Saturday, July 30, 2016

Menunggu Changbogo

Armada striking force bawah laut Indonesia sedang bersiap-siap menunggu kedatangan kapal selam canggih buatan Korea Selatan, Changbogo. Akhir tahun ini atau awal tahun depan satu dari tiga kapal selam yang dipesan sudah dapat dioperasionalkan oleh korps Hiu Kencana. Kedatangan kapal selam Changbogo itu nantinya sekaligus memecahkan rekor jumlah kapal selam Indonesia yang selama hampir setengah abad hanya berjumlah dua biji tok.

Iya, sebuah negara kepulauan tropis terbesar di dunia selama puluhan tahun memunggungi lautnya.  Sehingga nelayan asing pesta pora mengambil ikan dan bahkan mungkin ikut memetakan data intelijen bawah laut.  Sekarang baru siuman dan sadar dari kebodohannya.  Kemudian bangun melalui srikandi Pangandaran “Angelina Jolie” Susi Puji Astuti menangkap dan menenggelamkan puluhan kapal nelayan asing.

Indonesia sedang membenahi manajemen kelautannya termasuk memperkuat barisan keamanan dan pertahanan laut. Untuk keamanan laut sudah dibentuk Bakamla (Badan Keamanan Laut) yang sedang dibesarkan dengan puluhan kapal penjaga pantai Coast Guard. Dalam lima tahun ke depan setidaknya sudah tersedia 30-35 kapal penjaga pantai.  Itu sebabnya industri galangan kapal swasta nasional kita saat ini sedang bergembira ria dengan panen order buat kapal-kapal Bakamla termasuk juga dari berbagai institusi yang beroperasi di bidang kelautan seperti Bea Cukai, Polisi Air, Kemenhub.
KRI Nanggala 402, sudah dimodernisasi di Korsel
Dengan adanya Bakamla tugas TNI AL diringankan karena ada sinergi alias bagi-bagi tenaga untuk menjaga keamanan laut.  Itu sebabnya armada kapal perang Indonesia yang berstatus KRI jumlahnya tidak akan beranjak dari 160-165 unit.  Jumlah itu dianggap memadai dan seluruhnya sedang dan akan dimodernisasi melalui empowering dan pergantian kapal perang.  TNI AL akan fokus pada apa yang disebut “gugus tempur laut” meski tetap mengawal “gugus keamanan laut” bersama kapal-kapal Bakamla.

Nah untuk kekuatan armada kapal selam kita yang jumlahnya “selalu dua” selama puluhan tahun, sangat memalukan jika tidak ditambah. Untunglah kita masih punya rasa malu. Ingat dengan sejarah Trikora, ketika kita punya kapal selam “Whiskey Class” sampai 12 biji si Belanda mulai berhitung ulang.  Kekuatan penggentar bawah laut Indonesia adalah salah satu faktor penentu hengkangnya kolonialisme Belanda di Papua tahun 1963. Tolong catat itu.

Dengan perjuangan panjang, saling sikut dan penuh tikungan maut, selama hampir delapan tahun mencla mencle, akhirnya pemerintahan SBY pada akhir Desember 2011 menandatangani kerjasama pengadaan kapal selam dengan Korsel melalui mekanisme transfer teknologi.  Kita pesan tiga biji, yang dua dibuat di Korsel dan yang satu terakhir dibuat di PAL Surabaya.  Nilai kontrak ketiganya US $ 1,1 milyar.

Ketiga kapal selam ini diprediksi akan bernama KRI Nagabanda 403, KRI Trisula 404 dan KRI Nagarangsang 405.  Tentu kehadiran ketiga kapal selam canggih ini seperti melepas beban sesak nafas selama ini bagi korps Hiu Kencana yang hanya punya dua kapal selam tua berusia hampir 40 tahun.  Lebih dari itu setidaknya ada rasa percaya diri untuk memastikan ruang bawah laut kita ada dalam kontrol pengawasan Hiu Kencana.

Tentu kita berharap serial Changbogo tidak berhenti sampai bilangan nominal tiga.  Sebagaimana harapan Hiu Kencana yang mottonya “Tabah Sampai Akhir”, jumlah kekuatan kapal selam Indonesia yang harus dicukupi ada di angka 12-14 kapal selam untuk menjaga 3 ALKI yang strategis.  Dengan model transfer teknologi dimana kapal selam ketiga dan seterusnya sudah bisa dibuat oleh para insinyur Indonesia di PT PAL dengan supervisi Korsel tentu ini sangat membanggakan.  Jangan sampai niat yang sudah bagus ini kemudian dipatahkan oleh inkonsistensi pengambil kebijakan, lalu memesan kapal selam jenis lain.

Persoalan di hampir semua model pengambil kebijakan kita adalah ganti pejabat ganti selera. Proyek Changbogo ini sangat membanggakan jika nantinya kita sudah bisa buat kapal selam sendiri.  Sama dengan proyek kapal perang yang dikenal dengan PKR 10514 kerjasama Belanda dan PAL, sampai pembuatan kapal perang kedua semua berjalan bagus. Tapi ilmu yang didapat dari pembuatan 2 PKR 10514 itu seakan ingin dimentahkan dengan program inkonsistensi itu.  Padahal Belanda menyediakan opsi membuat sampai 20 unit kapal perang modern kita.

Proyek PKR 10514, Jet tempur IFX dan Changbogo adalah kebanggaan kita sebagai bangsa karena dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi industri pertahanan strategis. Jangan sampai kebanggaan sebagai bangsa besar dikalahkan oleh naluri makelar demi “bank saku”.  Semua proyek alutsista model transfer teknologi itu sudah ada pada jalan yang benar.  Changbogo sedang kita tunggu dan semoga jumlahnya tidak berakhir di nominal tiga tetapi akan berlanjut sampai tiga belas atau empat belas.  Semua demi kehebatan bangsaku, bukan “bank saku”.
****

Jagarin Pane/30 Juli 2016

Monday, July 25, 2016

Prediksi Belanja Militer RI Sampai Tahun 2019

Indonesia terus berupaya memperkuat militernya dengan belanja alutsista secara intens. Program eksisting saat ini adalah membangun pangkalan militer segala matra di Natuna dengan APBN_P tahun 2016 sebesar 1,2 Trilyun untuk menjadikan Natuna sebagai salah satu sarang lebah militer kita. Sebaran alutsista di Natuna sampai saat ini berupa pergeseran 1 flight jet tempur F16, pertahanan pangkalan Oerlikon Skyshield, radar Weibel yang mobile, sejumlah kapal perang striking force, drone dan pesawat patroli maritim.

