Wednesday, July 22, 2020

Riuh Rendah Diterpa Angin Typhoon


Dua hari ini jagat netizen forum militer tanah air gegap gempita merespon inisiatif cepat tak terduga Kemenhan RI. Gerak cepat Menhan Prabowo untuk segera mengisi skadron jet tempur TNI AU dengan jet tempur Typhoon membuat hingar bingar alam raya netizen formil dan pasar alutsista.

Jet tempur kelas berat multi role Sukhoi SU35 seharusnya tahun ini sudah mulai berdatangan. Tetapi sorot mata CAATSA Paman Sam yang mendelik melotot membuat langkah eksekusi uang muka Sukhoi SU35 tersendat. Akibatnya ada kekosongan pengisian jet tempur sampai tahun 2023.

Ini mirip kisahnya dengan isian kapal perang baru setelah 4 korvet sigma Diponegoro Class datang seluruhnya dari Belanda. Sementara kontrak pengadaan kapal perusak kawal rudal Martadinata Class dengan Damen Schelde Belanda baru bisa menyelesaikan pembuatan kapal perang tahun 2017. Ada gap lima tahun, padahal kita sangat membutuhkan KRI striking force.
Typhoon yang lagi jadi trending topic
Lalu ada informasi bahwa 3 Light Fregat Nakhoda Ragam Class yang dibeli Sultan Brunai dari Inggris bermasalah. Maka lewat diplomasi tingkat tinggi antara Presiden SBY dan Sultan Bolkiah, akhirnya kita mendapatkan 3 kapal perang bekas tapi baru. Tiga kapal perang untuk Brunai itu sempat terkatung-katung sepuluh tahun di Inggris karena Sultan menolak menerima.

Ketiganya masuk Bung Tomo Class dan sekarang ada di Armada Satu. Beli kapal perang Brunai dengan harga murah dapat bonus 2 kapal cepat Salawaku Class. Lumayanlah. Nah, Bung Tomo Class sejak pertama diakuisisi Indonesia baru mulai mendapatkan upgrade tahun ini satu persatu.

Saat ini kita sangat membutuhkan segera jet tempur "pengganti" Sukhoi SU35. Kenyataannya selama tiga tahun kedepan tidak akan ada isian jet tempur baru. Padahal ancaman terhadap Natuna nyata, jelas dan berat. Jika kontrak pengadaan jet tempur F16 Viper dilakukan tahun ini, barangnya baru bisa diserahkan mulai tahun 2024. Demikian juga dengan jet tempur Rafale paling cepat datang tahun 2023.

Diponegoro Class
Oleh sebab itu harus ada isian jet tempur sekarang. Dan jet tempur Eurofighter Typhoon Austria adalah peluang terbesar untuk mendapatkannya. 15 jet tempur bekas pakai tapi irit jam terbangnya itu sudah ada barangnya. Tinggal kirim kalau semua sudah beres, sign kontrak. Austria sendiri menginginkan Typhoon yang dibeli tahun 2003 dari konsorsium Airbus dipensiun dini karena berbagai permasalahan. Yang jelas kondisi jet tempur masih gres karena jarang dipakai.

Sebenarnya pada tahun 2015 ketika ada rencana untuk mengganti jet tempur F5E, Typhoon adalah salah satu calon kuat disamping Sukhoi SU35. Adalah Kadispen TNI AU pada waktu itu Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto yang menyampaikannya. Waktu itu Dubes Spanyol sempat mempromosikan Typhoon. Tapi pilihan kemudian jatuh pada SU35 Rusia.

Ramai sekali diskusi hangat pro kontra dan komentar forum militer netizen. Ini memberikan arus kuat yang mencerminkan hasrat dan keinginan agar tentara langit kita punya kekuatan detteren. Rafale digadang-gadang, Viper diharap-harap. Tapi kedua jenis jet tempur itu belum bisa hadir tahun ini. Harus menunggu minimal 3 tahun lagi.

Jangan lihat soal trance Typhoon. Di kemudian hari bisa di upgrade. Waktu kita mendapatkan 4 sukhoi paket cepat di era ibu Mega, spek teknis Sukhoinya "standar banget". Kualitasnya jauh dibawah Sukhoi Malaysia. Dan sekarang 4 Sukhoi "jadul" tadi sudah setara dengan adik kelasnya di skadron Sukhoi Makassar. Soal perawatan lebih mahal Sukhoi SU27/30.

Bung Tomo Class
Program Minimum Essential Force (MEF) jilid 3 ini harus extra ordinary. Kompor yang buat panas suasana adalah China. Kita tak mungkin bisa menyamai kehebatan militer China. Untuk urusan yang begituan biar saja AS dan sekutunya yang mengimbangi. Tapi bukan berarti lalu kita tenang-tenang saja. Kita juga harus mempersiapkan kekuatan striking force kita seoptimalnya.

Kita butuh jet tempur sekarang juga. Maka ketika ada peluang untuk mendapatkan Eurofighter Typhoon, upaya yang dilakukan Kemenhan patut diapresiasi. Pemikir dan pengambil kebijakan di Kemenhan dan TNI punya analisis intelijen, potensi ancaman dan kekuatan TNI AU. Kalau Typhoon menjadi pilihan, itu sudah upaya maksimal agar tentara langit kita semakin berotot. Tapi tentu pembandingnya bukan China.

