Friday, September 10, 2021

Antara Membaguskuatkan LCS Dan Papua

Menlu dan Menhan Australia mengunjungi Indonesia Kamis kemarin tanggal 9 September  2021. Sebagaimana model meeting bilateral yang lagi trend, diadakan pertemuan 2+2 antara Menlu dan Menhan kedua negara yang bertetangga dekat. Meeting bilateral dengan model yang sama sepanjang tahun ini sudah dilakukan antara Indonesia-Jepang, Indonesia-Korsel dan Indonesia-AS. Menlu dan Menhan sebuah negara adalah tampilan wajah kecerdasan dan kewibawaan. Diplomasi Menlu adalah wajah kecerdasan dan diplomasi militer Menhan adalah kewibawaan dan marwah negara.

Australia datang membawa hadiah 15 kendaraan tempur Bushmaster untuk digunakan sebagai alutsista mobilitas pasukan perdamaian Indonesia di perbatasan Lebanon-Israel. Namanya hadiah ya diterima saja bukan karena kita kekurangan alutsista di UNIFIL. Kita sudah jauh-jauh hari membawa 18 panser amfibi BTR8a dan 50 panser Anoa untuk pasukan TNI yang berkekuatan sekitar 1000 prajurit disana. Sementara itu PT Pindad bersama Australia saat ini sudah memproduksi puluhan kendaraan tempur lisensi Bushmaster yang nama produknya Sanca untuk Kopassus TNI AD.

Jelas Australia harus merangkul Indonesia sebagaimana yang sudah dan sedang dilakukan saudara tuanya Pakde Sam. Semua yang dilakukan mereka ini untuk membaguskuatkan bumper Laut China Selatan (LCS). Lihat saja perhatian AS kepada kita. Dia buka akses seluas-luasnya pengadaan alutsista untuk negeri kepulauan ini. Bahkan mereka sedang merancang Undang-Undang untuk membuka pintu ini secara legal dan jangka panjang. Tahun depan kita mulai menerima pesanan 6 unit pesawat Hercules model baru dari tipe J. Saat ini kita juga sedang memproses pengadaan jet tempur F15 Eagle, berbagai jenis helikopter tempur, peluru kendali dan lain-lain.

Demi bumper LCS Australia mau tak mau harus bermanis buka dengan tetangga besarnya di Utara. Ini yang disebut dinamika geopolitik dan geostrategis kawasan. Sama halnya dalam soal Timor Timur di penghujung abad 20, dia pula yang sangat sibuk dan rewel dengan permainan catur geopolitik dan geostrategis. Hasilnya Timor Leste merdeka melalui referendum. Nah sekarang demi bumper LCS negeri Kanguru itu mau tidak mau harus unggah ungguh, kulonuwun dan pasang wajah santun dengan Jakarta, sekaligus mengurangi frekuensi keusilan dan kerewelannya soal Papua. Beda dengan soal Timor Timur dulu, dia petintang petinting, arogan dan merasa menjadi pahlawan.

Bisa kita lihat selama dua tahun terakhir, pemberitaan keusilan " informalnya" tidak beriak, tidak bergema. Australia juga ingin mencontoh AS yang mengajak kita untuk latihan tempur bersama. Kita ketahui bersama, AS dan Indonesia baru saja sukses mengadakan latihan militer skala besar Garuda Shield di Baturaja Sumsel, Amborawang Kaltim dan Makalisung Sulut dengan mengerahkan ribuan pasukan dan alutsista canggih.  Kemudian latihan manuver udara antara jet tempur F16 TNI AU dan pesawat pengebom nuklir strategis B52 AS di Balikpapan. Dan terakhir latihan militer bersama untuk evakuasi, bantuan dan medis udara dengan mengerahkan pesawat Hercules kedua negara di Lombok. Sementara di AS saat ini ada 100 prajurit intai amfibi marinir Indonesia berlatih bersama USMC.

Terkait dengan soal Papua, kecerdasan diplomasi Indonesia tak perlu diurai disini. Yang jelas kita punya posisi tawar yang lebih berbintang karena posisi geostrategis dan geopolitik di LCS. Dan kita meyakini bahwa riak diplomatik yang disuarakan untuk mendiskreditkan Indonesia soal Papua tidak akan menggema kuat alias mati angin.  LCS adalah medan konflik durasi jangka panjang dengan skala terbesar di dunia.  Dan kita adalah bumper garis depan yang sangat dibutuhkan aliansi AS, Australia, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis. 

Begitu heboh dan meriahnya sejumlah negara membentuk barikade bulan sabit untuk mengurung China mulai dari India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Jepang. Pemain besarnya AS, Australia, Inggris, Perancis, Jerman, Kanada yang semua rumah mereka tidak berada di "kelurahan" LCS bahkan "kecamatannya" pun beda. Dan kita salah satu bumpernya. Mereka ingin kita kuat, padahal kita juga ingin kita kuat dan sudah kita lakukan dengan kemampuan dan cara kita.  Dalam bahasa diplomasi kita punya kalimat bersayap: Untuk membaguskuatkan bumper LCS tidak perlu memberi angin pada segelintir kelompok KKB di Papua. Itu jelas syarat tersirat dalam sinergi dan energi diplomatik sambil berjabat tangan, karena sesungguhnya tidak ada makan siang gratis.

****

Jagarin Pane / 10 September  2021

Saturday, September 4, 2021

Strategi Membeli Waktu di LCS

Diantara hotspot konflik di Indo Pasifik yang lebih siap bertarung adalah Taiwan versus China dan Korea Selatan lawan saudara sekandung Korea Utara. Konflik Taiwan-China sudah berlangsung sejak China komunis mengambil alih China daratan tahun 1948. Sementara perseteruan dua saudara sekandung Korea adalah korban sejarah perseteruan blok barat dan blok timur yang beradu hegemoni di tahun limapuluhan. Garis pemisah di Panmunjom adalah demarkasi gencatan senjata paling lama sedunia sejak 1953. Artinya secara teknis kedua Korea masih dalam kondisi perang to be continued.

Klaim China yang cari gara-gara di Laut China Selatan (LCS) dengan membentangkan nine dash line sepuluh tahun terakhir dan menggila sejak lima tahun terakhir membuat beberapa negara ASEAN tersentak. ASEAN yang selama lebih setengah abad ini mampu memupuk kehidupan di lingkungannya secara harmonis dan manis, tiba-tiba harus menerima gelombang panas akibat semburan api si lidah naga. Dan semburan itu diniscayakan menjadi "api abadi" demam berkepanjangan di halaman rumah besar ASEAN termasuk Indonesia.

Bedanya dengan Taiwan dan Korsel yang sudah ready for war, siap gelut neh, beberapa negara ASEAN yang berkonflik dengan China di LCS belum siap perang bahkan masih kedodoran untuk mengawal teritori hak berdaulat Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di LCS. Ini salah satu sebab mengapa kemudian China begitu arogan di LCS. Bandingkan dengan ketika dia mencoba menggertak Taiwan, negeri formosa itu punya daya kejut dan daya sengat mirip sarang tawon. Berani masuk  gua gebuk lu, kata si cabe rawit Taiwan. Dibelakangnya ada Uak Sam yang gagah perkasa sambil melipat tangan di dada.

Di LCS, mau menjalankan doktrin berani masuk digebuk, alat gebuknya belum setara dengan sarang tawonnya Taiwan dan Korsel. Belum ada nilai gentarnya dan ini dialami Vietnam, Filipina, Malaysia. sehingga kapal-kapal Coast Guard China (CGC) dengan dukungan kapal perangnya yang besar leluasa hilir mudik dan menduduki secara permanen beberapa pulau atol di Spratly dan Paracel. Beberapa diantaranya sudah menjadi pangkalan militer China. Di Natuna, Indonesia tidak mau kalah gertak. Jika ada CGC nyelonong di ZEE Natuna kita suruh keluar dengan kapal-kapal BAKAMLA dan KRI. Termasuk yang terakhir eksplorasi perusahaan minyak Rusia di ZEE Natuna yang dibayangi CGC kita bayangi juga dengan KRI Bung Tomo 357 dan sejumlah kapal BAKAMLA.

AS dan sekutunya di Eropa bersama Australia dan Jepang sudah memahami ketimpangan perbandingan kekuatan militer antara gajah China dan pelanduk beberapa negara ASEAN. Bahkan jika seluruh negara ASEAN digabung kekuatan militernya dengan China belum setara. Gak nendang tuh, kata Uak Panda. Makanya mereka silih berganti berpatroli di LCS. Armada kapal perang AS, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang hilir mudik meramaikan show of force lalulintas militer di LCS. Ini yang disebut strategi membeli waktu dengan berupaya menimbulkan efek gentar kepada pihak penyembur api klaim.

Indonesia saat ini sedang bergegas untuk memperkuat taring militernya. Skenario besar Menhan Prabowo dengan membeli berbagai jenis alutsista strategis dalam jumlah besar juga bagian dari strategi membeli waktu. Pihak sono dengan kacamata intelijen militernya tentu sudah lebih dulu tahu bahwa kita sedang memproses pengadaan 16 kapal perang heavy fregate, 4 kapal selam, 36 jet tempur Rafale, 12 jet tempur F15, sejumlah UCAV, pesawat early warning, radar GCI, helikopter, peluru kendali, dan lain-lain. Juga Filipina, Vietnam sedang berupaya memperkuat taji militernya dalam skala besar. Sementara Malaysia sejauh ini belum memperlihatkan kesungguhan dalam perkuatan militernya. Bisa jadi karena belum stabil jalannya pemerintahan negeri jiran itu.

Strategi membeli waktu secara militer sesungguhnya untuk mencegah agar waktu tidak terbeli oleh pihak lawan. Sembari beberapa negara ASEAN sedang membangun sarang tawon maka armada AS dan sekutunya bergantian mengawal perairan LCS sekaligus latihan militer bersama. Demikian juga jika beberapa sarang tawon ASEAN sudah jadi tetaplah berada dalam kawalan militer AS dan sekutunya. Kekuatan militer berkarakter sarang tawon juga dalam rangka strategi membeli waktu. Sarang tawon bisa saja disembur dan diobrak abrik si lidah naga tapi setidaknya sudah bisa menyengat dan menggebuk sambil menunggu kekuatan yang lebih perkasa dan hebat dari AS dan sekutunya.

Mengapa harus ada strategi membeli waktu dalam konflik di LCS, karena China unggul dalam radius jarak dan logistik militer sehingga dia unggul dalam ofensif militer secara dadakan. Latihan militer skala besar Indonesia-AS di Baturaja Sumsel, Amborawang Kaltim dan Makalisung Sulut belum lama ini, juga latihan manuver udara antara F16 TNI AU dengan pesawat pengebom nuklir strategis B52 AS di Balikpapan barusan, termasuk bagian dari strategi membeli waktu sekaligus skenario counter attack. Maksudnya jika memang China mampu mengobrak abrik pertahanan sarang tawon di Natuna maka latihan militer yang kemarin itu adalah skenario serangan balasan yang cukup dahsyat buat yang buat gara-gara. Anda jual kami beli.

****

Jagarin Pane / 4 September  2021

Saturday, August 28, 2021

Antara Antasena Dan Golok Kita Semakin Mekar

Karya inovasi berkualitas alutsista tank boat Antasena telah diluncurkan dan berenang cepat. Tak lama kemudian karya spektakuler yang lain KRI siluman Golok 688 dicempungkan PT Lundin di perairan Banyuwangi. Sementara itu PT PAL mendapat kucuran dana PMN 1,28 Trilyun, kemudian galangan kapal swasta nasional PT Daya Radar Utama (DRU) Lampung mendapat pesanan pembuatan 2 kapal perang jenis Offshore Patrol Vessel (OPV). Inilah Headline News yang beruntun dipublikasikan sepanjang pekan ini. Semuanya menggambarkan geliat industri pertahanan dalam negeri yang menggelora bergairah terutama inovasi dan keberaniannya.

PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembangunan 2 kapal perang TNI AL ukuran besar jenis LPD Hospital. Juga sedang membangun 3 kapal cepat rudal 60 mtr paket lengkap "dengan baretnya". Termasuk sedang menyelesaikan overhaul KRI Cakra 401. Pada saat yang sama perusahaan plat merah ini sedang mempersiapkan fasilitas pembangunan kapal perang yang dirindukan heavy fregate Iver Class dan kapal selam. Selain membangun kapal perang PT PAL juga sedang membangun kapal tanker sipil. Kesibukannya luar biasa.

TNI AD saat ini sedang menunggu kedatangan 18 tank Harimau yang diproduksi bareng Pindad dan FNSS Turki. Ini juga produk inovatif kreatif Pindad selain panser Anoa dan Badak. Prediksi kedepan TNI AD akan memesan sekitar 100 tank ini untuk batalyon kavaleri. Sementara yang sudah lebih dulu bersinar adalah batalyon armed (artileri medan) dan arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD. Batalyon armed sudah menerima berbagai jenis alutsista "tegangan tinggi" seperti Astross II Mk6 dari Brazil, Artileri Nexter dari Perancis, Artileri KH 178 dan 179 dari Korsel. 

Khusus untuk perkuatan pulau Kalimantan yang dipersiapkan menjadi ibukota negara, batalyon armed akan diperbesar dari kekuatan 2 batalyon saat ini menjadi 7 batalyon armed. Sementara untuk batalyon infantri sudah lebih dulu mekar membesar dengan menambah 5 batalyon anyar di pulau besar itu. Maka sangat dimungkinkan kalau batalyon kavaleri dan batalyon arhanud akan dimekarkuatkan dengan penambahan satuan dan alutsista produk dalam negeri dalam jumlah banyak.   Seperti panser Anoa, panser Badak, tank boat Antasena, tank Harimau, roket Rhan dan lain-lain. Termasuk alutsista gahar buatan negeri orang yaitu Leopard, Nassam2, Astross, Nexter dan lain-lain.

Sejumlah batalyon arhanud saat ini sudah mendapat alutsista canggih peluru kendali darat ke udara Starstreak buatan Inggris. Distribusinya merata di Sumatera dan Jawa. Ibukota Jakarta sekarang sudah dipayungi oleh satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah, nama produknya Nassam2. Kalau mau diurai sangat banyak program percepatan modernisasi militer Indonesia saat ini. Kita masih banyak membutuhkan satuan peluru kendali darat ke udara  jarak menengah untuk melindungi obyek vital dan pangkalan militer.

