Friday, May 8, 2020

Indonesia Siaga Di Natuna

Demam tinggi di tengah Pandemi Covid 19 semakin mencekam di Laut China Selatan (LCS). China lagi naik pitam sehubungan dengan melintasnya konvoi kapal perang dan pesawat pengebom strategis B1B Lancer AS keliling hilir mudik di LCS.
Kalau diurut-urut kejadiannya kan bermula dari China juga. Armadanya keliling LCS mulai dari Vietnam, Filipina dan Malaysia Timur. Di Vietnam menghajar kapal nelayan sampai tenggelam. Di perairan ZEE Filipina melakukan provokasi berbahaya, lalu di Sabah show of force terhadap Petronas yang lagi eksplorasi minyak di LCS.
Kamis ini armada tempur China dengan dukungan kapal induk Liaoning, sejumlah destroyer,fregat dan kapal selam termasuk jet tempur mulai memperlihatkan taringnya di LCS. Meski kemarahannya ditujukan ke AS tapi limbah adrenalinnya tetap tumpah kepada pemilik kapling klaim sejumlah negara ASEAN.
Astoss II Mk6 sudah ditempatkan di Natuna
China baru saja memberi nama dan region pada puluhan pulau kecil yang berserakan di LCS. Saat ini China bahkan sedang mempersiapkan zona identifikasi pertahanan udara ADIZ ( Air Defence Indentification Zone) di LCS. Ini sebuah langkah berbahaya dan akan berdampak luas.
Berkenaan dengan kondisi terkini di LCS militer Indonesia mengambil sikap bersiaga penuh. Sementara Menlu Retno Marsudi bersuara terang menyatakan keprihatinannya akan kondisi LCS. Semestinya bisa mengedepankan code of conduct karena kita semua sedang dilanda wabah Covid 19, katanya.
Natuna kembali jadi perhatian. Panasnya perairan LCS terasa di bumi rantau nan indah. Pasukan TNI yang sudah ditempatkan disana akan melewati hari-hari penuh siaga. Diantara seluruh perbatasan teritori yang kita kawal, Natuna adalah yang terlengkap dan terintegrasi.
Sudah ada sejumlah kapal Coast Guard, kapal KKP serta sejumlah KRI yang berpangkalan disana. Termasuk Brigade tempur komposit Gardapati di daratan Natuna. Teritori Natuna ada dalam kendali Kogabwilhan I. Dengan kekuatan Armada Satu 35 KRI, 3 Skadron tempur dan 1 Skadron UAV. Ada kekuatan 1 divisi Kostrad, 1 divisi Marinir dan dukungan batalyon Kodam di Sumatra dan Kalimantan Barat.
Meski tidak masuk Kogabwilhan I, kekuatan kapal perang KRI striking force dari Armada Dua yang berkedudukan di Surabaya diniscayakan memback up kesiagaan ini. Juga 1 Skadron jet tempur Sukhoi dan 1 skadron F16.
Kekuatan pukul organik di Natuna diisi oleh KRI Bung Tomo Class, sejumlah KRI Parchim Class dan Fatahillah Class. Berkaca dari insiden Januari 2020 yang lalu kehadiran KRI Martadinata Class dan KRI Diponegoro Class dari Armada Dua diperlukan sebagai perkuatan inti.
Kemarahan China dalam pandangan dunia internasional tidak pantas diperlihatkan. Seperti anak kecil yang suka mengganggu bikin onar tapi ketika ketemu rival yang setara mengedepankan emosi. Padahal kita lihat betapa negara-negara ASEAN yang bersinggungan dengan dia tetap menahan diri.
KRI Bung Tomo Class mengawal Natuna
Berhadapan dengan karakter arogan ini maka perlindungan dan payung pertahanan Natuna harus diprioritaskan. Sudah jauh-jauh hari kita sampaikan. Januari yang lalu China sudah mengganggu ZEE Natuna. Nah sekarang datang lagi dengan tensi amarah unjuk kekuatan di LCS. Dan ini yang terbesar. Masih pasif dan low profile kah kita.
Tidak hanya memperkuat militer. Kita juga harus proaktif melalui jalur networking diplomasi melakukan pendekatan kepada negara-negara yang jadi lawan China. Harus ada langkah besar, cermat dan cepat untuk menyeimbangkan suasana, menyeimbangkan arogansi. Jangan biarkan China merajalela di LCS.
Kedepan ini pertarungan memperebutkan hegemoni antara China dengan AS semakin terang benderang dan vulgar. Tuduhan AS terhadap asal muasal Corona, berjayanya teknologi 5G Huawei, perang dagang, pertumbuhan ekonomi dan militer China yang signifikan, klaim China atas LCS.
Semuanya akan menjadi dentuman keras bernuansa nuklir. Sebagaimana ancaman Presiden Donald Trump. Ancaman itu kemudian dijawab oleh China dengan ready for war. Pengerahan armada tempur China ke LCS adalah salah satu sekamnya.
****
Jagarin Pane / 07 Mei 2020

