Monday, September 16, 2013

Menjelang Kunjungan PM Rutte



Akhir Agustus 2013 ada kabar luka sejarah dari DenHaag dengan statemen PM Belanda Mark Rutte bahwa Belanda akan meminta maaf kepada Pemerintah Indonesia sehubungan dengan kasus pembantaian massal yang dilakukan negeri itu dalam perang kemerdekaan RI tahun 1945-1949 khususnya kebuasan Westerling. Berita ini menyebarkan ingatan sejarah pada cerita kejam yang dilakukan Belanda dalam upaya memuaskan libido menjajahnya yang tak kunjung orgasme setelah lebih tiga abad memperkosa harga diri bangsa Indonesia. Permintaan maaf itu direalisasikan secara resmi tanggal 12 September 2013 melalui Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd Feico de Zwaan di Jakarta.

Kalau ingin diurut ini adalah kekalahan seri keenam dari penjajah paling tidak bermutu sedunia itu terkait dengan rangkaian episode perjalanan bangsa berdaulat penuh Republik Indonesia. Yang pertama pengakuan dan penyerahan kedaulatan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia tanggal 27 Desember 1949.  Kemudian kekalahan penalti diplomatik Belanda lewat ancaman militer RI yang kuat pada saat Trikora sehingga Papua kembali. Ketiga adalah kekalahan keangkuhan “tuan tanah kedaung” Mr Pronk yang merasa menjadi “tuan dermawan” lewat IGGI. Pak Harto membubarkan IGGI pada bulan Maret 1992 dan menggantinya dengan CGI tanpa ada Belanda lagi. 
1 dari 4 KRI Diponegoro Class buatan Belanda
Seri berikutnya, yang keempat adalah menerima secara politis dan moral pengakuan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan Belanda tanggal 16 Agustus 2005. Selama 60 tahun Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949.  Sebagai penghormatan pengakuan itu Belanda mengirim Menlunya Ke Indonesia untuk mengikuti upacara HUT Proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2005 di Istana Negara. Yang kelima adalah pengakuan kesalahan atas tragedi Rawa Gede dan yang terakhir ini yang lebih seram pengakuan kesalahan atas tragedi pembantaian Westerling di Sulsel.

PM Belanda Rutte dengan delegasi besarnya akan berkunjung ke Indonesia minggu ketiga Nopember 2013. Formula langkah diplomatik yang dilakukan Belanda ini diyakini sebagai pemanis rasa dari pahitnya hubungan persahabatan kedua negara selama beberapa tahun terakhir ini. Kita mencatat gagalnya kunjungan Presiden SBY awal Oktober 2010 karena provokasi Wilders dan RMS. Catatan lain adalah ketika RI hendak bertransaksi bisnis alutsista untuk membeli tank Leopard, transaksi itu dikaitkan dengan urusan HAM.  Akhirnya RI berpaling ke Jerman sambil berujar: emang lu siape.

Tentu kunjungan PM Belanda akan kita sambut dengan baik sebagai tanda bangsa ini bermartabat dan menghargai tamu.  Kita meyakini disamping ada upaya mencari simpati Indonesia untuk kerjasama ekonomi dalam arti luas, keinginan untuk bekerjasama dalam bidang militer sangat kuat auranya. Sepanjang tidak mengkait-kaitkan transaksi bisnis dengan persyaratan mendikte HAM dan urusan dalam negeri bangsa ini, kita bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dan bicara apa saja yang saling menguntungkan.  Bukankah itu fundamen dasar dalam membangun dan mengelola hubungan antar negara.

