Sunday, January 26, 2014

Australia, Menepuk Air Di Dulang Tepercik Muka Sendiri



Tanpa banyak cakap, militer Indonesia mengerahkan berbagai kapal perang ke perairan halaman belakang rumahnya dimana di pagar halaman seberang itu ada Darwin, satu-satunya kota yang ada di Australia Utara, tak lebih besar dari kota Kupang di NTT.  Gerakan angkatan laut RI dengan menyebar kapal perang korvet, fregat, kapal cepat rudal dan kapal cepat torpedo dengan dukungan jet tempur Sukhoi dan 4 radar militer canggih yang baru dipasang menyadarkan Australia bahwa Indonesia sangat serius menyikapi sikap kepala batu pemerintahan Australia yang dipimpin si cowboy Tony Abbott.

Gaya keras kepala si Abbott ini sudah terlihat ketika masa kampanye dia tahun lalu untuk mengejar kursi Aussi One.  Dia bilang akan menempatkan sejumlah intelijen di Indonesia untuk memantau pergerakan manusia perahu, membeli perahu, membayar sejumlah sipil Indonesia untuk memberikan informasi tentang posisi manusia perahu yang hendak ke negeri selatan itu.  Ini saja sejatinya sudah menyinggung harkat dan martabat kita, emangnya negeri ini tak bertuan.  Pernyataannya itu meski untuk konsumsi kampanye pemilihan umum jelas meremehkan pemerintah Indonesia.  Dia menang dan jadi Perdana Menteri salah satunya karena pernyataannya itu.  Tapi sekarang dia terjebak dengan jaring yang dia tebar sendiri.  Celakanya sebagian besar rakyatnya pun berbalik menghujat dia.
Embarkasi pasukan, sudah terbiasa
Ketika urusan sadap menyadap terkuak, gaya arogansi Abbott dipertontonkan dengan tak rela minta maaf. Bandingkan dengan gaya Obama ketika urusan yang sama dengan Jerman, lebih low profile dan meminta maaf kepada Jerman.  Yang dipertontonkan Abbott bukan gaya negarawan santun melainkan gaya preman seperti garis dan raut wajahnya yang keras. Bandingkan dengan Kevin Rudd yang ramah dan santun sehingga mampu mengambil hati rakyat dan bangsa ini.  Sesungguhnya irama hubungan Indonesia dan Australia tergantung gaya kepemimpinan negeri kanguru itu.  Oleh karena itu situasi hubungan yang buruk saat ini ada di koridor kepemimpinan pemerintah Australia, bukan pada rakyat dan bangsa Australia yang saat ini justru mengecam hebat cara si Abbott menangani pola hubungan bertetangganya dengan Indonesia.

Australia harus menyadari bahwa militer Indonesia tidak seperti lima tahun lalu.  Ketika diadakan Sail Komodo beberapa bulan yang lalu di depan Darwin sesungguhnya telah “tersedia” sedikitnya 30 kapal perang Indonesia berbagai jenis di halaman belakang kita. Hanya saja kita ini kan menganut politik perkawanan yang santun, jadi tak perlu pamer kekuatan.  Berhitung tentang kekuatan militer khususnya angkatan laut, sebenarnya Indonesia mampu mengerahkan 50 kapal perang ke perairan NTT dalam waktu singkat.  Ini sudah biasa dilakukan dalam setiap latihan Armada Jaya atau Latgab TNI.  Padahal jumlah itu hampir sama dengan kekuatan angkatan laut Australia yang memiliki 54 kapal perang.  Indonesia sendiri saat ini memiliki 160 kapal perang dan akan terus bertambah.
Satuan Radar Buraen Kupang, mata dan telinga NKRI
Gerakan kapal perang Indonesia ke NTT kita sambut positif karena ini langkah awal untuk menyatakan sikap menjunjung harkat. Kita tidak ingin berselisih dan mengajak tarung dengan negara manapun termasuk Australia.  Namun pelecehan teritori perairan seperti yang diakui oleh Australia dan kemudian minta maaf tentu harus dijawab pula dengan langkah dan cara militer.  Menlu Marty tidak menggubris kata maaf dari Menlu Julie Bishop bahkan kembali menyudutkan Australia dengan menyatakan,” Coba kalau dari dulu sudah minta maaf, tidak akan seperti ini kan”.  Kekuatan militer Indonesia dalam bulan dan tahun-tahun mendatang akan mendapat sejumlah alutsista sangar, misalnya kapal selam Kilo, jet tempur Sukhoi SU35, rudal SAM strategis dan lain-lain. Dengan kekuatan menuju kesetaraan ini Australia seharusnya berhitung cermat karena kekuatan yang tak bakalan ditandingi Australia seumur hidup adalah jumlah penduduk Indonesia yang sepuluh kali lipat dan punya karakter militan nasionalis.