Program pengadaan alutsista yang sedang berlangsung saat ini adalah pembuatan 2 kapal perang PKR 10514 produksi bersama Belanda_PT PAL di Surabaya, dimana salah satunya yaitu KRI Martadinata 331 sedang menjalani sea trial di laut Jawa. Kemudian pembuatan kapal latih pengganti Dewaruci di Spanyol, pembuatan 3 kapal selam jenis Changbogo di Korsel, salah satunya juga sedang menjalani sea trial di Korsel.  Juga sedang berlangsung pembuatan 2 kapal LST angkut tank spesialis Leopard di Jakarta dan Lampung untuk menemani KRI Teluk Bintuni 520 yang duluan selesai. Tahun depan juga akan dibangun 1 kapal perang jenis LPD untuk menambah jumlah LPD Makassar Class yang berjumlah 4 unit.
Jet Tempur Sukhoi SU30 bersiap patroli tengah malam
Kita juga sedang menunggu kedatangan 15 unit jet tempur F16 blok 52Id dari AS. Mestinya seluruh 24 unit jet tempur F16 up grade yang dibeli lewat program FMS tahun 2012 itu sudah tiba seluruhnya akhir bulan Juni 2016. Kita juga sedang menunggu kedatangan sang primadona Main Battle Tank Leopard RI dari Jerman dan berbagai alutsista pesanan pemerintah SBY. Tidak ketinggalan sedang diprogramkan untuk 15 jet T-50 golden eagle berupa pemasangan instalasi radar dan rudal sehingga bisa bisa berfungsi sebagai jet tempur disamping sebagai trainer.
Nah diluar paket eksisting itu militer Indonesia kembali melanjutkan rancangan belanja alutsista untuk tiga tahun ke depan (2017-2019). Dari data yang dikeluarkan Bappenas terhimpun jumlah dana yang digelontorkan untuk pembelian aneka ragam alutsista sebesar US$ 7,6 milyar dibagi untuk tiga matra. TNI AD mendapat alokasi anggaran sebesar US$ 1,5 milyar, TNI AL sebesar US$ 3,3 Milyar dan TNI AU sebesar US$ 2,8 Milyar.

TNI AU hampir pasti membeli 10 unit jet tempur Sukhoi SU35, 3 unit pesawat amfibi, pesawat angkut ukuran besar, helikopter angkut berat, sejumlah radar dan sistem pertahanan rudal jarak sedang untuk ibukota. Khusus untuk pengadaan rudal surface to air jarak sedang ini merupakan hal baru karena Indonesia selama ini hanya bertumpu pada Hanud Titik alias rudal jarak pendek. Jakarta sangat pantas mendapatkan pengawalan Hanud Area dengan memasang sejumlah peluru kendali darat ke udara jarak menengah.

TNI AL melanjutkan program pengadaan kapal perang dan alutsista striking force.  Prediksi kita akan ada pembelian 3 kapal perang jenis fregat, 2 kapal selam “herder” selain Changbogo, 2 kapal penyapu ranjau, 4 Kapal Cepat Rudal 60m, 60 tank amfibi, sejumlah rudal dan torpedo. Sementara TNI AD juga memperkuat taring tempurnya dengan membeli sejumlah heli serbu, heli angkut berat, rudal, artileri, tank, panser dan kendaraan tempur IFV.
Fregat KRI Satsuit Tubun 356 sedang bertugas
Tentu anggaran belanja beli alutsista itu menggembirakan kita meski belum memuaskan. Namun setidaknya ada gambaran jelas program pengadaan alutsista untuk memenuhi program MEF jilid 2 yang sedang berlangsung.  Ancaman dan tantangan menjaga teritori sudah jelas di depan mata. Paling tidak ada 2 hot spot yang selalu diwaspadai dan dijaga ketat yaitu Ambalat dan Natuna. Meski beberapa hot spot lain seperti selat Malaka dan Kupang juga perlu dicermati.

Kita meyakini dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, belanja pertahanan kita juga ikut terangkut bagus apalagi jika formula anggarannya berbasis PDB. Membangun kekuatan pertahanan dengan pola investasi tentu bisa merubah cara pandang kita selama ini. Bahwa patron bernegara dan berbangsa itu “biaya eksistensinya” adalah memperkuat otot militer dan persenjataannya. 

Jadi jangan ada anggapan bahwa perkuatan militer itu buang-buang uang negara. Perkuatan militer adalah sejalan dengan perjalanan berbangsa dan bernegara menuju negara kesejahteraan yang berkeadilan.  Perkuatan militer adalah kebutuhan mutlak agar eksistensi bernegara, eksistensi berteritori dan eksistensi berdiplomasi tidak dianggap remeh oleh negara lain. Dengan kata lain membangun dan memperkuat hulubalang republik adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya dirasakan sepanjang usia eksistensi bernegara dan berbangsa.

Belanja investasi pertahanan yang bernama alutsista harus terus diperbesar dan sangat pantas berbasis PDB. Ini dilakukan untuk memperoleh kekuatan pertahanan dan daya tahan terhadap gertakan dan gempuran teritori yang sudah mulai dicoba uji nyalinya di Natuna.  Kita perkuat militer kita, kita baguskan model diplomasi kita.  Tapi jangan lupa sebagus dan sehebat apapun model diplomasi yang dijalankan, dia harus dikawal dengan kekuatan militer yang disegani.  Kita sedang menuju ke arah itu.
****
Jagarin Pane/24 Juli 2016


Friday, July 1, 2016

Memaknai Insiden Intersep F16 Di Natuna

Selama ini boleh jadi khalayak memandang perkuatan militer kita di Natuna dimaksud untuk menghadang klaim ZEE, infiltrasi dan bahkan invasi dari negeri semilyar ummat, Cina. Terjadinya intersep terhadap satu pesawat TUDM jenis angkut berat Hercules oleh dua jet tempur F16 belum lama berselang membuka ruang baca dan ruang lihat khalayak bahwa memang Natuna itu strategis sebagai pangkalan militer segala matra. 

Memperkuat Natuna seperti sebuah pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain untuk menghadang Cina, ternyata blokade terhadap Malaysia pun bisa dilakukan manakala terjadi ribut-ribut soal Ambalat.  Pihak Malaysia pun pasti sudah memperhitungkan dampak pembangunan pangkalan militer di Natuna dalam strategi pertahanan negeri itu.  Natuna mengharuskan Sarawak dan Sabah memperkuat diri secara militer, berbagi kekuatan alutsista dengan Semenanjung.
Jet Tempur F16 blok52 Id TNI AU
Lima tahun ke depan, Natuna diyakini sudah memiliki fasilitas tempur yang berkualitas. Pangkalan angkatan udara dan pangkalan angkatan laut sudah beroperasi penuh. Artinya menempatkan secara permanen 1 skuadron jet tempur dan 7-9 KRI striking force bersama 1 brigade gabungan sudah menjadi kenyataan.  Jika dalam kondisi siap siaga seperti itu dengan dukungan alutsista berkualitas, kemudian muncul konflik Ambalat, maka kekuatan militer Natuna bisa jadi kartu truft blokade militer antara Semenanjung dan Malaysia Timur.

Dalam lima tahun ke depan dengan anggaran militer yang terus meningkat diprediksi akan ada tambahan 2 kapal perang jenis destroyer, 6 kapal perang jenis fregat dan 16 kapal perang jenis KCR 60m. Jumlah kapal selam baru kita juga akan bisa mencapai 6-8 unit dengan asumsi Cakra Class pensiun dan isian kapal selam baru itu dari jenis Changbogo dan jenis lain yang digadang-gadang sebagai herder bawah laut.
Sementara untuk matra udara diharapkan 1 skuadron Sukhoi SU35 sudah beroperasi penuh bersama 1 skuadron F16 Viper.  Sehingga alokasi penempatan 1 Skuadron fighter di Natuna dari beberapa jenis jet tempur yang dimiliki sangat dimungkinkan. Apalagi golden eagle sudah diberi radar dan rudal sehingga mampu melakukan patroli udara secara efektif.

