Thursday, May 3, 2012

Mengapa Harus Gelisah, Malaysia

Ekspedisi Khatulistiwa sedang digelar di bumi Kalimantan terhitung sejak 5 April 2012 sampai dengan 17 Juli 2012.  Hajatan strategis ini diikuti 1.170 orang, mayoritas pasukan TNI segala matra, untuk mengenali dan mengintimi situasi geografi dan lekuk bumi Kalimantan.  Utamanya di kawasan perbatasan  yang menantang sekalian mensimulasi naluri tempur pasukan TNI melalui medan ralasuntai (rawa, laut, sungai dan pantai) di Kalimantan. 

Ini juga bagian dari “rekonstruksi operasi Anacondas-2” sebagaimana yang pernah difilmkan, meneliti flora dan fauna di pedalaman Kalimantan sembari mencari Anacondas dan anggrek merah kalau memang ada.  Sekalian juga menginspeksi patok perbatasan yang sering diusili tetangga sebelah.  Kepala Staf Angkatan Darat pernah bilang : Lu cabut patok gue sikat.  Nah ini juga bagian dari pembuktian apakah ada patok perbatasan negara kita yang dicabut atau digeser oleh tetangga sebelah.
Tim Ekspedisi Khatulistiwa di Lanud Supadio Pontianak
Operasi teritorial yang melibatkan pasukan khusus TNI AD (Kopassus), Marinir, Kostrad dan Paskhas serta sejumlah ilmuwan, menwa dan relawan ternyata disikapi dengan kewaspadaan penuh oleh negara jiran Malaysia.  Jauh-jauh hari pasukan Malaysia mendatangkan belasan MBT Pendekar ke Sabah dan arsenal lain di kawasan itu termasuk mengerahkan jet tempur F18 Hornet ke utara Kalimantan. Kamuflasenya adalah latihan militer ATM, katanya. 

Tapi kafilah tetap berlalu dengan langkah tegap walau anjing tetangga menggonggong terus.  Mereka bahkan sampai mengawasi ketat pergerakan pasukan TNI yang mulai bergerak dari Sebatik menuju kawasan kabupaten Nunukan yang ada di daratan Kalimantan yaitu Simanggaris, Alang dan Lumbis.  Mereka menganggap ekspedisi ini sebagai show of force sehingga harus dikawal dengan unjuk kekuatan juga.

Karena merasa gerah dan gelisah mereka juga mengerahkan jet tempur Hornet ke Kinabalu dan pergerakan jet tempur ini dipantau ketat oleh radar TNI AU yang ada di Tarakan sehingga tanggal 16 April sampai dengan 20 April 2012 yang lalu TNI AU mengirimkan 1 flight jet tempur Sukhoi ke Balikpapan untuk melakukan operasi kawal udara di perbatasan. 

Kehadiran Sukhoi di kawasan perbatasan ini membawa manfaat bagi perjalanan ekspedisi karena setelah itu tidak ada lagi gangguan udara dari pihak sebelah.  Lagian ngapain juga mengganggu, wong ini rumah-rumahku sendiri, halamanku sendiri, pohon-pohonku sendiri, tanah-tanahku sendiri. Upaya gangguan ini mencerminkan ketidakdewasaan tetangga sebelah terhadap hajatan kenduri kita menjelajah perbatasan milik kita karena mereka menganggap itu ancaman.

Ekspedisi khatulistiwa merupakan bagian dari upaya memoles kawasan border untuk lebih mengenali lintang dan bujur perbatasan.  Termasuk di dalamnya pegunungan dan lembah, sungai dan gambut, kultur masyarakat setempat, komunikasi dengan masyarakat perbatasan, menggali informasi intelijen untuk kajian militer agar kawasan ini dapat diikat suasana keindonesiaannya dari sisi hankam.  Ekspedisi ini dibagi dalam 8 group koordinat yang menjelajah hutan di wilayah kabupaten Sambas, Sanggau, Putussibau, Murung Raya, Hulu Sungai Tengah, Kutai Barat, Malinau dan Nunukan.  Ekspedisi bergengsi kebangsaan ini terdiri dari komando pengendalian, tim penjelajah, tim komunikasi dan  tim peneliti.

Pada saat yang sama 2 Kodam di Kalimantan lagi berbenah. Kodam Mulawarman yang berbatasan dengan Sabah Malaysia sedang bersiap diri menyambut berbagai alutsista  baru diantaranya 1 batalyon MBT Leopard, 1 skuadron heli serang Penerbad, MLRS, rudal surface to surface, rudal surface to air, Howitzer bersamaan dengan pembangunan batalyon infantri, artileri dan kavaleri.  Sementara Kodam Tanjungpura yang berbatasan dengan Sarawak juga membangun satuan-satuan tempur baru yaitu batalyon artileri dan kavaleri.  TNI AU sudah menempatkan 1 skuadron jet tempur Hawk di Pontianak dan menanti kedatangan 1 skuadron pesawat tanpa awak (UAV).

Sejalan dengan itu 3 bandara di Kaltim sedang dalam tahapan retrofit agar bisa didarati pesawat Hercules untuk mobilitas pasukan.  Ketiga Lanud itu adalah Long Bawan Krayan, Long Ampung dan Datah Dawai di Long Nunuk Kutai Barat.  Dari sisi Hankam ketiga Bandara ini bernilai strategis karena berada pada wilayah yang tak jauh dari border.  Bandara Long Bawan mempunyai nilai historis dalam era Dwikora tahun 1964 dengan pendaratan Hercules yang dramatis itu.
Tim Ekspedisi Khatulistiwa ceria dan easy going
Operasi Khatulistiwa ini di back up oleh sedikitnya 12 batalyon organik di 2 Kodam yang ada di Kalimantan bahkan di kawasan perbatasan Kalimantan saat ini dijaga oleh batalyon Linud Kostrad yang didatangkan dari Jawa.  Selain itu Penerbad juga mengerahkan armada heli tempur untuk mengawal personel yang sedang menjelajah kawasan perbatasan.  Sementara TNI AU menyiagakan jet tempur Hawk yang berpangkalan di Pontianak disamping pesawat pengintai.

Seharusnya Malaysia tak perlu gelisah karena ekspedisi ini merupakan urusan rumah tangga RI. Wajar dong kalau RI berupaya untuk merawat pagar halamannya dan sesekali dikunjungi dengan rombongan besar. Adalah wajar juga karena ini menyangkut perencanaan pertahanan negara. Jadi tidaklah beralasan kalau rumah tangga disebelah kita itu merasa gelisah dan gerah lalu berupaya membayangi dan menakut-nakuti personel TNI dengan gerakan gerilya atau patroli udara termasuk mengerahkan MBT segala.  Silakan bergerilya Pakcik tapi jangan salahkan kami kalau tiba-tiba saja pasukan anda disergap oleh Kopassus.  Di hutan rimba segala sesuatu bisa terjadi dengen cepat, tepat, senyap karena ini teritori tempur Kopassus yang paling ideal.  Kalau tak percaya silakan coba.

******
Jagvane 03 Mei 2012

Wednesday, May 2, 2012

Purnomo, Pramono, Subekti

Ada aura teh manis panas manakala kita menyentuh nama Purnomo, Pramono dan Subekti. Ada kehangatan yang menyegarkan manakala ketiga person ini mampu memberikan sentuhan spirit militer yang membangunkan. Spirit militer kita terangkat jelas dengan performansi dan pernyataan ketiga pucuk pimpinan piramid pertahanan RI.  Purnomo Yusgiantoro pemegang kendali Kementerian Pertahanan terakhir jelas berkata ketika kasus Tanjung Datu mengemuka.  Jika ada pergeseran patok perbatasan kita serang, ujarnya. Ini adalah satu dari sekian statemen pembangkit adrenalin militer yang disuarakan menteri kancil itu. Mampu memberikan semangat bagi prajurit TNI segala strata dan segala matra bahwa begitulah seharusnya suara militer yang dikumandangkan manakala ada teritori yang dilecehkan.