Thursday, April 30, 2020

China Menggebu ASEAN Terpaku

Code of Conduct alias kode etik perilaku yang didengungkan ASEAN untuk bertatakrama tenggang rasa di Laut China Selatan (LCS) tidak digubris China. Jangankan LCS, ada wabah maut yang meluluhlantakkan ekonomi dunia saja China gak peduli.
Mestinya fokus aja dulu ikut prihatin dengan wabah Covid19. Sayang tidak diperlihatkan. Begitu dia sembuh dari serangan wabah, ambisi hegemoni dipertunjukkan untuk ekspansi liar penguasaan teritori sumber daya mineral. Mulai dari Laut China Timur (LCT),sampai LCS.
Klaim sepihak tidak menyelesaikan masalah. Meski China telah membangun fasilitas dan pangkalan militer di Paracel dan Spratly. Arogansi militer yang diperlihatkan China selama ini menunjukkan kualitas diplomasi egois dan kaku. Dan ini sudah menimbulkan antipati di sejumlah negara.
Klaim China atas LCS
Vietnam yang berada di garis depan LCS sudah lama ribut dengan tetangga utaranya. Pembangunan kekuatan militer Vietnam sangat pesat dan satu arah alias berkiblat ke Rusia. Kita lihat perolehan alutsista strategisnya mulai dari kapal selam Kilo, jet tempur Sukhoi, pertahanan pantai Bastion kapal perang Gepard Class. Semuanya dari Rusia. 
Filipina juga berbenah diri memperkuat alutsistanya. Meski belum sekuat Vietnam dan Indonesia, negeri itu berpacu dengan waktu untuk menggagahkan militernya. Filipina terlena tidak menguatkan militernya ketika ada payung militer AS dengan pangkalan udara Clarck dan pangkalan angkatan laut Subic. Kedua pangkalan militer itu sudah ditutup.
Malaysia kelihatannya kurang bergairah memperkuat militernya. Penambahan alutsista nyaris tak terdengar karena rasio hutang terhadap PDB diatas 50%. Akibatnya anggaran pertahanan tidak bertambah signifikan. Padahal perairan Sabah sudah sering disisir armada China, bahkan pesawat pengebom China ikut "parade".
Pertanyaannya dimana semangat kebersamaan ASEAN. Sepertinya jalan sendiri-sendiri untuk mengamankan kepentingan nasionalnya. Code of Conduct yang ditawarkan ASEAN hanya nyanyian hampa. Jadinya wibawa dan marwah ASEAN jika berhadapan dengan China sudah kalah mental dulu. Dan tidak bersatu sikap.
ASEAN masih mengharap payung armada pasifik AS. Tapi ketergantungan itu menjadi nisbi manakala 2 armada kapal induk AS ditarik ke pangkalan karena awaknya tertular Covid 19. Praktis saat ini tidak ada payung perlindungan AS di LCS. Maka China leluasa "berkunjung" dan bikin onar.
Di Natuna sudah dibangun infrastruktur pangkalan militer namun isian alutsistanya masih sangat kurang. Bandingkan dengan Vietnam. Sepanjang garis pantai yang berhadapan dengan Hainan sudah dipasang rudal Bastion bersama puluhan kapal perang dan kapal selam.

Iver Class akan menjadi kekuatan utama TNI AL

Teritori terdepan di LCS ini harus diperkuat dengan alutsista sekelas dengan Bastion kombinasi dengan Nasams2. Ancaman untuk Natuna bukan hanya jet tempur, juga kapal perang jenis Fregat keatas. Makanya KRI yang mengawal Natuna juga harus Fregat keatas. Bukan KCR.
Diplomasi setara dengan China harus diimbangi dengan kekuatan militer yang setara juga. Kemudian menyatukan sikap khusus untuk 4 negara, Indonesia, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Supaya tidak ada kesan terpaku dan kalah mental, ambil posisi "bersatu kita teguh" khusus untuk 4 negara ini. Adakan KTT spesial misalnya atau melakukan latihan militer 4 negara.
Atau ajak sekalian AS, Australia dan Jepang ikut latihan militer skala besar. Menghadapi China kita tidak bisa sendiri-sendiri. Kalau perlu buat perjanjian pertahanan semacam FPDA. Gak masalah kan. Malaysia dan Singapura anggota FPDA dalam ASEAN. Kalau pakai cara-cara konvensional, China pasti akan semakin merajalela. Apakah kita mau China mengobok-obok Natuna atau bahkan menganeksasi ?

****
Semarang, 28 April 2020
Jagarin Pane

Friday, April 24, 2020

Hellfire Apache


Sangar banget dipasang rudal maut Hellfire. Helikopter tempur Apache Indonesia adalah salah satu yang tercanggih yang dibeli dari AS. Markas skadron serbu Apache di Pangkalan AD Ahmad Yani Semarang. Indonesia membeli 8 Helikopter serbu Apache lengkap dengan sistem persenjataannya dan akan menambah kekuatan Apache dengan pembelian tahap berikutnya.

****
Jagarin Pane / 24 April 2020

NASAMS Datang

Selamat datang sistem pertahanan udara untuk ibukota Jakarta. Namanya NASAMS 2 buatan Norwegia.  Sementara jenis peluru kendalinya Amraam AIM 120 buatan AS. Satuan tembak peluru kendali darat ke udara jarak sedang ini dibawah kendali Batalyon Paskhas TNI AU. Satu sistem battery NASAMS 2 terdiri dari 3 kendaraan peluncur. Satu kendaraan peluncur bisa memuat 6 peluru kendali. Jadi ada 18 peluru kendali SAM (Surface to Air Missile) yang memayungi ibukota. Alhamdulillah. Ini baru tahap pertama, masih ada pembelian tahap berikutnya.



****
Jagarin Pane / 24 April 2020

Monday, April 20, 2020

Tetap Pasang Kuda-Kuda

China kembali memperlihatkan arogansi militernya meski dunia lagi "dianeksasi" musuh bersama Corona. Militer negeri itu mengerahkan kapal induk Liaoning dan sejumlah kapal striking forcenya di Laut China Timur (LCT) dekat Okinawa dan Selat Taiwan.

Tidak hanya di LCT tapi juga di Laut China Selatan (LCS) China memperlihatkan keangkuhan militernya. Belum lama berselang kapal nelayan Vietnam diseruduk dan ditenggelamkan di perairan Paracel LCS. Padahal negeri tirai bambu itu belum sembuh benar dari serangan virus mematikan Corona.

Pada saat yang sama kapal induk AS yang sedang bertugas di Pasifik Barat USS Theodore Roosevelt ditarik ke Guam. Dan kapal induk yang lain USS Ronald Reagan diistirahatkan di Yokosuka Jepang. Semua karena ratusan awaknya terkena virus Covid 19.  Maka pertunjukan militer China yang leluasa mengerahkan sejumlah kapal perang ke LCTdan LCS  adalah cermin ambisi militer yang buas.

Ketika ditinggal payung dua kapal induk AS yang "ditaklukkan" Covid 19,  betapa terasa telanjangnya LCT dan LCS. Artinya China memang hanya sepadan lawan AS. Kombinasi seluruh kekuatan militer di Asia Tenggara tidak dianggap gahar alias gak nendang bagi China. Makanya dia leluasa suka-suka hati mengerahkan kapal perangnya yang jumlahnya ratusan unit kemana dia suka.