Bersamaan dengan itu satelit militer kita yang super canggih sudah beroperasi penuh. Semua kapal perang striking force kita sudah memilik kualitas persenjataan yang modern sehingga mampu bersinergi dengan alutsista AU dan AD dalam mekanisme interoperability yang berkualitas tinggi.  Artinya pada saat itu kekuatan militer Indonesia sudah jauh mengungguli kekuatan militer Malaysia. Tahapan program MEF-2 saat ini dan MEF-3 berikutnya diyakini akan membawa kualitas alutsista militer Indonesia menuju yang terbaik di rantau ASEAN.
KRI Yos Sudarso menembakkan rudal C802
Anggaran militer Indonesia tahun ini mencapai 108,7 trilyun rupiah sesuai dengan APBNP yang sudah disetujui. Jadi meningkat 9,3 T dari anggaran APBN 2016 sebelumnya. Angka ini sebenarnya hanya 0,88% dari PDB Indonesia yang tahun ini berada di angka 12.371 trilyun rupiah.  Sementara prediksi anggaran pertahanan tahun 2017 bisa mencapai angka 120 T jika  persentase tetap 0.88% dari PDB kita yang diprediksi mencapai 13.744 trilyun rupiah. Jika rasionya dinaikkan menjadi 1% saja dari PDB maka anggaran pertahanan tahun 2017 akan mencapai 137 trilyun rupiah. Jika rasio dengan PDB dinaikkan jadi 1,5% angkanya akan sangat menakjubkan.

Kita optimis anggaran pertahanan akan naik secara signifikan. Dukungan parlemen sangat membantu Pemerintah memberikan jalan yang terbaik bagi peningkatan kualitas militer kita.  Oleh sebab itu jendela yang perlu dibuka untuk melihat cakrawala bagus ini adalah kesediaan si pemilik anggaran untuk membeli alutsista dengan mekanisme transfer teknologi dan mengutamakan produksi dalam negeri. Misalnya produksi KCR 60 meter yang dianggarkan cukup besar, serta kerjasama produksi kapal perang jenis PKR 10514 yang sangat dimungkinkan dapat menjadi produk andalan PAL pada produksi ke lima dan seterusnya.

Ketika Natuna telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer gahar maka situasi ini pasti akan membuat Malaysia salah tingkah dan sedikit gugup.  Gerakan kapal perang dan pesawat militer mereka jelas akan terpantau dan terdeteksi kuat dengan berbagai radar statis dan dinamis yang kita miliki. Bayangkan saja pemisah daratan Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur terdapat satu pangkalan militer negara lain yang punya sejarah konfrontasi. Tentu ini menggelisahkan.

Jelas ini manfaat ganda bagi kita meski pada awalnya tujuan pembangunan pangkalan militer di Natuna adalah untuk menghadang ambisi teritori Cina di Laut Cina Selatan. Dengan begitu makin jelas nilai guna dan nilai gengsi sebuah pangkalan militer terdepan kita.  Mata dan telinga militer kita tetap ke utara tetapi tidak salah juga melirik ke kiri dan ke kanan, apalagi ketika menoleh ke kiri dan ke kanan pakai mendelik.  Dijamin berdebar yang dilirik.

Jadi insiden intersep alias penyergapan  2 jet tempur F16 itu punya makna jangka panjang.  Makna jangka panjang itu adalah kita punya kartu truft yang menentukan manakala konflik Ambalat memanas dan menjurus ke perang terbuka.  Natuna dan armada barat Indonesia akan mengambil peran penting untuk memperlemah kekuatan militer Malaysia di Sabah dan Sarawak melalui blokade militer.

Meski pun begitu berteman dengan jiran adalah kebaikan silaturrahim yang mendatangkan manfaat berkah berlipat-lipat bagi kedua negara, dan saling ketergantungan satu sama lain. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang punya banyak kesamaan dalam segala hal.  Jadi kehadiran pangkalan militer di Natuna adalah untuk menjaga nilai persahabatan itu. Bukankah dengan memiliki kekuatan militer yang disegani, para jiran tentu akan menghargai persepsi diplomasi dan kehormatan teritori NKRI. Itulah makna sesungguhnya.  
****

Jagarin Pane /01072016

Wednesday, June 22, 2016

Jangan Main-Main Dengan Natuna

Sebuah solusi wajib telah diperlihatkan pemerintah dengan menggelontorkan dana besar untuk mengembangkuatkan pangkalan militer Natuna. Lewat pintu APBN-P 2016 dikucurkan dana besar 1,3 Trilyun untuk memperkuat teritori Natuna yang sering disenggol bahkan ditabrak kewibawaan teritorinya. Ini solusi wajib sebab jika tidak sekarang, maka buyarlah harapan membangun benteng berkapasitas banteng. Jangan menunda-nunda lagi karena ancaman sudah nyata.

Demikian juga dengan kucuran anggaran pertahanan dalam tiga tahun masa pemerintahan Jokowi mendatang.  Prediksi yang dijadikan indikator adalah ancaman itu sudah nyata, ancaman itu bukan wacana tapi sudah di depan mata.  Kalau masih ada yang bilang kita tak punya musuh berarti mata pikirnya atau jernih hatinya sedang terserang katarak. Musuh militer Indonesia jelas di depan mata meski secara diplomatik kita tak punya musuh. Itu kan bahasa diplomatik.
Kontrak 8 SU35 selesai Agustus tahun  ini
Perairan Natuna sudah menjadi ruangan uji nyali bagi militer Indonesia.  Sudah berulang kali kapal nelayan Cina dan tetangga lain memasuki peraairan ZEE Natuna.  Terakhir beberapa hari lalu KRI Imam Bonjol 384 menangkap 1 dari 12 kapal nelayan Cina yang memasuki ZEE Natuna. Drama di lapangan cukup menegangkan karena kapal Coast Guard Cina yang ukurannya besar berupaya mendatangi dan menghalangi KRI yang membawa kapal nelayan Cina ke pelabuhan Natuna. Namun 4 KRI yang berada di sekitar kejadian mampu mengusir kapal penjaga pantai Cina.

Pertanyaannya kan bukan sekedar urusan dengan kapal nelayan Cina.  Tetapi bukankah kita sedang menghadapi ancaman serius dari sebuah negeri yang haus akan sumber daya kelautan yang kaya untuk kebutuhan masa depan negeri semilyar orang itu. Pertanyaannya kemudian apakah kita sanggup terus menerus menghadapi tekanan invasi kapal nelayan Cina yang di back up kapal penjaga pantai berteknologi tinggi secara terus menerus. Bagaimana jika Cina menyebar kapal perang destroyer dan kapal selamnya. Apalagi Cina sudah membangun pangkalan militer di LCS dan menempatkan jet tempur, rudal, radar dan kapal perang di perairan sengketa itu.

Jawaban dari semua permasalahan itu adalah percepatan perkuatan armada angkatan laut  dan angkatan udara.  Harus ada upaya mempercepat pesanan untuk ketersediaan isian alutsista khususnya matra laut dan udara.  Produksi kapal perang yang sedang dilakukan PT PAL saat ini berupa pembuatan 2 kapal perang jenis PKR 10514 harus bisa ditambah minimal 5 unit lagi secara paralel sehingga pada tahun 2020 kita punya tambahan 7 KRI gres. Demikian juga dengan 3 kapal selam Changbogo yang operasionalnya akan diterima awal tahun 2017, 2018, 2019 harus bisa ditambah minimal 2 lagi sehingga seluruhnya mencapai 5 unit kapal selam baru pada tahun 2020.
Beberapa KRI siaga di pangkalan perbatasan
Angkatan udara sami mawon.  Setelah sign 8 Sukhoi SU35 tahun ini, diharapkan tahun depan ada lagi kontrak 16 unit jet tempur F16 Viper, kemudian tahun berikutnya lagi kontrak kedua 8 Sukhoi SU35 sehingga jumlahnya mencapai 16 unit alias 1 skuadron.  Untuk urusan Natuna dan pulau-pulau terluar lainnya kita perlu banyak jet fighter sebagai unsur patroli, pencegat dan pre emptive strike.  Maka persebaran jet-jet tempur merupakan salah satu jawaban untuk kehadiran yang disegani di batas teritori.

