****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber
Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Saturday, September 21, 2019
Saturday, September 14, 2019
Latgab TNI 2019, Menuju Pertempuran Digital
Luar biasa. Itulah kesan yang didapat dari perhelatan akbar TNI yang
melaksanakan latihan perang gabungan tiga angkatan selama sepekan yang berakhir
12 September 2019 di sepanjang pantai utara Situbondo sampai Banyuwangi Jawa
Timur. Simulasi pertempuran melibatkan belasan ribu prajurit dan ratusan
alutsista canggih berbagai jenis yang dimiliki TNI.
Melalui jaringan digital battle management system untuk TNI AD dan network
centric untuk TNI AL dan TNI AU jalannya simulasi pertempuran benar-benar
terkoordinasi dalam satu komando. Ketika
menuju daerah pertempuran konvoi armada TNI AL yang berjumlah 23 KRI dan 1
kapal selam dihadang kapal perang musuh. KRI Sultan Iskandar Muda 367 mengeluarkan
senjata canggihnya, peluru kendali anti kapal Exocet MM40 blok 3. Kemudian dari
jarak 70 km kapal perang “musuh” KRI Sambu 902 yang baru dipensiun berhasil
ditenggelamkan.
![]() |
| Apache dan Mi35, kombinasi yang menggerunkan |
Pengerahan 1 skadron sekaligus jet tempur F16 (16 unit) merupakan hal yang
luar biasa. Bersama 6 jet tempur Sukhoi SU27/30, 6 jet tempur Golden Eagle, 4
jet tempur Hawk dan 6 pesawat coin Super Tucano melakukan pengeboman
bertubi-tubi terhadap sasaran musuh di pusat latihan tempur Marinir di
Situbondo. Belum lagi peran besar
pesawat nirawak CH4 Rainbow yang baru didatangkan dari China untuk pengintaian
dan sekaligus menghancurkan sasaran karena membawa persenjataan rudal.
Serial latihan tempur dilanjut dengan pendaratan pasukan Marinir, sebuah
episode pertempuran yang paling menentukan. Pasukan serbu pantai ini membawa
tank amfibi BMP3F, MLRS Vampire, panser amfibi BTR-50 dan sejumlah alutsista
pemukul untuk merebut tumpuan pantai.
Dilanjut dengan pendaratan pasukan kavaleri, artileri dan infantri TNI
AD bersama berbagai jenis alutsista canggih seperti tank Leopard, MLRS Astross
II Mk6, Artileri Caesar Nexter.
Sebelum Latgab TNI 2019, didahului dengan latihan perang intra matra
sepanjang Juli dan Agustus 2019. TNI AL melakukan latihan Armada Jaya (AYA) di
Laut Jawa, kemudian diikuti dengan TNI AU yang menggelar latihan Angkasa Yuda
(AYU) di Lumajang. TNI AD menggelar Kartika Yudha di Pusat Latihan Tempur
Baturaja di bulan Agustus 2019.
Unjuk kebolehan diperlihatkan helikopter serbu Apache dengan menembakkan
peluru kendali Apache di ajang Kartika Yudha, kemudian dilanjut dengan Garuda
Shield dan terakhir di arena Latgab TNI 2019. Tak mau kalah helikopter serbu
jenis lain Mi35 juga menunjukkan kelasnya. Jadi kita bisa saksikan kompetisi
Apache buatan AS dan Mi35 buatan Rusia di ajang Latgab TN 2019. Luar biasa.
![]() |
| Armada Hercules, luar biasa |
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto merasa puas dan bangga karena ini
pertama kali TNI menggelar simulasi latihan perang melalui teknologi
digital. TNI AD, kata beliau punya
battle management system, demikian juga dengan TNI AL dan TNI AU punya network
centric. Meski belum sempurna Panglima
TNI menyampaikan pesan jelas bahwa mulai tahun 2020 TNI sudah masuk era digital
dalam manajemen sistem pertempuran.
TNI AU selain mengerahkan jet-jet tempurnya juga mengerahkan 12 pesawat
angkut berat Hercules, 1 pesawat Hercules Tanker BBM, 4 pesawat CN 295, 3 Boeing
737 Intai Strategis, 2 UAV Aerostar, 4 Helikopter ECc725, 1 Helikopter Collibri,
2 pesawat C212. Secara hitung-hitungan ada sepertiga kekuatan TNI dikerahkan
dalam Latgab terbesar tahun ini.
Perolehan alutsista yang didapat sejauh ini sudah memberikan nilai bangga
meski secara kuantitas dan kualitas masih belum sampai pada persyaratan
minimal. Masih ada MEF jilid III yang
dimulai tahun depan. Dan tentu masih
akan datang berbagai jenis alutsista yang dinantikan seperti 11 jet tempur
Sukhoi SU35.
