Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond berkunjung ke Indonesia tanggal 15-16 Januari 2013. Bahasa diplomasinya adalah untuk mempererat dan memperkuat hubungan pertemanan kedua negara. Bahasa sanjungannya adalah sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN, Inggris sangat patut memperhatikan dan menjadikan RI sebagai mitra pentingnya.
Namanya juga berkunjung pasti ada maunya, lalu keluarlah press release seperti diatas untuk memberikan rasa suka pada tuan rumah. Ya tuan rumah memang sedang digandrungi dan dirayu oleh sejumlah negara produsen alutsista dunia untuk membeli sejumlah alutsista buatan mereka. Maklum kucuran dana untuk modernisasi alutsista TNI sangat menggiurkan para semut-semut itu untuk mencicipi madu duit alutsista RI.
Mata kuliah penting dari sejarah pertemanan dengan negeri mama Eli ini adalah mengambil sikap berhati-hati, tidak mudah terjebak rayuan dalam penawaran teknologi terkini yang diusung persenjataan negeri itu. Setidaknya jika memang kita hendak membeli sejumlah alutsista made in Britain pelajari dulu pasal demi pasal secara cerdas. Jika ada pasal yang mengatur pengggunaan alutsista untuk urusan dalam negeri atau digunakan untuk berkelahi dengan tetangga sebelah tidak boleh digunakan, ya ditolak saja karena itu berarti sudah mencampuri urusan dalam negeri kita. Lagian barangnya kan sudah dibeli, ya suka-suka gua dong mau digunakan untuk apa termasuk untuk perang sama jiran yang pongah.
Sejarah pengiriman Hawk200 batch terakhir tahun 1999 sangat mengecewakan. Pesawat tempur itu ditinggalkan pilotnya di Bangkok Thailand karena di tengah perjalanan ferry London-Jakarta keluar keputusan Pemerintah Inggris mengembargo senjata ke RI karena masalah Timor Leste. Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Tank Scorpion dan Hawk 200 dilarang digunakan. Ini sangat menyakitkan. Makanya kita mengusulkan dalam setiap perjanjian jual beli senjata dengan Inggris atau negara lain yang suka usil dan mendikte RI dimasukkan satu pasal sebelum pasal penutup yaitu pasal yang berbunyi: dilarang melarang.
Kunjungan Menhan Inggris merupakan lanjutan dari kunjungan Presiden SBY ke Inggris tanggal 30 Oktober sampai dengan 3 Nopember 2012 yang dijamu secara istimewa oleh mama Eli dan keluarga kerajaan Inggris termasuk memperoleh gelar kebangsaan. Dibalik sambutan yang istimewa itu tentu peribahasa tidak ada makan siang gratis menjadi panutannya. Inggris memang sedang melakukan langkah diplomatik yang intens untuk membujuk Indonesia membeli alutsista mereka.
Rasanya kalau hanya untuk memuluskan penjualan 3 light fregat “Nachoda Ragam Class” atau perbaikan 10 F16 AB TNI AU atau rudal Starstreak kok belum sesuai dengan bobot kunjungan itu. Baru terasa gemanya jika yang dibawa dalam daftar penawaran itu adalah penjualan 24-32 unit jet tempur dan persenjataannya. Jika jet tempur itu jadi dibeli Indonesia, kita menyambutnya dengan senang hati karena ini berarti semakin memperkuat alat pukul kedirgantaraan ruang udara negeri ini yang sangat luas. Meskipun begitu kita juga tidak mengharap jet tempur itu segera datang dalam waktu dekat, bisa saja kedatangannya mulai tahun 2016 dan seterusnya. Mengapa, karena kita tahun ini dan tahun depan akan kedatangan banyak alutsista, untuk TNI AU akan datang 102 pesawat, sebagian diantaranya jet tempur berbagai jenis.
Berandai-andai tentang Typhoon boleh saja kan, meski tetaplah kita berhati-hati dalam pola perjanjian bisnisnya agar sejarah kebodohan kita sendiri itu tidak terulang. Itu sebabnya ketika Pemerintahan Megawati marah dengan ketidakbolehan menggunakan Scorpion dan Hawk di Aceh kemudian ada embargo F16, dia berpaling wajah lalu memesan 4 Sukhoi ke Rusia. Yang lebih hebat lagi barangnya bisa datang setelah 4 bulan dipesan. Ini tidak lebih karena kekecewaan terhadap Barat yang arogan dan Rusia menampung “curhat Ibu” dengan mengistimewakan pesanan 4 Sukhoi walaupun tidak istimewa dalam persenjataan dan avioniknya. Tapi inilah titik balik itu karena setelah 4 Sukhoi itu kita pesan lagi 6 Sukhoi, barangnya sudah datang, lalu pesan lagi 6 Sukhoi dan semua persenjataannya termasuk suku cadang, simulator dan rudal-sudalnya. Tahun ini lengkap 16 biji alias 1 skuadron.
Nah ketika negara lain ramai-ramai menawarkan dan menjual alutsistanya ke RI, Inggris hanya melongo saja karena tak dilirik. Bagaimana mau dilirik wong kita saja banyak dilirik negara lain. Mana sempat. Aktif dong jangan jual mahal, emang ente siapa bung. Akhirnya dia sadar diri lalu mengundang RI-1 ke London dengan sejuta hidangan dan layanan sambil menawarkan sejumlah alutsista canggih. Dan lanjutan cerita jualan itu, datanglah Menhannya yang asli Epping Essex itu. Huss jangan salah baca loh.
Kita berpendapat, terima sajalah tawaran itu dengan catatan pesawat tempur marga Sukhoi tetap diperbanyak. Jadi dalam MEF tahap II 2015-2019 boleh jadi kekuatan kita bertambah dengan 24 jet tempur Typhoon dan 16 jet tempur Sukhoi SU35. Alamak kalau itu terealisir bangga kali aku sebagai anak bangsa melihat kekuatan dirgantara negeriku yang setara dengan tetangganya sehingga tak ada lagi pelecehan dan umpatan : jelek kali kau ! alutsistamu jadul ! masak mau kau lawan aku !
*****
Jagvane / 15 Jan 2013
Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Tuesday, January 15, 2013
Thursday, January 10, 2013
Tendangan si Maidin Kena Muka Sendiri
Kalau anda
melihat, Maidin, jumlah penonton Indonesia yang mencapai 3 juta penonton sejak
film Habibie dan Ainun di putar di seluruh bioskop di Indonesia sepanjang satu
bulan ini, sudah pasti anda menjadi seorang yang kerdil nilai, kerdil martabat
dan malu hati. Malu terhadap hinaan dan
cercaan yang anda tuliskan untuk konsumsi politik dalam negeri negara
anda. Anda katakan Habibie penghianat,
anda katakan Habibie anjing imperialis adalah sebuah penghinaan yang hanya bisa
dilakukan oleh politisi bermuka celeng tanpa hati nurani. Kita ingin menegaskan hal yang sudah tegas
dan lugas bahwa Habibie adalah sosok yang dicintai rakyat Indonesia, baik
pribadinya maupun kecerdasan intelektualnya serta ketaatannya pada akidah yang
digenggamnya bersama kecintaannya pada sang istri yang sudah lebih dulu
meninggalkan kita semua..
Perilaku
kekanak-kanakan politisi penguasa di negeri jiran itu memberikan definisi jelas
tentang ketidakmampuan mereka pada apa yang disebut perbedaan pendapat dan
sudut pandang. Negeri yang merdeka berdasarkan hadiah dari kolonial Inggris
tidak mampu menghilangkan kelas masyarakat yang dibangun berdasarkan struktur
kesultanan negara bagian yang sangat protektif terhadap bumiputera Melayu. Struktur non egaliter inilah yang membuat pola
pandang dan pola pikir elite politiknya lemah syahwat ketika berhadapan dengan
kritik dan beda pendapat. Kritik
dianggapnya “Kirik” lalu menyebut lawannya dengan Dog Imperialism padahal dia
sendiri yang menjadi Asu UMNO. Kegetiran
suasana kebatinan ini menampakkan ruang ego yang demikian nyata manakala dalam
ruang orasi yang dilakukan Habibie di Universitas Selangor atas undangan Anwar
Ibrahim Desember lalu, membuat segelintir politisi UMNO kebakaran jenggot dan
keringat dingin di ruang AC. Kita ingin katakan
pada Maidin, bahwa demokrasi di negara anda adalah demokrasi imitasi. Contohnya jelas, anda bebas menghina Anwar
Ibrahim tetapi jika kubu Anwar sebagai pihak oposisi melakukan kritik atas
jalannya pemerintahan dan perilaku orang UMNO, dengan memakai jubah “Nabi ISA” (Internal Security Act) terjadilah pembungkaman, penangkapan dengan argumen
pembenarannya. Anwar Ibrahim adalah korban politik UMNO yang dilakukan secara
vulgar, berlebihan dan melewati ambang batas kepatutan.