Belanda disinyalir terlambat memahami tentang potensi kekuatan yang dimiliki Indonesia atau terperangkap oleh gengsi diri sebagai kolonial berpangkat briptu. Maksudnya dia masih merasa sebagai perwira tinggi yang mau mengatur-atur urusan dalam negeri Indonesia sebagaimana dulu ketika masih menjajah negeri ini. Padahal untuk urusan jajah menjajah negeri bawah laut itu tidak membawa nilai apapun bagi bekas jajahanya, Indonesia.  Bandingkan dengan Inggris atau Spanyol. Terhadap negeri–negeri jajahannya dulu Inggris mampu mengakhirinya dengan cara baik-baik dan elegan. Memberi kemerdekaan dan kemudian bekas jajahannya dikenal dengan grup persemakmuran.  Spanyol, tidak sekedar menjajah tetapi mampu berinteraksi dan memberikan warna dengan warga dan kultur jajahannya.  Bekas jajahan Spanyol kita lihat mayoritas agamanya sama, bahkan nama orangnya pun ikut nama Spanyol, contoh nama orang-orang Filipina.
Sebagian daftar belanja alutsista RI, Belanda ada kok
Tetapi ada sebuah “nilai tambah” yang bisa menjadi sebuah “penghargaan” dalam bentuk lain untuk wong londo iki.  Nilai tambah itu adalah sebagai lawan tanding RI dalam perang kemerdekaan 1945-1949.  Kompor nasionalisme untuk pejuang republik adalah si Belanda itu.  Bangkitnya semangat patriotik dan nasionalisme bangsa ini karena ngeyelnya si penjajah itu.  Sehingga perjuangan yang berdarah-darah, bahu membahu seluruh laskar bersenjata RI dan rakyat yang memberikan dukungan logistik dan moril menumbuhkembangkan jati diri berbangsa, mempertaruhkan segalanya.  Dan itulah keampuhan bangsa ini sampai sekarang, nasionalisme dan jiwa patriotik.

Fakta tak terbantahkan beberapa tahun ini, belanja alutsista RI yang besar, pasar ekonomi dengan kekayaan sumber daya alam yang menggiurkan, kekuatan daya beli, pertumbuhan ekonomi yang jelas berkelas, boleh jadi adalah hasrat yang ingin dilunasi Belanda untuk menarik dua tiga sendok madu dari republik ini.  Kegagalan mendapatkan US $280 juta dari transaksi tank Leopard bekas karena arogansi atas nama kebebasan berpendapat bisa saja akan “dihidupkan” kembali. Lebih dari itu jika saja Belanda mau memahami cara pandang Indonesia khususnya dalam pola pengadaan alutsista, tidak sulit mengajak delegasi bisnisnya untuk bermurah ilmu, membagi teknologi. 

Bukankah hubungan historis “sebab akibat” Belanda-Indonesia dimasa lalu yang hitam itu bisa “dibayar sebagian” dengan balas jasa teknologi militer berlabel simpati. Saatnya lah Meneer membayar sebagian luka sejarah itu dengan memberi simpati, menawarkan teknologi militer dan teknologi-teknologi yang lain untuk kebaikan dan kemajuan bangsa ini.  Itu pun kita tak memaksa karena kita toh sudah mampu berdiri dan berlari menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Kita sedang menuju kelas negara berpenghasilan menengah, ekonomi kita 16 besar dunia mengungguli Belanda, anggota G20 Belanda tidak.

Kalau boleh jujur sesungguhnya hubungan persahabatan dengan Belanda lebih pada hubungan historis, tidak berpengaruh banyak pada hubungan ekonomi.   Posisi kekuatan ekonomi, kekuatan pasar Indonesia dan potensi kekuatan sumber daya alam Indonesia yang mengungguli Belanda, itulah sejatinya kekuatan tawar yang dimiliki Indonesia saat ini.  Dan pada posisi itulah PM Belanda akan berkunjung ke tanah air. Saatnya menegakkan kepala dan membusungkan dada tapi jangan lupa dengan senyum dan keramahan yang merupakan jati diri bangsa ini. Selamat datang Meneer.
****
Jagvane/16 Sep 2013

Wednesday, September 4, 2013

Membangun Rasa Percaya Diri



Sebagai pencinta republik banyak diantara kita merasa under estimate terhadap potensi kekuatan bangsa ini.  Sebagai contoh ketika situs militer terkenal dari luar sana mengabarkan ranking kekuatan militer Indonesia yang menduduki 16 besar dunia, banyak yang tidak meyakininya.  Padahal seluruh indikator yang membangun rangka kekuatan militer dalam penyusunan ranking itu memang merupakan elemen yang memajukan potensi kekuatan militer.  Misalnya potensi sumber daya manusia, sumber daya alam yang besar, kekuatan daya beli yang lebih dikenal dengan APBN dan produk domestik bruto.

