Friday, June 14, 2019

Sebar Kekuatan Di Timur Negeri


Angkatan udara Indonesia baru saja meresmikan 2 skadron angkut militer di kawasan timur Indonesia. Di Makassar digelar skadron angkut berat Hercules, namanya Skadron 33. Di Biak Papua di gelar skadron angkut sedang CN235/CN295, namanya skadron 27. Pesawat dan kru diboyong dari Jawa.

Pengembangan skadron angkut di wilayah timur merupakan langkah strategis karena wilayah ini sejatinya adalah prioritas kecepatan dalam setiap kondisi operasi militer maupun operasi militer selain perang. Makassar dipilih sebagai markas skadron Hercules dalam rangka memenuhi interoperablity antar satuan tempur karena di wilayah ini ada satuan tempur PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) Kostrad TNI AD.

Sementara Biak dipilih sebagai home base skadron 27 angkut sedang, sangat membantu mobilitas gerakan militer di Papua yang kontur buminya sangat menantang. Di Biak juga sudah tersedia infrastruktur militer seperti Radar, Paskhas dan menjadi markas Koopsau III.  Masih ada dua skadron lagi yang akan mengisi kekuatan timur Indonesia yaitu skadron Helikopter di Jayapura dan skadron tempur di Kupang atau Biak.
Jet tempur F16 di Lanud Biak

Pengembangan kekuatan pertahanan udara Indonesia terus dibangun karena memang belum sampai pada tahap kekuatan minimal yang harus dimiliki negeri kepulauan ini. Itu sebabnya program MEF (Minimum Essential Force) yang ditarget selesai tahun 2024 adalah sebuah kekuatan yang baru sampai di kriteria minimal.

Untuk mencapai kekuatan minimal itu, TNI AU masih memerlukan tambahan kekuatan minimal 3 skadron tempur, 1 skadron angkut berat, 1 skadron angkut sedang, 5 radar militer, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.  Ini sebuah target yang realistis lho dan diharapkan tahun 2024 sudah bisa dipenuhi.

Tiga skadron tempur yang dinantikan adalah 11 jet tempur Sukhoi SU35 dan 32 Jet tempur F16 Viper. Skadron angkut berat Hercules akan mendapat tambahan 6 Hercules gress dari AS sementara skadron angkut sedang yang sudah mendapatkan 9 CN295 akan ditambah 3 unit lagi.

Infrastruktur pangkalan udara sudah tersedia di berbagai tempat.  Ada Natuna, ada Tarakan, ada Morotai, ada Biak dan sebagainya.  Ada infrastruktur yang bagus di Lanud Soewondo (ex Polonia) di Medan tapi kosong dengan pesawat militer.  Maka sangat layak skadron Hawk dan F16 di Pekanbaru sering-sering bermain di Medan biar tidak kesepian gitu.
Armada Hercules TNI AU
Pontianak di plot menjadi home base jet tempur F16 Viper.  Lokasi pangkalan udara ini paling dekat dengan Natuna sehingga sangat tepat menempatkan jet intersep di bumi khatulistiwa ini. Sementara jet tempur Hawk yang tersedia saat ini bisa diinapkan di Natuna sebagian. Patroli sekeliling Laut Natuna Utara.

Jika program MEF jilid III bisa diselesaikan tahun 2024, kita baru sampai pada kriteria kekuatan minimal. Artinya kekuatan angkatan udara kita yang menjaga negeri jamrud khatulistiwa ini punya inventori alutsista 27 jet tempur Sukhoi SU27/30/35, 66 jet tempur F16 blok52/Viper, 15 jet tempur latih FA50, 32 jet tempur taktis Hawk 100/200, 15 pesawat Super Tucano, 36 Hercules, 12 CN295, 16 CN235, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.

Kekuatan ini sudah melebihi kekuatan TNI AU jaman Dwikora meski tidak punya pesawat pengebom strategis seperti era Dwikora. Kekuatan minimal ini patut disyukuri karena ini kekuatan pertahanan, bukan kekuatan ekspansi.  Isian alutsista angkatan udara perlu investasi anggaran yang besar karena angkatan udara adalah teknologi dan kekuatan penggentar.

Maka membangunkembangkan angkatan udara sejatinya adalah membangun teknologi pertempuran terkini yang mampu bersinergi dengan matra lain.  Investasinya cukup menguras anggaran negara tetapi marwah teritori negeri akan terangkat dan disegani. Kekuatan Angkatan udara adalah  martabat dan kebanggaan setiap negara.  Kita harus mendapatkan marwah itu.
****
Solo, 14 Juni 2019
Jagarin Pane


Friday, May 24, 2019

Diplomasi Viper

Beradu luwes, beradu lincah, bergerak cepat, diam-diam  dan berpacu dengan waktu, adalah irama yang sedang diperlihatkan Indonesia dalam diplomasi perdagangannya dengan Amerika Serikat. Sebabnya cuma satu, agar fasilitas yang bernama GSP yang diberikan negara adidaya itu masih bisa diperpanjang nafasnya untuk Indonesia.

GSP (Generalized System of Preferences) adalah fasilitas kemudahan perdagangan yang diberikan AS untuk negara-negara berkembang dengan cara membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara tersebut. Ada sekitar 3.500 produk ekspor RI yang boleh lenggang kangkung diberikan kemudahan masuk ke AS.  Ini sudah berlangsung puluhan tahun.