Program pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat angkut Hercules seri J, helikopter
Apache, helikopter Chinook, kapal perang Fregat, kapal selam, kapal cepat rudal,
peluru kendali SAM, radar Master T, MLRS Astross dan lain-lain dipastikan akan
semakin memperkuat benteng pertahanan kita.
Catatan kita adalah jangan terlalu sering mengadakan latihan tempur di
Situbondo. Sekali-kali di rute terjauh,
misalnya di Papua. Sekalian untuk
menguji endurance pasukan dan daya tahan alutsista. Perjalanan panjang menuju Papua tentu menjadi
nilai tambah utamanya bagaimana peran logistik, pengawalan konvoi dan peran
tempur sepanjang perjalanan.
Sejalan dengan itu Armada Tiga yang berpusat di Sorong perlu dipercepat
isian alutsista berupa KRI striking force dan LST termasuk pasukan Marinir dan
tank amfibi. Skadron tempur di Biak dan skadron helikopter di Jayapura segera
direalisasikan. Kita berpacu dengan
waktu untuk memperkuat militer secara permanen di Timur negeri ini.
Bukan apa-apa, dalam strategi militer jarak yang terlalu jauh ke Papua, misalnya
dari Surabaya tentu tidak efektif. Maka Armada Tiga dan Kostrad Divisi Tiga memegang
peran penting untuk menjaga stabilitas pertahanan di Timur. Melebarkan sayap pertahanan seiring dengan
pengembangan teknologi pertempuran berkarakter digital adalah kewajiban mutlak untuk
marwah pertahanan negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Kita bisa dan kita mampu.
****
Jagarin Pane / Surabaya, 14 September 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Tuesday, September 3, 2019
Mengagahkan Kalimantan Menggenggam Ambalat
Rencana penempatan 1 skadron jet tempur F16 Viper di Pontianak AFB,
sebenarnya tidak terkait dengan rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan
Timur. Karena awalnya difokuskan untuk mengawal Natuna, lebih dekat ke Natuna.
Maka rencana penempatan itu menjadi sangat strategis karena sekaligus menjadi
payung utama untuk menjaga bumi Borneo yang sedang bergembira dengan rencana kehadiran
ibukota baru.
Sementara itu rencana memindahkan 1 skadron jet tempur Hawk di Pontianak untuk
“dikumpulkan” dengan skadron Hawk di Pekanbaru perlu dievaluasi kembali. Akan lebih baik distribusi 16 jet tempur Hawk
itu diurai ke Tarakan AFB, Natuna AFB dan Berau AFB. Jet tempur Hawk kita
ketahui juga sebagai pesawat pengebom dan ibukota baru itu berbatasan darat
langsung dengan negara jiran. Jadi Hawk diperlukan banget di Kalimantan. Kita
ketahui saat ini Pontianak AFB menjadi markas skadron Elang Khatulistiswa
dengan alutsista 16 jet tempur Hawk dan skadron 51 UAF dengan pesawat nirawak Aerostar
buatan Israel.
![]() |
| Apache dan Mi35, pantas untuk Kalimantan |
Sebagai ibukota yang berbatasan darat dengan negara lain, sangat layak
kekuatan TNI AD dilipatgandakan di Kalimantan. Setidaknya harus ada 1 Divisi
Kostrad disamping dua Kodam yang sudah eksis. Kodam Tanjungpura dengan wilayah
Kalbar dan Kalteng bermarkas di Pontianak saat ini memiliki kekuatan 10 batalyon
infantri, artileri, arhanud dan kavaleri. Sementara Kodam Mulawarman yang
bermarkas di Balikpapan dengan wilayah Kaltim, Kalsel dan Kaltara juga memiliki
kekuatan 10 batalyon infantri, artileri, arhanud, kavaleri plus 1 skadron
helikopter tempur di Berau milik Penerbad.
Sebagai pulau yang berbatasan darat dengan Malaysia dan menjadi pusat
pemerintahan negeri ini, perkuatan militer di Kalimantan harus setara dengan
Jawa. Ibukota baru harus dilindungi
dengan kekuatan minimal 1 brigade infantri mekanis, satuan peluru kendali jarak
pendek dan jarak menengah serta pangkalan militer seperti Halim AFB Jakarta. Pulau
Kalimantan yang berhutan lebat jelas memerlukan tambahan kekuatan batalyon
infantri dan armed yang disebar di dekat perbatasan Indonesia Malaysia.
Kekuatan Angkatan Laut jelas merupakan tugas utama Armada Dua yang
bermarkas di Surabaya. Pangkalan AL di Balikpapan harus ditingkatkan menjadi
pangkalan utama TNI AL yang bersifat khusus. Sudah ada pangkalan utama TNI AL
di Tarakan yang membawahi Balikpapan. Pangkalan bersifat khusus maksudnya harus
ada KRI yang stand by atau beroperasi di perairan Balikpapan setiap saat.