Belum lagi soal pelebaran pengaruh. China sudah dan sedang membuat pengaruh di Kamboja, Laos dan Myanmar. Sementara Thailand tidak punya klaim konflik alias netral, Singapura juga. Maka sesungguhnya ASEAN tidak lagi kompak menyuarakan kata sepakat untuk melawan klaim China terhadap LCS.

Sopan santun militer dan ikut bersimpati atas tragedi wabah Corona yang diawali dari China, yang melanda dunia saat ini tidak diperlihatkan China. Ambisi militernya yang haus penguasaan sumber daya energi membuat semua negara di sekitarnya pasang kuda-kuda.

Maka bagi Indonesia persiapan pasang kuda-kuda adalah mempercepat perolehan alutsista yang berdaya gebuk besar. Misalnya untuk angkatan laut, Iver Class. Dan melanjutkan program Martadinata Class batch 2. Untuk angkatan udara percepat proses jet tempur F16 Viper. Fokus ini saja dulu karena memang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan.

Selama lima tahun ini tidak ada penambahan alutsista strategis jet tempur dan KRI striking force. Yang ada hanya kedatangan alutsista dari proses rezim sebelumnya. Jet tempur Sukhoi SU35 hanya fatamorgana. PKR 10514 jalan ditempat alias hanya dua saja cukup kayak slogan KB.

Bagaimana mau pasang kuda-kuda kalau soal pengadaan alutsista strategis terkesan lambat. Mudah berputar haluan dan retorika menggebu kemudian diam nyaris tak terdengar. Seakan-akan semua sedang bersiap mendengar suara baling-baling Nagapasa Class. Dan yang terdengar justru jeritan Corona yang membuat dunia terhempas.

Rapatkan barisan, perkuat pagar teritori negeri gak pake lama. Beli alutsista strategis tanpa harus bertele-tele sesuai kebutuhan bukan sesuai selera. Tetap fokus pada physical distancing, stay at home mawon. Pertahanan negeri tetap bagian dari prioritas. Pertahanan negeri adalah investasi, jadi percepatlah dan istiqomahlah.

****
Semarang/ 15 April 2020
Jagarin Pane

Saturday, April 4, 2020

Dipersimpangan Jalan


Belum lagi reda dan lega soal diguntingnya proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 karena tekanan Uak Sam, muncul lagi berita soal rencana pembatalan order 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Lho kok bisa. Padahal sudah dievaluasi secara komprehensif sebelum dilanjut ke jilid dua.
Kali ini yang mengambil inisiatif untuk meninjau ulang proyek prestisius ini adalah kita sendiri. Seperti kita ketahui Indonesia sembilan tahun yang lalu melakukan pola kerjasama pembuatan 3 kapal selam U209-1400 dengan Korsel melalui transfer teknologi.
Seri asli U209-1200 adalah kapal selam buatan Jerman. Turki dan Korsel sukses mendapatkan ilmu transfer teknologi dari Jerman. Kapal selam lawas kita KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 adalah jenis U209-1200 asli buatan Jerman tahun 1980.
Dua kapal selam TNI AL sedang berparade dalam HUT TNI
Nah ketiga kapal selam Nagapasa Class itu sudah selesai pembuatannya. Dan April 2019 kembali dilakukan sign kerjasama pembuatan 3 kapal selam batch 2 bernilai US$ 1,2 Milyar. Sekaligus melanjutkan program transfer teknologi. Lalu muncul berita dari media militer luar negeri Jane's.
Apa pasal. Cerita yang berkembang proyek yang juga dikenal dengan Changbogo Class ini tidak memuaskan User dari sisi performance dan endurance. Salah satu keandalan kapal selam adalah sunyi dan senyap. Nah tingkat senyap ini yang menjadi soal besar Nagapasa Class. Kapal selam kok berisik sih, begitulah bunyi keluhannya. Mudah terdeteksi.
Proyek pembangunan 3 kapal selam tahap I itu bernilai US$ 1 Milyar. Kita kirim seratusan insinyur ke Korsel. Kita buat infrastruktur galangan kapal selam modern di PT PAL Surabaya. KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 dibuat di Korsel. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibangun di PT PAL. Selesai.
Semua berjalan dengan baik. Lalu mengapa tiba-tiba muncul kontroversi. Pertanyaannya kalau memang bermasalah di jilid I mengapa proyek jilid dua dilanjut. Dua Menhan sebelumnya yaitu Purnomo Yusgiantoro dan Ryamizard Ryacudu seirama jalannya dan melanjutkan proyek bergengsi ini. Lalu mengapa saat ini muncul evaluasi. Bagaimana dengan kualitas evaluasi sebelum ditandatangani kontrak batch 2.
Pembatalan kontrak tentu berimplikasi luas. Mulai dari soal denda, ilmu transfer teknologi belum selesai, investasi infrastruktur kapal selam sia-sia. Belum lagi ketersinggungan diplomatik. Juga kekecewaan sang guru yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan muridnya. Murid pun pasti kecewa.
Pandangan kita mari cermati dulu secara seksama dan bijaksana. Ajak semua pemangku kepentingan bicara termasuk tim evaluasi terdahulu. Pihak Korsel juga diajak bicara. Dan Korsel juga punya hak publikasi untuk menjelaskan duduk perkaranya. Semua untuk obyektivitas penilaian.
PKR10514, mestinya tidak hanya dua unit
Catatan kita ada tiga proyek strategis industri pertahanan kita yang bekerjasama dengan pihak luar. Dan ketiganya bermasalah. Proyek pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel macet di dua pertiga perjalanan. Proyek kapal perang PKR 10514 kerjasama alih teknologi dengan Belanda tersendat hanya sampai produksi dua kapal saja. Lalu Nagapasa jilid 2 tiba-tiba disapu mendung pekat.
Sesungguhnya jika ketiga proyek inhan yang bergengsi ini bisa diselesaikan, dalam lima tahun kedepan kita sudah menguasai teknologinya. Pertanyaannya mungkinkah Korsel berkhianat alias tidak mengajarkan transfer teknologi yang berkualitas. Atau Belanda yang setengah hati menuangkan ilmu PKR nya untuk ilmuwan kita.
Atau ada pihak-pihak yang tidak senang dengan program strategis ini. Jika kita sukses dengan tahapan transfer teknologi di ketiga proyek besar ini, luar biasa dampaknya. Kita sudah bisa mensuplai kebutuhan alutsista strategis meski komponen produksinya tetap harus kerjasama hitung-hitungan bisnis dengan pihak luar.
Solusi yang bisa disampaikan dalam pandangan kita teruskan saja Nagapasa jilid 2. Sejalan dengan itu buka lagi proyek kerjasama pembangunan kapal selam dengan Turki. Bukankah kita masih butuh minimal 12 kapal selam dalam program penguatan militer kita.
Sekarang sudah ada 5 kapal selam. Ditambah dengan kontrak 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Baru ada 8 kapal selam. Kebutuhan 4 kapal selam bisa kerjasama dengan Turki yang juga satu perguruan U209. Jadi transfer teknologi dengan Korsel berlanjut dan dengan Turki dibuka lagi program yang sama. Bukankah materi kuliah dasarnya relatif sama, U209.
****
Solo, 04 April 2020
Jagarin Pane
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI


Monday, March 30, 2020

Terbelah Dua Terpisah Jauh


Apa perbedaan geo strategis pertahanan Indonesia dan Malaysia. Indonesia jelas negara kepulauan dan semua kepulauan itu berada dalam kendali penuh teritori internal laut dan udara.

Malaysia terbagi dua wilayah yang dipisahkan Laut China Selatan (LCS). Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.  Bedanya pemisah dua wilayah itu teritori lautnya tidak berada dalam kontrol internal Kuala Lumpur. Terutama sejak China mengklaim LCS dan Indonesia membangun pangkalan militer di Natuna.

Maka ke depan ini persoalan pertahanan negeri jiran itu yang terbelah dua menarik untuk dikaji terutama jika terjadi konflik teritori dengan China, Indonesia dan Filipina. Malaysia menghadapi persoalan serius untuk masalah ini.

Saat ini belanja militer Malaysia mengalami tekanan keuangan. Hampir tidak ada pembaharuan yang signifikan terutama penambahan aneka jenis alutsista. Sementara negara-negara se kawasan Asia Tenggara utamanya Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina sedang giat memperkuat militernya.

Teritori laut yang terpisah jauh dan ditengahnya ada Natuna dan klaim LCS oleh China secara strategi militer sejatinya telah membuat kontrol militer Semenanjung atas Sarawak dan Sabah menjadi lemah.

China semakin memperkuat taring militernya di LCS. Perairan strategis padat lalulintas ini secara de facto sudah dikuasai militer China. Bahkan ditarik secara ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) pun dengan asumsi tidak ada klaim teritori LCS, Malaysia Barat dan Timur gak nyambung.

Sejak Natuna dijadikan pangkalan militer tri matra oleh Indonesia, maka ruang pertahanan dan militer negeri itu menjadi tidak nyaman. Kondisi yang sama pernah ada ketika Pakistan Barat dan Pakistan Timur dipisahkan oleh India. Tidak harmonisnya hubungan bertetangga ini dan lewat 3 kali peperangan maka Pakistan Timur dengan bantuan India menjadi negara baru bernama Bangladesh tahun 1971.

Indonesia tidak punya kepentingan apapun soal Sarawak dan Sabah. Sementara Filipina punya sejarah kepemilikan atas Sabah. Klaim Malaysia soal Ambalat bisa jadi di kemudian hari membuat Indonesia marah. Maka dalam strategi militer Natuna bisa dijadikan kartu truft  mengerahkan kekuatan Armada Satu dengan kekuatan 35 KRI dan 2 skadron F16. Tujuannya adalah memblokade jalur militer Semenanjung.

Sementara Armada Dua TNI AL dengan kekuatan 40 KRI didukung 1 skadron Sukhoi mampu menguasai Ambalat secara penuh. Tetapi tentu penguasaan secara militer tidak membuat masalah lalu selesai. Maka pilihan penyelesaiannya secara sepihak adalah geo politik dan geo strategis.

Ringkasnya bisa pakai cara geo strategis dan geo politik India yang menjadikan Pakistan Timur menjadi negara baru, Bangladesh. Dinamika kawasan saat ini sangat cepat berubah. Pilihan-pilihan yang bisa terjadi di kemudian hari bermula dari persoalan klaim teritori.

Maka salah satu poin pentingnya adalah memperkuat sistem teknologi persenjataan yang terpadu dan terintegrasi. Dengan itu kekuatan militer sebuah negara menjadi adrenalin dari kekuatan diplomasi internasional. Indonesia sedang menuju jalan itu sementara Malaysia tersendat program penguatan militernya.

****
Semarang, 30 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Saturday, March 14, 2020

Drama Tersanjung Berakhir Tersandung


Betapa semangatnya kita ketika lima tahun lalu dicanangkan sebuah program pengadaan alutsista strategis dan bergengsi. Mimpi untuk mendapatkan jet tempur mutakhir Sukhoi SU35 menjadi catatan perjalanan panjang. Dengan harap, dengan sukacita, dengan bangga, dengan damba. Berakhir dengan hampa.

Sebuah drama yang banyak menyita perhatian kalangan forum militer tanah air. Menjadi forum diskusi yang hangat, menjadi harapan sejuta umat, dinanti dengan segala hormat, dirinci detail prosesnya dengan cermat, lima tahun lewat akhirnya tamat karena Caatsa mau melumat.

Dibilang gondok sudah pasti, sebab inilah sebuah proses pengadaan alutsista yang paling bertele-tele. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari. Sudah satu suara antara Kemenhan dan TNI. Sudah dibuatkan rumah skadronnya di Iswahyudi, sudah disiapkan pilot-pilotnya. Sudah dititipkan 3 Sukhoi SU27 di Iswahyudi agar pilot tidak bengong terus.

