Monday, March 24, 2014

Tabah Sampai Akhir



Adakah yang salah dengan semboyan kesatuan Hiu Indonesia ini. Jawabnya tentu tidak.  Bahkan jika kita melihat perjalanan pasukan dan alutsista kapal selam kita itu sepanjang setengah abad ini maka sebutan Tabah Sampai Akhir (Wira Ananta Rudira) itu memang layak disandang.  Karena sepanjang setengah abad itu, sejak tahun 70 an hanya 2 kapal selam yang menjaga laut luas republik ini dengan satu pergantian generasi.

Serah terima jabatan pergantian generasi kapal selam itu dilakukan tahun 80 an.  KRI Bramastra dan KRI Pasopati buatan Rusia tak mampu lagi meneruskan langkahnya lalu diganti dengan kapal selam dengan teknologi bagus pada dekade itu yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala buatan Jerman.  Khusus untuk KRI Pasopati agar tidak terkubur bersama jaman maka jasadnya diabadikan sebagai monumen kapal selam di Surabaya.

Hampir 40 tahun perjalanan Cakra Class malang melintang.  Selama kurun itu tak pernah ada pertambahan kekuatan.  Dan  selama itu pula tidak pernah ada keluhan dari awak Hiu Kencana dalam menjalankan tugas mulianya mengawal tanah air tercinta.  Karena dalam menjalankan tugas semboyan itu melekat di hati mereka, tabah sampai akhir.

Perairan luas yang dimiliki negara ini sangat layak jika dikawal dengan armada kapal selam minimal 12 unit.  Statemen ini sudah dihapal luar kepala oleh siapapun. Tetapi meski sudah dihapal luar kepala tetap saja perolehan kuantitas kapal selam tidak pernah beranjak dari angka dua.  Kok jadi tertular program Keluarga Berencana, 2 anak cukup.

Dalam sejarah pertempuran laut dan era teknologi sekarang ini kekuatan armada bawah air merupakan penggentar utama karena kekuatan ini merupakan pemukul strategis yang sangat mematikan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sangat pantas punya kekuatan armada permukaan laut dan bawah laut.  Oleh karena itu kepemilikan hanya 2 kapal selam merupakan ketidakpantasan yang tidak perlu dipelihara.

Ada berita bagus, tanggal 6 Desember 2013.  Lewat pengumuman lugas, Menhan di markas Kemhan bersama KSAL menyatakan dengan jelas bahwa RI akan membangun armada kapal selam secara besar-besaran dengan kapal selam buatan Rusia.  Tetapi tiga bulan kemudian KSAL mengumumkan dengan jelas pula bahwa TNI AL tidak jadi membeli 2 kapal selam Kilo bekas dari Rusia.  Semakin jelas makna tabah sampai akhir itu, tak tahu akhirnya sampai dimana.

Memang RI dan Korsel saat ini sedang membangun kapal selam Changbogo sebanyak 3 unit dengan 1 unit terakhir akan dibuat di Indonesia.  Inilah harapan terakhir itu, terutama 1 unit yang terakhir itu apakah akan menjadi titik lompat atau titik umpat, waktu yang akan menjawabnya.  Bukannya kita tidak optimis dengan program pengadaan Changbogo  tetapi “kejutan demi kejutan” dalam bingkai perjalanan perkuatan kapal selam selama ini justru yang selalu membuat kita terkejut, kaget dan kecewa.

Kita telusuri perjalanan ke kalender enam tahun lalu dari sekarang.  Rusia membuka pintu untuk perolehan dua kapal selam Kilo lewat pinjaman US$ 1 milyar.  Sebanyak US $ 700 juta untuk 2 kilo. Kemudian sudah dirancang ini rancang itu, kirim ini kirim itu, proses ini proses itu, meeting ini meeting itu, semuanya memakan waktu lima tahun.  Dan selama waktu itu tentu ganti komandan segala strata pasti terjadi.  Dan yang pasti terjadi atau produk yang kemudian keluar ternyata bernama Changbogo buatan Korsel.  Maka duit US $ 700 juta itu tidak jadi dimanfaatkan alias dicuekin.

