Thursday, October 10, 2013

Wawancara Dengan NRC Handelsblad (Belanda) Tgl 07 Oktober 2013 Sehubungan Dengan Kunjungan Menteri Pertahanan Belanda ke Indonesia :



Berikut adalah beberapa pertanyaan dari koresponden kami (Melle Garschagen) dari NRC Handelsblad kepada Bapak Jagarin Pane yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia : 

Mengapa pemerintah Indonesia dan TNI merasa penting untuk mengeluarkan dana untuk memperkuat dan memper-modern kekuatan militer? 
Pemerintah Indonesia bersama DPR memandang sangat perlu untuk memodernisasi TNI sebagai antisipasi dinamika kawasan khususnya Laut Cina Selatan.  Tahun 2008 yang lalu berdasarkan kajian intelijen dan Hankam RI menganalisis bahwa pusat konflik masa depan adalah Laut Cina Selatan.  Meski Indonesia tidak terlibat klaim teritori dengan negara lain di kawasan itu, Pemerintah memandang sangat perlu untuk memperkuat tentaranya.  Klaim Malaysia terhadap Ambalat juga merupakan salah satu pemicu untuk memperkuat TNI.  Karena ternyata negeri itu lebih dahulu melakukan manuver kapal perang di kawasan itu tahun 2005 sehingga Presiden SBY merasa tersinggung dan langsung mendatangi lokasi di Karang Unarang untuk menegaskan bahwa Ambalat adalah teritori NKRI.
Siapakah/negara mana yang dilihat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan dan keselamatan Indonesia? Kenapa? 
Sebenarnya bagi Indonesia tidak ada ancaman dari negara tertentu yang membahayakan keselamatan Indonesia. Tetapi sebagai antisipasi bagi negara kepulauan terbesar di dunia ini dan punya posisi strategis di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik sangat wajar bagi Indonesia memperkuat persenjataan militernya yang selama lebih dari 10 tahun tidak diperbaharui. Penempatan Marinir AS di Darwin Australia bagaimanapun merupakan ancaman bagi keamanan RI, maka sebagai antisipasi TNI saat ini sedang mempersiapkan alokasi pasukan Marinir di Papua setingkat divisi.
Cabang TNI yang mana yang paling menganggap perlu dan penting untuk menginvestasikan dana dan ekspansi kekuatan militer (dalam hal alutsista)? 
Semua matra TNI sedang memperkuat diri. TNI AU sudah mendapatkan 1skuadron Sukhoi Su27/30 beserta rudal canggihnya dan sangat terbuka kembali melakukan pesanan untuk 1 skuadron berikutnya dari seri Sukhoi SU35 yang lebih modern. TNI AU juga menantikan kedatangan jet tempur F16 sebanyak 24 unit dari AS dan 16 unit T50 Golden Eagle dari Korsel.  Satuan-satuan radar modern memperkuat kawasan timur Indonesia sehingga tidak ada lagi yang blank spot.  TNI AL sedang menantikan 3 kapal selam Changbogo dari Korsel dan mendapat tawaran 10 kapal selam kelas Kilo bekas dari Rusia. Marinir diperkuat dengan lebih dari 50 tank amfibi BMP3F dari Rusia, 12 artileri roket RM Grad.  Indonesia sedang menunggu kedatangan 3 fregat ex Brunai dari Inggris, sudah memesan 2 fregat Sigma dari Damen Schelde Belanda yang dikenal dengan PKR 10514.  Kapal Cepat Rudal ukuran 40 meter dan 60 meter buatan dalam negeri sudah dan sedang dalam proses pembuatan.  Sementara 3 LST buatan dalam negeri untuk kapal angkut Tank Leopard sedang dalam pengerjaan. TNI AD sudah pesan 103 MBT Leopard 2 dan 50 Tank Marder dari Jerman, kemudian menunggu kedatangan 36 unit MLRS Astross II Mk6 dari Brazil bersama 38 artileri Caesar Nexter dari Perancis.  300 panser Anoa buatan dalam negeri sudah memperkuat batalyon TNI AD.