Su35, yang digadang-gadang tapi terhadang
Begitu tersanjungnya episode drama ini. Tentang sebuah harapan kebanggaan, tentang marwah dirgantara, tentang martabat teritori, tentang daya gentar dan getar. Tetapi akhirnya justru digentarkan dan digetarkan Caatsa Paman Sam. UU Caatsa AS mengharamkan siapapun yang beli alutsista Rusia akan dilibas dan digilas.

Begitulah, dan tanda-tanda itu sejatinya sudah mulai terlihat pada Ratas di kantor Menko Polhukam beberapa waktu lalu. Seusai rapat tiba-tiba para Menteri jadi pelit bicara. Yang terdengar hanya kalimat demi pertimbangan geostrategis dan geopolitik. Gak ada lanjutan kalimat lain.

Artinya dengan begitu selama lima tahun ini tidak menghasilkan apa-apa. Jika ada penggantinya pun misalnya jet tempur Rafale pasti akan butuh 3 tahun lagi. Atau jika disetujui dapat ganti F35 pasti butuh durasi 5 tahun lagi. Benar-benar tersandung.

Meski begitu kita percaya dengan Menhan Prabowo yang cepat mengambil keputusan. Toh soal proses pengadaan SU35 itu tidak dalam wilayah kendalinya. Dia hanya berada di hilir yang menerima proses akhir. Kita meyakini Prabowo akan ambil langkah strategis yang cepat dan cermat.

F16 Viper, tinggal tunggu waktu
Maka harapan kembali kita suarakan agar proses pengadaan jet tempur Rafale segera dipercepat. Paling pantas dan cepat menjawab tekanan Uak Sam adalah membeli puluhan jet tempur Rafale. Kalau perlu salip saja dengan proses pengadaan jet tempur F16 Viper yang sekarang sudah hampir final.

Pelajarannya adalah bukan karena soal duit. tetapi proses yang bertele-tele. Seandainya bisa diselesaikan 2 tahun sejak tahun 2015 maka kita tidak sampai pada pemberlakuan Caatsa. Dan hari ini sudah bisa menyaksikan jet tempur penggentar Sukhoi SU35. Benar-benar tersandung dan gigit jari.

Pesan kuat kita untuk Menhan Prabowo, percepat semua proses pengadaan alutsista. Gak usah dibikin ribet. Duitnya ada kok. Bahkan sudah disediakan dana On Call. Beli banyak Rafale, segera teken Iver. Lanjutkan proses Gowind. Sambut ajakan Raja Belanda untuk buat kapal perang setara Iver yaitu Omega.

Udah gitu aja, masih gondok sama Uak Sam. Benci tapi rindu dan dibutuhkan. Mau dilawan dia Jawara dan sewaktu-waktu bisa jadi payung untuk konflik Laut Cina Selatan. Itu yang disebut kantor Menko Polhukam: demi kepentingan geostrategis dan geopolitik. Kita mengalah saja, sambil membayangkan wajah santri pak Mahfud MD.

****
Jagarin Pane
Yogya 14 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.

Wednesday, March 11, 2020

Dipercepat Dong


Produksi tank Harimau pesanan TNI AD sudah dimulai, demikian juga dengan panser Badak. Termasuk panser amfibi Cobra yang difinishing di Pindad, aslinya adalah panser Pandur II dari Ceko.
Filipina naksir Harimau. Kapasitas produksi Pindad terbatas. Mau buat 18 Harimau, mau buat 12 Badak, mau merakit pansam Cobra, lagi merakit ranpur Sanca dan Komodo. Panser Anoa juga masih produksi. Berarti Filipina antri dulu kalau jadi beli. Moga-moga aja jadi, dan sabar.
Arhanud jadul "Simbah S60" tua2 keladi makin tua makin bertaji. Ratusan alutsista buatan Uni Sovyet tahun enampuluhan ini mau diintegrasikan menjadi air defense digital system. Tentu untuk memayungi kota-kota besar di Indonesia dari ancaman serangan udara. Baguslah.
Iver Class for Indonesian Navy
TNI AU merilis progress pembangunan kekuatan di timur negeri. Infrastuktur Koopsau III sudah selesai dibangun di Biak. Skadron 'angkut sedang', sudah diisi dengan 4 pesawat CN 235. Skadron baru 'angkut berat' Hercules yang bermarkas di Makassar juga sudah diisi 4 Hercules. Belum lengkap memang.
Yang sedang dipersiapkan skadron Helikopter TNI AU di Jayapura. Alutsista helikopter sudah dipesan. Skadron tempur lokasi definitifnya belum ditetapkan. Biak atau Kupang. Soal lokasi win win aja deh. Biak sudah siap, Kupang juga. Yang penting jenis jet tempurnya intersep.
Iver yang digadang-gadang, kembali dikunjungi pabriknya di Denmark oleh pejabat Kemhan dan anggota DPR. Sudah empat kali lho. Mau beli dua, kenapa gak tiga sekalian. Kan armada tempur kita ada tiga, masing-masing dapat bagian. Gak pake lama lho.
Proyek PKR 10514 jilid dua mau dilanjut, agak dipercepat gitu. Raja Belanda datang untuk memastikan Damen Schelde dapat lampu hijau. Mestinya sudah sejak tahun 2018 proyek ini dilanjut. Jadi tidak ada jeda terlalu lama. Misal usia KRI Martadinata 331 sudah delapan tahun baru adiknya yang nomor tiga lahir. Kelamaan kan.
TNI AL perlu kapal perang berbagai jenis. Semua berjalan biasa, padahal perlu jalan cepat. Satu LPD rumah sakit sedang dibuat. Tiga KCR paket lengkap lagi diproduksi. Program lanjutan pembuatan kapal perang jenis LST dan BCM jalan terus. Nah yang lemot adalah untuk menghadirkan KRI striking force Iver Class dan Martadinata Class paket dua.
CH4 Wing Long
Kita mau kedatangan paket alutsista model baru. Namanya Hanud area berupa satuan peluru kendali darat ke udara jarak sedang. Merknya Nassam 2 buatan Norwegia. Disebut model baru karena selama setengah abad kita tak punya pelapis kedua sistem pertahanan udara.
Selama ini model hanud kita hanya dua lapis yaitu jet tempur dan peluru kendali SAM jarak pendek. Dengan kehadiran satuan peluru kendali jarak sedang maka tersedia 3 lapis model pertahanan udara. Prioritas untuk Ibukota dan Natuna.
Proses pengadaan jet tempur F16 terus berjalan. Tetapi tiba-tiba AS mencabut status RI utk urusan perdagangan dari negara berkembang jadi negara maju. Artinya tidak ada lagi fasilitas keringanan alias GSP untuk produk ekspor kita ke AS.
Kenapa GSP dikaitkan dgn pembelian alutsista AS. Karena surplus perdagangan mau diseimbangkan dengan cara beli F16, Hercules dll. Jika fasilitas GSP dihapus ya mending cari produk lain dong sebagai bentuk independensi RI.
Apalagi soal Sukhoi SU35, setelah Ratas di kantor Menko Polhukam baru-baru ini, tiba-tiba semua pada pelit bicara. Maka menjadi pertanyaan apakah ancaman Caatsa dari AS menjadikan menteri-menteri itu pelit bicara.
Kita simak saja sembari mengajak semua proses itu: Dipercepat dong. Ayo dong. Buktikan independensi negeri. Datangkan Sukhoi SU35, percepat kontrak Iver, teken segera pengadaan jet tempur intersep selain SU35. Lanjutkan proyek KFX/IFX. Tunjukkan pada rakyat keseriusan membangun kekuatan militer dengan kinerja percepatan. Sebelum keburu resesi.
****
Bandung, 7 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.


