Monday, May 2, 2011

 Selamat Datang Alutsista Baru TNI (1):
 Diambang Fajar, Menyongsong Kekuatan Penggentar TNI AU

Hanya dalam waktu 4 bulan sudah ada restu dan kontrak pengadaan 2 skuadron pesawat tempur ringan untuk TNI AU.  Desember 2010 ada sign kontrak pembelian 16 Super Tucano made ini Brazil, lalu April 2011 sudah ada kepastian pengadaan pesawat latih / tempur jenis T-50 buatan Korea Selatan.  Kedua Skuadron itu secara bertahap akan mengisi arsenal TNI AU mulai awal tahun depan.

Demikian juga dengan pengadaan 24 pesawat tempur F16 second hand dari Amerika Serikat sudah mendekati proses akhir.  Nantinya ke 24 pesawat tempur hibah itu akan di upgrade ke blok 52 lengkap dengan persenjataan mutakhirnya melengkapi jumlah yang ada saat ini 10 unit sehingga  menjadi 2 skuadron  ( 34 unit) F16.

Apakah akan berhenti sampai disitu saja, tentu tidak karena TNI tidak ingin cacingan (meminjam istilah iklan obat cacing).  Tahun ini juga sudah dipersiapkan tambahan 6 unit Sukhoi lengkap dengan persenjataannya untuk melengkapi jumlah yang ada sekarang sebanyak 10 unit.  Opsi tentang perkuatan pesawat tempur jenis Sukhoi tetap mengental.  Setelah lengkap berjumlah satu skuadron (16 unit), akan terus ditambah minmal sampai berjumlah 32 unit dari jenis Su27/30.  Bahkan petinggi TNI AU sangat berminat dengan Sukhoi SU35 BM minimal 1 skuadron.

Untuk memenuhi kriteria Minimum Essential Force (MEF) sampai dengan tahun 2014 TNI AU membutuhkan minimal 10 Skuadron tempur.  Gambaran itu bisa di road map kan melalui ;
§         1 Skuadron  (20 unit) Hawk 100/200 di Pekanbaru
§         1 Skuadron (16 unit) Hawk 100/200 di Pontianak
§         1 Skuadron (16 unit) Super Tucano di Malang
§         1 Skuadron ( 12 unit) F5E di Tarakan
§         1 Skuadron ( 16 unit) T-50 di Madiun
§         1 Skuadron ( 18 unit) F16 di Madiun
§         1 Skuadron ( 16 unit) F16 di Medan
§         1 Skuadron (16 unit) Sukhoi SU27 di Makassar
§         1 Skuadron (16 unit) Sukhoi SU30 di Pangkal Pinang
§         1 Skuadron ( 16 unit) Sukhoi SU35 di Madiun

Selain 10 Skuadron tempur itu, TNI AU juga segera diperkuat dengan 2 skuadron UAV yang dtempatkan di Pekanbaru dan Pontianak.  Diperkirakan jumlah pesawat tanpa awak yang dipersenjatai ini berjumlah 20-24 unit untuk 2 skuadron.  Sementara untuk pertahanan pangkalan TNI AU sudah tersedia  batalyon-batalyon Paskhas, setidaknya ada 10 batalyon pasukan khas TNI AU yang sudah dilengkapi dengan rudal panggul QW3 buatan China termasuk radarnya.  Paskhas TNI AU akan diperkuat dengan arsenal baru peluru kendali jarak menengah surface to air sebagai pertahanan udara area (hanud area).  Ini  sangat berkaitan dengan keselamatan arsenal pesawat tempur  mutakhir yang ada di pangkalan TNI AU yang harus dijaga  keselamatan dan keamanannya.

Adapun alokasi skuadron pesawat tempur itu tidak statis ada di  pangkalan skuadron.  Untuk setingkat flight ( 4-6 pesawat) bisa digeser sesuai kebutuhan.  Misalnya Biak, akan diisi bergantian dengan 1 flight F16 atau F5E atau Hawk tergantung kebutuhan.  Bisa juga di Biak ditempatkan permanen sebanyak 8 unit Hawk 100/200 dengan mengurangi 20 unit Hawk yang ada di Pekanbaru sehingga hanya 12 unit saja.

Demikian juga dengan Kupang, bisa diisi dengan 1 flight F16 untuk patroli di perbatasan sampai Merauke.  Kita ketahui Merauke saat ini telah dilengkapi dengan satuan radar militer (Satrad 244), menyusul Saumlaki (Juli 2011) dan Timika (Feb 2012).  Hadirnya alat pengindra militer ini sangat wajar diikuti dengan kehadiran skuadron tempur atau flight tempur di Indonesia Timur.

Selain urusan kebutuhan pesawat tempur, TNI AU yang saat ini punya  22 pesawat angkut berat jenis Hercules akan ditambah sampai mencapai minimal  30 unit.  Kebutuhan 30 Hercules unit ini untuk memenuhi  pergerakan kekuatan 2 batalyon Pasukan Pemukul Reaksi Cepat ( PPRC) secara cepat pada 2 titik panas konflik sekaligus.  Untuk pesawat angkut sedang TNI AU sedang memproses pengadaan 8 unit C27 J Spartan buatan Italia.  Pesawat ”hercules mini” ini mampu membawa 45 pasukan bersenjata lengkap.

Untuk armada Helikopter, TNI AU terus menambah kuantitasnya dari jenis Super Puma. Bahkan TNI AU juga sudah memesan  setidaknya 8 unit Eurocopter dari pabriknya langsung.  TNI AU saat ini memiliki setidaknya  4 Skuadron helikopter dari berbagai jenis untuk berbagai keperluan operasi militer, bencana, termasuk VVIP.  Ini tentu diluar kepemilikan 5 skuadron Penerbad milik TNI AD yang mengoperasikan Heli Tempur Mi35 dan Heli  angkut Mi17.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah kedirgantaraan terkemuka baru-baru ini Kasau Marsekal Imam Sufaat sangat berkeingan agar TNI AU dapat memiliki minimal 10 unit pesawat tempur F35.  Ini diperlukan sebagai penyeimbang atas kehadiran F35 di kawasan ini satu dasawarsa ke depan.  Setidaknya ada lompatan teknologi yang harus diketahui TNI AU.  Ini sama ketika Pemerintah memutuskan untuk membeli 12  pesawat tempur F16 usai Indonesia Air Show tahun 1986 di Jakarta. Terbukti keputusan itu mampu menyeimbangkan kemampuan teknologi  pilot-pilot TNI AU sampai saat ini.

