Thursday, August 16, 2018

Ketika Alutsista Jiran Anjlok


Adalah menteri pertahanan Malaysia Muhammad Sabu yang membuat heboh negeri itu dan negeri-negeri  jirannya ketika dia mengatakan dari 28 jet tempur yang dimiliki Malaysia hanya 4 yang bisa terbang. Pernyataan Mat Sabu, julukannya, disampaikan di Parlemen Malaysia 31 Juli 2018 yang lalu.

Malaysia memperkuat angkatan udaranya mulai tahun 1995 dengan 10 jet tempur Mig29,18 jet tempur Sukhoi MKM, semuanya buatan Rusia dan 8 jet tempur F18 Hornet buatan AS. Pada era yang sama sebenarnya Indonesia juga sedang memperkuat militernya dengan memesan 9 jet tempur F16 yang tidak jadi dibeli Pakistan, 6 kapal selam U206 dari Jerman dan jet tempur Sukhoi dari Rusia. Kecuali pesanan F16 yang dibatalkan Presiden Clinton, krisis ekonomi 1997 menggagalkan semua rencana indah itu.
Seperti lukisan, parade HUT TNI ke 72.
Pernyataan menhan jiran itu ditujukan untuk pesawat made in Rusia, Mig 29 dan Sukhoi MKM yang jumlahnya 28 unit sementara 8 jet tempur F18 Hornet yang dimilikinya tidak ada permasalahan operasional. Terbukti Malaysia mampu mengirimkan 5 jet tempur Hornet ke ajang Pitch Black di Darwin Australia akhir bulan Juli lalu. Indonesia sendiri mengirimkan 8 jet tempur F16 blok 52 Id dan 2 Hercules untuk mengikuti serial latihan teknologi tempur udara Pitch Black di Darwin.

Anjloknya alutsista negeri jiran itu mengingatkan kondisi militer kita pasca krisis keuangan tahun 1997-1998 yang memaksa jatuhnya sebuah rezim. Ironinya ketika militer kita sedang mengalami keterbatasan alutsista berbagai persoalan muncul. Gejolak Timor Timur yang menghebat, Aceh kembali membara dan Maluku berdarah-darah.  Belum lagi ibukota Jakarta yang juga perlu pengawasan ketat.

Ketika semua itu harus kita jalani dengan ketabahan tiba-tiba arogansi militer dan diplomasi Malaysia dipertontonkan dengan mengambil pulau Sipadan dan Ligitan.  Ketika angkatan udara kita berpatroli di Sipadan dengan 4 pesawat OV10 Bronco mereka mengusirnya dengan mengirim jet tempur F5E. Lewat jalur mahkamah internasional Malaysia berhasil menguasai wilayah itu.

Merasa diatas angin militer mereka lalu menerobos masuk Ambalat dengan asumsi karena sudah menguasai pulau Sipadan dan Ligitan maka teritori perbatasan laut juga berubah.  Menurutnya Ambalat milik mereka karena teritori laut Indonesia “harus turun” setelah pulau Nunukan sampai Derawan Kaltara.
Angkatan Udara Indonesia
Semua komponen bangsa ini marah besar kepada jiran yang angkuh itu.  Maka presiden SBY membuat rencana besar dengan membangun militer secara sistematis dan berkelanjutan. Meski dalam pernyataan tegasnya SBY menyatakan bahwa perkuatan militer kita untuk mengantisipasi dinamika kawasan Laut Cina Selatan, tetapi berlaku pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Hasilnya saat ini bisa kita lihat perolehan berbagai jenis alutsista yang jauh meninggalkan negeri jiran yang sejatinya paling dekat bangunan kulturnya. Kita sudah punya 16 Sukhoi SU27/30, mau nambah lagi dengan 11 SU35.  Kita sudah memiliki 33 jet tempur F16, mau nambah minimal 1 skadron lagi. Kita sudah punya 172 KRI termasuk 5 kapal selam.  Kita juga memperkuat angkatan darat dengan berbagai jenis alutsista seperti Tank Leopard, Marder, Astross, Nexter, KH178/179 dan lain-lain. Capek nyebutinnya satu persatu.

Alutsista negeri jiran sedang terpuruk. Keangkuhan forumer militernya pun ikut anjlok dan “kalah malu”. Sangat berbeda ketika mereka diatas angin. Ampun dah, segala macam ejekan, hinaan dan cercaan diarahkan kepada bangsa besar ini. Arah angin berubah dan kita sudah berada diatas mereka tetapi tidak perlu pula kita tunjukkan “keangkuhan jilid dua”.

Sekedar catatan, esensi pembangunan pangkalan militer skala besar di Natuna sesungguhnya memiliki kemampuan memblokade aliran militer jiran dari Semenanjung ke Sarawak dan Sabah. Ini yang disebut “sambil menyelam ngintip tetangga”. Meski arahnya ditujukan untuk mengantisipasi demam Laut Cina Selatan karena klaim Cina, manfaat lain dari pangkalan militer Natuna adalah peringatan dini untuk jiran agar tidak macam-macam di Ambalat.

Pelajaran untuk jiran adalah jangan merasa hebat dan memandang remeh tetangganya yang bernama Republik Indonesia. Negeri ini adalah negeri pejuang, tahan uji, tahan derita.  Perekatnya adalah nilai kesatuan dan nasionalis patriotik yang sangat kuat.  Indonesia mampu memperlihatkan dinamika kesatuannya sampai di usianya yang ke 73.