![]() |
| F16 Viper, sebentar lagi |
Ingat laut Sulawesi dan selat Makassar adalah laut dalam. Perairan ini
sangat ideal bagi perjalanan kapal selam ukuran besar. Itu sebabnya memilih
pangkalan kapal selam di Teluk Palu adalah karena idealnya perairan ini juga
karena mengawal Ambalat. Sayangnya
bencana gempa bumi da Tsunami merusak fasilitas pangkalan yang baru saja selesai
dibangun.
Natuna sangat membantu dari sisi pertahanan utamanya jika terjadi konflik
teritori dengan Malaysia, soal Ambalat misalnya. Pangkalan AU dan AL Natuna
dipersiapkan untuk pertahanan garis depan menangkal lidah naga China. Namun jika
terjadi konflik dengan Malaysia, pangkalan ini memegang posisi kunci untuk
memblokade aliran militer dari Semenanjung Malaysia ke Sarawak dan Sabah di
Kalimantan. Maka rencana perkuatan militer kita di Kalimantan sehubungan dengan
lokasi ibukota baru dari sisi strategi militer menguntungkan Indonesia terutama
soal Ambalat. Meski tujuan itu bukan karena Ambalat. Sama halnya dengan
memperkuat Natuna.
Sangat dimungkinkan kehadiran 1 divisi Kostrad di Kalimantan, apakah dengan
cara membangun divisi baru atau merelokasi satuan-satuan tempur yang tergabung
di Divisi Kostrad yang ada di Jawa. Artinya akan hadir sejumlah alutsista baru
misalnya tambahan Tank Leopard, MLRS Astross, Artileri Nexter, Roket Rhan,
termasuk satuan peluru kendali jarak menengah.
Dan semua model perkuatan itu diniscayakan ada di program MEF jilid 3
(2020-2024). Maka kita bisa saksikan
nanti frekuensi belanja alutsista semakin berkibar. Menjelang akhir MEF jilid 2 yang berakhir
tahun ini saja diprediksi akan ada sign kontrak jet tempur F16 Viper, Hercules
seri J, kapal perang Fregat, Radar, UAV, helikopter Apache, Chinook dan
lain-lain. Semuanya patut kita sambut dengan kebanggaan. Begitulah seharusnya berindonesia, memperkuat
benteng pertahanan, mewibawakan marwah ber NKRI dan memberdayakan posisi
geostrategis Indonesia.
Bandung, 03 September 2019
Jagarin Pane
Saturday, August 17, 2019
Mau Nambah Lagi Astross II Mk6
Alutsista MLRS Astross II Mk6 dari batalyon armed roket TNI AD ikut meramaikan jalannya latihan tempur setingkat brigade di Puslatpur Baturaja Sumsel. Ini adalah salah satu alutsista canggih made in Brazil yang baru dibeli beberapa tahun lalu sebanyak 38 unit untuk 2 batalyon. Dan Indonesia kembali memesan Astross untuk kebutuhan 1 batalyon. Performanya bagus dan amunisi roketnya sudah bisa diproduksi Pindad. Selamat untuk Pindad.

****
Jagarin Pane
Iver Huitfeldt Diambang Pintu
Kapal perang Fregat rasa Destroyer Iver Huitfeldt yang sudah lama ditaksir berat Indonesia, sudah berada diambang pintu. Semoga tidak ada lagi halangan yang merintanginya dan bulan depan sudah bisa sign kontrak. Indonesia membutuhkan kapal perang jenis ini untuk memperkuat pertahanan laut negeri kepulauan yang luas ini. Prediksi kita akan dipesan sebanyak 2 unit sesuai pagu anggaran yang tersedia.

****
Jagarin Pane
Ikut Latihan Tempur TNI AD Di Baturaja
Dua jenis Helikopter yang paling disegani di dunia yaitu Helikopter Apache lengkap dengan persenjataannya termasuk rudal Hellfire buatan AS dan Helikopter Mi 35 buatan Rusia meramaikan suasana latihan tempur antar batalyon setingkat brigade di Pusat Latihan Tempur Baturaja Sumatera Selatan yang melibatkan 5000 prajurit TNI AD selama tiga minggu di bulan Agustus 2019. Penerbad memang perkasa.


