Diam-diam Bung Tomo melakukan pertemuan dengan Frans Kaisieppo. Lho kok
bisa, ya bisa dong, karena keduanya bertemu di laut Tengah sebuah
perairan panas di utara Mesir, kemarin. KRI Bung Tomo 357 sedang dalam
perjalanan menuju Indonesia sedangkan KRI Frans Kaisieppo 368 sedang
melakukan tugas mengawal perairan Lebanon-Israel dalam misi perdamaian
PBB. Momen ini sangat membanggakan karena kedua kapal perang itu
merupakan kapal perang canggih yang dimiliki Indonesia dan ditonton oleh
beberapa kapal perang asing yang sedang bertugas di misi perdamaian
PBB.
KRI Bung Tomo adalah salah satu dari tiga kapal perang yang sedang dalam perjalanan dari Inggris ke Indonesia. KRI yang lain yaitu KRI Jhon Lie 358 dan KRI Usman Harun 359 berada di kloter belakangnya. Ketiganya adalah KRI yang akan mengisi kekuatan laut NKRI. Jalesveva jayamahe...
***
Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Tuesday, August 19, 2014
Friday, August 15, 2014
Gemuruh Jet Tempur Di Hari Kemerdekaan
Ada yang menarik ketika kita menyaksikan detik-detik
proklamasi tanggal 17 Agustus 2014 pagi nanti, sebuah ulang tahun yang mencapai
bilangan 69. Ulang tahun terakhir yang
dipimpin Presiden SBY di Istana Merdeka Jakarta akan dimeriahkan oleh gemuruh
32 jet tempur berbagai jenis yang dimiliki TNI AU. Jadi tidak hanya mendengar teks proklamasi
dibacakan, atau melihat Paskibraka mengibarkan bendera, tapi lebih menggema
dengan gemuruh jet tempur yang menderu dari belakang podium.
Kewibawaan dan nilai acara proklamasi dua tahun terakhir
ini menjadi semakin berharkat dengan bertambahnya materi acara yaitu terbang
lintas jet-jet tempur tentara langit sebagai bagian dari ungkapan dan show of
force gengsi bernegara dan eksistensi berbangsa. Dan tahun ini tampilan 32 jet tempur yang
sudah berseliweran di langit Jakarta selama beberapa hari ini memberikan
kebanggaan bagi warga Ibukota, jantungnya Republik Indonesia. Mereka memberikan apresiasi dan kebanggaan
sambil mendongak keatas meski setelah itu mereka kembali menemukan menu
keseharian ibukota, sibuk dan macet.
![]() |
| 32 Jet tempur berkumpul di Halim AFB Jakarta |
Peringatan ini tidaklah sekedar membacakan teks
proklamasi, tetapi ingin menyampaikan sebuah pesan kepada segenap warga bangsa
khususnya generasi muda bahwa inilah republikmu yang telah diperjuangkan
dengan dentuman dan percikan. Nilai-nilai
kejuangan ini, setelah pengumuman kemerdekaan itu, selama 5 tahun kemudian
menjadi palagan medan tempur yang membara, mengharu biru, bahu membahu. Inilah salah satu kekuatan cikal bakal
nasionalisme patriotik yang dimiliki warga bangsa sampai di batas perjalanan
ini.
Yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di sekitar
kita adalah model kemerdekaan yang kita perjuangkan. Sengaja kita pakai kata
perjuangkan karena semua negara di sekitar kita kemerdekaannya tidak
diperjuangkan melainkan diperoleh. Tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 wib ketika
proklamasi dikumandangkan, dari situlah awal heroiknya perjuangan
mempertahankan kemerdekaan dalam perang lima tahun yang meletihkan itu. Dan memang pihak lawan yang letih sendiri
yang akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949.
Enampuluhsembilan tahun setelah itu,inilah wajah republik
dengan segala prestasi dan persoalannya. Prestasinya adalah tumbuh sebagai
kekuatan ekonomi nomor 10 dunia, ekonomi nomor satu di ASEAN, pendapatan per
kapita mencapai US$ 3.900, masuk golongan negara berpenghasilan menengah. Investasi industri tumbuh subur, adanya asuransi
model BPJS, munculnya kekuatan kelas menengah yang cerdas dan kritis, proses
demokratisasinya diacungi dunia meski sebagian elit politiknya masih berjiwa
kerdil.
