Thursday, January 26, 2017

Godaan Manisnya Madu Anggaran Alutsista

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini yang menjanjikan anggaran pertahanan RI tahun 2018 bisa naik dua kali lipat dari yang sekarang sesungguhnya adalah pernyataan yang membungakan, membanggakan dan sekaligus mengharukan.  Betapa tidak, meski dibelakangnya ada embel-embel jika penerimaan pajak tahun 2017 sukses, sejatinya pernyataan Srikandi itu ingin menjelaskan kepada kita bahwa pemerintah komit untuk memprioritaskan soal pertahanan bangsa besar ini.

Tahun ini anggaran pertahanan kita mencapai 108 trilyun, angka itu saja sudah yang terbesar jika dibanding dengan sektor lain. Dengan itu kita bisa melanjutkan program modernisasi alutsista, sebuah cita-cita yang wajib dicapai jika bangsa ini paham dengan kebesaran harga dirinya, harga sumber daya alamnya, harga kebhinnekaannya dan harga nasionalisnya. Kita bersyukur karena selama setahun tahun terakhir ini pemerintah kita sudah sadar diri bahwa membesarkan harga diri pertahanan tidak lagi terkait dengan korelasi peningkatan kesejahteraan atau pertumbuhan ekonomi.  Pertahanan adalah pertaruhan eksistensi berbangsa dan bernegara termasuk menjaga kedaulatan sumber daya alam yang bergizi tinggi itu.
Pesawat angkut berat A400M yang mau dibeli itu
Besarnya anggaran pertahanan yang dikucurkan hendaknya diimbangi dengan pengelolaan anggaran yang profesional. Karena manisnya madu anggaran alutsista mudah membuat kita tergoda gairahnya, lalu mencoba mencuri cicip, sedikit-sedikit, gak ada yang lihat dan KPK pun gak punya radar, lalu akhirnya terkena diabetes korupsi. Contohnya sudah ada, seorang jendral bintang satu TNI AD di Kemhan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup dan dipecat dari TNI karena kebanyakan curi cicip madu alutsista sampai 12 juta dollar AS.

Angka juta dollar itu kalau dirupiahkan itu mencapai 156 milyar dikantongi sendiri oleh sang perwira dalam proses pembelian 24 jet tempur F16 blok 52 Id dan 8 Helikopter Apache dari AS sebagaimana terbukti di sidang pengadilan militer akhir tahun lalu. Kita ketahui bahwa untuk mendatangkan 24 jet tempur F16 blok 52 Id Indonesia merogoh kocek US$700 juta dan 8 helikopter Apache senilai US$ 295 juta dalam skema anggaran multy years.

Setelah kasus itu ternyata masih ada lagi seorang perwira berpangkat kolonel TNI AU yang juga tergiur manisnya madu anggaran alutsista, lalu tergelincir dalam kubangan korupsi. KSAU yang baru dilantik Marsekal Hadi Tjahjanto barusan mengungkapkan ke publik bahwa ada perwiranya tersandung kasus korupsi di Kemhan. Kasusnya sedang dalam proses hukum, belum ada vonis. Dua kasus diatas sesungguhnya hanya “contoh soal” yang ketahuan oleh “pengawas ujian” berlaku curang.

Kemhan sebagai pintu gerbang pengadaan alutsista dengan anggaran yang cukup besar diyakini banyak dirayu berbagai produsen alutsista luar negeri.  Yang namanya rayuan tentu segala cara dilakukan termasuk iming-iming dan saudaranya iming-iming. Dalam dunia bisnis manapun, marketernya pastilah cerdas, lihai sekaligus licik.  Dalam pola tawar produk, berbagai “fasilitas mewah” ditawarkan.  Masih segar dalam ingatan ketika proses rayuan untuk deal proyek jet T-50 Golden Eagle dengan Korsel, tim kita sampai difasilitasi pesawat kepresidenan Korsel dan fasilitas mewah lainnya.  Akhirnya kita deal 16 jet latih tempur Golden Eagle senilai US$ 400 juta tanpa radar.
Jet tempur Sukhoi SU35 yang diidamkan itu
Tugas besar dan basah itu mengharuskan Kemhan bergerak lincah mengelola anggaran dan kebutuhan alutsista user.Petingginya harus mampu membawa bahasa koordinasi internal dan eksternal dengan bahasa jelas dan tegas. Termasuk dengan para usernya yang bernama TNI AD, TNI AL, daan TNI AU. Misalnya soal pengadaan Helikopter Agusta Westland AW 101 sudah ditolak RI-1 kok masih berani dibeli.  Maka wajar jika publik membacanya dengan bahasa: ada udang dibalik batu.

Juga soal pemberitaan terkini yang mengatakan bahwa Kemhan akan membeli 5 unit pesawat militer baru angkut berat  jenis Airbus A400M senilai US$ 2 milyar, kemudian dipertanyakan oleh user TNI AU dan Panglima TNI. Ini adalah contoh soal yang lain bagaimana potret merawat dan mengembangkan bahasa koordinasi yang belum cum laude di institusi terkait. Bagaimana pun publik bisa membacanya dengan komentar sederhana : kok bisa ya.

Bahasa dan keinginan khalayak pecinta NKRI sesungguhnya mengharapkan program modernisasi militer negerinya punya grand strategy yang jelas dan matang.  Misalnya soal jet tempur Sukhoi SU35, anggarannya sudah jauh hari disediakan tetapi mengapa begitu berlarutnya keputusan yang diambil. Termasuk jumlahnya mengapa hanya 8 unit. Mengapa tidak dijelaskan kalau itu tahap pertama lalu tahun depan ditambah lagi orderannya 8 unit lagi. Sehingga dalam dua tiga tahun mendatang kita punya 16 Sukhoi SU35. Jaminannya adalah anggaran tahun depan membesar signifikan.

Masih banyak yang lain, misalnya pengadaan peluru kendali darat ke udara jarak sedang untuk melindungi Ibukota Jakarta dan Natuna, lanjutan Changbogo jilid empat, lanjutan PKR jilid tiga dan lain-lain.  Kita jelas butuh batalyon arhanud berupa satuan peluru kendali jarak sedang untuk melindungi Jakarta dan kota besar lainnya. Jika anggaran pertahanan tahun depan meningkat tajam, maka alutsista yang kita butuhkan akan lebih banyak kita dapatkan. Tetapi tentu bukan untuk membeli banyak merek sehingga menciptakan model show room alutsista, padahal yang dibeli sedikit.

Kapal selam Changbogo yang dibuat dengan model transfer teknologi sangat pantas dilanjutkan.  Sama halnya dengan proyek PKR10514 untuk menerapkan ilmu transfer teknologi yang baru didapat. Jangan karena ada tawaran dari produsen lain dengan iming-iming mengiurkan lalu berubah pikiran.  Publik sedang membicarakan alutsista harapannya seperti kelanjutan produksi Panser Anoa buatan dalam negeri, ternyata yang datang yang tak terduga, misalnya si APC M113 itu yang jumlahnya ratusan.

