggu Fremm Mogami

Matahari duaribu duapuluhtiga menjelang akhir Pebruari. Meski lebih banyak mendung dan hujannya, sinarnya tetap mampu menghangatkan daun hijau flora sembari menanti berbuah. Sama halnya dengan menanti dan menunggu sebuah kepastian akan kelanjutan serial Fremm dan Mogami, apakah jadi merekah berbuah. Bibitnya sudah ditanam sejak tahun 2021 dan sejauh ini karena pandemi Covid tersendat persemaiannya. Dan kita saat ini menunggu pertumbuhan berita gembiranya.

Berkali-kali kita sampaikan di berbagai artikel dan seminar, bahwa kita harus bergegas dan bertegas diri untuk menguatkan teritori. Dinamika konflik kawasan, peta geopolitik dan geostrategis adalah fakta on the spot yang sudah dan sedang terjadi. Jangan lagi ngomong tidak ada musuh 20 tahun ke depan bla bla bla. Bahwa dengan demikian satu-satunya jalan untuk mengejar ketertinggalan ketersediaan alutsista, Indonesia harus extra ordinary dalam program percepatan perolehannya. Oleh sebab itu pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm dan menyusul 8 heavy fregate Mogami merupakan credit point langkah strategis extra ordinary. Negara kepulauan terbesar di dunia ini harus memilik armada angkatan laut yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan. Tidak bisa tidak.

Fincantieri Italia, perusahaan pembuat kapal perang ternama, pertengahan tahun 2021 melalui MOU dengan Kemenhan RI telah bersedia membangun 6 heavy fregate Fremm Class untuk Angkatan Laut Indonesia. Termasuk memasok 2 kapal perang fregate "siap pakai karena bekas pakai" Maestrale Class sambil menunggu penyelesaian pembangunan Fremm (Fregate Europe Multi Mission). Ini berita yang menyenangkan dan membanggakan. Beberapa bulan kemudian Mitsubishi Jepang bersedia juga membangun 8 unit heavy fregate Mogami Class. Skenarionya 4 unit dibangun di Jepang. 4 unit lainnya dibangun di Indonesia.

Kedua berita tahun 2021 ini bergaung luas di kalangan netizen forum militer tanah air. Kesannya adalah spektakuler dan disambut hangat bercampur bangga. Perhitungannya adalah ada penambahan 16 unit kapal perang heavy fregate. Dengan rincian 2 unit Arrowhead Iver Class yang sedang dibangun di PT PAL, 6 unit Fremm Class dan 8 unit Mogami Class. Ditambah 2 unit Maestrale Class dan 2 unit Martadinata class yang sudah operasional. Dengan perhitungan 5 fregate sepuh Ahmad Yani Class  pensiun, maka gambaran ke depan kita bakal punya 20 kapal perang striking force fregate. Menjadikan kita sebagai negara dengan kekuatan angkatan laut terbesar di ASEAN. Ketersediaan aset 20 KRI berkualifikasi fregate diyakini dapat menjadi kekuatan diplomasi militer Indonesia di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Begitu besar harapan kita dengan realisasi pengadaan alutsista matra laut ini. Namun memang semuanya harus diperhitungkan cermat karena pandemi selama dua tahun ini menguras stamina anggaran nasional. Rasio hutang terhadap PDB sebelum pandemi ada di kisaran 30% meningkat 40% selama pandemi. Imbasnya adalah Kementerian Keuangan harus melakukan seleksi ketat dalam PSP (penentuan sumber pembiayaan) belanja investasi alutsista. Dalam Undang Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio hutang terhadap PDB masih diperkenankan sampai limit 60%. Secara bertahap kita melihat sepanjang tahun 2022 ada beberapa kali penerbitan PSP Kemenkeu untuk anggaran pembelian jet tempur Rafale dan lain-lain. Berangkat dari terbitnya serial PSP tahun 2022,  kita optimis tahun ini akan terbit PSP untuk Fremm dan Mogami secara bertahap.

Untuk mengantisipasi terjadinya konflik berskala besar di kawasan LCS, kapal perang berkualifikasi fregat adalah standar minimal yang harus tersedia disamping kekuatan pukul bawah air yaitu kapal selam. Skenario pertempuran di Indo Pasifik khususnya LCS, jika terjadi, adalah pertempuran laut dan udara sebagaimana perang Pasifik dalam serial Perang Dunia II. Ini berbeda dengan perang Rusia Ukraina saat ini yang  merupakan perang darat. Sejauh ini kekuatan striking force TNI AL bertumpu pada 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Bung Tomo Class, 5 KRI Ahmad Yani Class ,4 KRI Diponegoro Class dan 4 kapal selam. Kekuatan ini masih belum memenuhi kriteria minimum essential force untuk mengawal perairan Indonesia yang sangat strategis. 

Oleh sebab itu eksekusi final program percepatan pengadaan alutsista strategis kapal perang heavy fregate Fremm dan Mogami adalah harapan besar yang dinanti dan ditunggu. Meski prediksi jumlah yang akan diperoleh tidak sebesar perjanjian awal MOU. Misalnya hanya 4 unit Fremm dan 4 unit Mogami yang akan diproses dalam kontrak efektif, semuanya akan dimaklumi. Semua pihak, Fincantieri dan Mitsubishi serta TNI AL diyakini merasa lapang hati dengan proses final ini. Angkatan Laut Indonesia adalah kekuatan garis depan dalam potensi konflik berskala besar di LCS dan Indo Pasifik. Negara di kawasan regional semuanya sudah bersiap, Filipina, Vietnam,  Australia, Jepang, Korsel, Taiwan dan AS. Maka kita pun layak dan harus bersiap dengan memperkuat alutsista untuk melindungi teritori NKRI sekaligus sebagai investasi pertahanan. Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

****

Jagarin Pane / 21 Pebruari 2023


Thursday, February 16, 2023

Kapal Cepat Rudal

PT PAL pekan ini kembali meluncurkan produk ke enam kapal cepat rudal 60 meter paket lengkap, diberi nama KRI Panah 626. Persenjataan utama nantinya dilengkapi dengan peluru kendali anti kapal permukaan Exocet blok 3.

Sampai hari ini TNI AL sudah memiliki 14 kapal cepat rudal produksi dalam negeri. 8 unit yang lain dari "Clurit Class" merupakan produksi PT Palindo Batam. Kapal cepat rudal adalah alutsista "hit and run" yang diperlukan dalam sistem senjata armada terpadu TNI AL. Seluruhnya diberi nama senjata tajam tradisional Indonesia

CLURIT CLASS 40 meter (Buatan PT Palindo Batam)

KRI Clurit 641

KRI Kujang 642

KRI Beladau 643

KRI Alamang 644

KRI Surik 645

KRI Siwar 646

KRI Parang 647

KRI Terapang 648


SAMPARI CLASS 60 meter (Buatan PT PAL Surabaya)

KRI Sampari 628

KRI Tombak 629

KRI Halasan 630

KRI Kapak 625

KRI Panah 626

KRI Kerambit 627

Yang menarik, berbagai jenis kapal perang TNI AL seperti kapal cepat rudal, kcr trimaran, kapal patroli cepat, korvet, landing ship tank, landing platform dock, tanker bcm, dan bahkan kapal selam sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini PT PAL sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate "merah putih" 140 meter. Luar biasa kemajuan industri pertahanan kita khususnya matra laut. Tapi biasanya berita bagus seperti ini tidak menjadi perhatian kita.

****

(Jagarin Pane/ 16 Feb 2023)

Friday, February 3, 2023

Bergegas Atur Strategi Militer

Kesepakatan baru tanggal 2 Februari 2023 antara AS dan Filipina untuk menyediakan akses 4 pangkalan militer Filipina sebagai "pangkalan aju" militer AS adalah langkah strategi penting. Strategi mempersiapkan palagan paling mematikan jika terjadi pertempuran hebat di kawasan Indo Pasifik. Selama ini bagi AS dan sekutunya di Timur Jauh, ketiadaan akses pangkalan militer di Filipina seperti mata rantai "bulan sabit" yang terputus alurnya. Mulai dari Panmunjom Korsel, Okinawa Jepang, Hawaii, Guam, Taiwan, Darwin Australia dan Kokos di Samudra Hindia. 

Aliansi militer AUKUS antara AS, Inggris dan Australia sudah lebih dulu dibentuk dengan Australia sebagai garda terdepan menghadapi China. Program cepat sajinya adalah mempersenjatai Australia dengan armada kapal selam bertenaga nuklir dan berpotensi membawa senjata nuklir. Aliansi satu nasab "anglo saxon" ini bersama Taiwan, Jepang, Korsel, Kanada sejatinya sudah membentuk NATO Timur Jauh. Karena sesungguhnya yang pantas berhadapan secara militer dengan China adalah aliansi ini. Sementara Jepang sudah mendapat "lampu hijau" dari AS untuk memperkuat militernya dari defensif menuju ofensif.