Untuk pengadaan alutsista strategis seperti jet tempur Rafale buatan Perancis dan F15 Eagle dari Paman Sam tinggal menunggu tanggal dan hari baiknya saja untuk "akad nikahnya". Kalau yang kemarin itu Rafale kan baru "lamaran alias tunangan dulu". Nah dalam waktu dekat segera "akad kredit" alias kontrak efektif. F15 juga begitu, semua berpacu dengan waktu, siapa cepat dia dapat, gak pake lama, gak pake basa basi sebab Republik ini butuh alutsista teknologi tinggi secepatnya.

Khusus untuk tank boat Antasena dan KRI Golok 688 adalah hasil karya inovasi  anak negeri yang mengagumkan. Lundin berani membuat produk inovatif yang luar biasa. Juga pembuatan kapal perang OPV yang dikerjakan perusahaan swasta nasional. Dalam pandangan kita Lundin dan DRU telah dan sedang melakukan proyek inovasi dan kreativitas ditengah geliat kesibukan industri pertahanan dalam negeri. DRU sudah menyelesaikan pembangunan 7 kapal perang jenis LST untuk TNI AL. 

Jujur saja kita katakan antara Antasena dan Golok kita semakin mekar, seperti syair antara Anyer dan Jakarta kita jatuh cinta. Bisa juga ditambahkan liriknya, antara Lampung dan Banyuwangi kita terkesima dan jatuh cinta. Atau antara Antasena dan Golok berbaris rapi Anoa, Badak, Harimau, Turangga, RHan, KAL, KPC, KCR, LST, BCM, LPD, Korvet, UAV Elang Hitam. Semuanya adalah jenis alutsista buatan anak negeri. Artinya produk industri pertahanan kita sekarang semakin mekar dan berkibar.

****

Jagarin Pane / 28 Agustus 2021

Sunday, August 8, 2021

Garuda Shield, Mengingatkan Dan Menguatkan

The real exercise dari uji strategi manajemen pertempuran modern diperlihatkan di ajang Garuda Shield yang sedang berlangsung sejak 1 Agustus sampai dengan 14 Agustus 2021. Salah satu serial yang monumental adalah penerjunan 500 pasukan gabungan lintas udara AS-Indonesia dari titik pemberangkatan di Guam Pasifik menuju Baturaja Sumsel dengan 9 pesawat jet besar bermesin 4 Boeing C17 Globemaster III milik Paman Sam. Jarak Guam-Baturaja setara dengan jarak Sabang-Merauke dan pesawat angkutnya adalah yang terbesar milik AS. Luar biasa.

Militer Indonesia mendapatkan ilmu terapan manajemen pertempuran gabungan dan networking militer. Kita ketahui strategi militer AS dalam setiap operasi militer adalah berbagi peran bersama rekan sekutu. Bisa saja kita sudah dianggap sekutu menurut dia. Latgab terbesar sepanjang sejarah republik ini melibatkan sekitar 5000 pasukan angkatan darat kedua negara dengan sejumlah alutsista canggih. Bukan sekedar latihan militer biasa tetapi lebih pada bahasa show of force dan diplomasi militer bertema mengingatkan dan menguatkan. Gengsi Latgab ini bernilai cum laude karena mitra latihannya adalah militer AS yang striking forcenya number one in the world.

Bagaimanapun setiap negara punya cara dalam menjalankan diplomasi militer karena sesungguhnya cara militer adalah cara terakhir untuk menyelesaikan perselisihan dan konflik. Ketika otak cerdas para diplomat tidak mampu lagi menyelesaikan secara diplomatik maka jalan militer adalah pamungkasnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa tekanan militer China di Laut China Selatan (LCS) membuat sebagian negara ASEAN  yang dilibas nine dash linenya "tertekan bathin" dan tidak nyaman. Wajar kalau ketidaknyamanan ini kemudian membuat negara-negara ini melakukan berbagai cara penguatan militer seperti memperkuat alutsista dan kolaborasi.

Indonesia menyikapi dinamika LCS berdurasi jangka panjang dan awet ini dengan memperkuat tentaranya, menambah dalam jumlah besar berbagai jenis alutsista canggih. Cara lain yang dikenal dalam diplomasi militer adalah melakukan kerjasama militer, salah satunya menggelar latihan gabungan dengan AS berskala besar.  Dinamika LCS adalah pertaruhan paling kritis dan paling mematikan dibanding perselisihan diplomatik dan pertempuran di belahan dunia manapun. AS sekarang sudah meninggalkan Irak dan Afghanistan. Wilayah Teluk sudah dinomorduakan. Nomor satu adalah kawasan Indo Pasifik yang didalamnya ada LCS.

Garuda Shield adalah arena untuk mengingatkan dan menguatkan secara militer.  Bahwa ketika krisis LCS berubah menjadi perang terbuka, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus ikut berkelahi, bersekutu, beraliansi dan bersinergi secara militer. Palagan LCS ada di halaman rumah kita. Dan halaman rumah kita itu juga sebagian diklaim pemilik nine dash line. Maka kita juga punya tanggung jawab menyelamatkan, mengamankan dan menyamankan "lingkungan RT kita" dari gangguan dan arogansi "penghuni RW" sebelah.

Dari sisi penguatan militer, Indonesia sedang mempersiapkan pengadaan alutsista secara besar-besaran. Kita mencatat deal awal pengadaan 36 jet tempur Rafale, 6 jet latih tempur T50. Kemudian pengadaan 6 kapal perang fregat Fremm Class, 2 kapal perang fregat Maestrale Class dan 1 kapal selam tonase besar. Yg sedang dalam proses pembangunan adalah 2 kapal perang Iver Class. Dari Jepang ada kabar baik bahwa kita sedang bernegosiasi untuk mendapatkan 6 kapal perang fregat siluman Mogami Class. Dari dalam negeri industri pertahanan strategis mendapat pesanan berbagai jenis alutsista tiga matra.

Dengan AS lebih banyak lagi prediksi perolehan alutsista untuk kita. Karena AS sedang membuka pintu kemudahan bagi Indonesia untuk mendapatkan jet tempur F15, F16, Hercules anyar, helikopter Chinook, Blackhawk, peluru kendali dan lain-lain. AS saat ini sedang mempersiapkan Undang-Undang untuk akses persenjataan seluas-luasnya bagi Indonesia, Malaysia, Vietnam, Taiwan dan Filipina.  Secara tersirat sejatinya AS sedang berupaya dan menginginkan Indonesia berada dalam barisan kebersamaan otot militer melawan arogansi nine dash line.

Masa depan kemuraman ada di lingkungan kita dan kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk itu. Caranya dengan memperkuat militer mendatangkan alutsista berkualitas, cangggih dan dalam kuantitas yang mencukupi. Kemudian melakukan latihan gabungan dengan AS dan negara lain adalah salah satu cara bersimulasi bahwa kita punya teman dan sahabat berkolaborasi secara militer. Mengingatkan dan menguatkan ini adalah strategi gerak gentar untuk gizi adrenalin militer. Kita harus melakukan itu sebagai antisipasi jika badai LCS menyapu semua harapan aman, nyaman dan damai.

****

Jagarin Pane / 8 Agustus 2021

Wednesday, July 28, 2021

Memaknai Latgab Terbesar AS-Indonesia

Ribuan tentara AS memasuki teritori Indonesia dari tiga tempat yaitu Palembang, Bandar Lampung dan Balikpapan. Ada apa gerangan, ternyata ada hajat besar bersama untuk latihan gabungan (latgab) khusus angkatan darat.  Tentara US Army secara bergelombang diterbangkan ke Palembang dan Balikpapan dan diterima di Bandara dengan Prokes ketat. Sementara berbagai jenis alutsista didaratkan di Pelabuhan Panjang Bandar Lampung. Pengiriman pasukan AS terbesar adalah di Puslatpur TNI AD di Baturaja, sekitar 2.300 prajurit. Indonesia juga mengerahkan kekuatan yang sama untuk menggemakan Garuda Shield sebagai papan nama Latgab.

Dua titik latihan itu sesungguhnya strategis dalam skenario kolaborasi "mengurung" China, dari sudut pandang AS tentu saja. Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur adalah titik tumpu terdepan untuk mobilisasi tentara "Sekutu" jika terjadi ofensif besar-besaran menuju garis serang ke sejumlah pangkalan militer China di Laut China Selatan (LCS). Misalnya China berhasil menduduki Natuna maka counter attack dan pengerahan pasukan "Sekutu"  bisa dilakukan dari kawasan ini.

Latgab terbesar sepanjang sejarah Indonesia ini yang melibatkan kekuatan masing-masing 1 brigade kedua negara tidaklah sekedar menyelesaikan kurikulum latihan di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel dan Amborawang Kaltim. Ada pesan yang sangat kuat disana, selain mendekatkan hubungan militer kedua negara sekaligus sebagai bagian dari diplomasi militer juga bisa menjadi opsi pangkalan aju next time bagi militer AS dan sekutunya manakala pecah perang terbuka dengan China. Bisa saja kan, karena suasana sudah darurat militer maka pilihan pijakan pun bersifat darurat.

Dalam skenario manajemen pertempuran kelas berat ini pangkalan militer AS di Darwin dan Cocos dari poros Selatan dianggap terlalu jauh dari garis depan palagan LCS. Maka berdasarkan kacamata intelijen militer AS, Sumsel adalah titik tumpu Cocos dan Kaltim adalah titik tumpu Darwin. Terus ke Utara ada Filipina karibnya AS sejak lama, juga ada Taiwan sebagai benteng terdepan, kemudian ada Okinawa sebagai pangkalan militer besar AS. Sekedar catatan ketika terjadi perang Vietnam, AS menggunakan 2 pangkalan militer di Filipina sebagai pangkalan aju untuk membombardir Vietnam. Yaitu Subic untuk angkatan laut dan Clark untuk angkatan udara AS.

Coba kita perhatikan dan cermati peta geostrategis dan geo politik strategi militer AS dan sekutunya di Indo Pasifik yang mengurung China mirip bulan sabit setengah lingkaran. Ini sama dengan strategi AS mengurung Iran, merangkul dan membangun pangkalan militer di negara-negara Teluk, juga mirip bulan sabit. Hebat dan cerdiknya AS itu kalau terlibat perang tidak pernah di teritori negeri sendiri, selalu "merantau" jauh ke negeri orang. Dan cirinya adalah keroyokan alias persekutuan lalu minta bayaran. Contohnya perang Teluk jilid satu dan dua.

Yang membuat suasana LCS seperti episode drama dalam waktu yang sama dengan kedatangan ribuan pasukan AS ke Indonesia, kapal induk Inggris  HMS Queen Elizabeth bersama sejumlah kapal perang pengawalnya sekarang sudah tiba di perairan LCS. Ini juga bagian show of force dan diplomasi militer "saudara sepupu" AS yang selalu seiring sejalan menunjukkan  kesetiaannya pada sepupunya. Bahkan Inggris sudah menyatakan dengan tegas akan menempatkan 2 kapal perangnya secara permanen di kawasan Indo Pasifik awal September tahun ini. Makin ramai saja suasana hiruk pikuk lintas laut militer di kawasan ini.

Bagi Indonesia manfaat Latgab selama dua minggu ini sangat berguna untuk prajurit TNI AD, menimba ilmu manajemen pertempuran modern network centric warfare.  Termasuk 100 prajurit raider TNI AD yang dikirim ke AS untuk berlatih sampai sekarang sudah mencapai 2 angkatan. Selama ini Indonesia banyak melakukan latihan militer dengan negara-negara sahabat. Namun nilai tambah dari Latgab bilateral dengan Paman Sam kali ini adalah pengerahan pasukan yang terbesar ditengah situasi kawasan regional yang ngeri-ngeri sedap. Makna tersuratnya adalah sebagai penguat diplomasi militer kedua negara.  Dan secara tersirat bisa saja sebagai simulasi skenario opsi jika terjadi perang terbuka dengan naga di seberang laut lor, mboten laut kidul lho, ojo keliru.

****

Jagarin Pane / 27 Juli 2021

Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, July 20, 2021

Mengayuh Ditengah Pandemi

Pandemi Covid19 menggerogoti semuanya, menggerogoti bumi bulat bundar. Termasuk tanah tumpah darah negeri kepulauan khatulistiwa. Suasana belum reda, masih berkecamuk dan belum akan berakhir. Kemampuan bermanajemen krisis untuk mengelola dan mengatasi wabah global ini adalah cobaan terberat bagi semua pemerintahan di dunia. Dan perjalanan cobaan ini masih akan terus mengemuka sampai terciptanya herd immunity komunal.

Meski demikian kita tidak boleh terpaku oleh dahsyatnya wabah ini, sudah dan sedang kita lawan dengan prokes dan vaksin. Dalam kondisi seperti ini kita juga harus tetap membingkai pemikiran strategis posisi geostrategis dan geopolitik negeri di tengah ketidakpastian dan ketidaknyamanan dua hotspot perbatasan yaitu Natuna dan Ambalat. Eksistensi negeri tidak akan hilang oleh sebab adanya wabah namun menjaga dan menguatkan teritori adalah bagian dari perjuangan eksistensi dan marwah kedaulatan bernegara.

Maka persetujuan Kementerian Keuangan meluluskan anggaran sebesar US$600 juta melalui paket pinjaman luar negeri untuk membeli 1 kapal selam striking force tonase besar sejatinya adalah merealisasikan formula strategis jangka pendek pertahanan kita. Seperti ketahui dari 4 kapal selam yang dimiliki Indonesia semuanya bertonase maksimal1400 ton. Dan jika dibanding dengan semua negara ASEAN yang memiliki armada kapal selam seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia, jelas kita tidak setara apalagi jika berhadapan dengan kapal selam China.

Laut China Selatan (LCS) dipastikan tidak akan normal lagi sebagaimana keadaannya dulu. Yang kita sedang dan akan hadapi terus menerus secara jangka panjang adalah "new normal"nya. Yaitu ketidakharmonisan, ketidakamanan, ketidaknyamanan yang harus diwaspadai, diantisipasi, dikawal dan dipelototi siang malam pagi sore. AS sudah menyatakan secara terang benderang bahwa musuh potensialnya sekarang dan masa depan adalah China. Salah satu palagannya adalah LCS. Dan ingat AS tidak akan pernah sendirian menghadapi setiap konflik regional. Untuk menghadapi China di LCS dia bawa rombongan besar dan tangguh, Inggris, Perancis, Jerman, Australia, Jepang, Kanada. Termasuk "ngomporin" India untuk ikut buka front di Himalaya.