Militer Indonesia akan terus diperkuat untuk menunjukkan marwah teritori yang berkualitas tanpa harus merasa hebat. Maka ketika negeri jiran sedang mengalami kesulitan beralutsista tidak perlu juga kita lalu merasa gantian menghina dan mencerca. Yang penting kita bangun terus kekuatan militer kita sehebat mungkin. Selamat ulang tahun kemerdekaan negeri tercinta Indonesia. 

****
Jakarta / 16 Agustus 2018
Jagarin Pane

Wednesday, August 8, 2018

Titik Terang Pertumbuhan Angkatan Udara Kita


Salah satu matra penting yang sedang dikembangkuatkan dalam program modernisasi militer Indonesia adalah tentara langitnya. Angkatan udara sebuah negara memegang peran kunci dalam pertempuran teknologi tinggi sekaligus menggambarkan hebatnya marwah sebuah negara. Dalam kondisi damai kehebatan angkatan udara yang dimiliki sebuah negara menjadi kewibaan yang pantas disegani.

Saat ini kekuatan angkatan udara kita ditopang oleh 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 34 jet tempur F16, 33 jet tempur Hawk100/200, 15 jet latih tempur T50 dan 15 pesawat coin Super Tucano. Kekuatan yang dimiliki saat ini hanya bisa dikalahkan ketika masa Dwikora dan selama pemerintahan Orde Baru kekuatan sebesar ini tidak pernah tercapai. Artinya inilah kekuatan terbesar yang pernah kita miliki setelah era Dwikora.
F16 kita, stand by

Perolehan kekuatan pukul tentara langit ini patut kita syukuri namun untuk mendapatkan keperluan penjagaan teritori dirgantara negeri  ini, jumlah itu sesungguhnya belum memadai.  Maka rencana kedatangan alutsista strategis 11 jet tempur canggih Sukhoi SU35 mulai tahun depan lengkap dengan persenjataannya adalah sebuah penantian yang sangat dtunggu dan dirindukan.

Harus diakui kehadiran jet tempur Sukhoi SU35 memberikan angin segar yang membanggakan. Karena alutsista canggih ini akan menempatkan Indonesia setara dengan kekuatan yang ada di kawasan setidaknya dari sudut pandang teknologi. Cina sudah memiliki SU35, Australia dan Singapura sudah mendapatkan F35.

Kemudian penempatan SU35 di Iswahyudi AFB utamanya adalah untuk melindungi pulau Jawa sebagai pulau paling utama dan sebagai jantung Indonesia. Disamping itu posisinya yang berada di tengah selatan negeri kepulauan ini mampu menjangkau seluruh sudut teritori negeri. Sangat dimungkinkan jumlah SU35 akan ditambah 5 unit lagi sehingga menjadi kekuatan 1 skadron penuh.

Dalam perkembangan terakhir isian alutsista TNI AU selain jet tempur SU35 akan segera diisi dengan 5 pesawat angkut berat Hercules type J, 2 skadron jet tempur F16 Viper, 2 unit jet tanker, 2 unit AWACS, 4 unit pesawat amfibi, 16 unit UAV, 6 unit radar. Pemenuhan ini diyakini akan dapat terpenuhi dalam 4 tahun ke depan.

Peta jalan pertumbuhan kekuatan angkatan udara kita perlu kita sambut hangat. Proyeksi kekuatan yang direncanakan dan dipublikasikan akan memberikan pesan kuat kepada kita bahwa TNI AU ingin mendapatkan postur kekuatan dengan dukungan semua pihak. Kasus pengadaan helikopter AW101 beberapa waktu lalu memberikan pelajaran penting dan pahit  pada TNI AU.
Hercules kita, akan mencapai 40 unit.
Infrastruktur untuk menampung jet tempur yang singgah dan menginap sudah tersedia di Medan, Batam, Natuna, Tarakan, Manado, Biak dan Kupang. Misalnya untuk patroli udara skadron F16 dari Pekanbaru ke Natuna bisa singgah di Batam. Natuna, Biak dan Kupang adalah proyeksi terkuat penempatan lokasi skadron jet tempur TNI AU dalam waktu dekat.  Sudah dibentuk Koopsau III di Biak sebagai bagian memperkuat payung kekuatan udara kita di Timur.

Sembari mempersiapkan itu semua yang paling utama adalah menyediakan SDM Airmanship yang profesional. Karena seluruh airmanship berada pada lingkaran teknologi terkini yang harus terus diperbaharui kapabilitas dan kualitasnya. Kekuatan dan keunggulan angkatan udara ada di alutsista dan teknologinya. Maka personil yang menanganinya haruslah orang yang cerdas dan profesional.

Sudah saatnya kita memiliki kekuatan angkatan udara yang sepadan dengan luasnya wilayah teritori negeri ini. Dan karena membangun kekuatan tentara langit membutuhkan anggaran investasi besar maka pentahapan sesuai urgensinya sangat diperlukan. Kita perlu pesawat AWACS, kita perlu pesawat tanker, kita perlu radar juga UAV maka paket-paket ini menjadi prioritas.

Sinergi interoperability juga sedang dibangun diantara tiga angkatan. Dalam operasional pertempuran sinergi komunikasi, koordinasi dan komando sangat diperlukan dan AWACS memegang kendali manajemen pertempuran udara. Simulasi-simulasi interoperability  sudah mulai diuji coba secara parsial intra angkatan.

