Saturday, January 22, 2011

Natuna, Titik Panas Konflik Regional Masa Dpan

Adalah Cina yang menyulut lidah api klaim dengan menjulurkan lidah naganya sampai menyentuh perairan Natuna pertama kali dua puluh tahun silam.  Lidah naga itu yang menjilati perairan Natuna dan teritori sekitarnya membuat petinggi TNI panik.  Bagaimana tak panik, karena waktu itu Natuna tak dikawal mata telinga sekalipun.  Si mata telinga alias radar memang tak ada di gugusan pulau yang menjorok ke utara laut Cina Selatan itu, landasan pacu lanudnya pun tak mampu didarati pesawat angkut dan tempur.

TNI pun berbenah, pangkalan udara Ranai (Rantau nan indah) didandani apik dan sekaligus dipasang radar terbaik untuk ukuran saat itu. TNI AL mengirim beberapa KRI, TNI AD memasang arsenal hanud, TNI AU patroli menggunakan F5E dan F16.  Lanjutan dari pengembangan kekuatan ini pulalah mengapa beberapa tahun kemudian lanud Supadio Pontianak digelar 1 skuadron Hawk secara permanen sampai sekarang. Salah satu fungsinya untuk mengawal Natuna.

Tahun 2010 yang lalu intensitas kehadiran ”intelijen” Cina melalui armada kapal dagang yang dipenuhi instrumen elektronik militer mengganggu teritori beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia.  Juli 2010 misalnya, TLDM (Malaysia) memergoki armada kapal dagang ini di pulau Terumbu Layang-layang.  Dengan Filipina juga demikian, armada kapal dagang Cina seperti meyakini bahwa itu adalah teritorinya sehingga tak langsung pergi ketika diingatkan.  Ketika armada itu memasuki perairan Natuna, beberapa KRI segera mengingatkan dan memberi isyarat agar mereka segera keluar dari teritori NKRI.  Dan mereka keluar.

Pertengahan tahun 2010 Presiden SBY mengeluarkan statemen: RI memantau aktif kondisi dan dinamika laut Cina Selatan sehubungan dengan aktivitas yang meningkat bagi kapal dagang Cina.  Namun sesungguhnya yang dikhawatirkan adalah meningkatnya kekuatan militer Cina secara siginfikan beberapa tahun terakhir.

Merespons perkembangan kekuatan militer Cina sehubungan dengan klaimnya atas perairan Natuna, tentu tidak harus dijawab secara normatif alias NATO (No Action Talk Only) tapi harus dijabarkan dalam bentuk pengembangan kekuatan tempur TNI.  Beberapa bulan kemudian lewat proses sign lintas eksekutif dan legislatif, belanja alutsista pun dimulai dengan anggaran 150 trilyun rupiah untuk jangka waktu lima tahun ke depan setidaknya untuk mencapai Minimum Essential Force).

Beberapa negara ASEAN juga berbenah diri dengan memperkuat tentaranya.  Vietnam yang juga berkonflik dengan si Naga telah memesan 5 kapal selam Kilo dari Rusia, memperkuat angkatan udaranya dengan 30 Sukhoi.  Malaysia sudah menerima 2 kapal selam Scorpene , 18 Sukhoi, 7 kapal perang dan membangun pangkalan militer di Sabah.  Sementara Filipina anteng-anteng saja walaupun saling klaim pulau di laut Cina selatan dengan Cina.  Mungkin anggapan mereka masih dipayungi dengan armada ke 7 AS karena Clark dan Subik pernah menjadi pangkalan AU dan AL armada ke 7 AS dua dekade lalu.

Bagaimana dengan kita, ada sinar cerah untuk pertambahan alutsista.  Armada barat yang bertanggung jawab terhadap perairan Natuna sudah membentuk satuan kapal cepat rudal, senjata utamanya rudal C802 dan C705 buatan Cina.  Saat ini sudah tersedia 7 KRI ready for combat, ke depan diniscayakan akan ditambah sampai 30 KRI kelas KCR (Kapal Cepat Rudal). Kemudian ada penambahan 4 kapal selam, ada proyek light fregat untuk 10 KRI, integrasi rudal yakhont pada KRI Ahmad Yani Class, pertambahan pangkalan utama TNI AL, pemesanan 100 tank amphibi BMP-3F dan pengembangan satuan Marinir.  Jumlah armada TNI AL saat ini 154 KRI akan terus ditambah sampai mencapai 274 KRI dibagi dalam kekuatan 3 armada (barat, tengah, timur).

TNI AU juga ikut berbenah karena konflik ini mau tak mau akan didominasi oleh kekuatan laut dan udara.  TNI AU lima tahun ke depan diprediksi akan diperkuat dengan 2 skuadron Sukhoi dan 3 skuadron F16, 1 skuadron Super Tucano dan 1 skuadron Yak130, selain 2 skuadron Hawk dan 1 skuadron F5E eksisting.  Pangkalan skuadron tempur pun ditambah, pilihan yang mengemuka ada di Biak dan Medan.

Merespon dinamika laut Cina Selatan mengharuskan kita siap siaga dan mempersiapkan alutsista modern.  Tugas TNI adalah menjaga kedaulatan dan kewibawaan teritori NKRI. Perkembangan pesat militer Cina harus disikapi dengan perkuatan arsenal secara signifikan. Tak perlu jua mengharap-harap kehadiran armada ke 7 Paman Sam.  Mending memperkuat diri sendiri untuk percaya diri, karena harga diri bangsa adalah mempertaruhkan kehormatannya dengan kekuatan jati diri seperti pada era perang kemerdekaan 1945-1949.  Kekuatan kita adalah jati diri kita, tak perlu minta bantuan dari negara lain dan itulah sejatinya kehormatan bangsa ini.

Titik panas Natuna ini adalah konflik regional masa depan.  Situasi ini wajib kita amati secara cerdas sembari mempersiapkan alat pukul arsenal mematikan. Ini adalah syarat mutlak untuk menjunjung kewibawaan NKRI, bukan untuk mengajak perang tetapi menyetarakan diri untuk berkata: jangan ganggu kami, kalau tidak ingin berantakan.  Kami tak ingin memulai tapi juga tak ingin dimulai.
*****
Jagvane ( 22012011)

Thursday, January 20, 2011

Menjadikan TNI Gagah Perkasa Bukan Gagah Gemulai


Kalau kita menelisik semua pemberitaan dan analisis tentang TNI, dua hal yang tampak di depan mata adalah kekurangan alutsista dan kekurangsejahteraan anggotanya. Padahal kalau dilihat dari sisi kualitas tempur prajurit TNI di regional ini, TNI selalu ada dalam ranking utama. Artinya kualitas prajurit yang begitu prima kok berbanding terbalik dengan kesejahteraan dan kesenjataan. Jadinya gimana dong, terus yang salah siapa dong?

Kita langsung saja tuding tanpa tedeng aling-aling bahwa yang salah adalah anggaran dan mbahnya anggaran adalah political will dari government. Tapi kalau political will ditanya jawabnya juga sederhana, mendahulukan pembangunan ekonomi. Kecuali pada era Orde Lama, maka hantu yang bernama anggaran itu selalu menjadi lagu hit sepanjang empat dekade, pada setiap rezim yang berkuasa untuk memastikan bahwa modernisasi alutsista TNI dan kesejahteraan prajuritnya menjadi sebuah kosa kata berbalas pantun :

Karena keterbatasan anggaran, maka kondisi alutsista menjadi renta
Karena keterbatasan anggaran, maka kesejahteraan prajurit terkendala
Karena keterbatasan anggaran, maka pengawal republik tetap bersabar rela

Hampir empatpuluh tahun "gurindam duabelas" ini selalu didengungkan sebagai lagu wajib taat dan membiasakan seluruh prajurit TNI berpuasa, ya berpuasa sejahtera, ya berpuasa alutsista. Pertanyaan lugasnya adalah apakah kondisi ekonomi kita masih sama dengan empat puluh tahun lalu untuk mematahkan argumen political will tadi. Jawabnya tentu tidak karena kita tidak lagi cacingan (nyindir iklan obat cacing). 