Manisnya madu anggaran alutsista akan terasa lebih manis jika pemanfaatannya tepat guna, tepat waktu dan tepat biaya. Bisa dibayangkan jika anggaran pertahanan tahun depan mencapai 200 trilyun, kita bisa dapatkan beberapa kapal perang gres kelas fregat, beberapa skadron jet tempur dan lain-lain untuk disebar di pangkalan militer luar Jawa. Bukankah Presiden sudah memerintahkan agar sebaran tentara dan alutsista tidak menumpuk di Jawa alias Jawa Sentris.

Maka sebaran alutsista itu harus diperbanyak lebih dulu.  Memperbanyak kualitas dan kuantitas alutsista tentu perlu anggaran besar.  Itu sudah sedang dan akan dilakukan pemerintah. Tugas besar Kemhan adalah memastikan penggunaan anggaran sesuai peruntukannya, sesuai usulan pengguna. Ini adalah pekerjaan yang banyak godaan dan rayuannya. Ritme itu yang saat ini sedang dipantau ketat oleh publik kita.
****
Jagarin Pane / 26 Januari 2017

Tuesday, January 17, 2017

Yang Mau Datang Tahun Ini

Modernisasi alutsista militer Indonesia terus berlanjut. Kita masih terus memesan alutsista berteknologi tinggi, sementara yang mau datang tahun ini cukup banyak, yaitu :
• 10 jet tempur F16 blok 52Id dari AS
• 3 pesawat angkut berat Hercules dari Australia
• 2 pesawat angkut sedang CN295 dari Spanyol
• 2 pesawat patroli maritim CN235 produksi PT DI
• 2 Radar Master T Thales dari Perancis
• 2 Arhandud Oerlikon Skyshield dari Swiss
• 3 Helikopter Combat SAR Caracal dari Perancis
• 2 Helikopter Apache dari AS
• 7 Helikopter Fennec AS550 dari Perancis
• 4 Helikopter anti kapal selam Panther dari Perancis
• 2 kapal selam “Nagapasa Class” dari Korsel
• 2 kapal light fregat PKR10514 JP Belanda dan PT PAL
• 3 KCR (Kapal Cepat Rudal) produksi PT PAL
• 6 KPC (Kapal Patroli Cepat) prod gal kapal swasta nasional
• 2 Kapal Landing Ship Tank prod gal kapal swasta nasional
• 1 Kapal latih layar Bimasuci dari Spanyol
• 1 Kapal Logistik produksi galangan kapal swasta nasional
• 4 MLRS Norinco dari China
• 20 Artileri Nexter LG I MK III dari Perancis
• 30 MBT Leopard RI dari Jerman
• 20 Panser Badak produksi PT PINDAD
• 10 APC Sanca produksi PT PINDAD
• 50 APC M113 dari Belgia
• 1 Detasemen Rudal Starstreak dari Inggris

****
17 Jan 2017 / Jagarin Pane / Dari berbagai sumber



Wednesday, January 4, 2017

Alutsista Kita, Mengapa Membeli Berbagai Merek

Modernisasi militer Indonesia yang terus berkibar sampai saat ini menunjukkan suasana pasar alutsista yang hiruk pikuk. Berbagai produsen alutsista menawarkan produknya dengan penuh gairah dan sang pembeli pun tergiur dengan berbagai merek yang ditawarkan. Dalam lima tahun ke depan suasana pasar yang begitu gempita akan memberikan gelora yang lebih hangat. Dan sang pembeli akan semakin tergoda dengan bujuk rayu pemilik merek untuk melirik dan memeluk produk mereka.

Marinir kita sudah punya alutsista MLRS (Roket Multi Laras) bermerek RM Grad buatan Ceko, jumlahnya tidak banyak.  Lalu datang lagi yang bermerek Vampire juga buatan Ceko. Tidak apa-apa karena Vampire adalah edisi terkini serial MLRS. Tetapi kemudian dalam waktu berdekatan muncul lagi MLRS dari Norinco Cina. Mengapa tidak melanjutkan Vampire saja, termasuk kembali memperbanyak jumlah tank amfibi BMP3F yang jumlahnya baru mencapai 60 unit.  Kalau Marinirnya mau dikembangkan sampai tiga divisi tentu perlu ratusan tank amfibi modern.
Helikopter Cougar TNI AU
Demikian juga untuk kapal perang PKR Project 10514 bisa dilanjut untuk kapal perang ketiga sampai keenam. Ini kan proyek transfer teknologi yang sedang berjalan.  Kasihan ilmu TOT nya kalau hanya sampai di kelas dua alias hanya dua kapal tok.  Ilmu terapan belum bisa dibuktikan. Termasuk proyek kapal selam Changbogo dengan mekanisme serap teknologi dari Korsel. Kapal selam keempat dan seterusnya bisa dibuat para insinyur kita yang sudah bersusah payah menggalinya dalam pembuatan kapal selam pertama sampai ketiga.

Sambil menunggu proyek prestise jet tempur KFX/IFX selesai, selayaknya kita perbanyak Sukhoi SU35. Tidak cukup hanya delapan unit, minimal ada satu skadron alias 16 unit. Tidak usah tergiur merek lain yang banyak ditawarkan. Masih ada lanjutan pengadaan F16 blok 52id yang belum datang.  Fokus itu saja, kalau mau ditambah Viper akan lebih baik. Jadi cukup Sukhoi Family dan F16 sebagai jet tempur utama.

 Membeli banyak jenis alias merek dengan kuantitas terbatas akan menimbulkan kesan seolah-olah hanya ingin bergaya untuk parade militer. Banyak merek padahal kuantitasnya hitungan jari. Asisten pertahanan dari negara sahabat yang diundang dalam acara parade militer, sedikit banyak kan tahu dengan situasi dan kondisi ini. Jadi untuk apa bergaya kalau jeroannya sudah terang benderang.
Panser Canon Badak
Soal Helikopter Agusta Westland AW101 yang heboh dua kali, mencerminkan suasana yang hangat “diantara sesama petinggi”. Presiden Jokowi menginstruksikan agar dilakukan investigasi mengapa proyek yang sudah dibatalkan setahun sebelumnya muncul kembali.  Ini juga sebuah keanehan logika, sudah dibatalkan lalu kemudian mau datang lagi.  Kita sudah punya Super Puma, kita sudah pesan dan datang EC725 Caracal yang Combat SAR itu.  Lalu untuk apa AW101.

Untuk urusan produksi Helikopter, PT DI baru sebatas merakit.  Ini beda dengan produk pesawat angkut CN235 yang terkenal itu. TNI AU memakai produk andalan PT DI ini bersama penerbangan sipil dalam negeri dan beberapa negara sahabat. Sayangnya produk ini tidak dimarketingkan secara terus menerus, dan bahkan TNI AU sudah beralih ke CN 295.  Ini yang membuat Chappy Hakim mantan KSAU mengkritisi kinerja PT DI yang tidak optimal mengembangkan dan menghasilkan produk andalan, selain merakit.  Jadi mirip peribahasa merakit -rakit selalu, berkembangnya kapan-kapan.