Kemudian jika ada jiran yang mau beli alutsista, muncul perasaan minder seakan kita tidak punya daya dan gaya dalam menampilkan militer kita.  Yang lebih aneh lagi ketika daftar belanja alutsista kita selama 4 tahun terakhir yang merupakan belanja terbesar setelah era Dwikora digelar dan barangnya sudah mulai datang satu persatu, masih ada saja yang mengatakan dengan nada pesimis bahwa barang yang diadakan dan yang didatangkan itu sesungguhnya “tidak nendang”.
Satgas Bansos TNI AL saat ini sedang menjelajah pulau terpencil di NTT
Misalnya forum militer dari jamaah aliran penentang “bekasiyah” atau “hibaiyah”, maksudnya tentang alutsista bekas dan hibah seperti 24 jet tempur F16 dianggap tidak memberikan efek gentar.  Padahal jet tempur bekas pakai angkatan udara AS ini sesungguhnya diperbaharui lebih dulu sebelum dikirim ke Indonesia tahun 2014 nanti.  Sampai saat ini F16 merupakan alutsista yang tetap diperhitungkan di seluruh dunia.  Disamping itu kita kan juga sudah punya 1 skuadron jet tempur kelas berat Sukhoi yang menjadi tamu kehormatan dalam Pitch Black di Australia beberapa bulan lalu. Artinya tetangga saja sudah mulai menyadari kebangkitan militer Indonesia

Pertanyaannya mengapa kita selalu merasa pesimis dan apatis terhadap segala hal termasuk tentang militer kita. Peran media sedikit banyak memberikan “arahan” tentang mekanisme pola pikir berbangsa.  Media dengan kebebasan mutlaknya lebih menyajikan porsi dominan tentang peristiwa “laku jual”, maksudnya kalau ada cerita tentang korupsi, ketidakpastian hukum, berita kriminal, perilaku Parlemen sangat cepat disiarkan kalau perlu breaking news atau live.  Tetapi jika ada berita penting tentang kemajuan dan prestasi membangun, porsinya hanya sebatas memberitakan, tidak ada bumbu penyedap, tidak ada dialog interaktif misalnya tentang operasionalisasi bandara Kuala Namu yang megah itu, atau keberhasilan PT KAI melaksanakan angkutan lebaran, keberhasilan Polisi mengamankan jalur lebaran, prestasi TNI dalam berbagai lomba ketangkasan regional sebagai juara umum, prestasi TNI dalam misi perdamaian UN di Libanon dan tempat lain.

Termasuk pula upaya MPR untuk menanamkan semangat ber NKRI dengan pola 4 pilarnya yang digemakan terus menerus.  Prestasi anak-anak Indonesia di gelanggang olimpiade ilmu pengetahuan, pendapatan per kapita yang sudah mencapai US$ 3.800,-  PDB no 16 besar dunia.  Menu yang tersaji dan terbukti sebagai langkah maju dianggap tidak penting oleh media sehingga pola pikir yang terbentuk selalu suuzon dan tak percaya.  Meski menjadi berita prestasi tetapi tanggapannya selalu ada kalimat bersayap, ah paling karena ini karena itu.
Panglima tertinggi on the spot menuju Latgab 2013
Membangun rasa percaya diri pada segenap komponen anak bangsa adalah bagaimana sesungguhnya kemampuan bangsa ini dalam melangkah dan menapaki jalannya.  Media sebagai jembatan komunikasi berperan besar untuk menyampaikan pesan itu. Tetapi yang terurai lebih pada persepsi negatif misalnya ketika sebuah media layar kaca menyampaikan editorialnya tentang pembelian helikopter serang Apache. Kurangnya pemahaman tentang bangunan konsep dan strategi pertahanan, hanya melihat angka US$ 500 juta lalu memandang pembelian Apache sebagai pemborosan.

Mestinya jika melihat situasi kawasan yang begitu dinamis, Laut Cina Selatan yang demam terus, adanya pangkalan militer AS di Darwin, Cocos dan Singapura, sengketa Ambalat, mengamankan ALKI maka mengeluarkan angaran belanja alutsista adalah kewajiban untuk mewibawakan postur pertahanan.  Memang diprediksi tidak terjadi perang terbuka dalam sepuluh tahun ke depan tetapi jangan lupa postur militer kita yang kuat justru akan menjadi benteng pertahanan yang ampuh manakala terjadi sesuatu yang tak kita inginkan.  Atau postur militer yang kuat itu memberikan rasa segan untuk berkonfrontasi.  Artinya menjaga untuk tidak terjadi perang.