Kita sangat berharap Pemerintah bisa membaca dengan arif keinginan TNI AU ini sebagai pengawal kedirgantaraan. Setidaknya kehadiran F35 sangat bersinergi dengan selesainya proyek KFX sebagai pesawat tempur generasi 4,5 kerjasama Indonesia-Korea Selatan.  Jadi menu pesawat tempur yang dapat dihidangkan TNI AU ke depan sangat menggentarkan :  Ada  F16, ada Sukhoi SU27/30, ada Sukhoi SU35 BM, ada KFX, ada F35.  Benar-benar pedas rasanya, terutama bagi yang ingin mencoba mengganggu teritori udara NKRI.
********
Jagvane / 02 Mei 2011

Thursday, March 17, 2011

Prediksi Alutsista yang diterima TNI (2011 - 2014)

Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU
Seperti diketahui untuk program pembelian alutsista TNI tahun 2010 sampai dengan 2014 telah disetujui dengan anggaran sebesar US$ 15 Milyar ( Rp. 140 Trilyun ).  Berikut ini disampaikan prediksi Alutsista yang diterima TNI (2011-2014):

  •   6  Pesawat Tempur Sukhoi SU27/30 dan Arsenal 16 Sukhoi
  • 16  Pesawat Tempur Super Tucano
  • 24  Pesawat Tempur F16 ( hibah )
  • 16  Pesawat Tempur ( opsi: Yak-130, T50 )
  • 16  Pesawat Tempur ( opsi: SU35 BM, Gripen, Typhoon)
  •   4 Pesawat Intai Strategis
  •   8 Pesawat Intai Taktis
  • 24  UAV
  • 12  Hercules
  •   6  C17J Spartan
  •   80 Rudal hanud area surface to air
  • 400 Rudal hanud titik surface to air
  •     8 Radar Militer Master T
  •   600 Rudal Anti Tank
  • 200 Rudal C802 / 705
  •   50 Rudal Yakhont
  •   20 Rudal Exocet  Blok3
  •   70 Main Battle Tank
  •   80 Infantri Fighting Vehicle
  • 100 Panser Canon
  • 300 Panser APC
  • 200 Rudal Lapan-Pindad surface to surface
  •   11 KRI Landing Ship Tank
  •     1 LPD
  •   25 KRI Kapal Cepat Rudal
  •     8 KRI Trimaran
  •     4 KRI Korvet
  •     2 Kapal Selam
  •   80 Tank Amphibi BMP3F
  •   70 Tank Amphibi BTR90
  •   20 RM Grad
  •   80 RM Langusta
  •   90 Howitzer
  •     8 Heli EC 725 Cougar
  •   12 Heli anti kapal selam (AKS)
  •   12 Heli anti kapal permukaan (AKPA)
  •     5 Heli Tempur Mi35
  •    8 Heli Tempur / Angkut  Mi17
  •  24 Heli Tempur Bell 412Ep
****
Jagvane / 17032011
(Dari berbagai sumber)
 

Monday, March 7, 2011

Main Battle Tank, Sebuah Kebutuhan Utama TNI AD

Dalam peta hankam NKRI ada 3 pulau di Indonesia yang berbatasan darat dengan negara lain yaitu Kalimantan, Timor dan Papua.  Ketiga pulau itu sejatinya dipisahkan jauh menyeberangi laut dari jantungnya Indonesia, Jawa.  Apakah karena itu sosok alutsista yang bernama Main Battle Tank ( MBT) tidak diperlukan karena MBT negara penyerang tidak akan sampai di Jawa atau Jakarta? Jawabnya tentu tidak karena kita tidak ingin cacingan dalam menjalankan konsep Hankam.

Selama ini TNI AD hanya punya sekitar 400 Tank dari kelas ringan (Light Tank) 100 biji dari jenis Scorpion dan Stormer, 300 sisanya dari jenis AMX-13.  Kekuatan ini didukung dengan sekitar 700 Panser berbagai jenis salah satunya panser Anoa buatan Pindad. Menyikapi perkembangan dinamika kawasan, sesungguhnya  kita memerlukan kekuatan pukul sekelas MBT yang ditempatkan di provinsi yang berbatasan langsung dengan negara jiran.  Kalau mau diurut skala prioritas maka, Kalbar sangat memerlukan kehadiran setidaknya satu batalyon kavaleri berkekuatan 70-75 MBT.   Kehadiran MBT di kawasan border land memberikan kekuatan Hankam yang diyakini mampu menumbuhkan kebanggaan dan rasa patriot bagi warga setempat sekaligus unsur penggentar bagi negara jiran.

Tradisi kita selama ini selalu melihat Jawa sebagai pusat Hankamnas padahal Jawa hanya satu pulau kecil yang “kebetulan” ada Jakarta didalamnya.  Sementara pulau-pulau besar hanya dianggap sebagai benteng sekunder yang gak penting-penting amat dijaga, toh nanti yang nyerang juga capek sendiri, begitu kata ironinya.  Apalagi doktrin tempur TNI selama ini selalu mengambil tema : biarkan musuh masuk dulu, baru dipukul kemudian.  

Nah kalau yang masuk itu China dan dia hanya perlu Natuna apa kita mampu memukul mundur kekuatan China yang maha itu.  Atau pecah konflik dengan Malaysia dan MBTnya bebas memasuki Kalbar lalu baru dikirim pasukan pemukul reaksi cepat.  Apa iya pasukan itu dapat segera memukul mundur pasukan Malaysia.  Paling tidak dibutuhkan waktu 2 minggu untuk embarkasi bala bantuan pusat bersama alutsistanya, dan selama waktu itu agresor sudah menginjak-injak teritori kita.  

Kita percaya pemikir strategis Kemhan dan TNI pasti memiliki  ruang jelajah yang lebih biru langit untuk menata konsep hankam RI.  Konsep Hankamrata masih tetap oke, namun harus diimbangi dengan perbanyakan dan modernisasi alutsista TNI segala matra.  Di laut diperbanyak kapal-kapal combatan untuk memenuhi kekuatan 3 armada dan minimal 6 kapal selam.  Di udara dilengkapi dengan pesawat penggebuk sekelas Sukhoi minimal 2 Skuadron dan F16 minimal 3 Skuadron.  Nah, Angkatan Darat juga jangan dilupakan dengan menggelar kekuatan MBT di border-border land.

Jangan pemikirannya hanya untuk parade ultah TNI lalu MBT itu harus ada di Jakarta atau Jawa (gak rela kalau MBT ada di luar Jawa), sehingga menghilangkan makna detterens bagi border land.  MBT harus ada di border land dengan skala prioritas Kalbar. Justru menjadi kebanggaan warga Indonesia di perbatasan manakala setiap tahun diparadekan kekuatan pukul MBT, di Pontianak misalnya.  Kalau secara ekonomi kekuatan warga negara kita yang tinggal di perbatasan mirip langit dan bumi dengan negara jiran Malaysia kenapa sih kita ”tidak boleh” berbangga dengan kekuatan Hankam yang diwujudkan dengan kehadiran MBT di provinsi itu.

Kehadiran MBT di Kalbar sejatinya untuk mengimbangi kekuatan divisi ATM yang sudah membangun kekuatannya di Sarawak.  Malaysia sudah membangun jalan raya di sepanjang perbatasan dengan Indonesia.  ATM juga sudah merekrut askar wathaniah di sepanjang perbatasan, menempatkan brigade artileri dan kavaleri di Sarawak.  Kodam Tanjungpura yang sudah dibentuk di Pontianak dihadirkan untuk memperpendek jalur komando dan jarak.  Adalah sangat ironi manakala jalur komando dan jarak yang sudah dipunyai itu hanya sebagai macan kertas manakala kondisi terburuk terjadi.

Doktrin masuk dulu baru pukul perlu penyesuaian karena kita ada dalam dinamika perkembangan yang sangat cepat perubahannya.  Kekuatan detterens perlu digelar di border land agar jiran sebelah bisa ngaca diri dan tahu diri.  Oleh sebab itu dalam konsep minimum essential force kita sangat mengharapkan Kodam Tanjungpura memliki kekuatan pukul penggentar dengan memiliki minimal 1 batalyon MBT, 1 batalyon panser, 1 batalyon artileri, 1 batalyon rudal lapan-pindad surface to surface, 1 batalyon rudal surface to air jarak sedang, 4 batalyon infantri mekanis dan 5 batalyon infantri.  Semoga itu bisa tercapai dalam 5 tahun ke depan.
*******
Jagvane / Pengamat alutsista
06032011

Tuesday, March 1, 2011

Serial Alutsista (3): TNI AD, Mengasah Pedang Pre Emptive Strike


Diantara ketiga matra TNI, TNI AD adalah matra yang paling kuat jumlah personil dan persenjataannya. Data terkini menyebutkan TNI AD memiliki kekuatan 350.000 pasukan yang terdiri dari pasukan Kopasus, Kostrad, Kodam.  Ragam persenjataannya meliputi  2.150  Tank, Panser, Howitzer dari berbagai jenis, ratusan Roket dan Rudal serta 110 heli tempur / angkut.  Tahun 2010 kemarin TNI AD diperkuat lagi dengan 154 Panser Anoa buatan Pindad dan 12 Heli Tempur dan Angkut dari Rusia.