Seirama dengan itu Pramono Edhie Wibowo, jendral angkatan darat bintang empat, jelas bersenandung ketika meeting dengan anggota DPR RI Komisi I beberapa waktu lalu. Dia bilang, Lu cabut patok gue sikat. Maksudnya dengan pertambahan alutsista TNI AD semacam MBT di Kalimantan jika ada yang berani cabut patok border ya disikat saja.  Ini adalah pernyataan terang benderang walaupun konteksnya adalah agar DPR tidak mempermasalahkan pembelian MBT Leopard yang memang dibutuhkan untuk mengawal border daratan RI di Kalimantan. Dari sisi spirit militer pernyataan orang nomor satu di angkatan darat itu memberikan angin segar bahwa kurikulum militer memang untuk itu tanpa kompromi.
Jet Tempur TNI AU dalam sebuah parade kedirgantaraan
Kodam Mulawaman yang berbatasan dengan Sabah Malaysia merupakan satu dari dua Kodam di Kalimantan yang merupakan pagar garis depan yang berhadapan langsung dengan Malaysia.  Yang satu lagi Kodam Tanjungpura yang berhadapan dengan Sarawak.  Adalah Mayjen Subekti Pangdam Mulawarman yang menyebut lantang bahwa Kodam Mulawarman akan diperkuat dengan 1 batalyon MBT Leopard, 1 skuadron Heli Serang berikut rudal anti tank dan satuan pemukul lain MLRS Astros II buatan Brasil.  Satuan-satuan pemukul angkatan darat itu akan disebar di Berau, Malinau, Nunukan dan Sangatta bersama batalyon artileri dan infantri yang sudah tersedia.

Sejatinya pernyataan tiga pimpinan piramida pertahanan RI itu mencerminkan spirit ber TNI, spirit berpertahanan yang membanggakan karena pernyataan komando itu setidaknya memberikan sinyal kepada rumah tetangga agar jangan selalu mengurusi pagar halaman kami yang sudah sah defacto dan de jure. Kita memang perlu pernyataan high adrenalin karena ini menyangkut kewibawaan teritori yang selalu diusik oleh jiran.  Perilaku tetangga ini harus kita hentikan dengan cara memberikan statemen keras sekaligus mempersiapkan kekuatan alutsista di sepanjang perbatasan.

Kepemimpinan jalur komando yang dianut militer yang dijiwai  spirit adrenalin militer dengan lagu seperti ini diniscayakan memberikan efek gentar dan getar bagi siapa saja yang coba melecehkan teritori RI. Lontaran keras memang perlu dikumandangkan agar tidak ada lagi upaya untuk  klaim teritori.  Sejalan dengan itu perkuatan alutsista TNI merupakan keharusan dan kewajiban untuk memberikan nilai gaung yang jelas.  Bahwa kita bukan saja bisa mengaum dengan keras namun juga sanggup menerkam bersama Leopard yang digelar di hutan Kalimantan.  Ini bukan pernyataan perang tetapi memberikan ketegasan bahwa kita siap berkelahi manakala milik kita yang sah dianggap sebagai mainan teritori oleh jiran yang pongah karena merasa memiliki keunggulan militer.

Kehadiran Presiden SBY di Ambalat beberapa tahun yang lalu juga memberikan pesan bahwa kawasan ini adalah milik asli RI dan jangan coba-coba untuk membelokkan opini dengan dalih apa pun.  Kedatangan seorang kepala negara pada teritori yang dipersengketakan dalam bahasa diplomasi menyiratkan makna bahwa teritori itu adalah milik sah yang tak dapat dirundingkan. Demikian juga dalam komando militer karena Presiden adalah panglima tertinggi TNI, pesannya jelas bahwa militer RI siap berkelahi tanpa kompromi karena tugas militer adalah berkelahi sesuai perintah.

Purnomo, orang sipil yang enerjik itu memang profil yang cerdas dan mampu membawa Kemenhan dengan segudang uang bernilai milyaran dolar untuk belanja alutsista. Tak salah memang ketika Presiden SBY menunjuk dia untuk jabatan bergengsi Kemenhan sejak tahun 2009.  Pria kelahiran Semarang  yang punya banyak gelar keilmuan berbagai strata Doktor, Insinyur, MA, MSc memang mampu mengemban berbagai jabatan berbobot. Sebelum ditunjuk sebagai Menhan, beliau pernah menjabat sebagai menteri ESDM dua periode dan bahkan pernah menjabat dua jabatan sekaligus dalam jabatan organisasi tingkat dunia, sebagai Presiden OPEC dan Sekjen OPEC tahun 2004.
Penerjunan Pasukan Kostrad di wilayah perbatasan
Dalam pengamatan kita hanya sekali saja raut wajah menteri kancil ini menampakkan kemarahan intektualnya ketika koalisi LSM mempermasalahkan pembelian 6 Sukhoi batch 3. Wajar saja kalau dia marah dan mengandaikan LSM itu sebagai antek asing dan kita mengamini karena memang banyak diantara LSM hanya menyanyikan lagu kebangsaan bagi bangsakunya (baca: bank saku) alias membela yang bayar.  Terbukti kemudian pimpinan KPK Busyro Muqoddas mengatakan belum ada indikasi penyimpangan dalam pengadaan 6 Sukhoi TNI AU itu.

Purnomo, Pramono, Subekti adalah simbol untuk menyatakan jati diri pertahanan RI yang harus dibela dengan ongkos yang mahal.  Menjaga keutuhan wilayah NKRI dan kweibawaannya memang memerlukan biaya besar karena rentang perbatasan wilayah kita adalah sebesar benua Eropa.  Adalah sangat layak kekuatan TNI dperkuat dengan minimal 12 skuadron tempur, 300 kapal perang, ratusan MBT dan rudal-rudal pre emptive strike. Perjuangan menuju ke arah itu sudah dan sedang dimulai.  Sejalan dengan perkuatan itu, pernyataan-pernyataan petinggi militer sekali waktu memang perlu digemakan untuk memberikan nilai hentak spirit militer dan spirit berpertahanan.  Jangan main-main dengan kami, itu pesannya.

**********
Jagvane 02 Mei 2012

Monday, April 23, 2012

Ada Gula Ada Semut Ada Lebah Madu

Kunjungan kenegaraan PM Inggris David Cameron ke Jakarta tanggal 11-12 April 2012 menyiratkan betapa manisnya sosok gadis yang bernama alutsista yang harumnya sampai ke mancanegara.  Dalam sebuah wawancara dengan media nasional sebelum kedatangannya di Jakarta PM Cameron mengatakan, lupakan masa lalu mari menjemput masa depan yang lebih baik.  Kalimat ini adalah sebuah rayuan agar si gadis mau melupakan masa lalu yang pahit manakala dia disia-siakan dan ditelantarkan.  

Semua ini terkait dengan  dengan “luka hati” si alutsista ketika dengan seenaknya jet tempur ringan Hawk buatan Inggris pesanan RI ditelantarkan di Bangkok Thailand akhir tahun  90an karena diputus sepihak tanpa menyertakan kearifan mengantar sampai Jakarta baru diputus gitu loh.  Belum lagi ketika Scorpion melakukan “jalan-jalan militer” di Aceh tahun 2003 tiba-tiba saja datang perintah, jangan pakai Scorpion kata London.  Sakit hati si alutsista belum pulih.
Hawk200 TNI AU yang pernah di embargo Inggris
PM Inggris itu memang perlu datang ke Jakarta untuk merayu karena Jakarta menyimpan gula alutsista yang legit dan harum. Inggris saat ini memang lagi melakukan langkah ofensif untuk jualan alutsistanya setelah Typhoon mengalami kekalahan telak dalam tender jet tempur medium multi combat untuk Angkatan Udara India. Inggris pun datang menawarkan alutsistanya, dan memastikan salah satu alutsistanya  rudal starstreak jadi dimiliki dan digelar di beberapa batalyon Arhanud  akhir tahun ini. 