Perkuatan angkatan udara kita adalah bagian dari kesadaran pengambil kebijakan.  Bahwa kewibawaan dan mewibawakan teritori udara adalah kemutlakan yang tidak boleh ditunda hanya karena soal pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai. Angkatan udara adalah teknologi dan lambang marwah teritori. Maka pertumbuhan kekuatannya sangat kita apresiasi, kita doakan dan kita nantikan.
****
Jagarin Pane
Jakarta / 8 Agustus 2018

Wednesday, August 1, 2018

Semua Akan Perkasa Pada Waktunya


Payung kedaulatan dan marwah teritori negeri ini terus dibangunbesarkan di segala penjuru. Barusan kita mendengar kabar membanggakan (yang sudah lama ditunggu-tunggu sih) bahwa kawasan Indonesia Timur khususnya Papua mulai tahun depan akan ditempatkan skadron tempur, skadron angkut, skadron UAV dan skadron helikopter.

Sejalan dengan pesanan-pesanan alutsista yang akan terus berdatangan maka infrastuktur pangkalan militer disiapkan sejak awal. Manuhua Biak AFB, Silas Papare Jayapura AFB sudah naik kelas A disiapkan sebagai markas skadron. Di Biak sedang dibangun markas Koopsau III, di Jayapura sedang dibangun satuan radar militer, sementara di Sorong sudah ditetapkan sebagai markas komando armada III TNI AL.
F16 di Biak AFB
Jet tempur Sukhoi SU35 mulai tahun depan sudah mulai berdatangan demikian juga dengan pesawat angkut Hercules seri J dari AS sudah mulai mengisi armada skadron angkut berat. Saat ini TNI AU memiliki 36 Hercules dengan 2 skadron angkut berat. Sementara 15 jet latih tempur T50 Golden eagle sudah dilengkapi radar canggih yang mampu mengendus tajam dan 10 jet tempur F16 blok 15 sudah di MLU kan.

Khusus Papua memang sudah sepantasnya punya perlindungan militer yang kuat dan hebat. Pembentukan Armada III yang bermarkas di Sorong setidaknya akan mendapatkan 35-40 KRI berbagai jenis. TNI AD juga membangun Divisi III Kostrad di timur Indonesia dimana 1 brigade akan ditempatkan secara permanen di Papua bersama isian alutsistanya. Koopsau III dengan pusat kendali di Biak akan memiliki 4 skadron.

Dengan asumsi 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang datang nanti ditempatkan di Iswahyudi AFB maka pergeseran yang paling mungkin adalah memindahkan 1 skadron F16 ke Biak dan Kupang. Skadron helikopter TNI AU akan bermarkas di Jayapura, skadron UAV masih akan ditentukan penempatannya. Skadron UAV punya misi penting untuk memantau perbatasan negeri.  

Isian jet tempur TNI AU akan terus ditambah.  Setelah mendapat “restu” dari Kongres AS bersama dua negara lain yaitu Vietman dan India yaitu : boleh-boleh saja belanja alutsista Rusia, tapi beli juga dong barang dagangan kami, kata Uak Sam. Tentu saja tawaran jet tempur F16 Viper akan menjadi fokus pengadaan alutsista kita. Dan realisasinya ada di MEF III (2020-2014), soalnya yang mau diborong banyak banget, 3 skadron alias 48 unit F16 Viper.
Helikopter TNI AU
MEF II akan berakhir tahun 2019 dan diprediksi kontrak-kontrak skala besar akan terjadi di penghujung MEF II.  Misalnya  tambahan 2 kapal perang jenis PKR 10514 kerjasama Indonesia -Belanda, tambahan produksi 2 kapal selam Nagapasa Class produksi bersama Indonesia-Korsel, kontrak 3 kapal cepat rudal buatan PT PAL. Syukur-syukur kontrak pengadaan jet tempur yang 3 skadron itu bisa diselesaikan di penghujung MEF II ini. Atau kontrak tambahan 5 jet tempur Sukhoi SU35.

Jangan lupa Natuna akhir tahun ini sudah menjelma menjadi pangkalan militer tri matra yang punya daya pukul bersengat lebah. Dengan sebutan “berani masuk digebuk” benteng pertahanan Natuna akan mempraktekkan doktrin itu sebelum mendapat bala bantuan dari Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Sudah ditempatkan disana satuan radar berlapis, UAV, jet tempur F16 dan Hawk bergantian patroli, 8-10 KRI patroli bersama pesawat intai maritim.

Memperkasakan kekuatan militer kita sejalan dengan pertumbuhan kekuatan ekonomi. PDB kita ada di urutan 15 besar dunia, makanya Indonesia masuk group bergengsi G20.  Militer kita juga masuk urutan 14 besar di dunia versi Global Fire Power.  Meski banyak dipertanyakan bahkan dicemooh, indikator yang menjadi petunjuk dan supporting point keunggulan militer sebuah negara yang dipakai Global Fire Power adalah formula yang relevan.

Negeri ini akan terus memperkuat benteng pertahanannya, tidak peduli di dalam rumah tangganya sedang dihangatkan oleh suhu menjelang Pipres 2019. Rumah tangga biarlah berdinamika dan berdebat hangat, tetapi menjaga benteng pertahanan juga adalah bagian dari menjaga dinamika berumah tangga itu.