![]() |
| Formasi yang akan ditampilkan |
Disamping prestasi itu tentu masih banyak persoalan yang
melingkarinya. Virus korupsi yang masih
melenggang meski sudah ada anti virusnya KPK, kepastian hukum yang belum
berpihak ke rakyat papa, model pelayanan publik yang belum memuaskan,
infrastruktur yang masih amburadul, semangat primordial yang berlebihan dan
masih terjerat model subsidi energi yang melewati batas-batas kepatutan.
Harus diakui banyak hal yang sudah dicapai dalam sepuluh
tahun jalannya demokrasi langsung one man one vote untuk memilih Presiden. Kekuatan daya beli yang bernama APBN menjadi
pemicu utama geliat perekonomian disamping investasi, menjadi berlipat ganda
sampai akhirnya mampu menembus 10 besar ekonomi dunia. Sayangnya kemampuan sehebat itu belum
diimbangi dengan kemampuan membangun infrastruktur jalan raya, pelabuhan,
bandara, angkutan laut. Lebih banyak terserap untuk belanja pegawai dan barang
konsumtif lainnya.
Bagi kalangan militer keberhasilan pemerintah selama 5
tahun terakhir ini dengan menggelontorkan dana alutsista sebesar US$ 15 milyar
tentu memberikan angin segar untuk perkuatan alutsista negeri. Ketika sang Presiden sedang menuju titik finish
pemerintahannya, berbagai jenis alutsista itu mulai berdatangan. Hari ini datang jet tempur, besok datang
kapal perang, besoknya lagi MBT, besoknya lagi peluru kendali berbagai jenis,
besoknya lagi pesawat angkut, besoknya lagi radar militer, besoknya lagi helikopter. Luar biasa, makanya kita berani menyebut
bahwa pemerintahan SBY mampu melakukan belanja alutsista terbesar sejak jaman
dwikora.
Itulah sebabnya sebagai bentuk terimakasih, hulubalang
republik yang diwakili tentara langit TNI AU sengaja mengerahkan 32 jet tempur
dari 5 skuadron tempur untuk memberikan apresiasi kepada panglima tertinggi
atas prestasinya menggagahkan pengawal republik yang pada akhirnya mampu membanggakan
dan mewibawakan kedaulatan NKRI. Bahkan pada
upacara puncak hari ulang tahun TNI tanggal 5 Oktober mendatang akan digelar
kekuatan alutsista terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sengaja acara itu dilaksanakan di pangkalan
utama TNI AL Surabaya agar seluruh matra TNI dapat menampilkan dan memamerkan
alutsista yang dimiliki kepada sang Presiden.
Sembari mengucapkan dirgahayu Republik Indonesia, sangat
pantas pula kita menyampaikan terimakasih kepada Presiden RI selaku panglima
tertinggi yang telah memberikan air mata kebanggaan kepada hulubalang
republik. Makna sesungguhnya mengisi
kemerdekaan adalah meningkatkan kesejahteraan warga bangsa, kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan dan
membangun kekuatan militer sebagai pelindung dan kehormatan berbangsa dan
bernegara. Mestinya politisi-politisi
kerdil itu mampu memahami nilai-nilai kejuangan itu.
****
Jagvane / 15 Agustus 2014
Monday, August 4, 2014
Apa Kabar Kogabwilhan
Lama tak terdengar “lagu mars” yang bernama pembentukan
Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan), tergerus kampanye pilpres
dan segala macam hiruk pikuknya sampai dengan terpilihnya presiden baru. Lalu kesibukan menata pergerakan puluhan juta
manusia nusantara di musim Lebaran yang basah ini, akhirnya menimbulkan
pertanyaan silaturrahmi, apa kabar Kogabwilhan, baik-baik saja kan.
Kogabwilhan adalah bagian dari upaya untuk menghadirkan
kekuatan pemukul TNI di sekitar hotspot yang diprediksi menjadi ancaman
teritori dan separatis. Natuna, misalnya
sangat jelas bentuk ancamannya karena di perairannya ada persinggungan klaim teritori
dengan si Naga Cina yang mulai menunjukkan keangkuhan militernya. Pola tingkah militer negeri itu mau tak mau
harus disikapi dengan kehadiran militer RI yang terus menerus di sepanjang
tahun untuk mengawal perairan Natuna.