Kita masih membutuhkan kuantitas dan kualitas alutsista berteknologi terkini. Kita masih membutuhkan setidaknya 10 kapal perang jenis PKR 10514, maka tambahlah proyek transfer teknologi itu dengan cap made ini bangsaku. Kapal selam masih kurang banyak, maka buatlah lanjutan serial Changbogo dengan cap made ini negeriku. Ilmu transfernya sudah didapat, lalu buktikan.  Kita sudah buktikan bisa buat kapal perang jenis LPD untuk militer Filipina, ilmunya kan dari Korsel.

Yang namanya produsen alutsista tentu giat dan aktif menawarkan produk unggulannya, itu sudah hukum pasar. Marketer mereka bersemangat mencari jalan dan celah untuk bisa menembus desicion maker. Pintunya adalah pendekatan dan kedekatan personal, aromanya parfum komisi alias gizi penunjang aktivitas.  gelora rayu dan ramah senyum adalah bagian dari dinamika itu.  Sementara bagi pembeli ada koridor rambu yang harus ditaati.

MBT Leopard

Salah satunya adalah UU No16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.UU itu menyebut terang bahwa pengembangan industri pertahanan merupakan bagian terpadu dari perencanaan strategis pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan dan keamanan Negara. Jadi tugas pemerintah adalah bertanggungjawab membangun dan mengembangkan industri pertahanan agar berdaya saing.

Bisa diproduksi sendiri, pakai buatan sendiri, contohnya Panser Anoa, Badak, Kapal Cepat Rudal, LPD, CN235. Kerjasama produksi yang sedang berjalan contohnya PKR10514 dan Changbogo.  Belum bisa buat, beli bekas seperti MBT Leopard, Tank Marder, F16 dan Hercules. Tapi kemudian tiba-tiba muncul ratusan kendaraan lapis baja M113 dan beberapa unit Bushmaster.  Lalu bagaimana kelanjutan Panser Anoa dan Badak kalau dasarnya adalah UU No 16 tahun 2012. Apalagi Pindad sedang mengembangkan Tank medium.

Anggaran besar Kemhan adalah madu dan magnet bagi produsen alutsista. Namun penggunaan dan pengembangan industri pertahanan strategis adalah tugas bersama mengolah dan mengelolanya. Godaan produsen luar negeri yang genit bisa diatasi dengan model pengadaan transfer teknologi dan imbal jasa.  Tetapi penyederhanaan merek perlu diimplementasikan agar tidak timbul kesan terjadi faksi salesman di pintu pengadaan alutsista.  Beli sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan, kata Presiden.  Jelaskan ?
****

Jagarin Pane / 04 Jan 2017

Tuesday, December 20, 2016

Meluruskan Musibah Hibah

Militer Indonesia sedang berduka. Sebuah pesawat angkut berat Hercules A1334 milik skadron 32 Abd Rahman Saleh Malang, rute Timika-Wamena Papua jatuh menjelang landing di Bandara Wamena Minggu tgl 18 Desember 2016. Sebanyak 13 prajurit TNI AU gugur dalam menjalankan tugas latihan konversi pilot definitif.

Seperti biasa berbagai jenis kelamin media, apakah dia bernama media layar kaca, layar baca, layar internet, dan bahkan media sosial meramaikan suasana dukacita musibah itu untuk membombardir predikat hibah yang disandangkan pada pesawat yang kena musibah.  Karena pesawat bekas hibah lalu kena musibah,maka ramai-ramai mencari salah, korbannya adalah hibah. Untung saja gak ada yang ngomong bedebah.

Mestinya musibah apapun disikapi dengan nurani yang bening sembari merenungkan makna dibalik setiap musibah. Bahwa kombinasi teknologi terkini, kecakapan pilot, faktor cuaca, beban pesawat adalah bagian dari instrumen berhasilnya jalan terbang pesawat.  Pesawat Hercules A1334 itu memang pesawat tua tetapi seluruh instrumen mesin, avionik, radar sudah diperbaharui.  Artinya teknologinya sudah terkini.
Hercules A-1334
Kita terpaku pada usia jam terbang dan mengecilkan peran overhaul, retrofit atau pembaharuan instrumen.  Sama pemikirannya ketika kita sedang naik jip hardtop yang mesinnya sudah diganti dengan mesin Kijang, bawaan kita masih pada bangunan fisik hardtopnya.  Kita terpaku pada usia pesawat naas yang sudah berusia 34 tahun, lalu berandai-andai dengan argumen ghibah.

Kita mungkin sudah lupa bahwa jatuhnya pesawat tempur Super Tucano di Malang 10 Februari 2016, bukanlah karena pesawat sudah tua.  Itu pesawat masih sangat baru dari pabrikannya di Brazil.  Kita pesan 16 unit pesawat ini dari Brazil. Atau naasnya pesawat aorobatic T50 Golden Eagle di Yogya tanggal 20 Desember 2015 dalam serial pertunjukan manuver. Pesawatnya baru banget, masih gres, beli dari Korsel sebanyak 16 unit alias satu skadron. Tidak ada yang hibah disini.

Lebih dramatis lagi pesawat yang benar-benar baru keluar pabrik, jenis angkut berat militer A400M buatan Airbus Spanyol, terjerembab di dekat bandara Sevilla Spanyol tangal 9 Mei 2015.  Pesawat yang mampu membawa muatan 37 ton itu harus tamat riwayatnya di depan pabriknya sendiri.  Masih ingat Lion air yang jatuh di laut dekat Bandara Ngurah rai tanggal 13 April 2013 menjelang landing.  Apakah itu pesawat tua ? tentu tidak, umurnya masih sangat muda.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan program kerjasama militer RI_Australia soal pesanan 9 Hercules bekas, 4 diantaranya hibah dan sisanya beli second.  Seluruh pesawat itu diretrofit dulu semua instrumennya.  Empat pesawat hibah yang diretrofit itu ongkosnya ditanggung Indonesia. Jadi gak hibah-hibah gitu aja, dibagusin dulu, uji coba, bayar, lalu dibawa ke tanah air. Sebagai catatan 4 pesawat hibah berbayar yang sudah di retrofit itu yang bernomor seri A1330-A1333 bagus-bagus aja tuh sampai saat ini.

Lalu ketika jet tempur T50 Golden Eagle jatuh di Yogya, atau Super Tucano nubruk rumah di Malang, atau Helikopter Mi17 jatuh di Kaltara, atau Lion nyemplung di laut Bali, atau A400M jatuh di depan pabriknya. Apakah semua musibah itu karena faktor hibah atau barang bekas, tentu tidak, karena waktu itu si hibah sedang tidur, tidak pantas dan tidak layak jadi korban ghibah.
KRI REM331, benar-benar baru kerjasama teknologi
Mengapa harus ada jurnalisme ghibah yang menjuruh fitnah. Karena kita belum mampu menjalankan amanah dengan fathonah. Kita lihat beberapa media televisi, bukan memberitakan secara obyektif tetapi memberitakan lewat sudut pandang, maksudnya sudut pandang pemiliknya.  Kasihan awak medianya, harusnya membela yang benar berganti dengan membela yang bayar.