Pada MEF ketiga tahun 2020-2024 diniscayakan negeri ini akan memiliki kekuatan militer yang tidak boleh dianggap enteng.  Persoalannya bukan di seputar Natuna dan Laut Cina Selatan atau di Papua atau di Ambalat. Persoalannya adalah kita selama ini sudah tertinggal jauh dalam menguatkan benteng teritori. Baru delapan tahun terakhir inilah bangun dari ketertinggalannya. 

Maka dengan MEF I (2010-2014), MEF II (2015-2019) dan MEF III (2020-2024) kita meyakini akan memiliki kekuatan militer yang bisa diandalkan.  Dan setelah itu kita akan terus membangun kekuatan militer kita menjadi kekuatah militer yang disegani di kawasan ini sejalan juga dengan kekuatan ekonomi kita yang sudah masuk 10 besar dunia tahun 2024. Semua akan perkasa pada waktunya.

**** 
Semarang, 1 Agustus 2018
Jagarin Pane

Wednesday, July 18, 2018

Berlatih Untuk Pitch Black

Foto Arien Pan.

Dari 10 F16 blok 52 Id ini delapan diantaranya akan dikirim ke Darwin AFB akhir bulan ini untuk ikut latihan angkatan udara antar negara terbesar di Australia, PITCH BLACK. Makanya saat ini di langit Madiun, Magetan sampai Pacitan sedang riuh gemuruh berseliweran jet-jet tempur F16 TNI AU. Indonesia aktif mengikuti latihan tempur udara ini dan pernah mengirimkan 4 jet tempur Sukhoi. Punya jet tempur canggih memang harus terus diasah kemampuan teknologi tempurnya termasuk mengintip teknologi lawan latihnya. Karena meski namanya latihan bareng tetapi sejatinya para peserta sedang mengintip satu sama lain. Wajah tetap senyum tetapi tetap menyimpan energi siasat.
****
Jagarin Pane / 17/7/2018

Program Jalan Terus



Tank ini buatan Pindad kerjasama dgn Turki dipayungi dengan UU. Saat ini sedang tahap uji ketahanan ledak dan uji material. Tahun depan akan diproduksi 100 unit. Tak banyak cakap, program jalan terus sama seperti proyek kerjasama pembuatan kapal selam dan jet tempur dgn Korsel, sdh dipayungi UU. Semua berjalan dan akan perkasa pada waktunya. Sedikit bicara banyak kerja.

****
Jagarin Pane  17/7/2018

Datang Lagi Neh

Foto Arien Pan.

TNI AD menambah koleksi alutsistanya dgn kedatangan 22 tank artileri Howitzer M109 A4 dari Belgia hari Senin tanggal 9 Juli 2018. Ini kedatangan gelombang kedua dan terakhir dari pesanan 40 unit untuk dua batalyon Armed Kostrad TNI AD. Alhamdulillah, nambah terus.

****
Jagarin Pane / 17/7/2018

Latihan Gabungan Skadron Tempur

Foto Arien Pan.

16 jet tempur dari tiga skadron minggu pertama Juli 2018 menggemuruhkan langit Pekanbaru dan sekitarnya. 8 jet tempur F16 ska Pekanbaru, 4 jet tempur Hawk ska Pekanbaru dan 4 jet tempur Hawk ska Pontianak menguji daya tempur mereka sebagai bagian dari kesiagaan 24 jam.

****
Jagarin Pane / 17/7/2018

Untuk Lantamal Jayapura

Foto Arien Pan.

KRI Albakora 867 utk Jayapura, sejalan dgn isian KRI utk Lantamal maka kapal perang buatan anak negeri akan mengisi sejumlah Lantamal. Indonesia sdh membangun 22 kapal patroli cepat utk memenuhi kebutuhan kewibawaan teritori laut dan akan menyiapkan puluhan kapal sejenis dalam lima tahun ke depan.

****
Jagarin Pane / 17/7/2018

Friday, June 29, 2018

Sudah Terbiasa Belanja Alutsista Terus

Perjalanan menumbuhkan kekuatan alutsista militer Indonesia sudah berlangsung sembilan tahun sejak program MEF (Minimum Essential Force) diterbitkan tahun 2010.  Dengan sebuah peta jalan besar untuk mampu menumbuhkembangkan koleksi alutsista berteknologi terkini.  Perjalanan sepanjang waktu itu sudah memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi institusi militer negeri pejuang.

Kamis kemarin tanggal 28 Juni 2018 sebuah kapal perang baru jenis LST (Landing Ship Tank) diluncurkan di Lampung dari sebuah galangan kapal swasta nasional yang berprestasi. Galangan kapal itu saat ini sedang membangun 4 kapal perang LST untuk TNI AL setelah sebelumnya sukses membangun KRI Teluk Bintuni 520 yang selanjutnya menjadi nama kelas LST ini, Bintuni Class.

PT PAL Surabaya saat ini juga sedang membangun 1 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock), 1 kapal selam Nagapasa Class dan 3 Kapal Cepat Rudal. Galangan kapal swasta nasional lainnya juga ikut bersuka cita karena kecipratan proyek membangun belasan Kapal Patroli Cepat (KPC), Kapal logistik BCM TNI AL, kapal-kapal Bakamla dan KKP. Artinya semua galangan kapal nasional di negeri ini sedang bergembira ria mendapatkan rezeki besar dari program MEF TNI.
2 Fregat terbaru kita
Tentara langit kita juga sudah memesan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dan diprediksi akan menambah minimal 5 unit lagi. Disamping itu Kemhan juga sedang memproses pengadaan 5 pesawat Hercules seri J dari AS, sedang mempersiapkan tambahan 3 skadron tempur dengan calon terkuat F16 Viper, tambahan helikopter Apache, kemudian menambah sedikitnya 5 radar militer, menambah perolehan Oerlikon Skyshiled dan peluru kendali anti serangan udara jarak sedang Nasams.