****
Jagarin Pane
Rame-Rame Pensiun Neh
- KRI Slamet Riyadi 352 (Fregat)
- KRI Ki Hajar Dewantara 364 (Fregat)
- KRI Teluk Ratai 509 (LST)
- KRI Teluk Bone 511 (LST)
- KRI Teluk Penyu 513 (LST)
- KRI Nusa Utara 584 (LCT)
- KRI Sambu 902 (BCM)
Yang jelas usia sudah sepuh, diganti yang lebih digital dan milenial. Semua yang dipensiun itu sudah ada penggantinya. Kapal-kapal perang baru yang menggantikan KRI yang pensiun adalah :
- KRI Raden Eddy Martadinata 331 (Fregat)
- KRI I Gusti Ngurah Ray 332 (Fregat)
- 7 Kapal perang LST Bintuni Class
- 3 Kapal perang BCM Tarakan Class
****
Jagarin Pane / dari berbagai sumber
Friday, August 9, 2019
Memperkuat Pertahanan Di Kalimantan
Hari-hari ini ada pergerakan ribuan pasukan
pemukul TNI AD dari pulau Jawa ke Sumatra. Tentu melintas selat Sunda kemudian
melanjutkan perjalanan darat ke Baturaja Sumsel. Pergerakan ini semakin
menggerunkan karena bersamaan dengan pergerakan ratusan unit alutsista dan
dipertontonkan kepada khalayak sepanjang rute.
Ya, Angkatan
Darat kita dari divisi Kostrad sedang punya hajat besar di bulan kemerdekaan
ini. Belum setahun berselang tepatnya di bulan November 2018 hajatan besar juga
dilakukan di tempat yang sama. Artinya frekuensi simulasi pertempuran bergerak
terus menyesuaikan dengan teknologi dan network manajemen pertempuran.
Setelah dua
matra TNI AL dan TNI AU unjuk kekuatan dengan menggelar latihan tempur internal
matra bulan lalu maka TNI AD giliran show of force melakukan model simulasi
sinergi pertempuran antar batalyon. Suasana pertempuran akan lebih hiruk pikuk
karena ini adalah ibu segala perang.
![]() |
| Astross II Mk6 untuk Latihan tempur TNI AD di Baturaja |
Berbagai
jenis alutsista keluar kesatrian. Ada MBT Leopard, Tank Marder, M113, MLRS
Astross, Panser Anoa, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179. Berbagai jenis
rudal SAM Mistral, Starstreak dipertunjukkan dan unjuk kebolehan.
Berbagai
jenis helikopter Penerbad juga ikut memeriahkan jalannya simulasi pertempuran.
Mulai dari helikopter Fennec, Bell 412, Mi17, Mi 35 dan Apache. Hercules TNI AU
juga diikutkan untuk penerjunan pasukan.
Simulasi
pergerakan ribuan prajurit dan ratusan alutsista berbagai jenis itu bisakah
tidak harus ke Baturaja terus. Sekali waktu gerakan besar ini diarahkan ke bumi
Kalimantan tempat yang direncanakan sebagai ibukota baru.
Mengurai Java
Centris dengan tidak menumpuk alutsista TNI AD di Jawa adalah sebuah
keniscayaan. Apalagi dengan rencana pindahnya ibukota ke Kalimantan. Pola
perkuatan pertahanan di Kalimantan harus mendapat prioritas. Ini pekerjaan
besar apalagi saat ini di Kalimantan tidak ada divisi Kostrad satu batalyon
pun.
JIka
tahun-tahun mendatang diadakan latihan tempur antar batalyon TNI AD di
Kalimantan di lokasi yang sudah ditetapkan sebagai ibukota baru tentu sebuah
kebijakan strategis yang cerdas. Memindahkan ribuan pasukan dan ratusan unit
alutsista dari Jawa tentu membutuhkan banyak kapal perang jenis LST dan LPD.
Sudah tersedia semuanya.
![]() |
| MBT Leopard, pantas untuk Kalimantan |
Satuan-satuan
tempur di Kalimantan saat ini sebagian besar hanya mendapat alutsista bekas
dari Jawa sementara yang baru selalu di Jawa. Maka jika ada penambahan tank
Leopard misalnya, harusnya dialokasikan utk Kalimantan.
Logikanya
perbatasan darat di Kalimantan mutlak diperkuat dengan alutsista andal. Kompi
kavaleri di Kalbar hanya mengandalkan ranpur jadul. Harus ada percepatan
pengembangan menjadi minimal 3 batalyon kavaleri kostrad di Kaltim, Kaltara dan
Kalbar dengan tank Leopard atau tank Harimau.
Payung
pertahanan untuk ibukota baru harus paralel dengan pembangunan infrastrukturnya.
Misalnya menempatkan satuan peluru kendali Nasams. Ibukota Jakarta saat ini
dilindungi 1 brigade infantri mekanis, dilapis dgn Kostrad Divisi Satu dan
Kodam Siliwangi. Ada pangkalan Halim dan ada markas Armada Satu. Ibukota baru
mestinya juga seperti itu.