Zainuddin
Maidin adalah corongnya UMNO, maklum profesi awalnya kan seorang jurnalis yang
kemudian pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Malaysia. Jelasnya dia tidak sendirian meski pemerintah
Malaysia menganggap itu tulisan pribadi yang tidak mewakili suara pemerintahnya
sebagaimana dilontarkan PM Najib Tun Razak ketika bertemu SBY di KL akhir
Desember 2012. Arah tembakannya adalah
ingin menaikkan citra UMNO dan BN dalam pilihan raya Malaysia tahun ini. Musuh bersama UMNO dan BN adalah Anwar
Ibrahim yang selama bertahun-tahun dijadikan korban pembusukan namun tak mempan
jua. Bahkan korban pembusukan itu
semakin semerbak harum kembangnya.
Sebenarnya jika politisi UMNO tidak membawa-bawa nama Habibie untuk
dijadikan sasaran tembak, rakyat Indonesia tidak terlalu memikirkan apalagi
mencampuri model demokrasi di Malaysia yang masih setingkat play group, harus
ada orang tua yang mendampingi di sekolahnya.
Bukan bermaksud membenarkan posisi bertetangga RI atas jiran yang satu ini
tetapi perjalanan sejarah membuktikan selalu saja pihak seberang sana yang
memulai keributan apakah itu klaim teritori, klaim kebudayaan, pelecehan TKI, arogansi
orang kaya baru.
Habibie adalah
sosok yang dikagumi oleh bangsa Indonesia.
Beliau meletakkan dasar-dasar teknologi kerdirgantaraan yang saat ini
sedang bergeliat hangat memproduksi pesawat dan helikopter. Pemikiran visioner beliau yang betapapun
pahitnya namun harus diputuskan yaitu melaksanakan referendum di Timor Timur
yang kemudian melepaskan diri dari Indonesia.
Pemikiran visioner itu kemudian terjawab kini, Timor Timur tidak lagi
menjadi beban politik dan ekonomi bagi Indonesia dan yang terpenting dari semua
itu bekas provinsi Indonesia itu bersahabat erat tanpa dendam dengan bekas
induk semangnya. Dunia menaruh hormat
pada Indonesia.
Dalam urusan pertahanan
negeri, perkuatan militer Indonesia adalah jawaban paling tegas untuk
memberitahu pihak sebelah bahwa kita tidak ingin lagi menjadi pelengkap
penderita. Militer Indonesia telah
bangkit dengan kedatangan sejumlah alutsista modern dan akan terus berdatangan
untuk memenuhi definisi MEF(Minimum Essential Force). Memang namanya MEF tetapi
target yang hendak dikejar adalah minimal mengungguli kekuatan persenjataan militer
Malaysia, maksimal berkeinginan menjadi kekuatan militer nomor satu di Asia
Tenggara. Inilah jawaban cemerlang tentang
sebuah hakekat eksistensi dan martabat negeri.
Perkuatan tentara dengan dukungan kemajuan ekonomi selama hampir 9 tahun
ini memberikan nilai tambah pada nilai spirit kebangsaan yang memang sudah ada
dalam naluri dan adrenalin warga bangsa ini.
Penambahan satuan tempur
termasuk batalyon tank di Kalimantan, pembentukan dua komando militer
kewilayahan, penempatan sistem persenjataan Astross II di Kalimantan,
pembentukan skuadron UAV dan roket-roket Rhan berdaya tembak 50 km serta
skuadron Heli Tempur adalah bagian dari hasrat yang ingin ditumpahkan. Bahwa jika anda bermain api kami tidak perlu
menyiram dengan air lagi seperti yang dilakukan selama ini demi persaudaraan
ASEAN. Tetapi kami juga akan kirimkan
bola api yang lebih besar. Bukankah
Presiden sudah mengirim pesan jelas di Universitas Utara Malaysia baru-baru
ini, tidak ada garansi tidak terjadi perang di kawasan ASEAN di masa depan.
Tidak lama lagi peluru-peluru kendali berjarak tembak 300 km sebagai hasil
kolaborasi teknologi roket Lapan dengan teknologi rudal C705 Cina akan menjadi
kekuatan strategis yang ditempatkan secara statis dan mobile di perbatasan
Indonesia-Malaysia.
Lanjutan tentang
tendangan si Maidin diperlihatkan lagi ketika dalam satu tulisan terbaru yang
berdjudul “Yang Tidak sama Antara
Habibie dan Anwar” yang dimuat di Utusan Malaysia tanggal 8 Januari 2012,
Zainuddin Maidin berupaya hendak memutihkan Habibie dengan dua alinea terakhir
tulisannya : Di Indonesia, bekas Presiden
Indonesia B.J. Habibie masih mempunyai kredibiliti yang tinggi. Beliau bukan
seorang street actor, maka itu rakyat Indonesia marah apabila saya menyamakannya dengan Anwar
Ibrahim. B.J. Habibie adalah
seorang pemimpin yang masih dihormati dan tidak bergelumang dengan lumpur
seperti Anwar Ibrahim.
Jelas sekali dia
bermental bunglon dan malu untuk meminta maaf.
Ironinya lagi berpuluh alinea dia ungkapkan untuk kembali membusukkan
Anwar Ibrahim lalu ditutup dengan dua alinea diatas. Jelas tidak nyambung
karena memang tidak ada kaitannya. Begitulah kenyataannya, Maidin tak mau meminta
maaf, lalu menulis lagi dengan maksud mengambil hati. Hebatnya lagi Presiden
ketiga RI Habibie tak perlu repot menanggapi tulisan hinaannya, itulah cermin jiwa kenegarawanannya. Pelajaran demi pelajaran telah kita dapatkan
dari rumah jiran yang pongah ini. Maka pertumbuhan
ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat dan perkuatan militer adalah langkah
elegan yang sedang dijalani negara ini untuk memberikan “pukulan telak tanpa
harus berkelahi”. Semuanya sedang
berjalan, so biarkan anjing mengonggong kafilah terus melaju. Tetapi sesekali memang perlu juga dibentak
karena biasanya kalau anjing mengonggong tanda tak menggigit dan kalau dibentak
dijamin pasti lari.
*****
Jagvane 10 Januari 2013,-
Thursday, January 3, 2013
Mencermati Dinamika Kawasan
Presiden SBY
memberikan orasi lugas di hadapan civitas akademika dan Rektor Universitas Utara
Malaysia yang sekaligus juga Raja Malaysia di Kuala Lumpur ketika menerima
gelar Doktor HC tanggal 19 Desember 2012.
Beliau mengatakan tidak ada jaminan tidak ada perang di kawasan ASEAN di
masa mendatang. Ini merupakan statemen
yang memiliki nilai diplomasi tinggi.
Pernyataan ini sekaligus kuat pesannya untuk mengantisipasi prakiraan
cuaca kawasan yang bisa saja memburuk akibat konflik perbatasan darat dan laut
di kawasan ini.
Bargaining
untuk mengedepankan peran diplomasi high profile yang sewaktu-waktu diperlukan ukurannya
adalah memiliki kekuatan militer yang disegani setidaknya untuk ukuran kawasan
Asia Tenggara. Jalan ke arah itu sedang
dijalani. Sampai tahun 2014 dengan
kedatangan gelombang alutsista untuk mengisi persenjataan kesatrian TNI, meski sejatinya
baru dalam tahap memulihkan kekurangan gizi alutsista setelah sekian lama
berpuasa dan hanya menikmati sajian alutsista tua yang jumlahnya terbatas.