Anggaran pertahanan kita belum sebesar yang diharapkan.  Tahun depan dapat kucuran 108 trilyun, Alhamdulillah. Kalau bicara soal anggaran, baru lima tahun inilah pembesaran anggaran terlihat bagus, naik secara signifikan.  Tetapi selama puluhan tahun sebelum itu kita telah melemahkan militer kita sendiri dengan kucuran anggaran yang seuprit sehingga ketika para tetangga sudah modern militernya barulah kita terbangun.

Kita baru sadar dengan negeri kepulauan terbesar sedunia ini, sumber daya alamnya melimpah, populasinya ratusan juta tetapi militernya hampir tidak punya gigi alias sedikitnya alutsista apalagi yang berkualitas.  Maka program beli 24 F16 bekas dilakukan dengan duit $750 juta. Demikian juga dengan program pengadaan 9 Hercules bekas dari Australia.  Salah? Tidak juga karena kuantitas alutsista kita memang terlanjur malu-maluin sehingga butuh kuantitas agar coverage patroli dan angkut logistik terpenuhi.

Lagian kalau ada pesawat jatuh tidak mutlak si hibah jadi korban fitnah.  Banyak faktor penyebab sehingga penelitian nanti yang akan menjawabnya.  Sayangnya ketika hasil penelitian nanti diungkap “suasana emosional” sebagian besar kita sudah surut, sehingga tak menjadi perhatian lagi.  Itulah sebagian besar kita, mudah difitnah media melalui diskusi ilmiah (katanya) dengan pengamat level kuliah, berlagak amanah ternyata kurang fathonah.

Mumpung bulan Maulid, duhai media, kembalilah kepada kriteria shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah.  Beritakan, tablighkan, sampaikan segala sesuatu dengan benar, dengan shiddiq sebagai bagian dari tugas yang penuh tanggung jawab, amanah.  Semua itu harus dibungkus dengan kecerdasan, fathonah agar kita terhindar dari ghibah dan fitnah. Kasian si hibah jadi korban fitnah karena musibah.


Jagarin Pane / 20 Des 2016

Saturday, December 17, 2016

Menyikapi Raptor Di Darwin

Amerika Serikat dan Australia sudah sepakat untuk menempatkan jet tempur siluman raptor F22 di Darwin awal tahun depan. Urgensi kehadiran jet tempur generasi kelima ini adalah untuk mengimbangi gerak militer Cina yang begitu cepat di Laut Cina Selatan (LCS). Tetapi bukankah dengan itu berlaku pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Sebuah negeri kepulauan yang ada di utara Darwin layak berhitung cermat dengan kehadiran 1 brigade pasukan Marinir dan F22 AS di utara Australia itu.  Negeri kepulauan itu saat ini sedang memodernisasi militernya untuk pertahanan teritori dari ancaman yang sudah nyata, Ambalat dan Natuna. Kehadiran militer AS di depan hidung Kupang tentu menggelisahkan dari kacamata militer.

Dengan begitu setidaknya perhatian pertahanan yang selama ini fokus di utara negeri kemudian harus juga memperhatikan halaman belakang yang warna militer didekatnya begitu kental dan kuat. Pemusatan kekuatan militer di Darwin dan Australia Utara tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Perlu ada tambahan perkuatan militer di Kupang dan sekitarnya secepatnya.
Jet tempur F22 Raptor
Hadirnya F22 memberikan persepsi betapa telanjangnya Jakarta, betapa terbukanya  Surabaya dan Timika  manakala terjadi arogansi militer negara adidaya yang bisa saja terjadi dalam perjalanan berteritori ke depan. Yang jelas Indonesia ada dalam jangkauan jet-jet tempur siluman itu dan menjadi jalur utama perjalanan Darwin – LCS.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan serial cerita pembelian jet tempur Sukhoi SU35 yang tersendat-sendat itu.  Kita katakan serial karena setiap membicarakan sinetron SU35 gak pernah ada titik ujungnya apalagi klimaksnya.  Padahal yang mau dibeli hanya 8-10 biji dan anggarannya pun sudah tersedia sejak beberapa  tahun lalu. Entah kenapa kok proses beli nya begitu sulit atau memang memakai logika ini: kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah. 

Sementara tetangga kita Singapura sedang menunggu kedatangan jet tempur F35 yang setali tiga uang kesilumanannya. Jadi di bawah kita ada jet tempur F22, disebelah kiri ada jet tempur F35. Lalu kita sendiri masih “mendramatisir” proses pembelian Sukhoi SU35 dengan berbagai persyaratan.  Capek juga mengikuti proses drama itu.
Jet tempur Sukhoi SU35
Apakah sebenarnya kita berangkat untuk menjalankan konsep membangun pertahanan berbasis “bangsaku” atau pertahanan berbasis “bank saku” alias komisi gede untuk pembelian alutsista. Kisah seorang Kolonel yang ketahuan menilep uang negara sebesar US $ 12 juta untuk pembelian F16 dan Apache adalah tamparan untuk Kemhan yang dipermalukan awaknya sendiri dalam manajemen pembelian alutsista.

Sementara negara lain terus berupaya membesarkan nilai pertahanannya. Vietnam dalam waktu empat tahun sudah bisa mendatangkan 5 unit kapal selam Kilo, dan 24 unit jet tempur Sukhoi Su27/30, sudah datang semuanya.  Sementara kita butuh waktu 10 tahun untuk mendatangkan  kapal selam baru.  Hasilnya 3 biji Changbogo, barangnya pun baru mau datang tahun depan. Program pengadaan 24 F16 blok 52 id yang ditandatangani tahun 2012 mestinya proyek itu sudah selesai akhir tahun ini.  Kenyataannya masih ada 9 unit F16 yang belum sampai di tanah air.

Kementerian Pertahanan sebagai pintu gerbang proses pengadaan alutsista adalah kementerian pemegang anggaran APBN terbesar mulai tahun depan. Artinya perhatian pemerintah dan parlemen soal perkuatan pertahanan teritori cukup besar. Kemhan boleh jadi adalah kementerian basah dengan kucuran anggaran, akan tetapi jangan sampai “basah kuyup” karena perilaku oknum.

Anggaran terbesar harus dikelola dengan profesional dan transparan. Kemhan harus lugas dan cerdas memetakan potensi ancaman, bergerak cepat, beli alutsista setara, untuk memastikan keseimbangan teknologi terkini yang dimiliki. Tidak melulu ngurusin program bela negara.  Program bela negara perlu tetapi bukan segala-galanya. Teknologi alutsista itu juga penting dan harus dimiliki di alam nyata bukan di alam maya.

Halaman belakang rumah yang bernama NTT, Arafuru, Merauke harus dipoles dengan penempatan sejumlah alutsista modern. Syukurlah sudah ada program menempatkan sejumlah jet tempur di Kupang dan pembangunan batalyon arhanud di NTT serta tambahan kapal perang.  Tetapi bukan sekedar persebaran jet tempur atau kapal perang saja, penting dan mendesak adalah penambahan kuantitas dan kualitas alutsista seperti Sukhoi SU35, Fregat dan kapal selam secepat-cepatnya.

