Saturday, May 31, 2014

Tambahan Kapal Combatan TNI AL

Selama 4 tahun ini ada tambahan 10 Kapal Perang Striking Force TNI AL :

Kapal Cepat Rudal 40 m buatan Palindo Batam :

KRI Clurit 641
KRI Kujang 642
KRI Beladau 643
KRI Alamang 644
(Keempat kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal C705 buatan Cina)

Kapal Cepat Rudal 60 m buatan PAL Surabaya :

KRI Sampari 628
KRI Tombak 629
KRI Halasan 630
(Ketiga kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal 802 buatan Cina)

Kapal Light Fregat buatan Inggris :

KRI Bung Tomo 357
KRI John Lie 358
KRI Usman Harun 359

***Jagvane 31 Mei 2014

Sunday, May 25, 2014

Garda Wibawa, Uji Nyali dan Uji Tempur



Sepanjang pekan lalu dan pekan awal bulan depan ada dua mata ujian yang telah dan akan dilakoni TNI kita. Yang pertama adalah mata pelajaran uji nyali di Tanjung Datuk Kalbar.  Dengan mengerahkan sejumlah KRI, sejumlah jet tempur Hawk dan pesawat UAV berikut pasukan batalyon 641 Raider TNI AD maka pelajaran uji nyali di Tanjung Datuk lulus dengan mundurnya kapal perang Malaysia.  Meski begitu sejumlah KRI tetap bersiaga disana untuk memastikan “jalannya” kewibawaan teritori NKRI, garda wibawa.

Pada saat yang sama sebenarnya di perairan Ambalat saat ini sedang berlangsung operasi militer gabungan TNI “Garda Wibawa” yang melibatkan puluhan KRI dan sejumlah jet tempur dengan dukungan pasukan Kodam Mulawarman dan Kodam Wirabuana. Operasi militer ini untuk menguji koneksitas dan integrasi sistem pertempuran antar matra TNI.  Ambalat yang dijadikan medan uji simulasi sistem pertempuran, ternyata Tanjung Datuk menjadi ujian sesungguhnya.
Tank amfibi BMP3F sedang melakukan serbuan pantai
Sekedar membandingkan bedanya perairan Ambalat dengan Tanjung Datuk adalah, kalau di Ambalat kita yang bangun mercu suar di Karang Unarang lalu ada gangguan dari kapal perang Malaysia, tetapi pembangunan tetap jalan terus sampai selesai. Di perairan Tanjung Datuk pihak Malaysia yang berinsiatif membangun mercu suar di wilayah “abu-abu” itu tetapi dengan ketegasan hulubalang Republik, pembangunan mercu suar itu akhirnya dihentikan. Pelajaran dari kedua wilayah ini adalah jangan sekali-kali kita lengah karena sekali lagi terbukti perilaku jiran sebelah itu memang selalu ingin mencari kelengahan kita.

Pekan depan tepatnya sepanjang minggu pertama bulan Juni 2014 akan ada pergerakan 16.000 tentara khususnya di pulau Jawa.  Pergerakan militer itu dalam rangka menguji mata pelajaran militer yang lain yaitu uji tempur seluruh matra TNI bersama senjata-senjata strategis yang dimilikinya.  Setidaknya ada 40 an jet tempur berbagai jenis yang terdiri 8-10 Sukhoi, 6-8 F16, 12 T50, 2 F5E, 3 Super Tucano dan 10-12 Hawk akan bersileweran di langit Jawa untuk memerankan uji tempur pre emptive strike, menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah teritori Indonesia.  Musuh anggapan (musang) yang dijadikan target ada di perairan selatan Jawa yang bermaksud menyerang jantung Indonesia dari “pangkalan militer” dekat Bengkulu.