Akankah trend ini akan berubah setelah pemilu? Factor2 apa saja yang mempengaruhi? 
Program modernisasi TNI ini dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force).  Untuk MEF tahap I tahun 2010 sd 2014 sudah jelas arahnya dengan anggaran sebesar US $15 milyar.  Untuk MEF tahap II tahun 2015 sd 2019 sudah berganti pemerintahan. Tetapi hampir semua kalangan berpendapat bahwa MEF tahap II akan berjalan lebih intensif lagi dengan prediksi pagu anggaran minimal US $20 milyar. Yang menggembirakan ketika kita bicara modernisasi TNI semua komponen bangsa ini, Pemerintah, Parlemen dan mayoritas rakyat Indonesia mendukung program ini.  Ini yang membuat kita optimis bahwa MEF II akan berlanjut lebih baik lagi.
Negara mana saja yang menerima pesanan paling banyak untuk peralatan perang TNI? 
Indonesia menerapkan program alutsista dengan memesan produk yang belum bisa dibuat di dalam negeri dengan berbagai negara. Dengan AS misalnya pengadaan upgrade 24 F16, pembelian 8 Apache, pembelian rudal anti tank Javelin, pembelian 40 heli Bell412Ep dan lain-lain. Dengan Rusia 16 Sukhoi, simulator Sukhoi, BMP3F.  Dengan Korea Selatan 3 kapal selam, 22 panser tarantula, 16 jet latih tempur Golden Eagle. Dengan Jerman 103 MBT Leopard, 50 Marder dan 18 pesawat latih Grobb.  Brazil mendapat order 16 pesawat Super Tucano dan MLRS Astross II. Perancis mendapat pesanan artileri Caesar Nexter. Belanda 2 PKR 10514 Sigma. Dengan Australia pesan 9 Hercules bekas. Juga dengan Spanyol pesan 9 pesawat angkut sedang CN295. Jadi semua negara sahabat mendapat pesanan bervariasi.
Menteri pertahanan Belanda akan melakukan lawatan ke Indonesia minggu ini untuk mengadakan pembicaraan dengan menhan RI dan TNI. Menurut Anda, apa saja yang akan mereka bicarakan? 
Kunjungan Menhan Belanda tentu untuk memperkuat kerjasama pertahanan. Anggaran belanja militer RI yang besar sesungguhnya menarik banyak negara untuk merapat ke RI. Ada kemungkinan Menhan Belanda menawarkan kembali 80 Leopardnya yang dulu ditawarkan ke Indonesia tetapi karena terlalu banyak persyaratan HAM, Indonesia beralih ke Jerman bahkan mendapat jumlah yang lebih banyak.  Tetapi yang lebih penting mestinya Belanda lebih membuka mata hatinya untuk Indonesia misalnya dengan membagi teknologi militer untuk negeri bekas jajahannya. Misalnya teknologi kapal perang PKR10514. Jika saja Belanda lebih memahami cara mengambil hati Indonesia, kita yakin Belanda akan mendapat tempat di hati rakyat Indonesia.  Dan kalau itu sudah didapat maka order bisnis apapun akan berjalan lancar dan jelas.  Kekuatan ekonomi Indonesia saat ini no.16 di dunia, pertumbuhan ekonomi rata-rata 6%,pendapatan perkapita US $4.000,- dengan jumlah penduduk 240 juta. Dengan anggaran militer masih sekitar 0,8%-1% dari PDB saat ini sudah sedemikian menariknya, apalagi jika menyentuh 2,5%-3% dari PDB.  Dan itu sangat mungkin.
Salam Hormat, 
Sarah Sayekti 
Melle Garschagen
NRC Handelsblad 
****
Jagvane / 10 Oktober 2013