Lalu ada pesawat angkut berat A400M buatan Airbus Military yang mampir ke Air Base Halim Jakarta untuk unjuk kerja dan unjuk performansi. Meski dibantah tapi kita meyakini bahwa Typhoon juga ikut ditawarkan untuk perkuatan TNI AU.  Beberapa tahun lalu ketika Menhan AS datang dan menawarkan 6 F16 blok 52 ke RI untuk memperkuat skuadron F16 kita, dibantah juga dengan mengatakan bahwa kita belum menganggarkannnya.  Tapi dua tahun berselang yang terjadi adalah kita dapat 24 F16 blok 52 upgrade dari Paman Sam plus 6 pesawat “suku cadang”.

Setelah David Cameron, Presiden Kazakhtan Nur Sultan Nazarbayev datang mencari sisa gula yang mungkin masih bisa dimanfaatkan berupa peluang kerjasama.  Memang sih baju release setiap kunjungan beberapa kepala pemerintahan negara sahabat ke Jakarta warnanya multi dimensi.  Tapi sejatinya ada gula penarik yang membawa misi bisnis para kepala negara itu ke RI apalagi kalau bukan si rupawan alutsista yang seksi itu.

Kalau tidak ada halangan Juni mendatang Kanselir Jerman Angela Merkel datang berkunjung ke Indonesia.  Boleh jadi kunjungan ini akan membuat kejutan baru bagi peningkatan kerjasama pertahanan kedua negara yang memang sudah terjalin baik selama ini.  Salah satu kejutan itu bisa saja ada di alutsista paling strategis di laut yaitu kapal selam.  Saat ini kita  punya 2 kapal selam eksisting buatan Jerman yang sudah di retrofit Korea Selatan.  Sudah pula pesan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan.  Kapal selam pertama selesai tahun 2015 dan yang ketiga di PAL tahun 2018.  Artinya tahun 2018 kita punya 5 kapal selam, tapi jangan lupa pada saat yang sama KRI Cakra pada tahun itu kondisinya sudah menurun jauh.

Sangat dimungkinkan ada tambahan 2 kapal selam baru U214 dari Jerman yang memiliki saudara sepupu U209 Cakra Class dan sepupu yang lain Changbogo Class yang sedang dibuat di Korea Selatan.  Kapal selam Changbogo ini menurut petinggi TNI AL adalah U209 dengan rasa U214.  Maksudnya rancang bangun badannya tetap memakai konstruksi U209 tetapi dalemannya setingkat U214. Seperti diketahui bahwa sampai dengan tahun 2020 TNI AL mengharap target 8 kapal selam bisa dipenuhi.  Dengan asumsi pada tahun itu kapal selam Cakra Class yang berjumlah 2 unit sudah dianggap uzur maka pemenuhan target untuk 10 kapal selam RI bisa dipenuhi dengan pengadaan paralel kapal selam dari satu perguruan yang sama HDW Jerman.

Kerjasama pengadaan alutsista dengan beberapa negara sahabat apakah melalui metode beli murni atau transfer teknologi, dalam waktu dekat ini sudah menjelang panen raya. Tahun ini saja kita akan kedatangan beberapa unit Super Tucano, UAV, F16, T-50, Sukhoi, Helikopter serang, rudal darat ke udara.  Sampai dengan tahun 2014 panen raya alutsista itu segera mengisi kesatrian TNI dalam jumlah dan jenis yang sangat menggembirakan dan membanggakan.  Ini termasuk dengan alutsista buatan dalam negeri seperti Panser Anoa, Kapal Cepat Rudal, Kapal Trimaran Rudal, Roket Rhan dan lain-lain.
Rudal C705 cikal bakal Rudal RI segala matra
Tentu anggaran alutsista TNI yang dikucurkan itu menjadi magnet yang menarik negara-negara lain untuk mencari perhatian dan menarik simpati bagi RI.  Tapi sejatinya negara-negara itu hanya berperan sebagai semut kecuali Korea Selatan, dan Cina yang mengambil peran sebagai lebah madu.  Dia ambil gula itu tapi kemudian dia bagikan juga sebagai bagian dari transfer teknologi untuk memintarkan kita cara membuat produk, tidak sekedar memakai produk.  Korea berbagi ilmu teknologi jet tempur, kapal selam, panser canon. Bahkan menghibahkan beberapa alutsista yang dia miliki,  misalnya kendaraan amfibi LVT-7 dan 1 skuadron jet tempur F5E.  Cina juga mau berbagi ilmu teknologi rudal, sebuah ilmu yang sangat sulit dicari di semua universitas alutsista di seluruh dunia.  Rudal C705 menjadi batu loncatan untuk pengembangan teknologi rudal segala matra, dan itu sudah diambang pintu.

Meski masih banyak negara yang cari perhatian itu hanya memerankan diri sebagai semut, tidaklah menjadi sebuah persoalan bagi kita.  Misalnya kita beli Sukhoi karena untuk menyetarakan kemampuan teknologi pertempuran udara.  Atau beli MBT untuk menyamakan posisi gahar dengan negara jiran. Itu semua bagian dari strategi untuk memenuhi kebutuhan alutsista kita yang ketinggalan jaman.  Seiring dengan itu kita pun sedang menyiapkan dan membangun industri alutsista segala matra.  Dan itu memerlukan waktu.  Dan itu memerlukan kesabaran.  Ketika saat itu akan tiba dan tidak lama lagi, maka peran semut tadi semakin berkurang tapi tidak bisa juga hilang sama sekali, namanya juga semut pasti akan mencari gula.  Tetapi peran lebah madu yang banyak bermanfaat itu diniscayakan merupakan menu utama yang disajikan dalam setiap pengadaan alutsista kita karena kita telah menghasilkan madu sendiri untuk TNI kita.

********
Jagvane / 23 April 2012

Monday, April 2, 2012

Mewaspadai Halaman Belakang Rumah Kita

Dinamika kawasan kiri kanan rumah besar kita benar-benar berkembang menuju sebuah persiapan menyusun strategi pertahanan kualitas gajah.  Kalau sebelumnya kita merasa konflik bertetangga hanya sebatas pelecehan teritori, misalnya dengan Malaysia  dan itu ada di wilayah halaman dalam dan depan rumah kita.  Maka setelah Darwin yang dipersiapkan sebagai pangkalan militer angkatan laut AS dan kemudian pulau  Kokos (Keeling) milik Australia yang berada di barat daya Jawa juga dipersiapkan sebagai pangkalan militer AS, maka kita tidak lagi sekedar “bermain” di halaman dalam rumah kita.  Kita harus mewaspadai halaman belakang yang selama ini seperti kosong melompong tak berpenghuni.

AS memang sedang mempersiapkan kekuatan militernya di Asia Pasifik untuk menghadapi kekuatan militer Cina yang berkembang pesat.  Cina sudah mempunyai target bahwa tahun 2020 nanti merupakan tahun kecemerlangan militernya karena pada saat itu sudah tersedia kekuatan laut dan udara yang berkemampuan ekspansi dan terkuat di kawasan Asia Pasifik.  Lebih dari itu, Cina mempunyai ambisi untuk menguasai sumber energi fosil yang tersimpan di Laut Cina Selatan (LCS).  Maka klaimnya jelas dengan mempertunjukkan sejarah dinasti Cina yang katanya menguasai seluruh kawasan LCS sehingga itu menjadi hak Cina dengan mengumumkan peta lidah naga yang menjulur sampai perairan Natuna milik Indonesia.