Untuk menuju kekuatan pukul minimum essential force tahun 2014, TNI AD melakukan pekerjaan mengaduk adonan baru dengan mengubah wajah satuan pemukulnya based on kecepatan reaksi, utamanya untuk satuan Kostrad.  Divisi Kostrad tidak lagi berdasarkan pembagian tugas teritorialnya melainkan pada tingkat gerak cepat kesatuan menuju 3 titik panas sekaligus jika diperlukan.  Saat ini sedang dilakukan pembangunan divisi 3 Kostrad di kawasan Indonesia Timur sehingga akan menjadi kekuatan pemukul 3 divisi berkekuatan 50 ribu personil.

Batalyon-bataylon di seluruh Kodam juga berbenah diri termasuk membentuk batalyon baru (infantri, artileri dan kavaleri).  Kalimantan yang terdiri dari 2 Kodam diperkuat dengan kehadiran batalyon baru, setidaknya ada  10 batalyon baru dibentuk dalam rangka mengasah pedang pre emptive strike.  Mengapa pre emptive strike karena itu bagian dari perubahan pola untuk menyikapi perkembangan situasi bertetangga yang gampang demam.  Obat flu demam dan sakit kepala akibat ulah tetangga tak lain adalah dengan memperkuat pertahanan diri termasuk banyak minum madu (baca: alutsista) dan vitamin (baca: pasukan pemukul reaksi cepat).

Ini tidak bisa ditawar.  Kalimantan merupakan salah satu pusat demam ulta (ulah tetangga) sehingga harus banyak madu dan vitamin dipersiapkan disana.  Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Sarawak dalam waktu dekat akan menjadi basis utama Main Battle Tank  batalyon kavaleri dengan kekuatan 70 Tank, 80 Panser Canon.  Batalyon artileri yang sudah ada diperkuat dengan satuan-satuan roket dan akan disebar di beberapa titik di perbatasan. Batalyon ini juga dilengkapi dengan rudal anti tank yang juga menjadi senjata andalan batalyon infantri.  Brigade rudal dengan alutsista utama dari karya anak bangsa rudal Pindad-Lapan berjarak jangkau 300 km akan menjadi arsenal  strategis bagi TNI AD dan ditempatkan di border Kalimantan, Riau dan Sumatra Utara.

TNI AD sudah mempersiapkan kedatangan arsenal baru yang terdiri dari 70 MBT, 80 IFV (Infantri Fight Vehicle) dan 80 Panser Canon.  Roket Langusta dan Howitzer kaliber besar akan menjadi senjata andalan batalyon armed yang akan berubah bentuk menjadi batalyon roket.  Sementara satuan tempur infantri berkualfikasi raiders  menjelma menjadi batalyon infantri mekanis dengan kendaraan tempur panser Anoa.  TNI AD saat ini memiliki  Tank tempur utama 100 Tank Scorpion/Stormer, 300 Tank AMX-13 sebagian dari tank jenis ini  sedang diretrofit  agar menjadi lebih striking force untuk satuan-satuan kavaleri.

Satuan Penerbad akan memperoleh 24 Heli 412EP, 6 Heli MI35 dan 8 Heli Mi17. Skuadron Heli Penerbad dikembangkan dari 3 skuadron saat ini menjadi 5 skuadron, 1 skuadron ditempatkan di Berau Kaltim, 1 skuadron lainnya di Timika Papua.  Skuadron eksisting saat ini ada di Semarang (2 skuadron) dan  Jakarta (1 Skuadron) dengan kekuatan  5 Heli Mi35, 8 Heli Mi17, 40 Heli jenis lain).

Dengan anggaran pembelian alutsista yang telah disetujui sebesar US$15 Milyar untuk masa 2010-2014, TNI AD mendapat porsi paling kecil.  Itu karena nilai arsenal pada matra darat ini ada di kualitas pasukan, tidak seperi matra lainnya (AL dan AU)  yang bertumpu pada kualitas arsenal.  Namun walaupun kecil (20% dari US$ 15 milyar), dari jumlah anggaran yang sedikti itu dapat dibeli sejumlah arsenal modern dalam jumlah memadai dan berkualitas.  Berapa sih harga 1 buah MBT dibanding 1 unit Sukhoi atau 1 unit Korvet.  Artinya 1 Sukhoi bisa untuk beli 100 MBT atau 300 Panser Anoa.

Minimum Essential Force bukanlah sasaran akhir tetapi sasaran antara dan dharapkan tahun 2014 sudah tercapai untuk kemudian menuju kekuatan pukul yang berkualifikasi detterens.  Untuk menuju 2014 ini kita sudah bisa melihat gerak dan geliat Kemhan dan Mabes yang tiba-tiba saja berubah menjadi gadis cantik yang dilirik banyak orang.  Karena rasa ingin tahu tentang anatomi si gadis ini sampai-sampai intelijen Korea Selatan penasaran untuk lihat daftar belanja alutsista TNI dengan cara mencuri data.  Atau agar si gadis tak menjadi liar lalu Presiden AS menawarkan hibah 24 F16 dan retrofit 5 Hercules.  Cina juga berbaik hati mau dan sudah bekerjasama untuk proyek rudal strategis dan menawarkan kerjasama pertahanan.

Yang pasti, penyakit demam Ulta harus disikapi dengan memperkuat postur pertahanan diri dan merubah pola defensif menjadi pre emptive strike.  Definisi pre emptive strike adalah untuk mengajak tetangga agar mau menghormati teritorial jirannya kalau tidak ingin dipukul babak belur. Bukan mengajak berantem tetapi mengajak untuk menghargai karena kita sudah cukup toleransi, rendah hati dan baik budi pada tetangga.  Sayangnya sikap itu dianggap gagah gemulai, tidak tegas, lugu sehingga pre emptive strike adalah salah satu jawaban untuk memperlihatkan kekuatan otot kita yang sesungguhnya.  TNI AD dan matra lain sudah siap untuk itu.

*****
Jagvane/pengamat alutsista
01032011

Tuesday, February 1, 2011

Skenario Perang Indonesia - Malaysia



Wilayah Konflik Ambalat
Panas dinginnya hubungan bertetangga antara Indonesia dengan Malaysia dimana penyebab virus demam itu bermuasal dari arogansi Malaysia yang merasa kastanya lebih tinggi dari Indonesia, lalu seenaknya melecehkan teritori NKRI, budaya NKRI, dan TKI.  Situasi ini  memberikan cuaca mendung dan memungkinkan setiap komponen warga bangsa ini mempersiapkan skenario terburuk untuk melawan arogansi tetangga sebelah itu. Beberapa skenario ganyang Malaysia sudah disiapkan melalui beberapa cara dan salah satunya adalah pre emptive strike menghajar teritori Malaysia melalui serangan dadakan yang tak terduga.