Maka segala cara militer dilakukan untuk mengobrak abrik pangkalan militer musang berkekuatan 1 brigade itu.  Mulai dari penembakan peluru kendali udara ke permukaan dari Sukhoi dan F16, penembakan peluru kendali Exocet MM40 Blok 3 dari KRI Sigma untuk menghancurkan kapal lawan.  Kalau kita melihat serial latihan gabungan yang dilakukan selama 3 tahun terakhir maka uji tembak senjata strategis yang dimiliki TNI AL sudah dilakukan mulai dari rudal C705, rudal C802, rudal Yakhont, Torpedo dan terakhir ini Exocet seri terbaru.  Jet tempur Sukhoi juga akan melakukan pertempuran udara dengan jet tempur musang lalu menembakkan rudal udara ke permukaan, Vympel KH29.
Rudal Yakhont ditembakkan dari KRI Oswald Siahaan
Puncak dari semua uji tempur dan uji tembak itu akan berakhir di pantai Asembagus Situbondo dengan serangan pantai ribuan pasukan Marinir dan akan disaksikan oleh Presiden SBY.  Serbuan pantai ini akan dikawal sedikitnya 30 KRI yang sebagian akan memuntahkan ratusan isi perutnya berupa tank amfibi BMP3F, PT76, BTR50, RM Grad, LVT7, Artileri, Roket, Rudal Qw3 dan senjata berat lainnya. TNI AD menyertakan ribuan prajuritnya bersama alutsista yang dimilikinya seperti tank Scorpion, Stormer, AMX13, artileri KH179, KH178, panser Anoa, panser Tarantula, heli tempur Mi35, Mi17, Bell412Ep dan lain-lain.

Meski uji tempur TNI memberikan kegembiraan gahar yang luar biasa karena kita bisa melihat perkembangan modernisasi TNI selama 5 tahun terakhir ini namun nilai gentar uji nyali di Tanjung Datuk lebih memberikan kebanggaan yang membuncah. Karena peristiwa unjuk kerja militer itu nyata, bukan simulasi.  Gerakan kapal perang RI yang dipimpin oleh KRI Sutedi Senaputra yang baru diperbaharui power dan persenjataannya bersama manuver Hawk Pontianak dan UAV memberikan efek ciutnya nyali pihak seberang.  Sayangnya banyak media yang tidak mengekspos peristiwa ini karena sibuk dengan berita pesta pilpres.  Bandingkan dengan berita Ambalat tempo hari.

Sementara itu terkait dengan uji tempur Latgab tahun ini perlu juga dicatat, bahwa belum pernah ada dalam catatan sejarah Latgab selama ini, pelaksanaan Latgab dilakukan dengan frekuensi sesering 4 tahun belakangan ini.  Tahun 2013 ada Latgab besar dengan 3 Hotspot, Sangatta, Flores dan Situbondo.  Lalu tahun ini dilakukan Latgab lagi dengan formula yang berbeda dengan Latgab sebelumnya.  Latgab tahun ini tidak lagi berpola defensif tetapi mengerahkan semua kekuatan yang ada untuk menyerang pangkalan militer negara Musang.
Artileri KH179 ikut meramaikan ledakan amunisi Latgab 2014
Latgab tahun ini mensinergikan kekuatan 3 matra dalam satu komando tempur gabungan dengan kurikulum baru : gebuk sebelum masuk (pre emptive strike). Sepertinya ini menguji dulu komando militer gabungan terpadu sebelum nantinya model pertahanan Kogabwilhan diresmikan Presiden SBY.  Sejak tahun 2008 sampai 2014 tercatat ada 4 kali TNI melakukan Latgab berskala besar.  Untuk ukuran Asia Tenggara belum ada negara yang menyaingi kemampuan Indonesia dalam memobilisasi pasukan dan alutsista dalam jumlah besar yang dilakukan oleh satu negara.

