Tuesday, January 15, 2013

Setelah Jamuan Istimewa Itu

Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond berkunjung ke Indonesia tanggal 15-16 Januari 2013.  Bahasa diplomasinya adalah untuk mempererat dan memperkuat hubungan pertemanan kedua negara.  Bahasa sanjungannya adalah sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN, Inggris sangat patut memperhatikan dan menjadikan RI sebagai mitra pentingnya.

Namanya juga berkunjung pasti ada maunya, lalu keluarlah press release seperti diatas untuk memberikan rasa suka pada tuan rumah.  Ya tuan rumah memang sedang digandrungi dan dirayu oleh sejumlah negara produsen alutsista dunia untuk membeli sejumlah alutsista buatan mereka.  Maklum kucuran dana untuk modernisasi alutsista TNI sangat menggiurkan para semut-semut itu untuk mencicipi madu duit alutsista RI.

Mata kuliah penting dari sejarah pertemanan dengan negeri mama Eli ini adalah mengambil sikap berhati-hati, tidak mudah terjebak rayuan dalam penawaran teknologi terkini yang diusung persenjataan negeri itu.  Setidaknya jika memang kita hendak membeli sejumlah alutsista made in Britain pelajari dulu pasal demi pasal secara cerdas.  Jika ada pasal yang mengatur pengggunaan alutsista untuk urusan dalam negeri atau digunakan untuk berkelahi dengan tetangga sebelah tidak boleh digunakan, ya ditolak saja karena itu berarti sudah mencampuri urusan dalam negeri kita.  Lagian barangnya kan sudah dibeli, ya suka-suka gua dong mau digunakan untuk apa termasuk untuk perang sama jiran yang pongah.

Sejarah pengiriman Hawk200 batch terakhir tahun 1999 sangat mengecewakan.  Pesawat tempur itu ditinggalkan pilotnya di Bangkok Thailand karena di tengah perjalanan ferry London-Jakarta keluar keputusan Pemerintah Inggris mengembargo senjata ke RI karena masalah Timor Leste.  Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Tank Scorpion dan Hawk 200 dilarang digunakan.  Ini sangat menyakitkan.  Makanya kita mengusulkan dalam setiap perjanjian jual beli senjata dengan Inggris atau negara lain yang suka usil dan mendikte RI dimasukkan satu pasal sebelum pasal penutup yaitu pasal yang berbunyi: dilarang melarang.

Kunjungan Menhan Inggris merupakan lanjutan dari kunjungan Presiden SBY ke Inggris tanggal  30 Oktober sampai dengan 3 Nopember 2012 yang dijamu secara istimewa oleh mama Eli dan keluarga kerajaan Inggris termasuk memperoleh gelar kebangsaan.  Dibalik sambutan yang istimewa itu tentu peribahasa tidak ada makan siang gratis menjadi panutannya.  Inggris memang sedang melakukan langkah diplomatik yang intens untuk membujuk Indonesia membeli alutsista mereka.

Rasanya kalau hanya untuk memuluskan penjualan 3 light fregat “Nachoda Ragam Class” atau perbaikan 10 F16 AB TNI AU atau rudal Starstreak kok belum sesuai dengan bobot kunjungan itu. Baru terasa gemanya jika yang dibawa dalam daftar penawaran itu adalah penjualan 24-32 unit jet tempur dan persenjataannya.  Jika jet tempur itu jadi dibeli Indonesia, kita menyambutnya dengan senang hati karena ini berarti semakin memperkuat alat pukul kedirgantaraan ruang udara negeri ini yang sangat luas.  Meskipun begitu kita juga tidak mengharap jet tempur itu segera datang dalam waktu dekat, bisa saja kedatangannya mulai tahun 2016 dan seterusnya.  Mengapa, karena kita tahun ini dan tahun depan akan kedatangan banyak alutsista, untuk TNI AU akan datang 102 pesawat, sebagian diantaranya jet tempur berbagai jenis.

Berandai-andai tentang Typhoon boleh saja kan, meski tetaplah kita berhati-hati dalam pola perjanjian bisnisnya agar sejarah kebodohan kita sendiri itu tidak terulang.  Itu sebabnya ketika Pemerintahan Megawati marah dengan ketidakbolehan menggunakan Scorpion dan Hawk di Aceh kemudian ada embargo F16, dia berpaling wajah lalu memesan 4 Sukhoi ke Rusia.  Yang lebih hebat lagi barangnya bisa datang setelah 4 bulan dipesan.  Ini tidak lebih karena kekecewaan terhadap Barat yang arogan dan Rusia menampung “curhat Ibu” dengan mengistimewakan pesanan 4 Sukhoi walaupun tidak istimewa dalam persenjataan dan avioniknya.  Tapi inilah titik balik itu karena setelah 4 Sukhoi itu kita pesan lagi 6 Sukhoi, barangnya sudah datang, lalu pesan lagi 6 Sukhoi dan semua persenjataannya termasuk suku cadang, simulator dan rudal-sudalnya.  Tahun ini lengkap 16 biji alias 1 skuadron.

Nah ketika negara lain ramai-ramai menawarkan dan menjual alutsistanya ke RI, Inggris hanya melongo saja karena tak dilirik.  Bagaimana mau dilirik wong kita saja banyak dilirik negara lain.  Mana sempat. Aktif dong jangan jual mahal, emang ente siapa bung.  Akhirnya dia sadar diri lalu mengundang RI-1 ke London dengan sejuta hidangan dan layanan sambil menawarkan sejumlah alutsista canggih.  Dan lanjutan cerita jualan itu, datanglah Menhannya yang asli Epping Essex itu.  Huss jangan salah baca loh.

Kita berpendapat, terima sajalah tawaran itu dengan catatan pesawat tempur marga Sukhoi tetap diperbanyak.  Jadi dalam MEF tahap II 2015-2019 boleh jadi kekuatan kita bertambah dengan 24 jet tempur Typhoon dan 16 jet tempur Sukhoi SU35.  Alamak kalau itu terealisir bangga kali aku sebagai anak bangsa melihat kekuatan dirgantara negeriku yang setara dengan tetangganya sehingga tak ada lagi pelecehan dan umpatan : jelek kali kau ! alutsistamu jadul ! masak mau kau lawan aku !
*****
Jagvane /  15 Jan 2013

Thursday, January 10, 2013

Tendangan si Maidin Kena Muka Sendiri


Kalau anda melihat, Maidin, jumlah penonton Indonesia yang mencapai 3 juta penonton sejak film Habibie dan Ainun di putar di seluruh bioskop di Indonesia sepanjang satu bulan ini, sudah pasti anda menjadi seorang yang kerdil nilai, kerdil martabat dan malu hati.  Malu terhadap hinaan dan cercaan yang anda tuliskan untuk konsumsi politik dalam negeri negara anda.  Anda katakan Habibie penghianat, anda katakan Habibie anjing imperialis adalah sebuah penghinaan yang hanya bisa dilakukan oleh politisi bermuka celeng tanpa hati nurani.  Kita ingin menegaskan hal yang sudah tegas dan lugas bahwa Habibie adalah sosok yang dicintai rakyat Indonesia, baik pribadinya maupun kecerdasan intelektualnya serta ketaatannya pada akidah yang digenggamnya bersama kecintaannya pada sang istri yang sudah lebih dulu meninggalkan kita semua..

Perilaku kekanak-kanakan politisi penguasa di negeri jiran itu memberikan definisi jelas tentang ketidakmampuan mereka pada apa yang disebut perbedaan pendapat dan sudut pandang. Negeri yang merdeka berdasarkan hadiah dari kolonial Inggris tidak mampu menghilangkan kelas masyarakat yang dibangun berdasarkan struktur kesultanan negara bagian yang sangat protektif terhadap bumiputera Melayu.  Struktur non egaliter inilah yang membuat pola pandang dan pola pikir elite politiknya lemah syahwat ketika berhadapan dengan kritik dan beda pendapat.  Kritik dianggapnya “Kirik” lalu menyebut lawannya dengan Dog Imperialism padahal dia sendiri yang menjadi Asu UMNO.  Kegetiran suasana kebatinan ini menampakkan ruang ego yang demikian nyata manakala dalam ruang orasi yang dilakukan Habibie di Universitas Selangor atas undangan Anwar Ibrahim Desember lalu, membuat segelintir politisi UMNO kebakaran jenggot dan keringat dingin di ruang AC.  Kita ingin katakan pada Maidin, bahwa demokrasi di negara anda adalah demokrasi imitasi.  Contohnya jelas, anda bebas menghina Anwar Ibrahim tetapi jika kubu Anwar sebagai pihak oposisi melakukan kritik atas jalannya pemerintahan dan perilaku orang UMNO, dengan memakai jubah “Nabi ISA”  (Internal Security Act)  terjadilah pembungkaman, penangkapan dengan argumen pembenarannya. Anwar Ibrahim adalah korban politik UMNO yang dilakukan secara vulgar, berlebihan dan melewati ambang batas kepatutan.