Putra Jaya
dekat dengan Kuala Lumpur, Canberra dekat dengan Sydney, Washington dekat
dengan New York. Brasilia tdk jauh dari Rio De Jeneiro. Artinya semua masih
satu wilayah satu pulau. Pola pertahanan sudah tertata. Lain halnya dengan
pindahnya ibukota RI. Sudah antar pulau, wilayah baru itu belum tersedia
infrastruktur militer yang memadai.
Boleh saja
dan lebih tepat memindahkan 1 batalyon pemukul infantri mekanis, 1 batalyon
infantri raiders, 1 batalyon kavaleri dari Jawa untuk perlindungan ibukota baru.
Juga harus tersedia dan mutlak diperlukan 1 pangkalan angkatan udara lengkap
dengan Paskhas dengan pesawat militernya.
Sejatinya TNI
AD masih sangat kurang jumlah dan jenis alutsista di ibukota-ibukota provinsi.
Termasuk payung pertahanan obyek vital. Maka sejalan dengan program MEF jilid
tiga yang dimulai tahun lengkap, penambahan alutsista kavaleri, artileri, roket
dan peluru kendali SAM mutlak harus ada. Juga program bedol desa minimal 5
batalyon pemukul Kostrad dari Jawa ke Kalimantan.
Kalimantan pulau besar dan kaya sumber daya energi. Menetapkan
ibukota di pulau tanpa gunung api ini adalah pilihan strategis. Mengalokasikan
satuan tempur pemukul Kostrad ke Kalimantan juga pilihan strategis. Pengadaan
alutsista berbagai jenis untuk TNI AD secara besar-besaran juga pilihan
strategis. Kalau begitu MEF III benar-benar strategis.
****
Balikpapan 05 Agustus 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Balikpapan 05 Agustus 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Wednesday, July 31, 2019
Mekarnya Industri Pertahanan Kita
Satu dekade terakhir ini,
perubahan besar terjadi di industri pertahanan kita di segala matra. Sebuah
perjalanan yang memberikan nilai kebanggaan bagi bangsa besar ini. Sejalan
dengan tumbuh kuatnya benteng pertahanan negeri, TNI.
PT PAL Surabaya adalah gambaran jelas sebuah
industri pertahanan maritim yang saat ini disibukkan dengan berbagai pesanan
pembuatan kapal perang. BUMN strategis ini sudah mampu membuat kapal cepat
rudal. Sudah ada 4 kapal cepat rudal yang dibuat di galangan kapal ini. Masih
ada lagi pesanan 3 kapal sejenis yang sedang dibuat.
PT PAL bekerjasama dengan Damen Schelde Belanda
sudah menyelesaikan 2 kapal perang modular jenis perusak kawal rudal "
Martadinata Class". Demikian juga kerjasama produksi pola transfer
teknologi pembuatan kapal selam dengan Daewoo Korsel telah menyelesaikan 3
kapal selam "Nagapasa Class". Saat ini sedang dibangun 3 kapal selam
jenis yang sama tentu dengan mitra yang sama.
![]() |
| KRI Raden Eddy Martadinata 331, kerjasama transfer teknologi |
Diharapkan dengan memproduksi 6 kapal selam canggih
ini transfer teknologi yang kita tekuni selama ini bisa membuahkan hasil, yaitu
bisa membuat kapal selam berteknologi made in sendiri. Contoh keberhasilan
transfer teknologi adalah pembuatan kapal perang jenis LPD (Landing Platform
Dock) dengan guru yang baik hati, Korsel.
Kita memesan 4 kapal LPD "Makassar Class"
kepada Korsel dengan catatan 2 dibuat di Korsel dan 2 lagi dibuat di Surabaya.
Setelah PT PAL sukses membuat kapal ke tiga dan keempat, datang tawaran dari
Filipina yang pesan 2 kapal LPD. Dan dua-duanya sukses dibuat dan diserahkan ke
Filipina. Saat ini Manila sedang melakukan tender terbuka pemesanan 2 kapal
sejenis. Peluang menang terbuka lebar.
PT PAL baru saja menyelesaikan pembuatan kapal LPD
KRI Semarang 594 pesanan TNI AL dan saat ini sedang membangun 1 kapal LPD rumah
sakit. Jadi betapa sibuknya perusahaan plat merah ini, membangun 3 kapal cepat
rudal, membangun 3 kapal selam dan membangun 1 kapal LPD rumah sakit dengan
waktu bersamaan. Luar biasa.
![]() |
| Tank Harimau produksi bersama Pindad-FNSS Turki |
Bisa dibayangkan ke depan nanti dengan kemampuan PT
PAL membuat kapal perang jenis striking force termasuk kapal selam dan juga
kapal jenis LPD. Betapa Angkatan Laut kita akan semakin berjaya kekuatan
armadanya dengan dukungan industri pertahanan strategis PT PAL.