Kampanye militer Indonesia bukan untuk menakuti negara tetangganya tetapi ingin mengingatkan negara jiran dan sekaligus rakyat Indonesia sendiri.  Untuk negara jiran pesannya adalah kekuatan sejumlah ledakan demi ledakan yang dimuntahkan itu memberi pesan kuat agar berlaku sopan dalam etika berjiran.  Sedangkan untuk rakyat kita sendiri sebagai pertanggungjawaban atas perolehan sejumlah alutsista baru dan berteknologi.  Sekalian mengingatkan pada semua komponen bangsa bahwa pagar teritori yang dikawal itu sangat luas dan masih memerlukan sejumlah perkuatan gahar untuk garda wibawa. 
****
Jagvane / 25 Mei 2014

Friday, May 16, 2014

Menuju Latgab Pesta Purnama Purna



Bulan-bulan mendatang ini kita akan menyaksikan rangkaian perjalanan riang gembira manakala hulubalang kita semakin gagah dengan baju alutsista baru.  Bersamaan dengan itu serial latihan kesatuan, antar kesatuan sampai antar matra adalah rangkaian aktivitas menuju purnama latgab.  Puncak purnama itu adalah melantunkan lagu perpisahan kepada sosok yang telah mempurnamakan alutsista TNI. Sekalian mengantar purna jalan tugas panglima tertinggi karena telah sampai di batas tugas.

Bulan Mei ini berbagai latihan parsial dilakukan matra TNI.  Marinir melakukan latihan serbuan pantai di Situbondo.  Berbagai batalyon TNI AD melakukan uji tembak senjata berat. Sejumlah kapal perang melakukan latihan tempur di laut Jawa. Disaat yang sama puluhan KRI telah pula bersiaga di Ambalat dalam satuan tugas gabungan AL dan AU.  Operasi militer gabungan ini adalah yang pertama kali dilakukan dan diberi nama Garda Wibawa 14 dengan melibatkan jet tempur, satuan radar, kapal perang, marinir, paskhas dan intelijen. Latihan ini dibackup oleh satuan tempur TNI AD di Kodam Mulawarman Kaltim Kaltara dan Kodam Wirabuana Sulawesi.
1 Skuadron jet latih tempur T50, alutsista gres
Sementara di perairan kawasan timur Indonesia telah pula disiagakan setidaknya 14 KRI untuk tugas mengamankan laut Arafuru dan laut Timor.  Bersamaan dengan itu kesiagaan unsur tempur laut juga hadir di perairan Natuna dan Selat Malaka.  Sejalan dengan itu isian distribusi alutsista mulai disebar misalnya untuk artileri kelas berat KH179 155mm buatan Korea untuk Aceh, Kalbar dan Kaltim.  Artileri KH178 105mm disebar untuk yon Armed Kodam di Jawa. Lhok Seumawe, Dumai, Bontang dan Jakarta juga sudah menerima sejumlah rudal SAM.

Juli ini pembentukan armada timur TNI AL yang berpusat di Sorong segera direalisasikan, tentu bersamaan dengan pengembangan divisi ke 3 Marinir dengan kekuatan 15.000 marinir.  Seiring dengan itu Divisi 3 Kostrad segera membangun markas di Semarang bersinergi dengan Korps Penerbad yang memiliki berbagai jenis helikopter tempur dan angkut. Divisi 3 Kostrad merupakan pengembangan dari dua divisi sebelumnya.  Semua pengembangan kekuatan itu pada akhirnya nanti akan menjadi pilar utama pembentukan Kogabwilhan yang direncanakan tahun ini.

