Monday, March 7, 2016

Thursday, February 18, 2016

Ketika Jiran Mulai Terpana

Belanja militer Indonesia tahun 2016-2019 terus dipacu untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul yang mampu diandalkan. Contohnya TNI AU dalam 4 tahun ke depan mendapat asupan dana US$ 3,1 milyar untuk belanja alutsista. Bulan Maret mendatang sudah kontrak pembelian 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Tidak hanya itu, TNI AU juga sedang mendatangkan 5 unit Hercules, 4 pesawat bom air  Beriev Be200, 6 helikopter Caracal, 4 Radar, termasuk melengkapi 15 unit jet tempur T50 dengan radar dan rudal, juga 11 pesawat KT1 Wong Bee. Tumben Wong Bee juga dikasih rudal.

Angkatan Laut ikut mempercepat laju modernisasinya. Setelah meluncurkan 1 kapal perusak kawal rudal PKR 10514 di Surabaya Januari lalu, proyeksi empat tahun ke depan TNI AL akan mendapatkan minimal 6 kapal fregat baru, 5 kapal selam baru, 4 kapal cepat rudal (KCR) 60 m, 54 tank amfibi BMP3F, 11 Helikopter anti kapal selam, berbagai jenis peluru kendali anti kapal, meriam artileri, roket dan peluru kendali pertahanan udara pangkalan.
Apache dan Ahmad Yani Class, luar biasa
Yang menarik, wilayah perairan luas Indonesia saat ini sudah ada pembagian tugas dimana BAKAMLA ditugaskan menjaga kemanan laut khususnya dari motif ekonomi seperti pencurian ikan dan penyelundupan. TNI AL khusus menjaga teritori kedaulatan negara dari ancaman militer asing.  Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran besar dipersiapkan juga menjadi armada cadangan TNI AL manakala terjadi perang. Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran 80 meter dan 110 meter dipersiapkan dengan landasan peluru kendali anti kapal.

BAKAMLA saat ini punya 20 kapal dan dalam empat tahun ke depan akan menjadi 50 kapal dari berbagai ukuran.  Sementara TNI AL yang saat ini punya 170 KRI akan dipertahankan dalam jumlah yang sama dengan melakukan pergantian armada yang sudah uzur dengan KRI berwajah fregat modern. Termasuk juga armada pendukung dan pangkalan AL.  Jumlah KRI sebanyak itu akan didistribusikan kedalam tiga armada, barat, tengah dan timur.

Sementara itu Angkatan Darat juga mengembangkan postur tempurnya terutama kemampuan daya pukulnya. Sambil menunggu kedatangan 8 heli Apache juga bersiap mendapatkan 8 heli Chinook, persenjataan artileri berat, 60 panser Badak dan Anoa. Juga penambahan batalyon kavaleri, artileri dan infantri di berbagai Kodam. Termasuk pembentukan Kodam Merdeka di Sulawesi dan Kodam Papua Barat.

Indonesia tidak akan terbendung lagi soal modernisasi kekuatan militernya. Ini sejalan dengan pertumbuhan GDP yang juga tidak tertandingi di kawasan ini.  Anggaran berbasis PDB yang mulai diterapkan tahun depan akan memastikan bahwa dalam 3 tahun ke depan anggaran militer Indonesia akan menjadi yang tertinggi di ASEAN. Sebagai contoh jika dipakai formula 2% dari PDB maka kita anggaran pertahanan kita menjadi nomor satu di rantau ASEAN.
Fregat terbaru, KRI Martadinata 331
Malaysia yang selama puluhan tahun komunitas forum militernya selalu melecehkan postur militer Indonesia, sudah mulai terpana dan terbangun dari mimpi kebanggaan keperkasaan militernya. Forum itu yang mayoritas pengisinya justru hanya dari satu puak “pemilik” semenanjung, selama ini selalu meremehkan kekuatan militer kita.  Namun saat ini kondisi ekonomi negerinya yang tersendat mengharuskan belanja militernya dipuasakan untuk beberapa tahun. 

Selama 4 tahun ini tidak ada belanja militer yang mengejutkan dari negeri jiran itu selain perbaikan alutsista, upgrade dan penambahan suku cadang.  Bahkan dua kapal selamnya pun ikut di rawat inap selama 18 bulan karena berbagai alasan teknis. Nah selama periode itu pula mereka mendengar dan menyaksikan gempitanya modernisasi militer tetangga sebelahnya yang bernama Indonesia, sebuah nama yang selalu diidentikkannya dengan TKI sehingga kesan melecehkan terbawa sampai bathin mereka.

Tiada hari tanpa ada kabar bagus tentang alutsista, baik berupa kedatangan alutsista baru maupun pesanan untuk kedepannya. Akhir Februari ini akan datang 4 pesawat Super Tucano, awal Maret kedatangan 5 jet tempur F16 Blok 52 Id, bulan-bulan berikutnya KCR, Radar, Hercules, Panser Badak, Helikopter Caracal, Tank Amfibi, Tank Leopard, Nexter, Astross, ATGM, UAV dan lain-lain akan beruntun datang memenuhi kesatrian militer negeri ini. Belum lagi adanya pesanan baru. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang paling meriah melihat kedatangan berbagai jenis alutsista canggih di negeri ini.