Dalam menjaga teritori yang luas ini kita tak hanya fokus pada hot spot Natuna.  Masih ada Ambalat yang mengambang, Morotai yang masih terbuka, kemudian laut Arafuru dan NTT. Ada lagi Sabang, pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa semuanya harus tercover pada jadwal patroli rutin. Ini semua memerlukan kapal perang striking force yang saat ini jumlahnya masih belum mencukupi.  Maka penambahan kapal perang sangat dibutuhkan utamanya dari kelas fregat dan destroyer.

Aksi kapal nelayan Cina merupakan bukti bahwa negeri itu selalu merasa benar dalam soal klaim wilayah tangkapan ikan yang dikatakan sebagai wilayah tradisionalnya.  Dan itulah bahasa diplomatik yang menjadi bahan tertawaan.  Maka tidak bisa tidak kita harus memperkuat militer kita disana sepanjang tahun dengan menempatkan sejumlah kapal perang dan jet tempur bersama komponen tempur berteknologi canggih seperti drone, radar, intelijen dan intai strategis.

Kita berpacu dengan waktu, kita percepat semua rencana pembangunan kekuatan militer tidak hanya infrastruktur pangkalan angkatan udara dan angkatan laut tetapi juga keunggulan kualitas dan kuantitas mobilitas alutsista bergerak. Termasuk media interoperabilitynya.   Pangkalan militer Natuna akan di back up Pontianak dan Tanjung Pinang.  Ketiganya akan bersinergi aktif dan beraksi cepat terhadap segala sesuatu yang mengoyak teritori NKRI.

Jadi, percepatlah kedatangan sisa 17 jet tempur F16 blok 52 Id yang sudah lebih empat tahun tanda tangan kontraknya.  Termasuk isian radar dan rudal 15 jet tempur Golden Eagle segera dimulai.  Jangan sampai proyek bertele-tele lalu dibenturkan dengan anggaran atau prioritas lain.  Mestinya 24 jet tempur F16 blok 52 Id itu sudah selesai pengirimannya akhir tahun lalu, kemudian diikuti dengan upgrade 10 jet tempur F16 blok 15 Ocu.

Jangan main-main soal Natuna, fokuslah kesana, tumpahkan perhatian kesana, bangun fasilitas militer yang modern, berkelas dan berkarakter Lebah.  Jadikan Natuna sebagai sarang Lebah. Lebah tidak akan mengganggu tetapi kalau diganggu dia akan menyengat kesana kemari meski sarangnya dihancurkan.  Dan kalau sampai Natuna dihancurkan maka perang terbuka telah dimulai.  Apakah ada yang berani memulai perang terbuka ?
****
Jagarin Pane, 22 Juni 2016

Saturday, May 21, 2016

Kabar Kapur Barus

Berharap ada kabar bagus dari kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia soal pembelian jet tempur Sukhoi SU35 ternyata belum sebagus berita promosinya. Jadilah seperti kabar kapur barus, wanginya sudah kemana-mana. Adalah pihak Kemhan sendiri yang berulang kali memberitakan tentang rencana beli itu termasuk metode pemberitaannya yang membuat pihak produsen sono besar kepala dan lalu menjadi jual mahal.

Berita promosi itu antara lain bahwa Sukhoi SU35 adalah jet tempur penggentar yang mampu mewibawakan teritori negeri ini termasuk dari ancaman maling ikan, karena Sukhoi SU35 mampu menjaga perairan Indonesia yang luas.  Sukhoi SU35 juga adalah alutsista yang harus dimiliki Indonesia sebagai kekuatan pemukul strategis. Sukhoi SU35 adalah pilihan satu-satunya yang tak bisa ditawar lagi, dan lain-lain pernyataan. Berita promosi ini tentu membuat pihak pabrikan merasa over confidence bahwa barangnya akan dibeli.  Sehingga mereka yakin dengan harga premium barang itu pasti akan dibeli.
Yang digadang-gadang itu
Belum lagi bicara soal TOT sebagaimana persyaratan pembelian alutsista dari luar negeri.  Belum lagi bicara soal ketangguhan bernegosiasi, belum lagi bicara soal pernyataan yang hari senin cerah tapi selasa pagi mendung dan tak ada matahari.  Padahal posisi Indonesia sebagai pembeli sangat kuat, dimana-mana pembeli itu adalah raja, sebuah sebutan bahwa posisi pembeli atau konsumen sangat menentukan.  Tetapi untuk mendapatkan Sukhoi SU35 ini kekuatan cara beli kita tidak mampu memenuhi target waktu. Target itu adalah momen kunjungan RI-1 ke Rusia.

Mula-mula beritanya mau beli 1 skuadron (16-18 pesawat) lalu dikoreksi lagi jadi 10 saja, lalu berkurang lagi jadi 8 unit dengan alasan perkembangan teknologi, jadi gak perlu banyak-banyak karena kita gak punya musuh katanya.  Lalu ketika Natuna dilecehkan si lidah Naga baru-baru ini yang jelas-jelas ngobrak abrik teritori kita, ada kabar kapur barus yang beredar bahwa kuantitas pembelian Sukhoi dinaikkan lagi jadi 18 unit.  Pertanyaannya, ini pembelian berdasarkan rencana matang, setengah matang atau pembelian berdasarkan motif emosi.

Anggaran pertahanan republik ini ke depannya akan semakin bagus, kinclong dan mampu memenuhi kebutuhan alutsista strategis.  Tetapi cara mengelola, cara ngomong, cara tampil dihadapan publik, cara beli, tata kelola anggaran, tata prioritas kebutuhan harus juga semakin bagus, kinclong dan bersinar.  Dengan anggaran pertahanan menjadi nomor satu mengalahkan sektor-sektor lain seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan maka sorotan publik dan analisis pengelolaan bidang pertahanan bisa membuahkan opini tidak profesional manakala cara dan tata kelolanya mencla mencle.
Sedikit terobati, mereka juara di AASAM 2016
Pecinta repubik ini sangat berharap adanya pemenuhan kebutuhan alutsista yang berkualitas untuk menjaga dan mewibawakan teritori.  Adalah omongan yang menyesatkan manakala keluar statemen kita tidak punya musuh, lalu tak perlu alutsista berkualitas. Pelecehan teritori di Natuna baru-baru ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrim bisa saja terjadi di berbagai tempat di negeri ini.  Pelecehan teritori di Ambalat menunjukkan bahwa kita memang punya musuh secara militer meski tetap bersahabat secara diplomatik.  Harus dibedakan itu Om.

Militer sebuah negara dibentuk adalah dalam rangka menjadi payung eksistensi dan penggentar pihak manapun yang hendak mengganggu atau melecehkan. Itu bisa terjadi jika perlengkapan tempur yang dikenal dengan sebutan alutsista berkualitas dan mencukupi.  Jadi jika militer kita kuat bukan berarti kita ingin ngajak negara lain perang tetapi lebih kepada ingin memperlihatkan kewibawaan melindungi teritori dan eksistensi negara kita. 

Ongkos eksitensi bernegara lewat baju militer memang mahal tetapi ongkos itu adalah sebuah kesatuan dari perjalanan berbangsa dan bernegara.  Oleh sebab itu anggaran pertahanan yang direncanakan akan naik secara signifikan mulai tahun depan hendaknya bisa menjadi kekuatan kewibawaan, kekuatan bargaining dan kekuatan gengsi. Termasuk kekuatan dalam memberikan statemen kepada rakyat bangsa yang mampu memberikan spirit berbangsa dan bernegara. 