Jika AS dan sekutunya bergegas atur strategi abcd, penantang hegemoninya tidak tinggal diam. Hanya beda cara. Kalau AS dan sekutunya cenderung show of force, berkesan psywar maka gaya diplomasi militer China sedikit bicara banyak kerja. Dengan Rusia sudah ada aliansi strategis untuk langkah dan kepentingan bersama. Apalagi dengan Korea Utara, sudah menjadi sekutu tradisional China. Sementara Rusia dengan Iran sudah seperti kakak adik dalam perang di Ukraina. Demikian juga antara Iran dan China. Korea Utara sudah terang-terangan bersekutu dengan Rusia dalam perang di Ukraina. Maka jika 4 negara ini China, Rusia, Iran, Korut membentuk aliansi militer skala penuh maka bisa dipastikan persekutuan militer barat menjadi mendapat rival tanding yang sepadan.

AS pernah mendapat akses militer penuh untuk pangkalan militer besar di Clark AFB dan Subic Navy Base di Filipina. Dua pangkalan militer ini menjadi home base utama untuk menggempur pasukan Vietnam Utara dan Vietcong dalam perang Vietnam selama 15 tahun. Meski akhirnya AS harus menelan kekalahan paling menyakitkan dan angkat kaki secara militer dari Vietnam tahun 1975. Setelah Presiden Ferdinand Marcos digulingkan, mayoritas rakyat Filipina tidak menghendaki kehadiran militer AS di negerinya. Akhirnya kedua pangkalan militer legendaris itu ditutup abadi. 

Nah, Kamis 2 Februari 2023 kemarin putranya Ferdinand Marcos, Bongbong Marcos Jr yang baru terpilih menjadi Presiden Filipina bersetuju membuka akses 4 pangkalan militer di negerinya. Tiga pangkalan militer terletak di pulau Luzon dan satu lainnya di pulau Palawan. Ini semata-mata karena kepentingan nasionalnya yang terancam karena dinamika Laut China Selatan (LCS) yang semakin memanas. Namun penggunaan 4 pangkalan militer itu tidak sama seperti yang dulu yang mengakibatkan dampak sosial dan asusila bagi rakyat Filipina di sekitar pangkalan militer terbesar di Asia saat itu.

Bagaimana dengan Natuna. Menurut AS jelas bagian dari strategi militer bulan sabit meski tidak ada akses militer asing ke pangkalan militer di Natuna. Bagi Indonesia, Natuna adalah benteng teritori paling bergengsi dan strategis, maka dibangunlah pangkalan militer tiga matra. Dalam kesehariannya konvoi kapal perang berbagai negara wira wiri, terus menerus, bergantian bahkan berpapasan di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) kita di Natuna. Perairan ZEE sah dilintasi pelayaran internasional sebagaimana diatur konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982. Yang tidak boleh adalah mengeksplorasi dan mengambil sumber daya alam yang ada di ZEE tersebut kecuali negara yang diakui berdaulat. Indonesia diakui berdaulat di ZEE 200 mil laut namun ZEE bukan bagian dari kedaulatan teritori sebuah negara. Kedaulatan teritori laut Indonesia adalah 12 mil dari garis pantai.

Mengantisipasi dinamika dan demam berkepanjangan di LCS maka diplomasi militer Indonesia adalah mengembangkan kekuatan laut dan udara seoptimal mungkin. Perang di Ukraina memberikan pelajaran penting bahwa kekuatan pertahanan harus dibangun dari diri sendiri. Meski dalam strategi militer kawasan, Indonesia diklaim sebagai bagian dari aliansi "teman tapi mesra" AS. Namun pembangunan kekuatan pertahanan adalah marwah dan harga diri kita. Sejarah kebangsaan kita adalah sejarah marwah dan martabat. Kemerdekaan diperoleh dari perjuangan darah dan air mata. Maka mengembangkuatkan militer kita adalah dalam rangka kehormatan teritori. Jadi Rafale, F15, IFX, Fremm, Mogami, Maestrale, Scorpene adalah alutsista strategis yang wajib ada demi untuk menjaga marwah dan harga diri NKRI secara militer. Ini juga bagian dari bergegas atur strategi militer.

****

Jagarin Pane / 3 Februari 2023


Friday, January 13, 2023

Mempersilakan Singapura

Perjanjian kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement /DCA) antara Indonesia dengan Singapura ditandatangani tanggal 27 April  tahun 2007 di Bali. Namun selama 15 tahun DCA tidak berjalan karena menunggu ratifikasi masing-masing negara. Akhirnya dengan UU No 3 tahun 2023 tanggal 3 Januari 2023 DCA diratifikasi. Mulai tahun ini Indonesia mempersilakan jiran mungilnya Singapura untuk mempergunakan wilayah laut dan udara Indonesia di kepulauan Riau sebagai arena latihan militer. Meski terpisah secara undang-undang,  DCA termasuk satu "paket pemicu" dengan perjanjian ekstradisi. Juga penguasaan kembali kontrol penerbangan (Flight Information Region/FIR) di kepulauan Riau kepada Indonesia mulai September 2022.

Seperti kita ketahui taji militer Singapura adalah salah satu yang terkuat di rantau ASEAN saat ini. Negeri yang luasnya hampir sama dengan pulau Bintan ini mempunyai berbagai jenis alutsista canggih. Seperti seratusan jet tempur F16, F15 dan F35. Singapura memiliki armada laut yang kuat dengan sejumlah kapal perang fregat canggih dan kapal selam terbaru. Semua alutsista Singapura berlabel teknologi terkini dan terdepan dibanding tetangga ASEAN nya. Belum lagi alutsista matra darat yang menggerunkan. Seluruh alutsista tiga matra sudah terintegrasi dalam network centric warfare. Hanya saja belum pernah diuji dalam latihan militer gabungan skala besar.

Memiliki kuantitas dan kualitas alutsista yang terdepan namun kesulitan untuk menggelar latihan militer, itulah kendala Singapura selama hayat dikandung badan. Sejumlah aset jet tempurnya ada yang dititipkan di AS dan Australia. Punya banyak kapal perang dan kapal selam modern namun teritori udara dan lautnya seperti sangkar burung. Maka DCA dengan Indonesia yang baru diratifikasi awal tahun ini sangat melegakan "sesak nafas" Singapura yang membutuhkan udara segar, area laut dan udara yang luas untuk latihan militer. Singapura pantas dan harus berterimakasih dengan Indonesia. Keduanya memang ditakdirkan sejarah untuk bertetangga. Bertetangga yang baik tentunya.

Wajar saja Singapura harus mempunyai kekuatan militer modern. Negeri sejahtera itu dikelilingi tetangga besarnya Malaysia dan Indonesia. Perjalanan sejarah masa lalu, memisahkan diri dari Malaysia dan konfrontasi Dwikora adalah bagian dari cara pandang pemikir strategis Singapura untuk membangun kekuatan militer berkarakter sarang lebah. Doktrin militernya kira-kira begini: berani ganggu, kami sengat. Bahasa perangnya, pre emptive strike, berani masuk digebuk. Dan alat pemukul gebuknya jet tempur F16, F15, F35 dan kapal selam adalah kekuatan pukul strategis yang menggetarkan.

Kesediaan Indonesia meratifikasi kerjasama pertahanan dengan Singapura menjadi fundamen penting dalam mata rantai kerjasama yang saling bermanfaat diantara keduanya. DCA satu paket dengan perjanjian ekstradisi yang sudah diratifikasi pertengahan Desember tahun lalu. Dengan perjanjian ekstradisi ini maka tidak ada lagi rumah pelarian bagi para buronan koruptor di Singapura. Bahkan perjanjian ini berlaku surut 18 tahun ke belakang. Selama puluhan tahun buronan koruptor Indonesia bisa bersembunyi dengan aman di negara pulau itu bersama duit haramnya.

Soal pengawasan aktivitas militer Singapura yang melakukan latihan di perairan kita nantinya, tidak perlu khawatir. Ada dalam kontrol militer Indonesia yang terukur. Markas Kogabwilhan Satu saat ini sudah ada di Tanjung Pinang,  Armada Satu dengan gelar kekuatan sekitar 35 KRI berpangkalan di Bintan. Di Batam ada 1 batalyon pasukan Marinir. Pangkalan militer di Natuna sudah eksis dengan ribuan prajurit dan alutsista yang tergabung dalam brigade komposit Gardapati. 

Gugus tempur laut dengan sejumlah KRI sudah ada di Natuna. Kemudian skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru, skuadron jet tempur Hawk di Pontianak dan Pekanbaru mampu mengawal teritori udara Kogabwilhan Satu. Termasuk Skuadron pesawat nir awak, instalasi radar berlapis aktif pasif di Natuna. Di Tanjung Pinang sudah tergelar sejak lama radar tiga dimensi yang mampu mengendus pergerakan pesawat asing radius ratusan kilometer. FIR juga ada dalam kontrol Indonesia. Artinya Kogabwilhan Satu dapat mengawasi aktivitas latihan militer Singapura.