Zainuddin Maidin adalah corongnya UMNO, maklum profesi awalnya kan seorang jurnalis yang kemudian pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Malaysia.  Jelasnya dia tidak sendirian meski pemerintah Malaysia menganggap itu tulisan pribadi yang tidak mewakili suara pemerintahnya sebagaimana dilontarkan PM Najib Tun Razak ketika bertemu SBY di KL akhir Desember 2012.  Arah tembakannya adalah ingin menaikkan citra UMNO dan BN dalam pilihan raya Malaysia tahun ini.  Musuh bersama UMNO dan BN adalah Anwar Ibrahim yang selama bertahun-tahun dijadikan korban pembusukan namun tak mempan jua.  Bahkan korban pembusukan itu semakin semerbak harum kembangnya.  Sebenarnya jika politisi UMNO tidak membawa-bawa nama Habibie untuk dijadikan sasaran tembak, rakyat Indonesia tidak terlalu memikirkan apalagi mencampuri model demokrasi di Malaysia yang masih setingkat play group, harus ada orang tua yang mendampingi di sekolahnya.  Bukan bermaksud membenarkan posisi bertetangga RI atas jiran yang satu ini tetapi perjalanan sejarah membuktikan selalu saja pihak seberang sana yang memulai keributan apakah itu klaim teritori, klaim kebudayaan, pelecehan TKI, arogansi orang kaya baru.
Habibie adalah sosok yang dikagumi oleh bangsa Indonesia.  Beliau meletakkan dasar-dasar teknologi kerdirgantaraan yang saat ini sedang bergeliat hangat memproduksi pesawat dan helikopter.  Pemikiran visioner beliau yang betapapun pahitnya namun harus diputuskan yaitu melaksanakan referendum di Timor Timur yang kemudian melepaskan diri dari Indonesia.  Pemikiran visioner itu kemudian terjawab kini, Timor Timur tidak lagi menjadi beban politik dan ekonomi bagi Indonesia dan yang terpenting dari semua itu bekas provinsi Indonesia itu bersahabat erat tanpa dendam dengan bekas induk semangnya.  Dunia menaruh hormat pada Indonesia.
Dalam urusan pertahanan negeri, perkuatan militer Indonesia adalah jawaban paling tegas untuk memberitahu pihak sebelah bahwa kita tidak ingin lagi menjadi pelengkap penderita.  Militer Indonesia telah bangkit dengan kedatangan sejumlah alutsista modern dan akan terus berdatangan untuk memenuhi definisi MEF(Minimum Essential Force). Memang namanya MEF tetapi target yang hendak dikejar adalah minimal mengungguli kekuatan persenjataan militer Malaysia, maksimal berkeinginan menjadi kekuatan militer nomor satu di Asia Tenggara.   Inilah jawaban cemerlang tentang sebuah hakekat eksistensi dan martabat negeri.  Perkuatan tentara dengan dukungan kemajuan ekonomi selama hampir 9 tahun ini memberikan nilai tambah pada nilai spirit kebangsaan yang memang sudah ada dalam naluri dan adrenalin warga bangsa ini. 
Penambahan satuan tempur termasuk batalyon tank di Kalimantan, pembentukan dua komando militer kewilayahan, penempatan sistem persenjataan Astross II di Kalimantan, pembentukan skuadron UAV dan roket-roket Rhan berdaya tembak 50 km serta skuadron Heli Tempur adalah bagian dari hasrat yang ingin ditumpahkan.  Bahwa jika anda bermain api kami tidak perlu menyiram dengan air lagi seperti yang dilakukan selama ini demi persaudaraan ASEAN.  Tetapi kami juga akan kirimkan bola api yang lebih besar.  Bukankah Presiden sudah mengirim pesan jelas di Universitas Utara Malaysia baru-baru ini, tidak ada garansi tidak terjadi perang di kawasan ASEAN di masa depan. Tidak lama lagi peluru-peluru kendali berjarak tembak 300 km sebagai hasil kolaborasi teknologi roket Lapan dengan teknologi rudal C705 Cina akan menjadi kekuatan strategis yang ditempatkan secara statis dan mobile di perbatasan Indonesia-Malaysia.
Lanjutan tentang tendangan si Maidin diperlihatkan lagi ketika dalam satu tulisan terbaru yang berdjudul  “Yang Tidak sama Antara Habibie dan Anwar” yang dimuat di Utusan Malaysia tanggal 8 Januari 2012, Zainuddin Maidin berupaya hendak memutihkan Habibie dengan dua alinea terakhir tulisannya : Di Indonesia, bekas Presiden Indonesia B.J. Habibie masih mempunyai kredibiliti yang tinggi. Beliau bukan seorang street actor, maka itu rakyat Indonesia marah apabila saya menyamakannya dengan Anwar Ibrahim. B.J. Habibie adalah seorang pemimpin yang masih dihormati dan tidak bergelumang dengan lumpur seperti Anwar Ibrahim.
Jelas sekali dia bermental bunglon dan malu untuk meminta maaf.  Ironinya lagi berpuluh alinea dia ungkapkan untuk kembali membusukkan Anwar Ibrahim lalu ditutup dengan dua alinea diatas. Jelas tidak nyambung karena memang tidak ada kaitannya. Begitulah kenyataannya, Maidin tak mau meminta maaf, lalu menulis lagi dengan maksud mengambil hati. Hebatnya lagi Presiden ketiga RI Habibie tak perlu repot menanggapi tulisan hinaannya, itulah cermin  jiwa kenegarawanannya.  Pelajaran demi pelajaran telah kita dapatkan dari rumah jiran yang pongah ini.  Maka pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat dan perkuatan militer adalah langkah elegan yang sedang dijalani negara ini untuk memberikan “pukulan telak tanpa harus berkelahi”.  Semuanya sedang berjalan, so biarkan anjing mengonggong kafilah terus melaju.  Tetapi sesekali memang perlu juga dibentak karena biasanya kalau anjing mengonggong tanda tak menggigit dan kalau dibentak dijamin pasti lari. 
*****
Jagvane 10 Januari 2013,-

Thursday, January 3, 2013

Mencermati Dinamika Kawasan


Presiden SBY memberikan orasi lugas di hadapan civitas akademika dan Rektor Universitas Utara Malaysia yang sekaligus juga Raja Malaysia di Kuala Lumpur ketika menerima gelar Doktor HC tanggal 19 Desember 2012.  Beliau mengatakan tidak ada jaminan tidak ada perang di kawasan ASEAN di masa mendatang.  Ini merupakan statemen yang memiliki nilai diplomasi tinggi.  Pernyataan ini sekaligus kuat pesannya untuk mengantisipasi prakiraan cuaca kawasan yang bisa saja memburuk akibat konflik perbatasan darat dan laut di kawasan ini.

Bargaining untuk mengedepankan peran diplomasi high profile yang sewaktu-waktu diperlukan ukurannya adalah memiliki kekuatan militer yang disegani setidaknya untuk ukuran kawasan Asia Tenggara.  Jalan ke arah itu sedang dijalani.  Sampai tahun 2014 dengan kedatangan gelombang alutsista untuk mengisi persenjataan kesatrian TNI, meski sejatinya baru dalam tahap memulihkan kekurangan gizi alutsista setelah sekian lama berpuasa dan hanya menikmati sajian alutsista tua yang jumlahnya terbatas.

