Monday, August 24, 2026

Antara Tarik Menarik Dan Kegelisahan Jiran Kawasan

Hari-hari ini Malaysia mengungkapkan kekhawatirannya tentang perkuatan militer Filipina dan pembangunan pangkalan militer AS. Lokasinya di pulau Balabac bagian dari gugus kepulauan Palawan Filipina yang berdekatan dengan Sabah. Pada saat yang bersamaan PM Malaysia Anwar Ibrahim mengeluarkan pernyataan soal Taiwan dan menjelaskan sikap diplomatik One China, mendukung penyatuan Taiwan dengan Mainland. Beijing langsung "kegirangan" dan merespon dengan sanjungan. Sementara kapal China Coast Guard (CCG) 5901 berbobot 12.000 ton  berhari-hari mondar mandir mengobok-obok perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sarawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Inilah sebuah ironi geopolitik kawasan ketika senyuman diplomatik bertemu dengan otot ambisi teritorial.

Pada sisi yang lain perkuatan pertahanan Malaysia saat ini tertinggal dengan tetangga besarnya Indonesia dan tetangga "Sabahnya", Filipina. Malaysia yang terbagi menjadi Malaysia Barat di Semenanjung dan Malaysia Timur di Sabah dan Sarawak sesungguhnya terpisah jauh melintasi Laut China Selatan (LCS) yang iklim geopolitiknya sedang demam berkepanjangan. Di tengah keterpisahan geografi Malaysia itu ada kepulauan Natuna Indonesia yang sedang memperkuat basis pertahanannya. Artinya kegelisahan Malaysia sesungguhnya ada di tiga hotspot yaitu ZEE LCS,  Natuna Indonesia dan Balabac di Filipina Barat. Semuanya dalam korelasi klaim LCS, Sabah dan Ambalat.

Filipina selama beberapa dekade mengabaikan perkuatan militernya. Saat ini sedang menggebu mengejar minimum essential forcenya. Manila adalah sekutu terdekat AS di Asia Tenggara yang menyediakan Subic Navy Base dan Clark AFB sebagai pangkalan aju AS dalam perang Vietnam yang legendaris itu. Merasa dipayungi oleh AS puluhan tahun negeri Tagalog ini tidak berupaya menguatkan postur pertahanannya. Baru setelah Beijing mengobrak abrik tatanan ZEE Unclos di LCS Filipina sadar diri dan bangkit membangun kekuatan militernya seperti yang kita saksikan sekarang. Pertambahan alutsistanya tergolong cepat termasuk menyediakan 9 pangkalan militer untuk AS.

Sementara Malaysia sejauh ini terjebak dalam dinamika politik internal berkepanjangan yang membuat jalannya pemerintahan  Kuala Lumpur "jatuh bangun" karena saling jegal antar politisi dan partai politik. Baru setelah Anwar Ibrahim dengan koalisinya yang sebenarnya juga rapuh mendapat dukungan kuat Yang Dipertuan Agong, gejolak dinamika politik mereda. Selama belasan tahun jiran serumpun kita boleh dikata pertumbuhan kekuatan militernya stagnan. Barulah setelah politisi "tahan banting" Anwar Ibrahim menjabat sebagai PM Malaysia perkuatan militer negeri itu mulai menggeliat. Kita melihat ada percepatan pembangunan frigate Maharajalela Class yang sempat terhenti bertahun-tahun. Juga order korvet dari Turkiye. Termasuk pengadaan 18 jet tempur ringan Fa50 yang setara dengan 19 jet latih tempur T50 yang sudah dimiliki TNI AU. Dari pabrikan yang sama Korea Selatan.