Titik tumpu
menuju kekuatan gahar itu ada di ruang lima tahun berikutnya setelah tahun
2014. Di ruang waktu itu jika kita
konsisten dengan rencana strategis untuk memperkuat militer, disitulah kita
mulai berhitung dengan menghadirkan kekuatan alutsista untuk menambah daya
gempur yang lebih bergetar. Di ruang
waktu itu sudah pasti akan ada penambahan minimal 3 kapal selam baru hasil dari
kesepakatan dagang dan magang tahun 2012 antara Korsel dan RI. Dengan asumsi kapal selam ketiga selesai
tahun 2017 diharapkan PT PAL dengan supervisi Korsel mampu membuat 2 kapal
selam lagi sehingga tahun 2019 ada 5 kapal selam baru.
![]() |
| Jet Tempur Golden Eagle, segera datang tahun ini |
Pertanyaannya
untuk apa sih kita memperkuat alutsista militer kita. Jawabnya adalah untuk mencermati situasi
kawasan yang dinamis dengan berbagai konflik teritorial. Perkuatan militer RI menuju kekuatan nomor
satu ASEAN atau setidaknya setara dengan negara ASEAN yang lain misalnya
Singapura dan Thailand adalah dalam upaya menggagahkan diri untuk tampil
percaya diri dalam setiap urusan diplomasi dengan sedikit menggeretakkan
geraham. Cara ini tentu bisa dilakukan
jika background kekuatan militer ada di belakangnya. Bukan bermaksud untuk mengajak berkelahi
tetapi bukankah setiap urusan sengketa tapal batas bisa diselesaikan dengan
dialog kesetaraan.
Persinggungan
teritorial dengan Malaysia misalnya, mestinya bisa diselesaikan dengan cara
diskusi dan perundingan walaupun serialnya bisa mencapai 1000 kali diskusi. Tak
mengapa asal suasananya dengan sikap bertetangga yang baik. Blunder Angkatan Laut Malaysia di Ambalat
adalah melakukan show of force, lalu menangkap pekerja Mercu Suar Karang
Unarang sambil memukulinya. Ini yang memicu kemarahan militer Indonesia
termasuk Presiden SBY yang langsung datang ke wilayah itu dengan kawalan kapal
perang. Kehadiran seorang Kepala Negara
ke kawasan sengketa membawa pesan diplomatik yang kuat, jangan bermain api
dengan kami.
Mengapa
Malaysia melakukan itu, karena dia merasa sudah lebih kuat militernya dari
Indonesia. Inilah poin penting yang
kemudian menjadi pemicu bangunnya macan tidur bersama kemarahan rakyat
Indonesia. Pelajaran dari mata kuliah
Ambalat adalah ternyata dia bukanlah tetangga yang baik, dia bukanlah jiran
yang ramah, menggunting dalam lipatan.
Padahal selama tiga puluh tahun lebih cara gaul yang diperlihatkan RI
selalu mengedepankan ruang harmoni dan tutur sapa diplomatik yang santun dan
hangat. Kasus terakhir adalah tulisan
seorang mantan menteri Malaysia yang menghina Habibie dan Gus Dur untuk
komoditi kampanye UMNO di pilihan raya Malaysia tahun 2013 ini.
![]() |
| BMP-3F batch 2 segera datang tak lama lagi |
Dengan
Australia, sikap yang ditunjukkan padanya sebaiknya adalah bergaul dengan
bahasa santun tetapi tidak dalam rangka mudah mendikte kita atau tidak mudah
bersepakat sesuai hasrat dia. Begitu
hasrat itu sudah ganti warna, dia tinggalkan kita. Contohnya ketika Timor Timur hendak dikuasai
ideologi kiri pada era perang dingin dulu, Australia dan AS setuju dengan
pengerahan militer RI yang nota bene ongkos militernya ditanggung sendiri oleh
RI. Tetapi setelah perang dingin usai,
negeri Kanguru itu balik kanan lalu melakukan manuver “serangan balik” hendak
melepaskan Timtim dari NKRI dengan alasan HAM dan keinginan masyarakat setempat.
Untuk
masalah Papua sejatinya Australia bermuka dua terhadap kita. Di satu sisi mereka berikrar bahwa Papua
merupakan bagian tak terpisahkan dari RI tetapi di sisi lain juga dengan alasan
HAM dan kehendak rakyat Papua, Australia memberikan ruang ambigu dalam cara
bergaul dengan RI. Negeri yang dijuluki Samuel P. Huntington sebagai negara asing
di kawasan Asia, a torn country, geoculturally torn country, selalu merasa
asing di lingkungannya, membuat dia merasa tidak nyaman dengan
lingkungannya. Ketidaknyamanannya itu
memberikan rasa gerah pada dirinya lalu dengan gaya kultur Barat yang selalu
merasa lebih dominan, pintar dan cerdas.
And then mendikte tetangganya yang nota bene selalu menampilkan cara
gaul yang low profile, sebagaimana kultur Asia Timur Tenggara pada umumnya.
![]() |
| Rudal Yakhont yang menggentarkan itu |
Keputusan
Kemhan dan Mabes TNI untuk memagari Papua dan Indonesia Timur dengan menggelar
secara bertahap 15.000 Marinir merupakan “serangan balasan” terhadap arogansi
Australia yang secara sepihak bersedia menerima kedatangan 5.000 Marinir AS di
Darwin. Jelas sepihak karena dilakukan
tanpa mengajak diskusi terlebih dahulu pada tetangganya. Menlu Marty sempat melontarkan “kemarahan
diplomatik” atas kepongahan Australia yang paranoid itu.
Jawaban
dengan cara pandang militer diniscayakan menjadi jalan gentar yang lebih
bergema. Maka rencana menempatkan secara
permanen 1 divisi pasukan Marinir di Papua adalah langkah tepat untuk
menunjukkan pada tetangga kulit putih itu bahwa kita bisa melakukan strategi
militer secara mandiri dan terukur. Tidak
pakai sekutu-sekutuan sebagaimana model keroyokan yang dilakukan oleh AS dan
Australia terhadap musuh politik hegemoninya.
Papua adalah bagian tulang dan daging NKRI yang tak terpisahkan. RI
berhak melakukan kawalan militer terhadap seluruh wilayah teritorinya
termasuk Papua. Apakah kita pernah meributkan ketika Aborigin
menyampaikan unjuk rasa kekecewaannya pada Pemerintah Australia. Lha mengapa dia mesti repot-repot menjadi
pahlawan kesiangan ngurusin soal Papua.
Mencermati dinamika
perkembangan kawasan di sekeliling kita salah satu upaya yang dilakukan adalah
memperkuat “infrastruktur” militer. Oleh
sebab itu upaya Pemerintah bersama DPR yang seia sekata untuk membangun
alutsista TNI harus terus kita kawal dan kumandangkan. Perkuatan militer adalah untuk menambah bobot
kewibawaan dalam setiap diplomasi disamping memagari teritori dari setiap upaya
untuk mengganggu apalagi melecehkannya. Sudah saatnya kita menampilkan kewibawaan
diplomasi dengan kekuatan tawar yang minimal setara. Bobot kekuatan tawar itu ada pada kekuatan
militer. Sekali lagi bukan untuk
mengajak berkelahi melainkan sebagai bagian dari kelengkapan postur diri yang
tegap berwibawa tetapi tetap santun dalam bersikap dan bertutur sapa. Bukankah selama ini kami tidak pernah memulai
perkara. Makanya jika anda ramah kami
hormat, anda marah kami lumat.
******
Jagvane / 03
Jan 2013
Wednesday, January 2, 2013
APA SETELAH INI ?
Tahun 2013 ini
merupakan tahun penantian yang dinanti untuk menyambut kedatangan berbagai
jenis alutsista yang telah dipesan sebelumnya. Kedatangan berbagai jenis
alutsista untuk TNI tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 merupakan gelombang
kedatangan yang diniscayakan mampu memberikan kebanggaan dalam upaya
menggagahkan garda republik. Berbagai
kesatrian TNI dari segala matra sedang mempersiapkan “resepsi pernikahan”
antara batalyon mereka dengan pengantin yang dinanti bernama alutsista.
Pertanyaan Kemudian
yang menggema tentu apakah cukup sampai disini atau apa setelah ini atau adakah
selain yang ini. Kalau melihat pernyataan
dari decision maker di Kemhan dan Mabes TNI, kalimat yang selalu keluar adalah
: Sampai tahun 2014 MEF (Minimum Essential Force) akan mencapai nilai target 30-35%
dari kebutuhan yang direncanakan. Maka secara
matematis pengadaan alutsista apakah itu beli utuh dari luar negeri atau
melalui transfer teknologi atau produksi dalam negeri akan tetap berjalan
sampai tahun 2024.