Nah, pak Donald mulai mendehem neh. Dengan China  terang-terangan dan tegas melakukan perang dagang.  Maka Indonesia mengantisipasinya dengan melakukan diplomasi perdagangan selama dua tahun terakhir ini dengan Paman Sam.  Kita ketahui bahwa sejak Oktober 2017 AS meninjau ulang pemberian fasilitas GSP terhadap 25 negara termasuk Indonesia. Untungnya kita masih punya “kartu remi” yang sangat diperlukan Uak Sam utamanya dalam menghadapi menggeliatnya militer China di Laut China Selatan (LCS).
Helikopter Apache Penerbad, akan ditambah lagi
Maka kartu remi dimainkan Indonesia dengan menerima tawaran Menhan AS untuk membeli sejumlah alutsista berkelas dari  Paman Sam.  Pengadaan alutsista semacam jet tempur F16 Viper, Hercules seri J dan Apache bermanfaat untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara yang selama ini menguntungkan kita. Artinya tidak lagi dipelototi Trump.

Ini juga seirama dengan rencana strategis pertahanan RI yang akan menambah skadron-skadron tempurnya. Maka penambahan minimal 32 unit jet tempur F16 Blok 70 Viper adalah sebuah langkah cemerlang dan akan terlaksana dalam MEF jilid III. Indonesia juga sudah mendapatkan 8 Helikopter serang Apache dan diprediksi akan menambah 8 unit lagi. 

Selain alutsista diatas yang paling sering didengungkan adalah pengadaan 6 pesawat Hercules seri terbaru. Pak Menhan sudah disambut di Pentagon untuk memastikan pembelian pesawat militer angkut berat yang legendaris itu. Program beli ini juga agar AS bisa memberikan kelonggaran untuk pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang masih tersendat karena DP tidak bisa cair.
F16 Viper yang digadang-gadang itu
Itulah kenyataan yang kita hadapi karena sang adidaya lagi galak-galaknya kepada siapa pun yang mau mengganggu hegemoni Yues’e di segala bidang. Raksasa China aja diajak gelut alias perang dagang, dengan Iran sekarang sedang demam tinggi, Rusia dikenakan sanksi ekonomi ketat, Venezuela diadu domba dan lain-lain.

Untuk kepentingan geo strategis AS di LCS maka Trump memerlukan dukungan Indonesia. Artinya masih ada kekuatan bargaining bagi kita soal GSP tadi.  Kita memang lagi butuh peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista.  Dan karena sudah ditawari juga oleh Menhan AS pada waktu berkunjung ke Jakarta maka tidak eloklah kalau tidak diambil.

Anggaran pertahanan kita tahun depan juga meningkat bagus mencapai 126 Trilyun rupiah.  GSP untuk produk ekspor kita ke AS juga masih bisa diperpanjang. Sekalian bisa mencairkan kebuntuan soal pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang terhambat Bank Garansi untuk DPnya.  Semua itu bisa dihasilkan dengan model diplomasi perdagangan yang cerdas, lincah dan luwes.

Kita meyakini bahwa kontrak pengadaan Jet tempur F16 Viper, Hercules, Apache akan diselesaikan Oktober tahun ini dan barangnya mulai berdatangan di episode MEF jilid III (2020-2024). Diplomasi Viper membutuhkan gerak lincah luwes dan bergerak cepat diam-diam seperti seekor ular Viper.  Karena kita pun bakalan mendapat Viper, jet tempur F16 Blok 70 paling mutakhir, lincah dan mematikan.
*****
Yogya, 24 Mei 2019
Jagarin Pane

Friday, May 3, 2019

Pelajaran Dari Parchim Class


Nama Tjiptadi, seorang kapten angkatan laut Indonesia yang gugur bersama Yos Sudarso dalam pertempuran Arafuru tahun 1962 menjadi terkenal hari-hari belakangan ini. Melalui sebuah kapal perang yang didedikasikan untuk namanya, KRI Tjiptadi 381, insiden penabrakan yang dilakukan kapal pengawas nelayan Vietnam di perairan Natuna Sabtu siang 27 April 2019 membuat nama pahlawan itu muncul ke permukaan.

KRI Tjiptadi 381adalah salah satu dari kapal perang Parchim Class yang dibeli Indonesia dari bekas negara Jerman Timur tahun 1990an.  Jumlah kapal perang bekas yang dibeli waktu itu berkat lobby BJ Habibie mencapai 39 kapal perang berbagai jenis, enambelas diantaranya adalah kapal striking force Parchim Class.

Soal insiden di Natuna itu, langkah yang diambil awak kapal perang KRI Tjiptadi 381 sudah tepat.  Bersabar dan tidak terpancing provokasi kapal pengawas nelayan Vietnam yang banyak karatnya. Toh “barang bawaannya” berupa tahanan belasan awak kapal nelayan Vietnam tetap diproses hukum dan kapal nelayan Vietnam sudah ditenggelamkan sendiri oleh kapal pengawasnya.

Sudah ada tiga armada tempur, tinggal memenuhi isiannya
Natuna itu sesungguhnyaadalah hot spot yang harus terus diawasi dan dikawal teritorinya. Disana ada tumpang tindih perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE). Dengan China yang mengklaim sebagian besar Laut China Selatan (LCS) ada hot spot berbahaya, dengan Vietnam juga saling klaim ZEE dengan kita.

