Tuesday, February 12, 2019

Kogabwilhan, Menuju Network Centric Warfare


Ada  sejumput pertanyaan yang diungkap, meski program perkuatan militer Indonesia melalui program MEF (Minimum Essential Force) sudah berjalan 9 tahun, jika dibanding dengan era Trikora dan Dwikora masih kalah cepat, kalah kuantitas, kalah greget. Maka jawaban cerdasnya adalah waktu itu kita sedang berkonflik hebat dengan Belanda dan Malaysia. Jadi diperlukan kekuatan militer dengan alutsista yang detterens secepatnya.

Isian alutsista waktu itu dari ala kadarnya kemudian menjadi kekuatan penggentar hanya dalam waktu 7 tahun. Punya lebih dari 100 kapal perang, 12 kapal selam, 100 jet tempur dan pembom jarak jauh, peluru kendali SAM dan lain-lain.  Hasil perkuatan itu Belanda dengan nasehat dari AS harus angkat kaki dari Papua dengan diplomasi PBB.  Catatannya adalah kalau kekuatan militer kita tidak galak waktu itu maka Belanda tidak akan kabur dari Papua.
Pelabuhan Indah Kiat Cilegon, bisa jadi pangkalan AL
Nah saat ini sudah 9 tahun kita memperkuat militer kita. Memperkuat tentara kita saat ini adalah dalam rangka mengantisipasi dinamika kawasan yang mulai panas dingin.  Terutama sejak China mengklaim kawasan Laut Cina Selatan, meski Natuna tidak termasuk, kata dia. Tapi tidak ada jaminan itu akan tepat omongan. Lidah diplomasi itu tergantung suasana di hadapan dan suasana hati.

Maka menghadapi inkonsistensi lidah tak bertulang kita siapkan Natuna sebagai benteng pertahanan berkarakter lebah. Ada yang berani ganggu kita sengat. Isian berbagai jenis alutsista kita penuhi baik untuk matra darat, laut dan udara. Ada tiga lapis radar, ada kesiagaan jet tempur, ada patroli rutin KRI striking force, ada UAV, ada 1 brigade pasukan pemukul reaksi cepat.

Proses pengadaan alutsista sedang berjalan sebagaimana juga pembangunan di sektor lain. Peta jalan pengadaan alutsista ke depan adalah untuk memenuhi konsep interoperability antar matra dan bagian pengelolaan sistem pertempuran modern yang dikenal dengan Network Centric Warfare. Natuna adalah contoh yang sudah jadi hard infrastucture nya berupa pangkalan militer 3 matra.

Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) yang sudah dipersiapkan sejak 10 tahun yang lalu baru sekarang mulai direalisasikan. Artinya memang tidak perlu tergesa-gesa membentuk satuan baru ini. Disamping tidak efektif juga belum banyak keterisian alutsista pada sepuluh tahun yang lalu. Sama halnya ketika kita bangun kapal perang, tidak serta merta lengkap dengan isian sejumlah rudal dan lain-lain.  Semuanya bertahap sesuai ketersediaan anggaran.

Dua kapal perang striking force kita yang canggih Martadinata Class yang dibangun 2 tahun lalu baru sekarang diisi dengan berbagai jenis persenjataan berteknologi terkini.  Demikian juga dengan KRI Fatahillah yang baru diremajakan tidak perlu terburu-buru diinstall dengan persenjataan rudal anti kapal atau rudal anti serangan udara. Semuanya bertahap. 
Coast Guard (Bakamla) kekuatan lapis kedua TNI AL
Kapal-kapal Coast Guard kita (Bakamla) yang baru dibuat juga sudah disiapkan tempat untuk instalasi peluru kendali dan persenjataan mematikan.  Suatu saat jika diperlukan sebagai lapis kedua kekuatan angkatan laut selain TNI AL kapal-kapal Bakamla bisa dipersenjatai dengan rudal atau torpedo dan lain-lain.

Jika sekarang Kogabwilhan dioperasionalkan itu karena ruang kendali wilayah atau titik panasnya sudah ada yaitu Natuna. Pangkalan militer sudah ready for use, isian alutsista sudah disebar. Yang sedang dipersiapkan soft infrastructure Network Centric Warfare. Kogabwilhan diperlukan sebagai antispasi rantai komando lapangan di suatu wilayah yang mensinergikan 3 matra, bereaksi cepat dan tanggap.

Semua proses itu, pengadaan alutsista dan pembentukan Kogabwilhan, berjalan terukur dan direncanakan dengan baik oleh pemikir dan pengambil keputusan strategis di Kemhan dan Cilangkap. Semuanya bertahap dan lagian kita kan tidak dalam posisi berkonflik dengan negara lain. Ini tentu beda dengan suasana Trikora dan Dwikora dulu.