Berbagai alutsista juga menunggu ketibaan, diantaranya 3 KRI Bung Tomo Class, 3 KCR 60 m PAL, 3 LST, 2 BCM, 50 MBT Leopard, 40 Marder, 38 Caesar Nexter, 36 MLRS Astross II, 24 F16 blok 52, 12 Super Tucano, 4 UAV Heron, 4 radar, sejumlah peluru kendali berbagai jenis, mulai dari rudal anti tank, rudal SAM, rudal anti kapal sampai rudal udara ke permukaan.  Pesawat angkut berat Hercules juga akan bertambah 9 unit termasuk dari jenis CN295 sebanyak 16 unit.  Setidaknya itu list yang sudah dipublikasi jauh-jauh hari, tentu ada juga list belanja yang tidak dipublikasi, masak sih semua harus diumumkan.
Artileri KH179 155mm dibagi untuk 3 batalyon
Latgab purnama akan menampilkan serial latihan dengan sejumlah alutsista baru. Termasuk penembakan rudal udara ke permukaan dari jet tempur Sukhoi. Penembakan rudal anti kapal Exocet MM40 blok 3 dari KRI Sigma yang selama ini tidak pernah dipublikasikan. Ini merupakan kejutan tersendiri disamping gempuran rudal Sukhoi ke salah satu kapal permukaan milik TNI AL yang sudah tidak dipakai. Puncak dari semua kegiatan itu adalah memberikan nilai purnama dan purna tugas pada Panglima Tertinggi yang akan digelar dalam sebuah pesta hari jadi 5 Oktober 2014 di Naval Base Surabaya.

Selama lima tahun ini kekuatan alutsista TNI berkembang secara signifikan dan itu tak lepas dari pola strategi dan keputusan bagus dari RI-1.  Kekuatan militer Indonesia mengikuti perkembangan dan pertumbuhan ekonomi negara ini yang selama 10 tahun terakhir ini menunjukkan trend positif sampai akhirnya RI masuk urutan 10 besar ekonomi dunia yang dikenal dengan PDB (Product Domestic Bruto dan PPP (Purchase Power Parity).  Logikanya dengan semakin bagus kondisi ekonomi kita maka perkuatan militer dan alutsista TNI semakin membungakan dan membanggakan hati.  Dan itu layak untuk sebuah negara kepulauan terbesar dan penduduk no 4 terbesar di dunia.

Latgab 2014 adalah kelayakan pertanggungjawaban kepada rakyat bangsa bahwa tentara yang telah dibelikan alutsista modern harus mampu menunjukkan kemampuannya dan senantiasa bersiap siaga dalam segala cuaca untuk menjaga dan mewibawakan teritori NKRI.  Keistimewaan Latgab 2014 adalah kehadiran berbagai alat tempur mutakhir dan sekaligus mengiringi langkah akhir dari seorang Presiden yang telah memberikan nilai luar biasa pada perkuatan militer RI.

Maka pesta 5 Oktober 2014 adalah pernyataan kepurnamaan tentara yang selama 5 tahun ini diterangi dengan rembulan alutsista anyar menuju purnama.  Sosok yang telah mempurnamakan TNI itu telah pula mempurnakan tugas pekerjaannya.  Di mata TNI tentu nilai layak yang pantas disandangkan panglima tertinggi itu adalah cum laude.  Ini adalah purnama pertama yang membanggakan.  Tentu kita masih ingin menyaksikan purnama-purnama yang lain untuk membaguskan tentara kita, untuk menggagahgaharkan tentara kita.  SBY telah meletakkan fondasi modernisasi militer kita.  Kita berharap presiden selanjutnya dapat meneruskannya dengan langkah tegap mengembangkuatkan tentara berikut kesejahteraannya.
****
Jagvane / 16 Mei 2014

Thursday, May 8, 2014

Menghadang Cina dengan Barikade Bulan Sabit



Pertarungan gengsi hegemoni Asia Pasifik sudah memasuki babak penting terkait dengan tingkah Cina yang terus menerus menekan secara militer beberapa negara yang saling klaim teritori kepemilikan.  AS yang menjadi sekutu tradisional Jepang dan Filipina sudah memperbaharui aliansi strategis mereka.  Dengan Filipina misalnya sudah disepakati perjanjian pertahanan bersama yang dikenal dengan The Enhanced Defense Cooperation Agreement,  dengan membuka kembali pangkalan militer Clark dan Subic untuk lalulintas militer AS.