Sebagai pemilik hegemoni kekuatan militer di Asia Pasifik, AS tak mau posisi pemimpin klasemen kekuatan militernya digeser oleh Cina.  Padahal AS sudah memiliki kekuatan Armada ke 7 yang hilir mudik mengarungi Samudera Pasifik dan lenggang kangkung melewati ALKI 1 dan 2 Indonesia.  Itulah paranoidnya AS, selalu merasa terancam secara militer padahal sejatinya tak ada ancaman terhadap teritorinya yang jauh dari kemungkinan serangan militer skala besar seperti cerita sejarah PD I dan PD II, AS berperang jauh dari teritorinya sendiri.  Demikian juga dengan prediksi kekuatan ekonomi Cina sudah memberikan peta jalan bahwa Cina akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia setelah tahun 2020.  AS semakin cemas saja apalagi Cina tak bisa didikte dengan kerjasama ekonominya dengan Iran yang berjalan terus.  Sanksi ekonomi AS bagi Cina adalah sebuah fatamorgana.
KRI A Yani Class mengawal Kapal Induk AS di jalur ALKI 1
Boleh jadi pembangunan pangkalan militer AS di pulau Kokos juga untuk menghadapi kekuatan militer India yang menggeliat dan mulai mengaum di kawasan Samudra Hindia. Padahal AS sudah memiliki Diego Garcia yang juga di kawasan barat Samudra Hindia.  Tetapi begitulah, merasa masih kurang saja mata, telinga dan tangan  yang dipersiapkan untuk menjaga hegemoni tadi.  Sehingga yang terjadi adalah persiapan membangun kekuatan militernya di kawasan yang nota bene ada di halaman belakang NKRI.  Masih ada lagi satu pulau yang bisa dijadikan jalur suplai dan bekal ulang yaitu pulau Natal milik Australia.  Pulau Natal (Christmas) sebenarnya paling dekat dengan Jawa dan selalu menjadi tempat tujuan pengungsi perahu yang datang bergelombang dari tempat singgahnya Indonesia.  Darwin, Natal dan Kokos sangat dimungkinkan “bersekutu” untuk memukul Cina dari selatan jika konflik LCS pecah.  Dan jalan untuk memukul itu sudah pasti melewati dan mengacak-acak teritori RI.

RI tentu harus menyikapi suasana dinamis ini dengan mempersiapkan kekuatan militer dan diplomasi politik yang lebih intensif. Oleh sebab itu mulai renstra 2015-2019 sudah harus direncanakan pengadaan armada laut dengan kekuatan KRI berkualfikasi Destroyer dan memperbanyak KRI  kelas Fregat.  Jangan sampai terjadi yang berpatroli di halaman belakang adalah KRI berkualitas KCR.  Bisa-bisa nanti Ratu Kidul mentertawakan kita.  Kondisi saat ini adalah tidak ada pangkalan AL yang berkualifikasi Lantamal di sepanjang selatan pulai Jawa.  Di pantai barat Sumatera hanya tersedia 1 Lantamal yaitu Teluk Bayur.  Dengan pangkalan Darwin dan Kokos maka jalur ALKI 1 (Selat Sunda) dijamin bakal lebih sering dilalui armada kapal perang AS, itu artinya secara militer Jakarta sangat dekat dengan ancaman.  Langit Jakarta berada dalam pengawasan pesawat intai tanpa awak AS.

Kekuatan kapal selam kita perlu ditambah dengan minimal 4 kapal selam kelas Kilo atau yang setara dengannya disamping tetap memperbanyak kapal selam kelas Changbogo.  Kapal selam kelas Kilo atau yang setara dengannnya diperlukan untuk mengawal perairan pantai barat Sumatera, selatan Jawa sampai laut Arafuru.  Demikian juga dengan adanya KRI berkualifikasi Destroyer, ada kekuatan pagar untuk menjaga kawasan laut dalam Indonesia.  Kekuatan udara kita juga harus diperkuat misalnya dengan menempatkan 1 skuadron jet tempur Sukhoi SU35 di pangkalan Suryadharma Subang.  Pangkalan ini sangat strategis untuk mengawal ibukota.  Sudah saatnya pangkalan ini dijadikan pangkalan utama TNI AU seperti Iswahyudi Madiun.  Diantara semua pangkalan udara yang memiliki skuadron tempur di Indonesia hanya Madiun yang terbebas dari penerbangan komersial.  Sekali lagi Lanud Kalijati Subang sangat strategis untuk dijadikan pangkalan jet tempur TNI AU.

AS dan Cina sedang mempersiapkan kekuatan otot militernya, akan tetapi banyak pelanduk yang berada di tengah kedua  raksasa ini.  Walaupun para pelanduk ini berada dalam rumah ASEAN namun polarisasi keberpihakan terasa auranya.  Filipina jelas berkiblat ke AS, demikian juga dengan Thailand dan Singapura walau kadarnya berbeda.  Vietnam benci Cina tapi tidak juga dekat dengan AS, maka Rusia mengambil kesempatan.  Kamboja, Laos dan Myanmar lebih dekat dengan Cina.  Malaysia dan Brunai lebih akrab dengan Inggris. Sedangkan Indonesia dekat dengan AS dekat pula dengan Cina.  Dan dari semua wilayah teritori anggota ASEAN Indonesia adalah yang terbesar dan di pinggir kiri dan kanan teritori itu sedang dipersiapkan adu kekuatan.

Pulau Kokos tidak sekedar dipersiapkan sebagai pusat skuadron pesawat tanpa awak AS untuk memantau gerak militer Cina.  Kalau hanya sekedar ini, Filipina dan Armada ke 7 AS sanggup melaksanakannya.  Letak Filipina jauh lebih dekat dengan LCS, demikian juga dengan Armada ke 7 yang selalu bergerak mendekat LCS.  Prediksi kita Kokos dipersiapkan AS sebagai pangkalan militer AU dan AL setara Guam.  Oleh sebab itu lebih cepat lebih baik kita mempersiapkan kekuatan militer, meneruskan program MEF dalam renstra kedua (2015-2019) dengan menghadirkan kekuatan pukul yang menggentarkan seperti kapal selam kelas Kilo atau yang setara dengannya, KRI destroyer dan jet tempur Sukhoi SU35.  Dengan anggaran 150 trilyun rupiah pada MEF tahap I ini kita sudah, sedang dan akan menghadirkan banyak alutsista baru.  Maka dengan renstra MEF tahap II nanti dengan prediksi anggaran 200 trilyun diniscayakan kita bisa menghadirkan alutsista yang digadang-gadang itu.  Kita bisa kalau kita mau.
*****
Jagarin Pane / 02 April 2012

Sunday, March 25, 2012

Siapa Di Belakang Mereka ?

Pekan akhir di bulan Maret 2012 ini tepatnya tanggal 26 Maret 2012 akan berlangsung debat hangat di Komisi I DPR antara Kemhan dan petinggi Komisi I yang mengurusi pertahanan.  Debat itu tentu menyangkut pada tema panas yang diributkan belakangan ini yakni pengadaan alutsista MBT Leopard, Sukhoi dan Fregat ex Brunai.  Kita berharap debat hangat itu bisa diliput secara live di media layar kaca agar publik dapat mengetahui siapa yang jujur siapa yang makan bubur lalu terbujur.

Gerak cerita ketiga jenis alutsista itu sudah banyak diketahui, dan yang menggerakkanya tentu LSM dan segelintir anggota Komisi I DPR.  Pihak lain yang ikut menyebarkannya sudah tentu media.  Kalau mau di urut proses pengadaan alutsista sesungguhnya sudah diawali mulai dari persetujuan anggaran dan ketersediaan anggaran.  Misalnya untuk pengadaan Sukhoi batch 3, sudah jauh hari disetujui dan disediakan anggaran sebesar US$ 470 juta untuk 6 Sukhoi, berikut paket suku cadangnya termasuk pengadaan 12 mesin Sukhoi, program pelatihan pilot dan teknisi.
Sukhoi TNI AU, ada tambahan 6 unit lagi untuk capai 1 skuadron
Lalu muncul keributan karena perbedaan kalkulasi. Pihak yang mengklaim mengatakan harga 1 Sukhoi paling tinggi US$ 70 juta maka jika dikalikan enam didapat angka  420 juta dollar. Elemen lain tak dihitung, kontrak yang sudah di sign tak dilirik, pasal demi pasal perjanjian tak jua dibaca, yang dibaca adalah kalimat-kalimat penuh kecurigaan. Yang distabilo adalah selisih US$ 50 juta lalu didefinisikan sebagai mark up. Angka di kisaran ini pun lalu dijual ke khalayak dengan headline memojokkan.

Sejatinya mengkritisi itu sebuah keniscayaan yang memang harus ada untuk menyeimbangkan neraca kewajaran, kehalalan dan kepastian nilai.  Namun apabila nuansa itu melewati ambang batas kewajaran lalu terkesan ambisius dan menghegemoni situasi, rasanya kok ada sesuatu yang menyiratkan, tentu ada energi yang membiayai suara hegemoni itu.  Bahasa lugasnya, siapa di belakang mereka, siapa aktor intelektualnya.