![]() |
| MBT Leopard Jerman dalam sebuah manuver |
MEF yang
mencapai kisaran 30-35% tahun 2014 dipastikan akan berganti figur
pemerintahan. Presiden Sby tidak lagi
menjabat presiden setelah itu sehingga kalkulasi penyelesaian lanjutan
pengadaan alutsista untuk MEF sampai dengan tahun 2024 masih berupa
persimpangan. Namun kalau berhitung
secara indikator makro ekonomi dengan prediksi kekuatan PDB tahun 2014 dan
pertumbuhan ekonomi yang stabil tinggi seperti yang terjadi selama 8 tahun
terakhir ini maka besaran nominal belanja militer juga ikut terangkat nilainya
meski persentase rasionya tetap.
Menurut pemerhati
pertahanan dari UI Andi Widjajanto untuk tahun 2014 nanti anggaran pertahanan
RI yang terdiri dari belanja rutin dan belanja alutsista diprediksi akan mencapai
angka 120 trilyun rupiah. Sementara
untuk tahun 2019 diprediksi mencapai 190 trilyun rupiah. Jadi mestinya dengan indikator pertumbuhan
ekonomi dan pertambahan PDB serta kekuatan daya beli (APBN) yang terus
cemerlang, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan modernisasi alutsista TNI
seusai MEF yang diinginkan, meski berganti figur kepemimpinan RI-1.
Sekarang secara
jangka pendek, meski masih jauh, tentu perhitungan anggaran tahun anggaran 2014
dilakukan tahun 2013 ini demikian juga perhitungan anggaran 2015 dikalkulasi
tahun 2014. Artinya masih ada dua tahun
anggaran yang diproses oleh pemerintahan eksisting. Meskipun diantara semua
perhitungan anggaran itu tentu ada yang multi years seperti pengadaan PKR
10514, maksudnya pagu anggarannya dibebankan selama 3-4 tahun. Tetapi logikanya mosok gak ada lagi yang mau
dibeli selama dua tahun anggaran itu.
Pasti ada dong, lalu apa kira-kira alutsista yang mau dibeli itu.
![]() |
| Barisan Tank Amfibi menuju embarkasi |
Prediksi
optimis kita masih banyak yang ada dalam daftar belanja alutsista untuk
kebutuhan MEF. Salah satunya kita
meyakini akan ada pengadaan 2 kapal selam dari negara yang berbeda, selain
Korsel yang sudah teken kontrak 3 Changbogo.
Disamping itu Angkatan Laut yang akan memekarkan armadanya dengan 3
armada tempur tentu memerlukan tambahan kekuatan KRI yang signifikan termasuk
kapal selam. Misalnya armada barat dan
timur masing-masing memerlukan 60 kapal perang berbagai jenis ditambah dengan
armada pusat dengan kekuatan 80 KRI itu berarti secara keseluruhan harus ada
200 KRI.
Sementara
saat ini diperkirakan baru tersedia 140-145 KRI. Jika 3 KCR 60 buatan PAL, 3 LST, 2 BCM, 1
kapal latih, 3 KCR 40 Palindo dan 3 light fregat Nachoda Ragam Class bergabung
sampai tahun 2014 hitung-hitungannya baru tersedia 155-160 KRI. Terus kekurangan 40 kapal perang itu bisakah
dipenuhi dalam MEF tahap II tahun 2015-2019 karena selama periode itu tentu ada
juga KRI yang memasuki masa pensiun. Sementara
MEF tahap I 2010-2014 kita hanya mampu menambah 15-20 KRI. Pertambahan KRI di
MEF II mudah-mudahan akan memberikan keseimbangan antara pertambahan KCR dan
PKR termasuk kapal selam sesuai dengan mekarnya armada.
Angkatan
Udara dengan kekuatan 16 Sukhoi, 34 F16, 16 T50 Golden Eagle, 16 Super Tucano,
32 Hawk dan 12 F5E pada tahun 2014 tentu belum masuk kategori gahar tetapi cukup
memadai dalam menjaga kontrol udara dan kewibawaan dirgantara RI. Namun untuk menghadapi perkembangan situasi
kawasan regional yang tidak pasti di masa depan seperti konflik Laut Cina
Selatan, perkembangan militer Cina dan India kita tidak puas dengan sejumlah
alutsista diatas.
![]() |
| Bersiap menuju latihan Armada Jaya 2012 |
Bukankah
Presiden kita pernah mengatakan di depan Universitas Utara Malaysia baru-baru
ini ketika menerima penghargaan Doktor HC, tidak ada jaminan di masa depan bahwa
di kawasan ASEAN tidak akan terjadi perang. Oleh karena itu kita perlu memperkuat kekuatan
pukul udara yang membanting dengan tambahan minimal 2 skuadron jet tempur dari
marga Sukhoi untuk pemenuhan kebutuhan jet tempur kelas berat. Dari jet tempur kelas welter masih dibutuhkan
setidaknya 2 skuadron jet tempur dari jenis Rafale atau Typhon sembari menunggu
kedatangan jet tempur produksi bersama RI_Korsel IFX mulai tahun 2020.
Angkatan
Darat juga masih banyak yang harus dipenuhi.
Tidak cukup hanya dengan 100 MBT Leopard. Mestinya setiap pulau besar harus ada minimal
2 batalyon MBT. Termasuk dalam
penyediaan rudal anti serangan udara, tidak lagi berorientasi rudal “Blok
M-Harmoni” tetapi sudah mulai dipikirkan rudal dari jenis AKAP (antar kota
antar provinsi) alias rudal jarak sedang. Yang membanggakan tentu perkembangan Roket
Lapan yang sudah menuju 3 digit dan tahun ini akan diuju coba. Gabungan teknologi jarak tembak roket Lapan
dikombinasi dengan teknologi rudal C705 akan memberikan kekuatan berlipat untuk
pertempuran pre emptive strike.
Yang
terpenting dari semua itu adalah mempertahankan konsistensi alias istiqomah
dalam upaya mendandani militer kita dengan alutsista modern yang tidak hanya
berkualitas tetapi juga bernilai kuantitas. Inilah pekerjaan MEF dengan halte 2014 sebagai
koridor pergantian kepemimpinan. Ini
juga titik kritis yang memang harus dilalui sebagai konsekuensi negara
demokrasi. Kita meyakini RI-1 after 2014
adalah sosok yang mampu melihat cakrawala pandang yang bisa melihat perkuatan
militer sebagai bagian yang tak tergantikan dalam mengusung nilai-nilai
kewibawaan diplomasi dan harkat kedaulatan negara.
Memahami
perkuatan persenjataan militer sebagai bagian dari kebutuhan negara modern yang
melaju maju merupakan perspektif cemerlang untuk mengantisipasi segala cuaca
ekstrim yang mungkin terjadi. Benar, tidak
ada jaminan tidak akan ada perang di kawasan ini meski semua negara anggota
ASEAN sudah merenda sulaman kebersamaan dalam harmoni. Maka perkuatan persenjataan itu adalah untuk
mengawal dan memastikan perjalanan bangsa untuk siap menghadapi kondisi
terburuk. Keandalan persenjataan militer
adalah bagian dari nilai kewibawaan yang dibangun untuk memberikan peran dan
pesan diplomasi yang jelas dan lugas.
*****
Jagvane / 02
Jan 2013
Sunday, December 16, 2012
Renungan Dua Tahun, Menggemuruhkan Semangat Beralutsista
Desember ini genap sudah dua tahun hadirnya blog analisis
alutsista di layar maya kita dengan jumlah kunjungan lebih dari sejuta pembaca. Selama itu pula banyak tulisan yang sudah
dihadirkan, disimak dan dibaca pembaca bahkan tidak sedikit diantaranya sudah
dipublikasikan di media cetak surat kabar dan majalah militer. Selama itu pula sudah banyak jenis kelamin
komentar, tanggapan dan ungkapan yang dicetuskan. Dan yang menggembirakan tentu saja semua
celotehan tertulis yang dilontarkan pembaca via dialog on line atau email sebagian
besar bernilai positif, bersemangat kuat untuk mendukung pembangunan kekuatan
tentara sekaligus membangkitkan semangat patriotik nasionalis untuk bangga
memiliki militer yang kuat.
