Thursday, October 15, 2020

Mengukur Bargaining Prabowo

Lama tak terdengar lanjutan progres pengadaan alutsista strategis Indonesia, tiba-tiba ada lampu hijau dari Washington. Isi pesannya kira-kira begini, silakan datang, kami menyambut hangat Menhan Prabowo dan shopping listnya. Ini kabar yang menggembirakan sekaligus membanggakan karena lampu merah kunjungan selama dua puluh tahun sudah padam, berganti lampu hijau.

Di sisi ini Prabowo telah memenangkan pertarungan harga diri tanpa merasa susah payah melobby dan merayu. Sementara AS melihat sudut pandang horizon tentang perspektif sosok mantan Pangkostrad ini. Sudut pandang Indo Pasifik yang dinamis dan potensi kepemimpinannya untuk Indonesia setelah 2024 menjadi poin penting terbukanya portal kunjungan ini.

Menghadapi militer China, AS perlu mitra besar, sedikit dibawah kategori sekutu. Indonesia adalah mitra besar yang perlu sekali dirangkul untuk kepentingan strategis AS di Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan (LCS). Karakter Paman Sam biasalah, selalu "nggolek bolo" untuk mempertahankan hegemoninya di belahan dunia manapun.

Indonesia sebenarnya sedang memproses pengadaan alutsista dengan AS. Misalnya pengadaan 24 unit jet tempur F16 Viper, 6 pesawat Hercules terbaru, 8 Osprey, 8 Chinook dan 8 Apache batch 2.  Namun jujur saja sebenarnya saat ini kita dalam posisi "tersinggung" dengan kesombongan AS lewat CAATSA untuk menghalangi pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Padahal kontraknya  sudah ditandatangani tahun 2018 yang lalu.

Langkah cerdas Prabowo sepanjang semester satu tahun ini melakukan proses percepatan pembelian alutsista selain dari AS. Dia kunjungi Perancis, Rusia dan Turki. Dengan Austria melakukan kontak intensif untuk bisa membeli 15 jet tempur Typhoon bekas tapi masih rendah jam terbangnya. Pesan tersirat dari semua hasrat besar Prabowo sebelum mendapat green light dari AS adalah tidak ingin berkiblat ke AS dalam pengadaan alutsista. Boleh jadi karena kekecewaannya terhadap blokade visa kunjungan ke AS.

Posisi tawar Prabowo dalam kunjungan ke AS bisa diolah dengan kemampuan diplomasi dan lobby tim Kemenhan. Misalnya berupaya semaksimal mungkin meloloskan hambatan pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35. Atau jika Uak Sam keberatan bisa diganti dengan sejumlah jet tempur stealth F35. Nilai kunjungan bargaining selama tiga hari mulai hari ini akan diuji dengan kalimat: apakah AS akan meluluskan permintaan Indonesia untuk mendapatkan 11 jet tempur Sukhoi SU 35 atau menggantinya dengan F35. 

Jika memang tidak  mendapatkan salah satunya atau bahkan keduanya Menhan eks Capres itu sudah siap dengan paket pengganti yaitu 2 skadron Rafale plus 1 skadron Typhoon. Artinya 24 unit jet tempur F16 Viper yang sedang berproses dilepas juga. Dua jenis jet tempur non AS, Rafale dan Typhoon  menjadi kekuatan tawar menawar Prabowo.

Lebih dari itu "mengalahnya" AS pada embargo personal terhadap Prabowo selama 2 dekade karena  melihat posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang sangat penting. Indonesia dianggap paling berani berhadapan dengan China. Ketika Coast Guard China memasuki perairan ZEE Natuna, Indonesia bereaksi keras dan mengirim sejumlah kapal perang dan jet tempur.

Sejatinya menjaga stabilitas LCS harus menggunakan pakem si vis pacem parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Artinya penguatan alutsista adalah kemutlakan, tidak bisa tidak. Kita harus bisa secepatnya memiliki militer dengan kekuatan pukul yang diperhitungkan. Sejalan dengan langkah itu kita harus berupaya menyeimbangkan kekuatan dengan "merapat" pada mitra yang ingin menjaga stabilitas kawasan.

Dalam program modernisasi militer Indonesia untuk angkatan udara masih memerlukan minimal tambahan 3 skadron tempur baru. Maka layak pula jika isian skadron baru itu dihuni SU35 atau F35. Dan jika tidak mendapat keduanya sah-sah saja jika kita segera merealisir pengadaan 2 skadron Rafale dan 1 skadron Typhoon. Bahkan untuk Typhoon kalau tidak ada halangan diprediksi pertengahan tahun depan sudah datang.

Bagaimanapun AS adalah sahabat yang bisa memahami harapan dan keinginan kita. Apalagi situasi LCS yang demam tinggi terus menerus memerlukan strategi kemitraan yang cerdas. Artinya untuk kepentingan nasional kita juga. Secara ekonomi kita dekat dengan China dan AS. Namun dengan pertimbangan stabilitas kawasan kita juga harus memilih langkah cerdik dalam memilih teman yang bisa menjaga kampung kita meskipun teman kita berbeda kampung.

Harapan masa depan LCS adalah stabilitas. Maka jika banyak negara di luar kawasan ikut mengambil peran, adalah sebuah kewajaran. Jepang, Australia dan Kanada sudah mengikuti langkah AS. Inggris juga sudah merapat. NATO diprediksi akan ikut menjadi payung stabilitas. Kemitraan strategis untuk menjaga stabilitas LCS memang mahal harganya. Kita dan ASEAN tentu ingin situasi ini berlaku abadi, alias tidak ada keangkuhan dan pamer kekuatan militer. Maka bargaining Prabowo yang dibawa ke AS akan menjadi headline di kawasan ini hari-hari mendatang.

****

Jagarin Pane/15 Oktober 2020


Wednesday, September 9, 2020

Selangkah Lagi Menuju Era Network Centric Warfare

Dari Yunani ada kabar bagus dan ditunggu. Bahwa perusahaan raksasa negeri para dewa itu, Scytalys memenangkan tender terbuka untuk membangun infrastruktur software fundamen Network Centric Warfare (NCW) militer Indonesia. Nilai kontrak proyek ini mencapai US$ 49 juta atau 730 milyar rupiah, dipublikasikan 15 Agustus 2020.

Membangun militer modern sama dengan mempersiapkan sistem manajemen pertempuran berbasis network. Tidak bisa tidak, tidak bisa ditunda karena perkembangan teknologi pertempuran sangat dinamis. Manajemen pertempuran sekarang dan masa depan adalah integrasi interoperability antar matra darat, laut dan udara dalam satu komando.