Berbagai unjuk rasa sampai sweeping yang dilakukan terhadap warga Malaysia setidaknya mencatat satu hal penting yaitu permusuhan di kalangan grass root masyarakat Indonesia dengan Malaysia sudah mencapai titik didih.  Seandainya Pemerintah mengisyaratkan sinyal Dwikora jilid 2 maka dalam waktu sesingkatnya TNI bisa melancarkan pre emptive strike.  Simulasinya adalah suatu kejadian di sekitar Maret 2015 dengan sebab yang sama, Ambalat.  TNI mendahului dengan melakukan sabotase obyek vital di Semenanjung dan Kalimantan melalui pasukan khusus yang menyamar sebagai TKI.  

Tak lama kemudian  TNI meluncurkan ratusan rudal yang sudah ready for use di Sarawak dan Sabah dan dalam waktu bersamaan dimulailah serangan amphibi gerak cepat menghancurkan kota Tawao dan Kinabalu. TNI AL pada saat itu sudah memiliki kekuatan 3 divisi Marinir dengan persenjataan lengkap dan pengalaman tempur yang jauh lebih baik dari TLDM baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Dalam pada itu 1 pleton Taifib dan Jala Mengkara diluncurkan melalui kapal selam mini untuk hancurkan Scorpene yang sedang berlabuh di pangkalannya di Sabah lewat serangan tak terduga dinihari.

Serangan dan pendaratan pasukan amphibi akan diselesaikan dalam waktu 11 jam yang bergerak dari Sangatta dan Tarakan yang sudah dipersiapkan sebagai basis militer berkekuatan 50 ribu pasukan TNI.  Sebelumnya pantai Tawao dan Kinabalu dihujani bom oleh 8 Sukhoi dan 12 F16.  Kemudian pasukan pendukung AD dan persenjataan berat lainnya diturunkan dari puluhan KRI LPD, LST dalam waktu 24 jam berikutnya. 

Dalam waktu bersamaan 1 Divisi TNI AD dengan dukungan ratusan artileri, tank dan rudal yang sudah digelar di Kalimantan Barat memasuki Kuching dalam satu serangan kilat  8 jam. Karena sudah didahului oleh serangan rudal, maka pusat-pusat combatan, pangkalan udara dan komunikasi Malaysia di Sarawak menjadi lumpuh.  Sementara Perairan Natuna sebelumnya juga sudah diblokade oleh 26 KRI untuk memutus logistik laut Semenanjung dan Borneo.

Lalu bagaimana dengan Sumatra ? TNI di wilayah ini mengirim pasukan komando ke Semenanjung untuk menyusup dan lakukan sabotase mirip rembesan lasykar jihad. Selat Malaka dikawal oleh 34 KRI striking force yang siap menyerang pantai Malaysia.  Melalui penyusupan pasukan komando, obyek-obyek vital di KL dihancurkan dan mengkondisikan TKI dan warga Indonesia yang ada di Malaysia untuk melakukan serangan sporadis, bom bunuh diri, intelijen, sabotase dan pembakaran sehingga menimbulkan kepanikan massif sekalian membalas apa yang telah dilakukan Noordin M Top selama ini. Model propaganda juga dilakukan dengan melakukan provokasi terhadap etnis China dan India untuk melakukan perlawanan terhadap diskriminasi etnis yang terjadi selama ini dan mempersiapkan Anwar Ibrahim merebut kekuasaan dan mengganti bentuk kerajaan menjadi republik Malaysia.

Pada hari yang sama 3 brigade Marinir dari Medan dan Aceh lakukan serangan dadakan ke Penang untuk memecah konsentrasi TDM berperang menuju front yang mana. Karena kebingungan menghadapi 4 front pertempuran sekaligus (Sabah, Sarawak, Natuna dan Penang) membuat TDM kebingungan, panik dan tidak mampu lakukan konsolidasi karena telah terjadi kerusuhan rasial di Semenanjung, Serawak dan Sabah. Sementara dari Riau ratusan kapal nelayan yang berisi pasukan para militer Indonesia dan sukarelawan merembes dan mendarat secara besar-besaran lalu lakukan sabotase, pembakaran dan mengajak warga Indonesia yang ada di Johor untuk lakukan apa saja untuk membuat huru-hara horizontal sehingga menimbulkan perkelahian massal dan ketakutan yang luar biasa bagi warga Malaysia.

Lalu dimana posisi TNI AU. Dengan kekuatan  pesawat tempur  32 Sukhoi, 40 F16, 36 Hawk, 12 F5E, 16 Yak 130, 16 Super Tucano TNI AU tidak melakukan serangan udara ke wilayah Semenanjung karena serangan pre emptive sudah dilakukan melalui rudal-rudal berjarak jangkau 300 km dan mampu melumpuhkan pusat-pusat militer dan komunikasi Malaysia.  Meskipun begitu TNI AU bersiap untuk dog fight dengan TUDM dengan taktik biarkan lawan masuk ke wilayah NKRI baru digebuk dan dihancurkan. Wilayah Indonesia yang luas ini membuat TUDM tak fokus mau lakukan serangan udara ke area mana apalagi seluruh pangkalan udara di Sarawak dan Sabah telah dihancurkan rudal-rudal Lapan yang menggetarkan itu.

Serangan langsung ke wilayah teritori Malaysia diskenariokan hanya berlangsung 7 hari karena Indonesia tidak berambisi ekspansi teritorial. Setelah melewati waktu itu seluruh PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) TNI ditarik mundur setelah pengkondisian di dalam negeri Malaysia berjalan mulus yaitu menimbulkan konflik horizontal diantara sesama penduduk Malaysia kemudian mendukung Anwar Ibrahim menjadi presiden Malaysia setelah bentuk kerajaan diganti menjadi republik dan mempercepat pembentukan negara Sabah dan Sarawak di Kalimantan.

Berikut disampaikan peta kekuatan TNI dan cadangan nasional yang dimiliki NKRI, sebuah kekuatan yang tak mampu ditandingi Malaysia, apalagi kalau bicara kekuatan nasionalisme dan heroik yang dimiliki bangsa ini

TNI AD  memiliki pasukan tempur 260.000 orang (Kopassus, Kostrad, Kodam).  Jumlah pasukan cadangan mencapai 6 juta personil.  TNI AD dilengkapi dengan 1.200 Tank, 1.700 Panser, Artileri / Roket  2.200 unit, Rudal 900 unit, Heli Tempur 90 unit.  Konsentrasi arsenal TNI AD ada di pulau Kalimantan.

TNI AL memiliki kekuatan 95.000 pasukan termasuk 3 divisi Marinir dengan jumlah armada 196 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, KCR, LPD, LST).  Kapal selam yang dimiliki berjumlah 6 unit dan menjadi alat pukul strategis untuk menghancurkan kapal diraja Malaysia yang lewat di selat Malaka, Laut Natuna dan Ambalat.  Marinir memiliki 750 tank amphibi dan 820 panser amphibi disamping howitzer, roket dan rudal.

TNI AU memiliki kekuatan pesawat tempur  32 Sukhoi, 40 F16, 36 Hawk, 12 F5E, 16 Yak 130, 16 Super Tucano, 6 pesawat intai strategis, 12 pesawat intai taktis, 40 pesawat angkut berat Hercules, 24 pesawat  UAV dan rudal anti serangan udara jarak sedang.