Kita mengantisipasi situasi di kawasan kita dengan perebutan teritori penyimpan sumber daya alam tak terbarukan. Contohnya Laut Cina Selatan, Ambalat dan boleh jadi suatu ketika ada yang coba mengganggu Papua. Makanya pembangunan Armada ketiga, Divisi ketiga Marinir, pembangunan skadron-skadron TNI AU dan Divisi ketiga Kostrad semuanya disebar di kawasan timur negeri ini utamanya di Papua.

Saat ini sedang berjalan proses-proses pemenuhan kebutuhan pertahanan kita.  Kita meyakini dalam program MEF jilid 3 periode 2020-2024 semua program pemenuhan kebutuhan untuk memperkuat militer kita bisa terlaksana dengan bagus.  Siapapun yang akan memenangkan pemilihan pemimpin negeri ini tahun ini, tetaplah dia selalu amanah dan istiqomah untuk memperkuat benteng pertahanan republik yang luas, kaya dan strategis ini.
****
Jagarin Pane / Yogya, 11 Februari 2019

Friday, January 18, 2019

Matahari Alutsista Bersinar Terang


Tidak terasa kita telah sampai di tahun 2019, tahun terakhir dari sebuah program antarrezim yang istiqomah, MEF-2 alias Minimum Essential Force jilid 2.  Kenapa disebut istiqomah karena dua pemerintahan yang berbeda karakternya tetap melanjutkan program modernisasi militer kita, MEF yang insyaAllah sampai jilid 3 periode 2020-2024.

Perkuatan militer Indonesia hukumnya “fardu kifayah” bagi bangsa ini dan “fardu ain” bagi pemerintahan negeri ini. Sebab jika tidak dilaksanakan atau terlambat melaksanakannya akan memberikan rasa malu yang luar biasa.  Sebab negeri kepulauan terbesar di dunia ini dengan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, dengan kekuatan sumber daya manusianya yang nomor 4 terbesar di dunia kok punya militer yang tak bergigi.
Kombinasi Apache dan Mi35, dua-duanya kita punya
Maka kita berterimakasih pada pemerintahan SBY dan Jokowi yang sampai saat ini masing-masing kebagian kerja satu jilid program MEF dan kita bisa lihat hasilnya yang cukup membanggakan. Berbagai jenis alutsista canggih sudah kita miliki dan pengadaan berbagai jenis alutsista semakin besar frekuensinya ditahun terakhir MEF jilid 2 ini.

Kita sedang memproses pengadaan 6 Drone Male (Medium Altitude Long Endurance) untuk mengawal Natuna. Kita sedang menunggu kedatangan 4 helikoper Chinook, kita sudah pesan 9 helikopter Bell 412Epi dan 8 helikopter Caracal. Kita juga sudah menganggarkan pembelian 8 helikopter Apache tahun ini. 5 Pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS akan memperkuat skadron Hercules.

Skadron Hercules dikembangkan dari 2 skadron menjadi 3 skadron.  Skadron yang baru berlokasi di Makassar. Skadron helikopter tempur dibangun di Jayapura, skadron pesawat angkut CN235 dibangun di Biak, skadron  UAV dibangun di Timika.  Sedang disiapkan 1 skadron jet tempur untuk melindungi Papua. Satuan radar militer dibangun di NTT, Bengkulu dan Morotai untuk menutup blank spot mata telinga teritori udara kita. Natuna sudah jadi pangkalan militer terintegrasi.

Parade HUT TNI, seperti sebuah lukisan indah
Kita juga sedang menunggu kedatangan 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Meski banyak dinamika dalam proses pengadaannya kita meyakini semua sesuai jadwal, minimal ada 2 jet tempur Su35 yang ikut meramaikan HUT TNI 5 oktober nanti. Sementara program radarisasi dan rudalisasi 15 jet latih tempur golden eagle sedang dikerjakan.

Setidaknya 3 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) dan 1 LPD rumah sakit segera memasuki inventori TNI AL. Matra laut ini juga sedang menunggu kehadiran pesanan kapal selam ke 3 Nagapasa Class yang dibuat di PT PAL kerjasama dengan Korsel.  Artinya tahun ini kita sudah memiliki 5 kapal selam. Dan tidak berhenti sampai disitu. 

