Monday, November 25, 2019

Menyemai Asa Industri Pertahanan

Presiden Jokowi Senin tanggal 25 Nopember 2019 bertemu dengan sejumlah ilmuwan Indonesia yang sedang menimba riset dan teknologi di Korsel. Jokowi ke Korsel dalam rangka KTT ASEAN-Korsel.
Ratusan ilmuwan Indonesia bergabung dalam proyek teknologi jet tempur KFX/IFX dan pembuatan kapal selam Nagapasa Class di Korsel. Kedua proyek militer ini strategis, sangat prestisius dan sedang berada dalam paruh waktu perjalanannya.
Proyek transfer teknologi pembuatan kapal selam sudah dimulai sejak tahun 2013. Indonesia mengirim 113 ilmuwan ke Korsel. Saat ini sudah berhasil dibangun 3 kapal selam, dua di Korsel dan satu yang terakhir di PT PAL Surabaya.
KRI Nagapasa 403, produk transfer teknologi
Sekarang ini dan dalam waktu enam tahun ke depan dibangun lagi tiga kapal selam jenis yang sama sebagai kelanjutan "kuliah" transfer teknologi. Dengan itu diharapkan tahun 2025 nanti kita sudah dapat menguasai teknologi canggih pembuatan kapal selam.
Saat ini PT PAL sedang meng overhaul kapal selam KRI Cakra 401 sebagai bagian dari implementasi transfer teknologi. Selama ini kapal selam kita kalau mau di overhaul dibawa ke Jerman atau Korsel. Nah sekarang cukup di PT PAL saja.
Proyek strategis dan prestisius lainnya adalah pembangunan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX. Kita mengirim banyak ilmuwan untuk program ini. Program strategis ini sudah dimulai sembilan tahun lalu dan diharapkan tujuh tahun kedepan sudah menghasilkan produk jet tempur.
Dalam proyek ini Indonesia urunan sebesar 20% dari nilai keseluruhan program US$ 8 milyar. Sayangnya dalam perjalanan pengembangan jet tempur ini kita menunggak iuran wajib tahunan. Saat ini Kemhan sedang mengkaji ulang. Kita berharap kerjasama akan berlanjut terus. Sudah lebih separuh jalan dan juga sudah keluar duit banyak. PT DI juga sudah mempersiapkan semuanya.
Kemarin baru saja diuji luncur Roket R-Han 122b produk Pindad dan kendaraan peluncurnya. Sukses. Semuanya produk dalam negeri. Belum lama berselang juga sudah diuji endurance produk kebanggaan Pindad lainnya yaitu Tank Harimau. Sukses.
KRI Clurit 641, kapal cepat rudal produk industri pertahanan nasional
Sekarang sudah dimulai produksi massal tank Harimau pesanan TNI AD. Selain itu Pindad juga sudah memproduksi lebih 300 unit Panser Anoa. Roket R-Han dan kendaraan peluncurnya segera diproduksi massal. Luar biasa.
PT PAL saat ini sedang mengerjakan proyek 3 kapal cepat rudal (KCR), 1 kapal jenis LPD rumah sakit dan upgrade KRI Malahayati 362. Jika overhaul KRI Cakra 401 selesai dilanjut dengan pembuatan kapal selam batch2 Nagapasa Class. Jadwalnya begitu padat dan ketat. Belum lagi jika proyek kapal perusak PKR berlanjut.
Sementara berbagai galangan kapal swasta nasional juga ikut kecipratan rezeki APBN Kemenhan. Ada yang buat kapal perang jenis LST, ada yang kebagian kapal patroli cepat, kapal logistik BCM, kapal Bakamla, KAL dan lain-lain. Semuanya sumringah.
Jadi apa yang diperintahkan Presiden Jokowi kepada Menhan Prabowo agar perolehan alutsista menomorsatukan produk industri pertahanan dalam negeri sejatinya sudah dan sedang berjalan.
Jika proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class sukses maka lengkaplah berbagai jenis produk alutsista kita. Dan itu diharapkan bisa dicapai pertengahan dekade mendatang. Luar biasa.
Persemaian asa industri pertahanan kita sudah menghijau dimana-mana. Kebanggaan ini harus terus dikawal dengan amanah, istiqomah dan fathonah. Semangat bangga terhadap produk dalam negeri. Bahwa kita sudah bisa buat panser, tank, roket, rudal, kapal perang, kapal selam, jet tempur. Benar-benar membanggakan.
****

Solo 25 Nopember 2019
Jagarin Pane

Wednesday, November 6, 2019

Berpacu Dengan Waktu Menguatkan Tentara


Tidak ada penolakan dalam rencana kunjungan ke AS, maka mentahlah semua rumor argumen terduga soal Prabowo selama ini, yang ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan RI periode 2019-2024. AS mempersilakan Prabowo berkunjung ke AS. Artinya no problem, clear.

Sejak ditunjuk jadi Menhan, Prabowo terlihat bergerak cepat menginventarisir dan menganalisis perkuatan alutsista TNI yang sedang menuju MEF jilid III  tahun depan. Kesibukan mantan Pangkostrad dan Wapang ABRI ini diikuti dengan release atau public relation yang  giat mempublikasikan aktivitas Menhan.  Ini menjadi sebuah bagian dari aktivitas, agar menjadi jelas untuk disampaikan ke publik. Dan itu sangat perlu.