Armada angkatan laut kita saat ini sedang dikembangkuatkan. Tercatat yang sudah mengemuka adalah pengadaan 2 kapal perang Iver Class, 6 kapal perang Fremm Class dan 2 kapal perang Maestrale Class. Sejalan dengan itu armada bawah air kita secepatnya juga harus ditambah. Luasnya perairan dan kemampuan deteren kapal selam kita mau tidak mau harus diperkuat dengan kualitas gempur senyap. Jangan sampai terjadi begini, sudah tidak punya kemampuan striking force yang setara, berisik pula kehadirannya. Salah satu kekuatan dan kehebatan teknologi kapal selam adalah kemampuan senyap dan silumannya.

Kita menyambut gembira upaya Kementerian Pertahanan untuk memperkuat armada kapal selam,  termasuk program percepatannya. Pengadaan 1 kapal selam segera tidak saja untuk menggantikan KRI Nanggala 402 yang eternal patrol namun juga untuk meningkatkan daya gebuknya.  Armada kapal selam adalah bagian dari sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL dan sangat menentukan perannya dalam manajemen dan teknologi pertempuran modern. Kita membutuhkan secepatnya, maka prediksi yang diambil adalah kapal selam eksisting negara lain yang masih beroperasi dan tidak ketinggalan teknologi. Membangun kapal selam baru mulai dari proses pengadaan sampai barang dikirim butuh waktu 5-6 tahun.  Padahal kita sangat butuh herder bawah laut untuk Natuna. Penting juga untuk diketahui pengadaan 1 kapal selam besar ini diniscayakan untuk menguathebatkan kembali motto semangat "tabah sampai akhir" bagi korps Hiu Kencana. Menhan Prabowo sangat paham dengan kondisi psikologi ini.

Mengayuh ditengah pandemi adalah perjalanan berat yang harus dilalui. Kita sangat meyakini perjalanan wabah ini harus dihadapi  dengan "tabah sampai akhir". Dan diujungnya pasti ada horizon cerah yang akan mengakhiri gelombang badai hebat ini. Dan seberat apapun perjalanan saat ini kita tidak boleh lengah dengan badai yang juga sudah jelas tampak, mulai beriak, potensi konflik skala besar di kawasan Natuna. Ini bukan konflik kaleng-kaleng alias sebatas konflik antar pelanduk. Ini potensi konflik antar gajah yang luar biasa dampaknya. Kita harus bersiap menjaga perdamaian kawasan dan bersiap pula untuk menghadapi kondisi terburuk. Bersiap menghadapi kondisi terburuk tentu dengan pengawalan teritori yang kuat. Kapal perang heavy fregate dan kapal selam serbu adalah alat pukulnya, pre emptive strike. Dan asal tahu saja sampai saat ini kita belum punya.

****

Jagarin Pane / 20 Juli 2021

Sunday, July 4, 2021

Mengukur Kinerja Strategis Menhan

Geliat di Kementerian Pertahanan saat ini benar-benar menggairahkan. Kerja smart berkapasitas extra ordinary sedang dilakoni untuk memberikan kepastian kehadiran sejumlah alutsista strategis secara kualitas dan kuantitas borongan. Negara produsen alutsista luar negeri ikut merasakan suasana gairah ini. Adalah Perancis, Jerman, Italia, AS, Jepang dan Turki akan mendapatkan percikan rezeki milyaran dollar. Kurikulum baru yang diimplementasikan Kemenhan dipastikan membuat industri pertahanan dalam negeri baik BUMN dan swasta nasional berkibar mekar meriah. Termasuk jumlah tenaga kerja yang akan diserap karena produsen luar negeri sebagian membangun produknya disini dengan transfer teknologi dan pola offset.

Perjalanan Menhan Prabowo ke Perancis dan Jerman kemarin sangat diyakini akan membawa oleh-oleh berbagai jenis produk alutsista canggih.  Dari Jerman misalnya prediksi oleh-oleh itu adalah 5 kapal selam tangguh dan canggih sebagai supporting spirit untuk Hiu Kencana TNI AL, 100 Tank Leopard, 100 Tank Marder untuk Kavaleri TNI AD, Oerlikon Skyshield batch 3 untuk Paskhas, Oerlikon Skyranger untuk Marinir, Millenium Gun untuk KRI dan lain-lain. Jerman adalah produsen alutsista berkualitas bahkan khusus untuk produk kapal selam negeri ini adalah "mbah"nya. Kapal selam Cakra Class kita adalah produk Jerman. Kita juga sudah memiliki 100 Tank Leopard dan 50 Tank Marder yang dibeli dari Jerman di era Presiden SBY.

Sejauh ini kita apresiasi Prabowo yang sedang berkonsentrasi penuh untuk menjalankan amanahnya, menunjukkan kinerjanya sebagai Leader yang tidak pernah keder dalam setiap penugasan. Sebagai Leader di Kemenhan dia berusaha mereformasi pola pengadaan alutsista dari B2B menjadi G2G. Perubahan ini tentu banyak memotong "jalur simpang susun" yang selama ini menjadi pola "berlalulintas". Prabowo juga menunjuk negosiator independen dari luar negeri bernegosiasi dengan AS untuk membeli sejumlah jet tempur F15 dan lain-lain. Ini dilakukan untuk memastikan mendapatkan kewajaran harga dan teknologi yang diusung  produk alutsista made in Pakde Sam.

Gerak cepat, tidak bertele-tele, berkunjung face to face ke negara produsen alutsista adalah patron kuat yang diperlihatkan Prabowo untuk merealisasikan G2G dalam prosedur pengadaan alutsista. Terutama untuk memastikan kepantasan harga alutsista dan teknologinya, harga sewajarnya, harga normal. Sekedar beranalogi, laporan keuangan yang telah diaudit dan menghasilkan kriteria terbaik,  dengan sebutan "wajar tanpa pengecualian". Jadi Auditor tidak pernah menyebut laporan keuangan telah disusun secara benar, melainkan wajar. Demikian juga harga produk, yang wajar dong, mark up nya gak kebangetan. Maka untuk mendapatkan informasi itu ditempuh melalui G2G, antar pemerintah dan membawa nama baik pemerintahan. Kerjasama antar pemerintah tentu menjaga marwah dan wibawa negara masing-masing, itu pakemnya.

Kerja extra ordinary kemenhan masih berproses dan baru ada di langkah perdana. Dalam proses fast and smart ini termasuk mengelola anggaran hampir 300 trilyun rupiah melalui jalur pinjaman luar negeri untuk dibelanjakan seluruhnya sepanjang tahun 2021 tentu banyak fitnahnya. Sudah pasti itu. Ukuran Kinerja Kemenhan secara tujuan baru akan terlihat di tahun-tahun mendatang.  Dan secara proses kinerja sampai saat ini Prabowo dalam pandangan kita memberikan sinyal konstruktif dengan harapan yang besar bisa dilaksanakan dengan amanah, istiqomah dan fathonah. The New Patron Kemenhan ini diniscayakan menjadi jembatan kekuatan bagi kita dengan sebuah tujuan besar yang sangat ditunggu, kehadiran berbagai jenis alutsista strategis dan gahar secepatnya, dalam jumlah besar dengan kualitas teknologi terkini. InsyaAllah.

****
Jagarin Pane / 04 Juli 2021

Friday, June 25, 2021

Menunggu Kabar Baik Berikutnya

Baru saja ada kabar baik, pemerintah menyetujui  anggaran khusus pembelian alutsista untuk tahun 2021 sebesar US$ 20,7milyar setara dengan 298,08 Trilyun melalui pinjaman luar negeri (PLN). Jika anggaran ini dikaitkan dengan pembelian 36 jet tempur Rafale dan 6 kapal perang Fremm maka masih terbuka peluang untuk memperoleh alutsista strategis lainnya seperti 12 jet tempur F15 Eagle II, 8 kapal perang fregat Mogami Class dari Jepang, 4 kapal selam dari Perancis atau Jerman dan lain-lain. Alhamdulillah.

Sebentar, jangan kemudian lantas bilang gede amat, atau banyak banget. Penjelasan sederhananya begini, anggaran sebesar US$ 20,7 milyar itu duitnya ada di pinjaman luar negeri, tidak ada di kas APBN. Nanti kita yang bayar cicilan dengan limit bisa 25-30 tahun dengan bunga ringan, soft loan.  Dan ini setara dengan nilai manfaat atau kegunaan investasi alat pertahanan yang bisa mencapai umur ekonomis dan teknis 30 tahun. Mirip seperti kita membeli rumah dengan pola KPR, bayar uang muka dulu. Rumah sudah jadi bisa kita tempati, pihak Bank bayar lunas ke pengembang dan kita bayar angsuran ke Bank bisa sampai 15-20 tahun. 

Pemerintah Perancis diprediksi akan menanggung 80-90% dari nilai kontrak pembelian alutsista made in France, yang kemudian menerima cicilan pembayaran dari pemerintah Indonesia dengan durasi 25-30 tahun. Semua diawali dengan kontrak efektif dimana pihak pembeli alutsista  membayar uang muka. Jepang sudah memberi lampu hijau soal soft loan ini. Kalau tercapai kesepakatan membeli 8 fregat Mogami Class maka model angsurannya persis seperti Perancis. Sekedar catatan, KRI Irian kapal terbesar jenis penjelajah yang dibeli dari Uni Sovyet  di era Trikora tahun 1962 cicilannya baru lunas tahun 1984. Beli 40 jet tempur Hawk dari Inggris tahun 1990, baru lunas tahun 2014.

Dengan anggaran sebesar itu maka tahun 2021 ini Kementerian Pertahanan sedang dan akan belanja besar dengan pola G2G (antar pemerintah). Artinya kita akan mendapatkan kabar yang menggembirakan dalam program menguatkan otot alutsista tentara kita. Yang sudah mendapat lampu hijau dari Kementrian Ibu Sri Mulyani adalah pengadaan 2 unit pesawat jet tanker pengisian BBM di udara untuk jet tempur TNI AU. Saat ini kita hanya memiliki satu unit pesawat tanker Hercules karena satu Hercules tanker yang lain jatuh ketika take off di Medan sepuluh tahun lalu. Jadi harus ditambah dengan prioritas cepat datang. Juga sudah ada kepastian kontrak pengadaan 5 pesawat Hercules type J dari Pakde Sam dan puluhan radar jenis GCI. Wah belanjanya borongan neh pak Sultan,  kata gadis front office produsen alutsista dengan mata berbinar indah karena produk perusahaannya laku besar.

Reformasi belanja alutsista dengan model beli borongan dan "bergaya Sultan" sesungguhnya membawa marwah dan kebanggaan kita. Betapa tidak, selama ini kita selalu berbelanja model ketengan, eceran alias tidak full combat. Contoh beli jet tempur Sukhoi, mula-mula dibeli 4 biji kosongan di era Megawati. Dilanjut dengan tambahan 6 biji tanpa senjata di era SBY periode pertama. Lalu nambah lagi 6 unit di era SBY periode kedua dan baru dilengkapi persenjataan rudal. Butuh waktu hampir 10 tahun hanya untuk menggenapi 1 skadron jet tempur Sukhoi SU27 dan SU30. Ini yang direformasi saat ini, beli banyak sekaligus dan full combat, bayarnya angsuran, sama saja kan.

Yang kita tunggu juga adalah kepastian melanjutkan proyek pengembangan teknologi jet tempur KFX/IFX dan pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2 melalui transfer teknologi dengan Korsel. Dua proyek strategis dan bergengsi ini memang harus disikapi dengan diskusi panjang, cerdas dan detail untuk memastikan keandalan teknologi didalamnya. Program KFX Korsel saat ini sedang menyiapkan beberapa purwarupa yang sedang diisi jeroannya dengan mesin, avionik, radar dan teknologi instrumen tempur lainya. Kuartal pertama tahun depan sudah uji terbang.

Tahun depan diniscayakan kucuran anggaran PLN khusus beli alutsista akan semakin besar lagi. Artinya akan banyak lagi pesanan pembelian baik dari industri pertahanan dalam negeri maupun dari produsen luar negeri. Untuk industri pertahanan dalam negeri peluang besar mendapat order pengadaan alutsista sangat terbuka luas. Kita meyakini akan ada penambahan pesanan dalam jumlah besar untuk pengadaan tank Harimau, panser Anoa, panser Badak, roket RHan produksi PT Pindad.  Prediksi kedepan dan dalam waktu singkat seluruh industri pertahanan dalam negeri akan panen raya pesanan berbagai jenis alutsista.

Saat ini saja PT PAL paling ramai pesanan.  BUMN matra laut ini sedang mengerjakan pembangunan 3 kapal cepat rudal (KCR) 60m paket lengkap, pembangunan 2 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit dan overhaul kapal selam KRI Cakra. Prediksi ke depan sudah banyak antrian order untuk kerjasama membangun  2 kapal perang striking force Iver Class, kerjasama membangun kapal selam proyek Nagapasa batch2, kerjasama membangun kapal perang Bergamimi Class dan lain-lain. Masa depan PT PAL sangat diyakini menjadi titik tumpu penguasaan teknologi pembuatan kapal perang jenis KCR, LPD, korvet, fregat dan kapal selam.

Industri pertahanan swasta nasional juga sedang mekar bercahaya. Semua galangan kapal swasta nasional mendapat berbagai order pembangunan sejumlah kapal patroli cepat, KAL, kapal Bakamla, kapal KKP, kapal Bea Cukai, kapal Polairud. Dan "merawat inap" beberapa kapal perang jenis LST lawas. Bahkan ada industri pertahanan swasta nasional yang berinisiatif membuat tank boat dan kapal perang trimaran yang sangat dinantikan kehadirannya. Dan ini- tolong dicatat dan diingat- bahwa sepanjang sejarah perjalanan republik, baru sepuluh tahun terakhir ini industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta nasional bangkit, berkembang pesat dan sudah mampu menguasai sejumlah teknologi alutsista canggih. Luar biasa, sebuah kebanggaan nasional tapi luput dari pemberitaan.