Namanya juga analisis tentu perlu waktu untuk
menyelesaikan sebuah tema bahkan karena kehabisan “tinta ide” tulisan yang
sudah punya judul pun kadang hanya mampu terselesaikan tiga paragraf lalu buntu
sehingga tak jadi layak tayang. Namun
tentu saja ilham dari semua tulisan ini adalah keinginan untuk menyampaikan
pesan dalam bingkai semangat berbangsa bersama pita nasionalisme dengan pilar
utama kecintaan terhadap insitusi garda republik yang selalu setia mengawal perjalanan
negara kepulauan terbesar ini.
Eksistensi negara ini terkait dengan menjaga nilai
kedaulatannya ada di garda republik. Apakah
dia bernama Angkatan Darat, Laut dan Udara.
Ketika kita sedang lelap di jam 2 dinihari banyak yang tak tahu (atau
tak mau tahu) bahwa di sebuah perairan perbatasan kapal perang kita sedang
beradu tegang dengan kapal perang negara lain yang coba memasuki perairan tanpa
ijin. Atau di sebuah titik perbatasan
darat 1 pleton pasukan TNI AD sedang berjuang melawan ganasnya rimba perbatasan
yang diguyur hujan deras demi menjaga patok batas NKRI. Atau di layar kaca besar beberapa personil
radar TNI AU sedang memelototi titik-titik yang bergerak di layar monitor,
mungkin ada penyusup tak dikenal.
Semua itu dilakukan untuk menjaga kewibawaan dan
kedaulatan rumah gadang yang bernama Indonesia ini dari gangguan dan ancaman
negara lan. Kita sebagai penghuni rumah
besar itu bisa tidur nyenyak dan tenteram karena adanya garda tepublik yang
menjaga teritori negara ini. Sayangnya
banyak anggapan yang bersemayam di benak kita, karena suasana aman tenteram
saja, tidak terjadi apa-apa, bisa bangun tidur jam 4 pagi lalu sholat Subuh di
Masjid dengan damai, maka rutinitas itu tidak menganggap kinerja pengawal
republik sebagai nilai. Padahal
kehadiran militer yang mengawal 24 jam negeri ini adalah bagian dari penegakan
eksistensi dan kedaulatan serta menjaga ketenangan masyarakat di semua pulau
negeri.
Ketika menuangkan ide menjadi peduli dan melukiskannya
dalam rangkaian kata yang membentuk kalimat dan paragraf, jalan yang
dikumandangkan adalah menyisir sisi-sisi dimensi untuk merenda jalan komunikasi
yang bersudut pandang positif thinking. Mengedepankan
semangat solusi dan membangun kebersamaan bersemangat memiliki garda republik
yang kuat dan disegani. Inilah sudut
pandang itu dan kita meyakini dengan menyulam semangat itu keniscayaan yang
didapatkan adalah mengajak kita untuk senantiasa membasuh wajah di air bening
danau dan melemparkan pandangan mata teduh di sekeliling nuansa hijau, tentu
dengan lantunan syukur atas semua karunia.
Ya kita patut mensyukuri semua itu, tanah air yang penuh pesona,
keragaman etnis yang mengagumkan, jumlah penduduk yang besar, petumbuhan
ekonomi yang stabil dan tinggi, menuju kekuatan ekonomi sepuluh besar
dunia. Mestinya kita bangga sebagai
bangsa yang didirikan dengan semangat nasionalisme yang tinggi yang kemampuan
ekonomi dan diplomasinya mulai dilirik dunia internasional.
Sejalan dengan itu perkuatan milter memberikan ruang
kelegaan yang membeningkan sekaligus membanggakan. Berpuluh tahun kita sesak nafas melihat garda
republik punya senjata ala kadarnya, seperti tak mampu menegakkan kepala
manakala melihat negara lain berupaya memodernisasi angkatan
bersenjatanya. Jujur diakui sebagai
penulis kita merasa miris manakala kekuatan
alutsista kita yang mestinya berpredikat gentar, berubah menjadi
kekuatan gemetar ketika negara lain show of force meremehkan kekuatan militer
kita. Bagaimana tidak gemetar negara
tetangga punya F15, F16 CD, F18 Hornet, Sukhoi sementara kita hanya punya 10
F16 butut yang terseok-seok kena embargo dan harus saling kanibal.
Itulah sejarah kekurangan gizi militer kita. Dua tahun ini sinar cerah sudah melintas
jelas di cakrawala pandang, sembari menanti kedatangan berbagai jenis alutsista
modern untuk menggagahkan garda republik.
Dua tahun ini pula blog ini hadir mengiringi semangat mengantar
keperkasaan tentara kita untuk menjadi pengawal yang bergizi dengan beragam
menu alutsista yang dihidangkan. Tentu dalam menulis analisis ini, sudut
pandang subyektivitas selalu ada dan bahkan kadang terlalu hiperbola. Tetapi sesungguhnya genggaman yang ingin
dikepalkan adalah keinginan yang kuat agar perkuatan alutsista tentara kita
mampu memberikan spirit dalam beralutsista tidak saja untuk kalangan militer
tetapi juga rakyat yang memilik tentara itu. Kita akan terus menulis dengan
semangat menggagahkan itu. Kita akan terus menuangkannya dengan semangat
kebersamaan itu. Kita akan terus menghidangkannya dengan semangat keikhlasan
itu. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridhoNya untuk kita semua,amien. Jayalah tentaraku.
********
Jagarin Pane (jagvane@gmail.com)/ 16 Desember 2012
Wednesday, December 12, 2012
Menyambut Senyum 2013
Musim bunga
alutsista segera tiba bersamaan dengan datangnya fajar senyum di tahun 2013
meski wangi kembangnya sudah mulai tercium harum sejak kuartal terakhir tahun
ini. Bolehlah disebut sebagai tahun dimulainya panen raya dengan kedatangan
beragam jenis alutsista modern untuk disandangkan dan dikandangkan ke setiap
kesatrian pengawal republik di segala matra.
Boleh juga
disebut inilah panen raya terbesar selama beberapa dekade manakala RI
membelanjakan milyaran dollar untuk mengejar ketertinggalannya dalam
memodernisasi alutsistanya. Ada
pelajaran pahit manakala sebagian besar alutsista kita tak pernah disegarkan,
sudah jumlahnya sedikit, mutunya jadul lagi.
Namun yang bikin sesak nafas adalah ejekan tetangga dengan melakukan
klaim dan show of force seakan mereka sudah menjadi ayam jantan yang merasa
paling kuat lalu berkukuruyuk padahal hari telah malam.
![]() |
| Upacara Latgab 2012, perlu visualisasi lengkap |
Kesabaran
dan rasa sesak di sekujur tubuh itu perlahan mulai menemukan sinar cerah
manakala panglima tertinggi mulai menjalankan strategi “wajah jawa” dengan tetap berbaik hati dan bermanis muka pada
si jiran. Namun dibelakangnya menjalankan
strategi besar dengan anggaran besar, membangun kekuatan tentara dengan
alutsista secara revolusioner tanpa harus arogan sikap. Kita masih ingat di ruang publik yang bernama
layar kaca dan disiarkan secara langsung dari Cilangkap Jakarta beberapa tahun
lalu Presiden Sby mengeluarkan statemen yang softly untuk meredam kemarahan
rakyat kepada negara jiran yang hobi mengklaim.
Pernyataan
Presiden dalam bahasa diplomasi sebenarnya ingin agar kita sebagai rakyat tidak
perlu emosi dengan negara jiran karena saling ketergantungan satu sama lain. Misalnya, kata beliau, di sana ada lebih
sejuta tenaga kerja kita dan seterusnya.
Jelas pernyataan yang tidak memuaskan secara adrenalin. Tapi banyak yang tak tahu sesungguhnya setelah
itu ada “kemarahan militer” yang dituangkan dalam strategi memodernisasi
angkatan bersenjata. Dan hasilnya kita
lihat sekarang dan tahun-tahun mendatang, kita panen raya bro.
Namun yang
perlu diingat dari semua sambutan kedatangan alutsista itu tentu pertanggung
jawaban pada kesesuaian produk dengan nilai yang telah dikorbankan. Caranya tentu dengan menyampaikan sample
utama untuk disiarkan kepada segenap publik yang juga menanti dengan keriangan
hati. Tidak perlu telanjang jua karena
ini rahasia militer, namun sample kedatangan alutsista gahar perlu disampaikan
ke publik untuk memberikan rasa kebanggaan dan memupuk semangat beralutsista.