Saturday, October 5, 2013

Seikat Kembang Untuk Pengawal Republik

Hari ini, perayaan usiamu dihelat di berbagai sudut republik.  Di ibukota sebagai pusat pertunjukan kegagahan dilakukan gelar alutsista berbagai jenis.  Tapi bukan sekedar itu, di berbagai sudut tanah air pun tugas realnya digelar dengan menghadirkan sejumlah batalyon untuk borderland apakah itu di bumi Kalimantan, Timor NTT atau Papua.  Ada lagi yang menggelar diri di pulau terpencil, satuan Marinir untuk menegaskan kepemilikan NKRI.  Banyak juga yang tak tahu ada gelaran sejumlah KRI di sisi selatan negeri ini sebagai jawaban atas gelaran kapal perang tetangga selatan yang tak sudi menerima imigran pelarian.

Banyak tugas yang sedang dijalankan di luar batas negeri.  Ada ribuan prajurit menjalankan tugas peace keeping PBB, di Libanon dan tempat lain.  Ada KRI Diponegoro mengawasi perairan laut Tengah.  Ada 3 Heli Mi17 yang siap diberangkatkan ke Sudan bersama 100an prajurit Penerbad.  Pengamanan APEC di Bali dengan menggelar pasukan bersama sejumlah alutsista.  Meski Presiden Obama tak jadi datang namun kualitas pengamanan tetaplah bagian dari keharusan menjaga kewibawaan shohibul bait sembari tetap menebar senyum pada sejumlah tamu.

Jadi meski ada perayaan Ultah, tetaplah nomor satu kewajiban mutlak menjaga negeri dan menerima tugas perdamaian dunia.  Tentara negeri ini adalah bangunan energi yang punya kemampuan dan ketangguhan personal.  Kualitas personal itu berdampingan dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang mampu menebarkan semangat berjuang dan bertarung.  Maka jadilah dia "senyawa kimia" yang mampu memberikan aura gagah dan getar sehingga mampu mewibawakan harkat dan martabat teritorial bangsa ini.

Seikat kembang sangat pantas untuk Pengawal Republik yang mampu menampilkan keistiqomahannya dalam menjaga NKRI.  Sementara di dalam rumah tangga negeri ini penuh carut marut kehebohan korupsi dari penjaga nilai konstitusi karena Ketua MKnya sendiri tertangkap tangan menjadi "pemain bayaran".  Belum lagi lagak dan langgam anggota Parlemen yang merasa dia telah menjadi "Tuhannya Setan" sehingga bisa melakukan apa saja yang menurutnya pantas, pantas memaki, pantas menuduh, pantas mengambil, pantas menyunat.  Dan lain-lain dan lain-lain karena terlalu banyak sampai mau muntah jika menyebutnya.

Tanpa bermaksud membandingkan, bukankah satu-satunya kewibawaan negeri ini hanya ada pada sosok Pengawal Republik.  Tampilan sederhananya lihat saja di Monas atau tempat lain yang saat ini sedang memamerkan sejumlah alutsista. Ada kegagahan disitu, ada nilai harga diri bernegara dan berbangsa.  Ada kepantasan negeri ini bernama Republik Indonesia.  Masih ada kepantasan kita mematut-matut diri di depan cermin karena masih ada sebuah kebanggaan ber NKRI dengan kemampuan Pengawal Republik menjaga nilai keistiqomahannya sesuai konstitusi.  Sementara nilai-nilai yang lain terutama yang terakhir ini di Mahkamah Konstitusi sangat menghentak nilai negeri yang berkonstitusi.

Selamat ulang tahun tentaraku
Meski negeri ini penuh hiruk pikuk kegaduhan
Tetap jalankan spirit menegakkan kewibawaan teritori
Seikat kembang kami sandangkan didadamu
Karena engkau adalah cermin kewibawaan nilai itu

****
Jagvane / 05 Oktober 2013
 

Wednesday, September 25, 2013

Merajut Dan Menggemuruhkan Aceh



Aceh sejatinya adalah formula naluri dan kecerdasan akal budi religi yang ingin menajamkan harkat dan martabat karena sudah dibuktikan dalam perjalanan panjang sejarahnya.  Ketika hampir semua daerah kolonial yang lain di Hindia Belanda sudah takluk,  Aceh justru belum mampu ditaklukkan Belanda.  Jendral Kohler pun harus meregang nyawa di Kutaraja manakala mencoba menyerbu Aceh tahun 1873.  Aceh baru takluk tahun 1904, itu artinya daerah terakhir yang jatuh ke tangan kolonial.  Hanya 40 tahun saja sebelum Belanda akhirnya takluk di tangan Jepang. Harkat dan martabat itu sesungguhnya merupakan nilai keistiqomahan Aceh jika kita merenungi sejarah kepahlawanan Sultan Iskandar Muda, Malahayati, Teuku Umar dan Tjut Nyak Dien.