Lanud strategis Supadio perlu jet tempur strategis. Sebenarnya F16 Viper sudah dipersiapkan untuk dialokasikan di Supadio AFB. Tapi waiting listnya cukup lama, empat tahun. Maka langkah cepat extra ordinary Kemenhan setidaknya bisa kita tempatkan pada proporsi kebutuhan jet tempur yang mendesak. Typhoon Austria membuka lebar peluang itu.

****
Jagarin Pane / 21 Juli 2020

Sunday, July 19, 2020

Arogansi Dibalas Aliansi


Langkah mengedepankan otot militer yang diperlihatkan China telah memberikan persepsi arogansi dan mentang-mentang di mata dunia. Sekaligus membuka cakrawala pandang dunia internasional bahwa otot militer China harus dilawan dengan cara yang sama. Dan lebih spektakuler.

Ribut-ribut dengan India misalnya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba China membuat gaduh perbatasan kedua negara. Padahal border di pegunungan Himalaya itu sudah status quo selama setengah abad. Adu otot terjadi, adu jotos terlihat. Sangat memalukan. Dampaknya rakyat India benci banget sama China.

Pemerintah India kemudian mempercepat proses pengadaan berbagai jenis persenjataan canggih. Lebih pas disebut mempersiapkan sebanyak mungkin alutsista untuk persiapan perang masa depan. Pemerintah dan rakyat India benar-benar marah terhadap perilaku provokasi tentara China. Hampir seratus pasukan kedua negara mati konyol karena saling adu jotos ala primitif.

HMS Queen Elizabeth dipersiapkan ke LCS
Dengan Hongkong juga. Dengan Taiwan apalagi. Sudah puluhan tahun China menggertak Taiwan. Dan sepanjang semester I tahun 2020 ini China melakukan manuver militer di selat Taiwan. Yang tidak biasa, jet-jet tempur China daratan sudah berani menerobos teritori udara Taiwan. Dan itu dilakukan berulang kali.

Tapi Republik China Taipei tidak kalah gertak. Kecil-kecil cabe rawit. Militer negeri Formosa itu langsung bereaksi dan meluncurkan beberapa peluru kendali maut sebagai isyarat "lu jual gua beli". Barusan kapal induk USS Theodore Roosevelt "berhenti" di selat Taiwan. Membawa pesan kuat untuk China, anda sopan kami segan, anda arogan kami lawan.

Dengan negara-negara ASEAN juga begitu. Vietnam digertak terus menerus, kapal nelayannya ditenggelamkan. Perairan Filipina disisir habis China, kapal perang Filipina mau ditembak. Juga dengan Malaysia, tercatat ada 89 pelanggaran teritori laut dan udara yang dilakukan China terhadap Malaysia.

Dua kapal induk AS berparade di LCS
Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita di laut Natuna Utara sering diterobos oleh kapal nelayan dan Coast Guard China. Dibelakangnya ada back up kapal perang dia. Dan kita melawan. Kita kerahkan kapal perang, juga sejumlah jet tempur dan pesawat pengintai untuk menegaskan kehadiran kita di teritori Natuna. Saat ini seluruh komponen pertahanan kita siaga penuh di Natuna.

Akhirnya arogansi China berbuah pahit. AS, Australia, Jepang, Inggris dan Kanada bersiap membentuk aliansi militer kapasitas gajah. Jepang memesan 105 jet tempur canggih dan stealth F35. Kapal induk helikopter di upgrade utk F35B. Australia mempersiapkan peluru kendali anti kapal jarak jauh. Memesan sejumlah kapal selam canggih dan lain-lain. Semua sedang mempersiapkan dan menimbun senjata sebanyak mungkin. Waduh gawat neh.

Dalam situasi dan kondisi saat ini dan di masa depan, Indonesia harus bisa bermain cantik di konflik Laut China Selatan (LCS). Kita harus mengedepankan permainan cerdik secara militer dan diplomasi. Sedapat mungkin kita tidak terjebak rayuan aliansi militer, tetapi tetap simpati dengan kehadirannya. Karena hanya AS dan sekutunya yang bisa meredam arogansi China di LCS.
Iver Class yang dibeli Indonesia
Patut diingat bahwa sesama negara ASEAN juga saling klaim ZEE LCS. Kita dengan Malaysia belum clear. Kita dengan Vietnam masih dispute. Vietnam dengan Malaysia juga masih berselisih. Bedanya, tumpang tindih klaim sesama negara ASEAN tetap memegang teguh code of conduct. Tapi sekali waktu Vietnam pernah marah sama kita dengan menubrukkan Coast Guardnya ke kapal nelayan mereka yang kita tangkap.

ASEAN harus cerdas menyikapi kehadiran kapal perang negara-negara aliansi di LCS. Termasuk jika harus mampir di Natuna. Di satu sisi mereka datang sebagai payung penyeimbang dan pelindung. Namun di sisi lain bisa saja negara-negara ASEAN ditarik "iuran keamanan". Lihat saja Korsel, Jepang, Jerman pada mengeluh dengan iuran keamanan yang dipatok AS. Asal tahu saja perang Teluk jilid satu dan dua yang membiayai adalah negara-negara Arab yang berkonflik.

Pasukan TNI Siaga penuh di Natuna
LCS adalah pertarungan dan pertaruhan hegemoni masa depan. AS tidak mau hegemoninya dirampas China. Momentum arogansi China adalah nilai plus bagi AS untuk mengambil simpati kepada India dan ASEAN. Sekutu tradisionalnya Inggris dan Australia ikut apa kata babe. Inggris bahkan mengirim kapal induk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince Of Wales secara bergantian ke LCS. Inggris juga telah membatalkan pengggunaan teknologi 5G Huawei.