Area latihan militer yang dapat digunakan Singapura selama 25 tahun adalah Alpha Satu ke arah pulau Tebing Tinggi Riau. Kemudian Alpha Dua di Timur Singapura dan Bravo ke arah utara mendekati Natuna. Persetujuan ini dalam pandangan kita tidak terlepas dari perspektif dinamika Indo Pasifik dan Laut China Selatan. Bahwa potensi konflik berskala besar sudah terpetakan dengan jelas. Singapura yang punya kekuatan militer gahar bukanlah ancaman militer bagi Indonesia. Tetapi jika Singapura menganggap Indonesia sebagai ancaman itu bagian dari doktrin sarang lebahnya. Nah ratifikasi DCA ini menunjukkan itikad baik Indonesia menjunjung nilai persahabatan dan kerjasama yang sudah terjalin selama ini.

Perjanjian "paket segitiga sama sisi" DCA, ekstradisi dan FIR adalah keberhasilan diplomasi dua negara yang saling berinteraksi. FIR bagi Indonesia adalah kembalinya marwah teritori udara dan kontrol udara sepenuhnya di Natuna dan kepulauan Riau. Perjanjian ekstradisi sangat membantu memberantas kejahatan lintas negara utamanya pemberantasan korupsi. Sementara DCA sangat membantu Singapura untuk mengasah kemampuan militernya sekaligus berterima kasih pada abang besarnya Indonesia. Dan bagi si abang besar terbuka pula kesempatan mengajak si adik untuk lebih peduli dengan potensi konflik besar di kawasan. Abang sudah mempersilakan untuk digunakan. Jangan disalahgunakan ya dik.

****

Jagarin Pane / 13 Januari 2023


Saturday, January 7, 2023

Menyindir China

Banyak yang tidak tahu salah satu hotspot di Laut China Selatan (LCS) yang berada di  Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Laut Natuna Utara (LNU) saat ini sedang hangat dengan kedatangan kapal monster China Coast Guard (CCG). Disebut monster karena CCG 5901 ini adalah kapal penjaga pantai China yang terbesar di dunia. CCG 5901 sudah terdeteksi berada di sekitar perairan blok Natuna sejak akhir Desember 2022 berdasarkan data Marine Traffic. Aktivitas CCG 5901 diawasi ketat dua kapal perang AS sebelum akhirnya kapal monster ini keluar dari ZEE kita.

Kehadiran CCG 5901 di LNU sepertinya  menunjukkan bahwa China sedang marah kepada Indonesia dan Vietnam karena kedua negara ASEAN ini baru saja menandatangani kesepakatan final batas-batas ZEE. Batas-batas ZEE kedua negara ini berada di area nine dash line yang diklaim China. Beijing kemudian menyebar kekuatan CCG dan kapal perang di selatan LCS. Seperti diketahui Indonesia dan Vietnam baru saja merayakan kesepakatan final batas ZEE kedua negara di Bogor.

Puncak perundingan ZEE Indonesia-Vietnam selama 12 tahun berbuah manis di Hari Ibu tahun 2022. Ini adalah sebuah pencapaian perundingan dan diplomasi cerdas kedua negara ASEAN yang patut dicontoh. Tanpa menyuguhkan manuver kekuatan bersenjata seperti kapal penjaga pantai dan atau kapal perang. Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc dan delegasinya berkunjung ke Indonesia dan disambut hangat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor tanggal 22 Desember 2022 yang lalu. Sudah sah batas ZEE kedua negara, tidak akan ada lagi tumpang tindih.

Peristiwa lain yang membuat China berang adalah persetujuan Indonesia untuk melanjutkan kerjasama investasi migas. Mitranya adalah  Harbour Energy Inggris di blok Natuna dalam kawasan ZEE Indonesia dan diklaim sebagai nine dash line China. Jakarta baru saja menyetujui pengembangan ladang gas di blok Natuna di timur laut pulau Natuna dengan investasi $ 3,07 milyar setara dengan 47,7 trilyun rupiah. Eksplorasi blok Natuna sudah berjalan 10 tahun dan direncanakan mulai tahun 2026 sudah mulai berproduksi. Rencana awal akan mengekspor ke Vietnam.

Kesepakatan final ZEE antara Indonesia-Vietnam dan investasi pengembangan ladang gas blok Natuna dalam pandangan kita adalah prestasi kemampuan diplomasi geopolitik dan diplomasi bisnis Indonesia. Tahun 2021 yang lalu eksplorasi migas di blok Natuna "ditungguin" sebulan penuh dan diganggu oleh beberapa kapal CCG dilapis kapal perang China. Indonesia juga mengirim kapal-kapal Bakamla dan KRI. Tak lama kemudian Beijing mengirim nota diplomatik ke Jakarta. KSAL waktu itu Laksamana Yudo Margono menyampaikan pernyataan tegas, kita tidak akan mundur sejengkal pun. ZEE Indonesia adalah wilayah sah sesuai UNCLOS 1982, diakui secara konstitusi internasional.

Dua peritiwa ini, kesepakatan ZEE Indonesia Vietnam dan persetujuan investasi blok Natuna adalah bagian dari metode diplomasi Indonesia yang lugas dan cerdas. Bahwa perselisihan batas ZEE nyatanya bisa diselesaikan dengan kecerdasan diplomasi dan tidak menimbulkan permusuhan. Apalagi show of force kekuatan militer berdasarkan klaim sepihak dan mengabaikan aturan internasional. Termasuk kesepakatan bisnis ladang gas blok Natuna adalah kesepakatan yang sah. Karena berada di ZEE Indonesia. Indonesia dan Vietnam telah memberikan contoh diplomasi berkelas, sekaligus menyindir China untuk tidak mentang-mentang dan merasa benar sendiri.

Hidup di bumi bulat bundar ini tidak bisa mengandalkan mata melotot dan diplomasi kaku. Hubungan antar negara adalah saling ketergantungan, saling membutuhkan. Perang di Ukraina memberikan contoh betapa kita hidup dengan suasana saling ketergantungan, simbiosis mutualistis. Pihak yang mengancam sanksi ekonomi kepada Rusia, mau mengisolasi Rusia, mau mempariakan Rusia malah menjadi bumerang sendiri di lingkungannya. Terjadi krisis pangan dan energi. Potensi konflik di LCS sejatinya bisa diselesaikan dengan jalan diplomasi dan perundingan. Meski harus bertahun-tahun menjalaninya. Filosofi dakwahnya sederhana kok, mulailah dengan silaturrahim dan bermusyawarah melalui perundingan. Meski hati gondok tetaplah tersenyum. Itu pesannya.

****

Jagarin Pane / 7 Januari 2023


Sunday, January 1, 2023

Membaca Peta Jalan Alutsista 2023

Cuaca ekstrim akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 sudah diprediksi oleh BMKG dan hari-hari ini kita "menikmati" suasananya. Bahwa cuaca ekstrim konflik kawasan yang bernama Indo Pasifik juga bisa diprediksi. Sudah ada "awan cumulunimbus" yang menghiasi langit Asia Pasifik di tiga hotspot Panmunjom, Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Cuaca buruk dari potensi konflik paling akbar bisa berubah menjadi medan pertempuran terbesar sepanjang sejarah bumi. Inilah prediksi ekstrimnya. Bukan untuk menakut-nakuti namun indikator penjelasnya sudah terang benderang. Dan tak perlu dijelaskan lagi.

Bagaimana kemudian Indonesia mempersiapkan payung pelindung untuk pertahanan diri bisa kita lihat dari peta jalan yang sudah, sedang dan akan dijalani. Indonesia telah memulai langkah strategis dengan program MEF(Minimum Essential Force) selama 12 tahun terakhir sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010 dan dilanjutkan Presiden Joko Widodo sampai saat ini. Program penguatan militer ini sudah memperlihatkan hasil yang cemerlang dengan semakin banyaknya aset alutsista yang diperoleh militer Indonesia. Meski belum sampai pada kriteria minimal yang diperlukan. Kita patut bersyukur.

Sepanjang tahun 2022 berbagai kontrak pengadaan alutsista strategis sudah dilakukan. Dan Rafale menjadi bintangnya. Jet tempur ini menjadi pilihan terbaik dari negara yang tidak ribet soal diluar urusan pertahanan. Indonesia memesan 42 unit dan diharapkan dapat mengisi 3 skuadron tempur mulai tahun 2026. Untuk mengisi ketersediaan cepat saji karena dibutuhkan saat ini, pemerintah memesan 12 jet tempur Mirage eksisting dari Qatar. Ini bagian dari strategi Indonesia untuk menjalin kerjasama ekonomi dalam skala luas dengan negara Timur Tengah yang kaya raya. Barusan dengan Turki sudah di sign konttrak pengadaan alutsista peluru kendali surface to air dan surface to surface  jarak menengah dan jauh. Sudah jauh hari ditunggu ternyata buatan Turki yang dipeluk. Alhamdulillah.