Bahwa sebagai bangsa besar kita perlu militer yang kuat untuk menjaga harga diri bangsa, martabat bangsa dan wibawa teritori. Kita tidak mencari musuh. Musuh memang tidak ada hari ini tetapi siapa tahu besok sudah ada di gerbang Natuna atau Kupang.  Dengan militer yang kuat dan disegani maka pihak manapun akan berhitung ulang untuk melakukan pelecehan.  Tapi jika militer tidak kuat secara teknologi alutsista maka kewibawaan itu hanya sebuah cita-cita dan fatamorgana

Kabar bagus beda-beda tipis dengan kabar kapur barus. Bedanya kalau kabar bagus memang sesuai dengan kenyataannya, tetapi kalau kabar kapur barus, wanginya saja yang melenakan sementara barang yang membuat wangi itu makin lama makin kecil dan hilang ditelan jaman.  Wangi-wangi tok mirip-mirip memberi harapan palsu, pas ditunggu-tunggu ternyata cuma tanda tangan MOU.
 ****

Jagarin Pane / 21 Mei 2016

Friday, April 22, 2016

Menyongsong Rencana Besar Itu

Sepanjang dua pekan ini ada beberapa berita yang mengejutkan sekaligus juga membuat kita heran. Berita yang mengejutkan itu adalah hendak menjadikan Natuna sebagai pangkalan militer segala matra, kemudian menjadikan Morotai sebagai basis militer berskala besar. Tak kalah menarik juga menjadikan Tanjung Pinang sebagai pangkalan skuadron. Disela-sela berita rencana besar itu kita juga dibuat heran karena ternyata insiden Natuna dengan kapal Cina baru-baru ini sudah dianggap selesai alias diselesaikan secara “adat”.

Bak gayung bersambut neh karena tak lama kemudian ada pernyataan Menko Polhukam Luhut Panjaitan yang memberi sinyal bahwa anggaran militer Indonesia yang memakai formula PDB (Produk Domestik Bruto) akan sampai di angka nominal 250 trilyun per tahun mulai 3 tahun ke depan. Artinya bila angka itu tercapai ada kenaikan yang sangat tajam lebih dari 100%. Angka ini juga mampu menggeser kepemimpinan anggaran pertahanan di ASEAN yang selama ini dipegang Singapura.
F16 di Halim AFB, kita perlu banyak jet tempur ini
Sesungguhnya saat ini kita sedang berpacu dengan cuaca kawasan yang semakin tak menentu, sulit diprediksi.  Pepatahnya dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari, pakai petir lagi. Ini mengkiaskan cuaca Natuna yang dikira tak bergelora gelombangnya “sampai petang nanti” ternyata diguyur insiden gelombang panas tak terduga  yang mencederai kehormatan teritori NKRI.

Jakarta kaget, marah lalu bersikap tahu diri.  Kaget karena segitu-gitunya Cina merangsek perairan Natuna tanpa merasa malu, padahal dalam hal kerjasama ekonomi sedang mesra-mesranya. Marah, karena harga diri teritori diusik di siang bolong, dan jadi berita internasional. Lalu akhirnya tahu diri dengan segala pertimbangan diplomatik, ekonomi dan militer, tak lama kemudian case closed. Penonton kecewa.

Itulah cuaca kita hari ini. Tetapi dalam bahasa militer insiden itu menjadi mata pelajaran penting bahwa hanya dengan memperkuat otot militer maka kewibawaan teritori bisa ditegakkan. Tidak bisa tidak. Maka memperkuat Natuna tidak bisa lagi dengan program jalan santai, jalan biasa tetapi harus dikebut menjadi jalan cepat atau berlari secepatnya.  Infrastruktur militer harus dikerjakan dengan percepatan dan intensitas tinggi.

Sementara itu kita belum melihat percepatan di bidang penyediaan alat pukul yang dikenal dengan alutsista itu.  Mestinya tidak menjadi bertele-tele soal penandatanganan kontrak pembelian jet tempur penggentar Sukhoi SU35 atau jadwal kedatangan F16 blok 52 Id yang terkesan disepelekan produsen. Kita membutuhkan segera armada F16 itu untuk kegiatan patroli udara saat ini. Bahkan kita masih butuh  F16 seri terbaru untuk mengawal kadaulatan teritori negeri ini.  Kita juga butuh jet tempur Sukhou SU35 tidak hanya delapan tetapi delapanbelas.
Kapal selam terbaru kita diluncurkan di Korsel
Infrastruktur militer kita sudah cukup memadai.  Lihat saja pangkalan udara strategis Medan, Tarakan, Biak, Kupang semua siap menampung jet tempur berbagai jenis tetapi harus diakui kuantitas jet tempur itu masih sangat kurang. Setidaknya kita butuh 3 skuadron F16 dan 2 skuadron Sukhoi untuk persebaran patroli dalam 3 tahun ke depan.  Itu hanya untuk patroli, kalau untuk disegani dan menghadapi kondisi darurat perlu dua kali lipatnya.

Oleh sebab itu rencana besar terhadap Natuna dan Morotai tentu kita sambut dengan semangat spartan. Tetapi tentu tidak hanya itu kan.  Kupang dan Biak juga prioritas untuk menjaga wilayah timur yang di selatannya banyak pergerakan pesawat tempur Australia dan AS. Lebih baik fokus dulu pada Natuna, Biak dan Kupang.  Cukupi kebutuhan jet tempur berkualitas di wilayah ini.

Angkatan Laut Indonesia menjadi garda terdepan untuk menjalankan misi ketahanan teritori.  Maka dengan anggaran yang mulai membesar tahun depan dan seterusnya kita meyakini akan ada pertambahan kapal perang permukaan dan kapal perang bawah air.  Pertambahan itu sangat relevan jika mengambil kelas destroyer atau fregat.  Maka proyek PKR 10514 sangat bagus dilanjutkan sampai mencapai bilangan nominal 20 unit.  Demikian juga dengan penambahan kapal selam, sangat dimungkinkan kita menambah kapal selam selain kelas Changbogo.

Rencana besar tentu harus ditopang dengan anggaran besar.  Angka 250 T yang dicapai mulai tahun 2019 memberikan harapan indah, harapan bangga, harapan jaya, dan harapan hebat. Tetapi bagi prajurit harapan-harapan tadi tentu akan menjadi harapan palsu jika kesejahteraan prajuritnya tidak ikut meningkat. Maka harapan kita peningkatan anggaran yang melonjak tajam itu ikut juga mendongkrak take home pay kesejahteraan prajurit yang telah dibaiat kontrak mati untuk NKRI.

Kita meyakini mulai tahun 2020 nanti akan kelihatan postur kehebatan militer kita.  Memang tidaklah mungkin bisa mengimbangi Cina tetapi setidaknya kita mampu membentak dan menyengat dia jika berani masuk Natuna.  Sebab kalau untuk perang terbuka resiko terburuknya bisa memicu perang keroyokan alias perang dunia III padahal di sisi lain kemajuan ekonomi, kesejahteraan dan teknologi ke depan sudah sangat luar biasa.  Apakah itu mau dihancurkan, pasti pihak sana berfikir dua kali untuk itu.  Tetapi kalau untuk menggertak, Cina paling suka itu.  Maka supaya kita tidak kalah gertak ya persiapkan natuna sehebat mungkin.