Visualisasi
seperti yang akan disiarkan oleh Kompas TV tanggal 26 dan 28 Desember 2012 tentang
“pertanggungjawaban” kehebatan Garda Samudra seharusnya menjadi sebuah public
relation untuk jembatan komunikasi kepada rakyat bahwa ini loh yang telah kami
lakukan untuk mengawal samudra. Misalnya dengan keberhasilan penembakan rudal
Yakhont yang menggetarkan itu baru-baru ini. Sehingga publik tahu dan paham tentang
sangarnya rudal itu dan keterlatihan prajurit TNI AL yang mampu menembakkan
rudal maut itu tanpa supervisi dari negara si pembuat Rusia.
Jika setiap
bulan ditayangkan melalui visualisasi minimal 30 menit di layar kaca dan narasi
melalui media cetak representatif dengan berganti-ganti antar matra TNI, kita
meyakini jembatan komunikasi yang dibangun kepada rakyat selaku “penyandang
dana melalui pajak” akan memberikan nilai harmoni dan kesepahaman tentang nilai
tugas tentara dan jenis alutsista yang
dipergelarkan. Tidak seperti selama ini
melalui layar kaca TVRI lewat acara CITA sama sekali tidak memberikan nilai
kebanggaan dalam bermiliter. Yang ditampilkan
kegiatan pergantian tugas jaga di kesatrian lalu wawancara ala kadarnya.
Dengan
tayangan yang mengedepankan kebanggaan menampilkan latihan militer skala
brigade ke atas boleh jadi akan menjadi respons yang baik dari publik dengan
mengajak pemerintah dan DPR untuk lebih memoles lagi pengawal republiknya. Misalnya untuk pertahanan pangkalan AU dan AL
serta ibukota negara tidak lagi dengan rudal-rudal jarak pendek melainkan dengan rudal surface to
air jarak menengah yang punya nilai gentar.
Kita
meyakini tidak lama lagi pengawal republik akan segera mendapatkan
alutsista anti serangan udara jarak
menengah seperti keyakinan kita akan terjadinya transaksi jet tempur canggih
dari sebuah negara Eropa yang telah menjamu presiden Sby dengan megah dan
meriah. Tidak adalah makan siang gratis
dalam hubungan pertemanan dan persahabatan sekalipun, seperti yang ditunjukkan
dalam perjamuan full service VVIP naik pesawat kepresidenan Korsel manakala
delegasi RI bertandang ke Korsel sebelum kontrak Changbogo setahun silam. Dan itu sah dalam hubungan berbisnis untuk
mengambil hati.
![]() |
| Gelar Alutsista TNI AL, memberi spirit beralutsista |
Sebagai bangsa
besar dengan populasi besar kita tetap akan berjalan dengan keyakinan hati dan
kepercayaan diri bahwa kita bisa membangun kekuatan kita. Kekuatan ekonomi yang
stabil selama 9 tahun ini dengan pertumbuhan yang mengesankan, PDB kita menjadi
yang terbesar di ASEAN dan no 15 terbesar di dunia. Pendapatan perkapita per tahun sudah mencapai
US $ 5.000,- Rasio hutang jauh lebih
baik dan ada dalam koridor aman dengan rasio 24%. Banyak hal yang berhasil di capai selama ini
termasuk pengakuan badan-badan ekonomi dunia dan lembaga keuangan dunia pada kemajuan
ekonomi Indonesia. Kemajuan ini tentu
berpengaruh besar pada peningkatan anggaran militer yang diprediksi akan terus
meningkat dan akan menjadi nomor satu di ASEAN mengalahkan Singapura pada tahun
2018.
Oleh sebab
itu menyambut senyum di tahun 2013 adalah awal dari perubahan revolusioner
dalam perolehan kuantitas dan kualitas alutsista kita. Kedatangan beragam jenis alutsista mulai tahun
depan dan seterusnya akan memberikan nilai tawar dalam pergaulan kawasan dan
diplomasi bergigi. Ini yang mestinya
menjadi pijakan cara pandang sesama kita dalam berdiplomasi. Boleh saja di urusan rumah tangga bernegara
kita ribut, namanya juga berdemokrasi. Tetapi
manakala menjalankan diplomasi kita seragamkan sikap kita, tentu dengan motor Kementerian
Luar Negeri untuk mengedepankan kewibawaan tanpa harus merasa sombong. Modal untuk kewibawaan itu tentu dengan
kekuatan militer yang didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang minimal
setara dengan rumah jiran.
Rasa segan
itu timbul jika kita mampu memoles kebugaran dan kekekaran tubuh kita untuk kemudian
tampil dengan berbaik cakap dan sikap. Itulah
analogi perkuatan milter. Kebugaran dan kekekaran tubuh kita itu memberikan
nilai tawar tinggi dalam etika pergaulan.
Setidaknya tetangga akan menahan diri untuk bersikap tak cakap, padahal
kita belum melotot padanya. Apalagi
kalau kita sampai melotot.
*******
Jagvane / 12
Desember 2012
Monday, December 10, 2012
102 Yang Ditunggu Itu
Ini rincian kedatangan Alutsista TNI AU sampai dengan tahun 2014 :
- 24 jet tempur F16 blok 52
- 16 jet tempur T50
- 6 jet tempur Sukhoi
- 12 pesawat coin Super Tucano ( 4 sudah datang)
- 7 pesawat angkut sedang militer CN 295 ( 2 sudah datang)
- 10 pesawat angkut berat militer Hercules
- 6 Heli tempur Cougar
- 16 pesawat latih Grob
- 5 pesawat latih KT1 Wong Bee
Yang ditunggu juga Simulator Sukhoi, Radar 3 Dimensi, Rudal untuk F16, Rudal untuk Sukhoi, Rudal Anti Serangan Udara Paskhas, F16 untuk suku cadang.
******
Jagvane / 10 Des 2012
Monday, November 26, 2012
Wawancara Dengan Koran Pikiran Rakyat Bandung
Menakar Alutsista Indonesia
Indonesia merupakan
negara kepulauan yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak serta kondisi
geopolitik berada di dua persimpangan samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra
Pasifik serta dua benua, yakni benua Asia dan Australia. Negara lain akan menghargai kedaulatan
Indonesia jika pertahanan kita kuat.
Nah, sekarang
bagaimanakah kondisi pertahanan serta alat utama sistem senjata (alutsista)
kita ? apakah sudah cukup kuat “menakuti” bangsa lain ? Mari kita simak
masing-masing kekuatan, khususnya kekuatan alutsista trimatra Tentara Nasional
Indonesia (TNI) yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan
Udara (AU).
Pemerhati isu
pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin
Pane mengatakan perkembangan pengadaan alutsista TNI mulai tahun 2012 ini
bisa disebut masuk musim panen raya sampai tahun 2014. Tahun ini saja kita sudah menerima empat
pesawat coin (counter insurgency) Super Tucano buatan Brazil dari yang kita
pesan satu skuadron (16 unit).
Kita juga sudah
menerima 2 KCR (Kapal Cepat Rudal) dari enam yang dipesan buatan galangan kapal
dalam negeri di Batam. Tank berat
Leopard juga sudah diambang pintu dengan pesanan 100 unit bersama dengan 50 uni
tank medium Marder buatan Jerman.
“Kita juga sedang
menunggu kedatangan MLRS (Multi Launcer Rocket System) Astross II dari Brazil
untuk kebutuhan dua batalyon, satu unit kendaraan peluncurnya dipamerkan di
ajang Indo Defence di Jakarta. Demikian
juga dengan howitzer Caesar buatan
Perancis untuk kebutuhan dua batalyon artileri sedang dinantikan kedatangannya
bersama rudal Mistral untuk satu batalyon. Pokoknya banyak sekali pengadaan alutsista
hingga tahun 2014 untuk ketiga matra TNI ini”, ungkap Jagarin kepada “PR”
ketika dihubungi beberapa waktu lalu.