Demikian juga statemen KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna yang menyampaikan kabar gembira bahwa TNI AU akan membeli 32 jet tempur F16 blok 72 Viper dan sedang memproses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35. Public relation diperlukan untuk memastikan kabar yang sebenarnya agar tidak menjadi rumor atau tanda tanya tanpa jawaban.
Jet tempur Sukhoi SU35, sebentar lagi datang
Publik selalu menanti kabar-kabar teranyar dari Kemenhan dan TNI.  Maka kabarilah dengan fikroh dan ghiroh komunikasi yang jelas dan terukur. Publik kita sejatinya menginginkan tentaranya kuat dan juga sejahtera. Maka setiap program yang dijalankan Kemenhan dan TNI selalu diikuti publik kita dengan semangat kebangsaan yang kuat.

Kemampuan leader diperlukan di Kementerian Pertahanan. Disamping ketegasan dan kemampuan berkomunikasi menjelaskan setiap program dan lain-lain untuk konsumsi publik. Penting juga dicatat jangan sampai ditanya wartawan apa dijawab apa alias gak nyambung.

Program Kemenhan kedepan ini sangat padat dan penuh dengan godaan.  Mengelola anggaran tertinggi diantara kementerian yang ada, tahun depan angkanya mencapai 131 trilyun dan bisa bertambah lewat APBNP. Tentu banyak sales-sales alutsista yang menawarkan produk termasuk juga keikutsertaan pemerintahnya.

Bung Tomo Class, jaga Natuna
Pengadaan sejumlah alutsista buatan AS tidak terlepas dari diplomasi perdagangan RI. Dalam rangka mengamankan fasilitas kelonggaran bea masuk atas sejumlah produk ekspor Indonesia ke AS. Kita juga surplus perdangangan dengan AS yang nilainya milyaran dollar. Maka salah satu jalan keluarnya adalah membeli sejumlah alutsista buatan AS seperti F16 Viper, Hercules, Apache, Chinook.

Indonesia sedang membutuhkan berbagai jenis alutsista tiga matra untuk memperkuat benteng pertahanannya. Semua sedang berpacu dengan waktu.  Tidak hanya dengan AS, kita juga sudah dan sedang membeli sejumlah alutsista dengan Rusia dan Korsel. Dengan Rusia sedang diproses pengadaan 22 tank amfibi BMP3F dan 23 panser amfibi BT3F. 

Dengan Korsel sedang dikerjakan pembuatan tiga kapal selam Changbogo Class. Sebelumnya juga kita sudah menerima tiga kapal selam sejenis dengan metode transfer teknologi. Juga sedang berlangsung program kerjasama pembuatan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX yang sudah berjalan sejak tahun 2012.

Perkuatan angkatan laut, ini yang masih kurang greget. Perlu disegerakan kontrak pengadaan kapal perang striking force minimal kelas Fregat dan atau Perusak Kawal Rudal yang dikenal dengan proyek PKR-10514. Untuk kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Kapal Patroli Cepat (KPC) tidak jadi soal. Galangan kapal nasional kita sudah mampu membuat sebanyak apapun yang dipesan. Termasuk kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank),LPD (Landing Platform Dock) dan BCM (Bantu Cair Minyak).

Panser amfibi BT3F, sudah dipesan untuk Marinir
Angkatan laut kita sangat perlu kapal perang jenis Destroyer. Agar jika sekali waktu (bisa saja kan) ketemu dengen Destroyer China di Laut China Selatan tidak kalah mental. China tidak mengklaim Natuna tetapi perairan ZEE Natuna masih tumpang tindih.  ZEE kita jelas sah dan diakui internasional. Sementara ZEE yang diklaim si lidah naga baru sebatas klaim, belum sah.

Hot spot yang perlu perhatian ekstra adalah Natuna.  Kedepan ini bisa saja pecah pertempuran sporadis di kawasan itu yang bisa melebar ke segala penjuru.  Kesiapan kita saat ini adalah dengan mengerahkan tiga kapal perang Bung Tomo Class dan satu kapal perang KRI Fatahillah bersama sejumlah Kapal Cepat Rudal dan Parchim Class.

Meski kita sudah memiliki ratusan KRI berbagai jenis tetapi untuk striking force jelas masih kurang.  Apalagi untuk memenuhi kebutuhan tiga armada tempur.  Maka lima tahun kedepan seyogyanya minimal sudah tersedia lima kapal perang kelas Real Fregat. Sementara armada kapal selam kita dalam lima tahun kedepan sudah bisa mencapai 8 unit. Lumayanlah.

Menhan kita yang baru ini diyakini bisa mengambil keputusan yang cepat, tepat, lugas dan cerdas. Lima tahun kedepan ini adalah pertaruhan pemenuhan MEF, baru sekedar kebutuhan minimal lho.  Mestinya pola pikir kita tidak dalam rangka memenuhi target MEF lagi tapi lebih dari itu, menuju kekuatan pertahanan yang disegani. Jenderal Prabowo punya visi besar itu.
****
Surabaya, 5 Nopember 2019
Jagarin Pane

Saturday, November 2, 2019

Nambah 32 Jet Tempur F16 Viper, Luarbiasa



Luar biasa, Indonesia segera menambah lagi kekuatan pukul angkatan udaranya dengan memesan 32 jet tempur F16 Viper disamping sedang memproses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Berbagai alutsista lain yang sedang diproses pengadaannya adalah penambahan 5 pesawat angkut berat Hercules seri J, 8 Helikopter tempur Apache, 6 Helikopter Chinook, 6 UCAV CH4 Rainbow, 4 Radar Master T.  Yang mau datang dalam waktu dekat adalah alutsista pertahanan udara Oerlikon Skyshield.