Indonesia yang perairan ALKI 1 dan 2 nya bakal sering dilewati kapal induk, destroyer, fregat dan kapal selam negara aliansi harus punya marwah. Caranya perkuat AL dan AU. Memilih kapal perang besar semacam Iver Class bagus sekali. Kuantitasnya perlu ditambah. Penambahan jet tempur seperti F16 Viper dan SU35 adalah keniscayaan.

Dalam tataran diplomasi negara-negara ASEAN yang bersengketa dengan China bisa memilih netral atau berpihak proporsional. Brunai misalnya cenderung pasif meski punya klaim, tahu diri. Vietnam boleh ambil sikap berdikari karena dekat dengan Rusia. Malaysia cenderung diam mengalah. Filipina adalah sahabat AS tentu bisa berpihak proporsional dengan aliansi. Nah kita lebih pantas netral saja. Meminjam istilah populer Menlu Adam Malik tempo dulu: Semua bisa diatur.
****
Jagarin Pane / 17 Juli 2020

Tuesday, July 14, 2020

Menguji Manajemen Pertempuran Laut


Komando Armada Satu TNI AL akan melaksanakan latihan perang laut mulai tanggal 18 Juli 2020. Kurikulum penting ini dimulai dari pangkalan utama Armada Satu di Jakarta dengan jalur pertempuran di laut Jawa sampai laut Natuna. Armada Satu tergabung dalam Komando Gabungan Wilayah Pertahanan Satu (Kogabwilhan Satu) berkedudukan di Tanjung Pinang.

Simulasi pertempuran laut yang berpuncak dengan serbuan pantai oleh pasukan marinir merupakan menu tahunan yang harus dihidangkan. Jika waktunya bersamaan dengan kondisi yang memanas di Laut China Selatan bukan merupakan sebab. Tapi bisa juga ditujukan sebagai unjuk kekuatan dalam diplomasi militer.

Bung Tomo Class, KRI Armada Satu
Bukankah China dan AS saat ini bergantian melakukan show of force latihan perang skala besar dan saling ejek dalam komunikasi militer di Paracel dan Spratly. Dan arena latihannya di sebuah perairan yang tumpang tindih klaimnya dan didominasi oleh China. Sementara Angkatan Laut Indonesia berlatih di teritori sendiri, di rumah sendiri. Suka-suka gua dong.

Armada Satu mengerahkan 24 KRI berbagai jenis, 1 brigade pasukan marinir, puluhan tank amfibi, panser amfibi, artileri, mlrs vampire dan pesawat Penerbal. Saat ini persiapan terus dilakukan dan pergerakan pasukan marinir mulai terlihat. Armada Satu punya kekuatan kapal perang 30-35 KRI didukung oleh Pasmar Satu di Jakarta. Pasmar (pasukan marinir) setara dengan kekuatan satu divisi. Ada juga 1 brigade marinir di Lampung, 1 batalyon di Batam dan 1 batalyon di Pangkalan Brandan Sumut.

KRI Ardadedali 404 satu dari lima kapal selam TNI AL
Simulasi pertempuran laut adalah keniscayaan yang harus dibiasakan, diseringkan, berulang dilakukan. Pemersatu pulau-pulau kita adalah halaman berwajah perairan. Harus lebih serìng bermain di wilayah halaman. Mencari nafkah di halaman. Karena halaman kita kaya energi dan ikan. Sering diungkap berdayakan halaman. Juga halaman ZEE Natuna. Maka melakukan latihan militer di halaman rumah adalah kewajiban mutlak.

Saat ini Indonesia punya kekuatan militer striking force serba tiga, dalam tiga zona. Kostrad punya 3 divisi, TNI AL punya 3 armada tempur, punya 3 divisi marinir dan TNI AU punya 3 Koopsau. Yang masih perlu diperkuat prajurit dan alutsistanya adalah yang nomor tiga itu. Kostrad divisi 3, Armada 3, Pasmar 3 dan Koopsau 3. Semuanya berlokasi di timur Indonesia.
Transporter Tank Amfibi BMP3F Marinir Indonesia
Meski latihan militer Armada Satu bukanlah gambaran seluruh kekuatan TNI AL. Tetapi penting sebagai media konsolidasi dan koordinasi kekuatan armada. Dijahit dalam kondisi darurat militer untuk bersinergi . Yang ingin diuji di lapangan adalah sistem manajemen pertempuran antar satuan tempur, antar KRI. Melihat sejauh mana teknologi interoperabilitas Armada Satu.

Serial latihan tempur laut ini antara lain menguji perang anti kapal selam, anti serangan udara, perang elektronika. Juga perang antar kapal permukaan dan puncaknya adalah melakukan serangan amfibi bersama pasukan marinir di pantai Todak Dabo Singkep Kepri. Implementasi Network Centric Warfare (NCW) adalah poin penting dalam setiap latihan perang modern. Dan Panglima TNI sudah menyatakan bahwa tahun 2020 ini TNI sudah harus menerapkan NCW secara komprehensif.

3 Divisi Pasukan Marinir Indonesia 
Kalau melihat dari pengerahan kekuatan, ini adalah latihan tempur laut Armada Satu yang terbesar. Wajarlah, kita perlu unjuk kekuatan karena wilayah operasional Armada Satu strategis, ramai lalulintas kapal berbagai jenis. Dikenal dengan sebutan ALKI 1. Mulai dari selat Sunda, selat Karimata, selat Malaka, selat Philips, laut Natuna dan samudra Hindia.