Beberapa jenis alutsista yang kita pesan sudah mulai berdatangan dan akan terus berdatangan.  Dan kita (InsyaAllah) tidak akan berhenti sampai disitu.  Dalam program MEF tahap kedua (2015-2019) sangat diyakini kita akan mendatangkan berbagai alat pukul strategis dan mematikan seperti 10 kapal selam Rusia, jaringan sistem pertahanan udara jarak sedang, jet tempur kelas berat.  Termasuk mulai memproduksi rudal dan roket, tank medium dan kapal perusak kawal rudal.

Tentu semua itu seiring dengan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi kita yang  semakin baik.  Jika kita selalu mendoakan dengan lantunan rasa syukur sebagai anak bangsa dan kemajuan dalam langkah bersama untuk menjalani hari-hari berbangsa dalam berbagai aktivitas termasuk mendoakan pengawal republik, niscaya energi positif yang dikumandangkan terus menerus itu akan menjadi kenyataan.  Diakui yang masih kurang dalam etika berbangsa ini adalah korupsi yang masih menjadi tetanus bangsa dan ketidakpastian penegakan hukum yang dipertontonkan. Namun diluar itu banyak yang sudah dicapai termasuk menyandangkan baju alutsista yang lebih baru dan modern.  Untuk itu marilah kita secara akal budi dan logika cara pandang, membangun rasa percaya diri dan mensyukuri masih dikunjungi sinar matahari pagi yang hangat nan indah.
****
Jagvane / 04 Sep 2013

Tuesday, August 27, 2013

TAWARAN YANG MENDEBARKAN



Tepat di perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2013, Menhan Purnomo Yusgiantoro menghentak publik tanah air khususnya seluruh komunitas forum militer di negeri ini dengan mengumumkan adanya penawaran 10 kapal selam bekas Rusia kepada Indonesia. Inilah tawaran paling spektakuler dari perjalanan perkuatan alutsista TNI sejak tahun 2010 karena yang ditawarkan adalah alutsista bawah air yang paling ditakuti dan memiliki efek gentar yang luar biasa.

Indonesia merasa sangat perlu untuk menambah kuantitas kapal perang pemukul bawah air.  Selama ini kepemilikan alutsista strategis  itu kita hanya punya  2 biji dari Cakra Class, setidaknya itu yang terpublikasi.  Sementara negara jiran Vietnam sebentar lagi memiliki 6 kapal selam Kilo dari Rusia.  Malaysia sudah punya 2 Scorpene berencana menambah 2 lagi. Singapura punya 6 kapal selam eks Swedia dan berencana menambah 4 unit lagi.  Australia dengan 6 Collins Classnya dan sedang mempersiapkan kapal selam tercanggihnya. Belum lagi bicara tentang punya Cina yang belakangan ini menjadi penganggu ketenteraman Laut Cina Selatan.
KRI Cakra melakukan patroli di laut Ambalat
Logikanya sederhana.  Jika memang sekarang kita punya 2 kapal selam lalu 3 tahun ke depan ada tambahan 3 kapal selam jenis Changbogo dari Korsel, artinya tahun 2018 kita punya 5 kapal selam.  Tetapi sesungguhnya 2 kapal selam kelas Cakra pada saat itu sudah uzur dan perlu rawat inap lagi atau di museumkan saja.  Jadi jumlah efektifnya tak beranjak dari 2-3 kapal selam padahal pada saat yang sama kekhawatiran tentang situasi kawasan “muka belakang” halaman rumah RI makin dinamis dan perlu penjagaan lebih ketat.

Belum lagi menjaga Ambalat yang belakangan ini diganggu manuver kapal selam tetangga. Belum lagi mewaspadai gerakan kapal selam Singapura yang teritori lautnya sempit.  Sangat diyakini gerakan kapal selam Singapura selama ini selalu memasuki teritori laut Indonesia.  Jadi selain perkuatan armada kapal selam perlu juga pangkalan kapal selam di Dumai Riau selain Teluk Palu dan Surabaya. Sebagaimana skenario sebelum krisis ekonomi 1997 ketika kita hendak membeli 5 kapal selam bekas pakai Jerman U-206 yang cocok untuk perairan dangkal.  Sayang tidak jadi beli karena krisis itu.