Dalam perjalanan “kelok sembilan” itu itu tetangga sebelah rumah sudah mendapatkan alutsista kapal selam yang sangar. Vietnam sudah mendapat 2 kapal selam Kilo, Malaysia dengan 2 Scorpene, Singapura memperoleh 5 kapal selam dan mau nambah lagi.  Bukan hanya karena tetangga sudah dapat alutsista bawah air, lebih penting dari itu adalah situasi kawasan khususnya Laut Cina Selatan yang mengharuskan kita untuk tidak plintat plintut dalam upaya meperkuat satuan kapal selam.

Kalau pun dalam empat tahun ke depan kita sudah mulai mendapat 3 kapal selam Changbogo, jangan dilupakan bahwa 2 kapal selam kelas Cakra sudah sepuh.  Artinya sampai tahun 2020 kuantitas kapal selam kita tidak akan lebih dari 3 unit saja yang beroperasi.  Makanya menjaga interval waktu 6-8 tahun itu kita perlu perolehan kapal selam tambahan.  Itulah kerangka berpikirnya.

Oleh sebab itu ketika ada kabar menggelegar tentang pembangunan armada kapal selam Desember lalu, sambutan luar biasa diperlihatkan anak negeri pecinta hulubalang sambil ikut membusungkan dada membanggakan dan membungakan harapan.  Dan ternyata tiga bulan kemudian menjadi harapan palsu. Bayangkan saudaraku, harapan saja bisa dipalsukan, betapa ketabahan itu memang sampai akhir.

Kepemilikan armada kapal selam dengan jumlah yang memadai untuk negara kepulauan ini bukan untuk gagah-gagahan. Tetapi merupakan sebuah kewajiban bagi “pengurus republik” agar negara kepulauan ini layang pandang dan layak sandang dari sudut pandang militer. Mengapa tetangga selatan kita itu selalu petintang petinting, karena dalam sudut pandang mereka kita tidak dipandang meski pun hanya untuk menjaga kandang teritori.  Duh Gusti, memang benar kalimat itu, tabah sampai akhir.
****
Jagvane / 24 Maret 2014


Wednesday, February 26, 2014

Mengantisipasi Cuaca Ekstrim Konflik kawasan



Persamaan el nino dan el ce es, sama-sama bicara tentang kehangatan laut, sama-sama tentang perubahan iklim, sama-sama memerlukan perhatian.  Bedanya, el nino menyangkut perubahan iklim bumi yang kontras sedangkan el ce es berkaitan dengan perubahan iklim militer yang menghangatkan perairan Laut Cina Selatan (LCS).  Banyak negara meributkan cuaca ekstrim sampai-sampai banjir besar yang melanda Inggris baru-baru ini ikut menyalahkan Indonesia sebagai penyebabnya karena rusaknya hutan tropis. 

Sejalan dengan itu banyak negara juga sedang menyimak perkembangan iklim militer di LCS dan mengantisipasinya jika harus berhadapan dengan cuaca ekstrim militer di kawasan ini.  Di ruang ini banyak negara menantikan peran sentral Indonesia sebagai pemilik pagar teritori yang berbatasan dengan klaim tumpang tindih di LCS. Tentu banyak negara mengharapkan peran diplomatik Indonesia yang sampai saat ini berada di posisi berkawan dengan semua pesengketa LCS.  Indonesia berkawan baik negara ASEAN, dengan Cina, AS dan Rusia tetapi agak risih dengan tetangga selatan herdernya AS.
Jendral Moeldoko berkunjung ke Cina
Baru-baru ini rombongan Menhan berkunjung ke beberapa negara Eropa untuk memastikan dan menambah order alutsista, misalnya penambahan 7 pesawat angkut militer CN295 di Spanyol.  Order pertama kita pesan 9 unit lalu tambah lagi sehingga menjadi 16 unit. Sambil pesan juga melirik alutsista lain di markas Airbus Military di Sevilla Spanyol seperti jet tempur Eurofighter Typhoon dan pesawat angkut berat A400M.  Sementara di Belanda rombongan Menhan disambut hangat oleh rekannya Menhan Jeanine Hennis Plasschaert dan menandatangani kerjasama pertahanan.  Dalam kunjungan itu bisa saja 2 kapal perang Indonesia jenis perusak kawal rudal yang sedang dibuat di Belanda akan bertambah lagi dengan opsi sampai 10 unit termasuk tawaran alutsista untuk TNI AD.