Titik tumpu menuju kekuatan gahar itu ada di ruang lima tahun berikutnya setelah tahun 2014.  Di ruang waktu itu jika kita konsisten dengan rencana strategis untuk memperkuat militer, disitulah kita mulai berhitung dengan menghadirkan kekuatan alutsista untuk menambah daya gempur yang lebih bergetar.  Di ruang waktu itu sudah pasti akan ada penambahan minimal 3 kapal selam baru hasil dari kesepakatan dagang dan magang tahun 2012 antara Korsel dan RI.  Dengan asumsi kapal selam ketiga selesai tahun 2017 diharapkan PT PAL dengan supervisi Korsel mampu membuat 2 kapal selam lagi sehingga tahun 2019 ada 5 kapal selam baru.
Jet Tempur Golden Eagle, segera datang tahun ini
Pertanyaannya untuk apa sih kita memperkuat alutsista militer kita.  Jawabnya adalah untuk mencermati situasi kawasan yang dinamis dengan berbagai konflik teritorial.   Perkuatan militer RI menuju kekuatan nomor satu ASEAN atau setidaknya setara dengan negara ASEAN yang lain misalnya Singapura dan Thailand adalah dalam upaya menggagahkan diri untuk tampil percaya diri dalam setiap urusan diplomasi dengan sedikit menggeretakkan geraham.  Cara ini tentu bisa dilakukan jika background kekuatan militer ada di belakangnya.  Bukan bermaksud untuk mengajak berkelahi tetapi bukankah setiap urusan sengketa tapal batas bisa diselesaikan dengan dialog kesetaraan.

Persinggungan teritorial dengan Malaysia misalnya, mestinya bisa diselesaikan dengan cara diskusi dan perundingan walaupun serialnya bisa mencapai 1000 kali diskusi. Tak mengapa asal suasananya dengan sikap bertetangga yang baik.  Blunder Angkatan Laut Malaysia di Ambalat adalah melakukan show of force, lalu menangkap pekerja Mercu Suar Karang Unarang sambil memukulinya. Ini yang memicu kemarahan militer Indonesia termasuk Presiden SBY yang langsung datang ke wilayah itu dengan kawalan kapal perang.  Kehadiran seorang Kepala Negara ke kawasan sengketa membawa pesan diplomatik yang kuat, jangan bermain api dengan kami. 

Mengapa Malaysia melakukan itu, karena dia merasa sudah lebih kuat militernya dari Indonesia.  Inilah poin penting yang kemudian menjadi pemicu bangunnya macan tidur bersama kemarahan rakyat Indonesia.  Pelajaran dari mata kuliah Ambalat adalah ternyata dia bukanlah tetangga yang baik, dia bukanlah jiran yang ramah, menggunting dalam lipatan.  Padahal selama tiga puluh tahun lebih cara gaul yang diperlihatkan RI selalu mengedepankan ruang harmoni dan tutur sapa diplomatik yang santun dan hangat.  Kasus terakhir adalah tulisan seorang mantan menteri Malaysia yang menghina Habibie dan Gus Dur untuk komoditi kampanye UMNO di pilihan raya Malaysia tahun 2013 ini.
BMP-3F batch 2 segera datang tak lama lagi
Dengan Australia, sikap yang ditunjukkan padanya sebaiknya adalah bergaul dengan bahasa santun tetapi tidak dalam rangka mudah mendikte kita atau tidak mudah bersepakat sesuai hasrat dia.  Begitu hasrat itu sudah ganti warna, dia tinggalkan kita.  Contohnya ketika Timor Timur hendak dikuasai ideologi kiri pada era perang dingin dulu, Australia dan AS setuju dengan pengerahan militer RI yang nota bene ongkos militernya ditanggung sendiri oleh RI.  Tetapi setelah perang dingin usai, negeri Kanguru itu balik kanan lalu melakukan manuver “serangan balik” hendak melepaskan Timtim dari NKRI dengan alasan HAM dan keinginan masyarakat setempat.

Untuk masalah Papua sejatinya Australia bermuka dua terhadap kita.  Di satu sisi mereka berikrar bahwa Papua merupakan bagian tak terpisahkan dari RI tetapi di sisi lain juga dengan alasan HAM dan kehendak rakyat Papua, Australia memberikan ruang ambigu dalam cara bergaul dengan RI. Negeri yang dijuluki Samuel P. Huntington sebagai negara asing di kawasan Asia, a torn country, geoculturally torn country, selalu merasa asing di lingkungannya, membuat dia merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.  Ketidaknyamanannya itu memberikan rasa gerah pada dirinya lalu dengan gaya kultur Barat yang selalu merasa lebih dominan, pintar dan cerdas.  And then mendikte tetangganya yang nota bene selalu menampilkan cara gaul yang low profile, sebagaimana kultur Asia Timur Tenggara pada umumnya.
Rudal Yakhont yang menggentarkan itu
Keputusan Kemhan dan Mabes TNI untuk memagari Papua dan Indonesia Timur dengan menggelar secara bertahap 15.000 Marinir merupakan “serangan balasan” terhadap arogansi Australia yang secara sepihak bersedia menerima kedatangan 5.000 Marinir AS di Darwin.  Jelas sepihak karena dilakukan tanpa mengajak diskusi terlebih dahulu pada tetangganya.  Menlu Marty sempat melontarkan “kemarahan diplomatik” atas kepongahan Australia yang paranoid itu.

Jawaban dengan cara pandang militer diniscayakan menjadi jalan gentar yang lebih bergema.  Maka rencana menempatkan secara permanen 1 divisi pasukan Marinir di Papua adalah langkah tepat untuk menunjukkan pada tetangga kulit putih itu bahwa kita bisa melakukan strategi militer secara mandiri dan terukur.  Tidak pakai sekutu-sekutuan sebagaimana model keroyokan yang dilakukan oleh AS dan Australia terhadap musuh politik hegemoninya.  Papua adalah bagian tulang dan daging NKRI yang tak terpisahkan. RI berhak melakukan kawalan militer terhadap seluruh wilayah teritorinya termasuk  Papua.  Apakah kita pernah meributkan ketika Aborigin menyampaikan unjuk rasa kekecewaannya pada Pemerintah Australia.  Lha mengapa dia mesti repot-repot menjadi pahlawan kesiangan ngurusin soal Papua.

Mencermati dinamika perkembangan kawasan di sekeliling kita salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat “infrastruktur” militer.  Oleh sebab itu upaya Pemerintah bersama DPR yang seia sekata untuk membangun alutsista TNI harus terus kita kawal dan kumandangkan.  Perkuatan militer adalah untuk menambah bobot kewibawaan dalam setiap diplomasi disamping memagari teritori dari setiap upaya untuk mengganggu apalagi melecehkannya.  Sudah saatnya kita menampilkan kewibawaan diplomasi dengan kekuatan tawar yang minimal setara.  Bobot kekuatan tawar itu ada pada kekuatan militer.  Sekali lagi bukan untuk mengajak berkelahi melainkan sebagai bagian dari kelengkapan postur diri yang tegap berwibawa tetapi tetap santun dalam bersikap dan bertutur sapa.  Bukankah selama ini kami tidak pernah memulai perkara.  Makanya jika anda ramah kami hormat, anda marah  kami lumat.
******
Jagvane / 03 Jan 2013



Wednesday, January 2, 2013

APA SETELAH INI ?


Tahun 2013 ini merupakan tahun penantian yang dinanti untuk menyambut kedatangan berbagai jenis alutsista yang telah dipesan sebelumnya. Kedatangan berbagai jenis alutsista untuk TNI tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 merupakan gelombang kedatangan yang diniscayakan mampu memberikan kebanggaan dalam upaya menggagahkan garda republik.  Berbagai kesatrian TNI dari segala matra sedang mempersiapkan “resepsi pernikahan” antara batalyon mereka dengan pengantin yang dinanti bernama alutsista.