Scytalys sudah berpengalaman membangun sistem interoperability pertahanan di Jepang dan Korsel. Dari pengalaman itu kemudian akan membangun infrastruktur software komando interkoneksi pertahanan Indonesia. Ini yang disebut dengan C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance, Reconnaisance).

                                              Nagapasa Class akan mencapai jumlah 6 unit

Melihat kacamata diri dalam bingkai geo politik dan geo strategis, maka jelas ciri khas sistem manajemen pertempuran kita bertumpu pada kekuatan angkatan laut dan udara. Doktrinnya musuh harus dicegah masuk teritori, berani masuk digebuk. Maka kekuatan gebuknya ada di AL dan AU. Klaim teritori kita semuanya adalah perairan. Konsekuensinya kekuatan alutsista matra laut dan udara harus ditingkatkan secara signifikan dan cepat.

Natuna adalah hotspot contoh soal yang jelas. Dan membuat kita tergopoh-gopoh. Juga Ambalat. Dua hot spot ini mengharuskan kita membagi dua kekuatan AL dan AU. Maka peta jalannya sudah jelas. Salah satunya kita saat ini sedang mengembangkan model alutsista remote control PUNA (pesawat udara nir awak) Elang Hitam. Begitu strategisnya proyek militer ini sehingga mampu menggeser program strategis nasional lainnya seperti pesawat R80 Habibie di masa pandemi ini. 

                                                 Sedang proses 24 jet tempur F16 Viper

Elang Hitam diniscayakan akan menjadi tulang punggung manajemen pertempuran masa depan. Bisa difungsikan sebagai pesawat intai strategis, pesawat patroli udara dan patroli maritim sekaligus serang dadakan. Sudah banyak bukti betapa peranan drone bersenjata mampu melakukan serangan kejut, mendadak dan "bersih cemerlang tanpa menggores".

Saat ini kita sedang berupaya mendapatkan 24 jet tempur F16 Viper, 15 Typhoon dan lain-lain untuk TNI-AU. Sedangkan TNI-AL sudah mempersiapkan Iver Class dan Martadinata Class batch dua. Termasuk melanjutkan pembuatan tiga kapal selam Nagapasa batch dua. Ragam alutsista ini semua, kelak akan dijahit menjadi bagian dari sistem NCW TNI. Scytalys menguatkan sistem pertahanan TNI, mempersiapkan bangunan software sinergitas komunikasi dan koordinasi militer teknologi terkini.

Elang Hitam diprediksi akan menjadi alutsista garis depan secepatnya. Itu sebabnya run down produk ini berlangsung dengan supervisi ketat. Nopember tahun ini sudah mulai uji coba dan akhir tahun depan sudah mulai produksi. Teknologi Elang Hitam harus kita kuasai secepatnya, tidak semata-mata beli produk luar. Kita sudah punya PUNA Aerostar buatan Israel dan Wing Loong buatan China. Kehadiran Elang Hitam sudah ditunggu di Natuna.

Iver Class juga akan menjadi alutsista penggentar bersama Martadinata Class. Iver diprediksi akan dibangun 4 unit sama seperti Martadinata Class. Kapal permukaan striking force ini diperkuat alutsista bawah air Nagapasa Class. Scytalys perlu waktu tiga tahun untuk meracik adonan C4ISR. Sementara mempersiapkan ragam alutsista gahar juga perlu waktu lima tahunan. Maka dalam lima tahun kedepan implementasi NCW sudah menjadi kenyataan bersama kekuatan alutsista yang "bolehlah".

Hakekatnya kita membangun kekuatan teknologi militer bukan untuk gagah-gagahan. Negara lain mengikuti pola yang sama. Singapura sudah duluan. Ini adalah tuntutan bernegara kesejahteraan. Kita bangga jika militer kita sudah punya sistem pertahanan terintegrasi, karena itu bagian dari marwah bernegara. Kekuatan ekonomi kita bangunkuatkan. Sejalan dengan itu kita juga harus menguatkan militer kita. Dua-duanya berjalan, seiring sejalan dan berjalan terus.

****

Jagarin Pane/7 September 2020


Saturday, August 29, 2020

Malaysia Tampilkan Peta, TNI Tampilkan Armada

Tanpa banyak publikasi, sepanjang tahun ini angkatan laut Indonesia secara terus menerus menghadirkan sejumlah kapal perang striking force dan memperlihatkan taji tempurnya di Ambalat. Sejumlah KRI dari Armada Dua silih berganti mengawal teritori perairan Kaltara bersinergi dengan pesawat intai dan jet tempur TNI AU. Berita ini kalah seru dengan konflik di Laut China Selatan (LCS) yang melibatkan China dan AS.

Bulan Februari tahun ini Malaysia memperlihatkan buku putih pertahanannya, bagaimana strategi pertahanannya 10 tahun ke depan. Namun titik perhatian kita adalah adanya tampilan peta baru teritori Malaysia. Dan memasukkan perairan Ambalat dalam wilayah teritori dan ZEE nya. Secara geopolitik dan geostrategis, Ambalat adalah wilayah kedaulatan Malaysia, menurut Buku Putihnya.

Ketika Buku Putih itu terbit sudah banyak kemajuan yang didapat dalam perkuatan militer Indonesia selama 10 tahun terakhir. Tahun 2005 yang lalu kekuatan alutsista kita tertinggal dari Malaysia. Dan jiran yang satu ini karena merasa menang dalam sengketa Sipadan dan Ligitan lalu memperlihatkan keangkuhan militernya. Berkali-kali dengan arogannya melecehkan teritori Indonesia. Bahkan ketika Presiden SBY berkunjung ke Ambalat, pesawat mereka melintas di atas kapal perang yang dinaiki RI-1.

                                               Interoperability antar matra di Ambalat

Kondisi sekarang sudah terbalik. Militer kita sudah jauh mengungguli Malaysia. Perolehan asset kapal perang baru kita meningkat signifikan. Juga untuk matra udara dan darat kita banyak memperoleh asset-asset berteknologi terkini. Program Minimum Essential Force (MEF) yang digagas dan dimulai sejak Presiden SBY tahun 2009 telah menghasilkan postur kekuatan TNI yang jauh lebih baik.

