Wednesday, May 18, 2022

IKN Rentan Serangan Militer

Adalah Gubernur Lemhannas Andy Widjajanto mewanti-wanti dan menyampaikan pesan kuat untuk kita bahwa ibukota baru Nusantara yang mau dibangun di Kalimantan Timur, dalam persepsi dan perspektif militer serta pertahanan negara sangat rentan terhadap serangan militer dari udara, laut dan darat. Teknologi alutsista saat ini dan masa depan  adalah membangun sistem kekuatan pertahanan secara berlapis dan sinergi. Andy menyampaikan pesan itu dalam seminar daring yang diadakan BRIN hari Kamis tanggal 12 Mei 2022. Temanya adalah " IKN Dalam Dinamika Keamanan Regional Dan Refleksi Identitas Global Indonesia"

Ini sejalan dengan pandangan kita. Bahwa jauh-jauh hari kita sudah menyampaikan opini bahwa sampai saat ini Kalimantan itu masih telanjang dalam sistem pertahanan negara dilihat dari berbagai dimensi seperti pergelaran alutsista, teknologi alutsista dan network centric warfare. Dan dalam konteks membangun IKN secara sistem dan sinergi maka pembangunan kekuatan pertahanan harus menjadi satu formula kebersamaan atau bahkan mendahului. Sehingga ketika IKN operasional penuh maka pada saat yang sama kekuatan pertahanan IKN sudah ready for use. Sejauh ini kekuatan militer di Kalimantan sangat jauh berbeda dengan Jawa yang menjadi pusat kekuatan militer Indonesia.

Merujuk pada perang dahsyat Rusia-Ukraina dengan diluncurkannnya ribuan peluru kendali jarak sedang dan jarak jauh dengan presisi tepat sasaran, maka rentanitas ibukota baru kita Nusantara terbuka sekali. Perang Rusia-Ukraina menjadi mata kuliah maha penting bagi pemikir dan ahli strategi militer seluruh dunia termasuk Indonesia. Sebagaimana pernah disampaikan Panglima TNI Jendral Andika Perkasa. Teknologi militer terkini, intai strategis, intelijen militer dan manajemen pertempuran network centric warfare menjadi materi pembelajaran yang berharga dalam perang terbesar di Eropa sejak perang dunia kedua. Pembangunan kekuatan pertahanan di IKN diniscayakan akan merujuk pada kurikulum terakhir ini.

Halaman depan IKN Nusantara adalah ALKI 2 laut Sulawesi dan selat Makassar. Perairan ini adalah perairan laut dalam dan terhubung langsung dengan Samudra Pasifik. ALKI 2 adalah jalur pelayaran internasional termasuk jalur kapal perang dan kapal selam. Khusus untuk kapal selam tonase besar ALKI 2 adalah jalur paling aman untuk "bergerilya" karena lautnya sangat dalam. Tidak usah heran kalau jalur ini menjadi jalur unggulan lintasan kapal selam China, AS, Australia, Jepang dan lain-lain. ALKI 2 dari arah utara ke selatan akan melewati selat Lombok dan bertemu Samudra Hindia. Artinya halaman depan IKN ini perlu mendapatkan perlindungan berlapis.

Demikian juga dengan perbatasan darat ribuan kilometer dengan Malaysia di halaman belakang IKN. Atau di belakangnya lagi ada Laut China Selatan (LCS) yang demam berkepanjangan. Bukan tidak mungkin peluru kendali jarak jauh China suatu saat bisa menghantam IKN dari lokasi peluncuran di LCS jika terjadi pertempuran terbuka di kawasan itu dan melebar ke segala arah. Semua kemungkinan bisa terjadi. Maka untuk mengantisipasinya perlu perencanaan strategis dan komprehensif bagaimana membangun kekuatan militer IKN dengan pertahanan berlapis. Pertahanan ibukota adalah pertahanan terhormat, pertahanan harga diri dan tidak lagi berorientasi darat melainkan mobilitas strategis tiga matra TNI dan cyber.

Untuk membangun IKN dengan kekuatan pertahanan yang berlapis tentu memerlukan anggaran yang sangat besar. Padahal saat ini perkuatan militer kita juga butuh anggaran besar. Pada saat yang sama dampak Pandemi masih sangat memukul benteng ekonomi kesejahteraan, meski di Triwulan I Tahun 2022 pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 5, 1 %. Belum lagi dampak perang dahsyat di Eropa. Oleh sebab itu dalam persepsi kita membangun ibukota baru di Kalimantan Timur tidak perlu dilakukan dengan tergesa-gesa. Bertahap saja. Di beberapa negara yang sudah jadi ibukota barunya, untuk membangun ibukota baru diperlukan waktu peredaran matahari selama 10-15 tahun paling cepat. Tidak bisa instan dan harus segera. Sementara pada tahun 2024 bisa dipastikan ada pergantian figur kepemimpinan nasional. 

Membangun kekuatan militer adalah membangun kekuatan sistem interoperability tiga matra plus cyber war dengan menghadirkan sejumlah alutsista canggih teknologi terkini.  Saat ini kita sedang mengarah kesana dan semuanya memerlukan waktu untuk investasi pertahanan. Pada saat yang bersamaan pembangunan ibukota baru Nusantara sedang dalam proses. Maka jalan terbaik adalah melakukan pembangunan IKN secara bertahap, tidak tergesa-gesa. Dan memang tidak ada yang perlu dikejar. Sementara secara nasional prioritas perkuatan militer kita seyoyanya mendapat tempat utama karena dinamika kawasan yang sudah tidak nyaman dan sering demam. Jangan sampai sudah kemalingan baru disiapkan teralisnya. Perkuatan militer lebih diutamakan karena dia adalah teralisnya pembangunan ekonomi kesejahteraan di negeri kepulauan ini.

****

Jakarta 18 Mei 2022

Jagarin Pane

Thursday, April 21, 2022

Holding Itu Bernama DEFEND ID

Catatan tinta emas ditorehkan dengan diresmikannya Holding BUMN industri pertahanan nasional. Di ruang besar galangan kapal selam PT PAL Surabaya Rabu 20 April  2022 Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri BUMN Erick Thohir meluncurkan "united states" lima perusahaan plat merah dengan komando PT (Persero) LEN. Anggota jamaahnya adalah PT Pindad, PT PAL, PT DI, dan PT Dahana. Kelimanya sudah banyak menghasilkan karya kebanggaan. Nama holdingnya Defense Industry Indonesia disingkat DEFEND ID.

Bagaimana sih gerak bisnis industri pertahanan plat merah kita sejauh ini. Jawabnya semakin mekar berbinar. PT Pindad sudah dan sedang menghasilkan berbagai jenis alutsista untuk TNI AD. Seperti panser Anoa, panser Badak dan tank Harimau, termasuk ranpur Komodo, Sanca. Belum lagi senjata berbagai jenis untuk prajurit TNI. Saat ini Pindad sedang memproduksi tank Harimau bekerjasama dengan FNSS Turki. Prediksi ke depan Pindad dan FNSS akan memproduksi tank amfibi. Kelihatannya industri pertahanan Turki mulai merapat ke kita dan salah satu produk yang digadang-gadang antara lain UCAV atau drone bersenjata. Bahkan salah satu produknya kendaraan lapis baja Vuran sudah datang.

Dari matra laut siapa yang tak kenal dengan kiprah PT PAL di Surabaya. BUMN strategis ini punya banyak karya untuk memenuhi kebutuhan TNI AL dan terus berkembang. Selama sepuluh tahun terakhir "capital gainnya" menanjak cepat dan populer. Sukses memproduksi kapal cepat rudal (KCR) 60 meter, sukses memproduksi kapal landing platform dock (LPD) bahkan bisa mengekspor ke Filipina. Juga sukses membangun kapal selam Nagapasa Class, kerjasama alih teknologi dengan Korea. Terakhir sedang bersiap membangun 2 kapal perang jenis destroyer paling bergengsi Arrowhead 140 alias Iver Class dengan pola alih teknologi.  

Ini belum lagi soal perawatan dan reparasi kapal perang kita termasuk modernisasi manajemen sistem pertempuran KRI. Seluruh kapal perang Indonesia saat ini sudah bisa di MRO kan di PT PAL dan galangan kapal swasta nasional. Bahkan overhaul KRI Cakra 401 yang sukses baru-baru ini seluruhnya dilaksanakan di galangan kapal selam PT PAL Surabaya, dan sudah operasional. Nah dalam kesempatan peluncuran Defend ID kemarin "capital gain" PT PAL melonjak lagi dengan ditandatanganinya kontrak MRO antara PT PAL dan Kemenhan untuk peningkatan kemampuan tempur 41 KRI dengan nilai kontrak US $ 1,1 milyar. Alhamdulillah.

Industri kedirgantaraan kita, PT DI sedang mempersiapkan paket offset untuk pengadaan 40 jet tempur Rafale. Ini sebuah lompatan besar meski bukan hal yang baru, karena pola offset ini  sudah berjalan sejak pengadaan jet tempur F16 generasi awal. Bedanya pengadaan 40 Rafale ini full armament. Dalam peresmian Holding ini, PT DI mendapat kontrak MRO dari Kemenhan untuk peningkatan kemampuan 12 pesawat Hercules TNI AU. Dan PT LEN mendapat kontrak pengadaan 13 radar GCI. Sementara disaat yang sama PT DI sedang berkonsentrasi dengan proyek pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Dua proyek strategis ini, pengadaan Rafale dan KFX/IFX diniscayakan akan memberikan nilai tambah yang membanggakan bagi industri pertahanan strategis kita. Kita membayangkan tahun 2030 di langit nusantara sudah tersedia lengkap 40 jet tempur Rafale full armament dan 48 jet tempur IFX. 

Industri pertahanan Indonesia sedang menghebatkuatkan dirinya untuk menuju pencapaian Top 50 industri pertahanan dunia. Kita optimis dengan cita-cita itu, terutama untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI secara mandiri dan bersaing di pasar ekspor. Sudah ada contohnya, pengadaan 2 kapal perang jenis LPD untuk angkatan laut Filipina selesai dan user merasa puas. Sekarang Filipina mau menambah 2 unit lagi dan peluang besar terbuka untuk PT PAL. Lebih dari itu adalah kemampuan industri pertahanan strategis memberikan suplai berkesinambungan untuk kebutuhan alutsista TNI akan memberikan nilai deterens manajemen pertahanan Indonesia. Karena kita bisa mencukupi 70-80% kebutuhan alutsista TNI produksi dalam negeri dengan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) alias kandungan lokal yang saat ini sebesar 41% menuju 50-60%.

Pembentukan Holding BUMN industri pertahanan dalam perspektif kita adalah untuk memberikan langkah kebersamaan dalam bingkai one gate, memastikan peran government dominan, meminimalisir peran pihak ketiga dan memastikan nilai proyek yang wajar dan sesuai kebutuhan. Bisa disebut ini adalah salah satu langkah bersih-bersih Menhan Prabowo untuk memangkas "jalur atas nama birokrasi dan sendiri-sendiri" yang berujung pada mark up overdosis. Holding ini dalam pandangan kita juga untuk membangunkembangkan koordinasi terpusat dengan pagar ekosistem yang tertata dalam sistem pengadaan alutsista TNI serta pengembangan industri alutsista dalam negeri menuju industri pertahanan kelas dunia. Untuk semua langkah besar itu perlu kita sambut dengan sinar mata berbinar.

****

Jagarin Pane / 21 April  2022

(Souvenir Ultah)

Monday, April 11, 2022

Menuju Latgab Super Garuda Shield

Militer Indonesia dan Amerika Serikat dalam waktu dekat akan menggelar latihan tempur gabungan tiga matra terbesar di kawasan Asia Pasifik. Pergelaran latihan pertempuran modern yang bertajuk "Super Garuda Shield" ini juga akan diikuti 12 negara lain selain Indonesia dan AS antara lain Australia, negara-negara ASEAN, Jepang, Korsel, Inggris, Kanada dan lain-lain. Sementara prediksi lokasi latihan tempur adalah di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel, Kepulauan Natuna dan Amborawang yang berdekatan dengan IKN Nusantara di Kalimantan Timur. US Army yang tergabung dalam INDOPACOM bersama Armada Pasifik AS punya kekuatan 350ribu pasukan, 2 kapal induk, puluhan kapal perang berbagai jenis dan ratusan jet tempur termasuk F22 Raptor.

Awal Agustus tahun lalu Indonesia-AS melakukan Latgab khusus matra darat di tiga lokasi sekaligus yaitu di Sumsel, Kaltim dan Sulut dengan mengerahkan 5.000 pasukan airborne kedua negara. Itu saja sudah membuat negara yang suka mengklaim beberapa wilayah negara lain, gerah dan kepanasan. Apalagi Latgab serba super ini yang diperkirakan berlangsung di bulan Agustus 2022 selama 2-3 minggu. Super dalam jumlah pasukan, super dalam keikutsertaan 14 negara, super dalam pengerahan kekuatan alutsista. Sebuah episode diplomasi militer, show of force yang super demi untuk menjaga marwah perdamaian di Indo Pasifik. Super sekali kata seorang motivator terkenal. Super Garuda Shield dalam pandangan kita adalah langkah tegas dan cerdas untuk mengingatkan pihak yang haus klaim teritori agar tidak sewenang-wenang dan menang-menangan.

Komando Indo-Pasifik AS baru saja menyelesaikan latihan tempur dengan militer Filipina di pekan pertama April 2022. Kedua negara mengerahkan 9.000 pasukan dengan sejumlah alutsista canggih dalam serial "Balikatan Exercise" di Luzon Filipina termasuk pengerahan rudal patriot dan serangan amfibi. AS dan Filipina sejatinya adalah sekutu tradisional sejak perang dunia kedua dan selama berkecamuknya perang Vietnam. Pasang surut aliansi militer keduanya terlihat ketika dua pangkalan militer AS yaitu Subic Navy Base dan Clark AFB di Filipina ditutup beberapa tahun setelah perang Vietnam selesai.  Adanya konflik klaim China di Laut China Selatan membuat "ruh" sekutu tradisional aliansi militer keduanya hidup kembali, bergairah dan menyala.

Menuju Latgab Super Garuda Shield ke 16 yang menjadi Latgab terbesar di Asia Pasifik, militer Indonesia saat ini sedang mempersiapkan mobilitas berbagai jenis alutsista untuk digerakkan secara cepat. Seperti terlihat di beberapa Air Force Base proses loading SPH Caesar Nexter, artileri KH 178 ke pesawat angkut berat Hercules. Ini bagian penting dari mekanisme deployment alutsista dan pasukan untuk latihan tempur. Garuda Shield tahun lalu 9 pesawat angkut berat US Army memberangkatkan ratusan pasukan gabungan lintas udara TNI-US Army dari pangkalan militer Guam di Pasifik dan diterjunkan di Puslatpur Baturaja. Selain belasan pesawat angkut berat milik US Army, pesawat Hercules TNI AU akan menjadi tulang punggung pergerakan lintas udara alutsista dan pasukan TNI dalam latihan tempur kali ini. Indonesia punya 3 skadron Hercules dengan kekuatan tigapuluhan pesawat.

Alutsista TNI yang akan ditampilkan pastilah yang setara dengan manajemen pertempuran modern. TNI AD dua tahun terakhir ini sudah punya BMS ( Battle Management System). Salah satu efektivitasnya adalah interoperability antar satuan tempur. Maka dalam setiap latihan tempur TNI AD menyertakan 1 brigade tim pertempuran yang terdiri dari batalyon infantri, artileri, kavaleri, arhanud dan penerbad. Kalau dulu kan latihannya sendiri-sendiri, masing-masing batalyon. Gambaran kepesertaan alutsista TNI AD di ajang Super Garuda Shield nanti adalah MBT Leopard, tank Marder, panser Anoa, Satbak peluru kendali Starstreak dan Mistral, artileri Caesar Nexter, KH 178, MLRS Astros II Mk6, helikopter Apache, Bell 412  dan lain-lain. 

Sementara kapal perang TNI AL dan pasukan marinir akan bergabung bersama kapal perang AS melakukan operasi pertempuran laut dan operasi serbu pantai. KRI Martadinata Class, Bung Tomo Class, Diponegoro Class, LPD Makassar Class dan LST Bintuni Class akan berperan aktif melakukan operasi gabungan, berbagi strategi dan taktik bersama kapal perang armada Pasifik AS dan negara lain. Serial latihan operasi serbu pantai menjadi salah satu yang paling menarik karena melibatkan kapal perang striking force, kapal angkut pasukan, tank amfibi dan pasukan marinir dengan dukungan jet tempur dan helikopter. Sebuah "drama pertempuran" yang paling ditunggu.

Bagi Indonesia manfaat Latgab terbesar ini adalah untuk memberikan motivasi dan spirit pertempuran modern, menimba ilmu aplikasi, implementasi dan pengalaman tempur untuk tentaranya. Manajemen pertempuran modern adalah unjuk kinerja, kecerdasan, kecepatan dan ketepatan menggunakan teknologi alutsista modern dalam satu komando, satu koordinasi dan satu instruksi. Lebih dari itu adalah untuk menyampaikan "pesan tanpa kalimat" pada pihak manapun, negara manapun bahwa kedaulatan teritori NKRI adalah kehormatan dan harga mati forever. Tidak bisa diganggu gugat. 

Dalam hubungan internasional saling ketergantungan saat ini dan seterusnya, kerjasama ekonomi dan investasi antar negara adalah tatanan kerjasama yang saling menguntungkan dan harus dikembangkuatkan, dibesarhebatkan. Indonesia bekerjasama dengan semua negara di planet bumi ini. Dengan China, dengan AS, Jepang, Inggris, Rusia, Australia, Ukraina dan lain-lain kita buka semua keran kerjasama ekonomi kesejahteraan tanpa sekat. Namun jika ada potensi yang menjurus untuk merusak tatanan dan harmoni kawasan dalam kehidupan kesejahteraan atau menuju kemakmuran, kita punya kewajiban untuk mengingatkan. Super Garuda Shield adalah salah satu pesan kuatnya, bersama bunyi dentuman, rentetan, desingan, hingar bingar ribuan pasukan, ratusan alutsista canggih yang meluluhlantakkan. Mosok sih gak paham juga.

****

Jagarin Pane / 10 April  2022

Monday, April 4, 2022

Salomon Menampar Australia

Perjanjian kerjasama keamanan antara China dan Salomon mendapat reaksi berlebihan dari Australia karena substansi perjanjian ini dianggap merupakan ancaman militer bagi Australia. Begitu bunyi yang mendengung keras dari sebuah negeri benua selatan yang begitu reaktif dan sensitif menyikapi apa saja yang dianggap menjadi ancaman kedaulatan bagi negeri kanguru itu. Bahkan ada pendapat yang mengemuka di Australia agar segera menginvasi negeri mungil itu. Salomon adalah sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.  Punya 800 ribu rakyat beragam etnis, bertetangga di utara Selandia Baru dan timur laut Australia.

Indonesia pun sejak lama dianggap sebagai ancaman bagi Canberra. Sudah sejak tahun sembilan puluhan Australia memasang radar OTH (over the horizon) di Jindalee Australia Utara untuk memantau pergerakan pesawat di Indonesia. Jiran selatan kita ini merupakan sebuah komunitas kebangsaan yang unik. Mayoritas populasinya bukan asli penduduk benua itu, melainkan pendatang dari Inggris dan Eropa yang datang dan menetap. Nah "tumpukan" komunitas itu hanya tersebar di New South Wales dan Victoria. Hanya di Australia Tenggara dan Selatan sementara di Utara, Barat dan Timur boleh dikata kosong dan tandus. Kalau kita terbang dari Sydney menuju Denpasar hanya satu jam saja kita bisa melihat kesuburan New South Wales, setelah itu sisa lima jam penerbangan, negara bagian lain yang dilintasi pesawat, coklat semua alias tandus.

Kondisi geopolitik dan geostrategis seperti ini bisa menjadi indikator betapa paranoidnya Australia melihat ancaman dari utara teritorinya. Canberra, Sydney, Melbourne dan Brisbane ada "di bawah" bumi selatan, menyendiri. Jiran terdekatnya hanya Selandia Baru dan Antartika. Gus Dur pernah bilang bahwa negeri jiran kita itu sebagai "usus buntu" alias berhenti sampai disitu. Beda dengan Jakarta atau Indonesia yang posisi geopolitik dan geostrategisnya sangat  berwibawa, diperhitungkan dan menjadi jalur utama untuk perlintasan transportasi laut dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dan sebaliknya.

Dalam persoalan klaim Laut China Selatan posisi Indonesia sangat strategis dan diperhitungkan. Itulah sebabnya Australia dan AS harus "menyetel" performansi wajah dan bahasanya semanis mungkin agar Jakarta ikut "rombongan penggembira" AUKUS.  Bahkan AS sudah pernah menguji mobilitas lima ribuan pasukan gerak cepatnya bersama pasukan TNI bulan Agustus tahun lalu.  Bergerak bersama dari pangkalan militer AS di Guam Pasifik lalu diterjunkan di pusat latihan tempur TNI AD di Baturaja Sumsel. Latihan militer gabungan ini serentak diadakan di Sumsel, Kaltim dan Sulut. Australia juga tiba-tiba saja menghibahkan 15 ranpur anyar Bushmaster untuk dipakai pasukan  Indonesia dalam penugasan UNIFIL di Libanon.

Sebenarnya isi perjanjian keamanan bilateral Salomon-China itu hanya menyediakan fasilitas rehat dan bekal ulang bagi kapal perang China dan mengantisipasi perlindungan keamanan bagi Salomon setelah terjadi kerusuhan massa berbau rasial sentimen anti China di Salomon bulan Nopember tahun lalu. Tidak ada penambahan fasilitas apapun termasuk dermaga untuk pangkalan militer China sebagaimana ditegaskan Perdana Menteri Salomon Manasseh Sogavere.  Ketika terjadi rusuh besar di ibukota Honiara dan kota-kota lainnya yang menyasar etnis China, pasukan Australia diterjunkan untuk meredam dan memadamkan situasi yang menuju chaos di Salomon. Dan berhasil.

Selama ini negara-negara kecil di pasifik selatan memang berada dalam pengaruh kuat Australia. Itu sebabnya perjanjian keamanan Salomon-China dianggap menggunting dalam lipatan di mata Canberra. Apalagi mitra kerjasamanya China yang sudah diproklamirkan menjadi musuh jangka panjang pakta militer AUKUS (Australia, Inggris dan AS) dimana Australia sebagai garda terdepan. Apalagi baru-baru ini kapal perang jenis destroyer China yang melintas di selat Torrens, selatan Merauke sukses membidik dengan sinar laser pesawat patroli anti kapal selam Poseidon Australia yang mengawasi pergerakan kapal perang China. Dalam kacamata diplomasi militer,  bidikan laser Beijing itu sukses mempermalukan Canberra. 

Dalam pandangan kita mengurangi arogansi adalah kunci menuju hakekat pergaulan internasional yang bermarwah. Termasuk mengurangi sikap suudzon, paranoid, merasa terancam tetapi karena merasa lebih makmur, perkasa dan sejahtera lalu mengatur-atur pola pergaulan negara lain. Australia ada dalam bingkai ini. Adalah hak setiap bangsa dan negara merdeka untuk berkawan dengan siapa saja. Termasuk Indonesia yang menempatkan kelincahan dan kecerdasan diplomatik untuk tersenyum dan bergairah pada pergaulan dunia yang setara, take and give. Sejatinya Salomon dalam perspektif ini sukses menampar Australia, bukan karena substansi perjanjian dengan China tetapi karena reaksi yang berlebihan dan emosional menghadapi negeri mungil Salomon.

****

Jagarin Pane / 04 April 2022

Friday, March 25, 2022

Membaca Kegelisahan Indo Pasifik

Perang terbuka yang sedang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina di Eropa membawa gelombang gelisah bin cemas di kawasan Indo Pasifik. Taiwan adalah salah satu pusat kegelisahan yang membawa negeri itu pada tingkat kesiagaan militer yang ekstra tinggi. Sejalan dengan berlangsungnya pertempuran terhebat di Eropa, negara-negara di kawasan Indo Pasifik sebulan terakhir ini meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan manajemen pertahanan serta menguatkan sinergi komunikasi intelijen tegangan tinggi. Indonesia juga berada dalam kesiagaan tinggi menjaga perairan Natuna. Beberapa kapal perang dan jet tempur melakukan simulasi anti serangan udara disana.

Taiwan hari-hari ini sedang dalam kondisi tekanan psikologi militer dan berada dalam tingkat kesiagaan pertahanan skala penuh. Ketika Ukraina diserang bertubi-tubi dengan beragam alutsista teknologi tinggi Rusia, AS dan NATO ternyata tidak bisa berkutik melakukan respon balasan. Maka bagi Taiwan "pelajaran bersejarah" ini menjadi catatan penting untuk diyakini. Bahwa meski berulang-ulang disampaikan "sekutu tanpa hubungan diplomatiknya" AS akan memberikan angin surga perlindungan militer untuk Taiwan jika diserang China, statemen ini tidak bisa dijadikan jaminan dan titik tumpu manajemen pertahanan. Taiwan harus memprioritaskan kemampuan pertahanan dengan kekuatan sendiri.

Skenario penyatuan Taiwan bagi China adalah amanat konstitusi, wajib hukumnya termasuk menggunakan kekuatan militer. China sudah mempersiapkan rencana besar untuk maksud itu.  Prediksi yang mengemuka adalah tahun 2027 dengan asumsi yang dipakai sebelum terjadi perang terbuka Rusia-Ukraina. Mengepung dan menyerbu Taiwan dari udara dan laut dengan target penyelesaian 1 hari saja merupakan target ambisius tetapi bisa saja terjadi. Sebab jika terlalu lama melakukan serbuan militer dan bantuan AS datang maka yang terjadi adalah melebarnya medan pertempuran, begitu skenarionya. Nyatanya di Ukraina AS tidak menolong secara fisik. Berkaca dari contoh soal di Ukraina bisa jadi China akan mempercepat penyatuan Taiwan dengan mengerahkan kekuatan militernya. Tidak harus menunggu tahun 2027.

Mencontoh model serbuan Rusia di Ukraina, China merasa diatas angin saat ini. Karena ternyata AS dan aliansi militer NATO tidak mampu memberikan perlindungan militer melainkan hanya teriak-teriak, ancam ini ancam itu, sanksi ini sanksi itu. Sejauh ini bagi Rusia, AS dan NATO seperti sebuah peribahasa, anjing menggonggong kafilah berlalu. China  membaca ulang peribahasa ini dan maknanya  memberikan kekuatan energi tambahan untuk rencana besarnya menyerbu Taiwan. Sama halnya dengan ribut rusuh dalam demo besar berbulan-bulan di Hongkong beberapa waktu lalu,  AS dan sekutunya ikut "ngipas-ngipas" suasana atas nama demokrasi. Nyatanya China mampu meredamnya dengan kekuatan militer. Hongkong kan punya China dan itu urusan dalam negeri China, kata diplomatnya. 

Apa sebab Indo Pasifik gelisah, jawabnya karena klaim-klaim China di regional ini didukung oleh kekuatan militernya yang semakin perkasa dan memiliki senjata nuklir. Sedangkan negara-negara di Asia Timur dan Tenggara tidak punya, termasuk Australia. Ini mungkin yang menjadi pertimbangan utama dibentuknya aliansi nuklir AUKUS dari tiga negara "saudara sepupu" keluarga besar anglo saxon Australia, Inggris dan AS. Aliansi ini memang untuk melakukan perlawanan nuklir sebagai payung pelindung negara-negara Asia Pasifik. Tetapi dengan terjadinya invasi Rusia ke Ukraina menurut pandangan kita marwah dan kehormatan Paman Sam sebagai payung pelindung mulai tergerus bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia.

Jepang baru saja mendapat tamparan diplomatik dari Rusia dengan membekukan dan memutus perundingan soal sengketa kepemilikan kepulauan sakhalin. Kembali ke titik beku dan ini berarti membuka tambahan satu lagi titik panas di Asia Pasifik. Hot spot yang sudah "ngeri-ngeri pahit" dan mudah tersulut adalah soal Taiwan, demarkasi Panmunjom Korea dan nine dash line Laut China Selatan. Pesawat patroli anti kapal selam Poseidon Australia belum lama ini juga mendapat "serangan" laser dari kapal perang destroyer China di selatan perairan Merauke. Dalam terminologi militer tembakan laser ke pesawat atau kapal perang lawan merupakan kemenangan digital war game. Australia merasa dipermalukan China, kemudian melakukan protes diplomatik.

Rencana Indonesia mengundang Vladimir Putin untuk hadir di KTT G20 bulan Oktober  mendatang di Bali mendapat kritik keras dari Australia. Ributnya bukan main sampai menelepon Presiden Jokowi.  PM Australia menganggap Indonesia terlalu jauh dan terlalu dini dan menganggap Rusia tidak boleh hadir di pertemuan tingkat tinggi dua puluh negara dengan GDP terbesar. Dua sudut pandang ini harus dipertemukan solusinya namun tak perlu jua koar-koar mendikte. Tipikal negeri jiran selatan ini selalu high profile dalam merespon segala sesuatu yang terkait dengan kepentingan dia dan sekutunya. Kesannya grusa grusu, panik dan cenderung memaksakan kehendak. Sama halnya ketika membentuk AUKUS tanpa melakukan bargaining dan diskusi diplomatik dengan sejumlah negara di Indo Pasifik, langsung mempublikasikannya.

Kegelisahan Indo Pasifik harus disikapi dengan menjunjung martabat diplomatik semua pihak dan ketenangan bersikap. Semua tidak menginginkan perang berkecamuk di kawasan ini. Martabat diplomatik bisa dicapai jika ada kemauan dan kesanggupan serta kecerdasan dalam mengurai benang kusut persoalan. Kegagalan mencegah perang di Ukraina karena adanya keangkuhan pola sikap, pola ucap dan pola tindak. Memaksakan kehendak, merasa paling kuat dan meremehkan pihak lain. Negara-negara di kawasan Indo Pasifik harus mampu menggelar pertemuan internal dengan China tanpa menyertakan "negara luar". Kerjasama ekonomi dan investasi adalah rujukan utama dengan tambahan kultur Asia Timur dan Tenggara yang mengedepankan kehormatan dan penghormatan. Dialog kesetaraan, kebersamaan, saling ketergantungan menuju kesejahteraan bersama menjadi tema besarnya. Indonesia bisa memulai langkah besar ini.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2022

Saturday, March 19, 2022

Scorpene Meredam Changbogo

Menteri Pertahanan Indonesia disambut hangat Emmanuel Macron di Istana Elysee Paris Perancis Selasa 15 Maret 2022 barusan. Presiden Perancis menjamu Prabowo untuk mematangkan adonan kontrak efektif pengadaan dua kapal selam canggih berkelas "sultan", merknya Scorpene, termasuk dua opsi tambahan. Bulan yang lalu Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly yang bertandang ke Jakarta juga dijamu Presiden Jokowi sebelum teken kontrak 42 jet tempur Rafale. Indonesia dan Perancis terlihat sangat mesra setahun terakhir ini. Meski sebenarnya Perancis adalah mitra kerjasama pertahanan dengan kita sudah sejak tahun enampuluhan.

Prabowo jeli, tegas dan cepat untuk memilih kapal selam berkualitas dan sekaligus mengobati rasa kecewa. Dia  tegas memilih kapal selam made in Naval Group Perancis. Dia kecewa dengan performansi 3 kapal selam buatan Korsel yang dikenal dengan nama Changbogo. Ketiga kapal selam yang proses pembangunannya memakai pola transfer teknologi ternyata berakhir dengan sebutan "kurang sreg". Prabowo dan tim nya lantas bergegas cepat untuk segera menghadirkan kapal selam herder di perairan nusantara. Awalnya ada tiga pilihan, dari Jerman, Rusia dan Perancis. Cuaca kawasan di Laut China Selatan (LCS) sulit diprediksi, cenderung memanas dan bergelombang. Kita perlu herder bukan chihuahua.

Begini ceritanya. Sepuluh tahun lalu Indonesia dan Korsel bersepakat membangun 3 kapal selam "fotocopy" U-209. Kalau kita membaca merk U-209 sudah pasti dia adalah produksi Jerman,  sebuah negara "mahaguru" teknologi kapal selam. Korsel berguru dan menimba ilmu transfer teknologi kapal selam diesel ke Jerman puluhan tahun lalu. Kemudian memproduksi beberapa kapal selam lisensi jenis U-209 Changbogo Class untuk angkatan lautnya. Lalu kita pun tertarik dengan pola kerjasama teknologi yang ditawarkan Korsel. Maklum tidak banyak negara yang mau membagi ilmu transfer teknologi kapal selam dengan negara lain. Kecuali kalau belinya banyak. Maka ditandatanganilah kontrak pengadaan  3 kapal selam, 2 di bangun di DSME Korsel dan 1 di PT PAL Surabaya. Ketiganya sudah jadi yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 hasil karya DSME dan kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 hasil karya PT PAL. 

Selama puluhan tahun sejak tahun 1980 kita hanya memiliki 2 kapal selam U-209 asli keluaran Jerman, Cakra Class yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Selama puluhan tahun kedua kapal selam ini beroperasi dengan jam kerja yang tinggi. Maka ketika ketiga kapal selam Nagapasa Class masuk inventori TNI AL beberapa tahun yang lalu, betapa kita sangat bersuka cita karena akhirnya kita bisa memiliki 5 kapal selam. Dan kemudian akan dilanjut lagi dengan pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Kontrak awal sudah ditandatangani tahun 2019. Namun dalam perkembangannya kemudian ketiga kapal selam gres itu lebih banyak "ngetem" di pangkalan utamaTNI AL di Surabaya. Kemudian terjadi pula musibah KRI Nanggala 402. Selidik punya selidik ternyata ada beberapa hambatan teknis yang mengurangi kapasitas kinerja Nagapasa Class.

Mengantisipasi dinamika kawasan LCS yang sudah demam berkepanjangan, Indonesia sangat membutuhkan segera kuantitas dan kualitas kapal selam. Secara kuantitas kita harus memiliki minimal 12 kapal selam dan secara kualitas minimal harus setara dengan jiran kawasan. Dalam pola transfer teknologi pembangunan Nagapasa Class jelas maksudnya sangat baik agar kita bisa menguasai teknologi kapal selam. Maka dibangunlah 3 kapal selam dengan nilai kontrak US$ 1.1 milyar. Hanya saja performansi ketiga kapal selam itu tidak menjanjikan. Kalau diterjunkan di LCS jelas kalah gahar, kalah endurance. Maka Prabowo ambil jalan pintas. Indonesia perlu kapal selam serang berteknologi AIP, bisa menembak rudal dan endurance dalam air selama 2 bulan. Scorpene dipilih dan memang itulah yang terbaik.

Armada bawah air kita sampai saat ini  memang masih kedodoran.  Padahal armada kapal selam yang senyap bagai siluman dan monster bawah air mempunyai kekuatan penggentar setara dengan 10 kapal perang permukaan.  Ingat masa keemasan armada kapal selam kita di era Trikora dan Dwikora. Kita saat itu mempunyai 12 kapal selam Whiskey Class buatan Uni Sovyet ( sekarang Rusia). Kekuatan gahar armada bawah air ini yang kemudian diketahui menjadi salah satu faktor militer hengkangnya Belanda dari Papua tahun 1963.  Perairan Indonesia adalah perairan strategis. ALKI satu, dua dan tiga adalah jalur pelayaran internasional. Termasuk lalulintas militer. Apalagi dengan potensi konflik di LCS, alur laut kepulauan Indonesia dipastikan ramai terus. Maka kehadiran dan kepemilikan 12 kapal selam canggih diniscayakan akan memberikan kekuatan pertahanan maritim  yang disegani.

Sampai sekarang kita belum bisa menyamai perolehan 12 kapal selam sebagaimana pada era Trikora. Baru punya lima unit ternyata 1 kapal selam KRI Nanggala 402 yang berusia 40 tahun mengalami musibah paling memilukan. Ditambah lagi performansi 3 unit Nagapasa Class yang baru selesai diproduksi kurang memuaskan kinerjanya. Praktis hanya 1 kapal selam KRI Cakra 401 yang seumuran dengan KRI Nanggala  402 yang diyakini menjalankan misi bawah airnya. KRI Cakra 401 baru saja selesai di overhaul di galangan kapal selam PT PAL Surabaya. Meski sudah di upgrade tetap saja endurancenya sudah tidak lagi sebagus dulu, maklum sudah 40 tahun. Catatan bagusnya, dengan ilmu transfer teknologi kapal selam dari Korsel, para insinyur kita sudah mampu melaksanakan overhaul KRI Cakra 401.

Dalam pandangan kita jalan cepat dan cerdas yang dilakukan Menhan Prabowo untuk mendatangkan herder bawah laut patut diapresiasi. Kabar yang menggembirakan dari Paris adalah kontrak efektif pengadaan 2 kapal selam Scorpene akan diteken pertengahan tahun ini. Memang harus serba cepat karena kita sudah ketinggalan langkah sebelumnya yang pernah bilang kita tidak punya musuh, semua sahabat kita. Nyatanya potensi musuh sudah jelas, sudah mulai mengacak-acak, sudah mulai mendikte. Sementara alat pukul kita yang bernama alutsista masih banyak yang berstatus "order".  Kontrak efektif kapal selam serang Scorpene dan berbagai jenis alutsista strategis lainnya sangat ditunggu dan diharapkan secepatnya. Menhan kita pasti lebih pahamlah soal percepatan itu.

****

Jagarin Pane / 19 Maret 2022

Monday, March 14, 2022

Menguatkan Taji Pasukan Serbu Pantai

Marinir Indonesia sebagai salah satu unsur sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL diprediksi akan memperoleh 50-70 unit ranpur amfibi AAV7A1 buatan AS. Perolehan ini sebagai pengganti tersendatnya pengadaan tank tempur amfibi dari Rusia karena sanksi Caatsa dari AS. Sebelumnya dengan MOU tahun 2019 Kementerian Pertahanan memesan 22 tank amfibi  BMP-3F dan 21 unit ranpur amfibi BT-3F buatan Rusia. Bahkan ada rencana penambahan puluhan ranpur BT-3F sesuai dengan anggaran yang tersedia. Namun proses selanjutnya untuk menuju kontrak efektif dan pembayaran uang muka tersendat, jalan di tempat.

Seperti kita ketahui kekuatan pasukan marinir Indonesia yang dikembangkan menjadi 3 divisi atau Pasmar JSS (Jakarta, Surabaya, Sorong) sangat memerlukan tambahan aset alutsista mobile sebagai syarat utama gempuran pasukan serbu pantai. Selama enampuluh tahun terakhir ini aset alutsista marinir didominasi buatan Eropa Timur seperti tank amfibi PT-76, BTR-50, MLRS RM Grad, Vampire, BTR-80A,  BMP-3F. Hanya ranpur amfibi AMX-10 dan meriam artileri LG1 yang buatan Perancis. Bahkan ranpur AMX-10 jarang digunakan dalam latihan tempur marinir. Khusus untuk PT-76 dan BTR-50 yang jumlahnya ratusan unit, usia pakai atau umur teknis sudah lebih setengah abad dengan teknologi analog manual. Jelas kemampuan tempurnya kalah kelas, kalah akurat. Sementara 12 panser amfibi BTR-80A sudah bertahun-tahun berada di perbatasan Lebanon-Israel "menemani" pasukan perdamaian Indonesia di UNIFIL. Sudah seperti bang thoyib tidak pernah pulang.

Sebagai pasukan striking force dan masuk satuan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) marinir seharusnya mendapat prioritas percepatan pemenuhan kebutuhan  alutsista serbu. Pengembangan struktur organisasi marinir dengan membangunbesarkan infrastruktur tempur pada akhirnya bermuara pada ketersediaan alutsista yang memadai, bukan sekedar tampilan gedung markas atau penambahan prajurit. Sebaran alokasi alutsista pada akhirnya juga bertemu pada situasi dan kondisi ketersediaan kuantitas dan kualitas alutsista. Belum mencukupi, kalau tidak ingin disebut sangat kurang dan ketinggalan teknologi. Dua pertiga alutsista marinir adalah alutsista jadul. Hanya tank amfibi BMP-3F, MLRS RM Grad / Vampire dan ranpur LVTP yang relatif masih baru. Jelas tidak cukup untuk kekuatan 3 Pasmar. Ranpur LVTP marinir adalah hibah dari Korea Selatan sebanyak 15 unit.

TNI AL  mempunyai belasan kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) dan 6 kapal perang LPD (Landing Platform Dock). Seluruh LPD relatif masih berusia muda produksi PT PAL Surabaya. Untuk LST sebagian sudah diperbaharui dengan hadirnya LST Bintuni Class produksi galangan kapal swasta dalam negeri. Tercatat  ada 9 unit LST yang sudah selesai dibangun hasil karya beberapa galangan kapal swasta dalam negeri. Masih ada yang harus dibangun untuk mencapai target 14 unit tahun 2024. Kapal perang LST dan LPD sangat berkaitan erat dengan mobilitas lintas laut militer pasukan marinir dan bagian dari SSAT Angkatan Laut Indonesia.

Pergerakan antarpulau pasukan marinir dan alutsistanya pasti menggunakan kapal perang jenis LST dan LPD. Infrastruktur untuk armada angkut lintas laut militer sudah memadai dan baru. Yang belum adalah pemenuhan ketersediaan tank dan ranpur amfibi, roket multi laras, UAV, meriam altileri, peluru kendali jarak pendek dan helikopter tempur untuk pasukan serbu pantai. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan alutsista marinir menurut pandangan kita penggunaan tank boat antasena buatan galangan kapal swasta nasional di Banyuwangi bisa menjadi pertimbangan. Tank boat antasena dan ranpur AAV7A1 diniscayakan bisa menjadi kombinasi striker amfibi yang saling melapis dalam operasi serbu pantai. Antasena mengawal pendaratan ranpur AAV7A1 dengan perlindungan tembakan dan rudal, mempunyai kecepatan jauh lebih baik dari tank amfibi BMP-3F.

Skenario operasi militer menyerbu dari laut biasanya didahului dengan penerjunan pasukan intai amfibi atau mengirimkan pesawat intai nir awak. Kemudian dengan road map intelijen yang diperoleh,  sejumlah jet tempur TNI AU melakukan pengeboman di beberapa titik pantai ditambah gempuran tembakan dari beberapa KRI yang mengawal operasi amfibi. Kemudian LST dan LPD mengeluarkan tank amfibi BMP-3F,BTR-50 dan LVTP untuk berenang menuju titik tumpu pendaratan. Disini titik kritisnya. Maka peran tank boat antasena yang lincah dan cepat mengawal pendaratan pasukan marinir menuju titik tumpu di pantai menjadi penting untuk berhasilnya pendaratan. Tank boat antasena bisa memuat puluhan pasukan diantar sampai bibir pantai.

Pasukan marinir yang mengawal pulau-pulau terluar di perbatasan negeri termasuk Natuna tentu memerlukan alat bantu intai pesawat nir awak atau UAV. Peran UAV sangat membantu mengurangi mobilitas patroli pantai dan laut lepas pantai. Peran UAV dalam manajemen pertempuran dan atau pertahanan terintegrasi untuk saat ini dan seterusnya akan sangat dominan. Masa depan network centric warfare sangat dipengaruhi oleh UAV dan satelit militer. Marinir tentu menjadi bagian dari SSAT dan interoperability antar satuan tempur. Pemenuhan kebutuhan alutsista untuk marinir yang beriorientasi network teknologi digital seperti tank boat antasena, ranpur AAV7A1, MLRS, short range missile, helikopter dan UAV diharapkan bisa segera direalisasikan. Ayo dong dipercepat, negara kita negara kepulauan, penguatan taji pasukan serbu pantai adalah prioritas.

****

Jagarin Pane / 14 Maret 2022

Tuesday, March 8, 2022

Membuka Opini Mata Hati

Invasi pasukan Rusia ke Ukraina adalah pertempuran anti mainstream yang membuat sebagian besar opini masyarakat dunia terbuka mata hatinya. Soal kedahsyatan pertempuran itu adalah yang terhebat di Eropa sejak perang dunia kedua. Namun untuk ukuran seluruh dunia perang Teluk jilid satu dan dua adalah yang terdahsyat. Lebih dahsyat lagi karena model pertempurannya keroyokan.  Pasukan penyerbu merupakan pasukan gabungan berbagai negara dipimpin AS. Lebih dahsyat lagi setelah perang usai negara-negara Arab diwajibkan bayar iuran perang. Lebih dahsyat lagi sampai saat ini tidak terbukti adanya senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak sebagai alasan untuk menyerbu. Lebih dahsyat lagi Saddam Husein dieksekusi berdasarkan subyektivitas pembenaran sepihak. Ini satu contoh saja.

Tetapi dunia diam saja kan. Tidak mampu mengungkap, terasa ada terkatakan tidak. Karena dunia hanya punya satu kekuatan super power yang mendominasi kekuatan militer, ekonomi dan opini setelah Pakta Warsawa dan Uni Sovyet bubar. Ketika masih ada kekuatan penyeimbang Pakta Warsawa, AS dan NATO tidak bisa "petintang petinting" dan merasa menjadi pemilik kebenaran. Artinya opini pembenaran argumen soal perang Teluk menjadi kebenaran, karena perjalanan kesalahan terbesar dalam sejarah dunia yang tertulis menjadi konsumsi lintas generasi. Jadi dianggap benar.

Sampai kemudian pertempuran terhebat antara Rusia dan Ukraina membuka opini mata hati masyarakat dunia. Membuka luka lama tentang sebuah sejarah pembenaran, menyerbu dan menghabisi rezim Irak dan Libya karena kebencian dilapis ambisi penguasaan sumber daya energi fosil. Padahal sebelumnya Saddam Husein adalah sekutu AS ketika bertempur dengan Iran tahun 1980 selama 8 tahun. Irak diniscayakan menjadi "alat" pihak yang membenci Iran pada waktu itu. Saddam Husein dan Khadafi sukses membangun ekonomi kesejahteraan untuk rakyatnya.

Mengapa AS membenci Iran, karena Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi yang merupakan "NATO" nya AS di Timur Tengah, sekutu terkuat dan andalan Uncle Sam digulingkan Ayatullah Khomeini tahun 1979. Rezim kerajaan yang paling disayang AS ini tumbang oleh revolusi keagamaan egaliter. Jika dalam perang Vietnam, Paman Sam harus kalah secara militer maka di Iran si Pakde kalah secara intelijen. Dua-duanya mengharuskan dia angkat koper.  Yang lebih menghebohkan adalah keluarnya tentara AS dari Afghanistan setahun lalu yang katanya karena alasan perubahan geopolitik dan geostrategis. Apa iya.

Fakta sejarah diatas adalah sedikit cuplikan bagaimana kemudian sejarah ditulis berdasarkan kepentingan subyektivitas sepihak. Bagaimana kemudian kita lalu bisa menyaksikan tontonan kehebatan film Rambo dan film-film lain yang "berbau" Vietnam, Panama, Afghanistan dan lain-lain yang menggambarkan nilai-nilai kepahlawanan versi AS. Sebagian dari kita lantas terpukau dengan spirit nasionalis patriotik berbasis kemanusiaan di jalan cerita film-film itu. Seakan menjadi fakta sejarah. Padahal sejatinya jauh panggang dari api.

Standar ganda yang diperlihatkan selama tiga dekade sejak berakhirnya perang dingin bertemu dengan tembok besar yang bernama Rusia. AS dan NATO seperti kehabisan amunisi gertak sambal. Yang terakhir tidak berani melakukan pembatasan ruang udara di Ukraina karena sudah di ultimatum Rusia. Bahkan ancaman sanksi ekonomi AS dan NATO dibalas dengan memutus berbagai kerjasama, salah satunya soal terminal antariksa dan peluncuran wahana antariksa. Bahkan terang-terangan Rusia mengatakan AS sebagai bandit ekonomi. Sebuah statemen yang menohok untuk pemilik hegemoni yang sudah mulai tergerus dengan tampilnya China sebagai kekuatan ekonomi dan militer di masa mendatang.

Bagi kita hikmah dari pertempuran Rusia dan Ukraina bagi adalah bersikap proporsional saja. Sembari berharap ada penyelesaian secara terhormat dan bermartabat, tidak sampai menjadi perang nuklir yang mematikan peradaban. Hikmah yang lain adalah dalam konteks membangun manajemen pertahanan terpadu. Dalam pandangan kita jalan terbaik adalah membangun kekuatan pertahanan dengan kemampuan sendiri. Tidak perlu berharap banyak dapat dibantu AUKUS atau negara lain misalnya. Meski armada kapal induk dan berbagai kapal perang berseliweran di Laut China Selatan bukan jaminan kita terlindungi soal Natuna. Contohnya sudah ada, Ukraina babak belur dihajar Rusia, dan bantuan AS dan NATO yang diharapkan tak kunjung datang.

Kita bangunkuatkan manajemen pertahanan modern dengan network centric warfare. Kita perÄ·uat alutsista TNI dengan teknologi terkini secepatnya, sajian kedatangannya harus cepat, tidak pakai lama. Investasi bidang pertahanan memang memerlukan dana besar namun jika diamortisasikan berdasarkan umur teknis akan menjadi nilai yang wajar. Eksistensi negeri salah satunya adalah perkuatan manajemen pertahanan disamping manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Manajemen pertahanan adalah pagar perlindungan eksistensi ketahanan nasional termasuk ketahanan ekonomi. Dua-duanya, manajemen pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan manajemen perkuatan pertahanan adalah perlambang harga diri dan kehormatan negeri. Itu harga matinya dan itu juga opini mata hati kita untuk negeri jamrud khatulistiwa.

****

Jagarin Pane / 08 Maret 2022

Thursday, March 3, 2022

Semakin Menghebat

Catatan invasi Rusia ke Ukraina sampai hari ke tujuh adalah tidak terbendungnya langkah pasukan Rusia dan alutsistanya.  Mengalir deras dengan iringan dentuman hebat yang melumat sasarannya. Teknologi alutsista canggih yang dimiliki Rusia memperlihatkan unjuk kinerja tempur yang luar biasa. Dan itu belum semuanya. Sementara dari perbatasan negara-negara NATO di Eropa riuh rendah publikasi kedatangan ribuan tentara dan alutsista NATO hanya sampai di garis border Polandia dan Rumania, tidak lebih dari itu. AS dan NATO tidak ingin intervensi dengan alasan Ukraina belum menjadi anggota NAT0. Namun sangat diyakini alasan sesungguhnya adalah ketidakberanian aliansi militer terhebat sedunia itu karena adanya ancaman perang nuklir dari Vladimir Putin. 

Sejauh ini skore sementara 2-0 untuk Putin.  Skore 1-0 tercipta karena Putin yang menginvasi Ukraina membuat NATO terdiam meski awalnya gembar-gembor gertak sana gertak sini, ancam sana ancam sini. Skore 2-0 barusan tercipta karena manuver militer gertak sambal NATO mengerahkan pasukan dan jet tempur ke Rumania dan Polandia hanya sebatas itu saja, tidak lebih dari itu. Dan sejauh ini tak ada yang mampu menghadang Rusia. Ukraina semakin bonyok, bantuan militer NATO yang dijanjikan tidak datang jua. Dan jangan main-main dengan negara nuklir nomor satu Rusia yang selalu dipojokkan dan diremehkan oleh pemilik hegemoni. Rusia bisa saja melakukan serangan nuklir mematikan,game over, tiji tibeh, mati siji mati kabeh.

AS dan NATO secara psywar hari-hari ini berada dalam tekanan psikologi militer yang hebat. Belum pernah mereka mengalami dilema sedahsyat ini sejak berdirinya pakta militer atlantik utara itu. Maju kena mundur kena. Mereka mendapat "lawan tak bertanding" yang sepadan, pemberani dan militan. Selama ini AS dan NATO selalu menjadi pemenang dalam setiap operasi militer, selalu merasa diatas angin dan menjadi pemilik hegemoni militer termasuk hegemoni opini pembenaran. Lihat aksi militernya di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah. Lihat aksi intelijennya di Venezuela, Iran, Panama, Nikaragua. Aliansi militer NATO adalah satu-satunya super power di planet bumi yang malang melintang sejak perang dingin berakhir tahun 1991. Dan sekarang mendapat ujian terbesar, ujian marwah diri dari Rusia dengan ancaman perang nuklir.

Ketika perang dingin terjadi ada dua blok militer di Eropa yang saling pamer kekuatan, gelar alutsista besar-besaran, saling melotot satu sama lain. NATO di Eropa Barat mendapat lawan, kekuatan  penyeimbang dari blok militer Eropa Timur yaitu Pakta Warsawa. Secara historis dua kekuatan militer penyeimbang ini justru mampu menciptakan perdamaian di Eropa selama hampir setengah abad. Kondisi "si vis pacem parabellum" ini memberikan peluang kemampuan membangun ekonomi kesejahteraan bagi Eropa dan dunia. Selama perang dingin pertumbuhan ekonomi kesejahteraan di dunia berkembang dengan cemerlang. Kekuatan dua super power dunia itu tidak membuat keduanya mentang-mentang, malah berhati-hati karena ada rival setaranya. Sementara tingkat kesejahteraan dan teknologi bertumbuh pesat di era Cold War.

Ranking kekuatan ekonomi AS saat ini sudah dibayang-bayangi China. Prediksi lima tahun ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia. Sejalan dengan itu pembangunan kekuatan militernya diniscayakan akan menjadi kekuatan yang disegani. Baru-baru ini China dan Rusia menyepakati kerjasama strategis di segala bidang. Artinya aliansi strategis ini menjadi ancaman terbesar hegemoni AS yang sudah mulai tergerus. Pertempuran di Ukraina adalah contoh soal terpukulnya hegemoni. Meski secara konstitusi PBB Rusia jelas-jelas salah besar  menyerbu teritori negara lain. Namun jika kita menganalisis penyebabnya secara sistematis, jalan diplomasi yang ditempuh tidak terpenuhi, langkah militer yang diterjang adalah bagian dari diplomasi itu sendiri.

Pola diplomasi AS dan sekutunya yang selalu mau menang sendiri sudah saatnya direnovasi, diperbaharui. Momentumnya ada di pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina. Tidak bisa lagi memakai pola dan metode menang-menangan. Kemarahan Rusia adalah kemarahan marwah negara yang selalu dikerdilkan dan dianggap musuh abadi. Mengurung Rusia di Eropa Timur dengan ekspansi keanggotaan NATO sangat tidak pantas karena secara defacto dan dejure sudah tidak ada lagi perang dingin atau potensi perang besar. Ambisi perluasan keanggotaan NATO di Ukraina akhirnya berbuah pertempuran hebat setelah perang dunia kedua. Kita semua menginginkan penyelesaian damai dan bermartabat. Saatnya membuka mata hati bening untuk perdamaian dunia.

****

Jagarin Pane / 03 Maret 2022

Friday, February 25, 2022

Rusia Menyerbu NATO Terpaku

Terbukti memang peribahasa tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam. Sepintas itulah potret kontemporer NATO dan AS yang selalu umbar statemen, mengancam, akan dibeginikan akan dibegitukan, akan diberi sanksi, menggertak dan menghasut. Ketika Vladimir Putin memperlihatkan taring militernya dan menyerbu Ukraina kemarin, aliansi militer NATO dan AS terdiam terpaku bahkan terpukau terperangah. Inilah perang terbuka dan terhebat sejak perang dunia kedua di Eropa hasil dari sistem dan akomodasi hasutan, propaganda, iming-iming dan bujukan sebuah aliansi militer yang tak pernah puas dengan kemenangan.

AS dan NATO sebenarnya sudah memenangkan perang dingin dengan bubarnya Pakta Warsawa 31 Maret 1991 yang membelah Eropa dan dilanjut dengan tamatnya  negara Uni Sovyet 25 Desember tahun 1991. Bayangkan hanya dalam kurun waktu tidak lebih setahun dua kekuatan militer yang bersenyawa menjadi salah satu dari dua kekuatan super power dunia bercerai dan  tumbang.  Kita bisa saksikan pada waktu cold war pergelaran ribuan tank dan senjata nuklir di sepanjang perbatasan negara NATO dan Pakta Warsawa di Eropa. Ukraina pada waktu itu bagian dari Uni Sovyet dan di wilayah itu ditempatkan ribuan senjata nuklir untuk menghancurkan Eropa.

Negara pecahan Uni Sovyet yang terkuat adalah Rusia kemudian Ukraina di sebelah barat Moskow. Yang lain adalah Belarusia, Estonia, Lithuania, Moldova, Georgia, Latvia. Di selatan ada Armenia, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgiyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Ukraina secara geostrategis dan geopolitik menjadi rebutan pengaruh antara Rusia dan NATO. Padahal secara fakta di lapangan tidak ada lagi pertarungan dua super power. Tidak ada lagi ancaman perang besar. NATO dan AS menjadi satu-satunya kekuatan super di dunia sebelum munculnya China satu dekade terakhir.  Namun nyatanya NATO masih terus memperluas keanggotaannya.

Ukraina sejah berpisah dari Uni Sovyet seperti lupa kacang akan kulitnya. Dan kondisi ini persis sama dengan framing terhadap Polandia pada waktu perang dingin. Perubahan pemerintahan di Polandia dengan kemenangan partai buruh pimpinan Lech Walesa adalah awal kehancuran Pakta Warsawa dari dalam. Pembusukan dari dalam. Warsawa adalah nama ibukota Polandia dan dari Warsawa pula teori domino runtuhnya pakta militer paling menakutkan di dunia yang dilanjut dengan runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991 dan Yugoslavia tahun 1992. Sepuluh tahun terakhir Ukraina "digarap" agar mbalelo dan membelakangi Rusia. Ini yang menusuk harga diri dan kehormatan Rusia. Dan demi harga diri itu Vladimir Putin menyerbu Ukraina. Siapa pun itu kalau terus menerus dijepit, diberi sanksi ini sanksi itu, disudutkan, dihasut, dikerdilkan dia akan keluar dan berteriak. Rusia ada di posisi itu.

NATO dan AS yang sudah memenangkan pertarungan "dua super power" dengan bubarnya Pakta Warsawa, terus melebarkan sayapnya ke Eropa Timur. Saat ini sudah mencapai 30 negara Eropa termasuk negara pecahan Uni Sovyet Lithuania, Latvia dan Estonia. Sementara negara bekas Pakta Warsawa yang masuk pelukan NATO adalah Polandia, Ceko, Slovakia, Rumania, Albania dan Kroasia. Masih kurang juga tuh menambah anggota baru untuk kepentingan hegemoni. Lalu membujuk dan mengiming-imingi Ukraina untuk masuk NATO. Inilah yang kemudian membuat Rusia marah besar. 

Wilayah Ukraina ada di depan hidung Moskow, artinya di mata Rusia, Ukraina menjadi negara yang tak menghargai etika bertetangga secara historis. Dari sudut pandang strategi militer jika Ukraina bergabung dengan NATO maka kondisi ini akan direct head to head dengan Moskow. Kudeta di Ukraina tahun 2014 diyakini adalah hasil karya framing hasutan intelijen atas nama demokrasi. Menggulingkan pemimpin yang pro Rusia dan digantikan dengan yang pro Barat. Rusia jelas tidak dapat menerima perubahan itu lalu tanpa banyak cakap menganeksasi semenanjung Crimea. Tidak ada bantuan dan penyelamatan dari NATO saat itu. Baru kemudian AS memberlakukan sanksi kepada Rusia dengan Undang-Undang CAATSA. Dengan CAATSA ini pula Indonesia gagal mendapatkan jet tempur canggih Sukhoi SU35 dari Rusia.

Serbuan Rusia ke Ukraina memberikan pelajaran untuk kita dan kawasan Indo Pasifik. Kita tidak bisa terlalu berharap banyak mendapat bantuan dari pakta militer AUKUS (Australia, United Kingdom, USA). Natuna harus kita perkuat dengan kekuatan sendiri. Pengadaan alutsista strategis berupa 42 jet tempur Rafale, 36 jet tempur F15 ID, 16 kapal perang heavy fregate, 2 kapal selam, satelit militer dan lain lain tidak perlu diperdebatkan. Ini investasi pertahanan extra ordinary. Rencana strategis Kementerian Pertahanan sudah memprediksi kondisi terburuk. Ukraina ternyata sendirian digebuk Rusia, babak belur, bonyok dibiarkan. NATO dan AS terdiam padahal selama ini paling jagoan umbar pernyataan. China pasti membaca pesan militer ini dan bisa saja mengambil kesempatan menyerang Taiwan karena AS dan sekutunya lagi mati angin di Ukraina.  Makanya kewaspadaan perlu kita tingkatkan seoptimal mungkin di Natuna, tentu dengan kekuatan sendiri dan rasa percaya diri.

****

Jagarin Pane / 25 Februari 2022

Sunday, February 20, 2022

Mengapa Kita Beli Banyak

Sejak era Trikora dan Dwikora pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis dan potensi mendapatkan 36 jet tempur mutakhir F15 ID dari AS merupakan yang terbesar. Setidaknya ada dua faktor yang menjadi pijakan mengapa kita sekonyong-konyong membeli alutsista dalam jumlah besar. Ada apa gerangan. Dan mengapa harus sekarang. Yang pertama karena kondisi sebagian alutsista TNI sudah uzur serentak dan yang kedua yang sangat mendesak adalah ancaman terhadap kedaulatan teritori kita sudah di depan mata. Silakan datang ke Natuna, suasana disana sudah siaga satu. Mata telinga kita yang bernama radar dan UAV bekerja non stop siang malam di dukung sejumlah patroli BAKAMLA, KRI, dan pesawat tempur mengamati gerak gerik curang si lidah naga.

Kita membeli 42 jet tempur Rafale edisi terakhir dari Perancis untuk menghadapi dinamika kawasan Laut China Selatan  (LCS) yang selalu panas dingin dengan durasi terus menerus dan jangka panjang.  Pengadaan 42 jet tempur ini adalah bagian dari diplomasi militer Indonesia karena dengan cara ini gaung informasi akan menggema ke segala arah. Rafale dan F15 Id sangat pantas menjadi kekuatan strategis TNI di garda terdepan, di benteng kehormatan teritori Natuna. Lantas bagaimana dengan Sukhoi SU27/30 kita. Rafale, F15 dan Sukhoi punya peran masing-masing. Arahnya ke depan Rafale dan F15 yang akan menjadi lawan tanding perusuh LCS. Sebab Sukhoi kita "satu perguruan" dengan pihak sono, bahkan dia sudah punya SU35.

Saat ini kita memiliki 28 jet tempur Hawk buatan Inggris yang dibeli tahun 90an, dibagi menjadi 2 skadron yaitu skadron Elang Khatulistiwa Pontianak dan skadron Black Panther di Pekanbaru. Waktu beli jumlahnya 40 unit. Karakter jet tempur ini bukan untuk superioritas udara karena kecepatan dan kemampuan manuvernya terbatas untuk land attact. Usia pakai sudah mendekati 30 tahun, saat ini secara umur teknis dan teknologi tidak mempunyai kekuatan detterens. Kekuatan pukul TNI AU saat ini bertumpu pada 33 jet tempur F16 dan 16 jet tempur Sukhoi tergabung dalam 3 skadron tempur strategis, Iswahyudi AFB (F16), Hasanuddin AFB (Sukhoi) dan Roesmin Nuryadin AFB (F16).

Sementara itu kekuatan tempur angkatan laut Indonesia sebagian diisi KRI usia lanjut. 5 fregat "Ahmad Yani Class" sudah berusia 55 tahun, masih aktif sekarang. Sudah selayaknya dipurnatugaskan, maka Menhan Prabowo mempersiapkan penggantinya yaitu 6 heavy fregate "Fremm Class" dari Italia. Meski belum kontrak efektif namun skenario teknis sudah disiapkan. Masa pembuatan Fremm Class membutuhkan durasi diatas 5 tahun padahal saat ini LCS demam terus.  Maka disiapkan 2 fregate "Maestrale Class" yang dipakai AL Italia untuk bisa secepatnya dialihkan menjadi asset TNI AL sembari menunggu Fremm Class selesai dibangun. Artinya saat ini kita memang sangat perlu tambahan kapal perang fregate untuk sinergi kawal di Laut Natuna Utara bergantian dengan 2 KRI "Martadinata Class" dan 3 KRI "Bung Tomo Class".

Sudah saatnya kita mempunyai kekuatan AL dan AU yang setara dengan luas wilayah yang kita miliki.  Saat ini secara kuantitas TNI AL mempunyai sekitar 170 KRI berbagai jenis namun yang berkualifikasi striking force hanya 30 an KRI. Dan jika ditandingkan dengan kekuatan yang mengacak-acak LCS jelas kalah gahar. Itulah sebabnya rencana besar Menteri Pertahanan yang out of the box harus bisa kita pahami secara jernih. Angkatan Laut Indonesia harus mempunyai kapal perang ukuran besar, berteknologi terkini termasuk kapal selam mutakhir. Prediksi ke depan TNI AL akan memiliki 50-60 KRI striking force canggih, 16 diantaranya kapal perang heavy fregate. Sementara untuk TNI AU peta jalannya sudah semakin terang benderang dengan jet tempur pemukul strategis Rafale, F15 Id, F16, Sukhoi dan IFX.  Sangat pantas Indonesia mempunyai kekuatan AL dan AU yang sebanding dengan luasnya wilayah perairan dan udara negeri kepulauan ini.

Diplomasi militer Indonesia dengan penguatan militer yang sangat hebat di masa Trikora telah membuktikan kekuatan tawar di PBB. Dari pantauan pesawat mata-mata AS yang berbasis di Clark Filipina terdapat konsentrasi armada kapal perang dan kapal selam Indonesia di Teluk Peleng. Juga sebaran pesawat tempur Mig 19, Mig 21 dan pesawat pengebom Tupolev TU-16 di pangkalan aju. Presiden AS John F Kennedy membujuk Belanda agar menyerahkan Irian Barat melalui jalur terhormat PBB sebab sangat dimungkinkan terjadi perang terbuka antara Indonesia dan Belanda. Akhirnya memang terbukti melalui gelar kekuatan militer besar-besaran Belanda angkat kaki dari bumi cenderawasih.

Maka ketika saat ini kita harus memperkuat benteng teritori kita di Natuna tidak lain adalah untuk menjalankan diplomasi militer dengan kekuatan sendiri. Meski ada pakta AUKUS untuk menghadang China di Indo Pasifik, perkuatan militer kita adalah untuk kehormatan dan harga diri teritori NKRI. Ketika Semenanjung Crimea di Ukraina dicaplok Rusia tahun 2014 nyatanya tidak ada upaya penyelamatan dari NATO dan AS. Bahkan ketika saat ini Rusia sedang bersiap menyerbu Ukraina karena ulahnya yang hendak masuk NATO sekaligus mau mengucilkan Rusia, ternyata NATO dan AS mati angin dengan pergelaran ratusan ribu pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina. Pelajarannya adalah  Natuna harus kita pertahankan dengan kekuatan sendiri, demi harga diri dan eksistensi NKRI. Artinya kita harus menghadirkan sejumlah alutsista gahar mulai dari sekarang. 

****

Jagarin Pane / 19 Februari 2022

Saturday, February 12, 2022

Rafale, Diplomasi Militer Dilarang Melarang

Indonesia dan Perancis membuat Februari ini terasa segar bugar dan ceria di mata netizen forum militer tanah air. Kamis 10 Februari 2022 ditanda tangani kerjasama militer pengadaan alutsista terbesar dan termegah. Sampai-sampai AS tidak sampai duabelas jam kemudian mengumumkan persetujuan buru-buru kesediaan menjual 36 jet tempur F15 varian terkini kepada Indonesia. Maka secara terang benderang dalam satu hari ada dua berita militer spektakuler yang mencengangkan kawasan Indo Pasifik termasuk China yang menjadi sebab musabab utama upaya penguatan siginfikan alutsista TNI. 

Ya, China telah mengusik harga diri teritori NKRI, dengan mengeklaim zona ekonomi eksklusif (ZEE)  Laut Natuna Utara (LNU), mengerahkan sejumlah kapal coast guard dan kapal perang berulang kali, show of force. Kemudian melakukan psywar terhadap pengeboran Migas di ZEE LNU dengan "nungguin" pekerjaan pengeboran berbulan-bulan. Dan yang terakhir ini yang paling menyesakkan, melalui nota diplomatik China melarang Indonesia melakukan pengeboran atau aktivitas apapun di LNU yang di "nine dash line" kan nya. Karena ini halaman rumah kita, nota diplomatik tidak kita gubris. Jawaban kita sangat tegas dengan bahasa militer, dilarang melarang. Indonesia mengerahkan sejumlah kapal Bakamla dan KRI ke lokasi pengeboran dan yang terakhir ini shopping besar-besaran untuk investasi pertahanan pengadaan alutsista gahar dari Perancis dan AS. 

Menteri pertahanan Perancis Florence Parly yang cantik,mungil dan imut disambut hangat di Jakarta lalu sowan ke Presiden Joko Widodo. Selanjutnya bersama Menhan RI bergerak ke Medan Merdeka Barat  untuk menyaksikan sign kontrak pengadaan alutsista milyaran dollar yaitu 42 jet tempur canggih Rafale dan infrastruktur pendukungnya, 2 kapal selam Scorpene, satelit militer dan lain-lain. Publikasi penandatanganan ini terang benderang dan cepat menyebar sampai Pentagon. Maka tak lama kemudian tersiar pengumuman persetujuan pengadaan 36 jet tempur canggih F15 ID dari pemerintah AS. Sebuah episode sehari penuh yang pasti mencengangkan China. Betapa gagahnya Indonesia untuk berupaya mengibarkan bendera "dilarang melarang".

"Drama" ini mengingatkan kisah nyata sebelumnya manakala Prabowo yang baru dilantik sebagai Menteri Pertahanan, ingin shoping alutsista di AS namun terhalang masuk. Kemudian dia menjalankan strategi marwah diri dan kehormatan negeri. Menjalankan koneksi sebab akibat "dilarang melarang" dengan diplomasi militer cerdas berwibawa, melobby Austria untuk melepas Typhoon nya yang sedang bermasalah, sekaligus berkunjung ke Paris untuk melirik Rafale. Tak lama kemudian Washington luluh dan membentang karpet merah untuk ahlan wa sahlan, mempersilakan Menhan Prabowo bertandang ke Paman Sam. Kunjungan Menhan Indonesia disambut hangat di Pentagon. Dilarang melarang sudah terjawab.

Indonesia sedang membangun investasi pertahanan secara sistematis untuk jangka panjang. Artinya belanja investasi pertahanan dilakukan sekaligus dalam jumlah besar alias borongan untuk masa manfaat 30 tahun ke depan. Sepintas anggaran untuk investasi benteng NKRI ini terlihat fantastis. Namun jika dilihat dari durasi manfaat teknis selama 30 tahun maka nilai investasi menjadi wajar dan biasa saja. Beli borongan, sekaligus utk 30 tahun masa manfaat dengan pembayaran hutang yang berdurasi sama. Artinya antara masa manfaat dengan cicilan pembayaran secara kredit tidak memberatkan.  Apalagi dengan dukungan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia yang semakin membesar dan menguat. 

Saat ini PDB kita ada di urutan 15 besar dunia. Jadi masuk anggota grup elite G20. Prediksi beberapa lembaga keuangan dunia memperkirakan PDB Indonesia tahun 2030 ada di urutan ke 10-11, dan tahun 2045 ada di urutan ke 5-6. Artinya ketika kita membeli alutsista secara besar-besaran selama tiga tahun ini (2022-2024) dengan durasi pembayaran diatas 10 tahun. Maka jika dikaitkan dengan peningkatan PDB yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi, maka DSR (Debt Service Ratio) atau rasio hutang kita terhadap PDB semakin menurun. Agak mirip-mirip dengan beli rumah melalui KPR. Setelah bayar uang muka rumah bisa ditempati dan cicilan pembayaran dengan durasi 10-15 tahun semakin lama semakin ringan. Beli alutsista juga begitu, tidak ada beli secara tunai. Setelah bayar uang muka barang diproduksi dan dikirim.

Investasi pertahanan sangat diperlukan karena asset alutsista yang ada sekarang sudah banyak yang berusia tua. Contoh KRI Ahmad Yani Class yang berjumlah 6 unit dibeli dari Belanda tahun delapan puluhan, beli bekas dari Belanda. Dan Belanda mempergunakan kapal perang frigate itu sejak tahun enam puluhan. Berarti usianya sudah masuk kategori lansia alias uzur. Investasi pertahanan sangat mendesak dilakukan karena ancaman terhadap kedaulatan teritori negeri kita sudah di depan mata. Sudah terang-terangan, bahkan sudah berani melarang di rumah orang. Maka meski kita cinta perdamaian kita lebih cinta kemerdekaan. Si vis pacem parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Semua itu harus dijawab dengan menguatkan marwah teritori agar kita tidak dianggap ikan teri oleh negeri yang haus klaim teritori.

****

Jagarin Pane / 12 Februari 2022

Wednesday, February 2, 2022

Singapura Cerdik Indonesia Cerdas

Perjanjian "keramat" three in one antara Indonesia dengan Singapura ditandatangani di Bintan Selasa 25 Januari 2022 melalui pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Kesepakatan mengikat tiga perjanjian sekaligus dalam satu paket dan harus melalui ratifikasi parlemen masing-masing negara, sejatinya adalah produk kecerdikan Singapura sekaligus kecerdasan Indonesia. Jika salah satu perjanjian gagal diratifikasi maka ketiga perjanjian tidak bisa diimplementasikan. Ketiganya adalah  perjanjian FIR (Flight Information Region), DCA (Defence Cooperation Agreement) dan EA (Extradition Agreement). Disebut keramat karena dua dari tiga perjanjian ini yaitu DCA dan EA pernah disepakati kedua pemerintahan tahun 2007 namun tidak diratifikasi DPR. Sosoknya kemudian dibangkitkan lagi awal tahun ini.

Singapura sangat berkepentingan soal kerjasama pertahanan dengan Indonesia, terutama karena membutuhkan ruang udara untuk latihan militernya. Negeri mungil itu punya alutsista jet tempur canggih seabreg namun ruang udaranya terbatas untuk latihan manuver jet tempur. Bayangkan saja sejumlah jet tempur F15 atau F16 yang take off dari Air Force Base nya baru menanjak sekian ribu meter sudah bertemu dengan ruang udara Batam atau Johor. Belum lagi kepadatan trafik penerbangan sipil di Changi Airport. Sesak nafas dia. Pernah ada perjanjian menggunakan AWR (Air Weapon Range) TNI AU Siabu di Riau untuk latihan jet tempur Singapura namun tidak berlanjut lagi. Juga pernah ada DCA tahun 2007 yang memberikan slot latihan tempur di selat Malaka dekat Bengkalis dan Natuna selatan. Nyatanya tidak dapat terlaksana.

Indonesia berkepentingan dengan perjanjian ekstradisi untuk penangkapan koruptor. Dalam perjanjian kali ini masa lakunya berlaku surut dari 15 tahun menjadi 18 tahun. Artinya kasus pelarian koruptor Indonesia ke Singapura selama 18 tahun yang lalu bisa diekstradisi ke Indonesia meski sudah menjadi warga Singapura. Kita ketahui bersama selama ini Singapura menjadi rumah pelarian yang aman bagi sejumlah koruptor Indonesia, karena tidak ada perjanjian ekstradisi. Perjanjian ini merupakan nilai plus Singapura bagi Indonesia sekaligus mengeliminasi ruang pelarian para koruptor yang selama ini mendapat "suaka kenyamanan" menetap di negeri makmur itu. Ada anggapan bahwa pembahasan ratifikasi perjanjian ekstradisi ini akan alot di DPR karena berbagai kepentingan. Namun kita percaya bahwa wakil rakyat di Senayan dapat meratifikasinya.

Menteri Pertahanan Prabowo secara tersirat tidak mempermasalahkan soal ruang udara Indonesia untuk area latihan tempur Singapura. Dalam pandangan kita sebagai negara sahabat yang punya ruang udara besar, seluas Eropa, berbaik hati dan berbaik sangka dengan memberikan slot ruang udara di selatan Natuna untuk latihan militer Singapura akan menunjukkan nilai plus kita di mata Singapura. Singapura bukan ancaman bagi Indonesia meski militernya mempunyai kekuatan pre emptive strike. Negeri itu mengharuskan membangun kekuatan militernya berkarakter "sarang tawon" karena takdir geografi dan geostrategisnya dihimpit dua jirannya yang besar Indonesia dan Malaysia. Dia kuatkan militernya untuk eksistensi dan jaminan kesejahteraan rakyatnya. Filosofi sarang tawon tidak akan mengganggu tapi kalau diganggu akan menyengat.

Semangat kebersamaan ASEAN diharapkan menjadi pijakan kesepakatan DCA termasuk mengantisipasi situasi terburuk di Laut China Selatan (LCS).  Adanya area latihan tempur Singapura dekat Natuna diyakini akan membuat Singapura peduli secara militer dengan situasi kawasan LCS yang bergejolak. Dan AS pasti menyambut hangat perjanjian ini. Gagalnya DCA tahun 2007 bisa saja disebabkan belum lengkapnya infrastruktur militer kita untuk mengawasi kegiatan latihan militer AU Singapura waktu itu. Nah sekarang kita sudah mempunyai radar militer canggih di Tanjung Pinang, Natuna dan Kalbar. Termasuk sejumlah jet tempur Sukhoi, F16 dan KRI. Kesepakatan DCA dan ratifikasinya diprediksi akan menjadi landasan untuk kemitraan strategis dengan Singapura di masa depan.

Soal FIR alias wilayah informasi penerbangan, dalam perjanjian ini mengakui Jakarta sebagai induk semangnya, yang kemudian mendelegasikan operasionalnya kepada Singapura untuk ketinggian dibawah 37.000 feet di sekitar negeri itu. Artinya secara kedaulatan kita berdaulat, namun atas nama keselamatan penerbangan dan kepatuhan standar internasional serta trafik pesawat yang landing dan take off di Singapura sangat padat, maka teknis operasional FIR diserahkan ke Singapura. Jadi tidak mutlak demi kedaulatan. Contoh Brunai dikendalikan FIR Kinabalu, Pulau Natal Australia di selatan Jawa dikendalikan FIR Jakarta, Timor Leste dikendalikan FIR Makasar. Indonesia menempatkan sejumlah personil di Changi Air Traffic Control untuk evaluasi teknis termasuk mengontrol ruang udara Indonesia. Termasuk mendapatkan sharing revenue FIR sebagai pendapatan negara bukan pajak dari penyediaan jasa informasi penerbangan. 

Takdir Indonesia dan Singapura adalah bertetangga seumur hidup maka kerjasama di segala bidang yang saling menguntungkan kuncinya adalah khusnuzon. Kemitraan strategis dengan diimplementasikannya ketiga perjanjian ini semakin terbuka luas. Singapura memang harus cerdik menyiasati paket perjanjian ini karena sangat mengharapkan Indonesia bermurah hati "meminjamkan" ruang udaranya untuk manuver jet tempur SAF. EA adalah kesediaan dan kerelaan Singapura untuk membantu Indonesia memberangus koruptor dan hartanya. Pelarian koruptor inilah yang selama ini menjadi beban hubungan kedua negara. Sementara FIR adalah win-win solution. Indonesia mendapatkan marwah kedaulatan teritori udara sebagai negara kepulauan dan keuntungan finansial dari bagi hasil FIR.  Wilayah FIR disekitar Singapura  didelegasikan secara operasional kepada Changi ATR. Jadi bisa disebut Singapura cerdik, Indonesia cerdas dan keduanya adalah cermin bertetangga yang setara.

****

Jagarin Pane / 02 Februari 2022

Thursday, January 27, 2022

Memahami Strategi Pertahanan IKN

Ibukota baru Indonesia sudah diberi nama. Nusantara, sebuah nama yang sudah sangat familiar di seluruh pelosok negeri. Letak geografis Ibukota Nusantara persis bersebelahan dengan kota yang sudah tertata rapi,terurus dan modern, Balikpapan di Kalimantan Timur. Dukungan infrastruktur di dua kota "kembar dan bersaing" Balikpapan dan Samarinda, tersedianya jalan tol diantara kedua kota itu, ada bandara modern, pelabuhan laut berkelas serta selesainya jembatan megah penghubung jalan raya trans Kalimantan Kaltim-Kalsel, diyakini akan mempermudah jalur logistik proses pembangunan ibukota Nusantara.

Kekuatan pertahanan TNI AD di Kalimantan saat ini bersandar pada 2 Kodam yaitu Kodam Mulawarman di Balikpapan dengan teritori Kaltim, Kalsel dan Kaltara. Dan KodamTanjungpura di Pontianak dengan teritori Kalbar dan Kalteng. Masing-masing Kodam sudah memiliki batalyon infantri termasuk yang berkualifikasi raider, batalyon armed, kavaleri, arhanud dan skadron penerbad. TNI AU menempatkan skadron jet temput Hawk dan skadron pesawat nir awak UAV di Supadio AFB Kalbar. Sementara TNI AL punya pangkalan angkatan laut di Tarakan dan pasukan marinir di Nunukan. Hotspot pertahanan di Kalimantan ada di perairan Ambalat.

Sebagai pusat pemerintahan perlindungan total dari segala bentuk ancaman perang modern dan perang siber sudah dirancangbangun oleh Kemenhan dan TNI. Konsep besarnya adalah smart defense, network centric warfare dan dual strategy. Smart defense hardware didukung oleh infrastruktur alutsista strategis dan canggih. Termasuk didalamnya cyber war. Sementara dual strategy yaitu mensinergikan strategi pertahanan dan strategi diplomasi dalam satu kesatuan, seiring sejalan. Sebenarnya dual strategy ini sudah diterapkan sejak beberapa tahun terakhir. Menlu Retno dan Menhan Prabowo selalu bersama dalam setiap meeting two plus two dengan Australia, AS, Jepang, Korsel, Perancis, Inggris, Jerman.

Yang perlu dicatat, perubahan geostrategis pertahanan dari pulau Jawa ke Kalimantan tidak berarti menomorduakan pertahanan di Jawa. Karena Jawa adalah pusat industri, investasi dan keuangan tak tergantikan. Ada dua divisi Kostrad, tiga skadron Penerbad, dua divisi Marinir, pangkalan Armada Satu dan Dua, 4 skadron tempur, beberapa skadron angkut berat dan ringan, skadron helikopter semuanya bermarkas di jantung Indonesia pulau Jawa. Artinya meski ibukota pindah pulau, strategi pertahanan di Jawa relatif tidak ada perubahan. Tetap menjadi basis kekuatan pertahanan terkuat.

Ibukota baru Nusantara berhadapan dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar sementara "punggungnya" adalah daratan luas rimba kalimantan yang menurut pandangan kita masih sangat minimal kekuatan pertahanan di koridor ini. Padahal ada perbatasan darat dengan Malaysia sepanjang 2000 km. Meski di border itu sudah berdiri puluhan pos militer dikawal pasukan infantri TNI AD, namun punggung ibukota Nusantara harus dilindungi dari serangan udara dan serangan peluru kendali jarak jauh dari musuh. Dan hampir pasti arahnya akan datang dari arah Laut China Selatan dan Laut China Timur jika terjadi perang terbuka.

Maka Tenggarong, Melak dan Muara Teweh  bisa menjadi pilihan silo pertahanan udara dan silo pertahanan rudal anti rudal  jarak jauh. Bersinergi dengan skadron jet tempur Rafale yang diprediksi ditempatkan Supadio AFB Pontianak dan jet tempur Sukhoi di Hasanuddin AFB Makassar. Sebagai penguat Samarinda atau Tarakan bisa menjadi pilihan home base 1 skadron jet tempur F16. Jadi kekuatan pertahanan udara jarak jauh mobile di Kalimantan bertumpu pada 2 skadron jet tempur Rafale dan F16, 1 skadron UAV yang sudah eksis di Supadio AFB. Kemudian ada pertahanan udara statis berupa beberapa batterai peluru kendali SAM (Surface to Air Missile) jarak menengah dan jarak jauh.

Kekuatan angkatan laut di jalur ALKI 2 selat Makassar dan laut Sulawesi saat ini bertumpu pada Armada Dua yang bermarkas di Surabaya. IKN Nusantara yang berhadapan dengan ALKI 2 harus mendapat perlindungan laut apalagi ada titik panas Ambalat di halaman perairan kita. Saat ini Ambalat dalam kontrol penuh TNI AL namun untuk perkuatan pertahanan laut di ibukota negara harus ada kapal perang kelas korvet keatas yang berhome base di Balikpapan atau Samarinda. Laut Sulawesi itu sangat terbuka, ada Sabah, Filipina dan Samudra Pasifik di depan ibukota. Termasuk mengantisipasi potensi teroris di segitiga Sulu, Sabah dan Poso.

Dalam jangka pendek ini diprediksi akan dibentuk 1 brigade komposit di IKN seperti di Natuna. Secara eksisting sudah ada batalyon infantri raider 600 Modang dan batalyon kavaleri 13 Satya Lembuswana di Balikpapan. Di Kutai Kertanegara ada batalyon infantri mekanis 611 Awang Long. Di Berau ada batalyon armed 18 komposit dan skadron 13 helikopter penerbad. Di Tarakan ada batalyon raider 613 Raja Alam dan di Malinau ada batalyon raider 614 Raja Pandita. Batalyon kavaleri 13, batalyon armed 18, batalyon infantri mekanis 611, batalyon armed 18 dan skadron helikopter serbu masih sangat kurang kapasitas dan kualitas isian alutsistanya sampai saat ini.

Berangkat dari kondisi eksisting ini percepatan pengadaan alutsista tiga matra harus segera tercapai. Tahun ini adalah titik tumpu dari proses penguatan pertahanan ibukota Nusantara. Sudah saatnya menyegerakan ketersediaan alutsista yang dibutuhkan, tidak bertele-tele. Kita berkejaran dengan waktu. Tingkat keterisian alutsista di IKN, Natuna, Ambalat masih jauh dari kriteria minimal atau standar. Meski ranking kekuatan militer kita ada di urutan 15 dari 140 negara namun secara de facto kita belum punya kekuatan pukul yang disegani. Ranking 15 versi GFP (Global Fire Power) itu didongkrak oleh indikator jumlah populasi, jumlah pasukan, komponen cadangan dan para militer, luas wilayah, sumber daya alam yang memang besar dan luas. Saatnya kita bergerak cepat dengan segala daya dan dana untuk merealisasikan kontrak efektif.

****

Jagarin Pane / 27 Januari 2022

Saturday, January 15, 2022

Mengemban Harapan 2022

Geger batubara internasional mengharuskan Xi Jinping berkomunikasi dengan Jokowi via saluran telepon pekan ini. Artinya batubara Indonesia mampu menggoyangkan ketahanan energi negara setangguh China ketika tiba-tiba Presiden Jokowi menutup seluruh keran ekspor batubara seminggu lalu. Padahal RI-1 sedang marah soal suplai batubara untuk PLN yang menipis karena pengusaha batubara ingkar janji memenuhi kuota untuk PLN. Mereka habis-habisan mengekspor batubara yang harganya sedang melangit. Kewajiban kuota untuk PLN ditinggalkan karena selisih harga yang besar. Keterlaluan.

Pada saat yang bersamaan geger soal pengadaan satelit militer mengemuka. Dan ini menimbulkan kerugian negara ratusan milyar. Tidak usah dijelaskan secara detail karena sudah dijelaskan Menko Polhukam dan akan diusut tuntas proses yang terjadi di tahun 2015 itu. Pengadaan satelit militer sebenarnya merupakan kebanggaan nasional namun prosedural soal anggaran yang belum tersedia saat itu menjadi asal muasal keruwetan dan menyebabkan Indonesia membayar denda ratusan milyar. Kemudian soal dugaan korupsi pengadaan helikopter AW101 yang di mark-up 220 milyar sedang didalami kembali oleh Panglima TNI saat ini. Kasusnya dihentikan Puspom TNI dan masih mengendap di KPK.

Barusan TNI AL mendapat 2 kapal perang baru yaitu KRI Golok 688 dan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kedua kapal perang ini buatan dalam negeri. KRI Golok 688 hasil karya PT Lundin Banyuwangi merupakan kapal perang striking force trimaran stealth. Dirancang sebagai kapal berdesain siluman yang mampu menggotong rudal anti kapal permukaan. Sebuah karya anak negeri yang membanggakan. Demikian juga dengan KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 dari jenis LPD Rumah Sakit hasil karya BUMN strategis PT PAL. Sejauh ini PT PAL telah sukses membangun 6 kapal perang jenis LPD untuk TNI AL dan 2 unit untuk angkatan laut Filipina.

Tiga peristiwa diatas menjadi catatan kita di awal tahun 2022 yang basah kuyup dengan siraman hujan merata. Soal China yang kelabakan ketika kita menyetop ekspor batubara selama seminggu sesungguhnya menggambarkan saling ketergantungan yang menguntungkan antar negara. Meski negeri itu punya musuh banyak karena mengklaim sana sini termasuk soal perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Natuna, nyatanya China tidak bisa lepas soal kebutuhan dari saling ketergantungan satu sama lain. Apalagi jika konflik di Selat Taiwan, Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS) pecah maka hancur leburlah seluruh tatanan kehidupan dan kesejahteraan ummat manusia. Sudah tahu dampaknya mematikan seluruh peradaban tapi masih juga bersikukuh kaku. Mengapa tidak mengedepankan semangat berbagi bersama dan kerjasama untuk kesejahteraan. Mengapa tidak pasang wajah ramah sih.

Terbukanya borok pengadaan satelit militer di tahun 2015 sungguh sangat memalukan. Langkah tegas Menko Polhukam patut kita apresiasi dengan kinerjanya yang mulai menunjukkan taring terutama soal hukum. Rincian publikasi yang begitu jelas memberikan arah bagi kita secara runtun bahwa telah terjadi mis manajemen, salah prosedural dan sangat tergesa-gesa dalam  prosedur pengadaan satelit militer yang anggarannya belum tersedia. Padahal masih tersedia waktu pengisian slot orbit satelit selama tiga tahun sejak satelit Garuda I keluar orbit pada bulan Januari 2015. Kerugian ratusan milyar karena Indonesia dikenakan denda oleh arbitrase  Inggris dan Singapura.

Sementara itu Kementerian Pertahanan terus melaju dalam upaya menyegerakan ketersediaan sejumlah alutsista untuk TNI. Setelah serah terima KRI 991 dan KRI 688 diprediksi sepanjang tahun 2022 ini akan banyak berita yang menggembirakan untuk penambahan dan pengembangan alutsista TNI. Dan prediksi itu tidak perlu kita rinci satu persatu karena netizen forum militer sudah bisa menebaknya. Kita hanya berharap kabar baik itu jelas dan cepat. Kita sebenarnya berpacu dengan waktu  untuk segera menyediakan pasokan alutsista strategis. Filipina adalah satu contoh bagaimana sebuah pemerintahan mengambil langkah extra ordinary untuk memperkuat militernya. Syarat dan ketentuan berlaku: tidak pakai lama.

Percepatan pengadaan alutsista tentu harus tetap prosedural agar tidak terulang kasus seperti pengadaan satelit militer. Juga ketat dalam spek teknis dan finalisasi price alias yang wajar-wajar saja dan transparan. Ini yang sedang dibenahi Kemenhan, percepatan dan prinsip kehati-hatian. Dua hal yang menjadi rambu utama pengadaan alutsista G to G.  Kemenhan sedang membangun mekanisme, juga sedang disibukkan dengan kasus pengadaan satelit militer. Pada dimensi lain Kemenhan dituntut untuk menyegerakan kedatangan alutsista strategis, karena iklim kawasan LCS tidak lagi nyaman hari-hari ini dan hari-hari mendatang. 

Mengemban harapan di tahun 2022 untuk menjaga stabilitas kawasan adalah memperkuat diplomasi dan silaturrahim antar negara di Indo Pasifik.  Saling menyapa antara petinggi negara seperti perbincangan diplomatik Presiden Jokowi dan Presiden  Xi Jinping soal ekspor batubara barusan. Termasuk upaya diplomasi Indonesia untuk mendekatkan dan mendinginkan Pakta Aukus dengan China. Kedua pihak, Aukus dan China ini dalam pandangan kita bercorak "teguh dalam keakuan, angkuh dalam bergaul, dan sedang berebut pengaruh". Yang mengemuka kemudian adalah diplomasi militer, pamer kekuatan, saling menggertak. Lucunya arena pamer dan saling gertak ada di halaman komplek perumahan yang selama ini rukun damai.

*****

Jagarin Pane / 15 Januari 2022

Tuesday, December 28, 2021

Memeluk Rafale Meminang Eagle

Netizen forum militer Indonesia sesungguhnya tidak begitu peduli soal isian dan merek alutsista strategis matra udara. Yang penting segera terisi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Itu sebabnya kita ikut mengkritisi mengapa begitu bertele-telenya proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 buatan Rusia beberapa tahun yang lalu. Anggaran sudah disediakan. Mula-mula disebut akan beli 8 SU35 lalu diumumkan lagi akan beli 11 SU35. Tapi tetap slow motion menuju kontrak efektif.  Sampai akhirnya berlaku UU CAATSA dari AS sebagai "hukuman" kepada Rusia atas aneksasi semenanjung Crimea milik Ukraina.

Akhirnya jet tempur tangguh Sukhoi SU35 batal kita miliki secara resmi dua hari lalu, sebagaimana dijelaskan KSAU. Dengan demikian hilang terbuang durasi waktu antara pesan dan datang pembelian alutsista gahar ini selama 5 tahun terakhir. Kita kembali ke titik nol. Harapan untuk mendapatkan SU35 pupus sudah padahal infrastruktur skadron jet tempur tulang punggung ini sudah disiapkan.  Bahkan 3 jet tempur Sukhoi SU27/30 dari Hasanuddin AFB telah diserahterimakan sebagai isian Skadron 14 Iswahyudi AFB. Semua dalam rangka mengisi kekosongan jam terbang pilot yang sudah disiapkan untuk kehadiran SU35. Ternyata yang dirindukan tak pernah datang.

Ada kabar baik seiring dengan pupusnya asa mendapatkan SU35. Kontrak efektif pengadaan jet tempur dual engine Rafale made in Perancis edisi terkini sudah diambang pintu. Kabar yang berhembus jumlahnya kemungkinan dikurangi atau dibagi 2 batch. Batch satu untuk 12-18 Rafale, batch berikutnya juga 12-18 Rafale. Tidak masalah, yang penting "peluk dulu lalu ajak akad nikah".  Karena kita sudah kehilangan waktu 5 tahun akibat Sukhoi SU35 tidak jadi datang. Ditambah lagi jika kontrak efektif Rafale diteken sebentar lagi, masih perlu durasi waktu 5-6 tahun menunggu kedatangannya. Karena kita pesan yang edisi terkini, jadi harus antri sampai tahun 2027 paling cepat. Jadi ada durasi 10 tahun untuk mendapatkan jet tempur strategis dihitung sejak tahun 2017.

Demikian juga dengan jet tempur F15 Eagle II dari AS. Kedatangan Menlu AS belum lama ini salah satunya untuk memastikan pinangan Indonesia disetujui. Meskipun begitu masih panjang proses yang harus dilalui untuk menghadirkannya di tanah air dengan sejumlah syarat. Jet tempur ini jika sudah datang dan berduet dengan Rafale akan menjadi kekuatan pengawal yang bertaring untuk berhadapan dengan jet tempur China. Jika yang dihadapkan adalah jet tempur Sukhoi SU35 maka China punya kartu truft pesawat jenis ini. Dan China pasti tahu jeroannya. Artinya tidak pas juga jika jet tempur Sukhoi SU35 kita yang batal itu ditandingkan dengan merek yang sama dengan punya China.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Kemenhan. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendalanya. Sementara kita sangat membutuhkan alutsista strategis matra laut dan udara secepatnya. Harus ada prioritas untuk mendapatkannya meski jumlah dikurangi. Misalnya perolehan jet tempur Rafale. Tidak mengapa. Yang penting harus ada kontrak efektif untuk memastikan proses pembuatannya. Juga kontrak efektif kapal perang heavy frigate selain Iver Class. Tidak perlu sekaligus diteken semua. Tahap pertama, cukup 2 unit dulu dari Fincantieri. Yang penting pasti dan pasti itu penting sebagai unjuk kinerja.

Termasuk apakah dimungkinkan jika kita dipinjami dulu atau sewa 4-6 jet tempur Rafale untuk ditempatkan di Supadio AFB atau Natuna. Tinggal lobby pemerintah Perancis karena skema pengadaan Rafale adalah G to G, antar pemerintah. Hitung-hitung untuk memfamiliarkan atau membiasakan menggunakan jet tempur Rafale yang lincah itu. Masih lama menunggu sampai tahun 2027. Sementara dinamika Laut China Selatan (LCS) dipastikan akan semakin semrawut tahun-tahun mendatang kecuali jika China tobat dan sadar diri. Tapi jelas tidak mungkin. Ambisi penguasaan teritori China adalah untuk menguasai potensi sumber daya energi fosil yang ada di LCS demi masa depan rakyatnya yang berjumlah milyaran.

Demi marwah kedaulatan teritori, Indonesia harus mempercepat proses pengadaan alutsista. Tidak bisa tidak. Disamping terus menerus melakukan diplomasi cerdas dengan basis kerjasama ekonomi yang simbiosis mutualistis. Bukankah dunia kita saat ini sudah saling ketergantungan satu sama lain. Tidak bisa kita mengandalkan egoisme bernegara di dunia yang sudah satu networking ini. Maka diplomasi yang terus menerus akan menjadi jembatan silaturrahim antarnegara, salah satunya untuk mengurangi ketegangan di kawasan.

Memperkuat pertahanan negeri juga merupakan bagian dari strategi diplomasi. Dan saat ini kita sangat menantikan kehadiran sejumlah jet tempur fighter, kapal perang kelas berat, kapal selam gahar, berbagai jenis peluru kendali jarak sedang dan jauh untuk mengawal dan mempertahankan teritori kita. Ancaman terhadap kedaulatan teritori sudah nyata, di depan mata dan terang benderang, bukan lagi cerita fiksi. Siapa tahu tiba-tiba saja cuaca di LCS menjadi ekstrim dengan gelombang kejut berkarakter tsunami. Kita harus siap dengan kondisi ekstrim itu. Dan caranya harus mempunyai alutsista gahar secepatnya.

****

Jagarin Pane / 27 Desember 2021

Saturday, December 18, 2021

Ramai Berkunjung Ramai Bermanuver

Ada pemandangan tidak biasa yang menarik sepanjang bulan duabelas ini. Indonesia kedatangan berbagai delegasi negara sahabat. Ada yang dari AS,  Denmark, Perancis, Inggris, Rusia, Norwegia, Ceko, Polandia, India. Kunjungan beruntun tamu asing terhormat pejabat tingkat tinggi itu mulai dari Menlu, Wamenlu, Menhan sampai Duta Besar. Dan negara-negara itu adalah produsen alutsista tentu membawa misi beragam dan temanya pasti soal kerjasama pertahanan dan alutsista. Mereka datang bergelombang mengunjungi Jakarta, Surabaya dan Bandung. Bahkan ada yang datang serentak, dari AS dan Rusia.

Sementara dinamika di halaman bersama rumah besar ASEAN menjelang akhir tahun ini memberikan pemandangan mendung kelabu. Menggambarkan cuaca tidak cerah, tidak bersahabat. Hiruk pikuk berkepanjangan di Laut China Selatan (LCS) sudah memberikan persepsi luas di seluruh dunia bahwa kawasan ini adalah titik panas konflik berdurasi jangka panjang yang bisa menjadi pemicu pertempuran dahsyat di masa mendatang. LCS telah menjadi panggung besar rutinitas militer yang mempertontonkan pameran kekuatan bersenjata di permukaan laut, di dalam laut dan di udara.

Belum ada seminggu yang lalu angkatan laut dari 7 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Brunai) melakukan latihan tempur laut ARNEX bersama dengan angkatan laut Rusia di perairan Sumatera Utara dan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan angkatan laut Filipina juga mengadakan latihan perang dengan Pakistan di laut Filipina. Sementara itu beberapa kapal perang dan kapal Bakamla Indonesia istiqomah mengawal pekerjaan eksplorasi Migas di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Natuna Utara (LNU) yang diprotes dan didatangi kapal perang China. Juga di Ambalat ada KRI Raden Eddy Martadinata 331 bersama 4 KRI lainnya dengan dukungan 6 pesawat tempur Super Tucano dan 4 jet tempur T50 melakukan operasi gugus tempur laut interoperability berkesinambungan.

Menlu AS berkunjung ke Jakarta,  pastilah membawa misi penting untuk menarik Indonesia masuk dalam "pelukan dan pengaruhnya". Momennya adalah soal protes dan keberatan China terhadap pengeboran minyak di ZEE sah indonesia di LNU.  Sekaligus mengerahkan kapal perang dan coast guardnya disana selama berbulan-bulan. Sebuah contoh perilaku yang tidak menghargai code of conduct di LCS yang juga didengungkan Beijing. Tentu AS dengan kecerdasan dan kecerdikan berbasis hegemoni menangkap peluang itu. Dan Jakarta menerima kunjungan Anthony Blinken sebagai bentuk manuver diplomatik sebab akibat. Bahasa lugasnya begini: kalau ente mau menang sendiri jangan salahkan kalau kami will not neutral again. Tentu semua tahu siapa yang dimaksud.

Saat ini dan seterusnya sudah berlaku hukum pantang sepi di LCS. Selalu ada kabar harian iringan kapal perang berlalu lalang diantara ramainya kapal niaga yang melintas di perairan strategis ini. Termasuk kapal selam. Kapal perang dan coast guard China rutin melakukan patroli, provokasi, unjuk gigi, berkeliling LCS karena dia merasa lapak itu milik nenek moyangnya. Maka dijawab dengan diplomasi militer juga. Armada kapal perang AS, Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, India, Pakistan, Rusia juga mengambil bagian bermanuver di LCS atas nama hukum laut internasional dan kebebasan navigasi.

Protes China soal eksplorasi Migas di ZEE sah Indonesia ditanggapi KSAL dengan bahasa militer. Kita tidak gentar dan tidak ada satu yard pun teritori kita yang boleh diambil, tidak ada tawar menawar untuk urusan kedaulatan dan kehormatan NKRI. Sebuah ungkapan tegas dan membahana. Dan manuver berikutnya adalah KRI Malahayati 362 sebuah korvet anti kapal selam yang baru saja dimutakhirkan instrumen tempurnya, mengekspos tugasnya menjalankan misi pengawasan dan pengamanan submersible drilling platform. Melakukan pengawalan dan berkomunikasi dengan perusahaan pengeboran Migas di ZEE 77 mil di LNU. Bahasa militer dilanjut dengan manuver kapal perang.

Apa yang kemudian menjadi catatan kita adalah memberikan nilai plus untuk kepiawaian manuver diplomatik dan manuver militer yang baru dilakukan. China bagaimanapun telah menambah musuh baru yang terkait dengan klaim "lidah naganya". Pengiriman kapal perang China ke ZEE LNU dan dilanjut dengan protes diplomatik dicuekin Indonesia. Dia kirim coast guard kita kirim kapal Bakamla. Dia kirim kapal perang, kita kirim kapal perang. Sepadan kan. Tidak ada negosiasi soal itu, pengeboran berlanjut terus sampai sekarang. Tak lama kemudian Menlu AS datang, gayung pun bersambut meski tak perlu jual pernyataan. Itu cukup sebagai bahasa diplomasi.

Demikian juga soal kunjungan "bertubi-tubi" delegasi itu, kita sangat mengharap ada realisasinya. Jangan hanya ramai berkunjung dan ramai dikunjungi lalu to be countinued, when? Sudah jelas infeksi virus LCS itu sulit disembuhkan kecuali dengan menambah kapasitas imunitas pertahanan diri. Percepatan penambahan imunitas ini mutlak diperlukan, prioritas dan bersifat extra ordinary. Kepastian kontrak definitif pengadaan alutsista strategis menjadi penantian dan harapan bersama. Jangan sampai timbul kesan maunya banyak tapi bertele-tele. Maksud hati ingin memeluk gunung apa daya gunung Semeru meletus. Mau beli segudang tapi gudangnya belum ada. Kita ingin negeri ini punya alutsista berdaya gentar karena kita ingin mengumandangkan lagu maju tak gentar membela yang benar. Maju tak gentar tentu harus punya alutsista gentar, itu logikanya.

****

Jagarin Pane /18 Desember 2021

Monday, December 13, 2021

On Progress, Network Centric Warfare

Militer Indonesia saat ini sedang membangunkemembangkan sistem manajemen pertempuran modern terintegrasi. Konektivitas antar matra, intra matra dan unit-unit didalamnya diselaraskan sehingga diharapkan dapat memberikan kemampuan integrasi operasional dengan teknologi digital dalam doktrin perang modern. Software infrastruktur militer ini diprediksi rampung pada tahun 2023.

Nama program network digitalnya dikenal dengan C4ISR singkatan dari Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance and Reconnaissance. Perusahaan software dari Yunani SCYTALYS yang dipercaya Kemenhan RI membangun C4ISR, sudah berhasil membangun software interoperability network di Jepang dan Korea Selatan. Jadi kita yang ketiga neh.

C4ISR dibangun untukmemperkuat interoperabilitas antar satuan tempur TNI_AD, TNI_AL dan TNI_AU dalam satu komando dengan saling menghubungkan berbagai jenis alutsista yang memiliki berbagai macam data link. Aneka ragam alutsista kita seperti Sukhoi, F16, Fa50, Hawk, Super Tucano, Nassam, Oerlikon Skyshield, Astross, Nexter, kapal perang, kapal selam, radar, UAV harus bersinergi. Dalam sistem operasi militer di medan perang, semua platform terintegrasi ke markas komando. Sekaligus mengeliminasi friendly fire. Kan gak lucu dalam perang modern kok nembak konco dewe.

C4ISR memberikan kualitas sistem manajemen pertempuran modern, kombinasi jet tempur, UAV, radar, kapal perang, kapal selam, peluru kendali, dengan kinerja pertempuran yang lebih luas, jika dibandingkan Battle Management System (BMS) yang ruang lingkupnya lebih kecil. TNI AD sudah punya BMS lho, bisa kita lihat ketika beberapa kali melakukan latihan militer skala brigade. Satuan infantri, artileri, kavaleri, roket, peluru kendali, penerbad sukses melakukan uji interoperability antar batalyon.
****
Jagarin Pane

Friday, December 3, 2021

Apa Dia Bilang, Apa Kubilang

Akhirnya kan terjadi juga, cepat atau lambat. Apa dia bilang, apa kubilang. Dia bilang laut kita miliknya terus kubilang betulkan. Sudah lama aku mau bilang pada saatnya dia akan bilang laut itu punya dia. Bocoran surat diplomatik akhirnya merembes juga dan disebarluaskan kantor berita Reuters. Cepat atau lambat China akan berkata jelas pada kita, bahwa nine dash line nya memotong zona ekonomi eksklusif (ZEE) perairan Indonesia di Laut Natuna Utara (LNU). Lalu China bilang pada kita agar pengeboran gas di kawasan nine dash line nya dihentikan. Dan yang lebih mengherankan mengapa China keberatan dengan latihan militer gabungan Indonesia-AS.  Padahal pada waktu yang bersamaan secara estafet dan paralel militer AS melakukan latihan militer dengan Australia, dengan Filipina juga dengan Jepang.

Sebenarnya sejak awal latihan militer skala besar yang diberi nama Garuda Shield antara TNI AD dan US Army di Baturaja Sumsel, Ambawang Kaltim dan Makalisung Sulut Agustus 2021 yang lalu, diyakini membuat wajah Beijing masam. Dan terbukti kan. Kalau kita memantau detail teknis latihan militer skala besar itu yang melibatkan 1 brigade pasukan masing-masing negara, ini adalah latihan militer bertema counter attack, high class network centric warfare antara AS dan Indonesia. Salah satunya adalah mobilitas besar pasukan raider lintas udara kedua negara diberangkatkan dari Guam AFB di Pasifik dengan 9 pesawat angkut besar C17 Globemaster III milik AS langsung diterjunkan ke Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Luar biasa. Pasukan Indonesia diberangkatkan ke Guam lebih awal, tiga minggu sebelum penerjunan untuk penyesuaian dan koordinasi.

Garuda Shield sebenarnya sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Dan tahun ini adalah yang terbesar dengan kekuatan 5.000 prajurit kedua negara beserta sejumlah alutsista canggih. Mengapa baru sekarang diributkan China. Dan ketika negeri itu mengerahkan puluhan jet tempur dan pesawat pengebom nuklir melintasi ADIZ (Air Defence Identification Zone) Taiwan untuk memprovokasi, bukankah itu sebuah manuver militer yang membahayakan perdamaian. Dan China melakukan itu berkali-kali. Mana yang lebih  kasar diplomasi militernya antara mengerahkan puluhan jet tempur ke ADIZ Taiwan, "mengambangkan" kapal selam di selat Taiwan atau latihan militer Garuda Shield.

Keberatan China soal pengeboran minyak di Natuna dan latihan militer Garuda Shield dengan bahasa diplomatik menggertak tidak dijawab oleh Kemenlu RI. Setidaknya itu bunyi publikasinya. Ini sebuah sikap yang diniscayakan berkarakter wibawa. Dan memang harus begitu. Karena jelas sesuai konvensi hukum laut internasional UNCLOS 1982 hak berdaulat perairan ZEE Natuna dimiliki sah Indonesia. Harus dibedakan antara hak berdaulat di 200 mil ZEE dengan kedaulatan teritori 12 mil dari pantai. Kedaulatan teritori adalah hak mutlak pemilik teritori sedangkan hak berdaulat di ZEE, kapal-kapal asing bebas melintas namun tidak boleh mengambil sumber daya yang ada di ZEE.

Agak berlebihan kemudian jika China keberatan soal latihan militer kita dengan Paman Sam. Sementara angkatan laut China sesuka hati wira wiri di Laut China Selatan (LCS), apalagi kapal selamnya. Bisa saja kapal selamnya sudah memetakan selat Sunda, selat Malaka atau selat Lombok di jalur laut strategis ALKI 1 dan 2. Sudah tidak terhitung militer China memprovokasi Vietnam, Filipina dan Malaysia. Termasuk Indonesia. Eksplorasi dan pengeboran gas di ZEE Natuna "ditungguin" kapal coast guard dan kapal perang China berbulan-bulan sejak Juni 2021. Indonesia juga mengirim beberapa KRI dan kapal BAKAMLA untuk mengawal eksplorasi yang dilakukan perusahaan minyak Rusia dan Inggris. Eksplorasi jalan terus.

Dinamika diplomatik dan pengerahan kekuatan militer di LCS tentu menguras energi diplomasi dan sumber daya alutsista. Sementara Indonesia selama ini selalu berupaya bersikap netral manakala klaim China menggerus ZEE beberapa negara jiran. Dan ketika nota diplomatik China dilayangkan untuk pertama kali soal keberatannya terhadap eksplorasi gas di ZEE Natuna juga soal latihan Garuda Shield, mau tidak mau mengharuskan kita untuk mengambil sikap tegas, tidak netral lagi. Kita sudah satu barisan dengan Malaysia, Vietnam dan Filipina. Apalagi soal Garuda Shield sangat tidak pantas ada negara lain keberatan. Ketika China mengadakan latihan militer skala besar dengan Rusia setelah Garuda Shield tidak ada satupun negara di Indo Pasifik yang keberatan, terganggu dan protes. 

Pesan kuat secara militer dari dinamika terakhir ini adalah bersiap menghadapi segala kondisi terburuk.  Termasuk deklarasi Pakta AUKUS antara tiga negara "anglo saxon" Australia, Inggris dan AS. Pakta militer ini adalah jawaban strategis dan jangka panjang untuk memagari hegemoni militer regional China di Indo Pasifik. Aliansi AUKUS adalah rival setara untuk membendung ambisi China terhadap penguasaan teritori yang kaya energi tak terbarukan. Bagi Indonesia percepatan pengadaan alutsista strategis seperti kapal perang heavy frigate, kapal selam, jet tempur, uav, radar, peluru kendali jarak jauh adalah jawaban secara militer.

Semua yang dibutuhkan ini adalah investasi bidang pertahanan untuk menjaga dan melindungi eksistensi negara bangsa. Sama halnya ketika kita bicara soal investasi bidang ekonomi. Muaranya sama untuk eksistensi negara bangsa. Investasi atau pembangunan bidang ekonomi adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Investasi bidang pertahanan adalah untuk mengawal kesejahteraan dan kemakmuran. Dua-duanya harus seiring sejalan. China sudah bilang dia keberatan maka kita juga bisa bilang: kami juga keberatan kalau sampeyan keberatan.

****

Jagarin Pane / 3 Desember 2021