Angkatan Udara Indonesia saat ini sudah memiliki 33 jet tempur F16, 16 Sukhoi SU27/30, 32 Hawk 100/200, 15 T50 Golden Eagle dan 15 Super Tucano. Dengan kedatangan 32 jet tempur F16 Viper dan 11 jet tempur heavy fighter Sukhoi SU35 kekuatan pukul kita menjadi semakin kuat. Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane  02112019

Friday, October 25, 2019

Menguji Prabowo Di Teritori Adrenalin


Ketika ada rumor bahwa jendral bintang tiga Prabowo Subianto akan menjadi Menhan di Kabinet Jokowi jilid dua, kita sangat antusias menyambutnya.  Dan ketika rumor itu menjadi kenyataan, Prabowo jadi Menhan maka kita sudah langsung mengibarkan bendera optimis bahwa proyek MEF (Minimum Essential Force) dan modernisasi militer Indonesia akan berjalan dengan langkah tegap.

Prabowo adalah prajurit tempur sejati dan berani. Pengalamannya di organisasi tentara tidak usah ditanya dengan seabreg prestasi. Silakan tanya Mbah Gugel. Termasuk sukses membebaskan puluhan sandera peneliti Tim Lorentz di Papua tahun 1996. Wilayah teritori Prabowo adalah adrenalin negara, militer. Maka salut untuk Jokowi yang menempatkan bekas rivalnya di Pilpres menduduki posisi strategis, Menteri Pertahanan.

Tank Harimau Pindad, kebanggaan nasional
Kementerian Pertahanan yang tahun depan mendapat kucuran anggaran 131 T, terbesar diantara kementerian lain punya hajat besar yang berkelanjutan yaitu proyek MEF jilid terakhir. MEF jilid I tahun 2010-2014, MEF jilid II tahun 2015-2019 dan yang terakhir MEF jilid III 2020-2024. Harus diakui MEF jilid I dengan nakhoda sipil Purnomo Yusgiantoro sukses dengan pengadaan alutsista skala besar. 

Harus diakui juga pada MEF jilid II saat ini ada ketersendatan program.  Contohnya pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 yang prosesnya sepanjang periode MEF II tak juga kunjung selesai.  Termasuk proyek pengadaan kapal perang striking force, ramai terus soal apakah pilih Iver atau PKR.  MEF jilid II kurang terasa gregetnya. Pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 sudah disediakan anggarannya jauh-jauh hari. Bahkan sebelum ada ancaman CAATSA dari AS.

Prabowo datang dengan semangat dan derap langkah yang tegas dan berkarakter. Tugas dia adalah membaguskan kembali kinerja Kemenhan dengan manajemen anggaran yang produktif. Tugas dia adalah membereskan iuran proyek kerjasama teknologi pembuatan jet tempur dengan Korea Selatan KFX/IFX. Tunggakan iuran Indonesia di proyek ini semestinya tidak terjadi dan meluas pemberitaannya di media internasional. Termasuk juga sengketa proyek satelit militer dimana Kemenhan dikenakan denda jutaan dollar.

Tank amfibi BT-3F sedang dinanti kedatangannya
Masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan di MEF III.  Pangkalan militer di Natuna belum punya payung pertahanan yang kuat.  Lalu ada pembangunan pangkalan militer di Morotai, Saumlaki, Biak dan Merauke yang memerlukan kecepatan koordinasi, komunikasi dan alokasi anggaran.  Belum lagi soal pengadaan jet tempur F16 Viper, helikopter Apache, helikopter Chinook. Syukur-syukur didatangkan pesawat pengebom strategis.

Posisi geostrategis Indonesia mengharuskan negeri ini memperkuat Angkatan Laut dan Udara.  Prabowo tidak usah diajari soal itu. Belum lagi soal postur kekuatan milter di Kalimantan Timur yang akan menjadi ibukota negara. Harus punya pengamanan pertahanan berlapis. Pembentukan Kogabwilhan, pembentukan Kostrad Divisi Tiga, Armada Tiga, Pasmar Tiga, Koopsau Tiga harus segera diisi dengan beragam jenis alutsista canggih. Tidak sekedar merelokasi alutsista jadul dari Jawa.

Kita sedang berlomba dengan waktu untuk menguatkan militer kita. Ini tidak bisa dikelola dengan manajemen pertahanan yang konvensional.  Dibutuhkan figur leader bukan manager. Prabowo diyakini punya kemampuan out of the box, punya inovasi.  Dan punya adrenalin di teritori adrenalin. Terus terang ketika Pilpres kemarin kita tidak memilihnya karena sejatinya wilayah dan wajahnya adalah wilayah militer dan pertahanan negeri, wilayah adrenalin negara.

Modernisasi militer Indonesia memerlukan figur yang kuat dan mampu mengambil keputusan yang tegas. Proyek alutsista skala besar dengan anggaran besar tentu menjadi ruang tarik menarik berbagai kepentingan.  Kemenhan menjadi “madu” yang menjadi daya tarik para “semut” mengerumuninya. Kepemimpinan yang banyak dirubungi semut berbagai kepentingan itu harus mampu melakukan koordinasi, komunikasi cerdas dan mengambil keputusan tegas dan cepat.