Memang harus ada pintu lain untuk percepatan target perolehan 12 kapal selam pada tahun 2020.  Oleh sebab itu tawaran Rusia merupakan hal yang menggembirakan karena untuk urusan kapal selam Rusia merupakan produsen yang disegani kualitas produknya.  Ingat sejarah Trikora dulu, kehadiran 12 kapal selam Whiskey Class Rusia di Indonesia membuat Belanda terpaksa angkat kaki dari Papua.  Teknologi kapal selam Rusia sampai saat ini diakui adalah yang paling senyap didunia.

Yang menarik dari tawaran 10 kapal selam Rusia ini adalah “cerita-cerita” sebelumnya sehingga menimbulkan berbagai spekulasi. Seperti diketahui beberapa tahun silam Presiden Vladimir Putin menyetujui pemberian pinjaman dana Kredit State untuk pembelian alutsista sebesar US$ 1 milyar kepada Indonesia.  Nah yang 300 juta dollar itu sudah dibelanjakan alutsista made in Rusia berupa Tank Amfibi BMP3F, persenjataan Sukhoi dan suku cadangnya. 
Kapal selam jenis Amur buatan Rusia
Sisanya yang 700 juta dollar anehnya tidak boleh dibelikan alutsista lain selain sosok kapal selam, itu persyaratannya. Skenarionya yang 700 juta dollar itu merupakan jatah 2 kapal selam “herder” jenis Kilo.  Tetapi berdasarkan pengumuman, pemerintah Indonesia tidak jadi membeli 2 Kilo karena yang menang tender tahun 2012 lalu adalah Korsel dengan persetujuan membuat 3 kapal selam “anjing kampung” dengan rincian 1 dibuat Daewoo, 1 dibuat bareng Daewoo dan PAL, 1 lagi dibuat PAL dengan supervisi Daewoo.  Begitu skenario transfer teknologinya.  Rusia mundur dari tender karena ada yang “lucu” disitu. Kan gue yang kasih 700 juta dollar pinjaman untuk 2 kapal selam. Kok pake-pake tender segala sih, kata Paman Beruang Merah.

Tetapi ternyata dalam perjalanan pembuatannya ada klaim dari Jerman sebagai pemilik teknologi U-209 bahwa negeri itu hanya memberi lisensi pada Turki, bukan Korsel sehingga perjalanan pembuatan kapal selam Changbogo yang merupakan fotocopy U-209 tersendat, sebagaimana dinyatakan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq tanggal 19 Agustus 2013 yang lalu.  Sehingga tawaran 10 kapal selam itu perlu dikaji lebih lanjut tentu dengan aroma tak perlu mempersulit minimal soal anggarannya. Jika disetujui baru bisa direalisasikan after 2014 atau MEF tahap II.  Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa Ketua Komisi I DPR langsung mendukung, biasanya selalu ada klarifikasi dulu, atau mempertanyakan atau mengadakan rapat bareng atau “perlawanan ala kadarnya”.

Spekulasi yang berkembang boleh jadi pembuatan kapal selam Kilo terdahulu tetap berjalan tetapi tidak untuk konsumsi publik. Tahun 2009 sudah dimulai pembangunannya sehingga diperkirakan 2 Kilo itu sudah ada di perairan Indonesia saat ini.  Nah untuk menutupi perjalanan masa lalu 2 Kilo itu maka skenario tawaran 10 kapal selam dari jenis Kilo, Amur dan Lada bekas menjadi jalan keluarnya sehingga jika pengadaan 10 kapal selam tadi disetujui sudah “include” 2 Kilo proyek sebelumnya.  Bukankah Wakil Menteri Pertahanan Malaysia belum lama ini sudah berkoar-koar di Parlemennya bahwa Indonesia sudah punya 2 kapal selam buatan Rusia.  Mengapa tidak dibantah.