Pertanyaan Kemudian yang menggema tentu apakah cukup sampai disini atau apa setelah ini atau adakah selain yang ini.  Kalau melihat pernyataan dari decision maker di Kemhan dan Mabes TNI, kalimat yang selalu keluar adalah : Sampai tahun 2014 MEF (Minimum Essential Force) akan mencapai nilai target 30-35% dari kebutuhan yang direncanakan.  Maka secara matematis pengadaan alutsista apakah itu beli utuh dari luar negeri atau melalui transfer teknologi atau produksi dalam negeri akan tetap berjalan sampai tahun 2024.
MBT Leopard Jerman dalam sebuah manuver
MEF yang mencapai kisaran 30-35% tahun 2014 dipastikan akan berganti figur pemerintahan.  Presiden Sby tidak lagi menjabat presiden setelah itu sehingga kalkulasi penyelesaian lanjutan pengadaan alutsista untuk MEF sampai dengan tahun 2024 masih berupa persimpangan.  Namun kalau berhitung secara indikator makro ekonomi dengan prediksi kekuatan PDB tahun 2014 dan pertumbuhan ekonomi yang stabil tinggi seperti yang terjadi selama 8 tahun terakhir ini maka besaran nominal belanja militer juga ikut terangkat nilainya meski persentase rasionya tetap.  

Menurut pemerhati pertahanan dari UI Andi Widjajanto untuk tahun 2014 nanti anggaran pertahanan RI yang terdiri dari belanja rutin dan belanja alutsista diprediksi akan mencapai angka 120 trilyun rupiah.  Sementara untuk tahun 2019 diprediksi mencapai 190 trilyun rupiah.  Jadi mestinya dengan indikator pertumbuhan ekonomi dan pertambahan PDB serta kekuatan daya beli (APBN) yang terus cemerlang, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan modernisasi alutsista TNI seusai MEF yang diinginkan, meski berganti figur kepemimpinan RI-1.

Sekarang secara jangka pendek, meski masih jauh, tentu perhitungan anggaran tahun anggaran 2014 dilakukan tahun 2013 ini demikian juga perhitungan anggaran 2015 dikalkulasi tahun 2014.  Artinya masih ada dua tahun anggaran yang diproses oleh pemerintahan eksisting. Meskipun diantara semua perhitungan anggaran itu tentu ada yang multi years seperti pengadaan PKR 10514, maksudnya pagu anggarannya dibebankan selama 3-4 tahun.  Tetapi logikanya mosok gak ada lagi yang mau dibeli selama dua tahun anggaran itu.  Pasti ada dong, lalu apa kira-kira alutsista yang mau dibeli itu.
Barisan Tank Amfibi menuju embarkasi
Prediksi optimis kita masih banyak yang ada dalam daftar belanja alutsista untuk kebutuhan MEF.  Salah satunya kita meyakini akan ada pengadaan 2 kapal selam dari negara yang berbeda, selain Korsel yang sudah teken kontrak 3 Changbogo.  Disamping itu Angkatan Laut yang akan memekarkan armadanya dengan 3 armada tempur tentu memerlukan tambahan kekuatan KRI yang signifikan termasuk kapal selam.  Misalnya armada barat dan timur masing-masing memerlukan 60 kapal perang berbagai jenis ditambah dengan armada pusat dengan kekuatan 80 KRI itu berarti secara keseluruhan harus ada 200 KRI.  

Sementara saat ini diperkirakan baru tersedia 140-145 KRI.  Jika 3 KCR 60 buatan PAL, 3 LST, 2 BCM, 1 kapal latih, 3 KCR 40 Palindo dan 3 light fregat Nachoda Ragam Class bergabung sampai tahun 2014 hitung-hitungannya baru tersedia 155-160 KRI.  Terus kekurangan 40 kapal perang itu bisakah dipenuhi dalam MEF tahap II tahun 2015-2019 karena selama periode itu tentu ada juga KRI yang memasuki masa pensiun.  Sementara MEF tahap I 2010-2014 kita hanya mampu menambah 15-20 KRI. Pertambahan KRI di MEF II mudah-mudahan akan memberikan keseimbangan antara pertambahan KCR dan PKR termasuk kapal selam sesuai dengan mekarnya armada.

Angkatan Udara dengan kekuatan 16 Sukhoi, 34 F16, 16 T50 Golden Eagle, 16 Super Tucano, 32 Hawk dan 12 F5E pada tahun 2014 tentu belum masuk kategori gahar tetapi cukup memadai dalam menjaga kontrol udara dan kewibawaan dirgantara RI.  Namun untuk menghadapi perkembangan situasi kawasan regional yang tidak pasti di masa depan seperti konflik Laut Cina Selatan, perkembangan militer Cina dan India kita tidak puas dengan sejumlah alutsista diatas. 
Bersiap menuju latihan Armada Jaya 2012
Bukankah Presiden kita pernah mengatakan di depan Universitas Utara Malaysia baru-baru ini ketika menerima penghargaan Doktor HC, tidak ada jaminan di masa depan bahwa di kawasan ASEAN tidak akan terjadi perang.  Oleh karena itu kita perlu memperkuat kekuatan pukul udara yang membanting dengan tambahan minimal 2 skuadron jet tempur dari marga Sukhoi untuk pemenuhan kebutuhan jet tempur kelas berat.  Dari jet tempur kelas welter masih dibutuhkan setidaknya 2 skuadron jet tempur dari jenis Rafale atau Typhon sembari menunggu kedatangan jet tempur produksi bersama RI_Korsel IFX mulai tahun 2020.

Angkatan Darat juga masih banyak yang harus dipenuhi.  Tidak cukup hanya dengan 100 MBT Leopard.  Mestinya setiap pulau besar harus ada minimal 2 batalyon MBT.  Termasuk dalam penyediaan rudal anti serangan udara, tidak lagi berorientasi rudal “Blok M-Harmoni” tetapi sudah mulai dipikirkan rudal dari jenis AKAP (antar kota antar provinsi) alias rudal jarak sedang.  Yang membanggakan tentu perkembangan Roket Lapan yang sudah menuju 3 digit dan tahun ini akan diuju coba.  Gabungan teknologi jarak tembak roket Lapan dikombinasi dengan teknologi rudal C705 akan memberikan kekuatan berlipat untuk pertempuran pre emptive strike.

Yang terpenting dari semua itu adalah mempertahankan konsistensi alias istiqomah dalam upaya mendandani militer kita dengan alutsista modern yang tidak hanya berkualitas tetapi juga bernilai kuantitas.  Inilah pekerjaan MEF dengan halte 2014 sebagai koridor pergantian kepemimpinan.  Ini juga titik kritis yang memang harus dilalui sebagai konsekuensi negara demokrasi.  Kita meyakini RI-1 after 2014 adalah sosok yang mampu melihat cakrawala pandang yang bisa melihat perkuatan militer sebagai bagian yang tak tergantikan dalam mengusung nilai-nilai kewibawaan diplomasi dan harkat kedaulatan negara.

Memahami perkuatan persenjataan militer sebagai bagian dari kebutuhan negara modern yang melaju maju merupakan perspektif cemerlang untuk mengantisipasi segala cuaca ekstrim yang mungkin terjadi.  Benar, tidak ada jaminan tidak akan ada perang di kawasan ini meski semua negara anggota ASEAN sudah merenda sulaman kebersamaan dalam harmoni.  Maka perkuatan persenjataan itu adalah untuk mengawal dan memastikan perjalanan bangsa untuk siap menghadapi kondisi terburuk.  Keandalan persenjataan militer adalah bagian dari nilai kewibawaan yang dibangun untuk memberikan peran dan pesan diplomasi yang jelas dan lugas.
*****
Jagvane / 02 Jan 2013

Sunday, December 16, 2012

Renungan Dua Tahun, Menggemuruhkan Semangat Beralutsista


Desember ini genap sudah dua tahun hadirnya blog analisis alutsista di layar maya kita dengan jumlah kunjungan lebih dari sejuta pembaca.  Selama itu pula banyak tulisan yang sudah dihadirkan, disimak dan dibaca pembaca bahkan tidak sedikit diantaranya sudah dipublikasikan di media cetak surat kabar dan majalah militer.  Selama itu pula sudah banyak jenis kelamin komentar, tanggapan dan ungkapan yang dicetuskan.  Dan yang menggembirakan tentu saja semua celotehan tertulis yang dilontarkan pembaca via dialog on line atau email sebagian besar bernilai positif, bersemangat kuat untuk mendukung pembangunan kekuatan tentara sekaligus membangkitkan semangat patriotik nasionalis untuk bangga memiliki militer yang kuat.