Sunday, February 16, 2020

ON GOING PROJECT INDONESIAN MILITARY


1.  Upgrade 10 jet tempur F16 blok 15
2.  Upgrade 15 jet latih T50 menjadi FA50
3.  Overhaul KRI Cakra 401
4.  Pembangunan 3 Kapal KCR 60 m
5.  Pembangunan 1 Kapal LPD rumah sakit
6.  Pembangunan 3 Kapal LST
7.  Pembangunan 1 Kapal BCM
8.  Pembangunan 3 Kapal KPC
9.  Pembangunan 3 Kapal selam batch 2
10. Pembelian 22 Panser Cobra
11. Pembelian 18 Tank Harimau
12. Pembelian 40 Rantis Sanca
13. Pembelian 18 Ponton Amphibious M3
14. Uppgrade 188 Arhanud S60
15. Pembelian 18 Caesar Nexter batch2
15. Pembelian 18 Astross Mk2 batch 2
16. Pembelian 2 Batt Nassam2
17. Pembelian 3 Batt Oerlikon Skyshield
18. Pembelian 11 Jet Tempur Sukhoi SU35
19. Pembelian 9 Helikopter Caracal
20. Pembelian 8 Helikopter Bell 412 Epi
21. Pembelian 3 Pesawat CN295
22. Pembelian 4 Radar GCI
23. Pembelian 6 UCAV Wing Loong
24. Pembelian 8 MLRS Vampire
25. Pembelian 6 Pesawat Amfibi CL415
26. Pembelian 1 Satelit Militer
27. Pembelian 5 Pesawat Hercules type J
28. Hibah 6 UAV Scan Eagle
****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber/16.02.20

Saturday, February 8, 2020

Menyandingkan MEF Dan INHAN

Perjalanan MEF ( Minimum Essential Force) sudah memasuki usia yang kesepuluh. Sejalan dengan itu industri pertahanan (Inhan) kita mulai memperlihatkan gairah berkarya memenuhi sebagian kebutuhan alutsista TNI. MEF diproklamirkan tahun 2010 dan bersamaan dengan itu dimulailah pemberdayaan industri pertahanan nasional dengan berbagai pola.
Pindad sudah mampu membuat berbagai jenis persenjataan personel pasukan. Kerjasama produksi kendaraan tempur Komodo, Badak, Sanca berjalan terus. Produksi panser Anoa sampai saat ini mencapai tigaratusan unit. Saat ini Pindad sedang memproduksi tank Harimau pesanan TNI AD.
Tank Harimau, sudah mulai diproduksi
PT DI sudah memproduksi puluhan pesawat CN235 dan bahkan sudah diekspor ke berbagai negara. Juga merakit ratusan helikopter berbagai jenis untuk TNI. Termasuk yang terbaru dan diam-diam proyek bergengsi UAV/UCAV Elang Hitam. Sementara saat ini sedang berlangsung proyek kerjasama teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Sudah berjalan sepuluh tahun.
PT PAL sebenarnya punya dua proyek strategis yaitu kerjasama alih teknologi pembuatan kapal perang perusak kawal rudal dan pembuatan kapal selam U209/1400. Keduanya juga sudah berjalan 10 tahun.
Namun untuk proyek pembuatan kapal perang perusak kawal rudal yang dikenal dengan sebutan PKR 10514 Martadinata Class tersendat di pembuatan kapal ketiga dan keempat. Mestinya untuk menuntaskan alih teknologi dengan Damen Schelde Belanda masih diperlukan tambahan minimal 2 unit lagi. Ini salah satu PR untuk Menhan Prabowo.
Astross II Mk6, sudah memperkuat Natuna
Sementara untuk program alih teknologi pembuatan kapal selam sudah berhasil dibangun 3 kapal selam yang dikenal dengan Nagapasa Class. Kapal selam ketiga KRI Alugoro dirakit di PT PAL Surabaya dan sekarang sedang uji endurance, uji teknologi di laut.
Sempat diterpa isu macam-macam, toh ketiga kapal selam ini baik-baik saja. KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional dengan persenjataan torpedo canggih Blackshark. Kabar baik lainnya sudah diteken kontrak pembuatan kapal selam ke 4,5,6. Semuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan jumlah kapal selam dan-ini yang terpenting-untuk menguasai sepenuhnya teknologi pembuatan kapal selam.
Saat ini kesibukan PT PAL yang lain adalah pembuatan 3 kapal cepat rudal (KCR), pembuatan 1 kapal jenis LPD (Landing Platform Dock) dan overhaul kapal selam KRI Cakra 401. Kita sangat berharap agar pembuatan kapal perang striking force Martadinata Class yang ke 3 dan 4 bisa segera dimulai. Sebagaimana dicerahkan oleh Presiden Jokowi, yang bisa dibuat di PT PAL silakan pesan bahkan untuk jangka waktu sampai 15 tahun. Nah lo.
Kita sebenarnya bisa dan mampu membesarkan dan memberdayakan industri pertahanan kita termasuk dengan pola alih teknologi. Tiga proyek alih teknologi, pembuatan kapal selam, pembuatan PKR 10514, pembuatan jet tempur KFX/IFX sudah berada di duapertiga perjalanan. Masih butuh 5-6 tahun lagi untuk mencapai finish.
Maka di periode ini kita perlu mengumandangkan lagi komitmen konsistensi untuk kelak bisa mandiri memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Statemen Presiden menjadi catatan untuk kita bersama memajukan industri pertahanan nasional.
Pindad sudah mampu memproduksi panser Anoa, tank Harimau dan berbagai jenis roket. PT PAL sudah mampu membuat KCR dan LPD. Galangan kapal swasta nasional sudah mampu membuat kapal patroli cepat (KPC), kapal landing ship tank (LST), kapal untuk BAKAMLA, KKP, Bea Cukai, Polairud.
Jika kita sudah mampu dan lulus di tiga proyek alih teknologi strategis Inhan, maka prestasi ini juga menjadi nilai prestisius bagi bangsa ini. Untuk mencapai itu tentu ada pihak-pihak yang merasa tidak senang termasuk pihak asing atau negara asing. Maka kemudian dimunculkanlah opini-opini yang under estimate dan yang sebangsa dengannya.
Maka mari kita perkuat kebersamaan komitmen. Dengan menggarisbawahi pernyataan Presiden dalam Ratas Alutsista di hanggar kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 27 Januari 2020 yang lalu. Utamakan industri pertahanan nasional dan lanjutkan tiga proyek alih teknologi strategis.
****
Surabaya, 03 Februari 2020
Jagarin Pane