Aura buruk sangka adalah wajah keseharian lembaga swadaya masyarakat, padahal hakekat kehadiran LSM adalah sebagai wadah penyeimbang dan koridor kontrol.  Wilayah teritori pikir, kerja dan kelakuan mayoritas LSM saat ini adalah bagaimana memposisikan diri sebagai pihak yang berseberangan lalu menghantam, tak peduli apakah argumennya benar, tak peduli apakah dana yang didapat justru dari orang yang ada diseberangnya.  

Pernahkah kita melihat anatomi LSM secara komprehensif, bagaimana dan darimana sumber dananya. Pernahkan kita melihat laporan keuangan tahunan LSM. Pernahkah kita melihat siapa-siapa donaturnya. Tak akan kita dapatkan itu. Esensi keseharian LSM bisa dilihat dari rupa wajahnya berlagak seperti malaikat dan dewa penolong tetapi jati dirinya dan jati hatinya tak lebih dari predator yang bermerk maju tak gentar membela yang bayar.

Soal Tank Leopard misalnya, menjadi sebuah ketololan struktural yang ditonjolkan manakala suara-suara LSM yang dicorongkan melalui media dan anggota Komisi I, dengan argumen bernada ultimatum bahwa tank Leopard tak cocok dengan kontur bumi dan kebutuhan TNI AD.  Bagaimana bisa orang yang bukan ahlinya, yang bukan user lalu mengatakan bahwa MBT itu tak cocok pada habitat Indonesia, lalu memaksakan kehendak dengan membawa dan mengatasanamakan rakyat dan nama wakil rakyat.

Menjual opini melalui lembaga swadaya masyarakat dan atau anggota parlemen dalam bingkai demokrasi saat ini menjadi sebuah komoditi yang diperdagangkan demi untuk cairnya sebuah rekening bayaran yang berasal dari sumber yang menginginkan jualannya laku.  Contoh lugasnya adalah bagaimana mungkin sebuah LSM yang ngurusi wilayah kepolisian lantas tiba-tiba menyeberang ke teritori yang bukan urusannya lalu mengibarkan genderang pernyataan, tolak Leopard, usut Sukhoi, jangan ambil Ragam Class. Lalu dengan mudahnya media mengutip tanpa pernah mengaudit kewajaran teriakan pemilik genderang.

Kita telah terjebak dalam sebuah penggiringan pembenaran tanpa perlu mengklarifikasinya. Penyebaran opini mengatasnamakan kebenaran dan menjual dagangannya ke rakyat agar rakyat terhasut lalu ikut membenci.  Jualan inilah yang diecer keliling sebelum debat hangat pekan depan.  Meminjam bunyi sebuah iklan, orang pintar minum tolak angin, orang bodoh minum minyak angin.  Pesannya adalah jangan lagi kita terkesima dengan pernyataan LSM atau anggota DPR yang berwajah laksana malaikat sejatinya berhati ifrit dengan menjual opini ke khalayak dan mengatasanamakan khalayak pula.  Merasa paling benar dan merasa paling berjasa dalam membenamkan lawannya.  

Mestinya setelah perdebatan selesai dan kepada mereka yang menuduh itu perlu dilakukan klarifikasi.  Misalnya dapat data dari mana, perlu melakukan konperensi pers untuk menetralisir keadaan di ruang publik, siapa yang memberi dana untuk mengatahui siapa di belakang mereka, mengapa melontarkan tanpa mengkalirifikasi lebih dulu.  Dan sejumlah pertanyaan ini mestinya mampu di jawab oleh pihak seberang dengan rela hati dan jujur. Tetapi jawaban khasnya selalu, itu adalah rahasia dapur, urusan rumah tangga, sebagai tameng menutupi aura busuknya.

Kita tetap meyakini bahwa Kemhan berada pada jalur yang wajar.  Kita tidak hendak mengatakan Kemhan berada dalam jalur yang benar.  Ini mengacu pada internal control, standar akuntasi keuangan terutama kriteria laporan keuangan after audit dengan sebutan wajar tanpa pengecualian atau wajar dengan pengecualian.   Untuk diketahui Kemhan saat ini sedang dalam proses audit tahun buku 2011 oleh BPK untuk menilai kriteria itu. 

Oleh sebab itu mari berpikir dan bersikap jernih dalam meletakkan nilai kewajaran  setiap proses dan prosedur.  Bukankah setiap perbedaan pandang dan asumsi dapat dilakukan di ruang rapat Komisi I DPR melalui sidang terbuka yang dapat disaksikan khalayak.  Masih ingat kasus Tanjung Datu yang dihebohkan media lewat hasutan seorang anggota DPR, tapi ternyata secara de facto dan de jure tak ada yang berubah, sementara rakyat sudah terhasut, tersulut.  Bukankah ini yang disebut menjual fitnah ?
******
Jagvane 25 Maret 2012

Saturday, March 17, 2012

Hibah Tiger Taiwan, Memancing Di Air Bening

Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Taiwan berbaik hati hendak menghibahkan 1 skuadron (16 unit) jet tempur sarat pengalaman F5E/F Tiger kepada Indonesia.  Berita ini tentu memicu tanda tanya dan kalkulasi ada apa gerangan Taiwan yang tak mempunyai hubungan diplomatik dengan RI mengetuk pintu hendak menyedekahkan Tigernya.  Yang lebih mengherankan belum 6 jam setelah publikasi   pernyataan KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat tanggal 9 Maret 2012 usai memimpin serah terima jabatan Komando Pendidikan TNI AU di Jakarta, Kadispen TNI AU Marsma TNI Azman Yunus langsung membantahnya dengan mengatakan kita tidak ada program hibah F5 dari Taiwan.

Seperti kita ketahui Indonesia dan China belum lama berselang telah bersepakat melaksanakan kerjasama teknologi rudal dengan memproduksi bersama rudal anti kapal C705.  Rudal ini beberapa diantaranya sudah dipasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL setelah RI membeli barang jadinya.  Kerjasama teknologi rudal ini bernilai strategis karena Indonesia telah jauh-jauh hari mempersiapkan program roketnya dengan melakukan puluhan kali uji coba.  Dengan adanya alih teknologi rudal ini sangat diniscayakan RI akan mampu membuat rudal berbagai jenis dengan jarak tembak 300 km mulai dari rudal darat ke darat, rudal darat ke udara dan rudal udara ke darat berdasarkan teknologi yang diperoleh pada kerjasama dengan paman Panda.
1 jet tempur F5E Tiger TNI AU dari 12 yang dimiliki saat ini
Perjuangan mendapatkan kelas privat bersama guru rudal dari China  bukan perkara gampang karena sesungguhnya semua negara yang telah menguasai teknologi rudal sangat pelit menularkan ilmunya.  Perjuangan Indonesia sudah dimulai tahun 2007 dengan penandatanganan kerjasama pertahanan RI-China. Sepanjang masa itu hingga disepakatinya sekolah teknologi rudal berbagai upaya sudah dilakukan.  Berbagai kunjungan kementerian Pertahanan sudah dilakukan.  Presiden Indonesia berkunjung ke China dan Presiden China berkunjung ke Indonesia untuk memastikan strategisnya kerjasama pertahanan kedua negara. China juga tercatat dua kali mengirim kapal perang teknologi rudal satelit  ke Jakarta.  

Posisi RI yang tidak punya klaim wilayah teritori pulau di Laut China Selatan, posisi politiknya yang tak berpihak ke sumbu tertentu, letak geografisnya yang terbesar di Asia Tenggara bisa jadi merupakan nilai plus di mata China manakala negeri itu juga sedang mempersiapkan kekuatan pukul angkatan lautnya untuk menjadi kekuatan regional yang disegani.  Artinya China juga harus punya kawan untuk bersepaham bahwa negara-negara Asia Pasifik harusnya menjadi kekuatan di kawasannya sendiri, tidak lagi ada hegemoni sebuah negara.