Jet tempur Golden Eagle yang jumlahnya 15 biji juga diperkuat dengan infrastruktur radar Elbit, menambah jet latih Grob dan KT1 Wong Bee. Pesanan Helikopter Caracal, pesawat CN295 terus dilakukan. PT DI sebagai pintu gerbang penyaluran produksi kerjasama sedang menyelesaikan berbagai order pekerjaan seperti 11 Helikopter anti kapal selam Panther untuk TNI AL.

PT Pindad juga sedang bersinar terang dengan berbagai pesanan TNI AD. Produksi panser Anoa terus berjalan, proyek tank medium Kaplan produksi bersama dengan Turki, rantis Komodo, panser Badak, ranpur Sanca. Semua industri pertahanan strategis sedang sibuk dengan berbagai aktivitas bisnis alutsista untuk militer kita.
KRI Teluk Lada 521 yang baru diluncurkan
Jadi sudah terbiasalah kalau kita membaca berita atau mendengar kabar berlanja alutsista tentara yang terus menerus. Padahal ini baru ingin memenuhi kebutuhan minimal alutsista TNI, belum sampai pada kebutuhan memadai apalagi ideal. Program MEF dirancang menjadi 3 jilid.  Jilid I sudah khatam, sekarang kita di jilid II dan terakhir MEF jilid III tahun 2020-2024. Akan banyak pesanan baru skala besar untuk berbagai jenis alutsista mulai akhir tahun ini dan MEF jilid III nanti.

Perolehan alutsista sepanjang sembilan tahun ini sangat luar biasa. Dan kita patut bersyukur karena pengambil keputusan di republik ini tidak terlambat memperkuat militernya apalagi ketika dihadapkan dengan kondisi kawasan terkini yang dinamis dan hangat. Laut Cina Selatan adalah hotspot yang paling tinggi tensinya dan akan menjadi kawasan yang penuh dengan provokasi dan saling gertak utamanya antara Cina dan AS.

Terkait dengan manajemen belanja alutsista, catatan kita adalah kemasan manajemen Kemhan harus terus menerus dikawal, dikritisi dan dievaluasi. Kasus Helikopter Agusta Westland AW101 dan yang terakhir soal satelit militer yang menjadi rumor internasional karena Kemhan gagal bayar diharapkan bisa menjadi wahana instrospeksi.  Kinerja Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar dan manajemen pengadaan alutsista adalah ujian sesungguhnya.

Manajemen Kemhan diharapkan mampu menyuarakan aktualisasi perkembangan kinerja dan tantangannya. Jangan sampai sebuah bottle neck proyek lalu menjadi sorotan media yang menunjukkan belum terkoordinasinya paket-paket decision strategis dan taktis. Selama 4 tahun ini kita melihat suasana itu dalam mekanisme bermanajemen. Anggaran yang dikucurkan pemerintah adalah yang terbesar, maka penggunaannya juga diharapkan terukur dan terstruktur.
Tentara Langit Indonesia
Kita mengapresiasi perkuatan militer negeri ini.  Apalagi jika dihadapkan pada konflik kawasan yang mudah panas.  Semua negara di kawasan ini sedang membangun kekuatan militernya secara sistematis. Kita lihat Vietnam, Filipina, Singapura, Thailand, Australia, Jepang serius banget mengembangkuatkan militernya. Cina apalagi, benar-benar tak terbendung dengan libido membangun kekuatan militer ofensif secara besar-besaran.

Maka berita belanja alutsista yang sudah menjadi berita biasa itu dan dikonsumsi masyarakat luas, tidak enak jua diperdengarkan lagu sumbangnya manakala ada proyek yang sumbang prosesnya. Misalnya pesanan 2 kapal perang jenis LST di Koja Bahari yang mestinya sudah diluncurkan paralel bersama KRI Teluk Bintuni beberapa tahun lalu sampai saat ini belum selesai jua.

Perjalanan program MEF masih panjang.  Dan sepanjang waktu itu kita akan mendapatkan berita-berita yang membanggakan dan membungakan hati untuk perkuatan militer kita.  Kedatangan berbagai jenis alutsista dan kembali memesan berbagai jenis alutsista adalah konsumsi berita yang sudah biasa.

Nah sepanjang waktu  itu pula bisa minimalisir berita-berita sumbang.  Tentu dengan model komunikasi dan gaya kepemimpinan yang lincah, cerdas, jelas, terukur dan terstruktur. Public Relation adalah pintu komunikasinya. Semua rumor dan sentimen negatif bisa diluruskan sehingga tidak menimbulkan opini yang keliru. Semoga ya karena bahagia itu sederhana.
****
Yogya / 29 Juni 2018

Sunday, June 3, 2018

Membangun Kekuatan Udara Skala Penuh


Program strategis Angkatan Udara Indonesia mulai menunjukkan peta jalan besar yang menggempitakan.  Renstra ke 4 (2020-2024) yang bersamaan dengan MEF 3 dijabarkan dengan lugas oleh KSAU di Universitas Pertahanan Sentul Bogor 28 Mei 2018 yang lalu. Sementara itu tahun depan akan dibentuk skadron helikopter dan skadron angkut militer di Makassar. 