Kita ingin sampaikan pesan pada Tony Abbott: “Kultur timur itu Bott, atau kultur Asia sesungguhnya lebih menghargai nilai-nilai kesantunan dan etika dalam bertetangga.  Memang beda sama kultur sampeyan yang anglo saxon itu.  Lebih sering mendikte, merasa paling jagoan, merasa paling pintar dan tahu segalanya.  Kalau sampeyan tinggal di Eropa gak papa.  Tapi sampeyan ada di lokasi adat istiadat di mana kesantunan dan tatakrama lebih dikedepankan. Lihat saja rumah di ranah ASEAN, rumah-rumah didalamnya selalu mengedepankan musyawarah dan kearifan meski ada konflik diantara sesama rumah. Nek sampeyan bisa memahami itu, kita yakin semua persoalan pertetanggaan kita dapat diselesaikan dengan musyawarah”.

“Tapi kalau tetap keras kepala ya rasain sendiri. Kata peribahasa menepuk air didulang tepercik muka sendiri. Anda sudah dipermalukan dunia dan PBB karena menelantarkan dan menyiksa manusia perahu.  Di dalam negeri pun sami mawon, anda dicerca di parlemen dan rakyat sendiri.  Ada peribahasa Pak Abbott, Air beriak tanda tak dalam, kayak sampeyan itu yang selalu umbar pernyataan petintang petinting.  Air tenang menghanyutkan, itulah gaya kami untuk tak umbar kalimat kumat.  Bukankah laut selatan itu dalam Bott, mungkin saja di kedalaman itu si Kilo siluman sudah bermain mata dengan ratu pantai selatan.  Bukankah air tenang itu menghanyutkan”.

****
Jagvane / 26 Januari 2014


Saturday, January 18, 2014

Australia, Harga Sebuah Kata Maaf



Hubungan bilateral Indonesia- Australia yang merenggang selama tiga bulan terakhir ini semakin terasa panas dengan sikap arogansi negeri eropa yang terdampar di benua selatan itu.  Australia telah melanggar batas perairan Indonesia tanggal 6 Januari 2014 ketika mengusir manusia perahu yang hendak “berkunjung tetap” ke negeri kanguru itu.  Kapal angkatan laut mereka telah masuk sampai 7 mil dari batas garis pantai pulau Rote NTT ketika mendepak pencari suaka sekalian menghina TNI yang dikatakan tak sanggup menjaga wilayahnya sendiri.

Perlakuan Australia yang bergaya cowboy termasuk menyiksa manusia perahu yang memang sudah tersiksa dinegeri asalnya, dinilai sangat keterlaluan.  Dunia yang memberi penilaian itu. PBB bahkan sudah memperingatkan Australia akan konsekuensi hukum internasional atas perlakuan tidak manusiawi dan mengabaikan keselamatan pengungsi politik itu yang hendak mencari kehidupan baru di negeri selatan itu. Australia akhirnya dipermalukan sendiri oleh tindakan semena-mena aparat militernya yang justru menampar wajah diplomatiknya di dunia internasional.
Jangan dikira Indonesia tidak siap
Permintaan maaf tanpa syarat Australia ke Indonesia atas pelanggaran teritori perairan Indonesia tanggal 17 Januari 2014 sejatinya disebabkan oleh ketakutan Australia akan tuntutan hukum internasional yang diajukan Indonesia.  Australia jelas melanggar konvensi hukum laut internasional karena oleh sebuah sebab non navigasi seenaknya saja mengacak-acak teritori perairan Indonesia untuk mengembalikan manusia perahu yang datang dari wilayah Indonesia.  Belum lagi menyiksa beberapa pengungsi yang sudah tersiram gelombang laut dan terombang-ambing.  Jelas-jelas melanggar HAM.