Galangan kapal swasta nasional juga ikut mekar dan
berbunga harum dengan berbagai pesanan kapal perang jenis kapal patroli cepat
(KPC), landing ship tank (LST) pesanan TNI AL. Belum lagi pesanan dari Bakamla,
KKP, Bea Cukai dan Kepolisian.
Galangan kapal swasta nasional yang ada di Batam,
Banten, Jatim dan Lampung sedang panen raya dan menikmati bulan madu perjalanan
bisnis mereka. PT Daya Radar Utama Lampung misalnya mendapat pesanan 5 kapal
perang LST dan semuanya sudah hampir diselesaikan. Belum lagi yang pesanan
Bakamla.
Sementara beberapa galangan kapal swasta nasional di
Batam telah berhasil membuat belasan kapal cepat rudal ukuran 40 m dan kapal
patroli cepat untuk TNI AL. Belum terhitung pesanan kapal Coast Guard untuk
Bakamla.
Bagaimana dengan PT Pindad, industri pertahanan
strategis matra darat. Lagi rame Om, saat ini sudah menyelesaikan pembuatan 300
panser Anoa. Bulan-bulan ini sedang disibukkan memproduksi tank Harimau pesanan
TNI AD. Medium tank ini akan diproduksi di kisaran 300 unit untuk batalyon
kavaleri TNI AD. Pasar yang menjanjikan termasuk peluang ekspor ke negara
sahabat.
PT Pindad juga sedang memproduksi puluhan ranpur
anti ranjau Sanca. Puluhan kendaraan Komodo Nexter sedang diselesaikan.
Sementara untuk panser canon Badak masih tertunda produksinya meski sudah lulus
uji ketahanan.
Industri pertahanan strategis lainnya PT DI sedang
disibukkan dengan berbagai pesanan TNI AU. Ada pesanan puluhan helikopter
berbagai jenis seperti Bell 412 Epi, Caracal, Panther. Juga pesanan pesawat CN
295, CN 235. Selain CN 235 yang murni produk sendiri, berbagai jenis pesanan
tadi merupakan produk perusahaan multi nasional bekerjasama dengan PT DI.
![]() |
| KRI Alugoro 405, kerjasama transfer teknologi |
Yang paling monumental adalah kerjasama teknologi
jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Jika semuanya berjalan lancar lima tahun ke
depan sdh ada gambaran produksi dimana kita bisa mendapatkan puluhan jet tempur
sesuai rasio investasi kedua negara.
Dengan pencapaian ini maka pembangunan kekuatan
pertahanan kita yang didukung kemampuan industri pertahanan dalam negeri
memberikan asupan energi yang luar biasa untuk terciptanya mata rantai otot
pertahanan yang kekar.
Ketersediaan industri pertahanan yang mampu
mensuplai kebutuhan alutsista berteknologi akan memberikan jaminan kebutuhan
alutsista setiap saat. Perjalanan mekarnya industri pertahanan baik yang plat
merah maupun swasta nasional kita apresiasi sebagai keberhasilan cum laude.
Bahwa kebutuhan alutsista kita sekarang dan yang
akan datang sebagian besar bisa dicukupi oleh industri pertahanan dalam negeri
akan menjadi kebanggaan dan gengsi nasional. Karena tumbuh mekarnya industri alutsista
kita sejatinya adalah memastikan ketersediaan beragam alutsista utk kebutuhan
TNI, Bakamla, KKP dan Kepolisian. Termasuk juga peluang ekspor.
Lebih dari itu mekar harumnya
industri pertahanan kita tentu akan memberikan persepsi positif di kawasan karena
Indonesia telah mampu menghasilkan kualitas produksi alutsista setara dengan
negara lain, setara pula dengan tumbuh kuatnya otot militer negeri ini.
Barakallah.
****
Jakarta 30 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Jakarta 30 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Saturday, July 20, 2019
Belanja Terus Neh
Kementerian Pertahanan mendapat tambahan anggaran tahun ini sebesar 2 Trilyun rupiah untuk
membeli 2 kapal perang jenis hydro oceanografi merangkap kapal penyelamat awak kapal selam. Ini
sebuah kabar surprise tentunya dalam program modernisasi militer kita.
Di hari yang sama ada seremoni pembuatan 2 kapal perang jenis patroli cepat untuk menambah
kekuatan armada dua. Galangan kapal swasta nasional bertepuk gembira dapat lagi proyek buat kapal
perang. Saat ini saja PT PAL sebagai pionir pembuatan berbagai jenis KRI sedang disibukkan membuat
3 kapal cepat rudal untuk TNI AL.