![]() |
| Astross II, Caesar dan FH2000 di HUT TNI 5 Oktober 2012 |
Jika ditanya mana yang
terkuat diantara ketiga matra saat ini, ia mengatakan yang paling kuat adalah
Angkatan Darat baik dari sisi jumlah pasukan maupun alutsista. TNI AD punya lebih dari 1000 tank dan panser
belum termasuk artileri dan rudal anti serangan udara. “Akan tetapi tank yang dimiliki hanya
berkategori tank ringan dari jenis Scorpion buatan Inggris dan AMX13 buatan
Perancis. Itu sebabnya sesuai
perkembangan situasi kawasan yang dinamis kita butuh Main Battle Tank (MBT) dan
Medium Tank”, ungkap Jagarin menjelaskan.
Sementara itu, lanjut
dia, untuk TNI AL punya kekuatan armada dengan lebih dari 140 KRI terbagi dalam
dua armada, yaitu armada Barat dan Timur. Yang membanggakan tentu kekuatan
pemukul KRI sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia
berjarak tembak 300 km, rudal C802 dan C705 buatan Cina. Uji coba rudal Yakhont
yang dilakukan di mulut perairan Ambalat Oktober 2012 lalu pada seri latihan
Armada Jaya mampu menenggelamkan KRI LST yang sudah pensiun dengan sekali
tembak.
“Satuan pemukul TNI AL
yang lain adalah Korps Marinir yang punya kemampuan serang pantai. Ini yang tidak dimiliki oleh Malaysia dan
Singapura. Korps Marinir memiliki
persenjataan yang berbeda generasi mulai dari tank amfibi PT 76, BTR50, AMX10P,
BTR80A, RM Grad sampai yang terbaru BMP3F”, ungkap Jagarin lagi.
Untuk TNI AU Jagarin
menilai kondisi alutsista yang paling lemah diantara dua matra TNI lainnya. Saat ini TNI AU hanya memiliki kekuatan 10
F16, 10 Sukhoi, 12 F5E, 32Hawk 100/200, 4 Super Tucano. Menurut dia kekuatan itu jelas sangat tidak memadai
untuk mengawal dirgantara RI yang seluas Eropa ini.
“Namun dengan
kedatangan 24 F16 blok 52, 6 Sukhoi, 16 Super Tucano dan 16 T50 setidaknya
sesak nafas yang menjadi kendala mengawal kedaulatan udara RI bisa agak lega. Tentu saja tidak berhenti sampai disitu. Mestinya dalam MEF (Minimum Essential Force)
tahap II tahun 2015-2019 kita harus memiliki minimal 32 jet tempur kelas berat
Sukhoi, 48 jet tempur ringan F16 dan paling tidak punya juga minimal 24 unit
dari jenis Typhoon atau Rafale” ucap Jagarin lagi.
Melihat kondisi
alutsista trimatra TNI upaya untuk menambah persenjataan tentu menjadi sebuah
keniscayaan bagi negara besar seperti Indonesia. Negara kita baru saja memproduksi UU Industri
Pertahanan sebagai payung hukum untuk mengembangkan industri pertahanan dan
keamanan (hankam) dalam negeri.
![]() |
| Rudal Anti Tank Javelin segera memperkuat alutsista TNI |
“Sebenarnya sebelum UU
itu jadi, Kementerian Pertahanan sudah melakukan langkah maju yang berani
dengan kerjasama ToT (Transfer of Technology) dengan Korea Selatan dalam
pengadaan tiga kapal selam jenis Chang Bogo. Saat ini PT PAL dan Daewoo sedang menyeleksi
tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan 200 tenaga ahli yang
akan dikirim ke Korsel. Dua kapal selam
dibangun di Korsel dan satu unit di PT PAL Surabaya. Dengan Cina kita juga sedang melakukan
kerjasama alih teknologi rudal C705. Jika
sekolah rudal ini berhasil, dikombinasi dengan kemampuan LAPAN (Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang sudah mampu menguji roket berjarak
tembak 300 km, bisa dipastikan akan terjadi kemajuan yang luar biasa dalam
teknologi rudal kita dua hingga tiga tahun ke depan” ungkap Jagarin lagi.
Lebih lanjut ia
menambahkan dalam pembuatan kapal perusak kawal rudal yang dikenal sebagai
proyek PKR10514 dengan Damen Schelde Belanda saat ini pun dilakukan dengan
transfer teknologi. “PT PAL yang saat
ini sudah mendapat order membuat enam kapal cepat rudal ukuran 60 meter untuk
TNI AL, jika berhasil mendapatkan teknologi PKR 10514 akan menjadi perusahaan
pembuat kapal perang yang disegani di Asia Tenggara “, tutur Jagarin.
Posisi di Asia Tenggara
Jika demikian bagaimana
sebenarnya posisi Indonesia di Asia Tenggara saat ini ? dulu kita dikenal
sebagai “Macan Asia”, apakah gelar itu masih pantas diberikan kepada Indonesia
?
Jagarin mengatakan
modernisasi alutsista TNI sebenarnya untuk mengejar ketertinggalannya yang
cukup jauh dibanding dengan tetangganya.
Malaysia sudah jauh hari punya MBT PT91 buatan Polandia, Singapura sudah
punya MBT Leopard. Sampai hari ini TNI
AD hanya punya tank ringan Scorpion. “Lha,
Scorpion jika diadu dengan PT91 di Kalimantan, kan sama saja dengan menandingkan
kambing dengan sapi, beda kelas. Jadi penambahan kekuatan persenjataan kita
adalah sebuah keniscayaan dan fardu kifayah. Dulu di zaman Dwikora kekuatan militer RI
adalah yang terkuat di Asia Tenggara sehingga dianggap sebagai kekuatan Macan
Asia. Dengan modernisasi alutsista ini
diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di
Asia sesuai arahan Presiden SBY di hadapan petinggi Kemenhan dan Mabes TNI blan
puasa yang lalu”, ujarnya menjelaskan.
Khusus dengan Malaysia
dimana Indonesia sering mengalami konflik, Jagarin berani menyatakan bahwa
kekuatan militer Indonesia saat ini secra umum tetap lebih kuat dari Malaysia. “Hanya di AU kekuatan mereka lebih ‘bergigi’
dengan memiliki 18 Sukhoi, 12 Mig29, 8 Hornet, 12 F5E. Untuk AL kita yang terkuat dengan lebih dari
140 KRI bandingkan dengan Malaysia hanya memiliki 58 KD. Mereka tidak punya pasukan Marinir
berkualifikasi serbu, kita punya dua divisi pasukan Marinir berkemampuan serang
pantai”, katanya lagi.
![]() |
| Latihan PPRC Natuna Sept 2012 |
Yang lebih
membanggakan, lanjut Jagarin, tentu skill individu prajurit kita lebih tahan
uji dan mahir. Terbukti dalam setiap
uji tanding di kejuaraan menembak regional berbagai senjata perseorangan,
Indonesia selalu tampil menjadi nomor satu.
Negara-negara ASEAN dan Australia angkat topi dengan kemampuan individu
prajurit TNI. “Dengan Marinir AS pun
terbukti dalam uji ketahanan fisik dan mental di hutan Jawa Timur beberapa
waktu lalu bersama Marinir AS, personel Marinir AS kalah uji nyali dan uji
fisik dengan Marinir Indonesia”, ungkapnya.
Apalagi, lanjut
Jagarin, kehadiran 45 negara dan 500 produsen alutsista dunia di ajang Indo
Defence membuktikan bahwa dunia sedang melirik Indonesia dengan anggaran
alutsista yang luar biasa yakni Rp 100 trilyun dan diharapkan menjadi Rp 150
trilyun pada tahun 2014 nanti. “Prinsip
yang dibangun Kemenhan, kan sudah jelas kalau belum mampu bisa beli dari luar
tapi syaratnya berbagi teknologi. Kita
meyakini kebijakan Kemenhan yang melakukan transaksi pengadaan alutsista sudah
berada di jalan yang benar. Pengadaan
MBT Leopard dilakukan G to G ( government to government) sehingga mampu
menghapus beban jasa broker”, katanya menjelaskan.
Semua industri hankam
dalam negeri saat ini bergerak dan mekar dengan berbagai order alutsista dari
Kemenhan. Lihat saja PT Pindad dan PT
Dirgantara Indonesia (PT DI). Industri
dirgantara PT DI yang sempat dinyatakan bangkrut, saat ini sedang berupaya
merekrut tenaga ahli untuk menyinari kembali industri kebanggaan RI itu. “Demikian juga dengan PT PAL, semuanya sedang
menggeliat dan menampilkan kesibukannya tak terkecuali industri swasta nasional
kita”, tutur Jagarin.