Malaysia dalam banyak hal memang selalu meremehkan kita, karena kacamata mereka hanya wajah TKI itu. Tetapi ketika kita mulai serius memodernisasi militer kita selama lima tahun terakhir ini, mereka khususnya forum milternya mulai bercermin diri dan mulai tahu diri. Apalagi saat ini Indonesia sedang membangun pangkalan militer di Natuna, mereka semakin gelisah. Karena meski pangkalan ini untuk membentengi ancaman dari utara Laut Cina Selatan tapi juga sekaligus bisa sebagai pangkalan penggempur Sabah, Sarawak dan memotong jalur logistik militer Malaysia ke Kalimantan jika pecah konflik Ambalat.

Makna dari semua pertumbuhan dan pemekaran militer Indonesia karena indikator potensi hebat yang dimiliki Indonesia memang tak tertandingi.  Itu sebabnya mengapa lembaga pemeringkat militer Global Fire Power menempatkan Indonesia sebagai kekuatan miilter terkuat no 12 di dunia, nomor wahid di ASEAN dan mengungguli Australia.  Indikatornya jelas, jumlah SDM raksasa, SDA melimpah, wilayah luas, alutsistanya bertambah modern.

Jadi ke depan kita akan menjadi kekuatan militer yang akan diperhitungkan di regional ini. Kalau hanya sekelas Malaysia atau hanya imbangi Singapura hanyalah sasaran antara. Jangka waktu sepuluh tahun ke depan kita harus menjadi yang terbaik dalam keunggulan teknologi alutsista berikut kuantitasnya. Optimisme itu menjadi ruang kesejukan manakala pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan PDB kita semakin membaik. Biarkan tetangga terpana sekaligus membalikkan opini bahwa wajah kita bukan TKI karena 4 tahun ke depan cerita tentang TKI sudah game over alias tidak ada lagi.  Dan kita tiba-tiba saja sudah jauh meninggalkan jiran yang selama ini merasa dialah yang paling jaguh.
****

Jagarin Pane / 18022016

Wednesday, February 10, 2016

Pesan Dan Datang Bersahutan


Kabar baik untuk TNI AU, bulan depan Menhan akan teken kontrak pembelian tahap pertama 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Pada bulan yang sama kita juga akan kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 Id sebagai bagian dari pengadaan 24 jet tempur F16 dari AS. Dengan kedatangan 5 F16 ini maka sudah ada 13 unit F16 yang mengisi skuadron tempur di Pekanbaru dan Natuna. Sementara itu diprediksi sampai tahun 2019 kita akan memiliki 16 jet tempur kelas berat paling canggih Sukhoi SU35. Alhamdulillah.

Sementara itu Hercules yang kelima dari Australia juga sudah menjelang datang. Kita memesan 5 pesawat angkut militer dari Australia yang sudah di retrofit. Sesuai rencana setelah kedatangan 5 Hercules ini masih ada pesanan pembelian 4 Hercules dari Australia.  Kesembilan Hercules ini akan membentuk skuadron baru di Makassar.

Tahun ini TNI AU juga akan melengkapi radal dan rudal untuk pesawat latih tempur T50 yang dibeli dari Korea Selatan.  Juga upgrade 10 F16 blok 15 Ocu agar setara dengan adik kelasnya Blok 52Id. Jadi begitulah kesannya, datang, pesan dan datang lagi.

*** Jagarin Pane / 10022016

Monday, February 8, 2016

Natuna After 2018

Boleh dibilang hot spot paling strategis sekaligus paling bergengsi untuk dikawal dan dijaga ketat tidak lain adalah Kepulauan Natuna di Laut Cina Selatan (LCS).  Saat ini pembangunan pangkalan militer sedang berjalan disana dengan anggaran ratusan milyar untuk membesarkan pangkalan udara dan laut yang sudah ada saat ini. Tujuannya jelas agar Natuna mampu menjadi pusat pertahanan teritori berkarakter lebah berikut isian segala macam alutsista.

Natuna memang harus disaranglebahkan dalam pola pertahanan teritori agar keinginan untuk mengganggu apalagi mencaplok dari penganut ekspansionis setidaknya bisa terhalangi.  Meski tidak tertutup kemungkinan sarang lebah itu mampu dibakar habis oleh kekuatan besar itu melalui pertempuran terbuka skala besar.  Jujur saja kalau berhadapan head to head secara militer jelas kita kalah kelas dengan si lidah naga.

Armada KRI, menegakkan teritori laut NKRI
Sejalan dengan itu pangkalan udara Supadio di Kalbar juga dikembangkuatkan sebagai basis militer respon cepat dan bersama pangkalan AL Pontianak berfungsi sebagai pangkalan sinergitas dengan pangkalan militer di Natuna. Indonesia tidak lagi main-main dengan diplomasi gaya Cina yang manis dibibir tapi pahit di kenyataan.  Nyatanya Cina telah membangun pangkalan militer skala besar di pulau karang Fiery Cross Spralty yang jarak tempurnya mampu menjangkau Natuna.

Indonesia after 2018 adalah sebuah wajah yang diyakini punya kemampuan ekonomi dan militer yang jauh lebih baik dari sekarang ini. Khususnya pembangunan kekuatan militer maka mulai tahun 2018 kekuatan pengawal republik sudah mendapatkan titik tumpu pertahanan yang mampu mengcover seluruh wilayah tanah air. Wilayah yang masih bolong saat ini, ruang udara Bengkulu, Tambolaka, Morotai, Singkawang sudah dicover oleh instalasi radar militer canggih. Termasuk juga alat cegat, usir dan pukulnya sehingga “doa selamat” yang dilantunkan di satuan radar Saumlaki sudah mampu dijalankan oleh jet tempur yang disebar Kohanudnas di beberapa titik tumpu pertahanan udara.