Dalam perjalanan berbangsa, salah satu bentuk penghargaan pada nilai-nilai kejuangan dan kepahlawanan Aceh bisa kita lihat dari penamaan kapal perang (KRI).  Aceh mendapat porsi lebih banyak dalam alokasi penamaan kapal perang RI.  Ada KRI Sultan Iskandar Muda, ada KRI Malahayati, ada KRI Teuku Umar, ada KRI Cut Nyak Dien, juga ada KRI Rencong.  Semua kapal perang itu berkualifikasi striking force.  Sementara untuk kapal perang kelas LPD yang modern dari 4 KRI LPD yang dimiliki TNI AL salah satunya bernama KRI Banda Aceh.  Bandingkan dengan Sumut dan Sumbar yang hanya mendapat “jatah” 1 nama KRI striking force yaitu KRI Oswald Siahaan untuk Sumut dan KRI Imam Bonjol untuk Sumbar.
Skuadron Jet Tempur Hawk200
Dalam beberapa tulisan terdahulu kita berpandangan sudah sepantasnya di Aceh ada minimal penugasan 1 flight Hawk yang berpangkalan di Pekanbaru. Maksudnya sekali-kali ada 1 flight Hawk yang menghadirkan diri di angkasa Aceh untuk menyuarakan kegemuruhan kedaulatan NKRI dalam rutinitas keseharian. Sebab dari semua tontonan dan atraksi militer yang disajikan apakah melalui latihan atau parade militer, gemuruh dan manuver jet tempur merupakan kebanggaan yang mampu mengepalkan harga diri pada nilai kedaulatan berkebangsaan. Deru jet tempur yang membahana di ruang udara diyakini merupakan representasi dari kewibawaan kedaulatan bernegara disamping unjuk tampil Main Battle Tank, Peluru Kendali Jarak Jauh dan Kapal Selam.

Air Force Base Pekanbaru akan ada isian skuadron F16 mulai tahun depan. Nah, biar gak rame ditumpuk di satu pangkalan diurai dong. Pucuk dicinta ulam tiba, belum sepekan Panglima Moeldoko menjabat, sudah langsung “menggenggam” Aceh sembari bersabda bersama Menhan bahwa di Aceh akan ada skuadron penuh Hawk relokasi dari Pekanbaru, markas Kogabwilhan dan pengembangan pangkalan utama TNI AL Lhok Seumawe.  Jadi untuk matra udara garis lurusnya makin jelas, ada skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru, ada skuadron pesawat pengintai di Medan dan ada skuadron jet tempur Hawk di Lhok Seumawe.

Sebagai wilayah perbatasan meski tidak berstatus border land, kehadiran pengawal republik di tanah rencong merupakan kepantasan yang harus ditingkatkan bersama daerah lain yang juga punya garis batas negara seperti Kalbar, Kaltim, NTT dan Papua.  Kehadiran tentara juga harus diikuti dengan dukungan sejumlah alutsista strategis seperti jet tempur, kapal perang, rudal dan tank.  Disamping itu penguatan kualitas tempur pasukan darat perlu ditingkatkan dengan menjadikannya sebagai batalyon raider yang mempunyai kualifikasi perang konvensional, perang kota dan perang anti teror. 
Yang di depan KRI Sigma, di belakang KRI LPD
Sebagai daerah yang pernah mengalami konflik berkepanjangan, menjaga perdamaian di bumi Serambi Mekkah ini memerlukan payung pelindung dan penjaga kewibawaan kedaulatan NKRI. Tidak hanya itu, kawalan terhadap pintu utara Selat Malaka memerlukan kehadiran angkatan laut yang berwibawa.  Karena di mulut itu ada sedikitnya tiga negara yang saling bersinggungan perbatasan dengan kita,  Malaysia, Thailand dan India.  Kehadiran kapal-kapal perang RI secara permanen di kawasan itu merupakan bagian dari mewibawakan teritori laut di jalur strategis itu.