Kemhan sedang bernegosiasi dengan saudara kita yang baik hati Korsel untuk melanjutkan transfer teknologi dengan kembali mengadakan pembangunan 3 kapal selam tambahan. Peran PT PAL semakin ditingkatkan dengan membangun beberapa modul kapal selam. Diharapkan dalam MEF 3 tahun 2020-2024 kita sudah memiliki 8 kapal selam canggih. Dan diharapkan teknologi pembuatan kapal selam relatif sudah kita kuasai pada saat itu.
Menyambut kapal selam baru Nagapasa Class
Kemhan juga sudah kontrak pengadaan 3 kapal perang jenis KCR (kapal cepat rudal) dengan PT PAL. Ini kontrak batch 2 dan kontrak batch 1 sudah menghasilkan 4 KCR Sampari Class. Lalu bagaimana dengan kelanjutan pembangunan kapal perang PKR10514 Martadinata Class. Sabar ya Om, bentar lagi juga ada beritanya.  Kontrak-kontrak skala besar di tahun terakhir MEF 2 akan berkibar di minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang.

Belum lagi program pengadaan jet tempur F16 Viper yang diniscayakan di MEF-3, pengadaan 2 kapal perang destroyer, makin cerah aja. Juga kedatangan MLRS Astross, Nexter, Ambulance militer, Vampire, Tank Amfibi, Tank Harimau dan lain-lain semuanya memberikan kebanggaan bagi kita yang cinta negeri ini.

Jadi tahun ini matahari alutsista kita bersinar terang, gak pake mendung dan semuanya menyambut dengan sukacita. Utamanya industri pertahanan strategis baik PT PAL, Pindad, PT DI, galangan kapal swasta nasional semuanya sedang menikmati hari-hari cerah dalam proses bisnis mereka.  Tidak terkecuali sang user TNI sebagai pemilik dan pengelola alutsista canggih tentu menyambut dengan mata berbinar.

Negeri kepulauan yang besar ini mutlak harus dilindungi dengan kekuatan militer yang berkualitas.  Maka perkuatan militer kita adalah bagian dari kesinambungan pembangunan di segala bidang. Tidak boleh dipisah-pisah apalagi dinomorduakan. Kita membangun perkuatan militer di Natuna, misalnya, adalah untuk menjaga harkat dan martabat teritori kita karena di utara kepulauan itu sedang terjadi demam berkepanjangan karena klaim Laut Cina Selatan.

Semoga program MEF kedepan nanti akan semakin memperlihatkan kehebatan militer kita yang memang sudah hebat dari sisi kualitas SDMnya. Kita terus perkuat alutsistanya sembari menyampaikan pesan kuat bagi siapa saja yang coba menganggu teritori NKRI, jangan coba-coba bermain api dengan teritori Indonesia.
****
Semarang, 18 Januari 2019
Jagarin Pane


Tuesday, December 25, 2018

Natuna, Menjawab Tantangan Atas, Kiri dan Kanan


Salah satu kawasan teritori yang demam terus menerus adalah perairan Laut Cina Selatan.  Penyebabnya semua sudah tahu, ambisi teritori Cina yang haus akan sumber daya alam tak terbarukan. Laut Cina Selatan kaya akan “nutrisi” untuk menghidupi masa depan milyaran warganya.

Kepulauan Natuna persis dihadapan klaim Cina terhadap pulau-pulau atol dan perairan Laut Cina Selatan (LCS). Cina membangun pangkalan militer besar dan menantang siapa saja yang coba-coba memasuki perairan LCS tanpa izin.  Nah Cuma AS yang bisa mengimbangi si Naga yang sedang menggeliat.

Namanya saja Naga yang menggeliat, bisa saja lalu ekornya atau semburan apinya masuk ke wilayah Natuna dan bilang : Ini punya owe juga, haiyya.  Maka kita pun bersiap menghadapi kondisi terburuk itu dengan membangun pangkalan militer terintegrasi segala matra. Dan infrastruktur pangkalan di Natuna baru saja diresmikan penggunaannya oleh Panglima TNI.

Kekuatan terintegrasi
Natuna sebagai teritori paling beresiko dan berada di garis depan teritori disiapkan untuk mampu bertahan dari serangan negara manapun yang coba mengusik teritori kita. Maka disana ada pangkalan AU, pangkalan AL termasuk pangkalan kapal selam. Ada berbagai jenis kesatuan tempur seperti Raider TNI AD, Paskhas TNI AU dan Marinir TNI AL.  Berbagai alutsista juga disiapkan termasuk satuan radar berlapis mulai dari Vera NG, Master T dan Weibel.

Dua elemen alutsista strategis yaitu KRI dan jet tempur hadir setiap saat selama 24 jam dan sepanjang tahun, bergiliran dan estafet. Namanya juga pangkalan pasti harus ada isinya dong. TNI AD menempatkan satuan artileri medan, kavaleri dan infanteri akan berkolaborasi dan berintegrasi dengan matra lain dalam sebuah skema network centric warfare.