Natuna after 2018 adalah etalase hilir mudik alutsista taktis dan strategis TNI.  Bergantian jet tempur Sukhoi SU35, SU30, SU27, F16, T50 mendatangi pangkalan udara Ranai untuk saling isi, saling lengkap, saling sinergi menjaga pagar teritori yang di utara perairannya sudah ada gerakan militer saling intip antara penganut klaim teritori. Demikian juga dengan pangkalan AL Natuna sudah disebar berbagai jenis KRI kombatan, Ahmad Yani Class, Diponegoro Class, Bung Tomo Class, Martadinata Class, dan tentu saja kapal selam. Bergiliran hilir mudik untuk menyatakan dengan jelas bahwa ini adalah wilayah teritori republik Indonesia.
Navy Base Surabaya, kekuatan pukul utama
Sementara daratan Natuna, sudah tersedia 1 brigade kombatan gabungan yang terdiri dari 1 batalyon raider, 1 batalyon arhanud, 1 skuadron Penerbad, 1 batalyon marinir dan 1 batalyon paskhas berikut sejumlah alutsista yang menyertainya.  Ada Oerlikon Skyshield, ada Pantsir-S, ada Apache, ada Mi35, ada Astross, ada UAV dan seterusnya.  Tidak tertutup kemungkinan penyediaan tempat bagi sarana labuh dan bekal ulang beberapa kapal perang dan jet tempur negara lain seperti AS dan Australia.

Memperkuat pertahanan di Natuna sesungguhnya bukan untuk melawan Cina tetapi untuk menyatakan sikap secara militer bahwa kita adalah pemilik teritori Natuna secara sah dan tak terbantahkan.  Kita ketahui bahwa keinginan Cina untuk menguasai seluruh teritori laut dan pulau-pulau di LCS (Paracel, Spratly) belakangan ini sangat intensif dan terang-terangan. Perairan yang diklaim itu bersinggungan dengan perairan ZEE Natuna, meski katanya Natuna tidak termasuk.  Tetapi pernyataan diplomatik itu boleh jadi akan melenakan kita jika kita tidak tahu lidah diplomatik tidak bertulang dan boleh jadi di kemudian hari menyemburkan lidah api ke Natuna.

Makanya kita pun bersiap agar Natuna mampu melindungi dirinya dengan konsep sarang lebah.  Angkatan laut dan udara sebagai kekuatan utama akan terus dikembangkuatkan untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan teritori.  Tahun 2018 nanti kita sudah punya setidaknya 5 kapal selam baru dari jenis Changbogo Class dan Kilo Class.  Sementara armada kapal perang permukaan sudah diperkuat dengan beberapa kapal fregat baru dengan persenjataan canggih. Demikian juga dengan angkatan udara, kita sudah punya Sukhoi SU35, tambahan SU30/27 dan F16.

Anggaran militer berbasis PDB tentu akan mampu mengangkat kemampuan dan daya tempur militer kita karena sejatinya kita masih butuh banyak kapal perang pemukul berbagai jenis utamanya fregat, destroyer dan kapal selam.  Kita juga masih butuh beberapa skuadron tempur untuk memperkuat taji kedaulatan udara. Tahun 2018 adalah tahun permulaan hasil karya jelas modernisasi militer kita dan tahun-tahun mendatang setelah itu akan semakin kelihatan postur kekuatan TNI yang sesungguhnya, gahar.

Natuna after 2018 adalah mulai terbangun dan terstrukturnya bentuk sarang lebah pertahanan.  Sudah ada kesiapan menjemput segala ancaman meski tentu saja kita tidak boleh sendirian berhadapan dengan lidah naga.  Kita tetap butuh teman lain yang membenci si juluran lidah naga. Teman itu bisa bernama Jepang, Australia dan AS. Juga Vietnam dan Filipina yang sudah terang-terangan bersengketa dengan juluran si lidah naga.  Andai saja lidah naga itu membatasi julurannya maka konflik di LCS tidak akan separah ini. Tapi apa boleh buat, nasi putih sudah menjadi bubur panas.

Kita harus bersiap karena yang kita hadapi adalah ketidakpastian iklim teritori.  Kalau kita kuat secara militer maka setidaknya ada jaminan percaya diri untuk mempertahankan teritori sembari tetap melakukan terobosan diplomatik.  Diplomasi negara dengan bayang-bayang kekuatan militer diniscayakan akan mampu menimbulkan efek segan dan sungkan pada pihak manapun yang hendak menganggu apalagi mencaplok teritori NKRI.  Jadi perkuatan militer adalah satu-satunya peta jalan yang patut didukung dan diapresiasi.
****
Jagarin Pane/08022016


Wednesday, February 3, 2016

Tuesday, February 2, 2016

Wednesday, January 27, 2016

Fregat Anyar


Indonesia terus menambah kekuatan alutsista strategisnya. Pertengahan Januari 2016 diluncurkan kapal perang terbaru jenis PKR 10514 buatan PT PAL Surabaya kerjasama dengan Damen Schelde Belanda, namanya KRI RE Martadinata 331. Kapal perang jenis fregat ini merupakan kapal perang pertama dari pesanan TNI AL sebanyak 6 unit, diluncurkan bersamaan dengan kapal perang jenis SSV pesanan militer Filipina.