![]() |
| Daftar Belanja TNI AD |
Pengawalan yang terus menerus tentu memerlukan isian
ketersediaan alutsista utamanya AL dan
AU. Beruntunglah dalam waktu dekat ini 3
kapal perang Bung Tomo Class akan tiba sedangkan untuk AU sudah mulai
berdatangan jet tempur F16CD. Juga
berbagai alutsista jenis lain. Sekedar gambaran bedanya hotspot Aceh dan Natuna
adalah model pergerakan militernya dan jenis ancamannya. Untuk Natuna jelas merupakan ancaman pagar
teritori dan lebih banyak pergerakan alutsista AL dan AU. Bahkan jika terjadi
konflik terbuka jenis pertempurannya adalah pertempuran laut dan udara. Sedangkan Aceh dengan ancaman separatisnya
akan lebih banyak pergerakan pasukan dan alutsista AD.
Unjuk kerja “Kogabwilhan” sudah dipertunjukkan dalam
operasi Garda Wibawa di Kaltim dan Latgab 2014 yang lalu. Model persekutuan tempur antar matra dengan
satu komando yang bergerak bersama, menggerakkan Sukhoi di Makassar kemudian berkomunikasi
dan bersinergi dengan beberapa KRI di Ambalat dan batalyon TNI AD untuk
mendeteksi, mendekati dan menghancurkan musuh.
Jalannya operasi militer ini sudah memakai kurikulum Kogabwilhan. Demikian juga dengan Latgab 2014 yang baru
saja digelar akhir Mei 2014 yang lalu. Kombinasi serangan udara, perlindungan
udara, pertempuran udara, pendaratan amfibi, perang anti kapal selam,
peluncuran berbagai peluru kendali anti kapal disimulasikan dengan satu panglima
komando tempur untuk pertama kalinya sepanjang sejarah TNI.
![]() |
| Daftar Belanja TNI AL |
Evaluasi terhadap unjuk kerja simulasi Kogabwilhan
mestinya memberikan harapan bahwa tak lama lagi akan direalisasikan struktur
Kogabwilhan dan distribusi alutsistanya.
Tentu isian alutsista masih banyak yang harus dipenuhi karena 3-4 rumah
Kogabwilhan itu perlu perabotan perang yang berteknologi dan mencukupi. Jangan sampai satu rumah Kogabwilhan hanya
diisi perabotan kursi tamu di ruang tamu, alias hanya untuk gagah-gagahan
jabatan panglima bintang tiga. Oleh
sebab itu kita berpandangan lebih baik membuat 1 rumah Kogabwilhan lebih dulu untuk
hotspot Natuna atau Ambalat. Kogabwilhan lainnya menyusul sembari terus mendatangkan
alutsista baru di MEF 2.
Hotspot Natuna dan Ambalat jelas nian duduk persoalan dan
jenis penyakitnya, sama-sama ancaman kedaulatan teritori. Sementara Aceh dan Papua lebih kepada ancaman
separatis yang sudah menjadi lagu lama yang keasinan. Maka isian alutsista di Natuna adalah
pengerahan kapal perang yang punya rudal dan jet tempur sergap, misal F16.
Demikian juga di Ambalat. Khusus untuk Ambalat sudah terlihat pola kawal
teritorinya dengan senantiasa menggelar kapal perang, operasi intelijen dan
pergeseran pasukan Marinir.
Kehadiran Kogabwilhan memang diperlukan untuk memastikan
langkah cepat mendeteksi, menganalisis dan memukul lawan di batas teritori
dengan perintah panglima “regional” Kogabwilhan. Namun isian perabotnya mutlak harus ada. Jangan sampai ada rumah, perabot baru mau akan
diisi. Biak AFB yang direncanakan sebagai pangkalan skuadron jet tempur untuk
saat ini semua sudah tersedia, landasan, apron, satuan radar, paskhas namun
alutsista utamanya berupa jet tempur belum tersedia. Padahal kehadiran skuadron tempur TNI AU di
Papua ini sangat diperlukan. Bukankah
dengan lebih seringnya lalu lalang jet tempur di Papua akan memberikan dampak
kebanggaan bagi warga bangsa disana sekaligus pengawalan teritori udara yang
memadai.