Tetapi mengapa lagu itu masih wajib dengar untuk segenap jajaran TNI yang nota bene adalah pengawal republik dan penjaga eksitensi NKRI. Jawabnya adalah political will yang belum menyadari pentingnya sebuah TNI yang besar, kuat dan profesional yang menjadi bargaining power bagi diplomasi antar negara.

Kalau boleh mengaku, sejujurnya sejak reformasi 1998 atau setidaknya lima tahun terakhir kondisi ekonomi kita sudah membaik dan bahkan sudah tahan uji ketika krisis ekonomi menggelar dan menggelegarkan diri di hampir semua kawasan dunia akhir 2008 lalu. Itu artinya sudah saatnya kita kembali menatap anak kandung rakyat ini yang selalu dinomorsekiankan pertumbuhannya dan nrimo saja to le. Bukankah anak kandung kita ini perlu dirawat, dipoles dan diperkuat struktur dirinya agar bisa tampil sebagai kekuatan baja diri bagi kelanjutan NKRI.

Lalu kalau political will yang kita suuzonkan, sejumlah asumsi bertema duga bisa jadi iya jawabannya. Boleh jadi ada perjanjian tidak tertulis apalagi terdaftar dengan pihak Barat, ketika rezim Orla berganti Orba bahwa sangat dimungkinkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak boleh menjadi kekuatan setara dengan masa Orde Lama karena dikuatirkan rumah-rumah jiran disebelahnya tidak bisa tidur nyenyak.

Namanya juga duga, bisa benar bisa tidak, tapi kalau dilihat perjalanan bangsa selama empat dekade atau katakanlah selama lima tahun terakhir ini, asumsi itu bisa jadi hipotesa atau bukti defacto loh. Contoh realnya, sudah dikasih Kredit Ekspor sama Pemerintah Rusia tahun 2006 sebesar $1 Milyar untuk beli senjata made in Rusia, kok susah amat dan banyak gangguan teknisnya, ujung-ujungnya si Paman Sam menawarkan lagi F16 dan Herculesnya kepada Indonesia.

Sekedar catatan tahun 2006 kita mendapat Kredit Ekspor dari Rusia sebesar $1 Milyar untuk pembelian persenjataan Sukhoi, Tank Amphibi, Kapal Selam kelas Kilo, Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), namun perjalanan pengadaan alutsista yang sudah jelas sumber pembiayaannya itu masih juga tersendat. Selama empat tahun itu (sd tahun 2010) hanya digunakan untuk beli senjata Sukhoi dan 17 Tank Amphibi dengan nilai $100 juta sementara untuk senjata strategis seperti Kapal Selam dan PKR seharga $900 juta perjalanannya mirip perjalanan keong, sudah lambat, tak sampai-sampai lagi. Simpulnya sederhananya : sudah dikasih pinjaman kok masih jual mahal, kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah, kumaha atuh yang mempersulit diri sendiri dengan alasan birokrasi antar kementerian atau karena perjanjian tidak tertulis tadi, takut dijewer Barat.

Kabar Gembira
Semester kedua tahun 2010 ada kabar yang menggembirakan untuk perkuatan alutsista TNI antara lain program  merevitalisasi industri hankam strategis (Pindad, PAL, DI, LEN) sebagai pemasok utama persenjataan TNI.  PT PAL sudah mendapat kontrak dari TNI AL sampai tahun 2014 untuk buat 2-4 Korvet Rudal, 25-27Kapal Cepat Rudal, 11 Kapal Angkut Tank, kerjasama pembuatan Kapal Selam dan repowering 25-30 KRI.  PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembuatan 1 KRI LPD hasil kerjasama dengan Korsel dan perawatan beberapa KRI termasuk pemasangan rudal di KRI FPB.

Lalu ada berita TNI AU akan bentuk skuadron tempur baru di Medan dan Biak, pembentukan Kodam baru di Kalimantan dan Papua, proyek Kostrad Divisi 3, penambahan batalyon tempur Kodam dan Paskhas, proyek 100 FPB berpeluru kendali. Kemudian penambahan radar di Timika, Merauke dan Saumlaki, penggantian pesawat Bronco dengan Super Tucano, penggantian Hawk Mk53. Kedatangan 3 pesawat tempur Sukhoi SU27,  tambahan  30 F16, 17 Tank Amphibi BMP-3F dari Rusia dan hibah 10 LVT dari Korea Selatan, 154 panser APC Pindad, 50 Panser Canon, 40 Tank MBT dari Korsel  serta tambahan KRI FPB mengisi arsenal TNI.

Semua berita itu tentu saja menyegarkan dahaga kita akan keinginan untuk melihat anak kandung kita itu gagah perkasa bukan gagah gemulai. Namun yang tak kalah penting tentu saja meningkatkan kesejahteraan para prajurit itu dengan balas saja yang setimpal dan wajar, misalnya gaji prajurit paling rendah minimal 4-5 juta rupiah sebulan diluar lauk pauk dan gaji para Jendral berkisar 40-50 juta sebulan. Bukankah para Jendral itu juga boleh juga disebut Direksi sama seperti Direksi Bank atau Perusahaan. Dan bolehlah kita sebut Direksi Pengawal Keamanan NKRI.

Mengapa pola pikir kita selalu mengutamakan kehebatan Direksi sebuah Bank atau Perusahaan dengan tingkat kesejahteraan yang luar biasa padahal job atau urusan pertahanan keamanan itu justru lebih luas dan bahkan menyangkut nyawa si pengawal keamanan dan eksistensi NKRI. Arogansi Malaysia yang berani memasuki teritori ambalat, melecehkan NKRI dan membangun pangkalan militer besar-besaran di Sabah, sepertinya hendak mengatakan pada kita bahwa TNI tak memiliki kekuatan arsenal memadai. Apa yang bisa kita lakukan untuk sekedar mengimbanginya. Ini bisa terjadi karena pengawal NKRI yang bernama TNI itu dianggap Malaysia sebagai sosok yang gagah gemulai.  Barulah tahun 2010 kemarin TNI sudah mempersiapkan basis tempur di kawasan Sangatta Kaltim yang mampu menampung 100.000 prajurit TNI berikut persenjataannya.

Obsesi kita sederhana saja, tingkatkan kesejahteraan prajurit TNI secara signifikan dan lengkapi arsenal mereka dengan alutsista herder bukan alutsista anjing kampung yang dilempar batu langsung ngacir. Buang jauh-jauh hantu yang bernama anggaran. Harus ada niat yang tulus dari pemerintah untuk mendirikan sosok gagah perkasa dan berwibawa bagi pengawalnya, sekaligus untuk membuktikan tidak ada perjanjian tak tertulis dengan Barat bahwa TNI tidak boleh gagah perkasa. Bukankah top manajemen republik ini dipimpin oleh seorang Jendral Purnawirawan yang cerdas dan piawai. Bukankah NKRI ini sebuah negara kepulauan terbesar di dunia. Bukankah sumber daya alam NKRI ini paling lengkap di seluruh dunia.
****
Jagvane

Tuesday, January 18, 2011

Serial Alutsista (2): TNI AL Menuju Kekuatan Tiga Armada Tempur

Korvet Parchim Class  In Action
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sudah selayaknya dan harus memiliki kekuatan pengawal di lautan yang berfungsi sebagai penghubung, pemersatu, dan perekat negara kepulauan. Semboyan jalesveva jayamahe bisa diterjemahkan sebagai postur kekuatan TNI AL yang kuat, besar dan profesional. Embrionya mulai menampakkan tunas dan semakin membentuk patron itu, TNI AL sedang dan akan menuju tahapan strategis, menuju kekuatan tiga armada tempur.