Selain Natuna kita juga sedang menyiapkan pangkalan-pangkalan militer di NTT dan Papua. Di NTT disiapkan pembangunan batalyon armed dan kavaleri. Pangkalan TNI AL di Kupang ditempatkan beberapa KRI dan di El Tari disiapkan 1 flight jet tempur. Sementara di Sorong akan menjadi pangkalan induk Armada Tiga TNI AL, di Biak akan ada 1 skadron jet tempur dan 1 skadron pesawat angkut sedang.  Di Jayapura disiapkan 1 skadron helikopter dan Timika ditempatkan 1 skadron pesawat intai tanpa awak (UAV).

Kekuatan dan keberanian
Yang menarik tentu pangkalan militer strategis Natuna.  Meski disiapkan untuk menghadapi ancaman lidah Naga yang suka sembur sana sembur sini, juga memberikan manfaat ganda karena berada di titik strategis yang memisahkan Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.  Juga dekat dengan Singapura.

Pangkalan militer Natuna jelas memberikan dampak perhitungan strategi militer untuk Malaysia. Karena secara militer, Natuna bersama kekuatan Armada Satu TNI AL dan 3 skadron jet tempur TNI AU dianggap bisa menjadi penghadang atau mampu melakukan blokade militer untuk aliran kapal perang dan jet tempur Malaysia yang akan ke Malaysia Borneo atau sebaliknya.

Jadi manfaat ganda dari adanya pangkalan militer segala matra di Natuna tentu memberikan kebanggaan tersendiri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pemikir strategis pertahanan kita ketika merencanakan pangkalan militer itu tentu tidak lepas dari “bau-bau” klaim teritori Ambalat oleh Malaysia. Maka kehadiran pangkalan Natuna memberikan efek gentar bagi Malaysia. Mau coba-coba klaim lagi sudah ada Natuna di depan hidung.

Maka pekerjaan selanjutnya adalah memberikan isian menu paket lengkap untuk mencukupi kebutuhan gizi alutsista di Natuna dengan gelar permanen alutsista strategis. Termasuk kesiapan pangkalan militer pendukung utama di Batam, Tanjung Pinang, Pekanbaru dan Pontianak.  Natuna tidak sendirian, dia di back up penuh oleh pangkalan militer di dekatnya.

Kita meyakini dalam beberapa bulan mendatang akan ada kontrak pengadaan alutsista skala besar seperti pengadaan lanjutan 3 kapal selam, 2 kapal perang destroyer, 2 fregat, 1 skadron jet tempur, UAV, Helikopter dan lain lain. Perkuatan militer kita akan terus berlanjut untuk memastikan seluruh teritori negeri ini terlindungi, terawasi dan berwibawa.

Natuna sudah menunjukkan kewibawaannya, bahwa kita tidak main-main soal kewibawaan teritori, kita mampu membangun kekuatan militer kita, kita juga mampu membangun industri pertahanan strategis kita baik yang dimiliki BUMN maupun swasta. Inilah salah satu kebanggaan kita memperkuat militer, industri pertahanannya pun ikut berkibar mekar.
****
Semarang, 25 Desember 2018
Jagarin Pane

Saturday, December 15, 2018

Dua Jiran Sedang Bersitegang


Selat Johor yang memisahkan dua negara jiran,  Malaysia dan Singapura, hari-hari belakangan ini sedang memperlihatkan cuaca tidak bersahabat. Sebabnya tentu soal batas teritori air dan udara yang saling klaim sehubungan dengan perluasan pelabuhan masing-masing negara. 

Singapura sedang memperluas pelabuhan Tuas melalui reklamasi laut sepanjang 10 km dan akan beroperasi tahun 2020 nanti.  Khawatir tersaingi Malaysia juga bergegas memperluas pelabuhan Johor Baru yang sangat dekat dengan pelabuhan Tuas. Malaysia juga berencana mengambil alih kontrol penerbangan di Johor dari Singapura.

Singapura, negeri mungil paling sejahtera di ASEAN dan punya koleksi alutsista terbaik di kawasan ini kemudian memperlihatkan taring kekuatannya dengan mengerahkan sejumlah kapal perang, jet tempur, helikopter apache dan UAV ke perairan sengketa yang tidak terlalu luas itu. Sementara Malaysia cuek aja melewati perairan yang sedang dipersengketakan itu bahkan menaruh kapal MV Polaris untuk berdiam diri.


Kedua negara juga pernah bersengketa soal pulau Batu Putih (Pedra Branca) yang berada di pertemuan selat Singapura dan Laut Cina Selatan. Secara historis pulau kecil itu ada dalam wilayah kesultanan Johor. Namun ketika diuji di sidang Mahkamah Internasional tahun 2008 diputuskan pulau itu milik Singapura.

