Wednesday, December 18, 2013

Kado Akhir Tahun Untuk Pengawal Republik



Lagu Maju Tak Gentar layak dilantunkan untuk memberikan semangat suasana hati yang gembira, bangga dan senang, utamanya untuk pengawal republik yang sedang digagahperkasakan.  Sejumlah kado akhir tahun memeriahkan bahasa tubuh tentara dengan kedatangan berbagai alutsista baru untuk disandangkan di satuan tempur TNI segala matra. Selasa tanggal 17 Desember 2013 PT Dirgantara Indonesia menyerahkan 3 pesawat angkut militer CN295 kepada TNI AU dari jumlah pesanan 9 unit.  Dengan penyerahan ini TNI AU sudah memiliki 5 unit CN 295.  Kemudian TNI AD mendapat tambahan 6 heli serbu Bell 412 EP.  Matra darat ini memesan sedikitnya 24 Heli jenis ini bersama 16 Heli jenis Fennec yang akan datang tahun 2014. Minggu ini juga TNI AL mendapat kekuatan tambahan dengan datangnya 37 unit tank amfibi maut BMP3F dari Rusia.

Kado terbesar dari semua keceriaan yang mewarnai “jalan-jalan” bersama tentara tentu dengan diumumkannya rencana pembelian kapal selam Rusia secara besar-besaran oleh Menhan Purnomo Jumat siang tanggal 6 Desember 2013. Rencana ini juga bersinergi dengan pembangunan infrastruktur kapal selam di tanah air untuk pembuatan kapal selam Changbogo. Kapal selam yang mau dibeli itu adalah dari jenis Kilo dan Amur, dua jenis kapal selam yang paling ditakuti di seluruh dunia.  Kapal selam ini mampu menembakkan peluru kendali dari bawah laut menuju daratan dari jarak 300 km.
Kapal selam Amur, senyap yang menggetarkan
Dipastikan kehadiran dua jenis kapal selam paling senyap di dunia ini akan memberikan efek gentar dan getar dalam perkuatan otot militer TNI yang sesungguhnya. Dengan lugas dinyatakan Menhan Purnomo bahwa kehadiran kapal selam ini untuk menjaga ALKI di laut Selatan.  Maksud tersiratnya jelas pada tetangga Selatan yang lagi galau karena dicuekin SBY. Galau dan panik karena gelombang laut Selatan mengirim manusia perahu makin deras. Tetapi tidak hanya laut Selatan saja dong, juga untuk memagari Laut Cina Selatan atau Ambalat, atau membatasi gerak kapal selam negeri pulau sebelah Batam itu yang suka nyelonong ke perairan kita.

Sebenarnya berbagai alutsista lain sudah menjelang masuk gudang arsenal TNI.  Misalnya Kapal Cepat Rudal (KCR) 40m yang ke empat buatan Palindo Batam.  Kemudian Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 m buatan PT PAL.  Sementara 16 jet tempur T50 Golden Eagle seluruhnya akan tiba akhir Desember ini.  Juga pesawat Super Tucano dari Brasil yang kecepatan datangnya dikalahkan Golden Eagle Korsel. Panen raya alutsista digambarkan dengan jelas akan terjadi sepanjang tahun 2014 dengan kedatangan beragam alutsista seperti kapal perang jenis Light Fregat dari Inggris, kapal cepat rudal 60m, kapal angkut tank, kapal BCM (Bantu Cair Minyak), tank berat Leopard, tank Marder, panser Anoa, MLRS Astross, artileri Caesar Nexter, artileri KH179, rudal Starstreak, rudal Mistral, jet tempur F16 dan lain-lain. 

Itu yang mau datang Pak Cik.  Yang mau dipesan juga masih banyak utamanya untuk kebutuhan MEF 2 periode 2015-2019.  Dengan prediksi anggaran belanja alutsista sebesar US$20 milyar untuk MEF 2 maka asumsi kita minimal akan ada tambahan untuk TNI AU 1 Skuadron Sukhoi Family, 1 skuadron f16 batch2 dan 1 skuadron Typhoon.  Sedangkan untuk TNI AL akan ada pemesanan 3-5 fregat dari Rusia, tambahan 3-5 kapal PKR10514 Sigma Belanda, atau bisa saja mengambil 2 Destroyer.  TNI AD akan memperkuat satuan Kavaleri dan Armed dengan mendatangkan MBT dan MLRS serta Heli tempur.  Heli Apache dan Blackhawk sudah diambang pintu termasuk  peluru kendali pertahanan udara jarak sedang (SAM) yang akan memayungi Jakarta dan sejumlah pangkalan militer.