Suasana latihan, pergerakan armada pasti "ditonton" oleh negara asing tertentu. Pengalaman latihan tempur laut Armada Jaya beberapa tahun lalu di Arafuru dan Papua mendeteksi adanya kapal selam asing yang mengikuti. Apalagi sekarang dengan teknologi drone bisa menyaksikan live jalannya latihan militer.

Saatnya tentara laut kita unjuk kerja, unjuk kekuatan meski hanya setingkat Armada Satu. Setidaknya mengasah naluri pertempuran laut yang padat teknologi. Sekalian menyampaikan pada pihak yang punya hobby klaim bahwa TNI AL ada di garda depan untuk mempertahankan teritori laut Indonesia. Juga sebagai evaluasi untuk petinggi republik bahwa kekuatan matra laut kita masih belum sampai pada kriteria minimum essential force.
****
Jagarin Pane /13 Juli 2020

Friday, July 10, 2020

Osprey Adalah Extra Ordinary


Release dari Defence Security and Cooperation Agency (DSCA) Departemen Pertahanan AS tanggal 6 Juli 2020 merupakan kejutan dalam percepatan proses pengadaan alutsista Indonesia. DCSA menyetujui rencana Indonesia membeli 8 Helikopter canggih Osprey V22.

Hanya saja selama ini program pemerintah Indonesia untuk memperkuat tentaranya dengan pengadaan berbagai jenis alutsista selalu diketahui publik dan netizen. Karena dipublikasikan. Contoh kita mau beli kapal perang Iver Class jauh-jauh hari sudah diketahui publik. Dan semuanya mendukung. Nah Osprey ini surprise dan yang mengumumkannya lembaga bergengsi DSCA Yues'e.

Helikopter Osprey V22, lagi hangat dibicarakan

Pertahanan teritori kita di Natuna sudah terancam. Jadi kalau ada yang masih bilang tigapuluh tahun ke depan kita tidak punya musuh, ajak dia ke Natuna. Suasana disana benar-benar siaga penuh. Fokus utama barikade pertahanan kita sekarang adalah Natuna. Karena situasinya sudah tidak biasa alias extra ordinary maka percepatan pengadaan alutsista juga harus extra ordinary.

Ingat waktu kita ditunjuk sebagai pasukan peace keeping di perbatasan Lebanon-Israel satu dekade lalu. Alutsista pendukung prajurit milik kita tidak memenuhi standar. Mosok mau ngirim panser Saladin. Ntar diketawain sama Sultan Saladin yang menaklukan Jerusalem. Lalu dipesan cepat puluhan panser dari Perancis. Ini Extra ordinary. Berangkat dari titik inilah kemudian kita membuat ratusan panser Anoa dengan mesin dari Perancis.

Natuna harus diselamatkan dan dipertahankan dari aneksasi China. Tidak ada jaminan bahwa Natuna akan aman-aman saja. Lihat saja perilaku kasar China di Laut China Selatan (LCS). Kapal nelayan Vietnam ditenggelamkan, kapal perang Filipina sudah dikunci dengan rudalnya, kapal survey energi Malaysia dibayang-bayangi di Sabah. Untung saja ada kapal perang AS yang mengawal didekatnya.

Maka kita perlu melakukan terobosan pengadaan alutsista skala "wah". MEF (Minimum Essential Force) jilid tiga sekarang ini adalah memforsir semaksimal mungkin untuk mendapatkan berbagai jenis alutsista canggih. Pengadaan kapal perang terbesar di ASEAN, Iver Class, pengadaan batch kedua kapal perang Martadinata Class. Termasuk lanjutan pembuatan kapal selam Nagapasa Class. Juga pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat angkut berat Hercules-J, helikopter Apache batch 2, Radar, UAV/UCAV, satbak peluru kendali jarak sedang dan jauh, tank amfibi dan lain-lain.

Lalu mengapa Osprey V22 helikopter angkut yang bisa berubah menjadi pesawat baling2, menjadi "bintang kejutan" pengadaan alutsista. Jawabnya karena selama ini tidak pernah terbayangkan di mata publik. Dan tidak mungkinlah membelinya. Bukankah AS sangat ketat menyeleksi alutsista canggih produksi mereka untuk dijual ke negara lain. Untuk Osprey ini baru Jepang pengguna pertama di luar AS. Belum lagi soal anggaran beli dan anggaran rawat nantinya.

Klaim Laut China Selatan yang makin panas
Boleh jadi pemikir dan perencana strategis TNI AD dan Kemenhan melihat Osprey dalam perspektif daya jangkau dan kecepatan untuk kelas Helikopter. Misalnya deploy dari Skadron Penerbad di Semarang ke Natuna lebih cepat sampai karena non stop. Atau ada bencana alam di medan sulit dan jauh. Osprey jadi solusi.

Kalau melihat peta teritori, Natuna itu sendirian lho. Meski sudah dibangun pangkalan militer disana namun tetaplah diperlukan kekuatan penyambung untuk aliran nadi pertahanan. Suplai prajurit, amunisi, alutsista sekaligus counter attack. Pangkalan aju terdekat adalah Pontianak dan Tanjung Pinang. Osprey salah satu alat penyambung emergency jarak jauh untuk TNI AD.

Jujur saja kekuatan pre emptive strike kita belum masuk kategori standar, apalagi disegani. Dalam kondisi ini perkuatan AL dan AU menjadi langkah utama. Ini negara dengan wilayah besar berwajah kepulauan. Mengawal teritori dengan doktrin berani masuk digebuk (pre emptive strike) otomatis harus punya kekuatan pukul menjerakan di matra AL dan AU.