Perseteruan antar jiran adalah sesuatu yang lumrah terjadi, sebagaimana dulu ketika Ambalat diributkan antara Malaysia dan Indonesia. Malaysia yang merasa diatas angin karena bisa mendapatkan Sipadan dan Ligitan melalui sidang Mahkamah Internasional tahun 2003 lalu melanjutkan klaim atas Ambalat dengan mengerahkan sejumlah kapal perang.

Waktu itu mereka tidak menunjukkan sikap sebagai sahabat ASEAN dan mengerahkan sejumlah kapal perang ke perairan Ambalat. Jujur saja waktu itu kekuatan udara mereka mengungguli kita yang sedang terpuruk ditambah lagi dengan kehadiran kapal selam barunya yang berpangkalan di Teluk Sepanggar Sabah.

Tetapi waktu itu kita hadapi Malaysia dengan kekuatan militer juga sembari bertekad memperkuat dan memodernisasi militer dalam sebuah kurikulum strategis yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force).  Dimulai tahun 2010 sampai sekarang program MEF kita telah menghasilkan perkuatan militer yang sudah mengungguli Malaysia.  Bahkan Natuna kita jadikan pangkalan militer besar yang lokasinya sangat strategis tepat berada ditengah Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.

Kekuatan militer Singapura jelas mengungguli Malaysia. Apalagi kondisi militer Malaysia saat ini sedang tidak “bahagia” akibat ulah rezim terdahulu yang tidak cakap dalam mengelola pemerintahan. Rasio hutang terhadap PDB negeri melayu itu saat ini berada dikisaran 74%, tentu sangat berat beban yang ditanggung APBN Malaysia.

Pada saat yang bersamaan negara-negara ASEAN lainnya sedang menunjukkan kuantitas belanja alustsista yang terus menerus.  Filipina terus memperkuat alutsista negerinya dengan membeli berbagai peralatan militer. Thailand juga memperkuat otot militernya, tidak ketinggalan Vietnam yang ada di garis depan persengketaan teritori dengan Cina. Indonesia sudah sama-sama kita ketahui belanja terus lho Om. Sementara Malaysia hanya berdiam diri.

Singapura jelas tak tertandingi soal anggaran belanja militernya dan terus memperkuat pagar teritorinya dengan model pre emptive strike. Maka ketika silang sengketa soal perairan di Selat Johor memanas, wajar saja dia unjuk kekuatan  karena memang dia punya kekuatan menyengat yang luar biasa. Soal siapa yang salah dan siapa yang benar tentang kepemilikan teritori itu jadi urusan diplomasi antara keduanya.

Maka pelajarannya yang diambil dari sengketa antar jiran adalah, jangan abaikan kekuatan dan perkuatan militer.  Karena militer adalah bagian dari kekuatan diplomasi sebuah negara. Unjuk kekuatan militer Singapura terhadap Malaysia di Selat Johor bisa dipandang sebagai ledekan dan ejekan untuk jiran utaranya itu.

Program MEF kita yang sedang berlangsung saat ini juga merupakan  langkah strategis untuk menunjukkan kepada jiran bahwa kita jangan dianggap remeh. Kita perkuat militer kita sejalan dengan perkuatan ekonomi karena antara keduanya adalah investasi untuk menuju marwah negeri berdaulat, bergengsi dan berotot.

Tentu kita berharap sengketa antara kedua jiran itu bisa diselesaikan secara baik dan terhormat melalui jalan diplomasi. Antara keduanya saling membutuhkan satu sama lain.  Kedepankan etika ASEAN dan saling menahan diri. Singapura jelas butuh jirannya Malaysia juga sebaliknya Malaysia membutuhkan Singapura dalam banyak hal.
****
Solo, 15 Desember 2018
Jagarin Pane

Monday, November 26, 2018

Perhatikan Selatan Jawa


Negeri kepulauan ini pusatnya adalah pulau Jawa sekaligus jantungnya Indonesia.  Jadi urusan merawat kesehatan dan keamanan jantung adalah prioritas utama. Ada separuh populasi penduduk negeri ini bermukim di Jawa, padahal pulau ini paling kecil diantara lima pulau besar. Disini juga pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan industri, pusat peredaran mata uang dan tentu saja pusat pertahanan kita.

Itu sebabnya dua divisi Kostrad ada di Jawa, juga dua divisi Marinir, dua Armada KRI, tiga skadron jet tempur.  Artinya se apes-apesnya pertahanan negeri ini yang mampu diobrak abrik negeri agressor, setidaknya Jawa akan memberikan payung pertahanan terakhir dan akan dipertahankan sampai titik darah penghabisan.
Pertahanan udara jarak jauh dan mobile, jet tempur
Meski kita sedang memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan seperti Natuna, Tarakan, Kupang dan Sorong namun konsep pertahanan untuk pulau Jawa adalah yang nomor satu.  Dan titik krusial yang paling penting untuk diamati adalah selatan pulau Jawa. Lho kok bisa, bukankah selatan pulau Jawa bersinggungan dengan lautan dalam yang sepi dan nyaris tak ada keramaian lalulintas kapal.