Kita percaya sebagaimana harapan Presiden Jokowi bahwa militer Indonesia harus kuat seperti kekuatan ekonomi kita yang ditargetkan masuk 10 besar dua dekade mendatang. Maka datangkanlah dengan segera  berbagai jenis alutsista canggih untuk mengimplementasikan manajemen network centric warfare. Jangan lupa tingkatkan juga kesejahteraan prajuritnya, itu syarat utamanya.
****
Yogya, 24 Oktober 2019
Jagarin Pane

Saturday, October 19, 2019

Kogabwilhan, Berani Masuk Digebuk


Sudah lama digadang-gadang, ditunggu-tunggu akhirnya menjadi kenyataan. Salah satu kekuatan pemukul terintegrasi TNI untuk tiga wilayah pertahanan resmi beroperasi. Terhitung tanggal 27 September 2019 tiga panglima bintang tiga dari tiga matra resmi dilantik Panglima TNI.
Tanjung Pinang menjadi markas Kogabwilhan I, hot spotnya adalah Natuna, Kogabwilhan II markasnya di Balikpapan hot spotnya Ambalat. Kogabwilhan III markasnya di Biak, hot spotnya Papua.
Dulu di era Orba dikenal istilah doktrin pertahanan, masuk dulu baru digebuk. Artinya musuh yang mencoba masuk teritori Indonesia dibiarkan masuk dulu baru kemudian dipukul mundur. Ini yang disebut Java Centris. Pasukan dari Jawa yang kemudian akan menggebuk musuh yang sudah masuk.
Ucav CH4, bagian dari kekuatan pertahanan kita
Sekarang doktrin masuk dulu baru digebuk alias pola defensif pasif tidak layak untuk dikedepankan. Perkembangan dinamika kawasan seperti Laut Cina Selatan dan Ambalat mengharuskan kehadiran KRI yang terus menerus.
Ongkos operasional dan logistik manakala mengerahkan sejumlah KRI dari Jakarta atau Surabaya jelas tidak efektif. Belum lagi kecepatan respon kehadiran memerlukan durasi lebih lama.
Maka tersedianya pangkalan militer tri matra di Natuna adalah bagian dari perwujudan pola pre emptive strike, berani masuk digebuk. Kogabwilhan menjadi leader dari manajemen pertempuran interoperability tiga matra dalam kurikulum baru yang canggih, network centric warfare.
Kita sudah punya Kostrad divisi 1,2,3. Kita sudah punya Pasmar 1,2,3. Kita sudah punya Armada 1,2,3. Kita sudah punya Koopsau 1,2,3. Maka integrasi organisasi ketiganya ada di Kogabwilhan 1,2,3.
Pola network centric warfare sudah diuji coba dalam Latgab TNI bulan September 2019 di Jawa Timur. Pola ini akan lebih disempurnakan pada tahun depan. Targetnya mulai tahun depan TNI akan komprehensif menggunakan network centric warfare.
F16 Viper, akan memperkuat skadron tempur kita
Ini perkembangan yang membanggakan. Apalagi jika sudah dilengkapi dengan sejumlah alutsista berdaya gebuk tinggi. Seperti jet temput Sukhoi SU35, F16 Viper dan peluru kendali SAM jarak menengah dan jauh. Serta sejumlah KRI kelas fregat.
Kita sangat menantikan tumbuhkuatnya militer kita sejalan dengan tumbuhkembangnya Gdp. Kita punya potensi menjadi negara dengan kekuatan ekonomi 10 besar dunia. Maka kekuatan militer kita seharusnya juga tumbuh menjadi kekuatan yang disegani.
Sehingga pola pre emptive strike kita mampu menjadi sebuah kekuatan pemukul yang menjerakan. Kogabwilhan diniscayakan akan menjadi kekuatan penyengat apabila sejumlah alutsista canggih sudah hadir.
Maka kehadirannya mesti dipercepat, bukan diperdebatkan. Pengen Iver, pengen PKR akhirnya jalan ditempat. Sementara negara lain kecepatan dan percepatan kedatangan alutsistanya tidak bertele-tele. Sedikit bicara barang berdatangan.
Kita lambat dalam proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35. Tiba-tiba SU57 sudah ditawarkan ke Myanmar. Artinya kalau SU 35 hadir, momentumnya sudah tidak jreng lagi alias biasa-biasa saja.
Oleh sebab itu figur Menhan kabinet mendatang harus diisi dengan figur yang cerdas, tidak bertele-tele dan tegas. Kogabwilhan sudah ada sudah dibentuk, maka isian alutsistanya harus segera dipenuhi.
Makna berani masuk digebuk adalah kehadiran dan kecanggihan alutsista di perbatasan. Tanpa itu bisa jadi doktrin pertahanan kita menjadi bahan ejekan negara yang sedang bangun kekuatan militernya. Emang elu berani gebuk gua, emang elu udah kuat, katanya.
****
Malang, 11 Oktober 2019
Jagarin Pane

Friday, October 4, 2019

Unjuk Kekuatan Yang Perlu Diapresiasi


Unjuk kekuatan militer Indonesia diperlihatkan lagi. Belum sebulan melakukan latihan gabungan skala besar dan terintegrasi antar matra, akhir pekan ini diperlihatkan lagi melalui hari ulang tahun TNI yang ke 74. TNI menggelar kekuatan full armament di Pangkalan militer Halim AFB Jakarta, minus kapal perang.

Kekuatan militer Indonesia meningkat signifikan selama sepuluh tahun terakhir. Termasuk juga berkibarnya industri pertahanan dalam negeri seperti PINDAD, PT PAL, PT DI dan industri pertahanan swasta nasional.  Kita boleh membanggakan kekuatan ini jika dibanding dengan kekuatan kita sepuluh tahun yang lalu.

Namun untuk negera kepulauan sebesar ini tentu kekuatan yang kita miliki belumlah mencapai kekuatan minimal yang dipersyaratkan.  Begitu pun pencapaian yang kita dapatkan sampai di usia perjalanan yang ke 74 pengawal NKRI patut disyukuri, dinikmati dan dirayakan dengan menggelar kekuatan.
Kita sudah punya 5 kapal selam, nambah lagi sebanyak 3 unit
TNI tengah dalam perjalanan memodernisasi kekuatannya. Kekuatan itu sejatinya bertumpu pada kekuatan angkatan laut dan angkatan udara.  Negara kepulauan harus punya kekuatan angkatan laut yang disegani karena dua pertiga teritori negeri ini adalah perairan. Juga angkatan udara sebagai payung teritori darat dan laut wajib untuk diperkuat.