 
Namanya juga analisis tentu perlu waktu untuk menyelesaikan sebuah tema bahkan karena kehabisan “tinta ide” tulisan yang sudah punya judul pun kadang hanya mampu terselesaikan tiga paragraf lalu buntu sehingga tak jadi layak tayang.  Namun tentu saja ilham dari semua tulisan ini adalah keinginan untuk menyampaikan pesan dalam bingkai semangat berbangsa bersama pita nasionalisme dengan pilar utama kecintaan terhadap insitusi garda republik yang selalu setia mengawal perjalanan negara kepulauan terbesar ini.

Eksistensi negara ini terkait dengan menjaga nilai kedaulatannya ada di garda republik.  Apakah dia bernama Angkatan Darat, Laut dan Udara.  Ketika kita sedang lelap di jam 2 dinihari banyak yang tak tahu (atau tak mau tahu) bahwa di sebuah perairan perbatasan kapal perang kita sedang beradu tegang dengan kapal perang negara lain yang coba memasuki perairan tanpa ijin.  Atau di sebuah titik perbatasan darat 1 pleton pasukan TNI AD sedang berjuang melawan ganasnya rimba perbatasan yang diguyur hujan deras demi menjaga patok batas NKRI.  Atau di layar kaca besar beberapa personil radar TNI AU sedang memelototi titik-titik yang bergerak di layar monitor, mungkin ada  penyusup tak dikenal. 

Semua itu dilakukan untuk menjaga kewibawaan dan kedaulatan rumah gadang yang bernama Indonesia ini dari gangguan dan ancaman negara lan.  Kita sebagai penghuni rumah besar itu bisa tidur nyenyak dan tenteram karena adanya garda tepublik yang menjaga teritori negara ini.  Sayangnya banyak anggapan yang bersemayam di benak kita, karena suasana aman tenteram saja, tidak terjadi apa-apa, bisa bangun tidur jam 4 pagi lalu sholat Subuh di Masjid dengan damai, maka rutinitas itu tidak menganggap kinerja pengawal republik sebagai nilai.  Padahal kehadiran militer yang mengawal 24 jam negeri ini adalah bagian dari penegakan eksistensi dan kedaulatan serta menjaga ketenangan masyarakat di semua pulau negeri.

Ketika menuangkan ide menjadi peduli dan melukiskannya dalam rangkaian kata yang membentuk kalimat dan paragraf, jalan yang dikumandangkan adalah menyisir sisi-sisi dimensi untuk merenda jalan komunikasi yang bersudut pandang positif thinking.  Mengedepankan semangat solusi dan membangun kebersamaan bersemangat memiliki garda republik yang kuat dan disegani.  Inilah sudut pandang itu dan kita meyakini dengan menyulam semangat itu keniscayaan yang didapatkan adalah mengajak kita untuk senantiasa membasuh wajah di air bening danau dan melemparkan pandangan mata teduh di sekeliling nuansa hijau, tentu dengan lantunan syukur atas semua karunia.  Ya kita patut mensyukuri semua itu, tanah air yang penuh pesona, keragaman etnis yang mengagumkan, jumlah penduduk yang besar, petumbuhan ekonomi yang stabil dan tinggi, menuju kekuatan ekonomi sepuluh besar dunia.  Mestinya kita bangga sebagai bangsa yang didirikan dengan semangat nasionalisme yang tinggi yang kemampuan ekonomi dan diplomasinya mulai dilirik dunia internasional.

Sejalan dengan itu perkuatan milter memberikan ruang kelegaan yang membeningkan sekaligus membanggakan.  Berpuluh tahun kita sesak nafas melihat garda republik punya senjata ala kadarnya, seperti tak mampu menegakkan kepala manakala melihat negara lain berupaya memodernisasi angkatan bersenjatanya.  Jujur diakui sebagai penulis kita merasa miris manakala kekuatan  alutsista kita yang mestinya berpredikat gentar, berubah menjadi kekuatan gemetar ketika negara lain show of force meremehkan kekuatan militer kita.  Bagaimana tidak gemetar negara tetangga punya F15, F16 CD, F18 Hornet, Sukhoi sementara kita hanya punya 10 F16 butut yang terseok-seok kena embargo dan harus saling kanibal.

Itulah sejarah kekurangan gizi militer kita.  Dua tahun ini sinar cerah sudah melintas jelas di cakrawala pandang, sembari menanti kedatangan berbagai jenis alutsista modern untuk menggagahkan garda republik.  Dua tahun ini pula blog ini hadir mengiringi semangat mengantar keperkasaan tentara kita untuk menjadi pengawal yang bergizi dengan beragam menu alutsista yang dihidangkan. Tentu dalam menulis analisis ini, sudut pandang subyektivitas selalu ada dan bahkan kadang terlalu hiperbola.  Tetapi sesungguhnya genggaman yang ingin dikepalkan adalah keinginan yang kuat agar perkuatan alutsista tentara kita mampu memberikan spirit dalam beralutsista tidak saja untuk kalangan militer tetapi juga rakyat yang memilik tentara itu. Kita akan terus menulis dengan semangat menggagahkan itu. Kita akan terus menuangkannya dengan semangat kebersamaan itu. Kita akan terus menghidangkannya dengan semangat keikhlasan itu. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridhoNya untuk kita semua,amien.  Jayalah tentaraku.

********
Jagarin Pane (jagvane@gmail.com)/ 16 Desember 2012

Wednesday, December 12, 2012

Menyambut Senyum 2013


Musim bunga alutsista segera tiba bersamaan dengan datangnya fajar senyum di tahun 2013 meski wangi kembangnya sudah mulai tercium harum sejak kuartal terakhir tahun ini. Bolehlah disebut sebagai tahun dimulainya panen raya dengan kedatangan beragam jenis alutsista modern untuk disandangkan dan dikandangkan ke setiap kesatrian pengawal republik di segala matra.

Boleh juga disebut inilah panen raya terbesar selama beberapa dekade manakala RI membelanjakan milyaran dollar untuk mengejar ketertinggalannya dalam memodernisasi alutsistanya.  Ada pelajaran pahit manakala sebagian besar alutsista kita tak pernah disegarkan, sudah jumlahnya sedikit, mutunya jadul lagi.  Namun yang bikin sesak nafas adalah ejekan tetangga dengan melakukan klaim dan show of force seakan mereka sudah menjadi ayam jantan yang merasa paling kuat lalu berkukuruyuk padahal hari telah malam.
Upacara Latgab 2012, perlu visualisasi lengkap
Kesabaran dan rasa sesak di sekujur tubuh itu perlahan mulai menemukan sinar cerah manakala panglima tertinggi mulai menjalankan strategi “wajah jawa”  dengan tetap berbaik hati dan bermanis muka pada si jiran.  Namun dibelakangnya menjalankan strategi besar dengan anggaran besar, membangun kekuatan tentara dengan alutsista secara revolusioner tanpa harus arogan sikap.  Kita masih ingat di ruang publik yang bernama layar kaca dan disiarkan secara langsung dari Cilangkap Jakarta beberapa tahun lalu Presiden Sby mengeluarkan statemen yang softly untuk meredam kemarahan rakyat kepada negara jiran yang hobi mengklaim.  

Pernyataan Presiden dalam bahasa diplomasi sebenarnya ingin agar kita sebagai rakyat tidak perlu emosi dengan negara jiran karena saling ketergantungan satu sama lain.  Misalnya, kata beliau, di sana ada lebih sejuta tenaga kerja kita dan seterusnya.  Jelas pernyataan yang tidak memuaskan secara adrenalin.  Tapi banyak yang tak tahu sesungguhnya setelah itu ada “kemarahan militer” yang dituangkan dalam strategi memodernisasi angkatan bersenjata.  Dan hasilnya kita lihat sekarang dan tahun-tahun mendatang, kita panen raya bro.