Iya benar tetapi jarak udara pulau Christmast ke Jakarta hanya 1200 km.  Terlalu dekat untuk dicapai jet tempur atau bomber negeri yang menggunakan fasilitas pangkalan disana. Teknologi pertempuran masa depan juga memastikan Jakarta ada dalam genggaman serangan udara yang sangat mudah dihancurkan. Saat ini praktis tidak ada payung udara area pelindung ibukota.

Kehadiran jet tempur siluman F35 di selatan negeri atau bahkan F22 Raptor sudah wira wiri tanpa ketahuan, boleh jadi dalam strategi militer begitu telanjangnya Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Jawa. Belum lagi perairan Selatan Jawa dan Selat Sunda yang dalam, sebagai lintasan kapal induk sangat dekat dengan ibukota.

Bagaimana merawat dan menjaga jantung itu dari berbagai indikasi serangan jantung, tentu sudah ada dalam benak pemikir strategis pertahanan Indonesia. Maka penempatan skadron jet tempur Sukhoi SU35 di Jawa dan pergelaran satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah di ibukota dan kota besar di Jawa adalah langkah cerdas.
Laut Cina Selatan, sudah terjadi
Natuna kita perkuat sebagai pangkalan militer garis depan, juga Tarakan, Kupang, Biak dan Sorong sebagai pangkalan militer di perbatasan.  Hampir semua posisi pertahanan garis depan itu menghadap utara atau di atas Jawa. Artinya posisi pertahanan negeri menghadapi posisi musuh dari utara. Jadi Jawa punya perisai pangkalan militer di utara negeri, tapi di selatan tidak ada.

Menguatkan payung pertahanan Jawa adalah dengan menempatkan posisi satuan radar teknologi terkini berlapis baik radar pasif maupun radar aktif. Perluasan jangkauan pertahanan udara dari sekedar pertahanan hanud titik menjadi hanud area adalah untuk menghilangkan missing link dari jet tempur ke pertahanan pangkalan dan obyek vital.

Jet tempur adalah model pertahanan udara jarak jauh, sangat mobile dan pre emptive strike. Sangat perlu dilapis dengan model pertahanan udara area dengan menempatkan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah yang bisa dipindah-pindah. Dan lapisan terakhir dengan pertahanan udara titik atau pertahanan udara pangkalan dan obyek vital dengan satuan peluru kendali jarak pendek.

Tiga lapis pertahanan udara ini sudah maksimal dan tentu memerlukan bahasa komunikasi dan koordinasi alias interoperability antar satuan. Kita tidak perlu membahas bahasa teknisnya karena ini wilayah inteligent network military. Tetapi intinya adalah jangan sampai terjadi insiden friendly fire atau hancurnya tiga lapis pertahanan udara sekaligus dalam mengelola manajemen pertempuran modern yang penuh dengan tipudaya teknologi terkini.

Masa depan militer kita adalah menyempurnakan 3 lapis pertahanan udara dengan prioritas Jawa. Penambahan jumlah jet tempur, penempatan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah, satuan peluru kendali jarak pendek dan penguatan radar berlapis mutlak diperlukan. Lima tahun ke depan diprediksi kekuatan tiga lapis itu bisa tercapai.

Masa depan negeri ini selain pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan juga ditentukan oleh kekuatan militernya, tidak sekedar pintar dan cerdas berdiplomasi.  Masa depan kawasan kita adalah memperebutkan sumber daya energi.  Masa depan kawasan kita adalah pertarungan memperebutkan hegemoni ekonomi dan militer antara penantang Cina dan petahana AS.

Maka kita tidak boleh lengah atau berantai-santai untuk soal ini. Keterbatasan sumber daya energi masa depan membuat setiap negara mencari terus menerus sumber daya energi di setiap sudut bumi. Teritori kita kaya dengan sumber daya energi. Maka untuk menjaganya kita wajib perkuat terus lapis pertahanan kita dengan sekuat-kuatnya.

Sama dengan orang yang lapar, dia akan mengais makanan tidak peduli asal usulnya. Masa depan dunia adalah lapar dengan sumber daya energi.  Maka perebutan sumber daya energi akan terjadi. Laut Cina Selatan sudah terjadi, boleh jadi besok atau lusa Papua dan Arafuru. Salah satu cara efektif adalah lumpuhkan jantungnya dulu.  Dan dia adalah Jawa.