****

Jagarin Pane / 25 Juni 2021

Saturday, June 12, 2021

Si Vis Pacem Para Bellum

Sekarang orang ramai membahas dan mengikuti petunjuk soal imunitas, pertahanan diri untuk menangkal ancaman berbagai penyakit menular utamanya Covid19. Imunitas sejatinya dibangun dengan konsep peribahasa latin Si Vis Pacem Para Bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Imunitas juga begitu, jika ingin sehat bersiaplah untuk sakit. Caranya perkuat pertahanan diri seakan-akan kita mau sakit. Imunitas dicapai setelah ada imunisasi dan vaksinasi yang nota bene adalah model latihan perang menghadapi berbagai ancaman virus agar tubuh kita tetap sehat wal afiat.

Kabar yang sangat dinanti dan membanggakan, kementerian pertahanan baru saja menandatangani kontrak awal pembelian 36 jet tempur Rafale buatan Perancis dan 6 kapal perang fregat Fremm dari Italia. Dan pada bulan-bulan mendatang diprediksi akan banyak lagi penandatanganan sejumlah alutsista strategis untuk militer Indonesia. Masih ditunggu finalisasi pengadaan jet tempur F15 Eagle2 dan atau F16 Viper. Dua-duanya dari AS sebagai realisasi penyeimbang program GSP (Generalized System of Preference) pemerintah AS. Seperti kita ketahui AS selama berpuluh tahun berbaik hati kepada kita dengan meringankan dan menihilkan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam sehingga kita surplus neraca perdagangan dengan AS. Program besar Kemenhan untuk segera mendatangkan sejumlah alutsista canggih dan berkelas secepat mungkin dari sejumlah negara selayaknya kita apresiasi karena sesungguhnya harus diakui bahwa imunitas pertahanan negeri ini masih lemah.

Selama ini proses pengadaan alutsista selalu membeli dengan model FFBNW (Fit For But Not With) alias beli ketengan. Contoh pengadaan 2 kapal perang light fregat Martadinata Class setelah jadi dan bisa berenang tapi belum punya senjata. Baru setelah tiga tahun berlayar dilengkapi satu persatu sistem manajemen pertempurannya untuk bisa bertarung di empat dimensi yaitu perang antar kapal permukaan, perang anti kapal selam, perang anti serangan udara dan perang elektronika. Demikian juga dengan pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 Id, tidak serentak dengan persenjataan rudalnya.

Model pengadaan ketengan yang seperti ini yang ingin direformasi Kemenhan dan sudah dimulai dari pengadaan 2 kapal perang fregat Iver Class made in Denmark yang dibeli secara paket lengkap termasuk program alih teknologi. Termasuk juga mengubah metode pengadaan dari B2B (business to business) menjadi G2G (government to government). Model G2G diharapkan bisa mempersingkat dan memutus mata rantai proses pengadaan yang bernama Salesman. Kemenhan sedang melakukan kerja smart dan extra ordinary untuk segera memenuhi berbagai jenis persenjataan tiga matra agar kekuatan pertahanan kita bisa memenuhi herd immunity.

Sampai saat ini kalau ada yang bertanya dari sudut militer imunkah kita di perairan Natuna.  Jawabnya tidak karena kekuatan pertahanan teritori kita terhitung lemah. Memang sudah ada basis militer brigade komposit dan sejumlah alutsista disana tapi masih jauh dari kriteria memadai. Untung saja "virus" yang datang baru setingkat Coast Guard yang nota bene bukan antibiotik. Coba kalau yang datang Destroyer China, daya pukulnya bisa menghancurkan sel-sel pertahanan diri kita di Natuna. Itu sebabnya target mendatangkan 16 kapal perang fregat, 4 kapal selam penyengat, dan 48 jet tempur dalam waktu sesingkat-singkatnya adalah dalam rangka memenuhi kriteria mempunyai kekuatan pukul dan daya tangkal yang setara.

Kalau mau berjaya dan disegani maka kekuatan pertahanan diri negeri kita tidak bisa tidak, mau tidak mau, suka tidak suka harus diperkuat secara kuantitas dan kualitas. Segera dan tidak pake lama. Contoh, apakah pulau Sumatera punya kekuatan pukul yang diandalkan Angkatan Darat untuk pertahanan pulau. Jawabnya tidak. Bagaimana mungkin punya kekuatan daya gebuk kalau batalyon Kavalerinya hanya punya tank tua AMX 13, dan batalyon Arhanud masih mengandalkan "Simbah" S60. Belum lagi kalau melihat kekuatan Angkatan Laut di pantai barat Sumatera, kekuatan pelindung teritori laut masih lemah. Lantamal Padang mestinya disediakan secara permanen minimal 3 kapal perang jenis korvet.

Untuk merealisasikan doktrin militer berani masuk digebuk (pre emptive strike) maka syarat utamanya realisasikanlah ketersediaan kapal perang striking force kelas fregat keatas, kapal selam serbu dan jet tempur penggentar semacam Sukhoi SU35, Rafale dan F15 dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang mencukupi. Angkatan laut dan Udara harus memiliki kekuatan pukul yang menyengat untuk memenuhi syarat berani masuk digebuk. Ini yang disebut punya imunitas yang kuat dan disegani, untuk pertahanan negeri bukan untuk mengancam dan menyerang negara lain. Si Vis Pacem Para Bellum sejatinya untuk merawat kesehatan perdamaian dengan memperkuat pertahanan diri sekaligus mengingatkan negara lain untuk tidak macam-macam. Anda sopan kami santun, anda melotot kami kepal otot.

***

Jagarin Pane / 12 Juni 2021

Saturday, June 5, 2021

Menggenggam Asa Out Of The Box

Sepintas membaca Rancangan Perpres Pengadaan Alutsista yang memerlukan anggaran sebesar US $125 milyar, bola mata kita langsung membesar dan melotot lalu geleng-geleng kepala dengan berbagai komentar dan mimik: wow, luar biasa, amazing, gede amat dan sebagainya. Jumlah duit yang diperlukan sebanyak itu untuk program pengadaan alutsista sampai tahun 2045 sebenarnya biasa-biasa saja. Artinya selama lima "repelita"  setiap repelitanya disediakan dana 25 milyar dollar. Sekedar info ketika program strategis MEF (Minimum Essential Force) jilid satu dimulai tahun 2010 di era Presiden SBY dikucurkan dana US $ 15 milyar selama lima tahun dari pinjaman luar negeri (PLN).

Dalam pandangan kita rancangan Perpres itu adalah untuk memantapkan sebuah harapan besar yang untuk horizon hari ini boleh jadi dianggap sebagai ambisi berbumbu pedas tendensius. Namun dalam sudut lihat yang tak terlihat, out of the box, beyond visual range sebenarnya rancangan besar ini merupakan lompatan besar, luar biasa dan cerdas yang harus kita apresiasi. Belanja pertahanan bukan termasuk biaya habis pakai melainkan investasi bernilai puluhan tahun untuk menjaga eksistensi negara. Jadi melihat besarnya anggaran pertahanan bukan untuk menandingkannya sebagai Cost Against Revenue di APBN, tetapi untuk investasi membangun pagar dan benteng teritori negeri yang bermanfaat selama puluhan tahun ke depan.

Persoalan yang mengemuka dan menghangat di publik adalah anggaran belanja alutsista sebesar 125 milyar setara dengan 1.750 trilyun rupiah itu akan dibelanjakan seluruhnya sampai tahun 2024 dengan skema PLN. Pada sisi yang lain banyak kita yang tidak menyadari bahwa posisi kekuatan alutsista kita sampai saat ini belum sampai pada kriteria minimal apalagi mencukupi. Yang mau dikejar Kemenhan adalah ketertinggalan dan ketercukupan perolehan alutsista. Makanya diperlukan model belanja extra ordinary untuk segera mencukupi kebutuhan alutsista dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.  Lihat saat ini dinamika kawasan utamanya Laut China Selatan (LCS) sangat dinamis dan penuh ketegangan. Kabar terkini barusan16 jet tempur canggih China berparade di udara Sabah yang membuat Malaysia panas dingin lalu mengirim jet tempur Hawk untuk scramble. Jelas Hawk bukan tandingan jet tempur China.

Mari melihat dengan kacamata bening sudah sejauh mana kekuatan taring militer Indonesia saat ini. Meski sudah ada program MEF jilid satu sampai jilid tiga apakah kemudian kita lantas sudah merasa kuat dan hebat. Jawabnya jauh panggang dari api karena target minimum essential force belum tercapai sampai dino iki. Teritori Indonesia sangat luas, strategis dan penuh kandungan sumber daya alam atas air dan bawah air. Peta geografi negeri kepulauan ini membentang luas mempertemukan samudra Pasifik dan samudra Hindia. Namun alat pelindung teritorinya masih sangat kurang. Kekuatan militer kita untuk melindungi asset teritori yang luas dan kaya ini belum sepadan.

Oleh sebab itu rencana spektakuler Kementerian Pertahanan untuk menggelar program pengadaan alutsista secara terpadu, cepat dan sistematis melalui payung hukum Perpres mestinya kita sikapi dengan cara pandang beyond visual range, out of the box dan horizon terjauh. Program ini adalah untuk percepatan perolehan kualitas dan kuantitas alutsista. Kita berpacu dengan waktu untuk segera mendatangkan berbagai jenis alutsista strategis. Saat ini kita membutuhkan tambahan 5 skadron jet tempur, 8 kapal selam baru, 16 fregat baru. Dan itu harus bisa dipenuhi dalam lima tahun ke depan.

Kita belum sampai di target minimal meski sudah sampai di jilid tiga MEF. Dan ada kesan penguatan itu berjalan lambat, bertele-tele, dan setiap kedatangan alutsista pesanan itu "dijamin" terlambat.  Kekuatan militer kita dengan sejumlah alutsista yang dimiliki saat ini belum sampai memenuhi ukuran minimal yang dibutuhkan. Negeri yang luas teritorinya seluas benua Eropa hanya dijaga 2 skadron F16 dan 1 skadron Sukhoi. Ironi sekali.  Mestinya kekuatan angkatan udara standar untuk negeri ini ada di 10-12 skadron jet tempur penggentar tidak termasuk T50, Hawk dan Super Tucano. Itulah yang ingin dipenuhi dan dipercepat oleh Kemenhan.

Rencana besar Kemenhan ini selayaknya kita apresiasi. Sudah 12 tahun MEF berjalan dan selama waktu itu dinamika kawasan membuka cakrawala pandang kita bahwa semua negara yang berkonflik dengan China membangun kekuatan militernya. Sudah 12 tahun kita modernisasi kekuatan militer kita menuju kekuatan minimal, nyatanya persentase target belum memuaskan. Maka daftar belanja alutsista dengan membeli sekaligus dalam jumlah besar adalah untuk menjawab percepatan dan ketertinggalan itu. Kita harus cepat menghadirkan sejumlah alutsista strategis, gahar dan berteknologi canggih. Kita harus mengejar ketertinggalan kita.

Maka kita sambut Jepang untuk membangun bersama 8 kapal perang fregat Mogami Class dengan percepatan prosesnya. Sementara 2 Iver Class yang sudah teken kontrak bisa ditambah menjadi 6 unit. Kekuatan TNI AU dipercepat dengan tambahan 36 jet tempur Rafale dan 8 jet tempur F15. Harus segera direalisasikan. Kita tidak bisa lagi pakai cara-cara standar dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, beli bertahap dan tetap kurang. Harus ada langkah yang bisa memenuhi asa out of the box, percepat proses pengadaan dan beli dalam jumlah besar dengan transfer teknologi. Sementara dua program strategis lainnya yaitu pengembangan jet tempur KFX / IFX dan kapal selam Changbogo dengan Korsel dilanjut lagi. Juga industri pertahanan dalam negeri tetap menjadi prioritas pengadaan. Kalau semua ini berjalan lancar maka diniscayakan matahari tahun 2025 akan bisa menyaksikan awal episode kehebatan revolusi modernisasi alutsista Indonesia.

****

Jagarin Pane / 5 Juni 2021

Saturday, May 15, 2021

Mengunci KKB Teroris Papua

Ribuan pasukan pemukul TNI sudah masuk rimba gunung Papua termasuk pasukan elite paling mematikan Kopassus. Gerak pasukan khusus ini dalam setiap penugasan tidak pernah terdeteksi pemberitaan, tidak terendus tiba-tiba sudah ada di medan operasi, pergerakannya siluman. Bisa saja Kopassus diterjunkan dari pesawat di titik tertentu kemudian bergerak cepat dan senyap lalu sergap. Apalagi uniform baru Kopassus benar-benar sesuai dengan hijau belantara rimba tropis. Sebuah kamuflase terbaik.

Kali ini KKB Papua harus membayar mahal atas perbuatan kejinya membunuh dan membakar. Selama ini operasi KAMDAGRI yang dilakukan POLRI dengan dukungan TNI adalah operasi bernuansa teritorial defensif semata untuk menjaga keamanan sipil. Sembari melakukan patroli keamanan, mengawal pembangunan infrastuktur juga memberikan penerangan wawasan kebangsaan pada warga sipil di pedalaman. Lama kelamaan KKB merasa besar kepala dan menganggap remeh kekuatan sesungguhnya pengawal republik. Momentum gugurnya kepala BIN Papua yang juga perwira tinggi Kopassus mendidihkan adrenalin tentara dan negara.

Negara sejatinya adalah kehormatan dan harga diri tertinggi, maka melukai marwah negara dengan cara biadab adalah cara-cara teroris. Berhadapan dengan gerombolan ini tidak bisa lagi menggunakan metode defensif pasif namun harus melakukan pre emptive strike. Mengejar dan menghancurkan markas-markas teroris KKB di seluruh belantara Papua adalah target utama sekaligus menghabisi para teroris sadis. Anda jual kami beli. Dan itu sudah dimulai. Dalam dua pekan 12 teroris KKB ditembak mati. Ini baru permulaan.

Pertarungan menghancurkan teroris KKB Papua tidak hanya berlaku di rimba belantara Papua tapi seharusnya juga di rimba maya alias media sosial. Termasuk upaya  diplomasi proaktif Kemenlu di dunia internasional. Rimba media sosial yang tidak punya wilayah teritori adalah pertempuran digital terkini untuk mempengaruhi dan merebut opini mindset alias pola pikir personal. Kasus pembelotan seorang tentara yang sedang bertugas di hutan rimba Papua sangat diyakini karena termakan pertarungan opini alias perang pemikiran di medsos yang menghasut dan mampu mengubah persepsi dan perspektif obyektif.