Dalam setahun kedepan Angkatan Laut Indonesia diperkirakan akan mendapatkan 2 kapal perang jenis PKR 10514, satu lagi bernama KRI I Gusti Ngurah Rai 332.  Disamping itu ada juga pesanan 2 kapal perang jenis KCR 60m buatan PT PAL, 2 kapal perang jenis LST buatan Koja Bahari Jakarta, 1 kapal selam jenis Changbogo. Sementara Angkatan Udara Indonesia akan kedatangan 15 F16 blok 52id, 4 Super Tucano, 3 Hercules, 3 Radar militer dan 2 batteray Oerlikon Skyshield.  Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane / 26 Jan 2016

Wednesday, January 20, 2016

Bersabarlah, Tidak Sekedar Membeli

Andai bersemayam hasrat hawa nafsu dengan sejumlah anggaran yang digelontor secara besar-besaran untuk militer Indonesia, lalu kita membeli  dalam kapasitas besar sejumlah alutsista gahar teknologi terkini, maka tetap saja kapasitas kita adalah sebagai pembeli barang militer. Pemerintah Indonesia tidak lagi ingin terjebak dalam sebutan pembeli tetapi bertekad menguasai teknologi militer strategis terkini.

Anggaran yang digelontor sebesar 18 trilyun tahun ini bukanlah angka yang main-main untuk sebuah proyek jet tempur teknologi terkini KFX / IFX kerjasama dengan Korea Selatan. Jumlah 18 trilyun itu jika dibelikan jet tempur Sukhoi SU35 bisa mendapatkan 4 skuadron pesawat lengkap dengan persenjataannya.  Tetapi pemerintah telah berhitung cermat dan sabar untuk waktu 5-7 tahun lagi, mengeluarkan dana besar untuk sebuah harga teknologi jet tempur.  Meski begitu TNI AU tahun ini tetap dibelikan 12 jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya.
Peluncuran Fregat PKR 10514 TNI AL dan SSV untuk Filipina
Selain mega proyek KFX / IFX  Indonesia dan Korsel sudah melakukan kerjasama transfer teknologi untuk pembuatan 3 kapal selam canggih Changbogo.  Hasil karya itu akan diperlihatkan akhir tahun ini dengan selesainya kapal selam pertama. Kemudian berturut-turut kapal selam kedua tahun depan dan kapal selam ketiga yang sudah dibuat di PAL Surabaya tahun 2018.  Kapal selam ke empat dan seterusnya sudah dapat diproduksi PAL hingga bisa mencapai 10 buah sampai tahun 2024.

Demikian juga dengan proyek kerjasama teknologi kapal perang PKR 10514 antara PAL dan Damen Schelde Belanda yang kapal pertamanya diluncurkan tanggal 18 Januari 2016 bersamaan dengan ekspor kapal perang jenis SSV pesanan militer Filipina.  Indonesia bekerjasama transfer teknologi dengan Belanda membangun 2 unit kapal perang fregat.  Dalam perjalanannya ada penambahan 4 unit lagi sehingga tahun-tahun mendatang ini kita akan mendapatkan 6 unit fregat dengan kemampuan tempur 4 dimensi.

Kabar-kabar menyenangkan ini mestinya membawa rasa bangga kepada militer republik kita, karena program modernisasi TNI tidak hanya meningkatkan kemampuan tempurnya tetapi juga menguasai teknologi militer terkini. Proyek kerjasama dan  transfer teknologi jet tempur, kapal selam dan kapal fregat merupakan proyek bergengsi yang diniscayakan akan mampu mengangkat derajat kehebatan militer negeri ini yang sesungguhnya.

Negeri ini sejatinya hebat tetapi kehebatan itu dikerdilkan oleh hawa nafsu segelintir orang selama puluhan tahun yang hanya memuaskan dahaga nafsu “bank sakunya”, padahal komitmen pendiri republik jelas menyatakan: membangun bangsaku, bukan bank saku. Pemerintahan yang sekarang jelas sedang membangun bangsaku secara merata utamanya berbagai jenis infrastruktur.

Yang menarik dari pola dan cara berpemerintahan saat ini khususnya dalam program modernisasi tentara adalah mampu meneruskan program yang telah dibuat pemerintahan sebelumnya. Tiga proyek diatas, jet tempur, kapal selam dan PKR 10514 adalah rencana yang telah digulirkan dan dilaksanakan oleh pemerintahan sebelumnya.
24 F16 Blok 52 dari AS, 6 unit ditempatkan di Natuna
Kita berpandangan bahwa cara untuk menguatkan kualitas eksitensi bangsa ini utamanya dalam menjaga harkat dan martabat pertahanannya adalah dengan memperkuat militernya sekaligus menguasai teknologi terkininya.  Oleh sebab itu industri pertahanan strategis seperti Pindad, PAL dan PT DI harus dikembangbesarkan dan diberi tanggung jawab untuk mengolahbaguskan dan mengelola teknologi militer yang telah didapatkan.  Jangan sampai terjadi lagi keributan seperti soal helikopter kepresidenan.  Karena ketidaksamaan persepsi dan perspektif di ruang olah manajemen industri pertahanan PT DI menjadikan publik “berpandangan satu sama lain” kemudian tertawa tak beraturan.

Pada akhirnya manajemen industri pertahanan strategis adalah pemikul tanggung jawab untuk menghasilkan produk alutsista berkualitas tinggi, tentu dengan payung Undang-Undang.  Kita sudah punya Pindad yang mampu memproduksi senjata laras pendek dan panjang, panser Anoa, panser Badak, panser Anoa Amfibi dan lain-lain.  Demikian juga PAL yang sudah mampu memproduksi kapal perang jenis KCR 60m dan PKR 10514 dan sebentar lagi kapal selam.