![]() |
| Daftar Belanja TNI AU |
Kita berharap tidak ada kendala teknis dalam pembentukan
minimal 1 Kogabwilhan sebelum perayaan 5 Oktober 2014 mendatang. Bukankah perayaan
HUT TNI kali ini akan menjadi perayaan terbesar sepanjang sejarah TNI dengan
memamerkan seluruh jenis alutsista yang baru dibeli sekaligus perpisahan dengan
panglima tertinggi yang berjasa besar memodernisasi militer Indonesia. Jika Kogabwilhan
dibentuk sebelum atau bersamaan dengan peringatan HUT TNI nanti, diniscayakan
akan menjadi momentum gagah untuk memastikan berjalannya doktrin “berani masuk
digebuk”.
Jika kendalanya ada di “pemegang kendali” bintang tiga
Kogabwilhan, maka pola giliran antar matra bisa diterapkan sebagaimana jabatan
panglima TNI. Saat ini semua matra TNI
sedang mengembangkan organisasinya. Armada TNI AL dikembangkan menjadi 3 armada
tempur, Kostrad juga menjadi 3 divisi, Marinir tak ketinggalan dengan
memekarkan diri menjadi 3 Pasmar.
Alutsista baru MEF 1 terus berdatangan dan akan terus dipesan dalam MEF2
nanti. Maka Kogabwilhan adalah bagian
dari strategi transmigrasi alutsista dan pasukan untuk tidak lagi Java
Centris. Moga-moga seperti itulah
kabarnya Kogabwilhan, tinggal tunggu waktu yang tepat untuk pengumumannya.
****
Jagvane / 04 Agustus 2014
Friday, July 25, 2014
Selamat Datang Jet Tempur F16 Blok52ID
Thursday, July 24, 2014
Menjelang Akhir Pujian Mengalir
Begitulah gambaran perjalanan pemerintahan kita selama
sepuluh tahun terakhir ini. Atas nama demokrasi, kebebasan berpendapat maka
jalannya pemerintahan sepanjang jalan ceritanya dicecar terus oleh beberapa
media vulgar untuk menggiring opini publik seakan-akan jalannya pemerintahan
tidak membawa nilai, perbaikan dan pertumbuhan. Tetapi ketika menjelang akhir
justru pujian mengalir dari media yang sama pula seiring dengan beralihnya cara
pandang dan kepentingan mereka menghujat dari Presiden eksisting ke para Capres
yang didukungnya.
Sejak awal kita berpandangan bahwa dalam setiap ide dan tulisan
yang kita publikasikan, rangkaian kalimat yang kita sampaikan selalu ingin
menyatakan niat khusnuzon. Tidak ingin
berputar pada alinea menyalahkan tetapi pada hasrat yang menggebu untuk
menempatkan nilai prestasi pada koridor yang pantas. Banyak hal yang sudah dicapai dalam
perjalanan pemerintahan SBY tetapi apakah hasil itu kemudian bisa
dipublikasikan secara proporsional oleh media “independen” kita. Jawab jelasnya
tidak. Yang diberitakan oleh media
dengan tanda kutip independen itu lebih banyak publikasi hujatan, prasangka
buruk, caci maki dan ejekan diluar batas-batas kepatutan untuk sebuah media
berita. Pura-pura independen tetapi sejatinya untuk menyuarakan kepentingan
pemilik medianya.
![]() |
| Ikut berperan dalam misi perdamaian dunia |
Pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 5 % selama sepuluh
tahun merupakan prestasi yang pantas dipublikasikan termasuk peningkatan
kesejahteraan. Kekuatan ekonomi RI
menjadi 10 besar dunia dan peningkatan pendapatan perkapita yang
signifikan membuat lembaga keuangan
dunia mengapresiasi kepemimpinan SBY. Kepemimpinannya yang penuh perhitungan
sehingga dianggap sebagai peragu belakangan baru dipahami sebagai bagian dari
strategi kecerdasan untuk membangun harkat dan martabat. Contohnya masalah
Ambalat ketika memanas di awal pemerintahan SBY.