Kehadiran militer dan alutsista segala matra di Aceh merupakan bagian dari strategi pemerataan kekuatan pukul TNI.  Tidak hanya Aceh, hampir semua gelar pasukan dan alutsista mulai dialokasikan ke seluruh wilayah tanah air.  Gelar satuan marinir setingkat divisi di Papua sedang dilaksanakan, juga di Batam dengan kekuatan satu batalyon.  Alokasi skuadron Heli tempur di Berau, Baturaja dan Papua.  Kemudian penambahan batalyon tempur di Kalimantan, penambahan dan alokasi skuadron TNI AU, penambahan dan pergeseran pangkalan TNI AL semuanya sedang giat dilakukan. 

Yang perlu dicatat di Aceh tidak ada penambahan pasukan TNI.  Yang ada adalah peningkatan kualifikasi satuan tempur pemukul organik dan penambahan alutsistanya. Kita bersemangat untuk mendukung kebijakan menghadirkan secara permanen 1 skuadron Hawk di Aceh. Ini semua di lakukan untuk merajut Aceh dan menggemuruhkan kewibawaan NKRI.  Bahkan sekali-sekali di bumi Aceh perlu dikunjungi minimal 1 flight jet tempur Sukhoi, atau F16 sebagai bagian dari jelajah kawal nusantara.  Khusus untuk Sukhoi sangat perlu melakukan safari jarak jauh ke Sumatera minimal setahun sekali. Gemuruhnya diyakini akan mampu menghangatkan adrenalin semangat berbangsa. Tidak hanya, itu bukankah di samping Sumatera ada tetangga sebelah yang selalu meributkan Ambalat.  Sesekali perlu show of force mulai dari Aceh sampai Riau, bukankah begitu.
****
Jagvane / 25 Sept 2013

Monday, September 16, 2013

Menjelang Kunjungan PM Rutte



Akhir Agustus 2013 ada kabar luka sejarah dari DenHaag dengan statemen PM Belanda Mark Rutte bahwa Belanda akan meminta maaf kepada Pemerintah Indonesia sehubungan dengan kasus pembantaian massal yang dilakukan negeri itu dalam perang kemerdekaan RI tahun 1945-1949 khususnya kebuasan Westerling. Berita ini menyebarkan ingatan sejarah pada cerita kejam yang dilakukan Belanda dalam upaya memuaskan libido menjajahnya yang tak kunjung orgasme setelah lebih tiga abad memperkosa harga diri bangsa Indonesia. Permintaan maaf itu direalisasikan secara resmi tanggal 12 September 2013 melalui Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd Feico de Zwaan di Jakarta.

Kalau ingin diurut ini adalah kekalahan seri keenam dari penjajah paling tidak bermutu sedunia itu terkait dengan rangkaian episode perjalanan bangsa berdaulat penuh Republik Indonesia. Yang pertama pengakuan dan penyerahan kedaulatan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia tanggal 27 Desember 1949.  Kemudian kekalahan penalti diplomatik Belanda lewat ancaman militer RI yang kuat pada saat Trikora sehingga Papua kembali. Ketiga adalah kekalahan keangkuhan “tuan tanah kedaung” Mr Pronk yang merasa menjadi “tuan dermawan” lewat IGGI. Pak Harto membubarkan IGGI pada bulan Maret 1992 dan menggantinya dengan CGI tanpa ada Belanda lagi. 
1 dari 4 KRI Diponegoro Class buatan Belanda
Seri berikutnya, yang keempat adalah menerima secara politis dan moral pengakuan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan Belanda tanggal 16 Agustus 2005. Selama 60 tahun Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949.  Sebagai penghormatan pengakuan itu Belanda mengirim Menlunya Ke Indonesia untuk mengikuti upacara HUT Proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2005 di Istana Negara. Yang kelima adalah pengakuan kesalahan atas tragedi Rawa Gede dan yang terakhir ini yang lebih seram pengakuan kesalahan atas tragedi pembantaian Westerling di Sulsel.