Indonesia saat ini sedang menunggu kedatangan pesawat tempur Sukhoi SU35. Kita juga sedang
bersiap menyambut kehadiran peluru kendali darat ke udara jarak sedang Nasams untuk payung
Jakarta dan Natuna. Juga MLRS Astross batch 2.
![]() |
| Heli Apache diatas kesatrian Yon 411 Pandawa Salatiga |
Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 2 juga sudah diteken. Ini salah satu kesibukan PT PAL
yang saat ini sedang melaksanakan uji laut utk produksi kapal selam ketiga jilid satu. Industri pertahanan
strategis ini juga sedang membuat pesanan 1 kapal perang jenis LPD rumah sakit.
Belanja militer Indonesia berlanjut terus. Istilah kerennya tiada hari tanpa belanja alutsista. Sebuah
kondisi yang sangat membanggakan. Dan pada tahun-tahun mendatang akan semakin intens kekuatan
belinya dengan anggaran terbesar dibanding kementerian yang lain.
Sekedar mengingatkan, Pindad saat ini sedang memproses pengadaan Tank Harimau untuk TNI AD.
Pindad juga bersiap untuk produksi masal roket RHan. Amunisi ini bisa dipakai untuk MLRS Vampire
milik Marinir. Termasuk sedang mengupayakan untuk dipakai MLRS Astross milik TNI AD.
Galangan kapal PT DRU Lampung sedang menyelesaikan sea trial 3 kapal perang jenis LST. Ini adalah
galangan kapal yg produktif dan sukses membuat LST Bintuni Class. Galangan kapal di Batam juga
produktif membuat kapal cepat rudal dan kapal patroli cepat.
TNI AU segera menutup blank spot area dengan membeli sejumlah radar untuk Bengkulu, Sumba,
Singkawang, Morotai. Ketika mata telinga ini sdh mengcover seluruh teritori udara maka kehadiran alat
penggebuk semisal jet tempur F16 Viper akan menyempurnakan semua kewibawaan teritori kita.
Maka gambaran proyek pengadaan alutsista negeri ini akan semakin berkibar dan membesar. Pembelian 5 pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS, tambahan 8 helikopter tempur Apache, 9
helikopter Caracal, 11 helikopter Bell 412 Ep, 2 pesawat tanker, 3 pesawat CN295, 4 pesawat CN 235
dan 32 jet tempur F16 Viper sudah diambang pintu.
TNI AL bersiap menambah lagi 2 kapal perang jenis PKR Martadinata Class, 2 kapal perang Light
Destroyer Iver Class dan 2 kapal pemburu ranjau. Marinir sedang menunggu kedatangan 22 tank amfibi
Bmp-3F dan 21 panser amfibi Bt-3F dari Rusia. Termasuk sejumlah MLRS Vampire yang didatangkan
bertahap.
| Jet tempur F16, populasinya akan terus ditambah sampai 70 unit |
Anggaran militer Indonesia adalah terbesar kedua setelah Singapura untuk kawasan Asean. Ini cukup
membanggakan karena selama dekade terdahulu anggaran pertahanan kita berkategori ciput. Tahun
depan anggaran militer kita menyentuh angka 126 Trilyun.
Negeri kaya sumber daya alam ini sudah sepatutnya memperkuat benteng pertahanannya. Ribut masa
depan adalah seputar penguasaan areal sumber daya alam. Cina sudah memproklamasikan wilayah
Laut Cina Selatan sebagai miliknya. Cina membangun armada tempurnya secara besar-besaran.
Kita harus bersiap. Kita juga harus bangun kekuatan militer kita. Maka belanja alutsista berteknologi
adalah sebuah keharusan. Kalau kita kuat secara militer, gak ada itu yang mau macam-macam sama
kita. Artinya gak mau ribut dan ribet urusannya.
Itulah salah satu fungsi penguatan militer. Kalau kita kuat jiran kawasan segan, kalau kita lemah, jiran
merajalela. Masih ingatkan kemelut Ambalat tempo hari. Itu salah satu contohnya ketika jiran merajalela
dan menyepelekan. Sekarang dia sudah jauh tertinggal dan kita akan terus dan terus belanja alutsista
untuk benteng pertahanan kita. Majulah Indonesia.
****
Bandar Lampung 19 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Thursday, July 11, 2019
Menggelar AYA dan AYU Di Bulan Yang Sama
Seiring dengan terus berdatangannya berbagai jenis alutsista TNI berkualitas,
maka tuntutan untuk melakukan uji hebat dan uji canggih dilakukan secara
berjenjang di semua matra TNI. Puncaknya adalah menggelar unjuk kerja latihan
untuk setiap matra, dan puncak dari semua aktivitas itu adalah menggelar
latihan gabungan TNI.