Medsos adalah ruang besar kebebasan eksistensi diri, penampilan personal termasuk publikasi olah pikir apakah itu based on fakta, kebenaran, pembenaran atau kebohongan. Yang terakhir ini semakin merajalela karena disertai bumbu penyedap yang pedas bernama ujaran kebencian. Pertarungan opini di medsos adalah drama yang pemenangnya adalah yang mampu merubah cara pandang mindset seseorang. Tidak peduli dengan apakah didalamnya ada nilai kebenaran. Menghadapi teroris KKB  Papua kita sebagai anak bangsa pecinta NKRI harus bisa memukul mundur opini pembenaran dan hasutan yang beredar di medsos. Kita harus proaktif melakukan counter attack terhadap opini-opini pembelokan fakta. Misalnya penembakan 3 teroris KKB beberapa waktu lalu yang dikatakan mereka sebagai warga sipil yang disiksa.

Diplomasi aktif Kemenlu adalah bagian dari memenangkan dan menenangkan opini internasional. Bahwa eksistensi KKB teroris tidak lebih dari ulah segelintir orang yang ingin menghidupkan separatis. Padahal PEPERA 1969 sudah diakui PBB dan dunia internasional. Artinya semangat separatis yang didengungkan segelintir petualang politik sebenarnya tidak punya aspek legalitas dan kapabilitas apalagi klaim. Persoalannya adalah publikasi opini, pencarian dukungan yang bermuara minta sumbangan bisa menjadi sesuatu yang seakan-akan besar dan hebat, padahal hanya fatamorgana. Di forum PBB diplomat kita benar-benar high profil dan menohok ketika berdebat di forum dunia itu, manakala ada negara di Pasifik Selatan yang ingin menyerang Indonesia soal Papua. Ini adalah kecerdasan diplomatik yang sangat mengagumkan.

Organisasi teroris KKB harus dikunci mati. Tidak bisa tidak. Lakukan operasi senyap, tak perlu ada publikasi luas soal pemberangkatan batalyon-batalyon TNI, termasuk suasana kontak senjata di medan operasi. Ini adalah operasi penumpasan atas nama harga diri NKRI, di wilayah NKRI, urusan dalam negeri NKRI. Pemberantasan teroris bernuansa separatis, lokasinya di hutan belantara, harus dihadapi dengan operasi pasukan khusus di garis depan bersama pasukan raider.  Sekali lagi ini momen yang tepat untuk menghancurkan KKB teroris Papua.

Sekedar catatan tiga dekade lalu ketika ada negara lain yang coba-coba mencampuri urusan dalam negeri kita soal Papua, TNI AU mengerahkan 3 jet tempur F5 Tiger dan mengeluarkan sonic bom persis di wilayah border Papua-PNG. Yang kebakaran jenggot Australia lalu protes. Dan memang negeri tetangga selatan itu selalu begitu, usil, rewel dan suka menghasut. Soal Timor Timur adalah pelajaran sejarah yang tidak boleh dilupakan. Nah sekarang dia sedang digebuk China lewat embargo impor batubara dan lain-lain karena terlalu usil, rewel dan suka mendikte. Intinya kita harus berhati-hati dengan negeri Kanguru ini.

Untuk pertarungan di hutan gunung Papua kita serahkan pada pengawal republik yang punya reputasi heroik. Demikian juga penempatan agen-agen diplomatik Kemenlu  yang cerdas, gaul dan high profil di Kedubes,  di forum PBB untuk menguatkan "silaturrahim" kelas dunia. Nah tugas kita sebagai netizen adalah bertarung di media sosial untuk memenangkan ghozwul fikr alias perang pemikiran alias pertempuran opini mindset soal Papua. Kita ada di posisi legal standing yang kuat, kita ada di posisi yang sah dan benar. 

Maka kita publikasikan secara terus menerus dan massif posisi terhormat ini agar tidak digerogoti opini KKB yang bernama pembenaran, pembelokan arah atau bahkan seakan playing victim. Papua sudah banyak kemajuan, itu fakta dan itu harus kita dengungkan dengan bahasa netizen yang gaul, kocak dan nggemesi. Bahasa seperti ini adalah bagian dari intervensi dan infiltrasi untuk pertarungan ghozwul fikr khususnya di kalangan kaum milenial. Papua adalah bagian utuh dari bingkai NKRI, tidak bisa diganggu gugat dan sekarang saatnya kita kunci mati organisasi teroris KKB dari tiga front sekaligus, pertempuran real di hutan Papua, kecerdasan diplomatik dan pertarungan opini ghozwul fikr di media sosial. 

****

Jagarin Pane / 15 Mei 2021

Monday, May 3, 2021

Memandang Horizon Jernih

Dukacita dan simpati seluruh dunia atas musibah tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 bersama 53 orang awaknya merupakan capital gain saham yang bernama nilai-nilai kemanusiaan. Meski yang tenggelam adalah alutsista strategis penghancur perdamaian namun eksistensi nilai-nilai kemanusiaan seluruh dunia mampu mempersatukan musibah dalam kebersamaan sikap kemanusiaan yang bermarwah dan beradab. Itulah sejatinya fungsi dan nilai jabatan amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi yang belakangan ini jarang muncul menjunjung humanisme.

Kita tentu tidak ingin berlarut dalam kesedihan mendalam ketika melihat keluarga menangis dan terisak. Pimpinan keluarga sekaligus kebanggaan istri dan anaknya harus berpisah dengan orang yang dikasihi. Demikian juga korps Hiu Kencana yang kehilangan banyak prajurit petarung yang berkualitas akan kembali bangkit dan memandang horizon jernih dengan semangat "tabah sampai akhir". Hiu Kencana harus bangkit, mengepalkan tangan dan langkah tegap karena kalian adalah prajurit pasukan khusus, pasukan terlatih, pilihan, berkualitas dan kebanggaan negeri.

Indonesia adalah negara kepulauan yang strategis. Penguatan pengawal utama teritori ada di matra laut dan udara. Kita saat ini sedang berada dalam program modernisasi militer, sudah berjalan 11 tahun sejak 2010. Selama satu dekade ini sudah banyak pertambahan berbagai jenis alutsista. Jumlah kapal selam bertambah dari 2 unit menjadi 5 unit, jumlah kapal perang bertambah lebih 40 KRI berbagai jenis. Namun sesungguhnya target pencapaian minimum kekuatan alutsista kita belum tercapai.

Jumlah kapal selam kita baru saja mencapai 5 unit bulan lalu ketika KRI Alugoro 405 yang dibangun di PT PAL Surabaya resmi masuk inventori TNI AL. Kemudian KRI Alugoro 405 dan kakaknya KRI Ardadedali 404 bersama pakdenya KRI Nanggala 402 berjalan bersama menuju perairan Natuna. JJB alias jalan-jalan bareng ini untuk menunjukkan kepada pihak yang ngubek-ngubek Laut China Selatan bahwa Indonesia punya harga diri teritori. Dan setelah pulang dari Natuna itu Nanggala sandar sebentar di pangkalannya di Armada Dua Surabaya untuk penugasan selanjutnya, penembakan torpedo di laut Bali dalam serial latihan tempur Armada Dua bersama 20 KRI lainnya.

Dengan musibah Nanggala maka jumlah kapal selam Indonesia tinggal 4 unit. Sebuah jumlah yang jauh dari standar kekuatan minimum untuk negeri kepulauan. Namun sebenarnya tidak terkait dengan musibah Nanggala kita saat ini sedang mempersiapkan pengadaan 3 kapal selam baru sampai tahun 2024.  Semua sedang berproses termasuk penyediaan dan ketersediaan awak kapal selam yang harus dipersiapkan lebih dini. Karena mempersiapkan dan mencetak awak kapal selam membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan seleksi ketat.

Kabar yang menggembirakan, Indonesia sedang merancang pembuatan kapal selam mini tanpa awak berkemampuan artificial intelligent. Ini program yang sangat ditunggu dan menjadi harapan besar. Bahwa kepemilikan kapal selam konvensional berkisar antara 12-14 unit saat ini sedang kita kejar. Kemudian membangun kapal selam mini tanpa awak merupakan sebuah langkah cerdas Kementerian Pertahanan. Dirut PT PAL yang baru dilantik adalah ahli perkapalan kaliber internasional dan pakar rancangbangun kapal selam tanpa awak. Titik awal sudah dipatri, artinya konsistensi lah yang akan menjawabnya kelak, mampukah kita dalam lima tahun ke depan membuat kapal selam tanpa awak.

Pesan yang ingin disampaikan tetaplah memandang horizon jernih dengan fokus terhadap yang sudah direncanakan termasuk percepatannya. Kita masih harus berlari mengejar ketertinggalan perolehan alutsista menguatkan benteng teritori. Jumlah kapal perang striking force, kapal selam, jet tempur, peluru kendali dan lain-lain masih sangat kurang.  Sementara dinamika konflik kawasan tidak bisa dipandang remeh, jelas-jelas nyata dan di depan halaman. Publik sedang menunggu publikasi lanjutan tentang realisasi pengadaan kapal perang Iver Class, jet tempur F15, Rafale dan lain-lain. Juru bicara Kementerian Pertahanan adalah pintu keterbukaan informasi agar kita tidak "terpukau" oleh informasi dan opini dari juru bicara produsen alutsista.

Pengumpulan dana dari komunitas sebuah Masjid di Yogya adalah bentuk keinginan dan harapan yang besar serta dukungan kuat untuk percepatan modernisasi alutsista TNI.  Ini juga bagian dari memandang horizon jernih agar Kementerian Pertahanan mampu dan segera menyelesaikan program pengadaan alutsista. Sebagian besar rakyat negeri ini mendukung bahkan antusias untuk percepatan perkuatan alutsista tentaranya. Kita harus terus berlari mengejar horizon kebanggaan punya tentara dan alutsista yang gahar. Termasuk tetap memandang jernih, optimis, dan fokus dalam proses pengadaannya.

****
Jagarin Pane / 3 Mei 2021

Monday, April 26, 2021

Sang Pelenyap Senyap

KRI Nanggala 402 adalah marwah dan kebanggaan Korps Hiu Kencana yang bersama KRI Cakra 401 merupakan sepasang monster bawah air yang mengawal teritori laut Indonesia sejak tahun 1981. Dua pengawal tangguh ini juga sempat bersahabat dengan "Pakdenya" KRI Pasopati 410 yang sudah ada sejak era Trikora tahun 1962 menjadi benteng teritori bawah laut negeri ini. Bedanya Pasopati setelah pensiun bisa terlihat jasadnya sebagai monumen kapal selam di Surabaya sementara Nanggala dalam perjalanan tugasnya yang mulia dan berwibawa berdiam abadi ke kedalaman laut Bali.

Sejarah perjalanan kapal selam Indonesia hadir pertama kali tahun 1959 dengan kedatangan 2 kapal selam Whiskey Class dari Uni Sovyet (sekarang Rusia). Keduanya diberi nama RI Cakra 401 dan RI Nanggala 402.  Sekedar catatan sebelum tahun 1973 identitas penamaan kapal perang diawali dengan RI (Republik Indonesia), setelah itu diganti menjadi KRI (Kapal Republik Indonesia). Bersamaan dengan dikumandangkannya Trikora oleh Bung Karno 19 Desember 1961 maka penambahan Whiskey Class mencapai jumlah 12 unit. 

Whiskey Class termasuk Nanggala 402 menjadi kekuatan penggentar, waktu itu kita lah yang terhebat di kawasan ini sehingga Belanda atas desakan AS bersedia hengkang dari Papua. Tentu melalui jalur PBB supaya terlihat terhormat. Padahal sejatinya kekuatan militer Indonesia lah yang menjadi penggentarnya. Waktu itu dengan seratusan kapal perang plus 12 kapal selam serta seratusan pesawat tempur dan pengebom strategis membuat pihak lawan ukur diri. Setelah Trikora dilanjut dengan Dwikora untuk mengganyang Malaysia. Poinnya ketangguhan satuan kapal selam Indonesia saat itu paling kuat di kawasan bumi selatan. Kita memiliki 12 kapal selam hanya dalam waktu 4 tahun, 1959 sampai dengan 1963.

Pergantian rezim tahun 1966 membuat eksistensi 12 kapal selam Indonesia memudar karena ketiadaan suku cadang. Sampai tahun 1980 hanya 2 dari 12 kapal selam Whiskey Class yang masih bertahan yaitu KRI Bramastra 412 dan KRI Pasopati 410. Maka ketika tahun 1981 KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 datang langsung dikemudikan awak kapal selam kita dari pabrikannya di  Kiel Jerman Barat (Sekarang Jerman), rasa bangga kembali mengembang. Membawa kapal selam dari Jerman ke Indonesia butuh waktu 2 bulan tentu merupakan keberanian yang membanggakan.

KRI Nanggala pernah berduet bersama KRI Cakra di laut Sulawesi beberapa tahun lalu untuk mencari 4 prajurit TNI AL. Penyebabnya adalah hilangnya 4 awak kapal KRI Layang ketika menangkap dan membawa kapal nelayan Filipina yang diduga adalah gerilyawan Marawi.  Kapal nelayan diperiksa dan sebagian besar awaknya ditahan di KRI Layang. Kemudian 4 prajurit KRI Layang ditugaskan mengawal beberapa awak kapal nelayan Filipina. Ternyata tidak pernah sampai di Miangas. Tidak lama kemudian pertempuran hebat terjadi di Marawi antara pasukan pemerintah Filipina dengan gerilyawan.

Prajurit Hiu Kencana adalah pasukan khusus TNI AL yang sudah lulus ujian ketangguhan, cerdas, kuat, tegar, tahan, tabah dan sabar. Motto Hiu Kencana adalah Tabah Sampai Akhir sejatinya adalah ketahanan mengelola emosi, sabar, tahan tidak melihat matahari berminggu-minggu, kuat dan mampu menikmati tugas di dalam mesin pembunuh berlapis, pelenyap kapal musuh dalam kesenyapan di kedalam laut yang sunyi. Pernah sekali waktu didatangkan seorang Dokter untuk mendeteksi tingkat stres awak kapal selam selama menyelam. Ternyata memasuki minggu kedua si Dokter yang berteriak-teriak histeris minta dikembalikan ke pangkalan. Awak kapal tersenyum melihat kondisinya. Kapal selam memang dirancang dan dibangun untuk tidak terdeteksi. Dia berjalan sendiri berminggu-minggu melakukan tugas pengintaian dan infiltrasi serta penembakan. Termasuk harus pintar menyembunyikan diri ketika diincar kapal musuh.