Asumsi lain adalah jika masing-masing kapal selam yang di upgrade itu memerlukan dana US$ 70 juta maka klop untuk 10 kapal selam dengan kucuran kredit state Rusia yang belum terpakai sebesar US$ 700 juta.  Tetapi angka US$ 70 juta itu rasanya kok belum pantas untuk 1 kapal selam bekas. Minimal diperlukan kisaran angka US$ 100 juta.  Jangan lupa Vladimir Putin kan pernah menjanjikan tambahan Kredit State sebesar US$ 1milyar lagi untuk pengadaan alutsista Indonesia apalagi jika dikaitkan dengan rencana membangun sistem jaringan rudal penangkis serangan udara di sejumlah titik strategis di Indonesia.

Apapun itu, tawaran yang mendebarkan itu selayaknya patut kita apresiasi dan mendukung realisasinya karena kita memang butuh kapal selam lebih banyak untuk mengawal perairan teritori NKRI.  Tentu dengan catatan lebih selektif melihat barangnya, nilai buku dan nilai jual, kepantasan teknologinya, ongkos retrofitnya termasuk biaya pemeliharaan dan ketersediaan awak kapal selam.  Disebut mendebarkan karena tetangga kiri kanan juga ikut berdebar dengan tawaran ini termasuk juga spekulasi kehadiran Kilo, rangkaian proses persetujuan pengadaan, anggaran yang tersedia dan kesamaan pandang Ketua Komisi I DPR dengan Pemerintah yang tiba-tiba bisa seiring sejalan gitu loh.
****
Jagvane / 27 Agustus 2013


Tuesday, August 6, 2013

Mengembangkan Spirit Bertentara



Kepantasan pemerintahan SBY selama 5 tahun terakhir ini yang patut dicatat sebagai nilai cum laude adalah memberikan baju pakaian alutsista layak pakai kepada salah satu pilar penyangga NKRI, Tentara Nasional Indonesia.  Sebelum itu dan juga pemerintah ORBA sebelumnya, perhatian untuk memakaikan pakaian perang yang layak tempur kepada garda republik memang tetap diberikan. Namun semua itu belum mampu menegakkan kegagahan dan kewibawaan tentara kita karena pakaian itu tidak layak disandingkan dalam setiap “festival” alutsista yang ditandingkan.

Tentara sesungguhnya adalah bagian dari naluri bernegara.  Ketika negara ini diproklamirkan 68 tahun yang lalu, tentara rakyat yang kemudian menjelma menjadi tentara nasional adalah kekuatan beton bertulang yang mampu mengawal kibaran merah putih  di seluruh tanah air, meskipun persenjataannya minim. Episode perang kemerdekaan sebagai konsekuansi proklamasi 17 Agusttus 1945 berujung pada kelelahan pihak penjajah sampai akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia akhir Desember 1949.  Bukankah itu hasil perjuangan tentara dan rakyat.
Jejeran Panser Anoa, 300 unit Anoa sudah digenggam TNI
Spirit bertentara sesungguhnya ingin mengajak khalayak untuk mengapresiasi ruang tugas yang diemban tentara kita.  Kebanggaan bertentara diletakkan pada nilai kesediaannya untruk kontrak mati, meletakkan jiwa raga pada pengabdian tugas utama menjaga dan mewibawakan kedaulatan NKRI.  Oleh karena itu jangan sampai ada pemikiran untuk bersu’uzon pada pengawal republik ini karena dinamika kawasan selama ini tidak memberikan kesempatan untuk terjadinya perang antar negara. Jelasnya karena tidak ada perang tidak ada yang dikerjakan. Justru semua orang di dunia ini tidak menginginkan terjadinya perang karena akhirnya akan menyengsarakan nilai eksistensi dan harkat manusia dan negara.

Tentara adalah bagian dari kebersamaan perjalananan semua komponen bangsa untuk membangun dan mensejahterakan rakyat bangsa.  Perjalanan menuju kesejahteraan bangsa ini termasuk bagian dari partisipasi tentara yang selalu mengawal dan menjaganya pada apa yang disebut kedaulatan dan harga diri bangsa.  Nilai itu dalam ukuran persepsi dan perspektif keperansertaan menuju kesejahteraan bangsa seakan tidak merupakan bagian dari substansi.  Namun banyak yang tidak menyadari bahwa  kehadiran peran kesetiaan dan pengawal harga diri kedaulatan yang diemban TNI justru menjadi faktor utama dalam mengiringi tahapan menuju kesejahteraan bangsa.