Sementara itu Panglima TNI Jenderal Moeldoko awal pekan ini mengadakan kunjungan ke markas besar tentara Cina dan bertemu dengan orang nomor satu di PLA dan Menhan Cina. Tentu saja kunjungan petinggi militer RI membawa sejumlah agenda militer, kerjasama militer kedua negara dan belanja alutsista.  Yang menarik kunjungan ini dilakukan setelah 3 kapal perang Cina unjuk kekuatan di selatan Jawa di pagar halaman laut Christmas Australia. Tentu Cina bersedia menjelaskan meski tidak untuk konsumsi publik. Maka salah satu persepsinya bisa jadi begini: Gini lo sahabat, supaya Australia jangan over acting sama sampeyan.
Alutsista TD2000B buatan Cina di Batalyon Rudal Aceh
Pertengahan pekan ini Deputi Perdana Menteri Rusia Dmitry O Rogozin ke Indonesia untuk memimpin langsung Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-9 antara RI dan Rusia bidang kerjasama perdagangan, ekonomi dan teknik di Jakarta.  Bawaan yang tak kalah berat adalah melanjutkan tahapan order alutsista seperti kapal selam Kilo dan jet tempur Sukhoi SU35 BM.  Untuk kapal selam Kilo delegasi Indonesia sudah berkunjung ke sana untuk melihat barangnya dan oke.  Sementara Sukhoi SU35 BM sudah menuju titik terang. Definisinya jelas, Indonesia masih memerlukan tambahan minimal 1 skuadron jet tempur kelas berat dan 2 skuadron jet tempur kelas menengah untuk kekuatan udara Kogabwilhan yang akan dibentuk tahun ini.

Makna dari beberapa kunjungan yang dilakukan dalam waktu berdekatan itu tentu berkait dengan upaya Indonesia mengantisipasi cuaca ekstrim berkadar militer di sekitar halamannya.  Indonesia ingin kesetaraan dalam perolehan alutsista berteknologi dengan negara di sekitarnya.  Bahkan Presiden SBY pernah berucap agar militer RI harus lebih tangguh dari negara sekitar. Kita  harus bersiap dengan kondisi cuaca ekstrim yang diprediksi bisa terjadi dalam perjalanan lima tahun ke depan. Makanya agar tidak ikut terserang demam atau bahkan diserang oleh salah satu virus klaim mengklaim itu Indonesia harus memperbanyak pil alutsista berkualifikasi anti biotik, anti septik dan anti piretik dengan menguatkan isian daya tahan militernya terhadap semua kemungkinan terburuk itu.

Jangan menganggap enteng dengan perubahan iklim militer yang cenderung ekstrim ini. AS sudah menyatakan akan memindahkan dominasi kekuatan armadanya ke Asia Pasifik termasuk hot spot LCS.  Darwin, Christmas dan Cocos menjadi pangkalan militer sekutu sepupu AS–Australia mengantisipasi terbukanya front pertempuran LCS menghadapi Cina yang makin perkasa. Tentu dari selatan jalan menuju front itu akan melewati jantung Indonesia pulau Jawa. Siapkah pulau Jawa dengan perubahan ekstrim militer ini. Kita harus mempersiapkan sebagus dan secepatnya. Peta jalan Kogabwilhan yang mau diimplementasikan itu menempatkan pulau Jawa dan Bali dalam satu perlindungan khusus dengan payung skuadron tempur, armada laut dan divisi angkatan darat yang terintegrasi.
Barisan Tank BMP3F Rusia untuk Marinir Indonesia
Perlindungan militer terhadap jantung Indonesia memerlukan perhatian ekstra ketat karena kekuatan di selatan Jawa itu merupakan kolaborasi sekutu sepupu yang lakonnya tentu berdasarkan kepentingannya. Saat ini mereka menganggap kita sebagai teman bumper alias teman garis depan untuk berhadapan dengan Cina.  Tetapi posisi Indonesia yang netral boleh jadi menimbulkan kekecewaan sekutu sepupu itu suatu saat apalagi jika menyangkut strategi militer menjelang konflik terbuka LCS.  Indonesia berada dalam posisi sulit jika konflik LCS berubah menjadi perang terbuka karena posisi konflik dan jalur militer untuk mencapainya pasti akan mengacak-acak teritori RI. 