Jika pembentukan 2 skadron itu terealisir maka beban kesibukan Air Force Base Hasanuddin akan jadi luar biasa. Bayangkan saja ada 2 skadron tempur kelas berat Sukhoi SU27/30/35, ada skadron intai strategis, ada skadron helikopter, ada skadron angkut berat yang pasti akan diisi si bongsor Hercules, dan skadron teknik. Lalulintas penerbangan militer dan sipil akan semakin padat tentunya.

Kemudian ada penambahan 6 satuan radar terbaru diantaranya untuk Bengkulu, Singkawang, Sumba, Morotai, Jayapura diniscayakan akan memberikan ruang mata dan telinga yang tajam untuk memantau gerak gerik yang bergerak di teritori dirgantara kita. Termasuk berupaya semaksimal mungkin memelototi jet tempur siluman F35 tetangga. Bisa gak ya.
F16 di Biak. TNI AU sudah memiliki 33 unit dan akan terus ditambah
TNI AU sudah mengumumkan akan menambah 3 skadron tempur baru untuk mengisi Airforce Base seperti di Biak, Kupang dan Natuna. Jika ini terpenuhi dalam renstra IV dan MEF III maka kriteria minimum essential force (MEF) tentara langit kita akan terpenuhi. Tetapi itu baru minimum lho, bukan memadai apalagi ideal. Begitu pun pencapaian itu patut disyukuri karena itu berarti sudah memecahkan rekor, melebih kekuatan udara jaman Dwikora dulu.

Kalau mau bicara memadai saja diharuskan  ada tambahan lagi  1 skadron tempur Sukhoi SU35 untuk ditempatkan di Yogya dan 2 skadron tempur seperti F16 Viper atau yang sekelas dengannya untuk ditempatkan di Kalimantan dan Batam. Sebaran jet tempur seperti ini seperti ini akan menjamin respon cepat terhadap segala bentuk ancaman teritori udara kita. Kenapa di Yogya karena Adi Sucipto AFB sepenuhnya nanti akan menjadi pangkalan angkatan udara dan penerbangan sipil sudah pindah ke NYIA (New Yogyakarta International Airport) di Kulon Progo.

Yang menarik adalah pembentukan detasemen peluru kendali anti serangan udara jarak sedang dan jauh. Untuk satuan peluru kendali jarak sedang sudah ada Nasams untuk pengawalan ibukota dan Natuna. Kita meyakini alutsista jenis ini akan terus ditambah untuk melindungi obyek vital dan pangkalan militer kita. Kabar terakhir sudah ada kontrak lanjutan yang ditandantangani.

Khusus untuk satuan peluru kendali jarak jauh diproyeksikan untuk mampu menangkis serangan rudal ke ibukota jauh sebelum rudal itu menyentuh Jakarta. Mengambil contoh serangan rudal AS ke Suriah yang tidak lagi spektakuler karena ada tangkisan rudal anti serangan udara jarak jauh. TNI harus mengambil pelajaran dari kasus ini.
Peluru kendali SAM jarak menengah NASAMS
Peta jalan membangun kekuatan angkatan udara kita memerlukan asupan anggaran yang cukup besar. Kita meyakini bahwa semua program itu akan terlaksana pada periode 2019-2014. Angkatan udara adalah perlambang kekuatan teknologi militer sekaligus gengsi kehebatan militer sebuah negara.  Sinergi yang bagus antara angkatan udara dan angkatan laut untuk negeri kepulauan kita adalah pre emptive strike yang diyakini akan menjadi kekuatan pemukul nomor satu di masa depan.

Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah tameng dan benteng utama negeri kita karena disinilah bermula dan berakhirnya keunggulan militer meski daratan belum dikuasai.  Lagian model pertempuran yang akan dihadapi kelak adalah perebutan sumber daya alam.  Misalnya penguasaaan Kepulauan Natuna oleh Cina. Setelah berhasil direbut tentu si Naga akan menjaganya dengan kekuatan full combatan.

Maka bergegaslah wahai tentara langit, mata elangmu dan kecepatan respon adalah segalanya, hitungannya sudah jam dan menit. Maka perkuatan alutsista tentara langit adalah kemutlakan yang harus dipercepat sesuai tuntutan lingkungan yang dinamis. Semoga peta jalan hebat ini akan menjadi sebuah kenyataan dankebanggaan infrastruktur angkatan udara kita.  Sekali lagi tentara langit kita adalah poin kebanggaan ber NKRI sekaligus payung teritori yang paling bergengsi.
****
Jagarin Pane 
Surabaya, 3 Juni 2018

Friday, May 18, 2018

Mengembangkan Postur Gagah Di Timur Negeri


Indonesia terus membangun kekuatan militernya baik secara struktur komando maupun penyebaran ragam alutsista. Luasnya wilayah teritori negeri ini mengharuskan komando-komando tempur dan teritorial disebarluaskan untuk memastikan kedaulatan teritori negeri berada dalam genggaman.

Maka setelah bertahun-tahun direncanakan, dalam program kerja 100 hari Panglima TNI, pengembangan struktur komando strategis ketiga TNI mulai diberlakukan.  Hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 di Sorong Navy Base Papua Barat, Panglima TNI meresmikan operasional Divisi III Kostrad, Komando Armada III, Pasmar III dan Koopsau III.