Secara operasional jam terbang Cakra dan Nanggala sangat padat. Bayangkan periode 1981 sampai dengan 2015 Indonesia hanya punya 2 kapal selam dengan luas wilayah perairan yang membentang.  Melakukan tugas intelijen dan infiltrasi dalam kesenyapan, sesungguhnya beban kerja keduanya overload, karena tidak ada penambahan kapal selam. Ketika Ambalat memanas tahun 2005 Nanggala tampil sebagai benteng terdepan, berpatroli sendiri berminggu-minggu. Akhirnya keduanya secara bergantian dioverhaul dan diganti jeroannya dengan instrumen digital di Korsel. Nanggala overhaul tahun 2012. Delapan tahun setelah itu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 mendapat "keponakan baru" yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405. Ketiganya lahir dari hasil kerjasama alih teknologi dengan Korsel.

Barusan mendapat tugas mengawal Natuna bersama KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405, Nanggala kembali ke markasnya di Armada Dua. Seperti diketahui KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 dari Armada Satu sukses menembakkan rudal anti kapal C705 menenggelamkan KRI Balikpapan 905 yang baru pensiun di Laut Natuna Utara. Kemudian Armada Dua akan melakukan hal yang sama di Laut Bali. Selain akan menembakkan rudal anti kapal dari KRI Hiu 634 dan KRI Layang 635, juga akan menembakkan torpedo SUT dari KRI Nanggala 402. Diantara tiga Armada laut yang dimiliki TNI AL hanya Armada Dua yang memiliki alutsista strategis 5 Kapal Selam bermarkas di Surabaya.

Jalan cerita kemudian berubah dan itulah takdir akhir cerita. Nanggala bersama 53 orang awaknya termasuk komandan satuan kapal selamnya tidak pernah menyahut panggilan dari kapal markas KRI Dr. Soeharso 990 ketika sudah diizinkan menyelam dan menembak torpedo SUT. Kapal baja seberat 1200 ton itu meluncur ke dasar laut ALKI 2. Sang pelenyap berakhir dalam senyap. Kita kehilangan SDM militer yang mahal. Mencetak awak kapal selam butuh waktu dan investasi. Padahal kita juga akan menambah sedikitnya 3 kapal selam baru dari yang sudah ada sekarang. Kita relakan kepergian Nanggala bersama para awaknya. Mereka akan dikenang sepanjang sejarah. Seluruh dunia akhirnya tahu tentang Nanggala, seluruh dunia tahu tentang keperkasaan prajurit Nanggala, seluruh dunia berduka dengan kepergian abadi Nanggala berdiam dalam senyap. Lahumul Fatihah.

****

Jagarin Pane / 26 April 2021

Sunday, April 18, 2021

Dua Turbulensi Mereda

Ada dua proyek besar alutsista strategis dan bergengsi yang selama Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengalami turbulensi dan gelombang kejut sehingga membuat sang pilot berada di titik simpang akhir konsistensi.  Kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam "Nagapasa Class" dan pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan yang sudah berjalan hampir satu dekade dihadang "awan cumulunimbus" yang membuat perjalanan panjang alih teknologi itu gonjang ganjing dan nyaris terjerembab. 

Pengembangan teknologi jet tempur gen 4.5 antara Indonesia dan Korsel sudah berjalan delapan tahun. Proyek teknologi tinggi bernilai US$ 7,3 milyar setara 113 trilyun rupiah itu dibagi porsinya, Korsel menanggung 80% dan Indonesia 20%. Sejauh ini kita sudah membayar "SPP" sebesar 2,9 trilyun sebelum akhirnya menunggak iuran tahunan sebesar 7,7 trilyun rupiah sejak tahun 2019. Mogok bayar itu kemudian dikaitkan dengan berbagai informasi dan opini yang dalam pandangan kita sebenarnya sebuah dinamika wajar dalam perjalanan perjanjian kerjasama yang panjang.

Sebagai penganut "mazhab konsistensiniyah" sebuah istilah dalam forum militer alias aliran istiqomah, kita selalu menyuarakan keinginan yang kuat agar dua program besar ini terus berlanjut. Di beberapa tulisan terdahulu yang sudah dipublikasikan melalui blog militer pribadi dan di media online kita tetap mengharapkan program alih teknologi jet tempur IF21 dan kapal selam tetap berjalan. Kedua teknologi tinggi ini jika bisa kita kuasai maka hampir sempurna penguasaan teknologi alutsista yang dimiliki industri pertahanan kita. Kita sudah bisa membuat aneka ragam alutsista mulai dari panser, tank, roket, kapal patroli cepat, kapal cepat rudal, kapal LST, kapal LPD dan lain-lain. 

Perkembangan terkini yang menggembirakan adalah gonjang ganjing itu reda. Peresmian kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 yang dibangun di PT PAL membuktikan bahwa serah terima itu mampu menepis spekulasi yang beredar di kalangan netizen forum militer. Banyak rumor soal Alugoro yang dianggap tidak sesuai harapan padahal PT PAL dalam setiap tahapan uji laut mempublikasikan hasilnya. Kemudian soal jet tempur KF21 /IF21 dimana Indonesia absen iuran selama dua tahun terakhir karena berbagai faktor teknis dan non teknis. Opini yang beredar kemudian adalah tidak diberikannya teknologi kunci dari AS untuk menyuntik instrumen pesawat ini.

Nah barusan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diundang ke Korsel. Dia disambut meriah dengan karpet merah di Seoul layaknya seorang Presiden untuk menghadiri seremoni peluncuran prototype jet tempur KFX yang kemudian diberi nama jet tempur KF21 Boramae. Seremoni mewah di Seoul tanggal 9 April 2021 ini yang juga bertepatan dengan HUT TNI AU mendapat liputan media yang luas di seluruh dunia. Presiden Korsel Moon Jae-in memberikan apresiasi kepada Indonesia sementara Presiden Jokowi memberikan sambutan secara virtual. Indonesia akan melanjutkan kerjasama pengembangan jet tempur KF21/IF21 adalah pernyataan kunci yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo. Terang benderang.

Pelajaran yang bisa dipetik dari episode turbulensi program kerjasama alih teknologi kapal selam dan jet tempur ini adalah kemampuan menyikapi dan menyaring mana yang berwarna opini dan penggiringan opini dan mana yang merupakan pernyataan resmi. Dalam beberapa artikel yang kita publikasikan soal dua proyek alutsista strategis ini kita selalu menyuarakan semangat konsistensi, tetap teguh melanjutkan kerjasama yang sudah di dua pertiga perjalanan. Karena kita memahami bahwa perjalanan panjang program alutsista strategis dan bergengsi ini akan mengalami pasang surut. Apalagi dibumbui rayuan sales promotion grup produsen alutsista lain termasuk mungkin saja ada pihak lain yang tidak ingin kita bisa menguasai teknologi kapal selam dan jet tempur.

Maka ketika KRI Alugoro 405 diresmikan belum lama ini di Surabaya dan juga ketika purwa rupa jet tempur KF21 diluncurkan di Seoul,setidaknya ada nafas kelegaan yang kita hirup, ada rasa plong, ada rasa sukacita yang membuat bibir tersenyum puas. Bahkan Alugoro yang baru diserahkan pabrikannya langsung unjuk diri di Natuna. Luar biasa.  Kedua program besar alutsista teknologi tinggi ini akan berlanjut terus tentu diawali dengan perundingan soal-soal teknis. Indonesia akan segera mengirim kembali seratusan insinyur proyek jet tempur IF21 ke Korsel setelah sebelumnya pulang di awal pandemi Covid19.

Proyek Nagapasa batch 2 untuk membangun kapal selam keempat, kelima dan keenam bernilai US$ 1,2 milyar bisa dilanjutkan, apalagi sebenarnya kontrak awal "U209-1400 Project" ini sudah diteken tahun 2019. Dan kontrak selanjutnya adalah kontrak efektif untuk memulai pembangunan kapal selam keempat tentu setelah membayar down payment. Kita apresiasi keteguhan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo untuk tetap istiqomah melanjutkan kedua proyek hebat ini. Lima enam tahun ke depan kita akan terus melangkah menuju pencapaian hasil yang insyaAllah membanggakan. Semoga.

****

Jagarin Pane / 18 April 2021

Saturday, April 10, 2021

Adrenalin April

Sepanjang pekan ini saling unjuk kekuatan terjadi di Laut China Selatan (LCS). April yang sedang menuju musim panas sepertinya didahului oleh situasi panas melebihi situasi sebelumnya. April menjelang bulan Ramadhan di LCS ternyata justru mulai menunjukkan suasana kegelisahan dan kegerahan luar biasa yang bisa menimbulkan jantung berdebar dan keringat dingin. Meski belum sampai mengguncang bursa saham dan pasar uang dunia namun adrenalin militer di LCS sepekan terakhir melonjak drastis. Perairan strategis yang kaya sumber daya mineral itu didatangi berbagai konvoi angkatan laut. Masing-masing ingin tampil menunjukkan tajinya.

Diawali dengan langkah China yang mengerahkan dua ratusan kapal milisi nelayan dikawal sejumlah kapal perang dan kapal selam mau menggertak Filipina. Maka berbaris rapatlah duaratusan kapal milisi itu menghadap ke timur di perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Filipina seperti ingin mengadakan upacara bendera unjuk kekuatan. Namun Filipina tidak kalah gertak, angkatan laut siaga penuh, sejumlah kapal perang dikirim berdekatan dengan lokasi berkumpulnya ratusan kapal milisi China. Termasuk mengerahkan jet tempur FA-50 yang baru dibeli dari Korsel.

Tidak lama kemudian datanglah kapal induk AS CVN Theodore Roosevelt bersama beberapa kapal pengawalnya dari Teluk Benggala, Selat Malaka dan ngetem di LCS. Di perairan dekat Anambas sejumlah jet tempur F18 Hornet dari kapal induk AS ini melakukan manuver latihan tempur bersama dengan jet tempur Sukhoi dan F18 Malaysia selama dua hari. Bisa jadi AS ingin mengajak Malaysia agar fight alias tidak loyo menghadapi klaim China.  Soalnya diantara negara yang tumpang tindih klaim di ASEAN hanya Malaysia yang terkesan tidak ngotot. Sementara itu di lokasi yang berbeda tapi masih dalam satu kawasan, Vietnam tanpa pengumuman sebelumnya  tampil mengejutkan, unjuk gigi dengan melakukan latihan tempur laut skala besar mengerahkan sejumlah kapal perang, kapal selam dan jet tempur. 

Angkatan Laut Indonesia tampil high profile kali ini. Tanpa banyak publikasi dan umbar pernyataan, TNI AL mengerahkan 25 kapal perang dan dua kapal selam anyar ke Natuna. Dan yang lebih spektakuler dua KRI yaitu KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 Kamis kemarin sukses menembakkan peluru kendali anti kapal permukaan C705 di perairan Laut Natuna Utara. Berhasil mengenai sasaran sebuah kapal tanker TNI AL yang baru dipensiunkan KRI Balikpapan 901. Tidak itu saja unjuk kekuatannya, malamnya digelar serial simulasi pertempuran anti serangan udara.  Serial berikutnya pasukan Marinir TNI AL melakukan operasi pendaratan pasukan di pantai Dabo Singkep tentu dengan dukungan sejumlah KRI.

Tetapi sesungguhnya yang lebih menggetarkan adalah pernyataan keras dari militer AS kepada China bersamaan dengan kedatangan kapal induk AS ke LCS. Bunyi peringatanya, jika ada tembakan kepada militer dan kapal perang Filipina termasuk pesawat udara maka sesuai perjanjian pertahanan dengan Filipina, AS akan mengerahkan seluruh kekuatan militernya untuk melindungi Filipina. Bahasa tegasnya, berani senggol bacok, nah lo. Pernyataan ini tentu membuat adrenalin militer di kawasan ini meninggi merah padam.

Perkembangan terkini di tengah hiruk pikuk LCS,  armada kapal perang Perancis jenis  LHD Mistral Class dan fregat pengawalnya sedang rehat di pangkalan TNI AL Sabang sebelum menuju LCS. Demikian juga Inggris tengah bersiap mengirim kapal induk Queen Elizabeth dengan sejumlah kapal perang pengawal ke LCS. Sementara TNI AL dalam waktu dekat ini setelah Idul Fitri akan menggelar latihan puncak Armada Jaya 2021 di perairan Laut Natuna Utara. Bakal ramai dan ke depan ini akan selalu ramai etalase LCS dipenuhi dan silih berganti berdatangan berbagai jenis kapal perang. Ini sejatinya sebagai bentuk kemarahan dalam bahasa militer sekutu AS kepada China yang secara sepihak mengklaim hampir seluruh perairan LCS.

Masa depan LCS sangat bergantung pada sikap China karena dia yang memulai dan secara hukum laut internasional dia salah. Bagaimanapun persoalan klaim tidak bisa diselesaikan secara militer apalagi jelas menyalahi konvensi internasional. Mestinya diselesaikan secara adat, secara dialog, secara baik-baik, terhormat. Jangan mentang-mentang bisa membangun kekuatan militer super hebat lalu menganggap persoalan klaim bisa diselesaikan dengan cara preman. Jangan sampai dunia memberikan opini sebagai negeri dengan kemampuan diplomasi dibawah standar alias egois.

Diplomasi militer yang dilakukan sejumlah negara di LCS dengan melakukan manuver kapal perang vivere pericoloso adalah sebuah formula warning untuk Beijing, untuk mengingatkan. Bahwa jika terjadi pertempuran hebat di LCS sesungguhnya akan menghancurkan tatanan kesejahteraan yang telah dibangun lebih setengah abad ini.  Maka sebelum itu terjadi perlu upaya extra ordinary para diplomat ASEAN,  Australia, Jepang, China, AS, Inggris, Perancis, Jerman dan PBB melakukan safari silaturrahim terus menerus. Musik pengiringnya adalah orkestra berbagai kapal perang teknologi terkini melakukan kontestasi keunggulan. Lirik lagunya: anda khidmat kami hormat, anda kumat kami babat. Dan dunia menjelang kiamat. Tamat.