Jadi memang dalam lima tahun ke depan kita wajib melanjutkan pekerjaan untuk memperkuat persenjataan militer kita. Tentu bukan sekedar untuk persiapan menghadapi cuaca ekstrim tetapi juga sebagai kekuatan tawar dalam kecerdasan diplomatik RI. Siapa tahu kan dengan kecerdasan diplomatik RI  yang berbaju kekuatan militer setara konflik LCS bisa diselesaikan di meja perundingan. Itu juga bagian dari mengantisipasi cuaca ekstrim militer di kawasan ini.
****
Jagvane/ 26 Feb 2014

Monday, February 10, 2014

Singapura, Biarkan Dia Dengan Kegelisahannya



Akhir bulan Maret mendatang, jika tidak aral melintang Presiden SBY akan meresmikan batalyon Marinir 10 di Batam Riau.  Begitu penting kah sehingga peresmian sebuah satuan tempur berkualifikasi serbu harus diresmikan oleh orang nomor satu di negeri ini.  Lalu adakah kaitannya dengan kegalauan Singapura mempermasalahkan KRI Usman Harun dengan kehadiran satuan tempur “hantu laut” di depan rumahnya.

Penempatan satuan tempur secara permanen di batas terdepan negara yang langsung berhadapan dengan halaman tetangga memiliki arti penting dan strategis. Pembangunan batalyon Marinir 10 di pulau Setoko Batam adalah atas instruksi langsung panglima tertinggi SBY.  Sehingga suka atau tidak suka batalyon ini memiliki aura yang berbeda dengan satuan lain meski personil yang akan mengisi satuan ini diambil dari sejumlah batalyon Marinir di Jawa.  Inilah satu-satunya batalyon tempur Marinir yang berhadapan langsung dengan rumah sebelah.  Ke depan sangat dimungkinkan pengembangan satuan tempur ini menjadi setingkat Brigade.
Tank Amfibi BMP3F dalam latihan serbuan pantai
Bagi Singapura sangat dimungkinkan kehadiran batalyon serbu pantai ini menjadi beban mental.  Karena sejarah Singapura tentu mencatat kisah heroik 2 KKO (Korps Komando Operasi) Indonesia yang menjalankan tugas one way ticket di negeri itu pada masa konfrontasi tahun 60an. Boleh saja kita memahaminya seperti ini: Dengan 2 KKO saja mereka merasa tercabik apalagi dengan 1 batalyon penuh.  KKO yang sekarang bernama Marinir sangat luar biasa perkembangannya.

Indonesia saat ini memiliki dua divisi Marinir dan sedang membangun divisi ketiga di Sorong Papua berkekuatan 15 ribu pasukan berikut alutsistanya.  Persenjataan yang dimiliki pasukan elite angkatan laut saat ini terdiri dari 60 tank amfibi terbaru jenis BMP-3F, ratusan tank dan panser jenis lain seperti PT76, BTR50, BTR80, APC-10, MLRS RM Grad, Howitzer, Rudal QW3, Kapa dan lain-lain.  Belanja alutsista untuk Marinir jalan terus, terakhir dengan memesan 55 tank BTR-4 dari Ukraina.

Sebenarnya kalau Indonesia mau “ngeledek” negeri mungil yang menggemaskan itu itu banyak cara bisa dilakukan, ketika nama Usman Harun dipermasalahkan. Bisa saja nama batalyon 10 Marinir itu dinamai  Yon 10 Mar/Usman Harun atau pangkalan TNI AL di pulau Nipah ditulis besar-besar bernama Lanal Usman Harun.  Kalau mau lebih spektakuler lagi Bandara Hang Nadim Batam diganti namanya menjadi Bandara Usman Harun.