TNI AL sudah mengirimkan sejumlah KRI ke wilayah depan Darwin dan melakukan patroli lebih ketat. Satu fregat telah disiagakan di Kupang.  Lantamal Kupang yang sudah diresmikan beberapa tahun yang lalu selayaknya tersedia minimal 3 Korvet dan 1 Fregat.  Hanya kapal-kapal yang berjenis kelamin seperti ini yang pantas mengawal laut dalam di selatan Indonesia.  Indonesia memiliki puluhan kapal perang striking force mulai dari Ahmad Yani Class, Diponegoro Class, Parchim Class, Fatahillah Class.

Seandainya Tony Abbott Nopember 2013 lalu bisa menurunkan tensi arogansinya dalam etika pergaulan dengan negara kultur timur seperti Indonesia dan minta maaf, rangkaian cerita kalangkabutnya dia menghadapi pengungsi perahu tidak sampai mempermalukan dirinya di mata Internasional.  Untuk urusan sadap menyadap dia gengsi untuk minta maaf padahal jelas nyata.  Tetapi ketika dia terjebak dalam permainan manuver yang sok pamer kekuatan militer lalu seenaknya melanggar wilayah negara lain, muncul ketakutan pada bayangan sendiri lalu minta maaf tanpa syarat kepada Indonesia. 
Coba kalau dulu minta maaf.....
Di satu sisi Australia sangat mahal untuk meminta maaf demi gengsi bertetangga tetapi ketika dunia internasional mulai menuding  dan mencela perilaku aparat militernya, buru-buru minta maaf. Ironinya lagi pada tanggal yang sama 17 Januari 2014 Australia juga membatalkan keikutsertaannya dalam latihan angkatan laut gabungan dengan 17 negara lain yang disebut Naval Exercise Komodo dimana Indonesia menjadi tuan rumah.  Latihan 18 negara itu mengambil area di perairan Natuna dan Laut Cina Selatan yang akan berlangsung Maret sd April tahun ini.

Pelajaran dari semua keangkuhan dan gaya ambigu Australia ini adalah dengan memperkuat terus menerus angkatan laut dan udara RI.  Kita bersetuju dengan adanya penambahan kapal selam Kilo dan pengadaan jet tempur Sukhoi SU35.  Untuk laut selatan memang diperlukan kehadiran KRI berkualifikasi korvet dan fregat untuk mengimbangi arogansi militer negeri bule itu.  Diluar pengadaan kapal PKR 10514 yang sedang dibuat di Belanda dan menunggu kehadiran 3 kapal perang “Bung Tomo Class” yang masih didandani di Inggris, kita masih perlu tambahan kapal fregat.  Untuk menjaga laut dalam dan gaya bertetangga negeri selatan atau jiran yang suka mengklaim kita perlu sedikitnya tambahan 6-8 fregat selain yang disebut diatas.

Kita memang harus berhitung cermat dengan Australia.  Kita tetap menjaga hubungan diplomatik yang saling menghargai.  Namun kalau tetangga tetap bergaya arogan, suka mendikte kita pun perlu tunjukkan nilai kita di depan dia.  Nilai itu adalah tetap menjaga sapa dan santun tapi juga acuh.  Ketika keacuhan itu baru berlangsung 3 bulan, ternyata kawan di sebelah selatan itu kalangkabut juga sebab teman pintu asianya tutup pintu dan hanya membuka jendela. 

Lalu yang jadi sasaran amuknya ya si pengungsi tadi, lalu masuk halaman rumah orang lain untuk memancing kemarahan. Tapi yang punya halaman tak terpancing karena ini bagian dari ritme kecerdasan diplomatik.  Akhirnya dunia yang mencibirnya, PBB mengancamnya, mukanya tertampar, sakitnya tak seberapa tapi malunya ini.  Itulah harga sebuah kata maaf yang tak terucap di awal kisah dan membawa negerinya menjadi terisolasi bersama pengungsi.  Dan kita pun tetap cuek bebek saja, bukankah begitu pak Marty ?
***
Jagvane / 18 Jan 2014

Tuesday, January 7, 2014

Matahari Alutsista 2014



Meski matahari Januari lebih sering diselimuti awan hujan dan jarang menampakkan diri namun matahari kecerahan mengisi banyak mata hati yang menggembirakan asa, sembari menyenandungkan hymne alutsista berirama mars.  Matahari 2014 adalah rekapitulasi nilai kebanggaan menggagahkan diri hulubalang republik dan sekaligus penutup daftar belanja alutsista dalam program MEF I yang membungakan mata hati kita.  Tahun ini sesungguhnya merupakan grand final pertunjukan aneka ragam alutsista berteknologi baik produksi dalam negeri maupun beli utuh dari negara tangguh alutsista.