Matra darat punya strategi memperkuat payung skadron Penerbad. Kita ketahui Penerbad saat ini sedang memekarkan skadron helikopternya di Kalimantan dan Sulawesi. Maka sah-sah saja jika opsi memilih helikopter Osprey yang wah itu. Toh itu juga baru persetujuan dan lampu hijau dari DSCA. Persetujuan DSCA ini menandakan Indonesia sudah naik peringkat menjadi kawan dekat Paman Sam.

Maka tidak perlu juga ada bantahan seolah-olah pengadaan ini bukan permintaan Kemenhan. Mungkin juga saat pengumuman DSCA itu yang dirasa, kurang tepat waktunya mengingat kita masih konsentrasi memerangi Covid 19. Namanya baru persetujuan bukan berarti kemudian ada kontrak pembelian.

Dan jangan pula dibilang klaim sepihak dari AS. Ntar AS tersinggung lho padahal kita sedang merayu Paman Donald agar kita dikecualikan dari CAATSA supaya bisa mendapatkan Sukhoi SU35 Rusia. Bilang saja ke publik meski sudah ada lampu hijau dari DSCA, untuk urusan pembelian masih panjang jalan ceritanya. Bisa iya bisa tidak. Publik maklum kok.

****
Jagarin Pane / 09 Juli 2020


Wednesday, July 1, 2020

ASEAN Hadapi Tekanan Militer Berkepanjangan


Mulai Ahad kemarin dua kapal induk AS yaitu CVN Nimitz dan CVN Ronald Reagan melakukan latihan perang skala penuh empat dimensi di perairan Spratly barat daya Filipina . Ini bagian dari keteguhan sikap AS untuk melindungi hak-hak maritim dan kebebasan navigasi internasional. Kapal induk yang lain CVN Theodore Roosevelt ditarik sedikit ke atas menjaga Selat Taiwan. Luar biasa dinamika ini.

Dan China tetap show of force. Sebagai jawabannya awal bulan Juli ini armada angkatan lautnya mengadakan latihan militer di perairan Paracel. Persis di depan hidung Vietnam, bersebelahan dengan Spratly. Artinya ada dua kekuatan militer besar sedang berhadapan head to head di Laut China Selatan (LCS). Sementara di selatan LCS, di Natuna sudah bersiaga penuh sejumlah KRI dan Brigade komposit Gardapati Indonesia.
Armada AL China
Sepekan ini tiga pesawat anti kapal selam milik AS sedang menguntit pergerakan kapal selam China mulai dari selat Taiwan sampai LCS. Pertempuran intelijen sedang terjadi. Intelijen AS dikenal sangat akurat memantau dan mensuplai informasi. Ruang kendali manajemen pertempuran diliputi suasana ketegangan. Jangan sampai salah pencet.

ASEAN baru saja mengeluarkan statemen bersama, menolak klaim China terhadap LCS. Diprakarsai Vietnam, pernyataan sikap itu berdasarkan Konvensi PBB tentang hukum laut internasional UNCLOS 1982. Perairan ZEE secara ekonomi dikuasai oleh negara pantai yang ada disekitarnya. Jadi jelas tidak mengakui "juluran lidah naga" yang menjulur dari Hainan sampai Natuna dengan alasan historis.

Hari-hari mendatang dan untuk jangka waktu yang panjang ASEAN menghadapi tekanan militer yang terus menerus di perairan ZEE LCS. Vietnam berada di garis depan dan paling tersiksa dengan pamer otot Paman Mao. Instruksi China jelas, tidak boleh ada pergerakan kapal-kapal di perairan Paracel selama latihan militer China mulai 1 Juli ini. Larangan itu tentu membuat Vietnam bereaksi keras.

AS saat ini sudah mempersiapkan penempatan 3 radar mobile intai strategis berskala luas untuk Indonesia dan Malaysia. Menlu AS Mike Pompeo mengatakan pasukan AS ditarik dari Jerman untuk dipindahkan ke wilayah hot spot Asia Tenggara dan Asia Timur. Sudah ada gelar pasukan AS sebanyak 375.000 prajurit di sepanjang Indo Pasifik.

Kapal Induk AS
Bagaimana ASEAN melangkah ke depan dengan kondisi ini? Diperlukan kesamaan sikap. Pernyataan sikap terbaru ASEAN yang menolak klaim China adalah kemenangan diplomasi. Bahwa ASEAN masih mampu merapatkan barisan meski pun kita meyakini ada tiga negara ASEAN yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar yang berada dalam pengaruh China.

Dinamika persinggungan ekonomi internasional yang terkait dengan kepentingan nasional masing-masing negara ASEAN bisa merubah pernyataan sikap bersama. China adalah negara pengekspor terbesar di dunia dan pengimpor terbesar kedua di dunia. Dan sejujurnya China tidak akan terbendung lagi untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid mengalahkan AS.

Bagi ASEAN tidak ada gunanya mengambil opsi memusuhi China secara militer, juga secara ekonomi. Karena kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, misalnya persinggungan ZEE dengan China sama juga dengan persinggungan ZEE kita dengan Vietnam. Beda halnya dengan Vietnam, Filipina, Brunai dan Malaysia. Seluruh ZEE nya dicaplok China. Hanya menyisakan teritori nasional 12 mil laut dari pantai.