Bersabar untuk tidak mengumbar nafsu membeli murni untuk alutsista strategis adalah langkah cerdas. Semua itu memerlukan waktu dan konsistensi. Penguasaan teknologi militer adalah satu cara untuk meningkatkan daya gentar berpertahanan.  Dengan begitu pelecehan teritori dengan sendirinya melandai dan tenang tanpa riak. Indonesia telah berjalan diatas kemajuan yang menguat, ekonomi diprediksi tumbuh lebih baik tahun ini. Infrastruktur dibangun secara besar-besaran sebagai rangka utama perjalanan pertumbuhan ekonomi.  Penguatan militer juga searah dengan penguatan ekonomi.

Berbaik sangka dengan pemerintahan dan programnya setidaknya menjadi kalimat doa untuk kemajuan bangsa besar ini. Lebih arif lagi tidak lantas membanding-bandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.  Bahwa semua perjalanan yang kita lakukan dengan pergantian pilot sesuai mekanisme demokrasi pada hakekatnya adalah untuk menjaminkan nilai negeri ini pada perjalanan berikutnya.  Kita ada didalamnya dengan peran masing-masing dan patut pula menguatkan jaminan nilai dan harkat negeri ini.

*****

Jagarin Pane / 20 Jan 2016

Sunday, January 3, 2016

Ragam Peluru Kendali Canggih Milik Militer Indonesia

·         Rudal Starstreak  buatan Inggris untuk Arhanud TNI AD
·         Rudal Mistral buatan Perancis untuk Arhanud TNI AD
·         Rudal NLAW anti Tank buatan Swedia untuk Yonif TNI AD
·         Rudal Javelin anti Tank buatan AS untuk Yonif TNI AD
·         Rudal Ataka buatan Rusia untuk Helikopter serbu Mi35 Penerbad
·         Rudal Hellfire II buatan AS untuk Helikopter serang Apache Penerbad
·         Rudal Grom buatan Polandia untuk Arhanud TNI AD
·         Rudal TD2000B buatan Cina untuk Arhanud TNI AD
·         Rudal Astross II Mk6 buatan Brazil untuk Armed TNI AD
·         Rudal Oerlikon Skyshield buatan Swiss untuk Paskhas TNI AU
·         Rudal QW3 buatan Cina untuk Paskhas TNI AU
·         Rudal C705 penghancur kapal buatan Cina untuk TNI AL
·         Rudal C802 penghancur kapal buatan Cina untuk TNI AL
·         Rudal Exocet penghancur kapal buatan Perancis untuk TNI AL
·         Rudal Yakhont penghancur kapal buatan Rusia untuk TNI AL
·         Rudal Vympel R77 buatan Rusia untuk Sukhoi TNI AU
·         Rudal KH29, KH31, KH59 buatan Rusia untuk Sukhoi TNI AU
·         Rudal AIM9 Sidewinder series buatan AS untuk F16, F5E dan Hawk TNI AU
·         Rudal AIM120 AMRAAM buatan AS untuk F16 TNI AU

·         Rudal AGM Maverick buatan AS untuk Hawk, F5E, F16 TNI AU

Rudal Hellfire II dan Apache yang dipesan Indonesia
****
Jagarin Pane/ 02 Jan 2016

Tuesday, December 22, 2015

Gerak Cepat Two In One Memperkuat Posisi

Seminggu terakhir menjelang akhir tahun 2015 terdapat sebuah ketidakbiasaan dalam metode kunjungan diplomasi Menteri Indonesia ke luar negeri.  Kali ini sebuah terobosan bersejarah dilakukan dalam model kunjungan kombinasi two in one dengan Menlu dan Menhan berkunjung sekaligus ke dua negara strategis di kawasan Asia Pasifik, Jepang dan Australia.  Ada apa gerangan.

Pertemuan sehari penuh di Jepang dilakukan tanggal 17 Desember 2015 di sebuah hotel megah di Akasaka Tokyo, tetapi tentu saja tertutup alias rahasia dengan formula two plus two. Indonesia dengan Menlu Retno Marsudi dan Menhan Ryamizard Ryacudu berdiskusi dengan Menlu Jepang Fumio Kishida dan Menhan Gen Nakatami bahas berbagai hal utamanya dinamika kawasan yang sudah terusik dengan gaya militer Cina. Karena bersifat tertutup tentu ada poin strategis yang tidak ingin jadi konsumsi publik meski intelijen sudah siapkan “alat bantu dengar” untuk nguping pembicaraan itu.

Langkah kebijakan luar negeri Indonesia berbasis kebijakan pertahanan merupakan permainan cantik yang ingin diperlihatkan utamanya pada pihak yang sedang membuat Laut Cina Selatan (LCS) demam berkepanjangan. Jepang tentu menyambut hangat kunjungan 2 in 1 ini karena juga akan membuat negeri itu punya “teman yang sepaham” utamanya dalam mengantisipasi konflik LCS.  Jepang juga bersedia memenuhi kebutuhan alutsista Indonesia seperti pesawat amfibi ShinMaywa US-2 dan alutsista berteknologi tinggi lainnya.  Ini bisa dilakukan karena UU Keamanan Nasional Jepang telah direvisi sehingga dimungkinkan dapat melakukan penjualan alutsista dan transfer teknologinya.