Menguatkan Natuna dan Morotai adalah bagian dari menguatkan beton teritori. Kita harus selalu waspada menghadapi gangguan cuaca ekstrim yang selalu mengancam. Maka cobalah ramuan penting untuk tolak angin dan tolak demam teritori dengan cara ini : taburkan belasan jet tempur, sebarkan puluhan kapal perang, luncurkan satu dua butir kapal selam.  Lalu perhatikan apa yang akan terjadi. Kalau masih juga demam berkepanjangan maka hubungi dokter secepatnya.  Dokter itu bisa bernama Jepang, AS dan Australia.
****
Jagarin Pane / 22 April 2016




Saturday, April 2, 2016

Mengelola Empat Titik Panas

Dinamika perjalanan bernegara di setiap negara mengharuskan masing-masing negara memiliki kekuatan militer sebagai pengelola otot kedaulatan negara.  Demikian juga dengan negeri kepulauan khatulistiwa ini.  Dinamika yang terjadi dalam hitungan minggu saja mengharuskan militer Indonesia mengelola empat titik panas( hot spot) sekaligus dalam sebuah “musim tak terduga”.  Empat titik panas itu adalah Poso, Natuna, Tarakan dan Ambalat.

Insiden dengan kapal penjaga pantai Cina di perairan Natuna belum lama ini membuat Jakarta mengepalkan tinju lalu mengirimkan 5 jet tempur F16, 6 KRI, perangkat radar mobile, pasukan infantri, marinir dan paskhas ke Natuna. Dalam waktu yang bersamaan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) yang terdiri dari pasukan Kostrad, Marinir dikirim ke Tarakan bersama belasan KRI, puluhan tank amfibi dan jet tempur Sukhoi.  Ini juga bagian dari kemarahan republik atas penyanderaan warga kita oleh gerilyawan Abu Sayyaf meski format resminya adalah untuk latihan gabungan obyek vital.
Kita butuh kapal selam minimal 12 unit
Sementara itu untuk hot spot yang lain, Poso sudah digelar operasi gabungan tentara dan polisi untuk “mateni” Santoso. Sedikitnya ada 1 brigade tentara dan 1 brigade polisi mengepung ketat teroris bersama pengikut setianya.  Demikian juga Ambalat selalu disiagakan 5-7 KRI untuk berpatroli termasuk melakukan manuver interoperability dengan matra lain, sebuah simulasi untuk pertempuran laut yang sesungguhnya.

Pada saat mengelola empat titik panas ini, dibagian lain bumi Indonesia ada hajat besar dan bergengsi berupa latihan gabungan angkatan laut bersama negara-negara sahabat.  Kita mengerahkan 15-17 KRI berbagai jenis ke pantai barat Sumatera, tepatnya Padang dan sekitarnya untuk melaksanakan latihan kerjasama Multilateral Exercise Komodo 2016 tanggal 12-16 April dengan 35 negara lain.

Dalam manajemen militer tentu suasana ini memerlukan tingkat kewaspadaan yang tinggi karena mengelola empat hot spot tentu memerlukan energi ekstra dan stamina kuat.  Pada akhirnya tumpuan utama dari kesiap siagaan itu adalah ketersediaan alutsista yang mencukupi dan berkualitas.  Bisa dibayangkan bagaimana mendistribusikan perangkat alutsista untuk empat titik panas dan satu event internasional dimana kita jadi tuan rumah.
Sukhoi di Tarakan, pengawalan kontinu
Belajar dari musim tak terduga ini (tapi kita ini bolak balik belajar tapi gak paham juga) seyogyanya perencanaan kebutuhan alutsista benar-benar diupayakan sehebat mungkin.  Tidak lagi dibenturkan dengan ketersediaan anggaran tetapi kebutuhan altusista itu mutlak harus diadakan.  Memang perkuatan dan belanja alutsista saat ini sudah menuju ke arah getar tetapi diperlukan percepatan pesan, percepatan kedatangan dan percepatan operasional.  Sebagai contoh lihat saja proses pengadaan 24 jet tempur F16 up grade, sudah lebih 4 tahun yang datang baru sepertiganya.

Kita butuh 12 kapal selam bermutu, dari lima belas tahun yang lalu selalu diperdengarkan lagu itu.  Tapi nyatanya sampai hari ini baru ada 2 kapal selam tua.  Agak terhibur juga karena sebentar lagi mau datang 3 kapal selam baru dari Korea Selatan. Tetapi ketika kita dapat tambahan 3 kapal selam baru, Singapura sudah punya 6 biji, Vietnam sudah punya 5 biji baru semua.  Apalagi kalau bicara Cina, jelas gak nendang.

Belum lagi kapal perang permukaan laut, baru sampai ke tingkat fregat ringan.  Padahal untuk mengawal perairan laut yang luas ini kita butuh kapal perang kelas destroyer. Belum lagi melihat kekuatan udara yang belum sepadan dengan ruang tugas yang harus diemban.  Kalau hanya punya 1 skuadron Sukhoi hanya bagus untuk dipamerkan tapi belum mampu membentengi kedaulatan udara republik tercinta ini.

Rasanya kok jadi gak sabar ya melihat kritisnya mengelola empat hot spot dengan kekuatan alutsista yang ada.  Ayo buat dong langkah out of the box, over the horizon, duduk bersama bersepakat Pemerintah, DPR lalu keluarkan doktrin baru atau dekrit baru sehubungan dengan ini, sehubungan dengan itu dan seterusnya. Lalu belanja alutsista sehebat mungkin.

Changbogo bisa dibuatkan paralel di Surabaya dan Korsel.  Atau pesan 2-4 Kilo sebagai alutsista penguat. Sukhoi SU35 juga ditambah tidak hanya 10 biji tapi dua skuadron kebutuhannya.  Kapal perang permukaan jenis korvet, fregat dan destroyer segera ditambah secepat mungkin.

Alutsista kita masih kalah cerdas dan kalah banyak jika ingin dipersandingkan dengan ruang wilayah yang sangat luas ini, apalagi jika ingin mencapai cita-cita poros maritim.  Kekuatan poros maritim ada di angkatan laut dan angkatan udara, maka dua matra ini menjadi fokus utama dan penting untuk dibenahi, dimodernisasi, digaharkan dan dibanggakan.

Kita hanya ingin mengingatkan ketika tahun-tahun awal reformasi, TNI mengawal 3 hot spot yang banyak menghabiskan energi yaitu konflik horizontal Maluku, konflik bersenjata Timor Timur dan Aceh. Ketika TNI kita sedang disibukkan dengan tugas berat itu, tetangga sebelah berulah dan mengambil Sipadan Ligitan.

Jangan dikira Natuna itu tidak terancam meski berulang kali dikatakan kemenlu Cina bahwa dia tidak keberatan Natuna milik Indonesia.  Omongan diplomatik itu sesuai musimnya, kalau musim panas dia bilang “ini itu” tetapi jika musim hujan dia bilang “itu ini”.  Namanya juga diplomasi tentu sesuai kepentingan nasionalnya.  Nah jalan satu-satunya adalah perkuat otot kedaulatan, perkuat militer sekuatnya. Dengan militer yang kuat dan bersemangat sangat diniscayakan omongan diplomasi kita akan diperhatikan.
****

Jagarin Pane / 02 April 2016

Sunday, March 20, 2016

Kapal Selam Baru Neh


Setelah menunggu selama 35 tahun Angkatan Laut Indonesia mendapatkan 1 unit kapal selam baru yang canggih, dengan diluncurkannya KRI 403 Nagabanda di galangan kapal Daewoo Korsel tanggal 19 Maret 2016. Kapal selam Changbogo Class ini merupakan satu dari tiga yang dipesan Indonesia dengan model transfer teknologi. Itulah sebabnya PT PAL saat ini sedang sibuk membuat galangan kapal selam di Surabaya sebagai tempat pembuatan kapal selam ketiga mulai Desember nanti. Meski sudah diluncurkan tetapi masih harus uji laut (sea trial) termasuk uji persenjataannya. Rencana tiba di Indonesia Desember 2016.