Kepastian kontrak efektif pembelian 2 pesawat MRTT Airbus A400M terlaksana menjelang tutup tahun. Sementara proses produksi 5 pesawat angkut berat Super Hercules type J pesanan Indonesia sedang berlangsung di pabrikannya Lockheed Martin AS. Satu diantaranya akan datang di triwulan I tahun 2023. TNI AU saat ini sedang mempersiapkan kehadiran 5 pesawat amfibi dari Kanada yang dipesan tahun 2019. Termasuk tambahan 6 jet latih tempur T50 dari Korsel. Armada TNI AL akan menerima aset baru berupa 2 kapal perang pemburu ranjau dari Jerman, 1 kapal LPD rumah sakit buatan PT PAL, 1 kapal tanker logistik, 1 kapal korvet VVIP,  1 kapal LST, dan 2 kapal OPV buatan galangan kapal swasta nasional.

Peta jalan alutsista tahun 2023 diprediksi memasuki musim puncak. Karena tahun ini adalah permulaan tahun politik. Penyelesaian target pemenuhan kebutuhan MEF jilid 3 akan berakhir tahun 2024. Dan itu bersamaan dengan suksesi kepemimpinan nasional. Harapan kita bersama tahun ini ada penandatanganan kontrak efektif untuk 2 kapal selam yang digadang-gadang selama ini, Scorpene dari Perancis. Termasuk minimal 4 kapal perang heavy fregate Fremm Class dari Italia. Jika dua jenis alutsista strategis ini terpenuhi ini setidaknya bisa memberikan daya gedor kekuatan angkatan laut Indonesia. Bersama 2 heavy fregate merah putih yang sedang dibangun di PT PAL,  barisan heavy fregate menjadi  kapal perang striking force yang diandalkan.

Pasukan marinir sebagai bagian dari SSAT (sistem senjata armada terpadu) sudah dimekarkan menjadi 3 divisi. Maka pemenuhan kebutuhan alutsista pasukan serbu pantai ini mestinya menjadi prioritas. Seperti penambahan tank amfibi, panser amfibi, roket, artileri, helikopter serbu dan uav adalah keharusan yang mendesak. Disamping itu pemenuhan satuan peluru kendali pertahanan pantai dan selat menjadi penting terkait ramainya lalulintas militer asing di selat-selat ALKI kita. Prediksi ke depan akan semakin ramai karena dinamika konflik kawasan. Pantai Natuna sangat membutuhkan satuan peluru kendali pertahanan pantai sebagai salah satu pelapis pertahanan teritori.

Indikator pencapaian MEF tahap ketiga menunjukkan sinyal positif. Sinergi Kementerian Pertahanan, Bapenas dan Kementerian Keuangan sejauh ini bahu membahu saling menopang. Anggaran pembelian alutsista sebesar US$ 20 milyar selama 5 tahun ini sebagian besar sudah terserap dan disetujui melalui PSP (penetapan sumber pembiayaan) Kemenkeu. Dan sangat mungkin ada penambahan lagi karena "invasi" Covid19 berhasil dijinakkan. Manajemen kementerian pertahanan dalam pandangan kita mampu melakukan kerja besar extra ordinary untuk mengejar pencapaian MEF. Melakukan negosiasi G to G dengan negara produsen dalam pengadaan alutsista. Dan menjalankan sinergitas, koordinasi berkesinambungan dengan Bapenas dan Kemenkeu. Ketiga institusi ini mampu menunjukkan kinerja profesional berbasis integritas untuk menguatkan otot militer Indonesia.

Gaya manajemen pertahanan ini perlu kita apresiasi karena kita sedang berkejaran dengan awan cumulunimbus yang suatu saat dapat menimbulkan cuaca ekstrim. Antisipasinya kita harus memperkuat benteng teritori dengan kekuatan sendiri. Perang di Ukraina adalah contohnya. Apa yang dilakukan Kementerian pertahanan adalah menyegerakan ketersediaan berbagai alutsista canggih tiga matra. Kita juga meyakini jika kekuatan militer kita dengan kepemilikan alutsista yang canggih bisa memberikan efek gentar. Artinya jika ada pihak yang ingin berkonflik diyakini akan berhitung ulang. Itulah makna jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dan untuk perang tentu harus memiliki kekuatan alutsista canggih. Kekuatan inilah yang kemudian menjadi daya gentar untuk tetap dalam koridor damai. Selamat Tahun Baru 1 Januari 2023.

****

Jagarin Pane / 01 Januari 2023


Sunday, December 25, 2022

Belum Sepadan

Penamaan Bandara Soekarno Hatta adalah momentum sejarah tahun delapan puluhan untuk sebuah bandara nomor satu terbaru di Indonesia yang berlokasi di Cengkareng Tangerang. Bandara ini mulai beroperasi tangal 1 April 1985. Pada awalnya sempat terjadi tarik ulur soal penamaan Bandara ini. Bertahan di nama Cengkareng sebelum akhirnya ditetapkan nama Soekarno Hatta sebagai nama untuk dwi tunggal proklamator The Founding Father of Republic.

Hampir seluruh bandara utama di setiap negara memberi penamaan pada sosok pahlawan nasional terbaiknya. Misalnya Bandara Ben Gurion di Tel Aviv Israel, Bandara King Abdul Azis di Jeddah Arab Saudi, Bandara John F Kennedy di New York AS, Bandara Ninoy Aquino di Manila Filipina. Penamaan bandara sesuai dengan kebesaran nama seorang pahlawan di negara tersebut adalah manifestasi dari "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya". Seluruh bandara utama di Indonesia menyematkan nama pahlawan kecuali bandara Kualanamu di Sumut, bandara Minangkabau di Sumbar dan bandara Kertajati di Jabar.

Angkatan Laut Indonesia memiliki kapal perang modern light fregate "Bung Tomo Class" yaitu KRI Usman Harun 359. Ini merupakan penamaan dari 2 prajurit marinir (dulu KKO) yang dihukum gantung di Singapura pada tahun 1968 sebagai dampak konfrontasi Dwikora. Sangat tepat dua prajurit gagah berani ini disatukan namanya untuk penamaan KRI striking force TNI AL. Sesuai dengan semangat patriotik keduanya, Serda Usman dan Kopral Harun bahu membahu melakukan infiltrasi melalui laut dan berhasil melakukan sabotase, mengebom hotel Mac Donald Singapura bulan Maret tahun 1965. 

Saat ini TNI AL menunggu kehadiran kapal perang jenis korvet VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 yang sedang dalam proses pembangunan di galangan kapal swasta dalam negeri. Juga sudah ada penamaan Gelora Bung Karno (GBK) untuk stadion terbesar di Indonesia yang dibangun di era Presiden Soekarno. Artinya sudah ada penamaan utuh untuk seorang putra terbaik negeri ini, bapak bangsa. Setelah sebelumnya selama lebih tiga dekade stadion megah itu bernama Senayan. Sejarah kemudian mencatat Asian Games ke 4 tahun  1962 dilaksanakan di GBK dan Asian Games ke 18 tahun 2018 juga di stadion yang namanya sudah kembali menjadi GBK. 

Sesuai dengan marwah kedua tokoh besar ini, kita berpandangan bahwa perlu ada pemisahan nama Bandara Soekarno Hatta atau nama Jalan Soekarno Hatta dalam rangka menempatkan kedua nama besar itu pada maqam yang tertinggi untuk masing-masing sosoknya. Tidak lagi digabung atas nama dwi tunggal Proklamator. Salah satu usulannya adalah nama bandara di  CengkarengTangerang menjadi Bandara Soekarno atau Bandara Bung Karno. Karena bandara itu adalah bandara nomor wahid di Indonesia sekaligus pintu gerbang utama lalulintas udara di tanah air.

Bagaimana dengan Bung Hatta. Untuk sosok putra Sumatera Barat ini bisa diberikan untuk nama bandara Kualanamu di Deli Serdang Sumatera Utara Penamaan nama bandara terbesar di Sumatera ini sampai saat ini kesulitan " menemukan" sosok pahlawan yang bisa diterima semua komponen masyarakat disana. Dan sepanjang usia republik nama bandara utama di Sumut bukan nama pahlawan asal Sumut melainkan mengambil nama daerah lokasinya yaitu Polonia dan Kualanamu. Nah jika nama Muhammad Hatta disematkan untuk bandara Kualanamu diyakini akan diterima semua pihak karena wakil presiden pertama ini mewakili semua aspirasi Sumatera. Dan kelas bandara Kualanamu setara dengan kebesaran nama Bung Hatta.

Demikian juga untuk nama jalan Soekarno Hatta, mestinya harus terpisah. Hampir di semua kota di Indonesia nama jalan Soekarno Hatta kalah tempat dan kalah strategis dengan nama jalan Jendral Sudirman. Sudah namanya digabung atas nama dwi tunggal posisi penamaan jalannya juga di "pinggiran" kota. Kita berpendapat ini belum sepadan dengan pembudayaan nilai-nilai kejuangan 1945 yang dibangun dua pendiri republik ini. Marwah perjuangan tahun 1945 harus kita kuatkan dan lestarikan di era digital milenial ini.  Salah satunya adalah membangun persepsi kebesaran nama Bung Karno dan Bung Hatta. Dengan contoh teknis usulan penamaan bandara dan jalan protokol yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan tahun 1945. Merdeka !