Ketika saat itu akan segera tiba, kepulauan jamrud khatulistiwa Indonesia diniscayakan dikawal oleh kekuatan tiga armada tempur yang tangguh dan modern yang mampu memberikan kekuatan penangkal yang terukur, besar dan disegani. Saat ini TNI AL memiliki kekuatan dua armada tempur yaitu armada barat dan timur dengan alutsista utama 154 KRI dan 209 KAL, 2 divisi Marinir dan sebaran pangkalan yang merata.
Prediksi kekuatan tiga armada itu adalah :

Armada Barat
Pangkalann utama di Tanjung Pinang dan Belawan, pangkalan pendukung Dumai, Batam, Natuna, Lhok Seumawe, Sabang, Padang, Mempawah.  Jumlah KRI berkisar 80-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, KCR, LPD, LST).  Wilayah pengawasan Armada barat adalah Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata dan Pantai Barat Sumatera diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Armada Tengah
Pangkalan utama di Surabaya dan Jakarta, pangkalan pendukung Makassar, Balikpapan, Tarakan, Bitung, Cilacap, Teluk Lampung dan Benoa.  Armada Tengah diperkuat dengan 85-90 KRI dari berbagai jenis termasuk satuan kapal selam, kapal rumah sakit.  Wilayah pengawasannya adalah Selat Sunda, Laut Jawa, Pantai Selatan Jawa, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Makassar dan Laut Sulawesi.  Armada Tengah diperkuat dengan 4 Brigade Marinir.

Armada Timur
Pangkalan utama  di Ambon dan Kupang, pangkalan pendukung di Merauke, Jayapura, Sorong dan Ternate.  Sebaran KRI berkisar antara 82-85 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, Kapal Selam).  Wilayah pengawasan adalah Laut Timor, Laut Arafuru, Laut Banda, Laut Maluku, Pantai Utara Papua.  Mengingat kontur laut di wiayah ini adalah laut dalam maka KRI yang beroperasi adalah dari jenis Fregat dan Korvet.  Armada Timur diperkuat dengan 3 Brigade Marinir.

Jumlah seluruh KRI yang dimiliki 3 armada tempur itu berkisar 250 KRI. Ini adalah jumlah minimal yang akan mengisi ketiga armada tersebut, sementara dalam Buku Putih Kemhan jumlah kekuatan KRI yang harus dipunyai oleh TNI AL adalah 274 KRI. Dari jumlah KRI sebanyak itu, persentase jenis FPB (Fast Patrol Boat) adalah yang terbesar, yaitu minimal ada 100 FPB yang mengisi arsenal TNI AL, semuanya dilengkapi peluru kendali dari jenis C-802.

Untuk pemenuhan KRI kelas FPB, secara teknis tidak mengalami hambatan karena TNI AL punya 4 Fasharkan yang sudah berpengalaman memproduksi FPB. Artinya alutsista ini dapat dipenuhi dengan memaksimalkan seluruh potensi  galangan kapal dalam negeri. Secara maksimal PT PAL dan Fasharkan dapat memproduksi 12-15 FPB 57/FPB 60 per tahun. Ini merupakan kebanggaan tersendiri karena sejatinya kita sudah mampu membuat kapal perang sampai setingkat LPD, bahkan saat ini sudah memproses pembuatan kapal perang jenis light fregat bekerjasama dengan Schelde Belanda.

Untuk menuju kekuatan tiga armada itu TN AL sudah melebarkan sayapnya dengan membentuk pangkalan-pangkalan baru yaitu Teluk Bayur, Kupang, Merauke, Tarakan. Sesuai skenario sebaran KRI maka setiap pangkalan pendukung ditempatkan secara permanen satuan KRI minimal ada 3 korvet/Fregat dan 5 FPB untuk mengawasi perairan di sekitarnya. Di pangkalan pendukung itu akan ditempatkan 1 batalyon pasukan marinir pertahanan pangkalan. Sementara di pangkalan utama ada barisan Korvet, Fregat, FPB, LPD, Kapal Selam dan lain-lain yang dikawal satuan Marinir setingkat brigade lengkap dengan persenjataannya (Tank Amphibi, Panser Amphibi, Rudal, Howitzer).

Starting point dari semua rencana strategis ini dimulai pada tahun 2011. Persiapan kearah starting point itu selama dua tahun terakhir ini sudah dipersiapkan dengan berbagai fasilitas dan perkuatan alutsista TNI AL. Sampai dengan tahun 2011 kita sudah dan akan menerima senjata strategis Marinir berupa 50 Tank Amphibi BMP-3F, 1200 Rudal QW3, 20 RM Grad, 60 Howitzer. Marinir juga akan melakukan retrofit pada sejumlah Tank Amphibi yang dimilikinya agar menjadi alat pukul yang memiliki power strike. TNI AL diprediksi akan menerima 4 Kapal Selam baru.  Jumlah kapal selam ini akan terus ditambah sampai mencapai jumlah 12 unit. Proyek Korvet Nasional sudah dimulai tahun 2010 dengan pembuatan 2-3 korvet setiap tahun di PT PAL. TNI AL juga memesan 8 kapal jenis trimaran buatan dalam negeri, 11 LST buatan PAL dan 27 Kapal Cepat Rudal. 

Dengan semua rencana strategis itu diharapkan pada tahun 2014 kekuatan TNI AL yang kuat, besar dan profesional akan mulai terlihat bentuknya dan akan semakin sempurna pada lima tahun berikutnya. Kita sangat berharap rencana strategis yang dibutuhkan untuk pengawal lautan ini dapat diwujudkan dengan mengutamakan pemberdayaaan indutri Hankam dalam negeri yang secara defacto kita sudah mampu mengorbitkannya. Tinggal bagaimana para decision maker di jajaran TNI AL dan petinggi Kemhan mampu mengoptimalkan PT PAL, PT DI dan Pindad sebagai industri hankam strategis untuk perkuatan alutsista. Jayalah TNI AL, jalesveva jayamahe.
*****
Jagvane

Saturday, January 15, 2011

Serial Alutsista (1): Mendambakan Postur TNI AU Yang Kuat dan Disegani

TNI AU adalah salah satu kekuatan pengawal republik yang kondisi alutsistanya paling memprihatinkan. Saat ini kekuatan itu hanya ditopang dengan alat pukul gebuk kasur yaitu 10 Sukhoi, 10 F16, 12F5E dan 36 Hawk100/200. Bagaimana mungkin ruang udara NKRI yang sebesar benua Eropa ini hanya dikawal oleh alutsista secuil itu. Belum lagi jumlah pesawat angkut yang minim, helikopter tempur yang seadanya, rudal pertahanan udara yang gak nendang , jumlah radar yang belum mengcover seluruh wilayah udara dan pesawat intai strategis/taktis yang hitungan jari jumlahnya.

Sebagai anak bangsa yang mendambakan adanya peningkatan kekuatan pengawal ruang udara NKRI, kita sangat berterimakasih kepada  seorang jendral cerdas Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden terpilih 2009 -2014 yang telah mengambil langkah-langkah strategis yang pasti, lugas dan terang untuk mewujudkan postur kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan lainnya yang kuat, dan disegani, setidaknya dalam program lima tahun kedepan.