Oleh sebab itu release Kadispen TNI AU mesti kita lihat sebagai langkah pre emptive agar jangan sampai air yang telah bening menjadi keruh karena ikannya tak paham kondisi lingkungan. Logikanya Indonesia memang harus menolak pemberian itu karena memang tak ada transaksi apa pun. Berbeda dengan Korsel, hibah 10 kendaraan angkut amfibi kelas berat beberapa waktu lalu dan mau ditambah lagi dengan 10 unit kepada RI karena ada transaksi bisnis alutsista dengan negeri ginseng itu.  Jika RI menerima tawaran Tiger dari Taiwan dapat dipastian paman Panda  tersinggung karena  itu sama artinya telunjuk lurus kelingking berkait, menggunting dalam lipatan. Taiwan dianggap China sebagai pembangkang dan salah satu provinsinya, sementara RI juga sampai saat ini mempunyai langkah politik dengan hanya mengakui satu China.  Artinya air sudah bening selama ini, jangan sampai menjadi keruh karena ada ikan salmon yang berenang ke hulu.

Poin penting lainnnya adalah kita juga akan mendapatkan hibah 1 skuadron F5E/F Tiger dari Korea Selatan sebagai hadiah pembelian 1 skuadron (16 unit) jet latih tempur T50 Golden Eagle.  Hibah dari Korsel tentu patut kita sambut karena akan menambah inventori jet Tiger dari 12 yang kita miliki saat ini menjadi 28 unit.  Dan itu murni hadiah dari kerjasama transaksi bisnis alutsista RI-Korea yang demikian eratnya.  Jet tempur ringan F5E masih dibutuhkan untuk melakukan patroli udara  mengcover wilayah udara RI yang luas ini.  Indonesia masih akan mengoperasikan jet tempur F5E sampai tahun 2020.

Mulai tahun 2014 kita akan keluar dari sesak nafas alutsista.  Di matra udara sudah berdatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T50, Super Tucano, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter tempur, helikopter angkut, dan rudal. Termasuk keberadaan 28 jet F5E yang berguna untuk patroli udara sementara jet tempur kelas berat Sukhoi terlalu mahal ongkosnya jika hanya digunakan untuk patroli udara. Jet tempur Sukhoi dirancang untuk pertempuran udara high class dan memiliki jarak jelajah yang mampu mengcover luas wilayah udara RI.  Sayang kan kalau hanya untuk mengejar pesawat Papua Nugini atau pesawat Pakistan harus dengan Sukhoi.

Langkah baik hati Taiwan harus kita sikapi dengan bijak.  Itu sebabnya langkah Kadispen TNI AU merupakan suara kecepatan yang perlu diapresiasi karena kalau terlambat merespons akan menimbulkan polemik. Jadi sebelum berpolemik mending di delete saja.  Langkah Taiwan yang tiba-tiba berbaik hati ini harus dibaca sebagai memancing di air bening karena memang kita mempunyai hubungan dagang yang baik dengan negeri pulau itu. Di sisi lain kita punya hubungan yang hangat dan sangat bersahabat dengan China yang sah di mata PBB.  Karena airnya bening tentu sangat mudah mendapatkan ikannya tanpa harus mengaduk-aduk hubungan yang sudah baik antara RI-China dan RI Taiwan.

Taiwan punya hubungan sangat dekat dengan AS, kalau boleh dibilang sekutunya AS sekaligus payungnya, dan beragam alutsistanya didominasi buatan negara adi daya itu.  Bisa jadi AS menggunakan tangan Taiwan secara halus untuk “menggoda” Indonesia.  AS bersahabat baik dengan RI karena kepentingannya juga untuk jangan sampai negeri ini jatuh ke pelukan China atau berkiblat ke China.  Ini adalah ujian awal sekolah teknologi rudal karena di hari-hari berikutnya masih akan ada lagi ujian yang mengharuskan kita bersabar sampai sekolah itu selesai dan langsung ditutup karena gurunya tak mau ada murid yang lain.  Sabar itu memang penting sama seperti pelecehan teritori yang kita alami selama ini.  Sabar itu juga sama seperti yang diungkapkan bahasa tubuh Presiden SBY di Mabes TNI Cilangkap Jakarta tahun 2007 ketika emosi Ambalat mencapai titik didih.  Beliau berupaya mendinginkan emosi rakyat saat itu namun sesungguhnya itulah awal “kemarahan militer”nya, lalu bersama petinggi Kemhan dan Mabes mencanangkan pengadaan alutsista TNI secara besar-besaran.
*******
Jagvane   17 Maret 2012


Tuesday, March 6, 2012

Lagu Hits Alutsista “Transfer Teknologi”

Pemerintah sudah bertekad hendak menggaharkan pengawal republiknya, TNI dengan memodernisasi alutsistanya.  Seiring dengan gempita itu sepanjang dua tahun terakhir ini ”lagu” alutsista yang lebih sering terdengar di telinga adalah transfer teknologi. Lagu ini memang bagian dari kebijakan Kementerian Pertahanan agar suatu saat kelak bangsa ini dapat memenuhi sendiri kebutuhan alat-alat perangnya dengan industri hankam dalam negeri yang matang dalam memproduksi alutsista.

Maka bisa kita lihat dan saksikan saat ini spirit dan aktivitas melakukan sekolah teknologi alutsista. Ilmuwan-ilmuwan kita sudah mampu membuat alutsista berdasarkan transfer teknologi misalnya membuat kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal), LST (Landing Ship Tank), LPD (Landing Platform Dock), Panser Anoa, Rantis, Roket R-Han, CN 235 MPA, Helikopter.  Yang sedang bersekolah transfer teknologi saat ini adalah proyek pembuatan panser canon dengan Korsel, proyek pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR (Perusak Kawal Rudal), proyek pembuatan kapal selam dengan Korsel dan yang spektakuler adalah kerjasama pengembangan jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX juga dengan Korsel.  Untuk kedua proyek bergengsi yang terakhir itu RI telah mengirimkan lebih dari 150 ilmuwannya ke Korsel.
KRI Trimaran produksi Lundin akan diperkuat rudal C705
Lalu yang terakhir dan masih hangat dalam perbincangan adalah kerjasama produksi rudal anti kapal C705 dengan China yang dapat dikembangkan menjadi pembuatan rudal surface to surface, surface to air dan air to surface.  Ini adalah buah dari kunjungan kerja Menhan Punomo Yusgiantoro ke Beijing China atas undangan Menhan China Jendral Liang Guanglie tanggal 19 sampai dengan 21 Fepbruari 2012.  Kerjasama real ini sebenarnya yang paling ditunggu sejak adanya perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan China tahun 2007. 
 
Ini adalah langkah cerdas dan cemerlang dari kebijakan Kementerian Pertahanan RI yang ingin memodernisasi persenjataan TNI dengan anggaran sebesar US$ 15 Milyar untuk periode 2010-2014.  Tidak melulu beli murni tetapi juga mengaktifkan dan memberdayakan kegiatan industri hankam strategis Pindad, PAL, PT DI dan perusahaan industri hankam swasta nasional.  Upaya menyirami industri hankam ini dengan berbagai proyek kerjasama produksi alutsista memberikan banyak kegunaan, salah satunya tentu kebanggan nasional dengan produksi milik bangsa sendiri.

PT Pindad kebagian order membuat panser canon bersama Korsel setelah sukses menghasilkan ratusan panser Anoa yang merupakan titik awal kebangkitan industri hankam dalam negeri.  Pindad juga sedang disibukkan dengan produksi massal Roket Rhan bersama Lapan disamping memenuhi order ekspor panser Anoa ke beberapa negara.  Sementara PT PAL saat ini mendapat order membuat kapal selam kelas Changbogo bersama industri hankam Korsel, Daewoo.  Selain itu kerjasama produksi melalui transfer teknologi juga sedang berlangsung antara PAL dan Damen Schelde Belanda untuk membuat 10 kapal perang light fregat. Tak ketinggalan embahnya teknologi kedirgantaraan PT DI mendapat banyak order mulai dari buat helikopter, kerjasama buat pesawat angkut militer CN295 dengan Airbus Military dan mengembangkan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel.