Di Jakarta baru saja datang 2 Menteri tangan kanan Presiden China Xi Jinping tanggal 20-22 Agustus 2026. Menlu Wang Yi dan Menhan Dong Yun bersama Menlu dan Menhan Indonesia bersepakat memperkuat kerjasama pertahanan multi dimensi. Seperti kerjasama pembuatan peluru kendali anti kapal C705, pengiriman prajurit TNI ke China dan latihan militer bersama. Seperti kita ketahui bersama dari beberapa media internasional, Indonesia dikabarkan akan membeli beberapa jenis alutsista dari China seperti jet tempur J10C dan Coastal Missile. Sementara rudal anti kapal C705 sudah sejak lama menjadi aset arsenal untuk kapal cepat rudal TNI AL. Dalam kunjungan 2 Menteri China tidak ada publikasi untuk progres J10C dan Coastal Missile. Dan memang tidak harus jua mempublikasikannya. Sudah banyak contoh, tanpa publikasi barangnya datang.

Sebelum kunjungan delegasi China untuk Dialog "2+2" bersama rekan selevelnya dari tuan rumah, Indonesia  baru saja menerima kunjungan Wakil Menteri Perang AS Elbridge A.Colby tanggal 11-12 Agustus 2026. Kunjungan ini tentu dalam rangka menguatkan detail DCA (Defence Cooperation Agreement) seperti penggunaan Bandara Kertajati untuk rawat inap pesawat Hercules AS dan program pendidikan prajurit TNI serta kontinuitas latihan gabungan Garuda Shield. Makna dari dua kunjungan ini, AS dan China, dalam waktu yang berdekatan menunjukkan adanya kekuatan tarik menarik yang terus menerus dan rayuan kepada sosok negeri kepulauan yang posisi geopolitiknya sangat strategis di kawasan Indo Pasifik. Indonesia seperti gadis manis rambut sebahu yang dirayu terus menerus oleh Paman Sam dan Paman Mao.

Kita membaca dalam dua minggu terakhir ini ada gelombang geopolitik di kawasan Indo Pasifik yang sangat dinamis. AS yang kewalahan menghadapi pertempuran asimetris berbulan-bulan melawan Iran setidaknya memberikan pelajaran tentang payung perlindungan Indo Pasifik. Korea Selatan, Jepang, Australia, Taiwan dan Filipina membaca anatomi pertempuran itu dengan kegelisahan. Secara strategi dan antisipatif, penguasa hegemoni AS mengalami pukulan telak. Hancurnya puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah membawa kesan dan pesan kuat bahwa Indo Pasifik yang selama ini berada dalam payung perlindungan militer AS sudah berkurang nilai keyakinannya. Apalagi saat ini sudah ada aliansi pertahanan yang kuat antara China, Korut dan Rusia. 

Kapal perang Indonesia KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dalam perjalanan pulang dari Vladivostok Rusia dan Yokosuka Jepang disambut passing exercise kapal perang China di  Laut China Timur (LCT) sebelah Timur Taiwan medio Agustus ini. Tidak ada yang salah bagi kapal perang Indonesia untuk menerima "say hallo" dari frigate China di kawasan ZEE LCT. Ini bagian dari diplomasi pertahanan China untuk menguji gelombang geopolitik kawasan. Dan benar saja Taiwan berteriak dan ngomel diplomatik ke seluruh dunia. Yang jelas frigate sigma 10514 hasil kerjasama produksi PT PAL dan Damen Schelde Belanda, KRI I Gusti Ngrah Rai makin terkenal karena disebut terus di berbagai media internasional. Sebenarnya teriakan ini bagian dari kegelisahan Taiwan menghadapi ancaman invasi China.

Apakah Indonesia juga gelisah. Jawabnya tidak. Posisi diplomatik kita adalah tidak berada dalam aliansi pertahanan dengan negara manapun. DCA dengan Australia, AS, China, Singapura dan Jepang adalah kerjasama pertahanan, bukan aliansi militer. Posisi diplomatik kita dengan luas teritori yang sangat strategis inilah yang kemudian menjadi "pusat rayuan serba ada" untuk didekati masing-masing pihak demi kepentingan strategi antisipatif menghadapi konflik masa depan di kawasan Indo Pasifik yang skalanya bisa mematikan. Untuk menguatkan posisi diplomatik dengan teritori yang luas, Indonesia bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Karena inilah satu-satunya cara agar posisi diplomatik kita tidak diremehkan.