Namun yang perlu diingat dari semua sambutan kedatangan alutsista itu tentu   pertanggung jawaban pada kesesuaian produk dengan nilai yang telah dikorbankan.  Caranya tentu dengan menyampaikan sample utama untuk disiarkan kepada segenap publik yang juga menanti dengan keriangan hati.  Tidak perlu telanjang jua karena ini rahasia militer, namun sample kedatangan alutsista gahar perlu disampaikan ke publik untuk memberikan rasa kebanggaan dan memupuk semangat beralutsista.

Visualisasi seperti yang akan disiarkan oleh Kompas TV tanggal 26 dan 28 Desember 2012 tentang “pertanggungjawaban” kehebatan Garda Samudra seharusnya menjadi sebuah public relation untuk jembatan komunikasi kepada rakyat bahwa ini loh yang telah kami lakukan untuk mengawal samudra. Misalnya dengan keberhasilan penembakan rudal Yakhont yang menggetarkan itu baru-baru ini.  Sehingga publik tahu dan paham tentang sangarnya rudal itu dan keterlatihan prajurit TNI AL yang mampu menembakkan rudal maut itu tanpa supervisi dari negara si pembuat Rusia.

Jika setiap bulan ditayangkan melalui visualisasi minimal 30 menit di layar kaca dan narasi melalui media cetak representatif dengan berganti-ganti antar matra TNI, kita meyakini jembatan komunikasi yang dibangun kepada rakyat selaku “penyandang dana melalui pajak” akan memberikan nilai harmoni dan kesepahaman tentang nilai tugas  tentara dan jenis alutsista yang dipergelarkan.  Tidak seperti selama ini melalui layar kaca TVRI lewat acara CITA sama sekali tidak memberikan nilai kebanggaan dalam bermiliter.  Yang ditampilkan kegiatan pergantian tugas jaga di kesatrian lalu wawancara ala kadarnya.

Dengan tayangan yang mengedepankan kebanggaan menampilkan latihan militer skala brigade ke atas boleh jadi akan menjadi respons yang baik dari publik dengan mengajak pemerintah dan DPR untuk lebih memoles lagi pengawal republiknya.  Misalnya untuk pertahanan pangkalan AU dan AL serta ibukota negara tidak lagi dengan rudal-rudal  jarak pendek melainkan dengan rudal surface to air jarak menengah yang punya nilai gentar.

Kita meyakini tidak lama lagi pengawal republik akan segera mendapatkan alutsista  anti serangan udara jarak menengah seperti keyakinan kita akan terjadinya transaksi jet tempur canggih dari sebuah negara Eropa yang telah menjamu presiden Sby dengan megah dan meriah.  Tidak adalah makan siang gratis dalam hubungan pertemanan dan persahabatan sekalipun, seperti yang ditunjukkan dalam perjamuan full service VVIP naik pesawat kepresidenan Korsel manakala delegasi RI bertandang ke Korsel sebelum kontrak Changbogo setahun silam.  Dan itu sah dalam hubungan berbisnis untuk mengambil hati.
Gelar Alutsista TNI AL, memberi spirit beralutsista
Sebagai bangsa besar dengan populasi besar kita tetap akan berjalan dengan keyakinan hati dan kepercayaan diri bahwa kita bisa membangun kekuatan kita. Kekuatan ekonomi yang stabil selama 9 tahun ini dengan pertumbuhan yang mengesankan, PDB kita menjadi yang terbesar di ASEAN dan no 15 terbesar di dunia.  Pendapatan perkapita per tahun sudah mencapai US $ 5.000,-  Rasio hutang jauh lebih baik dan ada dalam koridor aman dengan rasio 24%.  Banyak hal yang berhasil di capai selama ini termasuk pengakuan badan-badan ekonomi dunia dan lembaga keuangan dunia pada kemajuan ekonomi Indonesia.  Kemajuan ini tentu berpengaruh besar pada peningkatan anggaran militer yang diprediksi akan terus meningkat dan akan menjadi nomor satu di ASEAN mengalahkan Singapura pada tahun 2018.

Oleh sebab itu menyambut senyum di tahun 2013 adalah awal dari perubahan revolusioner dalam perolehan kuantitas dan kualitas alutsista kita.  Kedatangan beragam jenis alutsista mulai tahun depan dan seterusnya akan memberikan nilai tawar dalam pergaulan kawasan dan diplomasi bergigi.  Ini yang mestinya menjadi pijakan cara pandang sesama kita dalam berdiplomasi.  Boleh saja di urusan rumah tangga bernegara kita ribut, namanya juga berdemokrasi.  Tetapi manakala menjalankan diplomasi kita seragamkan sikap kita, tentu dengan motor Kementerian Luar Negeri untuk mengedepankan kewibawaan tanpa harus merasa sombong.  Modal untuk kewibawaan itu tentu dengan kekuatan militer yang didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang minimal setara dengan rumah jiran.

Rasa segan itu timbul jika kita mampu memoles kebugaran dan kekekaran tubuh kita untuk kemudian tampil dengan berbaik cakap dan sikap.  Itulah analogi perkuatan milter. Kebugaran dan kekekaran tubuh kita itu memberikan nilai tawar tinggi dalam etika pergaulan.  Setidaknya tetangga akan menahan diri untuk bersikap tak cakap, padahal kita belum melotot padanya.  Apalagi kalau kita sampai melotot.
*******
Jagvane / 12 Desember 2012 

Monday, December 10, 2012

102 Yang Ditunggu Itu

Ini rincian kedatangan Alutsista TNI AU sampai dengan tahun 2014 :


  • 24 jet tempur F16 blok 52
  • 16 jet tempur T50
  •  6 jet tempur Sukhoi
  • 12 pesawat coin Super Tucano  ( 4 sudah datang)
  •  7 pesawat angkut sedang militer CN 295 ( 2 sudah datang)
  • 10 pesawat angkut berat militer Hercules
  •  6 Heli tempur Cougar
  • 16 pesawat latih Grob
  •  5 pesawat latih KT1 Wong Bee

Yang ditunggu juga Simulator Sukhoi, Radar 3 Dimensi, Rudal untuk F16, Rudal untuk Sukhoi, Rudal Anti Serangan Udara Paskhas, F16 untuk suku cadang.

******
Jagvane / 10 Des 2012

Monday, November 26, 2012

Wawancara Dengan Koran Pikiran Rakyat Bandung


Menakar Alutsista Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak serta kondisi geopolitik berada di dua persimpangan samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua, yakni benua Asia dan Australia.  Negara lain akan menghargai kedaulatan Indonesia jika pertahanan kita kuat.

Nah, sekarang bagaimanakah kondisi pertahanan serta alat utama sistem senjata (alutsista) kita ? apakah sudah cukup kuat “menakuti” bangsa lain ? Mari kita simak masing-masing kekuatan, khususnya kekuatan alutsista trimatra Tentara Nasional Indonesia (TNI) yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

Pemerhati isu pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin Pane mengatakan perkembangan pengadaan alutsista TNI mulai tahun 2012 ini bisa disebut masuk musim panen raya sampai tahun 2014.  Tahun ini saja kita sudah menerima empat pesawat coin (counter insurgency) Super Tucano buatan Brazil dari yang kita pesan satu skuadron (16 unit).

Kita juga sudah menerima 2 KCR (Kapal Cepat Rudal) dari enam yang dipesan buatan galangan kapal dalam negeri di Batam.  Tank berat Leopard juga sudah diambang pintu dengan pesanan 100 unit bersama dengan 50 uni tank medium Marder buatan Jerman.

“Kita juga sedang menunggu kedatangan MLRS (Multi Launcer Rocket System) Astross II dari Brazil untuk kebutuhan dua batalyon, satu unit kendaraan peluncurnya dipamerkan di ajang Indo Defence di Jakarta.  Demikian juga dengan howitzer Caesar  buatan Perancis untuk kebutuhan dua batalyon artileri sedang dinantikan kedatangannya bersama rudal Mistral untuk satu batalyon.  Pokoknya banyak sekali pengadaan alutsista hingga tahun 2014 untuk ketiga matra TNI ini”, ungkap Jagarin kepada “PR” ketika dihubungi beberapa waktu lalu.
Astross II, Caesar dan FH2000 di HUT TNI 5 Oktober 2012
Jika ditanya mana yang terkuat diantara ketiga matra saat ini, ia mengatakan yang paling kuat adalah Angkatan Darat baik dari sisi jumlah pasukan maupun alutsista.  TNI AD punya lebih dari 1000 tank dan panser belum termasuk artileri dan rudal anti serangan udara.  “Akan tetapi tank yang dimiliki hanya berkategori tank ringan dari jenis Scorpion buatan Inggris dan AMX13 buatan Perancis.  Itu sebabnya sesuai perkembangan situasi kawasan yang dinamis kita butuh Main Battle Tank (MBT) dan Medium Tank”, ungkap Jagarin menjelaskan.