****
Jagarin Pane / 10 April 2021

Saturday, April 3, 2021

Jakarta Bermain Cerdik

Inilah manfaatnya menempatkan orang yang sesuai kompetensinya. Ketika melakukan kunjungan simetris sekaligus ke Jepang beberapa hari lalu, keduanya memperlihatkan kualitas diplomasi dan pertahanan yang cemerlang. Kunjungan Menlu Retno Marsudi dan Menhan Prabowo Subianto ke Tokyo memperlihatkan cerdik dan lugasnya Jakarta mengambil peran keseimbangan kawasan Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan (LCS).

Meski selalu ingin ditarik dari jalur netral untuk ikut blok QUAD (Quadrilateral Security Dialogue-Dialog keamanan segi empat) namun Indonesia punya cara sendiri dan ingin berjalan sendiri di tengah riuh rendah dan hiruk pikuk LCS. Amerika Serikat dengan kepiawaiannya berhasil merangkul India untuk ikut bersama dia dan sekutunya Australia dan Jepang membentuk persekutuan "bulan sabit". Secara geostrategis dan geopolitik aliansi ini mengurung China dari tiga penjuru mata angin kecuali Utara. Persis bulan sabit.

Hasil gemilang yang diperoleh dalam perjamuan "2 plus 2",  Menlu dan Menhan RI dengan Menlu dan Menhan Jepang adalah terbukanya ruang besar untuk mendapatkan 8 kapal perang fregat siluman Mogami Class teknologi terkini dari Jepang. Ini merupakan peralihan kiblat yang mencengangkan produsen alutsista strategis dunia karena selama ini kiblat kapal perang striking force Indonesia berasal dari Belanda, Inggris, Jerman, Perancis dan Denmark. Pokoknya Eropa banget.

Dari Belanda kita memperoleh 4 KRI Sigma Diponegoro Class dan 2 KRI Sigma PKR 10514 Martadinata Class. Dari Inggris kita mendapatkan 3 KRI Bung Tomo Class, kemudian dari Jerman kita baru saja pesan 2 KRI pemburu ranjau Frankestein Class. Sementara dari Perancis kita mendapatkan 2 KRI intelijen bawah air Rigel Class. Terakhir dari Denmark kita memesan 2 KRI Iver Class. Ini hanya untuk pengadaan kapal perang edisi terkini, belum secara historis. Misalnya pengadaan 39 kapal perang bekas dari Jerman atau 6 kapal perang fregat Ahmad Yani Class, 3 Fatahillah Class dari Belanda dan 2 kapal selam Cakra Class dari Jerman.

Rencana pengadaan 8 kapal perang teknologi tinggi dari Jepang merupakan lompatan luar biasa bagi Indonesia. Bahkan kapal yang hendak kita beli itu untuk Angkatan Laut Jepang saja baru jadi 2 unit dari rencana pengadaan 32 unit. Perubahan cara pandang Indonesia dengan melihat Jepang sebagai mitra strategis sekaligus saudara tua yang santun dan tak punya cacat hubungan diplomatik, tanpa harus bergabung dengan QUAD, adalah strategi Kemenlu dan Kemenhan yang patut diacungi jempol. Statemen bersama Menlu Jepang dan Indonesia jelas menyindir Beijing yang bermain kasar dan tidak tahu tatakrama dan etika pergaulan internasional. Mau menang sendiri.

Diplomasi militer yang dipertunjukkan Jakarta dan Tokyo ingin mengingatkan China secara tegas dan lugas, meski China merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia dan Jepang, namun jika China melakukan perubahan ekstrim dari status quo yang berlaku saat ini di LCS akan dilawan semua negara yang berkonflik dengannya secara militer. Istilah kunonya Raden Mas Said alias Mangkunegoro I berlaku disini: tiji tibeh, mati satu mati semua.  Wani po ora.

Maka rencana pembelian 8 kapal perang fregat dari Jepang adalah diplomasi militer cerdas yang dimainkan Jakarta. Ini menunjukkan betapa Indonesia bisa memilih mitra strategis yang juga punya masalah maritim dengan China. Kita ingin menyampaikan pesan kuat bahwa pembelian 8 kapal perang sekaligus itu adalah isyarat militer yang tegas untuk pihak sono.  Sesuai rencana kita akan membeli 4 kapal perang yang juga dikenal dengan istilah populer 30FFM yang dibuat di Jepang dan 4 unit yang lain dibuat di galangan kapal Indonesia.

Indonesia punya hubungan baik dengan semua penghuni Indo Pasifik. Dengan Beijing, Tokyo, Canberra, Washington dan New Delhi bangunan kemitraan kita setara. Kerjasama ekonomi dengan lima negara yang juga anggota grup elite dunia  G20 ini berjalan lancar, meningkat dan akrab. Di G20 Indonesia menduduki ranking 14 besar kekuatan ekonomi dunia yang dikenal dengan PDB ( Produk Domestik Bruto). Demikian juga hubungan bilateral kita dengan Korsel dan Korut, baik-baik saja. 

Situasi yang normal meski masih ditengah wabah Covid 19 mestinya  jangan diusik dengan keangkuhan militer. Seperti pengesahan Undang-Undang Maritim China yang boleh menembak kapal asing yang masuk wilayah yang diklaimnya.  Pengerahan dua ratusan kapal nelayan milisi China ke ZEE Filipina dengan dukungan kapal perang sudah tidak bisa lagi menakut-nakuti Filipina. Meski saat ini sesama negara ASEAN melawan dengan cara dan kekuatan sendiri-sendiri tidak menutup kemungkinan di suatu saat bersatu sikap melawan keangkuhan militer China. Bersama dengan QUAD bisa jadi ini awal dari game over peradaban kehidupan di bumi bulat bundar ini.

****

Jagarin Pane / 3 April 2021

Friday, March 26, 2021

Alugoro Menepis Spekulasi

KRI Alugoro 405 resmi diserahterimakan di galangan kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 17 Maret 2021 yang lalu.  Pada seremoni itu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan lantang berkata bahwa dalam lima tahun depan kita harus bisa membuat kapal selam secara utuh termasuk desainnya. Seremoni dan kalimat Prabowo yang terang benderang itu menepis berbagai tudingan dan spekulasi selama ini. Berbagai  menu "adonan" informasi, disinformasi dan opini diramu untuk melemahkan prestasi dan prestise pencapaian kerjasama alih teknologi pembangunan 3 kapal selam PT PAL dengan DSME (Daewoo Shipbuilding Maritime Engineering) Korsel. 

Kita selalu menyuarakan second opinion spirit konsistensi dalam pembangunan Nagapasa Project ini yang sudah berlangsung sepuluh tahun dan telah menghasilkan tiga kapal selam produksi alih teknologi. Kakak kelas Alugoro 405 yang sudah duluan operasional adalah KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kedua kapal selam ini dibuat di Korsel dengan seratusan insinyur Indonesia ikut kuliah transfer teknologi. Sedangkan KRI Alugoro 405 dibuat di PT PAL Surabaya dengan supervisi insinyur Korsel. Artinya insinyur kita sudah banyak mengambil peran. Bukankah ini sebuah prestasi dan prestise.

Suara lantang Prabowo di acara serah terima kapal selam "Changbogo Reborn" ini membuka peluang yang memang sudah terbuka bahwa Nagapasa jilid 2 akan berlanjut untuk membangun kapal selam ke empat, lima dan enam selama lima tahun ke depan. Mengapa disebut sudah terbuka karena memang sudah ada kontrak awal yang ditandatangani antara Indonesia dan Korsel tahun 2019. Tidak lama kemudian selama kurun waktu itu riuh rendah pasar informasi dan opini memeriahkan kampanye miring soal ketangguhan Nagapasa Class. Menggiring opini agar serial Nagapasa episode kedua tidak ditayangkan lagi. Meskipun begitu PT PAL tetap "tawaddu", rendah hati dan tak ikut membela diri.

Selama dua tahun ini pula kita ikut meramaikan pasar opini Nagapasa Class. Setidaknya ada enam tulisan yang kita publikasikan agar pengambil keputusan tetap istiqomah mendapat ilmu mahal transfer teknologi pembuatan kapal selam dari Korsel (sila buka www.analisisalutsista.blogspot.com ). Jangan mudah pindah ke lain hati, ke yang lebih sexy hanya karena lirikan sinar mata indah dari gadis manis berwajah komisi. Tinggal selangkah lagi atau setidaknya lima enam tahun ke depan kita sudah lulus sekolah transfer teknologi pembuatan kapal selam. Sebuah lompatan yang luar biasa.

Indonesia saat ini memiliki 5 kapal selam yang nota bene satu perguruan. Dua kapal selam "Cakra Class" produksi tahun 1980 buatan Jerman dari jenis U209-1200. Sementara Korsel berguru pada Jerman untuk mendapatkan teknologi U209.  Nah 3 kapal selam  Nagapasa Class yang baru selesai dibangun ini adalah U209-1400. Sementara target yang diinginkan dalam satu dekade ini adalah memiliki 12 kapal selam. Maka seandainya Nagapasa jilid dua sukses membangun 3 kapal selam maka kita punya 8 kapal selam. Masih tersedia peluang untuk pengadaan 4 kapal selam canggih yang selama ini dikampanyekan dan digadang-gadang dari Jerman atau Perancis. Artinya selesaikan dulu kuliah di Nagapasa College baru kemudian tumpahkan hasrat yang menggebu untuk memeluk Scorpene Perancis atau U214 Jerman.

Payung pelindung program pembuatan kapal selam ini dari awal sudah sangat kuat. Diawali dengan Presiden SBY dan Presiden Korsel untuk Nagapasa Batch satu tahun 2011 kemudian dilanjut dengan Presiden Jokowi dan Korsel-1 untuk Batch dua tahun 2019. Bahkan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae-in sudah saling berkunjung satu sama lain dalam waktu berdekatan menjelang tandatangan kontrak awal Nagapasa episode kedua. Bukankah ini sebuah isyarat yang kuat untuk tetap melanjutkan pembangunan 3 kapal selam di batch kedua ini.

Penguasaan teknologi kapal selam adalah barang mewah dan merupakan gengsi kelas tinggi sebuah negara. Korea Selatan sudah membuka diri untuk berbagi teknologi strategis. Jarang ada negara yang bermurah hati membagi teknologi alutsista bawah air yang gahar ini. Insinyur kita sudah sepuluh tahun kuliah di DSME, kemudian meningkat menjadi "asisten dosen" di Fakultas Alugoro. Begitu seterusnya sampai di kapal selam ke enam nantinya diniscayakan sudah mampu menjadi "dosen" yang menguasai teknologi pembuatan kapal selam.

Tentu ini tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara yang sudah puluhan tahun menjadi produsen pembuatan kapal selam teknologi canggih. Kita adalah pemula dan tidak pantas disandingkan dengan Jerman, Perancis atau Rusia. Tetapi kita harus memulainya. Dan sudah kita mulai. Bersamaan dengan itu industri pertahanan kita saat ini sudah bisa membuat berbagai jenis alutsista. Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, bom, berbagai jenis kapal perang seperti KPC, KCR, LST, LPD. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan diharapkan industri pertahanan kita sudah bisa membuat alutsista strategis dan gerun berupa kapal perang jenis korvet, fregat, kapal selam dan bahkan jet tempur. Semua ada di depan mata, maka ketika ada sinar mata indah yang menyapa lembut tetaplah tersenyum dan teguh hati serta menjawab mesra: jangan sekarang.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2021

Wednesday, March 17, 2021

Bukan Soal Natuna Semata

Program MEF (Minimum Essential Force) TNI sudah jauh hari dikumandangkan, satu dekade yang lalu. Figur yang mengawali dan bersemangat menjalankannya adalah tokoh sipil Purnomo Yusgiantoro sebagai  Menteri Pertahanan era SBY yang gesit dan cerdas. Kucuran dana untuk pembelian aneka ragam alutsista waktu itu menyentuh angka US$ 15 Milyar.

Sepuluh tahun dari tahun 2010, saat ini kita berada di MEF jilid tiga. Bersamaan dengan itu demam di Laut China Selatan (LCS) semakin membara karena AS mengajak sekutu dan sahabatnya untuk mengeroyok China. Termasuk belakangan ini Perancis, Jerman, Inggris mulai ikut intervensi dengan mengerahkan kapal perang dan kapal selam. Sementara persinggungan klaim China dengan Indonesia sebenarnya hanya terjadi di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil,  bukan di perairan kedaulatan teritori laut NKRI 12 mil dari pantai kepulauan Natuna.

Lantas mengapa kita terlihat sibuk banget belakangan ini untuk memperkuat basis pertahanan. Mengapa demikian, karena sesungguhnya bukan persoalan Natuna semata. Ini lebih disebabkan karena kita kalah start dari beberapa jiran kita untuk memperkuat dan memodernisasi militernya. Selama ini kita cenderung selalu menyanjung lagu "tidak ada musuh karena semua sahabat kita".  Jiran sudah punya jet tempur canggih dan armada laut yang berkualitas, sementara kita masih memuja zero enemy.

Selama ini kita terlena tidak melihat teritori laut sebagai benteng teritori. Doktrin masuk dulu baru digebuk menunjukkan model pertahanan yang bertumpu pada kekuatan matra darat. Kekuatan armada kapal perang dan kekuatan jet tempur kita dibawah ambang batas minimal. Baru setelah Ambalat diubek-ubek jiran, kita sadar diri bahwa kekuatan angkatan laut dan udara kita ternyata kurang bertaring. Sementara jiran yang merasa lebih kuat menunjukkan sikap pongahnya. Sakitnya tuh terasa disini.

Kemudian datanglah armada nine dash line berwujud semburan panas lidah naga yang mengaku sebagai pemilik lapak LCS. China mengklaim perairan dan gugus kepulauan karang atol di LCS sebagai miliknya, sekaligus menggerakkan armada CCG (China Coast Guard) dan angkatan lautnya menggertak  beberapa negara ASEAN. Vietnam, Filipina dan Malaysia dijadikan bulan-bulanan pelecehan secara militer. Indonesia tidak luput dari gertakannya tapi kita jawab dengan diplomasi militer tidak galah gertak dengan mengerahkan jet tempur F16 dan sejumlah KRI ke Natuna.