*******
(PR Tanggal 22 Nopember 2012 halaman 27)
Wednesday, November 14, 2012
Menyeimbangkan Sumatera
Pagar
pertahanan RI di wilayah barat yang bersinggungan dengan 4 negara (Malaysia,
Singapura, Thailand dan India) sudah pasti Sumatera, meski batas teritorinya
laut. Secara geografi Sumatera lebih
panjang dari semenanjung Malaysia dan Singapura, jumlah penduduknya pun setara
dengan jirannya, kulturnya pun setali tiga uang. Dari sudut pandang militer negeri seberang utara
selat Malaka itu Singapura dan Malaysia menyimpan kekuatan militer utama untuk
pertahanan negaranya. Singapura jika
melakukan serangan udara ke Sumatera, akan banyak obyek vital yang mampu
dilumatnya meski belum berarti dia akan memenangkan pertempuran
Berandai-andai
tentang skema pertahanan pulau maka Sumatera yang bertetangga satu erte dengan dua
rumah sebelah seyogyanyalah perlu
didandani dengan polesan sejumlah alutsista baru berkualifikasi gebuk dulu.
Memang Sumatera bukanlah jantung Indonesia, dia hanya salah satu organ NKRI. Tetapi untuk memberikan rasa segan pada rumah
sebelah agar tidak bermain api dengan tetangganya, sekaligus sebagai pemecah
perhatian lawan jika terjadi konflik militer, maka sebagai pulau yang terdepan
kekuatan alutsista layak diperkuat.
![]() |
| Debarkasi pasukan dalam latihan brigade TNI AD di Baturaja |
Menyeimbangkan
pulau terdepan ini perspektifnya adalah memberikan kekuatan yang paling tidak
mendekati kekuatan negeri seberang selat Malaka. Itu sebabnya penempatan 1
skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru untuk menemani 1 skuadron Hawk 100/200
merupakan langkah tepat karena mampu memberikan kekuatan tambahan meski belum sama
sekali “mendekati” kekuatan lawan. Tetapi
juga harus diingat lawan yang dihadapi berada pada geografi utamanya alias
pusat komando militer, tentu mereka harus lebih kuat.
Malaysia
menempatkan skuadron tempur utamanya di Semenanjung seperti F18 Hornet, Mig 29
dan Sukhoi. Demikian juga dengan
Singapura karena negerinya memang cuma punya pulau itu tok. Meski Singapura
punya banyak jet tempur mutakhir, tidak semuanya ada di negeri pulau itu. Sebagian ditransmigrasikan ke AS, Thailand,
Australia dan Taiwan karena negeri Temasek ini punya handikap yang cukup
menyesakkan, kurangnya ruang udara untuk berlatih di wilayah sendiri.
Secara
kuantitatif dan kualitatif menempatkan 2 skuadron jet tempur Hawk dan F16 di
Sumatra belum memberikan kesan gahar tetapi dalam gelar kekuatan skuadron udara
untuk kegiatan patroli udara dinilai cukup memadai. Namun ke depan tetap perlu ada penambahan minimal 1 skuadron
udara intersep pemukul yang fungsinya juga untuk memayungi Jakarta dari
serangan udara yang muncul dari horizon barat laut. Dilhat dari ruang jelajah
yang proporsional mencakup seluruh Sumatera dan Laut Cina Selatan, maka
menempatkan 1 skuadron Sukhoi SU30 (atau SU35) di Belitung adalah kebijakan
jernih yang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Maksudnya Jakarta tercover, Sumatera sampai
Sabang dipayungi, ALKI satu termonitor, Natuna pun ada dalam jangkauan. Posisi penempatan skuadron Sukhoi ini diyakini
memberikan efek getar dan gentar bagi negara tetangga.
![]() |
| Seandainya ini yang digelar, dijamin gentar tuh |
Sumatera yang
memiliki 3 Kodam dirasa cukup untuk
mengamankan teritori darat yang memanjang itu.
Tetapi tentu yang perlu dicermati adalah koordinasi 3 Kodam ketika
menghadapi kondisi darurat perang dan harus berjuang duluan misalnya ketika
konfrontasi dengan Malaysia. Musuh
terbesar Sumatera jika terjadi konflik dengan 2 jiran itu adalah serangan
udara. Sementara serangan pantai untuk
ofensif pasukan tetangga diyakini tidak terjadi karena 2 jiran itu tak memiliki
kemampuan serangan laut ke pantai seperti yang dimiliki Marinir Indonesia.
Oleh karena itu
mobilisasi pasukan di pulau itu harus di dukung alutsista bernilai pre emptive tinggi
misalnya ketika menghadapi serangan udara jet tempur Sukhoi Malaysia. Sumatera
harus diperkuat dengan satuan rudal darat ke udara jarak menengah, tidak lagi
mengandalkan rudal jarak pendek seperti yang dimiliki saat ini. Demikian juga dengan penempatan satuan rudal
darat ke darat di lokasi paling dekat dengan negeri seberang. Evaluasi latihan
setingkat brigade yang dilakukan beberapa waktu yang lalu di Baturaja Sumsel dengan
mendatangkan ratusan alutsista berat dari Jawa memberikan kesan beratnya
situasi tempur dan waktu yang diperlukan ketika menyeberangkan ratusan
alutsista dari Jawa ke Lampung.
Itulah sebabnya
menurut hemat kita Sumatera harus mempunya kekuatan pukul organik yang lebih
menggigit sebelum datang bala bantuan dari pulau lain utamanya Jawa. Pekanbaru, Dumai, Batam dan Medan minimal
harus memiliki satuan rudal darat ke udara jarak menengah untuk mengawal obyek
vital di wilayah itu. Untuk menambah
kekuatan pre emptive tentu sangat dimungkinkan melakukan penempatan rudal darat
ke darat di Bengkalis, Karimun, Batam dan Bintan. Menempatkan satuan rudal darat ke darat ini
bukan sesuatu yang nisbi loh. Kita saat
ini dalam tahapan menuju kepememilikan teknologi rudal jarak jangkau 300
km. Lha kalau sudah punya teknologinya
masak rudalnya ditempatkan di Jawa. So
pasti ruang kesatriannya ada di wilayah border semacam Sumatera dan Kalimantan.
Dalam kondisi
damai seperti saat ini, menyeimbangkan kekuatan militer di Sumatera merupakan
langkah terukur bernilai sunnah muakkad karena ini juga bagian dari strategi untuk
memecah konsentrasi lawan agar berhati-hati dengan Sumatera. Gelar kekuatan darat dengan kekuatan rudal
arhanud jarak sedang, angkatan laut dengan satuan kapal cepat rudal yang
disebar di selat Malaka dan sebaran skuadron tempur Hawk, F16 dan Sukhoi merupakan
strategi pertahanan lapis yang perlu disandangkan di bumi Andalas.
Setidaknya
dalam pola pertahanan berlapis, memperkuat Sumatera dengan sejumlah alutsista gebuk
dulu akan memberikan kekuatan penyeimbang sekaligus rasa segan bagi pihak lawan
untuk berhitung ulang ketika mau memulai konfrontasi. Menumpuk alutsista di Jawa memberikan kesan
seakan-akan hanya Jawa yang hendak dipertahankan. Oleh sebab itu gelar kekuatan
milter strategi pertahanan berlapis dengan menyeimbangkan kekuatan alutsista di
perbatasan dengan jantung Indonesia perlu dikembangkan.
Menempatkan
sejumlah alutsista pukul duluan di Sumatera merupakan bagian dari strategi
reaksi cepat itu sendiri karena alutsistanya sudah ada. Tidak nunggu dulu, dipukul bonyok baru datang
bantuan pasukan pemukul dari Jawa, saake tenan rek. Jernihnya, kita tidak ingin bermusuhan dan
memulai konfrontasi dengan negara tetangga tetapi sekaligus tidak ingin
dianggap remeh apalagi dilecehkan dengan mereka. Kehadiran sejumlah alutsista gebuk dulu di
sepanjang perbatasan Sumatera dengan negara jiran adalah dalam rangka itu, anda
sopan kami segan, anda injak kami pijak !
******
Jagvane / 14 Nop 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)