Ambisi Cina dengan mengedepankan kualitas otot militer daripada otak diplomasi mengharuskan negara-negara disekitarnya pasang kuda-kuda sekalian mengadu kepada adidaya pemilik hegemoni tak tertandingi, AS.  Tercatat Filipina, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan kini berada dalam payung perlindungan AS.  Sementara Vietnam yang benci banget sama Cina merapat ke Rusia dengan membeli sejumlah persenjataan bernilai gahar dari Rusia.  Beberapa penasehat militer Papa Bear diyakini sudah berada di Vietnam.
Klaim Teritori Laut Cina Selatan
Bisa digambarkan saat ini beberapa pangkalan militer telah membentuk barikade bulan sabit sepanjang Asia Pasifik.  Mulai dari Cocos, Christmas, Darwin, Filipina, Taiwan, Jepang, Korea.  Barikade bulan sabit ini untuk mengurung dan mengepung kekuatan militer Cina yang sudah memiliki kemampuan serbu lintas negara.  Semua barikade yang digelar itu menempatkan AS sebagai pemain utama dengan menyebar marinir dan sejumlah kapal perang, kapal selam, kapal induk dan jet tempur di wilayah bulan sabit.

Barikade bulan sabit itu masih diperkuat dengan kekuatan swalayan Vietnam yang terus memperkuat militernya dan Malaysia yang belakangan cenderung low profile seakan tak ikut meramaikan klaim teritori Laut Cina selatan.  Mengapa tiba-tiba Malaysia kurang bergairah dalam memperjuangkan klaim wilayah di LCS boleh jadi karena keletihan mengurus Sabah yang diganggu militan Sulu atau fokus mencari Mh370 yang sebagian penumpangnya WN Cina. Bisa jadi karena masih “terkesima” dan kaget dengan kedatangan armada kapal perang dan kapal selam  Cina di gugusan pulau James Shoal miliknya, 80 km dari pantai Sarawak akhir bulan Januari yang lalu.

Indonesia yang tak terkait dengan konflik teritori LCS bukan berarti tak memperkuat kewaspadaan.  Dibukanya front timur LCS dengan kehadiran militer AS untuk menjaga Filipina tentu sedikit melegakan. Karena Cina kini mendapat lawan tangguh dan sendirian menghadapi berbagai front gabungan.  Jika harus terjadi perang berskala besar maka front timur LCS akan menjadi medan tempur paling bergengsi head to head antara pemilik hegemoni AS dan penantangnya Cina.
Berundinglah, tidak harus dengan dentuman artileri
Negeri Naga ini dikenal dengan cara berdiplomasi yang kaku. Meski berhasil dalam membangun kekuatan ekonominya dan diprediksi akan menyalip AS untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia, namun gaya gaul diplomatnya perlu dipercantik agar tidak terkesan dimusuhi semua orang. Perkuatan militernya menjadi ancaman bagi kawasan di sekitarnya termasuk Indonesia yang harus melipatgandakan kekuatan alutsistanya. Sah-sah saja setiap negara melipatgandakan kekuatan militernya tapi jika disertai ancaman ekspansi teritori tentu menciptakan kebencian regional.

Indonesia sedang memperkuat pagar militernya di Natuna, garis depan yang didepannya ada hiruk pikuk militer.  Penempatan kapal-kapal perang dan pesawat tempur merupakan isian mutlak yang harus ada.  Tetapi lebih penting dari itu inisiasi membuka dialog untuk perundingan diplomatik diniscayakan menjadi jalan cerdas yang diinginkan banyak negara.  Indonesia bisa melakukan itu karena posisi netralnya.  Tetapi sejalan dengan itu tentu ada strategi lain yang juga harus dijalankan Indonesia jika kondisi cuaca ekstrim melanda kawasan LCS. 

Indonesia  harus memilih dan bersiap untuk bergabung dengan blok bulan sabit agar semuanya menjadi jelas. Bisa saja dengan bergabungnya RI ke blok penghadang itu menjadikan Cina berpikir ulang.  Atau “menggertak” Cina agar mau berunding soal LCS disertai ancaman jika tak mau maka RI akan bergabung ke front bulan sabit.  Dengan bergabungnya Indonesia ke blok bulan sabit demi solidaritas ASEAN praktis akan mengucilkan Cina dari tata pergaulan regional.  Thailand jelas pro AS, demikian juga Singapura.  Boleh jadi ini menjadi senjata ampuh untuk mengurangi libido ekspansi teritori Cina yang cenderung egois dan mau menang sendiri.