Alutsista produksi dalam negeri misalnya Roket R-Han berdaya tembak 30 km, panser Anoa, kapal cepat rudal (KCR)40 m, KCR 60 m, kapal patroli cepat, landing ship tank (LST), landing plattform dock (LPD), kapal bantu cair minyak (BCM), pesawat CN235 MPA.  Sedangkan alutsista produksi bersama dengan negara lain misalnya pesawat CN295 dengan Spanyol, heli Bell 412EP dengan AS, kapal selam Changbogo dan panser Anoa Canon dengan Korsel, rudal C705 dengan Cina.  Sementara yang beli murni adalah jet tempur Sukhoi Family, Golden Eagle, Super Tucano, Light Fregat, Leopard, tank Amfibi, kapal selam Kilo dan lain-lain.
Jet Tempur Sukhoi di Batam
Dari semua proyek pengadaan beragam alutsista segala matra itu, pemuncak dahaga yang disiramkan ke segenap pemuja hulubalang dan pecinta NKRI adalah pembelian alutsista strategis yaitu kapal selam Kilo dan jet tempur Sukhoi SU35.  Coba kita trace ke awal cerita sepanjang 4 tahun terakhir ini.  Mulanya pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 tahun 2011 menggema dan berpolemik.  Kemudian pengadaan 3 kapal selam Changbogo, menggelitik dan kontroversi sebab AL tak mau dibelikan kapal selam “ecek ecek”. Lalu pengadaan Main Battle Tank Leopard Jerman membanggakan tapi juga penuh pro dan kontra.  Akhirnya pengadaan kapal selam Kilo dan jet tempur Sukhoi SU35 membuat “stadion” forum militer menggema dan bertepuk tangan menyambut keputusan monumental dan tidak ecek-ecek lagi dari pengambil keputusan Kemhan dan Mabes TNI.

Sesuai rencana puncak pertunjukan alutsista yang akan ditampilkan pada ultah TNI 5 Oktober 2014 nanti, berbagai jenis alutsista berteknologi tempur modern dipertontonkan kepada rakyat bangsa sekaligus diharapkan menjadi closing ceremony yang membanggakan dari pemerintahan SBY.  Itulah sebabnya agar semua matra dapat mempertontonkan alutsistanya maka lokasi perayaan HUT TNI digelar di pangkalan utama TNI AL Surabaya.  Di pangkalan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara itu kita bisa akan melihat MBT Leopard, Tank Marder, MLRS Astross, artileri Caesar Nexter, artileri KH-178 dan KH-179, rudal Starstreak, rudal Mistral, rudal QW3, Heli Bell 412 EP, Heli Apache, Heli Mi17, Heli Mi35, Heli Cougar.  Jet tempur F16 blok 52, Golden Eagle, Super Tucano, Sukhoi Family.  Dari matra laut disajikan KCR 40, KCR 60, Light Fregat, Kapal Selam, LPD, Korvet, tank amfibi BMP3F, RM Grad dan lain-lain.
Tank Amfibi BMP-3F
Program asupan alutsista di MEF I sesungguhnya mampu memberikan nilai kebanggaan pada bingkai kebangsaan meski secara kualitas dan kuantitas pemenuhan isian persenjataan TNI belum sampai pada tahap akreditasi A.  Alutsista MEF I sesungguhnya masih dalam kategori akreditasi B namun bagaimanapun ini adalah langkah awal yang mengagumkan sebelum nilai kesetaraan diperoleh dalam MEF II lima tahun berikutnya.  Pencapaian nilai kesamaan dalam mutu dan teknologi alutsista sangat diperlukan karena perang modern ke depan adalah kecepatan dan ketepatan pencet tombol dan keampuhan remote control penggunaan alutsista. 