Tapi kita yakin persoalan pemberian nama KRI Usman Harun hanya merupakan rengekan anak kecil yang tak harus disikapi dengan panas hati.  Biar saja dia merengek dan ngambek sampai membatalkan undangan Singapore Air Show untuk petinggi Kemhan dan Panglima TNI yang sudah dia buat sendiri.  Yang rugi dia sendiri karena ajang pameran alutsista itu tentu terkait dengan bisnis senjata dan dunia tahu bahwa Indonesia adalah gadis manis yang sedang dikejar-kejar produsen senjata dunia.
Kapal perang Bremen Class, salah satu yg dilirik TNI AL
Biar saja dia misalnya tak ikut Komodo Naval Exercise di Natuna bulan depan, biarkan saja misalnya dia tak berminat lagi dengan serial latihan Indopura AU dan AL.  Biar saja, kita ikuti saja aliran emosinya tanpa harus menanggapi.  Ini salah satu cara mengajari dia dengan mengedepankan kecerdasan diplomatik berwajah bening. Kita juga mau lihat bagaimana nanti reaksinya ketika Presiden SBY hadir di Batam untuk meresmikan batalyon Marinir 10.  Logikanya karena ini peresmian satuan tempur elite di garis depan yang diresmikan RI-1 tentu akan banyak kapal perang dan jet tempur yang datang di Batam, apalagi ada even latgab Komodo bersama 17 negara lain.

Makanya hari-hari ke depan ini kita ikuti saja jalan cerita “sinetron” Usman Harun tanpa perlu mengepalkan tangan. Kita juga ingin tahu seberapa dalam nilai kekecewaannya terhadap nama Usman Harun itu.  Bisa saja dalam bingkai politik dalam negerinya sebagai pengalihan isu karena negeri itu baru saja dilanda rusuh ekspatriat yang kebetulan sama warna etnisnya dengan Menlu Shanmugam.  Bukankah efek dari rusuh itu membekas di kalangan etnis tertentu disana dan sebagai lem perekatnya dikeluarkanlah pernyataan galaunya sekaligus untuk mengukur kadar kebangsaaan warga Singapura.

Bisa juga karena negeri itu gelisah dengan perkembangan kekuatan ekonomi dan militer Indonesia.  Bagaimanapun negeri kepulauan besar di selatan dan timur negaranya dalam anggapannya punya peluang besar mematikan eksistensinya di masa depan.  Punya puluhan jet tempur canggih tapi ruang udara terbatas, punya 6 kapal selam tetapi perairannya secuil.  Komposisi penduduknya yang lima setengah juta itu 45 persen adalah pendatang.  Ruang pandangnya sangat sempit karena ketika hendak terbang begitu take off sudah harus ke luar negaranya.  Bandingkan dengan dua tetangganya Indonesia dan Malaysia yang menikmati sajian alam raya darat air dan udara yang luas melimpah.

Dalam pandangan kita itulah sejatinya kegelisahan eksistensi psikologis Singapura.  Sebuah negara makmur, sejahtera, semua ada apapun bisa, tapi miskin sumber daya alam dan terbatas ruang gerak dan geliat pernafasan perjalanan berbangsanya.  Maka bersyukurlah kita kepada Allah telah dikarunia tanah air yang luas, subur dan kaya meski penduduknya sebagian belum makmur sejahtera.  Maka bersyukurlah kita punya negara bernama Republik Indonesia yang kadar kebangsaannya membanggakan.  Maka bersyukurlah kita karena pengawal republik sedang digagahperkasakan karena itu bagian dari jawaban agar tidak ada lagi tetangga yang mencoba mendikte.  Maka bersyukurlah kita karena Singapura ngambek dengan nama Usman Harun karena setidaknya kita kembali membuka sejarah heoik keduanya yang membanggakan nilai-nilai kebangsaan kita.
****
Jagvane / 10 Feb 2014

Saturday, February 8, 2014

Blunder Diplomatik Singapura



Protes Singapura dengan penamaan KRI striking force Indonesia yang baru, KRI Usman Harun merupakan cermin keangkuhan dari negeri yang tak punya pahlawan dan taman makam pahlawan itu.  Ada beberapa hal yang ingin kita garis bawahi dalam penyampaian keberatan itu. Yang pertama pernyataan itu diumumkan lebih dulu ke media, setelah itu Menlu K Shanmugam baru berkunjung ke Jakarta.  Lebih jauh dari itu dampaknya membuka luka lama sejarah kedua bangsa.  Namun blunder itu justru mempopulerkan kisah heroik pasukan komando angkatan laut (KKO) Indonesia terutama di mata generasi mudanya.