Indonesia terus memperkuat kemampuan pukul militernya, termasuk armada kapal selam. Disamping pengadaan Changbogo Indonesia juga akan membeli 2-4 kapal selam Kilo dari Rusia untuk memenuhi kebutuhan 10-12 kapal selam sampai tahun 2022.  Analoginya begini : Changbogo ketiga selesai 2018, kemudian setiap tahun produksi 1 kapal selam Changbogo di PT PAL. Maka sampai tahun 2022 produksi Changbogo baru 7-8 unit. Sementara Cakra Class yang uzur itu dipensiun 2020. Nah untuk mencukupi jumlah armada kapal selam dibutuhkan Kilo sebagai pendamping Changbogo.

****
Jagarin Pane / 20032016

Thursday, March 10, 2016

Air Tak Lagi Beriak Meski Terdengar Suara Kilo

Mungkin karena sudah terlalu sering mendengar dan ikut mendiskusikan rencana pengadaan kapal selam Kilo dan bolak balik kena timpuk dan terbanting akhirnya forum militer tempat berkumpul komunitas pengamat dan ilmuwan sekaligus salesman alutsista di Kaskus sudah immun mendengar segala sesuatu yang terkait Kilo. Barusan ada berita tentang pembangunan pangkalan kapal selam Teluk Palu yang didesain untuk bisa menampung kapal selam Kilo. Termasuk kunjungan Menhan ke Rusia awal bulan depan untuk tanda tangan kontrak 10 Sukhoi SU35 dan bersiap negosiasi Kilo.  Berita itu ditanggapi dingin oleh komunitas Formil Kaskus.

Beberapa pemerhati pertahanan yang juga ada di komunitas itu tidak lagi menguliti, dan meneliti anatomi kehebatan Kilo.  Mau dibeli silakan, tidak juga rakpopo. Ini semua bisa terjadi karena lebih dari dua belas tahun saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, rencana dan keinginan untuk mendapatkan kapal selam maut buatan Rusia itu seperti judul sebuah sinetron: Tersanjung Satu lalu Tersandung Satu. Jilid dua juga begitu Tersanjung Dua tak lama kemudian Tersandung Dua dan seterusnya sampai gerhana matahari total tanggal 9 Maret 2016 entah sudah tersandung yang keberapa gitu.
Fregat Ahmad Yani Class bersama Apache
Ketika muncul kembali cuaca cerah sehabis “gerhana Kilo” dengan anggaran militer yang semakin kinclong, muncul lagi berita seperti yang dari Teluk Palu itu dan rencana kunjungan Menhan Ke Rusia bulan depan.  Suasana berbeda terjadi tiga tahun lalu ketika Menhan waktu itu Purnomo Yusgiantoro dengan berapi-api mengabarkan kepada rakyat bahwa Indonesia akan membangun armada kapal selam Kilo dan seterusnya dan seterusnya.

Maka sambutan riuh rendah dikumandangkan oleh pengamat militer, pemerhati pertahanan, Komisi I DPR dan komunitas Formil, bersemangat dan berapi-api menyambut rencana beli alutsista pemukul strategis bawah laut itu.  Semua media memberitakan dan sambutan hangat diperlihatkan tentu dengan dukungan yang kuat agar makhluk yang bernama “Lontong” Kilo itu bisa segera kita miliki.  Tetapi kenyataannya kemudian pernyataan Menhan itu dibanting dan terbanting sendiri karena memang tidak pernah ada tindak lanjutnya.  Dan itu bukan yang pertama, tahun-tahun sebelum itu, tahun 2003, kemudian tahun 2008 juga bergema suara pengumuman itu tetapi pada akhirnya hanya sebuah fatamorgana, tetap tidak menjadi kenyataan.

Makanya sekarang ini ketika ada lagi berita “rencana mulu” mau mengakuisisi kapal selam Kilo, tanggapan dari pemerhati militer dan komunitas militer tidak lagi se antusias dulu.  Boleh jadi karena gondoknya belum move on atau wait and see sajalah.  Capek ngomong, barangnya gak datang-datang, padahal pihak penjual Rusia yang baik hati sudah menyediakan format utang dulu gak papa alias kredit state ratusan juta dollar agar dua Kilo bisa diangkut ke Surabaya.

Meski begitu kita tetap meyakini bahwa kapal selam yang digadang-gadang sebagai herder perairan tanah air itu pada saatnya akan tiba, atau pada saatnya barangnya akan dimunculkan ke permukaan. Anggaran militer Indonesia diyakini akan melonjak tajam mulai tahun 2017 karena formula yang mulai digunakan adalah berbasis PDB ( Produk Domestik Bruto). Dengan formula itu meski pertumbuhan ekonomi belum mencapai 7%, anggaran tahunan yang diperoleh untuk sektor pertahanan diprediksi berkisar 150-180 trilyun rupiah. 
Bung Tomo Class, gahar
Presiden pernah berjanji jika pertumbuhan ekonomi mencapai 7% maka anggaran militer bisa mencapai 2% dari PDB. Maka jika tahun 2017 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6% sd 6,5% setidaknya asumsi anggaran pertahanan bisa mencapai 1,5%, itu artinya angkanya dikisaran 150-180 trilyun.  Dengan anggaran yang semakin membagus itu tentu rencana strategis membeli alutsista gahar bisa dilaksanakan termasuk rencana pengadaan Kilo.

Tetapi lebih penting dari itu adalah lanjutan serial transfer teknologi pembuatan 3 kapal selam Changbogo jangan sampai menjadi sinetron “Changbogo Tersandung” karena keinginan segelintir orang yang bermental salesman dan makelar.  Proyek Changbogo harus tetap berlanjut dan berjilid sampai kita benar-benar bisa membuat kapal selam sendiri mulai dari kapal selam ketiga.  Jadikanlah proyek Changbogo sebagai proyek tersanjung yang bersama proyek jet tempur IFX akan menjadi bangsa ini bisa disanjung bangsa lain dengan teknologi dan industri pertahanannya yang maju dan modern.

Saat ini air tak lagi beriak meski terdengar suara Kilo, bisa jadi karena ingin memberi angin pada pihak yang mau beli agar tidak plin plan, maju mundur akhirnya maju kena mundur kena, padahal jalannya searah.  Sudah ada proyek Changbogo, teruskan saja.  Kilo diperlukan untuk mengisi kuantitas yang belum tercukupi.  Kita memerlukan setidaknya 12 kapal selam sampai tahun 2022.  Padahal sampai tahun 2019 dengan kedatangan 3 kapal selam Changbogo kita baru punya lima unit saja termasuk si Cakra Class yang sudah uzur.  Maka kekurangan jumlah itu bisa diisi dengan proyek Kilo setidaknya mendatangkan 2-4 kapal selam Kilo disamping produksi Changbogo minimal 1 tahun 1 unit bisa tercapai. 