Ini program besar yang memerlukan sebaran pasukan dan alutsista yang luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi adalah keinginan yang gigih untuk tidak lagi bertumpu pada Java Centris dalam pola pertahanan dan sebaran pasukan serta alutsista TNI. Ini juga bagian dari doktrin pembaharuan berani masuk digebuk. Tidak lagi, masuk dulu baru digebuk. Lha kalau yang masuk Naga mau digebuk pake apa Om.
Menyambut KRI Ardadedali 404 di Surabaya Navy Base
Seperti diketahui selama ini tumpuan kekuatan militer kita ada di pulau Jawa.  Kostrad Divisi I ada di Cilodong Jawa Barat, Divisi II ada di Singosari Malang. Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Angkatan udara sudah menyebarkan sebagian kekuatan alutsistanya di luar Jawa seperti 1 skadron Sukhoi di Makassar, 1 skadron F16, 1 skadron Hawk di Pekanbaru, 1 skadron Hawk dan 1 skadron UAV di Kalbar.

Sudah saatnya kita membaguskan postur pertahanan di timur negeri.  Latihan PPRC Mei ini di 3 lokasi sekaligus di wilayah timur negeri ini adalah bagian dari strategi militer sebagai unjuk kekuatan. Pasukan pemukul reaksi cepat dengan dukungan 16 Hercules serentak melakukan counter attack di Morotai, Timika dan Selaru Maluku Tenggara dalam sebuah simulasi tempur yang terukur.

Wilayah timur negeri ini adalah separuh dari luasnya wilayah NKRI.  Harus diakui sebaran isian alutsista dan rentang geografis komando satuan tempur masih jauh dari kondisi memadai. Contohnya ketika diadakan latihan Armada Jaya beberapa tahun lalu dengan mengambil lokasi pendaratan pasukan di Kaimana Papua, sangat menguras energi dan logistik perjalanan armada puluhan KRI striking force yang ditugaskan.

Panjangnya rute Surabaya ke Papua dalam latihan angkatan laut itu dan resiko “serangan kapal selam musuh” di laut dalam Arafuru, dalam perjalanannya tentu tidak efektif dalam pertempuran modern saat ini. Maka sangat layak jika Sorong dijadikan pangkalan Armada III TNI AL beserta organiknya Pasmar III (setingkat satu divisi pasukan marinir).
Hawk dan LPD kita, bersinergi interoperability
Sementara Biak sudah sangat siap sebagai home base jet tempur TNI AU. Selama ini kedatangan berbagai jenis jet tempur tentara langit kita ke Biak AFB hanya menginap hitungan hari saja lalu kembali ke home base masing-masing. Nah kalau sudah tersedia isian 1 skadron jet tempur di Biak, maka ongkos patroli udara jadi lebih hemat.  Lebih dari itu ada rasa percaya diri soal respon cepat intersep jika ada pesawat asing yang masuk tanpa ijin.

Kita berharap dalam program MEF jilid III (2019-2024) gerak operasional penuh divisi tempur ketiga segala matra TNI sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista yang dibutuhkan. TNI AL saat ini sudah memiliki 165-170 KRI, setidaknya  35-40 KRI berbagai jenis bisa dimutasi permanen ke Armada III.  Diharapkan Koopsau III sudah dilengkapi dengan 2 skadron tempur di Biak dan Kupang.  Pasmar III juga sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista setara kakaknya Pasmar I dan II.

Artinya pengadaan berbagai jenis alutsista masih banyak yang harus dipenuhi. Misalnya pengadaan 3 skadron jet tempur, 3 kapal jenis PKR, 3 kapal selam, belasan KCR, belasan kapal patroli cepat, 100 tank amfibi, 100 tank Pindad, 100 Panser Anoa dan lain-lain adalah sebuah keniscayaan yang harus dicukupi.  Gerak cepat pengadaan dengan dukungan anggaran yang semakin besar dan terbesar adalah bagian dari sebuah kinerja yang dipantau dengan mata elang.

Natuna sudah hampir selesai pembangunan pangkalan militernya, isian alutsistanya harus dipercepat. Demikian juga dengan wilayah perbatasan lainnya. Pola kerja cerdas dan koordinasi sangat diperlukan untuk memastikan kita tidak ketinggalan kereta dalam membangun kekuatan militer. Kita mengapresiasi keputusan strategis TNI AL dengan menyebar permanen 4-5 KRI ke berbagai Lantamal.  Ini langkah jitu untuk sebuah respon cepat patroli angkatan laut.

Adanya kekuatan baru divisi tempur “ketiga” di timur negeri akan memberikan energi pertahanan yang baru dalam sebuah manajemen pertahanan yang rantai komandonya ada di luar Jawa. Sebuah terobosan besar karena wilayah timur yang penuh dengan energi sumber daya alam yang melimpah harus dijaga ketat. 

Kehadiran tiga matra kekuatan milter yang permanen di timur negeri dalam sebuah komando strategis yang saling mendukung adalah sebuah kewajiban mutlak.  Militer adalah bagian dari nadi NKRI, dan nadi itu adalah eksistensi NKRI.  Jadi jelasnya denyut nadi itu adalah TNI dan NKRI.

****
Jagarin Pane /18 Mei 2018

Thursday, May 3, 2018

Ancaman Cina Bukan Lagi Fiksi


Gelar kekuatan militer Cina di Laut Cina Selatan (LCS) sepanjang minggu kedua bulan April 2018 yang lalu merupakan gelar kekuatan militer terbesar yang pernah dilakukan negeri panda itu. Tidak kurang dari 50 kapal perang striking force, 3 kapal selam dan 1 kapal induk dengan dukungan 80 jet tempur bersama 10 ribu pasukan melakukan unjuk kekuatan di LCS dipimpin langsung oleh Presiden Cina Xi Jinping.