****
Solo, 26 Nopember 2018
Jagarin Pane

Sunday, November 11, 2018

Kabar-Kabar Yang Membungakan Hati


Pergelaran Indo Defence 2018 di Kemayoran Jakarta baru saja usai. Pameran teknologi pertahanan terbesar di Asia Tenggara ini diikuti 867 peserta dari 60 negara berlangsung selama 3 hari mulai anggal 7-10 Nopember 2018. Berbagai produk dari industri pertahanan strategis negeri ini diperlihatkan.  Sangat membanggakan dan luar biasa.

Kabar-kabar yang membungakan hati yang harus diceritakan dari forum Indo Defence 2018 adalah lanjutan serial Changbogo Class alias Nagapasa Class akan tetap digelar. Dengan kembali membangun produksi bersama tiga kapal selam canggih. Sebelumnya lewat proses transfer teknologi dari Korea Selatan telah dibangun tiga kapal selam yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405.  KRI Alugoro 405 dirakit di PT PAL Surabaya dan saat ini dalam proses seremoni untuk sea trial.
Indo Defence 7-10 Nopember 2018
Berlanjutnya pembangunan kapal selam ke 4,5 dan 6 kita sambut hangat karena ini berarti proses alih teknologi akan berlanjut terus. Teknologi pembuatan kapal selam adalah teknologi yang paling sulit diperoleh, maka kerjasama dengan Korsel adalah pilihan terbaik.  Karena kita tidak sekedar membeli tetapi juga ingin mendapatkan teknologinya.

Galangan kapal selam PT PAL di Surabaya adalah investasi bagus yang pada saatnya nanti memberikan nilai prestise untuk negeri ini karena sudah mampu menguasai teknologi kapal selam. Saat ini disamping mempersiapkan peluncuran KRI Alugoro 405 galangan kapal selam ini sedang meng upgrade KRI Cakra 401 dengan biaya US$ 40 juta.

Kerjasama dengan Korea Selatan yang lain adalah kontrak pengadaan lanjutan pesawat latih KT1 Wong Bee dan instalasi radar dan rudal pesawat golden eagle yang kita kenal dengan T50 buatan Korsel. Pesawat yang dikenal dengan julukan baby falcon ini akan bermanfaat sebagai jet tempur patroli udara jika sudah diinstalasi radar dan rudal.

Tank Harimau produksi PT Pindad hasil kerjasama dengan Turki akan mulai diproduksi massal akhir tahun ini.  Kebutuhan potensial TNI AD mencapai 400 unit tank. Lebih dari itu PT Pindad juga melirik pasar ekspor, sebuah langkah yang cerdas. Demikian juga dengan panser amfibi Pandur II kerjasama dengan Ceko prospeknya sangat cerah dengan potensi membuat sebanyak 275 unit.

PT PAL yang sudah mengekspor 2 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) ke Filipina kembali mendapat pesanan dari jiran yang baik hati ini. Filipina akan memesan 2 kapal sejenis untuk memperkuat angkatan lautnya. Dua Kapal LPD yang sudah diserahkan setahun yang lalu ternyata sangat membantu dalam operasi logistik militer menumpas pemberontak di Marawi Filipina.
Martadinata Class
PT PAL juga akan kembali mendapatkan proyek pembangunan kapal perang jenis PKR (Perusak Kawal Rudal) kerjasama dengan Belanda, lanjutan dari Martadinata Class yang sudah dibangun dua unit. Sementara 2 PKR yang sudah jadi yaitu KRI Raden Edy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332 akan dilengkapi dengan persenjataan anti serangan udara VL Mica tahun depan.

Paskhas TNI AU kembali akan memperoleh alutsista canggih Oerlykon Skyshield untuk melindungi pangkalan militer utama di negeri ini, termasuk Natuna. Paskhas juga sudah memperoleh belasan Ranpur Turangga untuk mobilitas pasukan. Sementara alutsista jenis NASAMS yaitu satuan peluru kendali darat ke udara jarak sedang, akan melindungi ibukota Jakarta.

Banyak sekali yang mau diceritakan kabar-kabar yang membungakan hati. Tetapi kalau diceritain semua jadi kepanjangan dong nulisnya. Belum lagi soal mau diakuisisnya 2 Fregat rasa Destoyer Iver, 5 Hercules seri J dari AS, 8 Heli Chinook dari AS, tambahan 8 Heli serbu Apache juga dari AS. Dan bahkan yang sedang ditunggu dengan harap-harap cemas, pembelian minimal 1 skadron jet tempur primadona F16 Viper.