Untuk pembangunan kapal selam, jika proyek “Sekilo Semur” berjalan lancar maka prediksi kita pada tahun 2019 saat MEF 2 selesai Indonesia akan memiliki sedikitnya 12 kapal selam dengan rincian 4 Kilo, 4 Amur dan 4 Changbogo.  Dua kapal selam Cakra Class buatan tahun 1980 tidak lagi dioperasikan.  Sementara teknologi Changbogo yang sudah didapatkan akan menjadi loncatan prestasi dan sekaligus awal pengembangan teknologi kapal selam sehingga RI mampu memproduksi kapal selam secara berkesinambungan mulai tahun 2020.
Juara di lomba ASEAN, tradisi ketangguhan TNI
Sebuah kado sejatinya adalah sebuah momentum.  Meski bukan hanya kado akhir tahun saja yang telah diterima pengawal republik.  Sepanjang tahun 2013 ini sudah banyak kado yang dipersembahkan untuk tentara rakyat ini.  Demikian juga tahun 2014 dan seterusnya, tentara benteng NKRI akan terus mendapatkan berbagai alutsista berteknologi terkini sebagai kewajiban dan tugas pemerintah dan rakyat Indonesia.  Wajar dong kita mendandani prajurit kita karena mereka kita tugaskan untuk mengawal dan mewibawakan teritori NKRI. Tentara berteknologi tempur adalah visi dan misi yang harus disandangkan kepada siapapun yang akan memimpin republik kebanggaan ini.  Ke depan ini adalah sebuah era dimana perebutan sumber daya energi tak terbarukan menjadi tema utama.  Negara yang kaya ini harus dijaga dengan kekuatan militer yang setara dalam teknologi.

Ke depan ini kekuatan Asia Pasifik akan dibelah menjadi dua kekuatan besar.  Cina Rusia Korut dimungkinkan menjadi kekuatan militer gabungan melawan AS, Australia, Jepang dan Korsel.  Meski tanpa Rusia kekuatan Cina pun sudah mulai diperhitungkan.  Insiden pencegatan kapal perang AS USS Cowpens oleh kapal pengawal kapal induk Cina di Laut Cina Selatan 5 Desember 2013 merupakan embrio dari liga pertarungan gengsi militer dan klaim teritori.  Indonesia mau tak mau harus ikut kompetisi itu dalam kapasitas membela teritori, menjaga kualitas kewibawaan wilayah negara dan eksistensi NKRI.  Maka kado demi kado alutsista harus terus dipersembahkan kepada pengawal republik agar kemampuan jaga wibawa dan jago berotot dapat diperlihatkan.  Jika tentara petarung militan dan tentara berteknologi disinergikan dengan jiwa nasionalis sejati. Maka perhatikan apa yang akan terjadi.  Super sekali.
****
Jagvane / 18 Des 2013

Saturday, December 7, 2013

Ambisi Emosi Ekspansi Cina



Minggu-minggu ini terjadi perselisihan serius di sebuah zone pertikaian gengsi negara. Gengsi itu pula yang membuat kriteria rasional menjadi berkesan emosional dan tergesa-gesa. Memperebutkan sosok gadis manis memang merupakan perjuangan tersendiri, dengan berbagai upaya untuk mengambil hati.  Cuma “gadis manis” yang satu ini diperebutkan berbagai negara dengan saling mendahului mengakui teritori yang bernama Laut Cina Timur (LCT).  Cina tiba-tiba mengumumkan bahwa LCT adalah zona pertahanan udara dia.

Cina, kekuatan ekonomi nomor dua terbesar di dunia setelah AS sedang membangun kekuatan militernya seperti postur kekuatan ekonominya.  Menuju Cina 2020 dengan ambisi menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia dengan dukungan kekuatan militer berkemampuan ofensif.  Jalan ke arah itu sudah di depan mata riak gelombangnya.  Dua gelombang panas dia luncurkan sekaligus yaitu menetapkan zone identifikasi pertahanan udara di LCT dan melayarkan kapal induk terbarunya Liaoning ke Laut Cina Selatan bersama iringan destroyer, fregat dan kapal selamnya.
Halaman depan rumah kita
Ambisi emosi ekspansi Cina yang mulai membabi buta itu dengan mengumumkan Adiz (Air Defence Identification Zone) di LCT membuat marah sejumlah negara.  Jepang, Korsel, Taiwan, Australia dan AS memberikan reaksi keras pada negeri keras kepala tersebut. Bahkan AS meledeknya dengan mengerahkan 2 bomber kelas berat B52 melintas kawasan itu dengan kawalan kapal induk George Washington dan jet siluman F22 Raptor.  Cina tak bereaksi.  Kasus ini semakin membuka mata pandang kita bahwa Cina akan semakin berbahaya cara bermain apinya karena terkesan ingin adu otot dan menciptakan banyak musuh.