Lebih terhormat jika pengelolaan kawasan konflik di LCS yang kaya sumber daya mineral itu dilakukan dengan kerjasama antar negara mengolah dan memanfaatkan sumber daya mineral, bagi hasil bersama untuk kesejahteraan bersama.  Ongkos pertempuran untuk perebutan sumber daya mineral itu jauh lebih mahal dan akan merusak multiflier effect ekonomi kesejahteraan yang sudah tertata selama ini. Takdir sejarah akan mengatakan Cina tak akan terbendung lagi menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia.  Tetapi jangan karena itu lalu seenaknya menjebol bendungan tata krama dan etika perilaku, lalu gasak sana gasak sini.  Dunia akan melawan.
****
Jagarin Pane / 08 Mei 2014



Monday, April 28, 2014

Ujian MEF II



Kesinambungan cara pandang berpertahanan untuk lima tahun ke depan akan segera memasuki lintas jembatan suksesi figur orang nomor satu RI.  Yang jelas figur yang akan mengisi orang nomor satu itu tidak lagi Sby, sosok yang telah memberikan segelas anggur merah untuk perkuatan militer RI.  Figur yang akan mengisi lembaran cerita berbangsa dan bernegara lima tahun ke depan merupakan kepala sekolah yang akan menentukan kebijakan berpemerintahan yang salah satunya adalah kebijakan berpertahanan.  Dengan kata lain kepala sekolah yang baru nanti akan menentukan apakah mata pelajaran MEF akan dilanjutkan, dilanjutkan dengan beberapa perubahan atau akan diganti dengan mata pelajaran lain, bisa saja kan.

Meski sudah ada kurikulum MEF (minimum essential force) sampai jilid III tetap saja tongkat komando pimpinan tertinggi menjadi patokan melangkah.  Gaya kepemimpinan akan mempengaruhi apakah harus tetap langkah tegap atau langkah biasa atau malah langkah santai aja.  Catatan yang bisa kita sampaikan adalah kebiasaan berperencanaan kita selama ini kan tergantung selera pemimpinnya. Adanya pergantian kepemimpinan  sangat memungkinkan terjadinya  pergantian selera dan cara pandang. 

Contoh sederhana, berapa tahun harus sia-sia waktu untuk menentukan penambahan armada kapal selam.  Sejak tahun 2003 sudah mulai melakukan perencanaan untuk mengganti atau menambah kapal selam Cakra Class yang sudah lama malang melintang. Tetapi baru 8 tahun kemudian menjadi jelas merek apa yang akhirnya akan dibeli.  Dan selama kurun waktu itu telah terjadi pergantian pimpinan TNI dan TNI AL.  Bandingkan dengan Vietnam, hanya butuh satu tahun perencanaan, lalu proses pengadaan, tiga tahun kemudian satu persatu kapal selam Kilo yang dipesannya datang.  Setelah itu baru kita kaget.
Presiden Sby, peduli dengan perkuatan TNI
Jangan dikira tidak ada “blusukan” atau lobi-lobi untuk menentukan siapa kelak yang akan memimpin Kementerian Pertahanan meski Presidennya pun belum tahu siapa.  Kementerian Pertahanan selama lima tahun ini kan sudah menjadi kementerian gadis manis dengan rambut sebahu yang banyak dilirik dan dicolek produsen alutsista internasional.  Kementerian sekarung gula ini tentu menarik minat rombongan semut dunia untuk ikut mencicipi manisnya anggaran alutsista RI. 