Pertemuan bernilai strategis dengan Australia
Kunjungan dengan formula yang sama juga dilakukan dengan Australia.  Kedua Menteri Indonesia itu bertemu dengan koleganya Menlu Julie Bishop dan Menhan Marisse Payne di gedung Parlemen Persemakmuran Sydney tanggal 21 Desember 2015.  Pertemuan juga dilakukan secara tertutup, seharian penuh kemudian dilakukan konferensi pers.  Cuma bedanya dalam pertemuan 2 plus 2 ini kalau di Jepang berwarna 3 and 1 maka di Australia warnanya berubah jadi 1 and 3.  Di Tokyo Menlu Retno paling cantik sendiri sedang di Sydney Menhan Ryamizard paling ganteng sendiri.

Kunjungan diplomatik cerdas ke dua negara sahabat itu sejatinya ingin memperlihatkan kualitas diplomasi Indonesia yang selalu ingin memandang horizon diplomatik sebagai kekuatan cerdas dalam menyikapi segala persoalan dalam hubungan antar negara. Horizon di depan itu adalah pilihan-pilihan diplomatik yang harus diambil manakala timbul perselisihan.  Horizon di depan itu adalah saling ketergantungan antar negara secara mutlak.  Oleh sebab itu kekakuan dalam pola diplomatik yang dibangunkembangkan dengan menomorsatukan kekuatan militer justru akan menjadi contoh arogansi kekuatan otot militer berbanding terbalik dengan kecerdasan diplomatik yang hanya setingkat pentium dua.

Inisiatif Indonesia dengan membangun embrio kerjasama pertahanan dengan Jepang dan Australia karena melihat ada kekakuan cara gaul dalam konflik LCS.  Meski Indonesia tidak terlibat konflik klaim tetapi sebagai negara yang memiliki geografi strategis tidak bisa tinggal diam karena kita tidak ingin ada konflik dengan letusan senjata.  Kalau ini terjadi maka buyarlah tatanan kerukunan, kemajuan ekonomi dan kedamaian lingkungan yang sudah dibangun puluhan tahun.  Tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan di meja perundingan kalau saja pihak-pihak yang berselisih mampu mengedepankan semangat kecerdasan intelektual dalam diplomasi.

Australia dan Jepang adalah mitra strategis Indonesia.  Dalam kunjungan Menlu dan Menhan ke sana tidak terlihat sedikitpun ketidaksetaraan itu. Jepang memandang RI sebagai mitra setara, demikian juga dengan Australia.  Ketiga negara sama pandang dan sebangun kata bahwa kerjasama diplomatik dengan baju pertahanan perlu diperkuat untuk melawan hawa nafsu pihak yang merasa paling berhak dalam konflik klaim teritori.
Tahun-tahun mendatang ini akan banyak kegiatan latihan militer yang dilakukan Indonesia dengan Jepang dan Australia, demikian juga kerjasama intelijen sebagai satu komponen penting dalam mengantisipasi segala hal, dan juga kerjasama anti teror.  Lebih dari itu kesediaan Jepang dan Australia untuk ikut “mengawal” LCS merupakan payung penting untuk menguatkan semangat negara ASEAN yang berkonflik di LCS.

Tentara Indonesia, selalu siap tempur sepanjang waktu
Pesan yang ingin disampaikan adalah jika pihak sana memang menginginkan konflik dengan memamerkan otot militer, pihak sini juga punya kekuatan dengan mengumpulkan otot-otot militer tadi menjadi sebuah kekuatan kombinasi yang punya kekuatan pukul dahsyat. Tetapi lebih elok kiranya jika segala bentuk permusuhan tadi dimusyawarahkan dengan semangat saling ketergantungan dan kerjasama. Dunia masa depan adalah adanya saling ketergantungan antar negara.

Diplomasi Indonesia yang dipertunjukkan sepanjang minggu ini adalah juga dalam rangka memperkuat pertahanan teritori Indonesia. Itulah sebabnya kerjasama pertahanan dan pemenuhan kebutuhan alutsista kita dengan Jepang, Korsel dan Australia  menjadi sebuah mata rantai yang tak boleh putus. Kita sedang membenahi mata rantai komando, teknologi komunikasi anti jaming dan anti sadap, pembangunan pangkalan militer, pengembangan kekuatan armada tempur, penambahan skuadron tempur dan radar militer. Ini tentu memerlukan waktu bangun dan kembang. 

Kita perkuat ekonomi dan militer kita. Seirama dengan itu memperkuat kerjasama diplomatik dan pertahanan adalah rumusan cerdas yang memang dibutuhkan untuk menjaga nilai-nilai harmoni dan saling menghormati. Kita sedang bangun semua itu, pertumbuhan ekonomi, peningkatan kekuatan militer dan cerdas, ceria dan penuh senyum dalam berdiplomasi. Retno dan Ryamizard telah menjalaninya dengan penuh percaya diri.
****

Jagarin Pane / 21 Desember 2015

Saturday, December 12, 2015

Prediksi Tambahan Kekuatan Alutsista Pengawal Republik 2016-2017

TNI AL :

  2   Kapal selam selain Changbogo Class
  2   Kapal fregat
  2   Kapal OPV
  3   Kapal angkut tank
  3   Kapal cepat rudal 60 m
  1   Kapal latih layar
12   Ranpur KAAV Marinir
27   Tank amphibi BMP-3 F Marinir
  1   Pesawat patroli maritim CN 235 MPA
  1   Helikopter angkut personil
11   Helikopter anti kapal selam
       Upgrade lanjutan korvet Fatahillah Class
       Upgrade lanjutan korvet Parchim Class