Untuk TNI Angkatan Udara, kekuatan minimum yang harus diupayakan ada, adalah melengkapi satuan pemukulnya dengan 2 Skuadron Sukhoi (32 unit), 3 Skuadron F16 (48 unit), 2 Skuadron Hawk 100/200 (36 unit), 1 skuadron F5E (12 unit), 1 skuadron Yak 130 (16 unit) dan 1 skuadron Super Tucano (16 unit). Sangat diharapkan kekuatan pemukul pengawal dirgantara ini sudah harus ada pada tahun 2014 dengan skenario persebaran skuadron merata di pulau-pulau besar NKRI, yaitu :
·         1 Skuadron Sukhoi (16 unit) di Madiun
·         1 Skuadron F16 ( 16 unit) di Madiun
·         1 Skuadron Sukhoi (16 unit) di Makassar
·         1 Skuadron F16 (16 unit) di Medan
·         1 Skuadron Yak 130 (16 unit) di Yogya
·         1 Skuadron Super Tucano (16 unit) di Malang
·         1 Skuadron Hawk (12 unit) di Pekanbaru
·         1 Skuadron Hawk (12 unit) di Pontianak
·         1 Skuadron UAV (12 unit) di Pekanbaru
·         1 Skuadron UAV  (12 unit) di Pontianak
·         1 Flight  Hawk ( 6 unit) di Tarakan
·         1 Flight F16 (6 unit) di Tarakan
·         1 Flight F16 (4 unit) di Manado
·         1 Flight F16 (6 unit) di Kupang
·         1 Flight F5E (6 unit) di Biak
·         1 Flight F5E (6 unit) di Merauke
·         1 Flight Hawk ( 6 unit) di Timika

Mengapa harus dilakukan persebaran sedemikian rupa. Dari sisi pertahanan keamanan hal ini membuat pihak lawan berhitung cermat ketika akan melakukan serangan pre emptive karena lokasi pangkalan udara berserakan di berbagai titik. Demikian juga dari sisi cost operasional lebih menghemat karena patroli udara dilakukan sesuai titik pangkalan dan kawasan border di wilayahnya. Jadi tidak perlu melakukan pergeseran pesawat untuk sebuah operasi misalnya kecuali jika ada latihan gabungan berskala besar.

Penempatan 1 skuadron F16 di Medan ditujukan untuk memberikan ruang perlindungan bagi Sumatera sekaligus mengimbangi posisi arsenal negara jiran yang dipisahkan selat Malaka.  Ini juga sebagai payung sinergi tempur dan patroli bagi pesawat tempur Hawk dan UAV di Pekanbaru.

Tarakan sebagai pangkalan utama yang baru diisi dengan 6 F16 dan 6 Hawk untuk mengawal wilayah sengketa paling panas dengan Malaysia di Ambalat. Dua jenis pesawat tempur ini akan dilapis dengan 1 Skuadron Sukhoi di Makassar yang mampu mengawal Kalimantan Timur sampai Sebatik, Manado, Ambon dan Jayapura. Prediksi untuk titik panas ini akan bisa berubah dinamis setiap saat dengan peningkatan kekuatan berskala besar manakala ada ancaman menuju perang terbuka.

Bagaimana dengan Jawa. Sebagai jantung pertahanan Indonesia kawasan ini dikawal 1 Skuadron Sukhoi, 1 Skuadron F16, 1 skuadron Yak 130 dan 1 Skuadron Super Tucano. Khusus untuk Super Tucano bisa dilakukan pergeseran pangkalan karena fungsi pesawat ini adalah sebagai pesawat tempur insurgency yang mampu mengobrak abrik sarang gerilya separatis seperti yang ditunjukkan Bronco di Aceh dan Timor Timur. Pesawat jenis Yak 130 di Yogya fungsi utamanya adalah untuk pendidikan latih lanjut pilot tempur, bersama jenis pesawat latih lainnya.

Kekuatan dan persebaran satuan pemukul ini juga diimbangi dengan dukungan alutsista lain seperti peningkatan kekuatan pasukan khas TNI AU di seluruh pangkalan yang menjadi home base pesawat tempur serta rudal dan artileri anti serangan udara yang modern dan berkualitas. Disamping rudal jarak pendek yang sudah dimiliki,TNI AU membutuhkan rudal darat ke udara jarak sedang sebagai hanud area untuk mengawal pangkalan angkatan udara. Dukungan lain adalah skuadron pengintai strategis dan taktis, sejumlah radar berkualitas OTH, skuadron angkut berat Hercules, skuadron angkut ringan/sedang.  Diharapkan satelit militer sudah bisa diluncurkan oleh Lapan tahun 2012 bersamaan dengan produksi rudal berjarak jangkau 300 Km.

Perkembangan kawasan yang begitu dinamis memungkinkan terjadinya pergesekan dan konflik teritrorial. Lihat saja tingkah arogansi Malaysia yang merasa diri sudah kuat dan kaya sehingga selalu melecehkan hampir seluruh dimensi kehormatan NKRI. Dimata rakyat Indonesia arogansi jiran sebelah itu sudah pada tahap stadium tiga, sulit disembuhkan dan memerlukan waktu lama untuk penyembuhannya, kalau tidak ingin disebut tiada maaf bagimu Pakcik. Dengan kondisi ini bisa saja sewaktu-waktu terjadi insiden yang tidak diinginkan misalnya terjadi sweeping massal terhadap warga Malaysia di Indonesia atau sebaliknya yang bisa menghancurkan tatanan kehidupan bertetangga.

Tentu saja pilihan paling obyektif adalah mengembalikan nilai dan harga diri bangsa.  Salah satunya adalah dengan memperkuat postur pengawal republik TNI yang kuat dan disegani. Kekuatan militer diniscayakan menjadi bargaining power utama bagi dinamika diplomasi Indonesia. Ingat sejarah Trikora dalam pembebasan Irian Barat, kekuatan militer Indonesia adalah faktor utama Belanda mau menyerahkan provinsi paling timur itu secara diplomasi melalui PBB.  Waktu itu Indonesia memiliki kekuatan Angkatan Udara dan Laut yang terkuat di belahan Asia Selatan, belum lagi semangat tempurnya. Ingat penerjunan pasukan / sukarelawan yang langsung ke kamp militer Belanda di sebuah tempat di Papua yang membuat tentara Belanda panik, atau heroiknya KRI Macan Tutul dibawah komando Yos Sudarso dengan pekik: kobarkan semangat pertempuran.

Presiden SBY adalah seorang yang tahu persis tentang strategi hankam dan anatominya. Dukungan dari DPR juga sangat diharapkan sehingga proses pengadaan alutsista berjalan terukur, terpenuhi dan berkualitas. Sejatinya banyak rakyat yang cinta tanah air ini mendambakan postur kekuatan TNI yang kuat dan disegani. Untuk mengukur itu bisa dilakukan survey oleh lembaga indpenden dan hasilnya disampaikan kepada pemerintah. Kita meyakini ada sekitar 80% rakyat Indonesia yang mendukung peningkatan kekuatan TNI. Nah, kalau mayoritas rakyat sudah mendambakan perkuatan TNI, logikanya tidak ada lagi kendala untuk melangkah.

Syukur Alhamdulillah sudah disepakati anggaran untuk modernisasi alutsista TNI sebesar 150 trilyun rupiah untuk 4-5 tahun ke depan.  TNI AU dan TNI AL mendapat porsi dominasi anggaran karena kedua matra ini memang personifikasinya adalah arsenal.
*****
(Bersambung)
Jagvane

Thursday, January 13, 2011

Sangatta Tarakan, Basis Tempur TNI Kawal Ambalat

Sangatta, sebuah nama yang semakin populer dua tahun terakhir, terletak di Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur sejak tahun 2008 selalu dibombardir oleh seluruh matra TNI untuk melepaskan hasrat tempur yang menggebu. Tercatat sudah lebih dari 9 kali sejak 2008 kawasan berbukit dan berhutan lebat ini dihujani oleh peluru tajam pasukan TNI, apakah itu dari Sukhoi, F16, F5E, Hawk, serbuan pasukan Marinir, PPRC Kostrad menggemuruhkan semangat bertempur dari pengawal republik sebagai bagian dari kesiapan tempur untuk menghadapi negara pengganggu teritori RI.

Saat ini Sangatta telah dijadikan Mako Latgab secara permanen, artinya setiap saat kawasan ini menjadi area latihan tempur dan sekaligus yudha siaga karena didepannya ada sebuah perairan milik NKRI yang diklaim milik jiran arogan. Mako Latgab ini setiap saat bisa menjadi pangkalan militer berskala besar dan memang sudah disiapkan untuk itu, mampu menampung 100.000 pasukan TNI dengan aneka persenjataannya. Agak ke utara sedikit, tepatnya di Berau sedang disiapkan pangkalan heli tempur berkekuatan 1 skuadron. Ini juga bagian dari persiapan menghadapi kondisi terburuk.