Kita bisa ngomong ini karena anggaran pertahanan kita diyakini mampu membeli Kilo sembari meneruskan produksi Changbogo. Namanya juga keinginan pasti kalau diambil jajak pendapat banyak yang sama pendapatnya untuk menjadikan armada kapal selam kita herder dan gahar. Tinggal bagaimana alokasi anggarannya dipilah-pilah.  Makanya ketika ada berita mau beli Kilo lagi kita wait and see saja.  Kali ini berdoa saja mudah-mudahan terkabul sehingga motto Hiu Kencana “tabah sampai akhir” bisa ditambah dengan kalimat berikutnya “tabah sampai terkabul”.
****
Jagarin Pane / 10 Maret 2016

Monday, March 7, 2016

Thursday, February 18, 2016

Ketika Jiran Mulai Terpana

Belanja militer Indonesia tahun 2016-2019 terus dipacu untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul yang mampu diandalkan. Contohnya TNI AU dalam 4 tahun ke depan mendapat asupan dana US$ 3,1 milyar untuk belanja alutsista. Bulan Maret mendatang sudah kontrak pembelian 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Tidak hanya itu, TNI AU juga sedang mendatangkan 5 unit Hercules, 4 pesawat bom air  Beriev Be200, 6 helikopter Caracal, 4 Radar, termasuk melengkapi 15 unit jet tempur T50 dengan radar dan rudal, juga 11 pesawat KT1 Wong Bee. Tumben Wong Bee juga dikasih rudal.

Angkatan Laut ikut mempercepat laju modernisasinya. Setelah meluncurkan 1 kapal perusak kawal rudal PKR 10514 di Surabaya Januari lalu, proyeksi empat tahun ke depan TNI AL akan mendapatkan minimal 6 kapal fregat baru, 5 kapal selam baru, 4 kapal cepat rudal (KCR) 60 m, 54 tank amfibi BMP3F, 11 Helikopter anti kapal selam, berbagai jenis peluru kendali anti kapal, meriam artileri, roket dan peluru kendali pertahanan udara pangkalan.
Apache dan Ahmad Yani Class, luar biasa
Yang menarik, wilayah perairan luas Indonesia saat ini sudah ada pembagian tugas dimana BAKAMLA ditugaskan menjaga kemanan laut khususnya dari motif ekonomi seperti pencurian ikan dan penyelundupan. TNI AL khusus menjaga teritori kedaulatan negara dari ancaman militer asing.  Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran besar dipersiapkan juga menjadi armada cadangan TNI AL manakala terjadi perang. Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran 80 meter dan 110 meter dipersiapkan dengan landasan peluru kendali anti kapal.

BAKAMLA saat ini punya 20 kapal dan dalam empat tahun ke depan akan menjadi 50 kapal dari berbagai ukuran.  Sementara TNI AL yang saat ini punya 170 KRI akan dipertahankan dalam jumlah yang sama dengan melakukan pergantian armada yang sudah uzur dengan KRI berwajah fregat modern. Termasuk juga armada pendukung dan pangkalan AL.  Jumlah KRI sebanyak itu akan didistribusikan kedalam tiga armada, barat, tengah dan timur.

Sementara itu Angkatan Darat juga mengembangkan postur tempurnya terutama kemampuan daya pukulnya. Sambil menunggu kedatangan 8 heli Apache juga bersiap mendapatkan 8 heli Chinook, persenjataan artileri berat, 60 panser Badak dan Anoa. Juga penambahan batalyon kavaleri, artileri dan infantri di berbagai Kodam. Termasuk pembentukan Kodam Merdeka di Sulawesi dan Kodam Papua Barat.

Indonesia tidak akan terbendung lagi soal modernisasi kekuatan militernya. Ini sejalan dengan pertumbuhan GDP yang juga tidak tertandingi di kawasan ini.  Anggaran berbasis PDB yang mulai diterapkan tahun depan akan memastikan bahwa dalam 3 tahun ke depan anggaran militer Indonesia akan menjadi yang tertinggi di ASEAN. Sebagai contoh jika dipakai formula 2% dari PDB maka kita anggaran pertahanan kita menjadi nomor satu di rantau ASEAN.
Fregat terbaru, KRI Martadinata 331
Malaysia yang selama puluhan tahun komunitas forum militernya selalu melecehkan postur militer Indonesia, sudah mulai terpana dan terbangun dari mimpi kebanggaan keperkasaan militernya. Forum itu yang mayoritas pengisinya justru hanya dari satu puak “pemilik” semenanjung, selama ini selalu meremehkan kekuatan militer kita.  Namun saat ini kondisi ekonomi negerinya yang tersendat mengharuskan belanja militernya dipuasakan untuk beberapa tahun. 

Selama 4 tahun ini tidak ada belanja militer yang mengejutkan dari negeri jiran itu selain perbaikan alutsista, upgrade dan penambahan suku cadang.  Bahkan dua kapal selamnya pun ikut di rawat inap selama 18 bulan karena berbagai alasan teknis. Nah selama periode itu pula mereka mendengar dan menyaksikan gempitanya modernisasi militer tetangga sebelahnya yang bernama Indonesia, sebuah nama yang selalu diidentikkannya dengan TKI sehingga kesan melecehkan terbawa sampai bathin mereka.

Tiada hari tanpa ada kabar bagus tentang alutsista, baik berupa kedatangan alutsista baru maupun pesanan untuk kedepannya. Akhir Februari ini akan datang 4 pesawat Super Tucano, awal Maret kedatangan 5 jet tempur F16 Blok 52 Id, bulan-bulan berikutnya KCR, Radar, Hercules, Panser Badak, Helikopter Caracal, Tank Amfibi, Tank Leopard, Nexter, Astross, ATGM, UAV dan lain-lain akan beruntun datang memenuhi kesatrian militer negeri ini. Belum lagi adanya pesanan baru. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang paling meriah melihat kedatangan berbagai jenis alutsista canggih di negeri ini.

Malaysia dalam banyak hal memang selalu meremehkan kita, karena kacamata mereka hanya wajah TKI itu. Tetapi ketika kita mulai serius memodernisasi militer kita selama lima tahun terakhir ini, mereka khususnya forum milternya mulai bercermin diri dan mulai tahu diri. Apalagi saat ini Indonesia sedang membangun pangkalan militer di Natuna, mereka semakin gelisah. Karena meski pangkalan ini untuk membentengi ancaman dari utara Laut Cina Selatan tapi juga sekaligus bisa sebagai pangkalan penggempur Sabah, Sarawak dan memotong jalur logistik militer Malaysia ke Kalimantan jika pecah konflik Ambalat.

Makna dari semua pertumbuhan dan pemekaran militer Indonesia karena indikator potensi hebat yang dimiliki Indonesia memang tak tertandingi.  Itu sebabnya mengapa lembaga pemeringkat militer Global Fire Power menempatkan Indonesia sebagai kekuatan miilter terkuat no 12 di dunia, nomor wahid di ASEAN dan mengungguli Australia.  Indikatornya jelas, jumlah SDM raksasa, SDA melimpah, wilayah luas, alutsistanya bertambah modern.

Jadi ke depan kita akan menjadi kekuatan militer yang akan diperhitungkan di regional ini. Kalau hanya sekelas Malaysia atau hanya imbangi Singapura hanyalah sasaran antara. Jangka waktu sepuluh tahun ke depan kita harus menjadi yang terbaik dalam keunggulan teknologi alutsista berikut kuantitasnya. Optimisme itu menjadi ruang kesejukan manakala pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan PDB kita semakin membaik. Biarkan tetangga terpana sekaligus membalikkan opini bahwa wajah kita bukan TKI karena 4 tahun ke depan cerita tentang TKI sudah game over alias tidak ada lagi.  Dan kita tiba-tiba saja sudah jauh meninggalkan jiran yang selama ini merasa dialah yang paling jaguh.
****

Jagarin Pane / 18022016