***

Jagarin Pane / 25 Desember 2022


Tuesday, December 6, 2022

Kepantasan Seorang Yudo Margono

Saatnya Panglima TNI dijabat "Laksamana Raja Di Laut", begitu kira-kira meminjam judul lagu dendang melayu klasik yang dinyanyikan Iyet Bustami. KSAL Laksamana Yudo Margono setelah sabar setahun menunggu, akhirnya tampil sebagai pucuk pimpinan TNI menggantikan Jendral Andika Perkasa. Sejauh ini sepanjang sejarah republik baru ada 2 figur KSAL yang mendapat kesempatan menjadi Panglima TNI selain Laksamana Yudo. Dan itu terjadi di era reformasi pasca 1998. Mereka adalah Laksamana Widodo AS dan Laksamana Agus Suhartono.

Yudo Margono sebelum menjabat sebagai KSAL dipercaya sebagai Pangkogabwilhan I yang wilayah operasionalnya salah satunya adalah hot spot terpanas Laut Natuna Utara (LNU). Antisipasi dinamika LNU yang demam berkepanjangan adalah konsentrasi penuh armada tempur TNI AL untuk siaga penuh. Tentu bersama TNI AD dan TNI AU. Sudah ada brigade tempur komposit Gardapati di Natuna dengan sejumlah pergelaran alutsista berbagai jenis. Ada skuadron jet tempur, UAV, satuan radar, sejumlah KRI disana. Termasuk kapal-kapal BAKAMLA dan KKP.

Inisiatif KSAL membangun kapal perang striking force jenis korvet untuk VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 adalah untuk sebuah refleksi nasional. Ini adalah kapal perang kepresidenan. Pemberian nama KRI Bung Karno sekaligus untuk mengingatkan kita betapa seorang "Bung Besar" Soekarno dengan "Dekrit Trikoranya" tahun 1961 mampu menjadikan angkatan laut Indonesia berjaya, disegani dan terkuat di kawasan bumi selatan. 

Bayangkan saat itu kita mempunyai seratusan kapal perang dan 12 kapal selam "Whiskey Class" dari Uni Sovyet. Juga kekuatan angkatan udara yang menggetarkan kawasan dengan seratusan pesawat tempur dan bomber strategis. Atas dasar kekuatan armada yang besar ini Presiden AS John F Kennedy kemudian "membujuk" Belanda agar bersedia keluar dari Papua secara terhormat melalui diplomasi dan bendera PBB. Akhirnya Belanda bersedia "pulang kampung".

Pembangunan kapal perang jenis korvet KRI Bung Karno 369 ini dibuat oleh galangan kapal swasta nasional di Batam. Bukan beli dari luar negeri. Dan ini jelas satu semangat dengan kalimat "Berdikari" yang digemakan The Founding Father Republik Indonesia. Seremoni penamaan KRI Bung Karno 369 dilakukan oleh Presiden ke 5 Megawati Sukarno Putri bersama KSAL tgl 20 Juni 2022 yang lalu di Jakarta.

Yudo Margono adalah figur sederhana yang lugas dan lincah dalam menjalankan tugas ketentaraannya. Jauh dari hingar bingar politik. Laksamana raja di laut kelahiran Madiun limapuluh tujuh tahun lalu dan suami seorang perwira Polri berpangkat AKBP ini dibalik kesederhanaannya, mimik wajahnya selalu memperlihatkan keseriusan dan ketegasan. Pada sisi yang lain dia juga ternyata seorang humanis  yang pintar berdendang. Vokal campur sarinya enak didengar.

Sebagai KSAL yang sedang mengembangkan kekuatan TNI AL, Yudo memindahkan markas Guskamla (Gugus keamanan laut) untuk bermarkas di Sabang. Kemudian Koarmada Satu  dipindah dari Jakarta ke Tanjung Pinang. Koarmada Dua di Surabaya dan Koarmada Tiga di Sorong Papua. Sangat tepat keputusan memindahkan markas Koarmada Satu di "garis depan" Kepulauan Riau. Juga sekaligus markas Kogabwilhan Satu. Rentang kendali dan efektivitas operasi KRI lebih terukur. Tidak perlu bolak balik ke Jakarta.

PT PAL saat ini sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang jenis fregat Arrowhead 140. Juga ada pesanan on going project sedang dalam proses produksi belasan kapal perang untuk TNI AL seperti OPV, LST, LPD, penyapu ranjau, KCR, KPC, BCM. Untuk alutsista marinir bisa dong lebih diprioritaskan pertambahannya karena sudah dikembangkan menjadi 3 divisi. Pasukan marinir adalah pasukan serbu pantai maka sangat wajar alutsistanya perlu ditambah secara kuantitas dan kualitas.

Kita berharap Laksamana Yudo mampu mengembangbesarkan angkatan laut negeri kepulauan ini bersama dua matra lainnya. Tentu bersinergi dengan Kementerian Pertahanan. Program modernisasi 41 KRI striking force dapat diselesaikan karena dinamika potensi konflik di kawasan sudah di depan mata. Juga penambahan jet tempur, satuan peluru kendali berbagai jenis, radar GCI dan pesawat peringatan dini AWACS. Indonesia harus mempersiapkan kekuatan militernya sebagai antisipasi cuaca terburuk di kawasan Indo Pasifik, khususnya Laut China Selatan. Laksamana raja di laut sudah sangat paham sekali soal geopolitik dan geostrategis ini.

****

Jagarin Pane / 6 Desember 2022


Thursday, November 24, 2022

Menunggu Final Decision

Penguatan alutsista TNI secara extra ordinary terus dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan yang bersinergi dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan. Terakhir kabar yang mengemuka adalah lanjutan proses pengadaan 36 jet tempur canggih F15 ID yang pintu gerbangnya sudah dibuka lebar pemerintah AS.  Kemudian diyakini dipermudah lagi dengan persetujuan lewat jalur antar pemerintah G to G, melalui mekanisme FMS (Foreign Military Sales).

Ini kurang lebih sama dengan proses pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 ID dan 8 helikopter serbu Apache beberapa tahun yang lalu lewat mekanisme FMS. Yang beda adalah proses pengadaan 5 pesawat angkut berat Super Hercules yang kontrak efektifnya ditandatangani tahun 2019 lewat jalur G to B, dengan pola DCS (Direct Commercial Sales). Kemenhan RI langsung bernegosiasi dengan OEM (Original Equipment Manufacturer) Lockheed Martin AS. Patut dicatat bahwa ekspor alutsista AS baik yang melalui jalur FMS maupun DCS harus mendapat persetujuan dari pemerintah dan parlemennya.

Pengadaan jet tempur F15 ID sangat dipengaruhi oleh keinginan kuat Indonesia untuk mendigdayakan kekuatan angkatan udaranya yang punya ruang udara seluas Eropa. Disamping itu sebagaimana pernah mengemuka bahwa AS telah memberikan fasilitas keringanan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam. Fasilitas ini dikenal dengan istilah populer GSP (General Specialized Preference). Dengan itu surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai puluhan milyar dollar selama puluhan tahun. Pada era pemerintahan Donald Trump GSP ini pernah mau dicabut. Nah, pembelian alutsista dari AS salah satunya adalah untuk meringankan timbangan neraca yang berat sebelah, kata pemerintahan Trump waktu itu.

Keputusan pemerintah AS memberi ruang bagi Indonesia untuk mendapatkan jet tempur canggih F15 ID merupakan langkah kuda seiring dengan dinamika geopolitik kawasan Indo Pasifik. Tetapi seiring dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan terkini masih ada kelas jet tempur siluman F35 yang lebih mutakhir. Dan hanya negara sekutu AS yang bisa mendapatkannya seperti Australia, Singapura, Korsel dan Jepang. Meskipun begitu kita berpendapat sudah sangat bagus memperkuat teritori kedirgantaraan dengan jet tempur F15 ID sebagai pengganti jet tempur Sukhoi SU35. Apalagi sudah ada jet tempur Rafale dan Mirage.

Keputusan akhir (final decision) ada ditangan pemerintah, kata Menhan Prabowo kemarin. Dan pastinya Kementerian Pertahanan bersama Bappenas dan Kementerian Keuangan sedang berkoordinasi ketat seiring dengan tenggat waktu. Presiden yang akan memutuskan dengan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya pintu persetujuan sudah lapang, GSP sudah aman, FMS terbuka lebar. Namun situasi dan antisipasi cuaca buruk perekonomian ke depan juga harus disikapi dengan serius dan waspada. Sementara persetujuan pemerintah AS akan expired akhir tahun ini jika tidak ada respon tindak lanjut dari Indonesia. 

Prediksi kita pemerintah akan bersetuju dengan pengadaan jet tempur ini tetapi jumlahnya mungkin tidak sampai 36 unit. Melainkan hanya ada di kisaran 16-18 unit. Sepertinya ini win-win solution. Bukankah awalnya Menhan Prabowo yang bertandang ke AS untuk minta persetujuan. Kemudian pemerintah AS merespon. Melalui lembaga dibawah kementerian pertahanan DSCA (Defense Security Cooperation Agency) menerbitkan dan mempublikasikan persetujuan detail penjualan 36 jet tempur F15 ID. Artinya monggo kerso. Lalu Menhan berkunjung lagi ke Pentagon untuk negosiasi dan hal-hal teknis. Paling akhir Menhan AS Lloyd Austin berkunjung ke Jakarta Senin 21 Nopember 2022 yang lalu. Artinya semua ini adalah sinyal positif. 