Kalimantan sudah dibagi menjadi dua Kodam. Untuk Kodam Mulawarman membawahi Kaltim dan Kalsel berkedudukan di Balikpapan, sedangkan Kodam Tanjungpura membawahi Kalbar dan Kalteng berkedudukan di Pontianak. Kalbar dan Kaltim sedang dipersiapkan menjadi basis militer berskala besar. Batalyon-batalyon tempur dibangun antara lain di Malinau, Putussibau, Bengkayang, Nunukan, Sambas. Sementara batalyon yang sudah ada diperkuat dengan persenjataan terbaru dan penambahan personil. Kalbar setidaknya akan mendapatkan 100 unit Main Battle Tank dan akan dialokasikan di Bengkayang. Belum lagi ratusan unit rudal berjarak jangkau 40 km sampai 200 km akan dipasang di lokasi strategis di sepanjang border Kalimantan.

Tarakan, secara defacto sudah menjadi basis militer. Pasukan organik di pulau minyak ini tercatat ada batalyon raja alam, batalyon brimob, pangkalan TNI AL, pangkalan TNI AU, pangkalan radar, Marinir dan Paskhas. TNI AL sedang mempersiapkan pembangunan pangkalan di pantai Amal, selama ini sejumlah KRI masih numpang di pelabuhan Melundung. TNI AU sudah membangun pangkalan TNI AU di Juata, sembari menunggu kedatangan pesawat tempur Super Tucano. Pesawat Super Tucano akan ditempatkan sebanyak 8 unit dan akan dilapis dengan kekuatan 6 unit f16 secara permanen.

Jumlah KRI yang mengawasi Ambalat berkisar 7-8 unit dan semuanya berpangkalan di Tarakan. Sinergi Tarakan dan Sangatta sangat menguntungkan dari sisi pergerakan militer dan logistik karena Tarakan juga berfungsi sebagai tirai pelindung udara dan laut untuk pangkalan militer Sangatta.

TNI tidak main-main dengan Ambalat. Jalur lurus Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Sangatta merupakan jalur vital pergerakan TN AD. Masuk Ke Berau, Tanjung Selor dan Malinau sudah tersedia ribuan pasukan TNI AD dari komponen organik. Sementara Tarakan menjadi pangkalan garis depan mirip dengan suasana Dwikora jaman dulu dengan bertumpuknya pasukan TNI dari seluru matra. Nunukan dan Sebatik juga sudah disiapkan pasukan marinir. Semua ini masih juga dilapis dengan ribuan pasukan TNI yang ada di Gorontalo dan Palu. Seperti kita ketahui Gorontalo adalah salah satu basis pasukan Kostrad divisi 3 yang sudah ready for combat.

Kita tidak ingin perang, tapi kita juga harus siap untuk itu jika teritori NKRI dilecehkan oleh jiran yang angkuh. Sangatta dan Tarakan sudah mempersiapkan semuanya. Kaltim yudha siaga, Kalbar juga demikian. TNI akan selalu mengawal kedaulatan NKRI dengan semboyan: ini dadaku mana dadamu, anda jual kami beli.

***
Jagvane,-

Kabar Gembira Itu Bernama Alutsista

Satuan tempur Penerbad awal tahun  2011 ini akan kedatangan 6 Heli bongsor sangar dari jenis Mi17 buatan Rusia, itu kata berita di minggu kedua Desember 2010.  Padahal baru saja satuan ini menerima 3 Heli Tempur dari jenis Mi35 buatan Rusia sebulan lalu. Penerbad memang sedang mengembangkan aumannya dengan menambah kekuatan menjadi lima skuadron tempur.  Satuan udara TNI AD ini sekarang sudah memliki 5 Heli Mi35, 6 Heli Mi17, dan lebih 30an Heli jenis lain yang tersebar di Pusat Skuadron  Ahmad Yani Semarang dan Pondok Cabe.  Penerbad masih akan memperkuat taringnya dengan menambah minimal 5 Heli Mi35 dan 24 Heli jenis Bell.  Itu semua akan terealisir dalam waktu dekat.  Sebaran skuadron bertambah dengan mengalokasikan 1 skuadron heli tempur di Berau Kaltim dan 1 skuadron lagi di Baturaja Sumsel.

TNI AD telah diperkuat dengan 154 Panser Anoa buatan Pindad, memastikan akan diperkuat dengan kendaraan lapis baja IFV (Infantry Fighting Vehicle) dari Korea Selatan, jumlahnya untuk tahap pertama 22 biji, kemudian juga sedang menunggu kehadiran 50 Panser Canon hasil kerjasama Pindad dan Korsel.  Kostrad sedang membangun divisi baru di Sulawesi, Maluku dan Papua dengan kekuatan 15.000 prajurit.  Saat ini Kostrad memiliki 2 divisi dengan kekuatan 35.000 pasukan. Kalimantan telah dimekarkan menjadi 2 Kodam yang berarti ada penambahan batalyon tempur.  Setidaknya ada 5 batalyon baru yang sudah jadi untuk memperkuat batalyon eksisting di Kalimantan. Batalyon-batalyon tempur TNI AD tak lama lagi akan diperkuat satuan rudal berjarak tembak 150-200 km hasil karya anak bangsa yang telah dilitbangkan selama 5 tahun terakhir.  Kalau kita melihat tampilan kesatrian TNI AD apakah itu berlabel Kostrad, Kopassus, Kodam saat ini, semuanya memberikan warna cerah dan gagah, cermin dari kesiapan operasional baik tempur maupun kemanusiaan.

Marinir TNI AL baru saja mendapat mainan baru yang ‘menggemaskan’ dengan kedatangan 17 tank tempur amphibi paling gress dan mengentarkan juga dari Rusia.  Kedatangan BMP-3F ini menambah kekuatan tempur Marinir setelah mendapat hibah 10 LVT Amphibi dari Korea Selatan beberapa bulan lalu.  Sangat dimungkinkan BMP-3F ini akan ditambah lagi sampai mencapai 100 unit dalam 3 tahun ke depan.

TNI AL sedang berbenah total menuju kekuatan tempur  dengan 274 KRI.  Saat ini sudah tersedia ready for use sebanyak 154 KRI dari berbagai jenis.  PAL kebagian order  Light Fregat PKR kerjasama dengan Schelde Belanda, proyeksi PKR yang dibuat akan mencapai 10 unit.  Kapal Cepat Rudal (KCR) akan dijadikan salah satu striking force dengan kekuatan mencapai 100 KRI.  Saat ini sudah ada sebanyak 35 unit sebagian sudah dipasangi rudal C802 atau C705.  Galangan kapal dalam negeri baik Fasharkan TNI AL maupun swasta  mendapat pekerjaan untuk membuat 27 Kapal Cepat Rudal termasuk dari jenis Trimaran.  PT PAL mendapat order pembuatan 11 Landing Ship Tank, integrasi sistem tempur 30an KRI termasuk pemasangan rudal Yakhont, C802 dan C705.  PT PAL segera merampungkan 1 LPD pesanan terakhir dari paket 4 LPD yaitu KRI Banda Aceh.

Untuk pengadaan kapal selam, sudah ada persetujuan anggaran dari DPR dengan mendatangkan 4 kapal selam.  Proyek alutsista strategis ini sejatinya yang paling ditunggu oleh korps TNI AL  Diharapkan bulan Pebruari 2011 sudah ada kepastian dari negara mana kapal selam itu didatangkan.  Rusia diprediksi akan menjadi pemasok 4 kapal selam itu bisa dari jenis Kilo atau Amur.  2 Kilo sebenarnya sudah masuk dalam paket Kredit Ekspor Rusia sebesar US$ 1,1 Milyar. Petinggi TNI AL pernah mengatakan bahwa TNI AL memerlukan kapal selam dari jenis herder, dan itu artinya hanya kapal selam Kilo atau Amur yang memenuhi syarat dibandingkan buatan Korsel. .Saat ini TNI AL punya 2 kapal selam buatan Jerman, salah satunya yaitu KRI Nanggala masih dioverhaul di Korsel dan akan selesai Semester I tahun 2011.