Sementara itu, lanjut dia, untuk TNI AL punya kekuatan armada dengan lebih dari 140 KRI terbagi dalam dua armada, yaitu armada Barat dan Timur. Yang membanggakan tentu kekuatan pemukul KRI sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia berjarak tembak 300 km, rudal C802 dan C705 buatan Cina. Uji coba rudal Yakhont yang dilakukan di mulut perairan Ambalat Oktober 2012 lalu pada seri latihan Armada Jaya mampu menenggelamkan KRI LST yang sudah pensiun dengan sekali tembak.

“Satuan pemukul TNI AL yang lain adalah Korps Marinir yang punya kemampuan serang pantai.  Ini yang tidak dimiliki oleh Malaysia dan Singapura.  Korps Marinir memiliki persenjataan yang berbeda generasi mulai dari tank amfibi PT 76, BTR50, AMX10P, BTR80A, RM Grad sampai yang terbaru BMP3F”, ungkap Jagarin lagi.

Untuk TNI AU Jagarin menilai kondisi alutsista yang paling lemah diantara dua matra TNI lainnya.  Saat ini TNI AU hanya memiliki kekuatan 10 F16, 10 Sukhoi, 12 F5E, 32Hawk 100/200, 4 Super Tucano.  Menurut dia kekuatan itu jelas sangat tidak memadai untuk mengawal dirgantara RI yang seluas Eropa ini.

“Namun dengan kedatangan 24 F16 blok 52, 6 Sukhoi, 16 Super Tucano dan 16 T50 setidaknya sesak nafas yang menjadi kendala mengawal kedaulatan udara RI bisa agak lega.   Tentu saja tidak berhenti sampai disitu.  Mestinya dalam MEF (Minimum Essential Force) tahap II tahun 2015-2019 kita harus memiliki minimal 32 jet tempur kelas berat Sukhoi, 48 jet tempur ringan F16 dan paling tidak punya juga minimal 24 unit dari jenis Typhoon atau Rafale” ucap Jagarin lagi.

Melihat kondisi alutsista trimatra TNI upaya untuk menambah persenjataan tentu menjadi sebuah keniscayaan bagi negara besar seperti Indonesia.  Negara kita baru saja memproduksi UU Industri Pertahanan sebagai payung hukum untuk mengembangkan industri pertahanan dan keamanan (hankam) dalam negeri.
Rudal Anti Tank Javelin segera memperkuat alutsista TNI
“Sebenarnya sebelum UU itu jadi, Kementerian Pertahanan sudah melakukan langkah maju yang berani dengan kerjasama ToT (Transfer of Technology) dengan Korea Selatan dalam pengadaan tiga kapal selam jenis Chang Bogo.  Saat ini PT PAL dan Daewoo sedang menyeleksi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan 200 tenaga ahli yang akan dikirim ke Korsel.  Dua kapal selam dibangun di Korsel dan satu unit di PT PAL Surabaya.  Dengan Cina kita juga sedang melakukan kerjasama alih teknologi rudal C705.  Jika sekolah rudal ini berhasil, dikombinasi dengan kemampuan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang sudah mampu menguji roket berjarak tembak 300 km, bisa dipastikan akan terjadi kemajuan yang luar biasa dalam teknologi rudal kita dua hingga tiga tahun ke depan” ungkap Jagarin lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan dalam pembuatan kapal perusak kawal rudal yang dikenal sebagai proyek PKR10514 dengan Damen Schelde Belanda saat ini pun dilakukan dengan transfer teknologi.   “PT PAL yang saat ini sudah mendapat order membuat enam kapal cepat rudal ukuran 60 meter untuk TNI AL, jika berhasil mendapatkan teknologi PKR 10514 akan menjadi perusahaan pembuat kapal perang yang disegani di Asia Tenggara “, tutur Jagarin.

Posisi di Asia Tenggara

Jika demikian bagaimana sebenarnya posisi Indonesia di Asia Tenggara saat ini ? dulu kita dikenal sebagai “Macan Asia”, apakah gelar itu masih pantas diberikan kepada Indonesia ?

Jagarin mengatakan modernisasi alutsista TNI sebenarnya untuk mengejar ketertinggalannya yang cukup jauh dibanding dengan tetangganya.   Malaysia sudah jauh hari punya MBT PT91 buatan Polandia, Singapura sudah punya MBT Leopard.  Sampai hari ini TNI AD hanya punya tank ringan Scorpion.  “Lha, Scorpion jika diadu dengan PT91 di Kalimantan, kan sama saja dengan menandingkan kambing dengan sapi, beda kelas. Jadi penambahan kekuatan persenjataan kita adalah sebuah keniscayaan dan fardu kifayah.  Dulu di zaman Dwikora kekuatan militer RI adalah yang terkuat di Asia Tenggara sehingga dianggap sebagai kekuatan Macan Asia.  Dengan modernisasi alutsista ini diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Asia sesuai arahan Presiden SBY di hadapan petinggi Kemenhan dan Mabes TNI blan puasa yang lalu”, ujarnya menjelaskan.

Khusus dengan Malaysia dimana Indonesia sering mengalami konflik, Jagarin berani menyatakan bahwa kekuatan militer Indonesia saat ini secra umum tetap lebih kuat dari Malaysia.  “Hanya di AU kekuatan mereka lebih ‘bergigi’ dengan memiliki 18 Sukhoi, 12 Mig29, 8 Hornet, 12 F5E.   Untuk AL kita yang terkuat dengan lebih dari 140 KRI bandingkan dengan Malaysia hanya memiliki 58 KD.  Mereka tidak punya pasukan Marinir berkualifikasi serbu, kita punya dua divisi pasukan Marinir berkemampuan serang pantai”, katanya lagi.

Latihan PPRC Natuna Sept 2012
Yang lebih membanggakan, lanjut Jagarin, tentu skill individu prajurit kita lebih tahan uji dan mahir.   Terbukti dalam setiap uji tanding di kejuaraan menembak regional berbagai senjata perseorangan, Indonesia selalu tampil menjadi nomor satu.  Negara-negara ASEAN dan Australia angkat topi dengan kemampuan individu prajurit TNI.  “Dengan Marinir AS pun terbukti dalam uji ketahanan fisik dan mental di hutan Jawa Timur beberapa waktu lalu bersama Marinir AS, personel Marinir AS kalah uji nyali dan uji fisik dengan Marinir Indonesia”, ungkapnya.

Apalagi, lanjut Jagarin, kehadiran 45 negara dan 500 produsen alutsista dunia di ajang Indo Defence membuktikan bahwa dunia sedang melirik Indonesia dengan anggaran alutsista yang luar biasa yakni Rp 100 trilyun dan diharapkan menjadi Rp 150 trilyun pada tahun 2014 nanti.  “Prinsip yang dibangun Kemenhan, kan sudah jelas kalau belum mampu bisa beli dari luar tapi syaratnya berbagi teknologi.  Kita meyakini kebijakan Kemenhan yang melakukan transaksi pengadaan alutsista sudah berada di jalan yang benar.   Pengadaan MBT Leopard dilakukan G to G ( government to government) sehingga mampu menghapus beban jasa broker”, katanya menjelaskan.

Semua industri hankam dalam negeri saat ini bergerak dan mekar dengan berbagai order alutsista dari Kemenhan.  Lihat saja PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI).  Industri dirgantara PT DI yang sempat dinyatakan bangkrut, saat ini sedang berupaya merekrut tenaga ahli untuk menyinari kembali industri kebanggaan RI itu.  “Demikian juga dengan PT PAL, semuanya sedang menggeliat dan menampilkan kesibukannya tak terkecuali industri swasta nasional kita”, tutur Jagarin.