Raptor dan marinir AS di Darwin jelas ancaman meski dalam kacamata diplomatik kita berkawan baik dengan AS dan Australia. Tetapi dalam perjalanan dinamika diplomatik itu semuanya berbungkus kepentingan nasional dan tuntutan pemenuhan sumber daya alam. Di bingkai itu AS mudah berubah pikiran apalagi besok dipimpin Donald Trumph yang sangat nasionalis itu.

Jawabannya jelas, perkuat secepat mungkin militer kita. Beli Sukhoi tidak lagi 8 biji tapi minimal 1 skuadron alias 16 biji. Jumlah kapal selam juga dipercepat proses pembangunannya.  Sudah ada infrastruktur kapal selam di PAL Surabaya. Jadi bisa dibuat paralel masing-masing di Korsel dan Surabaya.  Demikian juga dengan kapal-kapal permukaan, lanjutkan proyek PKR 10514, teruskan proyek KCR. Jangan sampai telat mikir atau kebanyakan mikirin komisi sehingga makna pertahanan berbasis bangsaku berubah menjadi pertahanan berbasis bank saku.
****

Jagarin Pane / 17 Desember 2016

Monday, December 12, 2016

Galeri Foto Tentaraku

Pangkalan TNI AL Surabaya, gegap gempita
"Bung Tomo Class" tiga kapal perang terbaru kita
Hercules ke 5 dari 9 pesanan yang datang.  Kita punya 27 Hercules
Dentuman dan Leopard di Natuna, luar biasa
Jet tempur F16 patroli.  Kita punya 33 unit 
Sukhoi dan persenjataan lengkapnya
****
12 Des 2016

Wednesday, November 30, 2016

Alutsista Kita, Pesan Datang Silih Berganti

Perjalanan memperkuat militer Indonesia terus menggeliat tanpa henti. Komitmen dan konsistensi pengelola negeri ini bersama seluruh rakyatnya adalah menyetarakan kekuatan militernya dengan kehebatan sumber daya alamnya, luas wilayahnya, sumber daya manusianya dan posisi geostrategis yang harus dikawal bersama perjalanan eksistensi bernegara. Dengan itu maka kita akan terus melihat alutsista-alutsista anyar berdatangan ke negeri kepulauan nan elok ini.

Militer Indonesia tidak lagi terhalang kesulitan anggaran untuk memantapkan profesionalitas jati dirinya. Kita lihat barusan di Natuna dengan latihan militer besar-besaran yang berkelanjutan.  TNI AU menggelar latihan tempur skala besar disana demikian juga dengan TNI AD sepanjang Oktober dan Nopember tahun ini. Berbagai jenis alutsista canggih diperlihatkan, diuji tembak dalam model pertempuran modern. Simulasi yang membanggakan.

Pangkalan-pangkalan militer perbatasan diperkuat.  Natuna dalam dua tahun ke depan sudah menjadi pangkalan militer besar segala matra. Di Teluk Palu sedang dibangun pangkalan kapal selam, di Tarakan dibangun pangkalan AU dan AL yang bersinergi satu sama lain. Di Kupang juga menjadi pangkalan jet tempur TNI AU bersama pembangunan batalyon kavaleri dan batalyon arhanud. Di Papua Barat dan Sulawesi Utara dibentuk Kodam baru.
Uji tembak MLRS Astross II Mk6
Di Sorong sedang dibangun pangkalan induk TNI AL untuk armada timur.  Di Makassar sudah dibentuk satuan kapal cepat armada timur untuk respons cepat kejadian tak terduga di laut. Ini mencontoh satuan kapal cepat armada barat yang sudah eksis lebih dahulu dan mampu menjalankan perannya untuk meminimalkan perompakan dan insiden di laut. Jumlah kapal perang permukaan terus ditambah baik yang berpredikat KRI maupun KAL.

Setelah menambah 2 kapal perang jenis PKR10514 yaitu KRI Raden Edy Martadinata 331 dan KRI  I Gusti Ngurah Ray 332, TNI AL kembali memesan 2 kapal perang sejenis. Sementara PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembangunan galangan kapal selam modern karena adanya transfer teknologi pembuatan kapal selam dengan Korsel. Bulan Februari 2017 nanti modul kapal selam ketiga “Nagapasa Class” akan dirakit dan diselesaikan di PAL. Kemudian kapal selam keempat dan seterusnya akan dibuat di PAL. 

Sebagaimana disampaikan Menhan Ryamizard baru-baru ini Indonesia akan membangun 10 kapal selam modern untuk menjaga teritori lautnya. Jika teknologi kapal selam sudah dikuasai dengan membangun sendiri kapal selam ke empat dan seterusnya maka lengkap sudah PT PAL menguasai seluruh teknologi kapal perang mulai dari KCR 60m, PKR 10514, LPD dan kapal selam. Ini kemajuan yang luar biasa.

Jet tempur F16, bersiap patroli udara
Demikian juga Pindad sudah mampu membuat panser Anoa sampai 300 unit, Panser Badak 50 unit. Akan semakin sempurna jika proyek medium tank bisa diselesaikan tahun depan.  PT DI tak mau ketinggalan meski agak kedodoran dan berselisih dengan relasi user utamanya TNI AU. Jika proyek jet tempur KFX/IFX kerjasama dengan Korsel sukses maka kehebatan industri pertahanan kita sudah setara dengan negara lain dan paling lengkap.

Proyek pembangunan militer kita yang didukung anggaran militer terbesar mulai tahun 2017 akan menghasilkan hadirnya ragam alutsista anyar. Daftar belanja yang diprediksi akan diorder tahun 2017 antara lain paket alutsista peluru kendali darat ke udara (SAM) jarak sedang, jet tempur Sukhoi SU35, kapal selam mini 22m, tank amfibi BMP3F, tank Pindad-FNSS, tank boat X18, panser Pandur II 8x8, ranpur Sanca, UAV, radar, kapal selam.

Sementara berbagai alutsista yang diprediksi datang tahun 2017 adalah 2 kapal selam jenis Changbogo, 2 kapal perang PKR 10514, 2 kapal cepat rudal 60m, 8 kapal patroli cepat, 2 kapal perang LST, 4 helikopter Apache, 4 helikopter Fennec, 4 helikopter Combat EC725 Cougar, 6 helikopter anti kapal selam Panther, 4 RM70 Vampire, 50 panser Badak,  20 artileri LG1 MkIII Nexter, sistem peluncur dan rudal Starstreak, 3 radar militer, 20 MBT Leopard, 2 kapal LCU, 9 jet tempur F16 blok52.