PM Belanda Rutte dengan delegasi besarnya akan berkunjung ke Indonesia minggu ketiga Nopember 2013. Formula langkah diplomatik yang dilakukan Belanda ini diyakini sebagai pemanis rasa dari pahitnya hubungan persahabatan kedua negara selama beberapa tahun terakhir ini. Kita mencatat gagalnya kunjungan Presiden SBY awal Oktober 2010 karena provokasi Wilders dan RMS. Catatan lain adalah ketika RI hendak bertransaksi bisnis alutsista untuk membeli tank Leopard, transaksi itu dikaitkan dengan urusan HAM.  Akhirnya RI berpaling ke Jerman sambil berujar: emang lu siape.

Tentu kunjungan PM Belanda akan kita sambut dengan baik sebagai tanda bangsa ini bermartabat dan menghargai tamu.  Kita meyakini disamping ada upaya mencari simpati Indonesia untuk kerjasama ekonomi dalam arti luas, keinginan untuk bekerjasama dalam bidang militer sangat kuat auranya. Sepanjang tidak mengkait-kaitkan transaksi bisnis dengan persyaratan mendikte HAM dan urusan dalam negeri bangsa ini, kita bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dan bicara apa saja yang saling menguntungkan.  Bukankah itu fundamen dasar dalam membangun dan mengelola hubungan antar negara.

Belanda disinyalir terlambat memahami tentang potensi kekuatan yang dimiliki Indonesia atau terperangkap oleh gengsi diri sebagai kolonial berpangkat briptu. Maksudnya dia masih merasa sebagai perwira tinggi yang mau mengatur-atur urusan dalam negeri Indonesia sebagaimana dulu ketika masih menjajah negeri ini. Padahal untuk urusan jajah menjajah negeri bawah laut itu tidak membawa nilai apapun bagi bekas jajahanya, Indonesia.  Bandingkan dengan Inggris atau Spanyol. Terhadap negeri–negeri jajahannya dulu Inggris mampu mengakhirinya dengan cara baik-baik dan elegan. Memberi kemerdekaan dan kemudian bekas jajahannya dikenal dengan grup persemakmuran.  Spanyol, tidak sekedar menjajah tetapi mampu berinteraksi dan memberikan warna dengan warga dan kultur jajahannya.  Bekas jajahan Spanyol kita lihat mayoritas agamanya sama, bahkan nama orangnya pun ikut nama Spanyol, contoh nama orang-orang Filipina.
Sebagian daftar belanja alutsista RI, Belanda ada kok
Tetapi ada sebuah “nilai tambah” yang bisa menjadi sebuah “penghargaan” dalam bentuk lain untuk wong londo iki.  Nilai tambah itu adalah sebagai lawan tanding RI dalam perang kemerdekaan 1945-1949.  Kompor nasionalisme untuk pejuang republik adalah si Belanda itu.  Bangkitnya semangat patriotik dan nasionalisme bangsa ini karena ngeyelnya si penjajah itu.  Sehingga perjuangan yang berdarah-darah, bahu membahu seluruh laskar bersenjata RI dan rakyat yang memberikan dukungan logistik dan moril menumbuhkembangkan jati diri berbangsa, mempertaruhkan segalanya.  Dan itulah keampuhan bangsa ini sampai sekarang, nasionalisme dan jiwa patriotik.

Fakta tak terbantahkan beberapa tahun ini, belanja alutsista RI yang besar, pasar ekonomi dengan kekayaan sumber daya alam yang menggiurkan, kekuatan daya beli, pertumbuhan ekonomi yang jelas berkelas, boleh jadi adalah hasrat yang ingin dilunasi Belanda untuk menarik dua tiga sendok madu dari republik ini.  Kegagalan mendapatkan US $280 juta dari transaksi tank Leopard bekas karena arogansi atas nama kebebasan berpendapat bisa saja akan “dihidupkan” kembali. Lebih dari itu jika saja Belanda mau memahami cara pandang Indonesia khususnya dalam pola pengadaan alutsista, tidak sulit mengajak delegasi bisnisnya untuk bermurah ilmu, membagi teknologi. 