Monday, January 27, 2020

MEF 3, Pertaruhan Marwah Pertahanan


Kunjungan Menhan ke Perancis barusan membuat gegap gempita pemberitaan media nasional dan internasional. 48 Rafale, 4 Scorpene, 2 Gowind. Sempat melambung antara angan-angan dan kenyataan, begitu menggerunkan headlinenya. Tetapi kemudian kita harus berhitung cermat dan cerdas.
Mengapa begitu, karena soal jet tempur Sukhoi SU35 saja belum ada perkembangannya alias jalan ditempat. Proses pengadaan 32 jet tempur F16 Viper belum kelar juga. Lalu kabar proyek transfer teknologi kapal selam Nagapasa Class jilid dua dengan Korsel diganggu desas desus, termasuk proyek pengembangan jet tempur IFX. Terus gimana dong.
Kita saat ini sudah berada di MEF ( Minimum Essential Force) jilid 3 (2020-2024). Pertaruhan marwahnya disini. Kalau program sesuai target, nilainya biasa saja. Tapi dengan perkembangan kawasan yang gampang demam, mudah naik tensi, maka harus ada percepatan hasil melebihi target MEF 3.
Sukhoi SU35, belum datang juga
Maka percepatlah pengadaan 32 jet tempur F16 Viper, 6 Hercules, 2 kapal perang Iver, 2 kapal perang PKR 10514 batch 2. Datangkan segera Sukhoi SU35, tank amfibi BMP-3F dan panser amfibi BT-3F. Ini kan sudah jelas riwayat prosesnya.
Berdasarkan list belanja banyak yang mau datang. Ada satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah Nassam2 untuk pertahanan Ibukota dan Natuna. Ada Astross Mk2, ada Oerlikon Skyshield, ada sejumlah radar untuk menutup blankspot. Penyelesaian pembangunan 3 KCR (Kapal Cepat Rudal), 3 LST, 1 kapal LPD rumah sakit, 6 KPC (Kapal Patroli Cepat), 11 Heli AKS, 9 Heli Bell 412 Epi, 9 Heli Caracal dan lain-lain. Banyak sih kalau mau didetailkan.
Yang spektakuler nanti adalah hadirnya 2 kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia dari kelas Iver buatan Denmark. Termasuk tambahan kapal selam Scorpene selain lanjutan pembuatan 3 kapal selam Nagapasa Class. Bakal rame dah. Semua sibuk dapat proyek gede-gede. Industri pertahanan nasional baik BUMN dan Swasta sedang berbunga dan berbuah indah.
Ada juga proyek pengembangan UAV /UCAV yang akan menjadi primadona manajemen pertempuran masa depan. Sudah disiapkan roadmapnya. Terbunuhnya jenderal garda revolusi Iran di Baghdad beberapa waktu lalu adalah bukti kecanggihan UAV/ UCAV.
F16 Viper, yang digadang-gadang itu
MEF jilid 3 ini adalah finalisasi keseluruhan program modernisasi militer Indonesia yang dimulai sejak jaman SBY jilid 2. Namun bukan berarti semua akan berakhir di MEF jilid 3. Ke depan after MEF 3 program penguatan militer kita akan terus berjalan.
Tanda-tanda penambahan anggaran pertahanan makin jelas. Meski untuk tahun ini sudah ditetapkan pagu anggaran sebesar 131 T. Sangat terbuka ada dana on call sebagaimana disampaikan Menkeu. Prediksi jumlah dana on call yang disiapkan ada di kisaran 30-36 Trilyun.
Lima tahun ke depan ini adalah kesibukan Kemenhan yang luar biasa. Beruntunglah kita karena Kementerian ini dinakhodai oleh orang yang cerdas, pintar dan bergerak cepat. Lima tahun ini waktu yang pendek karena kita akan menghadirkan sejumlah alutsista strategis beraneka ragam.
Presiden Jokowi sangat percaya dengan kemampuan Menhan Prabowo dan berharap anggaran Kemenhan bisa dipergunakan tepat guna dan tidak di mark up. Sebuah sindiran dan boleh jadi sebuah teguran untuk Kemenhan.
Anggaran Kemenhan saat ini baru ada di 0,8% dari PDB kita. Jika angka itu ada di 1% saja dari PDB, artinya jumlah nominal duitnya ada di rentang 200 Trilyun. Sebuah jumlah yang biasa-biasa saja karena kita sedang membangun investasi bidang pertahanan. Kita meyakini jumlah 200 Trilyun itu akan dicapai pada tahun 2022 mendatang.
Investasi pertahanan dengan nilai terbesar adalah rukun marwah fardhu kifayah yang harus dilaksanakan pemerintah dan parlemen. Kalau tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dosanya ditanggung seluruh komponen negara. Wujudnya kita dipermalukan soal teritori atau bahkan terjadi aneksasi terhadap bagian tertentu teritori kita. Di Natuna barusan, kita sudah "ngamuk" sementara kapal-kapal CCG masih menari dan bergoyang di ZEE kita. Mereka keluar ZEE kita karena sudah kenyang dan penuh kapal-kapal nelayannya.
Bergegaslah, jangan kelamaan mikir. Datangkan alutsista canggih, kembangkan industri pertahanan, lanjutkan proyek jet tempur IFX, lanjutkan Nagapasa Class. Percepat produksi tank Harimau, roket RHan. Lanjutkan produksi panser Anoa. Sekali lagi MEF 3 adalah perhitungan dan pertaruhan marwah pertahanan kita.
****