Indonesia memang tidak punya konflik teritori dengan Naga Panda di pulau Natuna.  Namun irisan tumpang tindih teritori di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) utara Natuna tetaplah harus menjadi kewaspadaan Indonesia. Sebab juluran lidah naga yang digambarkan menyapu seluruh LCS dipastikan sampai hembusannya di perairan Natuna sebagaimana peta klaim wilayah yang diumumkan Cina jauh-jauh hari.

Di beberapa tulisan terdahulu kita sudah menggariskan bahwa perairan Natuna dan udaranya harus berada dalam kawalan yang terus menerus, bukan sekedar meluncurkan program gugus tempur laut Tameng Hiu, Tameng Pari atau yang sebangsanya.  Demikian juga dengan patroli udara, haruslah berupa kehadiran tetap dan terus menerus, bukan temporer atau situasional.  Jelasnya harus tersedia kapal perang berpeluru kendali dan jet tempur yang dimarkaskan di Natuna sebagai penegas dan penguat bahwa Indonesia siap bertarung dengan siapa saja yang mengganggu teritorinya.

Merapatkan barisan dengan anggota ASEAN yang lain merupakan opsi “pengobatan alternatif” untuk mengantisipasi situasi kawasan yang memburuk.  Ya kalau ASEAN 10  agak sulit bersenyawa mengapa tidak kembali lagi ke ASEAN 8 atau ASEAN 5 alias negara pendiri ASEAN saja.  Mengapa, karena Kamboja dan Laos sudah ada dalam pengaruh “hipnotis”Cina. Jadi jangan berharap banyak dengan dua negeri Indocina itu untuk ikut melawan Cina.  Merapatkan barisan dengan sesama ASEAN 8 atau ASEAN 5 bermanfaat untuk kesamaan visi dan misi terhadap kehadiran musuh bersama.

Laut Cina Selatan sedang digoyang dengan kedatangan kapal induk Cina yang baru dan pertama. Kapal induk Liaoning dan kapal pengawalnya termasuk kapal selam minggu-minggu ini menghampiri perairan dan gugusan pulau-pulau kecil di kawasan yang mengandung banyak sumber daya energi fosil itu.  Dalam tradisi militer kehadiran armada kapal “tamu” tentu disambut juga dengan pengerahan kapal perang atau kapal selam dari negara di sekitar LCS.  Bahkan AS mengirim kapal selam nuklirnya untuk memantau gerakan armada kapal induk Cina itu.
Yang diluncurkan Rudal buatan Cina C802
Jawaban Indonesia untuk argumen reaksi kedatangan itu, ya tentu mengirim kapal perang juga ke Natuna.  Namun jawaban visioner RI untuk menyongsong tahun 2020 jelas memperlihatkan keseriusan Pemerintah untuk membangun kekuatan militer sekuat tenaga. Perkuatan militer Indonesia untuk 6 tahun ke depan diprediksi akan mendatangkan alutsista strategis berupa 8-10 kapal selam, 3-4 destroyer, 10-12 fregat, 3 skuadron jet tempur Sukhoi Family.  Penting untuk diketahui bahwa program perkuatan alutsista bukanlah merupakan beban atau expense bagi negara bangsa. Tetapi harus memandangnya dalam bingkai investasi pertahanan, nation capital.  Tidak sulit mendatangkan asset pertahanan strategis itu jika ada kemauan yang kuat bergelora untuk memastikan nilai dan harga pertahanan bangsa.