ZEE bukan teritori kedaulatan lho, dia hanya kawasan dimana isi perairan termasuk ikan dan mineral didalamnya dikuasai oleh negara yang menarik batas ZEE 200 mil dari pantai terjauhnya. Makanya tidak boleh sembarangan umbar tembakan di ZEE karena itu jalur pelayaran bebas untuk semua negara.

Mengapa Vietnam begitu galak karena memang negeri itu punya militansi patriotik yang hebat.  Juga karena dia sedang keras-kerasnya berkonflik klaim dengan China di LCS. Militansi patriotik Vietnam sudah terbangun sejak perang Vietnam, dan semakin membanggakan ketika mereka mampu mengusir AS dari negerinya tahun 1970an. Nah sekarang mereka lagi panas-panasnya berseteru dengan China soal Spratly dan Paracel. Jadi adrenalin si Vietnam mudah tersulut dan mendidih.
Kapal selam juga semakin bertambah, sudah ada 5 unit
China seperti diketahui mengawasi ketat perairan LCS sepanjang teritori Vietnam.  Tidak ada celah ruang masuk bagi Vietnam untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ZEE nya di LCS termasuk mencari ikan. Akhirnya para nelayan Vietnam yang “ruang operasinya” semakin dipersempit bergerak kearah selatan dan tenggara, ketemulah dengan Anambas dan Natuna.

Maka pelajaran dari insiden kemarahan Vietnam yang kesekian kalinya ini harus disikapi dengan cara pandang horizon dari pemikir strategi pertahanan di tanah air.  Jangan lagi bilang dua puluh tahun ke depan tidak ada ancaman teritori atau invasi ke teritori negeri tercinta ini. Di depan mata sudah terlihat demamnya LCS begitu tinggi. Bisa saja bisul itu pecah kan.

Angkatan Laut dan Angkatan Udara kita mutlak wajib fardhu ain dilaksanakan Pemerintah bersama syarat-syarat dan rukun-rukunnya untuk dikembangkuatkan, dibesarhebatkan dengan menambah kuantitas dan kualitas alutsista penggebuk. Anggaran sudah disediakan, tinggal pakai, tahun depan dapat porsi terbesar 126 T. Jumlah itu pun masih bisa bertambah, tinggal DPR sama Pemerintah bersinergi, tidak ada yang tidak bisa untuk membangun pertahanan negeri luas ini.

MEF jilid tiga sudah tinggal hitungan bulan, artinya bergegaslah mengeksekusi belanja-belanja yang sudah direncanakan, kan duitnya sudah ada, tinggal mengelola sistem multy yearsnya.  Jangan kelamaan mikir, lihat tuh Vietnam anggaran belanja alutsistanya lebih kecil dari kita tapi kuantitas dan kualitas alutsistanya lebih wah. Ada 6 kapal selam Kilo, ada 30 jet tempur Sukhoi, ada alutsista sistem pertahanan pantai dan lain-lain.

Armada satu TNI AL yang berbatasan dengan banyak negara mestinya lebih hebat dari Armada dua atau minimal setara perlengkapan alutsistanya.  Meski sudah diperkuat Bung Tomo Class, Sebagian Parchim Class, Clurit Class dan Fatahillah Class, sangat mendesak penambahan armada striking Force misalnya Martadinata Class.

Caranya ditambah dong kuantitas produksi Martadinata Class dari yang sekarang hanya dua biji menjadi enam biji gitu dan gak pake lama.  Penambahan KRI jenis Destroyer semacam Iver Class bisa dipercepat dan setidaknya kita butuh empat unit, beli sekaligus. Termasuk juga penambahan kapal-kapal BAKAMLA ukuran besar, dipercepat pengadaannya. Untuk perairan Natuna minimal dibutuhkan 6 kapal BAKAMLA ukuran besar.
KRI Fatahillah 361, sudah diperbaharui jeroannya
Natuna yang sudah jadi pangkalan militernya, adalah jawaban terhadap situasi konflik yang demam terus menerus. Maka alutsista gebuknya juga harus dihadirkan lebih banyak dan lebih berkualitas. Jangan sampai arhanud S60 yang kesana, ntar diketawain sama Laos. Natuna adalah benteng terdepan yang harus mencerminkan kekuatan pre emptivenya.

Penting juga adalah mengkomunikasikan progress pengadaan alutsista kepada khalayak.  Ini adalah bagian untuk memupuk semangat bertanah air. Semua sudah sepakat bahwa negeri kepulauan yang luas ini perlu dibentengi dengan pertahanan yang kuat. Anggaran sudah disediakan, tinggal bagaimana memanfaatkannya secara manajemen. Komunikasikan dengan khalayak disamping berkoordinasi dengan user TNI.

Berkali-kali sudah kita sampaikan bahwa perkuatan militer kita bukan untuk persiapan perang atau berkonflik melainkan untuk menampilkan postur kekuatan militer yang gagah dan disegani. Dengan postur militer yang kuat dan disegani maka jalan cerita diplomasi kita akan dihargai. Tak kalah pentingnya adalah kewibawaan teritori kita bernilai marwah dan mampu mengeliminasi ngamuknya tetangga.