Leopard di Natuna, ada kebanggaan disitu
Fokus pengembangan industri pertahanan dalam negeri mendatang adalah mendalami dan menguasai teknologi alutsista modern dengan tujuh proyek strategis yaitu teknologi propelan,roket, rudal, medium tank, radar, kapal selam dan jet tempur.  Ini pekerjaan besar yang secara substansi sudah berjalan dengan baik sampai saat ini. Kita meyakini tidak lama lagi Indonesia akan memiliki industri pertahanan nasional yang mampu mensuplai kebutuhan alutsista strategis yang dibutuhkan militernya.

Semua berpacu dengan waktu. Negara pengklaim Laut Cina Selatan sedang giat membangun pangkalan militer di wilayah klaimnya. Persinggungan teritori dengan kita jelas ada karena masing-masing menggunakan ZEE sebagai titik ukur untuk eksploitasi sumber daya alam di laut kaya itu.  Itulah sebabnya mengapa kita membangun pangkalan militer besar di Natuna. Kita tidak ingin negara lain melecehkan teritori kita.  Demikian juga di kawasan perbatasan lain di negeri ini dipasang mata dan telinga berikut alat pukulnya.

Wajar dong diperkuat karena kehebatan negeri ini dengan sumber daya alamnya baik di laut dan di darat. Populasi penduduknya yang besar tentu harus mendapatkan perlindungan dan jaminan suplai logistik. Posisi geostrategis mewajibkan negeri ini memperkuat militernya sebagai jaminan kelangsungan perjalanan berbangsa. Jadi modernisasi tentara dengan alutsista berteknologi terkini adalah untuk memastikan kekuatan daya tahan,daya tangkal serta daya pukul.  Negeri ini harus punya militer yang setara dengan kehebatan sumber daya alam dan sumber daya manusianya.
****
Jagarin Pane / 30 Nop 2016 

Friday, November 18, 2016

Menghangatkan Adonan NKRI

Kebanggaan kita sebagai bagian dari anak bangsa yang berbingkai NKRI adalah ketidaksamaan ramuan yang membentuk adonan dalam sebuah tekad membangun bangsa. Republik Indonesia adalah adonan yang diramu, diracik, diblender dan dimatangkan dalam sebuah open panasnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan puluhan tahun yang lalu. Kematangan perjuangan itulah yang membentuk karakter berbangsa sampai saat ini, semangat nasionalis patriotik.

Semangat kebhinnekaan, semangat kebersamaan yang dibentuk dari ketidaksamaan komponen, itulah kehebatan kita, itulah kebanggaan kita. Tujuh puluh satu tahun adonan NKRI memberikan makna dalam perjalanan eksitensi bangsa.  Bersama menjalani hiruk pikuk suka cita bangsa, bersama menjalani hiruk pikuk duka cita bangsa dengan peristiwa-peristiwa besar yang menampar perjalanan, menikam nilai-nilai kesatuan dan tetap saja dengan ridho Allah kita masih bisa bernama Indonesia dan semoga akan selalu bernama Indonesia.

Adonan NKRI hari-hari belakangan ini agak menggumpal satu sama lain oleh sebuah sebab yang terlambat didiagnosa pengendali negeri yang bernama rezim. Akibat omongan nista dari seorang pejabat publik yang memasuki wilayah teritori aqidah lain, jadilah kemarahan yang menggumpal yang membuat adonan kebersamaaan menjadi retak. Lebih dari itu gumpalan adonan dari sebuah komponen mayoritas yang teritori aqidahnya dilecehkan memberikan pesan kuat bahwa kemarahan ukhuwah harus disikapi dengan arif.
Latihan tempur TNI AD di Natuna, jangan main-main
Teritori aqidah tidak jauh beda dengan teritori NKRI dari sisi semangat jihadnya.  Kalau pada saat-saat ini militer kita sedang mengadakan simulasi pertempuran berkelanjutan di Natuna, pesannya jelas agar negara-negara lain yang bersengketa wilayah di Laut Cina Selatan tidak melecehkan teritori Indonesia. Kalau itu dilecehkan maka segenap komponen anak bangsa dengan tulang punggung TNI akan marah besar dan siap berjibaku.

Ketika sudah dipertunjukkan nilai tersangka kepada pembuat sebab, mestinya dipertunjukkan pula nilai-nilai arif dari komponen mayoritas. Dan mempercayakan semuanya pada mekanisme hukum. Para pemimpin agama, para ulama sedang berupaya mendinginkan suhu, dan kita sebagai anak bangsa, sebagai umat selayaknya ikut dalam barisan itu.  Terus mengumbar adrenalin juga tidak sehat manakala perjalanan tubuh memerlukan istirahat.

Adonan NKRI adalah predikat terhormat dari sebuah perjalanan bangsa yang berdarah dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaannya. Bukankah NKRI diramu dari kesadaran berbangsa yang unsur-unsur adonannya berbeda satu sama lain.  Meski komponen mayoritas berwarna hijau daun, toh bendera kita berwarna merah putih.  Meski mayoritas kita adalah dari suku yang selalu “ewuh pakewuh” toh bahasa nasional kita dari sebuah suku minoritas.

Ketika naskah Piagam Jakarta disempurnakan menjadi Pancasila dengan menghilangkan tujuh suku kata, toh yang mayoritas tadi tetap legowo.  Itulah yang disebut adonan hangat untuk menciptakan sebuah bangunan karakter berbangsa dengan pilar kuat, semangat kebangsaan dalam kebhinnekaan.  Bangunan karakter model begini sangat sulit mencarinya di belahan mana pun di dunia karena dibentuk dari nilai juang, harga diri dan kebersamaan dalam perbedaan. Syukuri saudaraku yang dirahmati Allah.
Negeri yang indah, permai, nusantaraku
Pelajaran penting dari “mulutmu harimaumu” adalah jadilah pemimpin yang beretika dan berakhlak.  Meski proses dan hasil kerjanya diakui hebat tetapi penentu semua keberhasilan itu adalah nilai lisan dan sikap rendah hati yang menampakkan suasana sejuk. Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah cerdas dan tanggap dalam merespon segala cuaca yang menerkam ekstrim.  Ini utamanya untuk pemimpin rezim yang mestinya lebih banyak menyoal rumus strategis negara daripada  sekedar berpikir dan melangkah taktis wira wiri yang tak perlu.

Hulubalang Republik yang bernama Tentara Nasional Indonesia adalah benteng utama yang bersama komponen bangsa yang lain senantiasa menjaga ramuan adonan yang bernama NKRI.  Sejarah membuktikan semua komponen yang membentuk dan merekatkan NKRI adalah pejuang sejati.  Komponen mayoritas  tentu dengan kekuatan mayoritasnya berperan besar dan sebanding dengan nilai dominannya. TNI adalah payung kehormatan itu untuk menjaga dan mempertahankan kehormatan bangsa besar ini.

Namanya adonan tentu ramuannya terdiri dari berbagai unsur untuk menampilkan rasa nikmat bagi sebuah kue atau roti. Meski komponen dominan pembuat roti atau kue adalah tepung terigu, tetapi jika tidak ada campuran putih telur, mentega, gula, dan unsur lain tentu rasanya hambar. Kue yang bernama Indonesia itu adalah yang paling nikmat manakala kita mau mensyukuri nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki. Memahami perbedaan diantara kita sebagai rahmat dan kasih sayang Allah. 