Nah sekarang dengan skenario perang ini mampukah Malaysia menandingi kekuatan NKRI yang jauh lebih besar dari kekuatan yang dimiliknya, terutama kekuatan nasionalisme dan heroik yang dimiliki seluruh anak bangsa. Pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan ini adalah agar jiran sebelah itu mampu memberikan nuansa bertetangga yang baik, tidak arogan, tidak melecehkan tetangga, saling menghormati dan toleransi. Jangan sampai kondisi terburuk itu yang terjadi, jangan bangunkan macan yang sedang tidur, jangan buat harga diri bangsa Indonesia menjadi macan yang terluka. Kalau itu yang terjadi, siap-siaplah menjadi almarhum kerajaan Malaysia.
*****
Jagvane


Saturday, January 22, 2011

Natuna, Titik Panas Konflik Regional Masa Dpan

Adalah Cina yang menyulut lidah api klaim dengan menjulurkan lidah naganya sampai menyentuh perairan Natuna pertama kali dua puluh tahun silam.  Lidah naga itu yang menjilati perairan Natuna dan teritori sekitarnya membuat petinggi TNI panik.  Bagaimana tak panik, karena waktu itu Natuna tak dikawal mata telinga sekalipun.  Si mata telinga alias radar memang tak ada di gugusan pulau yang menjorok ke utara laut Cina Selatan itu, landasan pacu lanudnya pun tak mampu didarati pesawat angkut dan tempur.

TNI pun berbenah, pangkalan udara Ranai (Rantau nan indah) didandani apik dan sekaligus dipasang radar terbaik untuk ukuran saat itu. TNI AL mengirim beberapa KRI, TNI AD memasang arsenal hanud, TNI AU patroli menggunakan F5E dan F16.  Lanjutan dari pengembangan kekuatan ini pulalah mengapa beberapa tahun kemudian lanud Supadio Pontianak digelar 1 skuadron Hawk secara permanen sampai sekarang. Salah satu fungsinya untuk mengawal Natuna.

Tahun 2010 yang lalu intensitas kehadiran ”intelijen” Cina melalui armada kapal dagang yang dipenuhi instrumen elektronik militer mengganggu teritori beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia.  Juli 2010 misalnya, TLDM (Malaysia) memergoki armada kapal dagang ini di pulau Terumbu Layang-layang.  Dengan Filipina juga demikian, armada kapal dagang Cina seperti meyakini bahwa itu adalah teritorinya sehingga tak langsung pergi ketika diingatkan.  Ketika armada itu memasuki perairan Natuna, beberapa KRI segera mengingatkan dan memberi isyarat agar mereka segera keluar dari teritori NKRI.  Dan mereka keluar.

Pertengahan tahun 2010 Presiden SBY mengeluarkan statemen: RI memantau aktif kondisi dan dinamika laut Cina Selatan sehubungan dengan aktivitas yang meningkat bagi kapal dagang Cina.  Namun sesungguhnya yang dikhawatirkan adalah meningkatnya kekuatan militer Cina secara siginfikan beberapa tahun terakhir.

Merespons perkembangan kekuatan militer Cina sehubungan dengan klaimnya atas perairan Natuna, tentu tidak harus dijawab secara normatif alias NATO (No Action Talk Only) tapi harus dijabarkan dalam bentuk pengembangan kekuatan tempur TNI.  Beberapa bulan kemudian lewat proses sign lintas eksekutif dan legislatif, belanja alutsista pun dimulai dengan anggaran 150 trilyun rupiah untuk jangka waktu lima tahun ke depan setidaknya untuk mencapai Minimum Essential Force).

Beberapa negara ASEAN juga berbenah diri dengan memperkuat tentaranya.  Vietnam yang juga berkonflik dengan si Naga telah memesan 5 kapal selam Kilo dari Rusia, memperkuat angkatan udaranya dengan 30 Sukhoi.  Malaysia sudah menerima 2 kapal selam Scorpene , 18 Sukhoi, 7 kapal perang dan membangun pangkalan militer di Sabah.  Sementara Filipina anteng-anteng saja walaupun saling klaim pulau di laut Cina selatan dengan Cina.  Mungkin anggapan mereka masih dipayungi dengan armada ke 7 AS karena Clark dan Subik pernah menjadi pangkalan AU dan AL armada ke 7 AS dua dekade lalu.

Bagaimana dengan kita, ada sinar cerah untuk pertambahan alutsista.  Armada barat yang bertanggung jawab terhadap perairan Natuna sudah membentuk satuan kapal cepat rudal, senjata utamanya rudal C802 dan C705 buatan Cina.  Saat ini sudah tersedia 7 KRI ready for combat, ke depan diniscayakan akan ditambah sampai 30 KRI kelas KCR (Kapal Cepat Rudal). Kemudian ada penambahan 4 kapal selam, ada proyek light fregat untuk 10 KRI, integrasi rudal yakhont pada KRI Ahmad Yani Class, pertambahan pangkalan utama TNI AL, pemesanan 100 tank amphibi BMP-3F dan pengembangan satuan Marinir.  Jumlah armada TNI AL saat ini 154 KRI akan terus ditambah sampai mencapai 274 KRI dibagi dalam kekuatan 3 armada (barat, tengah, timur).

TNI AU juga ikut berbenah karena konflik ini mau tak mau akan didominasi oleh kekuatan laut dan udara.  TNI AU lima tahun ke depan diprediksi akan diperkuat dengan 2 skuadron Sukhoi dan 3 skuadron F16, 1 skuadron Super Tucano dan 1 skuadron Yak130, selain 2 skuadron Hawk dan 1 skuadron F5E eksisting.  Pangkalan skuadron tempur pun ditambah, pilihan yang mengemuka ada di Biak dan Medan.

Merespon dinamika laut Cina Selatan mengharuskan kita siap siaga dan mempersiapkan alutsista modern.  Tugas TNI adalah menjaga kedaulatan dan kewibawaan teritori NKRI. Perkembangan pesat militer Cina harus disikapi dengan perkuatan arsenal secara signifikan. Tak perlu jua mengharap-harap kehadiran armada ke 7 Paman Sam.  Mending memperkuat diri sendiri untuk percaya diri, karena harga diri bangsa adalah mempertaruhkan kehormatannya dengan kekuatan jati diri seperti pada era perang kemerdekaan 1945-1949.  Kekuatan kita adalah jati diri kita, tak perlu minta bantuan dari negara lain dan itulah sejatinya kehormatan bangsa ini.

Titik panas Natuna ini adalah konflik regional masa depan.  Situasi ini wajib kita amati secara cerdas sembari mempersiapkan alat pukul arsenal mematikan. Ini adalah syarat mutlak untuk menjunjung kewibawaan NKRI, bukan untuk mengajak perang tetapi menyetarakan diri untuk berkata: jangan ganggu kami, kalau tidak ingin berantakan.  Kami tak ingin memulai tapi juga tak ingin dimulai.
*****
Jagvane ( 22012011)

Thursday, January 20, 2011

Menjadikan TNI Gagah Perkasa Bukan Gagah Gemulai


Kalau kita menelisik semua pemberitaan dan analisis tentang TNI, dua hal yang tampak di depan mata adalah kekurangan alutsista dan kekurangsejahteraan anggotanya. Padahal kalau dilihat dari sisi kualitas tempur prajurit TNI di regional ini, TNI selalu ada dalam ranking utama. Artinya kualitas prajurit yang begitu prima kok berbanding terbalik dengan kesejahteraan dan kesenjataan. Jadinya gimana dong, terus yang salah siapa dong?

Kita langsung saja tuding tanpa tedeng aling-aling bahwa yang salah adalah anggaran dan mbahnya anggaran adalah political will dari government. Tapi kalau political will ditanya jawabnya juga sederhana, mendahulukan pembangunan ekonomi. Kecuali pada era Orde Lama, maka hantu yang bernama anggaran itu selalu menjadi lagu hit sepanjang empat dekade, pada setiap rezim yang berkuasa untuk memastikan bahwa modernisasi alutsista TNI dan kesejahteraan prajuritnya menjadi sebuah kosa kata berbalas pantun :

Karena keterbatasan anggaran, maka kondisi alutsista menjadi renta
Karena keterbatasan anggaran, maka kesejahteraan prajurit terkendala
Karena keterbatasan anggaran, maka pengawal republik tetap bersabar rela

Hampir empatpuluh tahun "gurindam duabelas" ini selalu didengungkan sebagai lagu wajib taat dan membiasakan seluruh prajurit TNI berpuasa, ya berpuasa sejahtera, ya berpuasa alutsista. Pertanyaan lugasnya adalah apakah kondisi ekonomi kita masih sama dengan empat puluh tahun lalu untuk mematahkan argumen political will tadi. Jawabnya tentu tidak karena kita tidak lagi cacingan (nyindir iklan obat cacing). 