Natuna dan Ambalat salah satu contohnya.  Kehadiran tentara disana berikut sejumlah alutsistanya  adalah upaya untuk menegaskan bahwa teritori ini dengan sejuta kekayaan sumber daya alamnya adalah bagian dari tubuh kami.  Jangan coba ganggu apalagi ambil kalau tidak ingin bertarung sampai mati.  Ini bagian dari simbol menjaga harkat dan martabat sembari tetap melangkah bersama menuju kesejahteraan bangsa.  Sepintas seperti tidak memberikan nilai kontribusi pada nilai kesejahteraan tetapi kehadiran tentara dengan alutsista yang setara di border negara tentu memberikan nilai tawar bahkan gentar bagi pihak manapun yang ingin menganggu teritori bangsa ini.  Menjaga Natuna dan Ambalat adalah upaya mengawal tingkat kesejahteraan itu.  Bukankah di dua kawasan itu tersimpan potensi energi fosil yang berlimpah.
Kegagahan alutsista Marinir menuju medan latihan
Untuk itu maka perkuatan alutsista TNI bukanlah sesuatu yang mewah dan mengada-ada.  Perkuatan alutsista merupakan kebutuhan mutlak bagi tentara dan negara. Perkuatan ini juga bagian dari upaya memoles nilai diri bangsa terutama terkait dengan posisi diplomatik, posisi hubungan bertetangga dan posisi postur diri dalam berinteraksi secara dinamis.  Jadi tidak semata-mata untuk perang.  Kekuatan tentara dan alutsista sebuah negara bangsa diyakini  mampu meredam keinginan untuk berperang bagi negara mana pun karena daya gentar dan gebraknya.  Lihat saja kekuatan militer AS, siapa sih yang berani mau ngajak perang sama Paman Sam.
Menyongsong peringatan hari kemerdekaan tahun ini, selayaknya kita merenungkan eksistensi perjalanan bangsa ini yang sudah mencapai usia 68 tahun. Peran serta tentara yang selalu setia menjaga harkat dan martabat bangsa dalam dinamika kawasan maupun ambisi separatis dari sekelompok gerakan bersenjata, sudah dibuktikan dan terbukti. Kesetiaan tentara pada negara ini adalah memastikan langkah dan nilai perjalanan bangsa untuk membangun dan mengembangkan rumah tangga Indonesia menuju cita-cita konstitusi yang telah disepakati.

Maka ketika berbagai jenis alutsista mulai berdatangan untuk sebuah kepantasan bagi pengawal republik, sepantasnya pula kita hendak menyatakan bahwa ini bukan kedatangan pertama dan terakhir.  Kita hendak menyampaikan suara mayoritas rakyat yang diyakini bagian dari kecintaan kepada TNI bahwa modernisasi persenjataan TNI harus terus berlanjut meskipun RI-1 berganti figur.  Kedatangan berbagai jenis alutsista yang sudah jauh hari dipesan bukanlah merupakan expense yang membebani negara tetapi justru merupakan investasi dan asset yang mutlak diperlukan untuk mengawal eksistensi bernegara.
Kepedulian RI-1 pada hulubalangnya, TNI
Dinamika kawasan yang mudah tersulut, sikap paranoid AS terhadap Cina karena hegemoninya tergerus, cara pandang Australia yang mendua terhadap RI merupakan fakta tak terbantahkan. Tentu perjalanan bergelombang ini mengharuskan RI waspada  sembari tetap menyebar senyum pertemanan.  Salah satu langkah kewaspadaan itu adalah memberikan kekuatan pakaian alutsista pada hulubalangnya.  Perkuatan alutsista ini tidak sekedar mengejar ketertinggalan, tetapi lebih dari itu. Dalam dua tahapan MEF berikutnya seiring dengan kekuatan daya beli dan PDB yang semakin meningkat, perkuatan alutsista TNI adalah realisasi yang sudah di depan mata.

Dirgahayu Republik Indonesia
Jayalah Tentaraku
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H
*******
Jagvane / 6 Agustus 2013