Sekadar mengingatkan pada era Dwikora, Singapura itu belum lahir, artinya perselisihan tentang pembentukan negara Malaysia tidak ada kaitannya dengan “provinsi” Singapura waktu itu.  Sehingga sabotase yang dilakukan Usman dan Harun di Orchard tanggal 10 Maret 1965 harus dilihat sebagai bagian dari operasi ganyang Malaysia.  Dwikora belum selesai, Singapura melepaskan diri dari persekutuan Tanah Melayu tanggal 9 Agustus 1965.  Artinya dia sendiri menelikung nilai perjuangan persekutuan tersebut.

PM Lee menabur bunga di makam Usman Harun
Lembar sejarah berikutnya, konfrontasi berakhir kemudian ASEAN didirikan di Bangkok tanggal 8 Agustus 1967. Lima negara ASEAN sebagai pendirinya termasuk Singapura sesungguhnya ada dalam nawaitu dan tekad untuk tidak lagi bermusuhan, bersahabat dan bekerjasama.  Termasuk Filipina yang tak lagi meributkan Sabah.  Perjalanan kemudian membuktikan bahwa persahabatan Indonesia dan Malaysia semakin merapat sementara Singapura masih memendam benci.  Terbukti dengan eksekusi hukuman gantung kedua marinir Indonesia itu tanggal 17 Oktober 1968.

Namun meski sakit menyesak dada bagi sebagian besar rakyat bangsa ini pada waktu itu, Presiden Soeharto memperlihatkan sikap tenang untuk tetap melanjutkan niat baik ASEAN tadi. Setelah terjadi kerusuhan rasial di Semenanjung Malaysia tahun 1969, Malaysia merapat ke Indonesia. Bagi pemerintah Malaysia kerusuhan antar etnis ini adalah penelikungan kedua yang dilakukan etnis tertentu setelah Singapura melepaskan diri dari persekutuan.  Maka untuk tetap memegang kendali etnis, Malaysia dan Indonesia sepakat pada tahun 1971 melalui operasi rahasia “Soeharto-Tun Razak” memasukkan puluhan sampai ratusan ribu warga Indonesia ke Malaysia.  Inilah sejarah awal masuknya tenaga kerja Indonesia.  Dan ini juga yang mestinya harus dihormati oleh Malaysia sebagai perjuangan agar etnis tertentu di Malaysia tetap memegang kendali dominasi persentasi jumlah.

Kedekatan hubungan Indonesia-Malaysia membuat Lee Kuan Yew merasa terjepit dan sedikit paranoid.  Maka melalui upaya diplomasi yang optimal PM Lee “berhasil” mengunjungi Jakarta tahun 1973 itu pun dengan satu syarat yang diajukan Soeharto yaitu bersedia berziarah ke makam kedua pahlawan nasional itu, Usman dan Harun.  PM Lee bersedia menabur bunga kembang pahlawan.  Ini adalah kemenangan diplomatik Indonesia yang paling indah dan mengharukan sepanjang dekade 70an. Maka secara logika rasional dan emosional seharusnya tidak ada lagi ganjalan pola pikir dan sesak nafas emosi diri dalam hubungan kedua negara.

