Wednesday, April 22, 2026

Sekutu De facto ?

Dinamika geopolitik dan geostrategis Indonesia bersama kawasan sekitarnya menarik untuk dicermati. Perang antara AS, Israel dengan Iran memberikan beberapa pelajaran penting. Antara lain teknologi rudal dan drone Iran yang luar biasa menghancurkan. Daya tahan Iran, kesalahan strategi pertempuran AS Israel, penguasaan jalur vital terkait dengan jalur logistik, energi dan militer. Khusus yang terakhir ini belakangan menjadi perhatian kita bersama terkait dua hal, bagaimana kemudian kita harus mampu mengelola geopolitik dan geostrategis kita. Seperti rayuan Australia untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Dan yang paling viral adalah dan keinginan AS untuk bebas melintas di ruang udara Indonesia.

Indonesia memiliki teritori yang luas dan kaya sumber daya alam. Lebih dari itu posisi teritorinya lengkap "dengan baretnya" tanah dan air berada dalam posisi yang strategis. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur lintas strategis dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya. ALKI Satu dengan jalur Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata dan Selat Singapura adalah jalur laut untuk logistik, energi dan militer yang sangat ramai lalulintasnya. Sementara ALKI Dua dengan jalur Selat Lombok dan Selat Makassar, juga menjadi jalur laut penting utamanya untuk kapal perang dan kapal selam karena ini perairan dalam. ALKI Tiga melalui perairan Maluku menjadi lintasan Australia ke Pasifik Barat dan sebaliknya.

Begitu strategisnya posisi teritori negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Klaim nine dash line China membuat kawasan Laut China Selatan (LCS) demam berkepanjangan. Klaim ini sepertinya ingin mengingatkan kita betapa pentingnya membangun kekuatan angkatan laut dan udara yang berkelas. Presiden SBY sudah memulai program strategis Minimum Essential Force (MEF) jilid I, Presiden Jokowi melanjutkan MEF II dan III. Dan Presiden Prabowo mempercepat dengan program extra ordinary bernama Optimum Essential Force (OEF). Istimewanya sejak Prabowo jadi Menhan program strategis memperkuat militer Indonesia berjalan cepat dan extra ordinary. Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Berbagai jenis alutsista strategis sudah, sedang dan akan datang, terus berdatangan menjadi aset investasi pertahanan bangsa.

Pada saat yang bersamaan saat ini kita bisa melihat berbagai konflik dan pertempuran yang terjadi di berbagai kawasan. Perang Rusia-Ukraina, penghancuran Gaza oleh Israel, perang India-Pakistan, perang Thailand-Kamboja, operasi militer penculikan presiden Venezuela dan perang keroyokan AS Israel melawan Iran. Dengan kondisi geopoltik yang mudah bergolak dan turbulensi ini maka dalam perspektif kita perkuatan militer Indonesia secara extra ordinary adalah langkah strategis terbaik. Semuanya untuk mengantisipasi dinamika dan goncangan geopolitik yang mudah "naik darah". Mudah angkat senjata seperti yang sudah dicontohkan presiden cowboy negara adidaya. PBB sepertinya mati suri. Yang berlaku saat ini hukum rimba, siapa yang kuat dia yang petintang petinting.

Harus diakui pada kenyataannya Indonesia dan AS lebih sering "jalan bareng" untuk mengadakan berbagai kurikulum latihan militer gabungan. Yang terbesar adalah Latgab Super Garuda Shield yang melibatkan ribuan pasukan kedua negara. Garuda Shield awalnya hanya latihan militer ala kadarnya sejak tahun 2006. Dan setiap tahun dilakukan. Namun lima tahun terakhir kapasitas dan kualitas latihan gabungan ini meningkat drastis dan diikuti belasan negara lain di Indo Pasifik kecuali China dan Rusia. Lokasi latihannya pun ada di beberapa lokasi di Indonesia. Serial latgab Super Garuda Shield mencakup kurikulum matra udara, laut dan darat secara interoperability. Ini merupakan latgab multi nasional terbesar di Indonesia dan salah satu latgab terbesar di Indo Pasifik.

Selain Super Garuda Shield, US Marines juga melaksanakan latgab Carat (Cooperation Afloat Readiness And Training) tahunan dengan Marinir Indonesia. Dengan Kopasgat TNI AU, US Air Force rutin melakukan latihan tempur. Personil TNI seluruh matra juga banyak dikirim ke pusat latihan militer di AS. Termasuk untuk intelijen dan siber. Kedekatan militer Indonesia dan AS juga tidak terlepas dari hubungan personal dan institusional karena banyak perwira TNI mengikuti sekolah dan menjadi alumni kampus militer bergengsi di AS. Semua aktivitas latihan militer bersama AS ini mencerminkan kedekatan hubungan militer secara struktural dan prosedural.

Dengan Australia TNI rutin berpartisipasi di Kakadu Exercise untuk matra laut  dan Pitch Black untuk matra udara. Kedua latihan militer multi nasional yang diselenggarakan Australia ini adalah latgab skala besar. Merupakan cara Australia untuk ikut membangun kebersamaan di kawasan Indo Pasifik. Sementara seri terbaru latgab terbesar Indonesia Australia adalah latgab Keris Woomera di Situbondo Jawa Timur yang dimulai November 2024. Kedua negara mengerahkan ribuan prajurit dan alutsista. Australia mengerahkan MBT Abrams, Indonesia mengerahkan MBT Leopard. Sejumlah kapal perang dan tank amfibi kedua negara meramaikan pantai Situbondo, termasuk jet tempur F16 TNI AU.

Postur kekuatan militer Indonesia yang berkembang pesat saat ini menjadi perhatian kawasan khususnya Australia dan AS. Australia tidak bisa lagi mendikte dan meremehkan Indonesia. Bisa kita lihat pola diplomasi negeri kanguru saat ini. Lebih proaktif merapat ke tetangga besarnya untuk kerjasama pertahanan. Strategi pertahanan Australia tahun 2026 menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis, penting dan abadi. Tumben abadi. Bahkan belakangan ini Canberra merayu Jakarta agar mendapat akses ke Morotai. Argumen yang digunakan adalah untuk mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer skala internasional. Namanya juga diplomasi pertahanan, kita pun paham arahnya.

AS yang punya kedekatan hubungan militer dengan Indonesia kemudian mengajukan permintaan izin lintas udara (blanket overflight clearance) untuk seluruh pesawat militernya. Dalam pandangan AS posisi teritori Indonesia yang luas ini adalah akses strategis untuk bisa leluasa keluar masuk  dari dan ke LCS dan LCT (Laut China Timur). Benang merahnya bertemu dengan keinginan Australia untuk mendapat akses ke Morotai sebagaimana artikel kita beberapa minggu lalu. Dalam skenario pertempuran yang sudah terbukti secara historis, Morotai bisa menjadi pangkalan aju yang vital untuk AS dan Australia jika terjadi pertempuran besar dengan China.

Menhan Indonesia dan AS baru saja menandatangani perjanjian aliansi strategis MDCP (Major Defense Cooperation Partnership) tanggal 13 April 2026 di Washington. Khusus untuk permintaan izin bebas lintas udara ini belum mendapat persetujuan Indonesia. Kemlu kita sudah bersurat ke Kemhan agar berkoordinasi lebih dulu sebelum melangkah lebih jauh. Karena ini bisa mempengaruhi stabilitas kawasan. Jubir Kemlu Yvonne Mawengkang menegaskan bahwa kedaulatan nasional adalah dasar dari semua kesepakatan. Jangan lupa baru saja berlaku UU No21/2025 tanggal 25 Nopember 2025 tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional (PRUN). Seperti kita ketahui Kemlu China bereaksi tajam dan mengingatkan Indonesia agar dalam perjanjian kemitraan dengan negara lain tidak merugikan pihak lain. Ini sesuai dengan Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan Asia Tenggara.

Kita mengapresiasi langkah Kemlu yang cepat, tepat, senyap untuk mengingatkan. Karena bagaimanapun politik luar negeri kita berbasis non blok dan bebas aktif dinamis. Yang namanya dinamis ya seperti kedekatan militer kita dengan AS. Bukan berarti kita berada dalam pengaruh AS. Boleh saja orang menganggap AS dan Australia sekutu de facto Indonesia karena sejauh ini militer Indonesia banyak berinteraksi dengan AS dan Australia. Kita menyebutnya lebih pas, teman tapi mesra. Kerjasama pertahanan dengan AS dalam MDCP dan dengan Australia dalam Jakarta Treaty secara de jure adalah kemitraan strategis, bukan aliansi militer. Jadi AS dan Australia bukan sekutu Indonesia. Meski secara de facto militer kita dekat dan sering berinteraksi dengan keduanya.

Dinamika geopolitik dan perkuatan militer Indonesia saat ini adalah keniscayaan yang ada di depan mata. Optimum Essential Force dengan extra ordinary seperti sebuah strategi membeli waktu, berlomba dengan dinamika geopolitik. Maka perjuangan kita adalah secepatnya bisa menghadirkan berbagai jenis alutsista untuk memastikan ketersediaannya  yang setara dengan luas wilayah. Politik luar negeri Indonesia yang ingin bersahabat dengan semua negara bagaimanapun harus diperkuat dengan diplomasi pertahanan dan alutsista yang gahar. China adalah sahabat kita. Juga dengan AS dan Australia. Meski secara de facto militer kita lebih dekat dengan Bani Anglo Saxon ini, bukan berarti kita punya "akad nikah" aliansi militer. Sebatas teman tapi mesra lah. Sebatas teman main, gitu loh Pakde Mao.

****

Jagarin Pane / 22 April 2026


36 comments:

Waipios said...

Luar biasa pencerahan bung jagarin mantap👍

Anonymous said...

luas biasa artikelnya bung Jagarin.
moga sehat selalu ya bung 👍🏻

Anonymous said...

Pengelolaan Wilayah Indonesia adalah Kedaulatan Indonesia. Tidak boleh dalam kendali negara lain, tidak China, tidak US, tidak juga Australia.
China tidak usah teriak memperingatkan Indonesia perihal perjanjian kerjasama militer dengan negara lain. Jika merasa terganggu China juga tidak boleh mengganggu Indonesia. Tidak ada asap jika tidak ada api. Ada aksi maka akan ada reaksi. China jangan merasa benar sendiri. Stop mengirimkan drone mata-mata bawah air ke Indonesia. Drone mereka sdh membanjiri perairan teritorial Indonesia. Jika tidak ingin digamggu, jangan mengganggu.

Symphony x said...

Mereka mencari mengincar data data kandungan mineral yg melimpah di perairan indonesia dan ketika mereka menemukan mereka juga berinvestasi dan bekerjasama di Indonesia karena pada dasarnya mereka mencari potensi potensi kandungan mineral dll utk memenuhi kebutuhan negaranya

intifada said...

Tentu Aussie butuh morotai sbg Pangkalan Aju jkalau pecah konflik Anglo saxon gang's vs china di LCS krn posisi morotai yg strategis, morotai akan dijadikan pangkalan militer depan aussie yang disiapkan untuk mendukung operasi, logistik, pengamanan, dan pergerakan pesawat tempur secara taktis.
Bersahabat boleh saja, sikap Pemerintah Indonesia harus TEGAS ! Tidak bisa ditawar,Kedaulatan NKRI adalah mutlak dan Harga Mati, titik!
Jika ruang udara Indonesia dan morotai dijadikan pangkalan aju pesawat² militer aussie & usa jk pecah konflik vs China di Lcs, maka seluruh wilayah² Indonesia akan jadi target yg sah bagi rudal² China...

Jagarin Pane said...

Sependapat👍

Jagarin Pane said...

Amin ya Allah. Thx

Jagarin Pane said...

Matursuwun🙂

Anonymous said...

Bung jagarin dl Prabowo prnh mengatakan Indonesia bubar 2030 skrg rakyat Indonesia trmsuk sy ngeri dgn srpak trjangnya dr kslhn masuk bop ruang udara kita mo di kasih ke amirika..mbg 1.2 trilyun perhari..dll mdh2an tak terasa pilpres kmbali..

Anonymous said...

Istif class dan SU 35 kapan datang kah Bung Jagarine, sama apakah kita ambil SU 57 juga

Anonymous said...

Saya pikir Pemerintah RI sekarang harusnya berpikir ulang dg menjadikan usa sbg "sahabat", Perang Iran vs Amerika sdh menelanjangi sifat asli sebenarnya sperti apa Amerika itu dibawah kendali presiden psikopat Trump.
Negara rakus, tamak, perampok, gak segan membunuh umat manusia walau korbanya lansia, anak² & wanita.. Demi mewujudkan kepentingannya. Menguasai sumber energy.. tak peduli dg negara sekutunya, bagi trump semua negara didunia hrs tunduk & patuh kpd Amerika.. Venezuela adlh contoh nyata..
Spanyol, Inggris bahkan NATO pun dianggap musuh.. GreenLand saja mau dicaplok.. Apalagi Indonesia ??
Indonesia adlh target selanjutnya, bumi nusantara Indonesia kaya akan sumber daya alam & cadangan energy..termasuk rare earth incaran donal tramp..
Bersiaplah Perang !

Si Joni said...

Kita non blok.Non blok adalah penyeimbang blok timur dan barat.Namun non blok tanpa kekuatan militer yg handal dan didukung kemandirian alutsista itu namanya Go Blok😂😂😂

Waipios said...

👍

Anonymous said...

Itu kemala haris SDH siap nyalon LG saking gak tahan dgn kegilaan presiden gila trump

Anonymous said...

Klo mau uji nyali coba Indonesia jadi beli / kontrak efektif tidak hanya wacana ato diskusi doang beli fregate, destroyer, pespur ,berbagai macam rudal dll dari Tiongkok selain sisi kebutuhan TNI dan harga yg bersahabat kita pengen ngeliat reaksi Amerika, Australia dan sekutunya ,,😂

Anonymous said...

Adakah yg mengetahui perkembangan pembelian KAI KF-21 Boramae juga skema pembelian dan pengembangannya di Indonesia bagaimana ? Bagaimanakah kelanjutan calon pabrik pembuatan KF-21 di PTDI yg sudah disiapkan sejak lama ?

Symphony x said...

Pabrikan alutista di indonesia terlalu didominasi oleh PT DI , PT Pindad dan PT PAL...( Baru belakangan swasta diberi kesempatan itupun sebatas kapal kapal kurang sedang 100 m an ) .lembaga riset kita kurang ngandelin Brin plus anggaran risetnya sangat minim swasta kurang diberi kesempatan ditambah masih banyak kebocoran anggaran

Anonymous said...

Pssttt..takut nanti ada Jiran sblh nyamar😅

Anonymous said...

Da mulai ada efeknya Indonesia terus di Pepet dirayu dengan berbagai discount , pinjaman . Tot dan skema pembelian yg menguntungkan utk beli mogami 😄😄🔥

Anonymous said...

Akankah ada penambahan korvet buatàn lokal dalam negeri ato korvet nasional karna nanggung banget cuman ,2 kelebihannya pembuatan oleh galangan swasta cukup singkat cuman ,1 tahunan sudah kelar daripada kelas opv engga kelar kelar dimensi panjang lebar dan persenjataanyapun ga beda jauh

Jagarin Pane said...

Setuju banget🙂🙂

Anonymous said...

Jepang lagi obral besar besaran alutista ayoo borong masa kalah Ama Philipina si mumpung lagi harga promo

Jagarin Pane said...

Naksir kapal selam bekas, lumayanlah😀

Jagarin Pane said...

Berlanjut opv untuk gantiin parchim class.

Jagarin Pane said...

Coastal missile, J10, frigate china bentar lagi prosesnya. Gak usah buru2, yg penting dapat.

Anonymous said...

Soekarno pencetus ide non blok aja cendong ke timur.Suharto condong ke barat.habibie di kerjain barat,diera mega condong ke RRC,di era SBY condong ke barat.jokowie condong ke cina.08 Coba menoleh ke barat.Indonesia dituntut lihay mendayung diantara dua gelombang besar karena tidak kuat dari segi militer,ekonomi dan penguasaan teknologi

Anonymous said...

Semoga dibeli diskonannya barang 4 biji kaselnya dijamin kualitas made in jepang barang premium anti gagal beli 2 dapet 4 bonusnya dapet abukuma class. Amiiinn

Anonymous said...

AS itu Teman tapi mesra, jadi pas lagi butuh doang baru pelukan (BOP), tapi udahannya lupa, buktinya kita minta F35 gak dikasih, ekspor tetap dipalak 19%, alutsista dibatasi (catsa),
Beda dengan cinta pertama (Ruskie thn 1963), minta apa aja dikasih, bahkan yg terbesar pun dikasih (KRI Irian), sekarangpun tetap cinta, semua sista herder boleh dibeli, bahkan setelah kita selingkuh di BOP & minyak naik karena AS nyerang iran, kita minta minyak tetap dikasih Ruskie (walou terlihat muka om Putin rada kesel waktu nyambut di moscow),
Jadi sebenarnya kita harus bersikap tegas dalam hubungan, contohnya Pinoy & indihe, gitu sih pendapat ane 😁

Jagarin Pane said...

Suka dengan gaya bahasanya😀

Jagarin Pane said...

Semoga🙂

Jagarin Pane said...

Itu yg disebut dinamika non blok. Bandulnya tidak statis tapi bergerak dinamis.

Anonymous said...

Progres perkembangan kapal fregate merah putih ke 2 blom ada penampakannya ni termasuk perkembangan opv ke 3 masih blom terlihat kemajuannya mudah mudahan sesuai dengan jadwal yg sudah direncanakan

Symphony x said...

Kondisi perkembangan geo politik kawasan makin hari makin ngeri ngeri sedap dan apabila dilihat dari kondisi tersebut 2 kekuatan besar ( usa, Australia beserta sekutunya di sisi lain Tiongkok ) berusaha berebut pengaruh khususnya kepada Indonesia karna mereka menyadari Indonesia merupakan kunci strategis di kawasan Asia tenggara,, laut China Selatan dan sekitarnya kita melihat bagaimana ramai dan serunya diplomasi politik antar negara berusaha menawarkan berbagai kerjasama yg saling menguntungkan dari kerjasama militer , ekonomi sosial dsb disinilah serunya bagaimana diplomasi indonesia memainkan peran tpi tetap dilandasi dgn kehati hatian karna apabila salah melangkah akan menjadi bumerang bagi indonesia seperti pada keinginan USA mengajukan permintaan izin lintas udara (blanket overflight clearance) untuk seluruh pesawat militernya dan langsung Tiongkok bereaksi cukup keras bahkan mengancam secara halus tentu saja hal tersebut merugikan Indonesia sementara kondisi di laut china selatan isunya telah mengeluarkan wilayah indonesia claim Klaim nine dash line ? Pertanyaannya beranikah Indonesia menolak pressure poltik dari USA secara konsisten ? Karena kita ketahui poltik luar negeri Trump selalu memaksakan kehendaknya dengan mengancam secara politik , ekonomi Bahakan militer

Anonymous said...

Sy mo tanya bung jagarin mengapa marinir jarang pakai produk lokal seperti sekarang sdg beli rufle produk korsel..sdg produk pindad bhkn yg terbaru tinggal pilih..yg lebih kasian LG komodo armment produknya bagus tp kurang di pesan kemhan ato TNI..gmn bisa hidup perusahaan..giliran di rayu negara lain utk pindah ke negara mereka ngamuk ngamuk..gak terima..trus gmn slogan TNI kemhan pantang beli alutssta yg SDH bisa di produksi di dalam negeri..mereka SDH melupakan Pahitnya embargo..inilah yg sy sngt benci dgn yg namanya indonesia selain korupsinya yg SDH mendarah daging!

Anonymous said...

Begitulah semua faktor politik dan kickback makelar

Jagarin Pane said...

Beli produk luar kan ada "orang tengahnya". Meminjam istilah Malaysia😀😀