Bukankah hubungan historis “sebab akibat” Belanda-Indonesia dimasa lalu yang hitam itu bisa “dibayar sebagian” dengan balas jasa teknologi militer berlabel simpati. Saatnya lah Meneer membayar sebagian luka sejarah itu dengan memberi simpati, menawarkan teknologi militer dan teknologi-teknologi yang lain untuk kebaikan dan kemajuan bangsa ini.  Itu pun kita tak memaksa karena kita toh sudah mampu berdiri dan berlari menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Kita sedang menuju kelas negara berpenghasilan menengah, ekonomi kita 16 besar dunia mengungguli Belanda, anggota G20 Belanda tidak.

Kalau boleh jujur sesungguhnya hubungan persahabatan dengan Belanda lebih pada hubungan historis, tidak berpengaruh banyak pada hubungan ekonomi.   Posisi kekuatan ekonomi, kekuatan pasar Indonesia dan potensi kekuatan sumber daya alam Indonesia yang mengungguli Belanda, itulah sejatinya kekuatan tawar yang dimiliki Indonesia saat ini.  Dan pada posisi itulah PM Belanda akan berkunjung ke tanah air. Saatnya menegakkan kepala dan membusungkan dada tapi jangan lupa dengan senyum dan keramahan yang merupakan jati diri bangsa ini. Selamat datang Meneer.
****
Jagvane/16 Sep 2013

Wednesday, September 4, 2013

Membangun Rasa Percaya Diri



Sebagai pencinta republik banyak diantara kita merasa under estimate terhadap potensi kekuatan bangsa ini.  Sebagai contoh ketika situs militer terkenal dari luar sana mengabarkan ranking kekuatan militer Indonesia yang menduduki 16 besar dunia, banyak yang tidak meyakininya.  Padahal seluruh indikator yang membangun rangka kekuatan militer dalam penyusunan ranking itu memang merupakan elemen yang memajukan potensi kekuatan militer.  Misalnya potensi sumber daya manusia, sumber daya alam yang besar, kekuatan daya beli yang lebih dikenal dengan APBN dan produk domestik bruto.

Kemudian jika ada jiran yang mau beli alutsista, muncul perasaan minder seakan kita tidak punya daya dan gaya dalam menampilkan militer kita.  Yang lebih aneh lagi ketika daftar belanja alutsista kita selama 4 tahun terakhir yang merupakan belanja terbesar setelah era Dwikora digelar dan barangnya sudah mulai datang satu persatu, masih ada saja yang mengatakan dengan nada pesimis bahwa barang yang diadakan dan yang didatangkan itu sesungguhnya “tidak nendang”.
Satgas Bansos TNI AL saat ini sedang menjelajah pulau terpencil di NTT
Misalnya forum militer dari jamaah aliran penentang “bekasiyah” atau “hibaiyah”, maksudnya tentang alutsista bekas dan hibah seperti 24 jet tempur F16 dianggap tidak memberikan efek gentar.  Padahal jet tempur bekas pakai angkatan udara AS ini sesungguhnya diperbaharui lebih dulu sebelum dikirim ke Indonesia tahun 2014 nanti.  Sampai saat ini F16 merupakan alutsista yang tetap diperhitungkan di seluruh dunia.  Disamping itu kita kan juga sudah punya 1 skuadron jet tempur kelas berat Sukhoi yang menjadi tamu kehormatan dalam Pitch Black di Australia beberapa bulan lalu. Artinya tetangga saja sudah mulai menyadari kebangkitan militer Indonesia

Pertanyaannya mengapa kita selalu merasa pesimis dan apatis terhadap segala hal termasuk tentang militer kita. Peran media sedikit banyak memberikan “arahan” tentang mekanisme pola pikir berbangsa.  Media dengan kebebasan mutlaknya lebih menyajikan porsi dominan tentang peristiwa “laku jual”, maksudnya kalau ada cerita tentang korupsi, ketidakpastian hukum, berita kriminal, perilaku Parlemen sangat cepat disiarkan kalau perlu breaking news atau live.  Tetapi jika ada berita penting tentang kemajuan dan prestasi membangun, porsinya hanya sebatas memberitakan, tidak ada bumbu penyedap, tidak ada dialog interaktif misalnya tentang operasionalisasi bandara Kuala Namu yang megah itu, atau keberhasilan PT KAI melaksanakan angkutan lebaran, keberhasilan Polisi mengamankan jalur lebaran, prestasi TNI dalam berbagai lomba ketangkasan regional sebagai juara umum, prestasi TNI dalam misi perdamaian UN di Libanon dan tempat lain.