Kita tidak perlu jua terpaku dan melotot dengan nilai dollar yang dipublikasikan DSCA bulan Pebruari 2022 yang lalu. Angka itu sesungguhnya adalah angka penawaran, bukan harga persetujuan kontrak. DSCA pernah menerbitkan harga penawaran Apache milyaran dollar. Nyatanya nilai kontrak efektifnya hanya separuhnya. Sembari menunggu final decision dari Presiden Jokowi kita berharap win-win solution akan menjadi marwah keputusan. Adonannya sudah tersedia, kesediaan pemerintah AS memberi lampu hijau, model FMS, menghargai persahabatan kedua negara, kita yang berinisiatif, ada GSP, antisipasi iklim perekonomian dunia yang menuju resesi, pandemi belum usai. Mari kita menunggu final decision dengan semangat membangun investasi pertahanan.

****

Jagarin Pane / 24 Nopember 2022

Friday, November 11, 2022

Memaknai Investasi Pertahanan

Ada beberapa netizen forum militer bertanya mengapa Indonesia harus belanja persenjataan banyak dan beruntun akhir-akhir ini. Mengapa tidak lebih mengutamakan belanja untuk ekonomi kesejahteraan negeri ini. Terminologi jawaban cerdas dari pertanyaan ini adalah memaknai belanja alutsista sebagai investasi pertahanan. Alokasi APBN untuk ekonomi kesejahteraan sudah terbagi di PUPR, kesehatan, pendidikan, subsidi, dana desa, UMKM dan lain-lain. Anggaran pertahanan kita sejauh ini masih di kisaran 0,8-0,9% dari produk domestik bruto. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 3%, India 2,7%, Inggris 2,2%, AS 3,5%.

Jujur saja selama ini kita sedikit lengah dalam membangun kekuatan militer based on navy and air force. Apalagi menganggap bahwa tidak akan ada musuh yang mengancam dan menyerang teritori NKRI selama duapuluh tahun ke depan. Ini yang kemudian menjadi tema statemen Menhan Prabowo ketika menjadi keynote speaker di acara Seminar Nasional TNI AU di Halim AFB Selasa tanggal 08 Nopember 2022.  Prabowo berharap para elite dan jendral dapat mengedepankan pola pikir strategis, mengantisipasi ancaman yang sudah di depan mata. Kita bangun kekuatan militer negeri ini secara signifikan untuk 20 tahun ke depan. Inilah investasi pertahanan untuk eksistensi dan marwah negara.

Dan sekarang ancaman itu jelas dan terang benderang. Suasana geopolitik dan geostrategis di kawasan Indo Pasifik saat ini sudah menyimpan bara api untuk konflik besar-besaran dan skala penuh. Ada tiga hotspot seperti bisul yang menunggu pecah bernanah di kawasan "timur jauh" ini, yaitu konflik Dua Korea di Semenanjung Korea, konflik China-Taiwan dan konflik di Laut China Selatan (LCS). China sudah membangun beberapa pangkalan militer canggih di kepulauan Spratly dan Paracel di LCS. Pertaruhan eksistensi dunia di masa depan ada di kawasan Indo Pasifik yang "satu kelurahan" dengan kita.

Semuanya merupakan potensi pertempuran dahsyat di kemudian hari. Sudah ada pakta militer baru berbau nuklir AUKUS antara Australia, Inggris dan AS. Latihan militer antar negara sudah sangat intens di berbagai tempat. Di Filipina, Australia, Korsel, Hawaii, Jepang silih berganti melakukan simulasi pertempuran multi nasional. Garuda Shield di Indonesia salah satu yang berskala besar diikuti 14 negara. Terakhir AS bersiap menempatkan 6 pesawat bomber strategis B52 bersenjata nuklir di Darwin Australia. Sementara Korut sudah mulai "bermain mercon balistik" menggertak Korsel dan Jepang.

Bagaimana dengan kesiapan kita. Filosofi si vis pacem parabellum ( jika ingin damai bersiaplah untuk perang) menjadi standar untuk memperkuat militer kita yang memang tertinggal jauh dari negara di kawasan.  Ya karena itu tadi menganggap tidak ada musuh yang mengancam dalam dua tiga dekade ke depan. Nyatanya dinamika kawasan LCS yang penuh gejolak ini membuat kita berkalkulasi dan berhitung. Hasilnya kita belum mencapai kekuatan militer minimal untuk menjaga negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Maka digelarlah program MEF (Minimum Essential Force) sejak 13 tahun lalu yang kemudian diperhebat dalam tiga tahun terakhir ini.

Maka ketika ajang Indo Defence di Jakarta barusan, terdapat banyak persetujuan kontrak pengadaan alutsista untuk TNI. Nilainya milyaran dollar. Adalah sangat wajar dalam perspektif "baru bangun tidur" karena saat ini kita dituntut berlari untuk mengejar ketertinggalan kekuatan militer kita. Apalagi ternyata ada yang gagal datang seperti jet tempur Sukhoi SU35. Artinya ada rentang waktu yang terbuang. Kemudian yang lebih penting dalam kaitan ini, bahwa belanja alutsista sesungguhnya adalah untuk investasi pertahanan dengan durasi 20-30 tahun ke depan. Contoh kita membeli 42 jet tempur Rafale adalah untuk masa investasi 20-25 tahun kedepan. 

Yang namanya membangun investasi pertahanan apalagi untuk mengejar ketertinggalan terlihat dalam shopping list kementerian pertahanan. Ada kontrak pembelian rudal balistik Khan  dan Hisar. Pengadaan 5 Hercules, 12 jet tempur Mirage, 2 kapal perang penyapu ranjau, 6 pesawat amfibi.  Juga pengadaan 3 kapal cepat rudal, 2 OPV, 1 korvet, 1 LPD, 2 LST dari galangan kapal dalam negeri. Masih banyak shopping list yang lain.

Untuk semua itu mestinya harus kita sikapi dengan semangat membangun "dua sisi mata uang", ekonomi kesejahteraan dan pertahanan yang seiring sejalan. Negeri ini potensi pertumbuhan perekonomiannya ke depan diprediksi meningkat signifikan.

Release yang dikeluarkan IMF Oktober 2022 ini menempatkan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia  di urutan ke 7 berdasarkan paritas daya beli (GDP based on Purchase Power Parity). Ranking PDB nomor satu adalah China dan AS sudah tergeser ke posisi runner up. Sebuah pencapaian bagus Indonesia bisa menyalip Perancis dan Inggris. Namun sayangnya prestasi ini tidak mendapat porsi pemberitaan yang proporsional. Ironinya kalau ada berita bertema ghibah senang banget membahasnya.

Sinergi cerdas Bappenas, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan patut kita apresiasi. Usulan investasi pertahanan Kemhan disambut dan disaring Bappenas dengan green light kemudian disaring lagi oleh Kemenkeu dengan penetapan sumber pembiayaan (PSP). Semua mekanisme ini dijalankan dengan semangat percepatan karena kebutuhan alutsista kita extra ordinary. Dengan sebuah sebab yang jelas, militer belum mencapai kekuatan minimal sampai saat ini. Ini fakta.

Seremoni pembuatan kapal perang terbesar heavy fregate Merah Putih akan dilaksanakan bulan ini di PT PAL. Kontrak efektif pengadaan 2 pesawat angkut berat Air Bus A400M diprediksi akhir tahun ini. Juga pelaksanaan repowering 41 kapal perang striking force TNI AL di galangan kapal dalam negeri. Tiga contoh ini adalah bagian dari shopping list yang berbilang puluhan item untuk bisa diselesaikan dalam MEF jilid tiga yang berakhir tahun 2024. Termasuk pengadaan jet tempur F15, kapal selam dan kapal perang heavy fregate selain Arrowhead 140.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi kesejahteraan kita harus diimbangi dengan investasi pertahanan. Tidak bisa tidak. Lihat China sekarang, juga Jepang, Korsel, Singapura, Australia, Taiwan. Semua upaya ini dimaksudkan untuk keberlangsungan bernegara, melindungi pencapaian kesejahteraan, rasa aman dan percaya diri. Sekaligus memberikan efek segan bagi negara lain, ini yang disebut dengan diplomasi militer. Kekuatan ekonomi kesejahteraan yang dikawal dengan kekuatan militer yang sepadan sejatinya adalah marwah, prestasi dan gengsi sebuah negara. Kita sedang menuju pencapaian itu.