Barusan sudah dibentuk model pertahanan wilayah yang dikenal dengan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) dan panglimanya berbintang tiga.  Ada tiga Kogabwilhan yang diperasionalkan sesuai tuntutan dinamika kawasan. Kogabwilhan I yang berpusat di Tanjung Pinang akan menjadi payung utama untuk mengawal Natuna dan Selat Malaka.

Gelar-gelar kekuatan seperti ini dipermanenkan sehingga tidak diperlukan lagi gugus tempur laut atau gugus keamanan laut atau satuan tugas tempur lainnya. Termasuk juga mengefektifkan kekuatan Kodam di luar Jawa, sehingga tidak ada lagi kesan Java Centris.

Ucav CH4, kita sudah punya, sampai 8 unit nantinya

Perubahan pola strategis ini sangat membantu utamanya dalam soal rentang kendali pengerahan pasukan dan alutsista termasuk mata rantai logistik.  Nah yang terpenting dari semua perubahan strategis itu adalah ketersediaan isian alutsista yang terintegrasi antara tiga matra.  Jangan sampai dibikin kantor baru, perabotnya belum tersedia.

Isian alutsista masih banyak yang harus dipenuhi dan secepatnya. Kita ingin mengkritisi bahwa selama lima tahun terakhir ini di MEF II proses pengadaan alutsista sedikit tersendat, alias tidak selancar di MEF I tahun 2010-2014. Contohnya pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dan pengadaan program kapal perang PKR tahap kedua.

Kita berharap kecepatan proses pengadaan alutsista di MEF III tahun 2020-2024 bisa berjalan baik. Kita berpacu dengan waktu karena masing-masing negara di kawasan ini juga berlomba meningkatkan kekuatannya.  Adalah Cina yang menjadi sebab dengan menggeliatkan lidah naganya kemana-mana dan sampai juga di Laut Cina Selatan.

Kita rayakan hari ulang tahun TNI tahun ini dengan semangat kebangsaan yang kuat.  Meski di tengah suasana perayaan ini, TNI sedang melakukan operasi kemanusiaan di Papua dengan mengerahkan sejumlah alutsista berupa pesawat angkut Hercules, CN 235 dan sejumlah Helikopter. Kita doakan semoga negeri penuh pesona ini selalu dalam kehidupan yang damai, aman dan nyaman.  Dirgahayu TNI.
****
Semarang, 04 Oktober 2019
Jagarin Pane

Saturday, September 21, 2019

Saturday, September 14, 2019

Latgab TNI 2019, Menuju Pertempuran Digital


Luar biasa. Itulah kesan yang didapat dari perhelatan akbar TNI yang melaksanakan latihan perang gabungan tiga angkatan selama sepekan yang berakhir 12 September 2019 di sepanjang pantai utara Situbondo sampai Banyuwangi Jawa Timur. Simulasi pertempuran melibatkan belasan ribu prajurit dan ratusan alutsista canggih berbagai jenis yang dimiliki TNI.

Melalui jaringan digital battle management system untuk TNI AD dan network centric untuk TNI AL dan TNI AU jalannya simulasi pertempuran benar-benar terkoordinasi dalam satu komando.  Ketika menuju daerah pertempuran konvoi armada TNI AL yang berjumlah 23 KRI dan 1 kapal selam dihadang kapal perang musuh. KRI Sultan Iskandar Muda 367 mengeluarkan senjata canggihnya, peluru kendali anti kapal Exocet MM40 blok 3. Kemudian dari jarak 70 km kapal perang “musuh” KRI Sambu 902 yang baru dipensiun berhasil ditenggelamkan.
Apache dan Mi35, kombinasi yang menggerunkan
Pengerahan 1 skadron sekaligus jet tempur F16 (16 unit) merupakan hal yang luar biasa. Bersama 6 jet tempur Sukhoi SU27/30, 6 jet tempur Golden Eagle, 4 jet tempur Hawk dan 6 pesawat coin Super Tucano melakukan pengeboman bertubi-tubi terhadap sasaran musuh di pusat latihan tempur Marinir di Situbondo.  Belum lagi peran besar pesawat nirawak CH4 Rainbow yang baru didatangkan dari China untuk pengintaian dan sekaligus menghancurkan sasaran karena membawa persenjataan rudal.

Serial latihan tempur dilanjut dengan pendaratan pasukan Marinir, sebuah episode pertempuran yang paling menentukan. Pasukan serbu pantai ini membawa tank amfibi BMP3F, MLRS Vampire, panser amfibi BTR-50 dan sejumlah alutsista pemukul untuk merebut tumpuan pantai.  Dilanjut dengan pendaratan pasukan kavaleri, artileri dan infantri TNI AD bersama berbagai jenis alutsista canggih seperti tank Leopard, MLRS Astross II Mk6, Artileri Caesar Nexter.

Sebelum Latgab TNI 2019, didahului dengan latihan perang intra matra sepanjang Juli dan Agustus 2019. TNI AL melakukan latihan Armada Jaya (AYA) di Laut Jawa, kemudian diikuti dengan TNI AU yang menggelar latihan Angkasa Yuda (AYU) di Lumajang. TNI AD menggelar Kartika Yudha di Pusat Latihan Tempur Baturaja di bulan Agustus 2019. 