Meski sudah banyak tambahan aneka ragam alutsista namun sesungguhnya sampai hari ini  sebagian alutsista kita masih berkarakter engkol, analog dan jadul. Sebagai contoh, lihat saja alutsista Marinir lebih banyak produk lawas seperti tank amfibi PT76 dan panser amfibi BTR50. Ketika ada latihan pertahanan pangkalan, alutsista yang diperlihatkan sudah pantas masuk batalyon museum. Sudah semestinya pangkalan AL dan atau obyek vital dibentengi dengan alutsista digital setara Oerlikon Skyshield atau Starstreak. 

Jadi sampai hari ini  militer kita belum sampai pada kriteria kekuatan minimum. Dan target pencapaian MEF itu ada di periode 2020 sampai 2024. Itulah sebabnya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bergerak cepat untuk memenuhinya. Shopping list Kementerian Pertahanan menunjukkan banyaknya kebutuhan alutsista yang akan kita datangkan selama lima tahun ke depan. Jadi bukan soal Natuna semata tetapi lebih pada upaya mengejar ketertinggalan.

Maka bisa kita lihat seabreg program kerja Kementerian Pertahanan. Mulai dari pengadaan kapal perang kelas fregat, kapal selam, jet tempur Rafale, F15 Ex, Radar, pesawat Hercules, pesawat MRTT, pesawat AEW, helikopter berbagai jenis, peluru kendali berbagai jenis. Termasuk pembuatan drone UCAV Elang Hitam made in anak negeri yang diniscayakan akan menjadi primadona manajemen pertempuran modern remote control network centric warfare. Banyak sekali yang harus diselesaikan Kementerian Pertahanan untuk mengejar target MEF jilid tiga sampai tahun 2024.

Persoalan di perairan Natuna bagi Indonesia harus diletakkan dalam bingkai proporsional. Artinya hubungan baik dan hangat yang sudah terjalin dengan China dan AS menjadi fundamen kuat untuk dikembangkan. Posisi netral kita adalah memainkan peran diplomasi intensif untuk memelihara stabilitas dan suasana kondusif di kawasan ini. Kehadiran armada AL dan AU Paman Sam di kawasan ini bisa kita persepsikan sebagai penyeimbang sekaligus penggentar pihak yang mengklaim LCS.

Soal daftar belanja alutsista di MEF ketiga, adalah bagian dari upaya mengejar target pencapaian sekaligus mensejajarkan diri dalam diplomasi militer di kawasan. Negara kepulauan terbesar ini harus dipayungi dengan kekuatan militer berbasis network centric warfare. Kita sedang menuju kesana. Sehingga doktrin masuk dulu baru digebuk bisa diperbaharui menjadi : berani masuk digebuk. Jadi ini bukan karena soal Natuna semata tetapi karena kita ingin membangun kekuatan militer yang sampai saat ini belum masuk kriteria kekuatan minimal.  Itu tema besarnya.

****
Jagarin Pane /17 Maret 2021

Monday, March 8, 2021

Membangun Perspektif Horizon

Percepatan realisasi pengadaan alutsista strategis sesungguhnya adalah yang terpenting daripada menampilkan segerobak rencana belanja.  Termasuk membangun perspektif horizon menguasai teknologi alutsista di masa depan. Ada kesan dengan daftar shopping yang segudang,  banyak maunya. Prioritas untuk mendatangkan minimal 6 jet tempur F15 Ex tahun ini apakah bisa direalisir, itu pertanyaan besarnya. Belum lagi persoalan sudah ditandatanganinya kontrak awal pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang tidak bisa begitu saja diabaikan apalagi dibatalkan.

Soal lanjutan kerjasama pengembangan jet tempur KFX/IFX dan kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo, dua-duanya dengan Korsel, menjadi sebuah catatan tinta tebal non istiqomah alias inkonsistensi dalam menjalankan dan meneruskan proyek teknologi tinggi alutsista strategis. Padahal perjalanan kerjasama itu sudah berada di duapertiganya, sepertiga lagi akan menghasilkan karya monumental. Pertanyaannya kenapa harus berencana menarik diri. Bukankah ketidaksamaan persepsi dan perspektif bisa dirundingkan di koridor itu. Mengapa justru ingin memutus nilai strategisnya.

Tiga kapal selam yang dibuat pada proyek batch 1 Nagapasa Class sudah jadi. Dua diantaranya KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional. Sementara KRI Alugoro 405 menunggu seremoni peresmian. Artinya untuk dua kapal selam terdahulu tidak ada kendala teknis dong karena sudah ada berita acara penerimaannya. Lalu mengapa belakangan di kemudian hari bersuara tidak puas atau tidak sesuai dan mengapa harus diterima kalau tidak puas atau tidak sesuai. 

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang tersaji di ruang diskusi forum militer. Sehingga ujung-ujungnya ada kalimat klise yang berbunyi: ganti menteri ganti selera. Bukankah kontrak awal batch 2 Nagapasa Class sudah ditandatangani dan bahkan Presiden Jokowi sudah berkunjung ke Korsel sebelumnya. Demikian juga sebaliknya Presiden Korsel berkunjung ke Indonesia. Sebuah isyarat payung yang kuat untuk meneruskan Nagapasa Batch 2. Artinya everything is ok, atau everything will be ok meminjam ungkapan pejuang demokrasi remaja Myanmar Kyal Sin yang ditembak mati junta militer. 

Demikian juga dengan proyek jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX. Dengan alasan sangat teknis, kita lalu tidak melanjutkan iuran yang sudah disepakati, alias mogok bayar "SPP". Padahal bulan April nanti jet tempur KFX akan dipertunjukkan ke publik purwa rupanya di Korsel. Seperti diketahui Indonesia dalam perjanjian ini mendapat porsi 20% dari pembiayaan pengembangan jet tempur. Porsi Indonesia bernilai US$ 1,51 Milyar, sudah dibayar US$ 201,4 juta sampai Januari 2019. Setelah itu emoh bayar karena alasan teknis.

Dua kerjasama teknologi  persenjataan strategis yang mogok di duapertiga perjalanan ini memunculkan dugaan lain. Jangan-jangan ada pihak yang tidak suka dengan program teknologi tinggi alutsista bergengsi ini. Pencapaian besarnya kelak dianggap bisa membuat kawasan tersaingi. Bisa saja kan. Bisa dibayangkan lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi jet tempur dan kapal selam. Juga teknologi kapal fregat, peluru kendali, roket, tank, panser. Luar biasa pencapaian itu.

Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, kapal perang jenis KPC, KCR, LST, LPD. Kapal fregat segera menyusul kemudian kapal selam dan jet tempur. Tentu ini sebuah prestasi yang membanggakan. Seandainya proyek alih teknologi kapal selam dan pengembangan jet tempur jalan terus maka sempurnalah industri pertahanan kita. Itu sebabnya "perselisihan teknis" yang terjadi di dua proyek alutsista dengan Korsel bisa disikapi dengan perspektif  horizon"lima repelita" alias duapuluh lima tahun. Bukan "satu repelita" tok alias satu jabatan menteri.

Untuk kebutuhan mendesak sah-sah saja mendatangkan jet tempur F15 Ex atau Rafale. Atau menambah kapal selam dari negara lain. Tapi untuk "lima repelita" monggo dilanjut proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class. Toh seleksi alam akan terjadi dengan pensiunnya 24 jet tempur Hawk atau bahkan 16 jet tempur Sukhoi yang umurnya relatif pendek. Juga 2 kapal selam "Cakra Class" yang saat ini sudah berusia 40 tahun. 

Kebanggaan kita soal pertahanan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehebatan industri pertahanan yang kita miliki. Dan itu sebenarnya sudah di depan mata jika kita mampu membangun perspektif horizon, perspektif membangun kebanggaan pertahanan negara. Oleh sebab itu mari kita kumandangkan selalu lagu istiqomah bin konsistensi dalam bingkai perspektif, membangun kewibawaan pertahanan negara berdaulat. 

****

Jagarin Pane / 6 Maret 2021

Thursday, February 18, 2021

Langkah Kuda Prabowo

Menteri Pertahanan Prabowo sejauh ini bisa disebut menang dalam strategi percaturan untuk mendapatkan alutsista dan green light dari AS. Cerita dimulai dari langkah UU Caatsa AS yang "menjegal" perolehan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia.  Ini membuat perkuatan skadron tempur TNI AU jalan ditempat. Skadron 14 pengganti F5E yang sudah dibangunkan home basenya di Iswahyudi AFB terlalu lama sunyi. Sehingga dipinjamkan dulu 3 unit Sukhoi SU27 dari Skadron 11 Hasanudin AFB supaya pilotnya tidak menganggur. Ternyata yang ditunggu tidak kunjung datang.

Prabowo sesungguhnya dongkol kuadrat alias kecewa berat. Yang pertama soal Caatsa ini. Seharusnya fighter tangguh SU35 sudah hadir menggemuruhkan langit nusantara. Namun diblokade AS yang mengenakan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Dan yang paling membuat dia kecewa adalah blokade perjalanan dirinya ke AS yang sudah berjalan belasan tahun. Logika cerdasnya begini : sudah tidak boleh bertransaksi SU35, tidak pula boleh berkunjung ke AS tapi kok disuruh beli F16 Viper. 

Jendral tempur ini kemudian bergerak cepat sejak dilantik jadi Menhan. Rencana Indonesia untuk membeli 36 jet tempur F16 Viper made in Paman Sam dia padamkan. Dengan alasan butuh jet tempur siap pakai dan two engine untuk menutup gap isian skadron 14 Iswahyudi, Prabowo berniat kuat untuk mendatangkan 15 jet tempur Typhoon Austria bekas pakai tapi jarang dipakai. Lalu dengan Perancis dia membuat perjanjian awal untuk pengadaan sejumlah jet tempur Rafale dan kapal selam Scorpene.

Ini langkah kuda yang cemerlang. AS terperangah dan harus mengakui kalah langkah. Kartu mati AS ada di Laut China Selatan (LCS) yang mengharuskan dia cari "bolo" untuk menghadapi lidah naga China yang menyembur di nine dash line. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang dominan di ASEAN mengharuskan AS merangkul Indonesia memperkuat "persekutuan" versi dia. Aliran logistik militer jika terjadi konflik terbuka dengan China di LCS pasti akan melewati ruang udara Indonesia, juga ALKI 1 dan ALKI 2 yang strategis.

Pentagon akhirnya memberi lampu hijau buat Menhan kita bahkan kedatangannya disambut hangat dengan karpet merah dan meriah. Prabowo dan delegasi Kemenhan datang dengan wajah sumringah dan wibawa. Meski keinginannya untuk mendapatkan jet tempur siluman F35 belum disetujui AS karena durasi pesan datang alias daftar tunggu bisa mencapai 10 tahun.  Sebagai pengganti kita diizinkan mendapatkan 15 jet tempur F15 Ex.  Kita saat ini memang sedang butuh jet tempur siap saji untuk mengisi jet tempur SU35 yang gagal hadir. Manuver Prabowo mengejar Typhoon dan Rafale yang non AS sukses membuka mata hati Paman Sam yang biasanya suka mendikte.

Dari hasil Rapim TNI tanggal 16 Februari 2021 ada publikasi blue print yang menjadi program besar Kemenhan. Berbagai jenis alutsista yang akan didatangkan dari AS berupa 15 jet tempur F15 Ex, 15 pesawat angkut Hercules type J, 4 heli hibrid Osprey, 32 helikopter Blackhawk. Sementara dari Perancis sedang dipersiapkan pengadaan 36 jet tempur Rafale,  4 kapal selam Scorpene. Rincian shopping list itu bisa membuat kita yang membacanya lalu menulis komen: wow banyak banget. Tidak tanggung-tanggung memang. Matra laut saja mau dibelikan16 kapal perang fregat, 10 kapal selam, 18 KCR (Kapal Cepat Rudal), 6 KCR siluman dan lain-lain.

Dalam pandangan kita daftar belanja blue print yang spektakuler itu adalah sebuah keniscayaan. Namun durasi waktu MEF (Minimum Essential Force) TNI jilid tiga tahun 2020 sampai dengan 2024 membuat kita harus realistis. Jelas durasi itu tidak cukup untuk memenuhi shopping list Kemenhan. Termasuk juga anggarannya. Belum lagi ketok palu dari Kementerian PPN / Bappenas yang menjadi titik paling penting untuk goal proses panjang ini. Maka tercukupi 50% saja dari daftar belanja itu kita sudah sangat bersyukur. Percepatan kedatangan jet tempur F15Ex yang nantinya akan mengawal Natuna sangat diharapkan. Dari informasi  yang beredar AS akan memprioritaskan kedatangan 6 jet tempur F15 Ex ke Indonesia selambat-lambatnya akhir tahun ini.

Ini sesuai dengan keinginan Prabowo bahwa Natuna harus segera dipayungi jet tempur berkualitas. Sebelum SU35 terkena Caatsa, jet tempur ini yang akan mengawal Natuna. Itu sebabnya langkah kuda Prabowo untuk mengakuisisi 15 jet tempur Typhoon dari Austria sekaligus menolak F16 Viper yang ditawarkan AS sebelum era Prabowo, adalah sebuah kemenangan langkah kuda. Marwahnya dengan permainan catur alutsista ini adalah bisa membuka pintu green light, berkunjung ke AS bahkan disambut hangat oleh Pentagon. Prestasi yang mengikuti marwahnya adalah kesediaan AS untuk menyediakan jet tempur "double gardan" F15 Ex. Hanya sedikit negara yang diberi ruang untuk memiliki jet tempur ini.  Hanya sekutu dekat AS.

Apapun dinamikanya sejatinya Republik ini sangat memerlukan perkuatan alutsista militer utamanya matra laut dan udara. Halaman depan rumah kita yang bernama Natuna adalah wilayah konflik sekarang,masa depan dan jangka panjang. Ini adalah wilayah konflik yang bisa menjadi potensi besar untuk pertempuran paling mematikan di dunia. Maka "new normal" yang berlaku di Natuna ke depan adalah mempersiapkan kondisi paling mencekam dengan memperkuat armada tempur TNI AL dan skadron tempur  TNI AU. Prabowo sudah dan sedang mempersiapkan semuanya dan bersamaan dengan itu dia sudah memenangkan langkah kudanya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

****

Jagarin Pane / 18 Februari 2021