Tetapi mengapa lagu itu masih wajib dengar untuk segenap jajaran TNI yang nota bene adalah pengawal republik dan penjaga eksitensi NKRI. Jawabnya adalah political will yang belum menyadari pentingnya sebuah TNI yang besar, kuat dan profesional yang menjadi bargaining power bagi diplomasi antar negara.

Kalau boleh mengaku, sejujurnya sejak reformasi 1998 atau setidaknya lima tahun terakhir kondisi ekonomi kita sudah membaik dan bahkan sudah tahan uji ketika krisis ekonomi menggelar dan menggelegarkan diri di hampir semua kawasan dunia akhir 2008 lalu. Itu artinya sudah saatnya kita kembali menatap anak kandung rakyat ini yang selalu dinomorsekiankan pertumbuhannya dan nrimo saja to le. Bukankah anak kandung kita ini perlu dirawat, dipoles dan diperkuat struktur dirinya agar bisa tampil sebagai kekuatan baja diri bagi kelanjutan NKRI.

Lalu kalau political will yang kita suuzonkan, sejumlah asumsi bertema duga bisa jadi iya jawabannya. Boleh jadi ada perjanjian tidak tertulis apalagi terdaftar dengan pihak Barat, ketika rezim Orla berganti Orba bahwa sangat dimungkinkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak boleh menjadi kekuatan setara dengan masa Orde Lama karena dikuatirkan rumah-rumah jiran disebelahnya tidak bisa tidur nyenyak.

Namanya juga duga, bisa benar bisa tidak, tapi kalau dilihat perjalanan bangsa selama empat dekade atau katakanlah selama lima tahun terakhir ini, asumsi itu bisa jadi hipotesa atau bukti defacto loh. Contoh realnya, sudah dikasih Kredit Ekspor sama Pemerintah Rusia tahun 2006 sebesar $1 Milyar untuk beli senjata made in Rusia, kok susah amat dan banyak gangguan teknisnya, ujung-ujungnya si Paman Sam menawarkan lagi F16 dan Herculesnya kepada Indonesia.

Sekedar catatan tahun 2006 kita mendapat Kredit Ekspor dari Rusia sebesar $1 Milyar untuk pembelian persenjataan Sukhoi, Tank Amphibi, Kapal Selam kelas Kilo, Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), namun perjalanan pengadaan alutsista yang sudah jelas sumber pembiayaannya itu masih juga tersendat. Selama empat tahun itu (sd tahun 2010) hanya digunakan untuk beli senjata Sukhoi dan 17 Tank Amphibi dengan nilai $100 juta sementara untuk senjata strategis seperti Kapal Selam dan PKR seharga $900 juta perjalanannya mirip perjalanan keong, sudah lambat, tak sampai-sampai lagi. Simpulnya sederhananya : sudah dikasih pinjaman kok masih jual mahal, kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah, kumaha atuh yang mempersulit diri sendiri dengan alasan birokrasi antar kementerian atau karena perjanjian tidak tertulis tadi, takut dijewer Barat.

Kabar Gembira
Semester kedua tahun 2010 ada kabar yang menggembirakan untuk perkuatan alutsista TNI antara lain program  merevitalisasi industri hankam strategis (Pindad, PAL, DI, LEN) sebagai pemasok utama persenjataan TNI.  PT PAL sudah mendapat kontrak dari TNI AL sampai tahun 2014 untuk buat 2-4 Korvet Rudal, 25-27Kapal Cepat Rudal, 11 Kapal Angkut Tank, kerjasama pembuatan Kapal Selam dan repowering 25-30 KRI.  PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembuatan 1 KRI LPD hasil kerjasama dengan Korsel dan perawatan beberapa KRI termasuk pemasangan rudal di KRI FPB.

Lalu ada berita TNI AU akan bentuk skuadron tempur baru di Medan dan Biak, pembentukan Kodam baru di Kalimantan dan Papua, proyek Kostrad Divisi 3, penambahan batalyon tempur Kodam dan Paskhas, proyek 100 FPB berpeluru kendali. Kemudian penambahan radar di Timika, Merauke dan Saumlaki, penggantian pesawat Bronco dengan Super Tucano, penggantian Hawk Mk53. Kedatangan 3 pesawat tempur Sukhoi SU27,  tambahan  30 F16, 17 Tank Amphibi BMP-3F dari Rusia dan hibah 10 LVT dari Korea Selatan, 154 panser APC Pindad, 50 Panser Canon, 40 Tank MBT dari Korsel  serta tambahan KRI FPB mengisi arsenal TNI.

Semua berita itu tentu saja menyegarkan dahaga kita akan keinginan untuk melihat anak kandung kita itu gagah perkasa bukan gagah gemulai. Namun yang tak kalah penting tentu saja meningkatkan kesejahteraan para prajurit itu dengan balas saja yang setimpal dan wajar, misalnya gaji prajurit paling rendah minimal 4-5 juta rupiah sebulan diluar lauk pauk dan gaji para Jendral berkisar 40-50 juta sebulan. Bukankah para Jendral itu juga boleh juga disebut Direksi sama seperti Direksi Bank atau Perusahaan. Dan bolehlah kita sebut Direksi Pengawal Keamanan NKRI.

Mengapa pola pikir kita selalu mengutamakan kehebatan Direksi sebuah Bank atau Perusahaan dengan tingkat kesejahteraan yang luar biasa padahal job atau urusan pertahanan keamanan itu justru lebih luas dan bahkan menyangkut nyawa si pengawal keamanan dan eksistensi NKRI. Arogansi Malaysia yang berani memasuki teritori ambalat, melecehkan NKRI dan membangun pangkalan militer besar-besaran di Sabah, sepertinya hendak mengatakan pada kita bahwa TNI tak memiliki kekuatan arsenal memadai. Apa yang bisa kita lakukan untuk sekedar mengimbanginya. Ini bisa terjadi karena pengawal NKRI yang bernama TNI itu dianggap Malaysia sebagai sosok yang gagah gemulai.  Barulah tahun 2010 kemarin TNI sudah mempersiapkan basis tempur di kawasan Sangatta Kaltim yang mampu menampung 100.000 prajurit TNI berikut persenjataannya.

Obsesi kita sederhana saja, tingkatkan kesejahteraan prajurit TNI secara signifikan dan lengkapi arsenal mereka dengan alutsista herder bukan alutsista anjing kampung yang dilempar batu langsung ngacir. Buang jauh-jauh hantu yang bernama anggaran. Harus ada niat yang tulus dari pemerintah untuk mendirikan sosok gagah perkasa dan berwibawa bagi pengawalnya, sekaligus untuk membuktikan tidak ada perjanjian tak tertulis dengan Barat bahwa TNI tidak boleh gagah perkasa. Bukankah top manajemen republik ini dipimpin oleh seorang Jendral Purnawirawan yang cerdas dan piawai. Bukankah NKRI ini sebuah negara kepulauan terbesar di dunia. Bukankah sumber daya alam NKRI ini paling lengkap di seluruh dunia.
****
Jagvane

Tuesday, January 18, 2011

Serial Alutsista (2): TNI AL Menuju Kekuatan Tiga Armada Tempur

Korvet Parchim Class  In Action
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sudah selayaknya dan harus memiliki kekuatan pengawal di lautan yang berfungsi sebagai penghubung, pemersatu, dan perekat negara kepulauan. Semboyan jalesveva jayamahe bisa diterjemahkan sebagai postur kekuatan TNI AL yang kuat, besar dan profesional. Embrionya mulai menampakkan tunas dan semakin membentuk patron itu, TNI AL sedang dan akan menuju tahapan strategis, menuju kekuatan tiga armada tempur.