****

Jagarin Pane / 11 Nopember 2022

Monday, November 7, 2022

Indo Defence, Gelar Testimoni Inhan

Pergelaran dan pameran produk industri pertahanan multi nasional dilaksanakan di JI Expo Kemayoran Jakarta mulai tanggal 2 sampai dengan 5 Nopember 2022. Ajang produk dan bisnis persenjataan ini mempertontonkan teknologi alutsista terkini yang diikuti 900 produsen alutsista dari 59 negara. Pergelaran berbagai jenis alutsista ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, melahirkan banyak kesepakatan dan kontrak pengadaan untuk Kementerian Pertahanan Indonesia.

Industri pertahanan (Inhan) dalam negeri seperti Pindad, PAL,  PT DI dan swasta nasional mengerahkan seluruh kekuatan produksinya termasuk yang berwajah "mock up" demi untuk memperlihatkan potensi kemampuan dan bermarketing komunikasi. Ada manuver tank Harimau yang sedang dalam tahap produksi pesanan TNI AD. Ada panser Badak dengan persenjataan anti serangan udara Skyranger. Ada juga tampilan panser Anoa generasi ketiga. Semuanya buatan Pindad.

Kesepakatan kontrak antara Kementerian Pertahanan yang perlu diapresiasi di Indo Defence ini adalah Mild Life Modernization (MLM) atau upgrade 41 kapal perang TNI AL di sembilan galangan kapal dalam negeri dengan lead integrator PT PAL. Artinya 9 galangan kapal di dalam negeri yang sudah punya kemampuan membangun kapal perang mendapat kepercayaan untuk proyek strategis ini. Karena seluruh kapal perang striking force TNI AL kecuali Martadinata Class akan di upgrade infrastruktur tempurnya termasuk memperbaharui teknologi radar, integrasi komunikasi dan instalasi rudal terbaru.

PT PAL diketahui sedang merancang dan akan memproduksi kapal selam serang mini tanpa awak bekerjasama dengan Diehl Defense Jerman. Waktu bangunnya lebih cepat hanya 1 tahun dan punya efek gentar sebagaimana kapal selam serang ringan. Panjang 25 meter dengan Artificial Intelligence dengan waktu operasional lebih lama. Kapal selam autonomous ini bisa menembak torpedo dari dalam laut. Kita ketahui Dirut PAL saat ini adalah seorang profesional yang ditarik pulang dari Jepang oleh Menhan Prabowo. Kaharuddin Djenod adalah seorang pakar dan desainer perkapalan yang sudah menghasilkan ratusan karya.

Banyak proyek strategis yang diamanahkan ke PT PAL. Saat ini saja sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang canggih heavy fregate Arrowhead 140 kerjasama dengan Inggris. Seremoni pemotongan baja tanda dimulainya pembangunan Arrowhead direncanakan pada bulan Nopember ini. Termasuk memulai pembangunan 2 kapal perang jenis landing platform dock (LPD) pesanan yang kedua dari angkatan laut Filipina. Artinya PT PAL telah mengekspor 2 kapal perang ke negeri jiran utara ini dan dipercaya lagi membangun tambahan 2 unit. Alhamdulillah. 

Itu sebabnya kedepan ini untuk pembuatan kapal cepat rudal (KCR) 60 meter TNI AL, dipercayakan ke pihak swasta seperti PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi dan PT Tesco Indomaritim di Bekasi. Galangan kapal swasta nasional PT Daya Radar Utama di Srengseng Lampung saat ini sedang mengerjakan 2 kapal perang OPV (Offshore Patrol Vessel) dan  PT Karimun Anugrah Sejati yang di Batam juga sedang menyelesaikan kapal perang jenis korvet VVIP KRI Bung Karno 369. PT Lundin sukses membangun kapal perang stealth KRI Golok 688 dan tank boat Antasena. Luar biasa.

Surprise di forum Indo Defence adalah ditandatanganinya kontrak sistem pengadaan rudal balistik Khan dan sistem rudal pertahanan udara Hisar buatan Roketsan Turkiye. Sebenarnya alutsista jenis yang terakhir ini sedang ditunggu-tunggu sebagai pelapis pertahanan udara (hanud) nasional. Kita sudah punya hanud titik dengan sejumlah rudal starstreak dan mistral di beberapa batalyon Arhanud TNI AD. Juga rudal hanud area jarak sedang yaitu Nasams. Rudal Hisar diproyeksikan untuk long range surface to air missile (LRSAM). Ini adalah pelapis pertahanan udara yang sejak lama dinantikan.

Di Pondok Dayung Tanjung Priok salah satu lokasi Indo Defence untuk matra laut ada unjuk kebolehan KCR dihadapan Menhan Prabowo. KCR 60m buatan swasta nasional Tesco  mampu berenang dengan kecepatan 40 knot/jam. Termasuk unjuk kinerja tank boat Antasena buatan galangan kapal swasta Lundin Banyuwangi. Semua unjuk kinerja itu membawa rasa optimis akan kemampuan Inhan swasta nasional. Pada kesempatan ini ada seremoni pengukuhan kapal perang jenis LPD rumah sakit buatan PT PAL yaitu KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991.

Sementara di Halim AFB ada unjuk kecanggihan jet tempur Rafale yang memukau. Demi Indo Defence si Rafale dan rombongannya rela datang kembali ke Jakarta. Setelah sebulan yang lalu datang menghangatkan langit Jakarta usai mengikuti latihan tempur angkatan udara mancanegara Pitch Black di Darwin Australia. Indonesia juga ikut di ajang Pitch Black dengan mengirimkan 7 jet tempur F16. Selain Rafale yang meramaikan Indo Defence ada juga atraksi tim Jupiter TNI AU dengan pesawat KT-1 Wong Bee yang lincah itu. Banyak sih yang mau diceritakan tapi sementara ini dulu ya. Nanti disambung lagi.

****

Jagarin Pane / 6 Nopember 2022

Tuesday, October 25, 2022

Pohang Ditekuk Mirage Dipeluk

Ini adalah soal urusan alutsista bekas karena keduanya adalah alutsista yang segera dipensiunkan pemiliknya. Tetapi mengapa Pohang ditekuk dan Mirage dipeluk tentu punya jalan cerita masing-masing. Dan jalan cerita itu menjadi menarik untuk dicermati karena keduanya, 3 kapal perang Pohang Class dari Korsel dan 12 jet tempur Mirage dari Qatar sejatinya sangat dibutuhkan secara instan dan cepat saji untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini.

Korsel beberapa waktu lalu berniat untuk menghibahkan 3 kapal perang jenis korvet Pohang Class kepada Indonesia. Tidak ada makan siang gratis, begitu juga dengan hibah alutsista bekas ini sangat diyakini terkait dengan upaya marketing diplomasi Korsel untuk bisa melanjutkan proyek tiga kapal selam Nagapasa Class batch 2 yang MOUnya sudah diteken tiga tahun lalu. Kementerian Pertahanan bersama Bappenas lalu membuat action plan dan road map untuk mendatangkan 3 kapal striking force ini sampai kemudian bertemu dengan angka US $21 juta agar ketiganya datang dan operasional. Namun ternyata Kementerian Keuangan menolak memberikan PSP (penetapan sumber pembiayaan) alias tidak berkenan. Pohang gagal datang.

Tetapi mengapa pada saat yang bersamaan ada lampu hijau dari Kementerian Keuangan bersetuju untuk mempersiapkan sumber pendanaan 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk akuisisi jet tempur made in Perancis ini dalam planning Kementerian Pertahanan. Yang mengemuka adalah pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis dan 36 jet tempur F15 IDN dari AS. Termasuk pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm Class dan 2 kapal selam Scorpene Class dari Perancis. Mirage tiba-tiba muncul kepermukaan dan mencuri perhatian.

Dalam pandangan kita bisa saja penolakan halus Pohang Class terkait dengan kurang tertariknya Indonesia untuk melanjutkan proyek kerjasama pembangunan 3 kapal selam Nagapasa jilid dua. Ini juga terkait dengan performansi 3 kapal selam yang sudah selesai dibuat dalam program Nagapasa jilid satu yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405. Indonesia tidak puas dengan kinerja kapal selam jenis U209 improved ini. Selama sembilan tahun Indonesia menjalin kerjasama alih tekonologi pembuatan 3 kapal selam dengan Korsel. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibuat di galangan kapal selam PT PAL Surabaya.

Apalagi baru saja terungkap ada 9 kapal selam milik angkatan laut Korsel dari jenis U214 yang notabene fotocopy pabrikan Jerman bermasalah di modul inverternya. Bahkan satu diantaranya harus ditarik pulang ketika sedang menyelam di Laut China Timur Januari 2022 yang lalu. Cacat fungsional armada kapal selam ini sangat memukul kekuatan angkatan laut Korsel. Padahal negeri itu harus siaga penuh menghadapi permusuhan dengan saudara sekandungnya Korut. Kita ketahui Nagapasa Class adalah U209 Jerman yang dibangun Korsel setelah negeri ginseng itu berguru dengan Mahaguru kapal selam Jerman selama 10 tahun dan membuat U209 dan U214 untuk angkatan lautnya.