Embarkasi pasukan dan alutsista Marinir
Oleh sebab itu maka keberatan pemberian nama KRI Usman Harun merupakan blunder diplomatik bagi Singapura sekaligus memberikan ruang amunisi nasionalis patriotik bagi bangsa ini utamanya generasi mudanya.  Puluhan juta generasi muda Indonesia rela membuka kembali halaman sejarah kelam itu lewat berbagai media sosial dan media lain, dan “menikmati” kisah heroik Usman Harun.  Singapura sepertinya tak paham dengan sejarah masing-masing bangsa.  Dalam perang Iran-Irak tahun 80an ratusan ribu tentara mati.  Bagi Iran tentaranya itu syuhada, bagi Irak tentaranya itu juga syuhada.  Bagi Iran tentara Irak adalah penjahat perang demikian juga sebaliknya.  Singapura harus melihat diri sisi ini.  Tetapi lebih penting dari itu jangan selalu mendikte dan superior dalam hubungan bertetangga, biasa-biasa aja lah.  Indonesia itu sudah banyak memberikan manfaat eksistensi bagi tetangga sekitarnya utamanya Singapura. 

Dari semua dinamika yang terjadi belakangan ini, perlakuan tetangga-tetangga itu memang pada akhirnya harus dijawab dengan perkuatan militer sebagai basis kekuatan diplomasi selera tinggi. Perkuatan militer adalah jawaban tak tertulis yang akan menyadarkan para tetangga untuk bisa menghormati negara kepulauan terbesar di dunia ini.  Perkuatan militer Indonesia beriringan dengan kekuatan nyata nilai PDB (Produk Domestik Bruto) yang dimilikinya meski persentasenya masih nol koma sekian persen. Meski jumlahnya tetap konstan saja misalnya 0,8 % dari PDB, jika PDBnya naik terus maka otomatis belanja militernya juga naik kelas.  Artinya potensi kekuatan belanja militer Indonesia sesungguhnya lebih dahsyat dari Singapura yang PDBnya hanya sepertiga dari PDB Indonesia.

Singapura mestinya harus membaca prediksi dan perspektif ke depan dalam pola etika bertetangga.  Dan harus ngaca diri. Sekuat apapun milter Singapura bukanlah merupakan ancaman bagi Indonesia.  Penjelasannya mudah, itu negeri cuma segede Batam, hanya satu titik dalam konteks pertahanan.  Sedangkan Indonesia terdiri dari beribu-ribu titik.  Dalam strategi militer tentu pertahanan satu titik lebih mudah dihancurkan daripada yang punya beribu titik.  Tetapi jangan khawatir karena RI sungguh tak punya niat untuk itu dan justru Singapura harus berterimakasih karena Indonesia sudah menganggap negeri pulau kota itu sebagai daerah tujuan wisata belanja atau “provinsi darmawisata”.

Elok-eloklah kita berjiran, tak perlu merasa superior karena pola hubungan itu saat ini dan seterusnya sudah masuk dalam bingkai saling memberi dan menerima. Bolehlah ente bangga dengan keberhasilan ekonomi mencapai negara kesejahteraan, pusat keuangan no 4 di dunia, pusat wisata belanja dan berbagai penghargaan keberhasilan multi dimensi.  Tapi jangan karena predikat kehebatan itu ente lalu berupaya mendikte tetangganya.  Indonesia sudah memastikan dirinya ada di 15 besar ekonomi dunia dan akan terus berpacu menuju negara kesejahteraan yang kuat nilai-nilai kebangsaannya.  Sejalan dengan itu modernisasi militer RI juga tengah berlangsung termasuk membeli 3 kapal perang light fregat dari Inggris yang salah satunya diberi nama KRI Usman Harun.

Singapura harus mulai memahami mengapa semua komponen bangsa Indonesia mulai dari kalangan pemerintahan, parlemen, dan rakyat bangsa ini serentak menyuarakan ketidaksenangannya terhadap “intervensi”keangkuhan diplomatik negeri itu. Jalan-jalan ke masa depan akan memberikan nilai prediksi itu. Perkembangan ekonomi, kekuatan ekonomi, kekuatan militer, jumlah penduduk dan masa depan Indonesia sesungguhnya lebih terjamin dibanding eksistensi sebuah negara jasa yang mungil tapi arogan.  Berhati-hatilah dengan pertanda jaman, kebangkitan ekonomi dan militer Indonesia.
****
Jagvane / 8 Feb 2014