Unjuk kebolehan diperlihatkan helikopter serbu Apache dengan menembakkan peluru kendali Apache di ajang Kartika Yudha, kemudian dilanjut dengan Garuda Shield dan terakhir di arena Latgab TNI 2019. Tak mau kalah helikopter serbu jenis lain Mi35 juga menunjukkan kelasnya. Jadi kita bisa saksikan kompetisi Apache buatan AS dan Mi35 buatan Rusia di ajang Latgab TN 2019.  Luar biasa.
Armada Hercules, luar biasa
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto merasa puas dan bangga karena ini pertama kali TNI menggelar simulasi latihan perang melalui teknologi digital.  TNI AD, kata beliau punya battle management system, demikian juga dengan TNI AL dan TNI AU punya network centric.  Meski belum sempurna Panglima TNI menyampaikan pesan jelas bahwa mulai tahun 2020 TNI sudah masuk era digital dalam manajemen sistem pertempuran.

TNI AU selain mengerahkan jet-jet tempurnya juga mengerahkan 12 pesawat angkut berat Hercules, 1 pesawat Hercules Tanker BBM, 4 pesawat CN 295, 3 Boeing 737 Intai Strategis, 2 UAV Aerostar, 4 Helikopter ECc725, 1 Helikopter Collibri, 2 pesawat C212. Secara hitung-hitungan ada sepertiga kekuatan TNI dikerahkan dalam Latgab terbesar tahun ini.

Perolehan alutsista yang didapat sejauh ini sudah memberikan nilai bangga meski secara kuantitas dan kualitas masih belum sampai pada persyaratan minimal.  Masih ada MEF jilid III yang dimulai tahun depan.  Dan tentu masih akan datang berbagai jenis alutsista yang dinantikan seperti 11 jet tempur Sukhoi SU35.

Program pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat angkut Hercules seri J, helikopter Apache, helikopter Chinook, kapal perang Fregat, kapal selam, kapal cepat rudal, peluru kendali SAM, radar Master T, MLRS Astross dan lain-lain dipastikan akan semakin memperkuat benteng pertahanan kita.

Catatan kita adalah jangan terlalu sering mengadakan latihan tempur di Situbondo.  Sekali-kali di rute terjauh, misalnya di Papua.  Sekalian untuk menguji endurance pasukan dan daya tahan alutsista.  Perjalanan panjang menuju Papua tentu menjadi nilai tambah utamanya bagaimana peran logistik, pengawalan konvoi dan peran tempur sepanjang perjalanan.

Sejalan dengan itu Armada Tiga yang berpusat di Sorong perlu dipercepat isian alutsista berupa KRI striking force dan LST termasuk pasukan Marinir dan tank amfibi. Skadron tempur di Biak dan skadron helikopter di Jayapura segera direalisasikan.  Kita berpacu dengan waktu untuk memperkuat militer secara permanen di Timur negeri ini.

Bukan apa-apa, dalam strategi militer jarak yang terlalu jauh ke Papua, misalnya dari Surabaya tentu tidak efektif. Maka Armada Tiga dan Kostrad Divisi Tiga memegang peran penting untuk menjaga stabilitas pertahanan di Timur.  Melebarkan sayap pertahanan seiring dengan pengembangan teknologi pertempuran berkarakter digital adalah kewajiban mutlak untuk marwah pertahanan negeri kepulauan terbesar di dunia ini.  Kita bisa dan kita mampu.

****
Jagarin Pane / Surabaya, 14 September 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, September 3, 2019

Mengagahkan Kalimantan Menggenggam Ambalat


Rencana penempatan 1 skadron jet tempur F16 Viper di Pontianak AFB, sebenarnya tidak terkait dengan rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur. Karena awalnya difokuskan untuk mengawal Natuna, lebih dekat ke Natuna. Maka rencana penempatan itu menjadi sangat strategis karena sekaligus menjadi payung utama untuk menjaga bumi Borneo yang sedang bergembira dengan rencana kehadiran ibukota baru.

Sementara itu rencana memindahkan 1 skadron jet tempur Hawk di Pontianak untuk “dikumpulkan” dengan skadron Hawk di Pekanbaru perlu dievaluasi kembali.  Akan lebih baik distribusi 16 jet tempur Hawk itu diurai ke Tarakan AFB, Natuna AFB dan Berau AFB. Jet tempur Hawk kita ketahui juga sebagai pesawat pengebom dan ibukota baru itu berbatasan darat langsung dengan negara jiran. Jadi Hawk diperlukan banget di Kalimantan. Kita ketahui saat ini Pontianak AFB menjadi markas skadron Elang Khatulistiswa dengan alutsista 16 jet tempur Hawk dan skadron 51 UAF dengan pesawat nirawak Aerostar buatan Israel.
Apache dan Mi35, pantas untuk Kalimantan
Sebagai ibukota yang berbatasan darat dengan negara lain, sangat layak kekuatan TNI AD dilipatgandakan di Kalimantan. Setidaknya harus ada 1 Divisi Kostrad disamping dua Kodam yang sudah eksis. Kodam Tanjungpura dengan wilayah Kalbar dan Kalteng bermarkas di Pontianak saat ini memiliki kekuatan 10 batalyon infantri, artileri, arhanud dan kavaleri. Sementara Kodam Mulawarman yang bermarkas di Balikpapan dengan wilayah Kaltim, Kalsel dan Kaltara juga memiliki kekuatan 10 batalyon infantri, artileri, arhanud, kavaleri plus 1 skadron helikopter tempur di Berau milik Penerbad.

Sebagai pulau yang berbatasan darat dengan Malaysia dan menjadi pusat pemerintahan negeri ini, perkuatan militer di Kalimantan harus setara dengan Jawa.  Ibukota baru harus dilindungi dengan kekuatan minimal 1 brigade infantri mekanis, satuan peluru kendali jarak pendek dan jarak menengah serta pangkalan militer seperti Halim AFB Jakarta. Pulau Kalimantan yang berhutan lebat jelas memerlukan tambahan kekuatan batalyon infantri dan armed yang disebar di dekat perbatasan Indonesia Malaysia.