Ambisi emosi ekspansi Cina harus disikapi dengan cara pandang visioner.  Persahabatan tetaplah  dijalankan.  Tapi postur diri tetap harus dikuattegarkan sehingga ketika dia tiba-tiba melotot kita pun balas melotot juga.  Meski sejauh ini kita tidak berkonflik teritori dengan Cina di LCS tetaplah kita siapkan modal pertahanan diri, memperkuat militer dan persenjataannya.  Sejauh ini geliat militer Cina merupakan indikator utama untuk mempersiapkan kekuatan pukul setara.  Tetapi manfaat lain tentu “berguna” pada lingkungan sekitar misalnya Australia, Malaysia dan Singapura. Negara-negara ini tentu tidak lagi meremehkan kekuatan milter Indonesia bahkan cenderung mulai melancarkan jurus “senyum ramah tamah yang penuh pamrih”.  Kalau tak percaya kita lihat saja pada bulan dan tahun-tahun mendatang sapaan diplomatik mereka.

****
Jagvane/ 07 Des 2013





Sunday, December 1, 2013

Ketika Si Kucing Mengaum



Urusan sadap menyadap dengan Australia dan Singapura, biarlah menjadi urusan wajah diplomat dan petinggi republik.  Meski memang harus diakui selama ini wajah Indonesia dalam berdiplomasi mirip seekor kucing, malu-malu kucing, sehingga tak jelas apa yang menjadi fokusnya. Boleh juga kalau memang ingin berada dalam bingkai bebas aktif, tidak memihak sana tidak memihak sini. Tetapi ini bukan persahabatan polos dan lugu melainkan berdasarkan kepentingan. Sama halnya ketika kita dalam beberapa artikel terdahulu berkali-kali mengatakan bahwa Australia bukanlah jiran yang tulus, dan ternyata benar.

Banyak juga yang terkejut karena tiba-tiba kucing ASEAN yang bernama Indonesia itu tiba-tiba tidak mengeong. Kucing itu mengaum mirip harimau menumpahkan kemarahannya kepada kanguru yang hobinya lompat sana lompat sini, rangkul sana rangkul sini, sepak sana sepak sini.  Ketika sang kucing dan kanguru sedang akrab-akrabnya tiba-tiba perselingkuhan pertemanan itu terkuak.  Ternyata kanguru suka nguping urusan rumah tangga kucing. Maka kucing berteriak dan mengaum suara macan, dunia pun tersentak.

Kalau yang ini kucing hutan
Tetapi suara kucing yang mengaum itu boleh jadi sebagai sarana menguji coba nyali, ya nyali sendiri, ya nyali tetangga.  Ternyata tetangga yang berselingkuh itu sedikit gugup juga mendengar auman kucing ASEAN tadi.  Setidaknya dalam bahasa tawar menawar posisi Indonesia berada diatas angin.  Perselingkuhan diplomatik ini tentu mempermalukan Australia sehingga ketika Indonesia berteriak keras maka jiran sebelah kelimpungan dan salah tingkah.  Ironinya tetap saja tak mau minta maaf. Inilah salah satu sifat arogansi yang memang menjadi karakter bangsa bule yang didamparkan ke benua Selatan itu pada abad ke 18 karena perilakunya juga.

Kekuatan kucing yang mengaum tadi tentu punya energi dan adrenalin juga. Salah satu energi pembangkit adrenalin harga diri bangsa itu adalah mulai berdatangannya berbagai jenis alutsista yang sudah dipesan. Sejatinya kekuatan suara diplomatik tergantung pada kekuatan ekonomi dan kekuatan militer sebuah negara.  Indonesia berada di gerbang itu.  Kekuatan ekonomi berada dalam lingkaran 16 besar dunia, nomor satu di ASEAN.  Pertumbuhan ekonomi rata-rata selama 9 tahun ini ada di kisaran 6%,  pendapatan per kapita sudah masuk negara berpenghasilan menengah dengan US $4.000 per kapita pertahun.

Nah, melihat cakrawala ke depan, kanguru tentu harus bisa berbaikan dengan kucing yang tumbuh terus dan membesar.  Memandang ke depan pada starting point tahun 2020 si kucing diprediksi sudah jauh berubah dan menjadi macan. Kekuatan ekonomi Indonesia tahun itu diprediksi ada di urutan 14 besar dunia dengan pendapatan perkapita di kisaran US $ 7.000.  Memang dalam konteks negara kesejahteraan Australia tetap unggul tetapi sebagai negara dengan takdir sejarah bertetangga dengan RI seumur hidup, Australia tidak bisa lepas dan sangat berkepentingan dengan Indonesia.