Semarang, 24 Januari 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, January 21, 2020

CCG Pulang Petang, What Next ?


Demam Laut Natuna Utara mereda setelah Indonesia menurunkan sejumlah "paracetamol" dan "antibiotik" untuk menurunkan panasnya. China Coast Guard (CCG) sudah tidak menampakkan diri lagi di area zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil laut dari garis pantai pulau terdepan Natuna.
China menguji nyali nasionalisme Indonesia. Reaksi kita yang riuh rendah dimotori oleh suara Menlu Retno Marsudi yang gagah perkasa, kecuali segelintir oknum bernyali banci, membuat China mengalah sambil mengatakan Indonesia sahabat strategis kami, perairan Natuna tidak kami klaim, hanya tumpang tindih, kata Kemlu nya.
Presiden Jokowi mendatangi Natuna dikawal sejumlah jet tempur, pesawat pengintai strategis dan armada KRI. Ribuan pasukan TNI disiagakan di berbagai titik, Kogabwilhan 1 siaga tempur. Hari-hari yang menegangkan. Jutaan netizen nasionalis menggemuruh mencela China yang tak tahu diri.
Iver, yang digadang-gadang
Ketika Ambalat memanas tahun 2006, Presiden SBY juga mendatangi kawasan itu dengan menaiki kapal perang. Ini adalah simbol "kemarahan" diplomatik yang dikemas dengan baju militer. Oleh sebab itu kita mengapresiasi hadirnya panglima tertinggi TNI yang juga Presiden RI Joko Widodo ke Natuna barusan.
Kehadiran Jokowi dan pasukannya akhirnya melunakkan sikap kaku yang diperlihatkan China. Setidaknya pernyataan sikap Kemlu China mencerminkan suasana itu. Hebatnya lagi sikap tegas dan keras Indonesia mendapat apresiasi dari warga negara jiran ASEAN.
Warga Filipina memuji sikap Indonesia yang bersatu padu menguatkan dan menghalau penceroboh di ZEEnya. Sekaligus mereka mencemooh sikap kurang berani yang ditunjukkan Pemerintah Filipina soal klaim yang sama di Laut China Selatan (LCS).
Juga banyak warga Malaysia angkat topi atas keberanian Indonesia menghadang China. Tahniah Indonesia. Lalu membandingkannya dengan cara pemerintah Malaysia yang melempem berhadapan dengan CCG China di LCS.
Natuna sejatinya sudah dibangun pangkalan militer. Berbagai jenis alutsista canggih sudah dialokasikan sebagai perkuatan basis militer. KRI Bung Tomo Class juga sudah mutasi kesana. Jet tempur berbagai jenis silih berganti berpatroli.
Sinergi patroli Natuna, F16 dan Bung Tomo Class
Namun itu belum cukup karena sesungguhnya semburan api lidah naga terasa sangat panas dan membakar. Jadi sebagai tamengnya kita sangat membutuhkan kapal perang striking force kelas destroyer dengan dukungan jet tempur Sukhoi SU35. Termasuk menambah kapal-kapal Bakamla ukuran besar.
Berkali-kali kita menulis soal perkuatan AL dan AU kita. Bahwa negeri kepulauan ini memerlukan kapal perang striking force ukuran besar. Demam Natuna terakhir ini membuktikan itu. Mestinya gerak cepat pengadaan alutsista gahar sudah menampakkan hasil seperti Sukhoi SU35 dan Iver Class.
Meski kita punya ratusan kapal perang berbagai jenis tapi yang paling modern hanya Martadinata Class, itu pun jumlahnya hanya dua unit. Mestinya kapal jenis ini ditambah lagi paling tidak jadi 6 unit. Bukankah model pembangunannya melalui transfer teknologi. Mengapa sekolah itu tidak dilanjut. Apakah Menhan tidak pernah mengevaluasinya.
Armada kapal perang kita sudah dibagi menjadi tiga. Namun persebaran KRI belum merata. Sebabnya karena isian alutsistanya belum banyak bertambah. Lalu mengapa lambat pertambahan kapal perang kelas korvet ke atas. Ya karena prosesnya tarik ulur. Iver itu jadi cerminnya. Sudah berkali-kali berkunjung ke pabriknya di Denmark tapi sampai hari ini belum tanda tangan juga.
Kita butuh kapal perang besar, bukan hanya produksi Kapal Cepat Rudal (KCR), Kapal Patroli Cepat (KPC). Laut Natuna Utara, Laut Arafuru, pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa perlu dikawal kapal jenis Fregat ke atas. Kalau hanya mengandalkan KCR diketawain sama Ratu Kidul.
Ayolah bergegas, Natuna sudah mengajarkan pada kita what next. Lanjutkan pembangunan Martadinata Class, percepat Iver yang sudah digadang-gadang, tambah lagi kekuatan pemukul atas air dan bawah air. Pilih yang terbaik sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk keinginan produsen dan sales alutsista.

****


Jakarta 11 Januari 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
(Mhn Maaf baru di share terlambat)