Dengan berkaca pada kepadatan anggaran beli senjata selama lima tahun ini tentu perkiraan produsen alutsista dan makelarnya bahwa untuk MEF II akan lebih banyak lagi dana dikucurkan. Semua keputusan itu ada di tangan kepemimpinan RI-1 yang baru bersama group kabinet pilihannya.  Salah satu pilihan figur paling berbinar dan bercahaya adalah Kementerian Pertahanan.  Jika presidennya si A maka ada kemungkinan Menhannya si B atau C. Jika presidennya si X maka kira-kira Menhannya si Y dan Z.  Kalkulasi jika, seandainya, misalnya, andaikata pun makin menarik dicermati.

Tidaklah penting bagi kita untuk menentukan figur Kemhan-1 tetapi lebih penting dari itu adalah menjaga kesinambungan program MEF.  Jadi sebenarnya ujian MEF terletak pada kelanjutan program perkuatan militer RI.  Jika MEF satu bisa mencapai 36% dari target MEF, alangkah bagusnya jika sisa target itu bisa diselesaikan di MEF II.  Meski begitu jika ternyata style pemerintahan besok menginginkan sampai MEF jilid III target itu diselesaikan, juga tak mengapa.  Yang penting tetap bisa berjalan sesuai rencana.

Sekedar gambaran PDB Indonesia tahun 2013 berdasarkan data BPS berjumlah 9.084 trilyun rupiah meningkat dan searah dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,78%.  Jika anggaran pertahanan tetap, seirama dengan kenaikan PDB maka anggaran pertahanan ikut naik 5,78%.  Selama ini anggaran pertahanan kita ada di kisaran 0,8 – 0,9 % dari PDB padahal Singapura saja sudah membagi anggaran pertahanannya sampai 4% dari PDB.  Maka jika anggaran pertahanan kita bisa dinaikkan sampai 2% saja maka perkuatan militer RI akan semakin membahana.
2 Fregat A Yani Class pengawal samudera RI
Itu sebabnya banyak prediksi menyebut khusus untuk anggaran beli dan rawat senjata dalam MEF II (2015-2019) akan menyentuh angka  US$ 20 milyar, naik US$ 5 milyar dari MEF I yang berjumlah US $15 milyar. Prediksi ini bukan sebuah impian atau angan-angan namun sangat realistis untuk dicapai.  Angka 20 milyar dollar itu tentu bisa membelanjakan berbagai jenis alutsista termasuk bayar multi years alutsista yang sudah dipesan duluan.

Maka soal ujian MEF jilid dua nanti kira-kira bocoran soalnya begini.  Apakah RI-1 nanti figur yang peduli melanjutkan MEF-1. Kalau ya apakah anggaran alutsista bisa dinaikkan minimal US$ 20 milyar.  Kalau ya apakah yang akan dibeli untuk duit sebanyak itu. Sampai disini kemudian bumbu masak bernama “selera” mulai dimunculkan. Bumbu masak selera itu ada gerbang Kemhan.  Maka jauh-jauh hari kita mengingatkan selera user alias pengguna mesti menjadi indikator utama rencana beli alutsista. Termasuk mengutamakan industri pertahanan dalam negeri yang mulai bersinar saat ini.

Isian alutsista di MEF II adalah menyediakan perabot untuk rumah Kogabwilhan.  Sinergi pertahanan model Kogabwilhan membutuhkan alutsista dalam kuantitas dan kualitas yang menyengat.  Jelaslah bahwa MEF II adalah faktor kunci untuk menuju perkuatan militer kita yang sebenarnya.  Sejalan dengan itu dinamika kawasan juga akan semakin memperlihatkan kekuatan blok pemegang hegemoni dengan penantang hegemoni.  Kita ada diantara keduanya dan kita tidak berpihak pada keduanya.  Padahal arena tarung memperebutkan piala hegemoni itu ada di sekitar halaman kita. Jadi kita harus perkuat pagar teritori kita dengan alutsista berkualitas.  MEF II adalah soalnya, yang menjawab adalah Next RI-One.
****
Jagvane / 28 April 2014