Ketika saat itu akan segera tiba, kepulauan jamrud khatulistiwa Indonesia diniscayakan dikawal oleh kekuatan tiga armada tempur yang tangguh dan modern yang mampu memberikan kekuatan penangkal yang terukur, besar dan disegani. Saat ini TNI AL memiliki kekuatan dua armada tempur yaitu armada barat dan timur dengan alutsista utama 154 KRI dan 209 KAL, 2 divisi Marinir dan sebaran pangkalan yang merata.
Prediksi kekuatan tiga armada itu adalah :

Armada Barat
Pangkalann utama di Tanjung Pinang dan Belawan, pangkalan pendukung Dumai, Batam, Natuna, Lhok Seumawe, Sabang, Padang, Mempawah.  Jumlah KRI berkisar 80-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, KCR, LPD, LST).  Wilayah pengawasan Armada barat adalah Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata dan Pantai Barat Sumatera diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Armada Tengah
Pangkalan utama di Surabaya dan Jakarta, pangkalan pendukung Makassar, Balikpapan, Tarakan, Bitung, Cilacap, Teluk Lampung dan Benoa.  Armada Tengah diperkuat dengan 85-90 KRI dari berbagai jenis termasuk satuan kapal selam, kapal rumah sakit.  Wilayah pengawasannya adalah Selat Sunda, Laut Jawa, Pantai Selatan Jawa, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Makassar dan Laut Sulawesi.  Armada Tengah diperkuat dengan 4 Brigade Marinir.

Armada Timur
Pangkalan utama  di Ambon dan Kupang, pangkalan pendukung di Merauke, Jayapura, Sorong dan Ternate.  Sebaran KRI berkisar antara 82-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, Kapal Selam).  Wilayah pengawasan adalah Laut Timor, Laut Arafuru, Laut Banda, Laut Maluku, Pantai Utara Papua.  Mengingat kontur laut di wiayah ini adalah laut dalam maka KRI yang beroperasi adalah dari jenis Fregat dan Korvet.  Armada Timur diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Jumlah seluruh KRI yang dimiliki 3 armada tempur itu berkisar 250 KRI. Ini adalah jumlah minimal yang akan mengisi ketiga armada tersebut, sementara dalam Buku Putih Kemhan jumlah kekuatan KRI yang harus dipunyai oleh TNI AL adalah 274 KRI. Dari jumlah KRI sebanyak itu, persentase jenis FPB (Fast Patrol Boat) adalah yang terbesar, yaitu minimal ada 100 FPB yang mengisi arsenal TNI AL, semuanya dilengkapi peluru kendali dari jenis C-802.

Untuk pemenuhan KRI kelas FPB, secara teknis tidak mengalami hambatan karena TNI AL punya 4 Fasharkan yang sudah berpengalaman memproduksi FPB. Artinya alutsista ini dapat dipenuhi dengan memaksimalkan seluruh potensi  galangan kapal dalam negeri. Secara maksimal PT PAL dan Fasharkan dapat memproduksi 12-15 FPB 57/FPB 60 per tahun. Ini merupakan kebanggaan tersendiri karena sejatinya kita sudah mampu membuat kapal perang sampai setingkat LPD, bahkan saat ini sudah memproses pembuatan kapal perang jenis light fregat bekerjasama dengan Schelde Belanda.

Untuk menuju kekuatan tiga armada itu TN AL sudah melebarkan sayapnya dengan membentuk pangkalan-pangkalan baru yaitu Teluk Bayur, Kupang, Merauke, Tarakan. Sesuai skenario sebaran KRI maka setiap pangkalan pendukung ditempatkan secara permanen satuan KRI minimal ada 3 korvet/Fregat dan 5 FPB untuk mengawasi perairan di sekitarnya. Di pangkalan pendukung itu akan ditempatkan 1 batalyon pasukan marinir pertahanan pangkalan. Sementara di pangkalan utama ada barisan Korvet, Fregat, FPB, LPD, Kapal Selam dan lain-lain yang dikawal satuan Marinir setingkat brigade lengkap dengan persenjataannya (Tank Amphibi, Panser Amphibi, Rudal, Howitzer).

Starting point dari semua rencana strategis ini dimulai pada tahun 2011. Persiapan kearah starting point itu selama dua tahun terakhir ini sudah dipersiapkan dengan berbagai fasilitas dan perkuatan alutsista TNI AL. Sampai dengan tahun 2011 kita sudah dan akan menerima senjata strategis Marinir berupa 50 Tank Amphibi BMP-3F, 1200 Rudal QW3, 20 RM Grad, 60 Howitzer. Marinir juga akan melakukan retrofit pada sejumlah Tank Amphibi yang dimilikinya agar menjadi alat pukul yang memiliki power strike. TNI AL diprediksi akan menerima 4 Kapal Selam baru.  Jumlah kapal selam ini akan terus ditambah sampai mencapai jumlah 12 unit. Proyek Korvet Nasional sudah dimulai tahun 2010 dengan pembuatan 2-3 korvet setiap tahun di PT PAL. TNI AL juga memesan 8 kapal jenis trimaran buatan dalam negeri, 11 LST buatan PAL dan 27 Kapal Cepat Rudal. 

Dengan semua rencana strategis itu diharapkan pada tahun 2014 kekuatan TNI AL yang kuat, besar dan profesional akan mulai terlihat bentuknya dan akan semakin sempurna pada lima tahun berikutnya. Kita sangat berharap rencana strategis yang dibutuhkan untuk pengawal lautan ini dapat diwujudkan dengan mengutamakan pemberdayaaan indutri Hankam dalam negeri yang secara defacto kita sudah mampu mengorbitkannya. Tinggal bagaimana para decision maker di jajaran TNI AL dan petinggi Kemhan mampu mengoptimalkan PT PAL, PT DI dan Pindad sebagai industri hankam strategis untuk perkuatan alutsista. Jayalah TNI AL, jalesveva jayamahe.
*****
Jagvane

Saturday, January 15, 2011

Serial Alutsista (1): Mendambakan Postur TNI AU Yang Kuat dan Disegani

TNI AU adalah salah satu kekuatan pengawal republik yang kondisi alutsistanya paling memprihatinkan. Saat ini kekuatan itu hanya ditopang dengan alat pukul gebuk kasur yaitu 10 Sukhoi, 10 F16, 12F5E dan 36 Hawk100/200. Bagaimana mungkin ruang udara NKRI yang sebesar benua Eropa ini hanya dikawal oleh alutsista secuil itu. Belum lagi jumlah pesawat angkut yang minim, helikopter tempur yang seadanya, rudal pertahanan udara yang gak nendang , jumlah radar yang belum mengcover seluruh wilayah udara dan pesawat intai strategis/taktis yang hitungan jari jumlahnya.

Sebagai anak bangsa yang mendambakan adanya peningkatan kekuatan pengawal ruang udara NKRI, kita sangat berterimakasih kepada  seorang jendral cerdas Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden terpilih 2009 -2014 yang telah mengambil langkah-langkah strategis yang pasti, lugas dan terang untuk mewujudkan postur kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan lainnya yang kuat, dan disegani, setidaknya dalam program lima tahun kedepan.