Demikian juga dalam bidang  militer, Indonesia tahun 2020 sudah setara dengan jiran di sekitarnya.  Pada tahun itu alutsista strategis kita seperti kapal selam, kapal kombatan, rudal, jet tempur sudah berada di garis kesamaan teknologi.  Kesetaraan teknologi persenjataan yang dicapai Indonesia tentu membuat jiran macam Australia dan Singapura bercermin diri.  Soalnya keunggulan yang tak bisa ditandingi seumur hidup kedua negara yang tak tulus bertetangga ini adalah besarnya jumlah penduduk Indonesia, kekayaan sumber daya alam dan warganya yang militan.
Meski Sail Komodo 2013, puluhan KRI ada di depan Australia
Ini adalah kekuatan sejati Indonesia. Kekuatan itu jika ditambah dengan dukungan kekuatan militer dan kekuatan ekonomi maka dipastikan gerak langkah RI di kawasan regional menjadi faktor penentu.  Singapura jika tetap bertahan dengan gaya diplomasi seperti sekarang ini dengan tidak bersedia menjalin perjanjian ekstradisi, meremehkan diplomasi pemerintah Indonesia, perlahan dan pasti akan tergerus dengan kekuatan pertumbuhan ekonomi, militer dan nasionalisme RI.  Demikian juga dengan Australia, dia membutuhkan Indonesia sebagai jembatan penghubung Asia, sebagai pasar sapi dan gandum, sebagai bumper penyangga imigran gelap, sebagai mitra untuk perang melawan teroris.  Australia butuh Indonesia dalam soal apa saja. Maka high profile yang ditunjukkan Presiden SBY terhadap Australia adalah peringatan sekaligus kemenangan diplomatik bagi RI.

Patron diplomatik yang seperti ini sesekali perlu dipertunjukkan untuk menunjukkan nilai harga diri bangsa.  Prediksi tahun 2020 untuk unjuk kerja militer kita bisa digambarkan dengan kepemilikan 10-12 kapal selam Kilo-Changbogo, 3 Skuadron Sukhoi Family, puluhan kapal kombatan berteknologi tinggi, rudal SAM jarak menengah, akan memberikan nilai getar dan gentar.  Belum lagi gelar kekuatan pasukan 3 divisi Kostrad, 3 divisi Marinir dan pasukan Kodam. Ke depan dengan dukungan kekuatan militer yang besar negeri ini dijamin akan disegani.  Sehingga kalau presidennya batuk sedikit saja, pasti angin kekhawatirannya menerpa jiran-jiran pongah itu. Kalau kali ini kucing yang mengaum maka pada tahun-tahun mendatang dipastikan macan yang akan mengaum kalau jiran-jiran itu berulah.
****
Jagvane / 01 Desember 2013

Wednesday, November 20, 2013

Buku Baru: Ketika Tentara Belanja Alutsista (2)

            Tebal 350 halaman, merupakan buku kedua dari rencana menerbitkan 3 buku judul yang sama
             Buku pertama telah terbit pada bulan Mei 2013.  Yang berminat silakan hubungi penerbitnya

Wednesday, November 13, 2013

Patroli Di Laut Kidul Dan Perspektifnya



Laut Selatan ternyata tidak sesepi yang kita duga.  Kalau kita memandangnya dari Parangtritis Yogya atau pantai-pantai lainnya di Kidul Jawa memang seakan tak ada gerakan lain selain gerakan ombak besar yang menderu dan berlomba menuju pantai.  Tetapi beberapa pekan terakhir ini gerakan kapal perang negeri Kanguru mengharuskan Angkatan Laut kita menghadirkan diri di kawasan “kekuasaan” Ratu Kidul itu.

PM Australia Tony Abbot beraliran keras terhadap pendatang perahu yang transit dari negeri kepulauan di utara negerinya.  Dalam pandangannya kalau aliran pengungsi ini tak disekat bakalan ramai tuh perimbangan populasi wajah bule di Australia dengan wajah Asia yang warna warni.  Bayangkan saja rata-rata jumlah orang perahu yang datang setiap bulan berkisar 2000-3000 orang.  Kemudian dikalikan setahun, kemudian dikalikan berapa kali melahirkan dan beranak pinak.  Maka wajah Australia limapuluh tahun mendatang adalah wajah dominasi Asia.  Tapi itu urusan dialah.
Wapres Boediono dengan PM Abbot di Canberra
Yang menjadi urusan republik ini adalah, selalu saja tetangga selatan itu merasa dia benar sendiri lalu mengatur-atur Indonesia agar mau diatur.  Mulanya sih sebagai tetangga yang baik, kita tepo seliro alias toleransi untuk memahami kegelisahan tetangga Eropa itu. Tapi setelah berita sadap menyadap memecah kesunyian malam buta, membuyarkan kekhusyukan dalam berjiran.  Tetangga sebelah itu memang tidak pernah tulus dalam menjalin persahabatan dengan jirannya yang besar ini.