Kita mengapresiasi strategi antisipatif pemerintah untuk memastikan manajemen pertahanan yang interoperability dapat menjunjung posisi diplomatik kita yang netral. Pengadaan 42 jet tempur Rafale, 48 jet tempur KAAN, 16 jet tempur KF21, 16 jet tempur J10C, 8 jet tempur Sukhoi SU35, 12 jet latih M346F blok 20, 24 radar GCI Thales dan Retia, 4 pesawat angkut Atlas, puluhan drone Anka, Akinci, Bayraktar, Kizilelma, 1 kapal induk Garibaldi, 2 kapal perang Brawijaya Class, 2 kapal perang Istif Class, 2 kapal selam Scorpene, 5 kapal selam mini Drass, 30 kapal selam nirawak KSOT, drone laut Kamikaze, rudal Brahmos, rudal balistik KHAN, senjata Laser, pembangunan 750 batalyon TNI AD, Marinir dan Kopasgat. Semuanya adalah untuk memastikan kekuatan militer Indonesia sebanding dengan luasnya teritori negeri ini.

Kita meyakini ada kegelisahan jiran kawasan seperti Malaysia, Filipina dan Taiwan. Termasuk juga Korsel dan Jepang. Kekalahan strategi dan perang  asimetris AS melawan Iran menjadi pembahasan menarik di instrumen intelijen dan pemikir strategis pertahanan negara-negara Indo Pasifik. Tidak terkecuali negara-negara Timur Tengah. Prediksi kedepan ini dunia tidak lagi unilateral dengan AS sebagai pemegang hegemoni. Aliansi militer Pakistan, Arab Saudi dan Turkiye adalah contoh masing-masing kawasan tidak lagi mengharapkan payung perlindungan AS. Peran AS makin memudar dan ini secara psikologi memukul arogansi kekuatan Paman Sam selama ini. 

Pola diplomatik AS yang lebih sering bertindak atas nama hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menguasai dan kemudian jumawa, merasa paling benar. Sementara China dengan sekutu karibnya Korut, Rusia dan Iran menjadi kekuatan baru (new force) yang sebenarnya ingin menciptakan harmoni multilateral, bukan hegemoni. Dalam perspektif inilah Indonesia memposisikan dirinya untuk menjadi middle strongest, netral, penyeimbang kawasan dan memastikan seluruh teritori negeri berada dalam payung pertahanan. Posisi diplomatik Indonesia dengan kekuatan militer middle strongest adalah bagian dari upaya menjaga perdamaian kawasan. Jangan sampai kemudian dua gajah bertarung lalu merusak semua yang sudah tertata dan bahkan sekian pelanduk mati ditengah.

Bagaimanapun kekuatan militer yang sepadan dengan luas teritori adalah keharusan mutlak sebagai fundamen diplomasi politik luar negeri Indonesia. Kita sedang bergegas, extra ordinary untuk memenuhi kebutuhan optimum essential force pertahanan kita. Meskipun ada tarik menarik dan rayuan dari pihak-pihak yang berseteru, Indonesia tetap berada di posisi strategisnya, non aliansi. Untuk memperkuat posisi strategis ini, kita majukan terus pertumbuhan ekonomi kesejahteraan sejalan dengan perkuatan manajemen pertahanan. Indonesia sedang berada dalam perjalanan ini, perjalanan sebuah negeri kepulauan yang kaya sumber daya alam dan posisi geopolitiknya yang strategis. Dirgahayu Indonesia.

****

Jagarin Pane / 23 Agustus 2026


34 comments:

Anonymous said...

Sebetulnya keberlangsungan bangsa ini lebih utama daripada politik bebas aktif. Tanpa survival bangsa ini tidak bisa menerapkan politik bebas aktif. Sebaiknya indonesia lebih mengutamakan penguatan teknologi rudal dan drone. Kerjasama yg riil harus diprioritaskan untuk mendapatkan teknologi tsb. Ancaman paling utama sebetulnya di wilayah selatan yg suka ikut campur urusan dalam negeri Indonesia terutama issue disintegrasi karena mereka akan senang apabila indonesia melemah.

Jagarin Pane said...

Setuju. Poltik bebas aktif tentu menyesuaikan dengan dinamika geopolitik kawasan. Sejalan dengan itu kita perkuat manajemen pertahanan kita.

Unknown said...

Atlas 2 (+2 ) ? ataukah 2 ( +4 ) sesuai dengan opsi awal? .. J10 -16? KF21- 16? ada opsi tambahan kah?

Jagarin Pane said...

Perkiraan minimal saja. Opsi Atlas 4 unit, KF21 batch1 16 unit dan opsi 48 unit.

Anonymous said...

Urraaa...,SU35 si anak hilang telah kembali😁🕺💃💥

Anonymous said...

Bung Jagarin
Tambahan rafale apakah jadi, dari Rusia jadi ambil SU 57 kah, helikopter black hawk dan Chinook dari AS apakah jadi juga karena gak ada beritanya

Anonymous said...

Bang haji jagarin tolong Share info terbaru dari dod us dengan fasilitas fms f15ex untuk beberapa mitra usaha include indonesia apakah benar Indonesia sedangkan beberapa bulan lalu pihak boeing separtinya proses berhenti. Terimakasih wassalamu'alaikum.

Madiun said...

Bung Jagarin, ada kutipan dr dubes RI di Turkiye (akun worldof_warmilitary) klo Istif jadinya 4 yg diakuisisi: 2 begal + 2 produksi lokal, apakah ini benar ?

Jika iya, meskipun yg diharapkan 6 untuk 3 Koarmada, ini langkah yg sangat bagus dan salah satu efek positif dari pengadaan Garibaldi dengan penguatan kaprang pengawalnya.

Jagarin Pane said...

Seperti itu memang rencananya. Yg mendesak 2 istif thn depan sdh datang.

Jagarin Pane said...

Itu baru release penjual. Proses masih sangat paniang karena FMS jelas ada dalam kontrol pemerintah AS. Pabrikan hanya buat sesuai order. Bagian dari diplomasi kits karena bentar lagi datang SU35.

Foxs said...

Bung jagarin kenapa prototipe ifx kita TDK jg di serahkan kpd indonesia sdgkan itu hak kita

Jagarin Pane said...

Lagi proses kan

Anonymous said...

Bung Jagarin please

CCTV said...

Saya udah bangkit dari kubur bang jagaring pane

Wilis Ireng said...

Bung jagaring kenapa kapal induk kita di beri nama KRI Gajah Mada
Padahal kapal induk dengan nomer awalan ( 1 ) itu menggunakan nama kerajaan menurut aturan dulu yang pernah aku baca

CCTV said...

Tensi berita militer indo
Mulai menurun
Misalnya
Di :
S3Militer
Sobat militer
Indomagezing
Dan Amanda Chanel

Kalau boleh tau
Apakah mereka kekurangan. Bahan bosku

Dak sehangat taun taun sebelumnya ketika Pak Praroro menjabat

Yang panas malah spionase politik yang di buat tidak baik baik saja
Yang sebenarnya ya baik baik aja
Sih menurut CCTV

Jagarin Pane said...

Jadi zombie dong😀😀

Jagarin Pane said...

Karena dayang2nya sudah lebih dulu diberi nama brawijaya dan prabu siliwangi. Juga balaputradewa🙃🙃

Jagarin Pane said...

Lagi ngambil nafas. Ntar juga rame lagi menjelang hut tni.

Pusing pusing said...

Namanya juga kawasan asia tenggara tidak 100% kompak . Ada yg pro USA ada yg bagian dari negara negara persemakmuran Inggris ada yg berdiri netral. Yang berdiri netral cuma negara RI, makanya menjadi bahan tarik menarik pengaruh politik kekuasaan dunia antara pengaruh USA vs pengaruh blok timur . Wilayah RI adalah pintu gerbang menuju Australia, bila RI pro blok timur maka keamanan negara Australia menjadi goyang. Untungnya walau RI dekat dgn blok timur tapi tetap bukan sekutu blok timur demikian pula RI juga akrab dgn USA tapi tetap bukan sekutu USA. Untungnya RI sangat berhati hati utk selalu menjaga diri tidak pro USA maupun pro blok timur. Posisi hati hati inilah yg membuat USA dan sekutunya tidak berani sembrono gegabah terhadap RI karena bisa saja kalo RI ditekan terus oleh USA dan sekutunya tidak menutup kemungkinan RI akan minta bantuan blok timur dan kalo sudah begini ujung ujungnya pasti akan timbul ketegangan baru di wilayah RI antara pengaruh blok timur vs pengaruh USA dan sekutunya. Itulah keuntungan RI jadi negara yg memilih posisi netral tidak pro sana tidak pro sini.

CCTV said...

Ini yang di sebut negara edialis
Wkwk😁
Negara manusia manusia ateis
Sakeng percayanya kepada tuhan
.
Buat grub blok ini
Ijin mempersembahkan
Buku karangan saya sendiri

Sebagai hiburan

https://drive.google.com/file/d/1WQJAU-XBE7g92RW8V35equlNzzUuk4EM/view?usp=drivesdk

CCTV said...

Gratis
Buku isinya berat
Yang bisa baca hanya orang yang di atas rata rata 😭🤭🤭

Wilis Ireng said...

Aku ngidam jas gripet E
Versi I22 Sikatan PT info global
Apakah masih lanjut om @jagaring_Pane

Pusing pusing said...

Kekuatan militer RI di asia tenggara
Sekarang ini RI sedang giat giatnya memordenisasi alutsista militernya utk bisa mengikuti kemajuan teknologi militer dewasa ini dgn modal PLN sebesar USD 35,5 milyar. Cukupkah buat pertahanan wilayah RI yg serba terbuka dari segala penjuru ? Jawabannya mungkin tidak cukup. Bagaimana cara mengatasinya? Satu satunya jalan ya harus swasembada sendiri utk mencukupi kebutuhan militernya dan ini tidak gampang Ada jalan keluar buat menjaga keamanan wilayah RI yg serba terbuka dari segala penjuru, yaitu harus dekat dengan blok timur entah bagaimana caranya itu harus dipertahankan terus. Juga RI harus akrab dgn USA beserta sekutunya entah bagaimana caranya harus terus dipertahankan. Dengan cara inilah maka wilayah RI menjadi aman dan damai karena masing masing blok tersebut akan berpikir panjang utk berurusan dgn RI.

Pusing pusing said...

Kenapa sy tulis bahwa wilayah RI itu terbuka dari segala penjuru? Karena RI adalah negara kepulauan ada pulau besar dan adabderetan pulau pulauvkecil. Contoh saja pulau Sumatera, kan terlihat terbukabdari segala penjuru, lalu pulau Jawa kan jugavterlihat terbuka dari segala penjuru. Demikian pula pulau Kalimantan pulau Sulawesi kepulauan Maluku kepulauan NTB kepulauan NTT kan juga terlihat terbuka dari segala penjuru, demikian pula Papua barat sama. Lalu utk menjaga pulau Sumatera saja butuh berapa Alutsista militer? Butuh biaya berapa utk pertahanan di pulau Sumatera? Demikian pula utk pulau pulau yg lain.sama. Apakah cukup dgn USD 35,5 milyar ? Sebagai gambaran saja ya waktu th 1942 militer Hindia Belanda sudah modern di jamannya dan lengkap + dibantu juga oleh Australia toh tetap kalah tidak bisa menahan gempuran bala tentara jepang yg datang dari Utara. Jadi sebetulnya tidak mudah menjaga wilayah yg serba terbuka dari segala penjuru.

Wilis Ireng said...

Kita Saudara dari timur(BRICS)
Tapi mengembara Ke barat
Mencari kitap suci yang di sebut
Maney
Ada apa apa
Minta dekingan
Paman Putin
Dan kakak xijen

Sungguh kelabu
Kita main di dua kubu

Wkwk
Om tukang ngitung
Apa ada proyek baru

Gimana PROYEK MLRS ARJUNA
LANJUT KAH!
😁😁😁😁

Siapkah kita mengbangkitkan
Danhyang Nusantara
Seperti Brawijaya, Sriwijaya, Bala Dewa, Gaja Mada,
Narasinya sulit di tebak🤭

Pusing pusing said...

Yang bisa mengundang keamanan wilayah Asia tenggara adalah blok timur terutama RRC dgn nine Dash line di LCS yg membuat negara negara persemakmuran dan USA beserta sekutunya pada panik. Dari sini bisa dilihat kalo mau buka perang ya di wilayah Asia tenggara, karena langsung berhadapan blok timur vs blok barat otomatis Australia New Zealand dan Papua Nuigini menjadi ketar ketir. Blok barat punya pengalaman pahit di asia saat perang dgn blok timur yaitu di Korea dan Vietnam., di Vietnam blok barat kalah telak melawan blok timur sedang di Korea gencatan senjata hingga kini. Kunci utama supaya blok timur dan blok barat tidak perang di wilayah Asia tenggara adalah di RI. Kebetulan para pemimpin RI setelah Soeharto paham sehingga muncullah strategi politik luar negeri RI yg harus dekat dgn blok timur tapi juga harus akrab dgn USA. Inilah yg membuat USA dan sekutunya berhati hati dgn RI. Dan yg lebih hebatnya lagi adalah sebenarnya Alutsista militer RI tidak cukup memadai utk perang terbuka cuma masalahnya RI punya koneksi ke blok timur. Itulah hebatnya politik luar negeri RI dimata USA dan sekutunya.

Pusing pusing said...

Maaf salah tulis di awal kalimat bukan mengundang tapi mengguncang.

Pusing pusing said...

Selain Nine Dash Line mengguncang kawasan wilayah Asia tenggara adalah hal lain yg bisa mengguncang lebih hebat. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan yaitu di Biak bila RI berhasil bangun stasiun peluncur roket ruang angkasa, di sini Rusia dan RRC siap bantu RI membangunnya. Ada yg luput dari perhatian para penonton yaitu dibalik berhasil bangun stasiun peluncur ruang angkasa ada yg disembunyikan yaitu RI juga sudah berhasil bangun rudal pertahanan antar benua tinggal diarahkan mau ke rudal antar benua nuklir atau rudal antar benua konvensional. Inilah yg kunci utama yg bikin USA was was terhadap RI karena tentu rudal antar benua RI tersebut ada campur tangan Rusia dan RRC. Makanya pihak barat tidak ada yg mau menularkan ilmu pembuatan stasiun peluncur ruang angkasa RI di Biak.

Foxs said...

Itukan duluuu..klu pesanan baik buatan dalam dan luar negri SDH datang semua..dan pesanan baru terus di pesan..siapapun yg akan mengganggu terutama kedaulatan Indonesia apakah itu perang tertutup atau terbuka siap di hadapi!

CCTV said...

Sepertinya Preman terkuat di Dunia
Mulai di tinggal oleh sekutu kutukupetnya

Ya..., mungkin karna Arogan
Paman Putin dan mungkin Kakak Xejin
Belajar dari strategi

Perguruan tinggi milik Wilis Ireng
Yang Sama Sama arogan kalau masalah bakuhantam
@_22

Pusing pusing said...

Dulu sama sekarang apa bedanya ? Cuma yg bikin beda teknologi militernya karena masing masing jaman punya teknologi militer. Secara kuantitas maupun kualitas alutsista militer TNI masih hebatan era orde lama. Di era orde lama menjelang TRIKORA Alutsista militer RI termasuk salah satu yg terhebat di kawasan asia melebihi militer Australia dan Belanda di irian barat. Sampe sekarang kehebatan alutsista militer RI era orde lama masih belum bisa tersainggi oleh orde baru sampe era Prabowo..

Anonymous said...

Ni orang ngenyel pikirannya

Anonymous said...

Betul bro makanya Romawi belajar bikin perahu/ kapal dari mereka katanya jg kungfu berasal dr mereka jg😁🫢🤣