Yang menarik China juga bersedia menularkan ilmu teknologi rudalnya dengan bekerjasama memproduksi rudal anti kapal C-705 yang mampu menembus jarak tembak 100 km.  Memang dibanding dengan rudal Yakhont buatan Rusia  yang mampu menerabas jarak jangkau 300 km, C-705 jelas tak ada apa-apanya.  Tetapi untuk mendapatkan ilmu transfer teknologi itu, kita perlu “mundur selangkah” dengan mengambil ilmu konsep dasar teknologi rudal.  Setelah itu kita dapat mengembangkannya sendiri misalnya dengan menambahkan booster dan racikan propelan untuk menambah kekuatan jarak tempuh dan hulu ledaknya. Lapan Pindad sudah siap dengan materi kuliah yang berjudul ilmu propelan. Untuk diketahui hampir semua negara yang menguasai teknologi rudal sangat merahasiakan racikan teknologi propelan yang dimilikinya.

Beberapa rudal anti kapal C-705 sudah diuji coba oleh TNI AL dan sudah terpasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL.  Matra laut ini punya program pembangunan 100 kapal cepat rudal murni buatan dalam negeri dalam renstranya sehingga membutuhkan banyak rudal anti kapal sebagai senjata pemukul strategisnya. Dalam kerjasama produksi rudal C-705 sangat dimungkinkan kapal perang jenis korvet Parchim Class TNI AL yang berjumlah 16 unit itu akan mendapat jatah rudal ini sebanyak 2-4 unit di setiap kapalnya.  Kapal perang TNI AL lainnya yang sedang dibangun di PT Lundin Banyuwangi yang mengusung teknologi trimaran juga akan diperkuat dengan rudal C705.  Kapal trimaran ini punya kecepatan sampai 40 knot, tahun ini diharapkan 1 unit selesai.  TNI AL memesan 4 kapal dari galangan swasta nasional ini yang memang sudah ahli dalam membuat kapal cepat.

Diniscayakan dalam kurun waktu 4 sampai dengan 8 tahun lagi kita sudah mampu memproduksi beragam alutsista teknologi tinggi made in dewe.  Untuk  kapal berjenis PKR misalnya jika semuanya berjalan lancar mestinya tahun 2014 ini sudah jadi minimal 2 kapal perang.  Namun diantara semua sekolah transfer teknologi alutsista proyek PKR ini yang paling lambat laju kurikulum semesterannya.  Ada kesan pihak Damen Schelde Belanda mengulur-ulur waktu dan setengah hati menularkan ilmunya padahal kita sudah membeli produknya berupa 4 KRI Korvet Sigma beberapa waktu yang lalu.  Sehingga ada kesan kalau negara-negara Barat itu memang pelit menularkan teknologinya.  

Ini sangat berbeda dengan negara-negara Asia seperti Korsel dan China yang dengan ikhlas mau berbagi ilmu dengan Indonesia untuk bekerjasama memproduksi bermacam alutsista yang dibutuhkan negara ini. Transfer teknologi pembuatan kapal selam diyakini bisa dihasilkan mulai tahun 2018 saat dimana sebuah kapal selam jenis Changbogo bisa diproduksi oleh PAL.  Demikian juga dengan proyek jet tempur KFX/IFX, Indonesia diharapkan dapat menguasai teknologinya mulai tahun 2020.  Untuk teknologi rudal diharapkan tahun 2014 kita sudah mampu membuat rudal berbagai jenis yang punya daya ledak dan daya jangkau menggentarkan.

Langkah cemerlang Kemenhan ini tentu kita apresiasi karena  kalau hanya sekedar beli alutsista, yang didapat cuma barangnya dan cara penggunaannya sedang teknologinya tetap milik si pembuat.  Dan kalau pola ini saja yang dianut, negeri ini tak ubahnya hanya sebuah pasar besar dimana kita hanya menjadi pembeli yang baik hati, pemakai yang baik hati tanpa pernah bisa menjadi pintar.  Pola yang dianut Kemenhan mestinya banyak ditiru oleh sektor lain misalnya sektor otomotif yang sudah menemukan titik temu ketika mobil kiat esemka menjadi begitu populer. Untuk urusan produksi sepeda motor saja mengapa harus berkiblat pada merek Jepang padahal secara de facto kita sudah mampu membuat sendiri.  Mengapa kita tidak mau memulainya sebagaimana yang telah dicontohkan Kemhan padahal teknologi otomotif sangat mudah dicerna dan diimplementasikan oleh anak bangsa ini. Mengapa ?
*****
Jagvane  06 Maret 2012

Thursday, March 1, 2012

Abaikan Belanda, Masih Banyak Jalan Menuju Leopard

Perjalanan shopping alutsista kembali dilakukan Kemhan dan Mabes TNI.  Kali ini kembali mengunjungi Jerman dan Perancis. Kafilah Kemhan dipimpin Wamenhan Syafrie Syamsoedin dan Mabes TNI dipimpin KSAD Jendral TNI Pramoni Edi Wibowo.  Di Jerman rombongan penjelajah alutsista RI itu melakukan lamaran akad nikah dengan Kemhan Jerman tanggal 27 Pebruari 2012.  Isinya berupa MOU sama dengan kesepahaman untuk menjalani pendekatan lebih intensif dalam upaya mendapatkan alutsista yang  diinginkan, misalnya MBT Leopard atau kapal selam U214.  Wamenhan RI bilang penandatanganan kerjasama itu bertujuan sebagai kerangka untuk memajukan kerja sama bilateral kedua negara berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan saling menghormati, kedua pihak.

Hal yang sama dilakukan juga di Perancis.  Di Paris Rabu tanggal 29 Pebruari 2012 dilakukan sign bidang pertahanan, bisa ditebak  maksud dan tujuan MOU itu, mendapatkan alutsista made in Perancis untuk TNI AD.  Yang menarik hanya dalam waktu 1 minggu ada 2 sign kerjasama pertahanan.  Itu merupakan jalan-jalan belanja alutsista yang istimewa sekaligus ingin meledek Belanda yang plin plan menjual tank second Leopard.  Jual beli alutsista itu mestinya pakai aturan bisnis tok atau prinsip kesetaraan.  Polanya macam-macam bisa G to G atau B to B.  Tak usah membawa-bawa issue lain yang berada di luar wilayah bisnis bilateral.  Emang lu siape, emang lu penjajah yang baik, emang lu mewariskan negara jajahan yang berkualitas, jangan sok menggurui dong.  Statemen Wamenhan di Jerman itu jelas dan tegas, prinsip saling menghormati, kesetaraan dan menguntungkan adalah landasannya.
Howitzer Caesar Perancis yang diincar TNI AD
Kita tentu masih ingat ketika seorang menteri luar negeri Belanda Pronk berjalan-jalan di kawasan miskin di Jakarta akhir tahun 80 an.  Gaya bicara dan langgam bahasa tubuhnya menunjukkan seperti dewa penolong, lalu memberikan berbagai syarat agar bantuan IGGI (Inter Government Group on Indonesia)  bisa cair waktu itu. Pak Harto tersinggung berat, tak lama kemudian IGGI dibubarkan oleh Indonesia.  Sekedar informasi IGGI didirikan tahun 1967 yang merupakan group donatur untuk pembangunan ekonomi RI lewat Repelita yang anggotanya adalah Jepang, Belanda, Inggris, AS, Italia, Perancis, Jerman, Bank Dunia, ADB  dll.  Setiap tahun group ini memberikan pinjaman rata-rata 2 milyar dollar, dan si Belanda tadi kontribusinya setiap tahun tidak lebih dari US$ 70 juta, tapi gayanya itu yang menyesakkan hati, arogan dan mendikte.  Jepang yang bantuannya paling besar low profil aja tuh.

Sekarang itu perilaku itu diperlihatkan lagi ketika kita mau order Leopard.  Belum lagi langgam Damen Schelde yang setengah hati melakukan kerjasama pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR.  Membaca langgam dan lagu negeri dibawah laut itu kadang membuat kita gregetan sekaligus keki.  Belanda  selalu merasa sebagai bangsa kelas satu lalu menganggap bangsa ini masih berada dalam “aura” negeri jajahan dia.  Perilaku ini kontras dengan gaya sambut Kemhan Perancis dan Jerman.  Mereka say hallo dengan keakraban dan bernuansa kesetaraan, lalu tak bertele-tele, prinsip dagangnya anda jual kami beli.  Bukan, anda jual, mau kami beli lalu jangan ini jangan itu.