Kalau pencapaian kesetaraan itu bisa kita capai maka sesungguhnya kita telah memenangkan pertandingan meski pertandingan itu tidak diadakan.  Mengapa, karena indikator pendukung kekuatan militer seperti jumlah penduduk, kekayaan sumber daya alam, militansi warga, besarnya wilayah tidak tertandingi oleh negara di sekitar kita.  Perkuatan mutu dan teknologi alutsista sesungguhnya merupakan kekuatan penghadang dan bumper untuk tidak mudah masuk arena pertempuran total karena dia adalah nilai penggentar itu.  Militer yang kuat sesungguhnya menjadi indikator penggentar, penggertak dan pencegah konflik menuju perang terbuka khususnya antar negara jiran. Kekuatan militer menjadi kekuatan tawar tinggi dalam peran diplomatik.
Jet Tempur Sukhoi SU35
Indonesia memang harus memilih.  Pilihan memperkuat militer dan alutsista selama 4 tahun terakhir ini merupakan pengembangan dari konsep pemikiran visioner orang nomor satu di negeri ini.  Bahwa masa depan kawasan ini dan Asia Pasifik adalah dinamika yang sangat memungkinkan terjadinya gesekan panas berbau mesiu.  Beberapa insiden di Laut Cina Selatan (LCS)dan Laut Cina Timur (LCT) adalah bukti bahwa perebutan sumber daya energi laut dalam untuk pasokan energi menjadi inspirasi adanya penumpukan dan pergeseran kekuatan militer dan dari regional lain. Indonesia belum terlambat memulai perkuatan militernya. Diharapkan dengan MEF II antisipasi  untuk menyongsong tahun 2020 sudah disiapkan dimana cuaca ekstrim bisa saja terjadi di depan halaman rumah yang bernama LCS atau bahkan di halaman rumah sendiri misalnya Ambalat dan Arafuru.

Militer dengan alutsista berteknologi adalah kebutuhan mutlak.  Kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkesinambungan adalah karena adanya kehadiran instrumen militer di setiap jalan nadi perjalanan berbangsa.  Militer itu tetap berperan meski tidak ada perang karena militer adalah pelapis kekuatan struktur dan bangunan kenegaraan. Jadi militer dan negara adalah senyawa, bukan campuran.  Senyawa adalah melekat dan tak mampu mengurai sedangkan campuran mudah berpisah dan hanya kuat karena diaduk. Negara yang mengabaikan kekuatan militernya justru lambat laun akan mengurangi kewibawaan negara bangsa itu.  Negara yang militernya kuat dan profesional akan mampu menolak segala ancaman dan bahkan semakin memperkuat nilai kesenyawaan tadi.  Nilai itu adalah nilai kewibawaan, harga diri dan matahari bangsa.
****
Jagvane / 07 Januari 2014

Sunday, December 29, 2013

Memandang Matahari Kilo 2014



Di penghujung tahun 2013 banyak hal yang bisa kita renungkan tentang analisis pertahanan dan perkuatan alutsista TNI. Gambaran hits nya kira-kira begini : Lagu “Leopard Dua” yang selama beberapa bulan menjadi hits di tangga lagu-lagu alutsista yang di pesan dan datang.  Maka di awal Desember yang basah ini “Leopard Dua” ditaklukkan oleh lagu “Kilo Membahana” yang menjadi puncak histeria dari penantian yang ditunggu-tunggu untuk memperkuat  alutsista strategis bawah air laut Indonesia.

Main Battle Tank Leopard tinggal menunggu kedatangan gelombang demi gelombang dan itu ada di tahun 2014 yang selangkah lagi di depan mata.  Sedangkan untuk kapal selam Kilo masih harus melalui tahapan demi tahapan sampai menuju sign kontrak. Dan itu diperkirakan terjadi di tahun 2014.  Tetapi mengapa khusus untuk keputusaan membeli sejumlah kapal selam Kilo dari Rusia begitu menggemparkan forum militer tanah air dan forum militer jiran, tak lain karena daya getar dan gentarnya yang mengancam seluruh kapal perang berjenis kelamin apapun di kawasan ini.
Keputusan membeli sejumlah kapal selam Kilo dari Rusia merupakan langkah yang dipuji dan disanjung banget. Ini adalah keputusan paling cemerlang ditinjau dari segala dimensi. Misalnya dari dimensi kesetaraan alutsista strategis kita sudah mampu mensejajarkan diri dengan negara jiran seperti Vietnam, Singapura dan Australia.  Dari dimensi perspektif dengan dinamika perkembangan klaim Laut Cina Selatan, Ambalat dan perkuatan militer di Cocos dan Christmas, pengadaan kapal selam “Herder” ini tepat guna dan tepat arah.