****
Solo, 3 Mei 2019
Jagarin Pane

Saturday, April 27, 2019

Tank Harimau Mulai Mengaum

Ini dia Tank Harimau made in Pindad kerjasama dengan Turki. TNI AD membutuhkan ratusan Tank jenis ini dan itu adalah pangsa pasar yg bagus untuk industri pertahanan kita. Bulan depan di sign kontrak pengadaan alutsista ini untuk batalyon kavaleri TNI AD. Selama sepuluh tahun terakhir ini industri pertahanan Indonesia maju pesat dan berbunga-bunga, sebuah pencapaian yang luar biasa. Alhamdulillah.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

This Is Nagapasa Class

Kamis 11 April 2019 Menhan meresmikan peluncuran kapal selam ketiga yaitu KRI Alugoro 405 di Surabaya. Besoknya hari Jumat penuh barokah kontrak pembangunan 3 kapal selam sejenis diteken di Bandung dgn nilai kontrak US$ 1,2 milyar bersama mitra yang gak pelit ilmu Korsel. Artinya kita bakalan punya 8 kapal selam dan ini adalah jumlah terbanyak di ASEAN. Alhamdulillah, transfer teknologi semakin cerah, kapalnya dapat, teknologinya dikuasai. Jiran sebelah terpana dan terdiam.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan air

****
Jagarin Pane

Terus Memperkuat Taringnya

Angkatan Laut Indonesia terus memperkuat taji tempurnya dengan mendatangkan 11 unit helikopter anti kapal selam. Setelah memastikan mendapat tambahan 6 kapal selam nagapasa class, matra laut ini juga sedang menunggu kehadiran 7 kapal perang jenis LST, 3 kapal cepat rudal, 3 kapal patroli cepat, 2 kapal buru ranjau, 2 kapal logistik. Jalesveva jayamahe.  Jangan kuat-kuat ntar jiran sebelah tersinggung.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane

Panser Cobra Mulai Diproduksi

Namanya Panser Cobra, mulai diproduksi Pindad tahun ini untuk batalyon infantri mekanis TNI AD. Kebutuhan TNI AD untuk Panser ini mencapai 400 unit. Jadi ada kombinasi produksi alutsista yang sangat bergairah di Pindad, ada Panser Anoa, ada Panser Cobra, ada Tank Harimau. Sebuah pencapaian yg patut kita syukuri dan banggakan.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Belanja Terus, Jiran Pusing Pala Berby

Sudah punya 54 tank amfibi canggih Bmp-3f made in Rusia, Marinir Indonesia kembali menambah 22 unit lagi bersama dgn pembelian 21 panser amfibi Bt-3f juga buatan papa bear. Kontraknya diteken beberapa hari yang lalu di Kemhan Jakarta. Nambah terus neh, jangan bilang-bilang sama jiran sebelah ya.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane

Sikatan Daya 2019

Skadron Sukhoi Hasanuddin AFB, skadron Fighting Falcon F16 dan skadron T50 Golden Eagle Iswahyudi AFB melakukan latihan tempur terpadu Sikatan Daya di Lumajang Jawa Timur selama seminggu sejak 23 April 2019. Tiada hari tanpa latihan karena itu adalah asupan gizi untuk kesiapsiagaan tanpa akhir.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane

Thursday, April 11, 2019

Tentara Langit Kita Semakin Bersinar

Program lintas rezim, Minimum Essential Force (MEF) alias program penguatan militer Indonesia, terus berjalan.  Dan saat ini sedang mempersiapkan diri menuju lepas landas MEF jilid tiga di awal tahun 2020 mendatang. Salah satu matra yang menggeliat memperkuat teknologi alutsista dan posturnya adalah TNI AU.

KSAU memberikan informasi rinci dan jelas tentang program penguatan tentara langit kita.  Di sisa perjalanan MEF jilid dua yang berakhir Desember tahun ini, TNI AU sedang menyelesaikan beberapa program pembangunan postur misalnya peresmian Skadron 33 angkut berat Hercules di Makassar dan Skadron 27 angkut sedang CN235 di Biak. Skadron 9 Helikopter di Jayapura, Skadron UAV di Timika dan Skadron jet tempur di Kupang menyusul.
Jet tempur TNI AU, semakin bersinar
Kekuatan angkatan udara sebuah negara adalah marwah kedaulatan. Maka selayaknya kekuatan angkatan udara kita dikembangkuatkan untuk menjunjung marwah itu. Penjelasan KSAU di hari ulang tahun TNI AU tanggal 9 April 2019 yang lalu memberikan asupan informasi yang menyegarkan. TNI AU tahun 2024 akan muncul sebagai kekuatan yang bermartabat lengkap dengan teknologi network centric warfare.

Untuk menuju kesana sedang disiapkan infrastruktur hardware dan software.  Pontianak AFB dan Kupang AFB akan diisi masing-masing 1 skadron jet tempur dengan kandidat terkuat F16 Viper. Pangkalan AU Iswahyudi, Pekanbaru dan Natuna akan diperkuat dengan Detasemen Hanud Oerlikon Skyshield. Ibukota Jakarta akan dilindungi dengan satuan peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS.

Berbagai jenis alutsista canggih yang segera mengisi inventori tentara langit kita adalah 5 pesawat Hercules type J, 6 pesawat intai amfibi multi guna, 9 pesawat Casa 212, 6 radar GCI, 1 radar medium, 1 radar pasif, 36 rudal AMRAAM, 8 Helikopter Cougar, 11 jet tempur Sukhoi SU35, 6 UAV, 2 battery NASAMS. Semuanya dipesan di MEF periode sekarang, barangnya mulai berdatangan tahun depan.
Peluru kendali darat ke udara NASAMS2
Program penguatan alutsista eksisting sedang dijalankan saat ini antara lain upgrade 10 jet tempur F16 blok 15 kerjasama dengan AS, program radarisasi terhadap 15 jet latih tempur T50 sehingga bisa menjadi kekuatan striking force. Disamping itu dilaksanakan program operasi tempur pengeboman malam hari yang melibatkan seluruh skadron tempur dan angkut yang ada termasuk pesawat Super Tucano.