Untuk TNI Angkatan Udara, kekuatan minimum yang harus diupayakan ada, adalah melengkapi satuan pemukulnya dengan 2 Skuadron Sukhoi (32 unit), 3 Skuadron F16 (48 unit), 2 Skuadron Hawk 100/200 (36 unit), 1 skuadron F5E (12 unit), 1 skuadron Yak 130 (16 unit) dan 1 skuadron Super Tucano (16 unit). Sangat diharapkan kekuatan pemukul pengawal dirgantara ini sudah harus ada pada tahun 2014 dengan skenario persebaran skuadron merata di pulau-pulau besar NKRI, yaitu :
·         1 Skuadron Sukhoi (16 unit) di Madiun
·         1 Skuadron F16 ( 16 unit) di Madiun
·         1 Skuadron Sukhoi (16 unit) di Makassar
·         1 Skuadron F16 (16 unit) di Medan
·         1 Skuadron Yak 130 (16 unit) di Yogya
·         1 Skuadron Super Tucano (16 unit) di Malang
·         1 Skuadron Hawk (12 unit) di Pekanbaru
·         1 Skuadron Hawk (12 unit) di Pontianak
·         1 Skuadron UAV (12 unit) di Pekanbaru
·         1 Skuadron UAV  (12 unit) di Pontianak
·         1 Flight  Hawk ( 6 unit) di Tarakan
·         1 Flight F16 (6 unit) di Tarakan
·         1 Flight F16 (4 unit) di Manado
·         1 Flight F16 (6 unit) di Kupang
·         1 Flight F5E (6 unit) di Biak
·         1 Flight F5E (6 unit) di Merauke
·         1 Flight Hawk ( 6 unit) di Timika

Mengapa harus dilakukan persebaran sedemikian rupa. Dari sisi pertahanan keamanan hal ini membuat pihak lawan berhitung cermat ketika akan melakukan serangan pre emptive karena lokasi pangkalan udara berserakan di berbagai titik. Demikian juga dari sisi cost operasional lebih menghemat karena patroli udara dilakukan sesuai titik pangkalan dan kawasan border di wilayahnya. Jadi tidak perlu melakukan pergeseran pesawat untuk sebuah operasi misalnya kecuali jika ada latihan gabungan berskala besar.

Penempatan 1 skuadron F16 di Medan ditujukan untuk memberikan ruang perlindungan bagi Sumatera sekaligus mengimbangi posisi arsenal negara jiran yang dipisahkan selat Malaka.  Ini juga sebagai payung sinergi tempur dan patroli bagi pesawat tempur Hawk dan UAV di Pekanbaru.

Tarakan sebagai pangkalan utama yang baru diisi dengan 6 F16 dan 6 Hawk untuk mengawal wilayah sengketa paling panas dengan Malaysia di Ambalat. Dua jenis pesawat tempur ini akan dilapis dengan 1 Skuadron Sukhoi di Makassar yang mampu mengawal Kalimantan Timur sampai Sebatik, Manado, Ambon dan Jayapura. Prediksi untuk titik panas ini akan bisa berubah dinamis setiap saat dengan peningkatan kekuatan berskala besar manakala ada ancaman menuju perang terbuka.

Bagaimana dengan Jawa. Sebagai jantung pertahanan Indonesia kawasan ini dikawal 1 Skuadron Sukhoi, 1 Skuadron F16, 1 skuadron Yak 130 dan 1 Skuadron Super Tucano. Khusus untuk Super Tucano bisa dilakukan pergeseran pangkalan karena fungsi pesawat ini adalah sebagai pesawat tempur insurgency yang mampu mengobrak abrik sarang gerilya separatis seperti yang ditunjukkan Bronco di Aceh dan Timor Timur. Pesawat jenis Yak 130 di Yogya fungsi utamanya adalah untuk pendidikan latih lanjut pilot tempur, bersama jenis pesawat latih lainnya.

Kekuatan dan persebaran satuan pemukul ini juga diimbangi dengan dukungan alutsista lain seperti peningkatan kekuatan pasukan khas TNI AU di seluruh pangkalan yang menjadi home base pesawat tempur serta rudal dan artileri anti serangan udara yang modern dan berkualitas. Disamping rudal jarak pendek yang sudah dimiliki,TNI AU membutuhkan rudal darat ke udara jarak sedang sebagai hanud area untuk mengawal pangkalan angkatan udara. Dukungan lain adalah skuadron pengintai strategis dan taktis, sejumlah radar berkualitas OTH, skuadron angkut berat Hercules, skuadron angkut ringan/sedang.  Diharapkan satelit militer sudah bisa diluncurkan oleh Lapan tahun 2012 bersamaan dengan produksi rudal berjarak jangkau 300 Km.

Perkembangan kawasan yang begitu dinamis memungkinkan terjadinya pergesekan dan konflik teritrorial. Lihat saja tingkah arogansi Malaysia yang merasa diri sudah kuat dan kaya sehingga selalu melecehkan hampir seluruh dimensi kehormatan NKRI. Dimata rakyat Indonesia arogansi jiran sebelah itu sudah pada tahap stadium tiga, sulit disembuhkan dan memerlukan waktu lama untuk penyembuhannya, kalau tidak ingin disebut tiada maaf bagimu Pakcik. Dengan kondisi ini bisa saja sewaktu-waktu terjadi insiden yang tidak diinginkan misalnya terjadi sweeping massal terhadap warga Malaysia di Indonesia atau sebaliknya yang bisa menghancurkan tatanan kehidupan bertetangga.

Tentu saja pilihan paling obyektif adalah mengembalikan nilai dan harga diri bangsa.  Salah satunya adalah dengan memperkuat postur pengawal republik TNI yang kuat dan disegani. Kekuatan militer diniscayakan menjadi bargaining power utama bagi dinamika diplomasi Indonesia. Ingat sejarah Trikora dalam pembebasan Irian Barat, kekuatan militer Indonesia adalah faktor utama Belanda mau menyerahkan provinsi paling timur itu secara diplomasi melalui PBB.  Waktu itu Indonesia memiliki kekuatan Angkatan Udara dan Laut yang terkuat di belahan Asia Selatan, belum lagi semangat tempurnya. Ingat penerjunan pasukan / sukarelawan yang langsung ke kamp militer Belanda di sebuah tempat di Papua yang membuat tentara Belanda panik, atau heroiknya KRI Macan Tutul dibawah komando Yos Sudarso dengan pekik: kobarkan semangat pertempuran.

Presiden SBY adalah seorang yang tahu persis tentang strategi hankam dan anatominya. Dukungan dari DPR juga sangat diharapkan sehingga proses pengadaan alutsista berjalan terukur, terpenuhi dan berkualitas. Sejatinya banyak rakyat yang cinta tanah air ini mendambakan postur kekuatan TNI yang kuat dan disegani. Untuk mengukur itu bisa dilakukan survey oleh lembaga indpenden dan hasilnya disampaikan kepada pemerintah. Kita meyakini ada sekitar 80% rakyat Indonesia yang mendukung peningkatan kekuatan TNI. Nah, kalau mayoritas rakyat sudah mendambakan perkuatan TNI, logikanya tidak ada lagi kendala untuk melangkah.

Syukur Alhamdulillah sudah disepakati anggaran untuk modernisasi alutsista TNI sebesar 150 trilyun rupiah untuk 4-5 tahun ke depan.  TNI AU dan TNI AL mendapat porsi dominasi anggaran karena kedua matra ini memang personifikasinya adalah arsenal.
*****
(Bersambung)
Jagvane