*******
(PR Tanggal  22 Nopember 2012 halaman 27)

Wednesday, November 14, 2012

Menyeimbangkan Sumatera


Pagar pertahanan RI di wilayah barat yang bersinggungan dengan 4 negara (Malaysia, Singapura, Thailand dan India) sudah pasti Sumatera, meski batas teritorinya laut.  Secara geografi Sumatera lebih panjang dari semenanjung Malaysia dan Singapura, jumlah penduduknya pun setara dengan jirannya, kulturnya pun setali tiga uang.  Dari sudut pandang militer negeri seberang utara selat Malaka itu Singapura dan Malaysia  menyimpan kekuatan militer utama untuk pertahanan negaranya.  Singapura jika melakukan serangan udara ke Sumatera, akan banyak obyek vital yang mampu dilumatnya meski belum berarti dia akan memenangkan pertempuran

Berandai-andai tentang skema pertahanan pulau maka Sumatera yang bertetangga satu erte dengan dua rumah sebelah seyogyanyalah  perlu didandani dengan polesan sejumlah alutsista baru berkualifikasi gebuk dulu. Memang Sumatera bukanlah jantung Indonesia, dia hanya salah satu organ NKRI.  Tetapi untuk memberikan rasa segan pada rumah sebelah agar tidak bermain api dengan tetangganya, sekaligus sebagai pemecah perhatian lawan jika terjadi konflik militer, maka sebagai pulau yang terdepan kekuatan alutsista layak diperkuat.

Debarkasi pasukan dalam latihan brigade TNI AD di Baturaja
Menyeimbangkan pulau terdepan ini perspektifnya adalah memberikan kekuatan yang paling tidak mendekati kekuatan negeri seberang selat Malaka. Itu sebabnya penempatan 1 skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru untuk menemani 1 skuadron Hawk 100/200 merupakan langkah tepat karena mampu memberikan kekuatan tambahan meski belum sama sekali “mendekati” kekuatan lawan.  Tetapi juga harus diingat lawan yang dihadapi berada pada geografi utamanya alias pusat komando militer, tentu mereka harus lebih kuat.

Malaysia menempatkan skuadron tempur utamanya di Semenanjung seperti F18 Hornet, Mig 29 dan Sukhoi.  Demikian juga dengan Singapura karena negerinya memang cuma punya pulau itu tok. Meski Singapura punya banyak jet tempur mutakhir, tidak semuanya ada di negeri pulau itu.  Sebagian ditransmigrasikan ke AS, Thailand, Australia dan Taiwan karena negeri Temasek ini punya handikap yang cukup menyesakkan, kurangnya ruang udara untuk berlatih di wilayah sendiri.

Secara kuantitatif dan kualitatif menempatkan 2 skuadron jet tempur Hawk dan F16 di Sumatra belum memberikan kesan gahar tetapi dalam gelar kekuatan skuadron udara untuk kegiatan patroli udara dinilai cukup memadai.  Namun ke depan  tetap perlu ada penambahan minimal 1 skuadron udara intersep pemukul yang fungsinya juga untuk memayungi Jakarta dari serangan udara yang muncul dari horizon barat laut. Dilhat dari ruang jelajah yang proporsional mencakup seluruh Sumatera dan Laut Cina Selatan, maka menempatkan 1 skuadron Sukhoi SU30 (atau SU35) di Belitung adalah kebijakan jernih yang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Maksudnya Jakarta tercover, Sumatera sampai Sabang dipayungi, ALKI satu termonitor, Natuna pun ada dalam jangkauan.  Posisi penempatan skuadron Sukhoi ini diyakini memberikan efek getar dan gentar bagi negara tetangga.
Seandainya ini yang digelar, dijamin gentar tuh
Sumatera yang memiliki  3 Kodam dirasa cukup untuk mengamankan teritori darat yang memanjang itu.  Tetapi tentu yang perlu dicermati adalah koordinasi 3 Kodam ketika menghadapi kondisi darurat perang dan harus berjuang duluan misalnya ketika konfrontasi dengan Malaysia.  Musuh terbesar Sumatera jika terjadi konflik dengan 2 jiran itu adalah serangan udara.  Sementara serangan pantai untuk ofensif pasukan tetangga diyakini tidak terjadi karena 2 jiran itu tak memiliki kemampuan serangan laut ke pantai seperti yang dimiliki Marinir Indonesia.

Oleh karena itu mobilisasi pasukan di pulau itu harus di dukung alutsista bernilai pre emptive tinggi misalnya ketika menghadapi serangan udara jet tempur Sukhoi Malaysia. Sumatera harus diperkuat dengan satuan rudal darat ke udara jarak menengah, tidak lagi mengandalkan rudal jarak pendek seperti yang dimiliki saat ini.  Demikian juga dengan penempatan satuan rudal darat ke darat di lokasi paling dekat dengan negeri seberang. Evaluasi latihan setingkat brigade yang dilakukan beberapa waktu yang lalu di Baturaja Sumsel dengan mendatangkan ratusan alutsista berat dari Jawa memberikan kesan beratnya situasi tempur dan waktu yang diperlukan ketika menyeberangkan ratusan alutsista dari Jawa ke Lampung.

Itulah sebabnya menurut hemat kita Sumatera harus mempunya kekuatan pukul organik yang lebih menggigit sebelum datang bala bantuan dari pulau lain utamanya Jawa.  Pekanbaru, Dumai, Batam dan Medan minimal harus memiliki satuan rudal darat ke udara jarak menengah untuk mengawal obyek vital di wilayah itu.  Untuk menambah kekuatan pre emptive tentu sangat dimungkinkan melakukan penempatan rudal darat ke darat di Bengkalis, Karimun, Batam dan Bintan.  Menempatkan satuan rudal darat ke darat ini bukan sesuatu yang nisbi loh.  Kita saat ini dalam tahapan menuju kepememilikan teknologi rudal jarak jangkau 300 km.  Lha kalau sudah punya teknologinya masak rudalnya ditempatkan di Jawa.  So pasti ruang kesatriannya ada di wilayah border semacam Sumatera dan Kalimantan.

Dalam kondisi damai seperti saat ini, menyeimbangkan kekuatan militer di Sumatera merupakan langkah terukur bernilai sunnah muakkad karena ini juga bagian dari strategi untuk memecah konsentrasi lawan agar berhati-hati dengan Sumatera.  Gelar kekuatan darat dengan kekuatan rudal arhanud jarak sedang, angkatan laut dengan satuan kapal cepat rudal yang disebar di selat Malaka dan sebaran skuadron tempur Hawk, F16 dan Sukhoi merupakan strategi pertahanan lapis yang perlu disandangkan di bumi Andalas.

Setidaknya dalam pola pertahanan berlapis, memperkuat Sumatera dengan sejumlah alutsista gebuk dulu akan memberikan kekuatan penyeimbang sekaligus rasa segan bagi pihak lawan untuk berhitung ulang ketika mau memulai konfrontasi.  Menumpuk alutsista di Jawa memberikan kesan seakan-akan hanya Jawa yang hendak dipertahankan. Oleh sebab itu gelar kekuatan milter strategi pertahanan berlapis dengan menyeimbangkan kekuatan alutsista di perbatasan dengan jantung Indonesia perlu dikembangkan. 

Menempatkan sejumlah alutsista pukul duluan di Sumatera merupakan bagian dari strategi reaksi cepat itu sendiri karena alutsistanya sudah ada.  Tidak nunggu dulu, dipukul bonyok baru datang bantuan pasukan pemukul dari Jawa, saake tenan rek.  Jernihnya, kita tidak ingin bermusuhan dan memulai konfrontasi dengan negara tetangga tetapi sekaligus tidak ingin dianggap remeh apalagi dilecehkan dengan mereka.   Kehadiran sejumlah alutsista gebuk dulu di sepanjang perbatasan Sumatera dengan negara jiran adalah dalam rangka itu, anda sopan kami segan, anda injak kami pijak !
******
Jagvane / 14 Nop 2012