Marilah kita hangatkan kembali sebuah adonan keindahan yang sudah tercetak puluhan tahun yang lalu. Sebuah adonan kebanggaan, sebuah adonan kebersamaan yang sudah kita jalani dengan suka duka.  Kultur kita adalah kebersamaan itu, nilai kejuangan kita adalah kebersamaan itu, kehebatan kita adalah keragaman itu, republik kita adalah kebersamaan itu.  Semoga Allah selalu meridhoi jalan kebersamaan bangsa besar ini.

****
Jagarin Pane / 18 Nopember 2016


Saturday, November 12, 2016

After Indo Defence 2016

Perhelatan industri pertahanan melalui pameran alutsista Indo Defence baru saja usai.  Gelaran produksi alutsista baik dari dalam negeri dan luar negeri yang berlangsung tanggal 2-5 Nopember 2016 di JIExpo Kemayoran Jakarta itu memperlihatkan semaraknya penawaran jual beli mesin militer. Indo Defence 2016 yang digelar dua tahun sekali, diikuti 670 perusahaan alutsista dari 28 negara. Tentu yang pengen “ditembak” adalah sebuah negara kepulauan yang sedang memodernisasi militernya, Indonesia.

Kabar-kabar yang membungakan hati diperlihatkan after Indo Defence digelar. Kabar-kabar itu setidaknya menjanjikan sebuah harapan besar akan terwujudnya sebuah postur militer Indonesia yang berotot.  Apalagi dengan kucuran anggaran yang membesar dari tahun ke tahun dan mulai menggunakan basis PDB. Tentu kita semua menyambut gembira karena salah satu pilar penyangga NKRI diperkuat, dibaguskan dan digagahkan.
Kapal selam KRI Nagapasa 403, segera datang
Kemhan menyatakan akan kembali memesan 3 kapal selam modern. Seperti kita ketahui saat ini Indonesia sedang menantikan selesainya proyek 3 kapal selam Changbogo kerjasama produksi dengan Korsel. Kapal selam pertama dan kedua dibuat di Korsel dan akan diserahkan bulan Februari dan Oktober 2017. Kapal selam ketiga diproses di PAL Surabaya. Kita berharap pesanan 3 kapal selam baru itu adalah dengan melanjutkan proyek Changbogo agar investasi infrastruktur dan “sekolah” para insinyur kita ke Korsel bisa menunjukkan hasil karyanya.

Sementara untuk proyek kapal perang SIGMA PKR 10514, membangun dua kapal perang kerjasama dengan Belanda akan ditambah lagi sehingga menjadi 4 unit.  Dua kapal perang yang sudah uji laut itu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332 akan mendapat teman baru. Dalam pola transfer teknologi ini, kita mendapatkan opsi membangun sampai 20 kapal perang.  Artinya PT PAL  sudah bisa membangun kapal perang striking force setara dengan gurunya.

PT PAL sudah dipercaya membangun dua kapal perang LPD untuk militer Filipina. Ilmu membuat kapal jenis LPD ini didapat dari gurunya Korsel.  Indonesia memesan empat LPD, dua dibuat di Korsel dan dua lagi dibuat di PAL Surabaya.  Hasilnya cemerlang karena si murid yang bernama PAL itu jenius, dan Filipina tertarik dan pesan 2 LPD, satu sudah diserahkan, satu lagi Maret tahun depan. Di Indo Defence kemarin Malaysia juga tertarik untuk membangun LPD nya di PAL.
KRI Martadinata 331, lagi sea trial


Marinir Indonesia sudah memesan 20 unit artileri LG1 MKIII Nexter. Nah di Indo Defence TNI AD menyatakan minatnya untuk mendapatkan alutsista ini. Marinir kita juga kembali memesan sedikitnya 30 unit tank amfibi BMP 3F untuk menambah jumlah 60 tank jenis yang sama yang sudah dimiliki. TNI AD memesan 50 unit panser Badak buatan Pindad dan 50 unit ranpur anti ranjau yang bernama Sanca. Proyek Sanca adalah kerjasama militer dengan Bushmaster Australia.

Galangan kapal swasta nasional di Lampung juga kebagian order. Setelah mendapat pesanan membuat 1 kapal perang LST untuk TNI AL, perusahaan swasta nasional ini mendapat order membuat 2 kapal perang LCU ukuran besar untuk TNI AD. Galangan kapal swasta nasional di Batam juga kebagian buat kapal patroli lepas pantai (OPV) kerjasama dengan DCNS Belanda. Kita ketahui perusahaan di Batam ini sudah mampu membuat dan menyelesaikan 8 kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) untuk TNI AL. Saat ini sedang mengerjakan kapal Coast Guard ukuran besar untuk Bakamla.

Yang menarik proyek kerjasama pembuatan medium Tank antara Pindad dan FNSS Turki sudah menampakkan “jalan kehidupannya”.  Kalau ini sukses tentu Indonesia sudah bisa membuat tank tempur yang berkualitas. Jadi kombinasi Panser Anoa, Panser Badak, Tank buatan Pindad akan menjadi tulang punggung kekuatan TNI AD dari industri pertahanan dalam negeri. Pindad bersama PAL sudah menunjukkan kehebatannya dalam membangun industri pertahanan dalam negeri.  Apalagi jika proyek jet tempur KFX/IFX kerjasama PT DI dengan Korsel berhasil, maka lengkaplah sudah kita mampu menyajikan beragam alutsista strategis untuk tentara republik ini.

Tank Pindad-FNSS, wooww

Dalam waktu dekat kita juga akan menerima 6 helikopter Combat SAR EC 725 Super Cougar, 2 helikopter anti kapal selam, 2 helikopter Fennec.  Beberapa waktu lalu galangan kapal swasta nasional sudah menyelesaikan 5 kapal perang patroli cepat untuk TNI AL yaitu KRI Tatihu 853, KRI Ibakora 854, KRI Makerel 855, KRI Torani 860 dan KRI Lepu 861. Sementara pesawat Hercules yang didatangkan dari Australia sudah mencapai 6 unit dari 9 pesanan.

Ramai sekali suasana pesan datang beragam jenis alutsista negeri ini. Belum lagi rencana mengadakan 18 unit MLRS Astross Brazil.  Kita sudah punya 36 unit MLRS Astross, sepertinya masih kurang.  Juga pengadaan peluru kendali jarak sedang SAM, tambahan oerlikon skyshield, sejumlah radar militer untuk Bengkulu, NTT, Morotai. Paket persenjataan peluru kendali jarak menengah untuk jet tempur F16 dari AS juga sudah diambang kedatangan. Helikopter Apache yang pesanan pertama 8 unit akan ditambah lagi menjadi 16 unit.