Ketika masalah itu sempat mendidihkan adrenalin bangsa
ini, Presiden SBY justru melontarkan statemen diplomasinya yang halus dan tidak
ingin membakar hasrat bermusuhan dengan Malaysia. Dia katakan bahwa antara Indonesia dan
Malaysia adalah tetangga yang punya banyak kesamaan, disana ada jutaan TKI
yang mencari nafkah, maka segala
perselisihan teritorial hendaklah diselesaikan di meja perundingan. Waktu itu banyak orang yang “gondok” dengan
sang Presiden yang ternyata tidak lantang menyanyikan lagu maju tak gentar.
Namun perjalanan berbangsa kemudian membuktikan bahwa
Panglima Tertinggi sejatinya “marah besar” dengan polah jiran sebelah yang
meremehkan teritori Indonesia. Disamping itu berdasarkan kajian intelijen cuaca
di Laut Cina Selatan diprediksi dalam beberapa tahun kedepan akan bergelombang
dan membahayakan. Maka melalui rembug
nasional yang melibatkan Kemhan dan Parlemen dibuatlah strategi besar untuk
memperkuat militer RI dengan belanja alutsista secara besar-besaran, terbesar
sejak era Dwikora. Disiapkan anggaran
US$ 15 Milyar untuk modernisasi militer kita selama tahun 2010-2014 yang
dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF) jilid satu.
![]() |
| Prajurit Marinir di RIMPAC 2014 Hawaii, meningkatkan harkat dan martabat |
Kini setelah rencana besar itu digulirkan lima tahun
lalu, hasilnya adalah mengalirnya dengan deras beragam alutsista untuk mengisi
satuan tempur hulubalang republik. Yang
lebih membanggakan lagi adalah menggeliatnya industri pertahanan dalam negeri
seperti PT PAL, PT DI, Pindad dan industri hankam swasta nasional untuk ikut
meramaikan produksi alutsista buatan anak negeri maupun kerjasama produksi
dengan negara lain. Bukankah ini sebuah
prestasi untuk meningkatkan harkat dan martabat. Bayangkan kita sekarang punya 300 Panser
Pindad, 12 Kapal Cepat Rudal, 2 LPD, murni produksi anak bangsa. Bukankah itu
membanggakan harkat dan martabat.
Penggiringan opini publik memang luarbiasa selama sepuluh
tahun ini. Kebebasan menyuarakan suara
miring seakan-akan republik ini menjadi negara gagal sangatlah memalukan. Ada yang menyebut negeri auto pilot sambil
membawa kerbau, bahkan ada yang menyebut negeri ini negeri para bedebah dengan
puisi karangannya seakan-akan dialah satu-satunya malaikat, sementara penghuni
republik ini setan semua. Kalau mau
diurai terlalu banyak umpatan, caci maki dan ejekan dalam serial pemerintahan menjelang
satu dasawarsa ini.
Nah, sekarang ketika pemerintahan ini menjelang tutup
buku untuk digantikan pemerintahan yang baru, hujatan itu tak ada lagi berganti
dengan sanjungan dan pujian. Dikatakan
bahwa SBY adalah seorang negarawan,
seorang politisi santun yang telah mampu membawa berbagai kemajuan dan
kebanggaan untuk negeri ini. SBY adalah jendral cerdas yang perlu dicontoh oleh
presiden berikutnya. Ironi bukan, dunia
sudah jauh-jauh hari menyatakan keberhasilan yang mampu meningkatkan harkat dan
martabat itu, baru kemudian pujian itu dilantunkan di pasar media dalam negeri
oleh pasar yang sama pula yang dulunya menghujat.
Bagi kalangan militer SBY telah menoreh sejarah emas
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas persenjataan hulubalang republik termasuk peningkatan
kesejahteraan para prajurit. Demikian juga kalangan yang memiliki visi
perspektif dan bernaluri khusnuzon, termasuk tetangga kiri kanan sudah sejak
lama mengapresiasi kepemimpinannya baik dari sisi kemajuan ekonomi, peningkatan
kesejahteraan, hubungan luar negeri, kecerdasan diplomasi dan perkuatan pertahanan.