TNI AU :

   12  Jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya
    6   Helikopter combat Cougar
    4   Radar militer utk Kalbar, NTT, Morotai dan Merauke
    7   Pesawat angkut CN 295
    6   Batteray Oerlikon Skyshield
160   Ranpur taktis Paskhas
         Upgrade 16 jet tempur Golden Eagle (radar dan persenjataan)
         Upgrade 4 jet tempur Sukhoi SU27
****
Jagarin Pane / 12 Des 2015 / Dari berbagai sumber

Wednesday, December 2, 2015

Up Date Kapal Perang Indonesia Terkini

UP DATE TERBARU ARMADA KAPAL PERANG INDONESIA (2015)

FREGAT

BUNG TOMO CLASS
·         KRI BUNG TOMO 357
·         KRI JOHN LIE 358
·         KRI USMAN HARUN 359

AHMAD YANI CLASS
·         KRI AHMAD YANI 351
·         KRI SLAMET RIYADI 352
·         KRI YOS SUDARSO 353
·         KRI OSWALD SIAHAAN 354
·         KRI ABDUL HALIM PERDANA KUSUMA 355
·         KRI KAREL SATSUIT TUBUN 356

KI HAJAR DEWANTARA CLASS
·         KRI KI HAJAR DEWANTARA 364

KORVET

FATAHILLAH CLASS
·         KRI FATAHILLAH 361
·         KRI MALAHAYATI 362
·         KRI NALA 363

DIPONEGORO CLASS
·         KRI DIPONEGORO 365
·         KRI HASANUDDIN 366
·         KRI SULTAN ISKANDAR MUDA 367
·         KRI FRANS KAISIEPO 368

PARCHIM CLASS
·         KRI KAPITAN PATIMURA 371
·         KRI CUT NYAK DIN 375
·         KRI SULTAN TAHA SYAIFUDDIN 376
·         KRI MEMET SASTRAWIRIA 380 (Tenggelam di perairan Bengkulu)
·         KRI HASAN BASRI 382
·         KRI IMAM BONJOL 383
·         KRI PATI UNUS 384
·         KRI TEUKU UMAR 385
·         KRI SILAS PAPARE 386
·         KRI UNTUNG SUROPATI 872
·         KRI SULTAN NUKU 873
·         KRI LAMBUNG MANGKURAT 874
·         KRI SUTANTO 877
·         KRI SUTEDI SENOPUTRA 878
·         KRI WIRATNO 879

KAPAL SELAM

CAKRA CLASS
·         KRI CAKRA 401
·         KRI NANGGALA 402

KAPAL CEPAT RUDAL (KCR)

MANDAU CLASS Berpeluru Kendali
·         KRI MANDAU 621
·         KRI RENCONG 622
·         KRI BADIK 623
·         KRI KERIS 624

CLURIT CLASS 40M Berpeluru Kendali
·         KRI CLURIT 641
·         KRI KUJANG 642 
·         KRI BELADAU 643
·         KRI ALAMANG 644
·         KRI SURIK 645
·         KRI SIWAR 646
·         KRI PARANG 647
·         KRI TERAPANG 648

SAMPARI CLASS 60M Berpeluru Kendali

·         KRI SAMPARI 628
·         KRI TOMBAK 629
·         KRI HALASAN 630

PANDRONG CLASS Berpeluru Kendali
·         KRI PANDRONG 801
·         KRI SURA 802

TODAK CLASS Berpeluru Kendali
·         KRI TODAK  803
·         KRI HIU 804
·         KRI LAYANG 805
·         KRI LEMADANG 806

ANDAU CLASS Torpedo
·         KRI ANDAU 650
·         KRI SINGA 651
·         KRI TONGKAK 652
·         KRI AJAK 653

KAPAL PATROLI CEPAT

BRUNAI CLASS
·         KRI SALAWAKU 842
·         KRI BADAU 843

PARI CLASS
·         KRI PARI 849
·         KRI SEMBILANG 850
·         KRI SIDAT 851

KAKAP CLASS
·         KRI KAKAP 811
·         KRI KERAPU 812
·         KRI TONGKOL 813
·         KRI BARAKUDA 633

BOA CLASS
·         KRI BOA 807  (dialihtugaskan menjadi KAL untuk Lantamal Belawan)
·         KRI WELANG 808 
·         KRI SULUH PARI 809
·         KRI KATON 810
·         KRI SANCA 811 (dialihtugaskan menjadi KAL untuk Lantamal Jakarta)
·         KRI WARAKAS 816
·         KRI PANANA 817
·         KRI KALAKAS 818
·         KRI TEDONG NAGA 819

COBRA CLASS
·         KRI CUCUT 866
·         KRI COBRA 867 (dialihtugaskan menjadi KAL untuk Lantamal Jakarta)
·         KRI ANAKONDA 868
·         KRI PATOLA 869
·         KRI TALIWANGSA 870
·         KRI KALAGIAN 871

KRAIT CLASS
·         KRI KELABANG 826
·         KRI KRAIT 827
·         KRI TARIHU 828 (dialihtugaskan menjadi KAL untuk Lantamal Belawan)
·         KRI ALKURA 830