Nah untuk MEF III (2020-2024) yang sudah diambang pintu, prediksi penguatan alutsista TNIAU semakin bertaring. Ada penambahan minimal 2 skadron jet tempur, pembelian 2 jet tanker isi ulang BBM jet tempur, 2 pesawat intai strategis Airborne Early Warning and Control.  Boleh jadi kuantitas minimal itu dilampaui karena MEF III adalah finalisasi program penguatan. Perkembangan dinamika kawasan bisa saja mempercepat perolehan alustsista.

Penambahan minimal 5 unit Sukhoi SU35 sehingga lengkap menjadi 1 skadron (16 unit) atau penambahan menjadi 3 skadron jet tempur yang digadang-gadang F16 Viper bukan sesuatu yang mustahil di MEF III. Tidak tertutup kemungkinan di MEF III Indonesia akan membeli 1 skadron jet tempur F15 atau 5 jet tempur siluman F35 dari AS. Yang jelas program penguatan untuk mencapai kekuatan minimal sedang berlangsung. Jika anggaran militer diperbesar semua harapan itu bisa terwujud.

Tahun 2024, lima tahun dari sekarang TNI AU diharapkan sudah menunjukkan kekuatan teknologi alutsistanya yang terintegrasi dengan interoperability antar satuan matra udara.  Dan utamanya adalah kemampuan menjalankan model pertempuran modern yang dikenal dengan Network Centric Warfare. Dengan model itu seluruh tiga matra tentara kita saling bahu membahu dan bersinergi untuk menjaga payung pertahanan teritori yang bermarwah. Semoga.
****
Jagarin Pane
Semarang 11 April 2019


Monday, April 1, 2019

Kita Baru Menuju Kekuatan Minimal


Program modernisasi militer Indonesia yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force) hampir menyelesaikan tahap yang kedua.  Program itu ada di MEF I (2010-2014), MEF II (2015-2019) dan MEF III (2020-2024).  Artinya saat ini kita sedang berada di penghujung MEF II dalam upaya mengejar ketertinggalan kekuatan alutsista kita. Dengan kata lain kita baru menuju kekuatan minimal yang dibutuhkan dalam mempertahan negeri ini dari ancaman kekuatan luar.

Dalam perhitungan kuantitas dan kualitas alutsista yang sudah kita miliki sampai saat ini belum sampai pada kriteria minimal. Program penguatan alutsista TNI berdasarkan target MEF baru akan tercapai tahun 2024. Itu pun dengan catatan jika program MEF II saat ini bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

Jujur saja dibanding dengan program MEF I (2010-2014), program MEF yang sedang berjalan saat ini belum optimal. Ini bisa terlihat dari proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang terkesan bertele-tele. Empat tahun lebih proses pengadaan alutsista strategis ini berjalan dan terakhir kabarnya harus delay dulu karena ada Pilpres 17 April 2019 nanti.
KRI Martadinata 331
Hampir semua alutsista yang didatangkan dari luar negeri dan atau diproduksi oleh industri pertahanan kita adalah produk MEF I. Pengadaan Tank Leopard, Marder, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179, MLRS Astross, Starstreak, Mistral, Oerlikon Skyshield, Panser Anoa, Panser Tarantula, Tank Amfibi BMP3F, MLRS Vampire, Kapal Selam Nagapasa Class, Martadinata Class, Kapal Cepat Rudal, Kapal LST, Pesawat CN295, Jet tempur F16, T50, Super Tucano, Helikopter Mi35, Mi17, Apache, Bell 412 Ep dan masih banyak yang lain adalah realisasi program MEF I.

Dalam catatan kita sejauh ini tidak banyak rencana pesan yang diterbitkan dalam MEF II. Program pengadaan tahap kedua untuk membangun 3 kapal selam Nagapasa Class sampai saat ini belum sign kontrak. Lanjutan serial Martadinata Class juga belum jelas, program pengadaan kapal perang light destroyer yang digadang-gadang juga belum final.  Pengadaan Sukhoi SU35 berlarut terus.

Jadi jelaslah kekuatan militer kita dari segi kepemilikan kuantitas dan kualitas alutsista belum sampai pada ukuran minimal. Masih dibutuhkan lagi satu tahapan rencana strategis lima tahunan. Oleh karena itu sangat tidak pantas jika kemudian membandingkannya dengan kekuatan militer Singapura yang sudah lebih dulu berjaya.
Tank Harimau
Singapura adalah negeri dengan tingkat kesejahteraan yang terbaik di rantau ASEAN bahkan dunia. Negeri mungil yang sejahtera, makmur namun “terkendala” dengan kecilnya ukuran teritorinya mengharuskan negeri itu memperkuat militernya.  Dua tetangganya yang besar Indonesia dan Malaysia, adalah sebuah ancaman eksistensi kehidupan masa depannya. Itu persepsinya.