Indo Defence Nopember lalu juga menghasilkan cahaya kinclong bagi TNI AU.  Indonesia memesan sejumlah rudal berbagai jenis paling mematikan untuk arsenal Sukhoi.  Kemudian sign pembelian 8 Super Tucano dari Brazil sebagai order tahap pertama dari rencana beli 16 Super Tucano. Kementerian Pertahanan juga sedang mempersiapkan pembelian tahap ketiga untuk 6 Sukhoi lengkap dengan persenjataannya sehingga Sukhoi dari jenis SU27/SU30 akan menjadi 1 skuadron lengkap (16 unit).

Masih untuk pengawal kedirgantaraan, TNI AU sedang mengkaji hibah 24 pesawat tempur F16 dari AS bersama opsi yang lain yaitu beli baru sebanyak 6 unit F16 blok52, serta mengupgrade 10 F16 eksisting menjadi F16 blok52.  Semua sedang dalam proses namun bahasa tubuh TNI mengisyaratkan TNI AU menginginkan hibah 24 F16 itu diambil, syukur-syukur beli yang 6 itu juga parallel sehingga kita akan memiliki 40 pesawat tempur F16.

TNI AU juga sedang memproses pengadaan pesawat latih mengganti Hawk Mk53.  Calon kuatnya adalan Yak 130 dari Rusia dan T-50 dari Korea Selatan. Diharapkan triwulan pertama 2011 sudah ada keputusan untuk pesan sebanyak 16 unit.  Kita memprediksi Yak 130 akan menjadi pilihan karena pesawat made in Rusia lebih bernilai garansi  dibanding dari Korea selatan.

Dalam Renstra 2010-2014 TNI AU juga mempersiapkan pengganti pesawat tempur F5E.  Tiga kontestan sedang bertarung yaitu SU35 Rusia, Gripen Swedia dan JF17 China-Pakistan.  Sukhoi SU 35 boleh jadi menjadi pilihan tepat jika kita menganalisis keinginan Menhan Purnomo yang arahnya adalah keluarga Sukhoi akan menjadi tulang punggung kekuatan TNI AU.

TNI AU juga sedang mempersiapkan kedatangan pesawat UAV semester I -2011 sebanyak 2 skuadron baik dari jenis fixed wing maupun rotary wing.  Pekanbaru dan Pontianak yang juga menjadi markas skuadron Hawk100/200 (36 unit) akan menjadi rumah bagi skuadron UAV namun karena sifatnya sangat mobile dan ringan pesawat jenis ini bisa dipindahkan ke sejumlah trouble spot di tanah air. Sementara itu skuadron angkut berat TNI AU tengah mengupayakan penambahan minimal 10 Hercules Second dari berbagai jenis dan diharapkan akhir tahun depan sudah datang sehingga kekuatan  Skuadron ini mencapai  35 unit.

Seabreg kabar gembira yang bernama alutsista itu dipersembahkan untuk TNI agar kedaulatan NKRI bisa ditegakkan dengan gagah perkasa bukan gagah gemulai. Aura panen raya alutsista sudah mulai terasa saat ini dengan kedatangan berbagai jenis arsenal canggih.  Panen raya itu akan semakin terasa pada tahun-tahun mendatang dengan kehadiran  sejumlah besar arsenal yang sudah dipesan baik dari industri hankam dalam negeri maupun dari negara lain.  Bisa kita sebut disini : Untuk TNI AU 16 Super Tucano, 24 F16, 16 Yak130, 6 Sukhoi, 10 Hercules, 8 EC Cougar, 3 Super Puma, 6 C17 Spartan, 400-450 Rudal Hanud Titik, 40-50 Rudal Hanud Area, 3 pesawat intai strategis.  Untuk TNI AL  4 kapal selam, 3 PKR Light Fregat, 27 KCR (Kapal Cepat Rudal), 11 LST, 12 Heli anti kapal selam, 8 CN235 MPA,  rudal Yakhont, C802 dan C705.  Sementara TNI AD mendapat 100 kendaraan lapis baja roda rantai IFV dari Korsel dan Jerman, 50 Panser Canon, 200-250 rudal anti tank, 50-55 battery arhanud titik, 5 Heli tempur MI35, 25 Heli tempur Bell, 100 Howitzer artileri, 200 roket NDL, 800 roket Rhan dan 150 rudal Lapan Pindad.

Itu semua akan tercapai dalam renstra TNI 2010-2014.  Duitnya berjumlah 150 trilyun rupiah berasal dari APBN, Kredit Ekspor dan Pinjaman Bank Dalam Negeri.  Inilah sebuah awal dari pembangunan kekuatan TNI untuk mecapai MEF (Minimum Essential Force). Pembangunan kekuatan ini akan terus berlanjut sampai tahun 2024 dimana saat itu kita sudah punya alutsista strategis yaitu 60 pesawat tempur KFX, 120 Sukhoi, 12-14  kapal selam, 340 KRI, Ribuan rudal surface to surface jarak tembak 300-500 km, ribuan rudal surface to air.  Tidak usah menunggu tahun 2024 karena tahun 2014 kita sudah mampu membusungkan dada sembari mengatakan : Ini dadaku mana dadamu.  Dan tiba-tiba saja beberapa jiran yang ada dlingkungan RT ASEAN bilang pada sebuah arisan RT: Sudah pantaslah abang Indonesia pimpin kami sebagai Ketua RT tak pakai periode.  Kami juga tak nak klaim-klaim lagi.  Suka-suka abanglah, kata Pakcik dari tanah seberang sambil membungkukkan badan.

*******
Jagvane

Menyemai Alutsista Menanti Panen Raya

Apa yang menarik selama tiga bulan terakhir ini jika kita berbicara tentang alutsista TNI. Jawabnya adalah semakin terang benderangnya jenis kelamin alutsista yang dipakaikan pada uniform Tentara Nasional Indonesia untuk menuju keperkasaan yang dipersyaratkan sebagai pengawal NKRI.

Dengan kerja keras dan kerja cerdas Kemhan dan TNI selama setahun ini - tentu saja dengan payung regulasi Undang-Undang – persemaian bibit alutsista mulai bertunas dan memberikan spirit bagi pengawal republik untuk melaksanakan tugasnya dengan percaya diri karena hasilnya adalah terciptanya ruang harga diri dan martabat bangsa untuk tidak diremehkan lagi oleh jiran pongah yang merasa lebih kuat dan hebat.

Ya, TNI dan Kemhan saat ini sedang menyemai  dan menabur ‘sperma’ alutsista di segala tempat untuk sebuah tekad yang sudah dikumandangkan Menhan Purnomo, menghasilkan  sosok dan postur TNI  yang gagah perkasa dengan persenjataan lengkap dan modern.  Beberapa contoh persemaian alutsista yang sudah diteken dan atau dicanangkan antara lain:

·         Sign Kerjasama PAL dengan Schelde Belanda untuk membuat light fregat PKR sebanyak 10 unit
·         Pengadaan 27 unit Kapal Cepat Rudal dengan galangan kapal dalam negeri
·         Pembelian rudal C802 dari China untuk 27 unit KCR dan 15 Korvet Parchim
·         Pengadaan  8 unit Kapal Cepat Trimaran dilengkapi rudal C705
·         Pengadaan 11 Kapal Landing Ship Tank di PT PAL
·         Tambahan 6 unit Sukhoi untuk melengkapi menjadi 1 skuadron (16 unit)
·         Sign  kontrak untuk persenjataan / rudal  Sukhoi
·         Up grade kemampuan tempur 4 Sukhoi eksisting batch 1
·         Sign jual beli 16 unit pesawat tempur Super Tucano dari Brazil
·         Pengadaan 16 unit  pesawat tempur latih Yak130 dari Rusia
·         Hibah seperempat harga 24 unit pesawat tempur F16 second  dari AS
·         Pembelian 6 pesawat tempur F16 gress dari AS
·         Upgrade 10 pesawat tempur F16 eksisting
·         Beli 2 Boeing dari Garuda untuk pesawat intai strategis
·         Produksi  2000 rudal Pindad-Lapan  jarak jangkau 150 km
·         Pasang 5 radar Thales di Saumlaki, Timika, Merauke, Singkawang, Morotai
·         Pengadaan 2 kapal selam dari Rusia
·         Produksi bersama 4 kapal selam antara PAL dengan Jerman atau Kosel
·         Pembelian tahap I  22 tank tempur modern dari Korea Selatan, opsi 100 unit
·         Kerjasama produksi Pindad-Korsel  membuat panser Canon sebanyak 50 unit
·         Pengadaan 100  rudal Hanud jarak sedang pengganti S75
·         Pengadaan 16 unit pesawat tempur SU35 BM pengganti F5E
·         Pengadaan 12 unit pesawat Hercules second
·         Penyelesaian Up grade 9 unit pesawat Hercules
·         Pengadaan 6 unit pesawat angkut sedang C17J Spartan dari Italia
·         Pengadaan 12 unit Helikopter EC725Cougar dari Perancis
·         Penyelesaian kontrak 3 unit Helikopter Super Puma dengan PT DI
·         Sign Kontrak pembuatan 28 Heli tempur Bell untuk Penerbad
·         Pengadaan 12 unit UAV Fixed Wing
·         Pengadaan 12 unit UAV Rotary Wing
·         Pembelian lanjutan  1000 rudal panggul QW3 untuk Marinir dan Paskhas
·         Produksi lanjutan Panser angkut personil (APC) Pindad

Dengan anggaran belanja khusus alutsista sebesar 150 trilyun rupiah yang sudah disetujui berama antara Pemerintah dan DPR untuk masa 5 tahun ke depan sangat diniscayakan akan menghasilkan panen raya alutsista mulai tahun 2011 dan puncaknya tahun 2014.  Sementara pada bulan Nopember ini kita sedang menunggu kedatangan 17 tank amphibi BMP-3F dari Rusia dan berencana akan menambah lagi inventory BMP-3F sampai mencapai 100 unit.

Nah, agar proses menuju panen raya alutsista ini dapat berjalan sesuai harapan kita semua, perlu dilakukan penyemprotan terhadap hama-hama yang biasanya selalu ‘menemani’ jalannya proses tumbuh dan berkembangnya.  Hama tanaman itu yang paling berat adalah tikus mark up dan wereng makelar yang selalu berupaya agar pengambil keputusan mengikuti kehendak si hama tadi. 

Meskipun begitu kita meyakini (tak baik berburuk sangka) bahwa segala hal yang berkaitan menuju panen raya tadi akan berjalan sesuai tracknya sehingga pada tahun 2014 kekuatan minimum essential force dapat kita peluk dengan bangga sembari mengatakan kepda anak kandung kita TNI : Kamu sudah besar nak, kamu sekarang sudah perkasa, jalankan tugasmu dengan  lugas.  Jagalah ibu pertiwi dengan bangga karena itu adalah kewajibanmu.

Kemudian si anak kandung tadi berbisik pada ibu pertiwi sebelum pergi bertugas: Jangan lupa dengan kesejahteraan ananda ya Bu.  Bukankah alutsista ini dibeli dengan harga mahal, dan itu mestinya juga setara dengan kesejahteraan ananda.  Bukankah begitu Ibu pertiwi ?
*****
Jagvane

Armada Barat RI, Menuju Kekuatan Herder

Konvoi Armada KRI dalam sebuah Latihan
Perjuangan TNI AL untuk mengembangkan armada tempurnya menjadi 3 armada yaitu armada barat, tengah dan timur sudah diambang fajar dan diperkirakan tahun 2012 sel tiga armada itu sudah terbentuk dengan jelas, berubah dari metamorfose sebelumnya  yang dua armada, timur dan barat.

Perubahan ini tentu memerlukan pertambahan jumlah KRI yang dioperasionalkan termasuk penambahan jumlah pangkalan utama TNI AL dan sebaran pasukan Marinir.  Dengan  anggaran 150 trilyun rupiah untuk modernisasi alutsista TNI dalam renstra tahun 2011 sampai dengan tahun 2014, pertambahan jumlah KRI merupakan sebuah keniscayaan yang patut didukung karena wajib hukumnya.

Khusus armada barat, areal gugus keamanan dan gugus tempur lautnya meliputi perairan Natuna, Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Karimata, Selat Sunda dan perairan Barat Sumatera.  Pangkalan utama TNI AL eksisting ada di Tanjung Pinang sebagai pangkalan markas dan sebaran pangkalan utama lainnya ada di Dumai, Belawan, Lhok Seumawe, Sabang, Padang, Natuna, Mempawah, dan Teluk Lampung.

Untuk mendukung kekuatan gugus kemanan dan gugus tempur laut yang memenuhi kriteria sebagai Herder pengawal halaman perairan NKRI, Armada barat TNI AL selayaknya diperkuat dengan alutsista utama  minimal dengan 80 KRI yang terdiri dari 10 Fregat, 14 Korvet, 20 Kapal Cepat Rudal, 22 Kapal Patroli, 2 Kapal Tanker dan 12 Kapal Logistik / Angkut Pasukan.  Untuk Lantamal Natuna ditempatkan secara permanen 2 Fregat, 4 Korvet, 4 Kapal Cepat Rudal dan 5 Kapal Patroli. Kehadiran secara permanen karena perairan Natuna adalah garis depan kedaulatan negara yang berhadapan langsung dengan banyak negara.  Lantamal Padang diisi dengan 1 Fregat, 2 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal untuk mengawal perairan barat Sumatera. Sabang mendapat jatah 2 Fregat, 3 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal untuk mengawal  perairan utara Sumatera dan pintu masuk selat Malaka.  Lantamal Belawan kebagian 4 Korvet dan 4 Kapal Cepat Rudal dan 5 Kapal Patroli.  Teluk Lampung yang mengawal selat Sunda mendapat jatah 2 Fregat, 2 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal.  Mempawah kebagian 4 kapal Patroli dan 3 Kapal Cepat Rudal, Lhok Seumawe mendapat alutsista 3 Kapal Cepat Rudal dan 3 Kapal Patroli. Dumai mendapat 4  kapal patroli dan 3 kapal cepat rudal.  Sisanya ditempatkan di pangkalan markas Tanjung Pinang.

Sebaran kekuatan KRI di armada barat memberikan kekuatan detterens terutama dilintasan ALKI I dimana banyak kapal-kapal niaga melintas.  Kehadiran unsur KRI di selat Malaka ingin menegaskan kepada kekuatan armada tertentu bahwa RI sanggup mengawasi perairan padat ini dengan kontrol penuh termasuk juga di selat Singapura.  Itu sebabnya di wilayah selat ini paling banyak ditempatkan kapal cepat rudal dan kapal patroli untuk memastikan tingkat keamanan terhadap perompak, penyelundupan dan sekaligus menjaga teritori perairan NKRI.

Perairan Natuna merupakan  halaman ranum NKRI yang banyak “diganggu” oleh kapal-kapal asing, baik berbaju loreng atau berbaju nelayan.  Kehadiran penuh satuan armada barat di kawasan ini setidaknya memberikan pesan bahwa : anda diperbolehkan melintas tetapi jangan mencolek isi lautnya apalagi mengaku-aku sebagai milik nenek moyangnya.  Pesan ini harus dikumandangkan terus karena masa depan konflik ada di perairan ini.  Jika dari sekarang tidak dipersiapkan, bisa jadi akan terjadi kasus ambalat jilid II. Itu sebabnya armada barat sedang dipersiapkan menuju kekuatan herder agar anjing tetangga tidak sembarangan masuk.  Bukankah begitu Bapak Panglima TNI ?