Termasuk pula upaya MPR untuk menanamkan semangat ber NKRI dengan pola 4 pilarnya yang digemakan terus menerus.  Prestasi anak-anak Indonesia di gelanggang olimpiade ilmu pengetahuan, pendapatan per kapita yang sudah mencapai US$ 3.800,-  PDB no 16 besar dunia.  Menu yang tersaji dan terbukti sebagai langkah maju dianggap tidak penting oleh media sehingga pola pikir yang terbentuk selalu suuzon dan tak percaya.  Meski menjadi berita prestasi tetapi tanggapannya selalu ada kalimat bersayap, ah paling karena ini karena itu.
Panglima tertinggi on the spot menuju Latgab 2013
Membangun rasa percaya diri pada segenap komponen anak bangsa adalah bagaimana sesungguhnya kemampuan bangsa ini dalam melangkah dan menapaki jalannya.  Media sebagai jembatan komunikasi berperan besar untuk menyampaikan pesan itu. Tetapi yang terurai lebih pada persepsi negatif misalnya ketika sebuah media layar kaca menyampaikan editorialnya tentang pembelian helikopter serang Apache. Kurangnya pemahaman tentang bangunan konsep dan strategi pertahanan, hanya melihat angka US$ 500 juta lalu memandang pembelian Apache sebagai pemborosan.

Mestinya jika melihat situasi kawasan yang begitu dinamis, Laut Cina Selatan yang demam terus, adanya pangkalan militer AS di Darwin, Cocos dan Singapura, sengketa Ambalat, mengamankan ALKI maka mengeluarkan angaran belanja alutsista adalah kewajiban untuk mewibawakan postur pertahanan.  Memang diprediksi tidak terjadi perang terbuka dalam sepuluh tahun ke depan tetapi jangan lupa postur militer kita yang kuat justru akan menjadi benteng pertahanan yang ampuh manakala terjadi sesuatu yang tak kita inginkan.  Atau postur militer yang kuat itu memberikan rasa segan untuk berkonfrontasi.  Artinya menjaga untuk tidak terjadi perang.

Beberapa jenis alutsista yang kita pesan sudah mulai berdatangan dan akan terus berdatangan.  Dan kita (InsyaAllah) tidak akan berhenti sampai disitu.  Dalam program MEF tahap kedua (2015-2019) sangat diyakini kita akan mendatangkan berbagai alat pukul strategis dan mematikan seperti 10 kapal selam Rusia, jaringan sistem pertahanan udara jarak sedang, jet tempur kelas berat.  Termasuk mulai memproduksi rudal dan roket, tank medium dan kapal perusak kawal rudal.

Tentu semua itu seiring dengan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi kita yang  semakin baik.  Jika kita selalu mendoakan dengan lantunan rasa syukur sebagai anak bangsa dan kemajuan dalam langkah bersama untuk menjalani hari-hari berbangsa dalam berbagai aktivitas termasuk mendoakan pengawal republik, niscaya energi positif yang dikumandangkan terus menerus itu akan menjadi kenyataan.  Diakui yang masih kurang dalam etika berbangsa ini adalah korupsi yang masih menjadi tetanus bangsa dan ketidakpastian penegakan hukum yang dipertontonkan. Namun diluar itu banyak yang sudah dicapai termasuk menyandangkan baju alutsista yang lebih baru dan modern.  Untuk itu marilah kita secara akal budi dan logika cara pandang, membangun rasa percaya diri dan mensyukuri masih dikunjungi sinar matahari pagi yang hangat nan indah.
****
Jagvane / 04 Sep 2013