Kita dengan Vietnam masih berunding soal batas ZEE di Anambas. Tapi kita tidak mungkin berunding dengan China soal persinggungan ZEE di utara Natuna. Kalau kita mau berunding itu sama saja kekalahan dan kesalahan diplomasi. Karena klaim China tidak punya dasar hukum internasional.

Atas nama kepentingan nasional itu pula kita tidak perlu hanyut dalam drama LCS yang sudah menahun. Proporsional saja dan tahu diri. Kita dan ASEAN tidak mungkin bisa mengalahkan kekuatan militer dan ekonomi China. Harus ada kekuatan penyeimbang dan AS adalah jawabannya.

Perkuatan militer jelas perlu. Namun kejelian diplomasi dan melihat peluang sangat perlu. Misalnya kalau memang harus ikut aliansi pertahanan bersama AS, mengapa tidak. Tetapi hubungan ekonomi dengan China tetap berlangsung. Biarlah AS bersama Australia, Jepang dan Korsel berada di garis depan LCS, sebagai payung dan bumper. Drama ini masih panjang jalan ceritanya.

Prediksi kita tidak sampai terjadi konflik terbuka namun jalan menuju perang dingin semakin nyata. Sangat dimungkinkan ada penempatan pasukan aliansi, kapal perang dan jet tempur secara permanen di sepanjang teritori demarkasi LCS. Bisa di Filipina, Malaysia, Vietnam dan juga Indonesia. Semua bisa terjadi.
****
Jagarin Pane / 30 Juni 2020


Monday, June 22, 2020

Unjuk Kekuatan Hanya Saling Gertak


Gelar otot militer diperlihatkan antara dua kekuatan militer terhebat, AS dan China. Dan kali ini yang terbesar. Palagannya adalah mulai dari Selat Taiwan sampai Laut China Selatan (LCS). China menggelar kekuatan laut dan udaranya untuk menggertak Taiwan, Filipina, Malaysia dan Vietnam.

AS memandang ini sebagai tindakan "anggar jago" dan mentang-mentang. Maka dikirimlah 3 kapal induk sekaligus beserta dayang-dayangnya berupa puluhan destroyer, fregat, kapal selam dan ratusan jet tempur ke perairan Pasifik Barat. Konvoi itu telah sampai. Termasuk 8 kapal perang Australia ikut meramaikan suasana.

Sebagai antisipasi terhadap gelar kekuatan otot militer kedua raksasa itu, Indonesia bersiap diri siaga penuh di Natuna dengan penambahan kekuatan sejumlah KRI striking force. Juga skadron jet tempur di Koopsau satu diperintahkan siaga penuh terukur.

KRI Bung Tomo 357 dan armada lainnya
China, entah kenapa setelah sempoyongan mabuk Corona tiba-tiba membuka permusuhan terbuka di tiga front militer sekaligus. Dengan India di barat negerinya, dengan Taiwan di timur dan dengan sejumlah negara ASEAN di selatan negerinya. Apa karena gerah dengan sebab musabab Corona atau mau uji nyali kekuatan militernya.

Dengan India bahkan telah terjadi bentrok fisik yang meminta korban tewas puluhan pasukan kedua negara. Lucunya meski keduanya telah mengerahkan puluhan ribu pasukan dan alutsista, justru adu fisik ala primitif yang terjadi. Adu jotos antar tentara. Sangat memalukan.

Maka meskipun di teater LCS telah berkumpul sejumlah kapal perang, kapal induk, kapal selam dan jet tempur, kita meyakini tidak sampai terjadi perang terbuka antara China dan AS. Otot militer sejatinya dikerahkan untuk memberikan efek gentar, show of force. Saling gertak tapi juga ukur kekuatan. Bahasa militer adalah bahasa adrenalin. Bahasa ego negara yang berada dalam kendali bahasa diplomasi.

Sejatinya dunia kita sekarang sudah saling ketergantungan satu sama lain. Membangun kesejahteraan tidak bisa lepas dari hubungan ekonomi dan perdagangan antar negara. Saling membutuhkan. Bahkan dunia masa depan adalah bangunan digitalisasi online global, borderless.
Salah satu pangkalan militer di LCS
Yang menjadi pertanyaan mengapa China menjadi agresif dan cenderung buas belakangan ini. Semuanya soal teritori. Padahal pada saat yang bersamaan perang dagang dengan AS masih berlangsung seru. Apalagi dunia masih dilanda pandemi Covid19.

Utamanya soal batas teritori. Dengan India yang sudah dingin dengan kondisi status quo selama empat dekade. Tiba-tiba cepat berubah menjadi konflik panas membara. Aneh kan?  Dengan Taiwan juga sudah mulai unjuk kekuatan. Jet tempur China sudah berani menerobos wilayah udara Taiwan.

Adalah wajar jika kemudian AS dan anak asuhnya Australia tampil untuk unjuk kekuatan dengan mengerahkan 3 kapal induk sekaligus. Tindakan kasar China jelas tidak pantas dalam koridor Code of Conduct di LCS. Apapun alasannya tidak dibenarkan. Karena klaimnya di LCS tidak sah secara hukum internasional.

Tingkah konyol China ini dianggap dunia sebagai kurangnya semangat kecerdasan diplomasi alias kaku. Padahal dunia sudah sangat saling tergantung sama lain. Mestinya semua persoalan klaim teritori bisa diselesaikan di meja perundingan. Bukan berlagak sebagai preman lapak teritori.