Soal pengadaan dadakan 12 jet tempur Mirage dari Qatar dengan PSP US $ 750 juta sangat dimungkinkan karena keputusan politik pemerintah Indonesia untuk menjalin kerjasama multi bidang dalam skala besar dengan Qatar dan UEA. Terutama pembangunan IKN, bidang investasi dan kerjasama pertahanan. Disamping itu kehadiran cepat jet tempur Mirage adalah untuk mengisi ketersediaan skadron tempur di Natuna yang saat ini diisi jet latih tempur Golden Eagle. Sementara jet tempur Rafale baru akan datang tahun 2026, masih lama. Jika semuanya berjalan lancar Mirage diprediksi segera datang akhir tahun depan. Kita memang sedang berkejaran dengan waktu untuk memperkuat tameng Natuna.

Percepatan proses pengadaan alutsista adalah keharusan dalam mengejar tingkat keterisian program MEF (minimum essential force) jilid 3 yang berakhir tahun 2024. Maka selayaknya kita sambut kehadiran 12 jet tempur Mirage dan berharap proses pengadaan 2 kapal selam Scorpene bisa terselesaikan secepatnya. Alutsista strategis seperti jet tempur, kapal perang dan kapal selam sangat dibutuhkan dalam menghadapi potensi konflik besar di Laut China Selatan. Kehadirannya tentu bagian dari diplomasi militer kita sekaligus membangun rasa percaya diri. Bahwa kita harus mempunyai kekuatan angkatan laut dan udara yang setara teknologinya dengan negara kawasan. Bergegaslah.

****

Jagarin Pane / 24 Oktober 2022

Wednesday, October 5, 2022

Lintas Sejarah Tentara Republik (2-Habis)

Sejak era Menteri Pertahanan M Yusuf bersamaan dengan booming harga minyak pertengahan tahun tujuh puluhan, menjadi titik balik penguatan alutsista TNI meski tidak segahar era Dwikora. Pengalaman memasuki Timor Timur dengan alutsista minim menjadi justifikasi penguat, reformasi penguatan alutsista dimulai. Tercatat 100 batalyon TNI AD dipersenjatai dengan M16 untuk para prajuritnya,  membeli seratusan panser dari Perancis dan merenovasi barak-barak militer.

Sementara itu TNI AU dibelikan 16 jet tempur F5E dari AS dan 36 jet tempur A4-Skyhawk bekas pakai dari Israel. Awalnya diinformasikan bahwa 36 pesawat pengebom A-4 Skyhawk bekas pakai perang Arab-Israel tahun 1973 ini disebut berasal dari AS. Melalui operasi intelijen digelar mekanisme teknis untuk melatih pilotnya. Sampai-sampai pilotnya tidak tahu kalau sudah dibawa ke Israel lewat penerbangan dan paspor berliku. Mirip film James Bond 007. Barulah setelah era reformasi, terbuka informasi yang sesungguhnya tentang asal usul jet tempur itu, dari Israel.

Awal tahun delapan puluhan TNI AL mendapat 2 kapal selam baru buatan Jerman yang dikenal dengan Cakra Class, salah satunya KRI Nanggala 402. Kemudian di era yang sama mendapat tambahan 6 kapal perang fregat bekas pakai Van Speijk Class dari Belanda dan 3 korvet anyar buatan Belanda Fatahillah Class. TNI AU pada dekade yang sama memperoleh 8 jet tempur Hawk Mk53 dari Inggris dan 12 jet tempur F16 dari AS. Kehadiran F16 blok 15 OCU memberikan kekuatan baru bagi penjaga kedirgantaraan nasional sebagai skadron tempur strategis bersama jet tempur F5E.

Pembelian alutsista yang paling menghebohkan adalah ketika memborong 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur yang sudah bergabung menjadi Jerman tahun 90an. Berkat lobbi BJ Habibie prosesnya kemudian disetujui Presiden Soeharto. Namun proses pengadaannya saat itu ribet dan ributnya  bukan main sampai kemudian majalah Tempo dibreidel rezim Soeharto. Drama proses pembelian kapal perang korvet Parchim Class dan landing ship tank Frosch Class dari Jerman Timur ini pada akhirnya mampu menambah kuantitas alutsista matra laut sampai sekarang.

Heboh yang lain juga terjadi di era 90an ketika Indonesia memesan 40 jet tempur Hawk 100/200 dari Inggris. Pengiriman pesawat dilakukan secara bergelombang dan ferry. Nah dalam pengiriman batch selanjutnya tiba-tiba ada embargo atas perintah "abang sepupunya"  AS karena peristiwa Santa Cruz di Timor Timur. Buruknya perilaku Inggris adalah meninggalkan 4 pesawat Hawk di Bangkok begitu saja, pilotnya disuruh pulang otoritas Inggris. Pilot TNI AU akhirnya yang mengambil pesawat itu setelah melobi otoritas Thailand. Padahal Indonesia juga memborong 100 tank Scorpion dari London. Kita sebagai pembeli alutsista tidak dihargai sama sekali. Kondisi ini semakin diperparah ketika jet tempur Hawk dan tank Scorpion yang diterjunkan ke Aceh dilarang untuk dipergunakan melawan GAM tahun 2001.

Ketika konflik Ambalat mengemuka tahun 2004, kondisi alutsista TNI masih sangat kurang. Jet tempur F16 masih diembargo AS sementara jiran Malaysia show of force di perairan kaya sumber daya energi fosil itu. Bahkan ketika Presiden SBY berkunjung ke Karang Unarang dengan beberapa KRI, pesawat Malaysia sengaja melintas diatas. Malaysia menunjukkan powernya karena mereka mempunyai 18 jet tempur Sukhoi dan 8 jet tempur F18 Hornet. Termasuk 2 kapal selam canggih Scorpene. Nah, dari konflik Ambalat dan prediksi intelijen soal Laut China Selatan (LCS) dan Natuna inilah Presiden SBY kemudian merancang program strategis militer tahun 2009 yang dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF). Inilah awal modernisasi alutsista TNI yang sampai hari ini sudah memasuki MEF jilid III yang berakhir tahun 2024.

Perkuatan alutsista TNI saat ini sudah jauh meninggalkan Malaysia. Dan jiran kita itu sejauh ini tidak lagi pergi "bermain api" di Ambalat karena sudah kalah awu dari Indonesia. Pembangunan pangkalan militer di Natuna seperti pepatah "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui". Artinya benteng pertahanan yang dibangunkuatkan di Natuna ditujukan untuk mengantisipasi konflik LCS yang diklaim China. Namun pangkalan ini bisa bermanfaat jika konflik Ambalat memanas. Indonesia bisa melakukan blokade militer dari Semenanjung Malaysia ke Sabah. Secara strategi militer pangkalan militer Natuna menjadi garis depan untuk menghadapi China dan "garis pemisah" Semenanjung dan Sarawak Sabah Malaysia.

Saat ini meski belum sampai pada kriteria kekuatan minimal, perkuatan alutsista TNI patut kita syukuri. Aset eksisting TNI AU saat ini ada 3 skadron F16, 1 skadron Sukhoi, 2 skadron Hawk, 1 skadron T50 dan 1 skadron Super Tucano. Indonesia juga sudah memesan 42 jet tempur Rafale dan bersiap menyambut produksi jet tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan.  Sementara TNI AL sudah menambah inventory striking force KRI yaitu Diponegoro Class 4 unit, Bung Tomo Class 3 unit, Martadinata Class 2 unit, kapal selam 3 unit. Termasuk puluhan kapal cepat rudal dan kapal patroli cepat buatan dalam negeri. Marinir juga mendapat aset puluhan tank amfibi BMP-F dan MLRS Grad/Vampire. PT PAL saat ini sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate Arrowhead 140.

TNI AD menambah kekuatan striking forcenya dengan seratusan tank Leopard, limapuluhan tank Marder, limapuluhan artileri Nexter, limapuluhan MLRS Astross II Mk6, tigaratusan panser Anoa, Badak dan lain-lain. Termasuk penambahan ratusan peluru kendali SAM Starstreak, Mistral. Juga helikopter Mi35, Mi17 buatan Rusia dan Apache buatan AS. Saat ini sedang diproduksi tank Harimau kerjasama Pindad dan FNSS Turki. Semua ini sangat membanggakan kita. Industri pertahanan nasional baik BUMN maupun swasta nasional ikut berkibar sebagai penyedia ragam alutsista. Dan tentu menyerap ribuan tenaga kerja dan ratusan tenaga ahli.

Maka menyambut HUT TNI ke 77 tanggal 5 Oktober 2022 ini marilah kita mensyukuri semakin mekarnya kekuatan militer kita. TNI adalah benteng eksistensi NKRI, TNI adalah adrenalin NKRI. Kekuatan ekonomi dan kekuatan militer negeri ini harus sama-sama kuat. Saat ini kekuatan ekonomi kita ada di ranking 16 dunia dan masuk G20, kekuatan militer juga ada di urutan 15 dunia GFP. Seiring sejalan kan. Kekuatan militer sejatinya adalah marwah diplomasi militer sebuah negara. Kita sedang menuju ke arah itu. Selamat ulang tahun ke 77, TNI Adalah Kita. Dirgahayu TNI.

****

Jagarin Pane / 05 Oktober 2022