Kita masih membutuhkan kuantitas berbagai jenis alutsista. Pembentukan Kostrad Divisi III, pembentukan Pasmar III, Pengembangan Armada III dan Koopsau III semua untuk kawasan timur Indonesia. Tentu ini memerlukan isian berbagai jenis alutsista. Nah tahun depan dikucurkan dana di kisaran US $ 5,2 Milyar atau 70 trilyun khusus untuk beli berbagai jenis alutsista. Klop kan, ada uang ada barang dan mutu tentu tidak mengkhianati harga kecuali di mark up.

Kita selalu bersuara lantang agar modernisasi militer kita harus terus dilanjutkembangkan dengan sebuah pesan kuat.  Bahwa membangun militer negeri kepulauan ini bukanlah beban atau biaya yang memberatkan tetapi dia adalah investasi besar untuk eksistensi negara kepulauan terbesar. Militer adalah adrenalin eksitensi berbangsa dan bernegara.

Negeri yang luas dan kaya sumber daya alamnya ini harus dilindungi dan dipayungi dengan kekuatan militer yang andal.  Kita tidak mencari musuh, kawan kita juga banyak tetapi soal masa depan adalah potensi konflik memperebutkan sumber daya energi dan sumber daya alam. Maka selayaknya kita punya kekuatan militer yang dapat diandalkan secara teknologi dan kuantitas. Iya kan.

Jagarin Pane
Semarang 11 Nopember 2018

Friday, October 26, 2018

Matahari 2019 Cerah Banget


Barusan Menkopolhukam Wiranto memberikan kabar bagus yang membungakan.  Anggaran khusus untuk beli alutsista tahun 2019 sudah disiapkan, besarannya 75 trilyun rupiah. Dari jumlah yang besar itu sangat terbuka pembelian alutsista TNI dalam jumlah yang signifikan.  Dan sebagaimana prediksi kita akan ada kontrak pengadaan alutsista dalam skala besar.

Kita patut mensyukuri, karena perkuatan alutsista militer kita sejatinya bukan beban negara tetapi investasi untuk tujuan jangka panjang sejalan dengan perjalanan eksitensi bangsa ini. Program MEF yang sudah berjalan selama 9 tahun akan semakin memperlihatkan kuantitas dan kualitas persenjataan TNI.  Meski harus diakui masih jauh dari kriteria ideal.
Sudah ada dua, mau nambah dua lagi Martadinata Class

Prediksi jenis alutsista yang akan dibeli Indonesia tahun depan adalah :

1.     2 Kapal perang jenis destroyer Iver Class
2.     2 Kapal perang pengadaan lanjutan Martadinata Class
3.     3 Kapal cepat rudal
4.     2 Kapal penyapu ranjau
5.     2 Kapal selam pengadaan lanjutan Nagapasa Class
6.     5 Pesawat angkut berat Hercules type J
7.     8 Helikopter angkut serba guna Chinook
8.     8 Helikopter serang Apache batch 2
9.    16 jet tempur F16 Viper
10. 60 Tank amfibi untuk Marinir
11. 60 Panser amfibi untuk Marinir
12. 60 Tank harimau untuk TNI AD
13.   5 battery peluru kendali Nassam
14. 16 UAV
15.   5 Radar Master T

Sementara dalam waktu dekat ini akan ada peluncuran kapal selam baru KRI 405 Alugoro bersama 1 kapal perang jenis LPD KRI Semarang 504 di Surabaya.  Kapal perang lainnya yang akan diselesaikan tahun ini adalah 2 kapal jenis LST Bintuni Class, 1 kapal tanker Tarakan Class,  2 Kapal cepat rudal dan 3 Kapal patroli cepat.
Kita juga sedang menantikan kedatangan alutsista jenis peluru kendali jarak sedang Nassam, kedatangan lanjutan rudal Starstreak, Radar master T dan MLRS Astross. Sementara 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang sudah ditandatangani kontraknya akan mulai berdatangan akhir tahun depan lengkap dengan persenjataannya.

Program pengadaan Tank harimau produksi bersama Pindad dan Turki sedang mempersiapkan produksi massal akhir tahun ini. TNI AD untuk tahap I memesan 54 unit sementara kebutuhan yang diperlukan matra darat ini ada di kisaran 400 unit. Paskhas TNI AU juga sudah mulai menerima puluhan Ranpur Turangga dari industri pertahanan swasta nasional.

Dengan begitu semakin cerah dan benderang perjalanan perkuatan alutsista militer kita.  Dan program ini akan berlanjut terus sampai tahun 2024 sebagaimana harapan target Minimum Essential Force (MEF) TNI bisa tercapai. Setelah itu tentu akan bergerak pada kebutuhan menuju kriteria ideal. Semoga.

****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2018