Kekuatan Angkatan Laut jelas merupakan tugas utama Armada Dua yang bermarkas di Surabaya. Pangkalan AL di Balikpapan harus ditingkatkan menjadi pangkalan utama TNI AL yang bersifat khusus. Sudah ada pangkalan utama TNI AL di Tarakan yang membawahi Balikpapan. Pangkalan bersifat khusus maksudnya harus ada KRI yang stand by atau beroperasi di perairan Balikpapan setiap saat.
F16 Viper, sebentar lagi
Ingat laut Sulawesi dan selat Makassar adalah laut dalam. Perairan ini sangat ideal bagi perjalanan kapal selam ukuran besar. Itu sebabnya memilih pangkalan kapal selam di Teluk Palu adalah karena idealnya perairan ini juga karena mengawal Ambalat.  Sayangnya bencana gempa bumi da Tsunami merusak fasilitas pangkalan yang baru saja selesai dibangun.

Natuna sangat membantu dari sisi pertahanan utamanya jika terjadi konflik teritori dengan Malaysia, soal Ambalat misalnya. Pangkalan AU dan AL Natuna dipersiapkan untuk pertahanan garis depan menangkal lidah naga China. Namun jika terjadi konflik dengan Malaysia, pangkalan ini memegang posisi kunci untuk memblokade aliran militer dari Semenanjung Malaysia ke Sarawak dan Sabah di Kalimantan. Maka rencana perkuatan militer kita di Kalimantan sehubungan dengan lokasi ibukota baru dari sisi strategi militer menguntungkan Indonesia terutama soal Ambalat. Meski tujuan itu bukan karena Ambalat. Sama halnya dengan memperkuat Natuna.

Sangat dimungkinkan kehadiran 1 divisi Kostrad di Kalimantan, apakah dengan cara membangun divisi baru atau merelokasi satuan-satuan tempur yang tergabung di Divisi Kostrad yang ada di Jawa. Artinya akan hadir sejumlah alutsista baru misalnya tambahan Tank Leopard, MLRS Astross, Artileri Nexter, Roket Rhan, termasuk satuan peluru kendali jarak menengah.

Dan semua model perkuatan itu diniscayakan ada di program MEF jilid 3 (2020-2024).  Maka kita bisa saksikan nanti frekuensi belanja alutsista semakin berkibar.  Menjelang akhir MEF jilid 2 yang berakhir tahun ini saja diprediksi akan ada sign kontrak jet tempur F16 Viper, Hercules seri J, kapal perang Fregat, Radar, UAV, helikopter Apache, Chinook dan lain-lain. Semuanya patut kita sambut dengan kebanggaan.  Begitulah seharusnya berindonesia, memperkuat benteng pertahanan, mewibawakan marwah ber NKRI dan memberdayakan posisi geostrategis Indonesia.

Bandung, 03 September 2019
Jagarin Pane

Saturday, August 17, 2019

Mau Nambah Lagi Astross II Mk6

Alutsista MLRS Astross II Mk6 dari batalyon armed roket TNI AD ikut meramaikan jalannya latihan tempur setingkat brigade di Puslatpur Baturaja Sumsel.  Ini adalah salah satu alutsista canggih made in Brazil yang baru dibeli beberapa tahun lalu sebanyak 38 unit untuk 2 batalyon. Dan Indonesia kembali memesan Astross untuk kebutuhan 1 batalyon. Performanya bagus dan amunisi roketnya sudah bisa diproduksi Pindad. Selamat untuk Pindad.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Iver Huitfeldt Diambang Pintu

Kapal perang Fregat rasa Destroyer Iver Huitfeldt yang sudah lama ditaksir berat Indonesia, sudah berada diambang pintu.  Semoga tidak ada lagi halangan yang merintanginya dan bulan depan sudah bisa sign kontrak.  Indonesia membutuhkan kapal perang jenis ini untuk memperkuat pertahanan laut negeri kepulauan yang luas ini. Prediksi kita akan dipesan sebanyak 2 unit sesuai pagu anggaran yang tersedia.
Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Ikut Latihan Tempur TNI AD Di Baturaja

Dua jenis Helikopter yang paling disegani di dunia yaitu Helikopter Apache lengkap dengan persenjataannya termasuk rudal Hellfire buatan AS dan Helikopter Mi 35 buatan Rusia meramaikan suasana latihan tempur antar batalyon setingkat brigade di Pusat Latihan Tempur Baturaja Sumatera Selatan yang melibatkan 5000 prajurit TNI AD selama tiga minggu di bulan Agustus 2019.  Penerbad memang perkasa.
Gambar mungkin berisi: langit dan luar ruangan

Keterangan foto tidak tersedia.


****
Jagarin Pane

Rame-Rame Pensiun Neh

  • KRI Slamet Riyadi 352 (Fregat)
  • KRI Ki Hajar Dewantara 364 (Fregat)
  • KRI Teluk Ratai 509 (LST)
  • KRI Teluk Bone 511 (LST)
  • KRI Teluk Penyu 513 (LST)
  • KRI Nusa Utara 584 (LCT)
  • KRI Sambu 902 (BCM)

Yang jelas usia sudah sepuh, diganti yang lebih digital dan milenial. Semua yang dipensiun itu sudah ada penggantinya. Kapal-kapal perang baru yang menggantikan KRI yang pensiun adalah :
  • KRI Raden Eddy Martadinata 331 (Fregat)
  • KRI I Gusti Ngurah Ray 332 (Fregat)
  • 7 Kapal perang LST Bintuni Class
  • 3 Kapal perang BCM Tarakan Class
****
Jagarin Pane / dari berbagai sumber