Tidak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan gaya
kepemimpinan SBY. Kesempurnaan hanyalah
milik Allah. Masih banyak yang harus dibenahi
untuk negeri majemuk ini, dan bangsa besar ini akan terus berjalan menikmati eksistensi
dan pertumbuhannya. Maka ketika kita
memandang dari sisi itu niscaya penilaian proporsional pada akhirnya akan
menempatkan nilai Presiden ke enam itu sebagai seorang yang telah mampu
mengantar negeri ini ke pintu martabat dan harkat yang jauh lebih baik dan
bernilai memuaskan.
****
Jagvane / 24 Juli 2014
Saturday, July 12, 2014
Bercermin Dari Demokrasi Mesir dan Thailand
Sesungguhnya perjalanan demokrasi kita hari-hari ini
sedang panas dalam, meriang dan kalau tidak mampu dikelola bisa menjadi meraung
dan mengaum saling menerkam. Di tataran
pengambilan suara tanggal 9 Juli 2014 yang lalu para pemilih suara telah
menampakkan kualitas demokrasinya dengan antusias mendatangi berbagai TPS di
seluruh Indonesia. Artinya rakyat
Indonesia yang punya hak pilih telah memenuhi kewajibannya untuk memilih RI-1.
Dunia mengakui kehebatan para pemilih Indonesia dalam menjalankan hak
demokrasinya.
Masalahnya kemudian adalah di model perhitungan suara
yang bernama quick count yang berbeda satu sama lain jika berhadapan dengan
kubu yang berseberangan. Ini kemudian melahirkan sebuah kalimat populer yang
pernah disebutkan almarhum Gus Dur yaitu
membela yang bayar. Di kubu A lembaga survey membela kliennya demikian juga di
kubu B. Ini juga salah satu indikator
yang menjadi pemicu gejolak panas dalam ditambah lagi dengan keberpihakan media
yang terbelah menjadi dua kubu yang berseberangan. Meminjam istilah sastrawan, Indonesia saat
ini bagai bulan yang terbelah dua.
Sesuai perintah, saat ini satu juta Polisi dan Tentara
dalam kondisi siaga penuh untuk mengantisipasi kondisi terburuk dalam
perjalanan berdemokrasi kita. Ada pergerakan
dan pergeseran pasukan bersama sejumlah alutsista di berbagai tempat strategis. Sebagai alat dan instrumen penyelamat negara
dari gangguan keamanan dan pertahanan, menyiagakan personel dan sejumlah
alutsistanya merupakan keniscayaan yang dibenarkan. Kendali tokoh publik atau politisi tentu ada
di lisan dan laku sikap. Manakala lisan
provokasi dan laku sikap berlaku anarkis jelas akan berhadapan dan berlawanan
dengan instrumen penyelamat negara.
![]() |
| Militer Indonesia bersiaga penuh |
Berbagai contoh telah diperlihatkan manakala jalan
berdemokrasi melewati ambang batas laku sikap dan lisan yang mau menang
sendiri. Mesir yang perolehan suara kaum religi menang tipis terhadap kaum
nasionalis dalam Pemilu beberapa tahun silam sangat mengejutkan lingkungan
sekitarnya. Termasuk penggemar status
quo yang berpuluh tahun menikmati rezim Hosni Mubarak dan tetangga sebelahnya
Israel.
Sayangnya pihak pemenang tipis pemilu ingin cepat-cepat
merevolusi tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di negeri piramid itu
sehingga menimbulkan birahi berkelahi. Disamping itu sesungguhnya Israel
berkepentingan dengan posisi Mesir yang status quo alias tidak adanya aroma
ikhwanul muslimin di pemerintahannya. Oleh karena itu berbagai upaya intelijen dilakukan
untuk mengembalikan posisi status quo tadi.
Meski gejolak politik di Mesir menimbulkan efek domino
alias Arab Springs dengan kejatuhan beberapa rezim pemerintahan di sekitarnya
tapi kita bisa lihat sekarang kondisi negeri “Firaun” itu yang tidak sembuh
dari luka dan cuka demokrasi. Militer mengambil alih pemerintahan untuk
menyelamatkan wibawa negara. Sebabnya karena posisi sama kuat blok demokrasi di
dalam negeri itu yang tak mampu merekonsiliasi diri. Kemudian adanya campur tangan Israel dan AS
untuk tetap “memegang dan menggenggam” Mesir agar tetap jinak.