Sementara Malaysia hampir tidak terdengar berita memperoleh alutsista anyar dan berkelas. Pembangunan fregat Maharajalela Class ruwet dan terhenti. Pergantian helikopter jadul Nuri tidak terlaksana. Operasional jet tempur Sukhoi tidak maksimal bahkan ada kabar 1 jet tempur Sukhoinya mengalami "keletihan logam" karena sering dipakai atraksi demo.

Persoalan ketersendatan pembangunan militer Malaysia tidak terlepas dari gaya rezim terdahulu yang disinyalir banyak menyalahgunakan wewenang. Padahal ancaman terhadap teritori Malaysia di depan mata. Klaim China terhadap perairan LCS di Sabah banyak mempermalukan Kerajaan. Setidaknya ada 89 kali pelanggaran yang dilakukan China namun Malaysia tidak memberikan respon militer alias diam saja.

Persoalan Sabah dengan Filipina juga mencuat belakangan ini. Berdasarkan catatan sejarah, Sabah bagi Filipina adalah wilayah bekas Kesultanan Sulu. Ini juga merupakan ancaman teritori kedaulatan Malaysia. Perkuatan militer Filipina saat ini harus diantisipasi Malaysia meski tujuan utamanya adalah untuk menghadapi China di LCS. Bisa jadi militer Filipina menjadi kekuatan penggentar untuk konflik Sabah kelak.

                                           Kesiapan Armada TNI AL dari Armada Dua

Hampir semua negara ASEAN meningkatkan belanja militernya sementara Malaysia tertatih-tatih melakukannya. Persoalan kemelut politik di Semenanjung yang masih ruwet menyita energi konstruktif untuk negeri serumpun itu. Belum lagi letak geografi Sabah dan Ambalat yang jauh dari Semenanjung. Dalam bingkai strategi militer akan menyulitkan Malaysia manakala terjadi konflik di Sabah dan Ambalat.

Indonesia punya pangkalan militer di Tanjung Pinang, Pontianak dan Natuna. Bahkan Natuna mampu melakukan blokade militer jika memang diperlukan. Malaysia semenanjung akan mengalami kesulitan dalam suplai militer ke Ambalat manakala terjadi konflik. Penyergapan yang dilakukan 2 jet tempur F16 TNI AU terhadap Hercules Malaysia yang menuju ke Sarawak setahun lalu adalah contoh soalnya.

Sekarang saja Malaysia mengalami kesulitan dalam distribusi kapal perang dan jet tempur. Armada lautnya kekurangan kapal combatan. Bagaimana menjaga perairan Semenanjung, lalu terpotong jalur militernya ke Sabah dan Sarawak karena ada pangkalan militer China di Paracel dan Spratly serta pangkalan militer Indonesia di Natuna. Makanya saat ini kehadiran armada laut Malaysia di Ambalat nihil meski Buku Putih pertahanannya jelas memasukkan Ambalat sebagai wilayahnya. Artinya Buku Putih itu tidak bergigi. Sementara kita sepanjang tahun ini mengawal ketat perairan Ambalat, karena itu wilayah kita.

Pelajarannya adalah, apapun itu, kekuatan egois dan diplomasi sebuah negara harus diikuti dengan kekuatan militer yang setara. Si Vis Pacem Para Bellum adalah semboyan kewibawaan militer. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Diplomasi militer adalah menjalankan semboyan ini.

Jika militer kita kuat dan disegani maka kekuatan diplomasi kita juga disegani. Jadi sangat dimungkinkan tidak terjadi perang karena masing-masing merasa segan. Contoh jelasnya konflik India-China baru-baru ini. Karena saling segan yang terjadi kemudian tawurannantar personil yang menewaskan lebih 70 serdadu kedua negara. Bukan karena letusan senjata.

Kehadiran sejumlah KRI dan jet tempur di Ambalat adalah diplomasi militer untuk menunjukkan kekuatan militer Indonesia. Sekaligus untuk menegaskan marwah dan kedaulatan teritori NKRI. Ada dua hal yang menjadi faktor nihilnya kehadiran kapal perang Malaysia disana. Kurangnya armada kapal perang mereka atau merasa kalah mental beruji nyali dengan kapal perang kita.

****

Jagarin Pane / 29 Agustus 2020



Saturday, August 22, 2020

Menyetarakan Payung Lantamal

Angkatan Laut Indonesia punya pasukan elite Marinir sebagai salah satu komponen sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL. Selain sebagai unsur SSAT, Marinir juga bagian dari pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) TNI. Komponen SSAT adalah KRI, Pesawat Penerbal, Marinir dan Pangkalan. Marinir merupakan kekuatan pemukul serbu pantai yang andal, bagian dari metode pertempuran laut yang paling seru.

Minggu-minggu ini kita mendapat publikasi melihat jalannya latihan tempur pasukan batalyon Marinir pertahanan pangkalan (Yonmarhanlan). Kita disuguhkan pemandangan yang memprihatinkan. Meriam lawas yang sudah jadi pajangan di halaman depan markas "dikaryakan" lagi dan menjadi senjata andalan jalannya model simulasi.

Pangkalan angkatan laut yang bernama Lantamal merupakan obyek vital instalasi militer. Sama vitalnya dengan Halim AFB atau Hasanudin AFB. Bedanya kedua AFB itu dijaga dan dipayungi dengan alutsista canggih Oerlikon Skyshield dan QW3. Sedangkan Lantamal kita masih telanjang dan tertinggal jauh untuk soal ini.

                                         Transporter Tank Amfibi Marinir

Sudah sepantasnya pasukan Marinir yang bertugas sebagai Yonmarhanlan diberi persenjataan yang sepadan dengan makna obyek vital militer. Sebagai unsur SSAT, pangkalan adalah instrumen penting yang harus steril dan dipayungi. Ada belasan Lantamal yang tersebar di tanah air. Payung pertahanannya adalah keharusan mutlak dan perlu secepatnya direalisasikan.

Minimal harus ada hanud titik dengan persenjataan rudal SAM ( Surface to Air Missile), rudal darat ke udara jarak pendek di setiap Lantamal. Bukankah Lantamal berfungsi sebagai sistem mata rantai logistik dan amunisi kapal perang. Bukankah Lantamal juga sebagai pangkalan permanen Kapal Cepat Rudal dan Kapal Patroli Cepat TNI AL.

Lihat saja batalyon-batalyon Arhanud TNI AD. Punya berbagai jenis persenjataan hanud titik yang canggih dan berkelas sejak adanya program MEF (Minimum Essential Force) . Punya ratusan rudal canggih Starstreak dan Mistral. Bahkan batalyon Arhanud TNI AD sudah mulai mengoperasikan hanud area berupa satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah. Lalu bandingkan dengan batalyon Marinir pertahanan pangkalan AL. Bagai bumi dan langit.

Instalasi obyek vital militer berupa pangkalan udara secara bertahap sudah dilengkapi dengan payung pelindung alutsista modern. Paskhas TNI AU saat ini sudah memiliki persenjataan hanud titik berupa rudal QW3 buatan China dan Oerlikon Skyshield buatan Swiss.

Mengapa persenjataan payung perlindungan untuk Lantamal tertinggal. Bukankah Lantamal adalah rumah inap KRI. Bahkan di beberapa Lantamal masih satu komplek dengan kapal-kapal niaga. Sangat tidak elok terlihat manakala kesenjangan ini berlarut-larut. Latihan militer Yonmarhalan di beberapa Lantamal baru-baru ini menjadi diskusi hangat forum militer netizen.

Sangat wajar dan segera jika pangkalan AL dilengkapi dengan hanud titik atau sistem pertahanan udara jarak pendek. Boleh juga kalau memakai Oerlikon Skyshield. Atau bisa juga pakai model CIWS (Close In Weapon System) seperti yang terpasang di KRI striking force. Pakai rudal Starstreak atau Mistral juga bagus.

                                          MLRS Vampire Marinir Indonesia

Marinir sebagai pasukan serbu pantai sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista seperti tank amfibi BMP3F, LVTP, MLRS Grad, Vampire dan lain-lain. Meski secara kuantitas masih kurang. Artinya sebagai pasukan pemukul SSAT dan PPRC, Marinir punya alat pemukul yang andal. Namun sebagai pasukan pertahanan pangkalan yang berdiri sendiri, Marinir masih harus mengurut dada. Ayo dong MEF, penuhi kebutuhan dia. Bukankah dia adalah kita.

****

Jagarin Pane /22 Agustus 2020

Wednesday, August 12, 2020

Beijing Sindir Jakarta, Buruk Muka Cermin Dibelah

Adalah publikasi Global Times edisi tanggal 4 Agustus 2020 yang mengklaim bahwa Jakarta telah melakukan langkah blunder soal Laut China Selatan (LCS). Kita ketahui Global Times merupakan media corong pemerintah China. Tentu publikasinya merupakan suara tidak resmi kesepakatan dan dorongan dari rezim Xi Jinping. Sebab kalau diomongin lewat Jubir Kemenlu China bisa menimbulkan insiden diplomatik. Inilah salah satu seni diplomasi. Pinjam tangan media underbow.

Kita ketahui bersama bahwa diplomat Indonesia di PBB bulan Mei lalu mengirim surat pernyataan resmi bahwa Indonesia menolak klaim China terhadap pulau-pulau dan perairan LCS. Penolakan ini juga sebagai bentuk dukungan pada Filipina yang telah memenangkan sidang Mahkamah Internasional terhadap klaim China di LCS tahun 2016. Malaysia beberapa hari yang lalu juga mengadu ke PBB soal yang sama.

Selama satu semester ini tidak henti-hentinya China melakukan provokasi dan unjuk kekuatan militer di LCS. Terakhir militer negeri itu menerbangkan sejumlah bomber strategis dan jet tempur ke Spratly sepanjang hari termasuk pengisian ulang bbm di udara. Sementara AS dan sekutu serta sahabatnya saat ini sedang melakukan latihan tempur laut terbesar RIMPAC di Hawaii.

                                                          Diponegoro Class

Dunia mengakui bahwa China sukses membangun kekuatan ekonomi kesejahteraan untuk 1,3 milyar penduduknya hanya dalam waktu 50 tahun. Infrastruktur jalan raya dan jalan tol dibangun sepanjang ratusan ribu kilometer. Industri maju pesat. Investasi merajalela dimana-mana. Ini sebuah prestasi luar biasa. Pendapatan per kapita rakyatnya saat ini dua kali besaran GNP Indonesia.

Tetapi kemudian ada perubahan sikap keramahan yang selama ini menjadi bagian dari budaya China selama ratusan tahun. China yang selalu ramah dengan jirannya sekarang berubah menjadi aura amarah karena ambisi teritorialnya memaksakan kehendak. China perlu memperluas teritori kaya energi untuk menjamin kesejahteraan masa depan rakyatnya.

Pola cara mengedepankan adrenalin militer sangat tidak pantas. Dengan kekuatan militer terhebat di Asia, China merasa pantas untuk bersitegang dengan jiran kiri kanan. Karena merasa sangat pantas maka jalur diplomatik yang dipergunakan negara "pelanduk" ASEAN dianggapnya tidak pantas. Ini yang disebut buruk muka cermin dibelah, tidak pandai menari lalu lantai dansa yang disalahkan.

Indonesia punya klaim tumpang tindih Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan Vietnam dan Malaysia. Juga diantara sesama negara ASEAN lainnya. Tetapi semuanya menerapkan Code of Conduct berperilaku sewajarnya dan mengutamakan dialog. Contoh sukses dialog teritori ZEE ASEAN adalah antara Indonesia dan Filipina, clear.

Global Times menuduh Jakarta tidak bermain cantik soal LCS dan menempatkan keberpihakan Indonesia pada tempat yang tidak semestinya. Karena Beijing tidak mengklaim kepulauan Natuna. Hanya sedikit persinggungan ZEE di perairan utara Natuna. Mestinya Indonesia tidak perlu reaktif dengan mengadu kepada PBB. Sebuah langkah yang tidak perlu, kata dia.

                                                     Saling Klaim di LCS

Jakarta diharapkan tidak terjebak pada model keberpihakan. Dengan mengambil contoh Vietnam dan Filipina yang punya klaim langsung terhadap Paracel dan Spratly, namun keduanya bisa secara proporsional tidak berpihak. AS yang menolak klaim China terhadap LCS ternyata tidak menandatangani kesepakatan UNCLOS 1982.

Yang perlu kita cermati narasi Global Times cenderung ingin memecah belah ASEAN. Faktanya bukankah Filipina sudah terang-terangan menolak klaim China, membawa kasus itu ke Mahkamah Internasional. Dan menang. Vietnam sudah duluan mengirim nota diplomatik dan mengadu ke PBB. Vietnam juga yang memimpin deklarasi ASEAN yang kompak menolak klaim China bulan lalu.

Ada upaya menyudutkan Indonesia tetapi Menlu Retno adalah diplomat ulung dan berkelas. Indonesia menginginkan terlaksananya code of conduct di LCS, sebuah prakarsa yang sudah lama digagas namun belum bisa terlaksana. Ucapan Retno ini adalah sindiran tajam untuk China yang memang tidak mau tunduk pada kode etik berperilaku di LCS. Barusan Retno menginisiasi komitmen bersama ASEAN yang menginginkan kawasan ini menjaga perdamaian.

Dengan situasi seperti inilah maka kemudian Menhan Prabowo berupaya keras untuk segera membeli alutsista canggih berupa kapal perang, kapal selam, jet tempur, helikopter, radar, uav dan lain-lain. Ini adalah diplomasi militer. Diperlukan penguatan anggaran khusus alutsista dan menghadirkan secepat mungkin alutsista untuk mengawal Natuna. Kerja besar dan penuh dinamika dari Kemenhan adalah dalam rangka percepatan proses. Maka kita bisa lihat pejabat Kemenhan wira wiri.

Gaya diplomasi China yang cenderung kaku, mudah menyalahkan pihak lain adalah karena sudah merasa kuat dari sisi militer. Dan harus kita akui tidak ada lawan yang sepadan dengan China kecuali AS. Apapun itu sebagai negara berdaulat kita harus perkuat militer kita secepat mungkin. Setidaknya mampu memberikan perlawanan model sarang lebah di Natuna manakala terjadi konflik besar. Menyengat kesana kemari meski sarangnya dibakar habis.

Persiapan menghadapi kondisi terburuk adalah dengan memperkuat otot militer. Unsur primitif budaya manusia masih tetap eksis manakala bicara adrenalin negara dan gengsi kedaulatan. Provokasi, unjuk kekuatan, pamer militer yang ditunjukkan China sesungguhnya mempertontonkan unsur primitif tadi. Buruk muka cermin dibelah, merasa paling benar dalam sikap permusuhan sejatinya memperlebar antipati yang bernama mentang-mentang.

****

Jagarin Pane / 9 Agustus 2020

Sunday, August 2, 2020

New Normal Di Laut China Selatan


Demam yang terus menerus di Laut China Selatan (LCS) sepertinya tidak akan pernah kembali normal suhunya seperti dulu lagi. Demam akan terus menerus terjadi sepanjang tahun dan bertahun-tahun. New normal di LCS adalah demam panas itu sendiri. Virusnya bernama nine dash line bersama semburan api lidah naga.

AS dan Australia sudah resmi membentuk aliansi militer dan akan "merekrut" sejumlah negara. India, Filipina dan Jepang sudah berkomitmen untuk bersatu kita teguh. Inggris dan Kanada yang jauh nun disana sudah berkomitmen bersekutu dengan AS. Untuk Korsel meski sekutu dekat AS namun untuk LCS tidak dilibatkan. Biarkan dia menjaga status quo garis demarkasi Panmunjom. Bisa jadi kalau diikutkan aliansi, lalu China memprovokasi Korut, sangat berbahaya untuk Semenanjung Korea. Demikian juga Taiwan.

Armada Angkatan Laut China
Natuna Indonesia ada di kawasan konflik skala besar LCS. Maka Natuna harus kita jaga ketat. Marwah teritori kita dipertaruhkan disana. Dan new normal juga sudah berlaku di kepulauan Natuna. Deru dan raungan jet-jet tempur di bumi rantau nan indah (ranai) sudah biasa. Pasukan brigade komposit dan alutsistanya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kapal perang kita silih berganti mengawal perairan Laut Natuna Utara (LNU).

Hukum laut internasional memang harus ditegakkan. Meski dengan kekuatan otot militer. Dalam hal ini kita sepakat dengan langkah militer AS dan sekutunya untuk melawan klaim pemilik nine dash line. Tidak lagi atas nama kebebasan navigasi internasional, sekarang AS, Australia dan ASEAN tegas menolak klaim nine dash line China.

Sebagai antisipasi new normal di Natuna, kementerian pertahanan bergerak cepat. Proses pengadaan alutsista strategis dilakukan dengan langkah kilat. Publik kemudian tahu ada alutsista surprise seperti Osprey dan Typhoon yang mau dibeli. Kemudian yang terakhir rencana pengadaan rudal anti kapal Brahmos dari India.

Iver Class, akan memperkuat TNI AL
Sebenarnya saat ini banyak paket pengadaan alutsista yang sedang berproses di Kemenhan. Misalnya pengadaan kapal perang Iver dan lanjutan PKR10514. Juga pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat Hercules, pesawat tanker, pesawat pengintai, helikopter Apache, radar, peluru kendali Nassam, tank amfibi, MLRS.

Industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta juga kebagian proyek. Matra laut dengan berbagai jenis pengadaan kapal perang KCR, KPC, LPD, LST, BCM. Matra darat dengan proyek tank Harimau, Bushmaster, panser Cobra, panser Anoa. Matra udara dengan proyek helikopter Panther, Caracal, UAV.

Semua industri pertahanan sedang mekar-mekarnya. Terutama sepuluh tahun terakhir. Semuanya dalam bingkai program Minimum Essential Force (MEF) selama 15 tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2024. Program MEF yang digagas dan dimulai oleh Presiden SBY sebenarnya sudah mengantisipasi potensi konflik di LNU.

Namun agresivitas China selama semester I tahun ini dengan memprovokasi negara-negara yang bersinggungan dengan nine dash line nya menjadikan LCS demam tinggi. Padahal seluruh dunia sedang dilanda pandemi Covid 19, tiba-tiba China mempertunjukkan otot militernya. Dunia tersentak, kita juga.

Typhoon, yang sedang trending topic
Itulah sebabnya Kemenhan disibukkan dengan crash program pengadaan alutsista. Kalau kita melihat dan mengamati kesibukan tak biasa dan terus menerus di ruang komando Kogabwilhan Satu, kita semakin paham akan perlunya penambahan alutsista matra udara dan laut. Sungguh betapa bergunanya radar canggih Vera-Ng, radar Weibel X Band yang sudah terpasang di Natuna. Betapa berharganya skadron 51 UAV di Pontianak yang mengirim sejumlah UAV ke Natuna. Betapa pentingnya 3 skadron F16 dan Hawk yang ada di Pekanbaru dan Pontianak. Tapi itu semua belum cukup.

Jelas belum cukup karena kita masih berjuang di wilayah minimum essential force. Belum mencapai target minimum. Lalu ada hot spot berkepanjangan di Natuna. Jadi kita harus segera mendatangkan alutsista strategis secepatnya. Typhoon Austria salah satu pilihan. Barang sudah ada dan masih sedikit jam terbangnya. Anggap sajalah percepatan pengadaan alutsista Kemenhan sebagai langkah new normal. Biasa saja menyikapinya. Gak usah misuh-misuh soal Typhoon dan Osprey. Masih akan banyak kejutan lain soal pengadaan alutsista. Prediksi anggaran khusus alutsista ke depan ada di kisaran angka US$ 24 milyar.

Lihat saja India yang begitu marah dengan China akibat provokasi di perbatasan kedua negara. Lalu proses pengadaan alutsista jet tempur Rafale yang sudah teken kontrak tiga tahun lalu harus dipercepat kedatangannya, kata India. Dan kemarin 5 Rafale sudah sampai di India dengan publikasi luas untuk menunjukkan kesiapan dan keseriusan India menghadapi konfrontasi dengan China.

Jet Tempur F16 Viper, masih proses

Hot spot Natuna adalah pertaruhan marwah teritori kita. Geliat pencapaian MEF dan percepatan pengadaan alutsista adalah new normal, kebiasaan baru, sesuatu yang biasa, wajar-wajar saja. Kita lihat gerakan cepat Menhan berkunjung ke beberapa negara produsen alutsista, terakhir ke Turki dan India. Tujuannya untuk memperoleh alutsista berkualitas dengan harga sepantasnya. Komitmen Prabowo yang patut kita apresiasi adalah meminimalisasi mark up pengadaan alutsista.

Investasi pertahanan setara dengan investasi ekonomi. Karena investasi pertahanan sejatinya untuk menjaga kelangsungan dan kesejahteraan ekonomi sebuah negara. Belanja pertahanan adalah dalam rangka membangun sistem kekuatan pertahanan agar bisa disegani. Dengan itu pertumbuhan ekonomi dan kelangsungannya menuju kesejahteraan menjadi salah satu pijakan kepercayaan diri. Maka kita harus perkuat keduanya.

****
Jagarin Pane / 30 Juli 2020

Wednesday, July 22, 2020

Riuh Rendah Diterpa Angin Typhoon


Dua hari ini jagat netizen forum militer tanah air gegap gempita merespon inisiatif cepat tak terduga Kemenhan RI. Gerak cepat Menhan Prabowo untuk segera mengisi skadron jet tempur TNI AU dengan jet tempur Typhoon membuat hingar bingar alam raya netizen formil dan pasar alutsista.

Jet tempur kelas berat multi role Sukhoi SU35 seharusnya tahun ini sudah mulai berdatangan. Tetapi sorot mata CAATSA Paman Sam yang mendelik melotot membuat langkah eksekusi uang muka Sukhoi SU35 tersendat. Akibatnya ada kekosongan pengisian jet tempur sampai tahun 2023.

Ini mirip kisahnya dengan isian kapal perang baru setelah 4 korvet sigma Diponegoro Class datang seluruhnya dari Belanda. Sementara kontrak pengadaan kapal perusak kawal rudal Martadinata Class dengan Damen Schelde Belanda baru bisa menyelesaikan pembuatan kapal perang tahun 2017. Ada gap lima tahun, padahal kita sangat membutuhkan KRI striking force.
Typhoon yang lagi jadi trending topic
Lalu ada informasi bahwa 3 Light Fregat Nakhoda Ragam Class yang dibeli Sultan Brunai dari Inggris bermasalah. Maka lewat diplomasi tingkat tinggi antara Presiden SBY dan Sultan Bolkiah, akhirnya kita mendapatkan 3 kapal perang bekas tapi baru. Tiga kapal perang untuk Brunai itu sempat terkatung-katung sepuluh tahun di Inggris karena Sultan menolak menerima.

Ketiganya masuk Bung Tomo Class dan sekarang ada di Armada Satu. Beli kapal perang Brunai dengan harga murah dapat bonus 2 kapal cepat Salawaku Class. Lumayanlah. Nah, Bung Tomo Class sejak pertama diakuisisi Indonesia baru mulai mendapatkan upgrade tahun ini satu persatu.

Saat ini kita sangat membutuhkan segera jet tempur "pengganti" Sukhoi SU35. Kenyataannya selama tiga tahun kedepan tidak akan ada isian jet tempur baru. Padahal ancaman terhadap Natuna nyata, jelas dan berat. Jika kontrak pengadaan jet tempur F16 Viper dilakukan tahun ini, barangnya baru bisa diserahkan mulai tahun 2024. Demikian juga dengan jet tempur Rafale paling cepat datang tahun 2023.

Diponegoro Class
Oleh sebab itu harus ada isian jet tempur sekarang. Dan jet tempur Eurofighter Typhoon Austria adalah peluang terbesar untuk mendapatkannya. 15 jet tempur bekas pakai tapi irit jam terbangnya itu sudah ada barangnya. Tinggal kirim kalau semua sudah beres, sign kontrak. Austria sendiri menginginkan Typhoon yang dibeli tahun 2003 dari konsorsium Airbus dipensiun dini karena berbagai permasalahan. Yang jelas kondisi jet tempur masih gres karena jarang dipakai.

Sebenarnya pada tahun 2015 ketika ada rencana untuk mengganti jet tempur F5E, Typhoon adalah salah satu calon kuat disamping Sukhoi SU35. Adalah Kadispen TNI AU pada waktu itu Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto yang menyampaikannya. Waktu itu Dubes Spanyol sempat mempromosikan Typhoon. Tapi pilihan kemudian jatuh pada SU35 Rusia.

Ramai sekali diskusi hangat pro kontra dan komentar forum militer netizen. Ini memberikan arus kuat yang mencerminkan hasrat dan keinginan agar tentara langit kita punya kekuatan detteren. Rafale digadang-gadang, Viper diharap-harap. Tapi kedua jenis jet tempur itu belum bisa hadir tahun ini. Harus menunggu minimal 3 tahun lagi.

Jangan lihat soal trance Typhoon. Di kemudian hari bisa di upgrade. Waktu kita mendapatkan 4 sukhoi paket cepat di era ibu Mega, spek teknis Sukhoinya "standar banget". Kualitasnya jauh dibawah Sukhoi Malaysia. Dan sekarang 4 Sukhoi "jadul" tadi sudah setara dengan adik kelasnya di skadron Sukhoi Makassar. Soal perawatan lebih mahal Sukhoi SU27/30.

Bung Tomo Class
Program Minimum Essential Force (MEF) jilid 3 ini harus extra ordinary. Kompor yang buat panas suasana adalah China. Kita tak mungkin bisa menyamai kehebatan militer China. Untuk urusan yang begituan biar saja AS dan sekutunya yang mengimbangi. Tapi bukan berarti lalu kita tenang-tenang saja. Kita juga harus mempersiapkan kekuatan striking force kita seoptimalnya.

Kita butuh jet tempur sekarang juga. Maka ketika ada peluang untuk mendapatkan Eurofighter Typhoon, upaya yang dilakukan Kemenhan patut diapresiasi. Pemikir dan pengambil kebijakan di Kemenhan dan TNI punya analisis intelijen, potensi ancaman dan kekuatan TNI AU. Kalau Typhoon menjadi pilihan, itu sudah upaya maksimal agar tentara langit kita semakin berotot. Tapi tentu pembandingnya bukan China.

Lanud strategis Supadio perlu jet tempur strategis. Sebenarnya F16 Viper sudah dipersiapkan untuk dialokasikan di Supadio AFB. Tapi waiting listnya cukup lama, empat tahun. Maka langkah cepat extra ordinary Kemenhan setidaknya bisa kita tempatkan pada proporsi kebutuhan jet tempur yang mendesak. Typhoon Austria membuka lebar peluang itu.

****
Jagarin Pane / 21 Juli 2020

Sunday, July 19, 2020

Arogansi Dibalas Aliansi


Langkah mengedepankan otot militer yang diperlihatkan China telah memberikan persepsi arogansi dan mentang-mentang di mata dunia. Sekaligus membuka cakrawala pandang dunia internasional bahwa otot militer China harus dilawan dengan cara yang sama. Dan lebih spektakuler.

Ribut-ribut dengan India misalnya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba China membuat gaduh perbatasan kedua negara. Padahal border di pegunungan Himalaya itu sudah status quo selama setengah abad. Adu otot terjadi, adu jotos terlihat. Sangat memalukan. Dampaknya rakyat India benci banget sama China.

Pemerintah India kemudian mempercepat proses pengadaan berbagai jenis persenjataan canggih. Lebih pas disebut mempersiapkan sebanyak mungkin alutsista untuk persiapan perang masa depan. Pemerintah dan rakyat India benar-benar marah terhadap perilaku provokasi tentara China. Hampir seratus pasukan kedua negara mati konyol karena saling adu jotos ala primitif.

HMS Queen Elizabeth dipersiapkan ke LCS
Dengan Hongkong juga. Dengan Taiwan apalagi. Sudah puluhan tahun China menggertak Taiwan. Dan sepanjang semester I tahun 2020 ini China melakukan manuver militer di selat Taiwan. Yang tidak biasa, jet-jet tempur China daratan sudah berani menerobos teritori udara Taiwan. Dan itu dilakukan berulang kali.

Tapi Republik China Taipei tidak kalah gertak. Kecil-kecil cabe rawit. Militer negeri Formosa itu langsung bereaksi dan meluncurkan beberapa peluru kendali maut sebagai isyarat "lu jual gua beli". Barusan kapal induk USS Theodore Roosevelt "berhenti" di selat Taiwan. Membawa pesan kuat untuk China, anda sopan kami segan, anda arogan kami lawan.

Dengan negara-negara ASEAN juga begitu. Vietnam digertak terus menerus, kapal nelayannya ditenggelamkan. Perairan Filipina disisir habis China, kapal perang Filipina mau ditembak. Juga dengan Malaysia, tercatat ada 89 pelanggaran teritori laut dan udara yang dilakukan China terhadap Malaysia.

Dua kapal induk AS berparade di LCS
Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita di laut Natuna Utara sering diterobos oleh kapal nelayan dan Coast Guard China. Dibelakangnya ada back up kapal perang dia. Dan kita melawan. Kita kerahkan kapal perang, juga sejumlah jet tempur dan pesawat pengintai untuk menegaskan kehadiran kita di teritori Natuna. Saat ini seluruh komponen pertahanan kita siaga penuh di Natuna.

Akhirnya arogansi China berbuah pahit. AS, Australia, Jepang, Inggris dan Kanada bersiap membentuk aliansi militer kapasitas gajah. Jepang memesan 105 jet tempur canggih dan stealth F35. Kapal induk helikopter di upgrade utk F35B. Australia mempersiapkan peluru kendali anti kapal jarak jauh. Memesan sejumlah kapal selam canggih dan lain-lain. Semua sedang mempersiapkan dan menimbun senjata sebanyak mungkin. Waduh gawat neh.

Dalam situasi dan kondisi saat ini dan di masa depan, Indonesia harus bisa bermain cantik di konflik Laut China Selatan (LCS). Kita harus mengedepankan permainan cerdik secara militer dan diplomasi. Sedapat mungkin kita tidak terjebak rayuan aliansi militer, tetapi tetap simpati dengan kehadirannya. Karena hanya AS dan sekutunya yang bisa meredam arogansi China di LCS.
Iver Class yang dibeli Indonesia
Patut diingat bahwa sesama negara ASEAN juga saling klaim ZEE LCS. Kita dengan Malaysia belum clear. Kita dengan Vietnam masih dispute. Vietnam dengan Malaysia juga masih berselisih. Bedanya, tumpang tindih klaim sesama negara ASEAN tetap memegang teguh code of conduct. Tapi sekali waktu Vietnam pernah marah sama kita dengan menubrukkan Coast Guardnya ke kapal nelayan mereka yang kita tangkap.

ASEAN harus cerdas menyikapi kehadiran kapal perang negara-negara aliansi di LCS. Termasuk jika harus mampir di Natuna. Di satu sisi mereka datang sebagai payung penyeimbang dan pelindung. Namun di sisi lain bisa saja negara-negara ASEAN ditarik "iuran keamanan". Lihat saja Korsel, Jepang, Jerman pada mengeluh dengan iuran keamanan yang dipatok AS. Asal tahu saja perang Teluk jilid satu dan dua yang membiayai adalah negara-negara Arab yang berkonflik.

Pasukan TNI Siaga penuh di Natuna
LCS adalah pertarungan dan pertaruhan hegemoni masa depan. AS tidak mau hegemoninya dirampas China. Momentum arogansi China adalah nilai plus bagi AS untuk mengambil simpati kepada India dan ASEAN. Sekutu tradisionalnya Inggris dan Australia ikut apa kata babe. Inggris bahkan mengirim kapal induk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince Of Wales secara bergantian ke LCS. Inggris juga telah membatalkan pengggunaan teknologi 5G Huawei.

Indonesia yang perairan ALKI 1 dan 2 nya bakal sering dilewati kapal induk, destroyer, fregat dan kapal selam negara aliansi harus punya marwah. Caranya perkuat AL dan AU. Memilih kapal perang besar semacam Iver Class bagus sekali. Kuantitasnya perlu ditambah. Penambahan jet tempur seperti F16 Viper dan SU35 adalah keniscayaan.

Dalam tataran diplomasi negara-negara ASEAN yang bersengketa dengan China bisa memilih netral atau berpihak proporsional. Brunai misalnya cenderung pasif meski punya klaim, tahu diri. Vietnam boleh ambil sikap berdikari karena dekat dengan Rusia. Malaysia cenderung diam mengalah. Filipina adalah sahabat AS tentu bisa berpihak proporsional dengan aliansi. Nah kita lebih pantas netral saja. Meminjam istilah populer Menlu Adam Malik tempo dulu: Semua bisa diatur.
****
Jagarin Pane / 17 Juli 2020

Tuesday, July 14, 2020

Menguji Manajemen Pertempuran Laut


Komando Armada Satu TNI AL akan melaksanakan latihan perang laut mulai tanggal 18 Juli 2020. Kurikulum penting ini dimulai dari pangkalan utama Armada Satu di Jakarta dengan jalur pertempuran di laut Jawa sampai laut Natuna. Armada Satu tergabung dalam Komando Gabungan Wilayah Pertahanan Satu (Kogabwilhan Satu) berkedudukan di Tanjung Pinang.

Simulasi pertempuran laut yang berpuncak dengan serbuan pantai oleh pasukan marinir merupakan menu tahunan yang harus dihidangkan. Jika waktunya bersamaan dengan kondisi yang memanas di Laut China Selatan bukan merupakan sebab. Tapi bisa juga ditujukan sebagai unjuk kekuatan dalam diplomasi militer.

Bung Tomo Class, KRI Armada Satu
Bukankah China dan AS saat ini bergantian melakukan show of force latihan perang skala besar dan saling ejek dalam komunikasi militer di Paracel dan Spratly. Dan arena latihannya di sebuah perairan yang tumpang tindih klaimnya dan didominasi oleh China. Sementara Angkatan Laut Indonesia berlatih di teritori sendiri, di rumah sendiri. Suka-suka gua dong.

Armada Satu mengerahkan 24 KRI berbagai jenis, 1 brigade pasukan marinir, puluhan tank amfibi, panser amfibi, artileri, mlrs vampire dan pesawat Penerbal. Saat ini persiapan terus dilakukan dan pergerakan pasukan marinir mulai terlihat. Armada Satu punya kekuatan kapal perang 30-35 KRI didukung oleh Pasmar Satu di Jakarta. Pasmar (pasukan marinir) setara dengan kekuatan satu divisi. Ada juga 1 brigade marinir di Lampung, 1 batalyon di Batam dan 1 batalyon di Pangkalan Brandan Sumut.

KRI Ardadedali 404 satu dari lima kapal selam TNI AL
Simulasi pertempuran laut adalah keniscayaan yang harus dibiasakan, diseringkan, berulang dilakukan. Pemersatu pulau-pulau kita adalah halaman berwajah perairan. Harus lebih serìng bermain di wilayah halaman. Mencari nafkah di halaman. Karena halaman kita kaya energi dan ikan. Sering diungkap berdayakan halaman. Juga halaman ZEE Natuna. Maka melakukan latihan militer di halaman rumah adalah kewajiban mutlak.

Saat ini Indonesia punya kekuatan militer striking force serba tiga, dalam tiga zona. Kostrad punya 3 divisi, TNI AL punya 3 armada tempur, punya 3 divisi marinir dan TNI AU punya 3 Koopsau. Yang masih perlu diperkuat prajurit dan alutsistanya adalah yang nomor tiga itu. Kostrad divisi 3, Armada 3, Pasmar 3 dan Koopsau 3. Semuanya berlokasi di timur Indonesia.
Transporter Tank Amfibi BMP3F Marinir Indonesia
Meski latihan militer Armada Satu bukanlah gambaran seluruh kekuatan TNI AL. Tetapi penting sebagai media konsolidasi dan koordinasi kekuatan armada. Dijahit dalam kondisi darurat militer untuk bersinergi . Yang ingin diuji di lapangan adalah sistem manajemen pertempuran antar satuan tempur, antar KRI. Melihat sejauh mana teknologi interoperabilitas Armada Satu.

Serial latihan tempur laut ini antara lain menguji perang anti kapal selam, anti serangan udara, perang elektronika. Juga perang antar kapal permukaan dan puncaknya adalah melakukan serangan amfibi bersama pasukan marinir di pantai Todak Dabo Singkep Kepri. Implementasi Network Centric Warfare (NCW) adalah poin penting dalam setiap latihan perang modern. Dan Panglima TNI sudah menyatakan bahwa tahun 2020 ini TNI sudah harus menerapkan NCW secara komprehensif.

3 Divisi Pasukan Marinir Indonesia 
Kalau melihat dari pengerahan kekuatan, ini adalah latihan tempur laut Armada Satu yang terbesar. Wajarlah, kita perlu unjuk kekuatan karena wilayah operasional Armada Satu strategis, ramai lalulintas kapal berbagai jenis. Dikenal dengan sebutan ALKI 1. Mulai dari selat Sunda, selat Karimata, selat Malaka, selat Philips, laut Natuna dan samudra Hindia.

Suasana latihan, pergerakan armada pasti "ditonton" oleh negara asing tertentu. Pengalaman latihan tempur laut Armada Jaya beberapa tahun lalu di Arafuru dan Papua mendeteksi adanya kapal selam asing yang mengikuti. Apalagi sekarang dengan teknologi drone bisa menyaksikan live jalannya latihan militer.

Saatnya tentara laut kita unjuk kerja, unjuk kekuatan meski hanya setingkat Armada Satu. Setidaknya mengasah naluri pertempuran laut yang padat teknologi. Sekalian menyampaikan pada pihak yang punya hobby klaim bahwa TNI AL ada di garda depan untuk mempertahankan teritori laut Indonesia. Juga sebagai evaluasi untuk petinggi republik bahwa kekuatan matra laut kita masih belum sampai pada kriteria minimum essential force.
****
Jagarin Pane /13 Juli 2020