Tetapi kita pun tidak perlu merasa minder dengan kekuatan alutsista Singapura karena sejatinya dalam strategi pertahanan, negeri itu bukanlah ancaman bagi eksistensi Indonesia. Sehebat apapun kekuatan milter Singapura, tidak mengkhawatirkan kita.  Lho kok bisa Om.  Sederhana saja pemikirannya.  Misal seluruh jet tempurnya mampu menghancurkan Jakarta, tidak akan mampu melumpuhkan kita, masih ada kota-kota lainnya yang jumlahnya ratusan. 

Angkatan Laut Indonesia punya kekuatan armada yang lebih baik dari Singapura. TNI AL memiliki 165-170 KRI berbagai jenis sedangkan Singapura hanya di kisaran 30-35 kapal perang. Singapura hanya unggul di kekuatan udara karena dia menganut pola pre emptive strike dan sarang tawon. Berani ganggu kami sengat atau jika mendekat kami sikat. Wajar kan karena negerinya yang kecil itu mengharuskan dia untuk memperkuat tameng pertahanannya.
Apache dan Mi35
Jadi kita masih harus terus memperkuat militer kita. Masih banyak kekurangan yang harus dipenuhi. Soal coverage radar saja belum terpenuhi seluruhnya. Belum lagi soal Network Centric Warfare, sinergi pertempuran tiga matra yang harus dipenuhi. Natuna sedang dipersiapkan untuk model ini dan saat ini sudah dilapis dengan kekuatan 3 radar sekaligus berikut pangkalan militernya.

Dibanding dengan sepuluh tahun lalu, jelas kekuatan alutsista kita meningkat tajam.  Ini harus diapresiasi dan disyukuri, tetapi belum sampai pada persyaratan minimal untuk pertahanan negeri kepulauan yang besar ini.  Makanya dikembangkan Divisi 3 Kostrad, Divisi 3 Marinir, Armada 3, Koopsau 3 yang semuanya berada di wilayah timur Indonesia.

Pengadaan alutsista jelas dibutuhkan untuk mengisi satuan-satuan tempur yang baru dibentuk. Kita masih membutuhkan minimal 3 skadron jet tempur, kapal perang jenis destroyer, fregat,  korvet dan kapal selam. Yang membahagiakan adalah industri pertahanan kita saat ini sedang berbinar terang dan sudah mampu membuat  Panser, Tank, Roket, Bom, Kapal Patroli Cepat, Kapal Cepat Rudal, LPD, LST, Korvet dan sebentar lagi Kapal Selam.

Maka untuk mencapai target minimal di MEF III, pemegang kendali dan kelola pertahanan kita harus memiliki kualitas kepemimpinan, koordinasi, komunikasi dan integritas yang kuat.  Masih banyak program yang harus diselesaikan, masih banyak yang tercecer. Karakter pengelola pertahanan yang kita inginkan seperti penggalan syair lagu Ebiet G Ade : Istriku harus cantik lincah dan gesit, tapi dia juga harus cerdik dan pintar. Bisa aja Om.
****
Jakarta, 1 April 2019
Jagarin Pane

Friday, March 29, 2019

Bulan Menguji Latih Alutsista Canggih


Bulan Maret 2019 ini berbagai inventori alutsista yang dimiliki TNI diuji dalam serial simulasi.  Ini bagian dari optimalisasi penggunaan karena alutsista yang baru dimiliki itu seyogyanya memang harus dianalisis dan diuji terus menerus keandalannya teknologinya.

Beberapa waktu lalu artileri swa gerak M109 A4 yang baru dibeli dan Caesar Nexter kembali unjuk diri kemudian diikuti dengan MLRS Astross II.  Ini adalah jenis alutsista canggih milik  Yon Armed TNI AD ini baru dimiliki, jadi harus sering-sering diujilatih agar menjadi familiar dalam penggunaannya. Demikian juga dengan helikopter serbu Apache yang berjumlah 8 unit memerlukan kuantitas dan kualitas pelatihan yang harus dikuasai oleh para awaknya.

Armada Satu TNI AL yang medan tugasnya mengawal Selat Sunda, Selat Malaka sampai Natuna melaksanakan kegiatan gugus tempur laut di Laut Jawa. Ada kapal perang baru yang dilibatkan yaitu KRI Semarang 594 dari jenis LPD bersinergi dengan KRI Bung Tomo 357 dan beberapa Kapal Cepat Rudal yang lain. Latihan sepanjang Laut Jawa ini berakhir di Banten dan dikunjungi Panglima TNI.
Artileri Swa Gerak M109 TNI AD
Ketika belasan KRI Armada Satu melaksanakan latihan tempur, kesiagaan menjaga teritori tetap tinggi, buktinya KRI Teuku Umar 385 dan Kri Tarakan 905 berhasil menangkap 4 kapal nelayan Vietnam di Natuna. Sejumlah jet tempur Hawk bersiaga di Natuna dan juga 1 flight Sukhoi mengawal Tarakan adalah dalam rangka mengawal perbatasan teritori udara negeri ini.

Armada Dua TNI AL melaksanakan simulasi pertempuran bersama TNI AU, jadi modelnya adalah interoperablity antar matra. TNI AL mengerahkan light fregat terbaru KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dan beberapa KRI Striking Force lainnya, sedangkan TNI AU mengerahkan 4 jet tempur Sukhoi. Medan latihannya adalah Selat Makassar sampai Ambalat.  Latihan antar matra ini adalah bagian dari antisipasi model pertempuran masa depan yang dikenal dengan Network Centric Warfare.