Friday, August 9, 2019

Memperkuat Pertahanan Di Kalimantan


Hari-hari ini ada pergerakan ribuan pasukan pemukul TNI AD dari pulau Jawa ke Sumatra. Tentu melintas selat Sunda kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Baturaja Sumsel. Pergerakan ini semakin menggerunkan karena bersamaan dengan pergerakan ratusan unit alutsista dan dipertontonkan kepada khalayak sepanjang rute.
Ya, Angkatan Darat kita dari divisi Kostrad sedang punya hajat besar di bulan kemerdekaan ini. Belum setahun berselang tepatnya di bulan November 2018 hajatan besar juga dilakukan di tempat yang sama. Artinya frekuensi simulasi pertempuran bergerak terus menyesuaikan dengan teknologi dan network manajemen pertempuran.
Setelah dua matra TNI AL dan TNI AU unjuk kekuatan dengan menggelar latihan tempur internal matra bulan lalu maka TNI AD giliran show of force melakukan model simulasi sinergi pertempuran antar batalyon. Suasana pertempuran akan lebih hiruk pikuk karena ini adalah ibu segala perang.
Astross II Mk6 untuk Latihan tempur TNI AD di Baturaja
Berbagai jenis alutsista keluar kesatrian. Ada MBT Leopard, Tank Marder, M113, MLRS Astross, Panser Anoa, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179. Berbagai jenis rudal SAM Mistral, Starstreak dipertunjukkan dan unjuk kebolehan.
Berbagai jenis helikopter Penerbad juga ikut memeriahkan jalannya simulasi pertempuran. Mulai dari helikopter Fennec, Bell 412, Mi17, Mi 35 dan Apache. Hercules TNI AU juga diikutkan untuk penerjunan pasukan.
Simulasi pergerakan ribuan prajurit dan ratusan alutsista berbagai jenis itu bisakah tidak harus ke Baturaja terus. Sekali waktu gerakan besar ini diarahkan ke bumi Kalimantan tempat yang direncanakan sebagai ibukota baru.
Mengurai Java Centris dengan tidak menumpuk alutsista TNI AD di Jawa adalah sebuah keniscayaan. Apalagi dengan rencana pindahnya ibukota ke Kalimantan. Pola perkuatan pertahanan di Kalimantan harus mendapat prioritas. Ini pekerjaan besar apalagi saat ini di Kalimantan tidak ada divisi Kostrad satu batalyon pun.
JIka tahun-tahun mendatang diadakan latihan tempur antar batalyon TNI AD di Kalimantan di lokasi yang sudah ditetapkan sebagai ibukota baru tentu sebuah kebijakan strategis yang cerdas. Memindahkan ribuan pasukan dan ratusan unit alutsista dari Jawa tentu membutuhkan banyak kapal perang jenis LST dan LPD. Sudah tersedia semuanya.
MBT Leopard, pantas untuk Kalimantan
Satuan-satuan tempur di Kalimantan saat ini sebagian besar hanya mendapat alutsista bekas dari Jawa sementara yang baru selalu di Jawa. Maka jika ada penambahan tank Leopard misalnya, harusnya dialokasikan utk Kalimantan.
Logikanya perbatasan darat di Kalimantan mutlak diperkuat dengan alutsista andal. Kompi kavaleri di Kalbar hanya mengandalkan ranpur jadul. Harus ada percepatan pengembangan menjadi minimal 3 batalyon kavaleri kostrad di Kaltim, Kaltara dan Kalbar dengan tank Leopard atau tank Harimau.
Payung pertahanan untuk ibukota baru harus paralel dengan pembangunan infrastrukturnya. Misalnya menempatkan satuan peluru kendali Nasams. Ibukota Jakarta saat ini dilindungi 1 brigade infantri mekanis, dilapis dgn Kostrad Divisi Satu dan Kodam Siliwangi. Ada pangkalan Halim dan ada markas Armada Satu. Ibukota baru mestinya juga seperti itu.
Putra Jaya dekat dengan Kuala Lumpur, Canberra dekat dengan Sydney, Washington dekat dengan New York. Brasilia tdk jauh dari Rio De Jeneiro. Artinya semua masih satu wilayah satu pulau. Pola pertahanan sudah tertata. Lain halnya dengan pindahnya ibukota RI. Sudah antar pulau, wilayah baru itu belum tersedia infrastruktur militer yang memadai.
Boleh saja dan lebih tepat memindahkan 1 batalyon pemukul infantri mekanis, 1 batalyon infantri raiders, 1 batalyon kavaleri dari Jawa untuk perlindungan ibukota baru. Juga harus tersedia dan mutlak diperlukan 1 pangkalan angkatan udara lengkap dengan Paskhas dengan pesawat militernya.
Sejatinya TNI AD masih sangat kurang jumlah dan jenis alutsista di ibukota-ibukota provinsi. Termasuk payung pertahanan obyek vital. Maka sejalan dengan program MEF jilid tiga yang dimulai tahun lengkap, penambahan alutsista kavaleri, artileri, roket dan peluru kendali SAM mutlak harus ada. Juga program bedol desa minimal 5 batalyon pemukul Kostrad dari Jawa ke Kalimantan.
Kalimantan pulau besar dan kaya sumber daya energi. Menetapkan ibukota di pulau tanpa gunung api ini adalah pilihan strategis. Mengalokasikan satuan tempur pemukul Kostrad ke Kalimantan juga pilihan strategis. Pengadaan alutsista berbagai jenis untuk TNI AD secara besar-besaran juga pilihan strategis. Kalau begitu MEF III benar-benar strategis.


****
Balikpapan 05 Agustus 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI