Selama 4 tahun ini ada tambahan 10 Kapal Perang Striking Force TNI AL :
Kapal Cepat Rudal 40 m buatan Palindo Batam :
KRI Clurit 641
KRI Kujang 642
KRI Beladau 643
KRI Alamang 644
(Keempat kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal C705 buatan Cina)
Kapal Cepat Rudal 60 m buatan PAL Surabaya :
KRI Sampari 628
KRI Tombak 629
KRI Halasan 630
(Ketiga kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal 802 buatan Cina)
Kapal Light Fregat buatan Inggris :
KRI Bung Tomo 357
KRI John Lie 358
KRI Usman Harun 359
***Jagvane 31 Mei 2014
Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Saturday, May 31, 2014
Sunday, May 25, 2014
Garda Wibawa, Uji Nyali dan Uji Tempur
Sepanjang pekan lalu dan pekan awal bulan depan ada dua
mata ujian yang telah dan akan dilakoni TNI kita. Yang pertama adalah mata
pelajaran uji nyali di Tanjung Datuk Kalbar.
Dengan mengerahkan sejumlah KRI, sejumlah jet tempur Hawk dan pesawat
UAV berikut pasukan batalyon 641 Raider TNI AD maka pelajaran uji nyali di
Tanjung Datuk lulus dengan mundurnya kapal perang Malaysia. Meski begitu sejumlah KRI tetap bersiaga
disana untuk memastikan “jalannya” kewibawaan teritori NKRI, garda wibawa.
Pada saat yang sama sebenarnya di perairan Ambalat saat
ini sedang berlangsung operasi militer gabungan TNI “Garda Wibawa” yang
melibatkan puluhan KRI dan sejumlah jet tempur dengan dukungan pasukan Kodam
Mulawarman dan Kodam Wirabuana. Operasi militer ini untuk menguji koneksitas
dan integrasi sistem pertempuran antar matra TNI. Ambalat yang dijadikan medan uji simulasi
sistem pertempuran, ternyata Tanjung Datuk menjadi ujian sesungguhnya.
![]() |
| Tank amfibi BMP3F sedang melakukan serbuan pantai |
Sekedar membandingkan bedanya perairan Ambalat dengan
Tanjung Datuk adalah, kalau di Ambalat kita yang bangun mercu suar di Karang
Unarang lalu ada gangguan dari kapal perang Malaysia, tetapi pembangunan tetap
jalan terus sampai selesai. Di perairan Tanjung Datuk pihak Malaysia yang
berinsiatif membangun mercu suar di wilayah “abu-abu” itu tetapi dengan
ketegasan hulubalang Republik, pembangunan mercu suar itu akhirnya dihentikan.
Pelajaran dari kedua wilayah ini adalah jangan sekali-kali kita lengah karena
sekali lagi terbukti perilaku jiran sebelah itu memang selalu ingin mencari
kelengahan kita.
Pekan depan tepatnya sepanjang minggu pertama bulan Juni 2014
akan ada pergerakan 16.000 tentara khususnya di pulau Jawa. Pergerakan militer itu dalam rangka menguji
mata pelajaran militer yang lain yaitu uji tempur seluruh matra TNI bersama
senjata-senjata strategis yang dimilikinya.
Setidaknya ada 40 an jet tempur berbagai jenis yang terdiri 8-10 Sukhoi,
6-8 F16, 12 T50, 2 F5E, 3 Super Tucano dan 10-12 Hawk akan bersileweran di
langit Jawa untuk memerankan uji tempur pre emptive strike, menghancurkan musuh
sebelum memasuki wilayah teritori Indonesia.
Musuh anggapan (musang) yang dijadikan target ada di perairan selatan
Jawa yang bermaksud menyerang jantung Indonesia dari “pangkalan militer” dekat
Bengkulu.
Maka segala cara militer dilakukan untuk mengobrak abrik
pangkalan militer musang berkekuatan 1 brigade itu. Mulai dari penembakan peluru kendali udara ke
permukaan dari Sukhoi dan F16, penembakan peluru kendali Exocet MM40 Blok 3
dari KRI Sigma untuk menghancurkan kapal lawan.
Kalau kita melihat serial latihan gabungan yang dilakukan selama 3 tahun
terakhir maka uji tembak senjata strategis yang dimiliki TNI AL sudah dilakukan
mulai dari rudal C705, rudal C802, rudal Yakhont, Torpedo dan terakhir ini Exocet
seri terbaru. Jet tempur Sukhoi juga
akan melakukan pertempuran udara dengan jet tempur musang lalu menembakkan
rudal udara ke permukaan, Vympel KH29.
![]() |
| Rudal Yakhont ditembakkan dari KRI Oswald Siahaan |
Puncak dari semua uji tempur dan uji tembak itu akan
berakhir di pantai Asembagus Situbondo dengan serangan pantai ribuan pasukan
Marinir dan akan disaksikan oleh Presiden SBY.
Serbuan pantai ini akan dikawal sedikitnya 30 KRI yang sebagian akan
memuntahkan ratusan isi perutnya berupa tank amfibi BMP3F, PT76, BTR50, RM
Grad, LVT7, Artileri, Roket, Rudal Qw3 dan senjata berat lainnya. TNI AD
menyertakan ribuan prajuritnya bersama alutsista yang dimilikinya seperti tank
Scorpion, Stormer, AMX13, artileri KH179, KH178, panser Anoa, panser Tarantula,
heli tempur Mi35, Mi17, Bell412Ep dan lain-lain.
Meski uji tempur TNI memberikan kegembiraan gahar yang luar
biasa karena kita bisa melihat perkembangan modernisasi TNI selama 5 tahun
terakhir ini namun nilai gentar uji nyali di Tanjung Datuk lebih memberikan
kebanggaan yang membuncah. Karena peristiwa unjuk kerja militer itu nyata,
bukan simulasi. Gerakan kapal perang RI
yang dipimpin oleh KRI Sutedi Senaputra yang baru diperbaharui power dan
persenjataannya bersama manuver Hawk Pontianak dan UAV memberikan efek ciutnya
nyali pihak seberang. Sayangnya banyak
media yang tidak mengekspos peristiwa ini karena sibuk dengan berita pesta
pilpres. Bandingkan dengan berita
Ambalat tempo hari.
Sementara itu terkait dengan uji tempur Latgab tahun ini
perlu juga dicatat, bahwa belum pernah ada dalam catatan sejarah Latgab selama
ini, pelaksanaan Latgab dilakukan dengan frekuensi sesering 4 tahun belakangan
ini. Tahun 2013 ada Latgab besar dengan
3 Hotspot, Sangatta, Flores dan Situbondo.
Lalu tahun ini dilakukan Latgab lagi dengan formula yang berbeda dengan
Latgab sebelumnya. Latgab tahun ini
tidak lagi berpola defensif tetapi mengerahkan semua kekuatan yang ada untuk
menyerang pangkalan militer negara Musang.
![]() |
| Artileri KH179 ikut meramaikan ledakan amunisi Latgab 2014 |
Latgab tahun ini mensinergikan kekuatan 3 matra dalam
satu komando tempur gabungan dengan kurikulum baru : gebuk sebelum masuk (pre
emptive strike). Sepertinya ini menguji dulu komando militer gabungan terpadu
sebelum nantinya model pertahanan Kogabwilhan diresmikan Presiden SBY. Sejak tahun 2008 sampai 2014 tercatat ada 4
kali TNI melakukan Latgab berskala besar.
Untuk ukuran Asia Tenggara belum ada negara yang menyaingi kemampuan
Indonesia dalam memobilisasi pasukan dan alutsista dalam jumlah besar yang
dilakukan oleh satu negara.
Kampanye militer Indonesia bukan untuk menakuti negara
tetangganya tetapi ingin mengingatkan negara jiran dan sekaligus rakyat
Indonesia sendiri. Untuk negara jiran
pesannya adalah kekuatan sejumlah ledakan demi ledakan yang dimuntahkan itu memberi
pesan kuat agar berlaku sopan dalam etika berjiran. Sedangkan untuk rakyat kita sendiri sebagai
pertanggungjawaban atas perolehan sejumlah alutsista baru dan
berteknologi. Sekalian mengingatkan pada
semua komponen bangsa bahwa pagar teritori yang dikawal itu sangat luas dan masih
memerlukan sejumlah perkuatan gahar untuk garda wibawa.
****
Jagvane / 25 Mei 2014
Friday, May 16, 2014
Menuju Latgab Pesta Purnama Purna
Bulan-bulan mendatang ini kita akan menyaksikan rangkaian
perjalanan riang gembira manakala hulubalang kita semakin gagah dengan baju
alutsista baru. Bersamaan dengan itu
serial latihan kesatuan, antar kesatuan sampai antar matra adalah rangkaian
aktivitas menuju purnama latgab. Puncak
purnama itu adalah melantunkan lagu perpisahan kepada sosok yang telah
mempurnamakan alutsista TNI. Sekalian mengantar purna jalan tugas panglima
tertinggi karena telah sampai di batas tugas.
Bulan Mei ini berbagai latihan parsial dilakukan matra
TNI. Marinir melakukan latihan serbuan
pantai di Situbondo. Berbagai batalyon
TNI AD melakukan uji tembak senjata berat. Sejumlah kapal perang melakukan
latihan tempur di laut Jawa. Disaat yang sama puluhan KRI telah pula bersiaga
di Ambalat dalam satuan tugas gabungan AL dan AU. Operasi militer gabungan ini adalah yang
pertama kali dilakukan dan diberi nama Garda Wibawa 14 dengan melibatkan jet
tempur, satuan radar, kapal perang, marinir, paskhas dan intelijen. Latihan ini
dibackup oleh satuan tempur TNI AD di Kodam Mulawarman Kaltim Kaltara dan Kodam
Wirabuana Sulawesi.
![]() |
| 1 Skuadron jet latih tempur T50, alutsista gres |
Sementara di perairan kawasan timur Indonesia telah pula
disiagakan setidaknya 14 KRI untuk tugas mengamankan laut Arafuru dan laut
Timor. Bersamaan dengan itu kesiagaan
unsur tempur laut juga hadir di perairan Natuna dan Selat Malaka. Sejalan dengan itu isian distribusi alutsista
mulai disebar misalnya untuk artileri kelas berat KH179 155mm buatan Korea
untuk Aceh, Kalbar dan Kaltim. Artileri
KH178 105mm disebar untuk yon Armed Kodam di Jawa. Lhok Seumawe, Dumai, Bontang
dan Jakarta juga sudah menerima sejumlah rudal SAM.
Juli ini pembentukan armada timur TNI AL yang berpusat di
Sorong segera direalisasikan, tentu bersamaan dengan pengembangan divisi ke 3
Marinir dengan kekuatan 15.000 marinir. Seiring
dengan itu Divisi 3 Kostrad segera membangun markas di Semarang bersinergi
dengan Korps Penerbad yang memiliki berbagai jenis helikopter tempur dan
angkut. Divisi 3 Kostrad merupakan pengembangan dari dua divisi sebelumnya. Semua pengembangan kekuatan itu pada akhirnya
nanti akan menjadi pilar utama pembentukan Kogabwilhan yang direncanakan tahun
ini.
Berbagai alutsista juga menunggu ketibaan, diantaranya 3
KRI Bung Tomo Class, 3 KCR 60 m PAL, 3 LST, 2 BCM, 50 MBT Leopard, 40 Marder, 38
Caesar Nexter, 36 MLRS Astross II, 24 F16 blok 52, 12 Super Tucano, 4 UAV
Heron, 4 radar, sejumlah peluru kendali berbagai jenis, mulai dari rudal anti
tank, rudal SAM, rudal anti kapal sampai rudal udara ke permukaan. Pesawat angkut berat Hercules juga akan
bertambah 9 unit termasuk dari jenis CN295 sebanyak 16 unit. Setidaknya itu list yang sudah dipublikasi
jauh-jauh hari, tentu ada juga list belanja yang tidak dipublikasi, masak sih
semua harus diumumkan.
![]() |
| Artileri KH179 155mm dibagi untuk 3 batalyon |
Latgab purnama akan menampilkan serial latihan dengan
sejumlah alutsista baru. Termasuk penembakan rudal udara ke permukaan dari jet
tempur Sukhoi. Penembakan rudal anti kapal Exocet MM40 blok 3 dari KRI Sigma yang
selama ini tidak pernah dipublikasikan. Ini merupakan kejutan tersendiri
disamping gempuran rudal Sukhoi ke salah satu kapal permukaan milik TNI AL yang
sudah tidak dipakai. Puncak dari semua kegiatan itu adalah memberikan nilai purnama
dan purna tugas pada Panglima Tertinggi yang akan digelar dalam sebuah pesta
hari jadi 5 Oktober 2014 di Naval Base Surabaya.
Selama lima tahun ini kekuatan alutsista TNI berkembang
secara signifikan dan itu tak lepas dari pola strategi dan keputusan bagus dari
RI-1. Kekuatan militer Indonesia
mengikuti perkembangan dan pertumbuhan ekonomi negara ini yang selama 10 tahun
terakhir ini menunjukkan trend positif sampai akhirnya RI masuk urutan 10 besar
ekonomi dunia yang dikenal dengan PDB (Product Domestic Bruto dan PPP (Purchase
Power Parity). Logikanya dengan semakin
bagus kondisi ekonomi kita maka perkuatan militer dan alutsista TNI semakin
membungakan dan membanggakan hati. Dan
itu layak untuk sebuah negara kepulauan terbesar dan penduduk no 4 terbesar di
dunia.
Latgab 2014 adalah kelayakan pertanggungjawaban kepada
rakyat bangsa bahwa tentara yang telah dibelikan alutsista modern harus mampu
menunjukkan kemampuannya dan senantiasa bersiap siaga dalam segala cuaca untuk menjaga
dan mewibawakan teritori NKRI.
Keistimewaan Latgab 2014 adalah kehadiran berbagai alat tempur mutakhir
dan sekaligus mengiringi langkah akhir dari seorang Presiden yang telah
memberikan nilai luar biasa pada perkuatan militer RI.
Maka pesta 5 Oktober 2014 adalah pernyataan kepurnamaan
tentara yang selama 5 tahun ini diterangi dengan rembulan alutsista anyar menuju
purnama. Sosok yang telah mempurnamakan
TNI itu telah pula mempurnakan tugas pekerjaannya. Di mata TNI tentu nilai layak yang pantas disandangkan
panglima tertinggi itu adalah cum laude.
Ini adalah purnama pertama yang membanggakan. Tentu kita masih ingin menyaksikan
purnama-purnama yang lain untuk membaguskan tentara kita, untuk
menggagahgaharkan tentara kita. SBY
telah meletakkan fondasi modernisasi militer kita. Kita berharap presiden selanjutnya dapat
meneruskannya dengan langkah tegap mengembangkuatkan tentara berikut
kesejahteraannya.
****
Jagvane / 16 Mei 2014
Thursday, May 8, 2014
Menghadang Cina dengan Barikade Bulan Sabit
Pertarungan gengsi hegemoni Asia Pasifik sudah memasuki
babak penting terkait dengan tingkah Cina yang terus menerus menekan secara
militer beberapa negara yang saling klaim teritori kepemilikan. AS yang menjadi sekutu tradisional Jepang dan
Filipina sudah memperbaharui aliansi strategis mereka. Dengan Filipina misalnya sudah disepakati
perjanjian pertahanan bersama yang dikenal dengan The
Enhanced Defense Cooperation Agreement, dengan membuka kembali pangkalan militer Clark dan Subic untuk lalulintas
militer AS.
Ambisi Cina dengan mengedepankan kualitas otot militer daripada
otak diplomasi mengharuskan negara-negara disekitarnya pasang kuda-kuda sekalian
mengadu kepada adidaya pemilik hegemoni tak tertandingi, AS. Tercatat Filipina, Taiwan, Jepang dan Korea
Selatan kini berada dalam payung perlindungan AS. Sementara Vietnam yang benci banget sama Cina merapat
ke Rusia dengan membeli sejumlah persenjataan bernilai gahar dari Rusia. Beberapa penasehat militer Papa Bear diyakini
sudah berada di Vietnam.
![]() |
| Klaim Teritori Laut Cina Selatan |
Bisa digambarkan saat ini beberapa pangkalan militer telah
membentuk barikade bulan sabit sepanjang Asia Pasifik. Mulai dari Cocos, Christmas, Darwin,
Filipina, Taiwan, Jepang, Korea. Barikade
bulan sabit ini untuk mengurung dan mengepung kekuatan militer Cina yang sudah
memiliki kemampuan serbu lintas negara. Semua
barikade yang digelar itu menempatkan AS sebagai pemain utama dengan menyebar
marinir dan sejumlah kapal perang, kapal selam, kapal induk dan jet tempur di
wilayah bulan sabit.
Barikade bulan sabit itu masih diperkuat dengan kekuatan
swalayan Vietnam yang terus memperkuat militernya dan Malaysia yang belakangan
cenderung low profile seakan tak ikut meramaikan klaim teritori Laut Cina
selatan. Mengapa tiba-tiba Malaysia
kurang bergairah dalam memperjuangkan klaim wilayah di LCS boleh jadi karena
keletihan mengurus Sabah yang diganggu militan Sulu atau fokus mencari Mh370
yang sebagian penumpangnya WN Cina. Bisa jadi karena masih “terkesima” dan
kaget dengan kedatangan armada kapal perang dan kapal selam Cina di gugusan pulau James Shoal miliknya, 80
km dari pantai Sarawak akhir bulan Januari yang lalu.
Indonesia yang tak terkait dengan konflik teritori LCS bukan
berarti tak memperkuat kewaspadaan. Dibukanya
front timur LCS dengan kehadiran militer AS untuk menjaga Filipina tentu
sedikit melegakan. Karena Cina kini mendapat lawan tangguh dan sendirian menghadapi
berbagai front gabungan. Jika harus
terjadi perang berskala besar maka front timur LCS akan menjadi medan tempur paling
bergengsi head to head antara pemilik hegemoni AS dan penantangnya Cina.
![]() |
| Berundinglah, tidak harus dengan dentuman artileri |
Negeri Naga ini dikenal dengan cara berdiplomasi yang
kaku. Meski berhasil dalam membangun kekuatan ekonominya dan diprediksi akan
menyalip AS untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia, namun gaya gaul
diplomatnya perlu dipercantik agar tidak terkesan dimusuhi semua orang.
Perkuatan militernya menjadi ancaman bagi kawasan di sekitarnya termasuk
Indonesia yang harus melipatgandakan kekuatan alutsistanya. Sah-sah saja setiap
negara melipatgandakan kekuatan militernya tapi jika disertai ancaman ekspansi
teritori tentu menciptakan kebencian regional.
Indonesia sedang memperkuat pagar militernya di Natuna,
garis depan yang didepannya ada hiruk pikuk militer. Penempatan kapal-kapal perang dan pesawat
tempur merupakan isian mutlak yang harus ada.
Tetapi lebih penting dari itu inisiasi membuka dialog untuk perundingan
diplomatik diniscayakan menjadi jalan cerdas yang diinginkan banyak negara. Indonesia bisa melakukan itu karena posisi
netralnya. Tetapi sejalan dengan itu
tentu ada strategi lain yang juga harus dijalankan Indonesia jika kondisi cuaca
ekstrim melanda kawasan LCS.
Indonesia harus
memilih dan bersiap untuk bergabung dengan blok bulan sabit agar semuanya
menjadi jelas. Bisa saja dengan bergabungnya RI ke blok penghadang itu
menjadikan Cina berpikir ulang. Atau “menggertak”
Cina agar mau berunding soal LCS disertai ancaman jika tak mau maka RI akan
bergabung ke front bulan sabit. Dengan
bergabungnya Indonesia ke blok bulan sabit demi solidaritas ASEAN praktis akan
mengucilkan Cina dari tata pergaulan regional.
Thailand jelas pro AS, demikian juga Singapura. Boleh jadi ini menjadi senjata ampuh untuk
mengurangi libido ekspansi teritori Cina yang cenderung egois dan mau menang
sendiri.
Lebih terhormat jika pengelolaan kawasan konflik di LCS
yang kaya sumber daya mineral itu dilakukan dengan kerjasama antar negara mengolah
dan memanfaatkan sumber daya mineral, bagi hasil bersama untuk kesejahteraan
bersama. Ongkos pertempuran untuk perebutan
sumber daya mineral itu jauh lebih mahal dan akan merusak multiflier effect
ekonomi kesejahteraan yang sudah tertata selama ini. Takdir sejarah akan
mengatakan Cina tak akan terbendung lagi menjadi kekuatan ekonomi nomor satu
dunia. Tetapi jangan karena itu lalu seenaknya
menjebol bendungan tata krama dan etika perilaku, lalu gasak sana gasak
sini. Dunia akan melawan.
****
Jagarin Pane / 08 Mei 2014
Monday, April 28, 2014
Ujian MEF II
Kesinambungan cara pandang berpertahanan untuk lima tahun
ke depan akan segera memasuki lintas jembatan suksesi figur orang nomor satu
RI. Yang jelas figur yang akan mengisi
orang nomor satu itu tidak lagi Sby, sosok yang telah memberikan segelas anggur
merah untuk perkuatan militer RI. Figur
yang akan mengisi lembaran cerita berbangsa dan bernegara lima tahun ke depan
merupakan kepala sekolah yang akan menentukan kebijakan berpemerintahan yang
salah satunya adalah kebijakan berpertahanan.
Dengan kata lain kepala sekolah yang baru nanti akan menentukan apakah
mata pelajaran MEF akan dilanjutkan, dilanjutkan dengan beberapa perubahan atau
akan diganti dengan mata pelajaran lain, bisa saja kan.
Meski sudah ada kurikulum MEF (minimum essential force)
sampai jilid III tetap saja tongkat komando pimpinan tertinggi menjadi patokan
melangkah. Gaya kepemimpinan akan
mempengaruhi apakah harus tetap langkah tegap atau langkah biasa atau malah
langkah santai aja. Catatan yang bisa
kita sampaikan adalah kebiasaan berperencanaan kita selama ini kan tergantung
selera pemimpinnya. Adanya pergantian kepemimpinan sangat memungkinkan terjadinya pergantian selera dan cara pandang.
Contoh sederhana, berapa tahun harus sia-sia waktu untuk
menentukan penambahan armada kapal selam.
Sejak tahun 2003 sudah mulai melakukan perencanaan untuk mengganti atau
menambah kapal selam Cakra Class yang sudah lama malang melintang. Tetapi baru
8 tahun kemudian menjadi jelas merek apa yang akhirnya akan dibeli. Dan selama kurun waktu itu telah terjadi
pergantian pimpinan TNI dan TNI AL. Bandingkan
dengan Vietnam, hanya butuh satu tahun perencanaan, lalu proses pengadaan, tiga
tahun kemudian satu persatu kapal selam Kilo yang dipesannya datang. Setelah itu baru kita kaget.
![]() |
| Presiden Sby, peduli dengan perkuatan TNI |
Jangan dikira tidak ada “blusukan” atau lobi-lobi untuk
menentukan siapa kelak yang akan memimpin Kementerian Pertahanan meski
Presidennya pun belum tahu siapa. Kementerian
Pertahanan selama lima tahun ini kan sudah menjadi kementerian gadis manis
dengan rambut sebahu yang banyak dilirik dan dicolek produsen alutsista
internasional. Kementerian sekarung gula
ini tentu menarik minat rombongan semut dunia untuk ikut mencicipi manisnya
anggaran alutsista RI.
Dengan berkaca pada kepadatan anggaran beli senjata
selama lima tahun ini tentu perkiraan produsen alutsista dan makelarnya bahwa untuk
MEF II akan lebih banyak lagi dana dikucurkan. Semua keputusan itu ada di
tangan kepemimpinan RI-1 yang baru bersama group kabinet pilihannya. Salah satu pilihan figur paling berbinar dan
bercahaya adalah Kementerian Pertahanan.
Jika presidennya si A maka ada kemungkinan Menhannya si B atau C. Jika
presidennya si X maka kira-kira Menhannya si Y dan Z. Kalkulasi jika, seandainya, misalnya,
andaikata pun makin menarik dicermati.
Tidaklah penting bagi kita untuk menentukan figur
Kemhan-1 tetapi lebih penting dari itu adalah menjaga kesinambungan program MEF. Jadi sebenarnya ujian MEF terletak pada
kelanjutan program perkuatan militer RI.
Jika MEF satu bisa mencapai 36% dari target MEF, alangkah bagusnya jika
sisa target itu bisa diselesaikan di MEF II.
Meski begitu jika ternyata style pemerintahan besok menginginkan sampai
MEF jilid III target itu diselesaikan, juga tak mengapa. Yang penting tetap bisa berjalan sesuai
rencana.
Sekedar gambaran PDB Indonesia tahun 2013 berdasarkan
data BPS berjumlah 9.084 trilyun rupiah meningkat dan searah dengan pertumbuhan
ekonomi sebesar 5,78%. Jika anggaran
pertahanan tetap, seirama dengan kenaikan PDB maka anggaran pertahanan ikut
naik 5,78%. Selama ini anggaran
pertahanan kita ada di kisaran 0,8 – 0,9 % dari PDB padahal Singapura saja sudah
membagi anggaran pertahanannya sampai 4% dari PDB. Maka jika anggaran pertahanan kita bisa
dinaikkan sampai 2% saja maka perkuatan militer RI akan semakin membahana.
![]() |
| 2 Fregat A Yani Class pengawal samudera RI |
Itu sebabnya banyak prediksi menyebut khusus untuk
anggaran beli dan rawat senjata dalam MEF II (2015-2019) akan menyentuh
angka US$ 20 milyar, naik US$ 5 milyar
dari MEF I yang berjumlah US $15 milyar. Prediksi ini bukan sebuah impian atau
angan-angan namun sangat realistis untuk dicapai. Angka 20 milyar dollar itu tentu bisa
membelanjakan berbagai jenis alutsista termasuk bayar multi years alutsista
yang sudah dipesan duluan.
Maka soal ujian MEF jilid dua nanti kira-kira bocoran
soalnya begini. Apakah RI-1 nanti figur yang
peduli melanjutkan MEF-1. Kalau ya apakah anggaran alutsista bisa dinaikkan
minimal US$ 20 milyar. Kalau ya apakah
yang akan dibeli untuk duit sebanyak itu. Sampai disini kemudian bumbu masak
bernama “selera” mulai dimunculkan. Bumbu masak selera itu ada gerbang Kemhan. Maka jauh-jauh hari kita mengingatkan selera
user alias pengguna mesti menjadi indikator utama rencana beli alutsista. Termasuk
mengutamakan industri pertahanan dalam negeri yang mulai bersinar saat ini.
Isian alutsista di MEF II adalah menyediakan perabot
untuk rumah Kogabwilhan. Sinergi
pertahanan model Kogabwilhan membutuhkan alutsista dalam kuantitas dan kualitas
yang menyengat. Jelaslah bahwa MEF II
adalah faktor kunci untuk menuju perkuatan militer kita yang sebenarnya. Sejalan dengan itu dinamika kawasan juga akan
semakin memperlihatkan kekuatan blok pemegang hegemoni dengan penantang
hegemoni. Kita ada diantara keduanya dan
kita tidak berpihak pada keduanya. Padahal
arena tarung memperebutkan piala hegemoni itu ada di sekitar halaman kita. Jadi
kita harus perkuat pagar teritori kita dengan alutsista berkualitas. MEF II adalah soalnya, yang menjawab adalah Next
RI-One.
****
Jagvane / 28 April 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)