Jadi Indo Defence kemarin menjadi tempat yang terang benderang untuk memprediksi isian alutsista TNI dalam masa mendatang.  Pesannya jelas, belilah sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.  Kelola anggaran dengan baik, hindari sikut menyikut satu sama lain, penuhi gudang arsenal TNI dengan alutsista berkualitas, sebar ke seluruh pelosok tanah air.  Itu sajalah harapan kami sebagai rakyat, bangga punya TNI yang kuat dan gagah.
****

Jagarin Pane / 12 Nopember 2016

Wednesday, November 2, 2016

Kembali Mengasah Pedang

Hanya berjarak waktu sebulan dari latihan sebelumnya, militer Indonesia kembali mengasah pedang dengan menggelar dan menggelegarkan pulau Natuna melalui simulasi pertempuran darat bersama aneka ragam alutsista dan lebih 4000 prajurit matra darat.  Mengapa kembali digelar latihan perang di pulau garis depan itu, padahal TNI AU baru saja menggelar unjuk kekuatan besar-besaran disana. Inilah pertanyaan yang diomongi banyak orang.

Jawaban diplomatisnya, ini kan teritori sah kita yang posisinya ada di garis depan, pulau terluar. Jadi Seluruh matra TNI wajib mendiagnosa detail wilayah perbatasan yang lagi demam sebagai antisipasi. Jawaban militernya, jangan coba-coba menganggu wilayah teritori NKRI, berani masuk digebuk.  Jawaban Presiden Joko Widodo lebih sederhana lagi, ini perintah langsung dari saya sebagai Pangti. Ayo para jiran mau ngomong apa.
MLRS Astross II Mk6, ikut ke Natuna
Maka selama dua pekan ini Natuna didatangi kiriman alutsista dari Jawa.  Ada yang lewat laut ada yang lewat udara. Tank Leopard yang bobotnya 63 ton harus dilayarkan dengan kapal ADRI bersama panser Anoa, Tank APC M113, Tank Marder, Tank AMX, Tank Scorpion. Sayangnya pada saat diperlukan kapal khusus angkut tank Leopard KRI Teluk Bintuni 520 masuk dok. Yang menarik MLRS Astross dan artileri 155mm Caesar Nexter bisa diangkut dengan Hercules sehingga mempercepat pergerakan alutsista.

Berbagai jenis Helikopter tempur yang dimiliki TNI AD dikerahkan ke Natuna misalnya Heli serbu Mi35, Bell 412Ep, Mi17 dan lain-lain. Begitu seriusnya latihan ini sampai-sampai Penerbad menarik pulang 3 Helikopter Mi17 yang sedang bertugas menjalankan misi PBB di Mali. Heli Mi17 diangkut pulang dengan menggunakan pesawat Antonov langsung ke Halim. Simulasi pertempuran darat ini diyakini akan menjadi unjuk kekuatan yang terbesar dengan pengerahan alutsista modern yang dimiliki TNI AD.

Dengan pergerakan dan penggelaran alutsista  di Natuna, tentu berdampak bagus bagi rasa nasionalisme patriotik warga kita yang berdomisili disana. Dan memang harus begitu, dipertunjukkan bahwa kalian yang berada di garis depan teritori RI ada dalam perlindungan TNI, kalian dipayungi oleh tentara pengawal republik. Siapapun yang ada di perbatasan.

Cina, walaupun tidak menampakkan reaksi diplomatik tetapi jujur saja akan mengintip suasana latihan tempur itu. Ini hal yang biasa dalam kacamata militer.  Apalagi dengan kecanggihan teknologi satelit dan UAV. Termasuk juga AS dan Singapura akan memantau serius jalannya latihan tempur itu. Latihan antar satuan tempur TNI AD melibatkan batalyon kavaleri, artileri, infanteri mekanis, arhanud, zeni tempur, raiders, penerbad. Ini juga menguji kesiapan interoperability sistem komunikasi, koordinasi dan persenjataan.
Artileri Caesar Nexter, ikut meramaikan
Nilai tambah latihan tempur TNI AD yang dijadwalkan dimulai tanggal 10 Nopember 2016 ini akan kembali disaksikan oleh Presiden Jokowi bersama seluruh Gubernur di Indonesia. Ini juga bagian dari pesan jelas itu bahwa Natuna bagian NKRI. Para Gubernur datang untuk merasakan suasana pertempuran di Natuna.  Kalau itu terlaksana maka hanya selang waktu satu bulan Presiden kita kembali lagi mengunjung Natuna. Bukan kah ini sebuah pesan yang jelas. Sudah jelas kan.

Berbagai skenario jalannya pertempuran sudah disetting. Misalnya kalau “doktrin berani masuk digebuk” lebih banyak dijalankan oleh TNI AU dan TNI AL maka skenario “musuh sudah masuk baru digebuk” jelas menjadi domain TNI AD. Musuh yang masuk lewat sebuan pantai akan dijegal oleh tank Leopard dan kawan-kawan. Skenario serangan udara musuh maka Arhanud akan berperan memuntahkan rudal jarak pendeknya.  Penerjunan PPRC juga bagian dari serial latihan besar ini.

Tetapi jujur saja, untuk ukuran republik yang luas ini, kuantitas dan kualitas alutsista TNI masih belum memadai termasuk sebarannya.  Masih banyak yang harus ditambah dan disebar. Pembangunan pangkalan militer di Natuna yang sedang berlangsung tentu memerlukan banyak isian alutsista untuk ditempatkan disana. Juga di tempat-tempat lain seperti Biak, Saumlaki, Sorong, Kupang, Tarakan.

Jika pemerintah dengan dorongan kuat parlemen menjalankan program anggaran pertahanan berbasis PDB maka dalam lima tahun ke depan isian alutsista yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan lho) dapat terpenuhi. Alhamdulillah untuk anggaran tahun 2017 diperlihatkan awal korelasi berbasis PDB dengan koordinasi yang baik antara Menkeu, Menhan dan DPR. Kemhan mendapat alokasi anggaran sebesar 108 trilyun, ini yang terbesar.

Jadi pembangunan pangkalan militer Natuna berjalan sesuai rencana.  Dua tahun lagi selesai dan wajah pangkalan itu “bolehlah”. Ada bunker kapal selam, ada bunker jet tempur, ada rudal SAM jarak sedang, ada UAV, ada radar tiga dimensi, kapal perang striking force. Sementara di tempat lain republik ini isian alutsista akan terus berdatangan dalam tahun-tahun mendatang.  Latihan militer skala besar bisa berjalan dengan mulus. Tentu semua ini akan mematangkan dan memantapkan profesionalitas prajurit TNI.

Karena Natuna ada di garis depan yang paling tinggi nilai ancamannya maka wajar dong pulau itu dibentengi dengan kekuatan militer yang besar.  Termasuk kegiatan latihan militer seluruh matra TNI, adalah dalam rangka membiasakan suasana dan pengenalan medan garis depan.  Kekayaan sumber daya alamnya harus dijaga dan dilindungi.  Lebih dari itu kedaulatan dan kewibawaan teritori NKRI adalah segalanya. Jadi sering-seringlah mengasah pedang di teritori Natuna.
****
Jagarin Pane
Semarang, 02 Nopember 2016