SIBARAU CLASS
·         KRI SIBARAU 847
·         KRI SILIMAN 848
·         KRI SAMADAR 851
·         KRI SAWANGI 854
·         KRI SADARIN 855
·         KRI SALMANITTI 856
·         KRI SIGALU 857
·         KRI SILEA 858
·         KRI SIRIBUA 859
·         KRI WAIGEO 861
·         KRI SIADA 862
·         KRI SIKUDA 863
·         KRI SIGUROT 864

VIPER CLASS
·         KRI VIPER 820  (dialihtugaskan menjadi KAL untuk Lantamal Belawan)
·         KRI PITON 821
·         KRI WELING 822
·         KRI MATACORA 823 (Tenggelam di perairan Belawan)
·         KRI TEDUNG SELAR 824
·         KRI BOIGA 825

LPD (LANDING PLATFORM DOCK)

MAKASSAR CLASS
·         KRI MAKASSAR 590
·         KRI SURABAYA 591
·         KRI BANJARMASIN 592
·         KRI BANDA ACEH 593

LST (LANDING SHIP TANK)

FROSCH CLASS
·         KRI TELUK GILIMANUK 531
·         KRI TELUK CELUKAN BAWANG 532
·         KRI TELUK CENDERAWASIH 533
·         KRI  TELUK BERAU 534 (ditenggelamkan dalam Latihan Armada Jaya 2012)
·         KRI TELUK PELENG 535
·         KRI TELUK SIBOLGA 536
·         KRI TELUK MANADO 537
·         KRI TELUK HADING 538
·         KRI TELUK PARIGI 539
·         KRI TELUK LAMPUNG 540
·         KRI TELUK JAKARTA 541
·         KRI TELUK SANGKULIRANG 542
·         KRI TELUK CIREBON 543
·         KRI TELUK SABANG 544

TELUK LANGSA CLASS
·         KRI TELUK LANGSA 501
·         KRI TELUK BAYUR 502 (Ditenggelamkan dgn penembakan Yakhont 2011)
·         KRI TELUK AMBOINA 503
·         KRI TELUK KAU 504
·         KRI TELUK TOMINI 508
·         KRI TELUK RATAI 509
·         KRI TELUK SALEH 510
·         KRI TELUK BONE 511

TACOMA CLASS
·         KRI TELUK SEMANGKA 512 (Ditenggelamkan dalam latgab 2013)
·         KRI TELUK PENYU 513
·         KRI TELUK MANDAR 514
·         KRI TELUK SAMPIT 515
·         KRI TELUK BANTEN 516
·         KRI TELUK ENDE 517

BINTUNI CLASS
·         KRI TELUK BINTUNI 520

KAPAL ANGKUT PASUKAN

TANJUNG CLASS
·         KRI TANJUNG KAMBANI 971
·         KRI TANJUNG OISINA 972
·         KRI TANJUNG NUSANIVE 973
·         KRI TANJUNG FATAGAR 974 (Pensiun Oktober 2014)

KARANG CLASS
·         KRI KARANG PILANG 981
·         KRI KARANG TEKOK 982
·         KRI KARANG BANTENG 983 (Ditenggelamkan dalam Latgab 2014)
·         KRI KARANG UNARANG 984 (Dihibahkan ke Pemda Sangihe 2010)

KAPAL PENYAPU RANJAU

CONDOR CLASS
·         KRI PULAU ROTE 721
·         KRI PULAU RAAS 722
·         KRI PULANG ROMANG 723
·         KRI PULAU RIMAU 724
·         KRI PULAU RUSA 726
·         KRI PULAU RANGSANG 727
·         KRI PULAU RAIBU 728
·         KRI PULAU REMPANG 729

PROJECT 244 CLASS
·         KRI PULAU RANI 701

PULAU RENGAT CLASS
·         KRI PULAU RENGAT  711
·         KRI PULAU RUPAT 712

KAPAL KOMANDO
·         KRI MULTATULI 561

KAPAL LATIH LAYAR
·         KRI DEWARUCI
·         KRI ARUNG SAMUDERA

KAPAL TANKER
·         KRI BALIKPAPAN 901
·         KRI SAMBU 902
·         KRI ARUN 903
·         KRI DUMAI 904
·         KRI TARAKAN 905
·         KRI SUNGAI GERONG 906
·         KRI SORONG 911

KAPAL TUNDA
·         KRI RAKATA 922
·         KRI SOPUTAN 923
·         KRI LEUSER 924
·         TD GALUNGGUNG (Tdk KRI,tdk dipasang senjata)
·         TD ANJASMORO (Tdk KRI,tdk dipasang senjata)

KAPAL SURVEY OCEANOGRAPHY
·         KRI DEWA KEMBAR 932
·         KRI RIGEL 933
·         KRI SPICA  934

KAPAL PENDUKUNG
·         KRI NUSA TELU 952
·         KRI TELUK MENTAWAI 959
·         KRI KARIMATA 960
·         KRI WAGIO 961

KAPAL RUMAH SAKIT
·         KRI DR. SOEHARSO 990

 CATATAN :
Dalam proses pembuatan :
·         2 Kapal PKR 10514
·         3 Kapal selam Changbogo Class
·         3 Kapal LST dari kelas Bintuni
·         1 Kapal latih layar pengganti Dewaruci
·         3 Kapal Cepat Rudal 60 m
·         11 Helikopter anti kapal selam

Dalam proses negosiasi :
  • 4 Kapal PKR 10514 kerjasama produksi PAL_Belanda
  • 4 Kapal selam selain Changbogo
  • 2 Kapal Destroyer
****

Jagarin Pane / 2 Des 2015
(Dari berbagai sumber)