Demikian juga pertarungan demokrasi sama kuat antara
kelompok baju ningrat dengan kelompok baju egaliter yang dikenal dengan sebutan
kaos kuning dan kaos merah di Thailand. Berlarutnya dalam hitungan tahunan saling
hujat antara kedua kelompok itu akhirnya memancing militer Thailand untuk
mengambil alih pemerintahan. Seperti kita ketahui seorang pengusaha kaya Thaksin
Shinawatra dalam sekian tahun memerintah negeri gajah putih itu, dan terguling,
telah berhasil memikat hati kaum egaliter terutama petani dan pedagang. Kaum inilah yang menjadi lawan tanding
kelompok kaos kuning sebutan untuk mereka yang berada dalam kelas pegawai
negeri, keluarga tentara dan pemuja nilai-nilai kerajaan.
![]() |
| Titik Nol Yogya, haruskah kembali ke titik Nol |
Demokrasi Indonesia sedang diuji kematangannya terutama
ditingkat elite partai dan sekutunya.
Perhitungan suara manual yang sedang dilakukan KPU saat ini hendaknya
disikapi dengan ketenangan cara pandang dan cara bicara. Apalagi kita berada di bulan suci Ramadhan
yang nota bene menahan dari segala hal, menahan amarah, menahan emosi termasuk
menahan nafsu provokasi. Rakyat bangsa telah membuktikan kematangan
berdemokrasi dengan tingkat kedatangan di TPS meningkat tajam. Rakyat bangsa telah menjalankan “ritual
demokrasi” nyaris sempurna tanpa ribut dan cela.
Maka saatnya elite partai dan kelompok masing-masing
harus mampu menunjukkan kecerdasan berpolitik, kecerdasan emosional, kecerdasan
intelektual. Asal tahu saja kalangan
grass root atau akar rumput tidak akan melakukan tindakan apa-apa jika tidak
ada instruksi dari atasan partai atau kelompoknya. Mestinya kita banyak bercermin dari
kedewasaan masyarakat pemilih kita yang sudah kembali menjalankan aktivitas
mereka. Berbagai aktivitas mereka sesungguhnya menggerakkan perekonomian yang
terus tumbuh dan berkembang di negeri ini.
Ketika saatnya diumumkan siapa yang menjadi pemenang
untuk menjadi Presiden lima tahun ke depan, mestinya jauh-jauh hari sudah
dikondisikan bagi kedua petarung dan kelompoknya untuk siap kalah dan menerima
kekalahan dengan legowo. Tentu ini berat
karena ongkos politik tidak hanya berupa nilai tukar tetapi juga gengsi diri,
harga diri, aktualisasi diri, emosi diri dan ambisi diri terhadap apa yang
disebut nilai perolehan harga kekuasaan.
Tentu semua ada limitnya. Oleh
sebab itu pusat gravitasi kendali merupakan kunci untuk memberikan ketenangan
pada harga diri, gengsi diri termasuk kendali kelompok.
Pada posisi tak terkendali, bukan sesuatu yang haram jika
Polisi dan Tentara bahu membahu menghantam habis kelompok anarkis yang berusaha
mencederai martabat demokrasi karena tak siap kalah. Posisi darurat sipil maupun darurat militer
bisa dan sah diberlakukan di seluruh tanah air manakala kemarahan lisan berubah
menjadi kemarahan destruktif tak terkendali.
Kita berada di persimpangan itu, mau meneruskan universitas demokrasi
dengan nilai cum laude atau terpaksa harus mengulang kembali karena tidak lulus
mata kuliah pengendalian diri.
Semoga berkah Ramadhan ini mampu memberikan berkah demokrasi
yang bening, pengendalian diri untuk sebuah kemenangan Indonesia Raya yang majemuk.
Dan di Idul Fitri nanti kita semua bisa mengembalikan nilai kesejatian pada fitrah
diri, fitrah berbangsa, sebuah kebanggaan pada nilai kebangsaan Indonesia Raya.
****
Jagvane / 12 Juli 2014.
Subscribe to:
Posts (Atom)