Pekan kedua dan ketiga bulan Juli ini dua matra TNI menggelar latihan
militer skala besar di masing-masing matra di Jawa Timur. Angkatan laut
menggelar kekuatannya di Laut Jawa
dengan serial Armada Jaya (AYA) yang sudah memasuki jilid ke 37. Sementara
Angkatan Udara punya acara dengan waktu relatif sama, menggelar simulasi
Angkasa Yudha (AYU) di Madiun, Malang dan Lumajang.
Semua puncak latihan internal matra TNI dilakukan setahun sekali. Untuk
latihan gabungan TNI dengan model interoperability skala besar biasanya
dilakukan 4 tahun sekali. Ini tidak termasuk latihan PPRC (Pasukan Pemukul
Reaksi Cepat) yang waktunya sesuai kebutuhan di lapangan. Jadi bisa setahun sekali bisa setahun dua
kali dan seterusnya.
![]() |
| F16, alutsista strategis yang dimiliki Indonesia |
Saat TNI AL sedang melakukan berbagai simulasi pertempuran laut dengan
kekuatan puluhan KRI berbagai jenis dan ribuan prajurit Marinir. Hari-hari ini terlihat kesibukan yang luar
biasa di pangkalan utama TNI AL di Surabaya untuk embarkasi pasukan dan
alutsista. Sementara lokasi latihan tempur ada di laut Jawa dan berakhir di
pantai Situbondo.
Sementara itu TNI AU mengerahkan seluruh kekuatannya untuk AYU 2019. Ada jet
tempur Sukhoi SU27/30, ada F16, ada Hawk, T50 dan Super Tucaco bersama dengan
ribuan prajurit Paskhas dan sejumlah alutsista lain seperti radar, rudal, bom
dll. Ada 7 skadron tempur yang
dilibatkan dalam Angkasa Yudha 2019. Rute latihan dari markas besar Iswahyudi
AFB kemudian ada Abdul Rahman Saleh AFB dan area latihan tempur Lumajang.
Simulasi pertempuran pada hakekatnya adalah menguji kesiapan pasukan dan
alutsista dengan berbagai model yang disiapkan. Untuk Armada Jaya, ada simulasi
pertempuran laut antar kapal perang, anti serangan udara, anti kapal selam dan
berakhir dengan serbuan pantai oleh pasukan Marinir.
Angkasa Yudha juga menampilkan pertempuran udara, misalnya antara F16 dan
Hawk, Sukhoi dan F16, pengeboman bertubi-tubi, perebutan Air Force Base dan
penerjunan pasukan. Yang menarik untuk kedua simulasi pertempuran laut dan
udara kali ini adalah menggunakan metode dua pihak saling mengendalikan. Jadi
seperti pertempuran yang sesungguhnya.
![]() |
| KRI Nagapasa 403, kapal selam terbaru Indonesia |
Model interoperabilty berguna untuk saling koordinasi sekaligus menghindari
friendly fire atar sesama pasukan. Termasuk juga model perang elektronika dan
cyber army yang menjadi ciri khas pertempuran modern. Kurikulum latihan seperti
ini mutlak harus kita kuasai karena kunci kemenangan pertempuran modern adalah
asupan gizi intelijen dengan kekuatan teknologi pertempuran yang dimiliki.
Kapal-kapal perang yang kita miliki
sudah menyesuaikan dengan teknologi persenjataan yang modern, misalnya
KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332. Tiga Kapal selam terbaru yang kita miliki
juga sudah memiliki kualitas persenjataan dan teknologi pertempuran modern yang
memadai.
Empat jet tempur Sukhoi SU27 dan Sukhoi SU30 yang dibeli pada era Presiden Megawati
sudah diupgrade setara dengan adik kelasnya. 15 Jet latih tempur T50 sedang
diupgrade dengan memasang radar tempurnya sehingga nantinya berubah menjadi
fighter FA50. 10 Jet tempur F16 blok 15 sedang dalam tahap peningkatan
kemampuan tempur.
Maka menggelar AYA dan AYU setiap tahun adalah dalam rangka menguji
alutsista baru untuk dapat diketahui keunggulan teknologinya, daya tahannya dan
kesiapan satuan tempur yang mengoperasikannya. Simulasi pertempuran sejatinya
adalah pertempuran itu sendiri yang diskenariokan sebagai bagian dari unjuk
kekuatan untuk percaya diri.
Ke depan ini dengan semakin banyaknya alutsista baru yang canggih
berdatangan, tuntutan untuk mensinergikan berbagai jenis alutsista itu dalam satu
model sinergitas interoperability mutlak diperlukan. Kesiapan itu sudah
diperlihatkan melalui simulasi AYA dan AYU dan akan terus disempurnakan dalam
tahun-tahun mendatang.
****
Jakarta, 11 Juli 2019
Jagarin Pane
Subscribe to:
Posts (Atom)

