Gelar kekuatan militer China sesungguhnya hanya untuk gagah-gagahan. Untuk menakut-nakuti. Memang negara-negara di LCS mengambil sikap mengalah tetapi bibit kebencian utamanya di kalangan warga negaranya mulai tumbuh. Di India sudah terjadi demo besar dan ajakan boikot produk China.

Pergelaran kekuatan militer besar-besaran AS adalah balasan dan pesan kuat untuk China agar tidak bermain api di LCS . Tetapi situasi dan kondisi panas ini tidak sampai menimbulkan perang terbuka diantara kedua raksasa dunia ini. Percayalah. Resikonya sangat mengerikan.

Dan kita pun wajib bersiaga di Natuna dengan terukur. Maksudnya tetap waspada dan defensif menjaga perairan laut Natuna Utara. Kita harus menghadirkan armada Bakamla dan KRI setiap saat. Paling tidak kalau ada yang mulai intip-intip Natuna dan ternyata ada "satpamnya" bisa mengurungkan niatnya.

****
Jagarin Pane /21 Juni 2020

Thursday, June 4, 2020

Menyongsong Iver


Angkatan Laut Indonesia sedang memperkuat taji tempurnya. Meski sebenarnya terlambat dalam mempersiapkan kapal perang ukuran besar, setidaknya kehadiran Iver yang digadang-gadang sudah mampu melegakan hasrat dan harapan kita.

Peremajaan dan modernisasi angkatan laut kita sudah berjalan 10 tahun dalam bingkai program MEF (Minimum Essential Force) TNI. Tetapi ternyata selama 10 tahun ini kapal-kapal perang striking force yang dihadirkan lebih didominasi Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Kapal Patroli Cepat (KPC) ukuran 40m dan 60m.

Proyek pengadaan KCR dan KPC membuat industri pertahanan maritim kita bersinar terang. PT PAL membangun 6 unit KCR 60m dan 3 kapal jenis LPD (Landing Platform Dock), dua diantaranya diekspor ke Filipina. Sementara industri galangan swasta nasional membangun puluhan KCR , KPC, LST (Landing Ship Tank)dan BCM Tanker. Belum lagi kapal-kapal "kelas KAL" dan yang dipesan Bakamla, KKP, Bea Cukai dan Polri.

Kapal perang ukuran layak tanding baru Martadinata Class sebanyak 2 unit dan Bung Tomo Class sebanyak 3 unit. Yang sudah hadir duluan sebelum MEF adalah korvet Diponegoro Class sebanyak 4 unit. Ada juga Fatahillah Class yang baru di upgrade sebanyak 3 unit. Sementara Ahmad Yani Class masih tetap setia menjaga teritori laut kita meski sudah sepuh.

 
Oleh sebab itu menghadirkan kapal perang Real Fregate Iver Huitfeldt berbobot 6645 ton dari Denmark adalah langkah strategis yang cemerlang dari decision maker. Kehadiran Iver adalah kembalinya lambang kedigdayaan TNI AL sekaligus Flag Ship. Kehadirannya nanti akan menjadi kapal perang terbaik di rantau ASEAN mengalahkan Formidable Class Singapura yang berbobot 3200 ton.

Kabar terbaru yang menggembirakan kita di tengah Pandemi Covid 19 ini adalah progress teknis kontrak pengadaan Iver Huitfeldt sudah final. Bahkan ternyata pengadaan kapal perang canggih ini tidak terbatas hanya 2 unit tetapi ditambah sampai 4 unit.

Kabar lain yang ikut membungakan hati adalah dilanjutkannya kembali pengadaan kapal perang Perusak Kawal Rudal Martadinata Class untuk kapal ketiga dan keempat. Alhamdulillah karena itu artinya program transfer teknologi dari Belanda kembali berlanjut. Moga-moga istiqomah, tidak goyah lagi alias pindah ke lain hati.

Untuk negara kepulauan sebesar ini sudah sepantasnya kita memiliki kekuatan angkatan laut dan udara yang bisa diandalkan. Sebagai instrumen pertahanan garis depan perkuatan penggebuk AL dan AU harus mendapat prioritas. Dan tidak perlu diperdebatkan berdasarkan ego sektoral.

Lihat saja hot spot terkini, situasi demam terus menerus di Laut China Selatan. Bersinggungan langsung dengan Natuna, harus kita kawal dengan pengerahan armada kapal perang dan jet tempur. Bulan Januari 2020 kita mengerahkan sejumlah jet tempur F16 dan armada KRI ke Natuna.

Armada TNI AL sudah dimekarkan menjadi tiga armada tempur. Demikian juga kekuatan pasukan Marinir sudah dikembangkan menjadi tiga divisi. Yang belum adalah tingkat keterisian berbagai alutsista yang dibutuhkan. Salah satunya adalah kebutuhan kapal perang kelas berat.

Maka kita sambut dengan suka cita kehadiran kapal perang Iver yang kelak akan diberi nomor awal dua (2XX) meski belum diberi nama dari pahlawan negeri. Karena memakai nomor seri awal dua, pasti akan lebih hebat dari Bung Tomo atau RE Martadinata atau Diponegoro. Bisa jadi memakai nama Ahmad Yani Class kembali manakala Ahmad Yani Van Speijk sudah pensiun.
****
Semarang, 03 Juni 2020
Jagarin Pane

Friday, May 29, 2020

Semakin Gahar Dan Berkelas

Program MEF (Minimum Essential Force) TNI digulirkan tahun 2010 dan saat ini sudah masuk tahun 2020. Berikut adalah hasil karya program besar itu di tiga matra TNI:

Penambahan Alutsista TNI AD
Ă¼  56 unit MLRS Astros II Mk6 dari Brazil
Ă¼  55 unit Artileri Caesar Nexter dari Perancis
Ă¼  18 unit Artileri KH 179 dari Korsel
Ă¼  54 unit Artileri  KH178 dari Korsel
Ă¼  38 unit Artileri M109 A4 GS dari Belgia
Ă¼  103 unit Tank Leopard dari Jerman
Ă¼  50 unit Tank Marder dari Jerman
Ă¼  350 unit Panser Anoa dari Pindad
Ă¼  22 unit Panser Tarantula dari Korsel
Ă¼  10 unit Panser APC Norinco dari China
Ă¼  12 unit Ranpur Bushmaster dari Australia
Ă¼  150 unit Tank M113 dari Belgia
Ă¼  5 unit Tank M113 Arisgator dari Italia
Ă¼  18 unit Ponton  M3 dari Ceko
Ă¼  22 unit Panser Pandur II dari Ceko
Ă¼  12 unit Helikopter angkut Mi17 dari Rusia
Ă¼  5 unit Helikopter serbu Mi35 dari Rusia
Ă¼  8 unit Helikopter serbu Apache dari AS
Ă¼  30 unit Helikopter Bell 412 Ep  AS/ PT DI
Ă¼  12 unit Helikopter Fennec  Perancis/ PT DI
Ă¼  10 unit Arhanud TD2000 dari China
Ă¼  Paket Rudal Grom dari Polandia
Ă¼  Paket Rudal Starstreak dari Inggris
Ă¼  Paket Rudal Mistral dari Perancis
Ă¼  Paket Rudal anti tank Javelin dari AS
Ă¼  Paket Rudal anti tank NLAW dari Swedia
Ă¼  Paket Rudal anti tank Milan dari Perancis

Penambahan Alutsista TNI AL
Ă¼  3 Fregat Bung Tomo Class dari Inggris
Ă¼  2 Fregat PKR 10514 Belanda dan PT PAL
Ă¼  8 Kapal Cepat Rudal 40 m dari  swasta nasional
Ă¼  6 Kapal Cepat Rudal 60 m dari PT PAL
Ă¼  2 Kapal riset Oceanography dari Perancis
Ă¼  10 Kapal LST  dari swasta nasional
Ă¼  1 Kapal LPD dari PT PAL
Ă¼  3 Kapal Selam Changbogo Korsel/PAL
Ă¼  3 Kapal Tanker BCM dari swasta nasional
Ă¼  1 Kapal Latih Layar dari Spanyol
Ă¼  16 Kapal Patroli Cepat dari swasta nasional
Ă¼  4 Pesawat CN 235 MPA dari PT DI
Ă¼  4 Pesawat Bonanza Beechcraft dari AS
Ă¼  2 Pesawat latih Baron G58 dari AS
Ă¼  5 Helikopter Bell 412Ep AS / PT DI
Ă¼  11 Helikopter AKS Panther dari Perancis
Ă¼  14 Drone Scan Eagle dari AS
Ă¼  60 unit Tank Amfibi BMP3F dari Rusia
Ă¼  15 unit Tank Amfibi LVTP dari Korsel
Ă¼  5 unit Panser Amfibi BTR4 dari Ukraina
Ă¼  9 unit roket MLRS RM Grad dari Ceko
Ă¼  8 unit roket MLRS Vampire dari Ceko
Ă¼  4 unit Norinco type 90 dari China
Ă¼  Paket Rudal anti kapal C705 dari China
Ă¼  Paket Rudal anti kapal C802 dari China
Ă¼  Paket Rudal anti kapal Exocet dari Perancis
Ă¼  Paket Rudal anti kapal Yakhont dari Rusia
Ă¼  Paket Rudal QW3 Marinir dari China

Penambahan Alutsista TNI AU
Ă¼  6 Jet tempur Sukhoi SU30 dari Rusia
Ă¼  24 Jet tempur F16 blok 52 Id dari AS
Ă¼  16 Jet latih tempur T50 dari Korea Selatan
Ă¼  16 Pesawat coin Super Tucano dari Brazil
Ă¼  9 Pesawat  Hercules dari Australia
Ă¼  12  Pesawat CN295 dari Spanyol/PT DI
Ă¼  24 Pesawat  KT01 WB dari Korea Selatan
Ă¼  24 Pesawat latih Grob dari Jerman
Ă¼  6 Pesawat patroli CN235 MPA dari PT DI
Ă¼  6 UAV Aerostar dari Israel
Ă¼  6 UCAV Wing Long dari China
Ă¼  12 UAV Wulung dari PT BPPT dan PT DI
Ă¼  9 Helikopter EC725 dari Perancis
Ă¼  6 Helikopter Super Puma dari Perancis
Ă¼  1 Helikopter AW101 dari Inggris/Italia
Ă¼  8 Radar Master T dari Inggris
Ă¼  2 Radar Weibel dari Denmark
Ă¼  1 Radar Vera Ng dari Ceko
Ă¼  4 Batt Oerlikon Skyshield dari Swiss
Ă¼  1 Batt Nasams 2 dari Norwegia
Ă¼  Paket Rudal untuk 16 Sukhoi dari Rusia
Ă¼  Paket Rudal untuk 24 F16 dari AS
Ă¼  Paket Rudal Chiron Paskhas dari Korsel
Ă¼  Paket Rudal  QW3 Paskhas dari China
****

Jagarin Pane /  29 Mei 2020
Dari berbagai sumber