Skadron yang berdomisili di Iswahyudi juga bareng-bareng latihan tempur malam hari. 1 flight Jet tempur F16 dan T50 selama seminggu melaksanakan pengeboman pada malam hari di area latihan AWR Lumajang.  Sementara Di Iswahyudi AFB saat ini ada kesibukan tersendiri yaitu sedang dilakukan upgrade jet tempur 10 F16 blok 15 secara bertahap dan pembangunan infrastruktur untuk 11 jet tempur Sukhoi SU35.

Astross II Mk6 TNI AD
Di wilayah timur TNI AL mengerahkan kekuatan pukulnya dengan menghadirkan KRI Yos Sudarso 353 dan sejumlah KRI combatan untuk patroli gugus tempur laut. Armada Tiga TNI AL yang baru dibentuk berpusat di Sorong Papua. Karakter laut dalam yang dimiliki kawasan timur Indonesia mengharuskan kehadiran kapal perang minimal setingkat korvet. Misalnya Diponegoro Class yang berjumlah 4 unit di BKO kan secara bergantian.

Dengan dikembangkannya gelar armada menjadi tiga maka isian KRI striking force harus dipenuhi. Dari sisi ancaman maka kekuatan Armada Satu dan Armada Dua merupakan prioritas karena ada potensi konflik di Natuna dan Ambalat.  Jadi kehadiran sejumlah KRI harus lebih sering di wilayah itu.

Sementara kehadiran KRI di Armada Tiga  dan bermarkas di Sorong akan memperpendek rentang kendali dan efektivitas operasional.  Tidak lagi harus ke Surabaya sebagai pangkalan induk. Sambil menunggu pembangunan kapal perang baru isian KRI dari inventori yang tersedia seperti Ahmad Yani Class.

Berbagai jenis alutsista yang baru dimiliki itu bukan untuk dielus-elus lalu dipamerkan dalam parade hari ulang tahun. Lebih dari itu, harus lebih sering diuji, dianalisis, dievaluasi untuk bisa menampilkan unjuk kerja optimal dan agar awak yang mengoperasikannya menjadi familiar dan tidak gaptek.
Yang dinanti kedatangannya Sukhoi SU35
Simulasi pertempuran adalah bagian dari kesenyawaan prajurit dan alutsista yang harus terus menerus diasah.  Pamer latihan juga perlu dipublikasikan karena ini bagian dari  psywar untuk menunjukkan kekuatan militer kita. China berani pamer latihan tempur besar-besaran di Laut China Selatan, padahal itu wilayah konflik. Jelas tujuannya untuk unjuk kekuatan dan kehebatan militernya.

Kita juga pernah latihan militer skala besar di Natuna, pamer kekuatan.  Kita juga pernah latihan militer skala besar di Ambalat, pamer kekuatan. Jadi negera itu perlu pamer kekuatan militer melalui latihan tempur disamping juga pamer kekuatan ekonominya.  Dua hal yang kita miliki itu, kekuatan ekonomi dan kekuatan militer seiring sejalan menuju kekuatan yang diperhitungkan.  Semoga.
****
Yogya, 29 Maret 2019
Jagarin Pane

Wednesday, March 20, 2019

Iver Class Diambang Pintu

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan air

Berkunjung sampai dua kali ke pabrikannya, Kementerian Pertahanan saat ini sedang menuju tahap akhir proses pengadaan 2 kapal perang Fregate Iver Class dari Denmark. Dan dalam waktu dekat akan ada kepastian kontraknya. Kita sambut gembira karena kapal perang jenis ini adalah striking force yang setara dengan kekuatan kawasan Asean. Harus begitu supaya kewibawaan teritori laut kita semakin bermarwah dan disegani. Anggaran sudah disediakan US$ 750 juta. Tentu ini tidak termasuk paket persenjataannya. Tidak apa-apa, 2 KRI Martadinata Class produksi bersama PAL dan Damen Schelde Belanda yang sudah operasional selama 2 tahun baru sekarang dilengkapi dengan berbagai jenis persenjataannya. Dalam waktu dekat diprediksi akan ada lanjutan penambahan Martadinata Class sebanyak 2 unit lagi.

***Jagarin Pane

Gagahnya Simbah S60 57 MM

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Orang pada rame ngeributin S300 atau S400 buatan Rusia, kita punya artileri pertahanan udara S60 57mm biasa2 aja tuh. Padahal S60 itu embahnya S300 ato S400. Jadi harus hormat lho sama Simbah yg sudah setia menjaga NKRI lebih setengah abad. Masih gagah lagi. Dan sekarang Simbah juga ikut program digitalisasi, tidak lagi pakai engkol untuk menggerakkan canonnya. Batalyon Arhanud TNI AD saat ini juga mengoperasikan alutsista yang lebih modern seperti Grom, Mistral, Starstreak dan dalam waktu dekat  akan mengoperasikan sistem peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS.

***Jagarin Pane

Upgrade F16 Blok 15 OCU

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

10 jet tempur F16 blok 15 TNI AU " direnovasi ulang" untuk meningkatkan kemampuan tempur dan usia pakai. F16 blok 15 adalah jet tempur yg dibeli tahun 1989, jadi sudah ketinggalan jaman. Maka teknologi avionik, mesin, radar dan dan rudal dimutakhirkan agar bisa setara dgn adik kelasnya F16 blok 52. Semua pekerjaan ini dilakukan di Iswahyudi AFB oleh teknisi TNI AU dan supervisi oleh Lockheed Martin AS. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2017 dan Semester I tahun ini akan selesai 2 unit F16.