Lalu bagaimana dengan kapal selam Changbogo yang saat ini sedang dibuat di Korsel.  Ya jalan terus dong. Proyek Changbogo sesuai rencana membuat 3 kapal selam dimana kapal selam ketiga akan dibuat di PT PAL Surabaya tahun 2017.  Sementara itu sedang berjalan, kita juga masih sangat perlu untuk membuat program paralelisasi pengadaan kapal selam. Sebagaimana yang pernah diulas dalam tiga artikel terdahulu bahwa disamping proyek Changbogo kita berpendapat masih perlu perkuatan kapal selam dari kelas Herder.  Akhirnya sebagaimana analisis dan prediksi kita kala itu, Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan mengambil keputusan untuk membeli kapal selam Kilo dari Rusia.  Plong sudah.

Jika proyek Changbogo berjalan ramai lancar, tidak padat merayap atau macet total sebagaimana proyek jet tempur KFX/IFX, maka mulai tahun 2016 kita sudah mendapat 1 kapal selam baru.  Dengan asumsi itu maka tahun 2018 sudah ada 3 kapal selam Changbogo dimana kapal selam ketiga dibuat oleh tenaga ahli Indonesia dibawah supervisi Korsel. Program alih teknologi ini diharapkan akan menghasilkan kapal selam buatan dalam negeri seutuhnya mulai tahun 2020 mendatang.
Nah, dengan tambahan 3 Changbogo itu kekuatan kapal selam kita menjadi 5 unit tetapi tentu daya gempur  2 “Cakra Class” di tahun 2018 sudah tak sepadan lagi.  Oleh sebab itu pengadaan Kilo yang berkemampuan meluncurkan peluru kendali dari bawah laut dengan jarak tembak 300 km merupakan keputusan bersejarah. Kelak akan dicatat oleh generasi penerus sebagai langkah monumental dan mampu mewibawakan postur militer dan diplomatik Indonesia di kawasan regional.  Kehadiran kapal selam Kilo disamping mengejar target kuantitas kebutuhan kapal perang bawah air juga untuk menggapai kualitas setara teknologi kapal selam yang dimiliki TNI AL.

Memang sudah selayaknya Indonesia memperkuat alutsista strategis di perairan yang luasnya merupakan dua pertiga dari luas NKRI.  Dengan beberapa ALKI strategis sebagai pintu masuk kapal dagang dan kapal perang negara lain maka pintu-pintu itu harus dijaga.  Dengan kekuatan minimal 12 kapal selam pada tahun 2020 yang diprediksi demam tinggi terjadi di Laut Cina Selatan maka kekuatan armada kapal selam itu diniscayakan mampu memperkuat barikade pertahanan Indonesia.

Kita sangat berharap Kementerian Pertahanan bisa mendapatkan minimal 6 kapal selam Kilo seluruhnya atau kombinasi 4 Kilo dan 2 Amur atau sebaliknya meski tidak seluruhnya baru.  Sejumlah tim teknis Kemhan dan TNI AL yang akan berangkat bulan Januari 2014 ke Rusia untuk melihat dan mengkaji barang yang ditawarkan Rusia itu diyakini diberangkatkan dengan doa dan harapan yang menggebu.  Oleh karena itu penting untuk disampaikan bahwa tim itu membawa misi kebanggaan nilai.  Jangan sampai nilai kebanggaan itu yang sudah didambakan dan digadang-gadang selama hampir 8 tahun berubah menjadi skeptis.

Proyek Kilo akan menjadi ujian kesungguhan dan ebtanas pemerintahan SBY khususnya mengenai perkuatan alutsista TNI.  Kita meyakini bahwa dalam tiga bulan ke depan sudah ada kontrak pengadaan sejumlah kapal selam tangguh itu sehingga tahun 2015 dan seterusnya kita akan menyaksikan barangnya satu persatu berdatangan di perairan Indonesia.  Jika ini terwujud nyata maka sudah selayaknya kita menyematkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Presiden SBY dan menganugerahinya sebagai “Bapak Modernisasi Militer Indonesia”.  Bagaimana ?
****
Jagvane / 29 Desember 2013