****
Jagvane

Militer Indonesia Belanja Alutsista, Tetangga Sebelah Panik


Skuadron 31 Penerbad dengan Heli Tempur Mi35 buatan Rusia
Adalah Menhan Purnomo secara lantang menyatakan pada event penyerahan 3 pesawat tempur Sukhoi SU-27 di Makassar tanggal 27 September 2010 lalu: Untuk membangun pertahanan negara membutuhkan anggaran yang cukup besar, namun besarnya biaya itu tidak semahal dengan kehormatan dan harga diri bangsa.  Negara yang besar harus didukung dengan pertahanan yang kuat agar bangsa ini tidak dirongrong, baik dari dalam maupun dari luar. Untuk membangun kekuatan udara NKRI, Indonesia akan melengkapi skuadron  tempurnya dengan 10 skuadron dengan kekuatan 180 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia untuk 10 tahun kedepan.

Statemen ini seperti petir di siang bolong  yang  membuat petinggi militer negara tetangga terutama Malaysia, Singapura dan Australia menjadi gerah dan gelisah.  Selama pekan-pekan ini semua situs militer dan forum militer di dunia maya berdiskusi hangat membahas pembangunan kekuatan militer Indonesia secara besar-besaran. Kalimat utamanya adalah kaget, ada apa gerangan, mengapa tiba-tiba, mau dibawa kemana hubungan kita (kata Armada Band), lalu mereka  mulai berhitung ulang dengan inventory arsenalnya.

Geliat perkuatan militer Indonesia secara terpadu mulai terlihat ketika kasus Ambalat pada tahun 2005 menghina harga diri bangsa oleh sebuah negara yang mengaku serumpun tapi arogan, Malaysia.  Sesungguhnya itulah titik awal kebangkitan militer Indonesia bersamaan dengan tekad TNI menjadi tentara profesional pengawal NKRI dan tidak lagi terjun dalam dunia politik dalam negeri yang belum dewasa dalam berdemokrasi sampai saat ini.

Belakangan pembangunan kekuatan militer China, India dan Australia menjadi sebab utama mengapa negara kepulauan ini harus memperkuat tentaranya dengan arsenal modern. Menhan Purnomo mengatakan belanja alutsista Indonesia selama lima tahun ke depan berjumlah US$ 16,7 milyar atau setara dengan Rp 150 trilyun, sebuah angka yang fantastik yang mampu membangunkan rasa percaya diri bagi seluruh anak bangsa yang cinta NKRI.  Pemerintah oke, DPR  juga, apalagi kalau rakyat ditanya dijamin pasti setuju banget.  Soalnya selama satu dekade ini kalau bicara alutsista kesan dan pesannya mirip lagu nelongso, minim anggaran, terbentur anggaran, prioritas ekonomi, harus banyak puasa aparat TNI sambil mengelus dada. Sabar ya nduk, kata bapak kandungnya TNI, ya rakyat, ya pemerintah.   Nah sekarang TNI sudah berbuka puasa dan menunya sangat beragam, ada PKR, ada Sukhoi, ada Kapal Selam, ada Rudal, ada Panser, bermacam-macam dah.

Apa yang bisa dibelanjakan dengan duit 150 trilyun rupiah itu dalam lima tahun ke depan.  Pasti banyak dong dan plaza atau mall arsenal berbagai negara pada sibuk menjajakan diri untuk kerjasama, kerja bareng dan kerja repot menghabiskan dana segar dan banyak itu.  Namanya juga gula, pasti banyak semut berdatangan dengan wajah manis untuk kerja bareng memproduksi alutsista di tanah air atau menawarkan produknya yang terbaru.

Kalau kita berandai-andai, setidaknya inilah arsenal yang segera mengisi  depot-depot militer Indonesia  sampai tahun 2015:

Alutsista Utama  TNI AU :

  • 4 Skuadron (64 unit) Sukhoi
  • 2 Skuadron (32 unit) F16
  • 2 Skuadron (36 unit) Hawk100/200
  • 1 Skuadron (12 unit) F5E
  • 1 Skuadron (16 unit) Super Tucano
  • 1 Skuadron (16 unit) Yak 130
  • 2 Skuadron ( 36 unit ) UAV
  • 4 Skuadron (64)Hercules
  • 7 Batteray Hanud Area
Alutsista Utama Angkatan Laut :

  • KRI  PKR Fregat  32 unit
  • KRI Korvet  56 unit
  • KRI Kapal Cepat Rudal 82 unit
  • KRI Kapal Patroli  Cepat  87 unit
  • KRI Kapal Selam 6 unit
  • KRI logistik dan angkut pasukan  LPD, LST 48 unit
Kekuatan armada angkatan laut akan ditambah menjadi 3 armada yaitu Armada Barat berpusat di Tanjungpinang, Natuna dan Belawan, Armada Tengah berpusat di Surabaya, Makassar dan  Tarakan,  Armada Timut berpusat di Ambon Merauke dan Kupang.  Kekuatan Marinir diproyeksi akan mencapai 60 ribu pasukan dan disebar diberbagai pangkalan angkatan laut.  Kekuatan persenjataan marinir meliputi 350 Tank BMP 3F terbaru, 175 Tank amphibi eksisting, 320 panser amphibi eksisting, 800 rudal QW3, 40 RM Grad, 75 Howitzer.

Alutsista Utama Angkatan Darat :

  • Pasukan Kostrad  3 divisi
  • Pasukan  Pemukul Kodam  150 Batalyon
  • Main Battle Tank  200 unit ditempatkan di Kalimantan dan NTT.
  • Panser Pindad  APC 540 unit  untuk batalyon infantri mekanis
  • Panser Canon 320 unit
  • Meriam dan Howitzer artileri  890 unit
  • Roket NDL  720 unit
  • Tank dan Panser eksisting berjumlah 750 unit.
  • 20 Heli tempur Mi35
  • 26 Heli angkut Mi17
  • 95 Heli tempur jenis lain
  • 1300 Rudal anti tank
  • 60 Hanud titik dengan rudal terbaru
  • 700 Rudal strategis Pindad-Lapan
Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah yang terbesar menyerap alokasi anggaran alutsista mengingat  banyaknya alutsista yang dibangun dikembangkan dan dibeli dengan teknologi terkini.  Pembuatan 10 PKR light Fregat yang sedang dibangun PT PAL setidaknya menghabiskan dana  US $ 2,5 milyar.  Pembuatan 4 kapal selam ditaksir menghabiskan dana US $2 milyar.  Tambahan skuadron tempur Sukhoi dan F16 berikut arsenalnya diprediksi menyerap anggaran US $ 6 milyar. 
Angkatan Udara akan menempatkan skuadron-skuadron tempurnya di Medan   (1 skuadron F16), Pangkal Pinang  (1 Skuadron Sukhoi) dan Madiun (2 Skuadron Sukhoi).  Eksisting  yang sudah ada 1 Skuadron Sukhoi di Makassar, 1 Skuadron F16 di Madiun, 1 Skuadron F5E di Madiun, 1 Skuadron Hawk di Pekan Baru dan 1 Skuadron di Pontianak.  Dengan masuknya arsenal baru terjadi pergeseran lokasi skuadron, Tarakan mendapat 8 SuperTucano dan 8 Hawk, Malang 8 SuperTucano, Yogya 16 Yak130.   Skuadron F16 di Madiun digeser ke Kupang dan F5E digeser ke Biak dan Timika.

Membaca peta arsenal ini saja jiran sebelah terutama Malaysia, Singapura dan Australia dijamin berkeringat apalagi jika lima tahun ke depan sudah menjadi kenyataan, bisa-bisa tak bisa tidur mereka.  Namun bagi sebuah negara besar seperti NKRI, wajar saja diperlukan alutsista dalam jumlah besar untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsa, agar negara lain tidak terus menerus meremehkan kekuatan pengawal republik kita.  Yang jelas dalam pembangunan kekuatan milter ini semuanya ditujukan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dari ancaman pihak manapun, setidaknya mereka akan berhitung ulang jika ingin melecehkan teritori Indonesia.

****
Jagvane