Indonesia punya 33 jet tempur F16 terdiri dari 10 F16 blok 15 dan 23 F16 blok 52. Diniscayakan dalam waktu dekat akan ada penambahan minimal 16 unit F16 Viper untuk memperkuat taji Angkatan Udara kita. Kita doakan.

***Jagarin Pane

Sunday, March 3, 2019

Menguatkan Armada Tempur Sekuat Tenaga


KRI Bung Tomo 357 baru saja digertak oleh dua kapal pengawas nelayan Vietnam, bahkan sebelumnya kapal KKP Hiu Macan harus mengalah dan melepaskan 4 kapal nelayan Vietnam di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna Riau. Baru setelah KRI TOM 357 melepaskan tembakan peringatan, kapal pengawas nelayan Vietnam menjauh.

Untung saja pangkalan militer Natuna sudah operasional sehingga 3 kapal perang Bung Tomo Class sudah ready for use di segala cuaca disana. Jadi cepat tanggap dengan rentang kendali jarak yang lebih pendek.  Meski begitu intensitas pelanggaran teritori laut ZEE kita terang-terangan dan lebih sering dimasuki kapal nelayan asing.
Bung Tomo Class, mengawal Natuna
Maka sebenarnya kebutuhan untuk mengisi tiga armada tempur TNI AL adalah prioritas untuk segera dipenuhi. Tidak lagi berpola pikir kita tidak punya musuh.  Lha memang kita tidak suka cari musuh, akan tetapi mencermati dinamika kawasan di sekitar kita boleh jadi setiap saat bisa tercipta musuh dengan sendirinya.

Contohnya ya itu tadi wong kapal setingkat pengawas nelayan Vietnam saja berani menggertak kapal perang kita yang dikomandani setingkat kolonel lho. Bagaimana kalau yang menggertak kapal Fregat Vietnam, bisa saja kan. Atau tiba-tiba kapal selam Kilo nya muncul dari dalam laut. Jadi kita tidak mencari musuh tetapi dalam lintas perjalanan pengawalan teritori bisa saja terjadi insiden dan musuh tercipta dalam waktu singkat.

Oleh karena itu program pengadaan alutsista matra laut kita harus nomor satu yang paling  diprioritaskan selain matra udara. Kita kan negara maritim, negara yang halaman luasnya bernama perairan yang punya kekayaan sumber daya alam.  Kehadiran armada kapal perang kita yang melakukan patroli laut adalah kewajiban yang harus ditunaikan sepanjang jam dan sepanjang hari.
Armada kapal selam akan menjadi 8 unit thn 2024
Sebaran pangkalan sudah diperbanyak.  Lantamal-Lantamal sudah siap menampung kapal-kapal perang kita.  Isiannya yang masih kurang.  Saat ini jumlah kapal perang kita ada di kisaran 160-165 KRI berbagai jenis, separuhnya kapal tua.  Dan untuk KRI Striking Force yang kita miliki baru sampai pada tingkat Light Fregat.  Belum nendang jika berhadapan dengan negara di kawasan ini.

Martadinata Class perlu dilanjut, dari dua yang sudah dibangun paling tidak masih butuh 7 kapal perang lagi dari kelas ini. Kemudian pegadaan kapal perang jenis Destroyer sudah diulang-ulang disampaikan.  Bahkan petinggi Kemhan sudah bolak balik mengincar Destroyer kelas Iver. Tapi menurut kita langkahnya kurang tegap dan cepat.

KRI Striking Force kita minimal harus ada kekuatan penggentarnya yaitu Destroyer.  Memperbanyak KCR (Kapal Cepat Rudal) juga bagus sebagai kapal penyengat hit and run.  Namun untuk mewibawakan teritori laut yang disekitarnya ada tumpang tindih klaim selayaknya kita harus mempercepat proyek Destroyer. Dalam lima tahun mendatang harus ada minimal 6 Destroyer lengkap dengan persenjataannya. Itu kalau mau disebut berwibawa.

Jadi proyek KCR dengan PT PAL jalankan terus, termasuk proyek PKR Martadinata Class lanjutkan. Dan mulailah dipercepat pengadaan kapal perang jenis Destroyer.  Ini soal kecepatan pengambil keputusan, jalur koordinasi antar kementerian bisa diparalelkan.  Kalau perlu dekati Presiden dan Parlemen.  Jelaskan argumennya dengan kecerdasan. 

Soal ancaman nomor satu adalah bencana alam kita sudah sepakat.  Tapi soal terciptanya musuh setiap saat kita juga harus cerdas dong menghadapinya.  Salah satu bentuk kecerdasan itu ya dihadapi dengan kekuatan militer, mengerahkan kapal perang  Striking Force yang sudah terisi dengn berbagai jenis persenjataannya.

Contoh paling dekat adalah konflik India dan Pakistan, masing-masing punya kekuatan militer yang modern dan dua-duanya punya senjata nuklir.  Dan dua-duanya jadi segan untuk memperbesar eskalasi konflik.  Itulah salah satu kegunaan kalau punya militer yang kuat.  Adu otot terukur dalam bingkai kecerdasan diplomasi.  Lha kalau ototnya gak kuat diketawain dong sama yang menggertaknya.  Jadi kuatkanlah sekuat tenaga.
****
Solo, 3 Maret 2019
Jagarin Pane