Respon Indonesia saat itu adalah segera mengirim 6 kapal perang ke batas teritori Natuna dengan dukungan 8 jet tempur F16 dari skadron Pekanbaru. Yang tidak biasa adalah sebelum 8 jet tempur F16 itu diterbangkan ke Natuna, flight tempur itu berlatih tempur dulu dengan membombardir pantai Bengkalis selama tiga hari. Ini adalah simulasi untuk menghadapi serangan kapal perang musuh atas sebuah pulau.
Bung Tomo Class ditempatkan di Natuna
Tidak terjadi insiden apa-apa dengan konvoi armada militer Cina termasuk dengan kapal-kapal perang Vietnam, Malayisa, Filipina, AS dan Australia yang ikut memantau dari kejauhan. Dan memang unjuk kekuatan militer Cina bukan untuk menciptakan insiden. Melainkan ingin menunjukkan kehebatan militernya yang sudah membangun pangkalan militer dan peluru kendali anti kapal dan anti serangan udara, berikut penempatan jet tempur di pulau-pulau atol yang tersebar di LCS.

Cina memang sedang menggeliat hebat. Perekonomian negeri semilyar orang itu diprediksi akan menjadi nomor satu dalam beberapa tahun mendatang.  Ini bukan fiksi tetapi prediksi yang bakal terjadi. Cina akan menjadi pemain nomor wahid di dunia mulai tahun 2020.  Sejalan dengan itu perkuatan militer mereka juga semakin “merajalela”.  Klaim negeri itu terhadap seluruh kawasan LCS bakalan tak akan terbantahkan atau terpatahkan oleh siapa pun termasuk si pemilik hegemoni Amerika Serikat.

F16 patroli di Natuna
Boleh jadi Natuna akan menjadi ruang tembak berikutnya meski saat ini dikatakan tidak masuk kawasan yang di klaim.  Tetapi persinggungan ZEE di Laut Natuna Utara dengan klaim Cina adalah fakta bukan fiksi.  Ini yang harus diceritakan kepada anak negeri supaya mereka paham betul suasana pertarungannya. Perairan ZEE Natuna kita bersinggungan dengan Vietnam dan Cina.

Antisipasi terkini yang dilakukan Indonesia adalah dengan menempatkan 4 KRI striking force dari Armada Timur dimutasikan ke Armada Barat dan fokus Natuna.  Ke empat KRI itu adalah KRI Bung Tomo, KRI John Lie, KRI Usman Harun dan KRI Fatahillah. Armada Barat saat ini berkekuatan sekitar 35 KRI berbagai jenis.  Tetapi tentu saja tidak seluruhnya terkonsentrasi ke Natuna. Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, Laut Jawa dan Pantai Barat Sumatera juga perlu dikawal.

Sementara saat ini di Natuna sedang ada  kunjungan inap 6 jet tempur F16 untuk berpatroli rutin secara estafet bergantian dengan Sukhoi. Itulah dampak dari show of force militer Cina yang demikian perkasa. Termasuk kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Dari kacamata militer jika pada saat mereka unjuk kekuatan di LCS dan melakukan serangan kilat ke Natuna maka dalam hitungan jam pulau terdepan Indonesia itu akan jatuh ke tangan mereka.

Oleh sebab itu tidak bisa lagi kita mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa. Itu luar biasa Bung.  Karena yang melakukan itu adalah negara yang haus ekspansi sumber daya alam untuk bisa menghidupi milyaran penduduknya sampai seratus tahun ke depan. Jadi ini bukan soal jangka pendek. Cina harus bisa menguasai sumber daya alam dan sumber energi untuk menghidupi milyaran warganya yang juga tak tertandingi jumlahnya. Tidak peduli itu punya siapa.

Natuna sedang kita perkuat.  Pangkalan militer segala matra sedang dihebatkan. Tetapi lebih dari sekedar itu adalah percepatan isian alutsista yang harus dipenuhi di batas teritori itu. Tidak lagi memakai model konvensional alias sesuai pagu anggaran yang bertahap dan bertele-tele. Percepatan tambahan minimal 3 skadron jet tempur mestinya harus sudah bisa diselesaikan sebelum rezim ini bertanding lagi tahun depan. Demikian juga dengan tambahan kapal-kapal kombatan sekelas fregat dan destroyer serta kapal selam harus bisa dipercepat perolehannya.

Perkuatan militer bukanlah untuk menciptakan konfrontasi tetapi untuk menjaga agar pihak sana tidak meremehkan teritori kita. Kehadiran militer yang kuat di Natuna adalah untuk menjaga marwah teritori yang sudah diakui secara internasional.  Pantas dan sah. Maka sudah selayaknya kita bergegas agar tidak ketinggalan kereta segera memenuhi isian alutsista untuk Natuna.

Gerak cepat, cerdik dan lincah serta cerdas harus jadi pola pikir, pola sikap dan pola tindak Kementerian Pertahanan. Bergegaslah, karena bela negara zaman now adalah memperbanyak isian alutsista canggih dengan teknologi terkini. Tidak bisa tidak itulah yang harus kita dapatkan dan penuhi untuk NKRI tercinta.

****
Jakarta / 3 Mei 2018