Diantara negeri-negeri barat yang mampu membawakan bahasa santun dalam etika pergaulan dengan Indonesia tercatat Perancis dan Jerman yang paling softly.  Spanyol dan Italia juga merupakan negara yang membawa “kesetaraan gender” dalam melihat Indonesia.  Belanda sepanjang sejarah gaulnya dengan RI tak pernah menampakkan diri dalam wajah ketulusan bersahabat.  Mungkin untuk menutupi malunya ketika dua kali tarung teritori dengan RI.  Yang pertama bertekuk lutut dengan pengakuan kedaulatan RI akhir Des 1949.  Dan yang kedua kalah terhormat dalam “final Irian Barat Cup” dan mengembalikan Irian Barat (Papua) kembali ke Indonesia akhir tahun 1962.  Mereka gentar dengan kekuatan armada perang RI waktu itu

Perilaku Inggris agak mirip-mirip dengan Belanda.  Ketika insiden St Cruz Dili Timor Leste tahun 1991 meletus,  Inggris langsung embargo senjata ke RI.  Hebatnya lagi pada waktu bersamaan sedang dilakukan penerbangan ferry pengadaan 40 jet tempur Hawk 100/200.  Beberapa jet itu ditinggalkan pilot Inggris di Bangkok Thailand.  Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Inggris melarang TNI mengunakan pesawat tempur Hawk dan tank Scorpion digunakan di Aceh.  Nah saat ini negeri Rooney itu kelihatannya sedang berupaya mengambil hati pemerintah RI sehubungan dengan hampir pastinya order 3 Fregat Ragam Class dan diliriknya 1 skuadron jet tempur Typhoon.  Padahal baru dilirik loh, soalnya Typhoon baru mengalami kekalahan telak dari Rafale dalam tender jet tempur medium multi guna AU India baru-baru ini.

Pepatah lama yang mengatakan tidak ada rotan akar pun jadi, kiranya perlu disesuaikan sehubungan dengan rencana beli alutsista MBT Leopard.  Pepatahnya diubah jadi: Kalau akar jual mahal kita beli sekalian rotannya.  MBT Leopard itu kan buatan Jerman. Belanda hanya user, lha kalau user mau jual tapi banyak persyaratan mending beli ke pabriknya saja langsung.  Jerman paham dengan kita karena sejarah gaulnya dengan kita penuh dengan kehangatan apalagi ada Habibie yang menjadi perekat manisnya hubungan itu.  Oleh sebab itu kunjungan Kanselir  Jerman Angela Merkel ke Indonesia pertengahan tahun ini perlu kita sambut hangat menuju kemitraan strategis Indonesia-Jerman.  Siapa tahu U214 jadi menu utama hidangan makan malamnya.  Dalam hati siapa yang tahu, ah bisa aja si Jagvane.

******
Jagvane 01 Maret 2012

Saturday, February 25, 2012

Berguru Ke Negeri China

Kunjungan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan orang penting lainnya di Kemhan ke China tanggal 19 sampai dengan 21 Februari 2012 tidak saja disambut hangat oleh Menhan China Jenderal Liang Guanglie, tetapi juga membuahkan kesepakatan strategis dan bernilai tambah yakni transfer teknologi rudal. Ini sebenarnya yang ditunggu-tunggu sejak adanya perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia-China tahun 2007. 

Perlu waktu empat tahun untuk meyakinkan China agar mau berbagi ilmu sembari mengulang-ulang membaca sebuah Hadits Nabi: Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.  Akhirnya terbuka sudah pintu perguruan Shaolin itu.  Dan ini juga yang menjadi titik asa paling gempita sejak DCA diproklamirkan karena ini tujuan utama dari wujud kerjasama yang nyata itu.

Kerjasama pertahanan dan industri pertahanan bersama China memberikan dua nilai yang sama-sama bernilai penting.  Yang satu adalah soal berguru tadi, menjadi murid sekolah transfer teknologi, yang lainnya adalah mempermudah saling pengertian dalam bidang hankam.  China saat ini sedang membangun kekuatan militernya seirama dengan pertumbuhan ekonominya yang tertinggi di dunia.  Pada saat yang sama negeri tirai bambu ini mempunyai klaim tumpang tindih dengan beberapa negara ASEAN.  Indonesia berada dalam posisi tidak bersengketa dengan negeri naga itu sehingga posisi ini setidaknya dapat menjadi pencair ketegangan.
Rudal C-705 pintu gerbang penguasaan teknologi rudal RI
Indonesia perlu rudal, jelas dong.  Jauh-jauh hari Presiden SBY sudah memberikan ruang dan waktu bahwa di masa pemerintahannya harus tercipta rudal made in dewe yang menjadi pagar pengaman teritori.  Saat ini kita tahu persiapan kearah terciptanya rudal produksi dalam negeri sudah dalam stadium “ngebet banget”. Berbagai uji coba roket sudah dilakukan termasuk membangun fasilitas luncur di Bengkulu dan  membangun pabrik bahan peledak. Nah kerjasama produksi rudal China – RI ini adalah pintu gerbang yang sudah dinantikan, pucuk dicinta ulam tiba. Dengan program kerjasama ini diharapkan Indonesia mampu mengembangkan berbagai jenis rudal sebagai salah satu alutsista strategis.

Setelah bergandeng tangan bersama guru taekwondo Korea Selatan untuk menimba ilmu melalui sekolah proyek pengembangan jet tempur IFX dan sekolah pembuatan kapal selam, maka dengan China dibuka lagi sekolah teknologi rudal untuk kemudian bisa di kembangkan sendiri sesuai jenisnya misal rudal darat ke darat, rudal darat ke udara dan rudal udara ke darat, termasuk penambahan jarak tembak dan hulu ledaknya.  Jika semua berjalan mulus diharapkan tahun 2014 peluru kendali buatan dalam negeri sudah mulai digelar di sejumlah kapal cepat rudal  sebagai rudal anti kapal dan di sejumlah tempat di perbatasan sebagai rudal darat ke darat dan rudal darat ke udara.

Ada yang menarik dari dua bangsa ras kuning ini, setidaknya dalam konteks kerjasama militer, bahwa kedua bangsa Asia ini China dan Korea tidak pelit ilmu, tidak bertele-tele dalam program pengadaan alutsista dengan model ToT, tidak terlalu banyak mempersyaratkan tetek bengek. Bandingkan dengan program kerjasama pembuatan PKR Light Fregat dengan Belanda yang jalannya melambai.  Negara-negara barat memang cenderung protektif dan jual mahal untuk memberikan ilmu teknologi persenjataan kepada negara lain. 

RI membangun kerjasama pengadaan alutsista berdasarkan prinsip kesetaraan an saling menguntungkan.  Bangsa-bangsa Asia umumnya berada dalam koridor kesamaan ini. Jepang, walaupun sudah sangat maju dalam setiap segi kehidupannya tetap saja kulturnya selalu menghormati dan menyetarakan diri dengan sesama bangsa lain, utamanya bangsa Asia. Coba saja kita bertemu dengan orang Jepang yang kita kenal pasti mereka lebih dulu yang membungkukkan badan sembari memberi salam.

Berguru ke negeri China untuk mendapatkan ilmu teknologi rudal merupakan langkah strategis Kementerian Pertahanan untuk memastikan ketersediaan teknologi rudal.  Sebab kalau ini sudah dikuasai maka lengkaplah penguasaan teknologi alutsista di Indonesia.  Artinya kita sudah mampu menguasai teknologi persenjataan mulai dari produksi amunisi, panser, roket, tank ringan, torpedo, KCR, kapal selam, PKR, pesawat angkut, jet tempur dan peluru kendali.  Inilah sebuah kebanggaan yang patut disyukuri, melihat postur TNI yang gahar, profesional dengan alutsista modern dan sebagian besar adalah produksi dalam negeri.
*******
Jagvane 25 Februari 2012