Merasa dikhianati tentu republik punya hak veto alias hak egois.  Memang kita perlu juga tunjukkan hak egois itu karena kita bernama Indonesia Raya.  Ditinjau dari delapan penjuru mata angin negeri kita lebih segalanya dari negeri selatan itu.  Yang kurang dari negeri kita adalah masih kurang makmur dan sejahtera dibanding negeri bule Asia itu.  Sesekali menyatakan tidak, sangat membanggakan dan itu sudah dinyatakan dengan jelas pada hari-hari terakhir ini.  Apalagi hari-hari ini Wapres Boediono lagi ada di negeri itu.

Tentu selain jawaban tidak itu, sebagai konsekuensinya kita juga harus mengerahkan kekuatan angkatan laut kita.  Ini juga bagian dari ujicoba kemampuan armada TNI AL yang selama ini jarang “bermain” di wilayah selatan.  Tetapi tentu pengerahan kapal perang ini harus mencerminkan kekuatan kewibawaan itu.  Maka pantas kalau yang dikerahkan kapal perang fregat atau korvet di kawasan itu. 

Mengapa disebut uji coba karena ke depan memang aliran kapal perang di Laut Kidul akan semakin ramai dengan dibukanya front Darwin, Christmas dan Kokos menghadapi Cina di Laut Cina Selatan (LCS).  Ini sesuai dengan kebijakan si polisi dunia AS yang akan membuka lebih banyak gelaran kapal perang dan kapal induk di Asia Pasifik.  Repotnya untuk menghadapi Paman Mao, Paman Sam dan keponakannya Aussi harus melewati halaman rumah tetangga yang bernama Indonesia.

Oleh sebab itu ke depan Angkatan Laut Indonesia perlu diperkuat dengan sejumlah kapal perang berkualifikasi destroyer dan kapal selam laut dalam.  Untuk tahap pertama minimal diperlukan 3-5 Destroyer dan 6-8 kapal selam herder.  Statemen Menhan tentang pengadaan 10 kapal selam dari Rusia baru-baru ini diyakini adalah dalam upaya merespons intensitas pergerakan kapal asing di Laut Kidul disamping mengawal LCS dan Ambalat. 

Kita berpandangan kapal selam Rusia memiliki kekuatan getar dan gentar dan sangat pantas jika kita mengambilnya meski tidak harus 10 unit.  Memiliki 6 kapal selam kelas kilo saja akan memberikan kekuatan otot angkatan laut untuk berani tampil di laut dalam seperti laut Kidul.  Masih ada waktu untuk berbenah diri memperkuat dan memodernisasi alutsista TNI segala matra.  Tidak salah kalau pemikiran tentang kehadiran 3-5 destroyer itu bersama 6 kapal selam kilo menjadi cita-cita dan harapan yang berbinar-binar.
Bersiap menuju tugas kawal negara
Peta patroli angkatan laut selama ini lebih terfokus pada LCS, Selat Malaka, Laut Sulawesi dan Arafuru.  Tetapi di depan mata akan semakin jelas gerakan kapal perang asing di Laut Kidul yang akan melewati selat Sunda menuju LCS atau sebaliknya.  Kehadiran 3 kapal perang light fregat dari Inggris tahun depan setidaknya mengurangi sesak nafas armada laut dalam.  Apalagi jika dalam lima tahun ke depan ada penambahan kapal perang kelas destroyer bersama 6 kapal selam laut dalam diniscayakan memberikan kekuatan striking force yang setara.

Bagaimanapun diplomasi adalah ranking utama dalam menyuarakan suara hati republik, tentang kesukaan, tentang ketidaksukaan dalam etika pergaulan antar bangsa.  Bahasanya tentu bahasa diplomatik, etika diplomatik dan tata cara diplomatik.  Namun kegagahan nilai diplomasi tentu sangat berkaitan erat dengan kegagahan militer sebagai payung kekuatan bernegara itu.  Dengan militer yang kuat bahasa diplomatik akan memberikan efek multiflier, gaungnya lebih menggema. Jelasnya, kita harus punya militer yang kuat, itu saja Om, permintaan kami yang jelata ini.
****
Jagvane/ 13 Nop 2013